Ang I Niocu ~ Jilid 9

“Im Giok, mengapa ribut-ribut urusan mati hidupnya seorang manusia macam dia? Dia telah memergoki kita, ini artinya dia harus mampus. Orang macam dia, mati atau hidup apa sih artinya? Kita boleh berbuat sesuka kita, itulah hukum kang-ouw, siapa kuat dia menang!”

Jawaban ini meragukan hati Im Giok. Biarpun semenjak berusia enam tahun ia telah ikut Pek Hoa dan selalu melihat contoh-contoh buruk, namun Im Giok adalah keturunan orang baik-baik. Ibunya seorang wanita bijaksana, ayahnya seorang laki-laki gagah perkasa maka sedikitnya ia pun mempunyai watak yang baik dan gagah. Menghadapi perbuatan yang keterlaluan dari Pek Hoa, hatinya memberontak. Apalagi ketika ia melihat beberapa kali Pek Hoa tidak bermalam di kamar hotel dan diam-diam pergi meninggalkannya sampai semalam suntuk dan keesokan harinya pagi-pagi baru datang dengan senyum-senyum aneh, ia menjadi makin curiga. Namun ia tidak dapat menentang wanita yang menjadi pendidiknya ini. Betapapun juga, ia harus akui bahwa Pek Hoa telah bersikap amat baik terhadapnya, amat baik dan penuh kasih sayang.

Beberapa pekan kemudian, Pek Hoa mengajak Im Giok masuk ke dalam pekarangan sebuah gedung besar di tengah kota Cin-an. Im Giok merasa heran karena biasanya kalau Pek Hoa memasuki gedung besar, waktunya tengah malam dan jalan masuknya melalui genteng!

“Enci Pek Hoa, rumah siapakah ini?”

“Rumah seorang gagah bernama Kam Kin berjuluk Giam-ong-to (Si Golok Maut). Kau harus sebut Susiok (Paman Guru) kepadanya.”

Kedatangan mereka segera disambut oleh tuan rumah, seorang laki-laki berusia tiga puluh lebih, tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan sikapnya cukup gagah. Hanya sayangnya, pandang matanya kejam dan senyum bibirnya membayangkan watak mata keranjang dan curang.

“Aduuh, pantas saja aku bermimpi kejatuhan bulan!” laki-laki itu berseru sambil tertawa-tawa dan kedua lengannya dibentangkan ketika ia menyambut Pek Hoa, seakan-akan siap hendak memeluknya. “Tidak tahunya benar saja dewiku yang jelita datang berkunjung…”

Kata-katanya berhenti ketika Pek Hoa mengerutkan alis dan memberi isarat dengan matanya ke arah Im Giok, mencegah laki-laki itu bicara secara demikian bebas di depan Im Giok. Kam Kin, laki-laki itu, tertawa menyeringai dan ketika ia menengok ke arah Im Giok, sinar kagum terbayang dalam pandang matanya.

“Aha Pek Hoa-suci, muridmu ini benar-benar hebat dan manis sekali! Kalau kau seperti bunga cilan putih yang sudah mekar semerbak harum, muridmu ini adalah tunas cilan yang merah. Ha, ha, ha!”

Sekali pandang saja, Im Giok merasa benci kepada laki-laki yang menyambut mereka ini. Sungguhpun ia dapat menekan perasaannya, namun tetap saja wajahnya kehilangan serinya.

“Im Giok, beri hormat kepada Kam-susiok,” kata Pek Hoa.

Terpaksa Im Giok menjura untuk memberi hormat tanpa memandang wajah orang.

“Teecu Kiang Im Giok memberi hormat kepada Kam-susiok,” katanya sederhana lalu berdiri lagi di samping gurunya.

“Ha, ha, bagus sekali. Orangnya manis, namanya indah dan suaranya merdu seperti gurunya,” Kam Kin menepuk tangan tiga kali dan dari dalam muncullah tiga orang wanita muda yang cantik-cantik. Mereka ini adalah pelayan-pelayan dari hartawan ini, akan tetapi pakaian mereka sesungguhnya tidak patut bagi para pelayan, lebih pantas kalau mereka ini disebut selir-selir dari Kam Kin.

“Siapkan, kamar yang bersih dan layani Nona Kiang Im Giok ini baik-baik,” katanya kepada mereka. Sambil tertawa-tawa tiga orang perempuan muda itu lalu menggandeng tangan Im Giok dan ditariknya nona cilik ini di dalam gedung. Tadinya Im Giok hendak menolak, akan tetapi Pek Hoa berkata, “Kau pergilah beristirahat, Im Giok. Tak usah sungkan-sungkan, kita berada di rumah sendiri. Besok pagi-pagi kita bertemu kembali di ruang depan ini. Aku ada perundingan penting dengan susiokmu.”

Terpaksa Im Giok ikut dengan tiga orang pelayan itu dan di belakangnya ia mendengar suara ketawa-ketawa dari Pek Hoa dan Kam Kin, dan lapat-lapat ia mendengar lagi sebutan-sebutan mesra dari mulut Kam Kin kepada gurunya.

Di dalam kamarnya Im Giok hampir menangis. Ia kecewa sekali. Makin terbukalah matanya dan biarpun belum berani ia menuduh gurunya sebagai seorang penjahat wanita cabul, akan tetapi kepercayaannya mulai berkurang dan hatinya mulai ragu-ragu. Ia tidak ragu lagi bahwa tuan rumah yang bernama Giam-ong-to Kam Kin ini bukanlah orang baik-baik. Bagaimanakah gurunya bisa bergaul dengannya? Ia tidak dapat tidur sama sekali. Bocah yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini mulai merasa sengsara dan gelisah. Ia amat merindukan ibunya, bahkan ia mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ketika ayahnya pergi meninggalkan ibunya, ia baru berusia dua tahun dan tak dapat mengingat lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya. Ia mulai rindu kepada ibunya, kepada ayahnya, kepada kebebasan! Biarpun Pek Hoa baik terhadapnya, namun ia tidak merasa bebas. Ia harus tunduk dan taat, harus menelan apa saja yang disuguhkan kepadanya. Semua perbuatan gurunya yang sebetulnya ia anggap amat tidak patut dan tidak menyenangkan hatinya, mau tidak mau harus ia terima dan ia anggap baik, atau setidaknya, ia tidak boleh menyatakan pendapatnya.

Seperti biasa, di mana saja Pek Hoa membawanya, ia tidak pernah kekurangan makan. Di rumah gedung dari orang she Kam ini pun ia dilayani dengan baik-baik, bahkan ia disuguhi makanan-makanan lezat dan mewah. Akan tetapi, Im Giok tidak dapat merasai kenikmatan makanan itu, bahkan ia menelan makanan dengan paksa hanya untuk berlaku pantas karena ia sungkan menolak sambutan orang yang demikian baik.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Im Giok sudah siap untuk melanjutkan perjalanan dengan gurunya. Alangkah girangnya ketika pagi itu Pek Hoa sudah datang ke kamarnya dan berkata dengan wajah berseri,

“Im Giok, mari kita berangkat! Kau akan melihat betapa aku memberi hajaran kepada seorang di antara musuh-musuh besarku.”

“Yang mana, Enci?” tanya Im Giok ikut gembira karena hendak menyaksikan pertempuran.

“Hwesio-hwesio dari Siauw-lim-si, Kok Beng Hosiang dan dua orang hwesio muridnya. Kebetulan sekali dia dan muridnya berada di sebuah kelenteng tak jauh dari kota ini.”

Akan tetapi, kegembiraan Im Giok segera lenyap ketika ia melihat Giam-ong-to Kam Kin telah menanti di pekarangan rumah dengan tiga ekor kuda. Jelas bahwa laki-laki ini hendak ikut pergi pula! Pek Hoa bermata tajam dan ia dapat melihat kerutan alis muridnya, maka ia cepat berkata,

“Susiokmu akan ikut membantuku, Im Giok, kau naiki kuda yang putih itu, kelihatannya paling, baik.” Kata-kata terakhir ini diucapkan oleh Pek Hoa untuk menyenangkan hati muridnya.

“Jangan yang itu. Kuda itu masih setengah liar. Lebih baik Im Giok naik yang ini!” Kam Kin cepat berkata sambil menuntun seekor kuda bulu hitam dan didekatkan kepada Im Giok.

Im Giok tidak biasa menunggang kuda. Akan tetapi sebagal murid orang pandai yang sudah memiliki kepandaian lumayan, ia tidak merasa takut dan dengan gerakan ringan ia melompat ke atas punggung kuda hitam itu.

Mereka segera berangkat. Kam Ki dan Pek Hoa menjalankan kuda berdampingan, sedangkan Im Giok menjalankan kuda di belakang mereka. Dengan hati sebal dan muak ia melihat betapa sikap gurunya dan susioknya amat mesra. Di sepanjang jalan kedua orang itu bersendau-gurau dengan sikap mesra. Makin besarlah perasaan tidak suka mendesak di hati Im Giok, rasa tidak suka terhadap orang yang selama ini ia anggap sebagai gurunya.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Pek Hoa kepada Im Giok. Kok Beng Hosiang, tokoh ke tiga dari Siauw-lim-pai, murid ke dua dari Hok Bin Taisu yang dulu ikut pula menyerbu Thian-te Sam-kauwcu bersama suhengnya untuk mengambil kembali kitab yang tercuri, pada waktu itu sedang keluar dari Siauw-lim-si dan berada di sebuah kelenteng yang tidak jauh letaknya menyebarkan Agama Budha di belakang kelenteng lain. Dalam perjalanan ini ia dikawani oleh dua orang muridnya. Hal ini diketahui oleh Kam Kin yang segera memberi tahu kepada Pek Hoa dan siap pula membantunya.

Kam Kin yang berjuluk Giam-ong-to adalah seorang bekas perampok tunggal yang kini sudah mengundurkan diri setelah berhasil mengumpulkan banyak harta kekayaan. Ia kini hidup sebagai seorang hartawan muda yang tidak beristeri, akan tetapi bukan rahasia lagi bahwa ia mempunyai banyak selir dan dia pun terkenal sebagai seorang hartawan mata keranjang yang tidak segan-segan mempergunakan harta dan kepandaiannya untuk merampas anak bini orang lain. Kalau orang tidak merasa takut terhadap pengaruh hartanya, tentu ia akan merasa gentar menghadapi goloknya, karena Kam Kin memang termasuk seorang ahli silat kelas tinggi.

Biarpun Kam Kin bukan murid Thian-te Sam-kauwcu, namun ia memang termasuk adik seperguruan dari Pek Hoa, karena Pek Hoa pernah pula menjadi murid Cheng-jiu Tok-ong (Raja Beracun Berlengan Seribu), seorang tokoh besar rimba persilatan di daerah barat. Sedangkan raja beracun ini adalah guru dari Kam Kin. Hanya bedanya, kalau Kam Kin hanya menerima kepandaian silat dari Cheng-jiu Tok-ong, adalah Pek Hoa melanjutkan pelajaran dan berguru kepada banyak tokoh lain sehingga kepandaian Pek Hoa tentu saja lebih lihai daripada kepandaian Kam Kin.

Semenjak berusia belasan tahun, Pek Hoa memang sudah bejat moralnya. Ketika masih berguru kepada Cheng-jiu Tok-ong, ia sudah jatuh hati kepada Kam Kin yang lebih muda dan memang tampan. Kedua orang ini seperti sampah dengan keranjang, cocok sekali dan sudah lama mempunyai perhubungan yang tidak bersih.

Lewat tengah hari mereka tiba di depan kelenteng yang dimaksudkan. Dengan tenang Pek Hoa melompat turun dari kudanya, diikuti oleh Kam Kin dan Im Giok, kemudian tiga ekor kuda itu diikat pada pohon yang tumbuh di halaman kelenteng.

Sunyi saja di kelenteng itu. Akan tetapi meja depan dipasangi lilin, tanda bahwa ada penghuninya di dalam kelenteng.

“Kok Beng Hosiang, keluarlah untuk menerima binasa!” Pek Hoa berseru keras.

Terdengar suara orang dari dalam kelenteng dan muncullah dua orang hwesio muda. Mereka merangkap kedua tangan di depan dan sebagai tanda penghormatan, lalu seorang di antara mereka bertanya,

“Sam-wi dari manakah dan ada keperluan apa mencari Suhu yang sedang bersembahyang?”

“Kalian ini dua orang keledai gundul murid Kok Beng Hosiang? Bagus, berangkatlah dulu ke neraka untuk mempersiapkan tempat bagi gurumu!” kata Kam Kin yang sudah mencabut goloknya sambil bergerak maju menyerang secara hebat sekali. Im Giok terkejut bukan main, juga merasa penasaran dan ngeri, maka ia cepat melompat mundur dan berdiri di tempat jauh sambil menonton. Hatinya berdebar tidak karuan, dan kembali rasa tidak suka menyerang batinnya, kini bahkan demikian hebat sehingga mulai timbul benci di dalam hatinya kepada Pek Hoa dan Kam Kin.

“Eh, eh, kalu ini perampok atau orang gila?” hwesio muda itu berteriak marah sambil mengejek. Kemudian secepat kilat kedua orang hwesio itu menyerang, yang pertama menendang ke arah sambungan lutut, yang kedua menghantam ke arah lambung. Mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah diperkenankan ikut guru mereka merantau, ini menjadi bukti bahwa kepandaian mereka bukan rendah, maka tentu saja mereka tidak mudah dirobohkan oleh serangan golok Kam Kin bahkan dapat membalas dengan serangan yang cukup berbahaya.

Sekali pandang saja Pek Hoa cukup maklum bahwa ia tak perlu membantu sutenya. Tingkat kepandaian sutenya masih lebih tinggi dari dua orang hwesio muda ini. Maka sekali menggerakkan tubuh, ia telah melompat di dekat Im Giok dan menonton jalannya pertempuran.

Im Giok mendongkol bukan main. Ia anggap Pek Hoa dan Kam Kin keterlaluan sekali, datang-datang menyerang dua orang pendeta yang tidak terang apa salahnya. Akan tetapi tentu saja untuk membantu dua orang hwesio itu atau mencela Kam Kin ia tidak berani kepada gurunya. Untuk melampiaskan kemendongkolannya, ia sengaja berkata kepada gurunya,

“Enci Pek Hoa, tidak tahunya julukan Susiok Giam-ong-to kosong belaka. Menghadapi dua orang hwesio bertangan kosong saja ia tidak mampu menjatuhkani”

Mendengar ini, Pek Hoa menjadi merah mukanya. Kata-kata itu biarpun ditujukan untuk mengejek Kam Kin akan tetapi seperti juga menampar mukanya sendiri karena Kam Kin adalah sutenya. Ia memandang lagi ke arah pertempuran dan harus ia akui bahwa kiranya sutenya itu masih agak lama untuk dapat mengalahkan dua orang lawannya. Maka dengan gemas sekali ia melompat mendekati tempat pertempuran, lalu mengayun tangan kiri sambil berseru,

“Sute, lekas robohkan mereka. Untuk apa main-main dengan dua ekor keledai macam ini?”

Gerakan tangan kiri Pek Hoa tadi bukan sembarangan gerakan, melainkan gerakan melepaskan Pek-hoa-ciam yang lihai. Segera dua orang hwesio muda itu terhuyung-huyung dan dua kali golok besar di tangan Kam Kin berkelebat, muncratlah darah dan robohlah dua orang hwesio itu dengan leher terbacok dan nyawa melayang.

“Omitohud…! Siluman wanita Pek Hoa, kau benar-benar keji sekali dan tidak kenal tobat. Datang-datang kau telah membunuh murid-murid pinceng, benar-benar siluman jahat.”

Kata-kata ini disusul dengan keluarnya seorang hwesio gemuk yang memegang senjata rantai panjang. Dahulu dalam pertempuran di lembah Sungai Yalu Cangpo, hwesio ini sudah merasai kelihaian Pek-in-ong, seorang di antara guru-guru Pek Hoa. Maka kali ini ia berlaku hati-hati menghadapi Pek Hoa, maklum bahwa wanita siluman ini lihai sekali, apalagi senjata rahasianya.

Melihat musuhnya sudah berdiri di depannya, tanpa banyak cakap lagi Pek Hoa lalu mencabut siang-kiamnya dan melakukan serangan secepat kilat. Kok Beng Hosiang, hwesio gemuk itu, cepat pula menggerakkan senjata rantainya menangkis. Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika pedang bertemu dengan rantai. Kemudian terjadilah pertandingan ilmu silat tinggi yang seru.

Im Giok tidak senang sekali melihat Kam Kin tadi membunuh dua orang hwesio muda, kini ia lebih gelisah melihat hwesio tua gemuk bertempur melawan gurunya. Kalau saja para pendeta itu bertempur dengan lain orang, bukan dengan gurunya, kiranya Im Giok akan turun tangan membantu pendeta-pendeta itu. Biarpun baru empat lima tahun ia berlatih silat, namun berkat latihan sungguh-sungguh dan ilmu silat tinggi yang diturunkan oleh Pek Hoa, kepandaian Im Giok sudah lumayan dan nyalinya besar sekali. Kini melihat Kok Beng Hosiang bertempur melawan gurunya… Im Giok dapat menduga bahwa hwesio itu takkan menang.

Pertandingan itu cukup hebat. Sebagai tokoh ke tiga dan Siauw-lim-pai, kepandaian Kok Beng Hosiang tinggi sekali. Tenaga lwee-kangnya sebenarnya masih mengatasi tenaga Pek Hoa, dan ilmu silatnya amat kokoh kiuat dan tangguh dalam pertahanan. Namun ia harus mengaku kalah gesit dan kalah cepat oleh nona itu. Gerakan Pek Hoa cepat sekali, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda hingga Kong Beng Hosiang nampak terdesak.

Betapapun juga, jago Siauw-lim-si ini dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus lebih sebelum pundaknya terserempet ujung pedang kiri Pek Hoa. Gerakan yang dilakukan oleh Pek Hoa dalam penyerangan yang berhasil itu memang hebat sekali, mengandalkan gin-kang yang sudah tinggi. Sebuah serangan Kok Beng Hosiang dengan rantainya yang menyambar pinggang, dapat ia elakkan dengan lompatan indah dan cepat bagaikan burung tebang, kemudian selagi tubuhnya masih berada di udara, nona ini membalikkan tubuh dan sepasang pedangnya menyerang bertubi-tubi dari atas. Kok Beng Hosiang sudah berusaha menangkis, namun ia kalah cepat sehingga pedang kiri Pek Hoa yang menyambar leher masih saja dapat menyerempet pundaknya, darah membasahi jubah pendetanya.

Kok Beng Hosiang terhuyung ke belakang. Sambil tertawa nyaring dan mengejek, Pek Hoa mendesak terus, siap memberi tusukan-tusukan terakhir. Tiba-tiba berkelebat bayangan dan “traang!” pedang Pek Hoa yang sudah menyambar ke arah ulu hati Kok Beng Hosiang bertemu dengan sebatang pedang lain.

“Im Giok….!” Pek Hoa berseru marah sekali ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah muridnya sendiri. Bocah ini melihat gurunya mendesak dan hendak membunuh hwesio tua gemuk, tak dapat menahan perasaannya lagi, mencabut pedang pendek dan menangkis pedang Pek Hoa!

“Enci, untuk apa membunuh seorang pendeta yang suci? Dia sudah kalah terluka, tak perlu didesak terus, Enci.”

“Bocah, kau lancang sekali!” Kam Kin melompat dan sekali bergerak ia telah merampas pedang Im Giok dan menyambar tubuh bocah itu, dipeluk pinggangnya terus dikempit. Im Giok yang tidak menduga sebelumnya tidak berdaya dan terpaksa ia hanya membikin tubuhnya kaku dalam kempitan susioknya yang tertawa-tawa menyebalkan.

Sementara itu, Pek Hoa terus mendesak Kok Beng Hosiang dengan sepasang pedangnya. Kok Beng Hosiang melawan terus, namun dalam beberapa gebrakan saja, kembali ujung pedang Pek Hoa telah melukai lengannya.

“Hwesio keparat, mampuslah kau!” Pek Hoa menggerakkan sepasang pedangnya secara istimewa, menyerang dari kanan kiri dengan gerak tipu Kim-peng-tian-ci (Garuda Emas Mementang Sayap). Kok Beng Hosiang yang sudah terluka mana dapat menjaga serangan yang datang dari kanan kiri dengan hebat ini? Ia tahu bahwa kali ini ia takkan dapat menghindarkan maut lagi, maka ia hanya menarik napas panjang.

“Pek Hoa Pouwsat, kau benar-benar keterlaluan sekali!” terdengar suara bentakan halus dan Pek Hoa mengeluarkan jerit kecil ketika tiba-tiba pedangnya terbentur oleh sesuatu sehingga terpental. Ia cepat melompat ke belakang dan ketika ia memandang, ternyata yang menangkis pedangnya tadi adalah sebatang ranting yang dipegang oleh seorang pengemis yang amat dikenalnya, yakni Han Le! Orang sakti itu tersenyum.

Han Le adalah seorang yang berwajah tampan dan menarik. Walaupun kini rambut dan jenggotnya tidak terpelihara dan pakaiannya seperti seorang jembel, namun setelah berhadapan muda dan memandang penuh perhatian, ternyatalah oleh Pek Hoa Pouwsat bahwa kulit muka itu bersih dan terawat baik-baik, merupakan wajah seorang jantan yang menggerakkan hati wanitanya! Han Le dan Bu Pun Su merupakan dua orang yang paling berbahaya di antara musuh-musuhnya. Kini melihat Han Le berdiri di hadapannya dengan ranting di tangan, bibir tersenyum dan wajah tenang, dua macam pikiran memasuki kepala Pek Hoa Pouwsat. Pertama bahwa Han Le seorang laki-laki yang sudah masak dan menarik hatinya, kedua bahwa akan menguntungkan sekali baginya kalau ia dapat memikat hati musuh besar ini, selain ia dapat memuaskan hatinya, juga ia mendapat jalan untuk membalas dendam!

Dengan senyum yang manis sekali, Pek Hoa Pouwsat menghadapi Han Le, memainkan matanya yang sinarnya dapat membetot hati setiap pria, baru ia berkata,

“Eh, kiranya Han Le Tai-hiap yang muncul. Kebetulan sekali, siauwmoi sudah lama sekali ingin mengunjungimu dan melihat-lihat keadaan Pulau Pek-le-thio!”

Kulit muka di balik cambang itu memerah dan Han Le menekan perasaan hatinya yang berdebar aneh ketika ia melihat sikap Pek Hoa Pouwsat dan mendengar wanita cantik itu menyebut diri sendiri “siauwmoi” (adinda)! Semenjak pertama kali bertemu dengan Pek Hoa Pouwsat, memang diam-diam di dalam hatinya Han Le kagum sekali dan merasa menyesal serta sayang mengapa seorang wanita demikian manis jelita telah tersesat dan menyeleweng jalan hidupnya. Han Le adalah seorang yang tidak mudah tertarik oleh kecantikan wanita, bahkan semenjak muda ia terkenal sebagai seorang pria pembenci wanita. Akan tetapi, kali ini menghadapi Pek Hoa Pouwsat yang segala-galanya serba cocok dengan seleranya, dan amat menarik hatinya, Han Le harus mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan yang tergoncang.

Akan tetapi Han Le dengan pandang mata keren menegurnya,

“Pek Hoa Pouwsat, mengapa kau melukai dan hendak membunuh hwesio Siauw-lim-si ini?”

Pek Hoa mengerling ke arah Kok Beng Hosiang yang masih sibuk mengobati luka-lukanya, lalu tersenyum dan dengan tubuh digerak-gerakkan secara genit dan kepala dimiringkan, ia berkata kepada Han Le,

“Dia ini musuh besarku, mengapa tidak harus kubunuh? Akan tetapi karena Han Le Tai-hiap datang dan melihat muka Tai-hiap, biarlah kali ini siauwmoi mengampuni kepala gundul ini. Kok Beng Hosiang, kau tidak lekas pergi dari sini? Apa menanti sampai aku bergerak lagi? Hayo pergi lekas!”

Kok Beng Hosiang sudah merasa bahwa ia takkan menang menghadapi Pek Hoa Pouwsat. Biarpun kini ia melihat kedatangan Han Le, akan tetapi ia telah dibikin malu dan tidak ada muka untuk berdiam terus di tempat itu.

“Kau telah menghina Siauw-lim-si, nantikan pembalasan kami!” katanya geram, lalu hwesio ini pergi dengan langkah lebar. Akan tetapi ia tidak pergi jauh karena ia mengambil jalan memutar dan dengan sembunyi ia mengintai, ingin menyaksikan bagaimana Han Le memberi hajaran kepada Pek Hoa Pouwsat dan kawan-kawannya. Kok Beng Hosiang diam-diam merasa sakit hati dan mendongkol sekali, maka ingin ia melihat wanita yang membikin malu padanya itu menerima hajaran keras. Akan tetapi, apa yang dilihat oleh hwesio Siauw-lim-si ini membuat sepasang matanya terbelalak lebar, mukanya merah seperti kepiting direbus dan kepalanya yang gundul licin berdenyut-denyut.

Setelah Kok Beng Hosiang pergi, Pek Hoa mendekati Han Le dengan lenggang dibuat-buat, amat menarik hati karena memang wanita ini memiliki bentuk tubuh yang indah menarik.

“Tai-hiap, seperti kukatakan tadi, sudah lama aku mendengar bahwa Pulau Pek-le-to tempat tinggalmu mengandung banyak rahasia, juga amat indah seperti sorga. Bolehkah aku mengunjungimu? Bawalah aku ke sana, Tai-hiap.”

Han Le mengerutkan keningnya. “Pek Hoa Pouwsat, permainan apakah yang kaukeluarkan ini? Kau adalah murid Thian-te Sam-kauwcu dan kau tahu bahwa aku dan suhengku, juga kawan-kawan lain telah…”

Pek Hoa mengangkat kedua lengannya, digoyang-goyang seperti orang mencegah. Dari dalam lengan bajunya keluar keharuman bunga cilan!

“Han-taihiap, harap kau jangan menyebut-nyebut lagi soal itu. Yang sudah lewat, sudahlah. Terhadap seorang gagah seperti Tai-hiap, bagaimana siauwmoi berani menaruh dendam hati? Yang ada di dalam hati siauwmoi bukanlah dendam dan marah, melainkan… kekaguman dan ingin sekali mempererat persahabatan…” Suaranya terdengar demikian merdu dan penuh gaya sehingga wajah Han Le sebentar merah sebentar pucat.

“Jembel busuk, lekas pergi dari sini!” Tiba-tiba Giam-ong-to Kam Kin yang semenjak tadi mendengarkan percakapan itu dan melihat sikap genit sucinya dengan hati sebal dan cemburu, lalu menggerakkan sepasang goloknya menyerang Han Le!

“Sute… jangan…!” Pek Hoa membentak Kam King akan tetapi terlambat karena sepasang golok itu dengan ganasnya telah menyambar tubuh Han Le.

Bentakan ini sebetulnya bukan dikeluarkan karena Pek Hoa khawatir akan keselamatan Han Le, bahkan sebaliknya ia amat khawatir akan keselamatan sutenya. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Han Le jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Kam Kin.

Memang betul apa yang dikhawatirkan oleh Pek Hoa Pouwsat itu, karena tidak saja Han Le dapat menghindarkan diri dari serangan sepasang golok Kam Kin, bahkan secara cepat dan tak terduga, rantingnya telah menotok pundak lawannya tanpa dapat dielakkan oleh Kam Kin. Giam-ong-to Kam Kin menjerit dan roboh berkelojotan.

Pek Hoa menghampiri dan sekali menepuk punggung dan leher sutenya, Si Golok Maut itu terbebas dari rasa sakit yang luar biasa! Ia bangkit berdiri dan menyeringai, mukanya merah sekali. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia mengambil sepasang golok yang tadi terlempar di atas tanah ketika ia roboh, memasukkan sepasang golok itu di dalam sarung golok, lalu ia melompat ke pinggir, ke dekat Im Giok yang memandang semua itu dengan kagum.

Kam-susiok, mengapa baru sejurus kau mundur lagi?” tanya Im Giok kepada Giam-ong-to dengan nada suara mengejek. Anak ini memang tidak suka kepda Kam Kin, maka kini ia mendapat kesempatan untuk mengejek. Kam Kin memandang kepada bocah itu dengan mata mendelik. Im Giok menahan geli hatinya lalu menengok dan menonton apa yang akan terjadi antara gurunya dan pengemis sakti itu.

“Han-taihiap, kau makin gagah saja, benar-benar siauwmoi kagum dan tunduk. Siauwmoi ulangi lagi keinginan hati siauwmoi untuk pergi berkunjung ke pulaumu, di mana kita dapat saling menukar ilmu dan bercakap-cakap gembira tanpa gangguan orang lain.”

Pek Hoa Pouwsat, kau bicara apakah? Kau dan sutemu telah berlaku kejam, membunuh dua orang hwesio Siauw-lim-si dan menghina seorang tokoh Siauw-lim. Untuk perbuatan jahat ini mana bisa aku mendiamkannya saja?”

Sambil berkata demikian, Han Le sudah menggerakkan ranting di tangannya, mengirim serangan langsung ke arah leher Pek Hoa Pouwsat. Biarpun ia harus mengaku bahwa hatinya amat tertarik, kejantanannya bangkit oleh kecantikan dan kelembutan yang demikian memikat hati, namun kesadaran Han Le masih penuh sehingga ia mengeraskan hati dengan anggapan bahwa wanita cantik menarik yang dihadapinya adalah seorang jahat dan keji dan sebagai seorang pendekar ia harus membasminya.

Pek Hoa Pouwsat mencelat ke belakang, tersenyum manis dan berkata menyindir, “Ayaa, Han-taihiap, galak sekali. Baiklah, mari kita main-main sebentar!” Sambil berkata demikian, Pek Hoa Pouwsat cepat mencabut siang-kiamnya lalu menghadapi Han -Le dengan sikap gagah menarik.

“Awas serangan!” Han Le memusatkan semangatnya dan mulai melakukan penyerangan sungguh-sungguh. Ia maklum bahwa lawannya bukan seorang lemah, karena dahulu ia pernah menghadapi Pek Hoa Pouwsat dan tahu akan kelihaiannya. Akan tetapi, beberapa hari saja berkumpul dengan suhengnya Bu Pun Su, Han Le telah memperoleh kemajuan yang amat banyak. Sehari berkumpul dengan Bu Pun Su dan mendengar nasihat serta penjelasannya dalam hal ilmu silat, sama halnya dengan berlatih satu tahun di bawah pimpinan guru pandai. Oleh karena itu, pertemuan akhir-akhir ini dengah Bu Pun Su membuat Han Le memperoleh kemajuan banyak dalam ilmu silat, dan Bu Pun Su telah membuka matanya untuk melihat kelemahan-kelemahan dan kekeliruan-kekeliruan sendiri.

Oleh nasihat Bu Pun Su ia maklum bahwa orang seperti Pek Hoa Pouwsat mengandalkan kelihaiannya dengan kecepatan, kelincahan, dan siang-kiam-hoat yang tidak terduga gerakannya, mengandalkan gin-kang yang tinggi. Untuk melawan orang seperti ini ia harus berlaku tenang, tidak boleh mencoba untuk mengimbangi kecepatan lawan, sebaliknya berlaku tenang dan mengandalkan lwee-kang membentuk pertahanan yang kuat dan melindungi tubuh dengan hawa pukulan dari rantingnya. Maka ketika Han Le mendapat kesempatan bercakap-cakap dengan suhengnya, ia minta petunjuk untuk menyempurnakan ilmu pedangnya bagian gerakan Jit-in-to-goat (Tujuh Awan Membungkus Bulan), sebuah gerakan ilmu pedangnya yang merupakan benteng pertahanan kuat sekali.

Han Le melakukan gerakan ini dengan tenang dan nampaknya ia tidak banyak bergerak. Kedua kakinya hanya dipentang sedikit, hampir sama dengan kuda-kuda yang disebut Kung-si dengan tubuh agak dibungkukkan seperti dalam kuda-kuda Ci-kung-si. Biarpun kedudukan tubuhnya sederhana saja, akan tetapi kedudukan ini memungkinkan dia untuk menggerakkan rantingnya ke mana.saja sepasang pedang Pek Hoa meluncur. Tanpa banyak mengeluarkan tenaga, Han Le dapat menangkis semua serangan Pek Hoa yang pedang itu susul-menyusul ramai seperti sepasang ular berlumba.

“Han-taihiap, kau benar-benar mengagumkan sekali. Sekarang lihatlah ilmu pedangku yang baru, kaulihat bagus atau tidak!”

Perubahan hebat terjadi pada gerakan pedang Pek Hoa Pouwsat. Biarpun sepasang pedang itu masih melakukan serangan-serangan berbahaya sesuai dengan ilmu silat tinggi, namun gerakan-gerakannya demikian indah dan menarik, tak ubahnya seperti sedang menari saja.

“Indah sekali…!” berkali-kali Im Giok mengeluarkan seruan memuji. Gadis cilik ini tadinya bersikap dingin dan kaku karena Kam Kin berada di dekatnya, akan tetapi sekarang melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh gurunya, ia lupa sama sekali akan adanya Kam Kin di situ. Sepasang matanya bercahaya, wajahnya berseri dan tanpa berkedip ia menonton ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Im Giok memang mempunyai darah seni, suka sekali akan keindahan, maka tarian pedang itu benar-benar mempesonakannya.

“Aaiih, memalukan sekali…” kata Kam Kin dan cemburunya makin menghebat. Biarpun ia tidak terkena pengaruh langsung dari ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat, namun keindahan gerakan pedang, kelemasan gerakan tubuh Pek Hoa, tetap saja terasa olehnya sebagai gerakan-gerakan yang memikat hati, gerakan yang tidak sopan. Pinggang Pek Hoa seakan-akan tidak bertulang, menggeliat-geliat seperti ular, menggerak-gerakkan tubuh bagian bawah, bibir tersenyum manis dan merah membasah, sepasang mata setengah redup dan berkaca-kaca, semua ini ditujukan kepada Han Le.

Pengemis sakti itu masih menggerakkan rantingnya melindungi tubuh dari serangan dua batang pedang yang lihai itu. Akan tetapi ketika Pek Hoa Pouwsat merubah ilmu pedangnya dan mulai dengan ilmu pedang yang seperti tarian indah itu, hati Han Le terguncang hebat. Ia sama sekali tidak tahu bahwa lawannya sedang memainkan ilmu pedang Bi-jin-khai-i, ilmu silat yang sebenarnya merupakan setengah ilmu sihir karena di dalamnya mengandung pengaruh mujijat dari kecantikan wanita untuk merobohkan hati pria. Inilah ilmu silat aneh yang selama ini dilatih secara mendalam oleh Pek Hoa Pouwsat, disediakan untuk merobohkan musuh-musuh besarnya yang tangguh dan kini untuk pertama kalinya, ia pergunakan dalam menghadapi Han Le!

Ilmu silat Bi-jin-khai-i ini memang hebat. Andaikata dimainkan oleh seorang perempuan yang berwajah buruk dan bertubuh tak menarik sekalipun, tetap akan mengeluarkan pengaruh yang dapat merobohkan hati laki-laki. Apalagi sekarang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat yang cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh sepenuhnya wanita, tentu saja daya rangsangnya berlipat ganda. Dalam belasan jurus saja, Han Le mulai terkena pengaruhnya. Dalam penglihatan Han Le, sepasang pedang itu tidak lagi mengancamnya, hanya merupakan tari pedang yang amat indah. Tubuh yang berlenggak-lenggok dan menggeliat-geliat itu seakan-akan melambai dan mengajaknya bergembira dan menari. Lebih hebat lagi, makin lama gerakan Pek Hoa dalam mata Han Le makin luar biasa sehingga nampak olehnya benar-benar seperti lawannya yang cantik itu sedang menanggalkan pakaian sedikit demi sedikit! Walaupun tidak sehelai pun pakaian tanggal dari tubuhnya, namun gerakannya menanggalkan pakaian demikian sewajarnya sehingga sebentar saja Han Le jatuh dalam pengaruh Pek Hoa. Pendekar sakti yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan wanita ini sekarang menjadi lemas seluruh tubuhnya, semangatnya seakan-akah terbang meninggalkan tubuhnya dan pertahanannya menjadi gempur karena caranya bersilat sudah kacau sekali! Demikianiah lihainya ilmu silat Bi-jin-khai-i yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat.

Kalau sekiranya Pek Hoa menghendaki, sekarang dengan lemahnya pertahanan Han Le, dengan mudah ia akan dapat merobohkan dan menewaskan pengemis sakti itu. Akan tetapi Pek Hoa berpikir lain! Wanita ini memang sudah mendengar tentang keadaan Han Le sebagai seorang laki-laki yang selamanya tidak pernah mau berdekatan dengan wanita, terkenal sebagai seorang laki-laki pembenci wanita, hidup seorang diri di Pulau Pek-le-tho dan menjadi sute dari Bu Pun Su. Ini saja sudah menarik hatinya, apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa Han Le pada dasarnya memiliki wajah yang tampan dan gagah. Maka timbullah hati suka dan ia ingin menjadikan pria pembenci wanita ini sebagai kekasihnya. Tidak saja demikian, juga ia mempunyai niat untuk mempelajari ilmu silat yang lihai dari Han Le. Disamping semua ini, ia pun ingin menarik Han Le di pihaknya untuk membantunya menghancurkan musuh-musuhnya, kemudian setelah usahanya berhasil dan ia sudah merasa bosan, mudah baginya untuk melenyapkan Han Le dari muka bumi ini.

Pek Hoa memperhebat gerakan-gerakannya yang penuh gairah dan pengaruh ajaib. Han Le makin mabuk sehingga akhirnya dengan napas memburu pengemis sakti ini mengeluh,

“Pek Hoa Pouwsat… hentikanlah… aku tidak kuat lagi…”

Pek Hoa tersenyum lebar, gembira dan puas bukan main. Kalau ia mau, dengan sekali tusuk saja akan tembus dada Han Le. Dengan ilmu silatnya yang baru ini, ia akan dapat menjagoi dunia kang-ouw! Tentu saja tidak begitu besar pengaruhnya terhadap lawan wanita namun untuk menghadapi lawan wanita, ia cukup memiliki ilmu silat tinggi. Biar Bu Pun Su sekalipun ia tidak takut menghadapinya!

“Han-taihiap, tidak indahkah tarianku ini…?” tanya Pek Hoa dengan suara berlagu.

“Indah, indah sekali, Pek Hoa Pouwsat. Bukan main indahnya,” jawab Han Le sambil berusaha menggerakkan. ranting karena masih saja sepasang pedang itu menyambar dan mengancam, biarpun digerakkan dengan cara yang amat manis dan sedap dipandang.

“Sukakah kau melihat aku memainkannya?”

“Suka, Pek Hoa Pouwsat, aku suka sekali…”

“Han-taihiap,” suara Pek Hoa Pouwsat makin merdu merayu sambil ia memperhebat gerakan-gerakan tubuhnya secara tidak tahu malu. “Sukakah kau kepadaku…??”

Agak lama Han Le tak dapat menjawab, akan tetapi sepasang matanya tak pernah berkedip menelan semua gerakan tubuh lawan dan ia seperti terkena hikmat, terpesona oleh keindahan dan kecantikan yang telah mencengkeram seluruh semangat dan perasaannya. Kini ia sudah tidak menggerakkan rantingnya lagi, berdiri bagaikan patung dan tidak ingat lagi bahwa ia tengah menghadapi lawan, tengah bertempur.

“Aku suka sekali padamu, Pek Hoa…” akhirnya ia menjawab dengan suara perlahan, seperti bukan suaranya sendiri.

Terdengar suara ketawa Pek Hoa Pouwsat, suara ketawa yang terdengar nyaring dan merdu, penuh kegenitan, akan tetapi bagi yang sadar, suara ketawa ini mengandung sesuatu yang mengerikan. Namun bagi Han Le terdengar merdu menarik. Di lain saat Pek Hoa Pouwsat telah menyimpan sepasang pedangnya, melompat maju dan menggandeng lengan kanan Han Le dengan gaya yang manja dan genit, tersenyum-senyum dan melirik-lirik ke arah wajah pengemis sakti itu, membetotnya dan berkata,

“Kalau begitu, Han-taihiap, marilah kita pergi ke pulaumu!”

Han Le yang sudah berada dalam cengkeraman pengaruh jahat, sudah seperti orang mabuk atau orang bermimpi, hanya menurut saja ketika ia ditarik-tarik oleh Pek Hoa Pouwsat. Pek Hoa berpaling kepada Kam Kin yang memandang semua itu dengan mata melotot marah. Ia penuh dengan hati cemburu, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan? Ia tidak berdaya di depan sucinya atau kekasihnya yang memang lebih lihai daripadanya.

“Sute, kau pulanglah dulu, aku titip murid keponakanmu Im Giok, biar menanti kembaliku di rumahmu.” Kemudian dengan suara ketawa seperti siluman, Pek Hoa Pouwsat yang menggandeng lengan Han Le menarik bekas lawannya itu. Han Le tidak membantah dan keduanya berlari cepat sambil bergandengan!

***

“Tidak! Aku tidak mau ikut, jangan sentuh aku!” Dengan gerakan lincah Im Giok melompat dan mengelak menjauhi Giam-ong-to Kam Kin yang hendak menggandeng tangannya.

Kam Kin menyeringai dan memandang kepada Im Giok selaku seekor kucing memandang tikus. Tadinya ia marah dan jengkel sekali melihat sikap Pek Hoa yang pergi bersama Han Le. Laki-laki mana yang takkan menjadi gemas menyaksikan kekasihnya main gila dengan lelaki lain? Akan tetapi setelah ia memandang Im Giok, kegemasannya lenyap, terganti oleh kegembiraan. Biarpun Im Giok baru berusia sepuluh tahun lebih, namun gadis cilik ini sudah mempunyai kecantikan luar biasa. Ia hampir menyerupai Pek Hoa dan pantaslah kalau ia disebut Pek Hoa kecil atau seorang adik dari Pek Hoa Pouwsat. Dalam pandang mata Kam Kin, Im Giok merupakan seorang calon bidadari, atau seperti sebuah kuncup kembang yang tidak kalah menariknya oleh kecantikan Pek Hoa Pouwsat. Dan bocah mungil ini dititipkan kepadanya! Dengan girang ia lalu mendekati Im Giok dan hendak menggandeng. Akan tetapi siapa kira, bocah itu menolak dan menjauhinya.

“Im Giok, jangan banyak tingkah. Gurumu telah menyerahkan kau dalam rawatanku. Hayo ke sini dan ikut aku pulang!” kata Kam Kin sambil melangkah lebar menghampiri gadis cilik itu.

“Aku tidak mau! Kau pergilah sendiri, aku tidak mau ikut denganmu.” Im Giok membandel.

“Eh, eh, bocah bandel. Kalau kau tidak makin manis kalau membandel, tentu sudah kutempeleng kepalamu. Hayo ke sini, berani kau membantah susiokmu?” Kini Kam Kin melompat dan tangannya diulur untuk menangkap pergelangan tangan Im Giok.

“Tidak, aku tidak punyai susiok seperti engkau. Aku tidak mau ikut!” Im Giok mengelak, kemudian melihat Kam Kin berusaha menangkapnya, ia segera melarikan diri.

“Kurang ajar! Sekecil ini sudah kurani ajar dan keras kepala. Benar-benar calon kuda betina liar! Kuncup mawar berduri! Ke sini kau, Im Giok!” Kam Ki mengejar. Akan tetapi Im Glok mempercepat larinya. Dasar bocah ini memang lincah dan ringan tubuhnya, ditambah lagi oleh latihan gin-kang yang ia terima dari Pek Hoa Pouwsat. Sekarang, perasaan wanitanya memperingatkan bahwa ia menghadapi bahaya besar yang mengancam membuat ia ketakutan, maka larinya cepat seperti rusa muda.

“Im Giok, berhenti kau…!” Kam Kin mulai marah dan mengejar secepatnya. Betapapun juga, ia seorang laki-laki dewasa dan ilmu silatnya sudah tinggi maka tentu saja ia dapat mengejar dan menyusul Im Giok. Hanya kelincahan anak itu yang membuat ia mengkal sekali. Setiap kali ia telah mendekat dan hendak menangkap, anak itu tiba-tiba miringkan tubuh dan mengganti arah sehingga Kam Kin terpaksa harus membalikkan tubuh dan kembali telah tertinggal agak jauh.

Namun Im Giok maklum pula bahwa ia takkan dapat menghindarkan diri lebih lama. Kam Kin telah memiliki ilmu lari cepat yang tak dapat dilawannya. Ia berlari terus dan akhirnya Im Giok memasuki sebuah hutan. Di sini ia lebih leluasa mempermainkan Kam Kin karena hutan ini banyak pohonnya. Dengan cara melompat ke sana ke mari dari balik pohon ini ke pondok itu ia dapat menghindarkan diri.

“Manusia tak tahu malu!” makinya berkali-kali. “Mengapa kau tidak mau membiarkan aku pergi? Kau mau apakah? Cih, tak tahu malu. Namanya saja besar, Giam-ong-to, hemm, tak tahunya seorang laki-laki tiada guna, pengecut dan pengganggu anak kecil!”

Kam Kin makin marah. “Siluman cilik, kautunggu saja dan rasakan kalau kau sudah tertangkap olehku!” Dengan amat bernafsu ia menubruk lagi, akan tetapi kemball ia memeluk batang pohon karena Im Giok telah melompat ke tempat persembunyian lain dengan cekatan seperti seekor kera.

“Awas kau, setan cilik, kulumatkan dagingmu, kugerogoti tulangmu…!” Kam Kin memaki-maki gemas. Akan tetapi ia menjadi girang sekali ketika melihat bahwa Im Giok makin mendekati lapangan terbuka yang tidak ada pohonnya. Adapun Im Giok saking sibuknya dan gugupnya, tidak tahu bahwa di belakangnya adalah lapangan terbuka, tempat yang tidak ada pohon dan berarti ia tak akan dapat menyembunyikan diri seperti kalau berada di hutan yang lebat. Kam Kin memaki-maki, mengancam-ancam dan mengejar terus. Akhirnya, Im Giok memekik kaget ketika ia melompat dari pohon terakhir, ia tiba di padang rumput yang tiada berpohon.

“Ha, ha, ha, kupu-kupu cantik, kau hendak lari ke manakah? Lebih baik kau berlaku manis dan menurut saja pergi dengan susiokmu. Kalau kau menurut dan tidak banyak membantah, aku takkan bersikap kasar kepadamu, Im Giok yang jelita,” kata Kam Kin sambil tertawa lebar.

Im Giok melompat dan melarikan diri lagi. Saking gugupnya kakinya terjerat rumput dan ia roboh terguling. Di belakangnya ia mendengar suara Kam Kin tertawa bergelak. Im Giok dalam terguling itu, kedua tangannya menyambar batu dan kayu kering. Kemudian ia melompat berdiri, tangan kirinya digerakkan dan batu tadi melayang ke arah kepala Kam Kin yang hendak menubruknya.

“Eh, kau berani melawanku!” bentak Kam Kin yang mudah saja mengelak dari sambaran batu. Kemudian ia melangkah maju, tangan kanan digerakkan untuk menangkap.

“Jangan sentuh aku!” Im Giok berteriak keras dan ranting kering yang tadi diambilnya dari atas tanah ketika ia jatuh, cepat ditusukkan ke arah pusar susioknya.

Kam Kin terkejut, cepat mengelak. Biarpun yang menyerangnya hanya seorang gadis cilik yang berusia sepuluh tahun, akan tetapi serangan itu dilakukan menurut ilmu silat tinggi, dan biarpun masih kecil, tenaga Im Giok bukanlah tenaga biasa, melainkan tenaga yang sudah teriatih. Apalagi kalau dilihat bagian yang diserang pun bukan bagian tubuh yang kuat. Setelah mengelak Kam Kin lalu menubruk lagi. Namun sia-sia, Im Giok yang sudah berlatih selama empat tahun tidak membuang waktu sia-sia. Ia telah memiliki dasar ilmu silat tinggi dan telah memiliki gerakan yang otomatis dan lincah sekali. Tubrukan Kam Kin dapat ia hindarkan dengan lom patan ke kiri dan sebagai pembalasan, rantingnya kini meluncur cepat menusuk ke arah mata paman gurunya. Tusukan ke arah mata ini hanya pancingan belaka karena ujung ranting, itu sebelum lawan mengelak, telah meluncur, ke arah jalan darah di leher!

Inilah serangan hebat dan luar biasa bagi seorang anak kecil itu. “Kurang ajar!” Kam Kin membentak marah dan juga kaget karena kalau tangannya tidak cepat-cepat menyampok, hampir saja jalan darah di lehernya terkena totokan ujung ranting, dan hal ini bukan merupakan hal yang tidak berbahaya baginya. Saking marahnya, Kam Kin lalu mengeluarkan kepandaiannya, sepasang tangannya ditekuk merupakan kuku harimau dan ia mengeluarkan ilmu silat Hauw-jiauw-kang. Beberapa kali saja ia bergerak, ranting di tangan Im Giok telah kena disambar dan dibetot terlepas dari pegangan Im Giok. Kemudian ia menubruk lagi, Im Giok mencoba untuk mengelak.

“Breettt!” pakaian Im Giok bagian pundak kiri robek hingga nampak kulit pundak yang putih bersih dan halus. Melihat ini, Kam Kin makin menggila dan sambil tertawa-tawa ia menubruk lagi.

Im Giok menjadi bingung. Hanya dengan menjatuhkan diri dan bergulingan ia dapat menghindarkan tubrukan Kam Kin. Kemudian ia melompat lagi dan berlari secepatnya. Diam-diam ia mengeluh karena sekarang habislah dayanya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun mengambil keputusan nekat untuk melawan mati-matian, kalau perlu ia akan melawan dengan dua pasang kaki tangan dan juga giginya.

Setelah mendengar derap kaki pengejarnya sudah dekat sekali di belakangnya sampai-sampai ia mendengar dengus napas Kam Kin, Im Giok memasang kuda-kuda dan membalikkan tubuh, langsung menyerang dengan menonjokkan kedua tangannya ke depan.

“Ha, ha, ha, kau kuda betina liar…” Kam Kin tertawa sambil menggerakkan tangan kiri. Di lain saat, tangan kirinya itu telah memegang erat-erat sepasang pergelangan tangan Im Giok, membuat gadis cilik itu tak dapat berkutik.

Namun Im Giok sudah nekat.

“Lepaskan tanganku!” bentaknya dan kakinya menendang ke arah bawah pusar. Biarpun kakinya kecil, namun sekiranya tendangan ini mengenai sasaran, biarpun Kam Kin berkepandaian tinggi, kiranya Kam Kin akan roboh binasa atau setidaknya pingsan!

Kam Kin cepat menangkap kaki kecil ini dengan tangan kanannya dan di lain saat tubuh Im Giok sudah diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ha, ha, ha, burung cilik, coba kulihat kau mau berbuat apa lagi sekarang, ha, ha, ha!”

Tiba-tiba Kam Kin merasa tubuh Im Giok meronta keras atau seperti juga direnggut orang dari tangannya. Ia tidak tahu betul apa yang telah terjadi, akan tetapi tahu-tahu kedua tangannya sudah kosong dan Im Giok sudah lenyap. Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat bocah itu telah berdiri di atas tanah dan di sebelahnya berdiri seorang kakek yang bermata bintang! Sepasang mata kakek ini demikian tajam berpengaruh sehingga Kam Kin merasa gentar juga, maklum bahwa ia menghadapi seorang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena ia tidak mengenal siapa adanya kakek ini, Kam Kin memberanikan hatinya dan membentak keras,

“Anjing tua, siapakah kau berani bermain gila di depan Giam-ong-to Kam Kin?”

“Kakek, jangan takut. Nama Giam-ong-to hanya untuk menakut-nakuti belaka, sebetulnya dia pengecut besar!” Im Giok berkata dan nona cilik ini kembali dengan nekat maju menyerang Kam Kin dengan pukulan ke arah lambung.

Dengan mudah Kam Kin menangkis, kini karena ia merasa gemas, tangkisannya keras membuat tubuh Im Giok terhuyung lalu roboh tertelungkup di atas rumput. Namun gadis cilik itu tidak menjadi kapok atau takut, bahkan dengan marah ia bangkit kembali dan menyerang susioknya.

“Bocah edan, apakah kau ingin aku marah dan memukul mampus padamu?” bentak Kam Kin dan kali ini ia kembali dapat menangkap tangan Im Giok.

“Boleh pukul mampus, siapa takut?” bentak Im Giok yang meronta-ronta.

“Lepaskan dia!” tiba-tiba kakek itu membentak keras dan aneh sekali. Biarpun Kam Kin tidak melihat kakek itu bergerak, namun ia merasa tangannya. yang memegang lengan Im Giok menjadi lemas dan gadis cilik itu dapat merenggut diri dan terlepas.

Kam Kin memandang kepada kakek itu dengan mata merah.

“Bangsat tua, kau berani mencampuri urusahku?” Sepasang tangannya bergerak dan tahu-tahu golok besarnya telah berada di tangan dan di lain saat ia telah mengirim serangan hebat ke arah kakek itu. Golok itu dibacokkan ke arah kepala untuk kemudian disusul dengan babatan ke leher. Memang permainan golok dari Kam Kin amat ganas dan kuat, dan tidak terlalu dilebihkan kalau ia mempunyai julukan Golok Maut.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba kakek itu dengan tenang dan cepat menggerakkan tangan kiri, lalu menyentil golok itu dengan jari tangannya. Terdehgar suara “Cring” yang keras dan golok itu menjadi somplak! Sentilan kedua menyusul dan kini golok itu terlempar jauh. Kam Kin tidak kuasa menahan karena seakan-akan golok itu direnggut oleh tangan yang bertenaga raksasa.

“Ini untuk kekurangajaranmu kepadaku, dan ini untuk kekejamanmu terhadap seorang gadis cilik!” kakek itu berkata sambil menggerakkan jari tangannya menyentil.

Kam Kin menjerit kesakitan sambil memegangi kedua telinganya yang daunnya sebelah bawah hancur terkena sentilan jari tangan kakek yang lihai itu. Biarpun luka itu tidak berbahaya sama sekali, akan tetapi sakitnya cukup membuat Kam Kin mengaduh-aduh. Darah mengalir di sepanjang lehernya kanan kiri.

“Setan tua, harap suka memperkenalkan nama. Kelak Giam-ong-to Kam Kin pasti akan membalas penghinaan ini!” Kata Kam Kin sambil menggigit bibir menahan rasa nyeri.

Kakek itu tersenyum duka, mengeleng-geleng kepalanya lalu berkata perlahan, “Untuk mencapai tingkat kosong, kau harus belajar puluhan tahun lagi, dan kalau kau sudah mencapai tingkat itu, aku pun sudah mati. Akan tetapi kalau kau menghendaki, biarlah kau tahu bahwa aku kakek tua bangka ini tidak punya nama juga tidak punya kepandaian. Nah, kaupergilah!”

Tiba-tiba wajah Kam Kin menjadi pucat sekali. Ia melangkah mundur tiga tindak seakan-akan kata-kata itu merupakan pukulan yang menyambar mukanya.

“Bu Pun Su…!” katanya setengah berbisik, kemudian ia lari lintang-pukang tanpa menghiraukan goloknya yang masih menggeletak di atas tanah.

Tiba-tiba Bu Pun Su mengeluarkan suara terkejut dan terheran ketika anak perempuan yang baru saja ditolongnya itu menyerangnya kalang-kabut. Im Giok menyerang dengan nekat, sama nekatnya ketika ia tadi menyerang Kam Kin.

“Eh, eh, bukan laku seorang gagah menyerang orang tanpa memberitahukan sebab-sebabnya. Bocah galak, mengapa kau menyerang aku?” tanya Bu Pun Su tanpa mempedulikan tangan Im Giok yang memukul tubuhnya.

“Karena kau bernama Bu Pun Su dan menurut guruku, Bu Pun Su adalah seorang paling jahat di dunia ini dan harus dibasmi,” jawab Im Giok sambil melompat mundur karena pukulannya yang mengenai tubuh kakek itu seakan-akan mengenai tumpukan kain belaka, membuat terheran dan gentar.

Bu Pun Su mengerutkan kening lalu tertawa. “Gurumu memang betul, siapa sih nama gurumu yang mulia.”

“Guruku adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat,” jawab Im Giok bangga. Ia memang selalu merasa bangga mengaku Pek Hoa sebagai gurunya, bukan hanya bangga karena ilmu kepandaian Pek Hoa yang tinggi, terutama sekali bangga karena Pek Hoa dianggapnya wanita paling cantik di dunia ini dan amat mengagumkan hatinya.

Akan tetapi, kalau biasanya orang-orang lelaki mendengar nama Pek Hoa Pouwsat nampak kagum dan gembira, tidaklah demikian dengan kakek ini. Sepasang matanya yang seperti bintang itu bercahaya dan memandang kepada Im Giok dengan tajam berapi seakan hendak membakarnya.

“Dan kau she Kiang?”

“Betul, aku she Kiang bernama Im Giok,” kata gadis cilik itu kini tiba gilirannya terheran.

“Sungguh tak baik! Kalau kau dipelihara dan diambil murid seekor serigala kiranya takkan begitu buruk. Dan kau bahkan girang dan bangga menjadi muridnya. Benar-benar tanda tak baik bagi keluarga Kiang. Eh, bocah tolol, tidak tahukah kau bahwa kau telah diculik oleh siluman betina yang ganas dan jahat?”

“Enci Pek Hoa bukan siluman betina dan aku suka menjadi muridnya,” Im Giok membantah, biarpun di dalam hatinya ia sudah mulai tak suka kepada gurunya itu semenjak mereka turun gunung dan ia melihat perbuatan-perbuatan yang ganjil dan memalukan dari gurunya.

“Bodoh, tolol! Tak tahukah kau bahwa penculikan terhadapmu ini mengakibatkan matinya ibumu dan gilanya ayahmu?” Bu Pun Su membentak.

Wajah Im Giok seketika menjadi pucat. Sepasang mata yang lebar dan indah bentuknya itu terpentang menatap wajah Bu Pun Su tanpa berkedip, kemudian perlahan-lahan mata itu menjadi basah dan air mata mulai menitik turun.

“Ibu… meninggal?” Anak ini sudah lupa lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya yang telah pergi meninggalkan ibunya semenjak ia masih kecil sekali. Selama ia pergi ikut Pek Hoa, yang terbayang di depan matanya hanya wajah ibunya dan ia memang merasa amat rindu kepada ibunya. Kini mendengar bahwa ibunya telah meninggal, tentu saja hatinya seperti diiris-iris dan hanya kemauan dan perasaan yang keras saja yang dapat menahannya sehingga ia tidak menjerit-jerit. Sebaliknya, ia hanya menggigit bibirnya menahan pekik tangis sampai-sampai bibirnya terluka dan berdarah!

Pandangan mata Bu Pun Su agak berubah, kini, ia merasa kagum melihat bocah itu. Tadinya ia mengira bahwa Im Giok tentu akan menangis menjerit-jerit mendengar tentang ibunya meninggal dan ayahnya gila. Perempuan-perempuan cantik biasanya mengandalkan tangisnya. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan bahwa gadis cilik ini tidak menangis, bahkan memperlihatkan kekerasan hatinya dengan menggigit bibir sampai berdarah. Baru berusia sepuluh tahun sudah memiliki kekerasan hati seperti itu, benar-benar seorang anak yang berbakat untuk menjadi orang gagah, pikir Bu Pun Su senang. Kakek ini mendengar tentang nasib Kiang Liat, merasa kasihan sekali. Maka, kini melihat puteri Kiang Liat “ada isinya”, ia ikut gembira.

“Kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu?”

Kesedihan membuat Im Giok tak dapat berkata-kata sampai beberapa lama. Kemudian ia mengeraskan hati menindas perasaannya, dan bertanya. “Di mana ayah? Mengapa ia menjadi gila dan mengapa ia dahulu meninggalkan ibu?”

Bu Pun Su mengerti bahwa anak ini sudah terkena pengaruh Pek Hoa, dapat dilihat tanda-tandanya dari cara anak ini berpakaian, bersolek dan bergaya ketika bicara, maka ia sengaja hendak menjauhkan hati anak ini dari Pek Hoa.

“Ibumu meninggal adalah karena Pek Hoa telah menculikmu. Di depan ibumu, Pek Hoa mengaku sebagai dewi dan dipercaya penuh oleh ibumu. Tidak tahunya, di balik semua itu, Pek Hoa hendak membalas dendam kepada ayahmu yang membencinya. Sengaja Pek Hoa membawamu untuk membikin duka ibumu. Betul saja, ibumu menjadi sedih, bingung dan akhirnya jatuh sakit lalu meninggal. Ayahmu menjadi gila karena melihat ibumu meninggal.”

Im Giok adalah seorang yang masih kecil, usianya baru sepuluh tahun lebih. Tentu saja ia mudah dibakar hatinya. Mendengar kata-kata Bu Pun Su mukanya yang tadi pucat kini menjadi merah sekali.

“Kalau begitu, Suci Pek Hoa yang membunuh ibuku dan merusak hidup ayahku!”

Diam-diam Bu Pun Su menyesal karena ia telah melakukan suatu perbuatan yang buruk, yakni menanam kebencian dalam hati seorang anak-anak. Akan tetapi ini demi kebaikannya sendiri, pikirnya. Kalau anak ini tidak membenci Pek Hoa, banyak bahayanya kelak ia akan meniru sepak terjang Pek Hoa yang dikaguminya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: