Pendekar Sakti (Jilid ke-14)

“Toat-beng Hui-houw, lepaskan muridku kalau kau tak ingin mampus!” bentaknya marah dan disusul oleh bunyi “tar! tar! tar!” keras sekali. Dalam kemarahannya, Kiu-bwe Coa-li telah mengeluarkan cambuknya dan kini sembilan helai bulu cambuk menyambar-nyambar mengancam di atas kepala Toat-beng Hui-houw.

Kakek berkuku panjang itu melepaskan cekikannya, akan tetapi dia memegangi tangan Sui Ceng dan berkata menyeringai.

“Kiu-bwe Coa-li, siapa mau mengganggu muridmu! Aku hanya main-main saja.”

“Bangsat tua bangka! Siapa tidak mengenal watakmu yang curang? Hayo kau lepaskan muridku. Berlaku lamban berarti kepalamu akan hancur oleh cambukku!” Kiu-bwe Coa-li mengancam dengan sikap garang sekali.

“Ha-ha-ha! Kalau aku curang, apakah kau juga boleh dipercaya? Muridmu berada di dalam tanganku dan cobalah kau bergerak kalau berani. Sebelum aku terkena cambukmu, nayawa muridmu akan melayang lebih dulu!”

“Apa yang kau kehendaki manusia jahat?” Kiu-bwe Coa-li ragu-ragu untuk menyerang, karena maklum bahwa Toat-beng Hui-houw bisa membuktikan ancamannya itu.

“Aku mau melepaskan muridmu ini, akan tetapi bocah gundul ini akan kubawa. Otaknya baik sekali untuk punggungku yang suka sakit di musim dingin karena sudah kurang isinya! Dan pula, sebelum aku melepaskan muridmu, kau harus berjanji takkan menyerangku!”

Kiu-bwe Coa-li memutar otaknya. Ia lebih menyayangkan nyawa muridnya dan tentang Kwan Cu, ia tidak peduli akan anak itu. Maka ia lalu berkata dengan suara dingin,

“Kau mau bawa anak gundul itu, bukan urusanku. Kalau kau melepaskan muridku, akupun tak sudi berurusan dengan orang macam kau lagi!”

Tadinya memang Kiu-bwe Coa-li amat membutuhkan bantuan Kwan Cu, akan tetapi sekarang anak itu sudah memberi tahu tentang kitab sejarah yang menjadi petunjuk di mana adanya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kitab itu sudah dicuri oleh Jeng-kin-jiu, maka untuk apa lagi membawa anak itu? Membikin repot saja!

Setelah mendengar kata-kata gurunya ini, Sui Ceng terkejut sekali.

“Suthai jangan berikan Kwan Cu kepadanya! Siluman itu hendak memcahkan kepala Kwan Cu dan hendak makan otaknya!”

“Peduli amat! Aku tidak perlu lagi dengan anak itu!” jawab subonya. Adapun Toat-beng Hui-houw setelah mendengar janji yang dikeluarkan oleh Kiu-bwe Coa-li, menjadi girang dan segera melepaskan Sui Ceng. Kemudian dia melompat dan mengepit tubuh Kwan Cu, pergi dari situ sambil berkata,

“Selamat tinggal, Kiu-bwe Coa-li!”

“Siluman jahat, lepaskan Kwan Cu!” Sui Ceng membentak dan hendak mengejar.

“Sui Ceng, jangan kejar dia!” Gurunya mencegah.

“Suthai, dia hendak membunuh Kwan Cu! Dan dialah pembunuh ibuku! Bagaimana teecu harus diam saja??” Kembali Sui Ceng menggerakkan kadua kakinya hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba gurunya memegang pundaknya sehingga dia tidak dapat bergerak lagi.

“Tidak, Sui Ceng. Aku sudah memberi janjiku tidak akan mengganggunya. Soal pembalasan dendam, mudah saja. Lain kali kalau kita bertemu dengan dia, pasti dia takkan ku beri ampun lagi. Kali ini aku terpaksa melepaskannya, karena kalau tidak, kau tadi tentu dibunuhnya.”

Sui Ceng memandang ke arah bayangan Toat-beng Hui-houw yang membawa Kwan Cu dan air matanya membanjir keluar.

“Kwan Cu…..! Kwan Cu…….!” Ia menjerit-jerit dengan hati perih.

Kwan Cu yang dikempit oleh Toat-beng Hui-houw dan dibawa lari cepat, merasa mendongkol sekali kepada Kiu-bwe Coa-li.

“Kiu-bwe Coa-li benar-benar orang bong-im-pwe-gi (orang tak kenal budi). Biarpun ia mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, mana bisa ia membacanya? Dan orang macam Toat-beng Hui-houw ini dengan kepandaiannya yang rendah dan sifatnya yang pengecut, mana bisa dia menjagoi di dunia kang-ouw?”

Mendengar kata-kata ini, Toat-beng Hui-houw melepaskan kempitannya dan menurunkan Kwan Cu di atas tanah.

“Kau bicara apa tadi?” tanyanya.

“Aku bicara sendiri, apa hubungannya dengan kau?”

“Aku hendak makan otakmu, akan tetapi kalau otakmu miring, jangan-jangan aku ikut menjadi gila. Kau bicara seorang diri, kalau tidak miring otakmu, apa lagi? Kau sebut-sebut Im-yang Bu-tek Cin-keng, kau tahu apakah tentang kitab itu?”

“Toat-beng Hui-houw, kau mengimpi! Kiu-bwe Coa-li membawaku, ada perlu apakah kalau tidak menghendaki kitab itu? Hanya aku seorang yang akan bisa mendapatakan kitab itu. Sayang kitab itu akan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak pandai membacanya, karena mendiang Gui-siucai hanya mengajarkan tulisan itu kepadaku seorang,” Kwan Cu dengan cerdik menggunakan akal untuk menarik perhatian orang menyeramkan ini.

“Apa maksudmu? Apakah benar-benar di dunia ini terdapat kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

“Tentu saja ada! Lima tokoh besar dunia sedang memperebutkan kitab itu dan siapa saja yang mendapatkannya dan dapat membacanya, tentu akan memiliki kepandaian yang tak terlawan oleh siapapun juga di dunia ini. Akan tetapi kau, yang mempunyai kesukaan makan otak dan darah, perlu apa bertanya-tanya? Mau bunuh padaku, lekas bunuh, agar aku tidak dipaksa-paksa oleh para tokoh kang-ouw untuk mencarikan kitab itu dan untuk menterjemahkannya!”

“Benarkah kau bisa mencarikan kitab itu, bocah gundul? Di mana adanya kitab itu?”

“Mau apa kau bertanya-tanya?”

“Setan cilik! Kalau kau bisa mendapatkan kitab itu untukku, aku mau menukar dengan kepalamu!”

“Sukar, sukar……! Untuk mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya ada satu petunjuk yang terdapat di dalam kitab sejarah peninggalan Gui Tin siucai.”

“Dimana adanya kitab sejarah itu? “Toat-beng Hui-houw mendesak dan Kwan Cu girang sekali melihat umpannya nulai berhasil.

“Kitab itu telah dicuri oleh Ang-bin Sin-kai!”

Terbelalak mata Toat-beng Hui-houw mendengar ini.

“Sukar kalau begitu!” ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak lalu memandang ke arah Kwan Cu yang gundul kelimis, agaknya mulai tertarik lagi oleh otak di dalam kepala gundul itu. Kwan Cu cepat berkata, “Apa sukarnya! Memang, kepandaian Kiu-bwe Coa-li amat tinggi dan seandainya kitab itu berada di tangannya, akan sukarlah bagimu merampasnya. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai…..? Kakek yang berpenyakitan itu? Ah, menghadapi Kiu-bwe Coa-li saja dia kalah jauh dan tidak dapat menahan serangan nenek itu lebih dari sepuluh jurus!”

“Apa katamu? Ang-bin Sin-kai terkenal dengan kepandaiannya yang amat tinggi!”

“Toat-beng Hui-houw, kalau tidak percaya sudahlah. Aku tidak mau banyak bicara lagi.”

Toat-beng Hui-houw mulai tertarik lagi melihat sikap Kwan Cu.

“Bocah gundul, betul-betulkah kata-katamu itu?”

“Siapa membohong? Ang-bin Sin-kai mendapatkan kitab itu atas bantuanku. Kemudian dia dan aku bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa dia melarikan diri setelah dihajar oleh cambuk Kiu-bwe Coa-li. Kini dia lari dan dikejar-kejar oleh Kiu-bwe Coa-li, dan hanya aku yang tahu di mana Ang-bin Sin-kai dengan kitab sejarah yang dibawanya itu?”

“Di mana?”

“Di kota raja!”

Toat-beng Hui-houw berpikir-pikir sejenak. Apa salahnya kalau dia pun mencoba-coba mendapatkan kitab itu untuk kemudian mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Sudah lama dia mendengar tentang kitab pelajaran yang tiada bandingannya di dunia ini dan kalau benar-benar dia bisa mendapatkan kitab itu atas bantuan anak gundul ini, bukankah dia akan menjagoi di seluruh permukaan bumi? Ia takkan perlu takut lagi menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan tokoh-tokoh lain. Adapun anak ini…… andaikata membohong, masih belum terlambat baginya untuk memecahkan batok kepalanya dan makan otaknya. Dan apa salahnya kalau kelak setelah dia bisa mendapatkan Im-yang Bu-tek Cin-keng atas bantuan anak ini, dia makan juga otaknya?

“Kalau begitu, mari kita menyusul ke kota raja,” katanya kemudian.

“Apa kau tidak mau makan otakku lagi?” tanya Kwan Cu berani.

“Tidak, otakmu perlu kupergunakan untuk mencari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi awas kalau tidak berhasil mendapatkan kitab itu, tidak hanya otakmu yang kumakan, juga darahmu kuminum habis-habis!”

Kwan Cu mengangkat pundak, acuh tak acuh. “Apa bedanya? Kalau aku mati, otakku akan dimakan cacing dan darahku diminum semut! Lebih baik kalau kalau dimakan dan diminum oleh seorang manusia seperti kau sekalipun!”

Akan tetapi Toat-beng Hui-houw tidak mau banyak cakap lagi dan setelah membebaskan Kwan Cu dari totokannya, dia lalu menggandeng tangan anak ini dan diajaknya berlari cepat sekali menuju ke kota raja.

“Kita harus mendahului Kiu-bwe Coa-li ke kota raja dan merampas kitab sejarah dari tangan Ang-bin Sin-kai!” Kwan Cu berkata berkata dan ucapan ini membuat Toat-beng Hui-houw membawanya berlari seperti di kejar setan cepatnya.

Ang-bin Sin-kai sudah mulai tidak sabar dan gelisah sekali memikirkan keadaan Kwan Cu, karena selama dia berada di kota raja, belum juga kelihatan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu datang. Juga belum kelihatan bayangan Kiu-bwe Coa-li. Telah beberapa hari dia berada di kota raja, tiga kali dia masuk ke dalam dapur istana menikmati masakan-masakan yang langka terdapat di luar istana. Bahkan dia pernah mendatangi gedung Lu Pin adiknya secara diam-diam untuk melihat apakah Jeng-kin-jiu sudah kembali ke kota raja. Dari gedung adiknya dia pergi ke rumah Lu Seng Hok ayah Lu Thong, akan tetapi juga di situ sunyi tidak kelihatan Jeng-kin-jiu atau Lu Thong.

Ia sudah mulai bosan menanti dan pada malam ke empat, kembali dia memasuki dapur istana dan mabuk-mabukan seorang diri di dalam dapur itu. Tiba-tiba dia mendengar suara genteng dibuka orang dan tahu-tahu berkelebat bayangan seorang kakek yang melayang turun dengan seorang anak laki-laki gundul. Anak itu bukan lain adalah Kwan Cu dan kakek itu adalah Toat-beng Hui-houw.

“Ang-bin Sin-kai, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai kepadaku!” Toat-beng Hui-houw membentak. Kakek berkuku panjang ini masih belum percaya betul kepada Kwan Cu dan ketika dia merhadapan dengan Ang-bin Sin-kai, dia masih memegang pergelangan tangan Kwan Cu. Kalau anak ini ternyata membohong, dia akan membunuhnya terlebih dulu. Kwan Cu juga maklum akan hal ini, maka dia memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan muka khawatir sambil memutar otaknya.

“Kitab sejarah yang mana?” Ang-bin Sin-kai menjawab sambil mengerutkan keningnya. “Toat-beng Hui-houw, apakah kau sudah gila? Kau membunuh anak-anak murid Kim-san-pai dan Thian-san-pai sehingga menyusahkan kepadaku, sekarang kau datang menuduh yang bukan-bukan lagi! Benar-benar kau sudah miring otakmu!”

Mendengar jawaban ini, Toat-beng Hui-houw sudah menekan lebih keras pergelangan tangan Kwan Cu, membuat anak itu kesakitan sekali dan hampir memekik. Akan tetapi Kwan Cu menahan rasa sakit, lalu menudingkan jari telunjuknya kepada Ang-bin Sin-kai.

“Ang-bin Sin-kai, kau orang tua benar-benar licik sekali! Bukankah kitab itu dahulu kau bawa-bawa selalu? Mengapa sekarang tidak mengaku??” selagi Ang-bin Sin-kai memandang terheran-heran, Kwan Cu berkata kepada Toat-beng Hui-houw,

“Locianpwe, mengapa kau begitu bodoh dan mau percaya omongannya? Dia membohongimu! Lihat saja, mukanya sudah berubah merah sekali, tanda dia membohong. Aku percaya bahwa kitab itu tentu berada di dalam saku bajunya. Lekas serang dia dan rampas kitab itu!”

Toat-beng Hui-houw ragu-ragu dan memang otaknya agak bodoh maka dia mau percaya omongan anak ini. Ia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Kwan Cu dan memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata terbelalak. Sebaliknya, Ang-bin Sin-kai adalah orang yang cerdik dan sekelebatan saja dia dapat melihat betapa pergelangan tangan Kwan Cu yang dipegang oleh Toat-beng Hui-houw tadi menjadi matang biru, maka dia lalu tertawa bergelak sambil berkata,

“Toat-beng Hui-houw, kalau kau goblok, adalah anak gundul itu pintar sekali tidak kena ditipu. Misalnya benar kitab itu berada di tanganku, habis kau mau apa?”

“Berikan kepadaku!” Toat-beng Hui-houw membentak lalu serentak menubruk maju sambil mengulur sepasang tangannya yang berkuku panjang seperti cakar harimau. Ang-bin Sin-kai mengelak cepat sambil tertawa-tawa.

Kini Kwan Cu cepat melompat ke pinggir dan berubahlah air mukanya, kini gembira sekali.

“Suhu, pukul batang hidungnya! Kemplang kepala botaknya! Siluman ini tadinya hendak makan otak teecu, hingga terpaksa teecu membawanya ke sini kepada Suhu!”

Dengan keterangan ini, makin jelaslah bagi Ang-bin Sin-kai bahwa entah bagaimana, muridnya itu terjatuh ke tangan Toat-beng Hui-houw dan dengan menggunakan akal, Kwan Cu dapat memancing siluman ini untuk mencari dia dengan alasan hendak merampas kitab sejarah yang dapat menunjukkan tempat Im-yang Bu-tek Cin-keng. Mengingat akan hal ini, makin besarlah suara ketawa Ang-bin Sin-kai.

Adapun Toat-beng Hui-houw mendengar Kwan Cu menyebut Suhu kepada Ang-bin Sin-kai, sadar bahwa dia telah ditipu oleh bocah gundul itu, akan tetapi sekarang dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyerang Kwan Cu, karena Ang-bin Sin-kai juga membalas serangan-serangannya dan mendesaknya dengan hebat. Segera Toat-beng Hui-houw mengeluh di dalam hatinya ketika beberapa kali dia menyerang, selalu dapat dielakkan oleh Ang-bin Sin-kai dengan amat cepatnya, bahkan kakek pengemis itu melayaninya sambil tertawa-tawa dan bahkan berani menangkis tangannya yang berkuku panjang dan yang mengandung racun! “Ang-bin Sin-kai, kau tua bangka busuk bersama muridmu anjing kecil gundul itu hari ini harus mampus dalam tanganku!” bentaknya dan Toat-beng Hui-houw lalu menerkam sambil menggunakan ilmu silatnya yang paling dia andalkan, yaitu Ilmu Silat Hui-houw-lo-lim (Macan Terbang Mengacau Hutan). Sepuluh kuku jari tanganya tiba-tiba mulur panjang dan runcing, dan gerakkannya tiada bedanya dengan seekor harimau yang ganas sekali. Tidak hanya kedua tangannya yang bergerak mencakar-cakar seperti harimau, juga kedua kakinya yang telanjang itu menendang-nendang seperti kaki harimau mencakar! Dari tenggorokan keluar suara gerengan-gerengan yang menggetarkan tiang-tiang dapur istana itu, bahkan Kwan Cu yang berdiri di pinggir berdebar jantungnya mendengar suara yang mirip suara harimau besar ini. “Toat-beng Hui-houw seekor harimau pun tidak sebodoh dan seganas kau tua bangka tak tahu malu!” Ang-bin Sin-kai balas memaki akan tetapi dia segera menghadapi serangan-serangan yang luar biasa ganasnya. Ang-bin Sin-kai memang belum pernah bertempur melawan kakek berkuku panjang ini sungguhpun kedua orang kakek ini sudah pernah bertemu, namun baru kali ini mereka mendapat kesempatan mengadu kepandaian dan mengukur tenaga masing-masing! Kwan Cu menonton pertempuran itu dengan hati gembira. Ia berdiri bertolak pinggang dan berkata, “Suhu, pukul kepalanya yang botak! Dia telah membunuh Thio-toanio secara keji! Dia benar-benar siluman jahat menjelma manusia!” Mendengar suara Kwan Cu, bukan main mendongkol dan marahnya hati Toat-beng Hui-houw. Ia telah dipermainkan, ditipu dan diejek oleh bocah gundul ini. Kalau saja dia bisa merobohkan Ang-bin Sin-kai dia tentu akan menangkap bocah gundul itu dan akan mencarinya jalan yang paling mengerikan untuk membikin mampus setan gundul! Maka dia lalu mengeluakan serangan yang luar biasa cepat dan hebatnya. Kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyerang bergantian secara bertubi-tubi seperti ilmu tendangan Lian-hoan-twi. Dari sepuluh kuku jarinya itu tersebar bau yang amat amis memuakkan, menyambar ke arah muka Ang-bin Sin-kai. Namun Ang-bin Sin-kai yang kini sudah dapat mengukur inti kepandaiannya dari lawannya, hanya tersenyum-senyum dan seperti seorang anak kecil, dia menjatuhkan diri ke belakang lalu berpoksai (membuat salto berjungkir-balik), menggelundung ke belakang seperti bal ditendang. Inilah gerakan yang di sebut Trenggiling Turun Gunung, yang gerakannya demikian cepat dan wajar sehingga Kwan Cu menjadi kagum sekali. Dengan gerakan seperti ini, serangan yang bagaimana hebat pun dapat dielakkan dengan mudahnya. Beberapa jurus lamanya Toat-beng Hui-houw mengejar dan menyerang terus, akan tetapi tiba-tiba Ang-bin Sin-kai tidak merasa lagi ada sambaran angin serangan lawan. Ketika kakek ini melompat berdiri, dia terkejut sekali melihat kini Toat-beng Hui-houw melakukan pukulan maut! “Manusia curang!” Kwan Cu membentak. Ia mainkan Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to untuk mengelak, akan tetapi tetap saja dia terdesak hebat sekali sungguhpun dalam beberapa jurus dia berhasil menghindarkan diri dari serangan lawan yang ganas itu. “Tua bangka tak tahu diri!” Ang-bin Sin-kai memaki dan menggerakkan kedua tangan memukul. Sambaran angin pukulannya hebat sekali dan sambaran ini dapat mematahkan dan menumbangkan batang-batang pohon dari jarak jauh. Toat-beng Hui-houw terkejut sekali bukan main ketika merasa pinggangnya sakit, maka cepat dia membalikan tubuhnya dan mengerahkan lweekang untuk melawan pukulan Ang-bin Sin-kai yang lihai. Kemudian dia menerkam dan kuku-kukunya mencengkeram hendak mencekik leher kakek pengemis itu. Namun Ang-bin Sin-kai kini sudah menjadi marah sekali. Ia mengibaskan kedua tangannya ke arah kuku lawan dan terdengar suara “kraaak!” maka patah-patahlah semua kuku di ujung tangan Toat-beng Hui-houw dan tubuh kakek ini sendiri terpental, membentur tembok dan roboh pingsan!

Ang-bin Sin-kai memandang kepada Kwan Cu. “Kau mau membalas dendam keamtian Pek-cilan? Nah, sekarang mudah bagimu untuk melakukan hal itu.” Kwan Cu menengok dan memandang kapada Toat-beng Hui-houw yang masih menggeletak pingsan di atas lantai. Memang mudah sekali baginya dengan sekali pukul atau sekali tendang saja dia dapat membunuh Toat-beng Hui-houw, membalaskan sakit hati Pek-cilan Thio Loan Eng. Dengan hati gemas Kwan Cu melangkah maju mendekati tubuh Toat-beng Hui-houw yang menggeletak di situ. Ia memegang leher baju kakek itu dan menyeretnya ke arah meja, kemudian dia menarik tubuh Toat-beng Hui-houw, didudukkan di atas bangku menyandar tembok menghadapi meja. Toat-beng Hui-houw yang masih pingsan itu tidak berdaya dan kini dia terduduk bersandar tembok seperti orang tidur. Kwan Cu mengambil semangkok besar masakan dan dengan gemas sekali dia memasang mangkok itu di atas kepala botak Toat-beng Hui-houw seperti topi! Masakan yang kuahnya kuning itu mengalir turun ke atas muka kakek ini sehingga kelihatan lucu sekali. “Tidak, Suhu. Teecu tidak dapat membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti ini,” kata Kwan Cu sambil meninggalkan musuh besar itu. Diam-diam Ang-bin Sin-kai menjadi girang sekali mendengar ucapan muridnya ini, karena tadi dia memang hanya mencoba saja untuk menguji sifat kegagahan muridnya. “Kalau begitu, hayo kita pergi dari sini. Mungkin Jeng-kin-jiu sekarang sudah pulang.” Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat keluar melalui genteng yang tadi di buka oleh Toat-beng Hui-houw diikuti oleh Kwan Cu yang merasa girang dapat berkumpul kembali dengan suhunya. Pukulan dari Ang-bin Sin-kai tadi benar-benar hebat dan Toat-beng Hui-houw selain menderita patah semua kukunya yang diandalkan, juga menjadi pingsan sampai satu malam! Hawa pukulan itu demikian kerasnya sehingga melumpuhkan semua urat-urat dalam tubuhnya. Ketika keesokan harinya pegawai dapur istana membuka pintu, dia menjerit dan berlari keluar kembali ketika melihat seorang kakek yang aneh sekali duduk di atas bangku menghadapi pintu! “Tolong…..toloooong…..ada siluman!” teriaknya sambil berlari-lari. Seorang penjaga yang mendengar ini ikut berteriak-teriak sehingga sebentar saja keadaan menjadi geger. Di antara para penjaga yang kini berkumpul, ada juga yang berhati tabah, setelah mendengar penuturan pegawai dapur bahwa di dalam dapur terdapat seorang siluman tengah duduk menghadapi meja dan makan minum, dia lalu membuka pintu dapur dan sambil memegang goloknya dia melangkah masuk. Kawan-kawannya menjenguk dari pintu dan tidak berani ikut masuk. Ketika penjaga yang tabah ini melihat kedalam dapur, dia terkejut sekali dan meremanglah bulu tengkuknya. Memang menyeramkan sekali mahluk yang kelihatan duduk menghadapi meja itu. Seorang kakek botak yang berwajah menyeramkan dan bersikap aneh sekali, bertopi mangkok dan mukanya penuh benda cair berwarna kuning, membuat muka itu nampak makin mengerikan. “Siluman dari manakah berani mengacau di dapur istana?” Penjaga ini membentak sambil melangkah maju, siap dengan goloknya di depan dada. Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Hui-houw baru saja siuman kembali dari pingsannya dan kepalanya masih terasa pening. Ia membuka matanya, akan tetapi merasa malas untuk bergerak. Ia mengejap-ngejapkan matanya karena masih mengingat-ingat akan peristiwa semalam. Munculnya penjaga di depan pintu dan teguran penjaga yang memegang golok di depannya itu mengingatkan Toat-beng Hui-houw akan semua pengalamannya dan ingat kembalilah dia bahwa dia masih berada di dalam dapur istana. Ia merasa heran sekali mengapa Ang-bin Sin-kai atau bocah gundul itu tidak membinasakannya, padahal dia telah pingsan tidak berdaya!

Sementara itu, ketika penjaga yang memegang golok tadi telah datang dekat dan melihat bahwa “siluman” itu sesungguhnya seorang kakek botak dan bahwa keseraman mukanya diakibatkan oleh kuah masakan yang mengalir turun dari mangkok yang dijadikan topi, agak lenyap rasa takutnya. Ia menyangka bahwa kakek ini tentulah seorang yang miring otaknya, kalau tidak bagaimana dia memakai mangkok yang penuh masakan sebagai topi? “Bangsat tua, darimana kau berani sekali mengacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah, kalau tidak golokku akan makan kepalamu!” bentak penjaga itu. Namun Toat-beng Hui-houw masih termenung saja, seakan-akan tidak mendengar seruan penjaga ini. Adapun para penjaga lain ketika mendengar kawannya memaki-maki “siluman” itu, menjadi besar hati dan mulailah mereka memasuki dapur. Melihat kawan-kawannya ikut masuk, penjaga tadi makin tabah hatinya dan kini membentak keras, “Lihat kupenggal kepala siluman ini!” Sambil berkata demikian, benar-benar dia mengayunkan goloknya yang tajam itu, membacok kepala Toat-beng Hui-houw! Akan tetapi, alangkah terkejutnya, juga para penjaga yang sudah memasuki dapur melihat keajaiban yang mengejutkan. Ketika golok itu menyambar kepala botak yang kelimis, terdengar suara “tak!” seperti golok menyambar batu dan dan bukan kepala botak itu yang terbelah, melainkan gagang golok itu terpental dan terlepas dari pegangan penjaga yang tadi membacoknya karena penjaga itu merasa tangannya sakit! Kejadian aneh ini disusul oleh suara kakek itu tertawa bergelak menyeramkan sekali, kemudian ketika kakek itu berdiri, meja yang berada di depannya tiba-tiba terbang melayang ke arah para penjaga yang berkerumun di depan pintu! Tentu para penjaga menjadi kaget dan ketakutan. Mereka cepat bergerak mengelak atau menangkis meja yang tiba-tiba hidup dan menyambar kepala mereka itu. Ketika akhirnya meja itu dapat dilemparkan ke pinggir dan mereka memandang, ternyata bahwa kakek botak itu telah lenyap dari dapur itu!

“Celaka, benar-benar siluman…..!” kata mereka. Sayang sekali pada hari sepagi itu, kepala penjaga Song Cin masih belum hadir sehingga tidak dapat menyaksikan peristiwa ini. Sesungguhnya, hanya Song Cin seorang yang kiranya akan dapat menghadapi siluman itu. Ketika Song Cin diberi tahu, perwira ini mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia juga merasa bingung, karena dia tahu bahwa tidak mungkin kakek yang disangka siluman oleh anak buahnya itu Ang-bin Sin-kai adanya. Siapakah kakek yang aneh ini? Pertanyaan ini selamanya hanya akan tetap tinggal sebagai teka-teki yang tak pernah terjawab olehnya.

Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu baru saja datang dari perantauannya bersama muridnya, Lu Thong. Ayah Lu Thong, yakni Lu Seng Hok dan isterinya, girang sekali melihat putra mereka kembali dengan selamat. Sebenarnya, Lu Seng Hok dan isterinya tidak suka melihat putra mereka diajak merantau oleh hwesio itu, karena tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau putra tunggal mereka itu takkan pulang kembali. Dengan sikap hormat dan tidak memperlihatkan ketidaksenangan hatinya, Lu Seng Hok berkata kepada Jeng-kin-jiu yang tengah makan minum dengan gembira. “Twa-suhu, kami harap sukalah kiranya Twa-suhu melatih ilmu silat kepada Thong-ji di sini saja dan tidak membawanya ke luar kota, karena kami selalu merasa gelisah dan khawatir. Segala keperluan untuk latihan itu, Twa-suhu katakan saja dan kami akan sediakan semua.” Mendengar ini, Kak Thong Taisu tertawa bergelak, lalu minum araknya dari cawan besar sebelum dia menjawab. “Lu-taijin tidak tahu bahwa ilmu silat baru bisa sempurna kalau latihan-latihan itu disertai pengalaman pertempuran. Apa gunanya memiliki ilmu silat tanpa ada pengalaman-pengalaman pertempuran menghadapi orang-orang pandai? Ilmu silat itu akan mentah, tidak berisi.” “Betapapun juga, Twa-suhu, kami berdua lebih-lebih ibu anak itu merasa amat gelisah dan rindu kalau terlalu lama Twa-suhu dan Thong-ji tidak pulang.” Lu Thong yang hadir pula disitu, lalu berdiri dari bangkunya dan mengerutkan kening sambil berkata manja, “Ayah…. mengapa ayah melarangku pergi dengan Suhu! Kalau Suhu pergi merantau, aku harus ikut serta! Ayah tidak tahu betapa senangnya merantau di luar, di dunia bebas, tidak seperti di sini terkurung dan sempit sekali!” “Ha-ha-ha!” Jeng-kin-jiu tertawa bergelak, “Memang enak menjadi seperti burung di udara daripada terkurung dalam sangkar emas!” “Thong-ji!” Lu Seng Hok membentak anaknya. “Apakah kau sudah tak mau menurut omongan ayahmu lagi? Untuk mencapai kedudukan tinggi tidak hanya belajar silat, akan tetapi kau harus belajar ilmu surat dengan baik!” Dengan uring-uringan ayah ini lalu meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang hanya tertawa saja. Setelah Lu Seng Hok pergi, Jeng-kin-jiu berkata dengan suara bersunguh-sungguh kepada muridnya, “Lu Thong, ucapan ayahmu tadi ada benarnya. Lihatlah aku ini, selamanya menjadi seorang perantau yang tidak mempunyai rumah tangga yang baik. Bahkan menjadi hwesio pun tidak mempunyai kelenteng untuk tempat tinggal. Kau keturunan orang besar dan kalau kelak tidak menduduki pangkat tinggi, tentu akan mengecewakan hati leluhurmu.” “Akan tetapi teecu lebih senang belajar ilmu silat daripada ilmu surat, Suhu. Teecu ingin mempunyai kepandaian silat yang paling tinggi!” bantah Lu Thong. Jeng-kin-jiu tertawa. “Enak saja kau bicara. Kaukira belajar ilmu silat itu ada batas tingginya sampai mencapai tingkat tertinggi? Tak mungkin. Gunung Thai-san yang begitu tinggi masih ada langit di atasnya, apalagi kepandaian orang. Kecuali kalau kau bisa mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng….” Lu Thong tertarik sekali, akan tetapi sebelum dia mengajukan pertanyaan, tiba-tiba terdengar bentakan halus, “Tua bangka gundul, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai kepadaku!” Bentakan ini disusul melayangnya tubuh Kiu-bwe Coa-li bersama Sui Ceng yang memasuki ruangan itu. Sikap Kiu-bwe Coa-li mengancam sekali, di tangannya telah siap cambuknya yang lihai sehingga Jeng-kin-jiu menjadi terkejut dan tidak berani berlaku sembrono. Ia melompat bangun sambil menyambar toyanya yang tadi disandarkan di tembok dekat tempat duduknya. “Kiu-bwe Coa-li, kau setan betina dari selatan! Kau datang-datang bicara mengacau tidak karuan, apakah aku kelihatan seperti seekor cacing buku maka kau bilang aku menyimpan kitab sejarah? Lebih baik simpan cambukmu yang menjijikkan itu dan mari kita minum arak wangi!” “Gundul busuk! Siapa sudi minum arakmu yang masam? Tak usah berpura-pura suci dan pinni tidak ada banyak waktu untuk mengobrol. Kau telah mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin di dalam guanya di lereng Liang-san. Sekarang lebih baik lekas kau serahkan kitab itu kepada pinni kalau kau tidak ingin kepalamu yang gundul itu retak-retak oleh cambukku!” Naik ke ubun-ubun darah Jeng-kin-jiu mendengar ucapan ini saking marahnya. Sepasang matanya yang bundar itu melotot hampir keluar dari ruangnya. Hidung dan bibrinya gerak-gerak seperti bibir kuda mencium asap. “Kau……kau….. benar-benar kurang ajar sekali, Kiu-bwe Coa-li! Kau tidak ingat bahwa kita sama-sama dari selatan? Apa kau mau merendahkan jago-jago selatan?” “Tutup mulutmu dan serahkan kitab itu!” kata Kiu-bwe Coa-li yang memang wataknya keras luar biasa.

“Ayaaa….” Jeng-kin-jiu menggeleng kepalanya yang bundar, “kau benar-benar telah kemasukan iblis-iblis dari laut selatan! Pinceng tidak membawa kitab itu, juga andaikata ada, tak mungkin kuserahkan kepadamu!” Pada saat itu, Lu Thong yang sejak tadi memandang kepada Kiu-bwe Coa-li dengan mata terbelalak dan perasaan mendongkol berkata, “Suhu, inikah Kiu-bwe Coa-li yang seringklai Suhu sohorkan? Kalau hanya seperti ini, mengapa banyak tanya-tanya lagi, Suhu? Orang sombong biasanya rendah kepandaiannya!” Sui Ceng marah sekali dan melompat ke depan Lu Thong lalu menampar pipi Lu thong. Karena pakaian Lu Thong seperti anak bangsawan dan terpelajar, maka Sui Ceng mengira bahwa anak ini tidak pandai ilmu silat, akan tetapi siapa kira bahwa sekali menggerakkan kepalanya saja, Lu Thong telah dapat mengelak dari serangannya! “Bangsat mewah, kau patut diberi hajaran!” Setelah berkata demikian, Sui Ceng melompat dan menerjang Lu Thong yang segera menyambutnya gembira. Memang Lu Thong amat suka menghadapi lawan tangguh kini bertempur melawan murid Kiu-bwe Coa-li, sungguh merupakan ujian yang baik sekali baginya. Jeng-kin-jiu memandang kepada dua orang anak yang sudah bertanding itu lalu tertawa bergelak-gelak.

“Kiu-bwe Coa-li, kau tunggu apa lagi? Lekaslah turun tangan atau lekas minggat saja dari sini!” sambil berkata demikian, toyanya digerakkan dan meja bangku yang membuat ruangan itu menjadi sempit, beterbangan ke kanan kiri. Baru sambaran angin toyanya saja sudah dapat membuat meja bangku terlempar jauh, dapat diduga betapa besarnya tenaga gwakang hwesio gendut ini. “Jeng-kin-jiu, mampuslah kau hari ini!” Kiubwe Coa-li menggerakkan cambuknya dan sembilan helai bulu cambuk itu memenuhi ruangan dan menyambar ke arah Jeng-kin-jiu dari segala jurusan! Kakek gundul ini melompat menjauhi lawannya karena dia anggap tidak baik bertempur di dekat tempat dua orang anak itu bertanding. Maka pertempuran terpecah di dua tempat dan begitu Jeng-kin-jiu memutar toyanya, angin dingin menyambar-nyambar dan selalu dapat menahan datangnya ujung cambuk yang sembilan ekornya itu. Namun sebaliknya, toyanya juga tidak diberi kesempatan menyerang, karena gerakan sembilan ekor cambuk itu benar-benar cepat sekali dan datang secara bertubi-tubi. Adapun Lu Thong yang bertanding dengan Sui Ceng, merasa kagum sekali. Sui Ceng memang anak yang memiliki kelincahan dan kecepatan gerakan tubuh dari pembawaanya, kemudian dilatih oleh Kiu-bwe Coa-li, maka luar biasa sekalilah ginkang dari anak perempuan ini. Tubuhnya berkelebatan menyambar-nyambar laksana seekor tawon yang licah sekali. Namun Lu Thong juga memiliki kepandaian yang cukup tingi. Biarpun matanya agak kabur karena kecapatan gerakan Sui Ceng, namun dia selalu dapat mengelak atau menangkis serangan gadis cilik itu. Tadi ketika melihat Sui Ceng dan mendengar gadis cilik ini bicara, daim-diam Lu Thong merasa kagum dan sayang. Hatinya yang sudah mulai dewasa itu tertarik oleh Sui Ceng bagaikan sebatang jarum tertarik oleh besi sembrani. Ia menganggap Sui Ceng demikian lincah, lucu dan manis, apalagi setelah kini dia menyaksikan kelihaian Sui Ceng, benar-benar Lu Thong suka sekali pada gadis ini. Oleh karena itu, dia tidak mau membalas serangan Sui Ceng dengan hebat dan hanya menangkis dan membalas sekedar untuk menjaga jangan sampai dia terdesak hebat saja. Karena sesungguhnya, biarpun kepandaian mereka seimbang atau bahkan boleh dibilang Sui Ceng menang cepat, namun tenaga Lu Thong besar dan kini pemuda cilik ini telah pandai sekali mainkan Ilmu Silat Kong-jiu-toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), ilmu silat yang diwarisi dari Ang-bin Sin-kai melalui gurunya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini. Oleh karena itu, pertempuran antara Sui Ceng dan Lu Thong juga ramai sekali dan seimbang. Seperti juga pertempuran antara Kiu-bwe Coa-li dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, sukar dikatakan siapa yang akan menang dua orang murid ini. Orang-orang gedung mulai geger setelah mereka mengetahui bahwa di ruangan itu terjadi pertempuran hebat sekali. Para penjaga datang, akan tetapi Lu Thong membentak mereka supaya jangan ikut campur. Pula, bagaimana para penjaga itu berani campur tangan kalau gerakan toya dan cambuk itu anginnya saja cukup kuat untuk membuat mereka terdorong mundur? Juga Lu Seng Hok berdiri menonton dengan hati gelisah. Sambil menggerakkan toyanya yang hebat, Kak Thong Taisu berkali-kali memaki dan mentertawakan Kiu-bwe Coa-li yang di anggapnya sebagai seorang kemasukkan iblis, yang menuduh orang sesuka hatinya dan lain-lain. Kalau semua orang yang menyaksikan pertempuran ini merasa gelisah, ada dua orang lain yang berada di atas genteng dan menyaksikan pertempuran itu dengan hati geli. Mereka ini adalah Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu! “Tua bangka-tua bangka di bawah itu sudah gila semua. Ha, ha, ha, mereka memperebutkan sumur tak berair! Tak salah dugaanku, tentu yang mencuri kitab sejarah itu adalah Hek-i Hui-mo. Pantas saja larinya dahulu itu cepat bukan main,” kata Ang-bin Sin-kai. “Akan tetapi, Suhu. Bukankah Hek-i Hui-mo tidak pernah membawa-bawa muridnya dan sepanjang pengetahuan kita, dia tidak mempunyai murid?” “Siapa tahu. Aku pun tadinya tak pernah berpikir punya murid sebelum bertemu dengan kau. Sudahlah, hayo kita pergi menyusul Hek-i Hui-mo!”

Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat pergi dari situ, diikuti oleh Kwan Cu. Akan tetapi, Kwan Cu adalah seorang anak yang memiliki pribudi tinggi. Melihat betapa Kiu-bwe Coa-li bertempur mati-matian melawan Jeng-kin-jiu untuk memperebutkan sesuatu yang kosong, dia merasa tidak tega. Terutama sekali terhadap Jeng-kin-jiu, hwesio gendut yang telah memberi nama kepadanya itu. Lebih-lebih lagi karena dia pun melihat betapa Sui Ceng ikut bertempur hebat melawan Lu Thong. Maka sebelum dia melompat untuk menyusul suhunya dia berani bernyanyi denga suara keras karena dia mengerahkan khikangnya:

“Anjing-anjing bodoh berebut tulang

tanpa ingat bahaya kehilangan nyawa.

Tak tahunya srigala belang

membawa lari tulang sambil tertawa”

Tadi ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu berada di atas genteng, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Kiu-bwe Coa-li tentu saja dapat mendengar, terutama sekali suara tindakan kaki Kwan Cu yang belum begitu tinggi ginkangnya seperti Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi oleh karena kedua orang yang bertempur ini menghadapi lawan yang amat berat, mereka tak dapat dan tidak berani memecah perhatian yang berarti memperlemah pertahanan sendiri. Mereka hanya tahu bahwa di atas genteng terdapat orang-orang pandai yang mengintai dan menonton pertempuran mereka. Akan tetap ketika mendengar suara nyanyian Kwan Cu yang keras itu, mereka menjadi terkejut dan otomatis mereka menarik senjata masing-masing. “Sui Ceng, berhenti!” seru Kiu-bwe Coa-li kepada muridnya. Adapun Jeng-kin-jiu yang juga mendengar nyanyian itu, tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Si gundul Kwan Cu benar-benar tepat sekali memaki kita! Memang kita anjing-anjing bodoh berebut tulang. Eh, Kiu-bwe Coa-li, apakah kau masih belum insyaf bahwa kau telah memperebutkan sesuatu yang kosong dan yang telah dibawa lari oleh srigala belang seperti dinyanyikan Kwan Cu tadi?” “Jadi Kwan Cu bernyanyi tadi?” Sui Ceng berkata dan wajahnya tiba-tiba berubah girang bukan main. Cepat anak ini melompat keluar dan melayang ke atas genteng untuk melihat. “Bodoh, mereka telah pergi!” kata Kiu-bwe Coa-li. Hal ini memang benar, karena ketika Sui Ceng tiba di atas genteng, di atas sunyi tak nampak bayangan seorang manusia pun. Gadis cilik itu turun kembali dan melihat wajahnya nampak girang, Lu Thong manjadi iri hati dan cemburu. Ia tidak tahu bahwa Sui Ceng merasa girang bukan main mendengar suara Kwan Cu, karena itu hanya berarti bahwa Kean Cu telah berhasil menyelamatkan diri dari bahaya maut di tangan Toat-beng Hui-houw yang menyeramkan! Lu Thong mengira bahwa Sui Ceng suka kepada Kwan Cu, maka dia berkata, “Ah, pengemis kecil gundul itukah? Sayang, kalau dia tidak pergi, akan kuberi kesempatan untuk dia menebus kesalahannya dariku dahulu.” “Sombong! Orang macam kau akan mengalahkan dia?” bentak Sui Ceng, biarpun ia mengerti bahwa Lu Thong memang lebih pandai daripada Kwan Cu, namun ia tidak senang mendengar Kwan Cu dihina. Adapun Kiu-bwe Coa-li, setelah mendengar nyanyian Kwan Cu tadi, timbul keraguan dalam hatinya. Siapa tahu kalau ia telah ditipu oleh bocah gundul itu dan sengaja di adukan dengan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu? Maka ia lalu bertanya dengan suara bersungguh-sungguh. “Jeng-kin-jiu, benar-benarkah pinni telah salah sangka dan telah berlaku sembrono?” Hwesio itu melebarkan matanya dan tertawa. “Bukan hanya sembrono, malahan tadi kukira kau telah kemasukan iblis laut selatan! Pinceng bukan kutu buku, mana pinceng menyimpan kitab-kitab? Kalau kitab suci pelajaran Nabi Buddha, tentu saja dan kalau kau masih ingin memperdalam pengetahuanmu dalam pelajaran itu, boleh kau pinjam dari pinceng dengan cuma-cuma tanpa bayar!” Mendengar ini, Kiu-bwe Coa-li menjadi merah mukanya. “Kalau begitu, maafkan pinni, Jeng-kin-jiu. Memang benar pinni telah tertipu oleh anak setan itu. Sui Ceng, hayo kita pergi!” kata Kiu-bwe Coa-li kepada muridnya. Lu Thong buru-buru berkata Sui Ceng. “Nona yang baik, biarpun gurumu minta maaf kepada guruku, namun aku hendak minta maaf kepadamu bahwa tadi aku telah berani bertempur melawanmu, harap kau tidak berkecil hati dan kita dapat menjadi sahabat baik.” “Cih, tak tahu malu!” jawab Sui Ceng yang segera melompat menyusul gurunya yang sudah pergi lebih dulu. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Lu Thong, kau suka kepada anak itu?” tanyanya. Tentu saja Lu Thong tidak berani menjawab dan mukanya menjadi merah karena malunya. Sementara itu, ayahnya datang menghampiri mereka dan bertanya dengan muka kurang senang.

“Siapakah mereka tadi dan mengapa kalian bertempur di sini?” matanya tajam memandang anaknya seperti hendak menyatakan betapa tidak baiknya hidup sebagai ahli silat yang biasanya hanya bertempur dan membunuh orang. “Ayah, mereka itu adalah orang-orang gagah. Nenek tadi adalah Kiu-bwe Coa-li yang sudah tersohor sebagai ahli silat selatan yang berilmu tinggi. Kalau bukan Suhu yang menghadapinya, orang lain tentu akan tewas dalam beberapa jurus saja diserang olehnya.” Lu Thong mengucapkan kata-kata ini dengan muka girang dan penuh kegembiraan, seakan-akan dia tadi bukan berkelahi mati-matian, melainkan menari dalam sebuah pesta dan bertemu dengan seorang anak perempuan yang manis. Lu Seng Hok ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja dan menarik napas. Akan tetapi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tertawa bergelak lalu tubuhnya “menggelundung” ke kamarnya di sebelah belakang, di mana dia terus melempar tubuhnya yang bundar keatas pembaringan dan sebentar saja terdengar dia mendengkur seperti kerbau. Ketika melihat kesempatan baik ini, Lu Seng Hok dan isterinya membujuk-bujuk kepada Lu thong agar anak ini, biarpun menjadi murid Jeng-kin-jiu dan belajar ilmu silat kepadanya, namun jangan mencampuri urusan pertempuran hwesio gundul itu. “Akan tetapi, ingatlah. Kau seorang anak dari keluarga berpangkat dan bangsawan, bagaimana kau bercampur gaul dengan segala orang kang-ouw yang kotor dan jahat? Apakah kelak kau akan mencemarkan nama nenek moyangmu?” “Ayah, bukankah Ang-bin Sin-kai itu juga keluarga kita?” “Bodoh, kau mau meniru yang buruk? Coba kaulihat, alangkah jauhnya perbedaan antara Ang-bin Sin-kai dan Kong-kongmu Lu Pin!” “Ang-bin Sin-kai lebih terkenal!” bantah Lu Thong. “Bukan terkenal kebaikan dan kebesarannya, melainkan tersohor karena jahatnya dan kurang ajarnya. Ah, Lu Thong, jangan kau mengecewakan hati orang tuamu……” Melihat ayahnya sudah mulai marah dan ibunya meruntuhkan air mata, Lu Thong menutup mulutnya dan menundukkan kepala. Akan tetapi di dalam hati, anak ini mentertawakan orang tuanya. Dan pada malam harinya, ketika Lu Thong telah tidur, tiba-tiba dia merasa tubuhnya di goyangkan orang dan ketika dia membuka matanya, ternyata suhunya telah berdiri di luar jendelanya yang terbuka sambil melambaikan tangan, memberi isyarat kepadanya supaya ikut keluar! Lu Thong tidak sangsi lagi, lalu melompat keluar dari kamarnya. “Kita pergi sekarang juga!” kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. “Tak usah membawa bekal atau pakaian.” Melihat kesungguhan muka gurunya yang biasanya tersenyum-senyum dan lucu, Lu Thong agak tertegun. “Baiklah, Suhu. Akan tetapi, mengapa berangkat malam-malam? Ada keperluan amat pentingkah?” “Kiu-bwe Coa-li telah datang dan menyerangku mati-matian, tentu kitab yang dicarinya itu amat penting. Juga Ang-bin Sin-kai berkeliaran, itu berarti di dunia luar ini terjadi sesuatu yang patut diperhatikan. Apakah kau kira aku suka terbenam di dalam gedung ini saja?” Maka berangkatlah guru dan murid ini malam-malam, meninggalkan gedung keluarga Lu, tanpa memberi tahu atau berpamit kepada Lu seng Hok dan isterinya yang tentu saja menjadi gelisah setengah mati pada keesokan harinya.

Ang-bin Sin-kai memang benar-benar merasa sayang kepada Kwan Cu. Hal ini terbukti dari usahanya menyusul Hek-i Hui-mo ke barat, yakni ke Tibet! Baginya sendiri, dia tidak nanti sudi melanggar sumpahnya dan dia tidak mau mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng untuk diri sendiri, melainkan karena dia ingin agar supaya muridnya itu dapat mempelajari ilmu kepandaian dari kitab itu. Padahal, perjalanan ke Tibet bukanlah semudah orang melihat gambar peta bumi saja! Apalagi pada jaman dahulu, di mana tidak ada jalan sama sekali, jangankan jalan besar dan rata, bahkan jalan atau lorong kecilpun belum ada. Perjalanan ke Tibet adalah perjalanan yang puluhan ribu li jauhnya, melalui gurun, padang pasir bergaram, tanah tandus yang beratus atau beribu li luasnya, melalui gunung-gunung yang luar biasa tingginya, hutan-hutan yang liar dan belum pernah dilalui manusia. Kalau sedang melalui gurun pasir, panas membakar kulit, akan tetapi sebaliknya kalau melalui puncak bukit yang tinggi, hawa dingin menggerogoti tulang iga! Guru dan murid ini melakukan perjalanan selama berbulan-bulan dan dengan amat sukar dan banyak susah payah, akhirnya mereka tiba di Pegunungan Kun-lun-san. Memang kalau orang hendak pergi ke Tibet melalu jurusan utara, dia harus melewati Pegunungan Kun-lun-san yang termasuk daerah Tibet Utara. Namun semua kesukaran perjalanan itu sama sekali tidak terasa oleh Kwan Cu. Bahkan anak ini merasa amat gembira. Perjalanan yang luar biasa jauhnya ini mendatangkan pengalaman-pengalaman baru yang hebat-hebat dan di sepanjang perjalanan, Ang-bin Sin-kai tak pernah lalai untuk melatih ilmu silat kepada muridnya. Kini Kwan Cu telah mulai menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi sehingga kepandaiannya maju dengan pesat sekali. Selain itu, juga Ang-bin Sin-kai mengajak muridnya mampir di tempat tinggal para tokoh besar dunia kang-ouw dan selalu mencari kesempatan untuk memperlebar dan memperluas pengetahuan muridnya itu tentang ilmu silat.

“Lihatlah baik-baik, muridku,” katanya jika dia berhasil minta kepada seorang ahli silat untuk memperlihatkan kepandaiannya. “Betapapun jauh perbedaan gaya dalam permainan silat, namun kesemuanya mendasarkan kekuatan mereka atas kedudukan tubuh dan pemasangan kaki. Memang ini penting sekali, Kwan Cu. Betapapun bagus dan lihai gaya dan gerakannya, tanpa keteguhan dan kedudukan kaki, dia bukanlah seorang ahli silat yang kuat.”

Pegunungan Kun-lun-san penuh dengan puncak-puncak yang tertutup salju dan di mana-mana terdapat sungai-sungai es. Melalui daerah seperti ini, orang harus berlaku hati-hati sekali. Hampir saja Kwan Cu menemui bencana ketika mereka melewati sebuah sungai es yang lebar. Permukaan es itu nampak mengkilap kebiruan, yaitu bayangan-bayangan langit yang tercermin ke dalam permukaan es. Kwan Cu mula-mula merasa gembira sekali dan berlari-larian di atas es yang licin itu. Ia telah memiliki ginkang tinggi dan juga tubuhnya telah kuat sehingga dia tidak khawatir terpeleset jatuh. Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya bahwa es itu belum lama membeku sehingga masih tipis permukaannya. Ketika dia berlari tiba di bagian yang amat tipis, tiba-tiba pecahlah permukaan kaca es itu dan tubuhnya terjeblos ke bawah.

Air yang luar biasa dinginnya menerima tubuh Kwan Cu dan anak ini sseketika menjadi kaku seluruh tubuhnya! Ia cepat menahan napas dan mengerahkan tenaga dan hawa tubuh untuk membuat tubuhnya hangat dan untuk membuat aliran darah di tubuhnya menjadi lebih cepat. Akan tetapi, hawa dingin dari air yang setengah membeku itu luar biasa sekali dan kalau gurunya tidak cepat turun tangan, pasti anak ini takkan tertolong lagi nyawanya. Ang-bin Sin-kai yang sudah banyak pengalamannya tidak mau mengejar ke tempat itu karena kalu dia sendiri sampai terjeblos, biarpun kepandaiannya tinggi, namun belum tentu dia akan dapat melawan serangan hawa dingin yang luar biasa itu. Ia lalu cepat menggunakan lweekangnya untuk mencabut sebatang akar yang amat panjang dari pohon besar yang sudah habis daunnya dimakan salju dan dengan akar ini dia lalu menolong Kwan Cu. Anak gundul ini biarpun tubuhnya sudah hampir beku, namun pikirannya masih sadar. Begitu melihat akar, dia cepat menangkapnya dan memegangnya erat-erat, sungguhpun jari-jari tangannya sudah kaku dan sukar digerakkan lagi dan perasaan kulit tangannya sudah mati!

Ang-bin Sin-kai menarik akar itu dan ketika tubuh Kwan Cu sudah keluar dari sungai es, air yang tadinya membasahi seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi beku dan berobah seperti es sehingga tubuh anak gundul ini terbungkus es tipis !  Ang-bin Sin-kai maklum akan bahaya hal ini, maka cepat ia lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya pada gelas es yang menyelimuti tubuh Kwan Cu. Gosokannya yang cepat dan bertenaga menimbulkan hawa panas sehingga es tipis itu menjadi cair dan ketika beberapa lama Ang-bin Sin-kai menggosok-gosokkan seluruh tubuh Kwan Cu maka darah di dalam tubuh anak itu mengalir biasa kembali.

Bocah gundul ini meleletkan lidah saking ngeri. Tak pernah disangkanya bahwa sungai es yang nampak indah itu ternyata barbahaya sekali dan jauh lebih lihay dari pada seorang lawan yang bagaimana tangguh pun.

Akan tetapi, ada pula sungai-sungai yang mengalirkan airnya yang amay bening. Sungai-sungai ini sebagian besar mengalirkan airnya kedalam telaga yang banyak terdapat di tanah datar, dikaki gunung-gunung itu. Sering kali Ang-bin Sin-kai dan muridnya berhenti untuk menikmati pemandangan alam yang benar-benar indah mengagumkan. Mereka jarang sekali bertemu denga orang, hanya jauh dibawah, di kaki pegunungan sebelah utara, mereka bertemu dengan penduduk pribumi yang hidupnya sebagai kelompok yangberpindah-pindah. Banyak sekali suku-suku bangsa yang menuntut penghidupan berpindah-pindah seperti itu, terutama yang datang dari daerah Sin-kiang, seperti suku-suku bangsa Tajik, Tartar, Kazak, Hui, Khalkas, Daur, Sibo, Uzbek dan masih banyak lagi suku-suku bangsa dari daerah barat tanah Tiongkok.

Ketika mereka tiba di puncak yang tinggi dari Pengunungan Kun-lun-san, dari jauh mereka melihat seorang berpakaian putih tengah berjalan perlahan-lahan, dibantu oleh tongkatnya yang panjang.

“Eh, eh, kalau tidak salah lihat, dia adalah Seng Thian Siansu !” kata Ang-bin Sin-kai yang mempercepat larinya menyusul orang berpakaian putih itu. Kwan Cu juga mempercepat larinya agar jangan tertinggal terlalu jauh oleh gurunya.

Setelah mereka berada di dekat kakek itu, Kwan Cu melihat seorang kakek yang sudah tua sekali. Rambutnya telah putih, tipis dan jarang, tertutup oleh kain pembungkus rambut yang dibungkuskan pada kepala menutupi kedua telinga untuk mencegah serangan angin dan hawa dingin. Muka kakek ini sudah penuh keriput, berkulit putih dan hanya sepasang matanya saja yang memperlihatkan kehidupan, karena masih amat tajam dan berpengaruh. Jenggot dankumisnya tergantung ke bawah, seakan-akan tidak bertenaga lagi, seperti juga tubuhnya yang kurus dan lemah. Benar-benar seorang yang sudah lanjut usianya dan jalanpun sudah sukar kalau tidak dibantu oleh tingkatnya yang panjang.

Dengan gerakan yang amat tenang, kakek ini menoleh lalu menatap wajah Ang-bin Sin-kai untuk beberapa lama, tidak segera menegur karena ia amat teliti dan tidak mau sembarangan membuka suara sebelum mengenal dan yakin betul siapa adanya orang yang dihadapinya.

“Eh, kiranya Ang-bin Sin-kai yang menyusul pinto,”  terdengar kakek itu berkata dan suaranya pun tenang dan perlahan sesuai dengan keadaan jasmaninya. “Bagaimana kau yang berasal jauh dari timur bisa sampai di ujung barat ?”

Ang-bin Sin-kai maju dan memberi hormat dengan sikap sopan sekali. Kwan Cu merasa heran melihat sikap grunya ini. Biasanya Ang-bin Sin-kai adalah orang yang sama sekali tidak mau memperdulikan tentang sikap dan sopan santun. Akan tetapi terhadap kakek yang nampaknya lemah sekali ini, gurunya bersikap amat sopan. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ang-bin Sin-kai menganggap kakek ini sebagai orang yang lebih tinggi tingkatnya dari dirinya sendiri, maka ia memberi hormat dengan sikap sopan.

Memang, sesungguhnya kakek ini sudah amat tua dan pada waktu Ang-bin Sin-kai anak-anak, kakek ini telah menjadi seorang tokoh besar dalam dunia persilatan. Tidak saja ilmu silatnya yang tinggi, juga dia terkenal sebagai seorang pendeta yang berpribudi tinggi sehingga namanya terkenal di seluruh dunia.

Sudah menjadi lajim di jaman itu, ahli-ahli silat datang dari atas gunung atau tempat-tempat sunyi, atau lebih tepat lagi, di puncak-puncak gunung yang sunyi paling di suka oleh ahli-ahli silat di mana mereka tinggal. Hal ini sudah sewajarnya, karena pada masa itu, ilmu-ilmu silat yang tinggi dimiliki oleh ahli tapa dan pendeta suci. Ilmu silat yang tinggi memang tidak boleh dipisahkan dengan ilmu batin, maka tentu saja para pendeta yang mempelajari ilmu batin dan memiliki tenaga batin yang kuat dan suci dapat menciptakan ilmu silat yang tinggi. Dan para pendeta ini memang paling suka bertempat tinggal di puncak gunung-gunung yang sunyi untuk bertapa. Di samping ini, mereka tidak mempunyai pekerjaan sehingga dalam mempelajari ilmu silat, mereka amat tekun dan rajin sehingga memperoleh kemajuan luar biasa.

Seperti juga gunung-gunung besar lainnya, pegunungan Kun-lun-san menjadi perhatian para pertapa dan banyak sekali di puncak-puncak yang tinggi itu bersembunyi orang-orang yang memiliki kepandaian lihai. Di antaranya, puncak yang tertinggi dijadikan tempat tinggal oleh Seng Thian Siansu. Beberapa tahun kemudian, menyusul tiga orang saudara seperguruannya, yakni Seng Te Siansu, Seng Jin Siansu dan Seng Giok Siansu atau yang disebut Kun-lun Sam-lojin (Tiga Kakek dari Kun-lun-san).

Seng Thian Siansu telah amat tua dan memang kalau di bandingkan, usianya berbeda jauh sekali dengan sute-sutenya, ada lima puluh tahun selisihnya! Bersama sute-sutenya, Seng Thian Siansu lalu membentuk partai yang disebut Kun-lun-pai dan mereka telah banyak menerima murid-murid yang berbakat baik sehingga beberapa belas tahun kemudian, nama Kun-lun-pai meningkat dan mengharum oleh perbuatan-perbuatan murid-murid mereka yang gagah perkasa dan budiman.

Setelah Seng Thian Siansu merasa dirinya terlalu tua, sudah seratus dua puluh tahun usianya, dia mencuci tangan dan Kun-lun-pai lalu dipegang oleh tiga orang sutenya yang terkenal kemudian dengan sebutan Kun-lun Sam-lojin itu. Semenjak itu, Seng Thian Siansu hanya bertapa saja di dalam gua, sama sekali tidak mau mencampuri urusan dunia lagi.

Mengapa kini kakek yang sudah tua dan lemah sekali ini memaksa diri keluar dari gua dan bertemu dengan Ang-bin Sin-kai? Marilah kita dengarkan percakapannya dengan Ang-bin Sin-kai.

“Benar ucapanmu, Locianpwe. Teecu adalah Lu Sin dan sesungguhnya teecu lewat di Kun-lun-san karena hendak menuju ke Tibet. Akan tetapi, sungguh teecu merasa heran sekali melihat Locianpwe berada di sini dalam keadaan hawa sedingin ini. Hendak kemanakah Locianpwe, kalau kiranya teecu boleh bertanya?”

Seng Thian Siansu tersenyum dan kembali Kwan Cu terheran. Bukan hanya matanya yang masih nampak “muda,” bahkan gigi kakek ini masih lengkap dan putih rapi!

“Ang-bin Sin-kai, kau ternyata masih belum melupakan sifat-sifatmu yang baik! Memang sudah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa agaknya, maka hari ini pinto terpaksa meninggalkan tempat pertapaan dan nasibkulah yang buruk, tua-tua terpaksa membereskan urusan penasaran.”

“Ah, Locianpwe, urusan apakah gerangan yang memaksa Locianpwe harus turun tangan sendiri? Kalau sekiranya teecu boleh membatu, harap Locianpwe beritahukan kepada teecu, tentu teecu bersedia membantu sekuat tenaga.”

Kembali kakek itu tersenyum . “Kau masih tetap gagah! Terima kasih, Ang-bin Sin-kai. Mari kita duduk di sana nanti kuceritakan apa yang telah mengeruhkan suasana Kun-lun-san yang sunyi bersih ini.”

Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu mengikuti kakek itu yang duduk di atas batu hitam yang bertumpuk di sebelah kiri lereng itu. Setelah duduk dan menaruh tongkatnya di sebelahnya, mulailah Seng Thian Siansu bercerita.

Kurang lebih setahun yang lalu, di Pegunungan Kun-lun-san datanglah lima orang aneh yang berkepandaian tinggi. Mereka menyebut diri sebagai Ngo-eng Kiam-hiap (Pendekar-pendekar Pedang Lima Garuda) dan setelah memilih puncak yang berada di sebelah kanan puncak dimana Seng Thian Siansu mendirikan Kun-lun-pai, mereka lalu menambah sebutan menjadi Kun-lun Ngo-eng (Lima Garuda dari Kun-lun-san)!

Hal ini tidak dapat menggoncangkan hati dan pikiran Kun-lun-pai yang selalu mengutamakan kebenaran dan perdamaian. Akan tetapi, pihak Kun-lun Ngo-eng ternyata bukanlah orang-orang yang suka hidup tenteram dan mereka ini tidak puas bahwa di situ ada puncak yang menjadi pusat dari partai Kun-lun-pai yang terkenal. Beberapa kali mereka sengaja melanggar wilayah atau daerah puncak Kun-lun-san yang didiami oleh Kun-lun-pai, bahkan pernah ada seorang anak murid Kun-lun-pai yang sedang turun gunung, mereka hina dan pukul. Akan tetapi, tetap saja Kun-lun Sam-lojin berlaku sabar dan menekan marah, karena mereka tidak mau cekcok dengan “tetangga”! Agaknya dari fihak Kun-lun Ngo-eng juga tidak berani gegabah terhadap Kun-lun-pai, maka setelah didiamkan saja, akhirnya mereka juga tinggal diam, tidak melanjutkan kekurangajaran mereka terhadap Kun-lun-pai.

Akan tetapi, diam-diam Kun-lun Sam-lojin merasa mendongkol dan marah sekali ketika mendengar laporan dari para anak murid Kun-lun-pai bahwa “tetangga” mereka itu sesungguhnya bukanlah orang baik-baik. Bahkan ada beberapa orang anak murid yang melihat dengan mata sendiri betapa lima orang aneh yang usianya telah tua-tua itu pernah menculik orang-orang muda, laki-laki dan perempuan, ke atas puncak! Kun-lun Sam-lojin, yakni Seng Te Siansu, Seng Jin Siansu dan Seng Giok Siansu, hampir tak dapat menahan kemarahan hati mereka dan siap untuk menyerbu. Akan tetapi, ketika Seng Thian Siansu mendengar akan maksud tiga orang sutenya ini, dia cepat mencegah mereka. Tiga orang tua dari Kun-lun-san ini memang amat taat kepada Seng Thian Siansu yang bukan saja menjadi suheng mereka, bahkan boleh di bilang menjadi wakil guru mereka, maka mereka menahan sabar dan mencoba untuk melupakan hal Kun-lun Ngo-eng itu.

Akan tetapi, beberapa hari yang lalu terjadi sesuatu yang menggoncangkan Pegunungan Kun-lun-san. Hal ini terjadi setelah Hek-eng Sianjin, orang termuda dari Kun-lun Ngo-eng, menculik seorang gadis dari dusun yang menjadi tempat tinggal suku bangsa Hui, seorang gadis cantik jelita yang menjadi kembang dusun itu, bahkan ia adalah puteri dari kepala suku bangsa itu.

Tentu saja suku bangsa Hui yang jumlahnya lebih tiga puluh keluarga itu menjadi marah sekali. Mereka mengumpulkan orang-orang lelaki dan empat puluh orang lebih laki-laki tua muda membawa senjata menyerbu ke puncak gunung yang ditinggali Kun-lun Ngo-eng. Akan tetapi, mana bisa mereka menang? Hek-eng Sianjin seorang diri keluar dan begitu pendeta berjubah hitam ini mainkan pedangnya yang lihai, belasan orang roboh dan tewas, sedangkan yang lain-lain lalu melarikan diri.

Tangis riuh-rendah di dalam dusun orang-orang Hui ini menarik perhatian seorang kakek pendek kecil yang kebetulan lewat di dusun itu bersama dua orang anak laki-laki. Kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai bersama Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng murid-muridnya!

“Eh, ada apakah ribut-ribut ini?” tanyanya pada orang Hui itu.

Kepala suku bangsa Hui segera maju dan berlutut kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Ia dapat melihat, bahwa yang datang adalah seorang kakek yang luar biasa dan tentu memiliki kepandaian tinggi.

“Lo-enghiong, kami sekeluarga Hui tertimpa malapetaka hebat……! Anakku perempuan diculik oleh saikong siluman dari puncak Kun-lun-san, dan ketika aku dan saudara-saudaraku menyerbu ke sana untuk menolong, belasan orang saudaraku bahkan tewas oleh saikong siluman……”

Siangkoan Hai mengerutkan keningnya dan memandang tak percaya.

“Aneh, siapa orangnya berani berbuat jahat di sini? Bukankah puncak sebelah barat itu pusat dari Kun-lun-pai yang tersohor? Mengapa kau tidak minta tolong kesana?”

“Sudah, Lo-enghiong. Kami sudah menghadap Kun-lun Sam-lojin, akan tetapi mereka tidak mau turun gunung menolong…….”

Siangkoan Hai membelalakkan matanya. “Aneh, aneh! Mengapa begitu?”

“Suhu, lebih baik kita menolong dulu nona yang diculik itu!” kata The Kun Beng tidak sabar.

“Memang kita harus lekas menolong, hendak kulihat siapakah orangnya yang berani berlaku jahat seperti itu. Baru kemudian aku hendak menegur Kun-lun Sam-lojin mengapa tidak mau menolong mereka ini.” Siangkoan Hai lalu berkata pada orang-orang itu.

“Hayo bawa kami ke tempat saikong siluman itu!”

Demikianlah, beramai-ramai orang-orang Hui itu mengantar Siangkoan Hai dan dua orang muridnya menuju ke puncak tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng. Di atas puncak itu terdapat sebuah bangunan besar yang terkurung pagar tembok. Orang-orang Hui yang pernah dihajar oleh Hek-eng Sianjin, tidak berani datang dekat dan hanya menanti dari jauh. Mereka melihat betapa kakek yang pendek kecil ini berjalan menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh dua orang muridnya yang berjalan dengan gagahnya.

Ketika mereka sudah tiba di dekat pintu, Siangkoan Hai dan dua orang muridnya merasa heran karena ternyata bahwa pintu gerbang itu terjaga oleh tiga orang pemuda dan dua orang gadis yang kesemuanya berwajah elok. Usia mereka antara tujuh belas sampai dua puluh tahun, pakaian mereka mewah sekali.

“Orang-orang muda, beritahukan kepada Kun-lun Ngo-eng bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai telah datang minta bertemu!” kata kakek tokoh besar utara itu kepada para penjaga remaja tadi. Lima orang muda itu lalu berlari masuk setelah menutup pintu gerbang rapat-rapat!

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa bergelak.

“Kun-lun Ngo-heng! Apakah pintumu terbuka untuk angin dan setan yang tak nampak, akan tetapi tertutup bagi tamu manusia? Kalau kalian melarang aku masuk, keluarlah menemuiku di luar. Aku Pak-lo-sian Siangkoan Hai perlu sekali bicara dengan kalian!”

Tiba-tiba di atas tembok yang mengurung bangunan itu, tersembullah lima buah bendera yang berwarna putih, kuning, hijau, merah dan hitam! Bendera-bendera ini berkibar tertiup angin gunung, merupakan pemandangan yang indah beraneka warna. Kemudian, terdengar suara dari balik tembok itu.

“Kami tidak kenal Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan tidak mempunyai urusan dengan dia! Orang tua pendek kecil harap jangan mencari penyakit dan lekas pergi dari sini!” Tiba-tiba lima buah bendera yang berkibar di atas tembok itu, berubah arah kibarnya, yaitu kalau tadi berkibar ke kanan, sekarang berkibar ke kiri, padahal angin masih jelas terasa berkibar ke kanan! Siangkoan Hai maklum bahwa orang-orang di bawah tembok telah memperlihatkan kepandaiannya. Ia tahu bahwa bendera itu berkibar karena tertiup oleh orang yang memiliki tenaga khikang yang tinggi sekali. Agaknya Kun-lun Ngo-eng hendak menggertaknya dan mendemonstrasikan kepandaian agar dia menjadi ketakutan dan pergi.

Kembali Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa bergelak dan setelah melihat ke kanan kiri, kakek pendek ini lalu menghampiri sebatang pohon yang tinggi dan sekali dia mengerahkan tenaga, pohon itu telah tercabut akarnya dari tanah! Ia lalu menghampiri tembok bangunan itu dan melemparkan pohon tadi ke atas. Pohon itu melayang dan tepat berdiri di atas tembok di dekat bendera-bendera itu dan tentu saja pohon itu jauh lebih tinggi daripada bendera-bendera tadi.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: