Pendekar Sakti (Jilid ke-18)

Ketika kedua orang itu bercakap-cakap dalam bentuk tulisan, maka semua tulisan itu di baca semua orang ganti berganti dan yang mendapat kesempatan pertama tentu saja Liyani yang memandang kepada Kwan Cu dengan kagum sekali.

“Kau kecil dan lemah, akan tetapi kau gagah perkasa. Aku suka kepadamu,” tulis gadis itu dengan tulisan tangannya yang halus.

Kwan Cu merasa mendongkol karena raja Lakayong agaknya memandang rendah kepadanya.

“Biarpun aku kecil, aku berani menghadapi keroyokan mereka berdua!” tulisnya. Tentu saja tulisan ini menimbulkan kegemparan besar setelah semua orang membacanya. Seorang laki-laki tinggi besar dan kelihatan kuat dan kasar sekali menudingkan telunjuknya kepada Kwan Cu dan berkata-kata dengan keras.

“Dia bilang apa?” Kwan Cu menulis. Akan tetapi Raja Lakayong menggelengkan kepalanya, seakan-akan segan untuk “menerjemahkan” kata-kata itu. Kwan Cu merasa penasaran dan menunjukkan kata-kata pertanyaannya itu kepada Liyani. Gadis ini segera menuliskan jawabannya tanpa mempedulikan ayahnya yang tampaknya melarangnya.

“Dia seorang kuat, dan berkata bahwa bangsa kami selalu jujur dan tidak mau membual, seorang laki-laki yang berani mengeluarkan ucapan membual harus berani pula membuktikannya omongannya itu.”

Membaca jawaban itu, Kwan Cu melompat berdiri. Orang-orang tidak bisa mengikuti gerakannya yang cepat seperti burung terbang. Tahu-tahu semua orang melihat pemuda kecil itu berdiri di depan raksasa muda yang menegurnya tadi dan bertolak pinggang seperti menantang. Raksasa muda tertawa dan mendorong dada Kwan Cu, agaknya hendak menyuruh Kwan Cu duduk kembali. Dorongannya itu sedikitnya ada delapan ratus kati beratnya, menyambar ke arah dada Kwan Cu seperti gajah menyeruduk. Akan tetapi dengan sedikit saja miringkan tubuh, Kwan Cu sudah dapat mengelak dan secepat kilat dia dari samping menekan siku yang mendorong dan membarengi menggunakan kaki untuk menendang belakang lutut raksasa itu. Terdengar raksasa itu berteriak dan tak dapat bertahan lagi ia jatuh tersungkur dengan hidung lebih dulu!

Orang-orang tertegun melihat hal ini, bahkan Raja Lakayong sendiri seperti orang yang tak percaya akan apa yang dilihatnya, sebaliknya Liyani bertepuk tangan memujinya. Raksasa itu bangun kembali dengan penasaran, dari hidungnya yang panjang mengalir darah. Setelah memandang dengan mata yang terbelalak, dia lalu menyerang, kini dengan kedua tangan dipentang lebar dan kemudian memukul kepala Kwan Cu dari kiri dan kanan. Serangan itu dahsyat sekali, akan tetapi bagi Kwan Cu gerakan orang ini amat lambat, mudah saja baginya untuk melangkah mundur sehingga kembali serangan itu mengenai angin kosong. Raksasa itu terheran ketika kedua tangannya memukul angin, maka dengan bernafsu ia menubruk, kini dengan tubuh membungkuk seperti seekor lembu jantan hendak menyeruduk.

Kwan Cu berpikir, bahwa kalau ia tidak memperlihatkan kelihaiannya, tentu ia akan dipandang rendah oleh orang-orang ini. Maka ia menanti kesempatan baik. Ketika lawannya menyeruduk, menyerang dengan kedua tangan dan kepala, ia bergerak cepat sekali, melompat dengan ringan sekali melalui atas kepala lawannya! Semua orang tertegun, akan tetapi raksasa muda itu kebingungan karena tiba-tiba saja ia kehilangan lawannya.

“Bocah cilik, jangan lari kau sembunyi!” teriakannya dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh Kwan Cu. Akan tetapi orang yang berada di situ mengerti dan menjadi geli sekali karena Kwan Cu yang disangka bersembunyi itu sebenarnya telah berada di belakang raksasa muda itu! Kwan Cu tidak mau membuang waktu lagi, dengan gerakan yang cepat sekali dia menggunakan jari tangannya untuk menotok kaki bagian belakang lutut. Ia melihat urat besar dan seketika itu juga raksasa itu jatuh berlutut. Kwan Cu menyerang terus, kini menotok punggungnya dan aneh sekali bagi semua orang dan raja Lakayong karena dengan tiba-tiba raksasa muda itu terguling jatuh dan menangis keras!

Semua orang menjadi gempar dan raksasa itu dikerubung dan ditanyai, akan tetapi ia tidak menjawab melainkan tetap bergulingan dan menangis karena ia telah ditotok jalan darahnya yang membuat semua badan menjadi sakit dan air matanya mengucur keluar tanpa dapat dicegah lagi, ternyata Kwan Cu telah menggunakan Ilmu Silat Sin-ci-tin-san (Satu Jari Merobohkan Gunung)!

Liyani segera menghampiri Kwan Cu. Pemuda ini takut kalau akan dicium lagi maka dia berlaku waspada, siap mengelak kalau-kalau akan dipeluk. Akan tetapi Liyani menghampirinya dengan membawa tulisannya yang ketika ia baca berbunyi,

“Kau apakan dia”

Kwan Cu tersenyum dan membalasnya dengan tulisan

“Tidak apa-apa, hanya memberi pelajaran kepadanya, kau minta menarik lagi kata-kata yang memandang rendah kepadaku dan aku akan menyembuhkannya!”

Gadis itu sambil tersenyum gembira berlari-lari kearah raksasa yang masih menangis bergulingan seperti anak kecil itu, dan menyampaikan pesan Kwan Cu. Raksasa itu berkaok-kaok yang diterjemahkan oleh Liyani.

“Dia sudah kapok dan minta ampun.” Kwan Cu merasa kasihan. Ia menghampiri pemuda raksasa itu, lalu menepuk dan mengurut punggungnya! lenyaplah rasa sakit. Raksasa itu membungkuk kepada Kwan Cu lalu beranjak pergi dari situ dengan malu. Kwan Cu duduk lagi di dekat Raja Lakayong yang memandangnya sambil mengurutkan kening, lalu menulis,

“Kau menggunakan ilmu hoat-sut (ilmu sihir), aku tidak suka akan ilmu curangmu itu, lebih baik menghandalkan tenaga dan berkelahi dengan jujur.”

Kwan Cu dapat memaklumi jalan pikiran raksasa sederhana dan jujur ini. Maka ia lalu menulis dengan panjang lebar.

“Tidak ada kecurangan caraku dalam bertempur, aku lebih menggunakan otak dari pada tenaga. Kalau aku disuruh bertempur menghadapi dia yang jauh lebih besar, apakah itu jujur dan adil namanya? Sama saja seekor kelinci disuruh menghadapi harimau! Tenagaku jauh lebih kecil, maka aku harus menggunakan akal. Aku tadi juga menggunakan pukulan akan tetapi pukulan dengan tenaga sekecilnya yang ditujukan pada bagian yang menyakitkan.”

“Tubuhnya kuat, tak mungkin dengan tenaga kecil dapat menimbulkan rasa sakit.” bantah Lakayong. “Kau keliru.” Jawab Kwan Cu. “di bawah kulit tersembunyi bagian-bagian yang lemah. Kalau kau tidak percaya, coba kau gunakan salah satu jari tanganmu mengetok bagian lututmu ini sendiri.” Sambil berkata demikian Kwan Cu meraba sambungan lutut raksasa itu.

Sambil tersenyum Raja Lakayong mengetokkan jarinya pada bagian itu dan dia berseru kesakitan dan secara otomatis kakinya bergerak ke depan seperti orang menendang karena tersentuh uratnya yang amat perasa. Dengan rasa terheran-heran raksasa itu mengetuknya berkali-kali dan akhirnya Kwan Cu melarangnya karena hal itu dapat berbahaya sekali.

“Jika kau menggunakan pukulan menghantam lawan, mungkin ia tak kan raboh, akan tetapi agak ke bawah kau memukul mengenai sambungan lututnya, pasti ia roboh. Apakah akal ini dapat dikatakan curang?”

Lakayong kagum sekali. Lalu ia minta penjelasan lebih lanjut.

“Mungkin aku akan menghadapi seorang di antara dua orang penghianat itu. Mereka masih muda dan kuat, sedangkan aku sudah tua. Aku kalah tenaga dan aku perlu mengetahui rahasia tubuh ini,” katanya.

Kwan Cu lalu memberi penjelasan sambil memberi contoh, yaitu lebih tepat memukul sambungan siku daripada mengenai lengan, lebih baik memukul sambungan pundak daripada mengenai dada, dan memberi petunjuk berbahaya yaitu leher, ulu hati, lambung dan lain-lain. Raja Lakayong menjadi girang sekali dan hampir sampai pagi ia menerima petunjuk dari Kwan Cu.

“Di mana adanya dia orang jahat itu?” tanyanya.

“Mereka bersembunyi, akan tetapi tidak ada orang yang akan sembunyi terus-menerus, mereka tidak berani meninggalkan pulau dan besok ia akan menghadap juga.”

“Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?”

“Kau akan melihat sendiri besok,” jawab Lakayong sambil tertawa. “Yang sudah pasti, mereka akan menghadapi keputusan yang jujur, sesuai dengan kebiasaan kami.”

Adapun Liyani yang suka kepada Kwan Cu, tiada bosannya mengajarkan bahasa mereka kepada Kwan Cu. Dengan bantuan tulisan mereka yang dimengerti oleh Kwan Cu, dibantu pula oleh otaknya yang cerdik, sebentar saja Kwan Cu sudah dapat mengerti beberapa ucapan terpenting dalam percakapan sehari-hari. Maka mulailah dia bercakap-cakap dengan Liyani dan Lakayong sehingga mereka menjadi gembira sekali.

Melihat Suling yang berada di buntalan Kwan Cu, Liyani bertanya benda apakah gerangan yang aneh itu. Kwan Cu tersenyum lalu meniup sulingnya. Berserabutan orang-orang yang tadinya udah pulang ke pondok masing-masing untuk melihat apakah yang dapat berbunyi demikian aneh dan merdu. Adapun Liyani saking gembiranya lalu menari di hadapan Kwan Cu. Sebuah tarian yang menurut Kwan Cu amat melanggar kesusilaan karena gadis itu menari dengan pinggang bergerak, semacam tari perut !

Atas kehendak Raja Lakayong, pertemuan yang menggembirakan itu dibubarkan untuk memberi kesempatan pada tamunya untuk mengaso. Kwan Cu mendapat kamar yang bersih di dalam gedung besar itu berdekatan dengan kamar Raja Lakayong dan kamar puterinya. Lakayong sebentar saja sudah tidur mendengkur. Juga Kwan Cu yang merasa lelah sekali, tidur melenyapkan keletihannya setelah makan kenyang dan merasa tubuhnya enak dan segar. Lebih dulu ia mengganti pakaiannya yang basah kuyub dengan pakaian yang sudah dia panggang di dekat api unggun sehingga menjadi kering.

Pada keesokan harinya dia bangun dari tidurnya karena suara ketawa terkekeh-kekeh di dalam kamarnya. Ia membuka matanya dan cepat meloncat turun dari pembaringan kayu ketika melihat yang tertawa-tawa itu adalah Liyani yang sudah memasuki kamarnya. Gadis itu telah membuka buntalannya dan sedang melihat-lihat pakaiannya. Celana dan bajunya dipegang gadis itu sambil tertawa-tawa, seperti seorang gadis remaja memegang dan merasa geli melihat pakaian anak kecil! Memang, celana sutra dari pemuda itu ketika dipegang tergantung oleh tangan Liyani hanya kelihatan seperti celana anak kecil saja!

Ketika melihat Liyani mulai membuka bungkusan kuning yang berisi daun Liong-cu-hio, Kwan Cu melompat dan merampas bungkusan itu.

“Jangan sentuh ini!” katanya dalam bahasa Kuyu yang kaku.

Mata yang bening itu terbelalak lebar. Setelah melihat gadis itu di pagi hari, Kwan Cu harus mengaku bahwa Liyani memiliki kecantikan yang khas dari bangsanya. Kulitnya yang kehitaman itu tidak membosankan dan bibirnya yang tebal itu nampak penuh dan manis.

“Mengapa tidak boleh?” tanyanya heran, kejujurannya membuat ia tidak merasa tersinggung.

“Karena benda yang terbungkus kain ini sangat berbahaya, sekali tanganmu menyentuhnya, akan mejadi hangus tanganmu itu.”

Liyani menjadi terkejut sekali dan melangkah mundur.

“Kau orang aneh, barang-barangmu juga aneh. Akan tetapi aku …. aku suka padamu, suka sekali padamu.” Setelah berkata demikian gadis itu keluar dari kamar, meninggalkan Kwan Cu yang berdiri dengan muka merah sekali. Pemuda ini baru berumur enam belas tahun dan selama hidupnya belum pernah berpikir tentang cinta kasih antara laki-laki dan wanita. Tadinya mengira bahwa rasa suka yang dinyatakan berkali-kali oleh gadis raksasa itu adalah rasa suka yang terdapat dalam hati orang bersahabat, namun melihat sinar mata gadis itu yang aneh sekali, membuat dia merasa jengah dan tidak enak hati!

Wanita-wanita pelayan datang membawa air pencuci muka, air minum dan makanan, menyediakan semua itu sambil tertawa-tawa seakan-akan menghadapi sesuatau yang lucu. Kwan Cu mendongkol sekali dan berpikir bahwa dia tidak betah terlalu lama tinggal di pulau raksasa ini karena dia maklum bahwa tubuhnya yang jauh lebih kecil dari pada penduduk di situ akan membuat dia kelihatan sebagai makluk yang aneh dan menggelikan. Ia tidak suka menjadi bahan ketawaan. Namun, minuman yang disediakan amat enak, menghangatkan perutnya sedangkan makanan itu lezat sekali, semacam kue yang manis.

Tak lama kemudian datanglah Raja Lakayong yang nampak sehat dan gembira sekali.

“Saudara kecil yang baik, apakah kau enak tidur?” tanyanya.

Kwan Cu mengucapkan terima kasihnya dalam bahasa Kuyu yang kaku.

“Saudara Kwan Cu, marilah kau ikut aku melihat bagaimana kami mengadakan pengadilan,” kata Lakayong sambil mengandeng tangan Kwan Cu. Ketika mereka tiba di luar, ternyata Raja itu tidak datang seorang diri, melainkan bersama tujuh orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan nampaknya kuat sekali. Mereka ini adalah pembantu-pembantu dari Lakayong.

Kwan Cu berjalan bersama Lakayong menuju ke sebelah Barat di mana terdapat sebuah telaga yang berbentuk bundar dan nampaknya dalam sekali. Air telaga yang biru itu kelihatan tenang, akan tetapi kadang-kadang nampak berombak dan sekali-kali muncullah kepala seekor binatang yang membuat Kwan Cu terheran-heran dan merasa ngeri. Kepala binatang yang muncul di permukaan air telaga itu amat menyeramkan bentuknya seperti seekor singa, liar dan buas, akan tetapi kepala itu besar sekali dan tubuhnya agak panjang karena ekornya yang berambut merah berada jauh di belakangnya. Apakah ini yang disebut naga? Ataukah singa air?

Lakayong mengajak Kwan Cu duduk di dekat telaga, di atas batu-batu hitam yang licin dan agaknya sering kali diduduki oleh Raja ini. Para pembantu yang tujuh orang itu duduk di sebelah kiri.

“Sudah siapkan mereka?” tanya Lakayong pada orang-orangnya.

“Mereka sedang menuju ke sini,” jawab pembantunya dengan hormat.

Betul saja, tak lama kemudian nampak dua raksasa muda yang bertubuh kuat sekali. Mereka berjalan berdampingan seperti dua ekor gajah muda menuju ke tempat itu. Setiba mereka di depan Lakayong, dua orang itu lalu berbungkuk dengan hormat.

“Kalian sudah mendengar keputusanku!” kata Lakayong dengan kata dingin. “Karena di antara kamu tidak ada yang mengaku merencanakan pengkhianatan itu, kalian harus menyatakan kemenangan dengan bertanding di atas batu jamur. Yang kalah menjadi mangsa singa telaga, yang menang akan berhadapan dengan aku sendiri!”

“Kami mengerti!” jawab dua orang itu dengan gagah dan mata mereka memandang ke arah Kwan Cu penuh kebencian sehingga pemuda ini menjadi kaget.

Tujuh orang pembantu segera menyediakan sebuah perahu besar dan dua orang raksasa muda itu menunggang perahu menuju tengah-tengah telaga. Kwan Cu melihat bahwa di tengah telaga itu terdapat sebuah batu karang yang bentuknya aneh seperti jamur besar. Tahulah dia bahwa dua raksasa muda itu harus bertanding di atas batu karang itu.

“Apakah mereka yang bernama Wisang dan Kasang?” tanyanya kepada Lakayong.

Raja raksasa itu mengangguk dengan tersenyum.

“Benar, merekalah pengkhianat-pengkhianat itu. Sayang sekali, mereka sebetulnya merupakan dua orang muda yang paling cakap yang gagah di antara suku bangsa kami.”

“Masih lebih baik mempunyai pembantu kurang cakap akan tetapi jujur daripada pembantu cakap akan tetapi khianat,” kata Kwan Cu.

“Kau betul sekali, saudaraku, cocok dengan pendirianku. Oleh karena itulah maka aku menjatuhkan hukuman itu kepada mereka.

Diam-diam Kwan Cu mengagumi kesederhanaan dan kejujuran orang-orang ini. Mana ada hukuman seperti itu, yang menjadi pesakitan sama sekali tidak di tangkap, dibiarkan bebas begitu saja. Namun tetap saja mereka datang menyerah! Dan alangkah anehnya hukuman itu. Keduanya disuruh bertanding dan yang menang akan mendapat kesempatan bertanding dengan raja Lakayong!

“Bagaimana kalau dengan pertandingan kedua nanti kau kalah?” tanya Kwan Cu.

“Aku kalah? Tak mungkin. Apalagi setelah mendapat petujuk darimu tentang bagian-bagian tubuh yang lemah, biarpun dikeroyok dua oleh mereka, aku akan dapat merobohkan mereka,” kata Lakayong sambil ketawa gembira.

“Akan tetapi, andaikata kau tetap kalah?” Kwan Cu mendesak.

“Kalau aku kalah? Tak bisa lain tentu pemenangnya akan menjadi Raja dan menikah dengan Liyani.”

Kwan Cu tertegun. Alangkah sederhananya peraturan itu dan menunjukkan bahwa raja raksasa ini sama sekali tidak berlaku sewenang-wenang. Bukanlah kalau dia mau dengan mudah saja dia bisa saja suruh tangkap dan bunuh dua pengkhianat itu? Akan tetapi, mendengar bahwa Liyani akan diperistri oleh seorang pemenang, Kwan Cu menjadi penasaran.

“Bukankah Liyani sudah menolak pinangan mereka?”

“Karena Liyani puteriku maka dia berhak menolak pinangan siapa saja yang dia tidak suka. Akan tetapi, ia tak akan boleh menolak pinangan seorang raja.”

Percakapan berhenti dan kini dua orang raksasa muda itu sudah tiba di batu karang yang disebut batu jamur. Dengan otot-otot kaki tangan mengembung lalu merayap naik keatas batu karang itu. Tidak sembarang orang dapat merayap sepereti itu karena batu karang itu bentuknya seperti jamur dan terjal. Selain sukar, juga amat berbahaya karena Kwan Cu melihat betapa singa-singa telaga telah siap sedia menanti dengan mulut memperlihatkan gigi-gigi tajam di sekitar batu jamur itu! Sekali saja kaki terpeleset dan jatuh ke air, tak kan ada pertolongan lagi.

Setelah kedua orang itu, Wisang dan Kasang, berhasil naik ke atas, mereka berdiri berhadapan seperti dua orang jago berlagak. Siap untuk mulai pertandingan. Penduduk dusun itu semua datang untuk menyaksikan pertandingan ini, dan dari gerak dan suara mereka Kwan Cu dapat menduga bahwa para penonton itu saling bertaruh untuk jago masing-masing. Matahari telah tinggi dan kini semua orang laki-laki perempuan telah berkumpul di pinggir telaga termasuk Liyani mengambil tempat duduk di samping Kwan Cu. Adapun raja Lakayong duduk di sebelah kanan pemuda itu. Raja ini kelihatan gembira sekali. Pertandingan di atas batu jamur jarang sekali diadakan dan semenjak dahulu sudah beberapa keturunan, batu jamur itu hanya dipergunakan untuk bertanding bagi calon-calon raja. Akan tetapi dalam pertandingan calon raja, di sekeliling batu terdapat perahu-perahu besar sehingga kalo ada yang kalah dan jatuh ke bawah, dia tak akan dimakan singa telaga dan melompat ke perahu.

Berbeda dengan pertandingan sekarang ini, karena pertandingan sekarang ini bersifat hukuman, maka setelah kedua orang ini naik, Lakayong memberi perintah supaya perahu besar yang membawa dua orang raksasa muda tadi ke batu jamur, disingkirkan! Dengan demikian berarti bahwa siapa yang kalah akan terkubur di dalam perut singa telaga!

Kemudian Lakayong lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangan dan mulailah kedua orang raksasa itu bertanding! Kwan Cu memandang dengan penuh perhatian. Ia tidak tahu bahwa dua orang raksasa muda yang sedang bertanding menanam kebencian hebat kepadanya. Sebelum dua orang raksasa itu menghadap raja tadi, malamnya mereka telah mendengar dari raksasa yang dikalahkan oleh Kwan Cu tentang semua kejadian. Mereka tahu bahwa yang menolong raja adalah pemuda itu, sehingga boleh dibilang bahwa yang mendatangkan malapetaka dan yang menggagalkan rencana mereka adalah Kwan Cu. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa biarpun kecil, pemuda asing itu memiliki kepandaian bertempur yang mengherankan, kedua orang raksasa muda itu menjadi makin benci dan iri hati.

Pertempuran yang terjadi di atas batu jamur itu ramai sekali. Keduanya sama kuat dan sama tangguh. Pukul-memukul, tendang-menendang dan dorong-mendorong, berusaha sekuat tenaga agar lawannya terlempar jatuh dari atas batu jamur. Memang amat mengerikan dan menegangkan nampaknya. Permukaan batu yang rata itu tidak berapa lebar dan sekali telah terlempar atau tergelincir ke bawah berarti maut menjadi bagiannya!

Kwan Cu melihat betapa kedua orang raksasa muda itu lebih banyak menggunakan tenaga daripada otak. Mereka memiliki kekuatan dan tubuh yang terlindung oleh otot-otot tebal itu menjadi kebal. Pukulan dan tendangan lawan seperti tidak terasa dan dorongan tak cukup kuat untuk dapat merobohkan tubuh yang kokoh kuat itu. Diam-diam Kwan Cu menjadi geli menyaksikan cara mereka bertempur itu. Seperti dua orang anak-anak yang bergulat saja. Kalau dia yang maju, dia percaya bahwa dalam beberapa gerakan saja dia akan dapat mengalahkan mereka.

Para penonton bersorak-sorak, menyoraki jago masing-masing. Ada kalanya Wisang tertindih, ada kalanya Kasang terdesak, akan tetapi keduanya sama kuatnya sehingga pertandingan makin lama makin seru dan mengerikan. Liyani tertawa-tawa gembira dan gadis ini nampaknya senang sekali menyaksikan pertandingan antara dua raksasa itu. Raja Lakayong memandang penuh perhatian dan berkali-kali menganggukkan kepala sambil berkata perlahan kepada Kwan Cu.

“Kau betul, saudaraku. Mereka itu tidak mempergunakan otak dan mereka hanya memukul dan menendang bagian-bagian anggota badan yang mudah untuk dijadikan sasaran saja. Kalau mereka itu menyerang ke arah anggota tubuh lawan yang lemah seperti yang kau ajarkan kepadaku, tentu pertandingan akan selesai dengan cepat. Ah, aku girang sekali karena terbuka mataku bagaimana harus mengalahkan mereka tanpa menghabiskan tenaga!”

Akan tetapi pemuda itu tak segembira Lakayong, bahwa Kwan Cu memandang ke arah pertempuran dengan kening berkerut. Matanya yang tajam dapat melihat hal-hal yang aneh dalam pertempuran itu. Banyak sekali kesempatan-kesempatan dan lowongan baik sekali dilewatkan begitu saja oleh Wisang dan Kasang. Kesempatan yang cukup untuk mereka pergunakan dalam merobohkan lawan. Benar-benarkah mereka begitu bodoh dan buta? Tak mungkin, hanya ada satu jawaban untuk memecahkan jawaban ini, yaitu bahwa kedua orang itu tidak berkelahi sesungguh hati!

“Mereka hanya main-main saja!” katanya penuh curiga. “Mereka tidak berkelahi dengan sesungguhnya!”

Lakayong tertawa dengan bergelak.”Kau lucu sekali, sahabatku. Orang berkelahi mati-matian dan maut sewaktu-waktu dapat merengut nyawanya dan kau bilang bahwa mereka itu hanya main-main saja? Ha,ha ha!”

“Jangan kau menertawakan daku, Raja Lakayong, aku berani bertaruh bahwa sampai matahari tenggelam tak seorang pun di antara mereka yang akan kalah.”

Akan tetapi Lakayong tidak percaya dan demikianlah, pertempuran dilakukan dengan hebatnya. Orang-orang wanita sudah menjadi bosan karena benar saja, setelah senja tiba, belum juga ada yang kalah dan menang. Seorang demi seorang mereka pergi, bahkan Liyani juga pergi dari situ karena mereka ini harus melakukan tugas pekerjaan mereka. Bahkan banyak pula penonton laki-laki pada pergi. Yang masih tinggal di sini adalah hanya Raja Lakayong, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu saja.

Tak lama kemudian pelayan-pelayan datang membawa makanan dan minuman untuk Raja, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu itu dan mereka makan di pinggir telaga sambil menonton pertempuran yang masih saja berjalan ramai itu. Akhirnya matahari terbenam dan sebagai penggantinya, bulan bertahta di angkasa raya. Raja Lakayong malu dan menepuk-nepuk lalu merangkul pundak Kwan Cu dengan tangan kirinya sambil berkata,

“Dugaanmu tidak meleset, saudara kecil. Benar saja sampai bulan muncul, belum ada yang kalah. Mereka berdua sama berani dan sama kuat. Sayang sekali mereka harus dihukum.”

Kwan Cu tidak menjawab. Ia tahu bahwa percuma saja apabila dia berkukuh menyatakan bahwa dua orang itu tidak bertempur sesungguhnya. Ia tahu bahwa Raja ini terlalu jujur sehingga tidak mengerti tentang kepalsuan dan pura-pura, maka tidak dapat pula tidak dapat membedakan pertempuran pura-pura dan pertempuran sesungguhnya.

“Pertempuran terpaksa ditunda sampai besok pagi, dewa bulan tidak suka menyaksikan manusia berkelahi,” kata Lakayong yang memberi isyarat dengan tangannya. Pembantu-pembantunya mendayung perahu besar dan kedua raksasa yang bertempur itu diperintahkan menghentikan dan menunda pertandingan itu untuk diulang kembali besok pagi.

Dua orang raksasa itu kelihatan letih sekali. Tubuh mereka yang tinggi besar itu penuh peluh sampai berkilauan dan kelihatan lemas. Mereka dibawa ke pinggir telaga dan Lakayong berkata,

“Besok dimulai lagi pertandingan kalian pada waktu matahari muncul. Sekarang kalian boleh beristirahat.” Raja ini lalu memberi perintah agar dua orang jago ini dihidangi makanan yang lezat kemudian dia mengajak Kwan Cu kembali ke dusun.

Dugaan bahwa Wisang dan Kasang bertanding dengan pura-pura adalah tepat, karena menurut dua orang raksasa muda ini sengaja bertempur dengan main-main, tidak bermaksud saling mengalahkan. Berbeda dengan kawan-kawannya, dua orang raksasa ini agak lebih cerdik. Mereka maklum bahwa kalau di antara seorang dari mereka menang dan harus menghadapi Lakayong, tetap saja si pemenang itu akan kalah oleh sang Raja yang kuat itu. Oleh karena ini mereka berunding dan mendapat akal. Mereka takkan saling mengalahkan sehingga mereka akan dapat menghadapi Lakayong berdua!

Sementara itu, didalam rumah Raja Lakayong, Kwan Cu bercakap-cakap dengan Raja itu dikawani oleh Liyani.

“Mereka benar-benar mengagumkan, kuat sekali,” kata Raja Lakayong. Kwan Cu merasa tidak ada gunanya dan semenjak tadi memutar otak untuk memecahkan masah itu. Ia juga merasa ngeri kalau membayangkan betapa dua orang raksasa muda yang kuat itu akhirnya akan menjadi mangsa singa telaga.

“Raja Lakayong, kau bilang sayang sekali kalau sampai dua orang itu tewas, bukan? Mengapa tidak mengampuni dan menggunakan tenaga mereka sebagai pembantu yang cakap?”

“Mengampuni tidak mungkin. Sudah menjadi kebiasaan kami menghukum orang-orang bersalah.”

“Bukan mengampuni sama sekali. Maksudku jangan menyuruh mereka bertanding di batu jamur itu, agar kita dapat menyaksikan dari dekat. Mereka harus diberi keinsyafan bahwa kau lebih kuat dari mereka dan kita harus mencari akal untuk menundukkan mereka.”

“Bagaimana maksudmu, saudaraku yang baik” tanya Lakayong.

“Begini,” jawab Kwan Cu yang sudah merencanakan sebuah akal yang baik. “Besok pagi suruhlah mereka bertanding di tempat yang terbuka dan kita menyaksikan dari dekat. Yang menang biarlah kulawan sebagai gantimu dan aku akan memberi hajaran kepadanya sampai ia tunduk betul. Atau boleh juga kau turun tangan memberi hajaran. Kalau mereka sudah yakin betul bahwa mereka tiada harapan untuk menangkan kau, kurasa mereka tidak begitu bodoh dan nekat untuk memberontak.”

Lakayong mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya. Memang dia sendiri adalah seorang yang berhati penuh kasih sayang terhadap rakyatnya, maka tentu saja dia akan merasa lebih girang kalau saja dapat menyelamatkan nyawa kedua orang raksasa muda itu, sungguhpun kedua raksasa itu sudah pernah berusaha untuk menbunuhnya. Rakyatnya membutuhkan orang-orang kuat seperti Wisang dan Kasang dan dia akan lebih suka mempunyai mantu di antara kedua raksasa muda itu dari pada pemuda yang lain di antara penghuni pulau itu.

“Baiklah, besok akan kucoba rencanamu itu.” Kemudian mereka berpaling kepada Liyani sambil bertanya, “Liyani, kau menolak pinangan kedua orang muda itu. Sebetulnya siapakah yang paling baik di antara mereka berdua? Menurut pandanganmu, siapa diantara Wisang dan Kasang? Bagaimana dengan Wisang?”

Biarpun pertanyaan seperti ini yang dilakukan oleh ayahnya di depan orang lain tentu akan membikin malu kepada seorang gadis biasa, namun Liyani tidak merasa malu, bahkan tersenyum manis, lalu menjebirkan bibirnya lalu mengejek. “Wisang ? Dia orang kasar,aku tidak suka kepadanya.”

“Kalau Kasang bagaimana?” mendesak ayahnya.

“Dia cukup halus dan baik, akan tatapi…” berkata demikian, Liyani mengerling kepada Kwan Cu, membuat hati pemuda cilik ini menjadi berdebar bingung.

“Akan tetapi kenapa?” Lakayong mendesak pula.

“Dia pernah kalah oleh Ayah. Aku hanya mau menjadi isteri seorang yang lebih kuat dan pandai dari pada kau, Ayah,” katanya dengan sikap manja dan kembali gadis ini tersenyum dan mengerling kepada Kwan Cu.

Celaka dua belas, pikir Kwan Cu. Benar-benar gadis berkepala batu yang pikirannya aneh. Mana bisa Kasang menangkan Lakayong? Semua pemuda di pulau itu tak dapat menangkan Lakayong dan sekarang gadis ini bersikap manis kepadanya karena biarpun dia seorang bertubuh kecil, dia telah memperlihatkan kepandaian dan agaknya gadis raksasa ini mengharapkan bahwa dia akan dapat mengalahkan ayahnya!

Adapun Lakayong ketika mendengar jawaban puterinya itu, tertawa bergelak dan berkata,

“Anak bodoh! Agaknya kau tak kan dapat menikah sebelum aku menjadi orang tua dan lemah!”

Liyani tidak menjawab, lalu tak lama kemudian ia meninggalkan ayahnya dan Kwan Cu, berjalan pergi ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara merdu.

“Dia seorang anak baik, seorang gadis yang menjadi kembang di antara rakyatku semua,” kata Lakayong memuji puterinya. “Sayang dia keras kepala. Kalau dia menjadi istri Kasang, tentu dia akan mempunyai seorang putera yang gagah perkasa.”

“Biarlah besok kita menundukkan lebih dulu dua orang muda itu dan barulah aku mencari akal agar supaya puterimu itu suka menerima tunangan Kasang,” kata Kwan Cu.

Lakayong memandang dengan muka kagum dan bersyukur. “Agaknya dewa-dewa mengirim kau datang untuk menolong kami, saudara kecil. Biarpun semua akal dan caramu belum dijalankan aku percaya bahwa kau yang telah memperlihatkan kesaktian akan berhasil. Aku berterimakasih kepadamu.”

“Tidak apa, Raja Lakayong. Sebaliknya aku pun telah kau terima sebagai tamu dengan sikap yang ramah-tamah. Ini saja membuat aku bersyukur sekali. Kau dan rakyatmu adalah orang-orang jujur, satu sifat yang kukagumi di antara sifat-sifat yang baik, maka aku bersedia untuk membantu kalian.”

“Kalau saja aku dapat melakukan sesuatu untuk membalas budimu, aku akan merasa girang sekali, saudara Kwan Cu.”

Hampir saja Kwan Cu membuka rahasianya tentang pulau kecil di mana tersimpan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dicarinya, akan tetapi dia masih sempat menahan lidahnya.

“Memang ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu dan mengharap kalau-kalau kau dapat membantuku, akan tetapi biarlah hal itu kutunda dulu dan akan kuceritakan kalau urusanmu ini sudah beres,” jawabnya. Kemudian mereka mengaso.

***

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah bangun dari tidurnya. Seperti kemarin, dia telah melihat Liyani berada di kamarnya. Ia merasa menyesal mengapa kamar-kamar besar di rumah ini semuanya tiada pintunya, kalau ada akan ditutupnya rapat-rapat agar jangan ada orang masuk begitu saja. Melihat seorang gadis berada di kamarnya, biarpun gadis itu seorang gadis raksasa membuat Kwan Cu merasa jengah dan kikuk sekali.

“Nona Liyani, kau sudah berada di sini?” tanya Kwan Cu dengan kikuk sekali. Biasanya dia menyebut tanpa nona segala, akan tetapi pagi hari ini karena merasa jengah dan malu mendapatkan gadis itu di dalam kamarnya, maka tanpa terasa dia menyebut “Nona”. Padahal di dalam bahasa Kuyu tidak terdapat sebutan Nona dana dalam gugupnya dia meyebut “siocia” yang berarti Nona.

“Eh, saudara Kwan Cu, apakah artinya siocia?” tanya Liyani sambil memandang dengan matanya yang lebar bening.

“Oh, ya, aku lupa. Itu bahasaku, dipergunakan untuk menyebut seorang gadis yang belum menikah,” jawabnya.

Liyani mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Lucu sekali kedenganrannya. Apa-apa yang ada padamu lucu dan menyenangkan. Melihat cara kau tidurpun kelihatan lucu dan menyenangkan.” Kwan Cu terheran. “Lucu? Bagaimana sih tidurku?” tanyanya ingin tahu.

“Kau tidur begitu anteng seperti… seperti seorang wanita.”

“Seperti wanita? Apa maksudmu?”

“Atau seperti seorang anak kecil. Kau tidur berbeda dengan orang laki-laki dewasa di sini. Kau sama sekali tidak mendengkur, bahkan napasmu demikian halus. Seperti anak-anak.”

“Hmmm…..” Kwan Cu merasakan kemendongkolannya yang sudah sering kali dia rasakan semenjak dia datang di situ dan merasa dirinya menjadi bahan tertawaan.

“Memang…. Aku masih anak-anak, anak kecil yang tidak ada sifat jantan,” katanya dengan sebal sambil melompat turun dari pembaringan yang terlalu panjang dan terlalu lebar untuknya itu. Ia berdiri dan terpaksa mendongak untuk memandang wajah gadis itu karena kalau mereka berdua berdiri berhadapan, tinggi tubuhnya hanya sampai pada pinggang gadis itu, bahkan lebih rendah lagi!

Liyani dapat merasai suara kecewa dan mendongkol dalam kata-kata Kwan Cu maka sambil tersenyum ia membungkuk dan meraba kedua pundak pemuda ini.

“Tidak, saudara yang baik. Kau sama sekali tidak seperti anak kecil. Kau biarpun keecil sekali, namun gagah dan mengagumkan, bahkan ayah berkata bahwa agaknya kau masih keturunan dewa.”

“Gila!” kata Kwan Cu makin gemas.

“Akupun tidak percaya,” kata Liyani tertawa, “Kau manusia biasa, hanya dari bangsa yang bertubuh kecil. Akan tetapi kau gagah dan baik, aku suka sekali padamu. Eh, saudaraku yang baik. Menurut perkiraanmua siapakah yang akan menang di antara Wisang dan Kasang?”

“Kau mengharapkan siapa yang menang?” tanya Kwan Cu.

Liyani cemberut dan Kwan Cu menjadi geli. Lenyap kemendongkolannya yang tadi. Lucu sekali melihat gadis tinggi besar seperti itu masih bersikap manja seperti seorang anak kecil atau seorang gadis manja.

“Belum menjawab pertanyaanku, kau sudah balas bertanya. Jawablah dulu.”

Kwan Cu menjawab terus terang. “Kurasa biarpun ini hari mereka bertanding sehari penuh, takkan ada yang akan kalah atau yang menang. Kedua orang itu agaknya hanya bertanding pura-pura belaka, karena kemarin mereka bertempur di tempat yang agak jauh, maka tidak kentara. Sekarang mereka akan bertanding di lapangan terbuka, tentu akan kelihatan kalau mereka masih berpura-pura.”

“Menurut pandanganmu….. siapakah yang lebih baik diantara kedua orang itu?”

Diam-diam Kwan Cu merasa geli dalam hatinya. Gadis ini sedang melakukan pemilihan dan kepercayaannya kepadanya begitu besar sehingga minta nasehat dan pertimbangannya dalam hal memilih jodoh!

“Hmm……. Bagaimanakan aku dapat mengatakan hal itu? Aku belum kenal mereka dan menurut keadaan luarnya, memang mereka itu sama muda, sama tangkas dan sama kuat. Sukarlah mengatakan yang mana lebih baik.” Katanya terus terang dengan hati-hati.

“Wisang orangnya kasar. Pernah ia akan mengejar dan hendak memaksaku berlaku manis kepadanya,” kata gadis itu cemberut.

“Kalau begitu agaknya Kasang lebih menarik hatimu,” kata Kwan Cu memancing.

“Memang dia lebih baik dari pada Wisang, akan tetapi sekarang ia pun kelihatan kasar bagiku.”

“Apakah ada orang yang lebih baik dan halus dari padanya?” Kwan Cu memancing karena siapa tahu kalau-kalau ada pemuda lain yang lebih menarik hati gadis aneh ini.

“Semua pemuda di dusun ini kasar-kasar belaka, kalau tidur mendengkur seperti binatang, sikapnya kasar menyakitkan hati, tidak ada yang halus menyenangkan seperti engkau!” gadis itu menarik napas panjang.

Kwan Cu terkejut dan merasa kawatir sekali. Celaka, bagaimanakah pendirian gadis aneh ini?

“Aku kelihatan halus karena aku kecil sekali. Lihat, aku tidak setinggi pinggangmu.”

Liyani menarik napas panjang, nampak kecewa sekali. “Itulah! Kalau kau mempunyai tubuh sebesar kami, takkan susah payah aku memilih calon jodohku.” Berdebar hati Kwan Cu. Benar benar gila gadis ini, pikirnya dan dia mulai merasa takut berdua saja dengan gadis ini.

“Akan tetapi biarpun kecil kau baik sekali, saudara Kwan Cu. Aku suka kepadamu.” Sambil berkata demikian dengan jari-jari tangannya, gadis itu menyentuh bahu Kwan Cu. Pemuda ini sudah kebingungan, baiknya pada saat itu datang pelayan membawa air pencuci muka dan makanan pagi.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: