Pendekar Sakti (Jilid ke-10)

Demikianlah, dua rombongan dari Sin-to-pang dan Hui-to-piauwkiok itu saling menuturkan apa yang mereka ketahui kepada Sui Ceng dan baru sekarang rombongan Sin-to-pang mengetahui duduk perkaranya yang sesungguhnya.

“Hanya ada dua jalan,” kata para piauwsu itu menutup penuturan mereka. “Pertama, kita minta bantuan Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai, dan ke dua, kita minta bantuan Thian-san-pai untuk menghadapi Toat-beng Hui-houw yang lihai.”

Sementara itu, untuk beberapa lama Sui Ceng tak dapat berkata-kata saking marahnya mendengar penuturan tentang bencana yang menimpa diri ibunya. Kini ia berseru keras dan mencela kata-kata mereka itu.

“Banyak yang cakap tanpa kerja tiada gunanya. Hayo kalian tunjukkan padaku di mana Ibu di tawan. Menghadapi siluman tua itu saja, mengapa ribut-ribut minta bantuan orang lain?”

“Siauw-pangcu berkata benar! Sin-to-pang tidak boleh memperlihatkan kelemahan. Hayo, kawan-kawan dari Hui-to-piauwkiok, kita mengantar Pangcu ke tempat itu dan kita keroyok siluman itu!” kata orang-orang Sin-to-pang.

Akan tetapi, para piauwsu yang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kelihaian Toat-beng Hui-houw, menjadi geli melihat sikap Sui Ceng dan para anggauta Sin-to-pang. Ong Kiat dan Loan Eng sendiri dibantu oleh beberapa orang piauwsu yang tangguh, masih tidak berdaya menghadapi siluman tua itu, apalagi anak kecil ini??

Melihat keraguan orang-orang Hui-to-piauwkiok, Sui Ceng membentak,

“Apakah kalian takut? Hm, kalau aku berhasil menolong ayah tiriku, akan kuceritakan kepadanya bagaimana sikap kalian yang pengecut ini!”

Naik darah para piauwsuitu mendengar ejekan anak kecil ini.

“Siapa bilang kami takut? Hayo kita berangkat sekarang juga!” kata mereka. Diam-diam Sui Ceng tersenyum karena ia telah berhasil membangunkan semangat mereka. Orang-orang ini masih belum percaya kepadanya dan perlu ia memperlihatkan kepandaian agar mereka itu menjadi tenang dan bersemangat.

“Kalian boleh naik kuda dan maju secepatnya. Aku sendiri akan berlari cepat.”

Kembali diam-diam para piauwsu itu mentertawakan Sui Ceng, “Hm, anak ini benar-benar sombong dan keras seperti ibunya,” pikir mereka, akan tetapi, karena rombongan Sin-to-pang yang datang berkuda itu pun telah mengaburkan kuda mereka, para piauwsu itu juga cepat naik ke atas kuda dan menjalankan kuda mereka cepat sekali.

Ketika mereka telah keluar darikota Cin-leng, bukan main heran hati mereka ketika melihat seorang anak perempuan telah berlari-lari di depan kuda mereka. Ketika mereka memandang dengan penuh perhatian, tak salah lagi, anak kecil itu adalah Bun Sui Ceng adanya! Melihat kehebatan ilmu lari cepat dari ketua mereka, orang-orang Sin-to-pang bersorak,

“Hidup Siauw-pangcu!”

Adapun orang-orang Hui-to-piauwkiok amat kagum dan diam-diam mereka pun menaruh harapan mudah-mudahan ketua mereka dan isterinya akan tertolong dari tangan siluman tua itu oleh anak perempuan yang ajaib ini. Adapun Sui Ceng yang di depan, segera memberi tanda kepada orang-orang Hui-to-piauwkiok untuk menjadi penunjuk jalan karena dia sendiri belum tahu di mana adanya sarang Toat-beng Hui-houw.

Diam-diam Sui Ceng agak khawatir juga, bukan khawatir atau takut menghadapi Toat-beng Hui-houw, ah sama sekali tidak. Anak ini keberaniannya malah melebihi ibunya! Yang ia khawatirkan adalah gurunya. Ia tadi pergi tidak memberitahukan kepada Kiu-bwe Coa-li, dan takut kalau-kalau gurunya kelak akan menegur dan memarahinya.

Ketika tiba di tempat di mana kemarin harinya Loan Eng bertempur melawan Toat-beng Hui-houw , mereka semua berhenti dan turun dari kuda. Di situ masih nampak bekas-bekas pertempuran, bahkan mayat para piauwsu yang tak keburu diambil oleh kawan-kawannya masih bergelimpangan di situ.

Kemudian Sui Ceng berseru menantang, “Toat-beng Hui-houw, lekas keluar! Mari kita bertempur seribu jurus!” Akan tetapi, biarpun berkali-kali berteriak, bahkan dibantu oleh para piauwsu dan anggauta Sin-to-pang yang memaki-maki, tidak terdengar jawaban dari iblis tua itu. Hanya gema suara mereka saja terdengar dari kanan kiri dan membuat burung-burung hutan beterbangan dan binatang-binatang kecil melarikan diri bersembunyi di dalam semak-semak.

Ke mana perginya Toat-beng Hui-houw? Dan bagaimana nasib Loan Eng dan Ong Kiat? Tak jauh dari tempat Sui Ceng dan kawan-kawannya berseru menantang, terdapat sebuah gua besar sekali di bukit batu karang. Gua inilah tempat sembunyi atau sarang Toat-beng Hui-houw dan ke dalam gua ini pula dia membawa Loan Eng dan Ong Kiat.

Pada saat itu, bukan dia tidak mendengar seruan-seruan yang ramai dari hutan itu, akan tetapi dia lagi asyik dengan perbuatannya yang amat terkutuk dan bukan merupakan perbuatan manusia lagi. Di dalam ruangan sebelah kiri gua itu, Loan Eng rebah di atas pembaringan batu dalam keadaan lumpuh dan tak dapat menggerakkan kaki tangannya karena jalan darahnya sudah dipukul dengan tiam-hoat (ilmu menotok) oleh iblis tua itu. Biarpun ia tak dapat menggerakkan kaki tangannya, namun Loan Eng masih sadar dan tahu bahwa dia berada dalam cengkeraman seorang iblis yang jahat sekali. Beberapa kali ia melirik ke dalam ruangan yang suram-suram itu karena mendapat penerangan cahaya matahari yang masuk melalui mulut gua. Akan tetapi ia tidak melihat suaminya, dan dia diam-diam mengeluh.

Tiba-tiba terdengar suara terkekeh-kekeh dan masuklah tubuh Toat-beng Hui-houw di dalam ruangan itu. Loan Eng mengerahkan seluruh tenaga untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, namun sia-sia belaka, bahkan usahanya ini melemaskan seluruh tubuhnya dan membuat luka di pundaknya terasa sakit sekali, hampir tak tertahankan.

“Ha-ha-ha! He-he-he! Pek-cilan, kau telah membunuh suteku dan sekarang kau sudah terjatuh ke dalam tanganku! Ha-ha-ha, kau benar-benar seperti bunga cilan putih. Cantik dan bersih. He-he-he! Darahmu tentu segar dan bersih pula, dan dapat membikin aku muda kembali!” Sambil tertawa-tawa, kakek botak berkuku panjang ini menghampiri pembaringan batu dimana Loan Eng terlentang tak berdaya. Lebih dulu kakek ini meraba kaki tangan Loan Eng, untuk melihat bahwa benar-benar korbannya ini masih berada dalam keadaan lumpuh tertotok sehingga tidak akan dapat melakukan serangan yang tiba-tiba.

Kemudian, dia mendekatkan mukanya pada muka Loan Eng yang tentu saja merasa jijik sekali. Akan tetapi apa dayanya? Ia menahan tekanan hatinya dan ingin melihat apa yang akan diperbuat oleh manusia iblis ini terhadap dirinya. Masih banyak waktu untuk membalas dendam, pikirnya. Tunggu saja kalau aku sampai terbebas.

Akan tetapi, perbuatan yang dilakukan oleh Toat-beng Hui-houw benar-benar di luar dugaannya. Belum pernah ada seorang manusia, betapa gilanya pun, melakukan perbuatan keji seperti itu. Ketika dia telah mendekatkan mukanya dengan muka Loan Eng, ternyata dia tidak berbuat kurang ajar, bahkan kini mukanya diarahkan ke leher Loan Eng yang berkulit halus. Tiba-tiba Loan Eng merasa betapa mulut kakek itu menempel pada lehernya, membuat ia merasa ngeri dan membuat bulu tengkuknya berdiri. Ia mengira bahwa kakek ini hanya ingin mencium lehernya. Akan tetapi, tidak tahunya, kakek ini tidak mau melepaskan lehernya lagi dan sampai lama, mulut kakek itu masih menempel pada lehernya. Perlahan-lahan, Loan Eng merasa betapa kakek itu menggunakan giginya untuk menggigit lehernya yang terasa perih, kemudian ia merasa betapa mulut kakek itu menghisap darah dari luka di leher bekas gigitan! Bukan main ngerinya hati Loan Eng menghadapi perbuatan kakek seluman ini dan kepalanya menjadi makin pening, tubuhnya makin lemas dan tak lama kemudian, nyonya muda ini menjadi pingsan!

Toat-beng Hui-houw ternyata membuktikan ancamannya. Ia hendak menghisap darah pembunuh sutenya ini, bukan saja dengan maksud membalas dendam, akan tetapi juga untuk suatu maksud, yakni dia hendak “mengoper” darah wanita muda yang cantik jelita itu agar supaya dia awet muda! Pikiran dari seorang yang telah lenyap perikemanusiaannya, seorang yang telah berubah menjadi iblis jahat!

Setelah kenyang menghisap darah Loan Eng, Toat-beng Hui-houw tertawa-tawa dan melompat-lompat keluar, ia merasa telah menjadi muda kembali! Sebetulnya bukan karena isapan darah itu yang dilakukan seperti seorang iblis keji, melainkan karena perasaan dan pikirannya yang sudah tidak normal lagi itulah yang membuat dia merasa seakan-akan menjadi muda kembali! Ia keluar dari gua dan kini dia mendengar suara tantangan yang keluar dari hutan.

“Ha, ha, ha, segala tikus busuk! Toat-beng Hui-houw berada disini, kalian mau apa?”

Suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang sepenuhnya sehinga terdengar sampai jauh. Seperti tokoh-tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi, Toat-beng Hui-houw juga pandai Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), maka tentu saja suaranya ini bergema jauh dan terdengar baik-baik oleh Sui Ceng dan kawan-kawannya.

Mendengar suara ini, Sui Ceng lalu melompat dan berlari cepat menuju ke arah suara itu, diikuti oleh kawan-kawannya yang tertinggal jauh. Dengan berkuda saja piauwsu dan anggauta Sin-to-pang masih tidak dapat menandingi ilmu lari cepat Sui Ceng, apalagi sekarang mereka berlari biasa!

Ketika tiba di depan gua, Sui Ceng melihat seorang kakek yang mengerikan sedang menari-nari, berlompat-lompatan dan bernyanyi!

“Aku menjadi muda kembali, muda kembali…..! Ha, ha, ha, Toat-beng Hui-houw menjadi muda kembali!”

Untuk sesaat, Sui Ceng tertegun. Yang berada di depannya itu seperti bukan manusia lagi, melainkan seorang iblis yang mengerikan. Namun, Sui Ceng yang baru berusia delapan tahun itu tidak merasa takut sedikit pun juga. Ia bahkan melangkah maju dan menghadapi iblis tua itu dengan sikap tenang dan tabah.

“Eh, kakek tua miring otak!”

Toat-beng Hui-houw menghentikan tariannya dan memandang heran. Bagaimana ada seorang anak perempuan kecil berani memakinya?

“Kaukah Toat-beng Hui-houw yang berani menangkap ibuku dan ayah tiriku? Lekas lepaskan mereka, barangkali nona kecilmu masih dapat mengampuni dosa-dosamu!”

Toat-beng Hui-houw menggosok-gosok kedua matanya dengan belakang tangan. Mimpikah dia? Atau benar-benar ada seorang gadis cilik yang manis dan elok berdiri dengan gagah dan berani serta mengeluarkan ucapan semacam itu kepadanya? Kemudian ia tertawa bergelak.

“Jadi kau memang puteri Pek-cilan? Ha-ha-ha! Memang bunga cantik berbiji manis pula! Agaknya darahmu lebih segar daripada darah ibumu. Ha, ha, ha! Mari, mari! Kau hendak bertemu dengan ibumu bukan?” Sambil berkata demikian, dia menubruk hendak menangkap Sui Ceng, seperti laku seorang kecil menubruk seekor burung yang indah.

Akan tetapi, alangkah heran hati iblis ini ketika tiba-tiba tubuh kecil itu lenyap dan tahu-tahu sebuah kaki yang kecil mungil dalam sepatu merah bersulam bunga, menendang mukanya! Toat-beng Hui-houw terkejut dan heran, cepat dia miringkan kepalanya, akan tetapi ternyata bahwa tendangan ini adalah tendangan pancingan belaka dan sebelum Toat-beng Hui-houw sempat mengelak, perutnya telah kena ditendang oleh lain kaki yang sama mungilnya!

“Buk!” kaki Sui Ceng tepat mengenai perut, akan tetapi bukan Toat-beng Hui-houw yang roboh, melainkan tubuh Sui Ceng sendiri yang terlempar ke belakang! Akan tetapi, bagaikan seekor burung walet, gadis cilik ini dapat berpoksai (membuat salto) di udara dan turun dengan ringan sekali.

Kalau tadi Toat-beng Hui-houw sampai terkena tendangan Sui Ceng, bukan karena dia kurang lihai melainkan karena kakek ini memandang rendah rendah dan tidak mengira sama sekali bahwa bocah ini akan dapat melakukan gerakan sehebat itu! Sui Ceng ketika ditubruk tadi, secepat kilat melakukan gerakan melompat Can-liong-seng-thian (Naga Terbang Naik ke Langit), kemudian ia melakukan tendangan Ji-liong-twi (Tendangan Sepasang Naga) yang bertubi-tubi sehingga berhasil menendang perut lawannya.

Akan tetapi, yang ditendangnya tertawa saja sedangkan dia sendiri terpental jauh. Bukan main kagetnya Sui Ceng dan anak ini maklum bahwa tenaga dan kepadaian lawannya benar-benar hebat sekali. Sebaliknya Toat-beng Hui-houw juga kagum menyaksikan kegesitan anak perempuan ini, dan kalau saja dia tahu bahwa anak ini adalah murid Kiu-bwe Coa-li, tentu akan lenyap keheranannya dan terganti oleh kekagetan hebat.

“Anak manis, aku harus mendapatkan darahmu!” katanya berkali-kali dan dia menubruk lagi. Namun berkat kegesitan dan ginkangnya yang luar biasa, Sui Ceng lagi-lagi dapat menghindarkan diri. Pada waktu itu, rombongan piauwsu dan anak buah Sin-to-pang telah datang di situ dan mereka menonton pertempuran dengan mata terbelalak kagum. Anggauta-anggauta Sin-to-pang merasa bangga melihat “siauw-pangcu” mereka itu berani menghadapi Toat-beng Hui-houw dengan tangan kosong. Melihat betapa kakek itu seperti seekor harimau buas menubruk ke sana-sini, sedangkan tubuh Sui Ceng bagaikan seekor burung walet beterbangan dan berkelit cepat sekali, mereka itu tak terasa pula meleletkan lidah saking kagum dan tegangnya.

Kalau Toat-beng Hui-houw bermaksud membunuh Sui Ceng, tentu takkan sukar baginya. Biarpun untuk menjamah tubuh anak ini sukar sekali karena memang kegesitan Sui Ceng dapat mengimbangi kegesitan lawannya yang berjuluk Harimau Terbang, namun kalau dia mau, dengan hawa pukulan tangannya, dia dapat merobohkan gadis cilik ini. Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Hui-houw mendapat pikiran lain. Ia menghisap darah Loan Eng hanya karena ingin membalas sakit hati atas kematian sutenya dan ingin awet muda. Kini melihat Sui Ceng yang masih terhitung anak-anak, dia takut kalau-kalau dia berubah menjadi anak-anak pula jika dia menghisap darah anak ini! Memang bodoh, gila, dan jahat adalah sekeluarga, dan kakek ini telah memiliki ketiga-tiganya.

“Aku tidak mau isap darahmu! Aku akan menangkapmu, memlihara dalam sangkar, kau burung cantik!” katanya berkali-kali dan kini dia menyerang dengan kedua tangannya. Alangkah herannya hati Sui Ceng ketika melihat betapa kini sepuluh jari tangan iblis tua itu seperti tidak berkuku lagi. Ternyata bahwa kuku-kuku jarinya terlah dapat digulung ke dalam! Berkali-kali dia mendesak hendak menangkap tanpa melukai tubuh Sui Ceng, namun hal ini benar-benar tidak mudah. Sui Ceng telah mendapat gemblengan dari Kiu-bwe Coa-li, dan dalam hal ginkang dan kegesitan, memang semenjak kecil gadis cilik yang lincah ini berbakat baik.

Para piauwsu dan anak buah Sin-to-pang ketika melihat betapa Sui Ceng terdesak, sambil berteriak-teriak nekat mereka lalu menyerbu dengan golok di tangan. Baik anggauta Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti), maupun para piauwsu dari Hui-to-piauwkiok (Expedisi Golok Terbang) adalah ahli-ahli senjata golok, maka kini belasan batang golok berkilauan dan bergerak-gerak mengurung Toat-beng Hui-houw. Otomatis Sui Ceng juga terkurung karena dua orang ini bertempur sedemikian cepatnya sehingga mereka seakan-akan menjadi satu bayangan besar!

Para pengeroyok itu menjadi bingung. Mereka hanya berteriak-teriak saja dan tidak berani sembarangan turun tangan, karena baru sedetik mereka melihat bayangan lawan, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan berganti oleh bayangan Sui Ceng! Kedua orang ini berputaran, melompat ke sana ke mari, bagaimana mereka dapat membantu Sui Ceng?

“Jangan Bantu aku! Jangan datang dekat!” Sui Ceng berseru, akan tetapi terlambat. Ketika tubuh Toat-beng Hui-houw tiba-tiba menerjang ke arah para pengeroyok sambil meninggalkan Sui Ceng terdengar jeritan berturut-turut dan empat orang pengeroyok roboh tak bernyawa lagi!

“Siluman tua, kau kejam sekali!” teriak Sui Ceng. Anak ini secepat kilat menyambar sebatang golok dari seorang piauwsu yang roboh, lalu ia menerjang lagi ke depan dengan nekat, memutar golok sehingga merupakan segunduk sinar yang menyilaukan.

“Ha, ha, ha, burung cantik, kau harus menjadi peliharaanku!” kata Toat-beng Hui-houw sambil menghadapi serangan-serangan Sui Ceng dengan tenang. Adapun para pengeroyok, ketika melihat betapa empat orang kawan mereka terbunuh dengan demikian mudahnya, serta mendengar perintah Sui Ceng, lalu mengundurkan diri dan menonton dari jauh saja. Mereka bukan merasa takut atau tidak mau membantu, akan tetapi mereka maklum sepenuhnya bahwa bantuan mereka itu sia-sia belaka dan tidak akan dapat menolong, bahkan mereka pasti akan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma saja.

Gerakan Sui Ceng sekarang tidak secepat dan segesit tadi. Hal ini karena sekarang gadis cilik ini memegang sebatang golok yang besar dan berat. Tadinya Sui Ceng sengaja mengambil golok karena ia hendak bertempur mati-matian mengadu jiwa, akan tetapi sebaliknya, dengan golok di tangan ia mendatangkan kerugian pada dirinya sendiri. Golok itu terhadap Toat-beng Hui-houw tidak ada artinya sama sekali, sebaliknya menghambat gerakan sendiri. Dalam beberapa jurus saja, sambil tertawa-tawa, Toat-beng Hui-houw telah berhasil menangkap pinggangnya dan sekali dia menotok jalan darah thian-hu-hiat, lemaslah tubuh Sui Ceng dan golok itu terlepas dari pegangan!

Pada saat itu, menyambarlah beberapa sinar halus sekali. Sinar ini adalah bulu-bulu halus dan panjang yang sekaligus menyerang Toat-beng Hui-houw di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian dari bulu-bulu halus ini melibat tubuh Sui Ceng dan sekali renggut, tubuh Sui Ceng telah terlepas dari pegangan Toat-beng Hui-houw dan melayang ke depan!

Toat-beng Hui-houw terkejut bukan main menghadapi serangan ini. Ia telah terkejut dan jerih melihat macam senjata yang menyerangnya, karena dari senjata ini saja tahulah dia bahwa yang datang menyerangnya adalah Kiu-bwe Coa-li! Kalau ada rasa takut dalam dada Toat-beng Hui-houw manusia siluman ini, maka rasa takut itu mungkin hanya di tujukan kepada lima orang tokoh besar di kalangan kang-ouw, di antaranya ialah Kiu-bwe Coa-li ini!

“Kiu-bwe Coa-li, mengapa kau mencampuri urusanku, sedangkan aku selamanya belum pernah mengganggumu?”katanya penasaran sambil melompat ke belakang, jerih menghadapi pecut sembilan bulu dari Kiu-bwe Coa-li yang kini sudah berdiri di hadapannya dan menggandeng tangan Sui Ceng yang sudah dibebaskan dari totokan pula.

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li mengerti mengapa muridnya sampai kalah oleh Toat-beng Hui-houw. Tadi datang-datang melihat muridnya berada dalam pelukan kakek siluman itu, ia lalu melakukan serangan pecutnya yang paling dan jarang sekali ada orang mampu menghindarkan diri, yakni ilmu serangan Kiu-seng-kan-goat (Sembilan Bintang Mengejar Bulan). Sembilan helai bulu pecutnya menyerang dari berbagai jurusan. Akan tetapi ia hanya berhasil merampas kembali muridnya dan sama sekali tidak berhasil melukai kakek itu. Dari sini saja ia ketahui bahwa kepandaian kakek itu jauh lebih tinggi daripada kepandaian muridnya.

“Siluman jahat, apa matamu sudah menjadi buta?” jawab Kiu-bwe Coa-li dan sepasang matanya mengeluarkan sinar membakar. “Kau berani mengganggu murid pinni (muridku), maka sekarang kau harus mati!”

Bukan main kagetnya, Toat-beng Hui-houw. “Dia ini muridmu……? Ah, Kiu-bwe Coa-li, sungguh mati aku tidak tahu bahwa dia muridmu. Akan tetapi, bukankah aku tidak mengganggunya? Kalau aku bermaksud mengganggunya apakah sekarang ia masih dapat bernapas?”

“Kau memang tidak melukainya, akan tetapi kau telah menghinanya, berarti kau menghinaku pula. Bersiaplah untuk mati!” Kembali Kiu-bwe Coa-li menggerakkan pecutnya, melakukan serangan dengan cara ganas dan tidak mengenal amupun sama sekali. Memang watak Kiu-bwe Coa-li luar biasa ganasnya. Sekali ia turun tangan, ia takkan merasa puas kalau lawannya belum roboh binasa!

Toat-beng Hui-houw bukannya orang lemah. Bangkit rasa penasarannya. Ia memang segan bertempur melawan Kiu-bwe Coa-li dan tentu dia bersedia mengalah jika berurusan dengan orang yang dia anggap memiliki kedudukan lebih tinggi itu. Akan tetapi kalau dia didesak, dia terpaksa melawan.

“Kiu-bwe Coa-li, kau terlalu sekali. Kaukira aku Toat-beng Hui-houw takut menghadapi Kiu-bwe-joan-pianmu (Pecut Berbulu Sembilan)?”

“Siapa peduli takut atau tidak? Aku hanya ingin kau mampus, habis perkara!” Kiu-bwe Coa-li mendesak terus.

Toat-beng Hui-houw mengeluarkan suara keras dan kini sepuluh kuku jari tangannya telah mulur kembali, panjang-panjang, tajam dan runcing mengerikan! Ia cepat mengelak dari serangan lawannya dan membalas dengan serangan pukulan yang mendatangkan hawa dingin dan berbau amis. Ternyata bahwa siluman tua ini telah mengeluarkan pukulan-pukulan maut disertai bisa yang keluar dari hawa pukulan kukunya ini! Kalau tadi dia mengeluarkan ilmu ini, dalam beberapa jurus saja Sui Ceng tentu telah roboh binasa.

Menghadapi pukulan-pukulan hebat ini, Kiu-bwe Coa-li pertama-tama mendorong tubuh muridnya sehingga Sui Ceng terpental dan terpaksa melompat jauh ke pinggir, kemudian wanita sakti ini lalu memutar pecutnya sampai berbunyi mengaung dan kadang-kadang diselingi suara “tar! tar!” dan dari pecutnya yang berekor sembilan ini keluar hawa yang menyambar-nyambar dan yang menolak hawa pukulan berbisa dari Toat-beng Hui-houw. Para piauwsu dan anggauta Sin-to-pang, semenjak tadi berdiri seperti patung. Munculnya seorang tokouw yang memegang pecut ini saja sudah membuat mereka heran sekali, karena tak seorang pun di antara mereka melihat kedatangannya. Kemudian cara pecut tokouw itu merampas Sui Ceng dan kemudian mendengar bahwa tokouw ini adalah Kiu-bwe Coa-li yang tersohor dan menjadi guru Sui Ceng, mereka makin terbelalak. Sekarang, setelah pertandingan antara Toat-beng Hui-houw dan Kiu-bwe Coa-li berlangsung, mereka menjadi bengong dan melongo. Pertandingan ini menurut pendapat mereka bukanlah pertempuran orang-orang pandai, karena keduanya berdiri tidak pernah berpindah dari tempat masing-masing dan hanya kedua tangan mereka saja yang bergerak-gerak cepat sekali ke depan. Hampir saja ada yang tertawa menyaksikan pertandingan ini, karena gerakan kedua orang tua itu seakan-akan mereka sedang membadut.

Akan tetapi, Sui Ceng menonton dengan wajah penuh ketegangan. Ia maklum bahwa permainan cambuk dari gurunya sedang dihadapi oleh lawan dengan ilmu pukulan lweekang yang tinggi sekali tingkatnya. Ketika orang tua itu sedang bertempur mengandalkan hawa pukulan lweekang, maka mereka hanya berdiri berhadapan dan saling memukul dari jauh, sama sekali tidak mengubah kedudukan kaki.

Akan tetapi, beberapa lama kemudian, Toat-beng Hui-houw terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya, karena bulu-bulu pecut Kiu-bwe Coa-li makin lama makin mendesaknya, makin lama makin dekat serangan ujung cambuk itu, terus mendesak hawa pukulannya yang hendak menentangnya. Ia maklum bahwa kalau sampai ujung cambuk itu mengenai tubuhnya, sukarlah baginya untuk menyelamatkan diri lagi. Ia cukup kenal akan kelihaian totokan ujung cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li, seorang di antara tokoh besar dunia persilatan.

“Cukup, siluman betina! Kali ini aku mengaku kalah, akan tetapi lain kali aku akan mengalahkanmu!” kata Toat-beng Hui-houw sambil melompat mundur.

“Keparat pengecut! Kau belum mampus, bagaimana bisa bilang cukup?” seru Kiu-bwe Coa-li sambil mengejar dan melakukan serangan kilat.

Toat-beng Hui-houw cepat mengerahkan tenaganya menangkis sambil melompat jauh, namun tetap saja sebuah daripada sembilan ekor pecut itu dengan tepat menghantam pahanya. Baiknya dia cepat-cepat mengerahkan lweekangnya ke arah bagian tubuh ini sehingga ketika pecut itu dengan suara nyaring menampar paha, hanya kain dan kulitnya saja yang pecah, akan tetapi dia tidak menderita luka dalam.

Getarlah Toat-beng Hui-houw. Ia melompat dan menyambar sebatang pohon besar. Sekali cabut saja jebollah pohon itu dan dia melontarkan pohon ke arah Kiu-bwe Coa-li yang mengejarnya! Terpaksa Kiu-bwe Coa-li melompat pergi dari sambaran pohon yang besar itu, dan ketika hendak melanjutkan pengejarannya, ia teringat kepada muridnya.

“Mari, Sui Ceng, kita kejar siluman itu!” katanya sambil menggandeng tangan muridnya.

Akan tetapi Sui Ceng menarik tangannya dan berkata,

“Nanti dulu, Suthai. Teecu harus menolong Ibu lebih dulu.”

Kiu-bwe Coa-li menghentikan langkahnya. “Ibumu? Di mana dia?”

“Dia telah tertawan oleh Toat-beng Hui-houw. Karena itulah maka teecu datang ke tempat ini. Mungkin Ibu disembunyikan di dalam gua itu.” Sui Ceng menunjuk ke arah gua.

Kiu-bwe Coa-li mengerutkan keningnya. Ia sudah tahu akan kejahatan Toat-beng Hui-houw dan kalau orang terjatuh ke dalam tangan siluman itu, jangan harap akan tertolong lagi jiwanya.

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat melihat dan memeriksa gua itu,” katanya.

Guru dan murid ini lalu berlari-lari memasuki gua. Para piauwsu dan anggauta Sin-to-pang, juga mendekati gua, akan tetapi mereka tidak berani lancang memasuki gua, hanya menanti dan berkumpul di luar gua sambil membicarakan pertempuran dahsyat yang tadi mereka saksikan.

Adapun Sui Ceng dan gurunya yang memasuki gua, mendapat kenyataan bahwa gua itu lebar sekali dan di dalamnya terbagi-bagi menjadi tiga ruang. Mereka memasuki ruang sebelah kiri dan membuka pintu ruang itu yang terbuat daripada kayu. Cahaya yang memasuki ruangan ini suram-suram saja, namun Sui Ceng segera mengenal tubuh yang terbaring membujur di atas pembaringan batu, karena yang terlentang itu bukan lain adalah Loan Eng, ibunya sendiri!

“Ibu…….!” Sui Ceng melompat dan menubruk ibunya. Kiu-bwe Coa-li yang berdiri di belakang muridnya, lalu mengulur tangan dan dengan beberapa totokan di jalan darah nyonya muda yang nampak lemas dan tidak berdaya lagi itu, dapatlah Loan Eng menggerakkan tubuhnya. Akan tetapi ia sudah demikian lemas sehingga hampir tidak kuat mengangkat tangannya. Ternyata bahwa darahnya hampir habis terisap oleh Toat-beng Hui-houw, manusia iblis itu!

“Ibu…… kau kenapakah….??” Sui Ceng menggoyang-goyang tubuh ibunya dan memandang dengan mata terbelalak.

“Sui Ceng….. kau datang……?” Suara Loan Eng lemah sekali, dan hanya kedengaran seperti bisik-bisik saja, “Kebetulan sekali….. aku ada pesan untukmu…….”

“Suthai, tolong Ibuku, mengapa dia begitu lemah?” kata Sui Ceng tanpa mempedulikan kata-kata ibunya, karena ia tidak mau percaya bahwa ibunya akan mati.

Kiu-bwe Coa-li memegang pergelangan tangan Loan Eng, dan ia nampak terkejut, lalu menggeleng-gelengkan kepala dan ketika ia memeriksa leher sevelah kiri dari nyonya muda itu, terdengar wanita sakti ini menggertakkan giginya.

“Jahanam benar….” Bisiknya. Ternyata bahwa kulit leher dari Loan Eng yang putih halus itu kini telah terluka dan di luar luka ini masih terdapat tanda gigitan dan darah-darah yang telah mengering!

“Ibumu takkan tertolong lagi, Sui Ceng. Dia telah kehabisan darah,” katanya tenang. Mendengar ini, Sui Ceng menubruk ibunya dan menangis.

“Sui Ceng, anakku selamanya takkan menangis sedih,” kata Loan Eng. Mendengar tangis anaknya, agaknya Loan Eng mendapat tambahan tenaga baru. “Agaknya aku memang memang harus menebus dosaku kepada kematian ayahmu yang kubunuh sendiri. Aku berpesan kepadamu, Sui Ceng. Kelak kau harus menjadi jodoh murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, karena aku telah menerima pinangan orang tua itu. Nama murid itu The Kun Beng. Nah….. hanya sekian pesanku…..!” Loan Eng makin lemas.

“Ibu….., aku bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini. Akan kucincang hancur tubuh iblis itu….!” Kata Sui Ceng di antara tangisnya.

Biarpun tubuhnya telah lemas sekali, mendengar kata-kata anaknya, Loan Eng memaksa bibirnya tersenyum. Ia merasa senang dan bangga melihat sikap puterinya yang gagah.

“Kau akan berhasil, Sui Ceng, di bawah pimpinan gurumu yang sakti…… dan tentang Sin-to-pang…… kau….. benar, perkumpulan mendiang ayahmu itu amat baik….., mereka telah berusaha menolongku…. jadilah ketua yang baik kelak…..! Sui Ceng, jangan lupa kau tunangan The Kun Beng murid Pak-lo-sian…..nah, selamat tinggal, anakku…..”

Habislah tenaga nyonya itu dan Pek-cilan Thio Loan Eng, pendekar wanita yang cantik dan gagah perkasa itu, menghembuskan napas terakhir dalam pelukan puterinya.

“Ibu………, Ibu……..!” Sui Ceng menangis, kemudian dengan mata beringas ia bangkit berdiri dan berdongak ke atas sambil berkata,

“Toat-beng Hui-houw, manusia iblis. Tunggulah, akan tiba saatnya aku Bun Sui Ceng menghancurkan kepalamu!”

“Tenanglah, Sui Ceng. Apa sih sukarnya membikin mampus manusia seperti Toat-beng Hui-houw itu? Sekarang juga aku dapat mengejarnya dan membikin tamat riwayatnya,” kata Kiu-bwe Coa-li yang merasa kasihan kepada muridnya yang tersayang itu.

“Tidak, Suthai, dia tidak boleh mati di tanganmu atau di tangan siapa juga. Teecu sendiri yang akan membalaskan sakit hati ini.”

Kiu-bwe Coa-li mengangguk-angguk. “Boleh saja, Sui Ceng. Asal kau belajar dengan rajin, tak lama lagi kau akan dapat melaksanakan cita-citamu ini. Juga baik-baik saja kau menjadi ketua Sin-to-pang. Hanya aku agak menyesal mengapa Ibumu begitu tergesa-gesa mejodohkan kau dengan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.”

Sui Ceng tidak menjawab karena di dalam hati gadis cilik ini sama sekali belum ada pikiran tentang jodoh, bahkan ia menganggap ibunya tadi bersenda gurau saja. Ia lalu melanjutkan pemeriksaan di dalam gua. Di kamar lain, mereka mendapatkan tubuh Ong Kiat, juga telah tewas dengan tubuh penuh luka-luka. Biarpun ketika Ong Kiat masih hidup, Sui Ceng tidak suka kepada piauwsu ini karena telah mengawini ibunya, namun kini melihat piauwsu muda itu yang telah menjadi suami ibunya tewas dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan, ia berlutut pula dan berkata perlahan dengan janji bahwa dia akan membalaskan sakit hati mendiang ayah tirinya ini.

Kemudian Sui Ceng dan gurunya keluar dari gua, disambut oleh para anggauta Sin-to-pang dan para piauwsu yang memandang penuh hormat.

“Saudara-saudara sekalian, Ibu dan Ayah telah tewas di tangan iblis itu. Kelak aku sendiri yang akan membalas sakit hati dan membunuh iblis keparat itu, supaya kalian semua bertenang hati. Sekarang, lakukanlah tugas kewajiban masing-masing, dan tunggu sampai aku datang untuk memimpin Sin-to-pang. Adapun para piauwsu, terserah, hendak menjadi anggauta Sin-to-pang baik saja, mau melanjutkan pekerjaan sebagai piauwsu pun boleh. Hanya pesanku, baik Hui-to-piauwkiok maupun Sin-to-pang, harus bekerja sama dalam segala hal. Ingat bahwa akulah yang mewarisi keduanya dan aku pula yang bertanggung jawab atas segala sepak terjang kalian!”

Para anggauta Sin-to-pang dan anggauta Hui-to-piauwkiok, menjadi sedih sekali mendengar betapa ketua mereka telah tewas, namun melihat sikap dan mendengar ucapan Sui Ceng yang benar-benar gagah dan bersemangat, yang sesungguhnya mengherankan sekali keluar dari mulut anak masih demikian hijau, terbangunlah semangat mereka dan serentak menyatakan setuju.

Jenazah Loan Eng dan Ong Kiat diurus dan dirawat baik-baik. Setelah memberi hormat terakhir kepada makam ibu dan ayah tirinya, Sui Ceng lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti gurunya. Semenjak saat itu, Sui Ceng makin tekun belajar dan semua ilmu kepandaian dari Kiu-bwe Coa-li direnggut dan diteguknya seperti seorang kehausan minum air segar. Juga ia dan gurunya tekun mempelajari ilmu silat aneh yang mereka dengar dari Tu Fu yang membacakan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Sebagaimana diketahui, isi kitab ini sebenarnya palsu dan di dalamnya terkandung pelajaran ilmu silat dan latihan tenaga dalam secara terbalik. Kalau sekiranya Sui Ceng sendiri yang melatih diri menurut bunyi kitab ini, tentu ia akan mendapatkan kepandaian palsu yang membahayakan tubuhnya seperti halnya Kwan Cu. Akan tetapi, ia berada di bawah asuhan Kiu-bwe Coa-li, seorang tokoh kang-ouw yang sudah amat tinggi kepandaiannya. Maka tentu saja Kiu-bwe Coa-li tidak dapat tertipu dan nenek yang sakti ini tahu bagaimana harus melatih ilmu silat aneh ini tanpa merusak tenaga sendiri. Cara melatihnya bukan seperti yang dilakukan oleh Lu Kwan Cu, yang menjiplak begitu saja dan menelan semua pelajaran tanpa dipilih lagi. Kiu-bwe Coa-li tidak berlaku sembrono dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia tahu mana yang tidak betul dan mana yang berguna. Oleh karena itu, di antara pelajaran-pelajaran yang masih ia ingat bersama muridnya, ia saring dan pilih lagi, memilih mana yang sekiranya berguna dan dapat di pakai untuk mempertinggi kepandaaiannya.

Melihat ketekunan muridnya, Kiu-bwe Coa-li girang sekali dan nenek sakti ini membatalkan niatnya hendak mencoba ilmu silat barunya kepada seorang di antara tokoh-tokoh besar, bahkan ia lalu mengajak muridnya tinggal di puncak Bukit Wu-yi-san yang berada di Tiongkok Selatan, perbatasan Propinsi Hok-kian dan Kiang-si. Kiu-bwe Coa-li memang berasal dari Hok-kian, maka ia disebut tokoh besar selatan yang ke dua. Sebagaimana di ketahui, tokoh besar selatan pertama adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yang merantau di seluruh propinsi selatan dan tidak tentu tempat tinggalnya.

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dengan cepat membawa lari Lai Siang Pok yang menjadi ketakutan dan kaget setengah mati itu. Anak ini menangis dan minta dengan suara menyedihkan agar supaya dia dilepaskan kembali, namun Hek-i Hui-mo menjawab,

“Kau ingat baik-baik semua isi kitab yang di baca oleh Tu-siucai tadi, baru kau ada harapan untuk hidup terus!”

Mendengar ini Siang Pok mengerti bahwa kakek yang menyeramkan ini benar-benar membutuhkan bantuan untuk mengingat bunyi isi kitab tadi, maka karena maklum bahwa hal itulah satu-satunya jalan baginya untuk dapat menolong diri sendiri dari bahaya, dia lalu mengumpulkan seluruh ingatan dan perhatiannya kepada bunyi isi kitab yang aneh itu.

Lai Siang Pok adalah seorang anak yang amat cerdik luar biasa dan semenjak kecil dia telah digembleng oleh ayah bundanya dalam ilmu kesusastraan. Oleh karena itu, dia sudah biasa menghafal, dan biarpun tadi dia mendengarkan isi kitab yang dibaca oleh Tu Fu dengan setengah hati saja, namun dia telah hampir dapat mengingat semuanya!

Setelah jauh dari kota Kai-feng, Hek-i Hui-mo menurunkan Lai Siang Pok dan berkata,

“Coba kau sekarang mengulang kembali isi kitab itu, hendak kudengar apakah kau ada gunanya bagiku atau tidak!”

Siang Pok mengumpulkan ingatannya lalu mengulang apa yang tadi didengarnya. Mendengar ini, Hek-i Hui-mo menjadi girang sekali karena apa yang diingat olehnya sendiri dari isi kitab itu, ternyata tidak ada seperempatnya dari apa yang dapat diingat oleh Siang Pok!

“Anak baik….! Kau patut menjadi muridku!” katanya girang sambil menepuk-nepuk pundak anak itu. Tepukan ini bukanlah tepukan biasa, melainkan tepukan hendak memeriksa keadaan tubuh dan tulang dari anak laki-laki ini, akan tetapi dia mempunyai watak yang tabah dan keras hati, maka digigitnya bibir untuk menahan rasa sakit.

“Bagus, tidak jelek!” kata Hek-i Hui-mo yang kemudian tertawa bergelak. “Hendak kulihat kelak, siapa yang paling pandai memilih dan mengajar muridnya. Ha, ha, ha, Siang Pok, kau menjadi muridku dan kelak kaulah yang akan menjagoi di antara semua murid orang-orang gila itu. Ha, ha, ha!”

Siang Pok tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kakek hitam ini, akan tetapi diam-diam dia menjadi girang juga. Sering kali anak ini membaca cerita-cerita kuno tentang pendekar dan pahlawan dan diam-diam dia mengagumi sepak terjang dan kegagahan para pendekar itu. Kini mendengar bahwa dia hendak diambil murid oleh kakek yang dia sudah saksikan sendiri kelihaiannya, tentu saja dia menjadi girang. Cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan Hek-i Hui-mo sambil berkata,

“Segala petunjuk dari Suhu akan teecu pelajari dengan rajin.”

“Bagus, mari kita cepat pulang agar kau bisa segera berlatih. Kau sudah tertinggal jauh oleh murid-murid mereka itu.”

“Pulang? Ke mana, Suhu?”

“Ha, ha, ha, tentu saja ke Tibet, ke barat! Hayo!” Sambil berkata demikian, Hek-i Hui-mo menyambar tubuh muridnya dan sekejap kemudian terpaksa Siang Pok meramkan kedua matanya karena angin bertiup kencang sekali membuat kedua matanya pedas ketika suhunya membawanya lari luar biasa cepatnya seakan-akan terbang!

Biarpun Hek-i Hui-mo melakukan perjalanan cepat sekali dan jarang berhenti di jalan, namun dia harus menggunakan waktu sebulan lebih baru tiba di Tibet, daerah barat yang jauh itu. Siang Pok diterima dengan penuh penghormatan dan juga iri hati oleh orang-orang di barat, karena menjadi murid Hek-i Hui-mo, selain dianggap mendapat kehormatan tinggi, juga dianggap sebagai yang menerima kurnia besar.

Namun Siang Pok tidak mempedulikan semua itu dan mulai saat gurunya menurunkan pelajaran ilmu silat kepadanya, dia belajar dengan amat rajin dan tekun sehingga boleh di bilang lupa makan lupa tidur! Melihat ini, Hek-i Hui-mo makin sayang kepadanya, karena makin besar harapan hatinya, murid ini kelak akan menjunjung tinggi namanya dan akan mengalahkan semua murid tokoh-tokoh besar yang berlatih lebih dulu.

Seperti juga Kiu-bwe Coa-li, Hek-i Hui-mo yang bernama Thian Seng Hwesio ini, jarang sekali keluar dan bersembunyi saja di kelentengnya, memberi latihan-latihan kepada Lai Siang Pok, karena seperti juga Kiu-bwe Coa-li, dia ingin mempelajari isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang didengarnya dari Tu Fu, kemudian kalau sudah mempelajarinya dengan sempurna, bersama muridnya dia hendak mencari tokoh-tokoh lain untuk ditantang pibu! Seperti telah kita ketahui, kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang terjatuh ke dalam tangan Hek-i Hui-mo dan yang kemudian isinya dibaca oleh pujangga besar Tu Fu dan didengarkan oleh Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo bersama murid-murid mereka, adalah kitab palsu. Akan tetapi biarpun palsu, kitab ini ditulis di jaman dahulu oleh orang yang pandai dan hafal akan isi kitab aselinya, maka biarpun palsu, isi kitab ini merupakan pelajaran yang aneh dan luar biasa sekali. Bagi orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja kitab ini tidak ada artinya sama sekali dan kalau orang biasa melatih diri meniru pelajaran isi kitab ini, bukannya mendapat kemajuan dan kepandaian tinggi, bahkan tubuh orang itu akan rusak. Akan tetapi sebaliknya kalau yang mendengarnya adalah orang-orang berilmu tinggi seperti Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li, mereka dapat menangkap dan menerima isi kitab untuk disaring kembali dan untuk dijadikan bahan menyempurnakan kepandaian silat mereka. Oleh karena inilah, maka hasil daripada mendengarkan isi kitab itu bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li amat jauh berlainan. Pelajaran yang mereka dengar itu, lalu diolah dan disaring sesuai dengan ilmu kepandaian yang sudah ada pada mereka, maka tentu saja tidak sama.

Bagi Kiu-bwe Coa-li, pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng yang didengarnya dari pujangga Tu Fu itu, mendatangkan kemajuan yang hebat sekali dalam hal ilmu lweekang, yakni penggunaan tenaga dalam. Biarpun pelajaran lweekang di dalam kitab itu tidak karuan dan sengaja dibolak-balikkan oleh penulis kitab palsu, namun kebetulan sekali perhatian Kiu-bwe Coa-li dan muridnya, Sui Ceng, justeru dikerahkan ke jurusan ini. Dengan kecerdikannya yang luar biasa, Kiu-bwe Coa-li bertekun mengupas pelajaran ini dan akhirnya ia dapat menemukan ilmu aselinya dengan jalan meraba-raba dan menduga-duga. Ia lalu memperbaiki dalam caranya sendiri, sesuai dengan kepandaian yang telah dimilikinya, dan akhirnya ia mendapatkan ilmu silat berdasarkan pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng yang seluruhnya dipergunakan tenaga lweekang yang luar biasa hebatnya!

Sebaliknya, setelah mendengar dan mempelajari isi kitab itu, Hek-i Hui-mo mendapatkan gerakan-gerakan istimewa yang sesuai benar untuk menyempurnakan ilmu tongkatnya. Ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo, yakni permainan tongkat Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga), memang telah terkenal dan lihai sekali. Kini, setelah dia mempelajari isi kitab itu, dia mendapatkan sesuatu yang cocok sekali dan yang dapat dia olah sedemikian rupa sehingga ilmu tongkatnya menjadi maju dengan pesat dan kini merupakan ilmu tongkat yang aneh dan luar biasa! Kalau biasanya dia mainkan dua senjata, yakni tongkat Ling-thouw-tung di tangan kanan dan tasbih di tangan kiri, di mana tongkat menjadi alat penyerang dan tasbih alat penangkis, kini dengan mainkan tongkatnya saja kelihaiannya sudah berlipat kali melebihi sepasang senjatanya itu. Maka dia lalu tekun memperdalam kepandaiannya bermain tongkat yang kelak akan diturunkan kepada murid tunggalnya, yakni Lai Siang Pok.

Sebetulnya kalau orang mengetahui isi daripada kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli, orang takkan merasa heran mengapa isi kitab yang dibaca Tu Fu itu mendatangkan dua macam ilmu jauh berlainan bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li. Kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng memang merupakan raja kitab ilmu silat di dunia ini! Di situ terdapat pelajaran pokok dan dasar daripada segala macam gerakan ilmu silat di atas dunia. Ilmu silat dengan tangan kosong maupun dengan senjata yang bagaimanapun juga, kesemuanya berpokok dan berdasar sama, yakni berdasarkan menyerang dan bertahan. Adapun inti sari daripada dua gerakan ini memang menjadi isi daripada Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli!

Baiklah kita tinggalkan dulu Siang Pok yang digembleng oleh suhunya yakni Hek-i Hui-mo di Pegunungan Tibet, juga kita biarkan dulu Sui Ceng yang tekun menerima latihan-latihan dari gurunya, Kiu-bwe Coa-li di Pegunungan Wu-yi-san di daerah selatan. Sekarang lebih baik kita menengok keadaan Lu Kwan Cu yang melakukan perantauan bersama gurunya, Ang-bin Sin-kai.

Kekalahannya yang berturut-turut menghadapi The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, kemudian kekalahannya pula dari Lu Tong murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tidak mengecewakan hati Kwan Cu, bahkan merupakan dorongan kepadanya untuk berlatih makin giat dan tekun. Juga dia melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Liang-san untuk mencari gua tempat mendiang Gui Tin menyimpan buku-bukunya. Ang-bin Sin-kai menuruti saja kehendak muridnya yang hendak mencari gunung itu.

“Kitab-kitab macam apakah yang dapat ditinggalkan oleh seorang sastrawan kepadamu?” hanya demikian kata-katanya mencemoohkan. “Paling hebat hanya kitab-kitab Susi Ngokeng dan kitab-kitab kuno penuh oleh tulisan kosong tentang adat-istiadat, tentang prikebajikan dan prikemanusiaan yang kosong melompong!”

Mendengar omongan gurunya ini, Kwan Cu menyatakan tidak setujunya.

“Suhu, mengapa soal-soal tentang prikebajikan dan prikemanusiaan Suhu anggap pelajaran yang kosong melompong? Bukankah manusia di dunia ini perlu sekali akan pelajaran serupa itu agar hidupnya tidak terlalu tersesat dan jahat?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak mendengar ucapan muridnya ini.

“Kwan Cu, pelajaran tentang prikebajikan memang kosong melompong dan hanya pekerjaan orang-orang malas yang mengaku diri suci dan berjasa terhadap manusia. Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa mencuri dianggap jahat? Namun tetap saja mereka mengambil barang lain orang. Siapa yang tidak tahu bahwa membunuh dianggap jahat? Namun tetap saja mereka membunuh sesama hidup dengan hati enak saja. Apakah dengan munculnya pelajaran-pelajaran tentang prikebajikan itu dunia menjadi makin bersih? Lihat saja, makin kotorlah batin manusia. Kalau kitab-kitab itu tidak memberi pelajaran tentang jahatnya mencuri, manusia takkan mengenal kata-kata mencuri dan tidak akan ada pencuri di muka bumi ini. Kalau orang tidak membaca dan mendengar tentang pelajaran prikebajikan yang menyatakan bahwa membunuh itu tidak baik, orang tidak akan mengenal kata-kata membunuh dan tidak akan ada pembunuh. Kalau orang tidak mendengar sebutan kejahatan dari dalam kitab, orang takkan mengenal pula kata-kata kejahatan dan tidak akan ada kejahatan di dalam dunia ini!”

Kepala Kwan Cu yang gundul itu menjadi makin kelimis karena dia mempergunakan otaknya untuk membuka arti ucapan gurunya yang sukar dimengerti itu. “Kalau begitu, dunia akan kacau, Suhu. Tanpa ada pengertian tentang kejahatan, orang tidak akan takut berbuat sekehendak hatinya!”

“Bodoh, berbuat sekehendak hati adalah perbuatan yang tidak jahat! Kaukira dengan pelajaran yang memenuhi otak-otak tentang kejahatan dan segala macam omong kosong itu, akan membuat dunia menjadi baik dan aman? Tengok saja, di mana terjadinya kejahatan-kejahatan besar? Bukan di dusun-dusun yang ditempati oleh orang-orang yang masih sederhana pikiran dan hatinya, yang belum banyak mengenal tentang pelajaran prikebajikan yang dalam pandangan orang-orang kota masih dianggap bodoh! Di dalam ketidakmengertian mereka tentang kejahatan itu, mereka bersih!”

“Suhu terpengaruh oleh filsafat Lo Cu!” tiba-tiba Kwan Cu berseru karena anak yang cerdik ini memang sudah hafal akan semua isi kitab kuno dan pelajaran tentang filsafat dan kebatinan.

“Bukan terpengaruh, hanya aku setuju dengan pendirian Lo Cu tentang itu. Orang-orang besar yang membuat kitab-kitab itu telah berlaku terlalu sombong, hendak mendahului kehendak alam, hendak menggantikan kedudukan alam mengadakan perubahan besar dalam watak manusia. Padahal watak manusia itu memang baik seperti watak seluruh isi alam yang suci. Watak manusia seperti air telaga yang tenang, sekali dikacau, akan bergelombanglah air itu dan menjadi kacau dan tidak aman lagi. Pengertian tentang apa yang disebut baik dan jahat, menimbulkan nafsu dalam diri manusia dan pada sekarang ini, dunia kemanusiaan dirajai oleh maha raja nafsu, manusianya sendiri hanya menjadi hamba sahaya dan hulubalang yang taat dan setia kepadanya! Nafsulah yang menggerakkan manusia mencuri, membunuh, menipu, dan melakukan kejahatan-kejahatan lain, dan nafsu ini dipupuk dan diperkuat oleh pengertian tentang baik dan buruknya yang diajarkan oleh kitab-kitabmu itu! Anggap emas seperti batu karang, siapa yang sudi mencuri emas? Dengan pengertian tentang baik buruk, tentang dosa dan suci, manusia telah dibentuk menjadi makhluk yang paling kotor dan jahat di dunia ini.”

Kwan Cu mengerutkan keningnya. “Akan tetapi, Suhu, bukankah itu sebaliknya? Manusia adalah makhluk yang paling pandai dan baik. Bukan hanya di antara manusia terjadi saling bunuh, bukankah binatang juga sering kali membunuh sesamanya?”

Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak lebar. “Anak bodoh, kau tahu apa? Binatang-binatang membunuh bukan seperti manusia membunuh! Manusia membunuh sesama manusia hanya terdorong oleh iblis, terdorong oleh dendam, benci, marah, dan sakit hati karena dirugikan, baik nama maupun hartanya. Pernahkah kau mendengar binatang membunuh karena perasaan-perasaan jahat ini? Harimau boleh jadi setiap hari membunuh binatang lain, akan tetapi itu adalah kehendak alam yang telah memastikan bahwa harimau tidak bisa makan rumput, melainkan harus makan daging atau darah.”

“Akan tetapi, Suhu. Kalau semua manusia menurutkan ajaran Lo Cu semenjak dahulu, teecu kira dunia akan menjadi sunyi, dan tidak akan terdapat kemajuan seperti sekarang ini. Manusia mungkin masih akan menjadi makhluk-makhluk telanjang yang hidup di gua-gua, tiada lain kerjanya hanya makan dan tidur!”

“Kau sombong!” Ang-bin Sin-kai berteriak dengan muka yang merah itu menjadi makin merah. “Berani kau mendahului pertumbuhan alam? Memang mungkin sekali tidak akan ada kemajuan duniawi seperti sekarang, akan tetapi juga tidak akan ada kejahatan seperti sekarang! Tentang kemajuan, hanya setelah kata-kata itu diciptakan orang maka mengenalnya. Coba kau tengok pohon siong itu. Ribuan tahun yang lalu keadaannya masih sama saja seperti sekarang, akan tetapi, katakan, hai bocah gundul sombong, siapakah yang dapat menyatakan bahwa pohon itu tidak mempunyai kemajuan? Lihat burung yang terbang itu. Seribu tahun yang lalu bangsanya pun berbuat seperti itu. Apakah sekarang dia kelihatan sudah terlalu kuno dan tidak menarik lagi? Kwan Cu, kau hanya memandang kulit saja, tidak melihat isi. Kemajuan lahir saja tiada artinya tanpa dibarengi kemajuan batin, karena lahir itu tidak kekal adanya.”

Sekarang Kwan Cu benar-benar kelihatan pusing dan teringatlah Ang-bin Sin-kai bahwa Kwan Cu hanyalah seorang kanak-kanak yang masih belum dapat menerima semua filsafat hidup ini. Ang-bin Sin-kai menarik napas panjang dan dia seakan-akan baru kembali ke atas bumi dari perantauannya di awang-awang yang membuatnya lupa akan segala itu.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: