Pendekar Sakti (Jilid ke-16)

“Eh, dari mana kau mendapat suling itu?” tanya Ang-bin Sin-kai dengan hati berdebar karena dia mengenal suling bercahaya hijau itu adalah suling Hang-houw-siauw Yok-ong!

“Dari Yok-ong Locianpwe,” jawab Kwan Cu. Lalu dia menceritakan bahwa tadi Yok-ong lewat di situ dan memberikan suling itu kepadanya sambil berkata,

“Kau anak baik. Di antara semua murid-murid tokoh besar, agaknya hanya kau yang ada harapan. Kausimpan suling ini dan mudah-mudahan kelak kita dapat bertemu pula.”

Ang-bin Sin-kai menarik napas lega. Ternyata Raja Obat itu memiliki pandangan mata yang amat tajam, pikirnya. Hanya Raja Obat itu saja yang dapat melihat bahan baik dalam diri Kwan Cu yang diejek dan dihina oleh lain-lain tokoh besar.

“Kwan Cu, ternyata dugaanku benar. Pak-lo-sian sedang memeriksa dalam sumur dan kalau dia melihat abu kitab yang kaubakar, tentu dia akan berusaha menyusul kita dan akan menggunakan kekerasan. Hayo kita pergi cepat-cepat, aku segan berurusan dengan kakek yang berkepala keras itu!”

Oleh karena ingin menghindarkan kejaran Pak-lo-sian, Ang-bin Sin-kai lalu menggendong Kwan Cu, dibawa pergi ke puncak sebuah gunung yang berada di sebelah timur puncak Kun-lun-san, sebuah puncak gunung yang liar, penuh hutan belukar dan jarang sekali didatangi manusia.

“Perjalanan yang kau hadapi penuh bahaya, muridku. Tidak saja kau melakukan perjalanan jauh, akan tetapi juga kau akan menghadapi tokoh-tojoh besar yang selalu tidak mau tinggal diam sebelum dia dapat merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Oleh karena itu, kita tinggal dulu di tempat sunyi ini dan kau harus berlatih giat untuk mempertinggi kepandaianmu. Mulai hari ini, kita takkan turun gunung sebelum kau menguras habis kepandaian yang kumiliki.”

Demikianlah, mulai hari itu, Ang-bin Sin-kai mengarahkan seluruh perhatiannya untuk mendidik dan menggembleng Kwan Cu. Sebaliknya Kwan Cu juga berlatih dengan giat sekali. Tak pernah kelihatan anak ini menganggur, biarpun suhunya sedang beristirahat, dia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang baru dia pelajari dari suhunya.

Bertahun-tahun dia dan suhunya seakan-akan terasing dari dunia luar dan hidup di tengah-tengah hutan, di puncak bukit yang amat tinggi. Mereka hanya makan buah-buahan dan kadang-kadang binatang hutan yang mereka tangkap. Di waktu makan masakan sederhana itu dan mendengar gurunya mengeluh panjang pendek karena gurunya itu sudah amat rindu akan arak dan masakan enak Kwan Cu menjadi terharu sekali.

“Suhu, sungguh teecu tidak mengerti mengapa suhu sampai menyiksa diri hanya untuk melatih ilmu kepada teecu. Ah, budi yang begini besar, dan apa teecu akan dapat membalasnya?”

Mendengar ucapan ini, lenyaplah keluh kesah dari bibir Ang-bin Sin-kai dan dia berseri.

“Kwan Cu, pembalasaan yang kuharapkan hanya kalau kau kelak dapat menjadi seorang gagah yang menjunjung tinggi prikebajikan, dapat berbuat banyak terhadap orang-orang lain. Akan tetapi, kau tak mungkin dapat menjadi seorang gagah tanpa tandingan kalau kau tidak dapat menemukan Im-yang Bu-tek Cin-keng! Kepandaianku belum cukup untuk menjagoi di seluruh dunia dan tetap saja kalau kau hanya menerima latihan dari aku, kau sewaktu-waktu akan bertemu dengan orang jahat yang lebih pandai dari padamu! Oleh karena itu, pelajaran yang kau terima dariku ini anggaplah sebagai bekal bagimu untuk mencari kitab itu. Aku sendiri sudah terlalu tua untuk ikut mencarinya, kau akan mencari sendiri, muridku, dan karenanya, aku mana bisa rela membiarkan kau pergi menempuh perjalanan sukar itu sebelum memiliki kepandaian yang boleh diandalkan?”

Mendengar ini makin kuatlah hati Kwan Cu dan makin giatlah dia. Ia menjadi terharu sekali ketika gurunya pada suatu hari pergi turun gunung seorang diri dan ketika kembali membawa pakaian-pakaian baru untuknya! Suhunya sendiri tak pernah berganti pakaian, kecuali kalau pakaian yang menempel pada tuubuhnya itu sudah hancur betul-betul.

Atas kehendak gurunya yang ingin melihat dia berpakaian pantas, kini Kwan Cu memakai pakaian yang cukup baik dan sepatu yang baru pula, pemberian suhunya yang amat mengasihinya.

Beberapa tahun kemudian, kepandaian Kwan Cu sudah cukup tinggi. Ia sudah berusia lima belas tahun, akan tetapi setiap kali gurunya menyuruh dia menggunduli kepalanya! Ia kelihatan seperti seorang hwesio kecil yang bertubuh sedang dan padat, penuh berisi tenaga yang luar biasa. Wajahnya yang tampan menjadi makin halus dan kemerahan, berkat dari hawa gunung yang sejuk dan latihan-latihan silat yang tiada henti-hentinya.

Kembali beberapa bulan yang telah lewat. Pada suatu hari Kwan Cu berlatih seorang diri. Hari masih pagi sekali dan suhunya masih belum bangun dari tidurnya di dalam sebuah gua. Akhir-akhir ini, suhunya nampak malas dan bangunnya pun kalau matahari telah naik tinggi. Tubuh suhunya nampak makin kurus dan kakek ini beberapa kali mengeluh dan menyatakan bahwa dia telah menjadi amat tua.

“Aku sudah sangat tua, Kwan Cu tiada nafsu lagi untuk melakukan sesuatu. Keinginanku satu-satunya hanya bertemu sekali lagi dengan adikku Lu Pin yang tercinta,” demikianlah berkali-kali kakek pengemis yang sakti ini mengeluh.

Pagi hari itu Kwan Cu melatih silat Sin-ci-tin-san (Jari Sakti Menggetarkan Gunung), yakni ilmu silat yang paling lihai yang pernah dia pelajari dari gurunya. Ilmu silat ini dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan, merupakan ilmu tiam-hoat (menotok) yang luar biasa lihainya yang merupakan ilmu pukulan dengan jari tangan yang luar biasa kuatnya. Sudah berbulan-bulan dia melatih ilmu silat ini, akan tetapi hasilnya masih kurang memuaskan hatinya. Pada pagi hari ini, setelah pada malam tadi mendapat wejangan dari gurunya yang membentangkan semua kouw-koat (teori silat) dari pada ilmu pukulan Sin-ci-tin-san ini, dia melatih diri sebaiknya. Yang dijadikan sasaran adalah pohon-pohon kecil yang tumbuh di situ.

Setelah bersilat dengan ilmu silat Sin-ci-tin-san, dia kelihatan lincah sekali. Tubuhnya mencelat kesana kemari, kedua tangannya terbuka dengan dua jari tangan, yakni telunjuk dan jari tengah, ditusukkan kesana ke mari dan sepasang kakinya melakukan langkah-langkah yang amat teratur.

Kemudian dia mulai menyerang pohon-pohon yang besarnya sama dengan tubuhnya sendiri. Dan bukan main hebatnya kepandaian anak muda yang baru lima belas tahun usianya ini. Tiap kali jari tangannya baik yang kanan maupun yang kiri, menusuk ke batang sebuah pohon, terdengar suara “krak” dan pohon itu patah lalu tumbang berikut semua daunnya!

Kalau orang lain yang melihat hal ini, tentu menjadi kagum sekali. Akan tetapi aneh, wajah Kwan Cu kelihatan tidak puas, bahkan kecewa. Mulutnya berkali-kali berkata,

“Tidak baik, tdak baik! Gwakangku lebih besar keluarnya daripada tenaga lweekang!”

Kembali dengan tangan kirinya dia menusuk sebatang pohon yang segera patah dan tumbang.

“Kau terlalu terburu nafsu, Kwan Cu. Nafsumu itu yang memperbesar tenaga sehingga tidak seimbang dengan tenaga dalam!” terdengar orang bicara dan ketika Kwan Cu menengok, ternyata bahwa suhunya sudah berdiri di belakangnya.

Kwan Cu berlutut, “suhu, mohon petunjuk dari suhu yang mulia.”

Ang-bin Sin-kai tersenyum. “Dalam menghadapi segala macam hal, terutama sekali menghadapi perlawanan dari musuh yang tangguh, pantangan terutama adalah timbulnya nafsu yang menguasai diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, kau harus dapat menguasai dirimu seluruhnya, dari semua urat-urat besar sampai urat-urat saraf, pikiran dan hati. Kau harus dapat mengatur semua panca indramu, dan sadar serta tak sadar serta waspada betul-betul. Kekuatan yang nampak tenaganya seperti pukulanmu pada pohon itu, hanya boleh digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil atau membikin gentar lawan yang bodoh. Akan tetapi sama sekali tidak ada gunanya kalau kau menghadapi lawan yang tangguh. Segala yang tenang, tidak bergerak dan diam itulah yang betul-betul kuat.”

“Mohon suhu mmemberi penjelasan tentang Sin-ci-tin-san, karena sesungguhnya teecu belum dapat melakukannya dengan baik.”

Ang-bin Sin-kai menghampiri sebatang pohon dan dia menggunakan sebatang jarinya menusuk pohon itu seperti yang dilakukan oleh Kwan Cu tadi. Pohon itu tidak bergerak sedikitpun juga, bahkan tidak ada sehelai pun daun yang rontok. Akan tetapi ketika Ang-bin Sin-kai menggunakan telapak tangan mendorongnya perlahan ternyata bahwa pukulan atau lebih tepat tusukan jarinya tadi telah membuat hancur batang pohon dibalik kulitnya dan sekali dorong perlahan saja pohon itu tumbang!

“Dalam pukulan Sin-ci tin-san, kau harus mengerahkan tenaga lweekang. Akan tetapi, kau harus tenang dan jangan sampai pikiran dan hati dikuasai nafsu, tenaga lweekang itu akan berubah menjadi tenaga gwakang yang kasar.”

Demikianlah, Kwan Cu digembleng terus oleh suhunya sehingga setahun kemudian dia telah memiliki tenaga lweekang yang kuat sekali, ginkang yang memungkinkan dia berlari seperti terbang, serta ilmu silat yang lihai. Suling yang didapat dari Yok-ong ternyata merupakan senjata yang ampuh. Suling ini terbuat daripada baja hijau dan kuatnya bukan main.

Ang-bin Sin-kai melatih ilmu pedang tunggalnya yang membuat dia menjagoi dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu, yakni ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat (Ilmu Pedang Memecah dan Membuka). Ilmu pedang ini dilatih oleh Kwan Cu menggunakan sulingnya dan ternyata cocok sekali. Selain pandai mainkan suling sebagai pedang, juga pemuda ini pandai sekali meniup lagu-lagu merdu dari sulingnya, juga kepandaian ini dia dapat dari Ang-bin Sin-kai yang tahu akan teori meniup suling sungguhpun ia sendiri kurang berbakat. Sebaliknya Kwan Cu amat berbakat dan dia dapat meniup banyak lagu-lagu yang dikenal oleh gurunya.

Dua tahun kemudian, setelah berusia delapan belas tahun, Kwan Cu di panggil gurunya.

“Muridku, sekarang kiranya sudah cukup kepandaianmu untuk kaupakai bekal dalam perjalanmu mencari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kau pergilah menurutkan petunjuk yang kaubaca dalam kitab sejarah. Berhati-hatilah, muridku, aku hanya memberi bekal doa restu kepadamu. Kuharap saja kelak kalau kau sudah mendapatkan ilmu silat yang paling lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, aku masih belum mati dan dapat menyaksikan kelihaianmu. Nah, pergilah, Kwan Cu.”

Kwan Cu yang berlutut didepan suhunya merasa berat untuk berpisah dan meninggalkan, suhunya yang kini nampak tua sekali.

“Semenjak dahulu memang teecu bercita-cita mencari kitab itu. Akan tetapi suhu sudah amat tua dan siapakah yang akan melayani suhu kalau teecu pergi?” katanya ragu-ragu.

“Kwan Cu, apakah kau akan memanjakan gurumu seperti memanjakan seorang kakek tua renta yang kekanak-kanakan? Aku masih kuat dan aku tidak membutuhkan pelayan orang.”

“Akan tetapi….. kalau teecu rindu kepada suhu dan hendak bertemu, kemanakah teecu harus mencari suhu?”

“Aku akan ke kota raja mencari Lu Pin adikku, setelah itu, aku takkan jauh dari tempat kau mencari kitab itu, Kwan Cu karena aku hendak tinggal di pantai Laut Po-hai!”

Setelah mendapat wejangan dan nasehat-nasehat yang kiranya cukup berharga untuk dia bawa sebagai bekal menempuh hidup dan perjalanan seorang diri, akhirnya Kwan Cu lalu mulai turun gunung dan mulai dengan perjalanannya yang amat jauh, yakni ke pantai sebelah timur dari Tiongkok.

Ia melakukan perjalanan cepat melalui propinsi-propinsi Cing-hai, Kang-su, Shen-si, lalu mengikuti sepanjang tapal batas Mongolia, terus menuju Timur.

***

Baru sekarang Kwan Cu merasa betapa sunyinya hidup seorang diri dan melakukan perjalanan tak berteman. Ia rindu kepada suhunya yang baginya merupakan penganti ayah bundanya. Namun hati Kwan Cu memang kuat dan keras, sebentar saja dia telah melenyapkan rasa sunyi itu dan memaksa hati bergembira. Suling pemberian Yok-ong yang kini menjadi senjatanya, juga merupakan kawan yang palingsetia. Tiap kali dia beristirahat di mana saja, dia selalu meniup sulingnya. Suara sulingnya inilah yang menghibur hatinya, biarpun dia berada di dalam hutan yang sunyi, apabila dia meniup suling maka lenyaplah rasa sunyi dalam hati.

Perjalanan yang dilakukan oleh pemuda ini bukanlah perjalanan dekat, sedikitnya ada empat ribu kilo meter! Apa pula perjalanan ini banyak melalui gunung-gunung dan hutan-hutan liar yang sukar dilalui. Akan tetapi Kwan Cu sekarang telah merupakan seorang pemuda yang berkepandaian tinggi dan perjalanan yang sukar dapat dilakukan dengan cepatnya. Ginkangnya sudah terlampau tinggi untuk dapat dihalangi oleh jurang-jurang lebar atau jalan-jalan menanjak.

Semenjak turun gunung, dia tidak lagi mencukur rambutnya dan kini dia benar-benar merupakan pemuda yang gagah dan tampan sekali, dengan sepasang mata bersinar tajam namun jujur dan bibirnya selalu tersenyum membayangkan hati yang lapang dan tabah. Ia mengikat rambutnya dengan sapu tangan agar rambut itu tidak turun menutupi mukanya. Kurang lebih setengah tahun dia melakukan perjalanan, kadang-kadang berhenti untuk meenikmati pemandangan alam di gunung-gunung yang aneh atau mengagumi bangunan-bangunan indah di kota-kota besar. Ia melakukan perjalanan cepat dan selalu berusaha menghindarkan diri dari setiap bentrokan sesuai dengan nasehat dari suhunya. Memang beberapa kali dia dihadang oleh perampok yang hendak merampas pakaiannya, akan tetapi Kwan Cu tidak mau melayani para perampok itu dan setiap kali dia hanya membuat para perampok berdiri bengong seperti patung karena pemuda yang hendak dijadikan korbannya itu tiba-tiba saja tertawa dan berkelebat melenyapkan diri dari depan mata mereka!

Enam bulan lebih kemudian dia tiba di perbatasan utara dari propinsi Ho-pei dan teringatlah dia akan pengalaman-pengalamannya ketika dia dan Gui-siucai ditawan oleh panglima An Lu Shan. Keadaan di sekitar daerah ini sekarang sudah amat berubah, tidak seperti dahulu lagi. Kwan Cu merasa heran betapa daerah ini ramai sekali, penuh oleh tentara yang bermacam-macam pakaiannya dan bermacam-macam pula bangsanya. Ia melihat tentara-tentara dari suku bangsa Hui, Daur dan Mongol. Mereka semua berpakaian perang dan bersenjata lengkap, berbaris kesana kemari seakan-akan menantikan daatangnya perang besar!

Di setiap tanah lapang, dia meyaksikan barisan-barisan besar berbaris rapi berlatih perang-perangan. Kwan Cu menjadi makin kagum dan heran karena setiap anggota tentara dapat mainkan senjata mereka dengan gerakan ilmu silat yang tinggi. Biarpun hanya beberapa jurus saja mereka itu mainkan senjata masing-masing, tombak, golok atau pedang, namun gerakan ini terang sekali adalah gerakan ilmu silat yang diajarkan oleh seorang ahli silat tinggi!

Tentu saja pemuda yang sama sekali gelap terhadap keadaan dalam negeri dan tentang situasi pemerintahan ini, tidak mengerti bahwa pada waktu itu, Panglima An Lu Shan sedang mengerahkan seluruh tenaga suku-suku bangsa yang berada di Tiongkok Timur laut, untuk membentuk sebuah barisan yang besar sekali dengan maksud menyerang ke selatan dan merampas kedudukan kaisar! An Lu Shan mulai dengan persiapannya untuk memberontak.

Yang paling mengherankan hati Kwan Cu adalah keadaan di dalam dusun dan kota di daerah itu. Tak pernah ia bertemu dengan laki-laki berpakaian preman. Semua laki-laki berpakaian tentara dan menjadi anggota tentara. Hanya anak-anak dan wanita saja yang berpakian biasa. Sebaliknya, semua orang memandang kepadanya dengan mata terheran-heran pula karena sesungguhnya Kwan Cu merupakan satu-satunya laki-laki dewasa di tempat itu yang berpakaian preman.

Akan tetapi hal ini tidak lama, karena tiba-tiba datang seorang komandan pasukan yang dengan langkah lebar menghampiri Kwan Cu.

“He, orang muda! Kau masih enak-enakan saja di sini? Hayo ikut aku mendaftarkan diri supaya segera masuk tempat latihan!” sambil berrkata demikian, komandan itu memegang pergelangan tangan Kwan Cu erat-erat. Kalau dia menghendaki, dengan mudah Kwan Cu akan dapat melepaskan tangannya. Akan tetapi dia tidak mau mrnimbulkan keributan maka sambil tersenyum ia berkata,

“Sobat apakah maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali. Ketahuilah aku seorang perantau yang datang dari jauh dan tidak tahu peraturan di sini. Harap kau jelaskan.”

“Setiap orang laki-laki di daerah ini harus menjadi tentara, hanya ini saja dan tidak ada penjelasan lain!”

“Mengapa harus? Aku bukan orang sini dan aku tidak mau menjadi tentara,” kata Kwan Cu.

Sementara itu mendengar suara ribut-ribut, di tempat itu telah berkumpul banyak tentara dan Kwan Cu dikurung!

“Anak muda, sudahlah jangan banyak rewel. Ketahuilah bahwa setiap orang yang tidak mau menjadi tentara dan membela tanah air dianggap pengkhianat dan akan menjadi penghuni gua maut!”

Kwan Cu menjadi penasaran sekali akan tetapi tetap saja dia masih lebih merasa heran dari pada marah.

“Apakah gua maut itu? Dan mengapa pula ada cara memaksa orang menjadi tentara? Sungguh mati aku tak mengerti sama sekali!”

Komandan itu tertawa, “Oya, aku lupa bahwa kau bukan orang sini. Kau mau melihat gua maut? Mari, mari ikut!” sambil berkata demikian komandan itu tertawa-tawa dan menarik lengan Kwan Cu diikuti oleh para anggota yang juga tertawa-tawa geli.

Masih saja Kwan Cu bersabar dan membiarkan dirinya ditarik seperti kerbau oleh komandan itu yang membawanya pergi keluar kota. Dusun itu berada di lereng bukit dan jalannya naik turun melalui hutan-hutan. Di pinggir sebuah hutan di luar kota, Kwan Cu dibawa ke sebuah bukit kecil dan dari jauh sudah kelihatan sebuah goa yang merupakan trowongan besar dan di sebelah dalamnya nampak anak tangga. Di depan goa itu di jaga oleh seorang tentara berbangsa Monggol yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, memegang sebatang tombak besar dan panjang lagi berat.

Komandan yang menarik tangan Kwan Cu bicara dalam bahasa Monggol kepada penjaga itu yang tertawa bergelak-gelak,membuka mulutnya dan lebar dan cambangnya yang menjuntai ke bawah itu ikut bergerak-gerak lucu.

“Nah, inilah gua maut siapapun juga yang menjadi pengkhianat dimasukkan dalam goa ini dijerumuskan ke dalam sumur maut dan didiamkan sampai mati di situ. Nah, sekarang pilihlah.”

Dari dalam goa itu lapat-lapat dengan rintihan dan tangisan sehingga terbangkit semangat Kwan Cu untuk menolong mereka mereka itu akan tetapi, dia teringat bahwa dia berurusan tentara pemerintah dan dia tidak mau menimbulkan keributan hebat. Maka dia lalu mengangguk daan berkata,

“Aku menurut saja,” Terdengar suara gelak ketawa dan komandan itu bersama para tentara yang mengikutinya, beramai-ramai menghantar Kwan Cu kembali ke dusun untuk mendaftarkan pemuda itu sebagai calon tentara.

Akan tetapi baru saja mereka keluar dari hutan dan turun dari bukit di mana terdapat Gua Maut itu, tiba-tiba mereka ribut-ribut dan mereka mencari-cari seperti seorang wanita kehilangan gelangnya. Tanpa diketahui oleh seorang pun, tiba-tiba saja pemuda yang tadi berada di tengah-tengah mereka telah lenyap!

“Eh, dimana dia?”

“Aneh sekali, tak mungkin dia melarikan diri!”

“Aku tadi masih melihat dia berjalan sambil tersenyum-senyum.”

“Dia bisa menghilang, tentu dia siluman!”

Ramailah orang-orang itu bicara sambil mencari-cari Kwan Cu, namun pemuda itu tidak kelihatan lagi bayangannya. Sebenarnya, dengan kepandaiannya, Kwan Cu tadi mempergunakan kesempatan selagi orang tidak memeganginya, dia melompat ke atas dan dengan bantuan cabang pohon di atasnya, dia melarikan diri cepat dan ringan sekali sehingga tidak menimbulkan suara apa-apa. Ia ingin sekali menyelidiki keadaan gua maut itu dan akan berusaha menolong orang-orang yang mengeluarkan suara rintihan dan tangisan tadi.

Kalau tentara negeri menghukum orang bersalah atau orang jahat, dia takkan mau campur tangan. Akan tetapi tadipun dia akan dimasukkan ke dalam gua itu hanya karena dia menolak menjadai tentara. Kalau demikian, tentu banyak sudah orang-orang yang dimasukkan ke dalam gua maut itu tanpa dosa! Jika begini keadaannya, dia harus menolong mereka itu.

Setelah senja mendatang, Kwan Cu menyembunyikan diri di belakang rumpun alang-alang dan mengintai ke arah gua itu. Ia akan bertindak tanpa menimbulkan keributan. Dilihatnya penjaga raksasa yang tadi masih saja berdiri seperti patung di depan gua, memegangi tombaknya dan nampaknya angker dan menakutkan.

Kwan Cu tidak mau segera turun tangan. Ia akan menanti sampai malam tiba, karena dengan begitu akan lebih mudah baginya membawa orang-orang yang dihukum di dalam gua itu melarikan diri. Ketika dia masih menanti sambil mengintai dibalik rumpun alang-alang, tiba-tiba dari jauh datang serombongan orang ke tempat itu.

Alangkah kagetnya hati Kwan Cu ketika dia melihat bahwa yang datang itu, dengan langkah cepat, adalah seorang Hwesio bertubuh gendut bundar berjubah hitam, bermisai panjang, berkulit hitam dan di tangan kiri memegang tasbih sedangkan tangan kanannya memegang tongkat Liong-thouw-tung. Kwan Cu masih mengenal Hwesio ini yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, tokoh barat yang amat lihai dan jahat, Hwesio yang sudah merampas kitab palsu Im-yang Bu-tek Cin-keng dan bahkan yang dia duga telah mencuri pula kitab Gui-Siucai yang kemudian dia ketemukan berada di dalam sumur kering di atas Kun-lun-san!

Di sebelah hwesio ini berjalan pula dua orang panglima dan mereka ini bukan lain adalah An Lu Shan sendiri dan adiknya, An Lu Kui! Berdebar hati Kwan Cu melihat ketiga orang ini. Baiknya dia berlaku sabar, karena kalau tadi dia turun tangan dan harus berhadapan dengan mereka ini, berbahaya sekali! Kepada An Lu Shan dan An Lu Kui, dia tak usah merasa jerih, akan tetapi Hek-I Hui-mo adalah seorang tokoh besar yang tingkat kepandaiannya sudah menandingi tingkat gurunya!

Ia melihat penjaga yang seperti raksasa itu memberi hormat melihat kedatangan tiga orang itu, kemudian An Lu Shan dan kedua orang kawannya memasuki gua dan lenyap ditelan kegelapan. Lalu terdengarlah suara An Lu Shan dari dalam gua, seakan-akan berkata-kata di depan banyak orang. Kwan Cu mengerahkan tenaga pendengarannya dan lapat-lapat dia mendengar An Lu Shan membujuk orang-orang yang tertahan di dalam gua itu untuk menyerah dan menurut serta membantu perjuangannya!

Kwan Cu tidak mengerti akan maksud semua kata-kata itu, hanya dia tahu bahwa orang-orang yang ditahan itu tentulah orang-orang yang tidak mau tunduk dan kini An Lu Shan hendak membujuk mereka, disertai ancaman bahwa kalau mereka tidak mau menurut, pada besok pagi gua itu akan di tutup untuk selamanya!

Kwan Cu tidak berani bergerak dari tempat sembunyinya. Tak lama kemudian, tiga orang tokoh besar itu lalu keluar lagi dari gua dan pergi dengan cepat, setelah memberi pesan kepada penjaga supaya berhati-hati.

Malam tiba dan langit hanya diterangi oleh cahaya bulan bintang. Tak lama kemudian datang pula serombongan penjaga terdiri dari lima orang yang mengawani raksasa itu. Kwan Cu bersiap untuk bergerak dan melakukan usahanya menolong para tawanan. Ketika para penjaga itu tengah bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara suling yang merdu. Mereka terkejut sekali. Bagaimana di dalam hutan ini bisa terdengar suara suling begitu dekat?

Seorang di antara mereka bangkit berdiri dan menghampiri suara itu. Akan tetapi tiba-tiba dia roboh tak berkutik lagi, terkena totokan jari tangan Kwan Cu yang lihai.

Penjaga-penjaga yang lain setelah lama menanti kawan mereka tidak juga kembali, mulai gelisah dan memanggil-manggil.

Penjaga yang tinggi besar itu tertawa dan berkata dalam bahasa Han yang kaku.

“Barangkali peniup suling itu adalah seorang perempuan cantik dan si A-sam tentu sedang bersenang-senang dengan dia!”

Dua orang penjaga lalu pergi menyusul kawannya, akan tetapi mereka ini setelah tiba di sebuah tikungan juga roboh tak berkutik ketika tangan Kwan Cu menyambar.

Tiga orang penjaga lain menjadi gelisah karena sekarang dua orang kawannya lagi sudah lama pergi tidak muncul kembali.

“Ah, tentu ada apa-apa!” kata seorang diantara mereka. “lebih baik kita memberi tanda rahasia agar kawan-kawan yang lain datang kesini. Hatiku tidak enak…”

Akan tetapi sebelum dia dapat melepaskan tanda, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun bayangan orang. Sinar hijau menyambar-nyambar dalam cahaya bulan dan terdengar teriakan susul menyusul ketika tiga orang penjaga termasuk si penjaga raksasa itu roboh tertotok oleh suling di tangan Kwan Cu.

Pemuda ini segera mengambil obor yang tadi dipasang di depan pintu gua dan berlari masuk. Ternyata bahwa gua itu dalamnya amat luas dan panjang merupakan terowongan yang amat gelap. Di sepanjang terowongan itu dipasang anak tangga dan ketika Kwan Cu berjalan kurang lebih sepuluh tombak jauhnya, anak tangga itu berhenti dan di depannya nampak sebuah lubang. Hem, agaknya lubang inilah yang di sebut sumur maut oleh komandan yang mengancamnya siang tadi, pikir Kwan Cu. Dengan obornya dia mencoba untuk melihat ke bawah, akan tetapi sia-sia karena sinar obor tak dapat menerangi sinar obor di bawah.

Terdengar suara-suara orang dibawah dan Kwan Cu cepat bertanya,

“Saudara-saudara yang tertawan di bawah, aku datang untuk menolong!”

Sejenak suara orang-orang di bawah itu berhenti, kemudian terdengar jawaban.

“Bagaimana kau dapat menolong kami?” inilah suara laki-laki yang mengandung semangat kegagahan.

“Berapa banyak kawanmu?” Tanya Kwan Cu.

“Yang masih hidup ada empat puluh satu orang, yang sudah menjadi mayat belasan orang dan yang sudah hampir mati dua puluh orang lebih!”

Kwan Cu bergidik dan bulu tengkuknya berdiri. Sejak dari tadi diapun telah mencium bau yang tidak enak, tidak tahunya di dalam sumur itu telah banyak orang yang sudah mati.

“Berapa dalamnya sumur ini?” tanyanya pula.

“Kurang lebih lima tombak!”

Kwan Cu berpikir sebentar. Kalau hanya lima tombak, dia sanggup melompat dari dalam sumur itu ke atas sambil menggendong tubuh seorang.

“Dasarnya tanah keras atau lembek?”

“Tanah keras atau basah. Bagaimana kau hendak menolong kami?”

“Kalian minggirlah semua, biarkan ruang di bawah bagian tengah kosong, aku hendak melompat turun!” kata Kwan Cu. Kemudian pemuda ini lalu menancapkan obor di pinggir sumur dan setelah mengatur pernapasannya dan menyelipkan sulingnya di pinggang, Kwan Cu lalu melompat ke dalam sumur, tepat di tengah-tengah dan berseru,

“Awas, aku datang!”

Kedua kakinya menginjak tanah padas yang basah dan di dalam gelap, hanya diterangi sedikit sekali oleh cahaya obor di atas sumur, dia melihat bayangan-bayangan orang yang di dalam gelap nampak hitam menakutkan.

“Taihiap, kau sungguh gagah. Akan tetapi, setelah setelah kau dapat melompat masuk ke tempat ini, bagaimana selanjutnya kau dapat menolong kami?” Tanya suara yang tadi bicara ketika Kwan Cu masih berada di atas. Orang ini tubuhnya tinggi kurus, namun wajahnya tak dapat terlihat jelas. Hanya suaranya mengandung kegagahan dan Kwan Cu dapat menduga bahwa tentu orang ini seorang gagah di dunia kang-ouw yang menjadi korban dari An Lu Shan.

“Aku dapat menggendong kalian seorang demi seorang dan melompat keluar dari sumur ini,” jawabnya sederhana.

Terdengar seruan kagum dan tidak percaya.

“Taihiap, dapatkah kau melompat setinggi ini dan menggendong seorang pula?” tanya seorang yang tinggi itu.

“Akan kucoba!” kata Kwan Cu.

“Dan para penjaga, di manakah mereka?”

“Sudahlah, kalau kita hanya mengobrol saja, aku khawatirkan penjaga-penjaga lain akan datang dan rencana kita gagal,” kata Kwan Cu habis sabarnya.

“Taihiap, biarlah aku kaukeluarkan dulu. Dengan menggunaklan ikat pinggang disambung-sambung, dapat aku membantu mereka keluar dari sini.”

Pikiran ini baik juga dan Kwan Cu lalu menyambar tubuh orang yang jangkung itu dan melompat dengan kuat dan cepat sekali. Ia mengerahkan ginkangnya dan tanpa banyak susah dia dapat mencapai pinggiran sumur. Ketika orang itu yang ternyata seorang laki-laki setengah tua, melihat bahwa orang yang menolongnya hanya seorang pemuda berusia belasan tahun, dia menjadi bengong dan merasa kagum sekali.

Akan tetapi dia maklum bahwa sekarang bukan waktunya untuk banyak melakukan peradatan, dengan cepat dia menyambung-nyambung ikat pinggang yang memang sudah lama dia kumpulkan dengan maksud kalau dia berhasil keluar dari sumur, dia akan menolong kawan-kawannya.

Kini pertolongan mengeluarkan para korabn itu dilakukan dengan dua jalan, yakni Kwan Cu masih tetap naik turun untuk mengangkat seorang demi seorang, terutama yang sudah lemah dan tidak kuat merayap melalui tambang buatan, dan ada pula yang merayap melalui ikat pinggang yang disambung-sambung dan yang kini dilepas ke bawah oleh orang tinggi kurus itu.

Akhirnya, setelah bekerja mati-matian, lima puluh enam orang yang masih kuat dan yang sudah lemah dapat dikeluarkan semua dari sumur itu.

“Mari cepat keluar dari gua!” mengajak Kwan Cu tanpa mempedulikan ucapan terima kasih dari semua orang itu. Mereka ini ternyata adalah orang-orang lelaki yang masih kuat dan muda-muda. Tak salah lagi, sebagian besar di antara mereka tentulah orang-orang yang tidak mau dipaksa menjadi tentara oleh An Lu Shan. Yang paling menarik, semua orang ini adalah semua orang Han aseli. Mengapa mereka tidak mau menjadi tentara pemerintah sendiri? Hal ini benar-benar membingungkan hati Kwan Cu, namun dia tidak mengambil pusing.

Semua orang mengikuti Kwan Cu keluar dari gua itu. Yang lemah sekali digendong oleh yang kuat dan sebentar saja mereka telah dapat melarikan diri jauh dari gua, bersembunyi di dalam hutan.

“Nah, sekarang aku akan pergi dan selanjutnya harap kalian mencari jalan sendiri,” kata Kwan Cu.

Orang yang tinggi kurus tadi melangkah maju dan menjura .

“Taihiap benar-benar hebat sekali. Entah bagaimana kami dapat membalas budi Taihiap. Tentang kawan-kawanku ini, biarlah aku yang memimpin mereka meloloskan diri ke selatan. Aku tahu jalan yang aman. Akan tetapi, agar kami dapat selalu mengingat-ingat siapakah Taihiap ini dan murid siapakah?”

“Aku bernama Kwan Cu dan selebihnya tak perlu ku ceritakan. Hanya kalau kalian hendak berterima kasih, ingatlah bahwa aku adalah murid Ang-bin Sin-kai!” setelah berkata demikian, Kwan Cu lalu melompat pergi dan lenyap dari pandangan mata orang-orang itu.

***

Kalau sekiranya Kwan Cu mendengar bahwa An Lu Shan mempersiapkan barisan besar untuk memberontak terhadap pemerintah di selatan, agaknya pemuda ini tentu akan berusaha untuk menghalangi pengkhianatan ini. Akan tetapi, pemuda ini tidak mau terlalu lama tinggal di situ setelah dia melihat bahwa Hek-i Hui-mo berada di tempat itu. Ia ingin mempercepat usahanya mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tidak mau bentrok dengan lawan-lawan berat sehingga mengacaukan usahanya.

Pemuda ini melakukan perjalanan cepat sekali dan tiada hentinya, hanya beristirahat untuk makan dan tidur sebentar saja. Ia berusaha sedapat mungkin agar tidak bertemu dengan orang lain, atau lebih tepat lagi agar jangan sampai ada urusan yang menghambat perjalanannya. Dua pekan kemudian, setelah bertanya-tanya kepada orang di mana letak sungai Yalu, tibalah dia di kota Ang-tung, kota yang berada di tepi Sungai Yalu, yakni di bagian sungai itu memuntahkan airnya di Laut Kuning.

Kota Ang-tung amat besar dan ramai, karena kota ini merupakan pusat perdagangan yang menghubungkan pedalaman Tiongkok dengan pedagang-pedagang dari Korea. Banyak sekali perahu nelayan dan pedagang berada di pinggir sungai dan pemandangan di situ amat indahnya.

Akan tetapi ketika Kwan Cu mencari perahu nelayan untuk di sewanya, tak seorangpun sanggup menyewakan perahunya, biarpun dengan bayaran tinggi.

“Laut di selatan tidak aman, kongcu,” kata seorang nelayan tua. “selain sekarang muncul ikan-ikan buas yang besar dan yang sering kali mengganggu perahu nelayan, juga bajak-bajak laut sekarang banyak sekali. Kami semua adalah tukang-tukang perahu yang hanya sanggup membawa barang-barang dagangan dengan berlayar di tepi pantai, atau kalau mencari ikan juga, tidak terlalu jauh dari pantai. Kalau kongcu menghendaki menyewa perahu untuk dipakai memasuki laut bebas, kiranya akan bisa kongcu dapatkan di perkampungan nelayan Kim-le-pang.”

“Di mana letaknya perkampungan Kim-le-pang itu, lopek?” tanya Kwan Cu dengan girang.

“Tidak jauh, kurang lebih lima belas li di sebelah timur kota ini.”

Tanpa membuang banyak waktu Kwan Cu lalu menuju ke timur dan mencari perkampungan Kim-le-pang yang diceritakan oleh nelayan tua itu. Benar saja, di pantai laut dekat dusun itu banyak sekali terdapat perahu-perahu kecil dan para nelayan sedang bekerja sibuk. Ada yang menjemur ikan-ikan kering, ada pula yang menjemur jala-jala yang rusak. Ada pula yang menjahit layar atau membetulkan perahu yang bocor. Mereka ini nampak miskin dan sederhana, namun sebagian besar bertubuh tegap dan kuat, dengan kulit yang kehitaman karena setiap hari terbakar oleh matahari.

Ketika Kwan Cu menghampiri para nelayan ini, mereka tidak mengacuhkannya, sama sekali tidak kelihatan tertarik atau ingin menawarkan perahu mereka. Dapat diduga bahwa nelayan-nelayan ini tinggi hati dan angkuh. Memang mereka ini adalah sekelompok peranakan suku bangsa Han. Meraka berdarah Hui dan Han, dan merupakan suku bangsa yang hidupnya mengandalkan penghasilan dari laut. Mereka adalah pelaut-pelaut tulen yang lebih leluasa hidup di atas perahu dari pada di darat.

Melihat sikap mereka yang acuh tak acuh, Kwan Cu merasa tak enak hati. Akan tetapi oleh karena dia memang membutuhkan perahu untuk disewa, dia lalu menghampiri mereka dan menjura sambil bertanya,

“Saudara-saudara, harap maafkan kalau aku mengganggu kalian.”

Seorang kakek yang mulutnya menggigit huncwe kecil panjang dan matanya sipit, berpaling kepadanya dan tanpa melepaskan huncwenya dia berkata,

“Kalau tidak mengganggu, tak perlu minta maaf. Kalau memang hendak mengganggu, mengapa pakai minta maaf segala?”

Merah muka Kwan Cu mendengar ucapan yang jujur dan kasar ini. Ia dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang-orang sederhana, jujur, dan keras hati.

“Lopek, sebetulnya aku bukan bermaksud hendak mengganggu. Akan tetapi siapa tahu kalau kedatanganku ini saja sudah merupakan gangguan bagimu.”

Kini kakek itu menghentikan pekerjaannya menambal layar, dan sambil mencabut huncwenya dia menghadapi Kwan Cu, memandangnya dari atas terus ke bawah, lalu bertanya,

“Kau mau apakah?”

“Aku mencari perahu yang disewakan.”

“Dengan orangnya?”

“Kalau mungkin, lebih baik lagi.”

“Ke mana?”

Kwan Cu merasa tidak enak dengan percakapan yang singkat-singkat ini, akan tetapi apa boleh buat, orang ini agaknya lebih suka bicara singkat.

“Hendak menyeberangi laut, mencari pulau-pulau di dekat pantai.”

“Tak mungkin! Tidak ada perahu disewakan!” jawab kakek itu sambil menancapkan huncwenya di mulut lagi.

“Lopek, aku tidak hendak menyewa perahumu kalau kau tidak menyewakannya. Akan tetapi aku akan menyewa perahu siapa saja yang suka menyewakan kepadaku,” kata Kwan Cu agak keras karena dia merasa mendongkol sekali. Lalu pemuda ini memandang ke sekelilingnya dan berteriak,

“Hei, saudara-saudara. Siapakah yang suka menyewakan perahunya kepadaku untuk menyeberangi laut mencari pulau? Aku berani membayar berapa saja yang dimintanya!”

Mendengar pemuda ini berteriak-teriak, para nelayan lalu berlari-lari mendatangi. Mereka sebentar saja mengurung Kwan Cu dan kakek itu sambil melepaskan huncwenya berkata kepada orang banyak,

“Dengarkan orang gila ini! Dia hendak menyewa perahu menyeberangi laut mencari pulau. Agaknya dia sudah bosan hidup. Ha-ha-ha!” Ramailah suara para nelayan ketawa mengikuti kakek itu.

“Dengar!” Kwan Cu membentak! “kalau kalian begitu pengecut dan takut, biarlah aku menyewa perahunya saja. Tak usah aku diantar oleh penakut-penakut macam kalian. Biarkan aku menyewa perahu saja, berilah perahu yang baik dan kuat dan aku akan membayar mahal!”

“Kau akan membayar dengan apa?”

“Dengan emas. Lihat , aku mempunyai sekantong emas!” Kwan Cu lalu memperlihatkan sekantong emas yang dia dapat “ambil” dari rumah gedung seorang bangsawan kaya raya ketika dia tiba di kota besar. Memang, pemuda ini yang tahu bahwa dia harus memiliki emas untuk menyewa perahu, telah mencuri uang emas sekantong dari hartawan itu pada malam hari!

“Hah, apa artinya emas? Tidak mengenyangkan perut!” kakek itu berkata dan semua nelayan mengangguk menyatakan setuju. “mengacaukan saja!”

Kwan Cu tertegun dan penasaran. “Habis, apa yang kau kehendaki sebagai pembayaran sewa perahu?”

“Apapun pembayaran yang kau janjikan, anak muda, di dusun kami tidak ada orang yang begitu gila untuk memberikan perahunya padamu, karena kalau perahu di berikan padamu, berarti perahu itu akan lenyap tenggelam di laut bersamamu!”

Kwan Cu mendongkol sekali, “Tak kusangka orang-orang yang kelihatan kuat dan gagah seperti kalian ini, hatinya kecil dan penakut. Pula selain penakut tidak ramah dan tidak menolong orang. Hemmm, kecewa sekali aku datang ke tempat ini.”

Setelah berkata demikian, Kwan Cu hendak pergi dari situ, di dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencuri saja sebuah perahu dan meninggalkan uang emasnya sebagai pembayaran!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seorang pemuda nelayan berkata kepada kakek itu. “Lo-pek-pek, mengapa tidak kau suruh dia menyewa perahu nenek gila?” mendengar ucapan ini, semua orang ketawa.

“Cocok sekali! Memang pantas kalau pemuda yang nekat dan bosan hidup ini berlayar dengan nenek gila atau puteranya yang berotak miring!” Terdengar suara di antara gelak ketawa, Kwan Cu terheran, orang-orang ini tadinya pendiam dan berwajah keras, akan tetapi setelah disebutnya nama nenek gila ini semua orang tertawa geli!

Ia tertarik sekali dan menahan tindakan kakinya. “Di manakah dia si nenek gila itu? Apakah betul-betul dia mempunyai perahu dan sekiranya dia mau menyewakan perahunya, biarpun gila akan kucoba datangi.”

Kakek nelayan itu menggelengkan kepalanya. “Anak muda, biarpun urusanmu tidak ada sangkut pautnya dengan kami dan kenekatanmu juga tidak merugikan kami, akan tetapi melihat sikapmu yang halus ini aku merasa kasihan juga. Memang di sini ada seorang nenek gila dan puteranya yang setengah gila pula. Akan tetapi, mereka ini berbahaya sekali dan terasing hidupnya. Kalau kau mencoba mendekati mereka, aku khawatir kalau-kalau kau akan mati sebelum menyeberangi laut.”

Makin tertarik hati Kwan Cu. “Biarlah, di mana mereka tinggal? Akan kucoba menghubungi mereka.”

Kakek itu mengangkat pundaknya. “Benar kata mendiang ayah dahulu bahwa orang-orang selatan memang aneh sekali wataknya. Kau mau tahu? Pergilah ke pantai sebelah barat kampung ini dan kau akan melihat sebuah pondok menyendiri di pantai yang ada hutannya. Di sana mereka tinggal.”

“Terima kasih, Lopek. Selamat tinggal!” setelah mengucap demikian, Kwan Cu mempergunakan kepandaiannya meloncat pergi. Bengonglah semua nelayan ketika melihat betapa sekali berkelebat saja pemuda itu telah meloncat amat jauhnya dan sebentar pula lenyap dari pandangan mata!

Kwan Cu melanjutkan perjalanannya dengan cepat, menuju ke hutan pinggir pantai seperti yang ditunjukkan oleh kakek nelayan itu. Benar saja, dia melihat sebuah pondok kecil yang berbentuk segi empat di pinggir hutan, dekat pantai. Keadaan di situ amat sunyi karena di sekitar tempat itu tidak ada rumah lain. Juga di pekarangan yang kotor dari rumah itu tidak kelihatan seorang pun manusia. Keadaan benar-benar sunyi sekali.

Kwan Cu menghampiri pondok itu dan keadaan di situ nampak menyeramkan. Tidak ada perabot rumah di situ, hanya ada dua buah batu karang yang besar di dalam rumah. Di antara batu karang ini, terdapat pula batu yang licin dan lebih besar, agaknya itulah kursi dan meja dari tuan rumah. Ia dapat melihat semua ini Karena rumah itu tidak ada daun pintunya. Demikianpun jendelanya di kanan kiri rumah tidak ada daun jendelanya, tinggal terbuka saja pintu dan jendelanya.

Sampai lama Kwan Cu menanti, akan tetapi sudah jelas bahwa di dalam rumah itu tidak ada orangnya. Ia mencari-cari di depan dan belakang rumah, namun tidak kelihatan bayangan orang. Bahkan di pantai juga tidak kelihatan ada perahu. Namun jelas ada tanda-tanda bahwa tempat itu memang ditinggali orang, karena di sana-sini terdapat bekas-bekas orang, seperti tapak-tapak kaki, mangkok-mangkok pecah, dan pecahan-pacahan jala, bahkan ada berserakan tulang-tulang ikan di sana-sini. Juga ada tempat api di sudut dalam rumah itu.

Kwan Cu sampai merasa kesal menanti di luar rumah, kemudian karena melihat di dalam rumah itu ada hiasan-hiasan dinding berupa gambar-gambar dan tulisan-tulisan sajak, dia memberanikan diri memasuki ambang pintu. Alangkah tertariknya ketika dia melihat lukisan-lukisan yang cukup indah, dan sajak-sajak tulisan dari pujangga ternama. Hanya orang yang mengerti kesusastraan dengan baik saja yang mau menggantungkan lukisan dan sajak-sajak seindah itu, pikirnya. Makin tertariklah dia kepada penghuni rumah yang dikatakan gila oleh para nelayan itu. Siapakah mereka dan bagaimana mereka nanti menyambutnya?

Akan tetapi, menanti-nanti datangnya penghuni rumah ini merupakan ujian berat bagi Kwan Cu karena ditunggu-tunggu sampai menjelang senja, belum juga penghuninya kelihatan kembali! Apakah mereka sudah meninggalkan rumah ini dan tidak akan kembali lagi? Ataukah barangkali para nelayan itu mempermainkannya? Akan tetapi tidak mungkin, karena tanda-tanda bahwa rumah ini masih ditinggali orang, ternyata dari adanya hiasan-hiasan dinding itu. Kalau mereka pergi takkan kembali lagi tentu lukisan-lukisan itu mereka bawa. Maka dia mengambil keputusan untuk menanti terus, dan kalau perlu dia akan bermalam di situ sampai besok pagi.

Senja telah berganti malam dan bulan sepotong muncul di langit timur. Kwan Cu berdiri di depan jendela dan termenung, mengharapkan datangnya tuan rumah. Tiba-tiba dia melihat sesuatau yang amat menarik perhatiannya, di depan jendela itu ada semacam tumbuh-tumbuhan yang tadinya tidak menarik perhatiannya. Tetumbuhan ini batangnya hitam dan daun-daunnya tidak berapa banyak, berbentuk lonjong bundar dan tulang-tulang daunnya nampak jelas sekali, kehitaman membayang pada daun yang putih itu. Tidak ada yang aneh pada tetumbuhan ini, juga tidak kelihatan bunga atau buahnya. Akan tetapi yang amat menarik perhatian Kwan Cu, adalah kejadian yang bukan main anehnya. Tadinya daun-daun itu tidak bergerak sama sekali karena memang tidak ada angin yang dapat meniup daun-daun itu. Angin dari laut tertahan oleh bangunan rumah sehingga daun-daun itu terlindungi dari pada hembusan angin.

Akan tetapi, ketika malam tiba dan beberapa ekor jengkerik datang, dan jangkerik-jangkerik itu menempel pada daun, mereka lalu jatuh ke bawah dan mati! Kwan Cu terheran-heran dan membungkuk untuk melihat lebih jelas keadaan jangkerik-jangkerik itu, dan apa yang dilihatnya? Jangkerik-jangkerik itu telah hangus badannya!

Kwan Cu berdiri seperti patung, terkejut dan terheran-heran. Ia berlaku hati-hati dan tidak berani menjamah daun-daun itu, sungguhpun hatinya ingin sekali karena dia ingin tahu mengapa jangkerik-jangkerik itu bisa mati hangus begitu tersentuh pada daun-daun itu. Maka ketika ada beberapa ekor jangkerik terbang lalu, dia menyambar dengan tangannya dan menangkap tiga ekor jangkerik. Setelah itu, dia melemparkan jangkerik-jangkerik itu satu persatu menempel pada pohon dan akibatnya…… benar-benar hebat! Binatang-binatang kecil itu lalu jatuh dan mati hangus pula!

“Hebat,” pikir Kwan Cu, “daun mujijat apakah ini?”

Akan tetapi pada saat itu, dari atas tanah merayap tiga ekor ulat berwarna hijau. Ulat-ulat itu besarnya sama dengan ibu jari tangan manusia dan dengan gerakan yang menggelikan ulat-ulat itu merayap ke batang pohon kecil yang berdaun mujijat itu. Kwan Cu menduga bahwa tiga ekor lalat yang berjalan beriring-iringan ini tentu akan mengalami nasib serupa dengan para jengkerik, akan tetapi aneh. Kali ini ulat-ulat itu merayap dengan amat aman dan selamat, bahkan ketiga-tiganya lalu memilih daun yang segar digerogoti dengan rakusnya! Memang betul bahwa begitu ada ulat yang menempel pada sehelai daun, semua daun pohon itu serentak bergoyang-goyang dan bangkit seperti tadi, akan tetapi ulat-ulat itu tidak jatuh, bahkan merasa enak diayun-ayun oleh daun yang dimakan dan menambah kelezatan makannya. Sebentar saja masing-masing ulat telah menghabiskan sehelai daun!

“Luar biasa sekali!” pikir Kwan Cu, “ada daun yang aneh, kini muncul ulat-ulat yang hebat pula!” ia menjadi amat gembira dan lupa akan segalanya, lupa bahwa telah amat lama dia menanti di situ. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada ulat-ulat yang kini sudah mulai menggerogoti lain daun yang segar.

Tiba-tiba terdengar suara melengking yang tinggi sekali sehingga menyakitkan anak telinga. Kwan Cu melihat sinar-sinar kecil menyambar ke arah pohon tadi dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa ulat-ulat itu telah tertancap pada daun, di tubuh setiap ulat tertancap sebatang jarum putih yang halus sekali dan ada kepalanya merupakan titik bulat. Ulat-ulat itu tertancap dan tertusuk seperti disate, kini tak dapat melepasakan diri dari daun itu, hanya menggeliat-geliat!

Bukan main heran dan kagetnya hati Kwan Cu. Orang yang dapat melepaskan jarum dari jarak jauh mengenai ulat-ulat itu dengan demikian tepatnya, tentulah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya dalam ilmu melepas am-gi (senjata-gelap)! Dan hanya orang yang lihai sekali ilmu silatnya saja yang dapat melakukan hal itu.

Ia tertarik dan hendak mengulur tangannya hendak mencabut jarum itu untuk di periksanya. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara melengking mengerikan dan menyambarlah angin yang dahsyat dari luar jendela. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan jendela muncul bayangan seorang nenek berpakaian putih dan berwajah pucat seperti mayat dan yang mengulurkan tangan kanannya yang berbentuk seperti cakar burung! Nenek itu sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi mencakar ke arah dada Kwan Cu.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat melompat mundur dengan muka pucat. Serangan tadi benar-benar berbahaya dan melihat cara nenek ini menyerang, agaknya nenek ini adalah seorang ahli ilmu silat Eng-jiauw-kang (Ilmu silat Cengkeraman Garuda). Cengkeraman itu tidak saja dapat merobek kulit daging bahkan akan dapat menghancurkan batu karang yang keras!

“Suthai, harap maafkan teecu,” kata Kwan Cu cepat-cepat, “teecu telah beralaku lancang berani memasuki rumah suthai.” Melihat cara nenek itu berpakaian, dia mengira bahwa nenek itu tentulah seorang pertapa, maka dia menyebut suthai.

“Apakah kau mau mencuri daun-daun Liong-cu-hio (Daun mustika naga) ini?” tanya nenek itu dan sepasang matanya terputar-putar dan mulutnya menyeringai. Suaranya tinggi dan kecil seperti suling ditiup.

“Tidak, tidak, suthai. Teecu mana berani mencuri daun-daun mujijat itu? Bahkan menyentuh pun teecu tidak berani, setelah melihat betapa daun-daun itu dapat menghanguskan tubuh binatang-binatang jangkerik.”

Nenek itu tertawa dengan suara menyeramkan. “HI-hi-hi-hi-hi! Kau telah melihatnya, bukan? Hi-hi-hi, kau mengetahui kelihaiannya? Kalau kau menyentuh daunnya, tanganmu akan menjadi hangus, hi-hi-hi!” Kemudian nenek itu memandang kepada ulat-ulat yang masih tertancap oleh jarum-jarumnya. “Hah, ulat-ulat menjemukan. Hanya binatang ini saja yang sanggup makan Liong-cu-hio dengan enaknya. Akan kubasmi semua ulat ini!” ia mencabuti jarum-jarumnya dan melepaskan ulat-ulat itu dari jarum-jarum, terus memasukkan tiga ekor ular itu ke dalam mulutnya yang ompong! Dengan enaknya dia mengunyah tubuh ulat-ulat yang kehijauan itu dan ada air yang kehijauan mengalir di pinggir bibirnya terus ke dagu.

Kwan Cu bergidik menyaksikan kejadian yang amat mengerikan hati ini. Tak terasa pula dia menelan ludahnya melihat betapa nenek itu makan ulat hidup demikian enaknya, bukan sekali-kali karena dia ingin dan timbul seleranya, dia ingin muntah dan terpaksa menelan ludah untuk menahan keinginannya itu.

“Kau ingin makan ulat ini?” tanya nenek itu kepada Kwan Cu.

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak, tidak, terima kasih banyak, suthai. Teecu sudah makan tadi di dusun Kim-le-pang.”

Nenek itu kembali memandangnya dengan mata yang aneh.

“Kau nelayan?”

“Bukan, suthai. Teecu adalah seorang perantau yang sengaja datang ke tempat ini untuk berusaha menyewa sebuah perahu.”

“Mau menyewa perahu mengapa datang kesini? Apakah kau tidak mendengar bahwa siapa yang memasuki rumahku ini harus mati?” setelah berkata demikian, dengan gerakan yang amat gesit, nenek itu melompat dari jendela, memasuki rumah itu dan langsung menyerang Kwan Cu! Serangannya ini tak salah lagi adalah Eng-jiauw-kang seperti yang pernah Kwan Cu pelajari dari suhunya. Maka dengan cepat dia melompat mundur sambil mengelak.

“Suthai, maafkan teecu. Teecu datang bukan dengan maksud buruk. Harap maafkan kelancangan teecu.”

“Hi, hi, hi, kau dapat mengelak dari seranganku? Hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat bertahan!” setelah berkata demikian, nenek itu terus mendesak dengan serangan-serangannya yang lihai. Terpaksa Kwan Cu melayaninya dan pemuda inipun lalu mengeluarkan ilmu silatnya untuk mengimbangi serangan nenek itu. Kalau dia hanya mempertahankan diri, banyak bahayanya dia akan terluka. Kedua tangan nenek itu benar-benar berbahaya sekali, kukunya panjang dan tangannya amat kuatnya, tanda bahwa tenaga lweekang nenek itu sudah tinggi.

“Hi-hi-hi, kau dapat melawanku, benar-benar mengagumkan! Eh, ilmu silatmu hampir sama dengan Pai-bun-tui-pek-to!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: