Pendekar Sakti (Jilid ke-11)

“Sudahlah, Kwan Cu. Mari kita melanjutkan perjalanan. Kalau dipikir-pikir, aku sendiri pun ingin sekali tahu buku-bulu apa yang disimpan oleh mendiang Gui Tin di atas Bukit Liang-san itu.”

“Buku-buku yang lainnya, teecu pun tidak menghendakinya, Suhu. Hanya sebuah buku yang perlu sekali bagi teecu karena sudah dipesankan oleh Gui-sianseng kepada teecu. Yakni buku sejarah kuno di mana teecu akan membaca tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli! Dari buku itulah teecu akan mendapat petunjuk di mana teecu dapat mencari kitab rahasia itu.”

Ang-bin Sin-kai tertegun dan mukanya berubah.

“Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?” Ia mengulang setengah tidak percaya.

Kwan Cu mengangguk. “Memang kitab yang dahulu itu kitab tiruan yang sengaja di palsukan, Suhu. Aselinya masih disimpan baik-baik, kata Gui-sianseng, kitab itu berada di atas sebuah pulau kosong yang sukar dicari. Hanya bisa didapatkan dengan pertolongan kitab sejarah yang disimpan oleh Gui-sianseng.”

“Kwan Cu, kalau begitu kau benar-benar berjodoh dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Hayo kita percepat jalan agar segera dapat menemukan kitab itu, muridku!” Ketika Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dan bertemu pandang, mukanya yang merah berubah pucat karena dia marah.

“Kwan Cu! Kaukira aku mempunyai pikiran buruk? Aku sudah bersumpah takkan mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan aku Lu Sin selamanya akan memegang teguh sumpahku!”

Kwan Cu terkejut sekali dan buru-buru dia berlutut minta maaf. Pandangan mata suhunya benar-benar tajam sekali, karena memang tadi dia memandang dengan curiga kepada suhunya yang disangkanya menginginkan kitab itu.

“Sudahlah, tiada salahnya kau mencurigaiku, karena kalau tidak ingat akan sumpahku, memang aku ingin sekali melihat dan mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Siapa orangnya yang tidak ingin? Sudah berpuluh tahun aku merindukan kitab itu, seperti juga tokoh-tokoh persilatan yang lain. Akan tetapi, aku sudah tua dan tiada gunanya aku mempelajari ilmu silat lain lagi. Kaulah yang perlu mempelajarinya, maka kerinduanku sekarang bukan untuk aku sendiri, melainkan melihat kau dapat mempelajari kitab aneh itu.”

“Terima kasih atas budi kebaikanmu, Suhu.”

“Phuah, budi kebaikan macam manakah? Hayo kita lekas pergi. Aku tahu dimana kau akan dapat melatih gwakang dan memperdalam Sam-hoan-ciang dan Pai-bun-tui-pek-to yang sedang kau pelajari.”

Guru dan murid ini lalu berangkat dan berlari cepat menuju ke Liang-san. Tiga hari kemudian tibalah mereka di sebuah hutan besar dan Ang-bin Sin-kai menghentikan larinya dan berkata,

“Nah, di sini kita dapat beristirahat sambil mencari lawan untuk melatih ilmu silatmu.”

Hutan itu besar dan sunyi sekali. Di mana ada lawan untuk melatih ilmu silat? Kwan Cu memandang ke sana ke mari, akan tetapi keadaan sunyi saja, hanya bergeraknya daun pohon tertiup angin menimbulkan suara gemerisik. Pohon-pohon besar menimbulkan bayangan yang amat teduh dan silir angin membuat mata mengantuk. Lapat-lapat terdengar suara binatang hutan, dan Kwan Cu merasa heran mengapa suara binatang hutan, kecuali burung dan ayam, yang terdengar hanya geraman harimau belaka.

“Heran sekali, ke manakah perginya keluarga raja hutan?” Ang-bin Sin-kai berkata perlahan. “Biasanya setiap kali aku datang, mereka itu telah beramai-ramai menyambut dengan gigi dan kuku yang runcing!”

Tiba-tiba, seakan-akan menjadi jawaban dari kata-katanya, terdengar bunyi lengkingan suling bambu yang aneh sekali suaranya. Lengking ini amat tinggi dan panjang, kemudian mendadak berubah menjadi irama rendah dengan irama terputus-putus seperti geraman harimau marah.

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

“Ah, kiranya dia berada di sini. Pantas saja harimau-harimau itu tidak nampak di sini.”

“Suhu, siapakah peniup suling yang aneh bunyinya itu?”

“Orang aneh……. orang aneh, dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kita. Dia itulah Hang-houw-siauw Yok-ong (Raja Obat dengan Suling Penakluk Harimau)!”

Akan tetapi Kwan Cu belum pernah mendengar julukan orang yang terdengar aneh ini. Julukan Yok-ong (Raja Obat) saja sudah hebat, apalagi mengerti julukan kedua ini. Bagaimana bisa orang menaklukan harimau dengan suling? Atau, bagaimana suling bisa dipergunakan menjadi penakluk harimau?

Jawabannya segera terlihat olehnya. Dari jurusan barat, kelihatan seorang laki-laki tua berpakaian jubah panjang menutupi kedua kakinya dan sebagian jubah itu terseret di belakangnya, sedang berjalan dengan tindakan perlahan. Ia memegang sebatang suling bambu yang ditiupnya sambil berjalan, matanya memandang lurus ke depan tidak mempedulikan kanan kiri. Juga sama sekali tidak dia mempedulikan apa yang terjadi dibelakangnya, kejadian yang membuat Kwan Cu membuka mata selebar-lebarnya! Ternyata olehnya bahwa di belakang kakek itu, berbaris belasan ekor harimau besar dan buas. Mereka berjalan merupakan barisan di belakang kakek ini dan sebentar-sebentar mengeluarkan geraman. Melihat keadaan ini, tahulah Kwan Cu bahwa binatang-binatang buas itu ternyata telah tertarik dan berada di bawah pengaruh suara suling yang aneh itu. Pantas saja di sebut Hang-houw-siauw (Suling Penakluk Harimau). Kwan Cu benar-benar merasa aneh sekali. Dia sudah sering kali mendengar tentang suling yang suaranya dapat mempengaruhi ular, akan tetapi harimau?

“Ha, ha, ha, Hang-houw-siauw Yok-ong benar-benar tabah sekali!” Ang-bin Sin-kai memuji. “Hanya dengan suara suling dapat menundukkan belasan raja hutan, benar-benar aku Ang-bin Sin-kai tidak mampu melakukannya!”

Melihat munculnya seorang anak laki-laki gundul bersama Ang-bin Sin-kai, untuk sesaat kakek berjubah panjang itu lupa meniup sulingnya dan dia memandang kepada kakek pengemis itu.

“Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai si manusia sadar!” Memang Yok-ong ini amat mengagumi Ang-bin Sin-kai dan selalu menyebutnya manusia sadar. “Selagi jalan halus sempat dan dapat dipergunakan, mengapa memakai jalan kasar?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Ha, ha, ha, Hang-houw-siauw Yok-ong! Enak saja kau bicara begitu! Dengan sulingmu, tentu saja kau dapat menundukkan harimau dengan jalan halus, akan tetapi aku yang tidak mengerti caranya, bagaimana harus menundukkan harimau? Aku takkan dapat membujuk mereka dengan kata-kata halus. Lihat, bagaimana aku harus menghadapi mereka ini?”

Berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke arah belakang Hang-houw-siauw Yok-ong. Kakek ini menengok dan melihat betapa belasan ekor harimau buas itu mulai gelisah dan kini mereka memperlihatkan gigi runcing dan muka buas, siap untuk menyerang! Harimau-harimau itu kini sudah tidak berada di bawah pengaruh suara suling lagi dan mereka mengeluarkan geraman hebat lalu menubruk maju, menyerang Ang-bin Sin-kai, Yok-ong dan Kwan Cu!

Lu Kwan Cu terkejut sekali, akan tetapi dia telah memiliki ketabahan dan ketenangan, maka ketika seekor harimau menubruk kepadanya, dia cepat melompat ke pinggir. Lain harimau menerkamnya, akan tetapi kembali dengan menggeser kaki menurutkan gerakan Pai-bun-tui-pek-to, dia dapat menyelamatkan diri.

Adapun Hang-houw-siauw Yok-ong, juga berbuat seperti Kwan Cu. Kakek ini berkepandaian tinggi, akan tetapi hatinya amat lemah dan tidak tega melukai siapa pun juga. Ia adalah seorang ahli pengobatan dan hatinya sudah tercurah kepada watak menyayang dan memelihara sesuatu yang sakit, mana bisa dia melukai harimau-harimau itu? Ia bergerak ke sana ke mari dan sungguh mengagumkan, biarpun gerakannya nampak lambat saja, namun tak pernah ada kuku harimau yang dapat menyentuh jubahnya yang panjang itu.

Hebat adalah sepak terjang Ang-bin Sin-kai. Berbeda dengan Kwan Cu yang mengelak terus karena tidak mampu membalas serangan harimau dan Yok-ong yang sengaja tidak mau mengganggu bintang-binatang itu, Ang-bin Sin-kai tidak mandah saja dirinya di serang. Tiap kali kaki dan tangannya bergerak, terdengar harimau yang terpukul atau tertendang mengeluarkan gerengan kesakitan, dan tubuh harimau bergulingan di atas tanah saking kerasnya serangan Ang-bin Sin-kai.

Melihat ini, Hang-houw-siauw Yok-ong berteriak-teriak,

“Ang-bin Sin-kai, jangan berlaku kejam! Ampunkan nyawa harimau-harimau ini!”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Aku memandang mukamu dan tidak akan mengganggu mereka lagi,” katanya dan sekali tubuhnya berkelebat, dia telah melompat ke atas dan tahu-tahu dia telah duduk di atas sebatang ranting pohon yang tinggi!

Ada pun Kwan Cu yang melihat perbuatan suhunya, lalu melompat pula, akan tetapi dia tidak melompat ke atas pohon, melainkan melompat ke belakang Hang-houw-siauw Yok-ong mencari perlindungan! Raja obat itu lalu meniup sulingnya dan …..benar mengherankan sekali, tiba-tiba binatang-binatang yang buas dan marah itu menghentikan serangan mereka, lalu berdiri berkumpul di depan Yok-ong dengan kepala tunduk dan telinga digerak-gerakkan seakan-akan senang sekali medengar suara suling yang bagi telinga Kwan Cu terdengar menyakitkan anak telinga!

Makin lama makin meninggi suara suling yang ditiup oleh Yok-ong, dan makin sakitlah telinga Kwan Cu sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi lalu menggunakan ibu jari untuk menyumpal lubang telinganya. Dan benar-benar hebat! Harimau-harimau itu seakan-akan mendengar bunyi perintah yang tak dapat dibantah lagi. Serentak mereka membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu!

Masih agak lama Yok-ong meniup sulingnya, kemudian setelah tidak terdengar lagi geraman harimau, dia menghentikan tiupannya dan menoleh kepada Ang-bin Sin-kai yang masih duduk di atas pohon.

“Ang-bin Sin-kai, terima kasih atas kemurahan hatimu terhadap harimau-harimau itu. Kalau diteruskan tadi, tentu aku menjadi sibuk memelihara dan mengobati luka-luka mereka. Untuk kebaikan hatimu itu, kau patut diberi hadiah. Aku adalah seorang miskin yang hanya mempunyai sebatang suling. Nah, terimalah barang pusakaku ini.” Ia melempar suling yang tadi ditiupnya ke arah Ang-bin Sin-kai yang cepat mengulur tangan menerimanya.

Hang-houw-siauw Yok-ong lalu berpaling kepada Kwan Cu. Untuk beberapa lamanya dia memandang anak itu dengan tajam.

“Hebat!” tiba-tiba dia berkata. “Darimana kau memperoleh anak seperti ini?” Ia lalu mendekati Kwan Cu. “Coba ulur tangamu, anak yang baik.”

Kwan Cu segera mengulur tangan kanannya dan Yok-ong segera memegang pergelangan tangan Kwan Cu. Untuk beberapa lama dia mengangguk-angguk dan berkatalah dan dengan suara keras.

“Benar-benar hebat! Darah yang luar biasa kuatnya, yang ditambah oleh semacam darah liar yang mempunyai kekuatan tekanan tiga kali lipat daripada tekanan darah manusia, membuat seluruh urat di tubuhmu dipenuhi oleh aliran darah yang kuat dan cepat sekali. Berkat tulang dan dagingmu yang kuat dan bersih, hal itu menguntungkan dalam usahamu mempelajari bu (ilmu silat). Akan tetapi, urat halus dalam otak dapat terganggu karenanya. Anak baik, aku kasihan kepadamu, maka biarlah aku memberimu Liong-kak-hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga) yang jarang kupergunakan.” Ia merogoh saku jubahnya yang lebar sekali dan mengeluarkan bungkusan dari kain kuning yang bersih. Ketika bungkusan dibuka, di dalamnya terdapat beberapa butir pil merah yang berbau amis.

“Untuk ketabahan dan kemurahan hatimu ketika menghadapi harimau-harimau tadi, kau kuberi hadiah tiga butir Liong-kak-hian-tan. Telanlah sehari sebutir, dan dalam tiga hari kau akan merasakan khasiatnya.”

Kwan Cu merasa ragu-ragu untuk menerima, dan tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon,

“Murid goblok! Tidak lekas diterima dan menghaturkan terima kasih, mau tunggu kapan lagi?”

Sebenarnya bukan karena Kwan Cu merasa kurang percaya terhadap kakek Raja Obat itu, melainkan karena dia menjadi murid Ang-bin Sin-kai, maka dia merasa tidak patut tanpa ijin gurunya kalau dia menerima pemberian orang lain. Sekarang mendengar ucapan suhunya, dia menjadi girang sekali, dan setelah menerima tiga butir pil itu, dia lalu berlutut di depan Hang-houw-siauw Yok-ong dan menghaturkan terima kasihnya.

Yok-ong tertawa bergelak dan menengok ke atas pohon. “Ang-bin Sin-kai, muridmu ini benar-benar tahu menghargai guru dan orang-orang tua. Bagus sekali! Nah, sampai bertemu kembali!”

Setelah berkata demikian, Hang-houw-siauw Yok-ong lalu menyimpan bungkusan obatnya dan seperti main sulap saja, ketika dia merogoh saku di tangannya telah memegang sebatang suling lagi! Ia lalu berjalan pergi sambil meniup sulingnya!

Kwan Cu dan gurunya mendengarkan suara suling itu makin melenyap, kemudian terdengar suara suling lain. Ketika Kwan Cu menengok, ternyata suhunya sedang meniup suling pemberian Yok-ong tadi! Tercenganglah Kwan Cu ketika mendengar tiupan suling suhunya amat merdu dan gurunya itu ternyata pandai sekali meniup suling melagukan lagu kuno!

“Bagus, Suhu pandai sekali bersuling!” Kwan Cu memuji.

Gurunya menghentikan tiupannya dan tertawa girang.

“Tidak sepandai Hang-houw-siauw Yok-ong. Kautelanlah sebutir Liong-kak-hian-tan itu seperti yang dipesan oleh Yok-ong. Aku mau mencoba memanggil harimau dengan suling ini!”

Kwan Cu segera menelan sebutir pil yang terasa masam dan amis sekali, kemudian menyimpan yang dua butir di dalam saku bajunya. Pada saat itu, gurunya sedang mencoba untuk meniru tiupan suling Yok-ong ketika menundukkan harimau tadi. Akan tetapi tiupan sulingnya tidak karuan bunyinya sehingga mengusir burung-burung di atas pohon yang menjadi kaget ketakutan mendengar suara melengking yang aneh luar biasa itu!

Sampai capai bibir meniup suling, harimau-harimau itu tidak juga datang! Kwan Cu tertawa geli melihat usaha suhunya tidak mendatangkan hasil itu.

“Jangan tertawa, lihat belakangmu!” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru.

Kwan Cu terkejut dan cepat menengok. Benar saja di belakangnya telah berdiri seekor harimau muda yang nampaknya juga terpesona dan bingung mendengar suara suling yang lucu dan aneh tadi. Kini, menghadapi Kwan Cu, dia mulai merendahkan tubuhnya dan menggaruk-garukkan kakinya, siap untuk menerkam.

“Kwan Cu, hadapi dia dengan Pai-bun-tui-pek-to! Jangan hanya mengelak saja, lawan dia dan kalahkan dia. Sekarang waktunya untuk menguji kepandaian. Dia ahli gwakang (tenaga luar), awaslah!” kata Ang-bin Sin-kai dengan gembira sekali.

Harimau itu mengaum lalu menubruk dengan kuat sekali. Kwan Cu sudah siap sedia. Dengan lincahnya dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh harimau itu menyambar lewat, lalu memberi pukulan keras ke arah lambung harimau itu. Harimau terjatuh tunggang-langgang sambil menggereng, akan tetapi tubuh harimau muda itu terlampau kuat sehingga pukulan Kwan Cu tadi baginya hanya merupakan dorongan kuat belaka, sama sekali tidak melukainya. Ia menubruk lagi dan seperti juga tadi, Kwan Cu menghadapi dengan mengelak sambil memukul atau menendang.

Pertempuran seperti ini berjalan lama dan Ang-bin Sin-kai hanya meniup suling seakan-akan mengiringi pertempuran itu dengan lagu perang, akan tetapi matanya memandang penuh perhatian. Akhirnya, setelah berpuluh kali menubruk tanpa hasil bahkan menerima tendangan atau pukulan, harimau itu menjadi lelah. Demikian pula Kwan Cu. Ia telah mengerahkan benar tenaga untuk memukul dan menendang, akan tetapi sedikit pun tak dapat merobohkan lawannya.

“Kau harus dapat mengalahkan dia!” seru Ang-bin Sin-kai berkali-kali dengan suara tidak puas. Masa muridnya, murid Ang-bin Sin-kai tidak dapat mengalahkan seekor harimau yang masih muda?

Kwan Cu mengerti bahwa kalau dia melanjutkan perkelahian secara ini, tak mungkin dapat mengalahkan harimau itu. Maka dia mencari akal dan ketika harimau itu untuk ke sekian kalinya menubruknya, dia lalu mengelak dan menyambar ekor harimau. Sekuat tenaga dia lalu mengayun tubuh harimau itu dan membantingnya. Akan tetapi karena tubuh harimau itu berat sekali dan dia telah lelah, maka dia terbawa oleh bantingan ini sehingga terpelanting di atas tanah!

Harimau itu nanar seketika, akan tetapi segera berdiri kembali dan melihat tubuh Kwan Cu di dekatnya, dia lalu menubruk! Kwan Cu telah siap dan cepat menggulingkan tubuhnya mengelak, kemudian dia mendahului menerkam dan mencekik leher harimau itu dalam kempitan lengannya yang kecil akan tetapi kuat!

Harimau itu meronta-ronta, akan tetapi Kwan Cu memutar lehernya sehingga kaki harimau tidak dapat mencakarnya. Makin lama harimau itu mejadi makin lemah dan sebentar lagi dia tentu takkan berdaya.

Tiba-tiba terdengar auman keras sekali dan seekor harimau yang besar sekali keluar dari semak-semak, merunduk dan siap menerkam Kwan Cu yang mencekik anaknya! Ang-bin Sin-kai yang sedang enak-enak meniup sulingnya saking girang melihat kecerdikan Kwan Cu mengalahkan lawannya, melihat harimau besar itu, lalu berseru keras dan tubuhnya melayang turun.

Pada saat itu, harimau besar telah melompat menubruk Kwan Cu, akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya terjengkang kembali ke belakang karena dorongan Ang-bin Sin-kai yang memapakinya di tengah udara! Kini pertempuran terpecah menjadi dua. Kwan Cu dengan cepat dapat membuat harimau muda itu pingsan karena tak dapat bernapas, kemudian anak ini menonton pertempuran antara suhunya dan harimau besar.

Bukan main kagumnya hati Kwan Cu ketika melihat betapa suhunya menghadapi harimau itu dengan senjata suling. Ternyata suling yang ditiupnya dengan merdu tadi kini disulap menjadi sebatang senjata yang lihai sekali. Kemana juapun harimau itu menubruk, selalu dia tertotok oleh suling di bentulan lehernya. Setelah empat lima kali tertotok suling, harimau itu merasa kesakitan luar biasa dan segera membalikkan tubuh dan berlari cepat sambil menggereng kesakitan! Sementara itu, harimau muda yang tadi pingsan, juga telah siuman kembali dan kini berlari menyusul harimau besar!

“Suhu, indah sekali permainan suling tadi. Teecu ingin belajar bersilat dengan suling.”

Ang-bin Sin-kai tertawa. “Memang indah dan mudah saja dilihat, akan tetapi jangan kira mudah dipelajarinya. Ketahuilah bahwa makin sederhana bentuk senjata, makin sukar dipelajarinya dan makin lihai permainannya. Kelak akan tiba saatnya kau belajar ilmu silat dengan suling.”

Guru dan murid ini lalu melanjutkan perjalanan ke Liang-san. Semenjak mengalahkan harimau muda itu, semangat Kwan Cu menjadi makin besar saja. Dan tiga hari kemudian setelah dia menghabiskan tiga butir pil merah pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong, dia merasa kepalanya dingin dan dadanya tenang. Pikirannya makin kuat saja dan kini dia tidak terganggu oleh rasa pening yang seringkali datang di kala dia melatih diri dengan pengendalian napas dalam samadhinya. Ia merasa girang dan Ang-bin Sin-kai berkata sambil menarik napas panjang.

“Karena itulah ketika dulu aku melihat dia memberi pil ini kepadamu, aku cepat menyuruh kau menerimanya. Hang-houw-siauw Yok-ong dahulunya adalah seorang tabib istana yang amat terkenal, bukan saja karena ilmu pengobatannya, akan tetapi terutama karena ilmu silatnya yang tinggi dan pribadinya yang luhur. Mungkin sekali tingkat kepandaiannya tidak akan menang dari tokoh-tokoh persilatan dari empat penjuru, akan tetapi tentang ilmu pengobatan dan pribadi mulia, kiraku di dunia ini sukar mencari keduanya!”

“Yang diberikan kepada teecu itu, disebut olehnya Liong-kak-hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga), apakah benar-benar terbuat daripada darah yang berada di tanduk naga, Suhu?”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Orang-orang pembuat obat dan masakan sama saja, keduanya seperti orang gila! Untuk memudahkan mereka mengingat namanya dan untuk membuat obat atau masakannya terkenal, mereka itu suka memberi nama yang aneh-aneh! nama liong (naga) dan burung hong (burung dewata) selalu dibawa-bawa dalam pemberian nama pada obat. Siapa percaya tentang liong kalau belum melihat sendiri?”

“Apakah liong itu tidak ada, Suhu?”

“Aku sendiri percaya bahwa naga itu memang ada, hanya terus terang saja aku belum pernah melihat dengan mataku sendiri. Memang kulihat banyak ular-ular besar sekali, bahkan ada pernah kulihat ular bertanduk lunak di kepalanya, akan tetapi, ular itu tidak berkaki seperti naga yang sering kali disebut-sebut! Betapapun juga, aku percaya bahwa naga itu memang ada. Kalau tidak ada, mengapa rakyat di empat penjuru dapat melukiskan rupa dan bentuk tubuhnya? Pasti ada, seperti adanya pula burung hong!”

“Kalau begitu, obat Liong-kak-hian-tan itu benar-benar terbuat daripada darah tanduk naga, Suhu?” kata Kwan Cu dengan suara tetap.

Ang-bin Sin-kai kembali tertawa lagi. “Hal inilah yang meragukan, karena kepandaian yang dimiliki oleh Hang-houw-siauw Yok-ong itu, biarpun cukup lihai, mana bisa dia pergunakan untuk menangkap seekor liong dan mengambil darah dari tanduknya? Sudahlah, hal ini tidak penting, muridku. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa obat itu memang kupercaya amat baik bagimu.”

Setelah tiba di lereng bukit Liang-san di sebelah barat, mereka mulai bertanya-tanya kepada orang kampug tentang Gui Tin yang di tempat itu dahulu mengaku bernama Gui-lokai.

Beberapa orang sudah ditanya oleh Kwan Cu, akan tetapi tak seorang pun mengaku telah kenal dengan Gui-lokai (pengemis tua Gui).

“Anak bodoh, mengapa kautanya hanya orang-orang muda saja? Tanyalah kau kepada orang tua, dan wanita pula, karena yang biasa menderma kepada para pengemis, kebanyakan hanya orang-orang wanita,” kata Ang-bin Sin-kai mencela muridnya.

Kwan Cu menganggap kata-kata suhunya benar, maka dia lalu bertanya pada seorang wanita dusun yang sudah agak tua akan tetapi masih rajin sekali bekerja. Wanita ini tengah memikul air bersama beberapa wanita lain.

Kwan Cu merasa tidak enak kalau langsung menghentikan orang yang sedang bekerja, dan nampaknya wanita-wanita itu tergesa-gesa. Maka dia lalu ulurkan tangannya ke arah pundak wanita yang berada di depan dan dalam sekejap mata saja pikulan itu telah berpindah ke atas pundaknya sendiri! Tantu saja wanita itu terkejut dan heran sekali, akan tetapi bocah gundul itu tersenyum kepadanya sambil berkata,

“Bibi, aku kasihan melihat kau bersusah payah memikul air yang berat ini. Biar aku bawakan ke rumahmu.”

Tentu saja wanita itu girang sekali dan tertawalah dia, memperlihatkan deretan gigi yang jarang dan kecil-kecil.

“Anak baik, terima kasih,” katanya sambil melanjutkan perjalanan di sebelah Kwan Cu. Dua orang wanita di belakangnya juga memandang heran kepada Kwan Cu, bocah gundul yang baik hati tu.

Setelah menurunkan pikulan di depan rumah wanita itu, barulah Kwan Cu mengajukan pertanyaan,

“Bibi, pernahkah kau mengenal seorang pengemis tua di daerah ini yang dipanggil Gui-lokai?”

“Gui-lokai…….?” Wanita itu mengerutkan keningnya yang sudah mulai keriputan, “Ah, kakek yang gila itu? Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah seorang tua yang malas dan gila, tidak mau bekerja, hanya menulis dan membaca saja kerjanya. Baiknya dia masih suka memberi pelajaran kepada beberapa orang anak, akan tetapi pelajaran membaca dan menulis, untuk apakah di dusun ini? Lebih baik belajar mencangkul tanah daripada menggerakkan pit menulis!”

Bukan main girangnya hati Kwan Cu.

“Tahukah kau di mana adanya dia? Dan di mana tempat tinggalnya ketika dia berada di daerah ini?”

“Tempat tinggalnya? Di mana saja orang mau menerimanya. Kadang-kadang dia bahkan tidur di pinggir sawah, di tempat terbuka. Benar-benar orang aneh. Eh, anak baik, kau pernah apakah dengan Gui-lokai maka kau mencarinya?”

Pada saat itu, seorang kakek tua yang mendatangi tempat itu mendengar kata-kata ini lalu menyambung,

“Aneh sekali! Baru kemarin sore ada juga dua orang yang menanyakan tentang Gui-lokai!”

Mendengar ini, Kwan Cu terheran.

“Lopek, siapakah mereka yang bertanya tentang Gui-lokai?” “Seorang hwesio gemuk sekali dan seorang muridnya. Mereka pergi ke batu karang berbentuk menara yang berada di lereng barat, mencari gua yang dulu ditinggali oleh Gui-lokai,” jawab kakek itu.

“Dimana batu karang itu, Lopek? Aku pun ingin sekali pergi ke gua tempat tinggal Gui-lokai!” Kwan Cu bertanya cepat-cepat.

Kakek itu ragu-ragu, akan tetapi wanita yang ditolongnya membawa air tadi segera menudingkan jari telunjuknya ke arah puncak bukit yang tak jauh dari situ. “Di sanalah tempatnya. Di sana terdapat sebuah batu karang yang menjulang tinggi, bentuknya seperti menara. Di sekitar tempat itulah adanya gua tempat tinggal Gui-lokai ketika dia masih berada di daerah ini.”

“Terima kasih!” jawab Kwan Cu dan dua orang dusun itu menjadi bengong dan saling pandang ketika tiba-tiba Kwan Cu melompat dan lenyap dari depan mereka.

“Suhu, cepat, Suhu! Ada orang mendahului kita!” kata Kwan Cu ketika dia kembali ke tempat di mana Ang-bin Sin-kai menantinya.

“Siapa orangnya yang mendahului kita?” tanya Ang-bin Sin-kai dengan muka terheran.

“Entahlah, kata orang dusun itu, ada seorang hwesio gemuk dan muridnya juga mencari gua tempat tinggal Gui-siu-cai!”

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

“Hm, jangan-jangan Jeng-kin-jiu dan Lu Thong yang mendahului kita.”

“Mari cepat, Suhu. Guanya berada di puncak itu,” kata Kwan Cu dan bocah gundul ini mendahului suhunya berlari ke arah puncak itu. Ang-bin Sin-kai menyusul dan guru ini pun merasa gelisah kalau-kalau kitab yang dikehendaki oleh muridnya itu telah dicuri orang lain.

Sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit di mana terdapat batu karang berbentuk menara. Mudah saja mendapatkan gua bekas tempat tinggal Gui Tin, karena gua ini besar dan panjang. Kwan Cu segera membuat obor dan bersama gurunya dia memasuki gua itu. Tak salah lagi, inilah bekas tempat tinggal Gui-lokai, karena dindingnya banyak terdapat pahatan dan ukiran, tentu Gui Tin mempergunakan waktunya untuk membuat sajak-sajak ini. Kwan Cu mencari terus dan akhirnya dia mendapatkan lubang di mana tersimpan sebuah peti.

Dengan hati berdebar girang, Kwan Cu mengeluarkan peti itu dan segera membawanya keluar. Setelah tiba di luar, dia membuka peti tadi, akan tetapi tiba-tiba pundaknya di tarik orang dan ternyata suhunya yang menarik tadi.

“Hati-hati, Kwan Cu. Keliru sekali berlaku tergesa-gesa seperti itu menghilangkan kewaspadaan. Aku masih bersangsi mengapa Gui-siucai semudah ini menyimpan petinya terisi kitab-kitab yang lebih disayangnya daripada harta benda lain. Aku sangsi kalau-kalau ada orang yang telah mendahului kita dan sengaja memasang perangkap. Biarkan aku yang membuka peti ini!” Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai mempergunakan sulingnya untuk mencokel tutup peti dan benar saja dugaannya, begitu tutup peti terbuka, dari dalam menyambar keluar kepala seekor ular kehijauan yang mendesis dan menjulurkan lidahnya.

Kwan Cu tertawa.

“Ah, ular kecil seperti itu saja, apa sih bahayanya?”

Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya dan memandang tajam kepada Kwan Cu.

“Salah, salah! Sama sekali salah kalau kau memandang rendah soal-soal kecil. Kau mau tahu tentang ular ini? Inilah yang di sebut Jeng-tok-coa (Ular Racun Hijau) yang bisanya jauh lebih berbahaya daripada seekor ular sendok. Sekali pagut saja, tidak ada obat di dunia ini yang akan menyembuhkan dan menolong orang yang dipagutnya! Biarpun kau sendiri yang telah memiliki darah penolak racun di tubuhmu, agaknya akan bergulat dengan maut apabila tadi kau membuka peti dan kena digigit oleh ular ini!”

Mendengar ini, Kwan Cu meleletkan lidahnya saking kaget dan ngerinya. Ular itu bergerak-gerak dan gerakannya benar-benar cepat sekali sehingga dapat dibayangkan kalau ular ini menyerang orang. Ang-bin Sin-kai menggerakkan sulingnya dan sekali terbentur suling, pecahlah kepala ular itu, mengeluarkan lendir berwarna hijau yang berbau amis keharum-haruman dan yang membuat kepala menjadi pening ketika hidung mencium bau itu.

Ang-bin Sin-kai segera mengangkat peti itu menjauhi bangkai ular, kemudian barulah dia memperkenankan Kwan Cu memeriksa isi peti. Peti itu ternyata terisi banyak buku-buku tebal dan kuno. Dengan jari-jari tangan gemetar saking menahan gelora hatinya, Kwan Cu memeriksa buku-buku itu satu demi satu. Buku-buku sajak, buku-buku tentang bintang-bintang dan kitab-kitab kebatinan yang amat kuno. Namun tidak sebuah pun kitab sejarah tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng!

“Heran sekali…….., kitab yang di maksudkan Gui-sianseng itu tidak ada…….. !” kata Kwan Cu setelah untuk kelima kalinya dia membuka dan memeriksa lagi buku-buku itu satu demi satu.

“Hm, benar ada orang yang mendahului kita,” kata Ang-bin Sin-kai, “kau lihat di sana itu!”

Kwan Cu memandang dan melihat bayangan dua orang berlari cepat sekali menuruni gunung. Bayangan seorang berkepala gundul yang gemuk bundar bersama seorang anak laki-laki yang sebaya dengan dia!

“Keparat!” Kwan Cu memaki dan hendak mengejar. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai menahan dan memegang pundaknya.

Tiba-tiba Kwan Cu membalikkan tubuhnya dan memandang kepada suhunya dengan mata basah dan muka pucat.

“Suhu, kau benar-benar tidak adil dan berat sebelah!” katanya dengan tangan terkepal.

“Ketika Suhu memberi pelajaran Ilmu Silat Kong-jiu-toat-beng (Dengan Tangan Kosong Merenggut Nyawa) kepada Lu Thong, teecu sudah tahu bahwa betapapun juga, Suhu lebih memberatkan keluarga sendiri! Sekarang terbuktilah dugaan teecu. Sudah terang yang mencuri kitab dari Gui-siucai adalah Lu Thong dan gurunya, akan tetapi Suhu tidak mengejar mereka, bahkan melarang teecu mengejar. Suhu, sebetulnya Suhu hendak berlaku bagaimanakah terhadap murid?”

Mendengar ucapan Kwan Cu yang sifatnya menegur dan menuntut ini, sepasang mata Ang-bin Sin-kai mengeluarkan cahaya berkilat.

“Tutup mulutmu! Sekali lagi kau berkata demikian terhadapku, betapapun besar rasa sayangku kepadamu dan betapapun baiknya bakatmu menjadi muridku, kau akan kutinggalkan! Tuduhanmu hanya terdorong oleh rasa iri hati dan putus asa. Iri hati melihat aku menurunkan Kong-jiu-toat-beng kepada Lu Thong, perasaan iri hati yang tidak berdasar. Dia adalah cucu luarku, mengapa aku tidak boleh memberi sesuatu kepadanya. Dan kau putus asa melihat kitab peninggalan Gui-siucai dicuri orang. Juga perasaan putus asa ini bodoh sekali. Kau tadi melihat sendiri betapa ilmu lari cepat hwesio gundul itu hebat sekali, tidak kalah olehku? Dikejar pun tidak akan ada gunanya, karena mereka telah meninggalkan kita. Aku masih ragu-ragu…….apakah betul Jeng-kin-jiu yang mencuri kitab itu, Si Gundul dari selatan itu tidak demikian hebat lari cepatnya. Aku lebih condong menduga kepada Hek-i Hui-mo!”

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya. “Ampunkan kelancangan mulut teecu, Suhu. Sesungguhnya, teecu bingung sekali melihat kitab itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana kita harus berbuat sekarang, Suhu?”

“Tenanglah dan kita perlahan-lahan menyelidiki siapa orangnya yang sudah mencuri kitab itu. Bukankah kau dulu bilang bahwa kitab itu ditulis dalam bahasa kuno yang sukar dimengerti dan yang hanya diajarkan mendiang Gui-siucai kepadamu?”

“Memang benar, Suhu. Akan tetapi siapa tahu kalau orang lain yang dapat membacanya. Menurut mendiang Gui-sianseng, pujangga-pujangga besar seperti Tu Fu dan Li Po pasti bisa membacanya. Hwesio gundul tadi terlalu jauh dari kita sehingga sukar untuk mengenalnya mukanya, akan tetapi teecu yakin bahwa dia tentulah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.”

“Bagaimana kau bisa memastikannya?”

“Karena hanya Jeng-kin-jiu yang mempunyai seorang murid laki-laki sebesar teecu. Setahu kita, Hek-i Hui-mo tidak mempunyai murid.”

Ang-bin Sin-kai mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pun berpikir demikian. Akan tetapi, masih terlalu pagi untuk menuduh tanpa bukti. Baiknya kita menyusul ke kota raja dan bertanya terang-terangan kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!”

Kwan Cu girang sekali karena ternyata bahwa suhunya benar-benar mau membantunya merampas kembali kitab itu. Mereka lalu berangkat dengan cepat, turun dari Liang-san menuju ke kota raja untuk mencari Jeng-kin-jiu yang disangka mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin.

Di dalam perjalanan menuju ke kota raja, mereka melalui kota Po-keng yang ramai dan terkenal sebagai tempat berkumpulnya para sastrawan dan orang-orang gagah.

“Kita mampir dulu di rumah Kwa-pangcu (Ketua she Kwa), seorang sahabatku yang baik,” kata Ang-bin Sin-kai kepada Kwan Cu.

Yang disebut Kwa-pangcu oleh Ang-bin Sin-kai adalah Kwa Ok Sin, seorang ahli silat Bu-tong-pai yang selain memiliki ilmu pedang yang lihai, juga terkenal sebagai seorang ahli sastra terkemuka. Kwa Ok Sin atau Kwa-pangcu adalah ketua dari perkumpulan Bun-bu-pang (Perkumpulan Ahli Silat dan Sastrawan) yang didirikan oleh para ahli sastra dan ahli silat di seluruh daerah Po-keng. Kwa Ok Sin dipilih karena memang dia memenuhi syarat, tidak saja ahli dalam bun (sastra), akan tetapi juga tinggi ilmu kepandaiannya dalam bu (silat).

Kwa Ok Sin yang memang keturunan keluarga kaya raya, amat besar rumahnya dan gedung ini selain dijadikan tempat tinggalnya, juga menjadi rumah perkumpulan Bun-bu-pai. Papan nama yang tergantung di depan rumahnya, benar-benar amat indah. Papan itu berukir dan besar sekali, ditulisi dengan huruf-huruf yang amat indah dan gagah “RUMAH PERKUMPULAN BUN BU PAI”. Hal ini tidak mengherankan, akrena sebagai perkumpulan ahli sastra, tentu saja tulisannya hebat !

Tak seorangpun di kota Po-keng yang tidak mengenak rumah ini, karena perkumpulan ini Bun-bu-pai memang dihormati oleh setiap ornag. Bahkan, dengan adanya perkumpulan ini, di daerah Po-keng bersih dari pada semua penjahat. Penjahat manakah berani bermain gila di gedung naga dan gua harimau ?

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nama Bun-bu-pai di Po-keng ini amat terkenal dan namanya dipuji sampai jauh di luar daerah Po-keng. Bahkan, pujangga-pujangga besar dan ternama seperti Li Po dan Tu Fu sendiri tidak jarang datang mengunjungi Bun-bu-pai untuk bercakap-cakap dengan Kwa Ok Sin dan para anggauta lain. Juga para locianpwe, ahli ahli silat tinggi dari seluruh Tiongkok apa bila lewat di Po-keng, selalu memerlukan untuk mampir.

Sungguh kebetulan sekali, ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu tiba di Po-keng, Bun-bu-pai penuh dengan anggautanya. Hari itu mereka dari berbagai tempat sengaja datang berkumpul karena ada beberapa hak yang amat penting yang harus mereka rundingkan. Bahkan, banyak tokoh-tokoh dari jauh datang mengunjungi pertemuan itu.

Kwan Cu dan gurunya berdiri di depan gedung Bun-bu-pai dan Kwan Cu amat kagum melihat papan nama yang ditulis indah itu.

“Alangkah indahnya tulidan itu, suhu,”  kata bocah gundul itu dengan kagum.

Ang-bin Sin-kai tersenyum. “Apa sih indahnya tulisan macam itu ?  mari kita masuk  dan kau akan melihat tulisan yang jauh lebih indah dari pada ini.”

Mereka masuk melalui pintu gerbang dan ketika tiba diruang depan, benar saja. Di situ tergantung tulisan-tulisan dan lian-lian (tlisan berpasangan yang merupakan sajak indah) yang ditulis dengan indah sekali dalam berbagai-bagai bentuk. Belum pernah selama hidupnya Kwan Cu menyaksikan sekumpulan tulisan demikian indah baik gaya maupun isinya, maka tiada bosan ia membaca dan menikmati tulisan itu satu demi persatu, Hal ini memang tidak mengherankan oleh karena yang tergantung di situ adalah hasil karya pujangga-pujangga terkemuka. Bahkan Tu Fu dan Li Po sendiripun menyumbang ruangan ini dengan tulisan-tulisan dan sajak-sajak mereka !

Tidak seperti rumah perkumpulan lainnya, disitu tidak ada penjaga. Memang, siapakah orangnya yang akan beranimencuri atau membikin ribut di tempat ini ?  Maka tidak perlu lah diadakan penjagaan. Ketika Kwan Cu sedang enak dan asiknya membaca tulisan-tulisan itu, tiba-tiba terdengar suara yang halus,

“Anak baik, sekecil ini sudah dapat menghargai tulisan baik !”  Ketika Kwan Cu menengok, ia melihat seorang laki-laki tinggi tegap berusia kurang lebih empat puluh tahun dan sungguhpun pakaiannya seperti seorang ahli silat, namun gerak-geriknya amat halus dan sopan. Orang ini kini menghadapi Ang-bin Sin-kai, lalu menjura dan berkata.,

“Sungguh kebetulan sekali Ang-bin Sin-kai locianpwe datang berkunjung. Memang kami sedang berkumpul dan ada sesuatu yang hendak disampaikan kepada locianpwe.”

Ang-bin Sin-kai tertegun. Orang yang menyambutnya ini adalah Kwa Ok Sin sendiri ketua dari Bun-bu-pai. Biasanya, tidak beginilah sambutan Kwa-pangcu yang sudah lama menjadi sahabat baiknya. Sambutan kali ini mengapa begini dingin dan pada wajah ketua itu seakan-akan terbayang kekurangsenangan dan juga kegelisahan ?

“Selamat bertemu, Kwa-pangcu !  Apakah gerangan yang telah terjadi ?”

“Silahkan masuk saja dan kau orang tua akan mendengarnya sendiri nanti,”  jawab Kwa-pangcu dengan muka masih tetap dingin dan beberapa kali ia melirik ke arah Kwan Cu seakan-akan ia pernah mendengar tentang sesuatu tentang bocah gundul yang pandai membaca sajak itu.

Ang-bin Sin-kai lalu memberi tanda kepada muridnya untuk masuk ke dalam. Di ruang ke dua, Kwan Cu kembali kagum sekali melihat lukisan-lukisan indah tergantung di dinding dan di bawah terdapat  tempat senjata-senjata persilatan yang delapan belas macam banyaknya. Senjata-senjata yang berada disitu kesemuanya terdiri dari senjata-senjata pilihan belaka, sehingga bukan hanya Kwan Cu, bahkan Ang-bin Sin-kai sendiri memandang sambil mengeluarkan suara pujian.

Akhirnya tibalah mereka didalam ruang tengah. Ruang ini luas sekali, dan di situ telah berkumpul lebih dari dua puluh orang. Melihat orang-orang ini Kwan Cu tertegun. Sesungguhnya memang aneh tempat itu penuh dengan orang-orang yang berpakaian beraneka macam. Ada yang seperti seorang sastrawan dan bersikap lemah lembut sekali, ada yang berpakaian seperti ahli silat atau guru silat, ada pula pendeta-pendeta, hwesio kepala gundul atau tosu-tosu yang rambutnya digelung di atas kepala. Pendeknya, ditempat ini berkumpul ahli-ahli sastra dan ahli-ahli silat yang agaknya tidak memiliki kepandaian kepalang tanggung. Siakp mereka saja sudah menjelaskan bahwa baik ahli sastra maupun ahli silat yang berkumpul di situ rata-rata memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya di bidang masing-masing.

Baik nama maupun orangnya, Ang-bin Sin-kai sudah amat terkenal di antara tokoh-tokoh persilatan dan sastrawan itu. Akan tetapi, kalau biasanya mereka menyambut kedatangan Ang-bin Sin-kai dengan muka girang dan kata-kata ramah, adalah pada saat itu tak seorangpun berdiri dari tempat duduknya dan hanya memandang dengan sinar mata dingin.

Tentu saja Ang-bin Sin-kai menjadi heran dan tidak enak hati sekali., akan tetapi dia bersikap tenang dan mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku, lalu memandang ke kanan kiri menentang pandang mata semua orang yang duduk di situ. Pandang mata Ang-bin Sin-kai amat tajam dan berpengaruh, maka siapapun juga yang bertemu pandang dengan dia, lalu menundukkan muka atau mengalihkan pandang matanya.

Kwa-pangcu duduk kembali ke bangkunya yang berada di kepala meja. Di kanan kirinya duduk dua orang tokoh besar yang sudah amat terkenal, yakni sebelah kiri adalah Pouw Hong Taisu, ketua dari Thian-san-pai yang berilmu tinggi. Adapun di sebelah kanannya duduk Bin Kong Siansu, seorang tokoh besar ketua Kim-pan-sai. Diam-diam Ang-bin Sin-kai sudah merasa heran melihat dua orang tokoh besar ini, karena tidak biasanya ketua-ketua dari Thian-pan-sai dan Kim-pan-sai duduk di tempat ini. Tidak mungkin kehadiran mereka hanya hal yang kebetulan saja, karena kalau memang demikian, tentu dua orang kakek itu telah menyambutnya dengan ramah sebagai orang-orang segolongan yang bertemu jauh dari tempat kediaman masing-masing.

“Cu-wi sekalian, karena ada saudara yang baru datang, maka kuharap soal-soal penting yang tadi telah dibicarakan, diulangi lagi laporannya,” kata Kwa Ok Sin dengan suara keren.

Semua ornag menyatakan setuju dan dari ujung kiri berdirilah seorang muda yang nampaknya gagah. Dia adalah Lie Seng, anak murid Go-bi-pai yang berkepandaian cukup tinggi dan sudah terkenal sebagai seorang pendekar muda yang banyak menolong rakyat.

Karena semua orang telah mendengar penuturannya, kini Lie Sieng memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan berkata,

“Tadi telah siauwte ceritakan bahwa kemarin hari ketika siauwte bersama pujanggan Tu Fu, tiba-tiba seorang tinggi gemuk yang berkepala gundul, malam-malam datang dan menculik Tu-siucai. Gerakan orang itu cepat sekali dan ketika siauwte berusaha menolong Tu-siucai, dengan sekali dorong saja siauwte roboh tak sadarkan diri. Karena cepatnya gerakan orang itu, siauwte tidak sempat mengenal mukanya, hanya tahu bahwa kepalanya gundul dan pakaiannya seperti pakain pendeta. Tubuhnya gemuk sekali.”

“Apakah bajunya hitam semua?” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai bertanya.

Lie Seng menggeleng kepala. “Entahlah, karena sebelum menyerang, orang itu melambaikan tangan ke arah lampu yang menjadi padam seketika.”

Kwa Ok Sin berdiri lalu berkata, “Demikianlah persoalan pertama yang kita hadapi. Ternyata bahwa Tu-siucai telah diculik orang jahat yang lihai, entah dengan maksud apa. Oleh karena kita semua sudah mengenal Tu-siucai sebagai seorang sastrawan yang berjiwa gagah, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan kepandaian dan mencoba menolong Tu-siucai dari tangan orang jahat.”

Warta ini menggirangkan hati Kwan Cu. Tanpa dapat di tahan lagi dia berkata dengan suaranya yang kecil nyaring.

“Penculiknya pasti Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!”

Semua orang terkejut.

“Eh, anak gundul, bagaimana kau berani menuduh Kak Thong Taisu?” terdengar suara keras dan yang membentak iniadalah Pouw Hong Taisu ketua dari Thian-san-pai yang semenjak tadi memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata membenci.

Tak senang hati Kwan Cu mendengar suara yang galak ini, maka dia menjawab dengan suara kasar juga.

“Karena hanya si gundul itulah yang mempunyai alasan untuk menculik seorang sastrawan besar!”

“Diam kau, Kwan Cu!” Ang-bin Sin-kai menegur dan ketika guru dan murid ini bertemu pandang, tahulah Kwan Cu akan kesalahannya sendiri. Ia maklum bahwa urusan Im-yang Bu-tek Cin-keng ini tidak perlu diketahui oleh orang lain, maka dia lalu menundukkan muka dan menutup mulut.

“Muridku ini memang panjang lidah.” kata Ang-bin Sin-kai kepada semua orang.

“Tuduhannya tadi hanya kira-kira saja, karena memang muridku sudah pernah melihat Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang berkepala gundul dan bertubuh gendut. Betapapun juga, aku akan pergi ke kota raja untuk menyelidiki apakah benar-benar Jeng-kin-jiu yang menculik Tu-siucai.”

“Syukurlah, memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelidiki dan menolong Tu-siucai,” kata Kwa Ok Sin, kemudian dia berpaling kepada Pouw Hong Taisu ketua Thian-san-pai sambil berkata,

“Karena persoalan pertama telah dibicarakan, maka lebih baik sekarang taisu menuturkan kembali persoalan kedua yang Taisu bawa jauh-jauh dari Thian-san!” Sambil berkata demikian, Kwa Ok Sin lalu duduk kembali dan kini semua mata memandang kepada Pouw Hong Taisu yang sudah bangkit berdiri dengan muka merah.

Pouw Hong Taisu bertubuh jangkung, mukanya lonjong dan rambutnya yang digelung di atas kepala itu masih hitam sekali sungguhpun usianya tidak kurang dari lima puluh tahun. Di punggungnya kelihatan gagang sepasang golok, karena memang tokoh Thian-san-pai in terkenal sekali sebagai seorang ahli ilmu silat siang-to (golok sepasang).

“Cu-wi sekalian, sesungguhnya bukan hanya pinto (aku) seorang saja yang membawa persoalan in seperti telah kuceritakan tadi. Soal yang kubawa juga persoalan dari sahabatku Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai. Kami mempunyai persoalan yang sama, karena muridnya dan murid pinto telah terbunuh mati oleh seorang saja.” Sampai di sini Pouw Hong Taisu memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata bernyala, dan agaknya orang tua ini sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Pouw Hong Taisu menggebrak meja dan aneh sekali. Cawan arak yang tadinya disuguhkan kepada Ang-bin Sin-kai dan berada di depan Pengemis Sakti ini, tiba-tiba mencelat ke atas tinggi sekali. Benar-benar hebat demonstrasi tenaga lweekang dari tokoh Thian-san-pai ini, karena begitu banyak cawan arak di atas meja, namun begitu dia menggebrak meja yang mencelat hanya cawan arak dari Ang-bin Sin-kai saja, tepat seperti dikehendakinya!

Melihat ini, terkejutlah Ang-bin Sin-kai karena dia maklum bahwa orang sedang marah kepadanya. Namun dengan tenang sekali dia mengulur tangan menerima kembali cawannya kembali di hadapannya.

“Tenang, Pouw Hong Taisu, ceritakanlah dengan jelas persoalannya, jangan marah-marah seperti anak kecil!” kata Ang-bin Sin-kai untuk melampiaskan kedongkolannya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari Bin Kong Siansu yang juga sekarang telah berdiri di dekat Pouw Hong Taisu. Tokoh Kim-san-pai ini lalu berkata mengejek.

“Pinto merasa heran sekali melihat ketenanganmu, Ang-bin Sni-kai! Kau bahkan masih dapat memberi nasihat kepada Pouw Hong Taisu untuk berlaku tenang. Benar-benar berani mati dan tak tahu malu!” Sambil melontarkan kata-kata ini, Bin Kong Siansu mengerakkan tangan kanannya ke arah cawan arak di depan Ang-bin Sin-kai dan…… “praaaaaakk!” cawan itu pecah berkeping-keping seperti dipukul dengan palu besi! Padahal yang menyerang cawan arak itu hanya angin pukulan tangan saja dari Bin Kong Siansu. Dari sini saja sudah dapat diukur sampai bagaimana hebatnya kepandaian dari tokoh Kim-san-pai ini.

Kwan Cu tertawa geli mendengar ucapan suhunya. Ia tadi sudah menyaksikan sikap kedua orang tosu itu, dan sudah mendengar pula kata-kata mereka, maka karena selama ini dia berada dengan suhunya dan merasa yakin bahwa suhunya tidak pernah melakukan hal yang tidak patut, dia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalahfahaman dari fihak mereka. Olah karena ini, anak ini pun merasa tenang-tenang saja, bahkan ada kegembiraan dalam hatinya. Ia bahkan mengharapkan agar suhunya dapat bertanding melawan dua orang jago tua dari Kim-san-pai dan Thian-san-pai itu agar di dalam pertempuran yang hebat, dia mendapat pemandangan yang bagus dan penambahan pengalaman!

“Bin Kong dan Pouw Hong dua tua bangka yang sudah pikun. Apa sih harganya main-main seperti ini? Lebih baik kau bicara terus terang, sebetulnya ada urusan apakah maka kalian seperti kemasukan setan dan marah kepadaku?” kata Ang-bin Sin-kai sambil memandang kepada dua orang tosu itu.

“Pengemis busuk, kau masih berpura-pura tidak tahu? Kau telah membunuh mati Ong Kiat, murid yang pinto tahu belum pernah melakukan pelanggaran dan yang selalu bersikap sebagai seorang pendekar yang patut menjadi kebanggan Thian-san-pai. Akan tetapi, mengapa kau seorang tua yang sudah mendapat nama baik telah menurunkan tangan kejam dan membunuhnya? Tak perlu banyak cakap lagi, sekarang kebetulan kau datang sehingga memudahkan pinto untuk membalas dendam dan menagih hutang. Bersiaplah, mari kita mengadu nyawa, tua sama tua, jangan kau hanya berani mengganggu orang-orang muda!” Sambil berkata demikian, tokoh Thian-san-pai ini mencabut sepasang goloknya yang ternyata berwarna kebiruan menyilaukan mata.

Inilah sebuah tantangan terbuka dan kini semua memandang ke arah Ang-bin Sin-kai untuk melihat bagaimana sikap dari tokoh besar timur itu. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai masih bersikap tenang dan kini kakek pengemis ini memandang kepada Bin Kong Siansu sambil berkata,

“Bin Kong Siansu, baru saja Pouw Hong Taisu dari Thian-san-pai telah melontarkan tuduhannya. Agar dapat sekaligus membereskan persoalan ini, cobalah kau menuturkan pula tentang muridmu yang katanya kubunuh itu.”

Melihat sikap Ang-bin Sin-kai, Bin Kong Siansu merasa ragu-ragu, akan tetapi dia menjawab juga.

“Benar-benarkah kau tidak tahu atau hanya berpura-pura, Ang-bin Sin-kai? Seperti juga murid Pouw Hong Taisu, muridku, atau lebih tepat cucu muridku yang bernama Pek-cilan Thio Loan Eng yang menjadi isteri dari Ong Kiat anak murid Thian-san-pai, terbunuh olehmu secara sewenang-wenang? Karena itu, sekarang kau pun harus menghadapi sebatang pedangku untuk menentukan siapa yang harus membayar nyawa!” Bin Kong Siansu menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning emas telah berada di tangannya.

Tiba-tiba terdengar orang menjerit dan Kwan Cu sudah melompat maju menghadapi Bin Kong Siansu.

“Siapa bilang Thio-toanio mati? Bohong! Bohong semua! Thio-toanio tidak mati…..!”

“Hm, anak gundul, otakmu agak miring rupanya. Kami sendiri sudah menyaksikan kuburan dari Thio Loan Eng. Dia dibunuh oleh gurumu, kau masih mau main sandiwara untuk menutupi kedosaan gurumu?” Bin Kong Siansu membentak dan tangan kirinya menyambar menempiling kepala Kwan Cu yang gundul.

Gerakan itu cepat sekali sehingga biarpun Kwan Cu mengelak, tetap saja dia terkena kemplangan tangan kiri tosu itu. Tubuh Kwan Cu mencelat dan bergulingan menabrak meja kursi, akan tetapi anak ini tidak apa-apa, lalu bangkit berdiri lagi.

“Thio-toanio mati…….? Terbunuh………? Ah, Suhu, kita harus membalaskan sakit hatinya….” katanya setengah menangis sambil menghampiri suhunya.

“Bocah lancang, kau diamlah saja, jangan turut campur.” kata Ang-bin Sin-kai menghibur. Kakek ini maklum bahwa kesedihan muridnya mendengar tentang kematian Pek-cilan, mungkin lebih besar daripada kesedihan dan kemarahan Bin Kong Siansu, tokoh Kim-pan-sai itu.

“Bin Kong dan Pouw Hong, apakah kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa aku membunuh murid-murid kalian?” tanya Ang-bin Sin-kai.

“Kalau kami melihat dengan mata kepala sendiri, apakah kau kira masih dapat hidup sampai sekarang?” bentak Pouw Hong Taisu marah. Kedua Thian-san-pai ini memang agak sombong wataknya dan berbeda dengan Bin Kong Siansu yang agak jerih menghadapi Ang-bin Sin-kai, ketua Thian-san-pai ini menganggap kepandaian sendiri akan dapat mengatasi kepandaian Pengemis Sakti Muka Merah.

“Kalau begitu, siapa yang memberi tahu kepada kalian bahwa aku telah membunuh murid kalian?”

Bin Kong Siansu dan Pouw Hong Taisu saling pandang, kemudian Bin Kong Siansu yang menjawab,

“Ang-bin Sin-kai, kami mendengar dari seorang yang boleh dipercaya benar-benar, dan kami sudah bersumpah takkan memberitahukan namanya kepada siapapun juga.”

“Hm, hm, hm, jadi kalian percaya penuh kepadanya?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: