Ang I Niocu ~ Jilid 6

Kiang Liat kaget sekali, tak disangkanya bahwa wanita sakti ini akan marah. “Bukankah tadi Ji-wi Locianpwe hendak mempergunakan Boanpwe sebagai ujian? Bukankah tadi Locianpwe menyatakan bahwa kalau Locianpwe kena dikalahkan, maka perjodohan baru dapat terjadi? Boanpwe hanya mengatakan apa yang tadi boanpwe dengar, maka mohon banyak maaf apabila boanpwe tanpa disengaja berkata lancang.”

“Sui Ceng, orang muda pun merasa kasihan kepada kita, mengapa kau tidak kasihan kepada diri sendiri?” Kun Beng berkata, suaranya gemetar.

Akan tetapi Sui Ceng marah sekali. Cambuknya diayun ke atas kepala, menimbulkan suara yang nyaring, “Kau bocah lancang mulut, berani sekali bicara tentang urusan orang lain. Kau harus diberi hajaran!”

Baiknya sebelum cambuk itu meluncur ke tubuh Kiang Liat, Kun Beng melompat dan menahan Sui Ceng.

“Sabar Sui Ceng. Bocah she Kiang ini datang ke sini karena diutus oleh Lu Kwan Cu!”

“Apa…? Utusan Lu Kwan Cu…?” Sui Ceng menurunkan tangannya yang tiba-tiba kelihatan lemas, matanya terbelalak memandang kepada Kiang Liat. Kiang Liat tidak tahu bahwa Lu Kwan Cu adalah nama asli dari Bu Pun Su, maka ia tidak mengerti. Hanya ia ingat akan pesan suhunya bahwa di depan dua orang ini, ia harus banyak-banyak menyebut nama Bu Pun Su, oleh karena itu ia segera menjawab,

“Ji-wi Locianpwe… boanpwe Kiang Liat diutus Suhu Han Le dan Supek Bu Pun Su untuk mencari Ji-wi.”

“Hm, Bu Pun Su menyuruh kau mencariku, ada urusan apakah?” tanya Sui Ceng sambil mengerutkan keningnya.

Dengan singkat Kiang Liat lalu menuturkan apa yang ia dengar dari Han Le yakni bahwa di dunia persilatan muncul tiga tokoh asing yang lihai dan yang kini menguasai dunia kang-ouw, mengancam semua orang gagah yang tidak mau menggabungkan diri dengan Mo-kauw. Dan bahwa pada bulan enam yang akan datang, pihak Mo-kauw menantang BuPun Su dan orang-orang gagah lainnya untuk mengadakan penentuan siapa yang berhak menguasai dunia kang-ouw, di sebelah barat bukit Heng-tuan-san.

Mendengar ini, Sui Ceng nampaknya tidak tertarik sedikitpun juga.

“Serombongan tikus-tikus busuk macam itu saja, apa artinya bagi Bu Pun Su? Aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa Bu Pun Su seorang diri pun akan sanggup membasmi mereka sampai ke akar-akarnya. Mengapa pula harus orang seperti aku dan Kun Beng membantu?”

“Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi, Sui Ceng,” kata Kun Beng, menggirangkan hati Kiang Liat yang tadinya sudah kecewa, “kali ini musuh-musuh Bu Pun Su agaknya benar-benar hendak berusaha merebut kekuasaan di dunia kang-ouw. Bahkan kedatangan Kiang-enghiong ke sini tak terluput dari perhatian mereka sehingga Kiang-enghiong dihadang di tengah samudera. Tahukah kau siapa yang menghadangnya dan hendak membunuhnya agar dia jangan minta bantuan kita?”

“Siapa? Anak buah Mo-kauw?” tanya Sui Ceng acuh tak acuh.

“Benar, akan tetapi bukan anak buah sembarangan, melainkan An Kai Seng sendiri dan isterinya, siluman betina Wi Wi Toanio!”

Mendengar ini, mata Sui Ceng bercahaya. “Apa? Dan kau tidak bunuh mampus mereka?”

Kun Beng tersenyum dan menggeleng kepala. “Aku tidak mau membikin kau kecewa, Sui Ceng. Membasmi mereka adalah tugasmu, bukan?”

“Di mana mereka?” Sui Ceng menggerakkan cambuknya.

“Kau dapat bertemu dengan mereka kelak pada awal bulan enam di Yalu Cangpo, tikungan sebelah barat Gunung Heng-tuan-san,” jawab Kun Beng.

“Bulan enam kurang tiga bulan lagi, Heng-tuan-san tidak dekat, mari kita berangkat!” kata Sui Ceng tiba-tiba sambil berlari ke pantai.

Kun Beng memegang lengan Kiang Liat. “Orang muda, mari kita berangkat!” Kiang Liat tak dapat menahan ketika tiba-tiba ia ditarik dengan cepatnya oleh Kun Beng. Akan tetapi hatinya girang sekali karena tidak disangka-sangkanya, tugasnya dapat dipenuhinya demikian mudah. Lebih gembira lagi hatinya ketika di dalam perjalanan menuju ke Heng-tuan-san itu, Sui Ceng dan Kun Beng yang suka melihat orang muda ini, berkenan menurunkan beberapa jurus silat tinggi sehingga Kiang Liat mendapat kemajuan yang luar biasa. Bahkan ia telah menerima pelajaran ilmu lari cepat dari Sui Ceng sehingga ia dapat melakukan perjalanan dengan leluasa bersama dua orang tokoh ini, tak perlu lagi ia digandeng oleh Kun Beng. Ilmu lari cepat dari Sui Ceng yang disebut Yan-cu-hui-po (Tindakan Seperti Walet Terbang) memang luar biasa sekali, dan berkat dari besarnya bakat dasar dalam diri Kiang Liat, pendekar muda ini dapat mempelajarinya dengan amat cepat.

***

Awal bulan Lak-gwe di lembah Sungai Yalu Cangpo! Lembah ini biasanya sunyi, tak pernah didatangi manusia karena memang daerah ini masih liar dan sukar didatangi. Binatang-binatang buas yang aneh dan jarang terlihat di hutan-hutan yang sudah dijajah manusia, masih berkeliaran di tempat ini. Orang tanpa memiliki kepandaian tinggi jangan harap dapat keluar dari hutan ini dengan selamat.

Akan tetapi, pada pagi hari itu, di lembah sungai, tepat di mana sungai itu membelok dan kembali mengalir ke arah barat, keadaan ramai sekali. Di sebuah tempat terbuka di pinggir sungai, kelihatan banyak orang yang duduk di atas rumput. Didepan mereka duduk beberapa orang di atas batu karang. Mereka seakan-akan menanti datangnya orang lain. Bekas-bekas tempat pohon ditebang menunjukkan bahwa tempat ini memang sengaja disediakan untuk pertemuan ini.

Jumlah orang yang duduk di atas rumput ada tiga puluh orang lebih, pakaian mereka bermacam-macam, akan tetapi rata-rata mempunyai air muka penjahat. Banyak di antara mereka yang tinggi besar dengan muka kasar, gerak-geriknya, duduk sambil minum arak atau mengobrol dengan kata-kata yang kotor dan kasar. Akan tetapi ada pula yang gerak-geriknya halus dan bermuka tampan, namun sinar matanya tetap membayangkan kekejaman dan kebuasan.

Di depan sekali, di atas batu karang, duduk Thian-te Sam-kauwcu, tiga orang dari barat yang kini menguasai Mo-kauw. Memang mereka ini adalah orang-orang terpenting dari Mo-kauw, yang berkumpul di situ untuk menghadapi musuh. Tak. jauh dari tiga ketua ini, duduk pula Hek Mo-ko, dan Pek Mo-ko, sepasang manusia iblis yang terkenal lihai dan keji.

Selain mereka ini, masih terdapat banyak tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, bahkan di antaranya terdapat pula Kiam Ki Sianjin, seorang yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya! Karena pernah menderita kekalahan ketika menghadapi Bu Pun Su, Kiam Ki Sianjin terpaksa menggabungkan diri dengan Thian-te Sam-kauwcu untuk memperkuat kedudukannya.

Akan tetapi yang paling mencolok di antara mereka semua, adalah seorang wanita cantik jelita seperti bidadari yang duduknya terpisah, di sebelah kiri dari tiga ketua itu. Dia ini kelihatannya masih muda, seperti seorang gadis dua puluh tahun, cantiknya benar-benar membuat semua orang laki-laki yang berada di situ menelan ludah dengan hati kagum dan penuh gairah. Akan tetapi tak seorang pun berani memperlihatkan kekagumannya secara berterang, karena gadis ini bukanlah orang sembarangan. Dia ini adalah murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu dan dia bukan lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat. Melihat setangkai bunga putih di rambutnya, orang akan mengenal Dewi Jelita ini, akan memandang dengan penuh kekaguman akan tetapi kalau melihat gagang sepasang pedang yang tersembul di pundak kirinya, orang itu akan merasa ngeri karena sepasang pedang itu entah sudah makan berapa banyak nyawa orang-orang tak berdosa!

“Mengapa sampai sekarang dia belum muncul?” terdengar Hek-te-ong orang pertama dari Thian-te Sam-kauwcu yang bertubuh tinggi besar, bertanya. Suaranya besar seperti tambur dan kulitnya yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari pagi.

“Ha, ha, ha, agaknya Bu Pun Su sudah hilang nyalinya dan takut kepada kita…!” kata Pek-in-ong orang ke dua yang tinggi kurus seperti cecak kering dan mukanya seperti tengkorak. Suaranya tinggi dan nyaring menusuk telinga.

Mendengar ejekan ini, semua orang ketawa dan bergemalah suara ketawa mereka sampai di permukaan air sungai Yalu Cangpo.

Tiba-tiba suara ketawa mereka itu terhenti. Mereka terkejut mendengar suara ketawa lain yang parau dan keras, yang keluar dari permukaan air sungai!

Cheng-hai-ong, orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu yang bertubuh kurus bongkok dan bermata sipit menggerakkan tangan. Sebatang hui-to (golok terbang) meluncur ke arah permukaan air. Air itu bergelombang dan hui-to itu tenggelam, tidak ada tanda sesuatu. Kalau betul di permukaan air tadi ada sesuatu, jelas bahwa hui-to itu tidak mengenai sesuatu.

“Bedebah, berani main gila dengan Cheng-hai-ong!” seru kakek kurus bongkok ini sambil berbangkit dari tempat duduknya. Ia hendak melompat dan terjun ke dalam air karena orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu ini memang seorang ahli dalam air, maka julukannya juga Cheng-hai-ong yang berarti Raja Laut Hijau!

Akan tetapi, ia membatalkan niatnya karena tiba-tiba dari dalam hutan muncul seorang kakek berusia empat puluh tahun lebih bertubuh sedang berpakaian sederhana.

“Thian-te Sam-kauwcu, aku sudah datang tak perlu gelisah!”

Semua orang memandangnya. Bu Pun Su berjalan lambat-lambat naik ke tempat terbuka itu, tongkat kecil di tangan kiri, dipukul-pukulkan di atas tanah ketika ia berjalan. Ia tidak kelihatan membawa senjata, hanya di pinggangnya terselip sebatang suling bulat. Setelah tiba di depan Thian-te Sam-kauwcu, kurang lebih sepuluh tombak jaraknya ia berhenti dan berdiri tegak.

Thian-te Sam-kauwcu sudah lama mendengar nama Bu Pun Su yang menggemparkan dunia kang-ouw dan yang diakui oleh semua tokoh kang-ouw sebagai jagoan nomor satu, akan tetapi baru kali ini mereka bertemu muka dengan pendekat sakti itu.

“Ha ha, ha, ha!” Hek-te-ong tertawa bergelak sambil memegangi perutnya, menahan kegelian hatinya. Ia tidak hanya geli, akan tetapi juga sengaja mentertawakan orang yang baru datang untuk menguji perasaan Bu Pun Su.

“Inikah yang bernama Bu Pun Su? Lucu sekali! Agaknya sudah tidak ada lagi orang gagah di Tiong-goan sehingga bocah macam ini menjadi jago nomor satu. Ha, ha, ha!”

“Siluman hitam, sombong sekali mulutmu!” terdengar bentakan nyaring seorang wanita dan nampak bayangan berkelebat cepat tahu-tahu Bu Sui Ceng telah berdiri di dekat Bu Pun Su, cambuknya bergoyang-goyang di tangan kanannya.

Thian-te Sam-kauwcu tercengang. Gerakan wanita yang baru datang ini benar-benar hebat, membuktikan bahwa gin-kang dari wanita ini sudah sampai di tingkat tinggi sekali. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Bu Pun Su memang sengaja tidak memperlihatkan kepandaian, berbeda dengan Bu Sui Ceng yang wataknya keras.

Di belakang Sui Ceng, menyusul datang The Kun Beng yang diikuti oleh Kiang Liat. Melihat Sui Ceng, Bu Pun Su memandang dengan muka tak berubah, akan tetapi wajahnya berseri ketika ia melihat Kun Beng datang bersama Sui Ceng.

“Bagus, kalian datang, ini tanda bahwa kiamat telah tiba bagi Thian-te Sam-kauwcu,” kata Bu Pun Su kepada Sui Ceng dan Kun Beng.

Belum habis gema suara Bu Pun Su ini, berturut-turut muncul Swi Kiat Sian-su dan Pok Pok Sianjin, diikuti oleh Han Le! Sui Ceng tidak mau membuang banyak waktu. Ia melangkah maju menghampiri tempat duduk Thian-te Sam-kauwcu. Di depan tiga orang Ketua Mo-kauw ini, di atas tanah, terbentang sehelai kain dan di atas kain berwarna hitam itu terletak sebuah kitab dan sebatang pedang. Sekali melihat saja, Sui Ceng sudah dapat menduga dan ia berkata nyaring,

“Inikah kitab Siauw-lim-pai dan pedang Kun-lun-pai yang dicuri oleh kaum siluman?” Kembali ia melangkah maju.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang lambat dan perlahan, akan tetapi menyeramkan. Yang tertawa adalah Cheng-hai-ong. Tangannya bergerak dan belasan benda warna hijau menyambar ke arah kitab dan pedang. Ketika Sui Ceng melihat, ternyata bahwa sekeliling kain tempat kitab dan pedang itu telah terkurung oleh anak-anak panah berwarna hijau yang menancap di atas tanah, begitu rapi seperti ditancapkan dan diatur dengan tangan. Dengan adanya anak-anak panah itu, maka kitab dan pedang itu terkurung rapat! Demonstrasi kepandaian ini tidak aneh kalau orang tahu bagaimana cara mempergunakannya. Biasanya, anak panah hanya diluncurkan dengan bantuan busur, akan tetapi melepaskan belasan batang anak panah sekaligus hanya dengan lontaran tangan dan dapat mengenai sasaran demikian tepatnya, jarang sekali ada orang dapat menirunya. Selain membutuhkan latihan, juga membutuhkan lwee-kang yang amat tinggi.

“Hah, pertunjukan kanak-kanak macam itu siapa sih yang hargai?” kata Sui Ceng. Cambuknya bergerak. Terdengar suara, “Tar! Tar!” beberapa kali dari sembilan ujung cambuknya dan tanpa mengenai kitab dan pedang, anak-anak panah yang tertancap di sekeliling kain hitam itu lenyap beterbangan ke kanan kiri!

“Heh-heh-heh, terima kasih atas pertunjukan ini. Kau tentu murid Kiu-bwe Coa-li!” kata Cheng-hai-ong dengan senyum mengejek, sungguhpun di dalam hatinya ia merasa kagum sekali.

Pada saat itu, terdengar suara orang datang ke tempat itu dan ketika semua orang memandang, ternyata datang pula dua rombongan orang, masing-masing rombongan terdiri dari sepuluh orang. Rombongan pertama adalah rombongan hwesio dari Siauw-lim-pai yang dikepalai oleh dua orang hwesio tua bertubuh gemuk. Rombongan ke dua adalah rombongan tosu dari Kun-lun-pai yang dikepalai oleh seorang tosu tua yang kurus dan tinggi.

Pada saat semua orang memandang kepada rombongan ini, dari pihak Mo-kauw meloncat keluar seorang wanita setengah tua yang cantik. Wanita ini adalah Wi Wi Toanio yang memegang sebuah tusuk konde perak, dipegang di tangan kanan dan diangkat tinggi-tinggi.

Dia melompat ke depan dan memandang ke arah rombongan Bu Pun Su, matanya mencari-cari dan ia berseru heran,

“Di mana dia…?”

Tak seorang tahu apa yang dimaksudkan oleh Wi Wi Toanio, akan tetapi pada saat itu, Bun Sui Ceng dan yang lain-lain juga merasa heran karena tanpa mereka ketahui, Bu Pun Su telah menghilang dari situ. Tak seorang pun tahu ke mana perginya pendekar sakti ini!

Para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu maklum mengapa Bu Pun Su melenyapkan diri. Pendekar sakti ini tadi melihat Wi Wi Toanio berada di antara rombongan Mo-kauw, maka melihat wanita itu muncul sambil mencabut tusuk konde, ia lekas-lekas melarikan diri dengan cepatnya. Sebagaimana diketahui dalam cerita Pendekar Sakti, Bu Pun Su pernah terlibat dalam urusan asmara dengan Wi Wi Toanio dan pernah bersumpah di depan wanita ular berbahaya ini bahwa ia akan selalu menuruti kehendak Wi Wi Toanio. Adapun tusuk konde itu adalah hadiahnya kepada Wi Wi Toanio dan di depan tusuk konde itulah ia bersumpah! Oleh karena itu, apabila Wi Wi Toanio mengeluarkan benda ini di depannya, apapun juga yang terjadi, Bu Pun Su selalu akan tunduk dan menyerah, sesuai dengan sumpahnya yang tak mungkin ia langgar sendiri.

Di antara semua orang yang berada di situ, yang tahu sebab perginya Bu Pun Su, hanyalah Han Le seorang. Kepada sute ini saja Bu Pun Su membuka rahasianya, menceritakan dengan terus terang akan kebodohannya sehingga ia dahulu di waktu mudanya masuk ke dalam perangkap Wi Wi Toanio. Oleh karena itu, kini Han Le tampil ke muka, mewakili Bu Pun Su dan berkata kepada Thian-te Sam-kauwcu,

“Thian-te Sam-kauwcu, kiranya kalian sudah tahu betul apa maksud kedatangan kami, terutama sekali mengapa rombongan saudara dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai datang ke sini. Tak perlu bicara panjang lebar, adalah milik kedua partai itu yang kalian curi secara tidak tahu malu. Kini kalian menghendaki kami datang, sebenarnya apakah kehendak kalian?”

Hek-te-ong berdiri dari batu karang yang didudukinya tadi. Wajahnya yang hitam itu menyeringai lebar, sama sekali tidak memandang mata kepada Han Le.

“Ha, ha, ha, entah ke mana perginya Bu Pun Su, akan tetapi kiranya dia takut kepada kami. Kami tak perlu pula bicara panjang lebar, tak perlu menyembunyikan maksud kami. Memang kitab Siauw-lim-pai dan po-kiam (pedang pusaka) Kun-lun-pai telah kami bawa ke sini, karena tanpa mengambil dua benda ini, kiranya kalian takkan mau menerima undangan kami. Ketahuilah, sudah lama kami mendengar betapa golongan kalian memandang rendah kepada kami kaum Mo-kauw, banyak penghinaan telah kami alami. Akan tetapi sekarang tiba waktunya kami untuk memperlihatkan, siapa sebetulnya yang lebih kuat. Kitab dan pedang dapat kami ambil tanpa kalian mengetahui, ini saja sudah membuktikan bahwa kami kaum Mo-kauw tidak boleh dipandang rendah. Sekarang, terus terang saja kami menuntut agar kalian suka berjanji bahwa selanjutnya pihak kalian tidak boleh mengganggu kami dan mengakui kami sebagai sebuah partai persilatan terbesar di dunia kang-ouw. Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai adalah partai-partai terbesar maka kedua partai itulah yang kami tuntut supaya sekarang mengakui kami sebagai pimpinan partai terbesar!”

Han Le tersenyum mengejek, “Hek-te-ong, kau bicara sombong sekali. Belum pernah orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengganggu siapapun juga, kecuali mereka yang jahat dan sesat. Kalau Mo-kauw merasa terganggu, itu tandanya bahwa sepak terjang anggauta Mo-kauw memang tidak patut. Bagaimana kau menghendaki kami berjanji tidak akan mengganggu? Lebih baik kalian yang berjanji selanjutnya akan memperbaiki sepak terjang, tentu kami takkan sudi mengganggu.”

“Betul, betul sekali!” kata hwesio tua dari Siauw-lim-pai.

“Memang tepat, Kun-lun-pai hanya membasmi orang-orang jahat tidak peduli dari golongan apa,” kata tosu tua dari Kun-lun-pai.

Pek-in-ong yang tinggi kurus seperti tengkorak melompat maju dan ketawa dengan suaranya yang tinggi menusuk telinga. “Aha, Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai merasa diri sebagai orang-orang bersih di dunia ini dan memandang orang lain sebagai orang-orang jahat. Apakah tidak ada anak murid Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang jahat?”

“Kalaupun ada, kami selalu menangkap dan menghukumnya,” kata hwesio Siauw-lim-pai dengan suaranya yang keras.

“Bagus! Bicaralah seperti kau sendiri yang menjagoi di dunia! Hendak kulihat apakah kau sanggup mengambil kembali kitabmu!” kata Pek-in-ong menantang. Memang di antara Thian-te Sam-kauwcu, orang ke dua ini paling berangasan.

Hwesio Siauw-lim-pai yang gemuk itu melangkah maju dan mengebutkan lengan bajunya.

“Omitohud, datang-datang ditantang oleh tuan rumah. Siapakah Sicu? Apa kedudukanmu dalam Mo-kauw? Pinceng Kok Beng Hosiang dari Siauw-lim-pai ingin belajar kenal.”

“Aku adalah Pek-in-ong, ketua nomor, dua dari Mo-kauw. Tak perlu banyak aturan, kitab Siauw-lim-pai sudah terletak di depan kita. Kalau kau memang berkepandaian, cobalah kauambil kembali.”

Kok Beng Hwesio adalah tokoh ke tiga dari Siauw-li-pai, murid ke dua dari Ketua Siauw-lim-pai, yakni Hok Bin Taisu. Dengan tenang ia melangkah maju dan membungkuk, tangan kanannya menyambar ke arah kitab yang terletak di atas kain hitam itu. Biarpun ia membungkuk mengambil kitab, namun sesungguhnya ini adalah gerakan dari Siauw-lim-pai yang disebut Tit-ci-thian-te (Jari Menuding ke Tanah), suatu sikap bhesi yang amat kuat, siap-sedia menghadapi serangan lawan.

Secepat kilat, Pek-in-ong melangkah maju dan sekali ia menggerakkan tangan yang kanan menepuk ke arah ubun-ubun kepala hwesio gundul itu, sedangkan tangan kiri menyambar ke arah pundak dengan totokan yang lihai.

“Bagus!” seru Kok Beng Hosiang. Hwesio ini membatalkan niatnya mengambil kitab dan cepat merubah kedudukan tubuh, dua tangan diayun menangkis.

“Plak!” Dua pasang lengan yang penuh dialiri tenaga lwee-kang bertumbukan. Pek-in-ong tidak bergeming, akan tetapi Kok Beng Hosiang mundur dua tindak! Dari sini saja sudah dapat dibuktikan bahwa tenaga lwee-kang dari tokoh ke dua kaum Mo-kauw itu jauh lebih tinggi.

Pihak Siauw-lim-pai terkejut sekali. Kok Beng Hosiang juga kaget dan cepat ia meloloskan senjatanya yang tadi dililitkan pada perutnya yang gendut, yakni sebuah rantai baja.

“Omitohud, kau kuat sekali. Terpaksa pinceng minta bantuan pian untuk merampas kembali kitab pusaka!” Rantai itu dipukulkan ke tanah dekat kitab dan aneh! Kitab itu mencelat ke atas. Selagi Kong Beng Hosiang hendak menyambar kitab dengan tangan kiri, Pek-in-ong sudah mendahuluinya, menyambar kitab dengan tangan kanan, melemparkannya kembali ke atas kain dan cepat kedua tangannya bergerak menyerang ke arah iga dan lutut!

Kok Beng Hosiang cepat melangkah mundur dan kini tanpa sungkan-sungkan lagi rantainya menyambar dengan serangan hebat yang disebut Sin-coa-wi-jauw (Ular Sakti Melilit Pinggang). Rantainya menyerang dengan kuat, membabat pinggang lawan. Pek-in-ong yang masih bertangan kosong itu tidak mengelak sama sekali, membiarkan rantai itu mengenai pinggang dan sekejap kemudian pinggangnya telah terpukul dan terlibat rantai! Akan tetapi alangkah kagetnya Kok Beng Hosiang ketika merasa betapa rantainya mengenai benda yang amat lunak sehingga, tenaga sabetannya tertelan habis, kemudian tiba-tiba ia melihat sepasang lengan yang menyerang cepat sekali ke arah ulu hatinya, disusul oleh tendangan ke arah anggauta rahasia!

“Ayaa…!” Kok Beng Hosiang terpaksa melepaskan rantainya dan melompat jauh ke belakang, karena hanya jalan inilah yang dapat membebaskan ia dari maut.

“Ha, ha, ha, hanya demikian saja kepandaian tokoh Siauw-lim-pai? Ha, ha, ha!” Sambil berkata demikian, Pek-inong mempergunakan jari-jari tangannya yang kurus panjang untuk mematahkan rantai itu menjadi berkeping-keping, seperti orang mematahkan sebatang hio saja!

Han Le dan yang lain-lain terkejut sekali. Bukan main kehebatan lwee-kang dari Pek-in-ong. Kun Beng sendiri harus mengakui bahwa kepandaian Pek-in-ong tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri!

Bok Beng Hosiang, suheng dari Kok Beng Hosiang melompat maju dengan toya kuningan di tangannya. Ia marah sekali dan membentak,

“Pek-in-ong, kau terlalu menghina Siauw-lim-pai! Biar pinceng mencoba untuk merampas kembali kitab pusaka!”

Pek-in-ong tertawa, “Hwesio gundul, nanti dulu. Jangan bergerak sembarangan, harus diadakan perjanjian dulu. Kau siapakah? Apakah kau memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada Kok Beng Hosiang?”

Bukan main gemasnya hati Bok Beng Hosiang. “Orang sombong, dengarlah, Pinceng adalah Bok Beng Hosiang, barusan suteku telah kaukalahkan, biar sekarang pinceng yang mencoba kelihaianmu.”

“Nanti dulu, harus dengan perjanjian. Kalau aku kalah, kau boleh mengambil kitabmu yang butut, akan tetapi kalau kau kalah, kau sebagai wakil Siauw-lim-pai harus bertekuk lutut dan mengakui kami sebagai orang-orang yang lebih berkuasa dan mengakui Mo-kauw sebagai partai yang lebih tinggi dan kuat- daripada Siauw-lim-pai. Bagaimana?”

Muka Bok Beng Hwesio sebentar merah sebentar pucat. “Keparat, kami orang-orang Siauw-lim-pai tidak takut mati untuk membela kebenaran dan membasmi siluman-siluman seperti kau! Biarpun mati, pinceng takkan sudi bertekuk lutut dan selamanya Siauw-lim-pai takkan mengakui Mo-kauw yang sesat sebagai partai besar. Terimalah senjataku!” Sambil berkata demikian, Bok Beng Hosiang langsung menyerang dengan toyanya.

Harus diketahui bahwa Bok Beng Hosiang adalah murid pertama dari Hok Bin Taisu, kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada sutenya, dan senjata yang ia pergunakan adalah sebuah toya. Semua orang tahu bahwa ilmu toya dari Siauw-lim-pai amat kuat dan lihai, maka pengharapan semua orang diletakkan kepada tokoh ini.

Melihat sambaran toya yang amat kuat dan dahsyat, Pek-in-ong tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur sambil memuji,

“Eh, eh, ada isinya juga si gundul ini!” Di lain saat ia telah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yakni sepasang roda. Tak lama kemudian terdengar suara keras ketika toya itu berkali-kali beradu dengan dua roda yang dipegang di kedua tangan. Tenaga lwee-kang mereka tidak jauh selisihnya, akan tetapi sepasang roda itu benar-benar amat lihai. Tidak saja dapat dipergunakan untuk menangkis dan memukul, akan tetapi juga beberapa kali roda-roda itu dilepas, berputar-putar dan meluncur ke arah tubuh lawan, lalu disambar kembali. Maka sebentar saja Bok Beng Hosiang telah terkurung oleh sepasang roda itu yang berputar-putar, kadang-kadang menyerang langsung dari tangan Pek-in-ong, kadang-kadang terlepas dan menyambar-nyambar dengan dahsyat dari atas!

Bok Beng Hosiang hanya dapat bertahan dua puluh jurus. Kepalanya telah menjadi pening dan pada suatu saat, serangan berantai dari Pek-in-ong tidak dapat dihindarkannya dan pundaknya terpukul oleh roda.

“Krek!” Bok Beng Hosiang mengeluh dan terhuyung ke belakang, cepat ditarik oleh Kok Beng Hosiang dan diselamatkan. Tulang pundak hwesio gemuk ini telah hancur!

“Ha, ha, ha, Siauw-lim-pai tidak patut menyimpan kitab pusaka!” Pek-in-ong mentertawakan sambil menyimpan sepasang rodanya.

Han Le, Sui Ceng, Kun Beng, Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu marah sekali. Akan tetapi sebelum mereka sempat bergerak, tosu tua pemimpin rombongan Kun-lun-pai telah melompat maju.

“Siancai, siancai! Thian-te Sam-kauwcu memang lihai. Akan tetapi sayang kepandaian mereka dipergunakan untuk maksud buruk. Pinto Cin Giok Sianjin dari Kun-lun-pai datang untuk mengambil kembali pedang!” Sambil berkata demikian, tosu tua ini melangkah tenang mengambil pedang. Baru saja tangannya diulur, terdengar suara mendesing dan tiga batang anak panah hijau menyambar ke arah tangannya! Cin Giok Sianjin berlaku tenang, cepat tangannya mengibas dan tiga batang anak panah itu terpental kembali ke arah penyerangnya, yakni Cheng-hai-ong orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu!

“Ha, ha, ha, ini baru namanya orang pandai!” Cheng-hai-ong tertawa sambil melompat maju menghadapi Cin Giok Sianjin yang terpaksa membatalkan niatnya mengambil pedang pusaka Kun-lunpai. Ia melihat orang kurus bongkok bermata sipit berpakaian serba hijau berdiri di depannya sambil memegang sebatang rantai yang ujungnya ada tengkoraknya!

Cin Giok Sianjin adalah tokoh kedua dari Kun-lun-pai, murid dari mendiang Seng Thian Siansu, Ketua Kun-lun-pai. Tosu ini sudah puluhan tahun menjelajah dunia kang-ouw dan sudah puluhan kali bertemu dengan lawan tangguh, akan tetapi baru kali ini ia melihat senjata sehebat dan seperti itu. Mana ada orang bersenjata rantai yang ujungnya dipasangi tengkorak? Akan tetapi ia dapat menenangkan hatinya dan mengeluarkan sebatang pedang. Kun-lun-pai terkenal dengan ilmu pedangnya dan dengan tenang ia berdiri tegak, melintangkan pedang di depan dada dengan jurus pertahanan Locia-pai-hud (Locia Menyembah Buddha).

“Tosu bau, mari kita main-main sebentar!” kata Cheng-hai-ong dan secepat kilat menyambar, tengkorak di ujung rantainya bergerak ke arah kepala Cin Giok Sianjin. Tosu ini cepat mengelak dan pedangnya menusuk langsung dari dadanya ke dada lawan. Cheng-hai-ong miringkan tubuh dan kembali tengkoraknya menyambar, kini dari arah belakang agak ke kanan, menghantam leher tosu Kun-lun-pai. Cin Giok Sianjin melihat hebatnya serangan ini, maka ia tidak berani mengelak, dan cepat menangkis dengan pedangnya.

“Plak!” Tengkorak itu terpukul miring, akan tetapi tidak pecah, sebaliknya, tosu Kun-lun-pai itu merasa tangannya tergetar.

“Lihai sekali…” katanya dan sebentar kemudian pedangnya berubah menjadi segulung sinar putih, menyambar-nyambar laksana seekor naga mengurung lawan. Ia telah mengeluarkan kepandaiannya dan memainkan Kun-lun Kiam-hoat yang lihai. Bukan main cepatnya gerakan pedangnya, cepat dan berat disertai tenaga lwee-kang.

Namun, Cheng-hai-ong masih tertawa-tawa dan mengimbangi permainan lawan dengan ilmu silatnya yang aneh sekali. Tidak hanya tengkorak di ujung rantai yang menyerang, kadang-kadang kedua kakinya menendang-nendang, tangan kirinya mencengkeram, sikunya berkali-kali mencari sasaran, bahkan tekukan lututnya sering diangkat menghantam perut dan tempat berbahaya.

Swi Kiat Siansu berkata lirih. “Hm, ilmu silat barat dicampur dengan ilmu gulat dari Mongol. Benar-benar lihai sekali.”

Juga yang lain-lain merasa kagum dan terpaksa memuji kepandaian orang ke tiga dari Thian-te Sam-kauwcu itu. Mereka mulai mengkhawatirkan keselamatan Cin Giok Sianjin, karena setelah bertempur tiga puluh jurus, jelas kelihatan tosu itu mulai terdesak.

Tiba-tiba Cheng-hai-ong berseru aneh dan Cin Giok Sianjin berseru kaget, terhuyung-huyung dan melompat mundur cepat sekali. Mukanya pucat dan dari jidatnya nampak merah, temyata kulit jidatnya telah terluka! Hanya tokoh-tokoh besar saja yang melihat betapa tadi dari mulut tengkorak itu menyambar keluar tiga batang jarum hijau ke arah muka Cin Glok Sianjin. Biarpun tosu ini sudah berkelit, namun tetap saja jidatnya tergores oleh sebatang jarum hijau sehingga mengeluarkan darah!

Cheng-hai-ong tertawa bergelak dan Cin Giok Sianjin cepat membuka bungkusan obat untuk mempergunakan obat penawar racun yang disengaja dibekalnya. Ia maklum dari rasa gatal pada lukanya bahwa jarum hijau itu mengandung racun. Baiknya Kun-lun-pai terkenal dengan obat-obatnya anti racun, maka ia masih dapat menyelamatkan nyawanya, sungguhpun tak mungkin dapat maju bertempur lagi. Ia perlu bersamadhi untuk mengerahkan lwee-kang dan mengusir pengaruh racun dengan hawa mumi di dalam tubuhnya.

Han Le marah sekali. Pemimpin-pemimpin rombongan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai telah dikalahkan dan diam-diam ia merasa menyesal sekali mengapa tokoh-tokoh pertama dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai tidak mau keluar sendiri. Agaknya kedua partai besar itu terlalu memandang rendah kepada pihak Mo-kauw, maka Ketua Siauw-lim-pai, Hok Bin Tosu dan Ketua Kun-lun-pai yang baru Keng Thian Siansu tidak mau datang sendiri. Kalau dua kakek itu datang, tentu akan lain keadaannya, sungguhpun belum tentu mereka dapat mengalahkan Thian-te Sam-kauwcu yang benar-benar lihai itu.

“Thian-te Sam-kauwcu! Kalian benar-benar tidak memandang mata kepada Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang terkenal sebagai partai besar. Tidak saja kalian mencuri kitab dan pedang, bahkan sekarang kalian dengan sombong telah melakukan hinaan-hinaan,” kata Han Le.

“Ha, ha, ha, yang kalah merasa terhina, itu sudah jamak. Salahkah kami kalau kebetulan kepandaian kami memang jauh lebih tinggi daripada kepandaian kalian?” kata Hek-te-ong sambil ketawa bergelak diikuti oleh anak buahnya.

“Hek-te-ong, alangkah sombongmu!” bentak Han Le marah sekali. “Dahulu yang menjadi lima tokoh besar dunia persilatan adalah guruku Ang-bin Sin-kai dan para Locianpwe Kiu-bwe Coa-li, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Pak-losian Siangkoan Hai dan Hek I Hui-mo. Biarpun mereka ini merupakan tokoh-tokoh dari delapan penjuru, namun mereka masih tidak sesombong kau dan kawan-kawanmu, tidak pernah mau menghina partai lain, apalagi melakukan pencurian yang rendah! Bahkan setiap kali muncul orang jahat, para locianpwe itu turun tangan membasminya!”

“Ha, ha, ha, kau pengemis bau murid Ang-bin Sin-kai. Apa kaukira dapat menakut-nakuti kami dengan nama-nama lima tokoh besar yang sudah mampus itu? Andaikata mereka masih hidup, kamipun ingin sekali menjajal kepandaian mereka, apalagi sekarang mereka sudah mampus. Apa yang perlu kami takutkan?”

“Bangsat bermulut besar. Murid Kiu-bwe Coa-li berada di sini! Aku Bun Sui Ceng mewakili mendiang guruku untuk membasmi Mo-kauw!” bentak Bun Sui Ceng sambil bersiap-siap dengan cambuknya.

“Pinto Swi Kiat Siansu mewakili mendiang Suhu Pak-lo-sian Siangkoan Hai menggempur orang jahat!” kata Swi Kiat Siansu dengan tenang dan sama sekali tidak memandang mata kepada Thian-te Sam-kauwcu.

“Siancai, siancai, biarpun mendiang Suhu Hek I Hui-mo menjalani jalan hitam, namun kiranya beliau akan turun tangan kalau menghadapi siluman-siluman sombong seperti kalian! Biarlah pinto Pok Pok Sianjin mewakilinya.” kata pula Pok Pok Sianjin sambil mengerling tajam.

“Sayang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tidak ada wakilnya,” kata Kun Beng tersenyum mengejek. “Karena Suhu Pak-losian Siangkoan Hai telah diwakili oleh Suheng, biarlah aku The Kun Beng mewakili mendiang Jeng-kin-jiu yang gagah perkasai!”

“Bagus sekali! Jadi lima tokoh besar itu kini telah diwakili oleh murid-muridnya. Kami memang ingin sekali mencoba kepandaian mereka. Hayo, siapa yang hendak maju lebih dulu?” kata Hek-te-ong memandang rendah.

“Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,” kata Han Le yang cepat maju sambil mencabut pedangnya.

Sebelum Hek-te-ong menghadapinya, di pihak Mo-kauw muncul seorang kakek kate dengan telinga lebar, pakaiannya serba hitam. Dia ini adalah Hek Mo-ko yang berkata kepada Hek-te-ong.

“Twa-suhu, biarlah teecu menghadapi murid Ang-bin Sin-kai ini. Ingin teecu merasai kelihaian Hun-khai-kiam-hoat dari Ang-bin Sin-kai. Heh-heh-heh-heh!” Setelah gurunya mengangguk, Hek Mo-ko lalu meloloskan sepasang senjatanya yang aneh, yakni sebatang pedang bengkok dan seuntai tasbeh, “Han Le pengemis busuk, kita bertemu lagi sekarang dalam pertandingan satu lawan satu yang menentukan. Hayo kaukeluarkan segala kepandaianmu akan kulihat.”

Han Le mendongkol sekali. Ia sudah tahu akan kelihaian Iblis Hitam ini. Akan tetapi ia tidak menjadi gentar sungguhpun ia tahu bahwa ia menghadapi lawan tangguh dan harus berlaku hati-hati sekali.

“Majulah, Hek Mo-ko,” katanya sambil melintangkan pedang.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Hek Mo-ko mulai menyerang. Pedangnya yang aneh bentuknya itu membuat gerakan melingkar, disusul oleh tasbehnya yang meluncur ke arah lambung Han Le. Maklum akan bahayanya serangan orang kate ini Han Le tidak berani berlaku lambat. Pedangnya bergerak cepat dan dengan jurus-jurus terlihai dari Hun-khai-kiam-hoat, tidak saja ia menangkis dan menggagalkan serangan lawan, bahkan dengan kontan keras ia membalas serangan Hek Mo-ko dengan sabetan dan tusukan maut. Ilmu pedang Hun-khai-kiam-hoat warisan Ang-bin Sin-kai sudah hebat, apalagi ditambah dengan pelajaran yang didapat dari lukisan-lukisan ilmu silat dari Im-yang Bu-tek-cin-keng di dalam guha di Pulau Pek-hio-to, maka bukan main lihainya ilmu pedang yang dimainkan oleh Han Le. Diam-diam Hek Mo-ko memuji dan tahulah ia mengapa dahulu ketika menghadapi pengemis ini, sutenya hampir saja celaka.

Namun, bagi Han Le juga tidak mudah mengalahkan Hek Mo-ko, karena selain dalam ilmu silat Iblis Hitam yang kecil ini masih lebih lihai daripada Pek Mo-ko, juga tenaga lwee-kangnya amat tinggi, masih lebih kuat daripada tenaga lwee-kang Han Le. Setelah pertempuran berjalan lima puluh jurus lebih, tiba-tiba saja Hek Mo-ko merubah gerakannya. Kini ia bergerak lambat, akan tetapi dengan pengerahan tenaga lwee-kang sepenuhnya sehingga tiap kali pedang di tangan Han Le terbentur dengan pedang bengkok atau tasbeh, pedang murid Ang-bin Sin-kai ini terpental dan telapak lengannya panas!

Di antara para tokoh itu, hanya Swi Kiat Siansu seorang yang tahu bahwa dalam perubahan ini terjadi kecurangan dari pihak Thian-te Sam-kauwcu. Swi Kiat Siansu sudah banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, terutama sekali di daerah barat di mana banyak diyakinkan ilmu hoat-sut (sihir). Tadi secara kebetulan ia melihat Hek-te-ong memandang tajam ke arah Hek Mo-ko dengan mulut bergerak-gerak. Sungguhpun tidak terdengar sedikit pun suara dari mulutnya, namun Swi Kiat Siansu maklum apa yang telah terjadi.

“Hek-te-ong, kau curang!” serunya marah. “Diam-diam kau membantu Hek Mo-ko!”

“Siapa membantu?” Hek-te-ong mengejek. “Aku tidak bergerak dari tempat dudukku!”

Semua orang juga heran mendengar dakwaan Sui Kiat Siansu tadi. Akan tetapi sesungguhnya memang Hek-te-ong telah membantu Hek Mo-ko dengan ilmu mengirim suara yang disalurkan dengan tenaga lwee-kang melalui pengerahan khi-kangnya. Suara ini biarpun perlahan, namun langsung bergema di telinga Hek Mo-ko tanpa terdengar oleh orang lain. Hek-te-ong yang berpemandangan luas dan tajam, tahu bahwa tanpa merubah siasat, sukar bagi Hek Mo-ko untuk mencari kemenangan, maka diam-diam ia membisikkan siasat kepada Hek Mo-ko untuk mempergunakan tenaga lwee-kang sepenuhnya dalam pertempuran itu.

Benar saja, setelah Hek Mo-ko merubah cara bertempurnya, Han Le menjadi sibuk. Biarpun ia berada di pihak menyerang, akan tetapi setiap tangkisan lawan merupakan serangan balasan yang langsung merugikannya.

Tiba-tiba ia mendengar suara bisikan perlahan yang mengejutkan hatinya. Ia mengenal baik suara itu, yakni suara suhengnya, Bu Pun Su. Seakan-akan Bu Pun Su berdiri di dekatnya dan berbisik di dekat telinganya,

“Sute, jangan adu senjata. Pergunakan gin-kang dan serang dia dengan Bu-eng-kiam-sut!”

Han Le girang sekali. Ia maklum akan kelihaian suhengnya, dan ia tahu bahwa biarpun tadi menghilang, ternyata Bu Pun Su berada di dekat situ dan sekarang berusaha menolongnya. Cepat ia berseru keras dan pedangnya berubah gerakannya. Kini pedang berkelebat menyambar ke sana sini. Bayangan Han Le lenyap terbungkus gulungan sinar pedang. Bukan main cepatnya gerakan Bu-eng-kiam-sut (Ilmu Pedang Tanpa Bayangan) ini!

Ia berhasil, Hek Mo-ko mengeluarkan seruan kaget dan sebentar saja terdesak mundur. Beberapa kali Hek Mo-ko menggerakkan sepasang senjatanya, memukul membabi-buta, namun tak pernah senjatanya yang digerakkan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya itu dapat menyentuh senjata maupun tubuh lawannya. Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Han Le berhasil menusuk paha Hek Mo-ko dengan pedangnya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa pedangnya terpental dan hanya dapat merobek celana dan sedikit daging berikut kulit paha lawan!

“Aduh!” teriak Hek Mo-ko yang cepat menggunakan pedang bengkoknya menyabet ke arah pedang Han Le.

“Cring…!” Pedang terlepas dari tangan Han Le dan telapak tangannya pecah-pecah kulitnya. Keduanya melompat mundur. Hek Mo-ko terluka pahanya. Han Le terluka telapak tangannya. Setelah memungut pedangnya, Han Le berkata,

“Hek Mo-ko, kau lihai sekali.”

Hek Mo-ko menyeringai, ia mendongkol sekali karena dalam pertandingan tadi, biarpun ia dapat membuat pedang lawan tertangkis, namun ia sendiri menderita luka di paha, sehingga kalau dibandingkan, kerugiannya lebih besar.

“Kau patut menjadi murid Ang-bin Sin-kai,” katanya perlahan.

Pek Mo-ko melompat ke depan dan mengangkat dadanya yang bidang. Ia marah melihat kakaknya terluka, maka dengan lantang ia berkata,

“Siapa lagi yang hendak gagah-gagahan mewakili Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai merampas kembali kitab dan pedang? Majulah, aku Pek Mo-ko akan menjaga dua benda ini!” Ia berdiri tegak di dekat kitab dan pedang, sikapnya menantang sekali.

Pok Pok Sianjin marah sekali melihat lagak tengik dari Pek Mo-ko ini. Ia melompat ke depan dan menghadapi Pek Mo-ko dengan tongkat hitam di tangan.

“Pek Mo-ko, ucapanmu itu menandakan bahwa kau seorang rendah dan seperti katak dalam sumur. Akulah orangnya, Pok Pok Sianjin murid Hek I Hui-mo yang akan menghadapimu. Majulah menerima kematian!”

Pek Mo-ko gentar melihat Pok Pok Sianjin. Sebetulnya, kalau dijelaskan, Hek I Hui-mo masih ada hubungan dengan gurunya, karena gurunya itu terhitung adik seperguruan Hek I Hui-mo. Akap tetapi, karena sekarang ia telah menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu, dan ketiga orang gurunya yang lihai masih berada di situ, ia tidak mau memperlihatkan takutnya, ia sebaliknya tertawa bergelak,

“Ha, ha, Pok Pok Sianjin, alangkah bedanya kau dengan mendiang gurumu. Pantas kau dahulunya kutu buku, mana bisa menjadi seorang yang berpikir luas? Kalau gurumu masih hidup, tentu kau akan dicaci-maki!”

Pok Pok Sianjin marah sekali mendengar ini. Memang sebetulnya ia mempunyai pendirian lain dengan mendiang gurunya. Hek I Hui-mo terkenal sebagai seorang liar kejam dan mengandalkan kepandaian sendiri, yang tidak segan-segan melakukan perbuatan jahat untuk kepentingan dan keuntungan sendiri. Andaikata gurunya masih hidup dan berada di situ, belum tentu gurunya mau membantu pihak Bu Pun Su. Sekarang mendengar makian Pek Mo-ko, ia cepat menubruk maju menggerakkan tongkatnya.

Ilmu tongkat dari Pok Pok Sianjin adalah warisan dari tokoh besar Hek I Hui-mo yang kepandaiannya setingkat dengan Kui-bwe Coa-li atau Ang-bin Sinkai. Maka dapat dibayangkan betapa hebatnya tongkat hitam yang dimainkannya itu. Pek Mo-ko cepat menangkis dengan tasbehnya, akan tetapi sekali benturan saja, untaian tasbehnya terlepas dan putus!

Dengan kaget Pek Mo-ko melompat ke samping dan membalas dengan serangan kilat, mempergunakan pedang bengkoknya dan sekali menangkis, kembali pedang Pek Mo-ko terpental, hampir terlepas dari pegangan. Kemudian terjadilah pertempuran hebat. Namun mudah dilihat bahwa Pek Mo-ko masih kalah lihai sehingga ia main mundur saja. Pada suatu saat yang tepat, tongkat di tangan Pok Pok Sianjin berhasil menyodok dada Pek Mo-ko yang terjengkang dan roboh sambil muntahkan darah. Baiknya tenaga lwee-kangnya sudah matang sehingga ia dapat memelihara, dan menjaga isi dada. Ia muntahkan darah bukan karena terluka, melainkan karena telalu keras mengerahkan hawa menjaga dada. Namun ia tak mungkin dapat melawan terus dan Hek Mo-ko menyeretnya ke pinggir.

Pok Pok Sianjin menghampiri pedang dan kitab, hendak mengambilnya, akan tetapi tiba-tiba dari samping ada angin menyambar, Pok Pok Sianjin terkejut sekali dan cepat melompat mundur. Sebatang pedang hampir saja menabas putus lengannya, demikian cepatnya gerakan pedang yang menyerangnya itu. Ketika ia menengok, ia melihat seorang kakek tua sekali berdiri sambil mengurut-urut jenggot.

“Kiam Ki Sianjin, kembali kau berada di antara orang-orang jahat!” Pok Pok Sianjin memaki. “Memang, ular belang selalu berkawan dengan segala binatang berbisa.”

“Ha, ha, ha, bocah kemarin sore berani main gila. Gurumu sendiri belum tentu berani berlagak sombong di depanku, kau masih kanak-kanak bau ingus ketika aku sudah menjagoi dunia kangouw. Tidak tahukah kau bahwa di dunia kang-ouw sekarang ini tidak ada orang-orang yang dapat menandingi Thian-te Sam-kauwcu? Mengapa kau masih membutakan mata? Lebih baik kalian cepat mengakui bahwa Thian-te Sam-kauwcu memang patut menjadi pimpinan besar dari semua partai.”

“Ngaco-belo! Kau memang ular kepala dua, kaukira aku takut kepadamu?” Pok Pok Sianjin tak mau membuang banyak waktu lagi, cepat ia menyerang dengan tongkatnya.

Dengan tertawa mengejek, Kiam Ki Sianjin menggerakkan pedang dan menangkis serangannya. Segera keduanya bertempur seru. Bagi para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu masih ingat bahwa Kiam Ki Sianjin adalah tokoh besar yang lihai, bahkan ia pernah bekerja sama dengan Hek I Hui-mo. Sekarang melihat murid Hek I Hui-mo berada di pihak Bu Pun Su, selain heran ia juga marah sekali. Apalagi ketika ia melihat betapa dengan mudah Pok Pok Sianjin mengalahkan Pek Mo-ko, ia tak dapat menahan kemarahannya dan muncul ke depan tanpa bertanya lagi kepada Thian-te Sam-kauwcu, karena memang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, tidak jauh selisihnya dengan tingkat kepandaian tiga ketua itu.

Betapapun lihainya Pok Pok Sianjin, menghadapi pedang Kiam Ki Sianjin ia repot juga. Murid Hek I Hui-mo ini memang tadinya hanya seorang sastrawan muda dan ia hanya terpaksa saja menjadi murid tokoh besar Hek I Hui-mo (baca Pendekar Sakti). Maka setelah ia mewarisi ilmu silat tinggi, ia jarang sekali berlatih dan biarpun kepandaiannya sudah tinggi, akan tetapi ia jarang bertempur. Kini yang dihadapinya adalah seorang ahli silat tinggi yang boleh dibilang pekerjaannya sehari-hari hanya bersilat dan bertempur, maka dalam jurus ke empat puluh, pedang Kiam Ki Sianjin berhasil melukai pundaknya. Terpaksa Pok Pok Sianjin melompat ke belakang, ditertawai oleh Kiam Ki Sianjin.

Kun Beng marah sekali dan sambil memaki keras ia melompat maju menggantikan Pok Pok Sianjin, tombaknya terus digerakkan menyerang Kiam Ki Sianjin. Kakek ini tertawa terkekeh-kekeh dan menggerakkan pedangnya menangkis sehingga sekejap kemudian mereka telah bertanding mati-matian.

Melihat bahwa sute itu pun agaknya takkan dapat menangkan Kiam Ki Sianjin yang lihai, Swi Kiat berseru keras dan murid pertama dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini memasuki kalangan pertandingan dengan senjatanya yang ampuh di tangan, yakni sepasang kipas, senjata istimewa dari mendiang gurunya!

“Perlahan dulu, tukang dapur!” Hek Mo-ko membentak dan bersama Pek Mo-ko, ia menyambut Swi Kiat Siansu. Dua saudara iblis hitam putih ini telah mengambil senjata cadangan dan biarpun mereka telah terluka, namun luka yang ringan itu tidak menghambat gerakan mereka. Terpaksa Swi Kian Siansu menghadapi keroyokan Hek Pek Mo-ko yang tentu saja amat berbahaya setelah maju bersama.

Pok Pok Sianjin yang terluka pundaknya, tidak mau tinggal diam melihat dua orang kawannya didesak. Ia melompat maju dan tongkatnya kembali menyambar-nyambar, akan tetapi sebelum ia dapat membantu, terdengar suara ketawa merdu dan tahu-tahu seorang gadis cantik jelita menyambut tongkat dengan sepasang pedang. Temyata bahwa Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu telah turun tangan! Pek Hoa Pouwsat memiliki kepandaian yang istimewa dan masih lebih tinggi tingkatnya daripada Hek Pek Mo-ko, maka tentu saja dalam beberapa belas jurus Pok Pok Sianjin telah terdesak hebat, terkurung oleh sepasang pedang dan keselamatannya terancam sekali!

Sui Ceng menjadi bingung. Ia menoleh ke sana ke mari mencari-cari Bu Pun Su. Baru pembantu dan murid-murid Thian-te Sam-kauwcu saja yang maju, pihaknya telah terdesak. Tak disangkanya bahwa pihak Mo-kauw demikian lihai. Kalau sampai Thian-te Sam-kauwcu sendiri yang maju, dapat diramalkan bahwa dia dan kawan-kawannya takkan dapat keluar dari tempat itu dengan selamat.

“Maju…! Serbu dan rampas kitab dan pedang!” hampir berbareng, para pimpinan Siauw-lin-pai dan Kun-lun-pai memberi aba-aba dan dua puluh orang Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai serentak maju sambil menggerakkan senjata masing-masing.

Hek-te-ong tertawa bergelak. “Kawan-kawan, sambut mereka! Jangan biarkan hidup seorang juga! Kalau kita dapat menumpas mereka, dunia kang-ouw pasti akan mengakui kekuasaan kita!”

Pihak Mo-kauw bersorak-sorai dan terjadilah perang tanding yang hebat dan mati-matian. Sui Ceng tidak mau pusingkan tentang Bu Pun Su lagi, sungguhpun hatinya amat mendongkol.

“Benar-benarkah Kwan Cu berubah menjadi seorang pengecut yang tak tahu malu?” pikirnya. Namun ia tidak mau tinggal diam dan sekali ia berseru nyaring, cambuknya berbunyi, “Tar! Tar! Tar!” dan seketika itu juga, empat orang anak buah Mo-kauw roboh menjerit dan bergulingan untuk menghadapi maut!

Sui Ceng hendak mengamuk terus. Tiba-tiba ia melompat mundur karena ia mendengar suara Bu Pun Su berbisik dekat telinganya, “Sui Ceng, demi keselamatan semua kawan, kaurobohkan lebih dulu Wi Wi Toanio. Kaulihat wanita yang berbaju biru memegang pedang itu. Serang dia dan robohkan sampai tidak berdaya. Awas, di sebelah kirinya, laki-laki yang memakai baju kuning itu adalah An Kai Seng, musuh besar kita!”

Sui Ceng memandang ke sana ke mari, akan tetapi tidak melihat Bu Pun Su. Ia sudah menjadi marah sekali ketika mendengar bahwa yang berbaju kuning adalah An Kai Seng, maka sekali ia melompat, ia telah berhadapan dengan An Kai Seng. Tanpa banyak cakap, ia lalu menyerang.

“Jahanam An, mampuslah kau!” Cambuknya menyambar hebat, mengeluarkan bunyi yang keras sekali. An Kai Seng yang diserang secara mendadak, kaget bukan main. Ia bukan seorang lemah dan cepat pedangnya menangkis. Namun ia tidak berdaya karena kali ini, Sui Ceng mempergunakan semua ujung cambuknya yang berjumlah sembilan. Pedang An Kai Seng dapat menangkis sebagian ujung cambuk, akan tetapi tetap saja dua ujung cambuk menotok jalan darahnya satu di leher dan satu lagi di ubun-ubun! An Kai Seng menjerit ngeri dan roboh tak bemapas lagi.

“Perempuan jahat, kau berani mencelakai suamiku!” Wi Wi Toanio- menjerit dan mengirim tikaman dengan pedang. Namun tentu saja Wi Wi Toanio bukan merupakan lawan tangguh bagi Bun Sui Ceng, murid Kiu-bwe Coa-li yang lihai ini. Beberapa gebrakan saja, Wi Wi Toanio roboh pingsan terkena sabetan cambuk pada pinggangnya. Gemas mengingat bahwa perempuan ini adalah isteri musuh besamya, yakni An Kai Seng keturunan An Lu San yang amat dibencinya, Bun Sui Ceng mengayun cambuk hendak memberi pukulan maut. Akan tetapi tiba-tiba ia terjengkang ke belakang dan di depannya berdirilah Hek-te-ong dengan senjatanya yang aneh di tangan, yakni sebuah penggada kepala biruang! Sambaran senjata ini saja sudah dapat membuat Sui Ceng terjengkang, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dari ketua Mo-kauw ini.

Akan tetapi Sui Ceng memang tak pemah mengenal takut. Cambuknya bergerak-gerak laksana sembilan ekor ular dan ia menyerang Hek-te-ong dengan pengerahan tenaga seluruhnya. Diam-diam Hek-te-ong harus mengakui keganasan dan kehebatan wanita ini, akan tetapi karena memang ia telah memiliki kepandaian yang amat tinggi, lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Kiam Ki Sianjin, ia dapat menghadapi Bu Sui Ceng dengan amat baiknya. Bahkan senjatanya penggada yang aneh itu dengan amat kuat dan pasti mulai mendesak Sui Ceng.

Sementara itu, Kiang Liat yang tadinya tidak berdaya karena ia maklum akan rendahnya tingkat kepandaiannya menghadapi para tokoh besar itu, setelah melihat dua pihak berperang tanding tanpa memilih jago, segera mencabut pedangnya dan menyerbu. Ia paling benci melihat Pek Hoa Pouwsat yang pemah mengganggunya. Apalagi kalau ia teringat akan kata-kata isterinya bahwa wanita cantik seperti siluman ini pemah berjanji untuk menengok anaknya, kekhawatirannya amat besar. Kini melihat Pek Hoa Pouwsat mendesak Pok Pok Sianjin, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu terjun ke dalam pertempuran dan mempergunakan segala kepandaiannya untuk membantu Pok Pok Sianjin.

“Eh, bocah she Kiang, kau masih belum mampus?” Pek Hoa Pouwsat yang mengenal Kiang Liat mengejek dan pedangnya kini bermain-main di atas kepala Kiang Liat. Kalau tidak ada Pok Pok Sianjin, tentu dalam beberapa jurus saja Kiang Liat akan roboh. Setelah Kiang Liat membantu, keadaan Pok Pok Sianjin tidak begitu terdesak lagi, karena biarpun Kiang Liat masih kalah jauh tingkat kepandaiannya, namun kiam-hoat dari orang muda ini tak boleh dibilang lemah.

Pek Hoa Pouwsat gemas sekali. Dicabutnya sehelai saputangan dari saku bajunya. Melihat saputangan merah ini, Kiang Liat terkejut sekali.

“Locianpwe, awas saputangan beracun itu…!” katanya. Akan tetapi terlambat, sambil tertawa kecil Pek Hoa Pouwsat mengebutkan saputangannya.

Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar suara orang, “Perempuan keji!” dan tiba-tiba saputangan merah itu direnggut lepas dari tangan Pek Hoa Pouwsat dan di lain saat, terdengar suara “tak!” dan patahlah pedang di tangan kiri perempuan itu! Pek Hoa Pouwsat menjadi pucat dan ia melompat jauh ke belakang, mulutnya memaki-maki,

“Bu Pun Su, lain kali kubunuh kau…”

Memang Bu Pun Su yang turun tangan pada saat berbahaya itu. Tadinya ketika melihat Wi Wi Toanio, terbang semangatnya. Ia maklum bahwa kalau perempuan berbahaya itu mempergunakan tusuk konde untuk mempengaruhinya, ia takkan berdaya. Maka cepat-cepat Bu Pun Su pergi dan mengintai dengan hati gelisah. Melihat betapa pihaknya menderita kekalahan, ia lalu mengirim suara untuk membantu Han Le, kemudian ia mengirim suara pula kepada Bun Sui Ceng untuk merobohkan Ang Kai Seng dan Wi Wi Toanio.

Setelah dilihatnya bahwa Wi Wi Toanio telah tak berdaya pula, dengan girang Bu Pun Su lalu menerjang maju. Pertama-tama ia menolong Kiang Liat dan Pok Pok Sianjin yang hampir saja menjadi korban saputangan merah beracun dari Pek Hoa Pouwsat. Setelah itu, ia lalu cepat menolong yang lain. Pedang dan golok orang-orang Mo-kauw beterbangan, orang-orangnya roboh menjerit kesakitan tanpa melihat siapa yang merampas senjata dan merobohkan mereka. Demikian cepatnya gerakan Bu Pun Su Pendekar Sakti.

“Tahan semua senjata! Thian-te Sam-kauwcu, kalau kalian memang laki-laki, jangan main keroyokan. Aku Bu Pun Su lawanmu. Mari kita mengadu kesaktian secara laki-laki!”

Mendengar ini dan melihat betapa orang-orangnya banyak yang roboh, Het te-ong lalu memberi aba-aba untuk menyuruh orang-orangnya mundur. Keadaan menjadi sunyi kembali. Mereka yang terluka, baik dari pihak Mo-kauw maupun dari anak-anak buah Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, ditolong oleh kawan-kawannya dan ditarik ke belakang untuk diobati.

“Bu Pun Su, kenapa kau baru muncul?” Sui Ceng menegur marah kepada Bu Pu Su.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: