Pendekar Sakti (Jilid ke-17)

Kwan Cu terkejut. Memang dalam menghadapi serangan nenek itu, dia tadi bermain ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to yang mempunyai daya tahan kuat sekali. Bagaimana nenek aneh ini dapat mengenal ilmu silatnya?

“Memang teecu mainkan Pai-bun-tui-pek-to, Suthai. Teecu belajar dari Ang-bin Sin-kai guruku!”

Ucapan ini sengaja dia keluarkan dengan harapan kalau-kalau nenek itu sudah mengenal suhunya dan dapat menghentikan serangannya. Akan tetapi, tiba-tiba nenek itu menyerang makin hebat lagi.

“Bagus, hendak kulihat sampai di mana kepandaian murid Ang-bin Sin-kai si pengemis jembel!”

Menghadapi serangan Eng-jiauw-kang yang dilakukan dengan gerakan lincah dan cepat sekali, Kwan Cu menjadi kewalahan dan terpaksa dia mengeluarkan sulingnya. Kini dia mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat dengan sulingnya, juga dia membalas dengan serangan yang hebat sekali.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tinggi besar dari pintu yang tak berdaun itu. Pemuda ini membawa sebatang dayung yang panjang dan lebar.

“Ibu, siapakah sahabat yang gagah perkasa ini?” tanya pemuda itu sambil memukulkan dayungnya pada tanah sehingga tergetarlah rumah itu. Kwan Cu terkejut sekali. Pemuda ini memiliki tenaga gwakang yang demikian besarnya, kalau dia ikut maju, dia akan menghadapi dua orang lawan yang sama sekali tak boleh dipandang ringan!

Akan tetapi, tiba-tiba nenek yang aneh itu tertawa berkikikan dan menghentikan serangannya.

“Kong Hoat, inilah pemuda yang ada harapan,” katanya kepada pemuda yang ternyata adalah puteranya dan bernama Kong Hoat itu. “Dia inilah murid Ang-bin Sin-kai, jago tua yang amat kukagumi.”

Kwan Cu cepat menoleh dan dia melihat seorang pemuda tinggi besar yang berwajah gagah sekali, usianya hanya lebih dua tahun dari padanya, akan tetapi mempunyai potongan tubuh yang lebih besar darinya. Ia kagum sekali melihat pemuda ini yang tertawa-tawa seperti orang yang gembira selalu.

Dengan amat hormat, Kwan Cu menjura kepada pemuda itu dan kepada nenek yang tadi menyerangnya.

“Aku yang bodoh bernama Lu Kwan Cu, murid dari Ang-bin Sin-kai. Harap dimaafkan apabila tanpa mendapat ijin, aku berani memasuki rumah ini. Kedatanganku sebetulnya atas petunjuk para nelayan di dusun Kim-le-pang, karena aku mencari sewaan sebuah perahu. Besar harapanku akan mendapat pertolongan dari Ji-wi yang mulia.”

“Kau mencari perahu, sahabat? Untuk dipakai kemanakah?” tanya Kong Hoat sambil memandang tajam. Suara pemuda ini besar dan parau dan pandangan matanya amat jujur.

Kwan Cu merasa tidak enak kalau berbohong akan tetapi dia pun tidak mungkin dapat menceritakan rahasia dan cita-citanya.

“Sesungguhnya, aku bermaksud untuk menyeberangi laut dan akan melakukan perantauan ke pulau-pulau yang berada di tengah laut. Aku mendengar dari guruku bahwa pulau-pulau itu mengandung rahasia-rahasia yang menarik hati, dan sebagai seorang pemuda, aku amat tertarik dan ingin sekali menyaksikan dengan mata sendiri.”

Kong Hoat melemparkan dayungnya ke sudut lalu pergi duduk di atas sebuah batu karang yang berada di dalam rumah.

“Aneh, aneh sekali! Tahukah kau bahwa pulau-pulau itu didiami oleh makluk-mahluk aneh yang amat berbahaya? Jangankan kau seorang diri yang masih muda, ibuku sendiripun tak berani pergi ke pulau-pulau itu.”

“Siapa yang pergi kepulau-pulau itu, sama halnya dengan mencari kematian sendiri. Hi-hi-hi, murid Ang-bin Sin-kai, kau benar-benar lucu dan aneh, lebih aneh dari pada Ang-bin Sin-kai sendiri. Kau mati sih tidak apa, akan tetapi sayang sekali karena kau masih muda dan juga tampan dan gagah. Batalkan saja kehendakmu itu.”

Mendengar ucapan ini, Kwan Cu maklum bahwa nenek itu sama sekali tidak gila, apalagi puteranya, biarpun pakaian puteranya itu tidak karuan dan amat bersahaja, yakni celana pendek sebatas lutut dan baju yang hanya sebatas siku saja lengannya.

“Terima kasih atas nasihatmu, Suthai dan kau juga, saudara. Akan tetapi, justru keanehan dan bahaya itulah yang menarik hatiku untuk mengunjunginya. Kalau sekiranya Ji-wi tidak merani mengantar, aku akan meminjam perahu Ji-wi saja atau menyewanya, dan aku akan mendayungnya seorang diri ke tempat itu.”

Kong Hoat bangkit berdiri dan membanting-banting kedua kakinya di atas tanah. Kembali terasa tanah bergoyang-goyang saking kerasnya tenaga bantingan kaki pemuda tinggi besar ini.

“Itulah, itulah! Sudah berkali-kali aku rindu akan perantauan yang banyak bahayanya, akan tetapi ibu….”

“Kong Hoat! Siapa yang melarang kau pergi? Pergilah kalau kau memang sudah tega meninggalkan ibumu mati kesunyian.”

Kong Hoat tertawa dan aneh sekali! Biarpun mulutnya tertawa, namun kedua matanya mengeluarkan air mata bercucuran! Kwan Cu berdiri bengong melihat keanehan ini? Kalau tidak gila, mengapa dia tertawa sambil mengucurkan air mata?

“Ibu, kau lucu sekali. Kau melepaskan anakmu, akan tetapi mengikat kedua kakiku dengan omongan itu. Aku mana bisa meninggalkan ibu? Biar mati aku tidak mau meninggalkan ibu tercinta!”

Dan kini nenek itulah yang menangis terisak-isak lalu menghampiri puteranya yang segera di peluknya.

“Kong Hoat, Kong Hoat, kau puteraku yang paling baik…”

Terharu hati Kwan Cu menyaksikan cinta kasih seorang ibu dan bakti seorang putera terhadap ibunya.

“Saudara Kwan Cu, kalau kau nekat hendak melakukan perjalanan berbahaya itu, kaupakailah perahuku.”

“Aku akan meyewanya, di sini aku membawa sekantong uang emas untuk menyewa perahu itu…”

Tiba-tiba nenek itu melompat dan menyerangnya dengan cengkeraman tangannya. Kwan Cu cepat mengelak dan Kong Hoat berseru,

“Ibu jangan…!” ibunya menarik kembali seranganya dan pemuda tinggi besar itu berkata kepada Kwan Cu, “Saudara, kau menghina kami! Baiknya aku ingat bahwa kau bermaksud baik, kalau tidak tentu aku akan membantu ibu membunuhmu karena kau telah menghina kamu orang-orang miskin”. “Maaf, maaf, aku tidak bermaksud menghina….” kata Kwan Cu kaget sekali. “Kami tahu, dan karena itu sudahlah jangan bicara lagi tentang sewa perahu. Aku memberikan perahu kami kepadamu dan habis perkara! besok pagi-pagi, kau boleh berangkat dan malam ini biarlah kita bercakap-cakap sambil menanti datangnya fajar. Berangkat di waktu fajar menyingsing baik sekali, angin tenang dan tidak ada ombak. Aku pun baru saja kembali mencari ikan dan mari kita makan ikan yang kudapat dari laut.”

Kwan Cu tidak berani banyak omong lagi, khawatir kalau-kalau kesalahan bicara lagi. Kong Hoat lalu berlari keluar dan tak lama kemudian dia kembali membawa seekor ikan yang sebesar paha. Ikan ini aneh sekali, badannya seperti ikan biasa yang bersisik besar-besar warna merah, akan tetapi kepalanya bulat dan kedua matanya berhimpitan di atas sedangkan mulutnya berada di bawah. Kepala ikan ini seperti kepala kucing, akan tetapi warna aneh, mengingatkan orang akan muka atau kepala seekor binatang suci Kilin. “Ha, Kong Hoat, anak baik. Jadi kau berhasil menangkapnya?”

“Setelah berjuang mati-matian dari pagi sampai malam, ibu,”jawab Kong Hoat sambil tertawa bergelak dan kembali dari kedua matanya bercucuran air mata! Kwan Cu menjadi bengong.”Eh, saudara Kong Hoat, maafkan aku. Apakah kau mau artikan bahwa sehari semalam kau berlayar mencari ikan hanya untuk menangkap seekor ikan aneh ini?”

Kong Hoat dan ibunya saling pandang, kemudian tertawa bergelak-gelak dan kelihatan geli sekali.

“Saudara Kwan Cu, nasibmu memang baik maka datang-datang kau mendapat suguhan ikan ini. Ketahuilah, ikan seperti ini di seluruh laut kuning barangkali hanya ada beberapa puluh ekor saja. Disebutnya ikan Kilin dan selain sukar didapatkan, juga amat sukar ditangkap. Hampir aku mati kehabisan napas dalam air ketika aku berusaha menangkapnya, padahal dia telah terkena tusukan tombakku.” “Mengapa kau mati-matian menangkapnya? Apakah karena dagingnya enak sekali?”

Kembali ibu dan anak itu tertawa bergelak, “Ah, orang kota hanya memikirkan tentang kelezatan makanan, sama sekali tidak memikirkan khasiatnya,” Mendengar ini marahlah wajah Kwan Cu

“Maafkan aku yang bodoh,” kata Kwan Cu. “Sesungguhnya bukan karena aku terlalu temaha akan makanan enak, hanya karena aku sama sekali belum mengerti ikan. Harap Ji-wi (kalian berdua) sudi memberi penjelasan tentang ikan Kilin ini dan segala keanehanya.”

Setelah tertawa geli tanpa maksud menghina tamunya, pemuda tinggi besar itu lalu berkata,

“Saudara Kwan Cu, ketahuilah bahwa ikan Kilin ini terdapat di sekitar Laut Po-hai terus ke timur. Akan tetapi, jarang sekali ikan Kilin mau berenang ke pinggir pantai dan merupakan hal yang amat langka bagi seorang nelayan untuk mendapatkan ikan ini. Oleh karena itu ketika beberapa lama yang lalu aku melihat seekor ikan Kilin berenang di pinggir perahu, aku terkejut dan tidak pernah dapat tidur nyenyak sebelum aku berhasil menangkapnya.” “Kalau begitu memang ikan yang aneh dan sukar didapat,” kata Kwan Cu sambil tersenyum melihat sikap pemuda nelayan itu yang bercerita dengan gaya lucu. “Akan tetapi, apakah khasiat dari daging ikan ini?”

Pemuda yang bernama Kong Hoat itu menengok kepada ibunya dan bertanya,”Bolehkah aku menceritakannya ibu?”

Nenek yang berwajah mengerikan itu mengangguk. “Boleh saja, dia adalah seorang pemuda gagah yang berbakat baik dan sebagai murid Ang-bin sin-kai, dia bahkan berhak merasai daging ikan Kilin. Kau berceritalah sementara aku mengurus ikan ini.”setelah berkata demikian, nenek itu lalu mengangkat ikan tadi, dibawanya ke dapur. Adapun Kong Hoat tertawa -tawa, lalu berkata kepada Kwan Cu. “Saudara yang baik, maafkan kalau tadi aku ragu-ragu karena aku harus minta ijin dari ibuku lebih dulu sebelum membuka rahasia tentang ikan itu.” “Tidak apa, saudara Kong Hoat. Aku bahkan kagum sekali melihat sikapmu kepada ibumu, sebagai sikap seorang hauw-ji(anak berbakti) tulen!” “Mendiang susiok (paman guru),” kata Kong Hoat tanpa memperdulikan pujian Kwan Cu, “adalah seorang ahli dalam ilmu berenang dan menyelam.Dari susiok inilah aku mendengar bahwa untuk dapat menjadi ahli dalam air, maka obat yang paling baik adalah ikan Kilin. Dagingnya dapat menguatkan tubuh dan lemaknya apabila dimakan, membuat kulit kita tahan akan tekanan air dingin dan gigitan air garam. Tulang-tulang siripnya kalau dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menjadi obat yang mujarab sekali bagi kita sehingga tulang-tulang kaki tangan kita menjadi amat kuat untuk memukul air dalam berenang. Lemaknya dapat dijadikan minyak dan apabila kita menggunakan minyak ini untuk membasahi kulit, maka tubuh kita akan menjadi licin sehingga memudahkan kita bergerak di dalam air. Yang hebat adalah paru-parunya, karena paru-paru ini merupakan obat sehingga kita akan kuat bertahan lama-lama di dalam air tanpa kehabisan napas.” Akan tetapi Kwan Cu tidak tertarik oleh semua ini. Memang dia tidak tertarik akan kepandaian di dalam air. Sebagai seorang yang biasa merantau di darat, tentu saja dia tidak begitu tertarik seperti Kong Hoat yang memang semenjak kecil bermain-main di dekat air selalu.

Betapapun juga, ketika daging ikan Kilin disuguhkan, Kwan Cu makan beberapa potong dan merasa betapa daging itu mendatangkan hawa hangat di dalam perut dan dadanya. Tahulah dia bahwa memang daging ini mengandung khasiat yang amat baik bagi peredaran darahnya, sehingga dia menjadi girang dan menghaturkan terima kasihnya. Kini mereka bercakap-cakap bertiga. Dalam percakapan ini tahulah Kwan Cu bahwa wanita tua itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal dan yang pernah disebut-sebut namanya oleh suhunya, yakni yang disebut-sebut Liok-te Mo-li (Iblis Wanita Bumi). Adapun Kong Hoat adalah putera tunggalnya yang dididik ilmu silat olehnya semenjak kecil sehingga pemuda itu pun memiliki kepandaian yang tinggi. “Saudara Kwan Cu, sungguh amat mengherankan hati kami. Kau yang begini muda mempunyai keinginan mengarungi samudra, berkelana dengan perahu di daerah yang terkenal amat berbahaya ini, sebenarnya kau mencari apakah?” tanya Kong Hoat. Kwan Cu tersenyum. Ia merasa tidak enak untuk membohong kepada orang-orang yang jujur dan baik ini, akan tetapi untuk berkata terus terang bahwa ia mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pun tidak berani. Suhunya sudah memesan kepadanya dengan sungguh-sungguh agar dia jangan sekali-kali menceritakan kepada siapapun juga tentang kitab itu. Maka dia berkata, “Saudara yang baik, sebagai seorang pemuda aku hanya ingin meluaskan pengetahuanku saja, hendak melihat apakah yang terdapat di sebelah sana samudera yang luas ini.” Kong Hoat memandang kepadanya dengan kagum dan dari pandangan mata ini tahulah Kwan Cu bahwa sebetulnya pemuda itu ingin pergi seperti dia. Tak terasa pula fajar telah menyingsing dan Kwan Cu segera berdiri lalu berpamit kepada tuan rumah. “Nanti dulu, kau boleh mempergunakan dayung simpananku yang paling baik,” kata Kong Hoat yang segera berlari ke belakang. Tak lama kemudian dia kembali membawa sebatang dayung berwarna hitam yang panjang dan berat. “Dayung ini jauh lebih baik dari pada lima batang dayung biasa.” kata Kong Hoat gembira, “Kau seorang pemuda gagah perkasa, amat cocok memegang dayung ini, saudara Kwan Cu.” Kwan Cu menerima dayung itu dan ternyata bahwa dayung itu terbuat dari pada baja hitam yang kuat sekali. Selain dapat digunakan sebagai dayung, juga dapat dipergunakan sebagai senjata yang boleh diandalkan. “Terima kasih saudara Kong Hoat. Kau baik sekali dan mudah-mudahan saja aku akan mendapat kesempatan membalas budimu yang baik ini.” Kata Kwan Cu girang.

Kong Hoat lalu memberikan perahunya kepada Kwan Cu, bahkan membantu Kwan Cu mengangkat perahu itu ke pinggir dan menurunkannya di air. Matahari baru nampak sinarnya yang kemerahan di permukaan laut, akan tetapi raja siang itu sendiri belum memperlihatkan dirinya yang agung. “Ingat, saudara Kwan Cu, dalam bulan ini angin bertiup dari selatan menuju ke utara dan ombak yang paling dahsyat terdapat di mulut Laut Po-hai. Bagian barat tidak berbahaya akan tetapi kalau kau memasuki Laut Po-hai hati-hati jangan kau membiarkan perahumu mendekati kepulauan yang berada di sebelah utara dekat mulut Sungai Yalu, karena di situ terdapat pulau-pulau aneh yang amat berbahaya, selain itu, terdapat pula batu-batu karang yang sukar dilalui perahu. Itu semua masih belum hebat, karena sebelum tiba di daerah berbahaya itu, kau akan berhadapan dengan ikan-ikan hiu yang amat liar dan ganas.” “Terima kasih atas segala nasihatmu, saudara Kong Hoat, akan kuingat baik-baik semua nasihat itu,” jawab Kwan Cu. Tiba-tiba nenek tua Liok-te Mo-li datang berlari-lari. Tangannya membawa bungkusan kuning dan ia berkata kepada Kwan Cu, “Kau seorang pemuda yang berani, dan sebagai tamuku, sudah semestinya kalau aku memberi sedikit bekal. Nah, kau terimalah beberapa helai daun Liong-cu-hio (Daun Mustika Naga) ini untuk bekal di tengah pelayaranmu yang berbahaya itu.” Sambil berkata demikian, nenek itu memberikan bungkusan kuning kepada Kwan Cu. Kwan Cu menerimanya sambil menghaturkan terima kasih. Akan tetapi ketika dia teringat akan nama daun itu sebagai daun ajaib, yang membunuh jangkrik-jangkrik malam tadi, dia menjadi ngeri. “Maaf, suthai, biarpun teecu berterima kasih sekali, akan tetapi tolonglah menerangkan kepada teecu yang bodoh tentang khasiat daun-daun ini untuk teecu. Terus terang saja teecu masih merasa ngeri apabila melihat keliahaian daun ini. Sekarang suthai memberi bekal ini, bagaimanakah teecu harus mempergunakannnya?”

Liok-te Mo-li tertawa berkikikan. ” Memang, siapa orangnya yang takkan merasa ngeri? Memegang saja tanganmu akan menjadi hangus! Akan tetapi ada daya penolaknya, anak muda, sebelum kau memegang daun-daun ini, kau basahi kedua tanganmu dengan air laut lebih dulu. Air garam itu mempunyai daya untuk menolak racun yang keluar dari daun-daun itu. Pada saat kau menghadapi bahaya dari ikan-ikan buas, kau lemparkan saja daun-daun ini ke air dan karena air laut menutupi racun daun, tentu ikan-ikan itu tidak mengetahui akan bahayanya daun-daun ini dan mereka akan menelannya mentah-mentah. Dan kalau mereka kemasukan daun-daun ini di dalam perutnya, ha-ha-ha, kau akan melihat pesta yang hebat akan tetapi terhindar dari ancaman ikan-ikan itu. Nah, selamat kau akan berlayar, anak muda. Apabila bertemu dengan gurumu, katakan bahwa Liok-te Mo-li masih hidup dan mengharapkan dapat bertemu dengan dia.” Sambil tertawa-tawa nenek itu lau berlari pergi meninggalkan Kwan Cu dan Kong Hoat. “Selamat saudara Kwan Cu. Ternyata ibuku amat suka kepadamu, kalau tidak demikian tidak mungkin kau akan diberi daun Liong-cu-hio itu. Kau tahu, dia amat sayang kepada daun-daun aneh itu dan agaknya dia rela mengorbankan nyawa untuk menjaga daun-daun itu. Sekarang atas kehendak sendiri ia memberi daun-daun kepadamu, itu pertanda bahwa kita memang berjodoh. Harap kau berhasil dengan usahamu, saudaraku yang baik.” Kwan Cu terkejut dan memandang dengan mata mengandung penuh pertanyaan kepada pemuda tinggi besar itu. Kong Hoat tertawa bergelak dan kembali kedua matanya mengucurkan air mata! “Jangan heran, kawanku. Kami bukanlah orang jahat dan juga orang-orang terlalu bodoh. Ibu dan aku sudah dapat menduga bahwa kau tentu mencari sesuatu atau setidaknya mengandung maksud tertentu sehingga kau berani berlayar menuju ke pulau-pulau aneh itu. Kalau tidak demikian, sungguh hanya seorang yang miring otaknya yang mau pergi berlayar ke sana tanpa tujuan tertentu. Dan kami tahu betul bahwa kau tidak berotak miring, bahkan cerdik sekali.” “Akan tetapi, alasan itu tidak cukup untuk membuat kalian menduga bahwa kau pergi dengan tujuan sesuatu,” Kwan Cu membantah. “Sahabat baik, kau kira kami orang-orang yang tidak bertelinga? Sudah biasanya bahwa tempat-tempat yang aneh dan berbahaya terdapat barang-barang yang aneh dan berbahaya pula. Mustika yang paling baik adalah mustika naga. Gigi yang baik adalah gigi harimau, dan tanduk yang paling kuat adalah tanduk di mulut gajah. Kami sudah mendengar bahwa di pulau-pulau yang amat aneh dan berbahaya itu terdapat barang-barang aneh dan amat berharga. Aku sendiri kalau tidak ditahan oleh ibuku, sudah lama menyelidiki keadaan pulau-pulau aneh itu.” Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Kong Hoat nampak kecewa sekali. Akan tetapi dia segera menyambungnya, “Apapun juga yang kupikirkan, memang ibu lebih benar. Kepandaianku belum cukup untuk dapat kupergunakan menyelidiki pulau-pulau yang berbahaya itu, berbeda dengan kau, saudara Kwan Cu. Kepandaianmu amat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada kepandaian ibu sendiri, maka hanya kaulah yang kiranya akan dapat mendatangi pulau itu dengan berhasil.” “Kau terlalu memuji, saudara Kong Hoat.Akan tetapi biarlah pujianmu itu kuangggap sebagai doamu dan terima kasih banyak atas keramahanmu dan juga sampaikan terima kasihku kepada ibumu mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali kelak.” Setelah berkata demikian, Kwan Cu mulai mendayung perahunya ke tengah,dipandang oleh Kong Hoat yang berdiri bagaikan raksasa muda, dengan kedua kakinya dipentang lebar dan kedua tangannya di pinggang. Pemuda ini merasa iri hati dan ingin sekali dia dapat mengggantikan Kwan Cu berlayar menuju pulau-pulau yang penuh rahasia itu.

Dayung pemberian Kong Hoat memang baik sekali. Dayung ini panjang berat dan ujungnya lebar serta cekung sehingga sekali saja mendayung, perahu bergerak maju dengan pesatnya. Kwan Cu merasa gembira sekali dan setelah beberapa kali menggerakkan dayungnya, perahunya meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Pemandangan indah sekali. Permukaan air bagaikan kaca, diam tak bergerak dan berkilauan, berwarna hijau kemerahan karena sinar matahari yang merah terbayang di permukaan air. Air yang diterjang oleh kepala perahunya pecah menjadi dua seperti sutera digunting. Tenaga dayungnya demikian kuat sehingga air pecah oleh perahunya tidak mengeluarkan suara. Perahunya meluncur cepat tanpa bergoyang, enak dan nyaman sekali. Kehidupan di laut nampak mati tiada seekor pun burung laut terbang di atas air, tiada seekor pun ikan nampak bergerak di permukaan laut. Benar -benar hening dan sunyi menimbulkan suasana yang menyeramkan, seakan-akan laut itu berubah menjadi alam maut yang tiada ujungnya.

Namun Kwan Cu tidak merasa takut. Biarpun dia tidak pernah berlayar dan tidak pernah berada di laut, hatinya berdebar penuh ketegangan. Ia teringat bahwa dia dianggap sebagai “anak laut”oleh Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dua kakek yang menemukan dia terlempar oleh ombak samudra. Agaknya kenangan inilah yang membuat Kwan Cu selalu berdebar aneh apabila dia teringat akan laut. Kini setelah dia mendapatkan dirinya terapung di atas laut seorang diri di dalam perahunya, dia merasa seakan-akan dia telah kembali ke alam asalnya dari mana dia datang!

Setelah matahari mulai nampak di permukaan laut, merupakan bola besar berwarna merah yang bernyala-nyala, kehidupan mulai tampak. Air yang tadinya “tidur”mulai bergerak sedikit dan di kanan kirinya mulai kelihatan air itu berkeriput.mulai terdengar suara mencicit dari burung-burung laut yang berterbangan di atas air, menyambar-nyambar ke air mencari mangsa pengisi perut. Mulai terdengar air berkecipak kalau ada ikan yang mulai “mandi” cahaya matahari di permukaan air. Mulai kelihatan kehidupan di dalam air melalui sinar matahari, karena kini makin banyaklah kelihatan ikan berenang ke sana ke mari seperti kesibukan orang-orang yang bangun dari tidur dan mulai dengan pekerjaan masing-masing.

Melihat semua ini, Kwan Cu tertarik sekali dan dia menghela napas berulang-ulang. Ia ingat akan ajaran-ajaran dari Gui Tin atau Gui-siucai yang sudah meninggal dunia. Gurunya itu dahulu seringkali mengajarkanya tentang filsafat hidup, tentang ujar-ujar para cerdik pandai di jaman dahulu.

Alam itu kekal abadi

karena hidup bukan untuk diri pribadi

Ucapan di atas itu dari Nabi Lo Cu dan kini Kwan Cu menyaksikan betapa hebatnya dan besarnya alam dunia. Hidup dekat dengan masyarakat, yakni dengan sesama manusia, ucapan ini takkan ada artinya atau setidaknya takkan kelihatan isi atau inti sarinya. Ini dikarenakan manusia memang hidup penuh nafsu dan selalu melakukan sesuatu dengan tujuan demi kepentingan diri pribadi. Mementingkan diri pribadi inilah sumber dari pada segala malapetaka yang terjadi di antara manusia.

Kini, setelah berada seorang diri di atas lautan, Kwan Cu terbuka matanya dan dia melihat, dan mengakui kebesaran alam yang kekal abadi, melihat pula apa maksud kata-kata pujangga atau Nabi Lo Cu tentang alam yang hidup bukan untuk kepentingan diri pribadi. Lihat saja matahari itu. Dia muncul dan tenggelam sesuai dengan tugasnya yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dia melakukan tugasnya, semata-mata untuk memberi atau menjadi kegunaan bagi setiap yang membutuhkannya, sedikit pun tidak pernah meminta, itulah sang matahari. Lihatlah lautan bebas, pusat kehidupan, tidak saja pusat kehidupan berjuta macam ikan dan benda hidup lainya, juga pusat kehidupan manusia dan makluk di darat. Dari laut datangnya zat kehidupan, karena dari lautlah datangnya air di darat. Akan tetapi, seperti matahari sifatnya, laut pun tak pernah meminta, hanya memberi sifat alam yang suci. Alam memberi, memberi dan memberi, tak pernah meminta. Segala sesuatu di alam ini, dapat di pergunakan oleh manusia, bahkan setelah manusia mati, bumi masih memberi tempat untuk menyelimuti jenazahnya!

Melihat burung beterbangan di angkasa dan ikan-ikan berenang di dalam air dengan bebas dan senangnya, tersenyumlah Kwan Cu. Mengapa justeru burung diberi sayap sehingga pandai terbang di angkasa sedangkan ikan diberi kesanggupan hidup di dalam air? Alangkah besar perbedaan antara kedua jenis binatang ini dan mereka ini keduanya adalah makluk hidup! Alangkah besar kekuasaan Thian, alangkah indahnya alam dan isinya, alangkah gaib dan penuh rahasia mujijat yang luar biasa hebatnya adalah pekerjaan Thian. Dan dia, seorang manusia, seorang makluk jenis lain pula, kini saksi segala keindahan itu. Sambil menikmati kehebatan pembukaan kebesaran alam di depan matanya Kwan Cu melanjutkan gerakan dayungnya, menuju ke arah kelompok pulau terdekat yang nampak dari situ sebagai bayang-bayang membiru. Hatinya diliputi kesegaran semangat dan kegembiraan. Dorongan aneh membuat dia demikian girang sehingga pemuda ini sambil mendayung perahunya lalu bernyanyi!

Menjelang tengah hari belum juga perahunya tiba di kelompok pulau yang sudah kelihatan semenjak pagi tadi. Kwan Cu terheran-heran. Pulau-pulau itu tidak juga berubah. Apakah perahunya tidak bergerak maju? Tidak mungkin, pikirnya. Memang karena di seluruh penjuru perahu hanya kelihatan air belaka, nampaknya perahu itu tidak bergerak. Akan tetapi kalau dilihat air yang terpecah oleh kepala perahunya, jelas kelihatan bahwa perahunya bergerak dengan pesat ke depan.

Inilah keanehan pertama yang dialami oleh pemuda ini. Sebetulnya kelompok pulau-pulau itu masih amat jauh. Hanya sinar matahari yang menipunya sehingga kelihatannya amat dekat kelompok pulau itu . Ia merasa penasaran dan mengerahkan tenaganya, mendayung lebih cepat lagi, ke arah kelompok pulau itu. Ia memang tidak tahu di mana letaknya pulau yang dijadikan tempat menyimpan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng karena di dalam kitab sejarah penginggalan Gui-suicai hanya ditulis bahwa kitab rahasia itu disimpan di dalam sebuah pulau kosong, kecil berbentuk bundar yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih, yang terdapat di antara pulau-pulau besar di lautan ini. Akan tetapi, Kwan Cu mengambil keputusan untuk mengunjungi semua pulau yang berada di situ dan akhirnya tentu dia akan dapat mencari pulau kecil bundar yang ditumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih itu.

Akan tetapi setelah matahari condong ke barat, terjadi keanehan kedua. Kalau tadi kelompok pulau-pulau itu tak pernah juga kelihatan makin dekat biar pun dia telah mendayung perahunya secara cepat sekali selama setengah hari, kini tiba-tiba kelompok pulau itu bahkan menghilang dari pandangan mata!

Kwan Cu menghentikan gerakan dayungnya dan memandang ke sekeliling dengan bingung.Tak salah lagi tadi kelompok pulau itu berada di depan, mengapa sekarang tiba-tiba lenyap? Hal ini pun akibat permainan matahari yang membuat kepulauan itu lenyap ditelan uap putih yang membubung naik dari laut sehingga pandang mata pemuda itu tak dapat menembusnya dan membuat kelompok kepulauan itu tidak kelihatan olehnya. Kwan Cu teringat akan kata-kata Kong Hoat tentang keanehan lautan ini maka dia tersenyum dan berkata, “Memang aneh sekali. Akan tetapi biarlah, aku harus melanjutkan dan mengambil jurusan yang berlawanan dengan matahari, siapa tahu kalau-kalau kepulauan tadi akan mucul pula setelah puas menggodaku.” Pemuda yang tabah ini lalu mendayung terus dan mulau berpeluh karena matahari telah membakar kulitnya. Tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan gemuruh yang mengerikan dari arah kiri. Kwan Cu yang tidak bisa berlayar, tidak tahu suara apakah itu. Ia menghentikan gerakan dayungnya, akan tetapi setelah dia memandang ke sekelilingnya dia tidak melihat sesuatu, hanya nampak awan-awan hitam di arah selatan dan timur. Kembali terdengar suara itu, kini lebih hebat lagi dan Kwan Cu merasa seakan-akan suara itu timbul dari dasar laut. “Hebat! Suara siapakah itu? Suara Hai-liong-ong (Naga Raja Laut) ataukah suara makhluk lain yang hebat? Hem, benar-benar luar biasa hebat alam ini, besar dan berkuasa!” Ia merasa dirinya amat kecil tak berarti dan lambat-laun timbul juga kengerian dalam hatinya, sesungguhpun tak boleh dibilang bahwa Kwan Cu merasa takut. Namun, dia merasa lebih tenang andaikata Ang-bin Sin-kai gurunya berada di situ bersamanya pada saat itu. Ia teringat akan suhunya dan diam-diam ia tertawa dengan hati penuh kasih sayang kepada suhunya itu. Suhunya seorang manusia aneh yang kuat dan hebat seperti lautan ini. Kembali terdengar suara gemuruh dan kini suara ini terdengar begitu hebat sehingga Kwan Cu tidak tahan untuk tidak menengok ke belakang. Tiba-tiba anak muda ini memandang dengan mata terbelalak ke arah kiri. Dari tengah lautan yang tidak bertepi itu dia melihat sesuatu yang tinggi dan panjang datang bergulung kepadanya. Sesuatau yang nampak belang-belang putih hitam, seperti seekor naga. “Naga laut…” bisiknya sambil menahan napas.

“Hai-liong-ong…” kata suara hatinya penuh kengerian. Memang hebat sekali penglihatan pada waktu itu. Dari arah kiri, datang benda itu, makin lama makin panjang dan besar, dan biarpun benda itu masih jauh, telah datang angin bertiup keras, membuat air di depan perahu bergelombang. Gelombang makin besar dan tiba-tiba Kwan Cu merasa terkejut sekali karena berbareng dengan suara gemuruh seperti derap kaki ribuan ekor kuda di samping suara lengking tinggi panjang seperti suara ribuan batang suling yang ditiup secara aneh seperti kalau Yok-ong meniup suling, perahunya terangkat tinggi-tinggi dan permukaan laut tiba-tiba naik tinggi sekali, lalu turun lagi seperti kalau di daratan terjadi gempa bumi yang hebat. Dan kini benda panjang seperti naga itu telah datang dekat, membawa bunyi gemuruh dan tahulah Kwan Cu dengan hati tidak karuan rasanya bahwa yang disangka naga itu sebenarnya adalah gelombang laut hebat!

“Celaka!” serunya dan dia mencoba untuk menahan keseimbangan perahunya dengan dayung. Akan tetapi, di dalam tangan samudra yang besar kuat dan hebat tenaganya itu, tenaga Kwan Cu merupakan tenaga seekor semut bagi seorang raksasa. Perahu berikut Kwan Cu masih memegang dayung terputar-putar, membuat kepala pemuda itu menjadi pening sekali. Namun dia masih dapat berlaku tenang dan cepat Kwan Cu melemparkan dayungnya ke dalam perahu, dan dengan kedua tangan dia memegangi ombak laut dan satu-satunya harapan baginya adalah perahunya itu. Biarpun perahunya akan terbalik, tetap saja perahu kayu itu takkan tenggelam dan akhirnya tentu akan terapung juga. Kalau dia tidak terlepas dari perahu, dia masih ada harapan untuk menyelamatkan dirinya. Tiba-tiba, sebuah gelombang atau lebih tepat disebut anak gelombang yang nakal memegang perahu dan melontarkannya ke atas bagikan seorang anak kecil melontarkan sebutir batu kerikil saja. Perahu terlempar ke atas. Dayungnya terlempar keluar dan karena dayung itu terbuat dari baja, maka benda ini jatuh lebih dulu, ditelan gelombnag dan agaknya akan menjadi tontonan bagi penghuni laut. Adapun Kwan Cu yang ikut terlempar ke atas, hampir saja direnggutkan keluar dari perahu pula. Baiknya dia berlaku gesit dan cepat, kedua tangannya memeluk perahu sekuat tenaga dan agaknya hanya maut saja yang kuasa merenggutnya terlepas dari perahu itu! Mati hidup aku harus bersama perahuku ini, pikirnya nekat. Perahu bersama Kwan Cu terhempas kembali ke dalam air, disambut oleh gelombang, diputar-putarkan, dipermainkan, dikocok ke sana ke mari dengan hebatnya. Kwan Cu masih memeluk perahu, kadang-kadang ia berada di atas perahu, kadang-kadang dia berada di bawah perahu dan hanya dapat menahan napas lalu berusaha membalikkan tubuhnya sehingga berhasil di atas perahu, kadang-kadang dia dan perahunya lenyap ditelan gelombang dan timbul pula di tempat lain. Siksaan ini dibarengi dengan bunyi-bunyian yang luar biasa dan yang membuat pemuda itu merasa seakan-akan dia telah berada di dasar neraka. Satu keanehan terjadi. Ketika dia dipermainkan oleh gelombang menderu, tiba-tiba dia teringat akan sesuatau dan seakan-akan terbayang dalam ingatannya suatu pengalaman yang hampir sama dengan pengalaman yang sedang dia alami sekarang ini. Tiba-tiba saja teringatlah dia betapa dia pernah menjadi permainan gelombang dan ombak seperti ini, teringat pula betapa orang-orang sekapal telah tenggelam ditelan gelombang, betapa kapal itu karam dan membawa pula dua orang yang kini terbayang di depan matanya. “Ayah…! Ibu…!” tiba-tiba Kwan Cu memekik keras. Kini terbayanglah seorang laki-laki dan seorang wanita dan baru sekarang dia tahu bahwa wajah-wajah ini adalah wajah-wajah ayah bundanya yang tewas dalam amukan gelombang! Tahulah dia sekarang mengapa dia ditemukan oleh Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu dan dianggap sebagai “anak laut”. Ayah bundanya tewas di lautan dan agaknya dia sendiripun akan mengalami nasib yang sama.

“Ayah….Ibu….tolonglah anakmu…” ia berbisik. Kemudian timbul marahnya kepada gelombang dan laut. “Kakek laut tak mungkin kau dapat menewaskan aku!” pekiknya nyaring sambil memeluk perahu itu erat-erat. Sebagai jawaban, sebuah gelombang yang besar mengangkat perahunya dan melemparkan perahu itu ke atas jauh dari situ. Kwan Cu ikut terlempar, akan tetapi kini terbangun semangatnya untuk melawan gelombang yang sudah menewaskan kedua orang tuanya, timbul semangatnya untuk berjuang menghadapi kekuatan alam ini, untuk hidup. “Kakek gelombang, setelah membunuh orang tuaku, tak mungkin kau dapat membunuhku pula. Orang tuaku akan mencegahmu!” teriaknya berkali-kali. Kwan Cu bagaikan gila. Biarpun dia diterima oleh gelombang lain, dilemparkan dan diterima kembali seperti sebuah bal dalam sebuah permainan serombongan anak-anak nakal, dia tetap bersemangat, bahkan kini dia tidak merasa takut sedikitpun juga. Rasa takutnya berubah menjadi kegembiraan!

“Kakek laut, mari kita bermain-main!” serunya berkali-kali. “Mari kita berkelahi sebagai laki-laki kalau kau memang jantan!” Demikianlah, biarpun sedang dipermainkan oleh gelombang laut dan taufan menghebat, sedikitpun Kwan Cu tidak merasa takut, sebaliknya dia menantang dan merasa gembira. Hal inilah yang sesungguhnya menolong nyawanya. Orang-orang yang menghadapi maut, kalau dia dapat berlaku tenang dan tak putus asa, akalnya akan bertambah dan dia tidak menjadi gugup. Demikianpun Kwan Cu, kegembiraan dan semangatnya membuat dia tahan menderita, bahkan tenaganya menjadi besar dan kini dia mulai mempergunakan kaki tangannya untuk memukul dan mendorong ombak, mencari jalan bagi perahunya agar meluncur ke tempat yang aman. Memang, kalau diperhatikan di antara gelombang yang menghebat itu, terdapat air yang tenang yakni air yang berada diantara dorongan dua gelombang yang membalik. Kwan Cu berjuang mati-matian dengan hati gembira, sambil menantang-nantang gelombang dan akhirnya dia berhasil mendorong perahunya ke tempat yang agak aman, yakni yang gelombangnya tidak begitu besar. Ia berhasil membalikkan perahunya dan duduk di dalam perahu. Memang betul di situ masih ada ombak menyerang, akan tetapi dengan kedua tangannya di pinggir perahu menekan-nekan dan mendorong-dorong air, dia dapat mencegah perahunya berputar dan dapat beristirahat sejenak setelah menjadi permainan ombak yang membuat tenaganya habis dan tubuhnya lelah sekali.

Ia tidak tahu bahwa gelombang tadi telah membawa perahunya ke tengah laut dan telah membawa dia jauh sekali dari tempat di mana dia bertemu dengan taufan. Juga Kwan Cu tidak merasa lagi bahwa dia tadi telah berhadapan dengan maut dalam waktu yang amat lama. Tiba-tiba saja seperti datangnya, taufan berhenti, laut tenang sekali. Kwan Cu tidak tahu bahwa gelombang tadi sebetulnya hanya “lewat” saja dan kini taufan yang mengamuk itu masih mengamuk hebat di tempat lain. Setelah air laut menjadi tenang, tenang pula hati Kwan Cu dan barulah pemuda ini tahu bahwa amukan taufan tadi begitu lama sehingga waktu itu telah menjelang senja! Hal ini dapat dia duga dari keadaan matahari yang telah tenggelam di barat, meninggalkan sinar melayu dan di timur sudah nampak bulan pudar seperti wajah seorang dara jelita yang sedang sakit dan pucat. Langit bersih sekali, laut tenang dan benar-benar mengherankan. Tiba-tiba Kwan Cu menjadi muak dan tak tahan pula dia muntah-muntah di luar perahu. Tadi di waktu di ombang-ambingkan oleh gelombang, dia merasa gembira, kini setelah keadaan menjadi tenang, dia bahkan merasa tidak enak dan mual sekali. Akan tetapi, tidak banyak yang dimuntahkan karena semenjak malam tadi, semenjak makan daging ikan Kilin bersama Kong Hoat dan ibunya, dia tidak makan apa-apa lagi. Perutnya mulai berkeruyuk minta isi, akan tetapi di tengah laut itu, dari mana dia bisa mendapatkan makan? Ia teringat akan daun Liong-cu-hio pemberian Liok-te Mo-li. Tak terasa tangannya meraba punggung dan dia girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa bungkusan pakaiannya masih terikat di punggung dan bahwa bungkusan daun mujijat itu pun masih berada di situ, sungguhpun kesemuanya itu basah kuyup seperti tubuh dan pakaiannya yang dipakainya. Tiba-tiba, bagaikan sebuah layar hitam dibuka yang tadinya menyembunyikan sesuatu yang dirahasiakan, dia melihat bayangan sebuah pulau yang penuh dengan pohon-pohon tinggi besar. Ia menjadi girang bukan main. Di sanalah terdapat makanan, pikirnya. Dengan penuh semangat, Kwan Cu lalu mempergunakan kedua tangannya untuk digerakkan seperti dayungnya. Perahu meluncur ke depan, menuju pulau itu, makin terheran-heranlah Kwan Cu. Ketika tadi untuk pertama kalinya dia melihat pulau itu, pohon-pohon yang telah kelihatan amat besar dan karenanya dia menjadi dan mengira bahwa pulau itu tentulah sudah dekat, akan tetapi, biarpun perahunya jelas mendekati pulau dan daratan makin nampak nyata, ternyata bahwa pulau itu masih jauh dan kini pohon-pohon telah kelihatan begitu besar sampai-sampai Kwan Cu beberapa kali menggosok kedua matanya.

“Apakah aku bermimpi? Ataukah mataku yang sudah tidak beres lagi? Kalau tidak bermimpi dan mataku tidak rusak, tentu otakku yang sudah menjadi berubah dan tidak waras lagi!” Tidak mengherankan kalau Kwan Cu berkata demikian, karena apa yang dilihatnya memang sukar untuk dapat diterima oleh akal sehat. Setelah perahunya makin dekat, dia melihat daratan yang luar biasa luasnya dan yang paling hebat adalah pohon-pohon yang dari jauh sudah nampak besar-besar tadi. Kini setelah dekat, pohon-pohon itu ternyata luar biasa besarnya dan biarpun Kwan Cu sudah banyak merantau dengan suhunya serta sudah sering kali memasuki hutan-hutan besar liar di mana tumbuh pohon-pohon besar yang sudah ratusan tahun usianya, namun selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan pohon-pohon sebesar yang tumbuh di pulau itu! Makin dekat, makin heranlah dia karena nampak kehijauan yang tinggi seperti alang-alang! Pulau setan apakah yang berada di hadapanku itu? Akan tetapi tidak dapat lama dia mengagumi dan mengherankan pemandangan di atas pulau yang ternyata luas sekali itu, karena cuaca telah menjadi gelap dan kini yang nampak hanyalah pohon-pohon raksasa yang kelihatan tinggi besar dan hitam menyeramkan dengan latar belakang langit yang pucat. Kwan Cu sudah lelah sekali, bukan karena kehabisan tenaga karena pemuda yang sudah mendapat gemblengan hebat dari Ang-bin Sin-kai ini telah dapat mengatur pernapasannya sehingga tenaganya telah kembali pulih lagi. Akan tetapi, perutnya yang lapar dan perih itulah yang membuatanya lemas dan letih kalau saja dia tadi tidak muntah-muntah, agaknya dia takkan begitu letih. Sudah seringkali dia berpuasa, tiga hari tiga malam tidak makan saja baginya belum apa-apa. Cuaca makin gelap dan hanya dengan bayangan pohon-pohon besar sebagai petunjuk, Kwan Cu terus mengayuh perahunya dengan kedua tangannya ke darat. Namun air laut yang berkeriput itu tidak dapat menerima sinar bulan dengan baik sehingga nampak air menghitam, hanya berkilau di sana-sini. Tiba-tiba perahu Kwan Cu tertahan oleh sesuatu yang berat. Kwan Cu mendorong air agar perahunya menyingkir dari penghalang itu. Ia mengira bahwa perahunya tentu terhalang oleh batu karang yang tidak dapat dilihatnya dalam kegelapan itu. Akan tetapi langkah kagetnya ketika tiba-tiba “batu karang” itu bergerak-gerak! Karena tertarik hatinya, Kwan Cu mengulur tangannya untuk mendorong “batu karang” yang dapat bergerak-gerak itu. Hampir dia berteriak ketika jari-jarinya menjamah benda yang lunak, seperti…….seperti tubuh seorang makhluk. “Tentu ikan yang terdampar ke pantai,” pikirnya menetapkan hatinya yang berdebar. “Ooleihaaaaiii…!!” terdengar “batu karang” atau “ikan” itu berteriak keras sekali. Kwan Cu tersentak kaget sehingga hampir saja dia terjungkal ke dalam air. Ia kemarin malam sudah merasa heran sekali menyaksikan ikan Kilin yang ditangkap oleh Kong Hoat, karena selamanya belum pernah melihat ikan seaneh itu. Akan tetapi sekarang, mendengar seekor ikan besar bisa mengeluarkan suara “ooleihaaaiii…..!” dengan suara seperti manusia, benar-benar membuat dia merasa ragu-ragu apakah benar-benar dia belum menjadi gila!

Dengan hati-hati kembali dia kembali mendekatkan tangannya ke depan. Kini menghadapi sesuatu yang begini aneh, dia untuk sementara lupa kepada pulau itu dan belum ingin mendarat sebelum menyelidiki lebih dulu sebetulnya ikan macam apakah yang bisa mengeluarkan suara seperti itu. ‘Hayalieee…!” Kwan Cu menarik kembali tangannya seperti dipagut ular dan merasa bulu tengkuknya berdiri satu demi satu. Bukan main! Tak mungkin ada ikan bisa mengeluarkan suara seperti itu. Akan tetapi rasa keingintahuannya melebihi rasa ngerinya. Ia mendorong air sehingga perahunya maju dan kini dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkap ke depan. Ia berlaku hati-hati sekali dan menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan sikap siap sedia kalau-kalau “ikan” itu, akan menggigitnya tentu dia akan cepat memukul. Akan tetapi, keheranannya memuncak ketika kedua tangannya dengan tepat sekali kena memegang dua buah telinga manusia yang besar sekali. Saking kagetnya, Kwan Cu tidak melepaskan kedua buah telinga itu, sebaliknya dia memandang ke depan dengan mata terbelalak sambil mengerahkan seluruh tenaga pandangan matanya. Kebetulan sekali bulan agak terang cahayanya. Ia mula-mula melihat sepasang mata lebar yang mengkilap. Kemudian, kelihatanlah olehnya sebuah kepala manusia yang besarnya empat atau lima kali kepala manusia biasa! Kepala ini gundul dan sedikit rambut kepala diikat. Kulit muka dan kepala hitam sekali, dan inilah yang membuat kepala ini tidak kelihatan di dalam gelap! “Seorang manusia!” pikir Kwan Cu dengan girang. Di tempat yang aneh seperti itu, pertemuan dengan seorang manusia, bagaimanapun anehnya manusia itu, amat menggirangkan hatinya. Untuk sesaat dia lupa bahwa manusia berkulit hitam ini mempunyai kepala yang luar yang luar biasa sekali besarnya. “Saudara siapakah? Dan mengapa malam-malam berada di laut? Apakah saudara sedang mandi? Maaf kalau perahuku menganggumu.” Demikianlah pemuda itu bicara dengan gembira sambil melepaskan pegangan kedua tangannya pada telinga orang.

Sebaliknya, muka yang besar itu memandang kepada Kwan Cu dengan mata terbelalak lebar dan mulutnya yang berbibir lebar itu mengeluarkan kata-kata yang sama sekali asing bagi telinga Kwan Cu. Ketika kepala ini bicara, kadang-kadang nampak deretan gigi yang besar dan putih berkilat dari balik bibir tebal. Mendengar ucapan orang orang itu, teringatlah Kwan Cu bahwa orang ini tentulah seorang dari suku bangsa yang tidak mengerti bahasa Han dan yang mempunyai bahasa daerah sendiri. Maka ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Maaf, aku tidak mengerti bahasamu dan kau agaknya tidak mengerti pula apa maksud kata-kataku. Maafkan aku tidak mengganggu lebih lama, karena aku hendak mendarat.” Sambil berkata demikian, Kwan Cu menggunakan jari telunjuknya untuk menuding ke arah darat. Setelah itu, pemuda ini lalu menggunakan tangan untuk mendayung perahunya ke pinggir. Akan tetapi, tiba-tiba orang yang terbenam di air sampai lehernya itu, menggerakkan leher dan tahu-tahu sepasang lengan yang besar dan panjang sekali timbul dari permukaan air dan diletakkan di atas perahu Kwan Cu. Sepasang lengan yang hitam dan besar panjang itu mempunyai tenaga yang amat kuat sehingga ketika menindih perahu-perahu kecil itu tertindih hampir tenggelam! Kwan Cu terkejut sekali, bukan oleh tenaga tindihan ini, melainkan oleh besar dan panjangnya lengan yang berotot besar itu. Baru dia teringat akan besarnya kepala di permukaan air. Sampai lama dia melihat kepala dan lengan orang hitam itu dan dengan bulu tengkuk berdiri dia membayangkan betapa tingginya orang ini. Seorang raksasa yang belum pernah didengarnya dalam buku dongeng, apalagi dilihatnya! Kemudian dia melihat bahwa pergelangan dua tangan itu terbelenggu oleh rantai baja yang kuat, dan mendengar suara orang itu, tahulah dia bahwa orang itu minta tolong kepadanya agar suka membuka belenggu itu.

Teringatlah Kwan Cu akan sebuah dongeng yang dibacanya dari buku kuno, dongeng yang terjadi di tanah barat. Di dalam dongeng itu diceritakan betapa seorang anak laki-laki membebaskan seorang jin dari belenggu, akan tetapi setelah dibebaskan, jin itu bahkan hendak memakan anak itu. Dongeng itu singkatnya begini: Seorang bocah nelayan menjala ikan di laut. Tersangkut di dalam jalanya bukannya ikan-ikan besar, melainkan pundi-pundi yang tertutup mulutnya. Karena ingin tahu apa isinya, dibukanya sumbat mulut pundi-pundi itu. Apa isinya? Bukan emas permata atau harta benda, melainkan asap hijau yang bergulung ke atas kemudian membentuk ujud yang mengerikan, yakni seorang jin raksasa. Kemudian jin raksasa itu hendak menjadikan anak itu sebagai mangsanya. Anak itu mendapat akal dia berpura-pura heran dan tidak percaya bahwasannya seorang raksasa begitu besar bisa masuk ke dalam pundi-pundi yang demikian kecilnya. Dikatakannya kalau raksasa itu mau membuktikan bahwa benar-benar ia dapat masuk ke dalam pundi-pundi, baru dia mau percaya bahwa raksasa itu seorang jin dan dia mau dimakan tanpa perlawanan. Jin raksasa itu tertawa bergelak dan berubah menjadi asap, lalu masuk ke dalam pundi-pundi itu. Anak itu cepat mengambil sumbat dan menutup pundi-pundi kembali seperti tadi sehingga jin itu tidak dapat keluar, kemudian dibuangnya pundi-pundi itu ke dalam laut kembali! Kwan Cu teringat akan dongeng itu. Raksasa yang terbenam di dalam laut ini apakah seorang jin pula? Kalau nanti raksasa ini hendak memakannya, tidak ada akal baginya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi aku bukan anak penakut, pikirnya. Kalau dia bermaksud jahat, aku sanggup melawannya. Orang tinggi besar yang bertenaga kuat seperti dia ini, belum tentu mempunyai kecerdikan. Bukankah dia begitu bodoh sehingga setelah kedua tangannya dibelenggu, dia mandah tinggal di dalam air dan tidak bisa keluar dengan jalan kaki di darat? Ia bodoh sekali dan kasihan, sebagai manusia terhadap manusia lain, aku harus menolongnya. Bukankah dia juga seorang manusia? Dengan berpikir demikian, Kwan Cu mulai berusaha untuk membuka belenggu tangan raksasa itu. Ia melihat betapa bibir yang tebal itu tersenyum ramah ketika dia mulai berusaha membuka belenggu. Agaknya orang hitam besar ini gembira melihat Kwan Cu sudah mengerti akan kehendaknya dan mau melepaskannya daripada belenggu. Akan tetapi, dalam usahanya mengerahkan tenaga, perahu yang diinjaknya bergoyang-goyang sehingga tenaga Kwan Cu buyar, kedua kakinya harus mempunyai landasan yang kuat dan keras. Tanpa banyak pikir lagi dia lalu melompat turun dari perahu ke air. Akan tetapi, segera pemuda ini gelagapan dan kena minum banyak air! Kwan Cu cepat mengerakkan tangan menangkap pinggir perahunya dan cepat mengayun tubuhnya naik kembali ke dalam perahu. Ia menyumpah-nyumpah, memaki-maki diri sendiri. “Bodoh! Tolol! Mengapa aku lupa bahwa raksasa ini bertubuh tinggi sekali? Dia boleh jadi tidak tenggelam, ke air hanya sampai ke lehernya, akan tetapi bagiku tentu terlalu dalam.” Hampir saja dia tenggelam di dalam air yang ternyata masih amat dalam itu! Kwan Cu memutar otaknya. Rantai besi yang mengikat tangan raksasa itu cukup kuat. Ia percaya akan dapat mematahkannya kalau saja dia mendapat landasan kaki yang kuat. Dari atas perahu amat sukar, kalau terlapau banyak dia mengerahkan tenaga, perahu yang diinjaknya itu bergoyang dan meluncur pergi. “Mari kita mendarat!” katanya berulang-ulang kepada kepala itu sambil menuding ke pantai. “Disana akan kulepaskan belenggumu. Kau akan bisa berjalan ke sana?” Akan tetapi raksasa itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil memperlihatkan sepasang lengannya yang terbelenggu, seakan-akan hendak berkata bahwa dengan kedua tangan terbelenggu, tak mungkin dia berjalan ke darat. Alangkah gobloknya, Kwan Cu menyumpah-nyumpah dengan gemas. Akhirnya dia mendapat akal. Raksasa itu berdiri di dalam air dengan teguh dan kokohnya seperti batu karang. Mengapa dia tidak menggunakan tubuh raksasa ini sebagai landasan kakinya? Setelah berpikir demikian, dia melompat dari dalam perahu, menubruk ke arah raksasa itu dan bergantung pada pundak yang lebar itu, kedua kakinya hanya sampai di perut! Cepat Kwan Cu menginjakkan kedua kakinya pada pinggang raksasa itu tanpa mempedulikan protes dari si raksasa dan kini kedua tangannya dapat bekerja baik. Ketika dia mengerahkan tenaga beberapa lamanya, akhirnya terlepaslah belenggu itu! “Yoleihi, yoleihi!” raksasa itu berkata keras berkali-kali dan kelak tahulah Kwan Cu bahwa raksasa itu bermaksud menyatakan terima kasih kepadanya. Setelah itu, raksasa hitam itu lalu berenang ke tepi pantai dengan gerakan kedua lengannya yang kuat.

“Tolol, dia begitu tinggi, mengapa tidak mau berjalan kaki saja ke pantai ketika tangannya terbelenggu tadi, sebaliknya menanti tangannya bebas untuk dapat berenang ke darat? Tolol sekali orang itu.” Sambil bersungut-sungut ini, Kwan Cu mendayung perahunya ke darat dan setelah dia tiba di darat, barulah dia melihat kenyataan yang membuat pemuda ini menghentikan makiannya terhadap si raksasa, sebaliknya dia tiada hentinya memaki diri sendiri sebagai orang bodoh dan tolol dengan hati geli. Ternyata bahwa raksasa itu setibanya di darat, sibuk menggunakan sepasang tangannya yang kuat untuk melepaskan belenggu yang mengikat pergelangan kedua kakinya. Itulah sebabnya mengapa tadi dia berdiri saja di laut dan tidak berdaya sama sekali. Untuk berjalan ke darat, kedua kakinya terikat, untuk berenang, sepasang lengannya terbelenggu! Ketika Kwan Cu mendarat dan menarik perahunya ke pantai, raksasa itu masih sibuk menarik-narik belenggu yang mengikat kakinya. Melihat ini, Kwan Cu lalu mendekati dan menggunakan tangannya membantu. Sekali renggut saja, terlepaslah belenggu itu. “Yoleihi, yoleihi…! Dasa alihee teelu…” kata raksasa itu dengan pandang mata kagum sekali. Ia menyatakan terima kasih dan kagum akan kekuatan Kwan Cu yang dengan sekali renggut telah berhasil mematahkan kakinya. Akan tetapi Kwan Cu tidak memperhatikan kata-kata raksasa ini karena dia memang tidak mengerti artinya sama sekali. Sebaliknya dia kini mengagumi apa yang dilihatnya di dalam cahaya bulan. Pertama-tama dia kagum sekali melihat raksasa hitam yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan kedua kaki terpentang. Biarpun dia telah dapat menduganya, namun melihat tubuh raksasa ini kurang lebih dua setengah atau tiga kali manusia biasa dengan lengan berbulu dan otot-otot memenuhi tubuh yang bidang dan kuat sekali. Rambutnya hanya sedikit, diikat di tengah-tengah kepala dan pakaian yang menutup tubuh hanyalah sehelai cawat dan ikat pingang, terbuat dari pada kain yang tebal. Selain bentuk tubuhnya yang besar dan tinggi, selebihnya tidak ada yang luar biasa, melainkan sama saja dengan orang biasa. Raksasa itu memandang kepada Kwan Cu dengan ramah, kemudia dia mengulur tangannya dan memegang tangan pemuda ini. Kwan Cu terkejut dan teringat akan dongeng tentang jin, akan tetapi dia tidak takut lagi. Di darat dia tak usah takuti raksasa ini dan dia lalu teringat bahwa raksasa itu terbelenggu di tengah laut tentu ada sebabnya. Atau lebih tepat, tentu ada orang lain yang melakukan hal itu. Dengan demikian besar sekali kemungkinannya bahwa di pulau yang aneh ini tentu terdapat makhluk lain yang jahat, karena hanya orang jahat saja yang mau melakukan siksaan terhadap raksasa ini dengan membelenggu kaki tangannya dan membiarkan dia terbenam di dalam laut. Dari pada bertemu dan dimusuhi oleh orang-orang jahat itu, lebih baik dia ikut dengan raksasa yang tersenyum ramah kepadanya ini. Maka berjalanlah Kwan Cu sambil digandeng tangannya oleh raksasa itu. Di sepanjang jalan, tiada hentinya Kwan Cu mengagumi segala sesuatu yang serba besar di pulau itu. Dari pohon-pohonnya, tanaman-tanamannya, sampai rumput dan batu, bahka katak yang dilihatnya berlompatan di dalam hutan, serba besar, kurang lebih tiga kali ukuran biasa! Yang mengherankan hatinya, biarpun tubuhnya besar, akan tetapi suara raksasa ini tidak lebih keras daripada suara manusia biasa, sungguhpun lebih besar dan parau. Adapun raksasa itu tidak kalah herannya dari pada Kwan Cu sendiri. Ia memandang kepada “orang kecil” ini dan sering tertawa bergelak dengan nada geli, membuat Kwan Cu menjadi mendongkol juga. “Kau mentertawakan aku, sebaliknya kau pun akan menjadi tontonan yang menggelikan kalau kau tiba di duniaku. Kau dan aku mana lebih tahu tantang kebaikan dan keburukan? Yang besar mencela terlalu kecil, yang kecil bilang terlalu besar, memang demikian sifat manusia, tak dapat menerima kekuasaan alam yang serba gaib.” Biarpun Kwan Cu berfilsafat dengan seribu kata-kata, mana raksasa itu dapat mengerti? Sebaliknya, ketawanya makin terbahak-bahak, seakan-akan kata-kata dan bahasa Kwan Cu amat aneh dan menggelikan, seperti suara burung hantu yang aneh sekali. Akan tetapi, ketika melihat betapa Kwan Cu tidak tertinggal oleh langkahnya yang lebar, raksasa itu makin terheran. Langkah raksasa itu sedikitnya tiga kali lebar langkah orang biasa, namun karena Kwan Cu mempergunakan ilmu lari cepat, dia sama sekali tidak tertinggal. Raksasa itu penasaran, melepaskan tangan Kwan Cu dan berjalan lebih cepat, namun tetap saja Kwan Cu dapat berjalan di sebelahnya tanpa sukar sedikitpun juga. Raksasa itu mulai berlari, namun sambil tertawa geli Kwan Cu tetap dapat menyusulnya, bahkan kalau dia mau dengan mudah Kwan Cu dapat meninggalkannya! Akhirnya tibalah mereka di sebuah dusun yang berada di tengah pulau. Dari jauh sudah kelihatan api penerangan dan terdengar oleh Kwan Cu suara tangis orang riuh rendah seperti sebuah dusun yang sedang dirundung kemalangan hebat. Raksasa itu tertawa geli dan berkata-kata kepada Kwan Cu, akan tetapi tentu saja Kwan Cu tidak mengerti sama sekali. Diam-diam Kwan Cu menjadi girang sekali bahwa di tempat itu terdapat dusun dan orang-orang, juga wanita-wanita seperti yang dapat dia dengar suara tangisnya. Kalau begitu tentulah ada sekelompok suku bangsa tinggal di tempat ini dan hal ini menjadi hiburan baginya karena selain dapat bertemu dengan sesama manusia, dia tentu akan mudah mendapat makan dan siapa tahu kalau-kalau mereka akan dapat memberi petunjuk di mana adanya pulau berpohon putih yang dicari-carinya.

Dusun itu mempunyai banyak pondok-pondok kayu yang besar-besar dan kokoh kuat. Modelnya sederhana saja namun pembuatannya cukup kuat dan baik, tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah model Tiongkok pesisir timur. Akan tetapi, pada malam hari itu, agaknya sebagian besar dari rumah-rumah itu ditinggalkan penghuninya dan ternyata mereka berkumpul di dalam sebuah rumah yang amat besar dan berada di tengah-tengah dusun itu. Melihat bangunan induk ini, Kwan Cu menjadi bengong.bukan main besar dan kokoh kuatnya bangunan ini, tiada ubahnya istana kaisar sendiri, hanya bedanya bangunan ini seluruhnya terbuat dari pada kayu yang besar-besar. Juga lampu-lampu gantung yang dipergunakan sebagai penerangan pada setiap rumah di dusun itu terbuat dari pada kayu. Sebagai pengganti kaca dipergunakan semacam kulit ikan yang tipis dan dapat di tembusi oleh sinar api. Nyala api tetap terang, dan ternyata bahwa orang pun mempergunakan minyak untuk lampu-lampu ini!

Raksasa membawa Kwan Cu langsung ke sebuah ruangan lebar di mana berkumpul semua orang-orang laki perempuan yang kesemuanya adalah raksasa bertubuh tinggi besar. Mereka ini duduk bersimpuh, ada pula yang berlutut menghadapi sebuah meja besar di mana dipasang lilin seperti orang melakukan semacam sembahyangan. Ketika raksasa itu muncul di bawah penerangan lampu besar, semua orang menengok dan terjadilah sesuatu yang mengherankan hati Kwan Cu. Pemuda ini melihat orang laki-laki serentak mundur, bahkan ada yang melarikan diri, ada pula yang menjatuhkan diri berlutut kepada raksasa hitam yang baru datang. Orang-orang wanita menjadi pucat dan menjerit-jerit ketakutan seperti melihat setan! Terdengarlah pekik-pekik ketakutan dan suara orang kalang kabut. Raksasa itu mengangkat kedua tangannya dan berkata-kata dengan suara yang berpengaruh seakan-akan menghibur. Setelah dia selesai berkata-kata, semua orang berlutut dihadapannya dan dari rombongan wanita, berlari keluar seorang gadis raksasa yang bertubuh tinggi ramping dan berwajah halus dan boleh dibilang cantik, biarpun kulitnya kelihatan kehitaman dan tubuhnya juga tinggi besar. Namun jika dibandingkan dengan yang lain, ia termasuk kecil dan masih muda sekali. Sambil menangis, gadis raksasa ini menubruk raksasa itu dan keduanya berpelukan. Kini semua orang yang berada di situ nampak girang, senyum timbul di wajah mereka yang rata-rata membayangkan kejujuran. Tiba-tiba seorang wanita menjerit sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Kwan Cu. Keadaan menjadi geger setelah semua orang melihat pemuda kecil kate ini. Agaknya baru sekarang mereka melihat Kwan Cu dan terdengar suara-suara diiringi suara ketawa geli. Orang-orang perempuan tertawa terkekeh dan orang-orang lelaki tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Kwan Cu. Kwan Cu menjadi mendongkol sekali. Ia membanting-banting kedua kakinya dan dalam kegemasannya lupalah dia akan perutnya yang lapar. “Sudahlah, sudahlah, aku bukan badut! Kalau kalian tidak suka melihat aku, aku pun tidak sudi berada disini terlalu lama.” Sambil berkata demikian, dia hendak pergi dari situ. Tidak sudi dia dijadikan bahan tertawaan oleh semua orang itu hanya karena dia bertubuh normal! Akan tetapi raksasa hitam yang agaknya jadi kepala mereka itu, mengulur tangan mencegah dia keluar, kemudia raksasa ini mengangkat tangan memberi tanda kepada semua orang supaya berhenti tertawa dan bicara panjang lebar. Agaknya dia menceritakan pengalamannya dan menceritakan betapa Kwan Cu telah menolongnya. Hal ini dapat diduga ketika semua orang kini memandang ke arah Kwan Cu dengan kagum sekali. Dan tiba-tiba gadis raksasa yang tadi memeluk raksasa hitam itu, berlari mendekati Kwan Cu, menggunakan kedua lengannya yang berkulit hitam halus dan panjang itu untuk memeluk Kwan Cu lalu…..mencium hidungnya! Hampir saja Kwan Cu berlari keluar saking malu dan jengahnya. Ia memberontak dengan halus, melepaskan diri dari pelukan gadis raksasa itu dan berdiri dengan muka merah sampai ke telinganya! Ia melihat semua orang tertawa-tawa. Kini orang-orang wanita yang berpakaian cukup sopan, yakni dengan semacam kain berkembang tebal di selimutkan dari pundak menutup leher sampai kelutut, datang mengerumuninya. Ia sudah merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau semua wanita ini akan memeluk dan menciuminya. Akan tetapi dia merasa lega sekali ketika ternyata mereka hanya mendekatinya, meraba-raba tangan dan kakinya, bahkan ada yang melepaskan kalung dan gelang dari emas tulen dan memberikan perhiasan itu kepadanya sebagai tanda kagum!

Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala Kwan Cu menolak semua hadiah itu dengan halus. Raksasa hitam yang ternyata adalah raja suku bangsa ini lalu memberi perintah dan bubarlah semua orang. Mereka sibuk bekerja dan pada malam hari itu juga di ruangan ini diadakan pesta untuk menghormat raja dan Kwan Cu! Pemuda ini mendapat kenyataan bahwa tidak semua raksasa berkulit hitam arang seperti kepalanya. Ada yang agak putih walaupun bagi bangsa Han masih termasuk hitam, bahkan wanita-wanitanya rata-rata mempunyai kulit yang hitam-hitam manis. Meja sembahyang yang tadi dipasang di tengah ruangan, dibawa pergi dan sebagai gantinya dipasang meja besar yang mewah. Ketika orang sibuk menghias meja ini, Kwan Cu melompat dari tempat duduknya karena dia melihat di antara kain-kain berwarna yang dipergunakan untuk menghias meja makan yang panjang dan lebar itu, terdapat sajak-sajak yang tulisannya sama dengan tulisan yang dipergunakan dalam kitab sejarah Gui-siucai atau dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Ia membaca sajak kuno itu dan cepat berpaling kepada raksasa hitam yang juga memandangnya dengan heran. Ketika Kwan Cu menunjuk kepada sajak-sajak itu seakan-akan bertanya, raja-raja raksasa itu lalu membaca sajak-sajak tadi, akan tetapi dengan bahasa yang sama sekali asing bagi Kwan Cu. Kemudian Kwan Cu lalu membaca sajak itu keras-keras dan kini giliran raja raksasa itu untuk memandangnya dengan bingung. Kwan Cu mendapat akal baik, lalu dia menggunakan jari tangannya untuk menggurat-gurat meja yang halus. Sambil mengerahkan lweekangnya dia dapat menulis beberapa huruf dari tulisan kuno itu yang berbunyi. “Apakah kau dapat membaca tulisanku ini?” Raja raksasa terkejut sekali nampaknya lalu berteriak keras. Semua orang yang sibuk membereskan tempat itu, pada lari mendatangi dan mereka semua, laki-laki dan perempuan dapat membaca tulisan tangan Kwan Cu di atas meja itu. Mereka bersorak-sorak girang dan raja itu lalu memberi perintah. Seorang diantara mereka berlari mengambil alat tulis berupa pisau runcing dan lembaran kulit pohon yang di dalamnya putih dan halus. Dengan pisau itu, memang amat mudah dan enak untuk menuliskan huruf di sebelah dalam lebaran kulit pohon.

“Tentu saja kami dapat membaca tulisanmu. Agaknya tulisan kami sama, hanya suara bacaannya yang bikin berbeda.” Raja itu menulis dan bukan main girangnya hati Kwan Cu.

Pesta dimulai dan daging panggang yang dihidangkan membuat hati Kwan Cu berdebar girang, membuat dia mengilar akan tetapi juga baru melihat saja dia sudah merasa kenyang! Daging-daging yang dihidangkan di hadapannya begitu besar dan berbau sedap.

Kini dia dapat “bercakap-cakap” dengan rakyat hitam itu melalui tulisan huruf kuno, dan dia mendapat penjelasan dan penuturan yang amat menarik hati seperti berikut.

Kalau dia yang membacanya, nama raja raksasa itu adalah Lakayong, dan raja ini adalah seorang duda dengan puterinya bernama Liyani, yakni gadis raksasa yang menangis sambil memeluknya tadi, atau juga gadis yang telah memeluk dan mencium Kwan Cu setelah mendengar bahwa pemuda ini telah menolong ayahnya! Suku bangsa raksasa itu menurut mereka disebut bangsa Kuyu, keturunan dari bangsa raksasa yang sudah di sangka lenyap dari daratan tiongkok. Mereka hidup sampai beberapa keturunan di atas pulau besar yang kosong itu. Lakayong diangkat sebagai raja oleh karena dia mempunyai tenaga paling besar dan menurut tradisi mereka, setelah diadakan pertandingan dan Lakayong tak dapat dikalahkan, maka dia diangkat menjadi raja. Jago-jago lain dijadikan pembantu-pembantunya. Di antara pembantu-pembantunya terdapat dua orang raksasa lain yang dalam kepandaian bertempur dan kehebatan tenaga, hanya kalah sedikit oleh Lakayong. Mereka ini bernama Wisang dan Kasang yang oleh Lakayong diangkat menjadi pembantu-pembantunya yang paling berkuasa. Akan tetapi, sudah lama dua orang ini merasa iri kepada Lakayong, dan diam-diam mengandung maksud untuk merebut kedudukan. Apalagi ketika dua orang itu bergantian mengajukan pinangan terhadap Liyani ditolak oleh gadis itu, mereka makin menaruh hati dendam.

Bangsa Kuyu mempunyai kebiasaan yang aneh dan yang sudah menjadi tradisi mereka. Yakni tiap kali bulan muncul, mulai bulan timbul tiga perempat sampai bulat, setiap raja selalu mandi di laut seorang diri, katanya untuk menerima berkah dari Dewa bulan demi kebahagiaan bangsanya. Pada malam hari kemarin, seperti biasa Raja Lakayong mandi di laut memenuhi peraturan tradisi dan minta bekah bagi rakyatnya, tiba-tiba dia diserang oleh dua orang pembantunya, yaitu Wisang dan Kasang. Kalau saja mereka bertempur di darat, agaknya biarpun dikeroyok dua, Raja Lakayong takkan kalah. Akan tetapi pertempuran di air melelahkan. Ia sudah mulai tua sedangkan lawannya masih muda dan pandai berenang. Akhirnya dia kalah, dibelenggu kaki tangannya dan dilemparkan ke laut agar mati tenggelam atau dimakan ikan liar. Kemudian Wisang dan Kasang berlari ke darat, memberi tahu kepada semua orang bahwa ketika sedang mandi di laut, Raja Lakayong telah diserang ikan besar dan bahkan mereka berdua telah berusaha untuk menolong namun tidak berhasil, sebaliknya menderita luka-luka. Padahal luka-luka mereka itu adalah karena pukulan Raja Lakayong yang melawan hebat sebelum dia dikalahkan!

Semua orang menjadi berduka, terutama sekali Layani dan upacara sembahyang segera dilakukan sampai sehari semalam. Adapun kedua orang itu, Wisang dan Kasang, tidak kelihatan lagi. Hal ini karena mereka masih amat akan percaya tahyul dan mereka beranggapan bahwa sebelum sehari semalam, arwah orang yang mati masih berkeliaran untuk menuntut balas pada musuh-musuhnya! Karena itu, selama sehari semalam mereka tidak berani keluar dan bersembunyi di dalam sebuah gua yang gelap agar arwah dari Raja Lakayong tidak dapat mencari mereka! Ini pula sebabnya ketika raja Lakayong muncul pada malam hari itu, kedua penghianat itu tidak kelihatan di situ. Demikianlah penuturan Raja Lakayong pada Kwan Cu.

“Baiknya Dewa Air masih melindungiku,” Raja Lakayong menutur selanjutnya, “sehingga ombak membawaku ke tempat yang dangkal dan dalam keadaan yang setengah mati aku dapat berdiri di dalam air yang tiba sebatas leher. Aku berdiri kuat-kuat agar tidak terguling, karena sekali aku terguling, aku akan mati. Kebetulan sekali kau datang, sahabat baik, dan aku tertolong.”

“Di mana adanya dua orang yang jahat itu? Aku ingin sekali memukul kepala mereka!” tulis Kwan Cu dengan gemas.

Lakayong tertawa bergelak. “Kamu mengagumkan sekali, saudara kecil yang gagah,” tulisnya. “Akan tetapi kau tidak tahu kalau Wisang dan Kasang amat kuat dan tangkas. Di seluruh dusun ini, hanya aku yang mampu menandingi mereka, itupun tak mudah aku lakukan. Mereka kuat sekali, apa daya orang kecil seperti kau?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: