Pendekar Sakti (Jilid ke-19)

“Baginda menanti di kebun belakang dan orang-orang sudah berkumpul untuk meyaksikan pertandingan,” kata pelayan itu.

Setelah pelayan itu keluar, Kwan Cu mencuci muka. Ia merasa lega sekali ditinggal pergi Liyani, seakan-akan terlepas dari mulut harimau! Dengan cepat dia makan, kemudian dia pun pergi menuju ke belakang rumah di mana terdapat sebuah kebun yang besar sekali.

Benar saja, di situ banyak orang. Liyani duduk di dekat ayahnya dan ketika Kwan Cu datang, gadis itu memegang tanganya dan menarik duduk di dekatnya.

Wisang dan Kasang sudah berdiri berhadapan. Ketika mereka melihat betapa Kwan Cu duduk di dekat Liyani, mereka memandan dengan mata penuh kebencian. Pemuda cilik ini benar-benar memanaskan perut mereka. Pertama-tama pemuda cilik itulah yang menggagalkan rencana mereka membunuh Lakayong, kemudian sekarang agaknya pemuda itu hendak merebut hati Liyani.

Akan tetapi mereka tidak dapat terus memandang Kwan Cu, karena Raja Lakayong sudah memberi aba-aba dan keduanya segera mulai pertandingan dengan hebat. Otot-otot tubuh mereka bergerak-gerak dengan keduanya saling serang bagaikan dua ekor harimau bertarung.

Akan tetapi, belum lama mereka bertanding, tahulah Kwan Cu bahwa benar-benar kedua orang ini main gila dan tidak bertempur sesungguhnya. Raksasa-raksasa bodoh yang menonton di situ, termasuk raja Lakayong dan puterinya, benar-benar memang kena diakali. Kwan Cu menjadi gemas sekali dan selagi dia berpikir-pikir dan mencari tahu apakah gerangan maksud kedua orang raksasa muda ini dengan perkelahian pura-pura itu, tiba-tiba kedua orang yang bertarung berhenti.

Wisang menjura kepada Lakayong dan berkata,

“Aku dan Kasang mempunyai kekuatan dan kepandaian yang sama, tak mungkin ada yang kalah atau menang. Karena itu, sudah sepatutnya kalau kami berdua menghadapi raja bersama. Kalau kami kalah, biarlah kami mati di bawah pukulan tangan raja!”

Tahulah kini Kwan Cu akan maksud mereka. Jadi mereka telah bermufakat untuk tidak merobohkan lawannya agar mereka dapat menghadapi Raja yang kuat itu bersama! Dalam marahnya Kwan Cu melompat ke tengah lapangan dan berkata dengan suara kaku,

“Kalian ini orang-orang curang dan jahat! Apa kalian aku tidak tahu bahwa kalian sengaja tidak mau menjatuhkan lawan? Kalian tidak sungguh-sungguh bertempur, sengaja hendak mengeroyok Raja yang sudah tua!”

Wisang dan Kasang menjadi pucat dan saling memandang, kemudian mereka menghadapi Kwan Cu dengan mata mendelik.

“Saudara Kwan Cu, kalau mereka ingin menghadapi aku, biarlah. Akan kulawan mereka berdua. Orang-orang ini memang perlu dihajar!” kata Raja Lakayong dengan gagah dan dia sudah berdiri dengan tegapnya. Memang tubuh Raja ini luar biasa sekali, masih sekepala lebih tinggi dari pada dua orang raksasa muda itu, bahkan otot-ototnya lebih besar dan nampaknya kuat sekali. Semua orang menyatakan pujian kepada mereka yang gagah ini.

Akan tetapi Kwan Cu merasa khawatir. Dua orang raksasa muda ini dapat menipu mereka, ini menandakan bahwa mereka lebih cerdik dari orang-orang itu. Siapa tahu kalau-kalau mereka itu sudah mempunyai akal untuk menjatuhkan raja yang biarpun nampak kuat namun jauh lebih tua itu.

“Tidak! Tidak patut dua orang muda mengeroyok orang yang sudah lebih tua.”

Wisang menjadi marah sekali. Ia membanting kaki tangannya dan tergetarlah tanah yang diinjaknya saking kuatnya tenaga kakinya ini.

“Jahanam kecil, cacing busuk yang mau mampus! Kau siapakah berani mencampuri urusan bangsa kami? Kau berani membuka mulut, apakah kau berani pula menghadapi kami secara laki-laki yang memiliki keberanian dan kekuatan, tidak seperti perempuan yang hanya bisa mempergunakan mulutnya?”

Panas dada Kwan Cu mendengar hinaan ini. Ia menjura kepda Raja Lakayong sambil berkata,

“Raja Lakayong saudaraku yang baik, perkenankanlah aku menghadapi mereka ini memberi hajaran kepada merreka sebagai wakilmu.” Tanpa menanti jawaban, KwanCu lalu menghadapi dua orang raksasa itu sambil berkata,

“Kalian majulah dan aku akan menghadapi kalian berkelahi dengan sesungguhnya, tidak berpura-pura seperti tadi!”

Wisang tertawa bergelak. Suaranya keras dan parau sehingga menggetarkan anak telinga.

“Huaa-ha-ha-ha! Kau anak kecil kupencet denga ibu jariku saja pasti akan gepeng! Kau menantang kami berdua?”

“Manusia sombong, pantas saja puteri Liyani tidak suka kepadamu, kau kasar dan sombong. Jangankan baru kalian berdua, biarpun kau mengubah dirimu menjadi sepuluh, aku takkan mundur setapak!” “Setan kecil kau sudah bosan hidup!” teriak Wisang dan segera mengerakkan kepalan tangannya yang besarnya seperti kepala Kwan Cu itu, menonjok ke arah kepala pemuda kecil ini. Akan tetapi Kwan Cu cepat mengelak dan sekali dia melompat sambil mengerakkan kaki, kaki kanannya menyambar ke perut Wisang yang besar.

“Ngekkkk!” tubuh Wisang yang besar itu terpental ke belakang dan dia jatuh terduduk sambil kedua tangannya memegangi perut.

“Aduh… aduh… bangsat kecil…. Aduh….” Ia mengaduh-aduh karena tiba-tiba perutnya merasa mulas sekali. Semua orang yang menonton termasuk Raja Lakayong sendiri, menjadi melongo dan memandang terheran-heran, tak dapat mengeluarkan ucapan saking herannya.

“Bagus, bagus! Bukankah dia hebat sekali, Ayah?” terdengar Liyani bersorak sambil bertepuk tangan.

Suara ini menyembuhkan rasa sakit di perut Wisang. Raksasa muda ini segera bangkit berdiri lagi dan kedua matanya seakan-akan mengeluarkan sinar berapi. Giginya berkerot dan kemarahannya memuncak. Ia memandang kepada Kwan Cu sedemikian rupa sehingga Kwan Cu seakan-akan dia hendak ditelan bulat-bulat oleh raksasa itu.

“Majulah, majulah kalian berdua. Akan kuberi pelajaran bagaimana caranya berkelahi dengan sunguh-sunguh,” kata Kwan Cu mengejek.

Sambil menggereng keras, Wisang menubruk maju, diikuti oleh Kasang yang juga merasa penasaran melihat Kwan Cu mengejek mereka. Akan tetapi, bagaikan seekor burung walet cepatnya, Kwan Cu mengelak dan sekali tubuhnya berkelebat, dia terlepas dari ancaman tubrukan dua orang raksasa itu. Beberapa kali Wisang dan Kasang menubruk, karena kegemasannya, mereka hendak menangkap dan meremas tubuh yang kecil itu. Namun dengan sengaja Kwan Cu mengeluarkan kepandaiannya dengan mengandalkan ginkangnya yang sudah tinggi, mudah saja dia mengelak dari semua tubrukan yang dilakukan dengan kuat sekali namun baginya amat lambat itu.

Setelah menubruk berkali-kali hanya mengenai angin saja dan mendengar betapa Liyani menyoraki dan menertawai mereka dan para penonton mulai mengeluarkan seruan pujian, panaslah hati Wisang dan Kasang. Kedua jago raksasa ini maklum bahwa lawan yang kecil itu gesit sekali sukar untuk ditangkap maka mereka merubah siasat mereka. Kini mereka tidak lagi menubruk, melainkan menendang dan memukul. Maksud mereka, sekali saja pukulan atau tendangan mengenai tubuh yang kecil itu, tentu pemuda kecil itu akan terlempar jauh dengan tulang remuk!

Akan tetapi betapa besar tenaga mereka, gerakan mereka amat lamban dan mereka bertempur hanya mengunakan tenaga tanpa mempergunakan otak. Mana bisa mengenai tubuh Kwan Cu yang sudah menerima latihan Ginkang dari Ang-bin Sin-kai? Menghadapi serangan-serangan itu Kwan Cu bersilat dengan ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to (Mengatur Pintu Menolak Ratusan Golok). Gerakannya lincah dan gesit dan dengan tertawa-tawaa dia mengejek. Pemuda ini mengatur sedemikian rupa sehingga dia berada di tengah-tengah dan kedua lawannya berada di kanan kirinya atau kadang-kadang di depan dan belakangnya.

Ia sengaja tidak segera merobohkan mereka. Kalau dia mau, banyak sekali lowongan untuk memukul roboh dua orang raksasa itu. Akan tetapi Kwan Cu tidak mau melakukan hal ini. Ia memang hendak menghajar kedua orang itu agar tunduk betul-betul dan kelak tidak akan menimbulkan keributan lagi menggangu Raja Lakayong yang baik. Ia mengelak sambil kadang-kadang mengirim pukulan ke arah perut, dagu atau dada, cukup keras membuat dua orang raksasa itu mengaduh-aduh akan tetapi tidak cukup keras merobohkan mereka.

Bahkan dalam kegembiraaannya timbul kenakalan pada Kwan Cu. Beberapa kali dia melompat tingi dan mengunakan jari tangan untuk menjewer telinga yang lebar, menarik hidung yang besar atau mencubit pipi yang lebar sambil tertawa-tawa.

Di permainkan secara begini dan mendengar suara tertawa Liyani makin geli, ditambah pula surak sorai para penonton dan suara ketawa Raja Lakayong yang merasa kagum, heran dan juga geli, dua orang raksasa muda ini seakan-akan menjadi gila dibuatnya.

“Iblis kecil, akan kuhancurkan kepalamu!” kata Wisang geram.

Bahkan Kasang yang tidak segalak Wisang, kini sudah menjadi marah sekali dan membentak,

“Setan cilik, ku patahkan batang lehermu!”

“Ha-ha-ha-ha! Mau pecahkan kepala dan batang leher?” kata Kwan Cu menghadapi dua orang raksasa yang berada di kanan kirinya sambil tertawa mengejek. “Ini kepalaku, ini leherku. Pecahkanlah, patahkanlah kalau bisa. Ha-hahaaa!”

Wisang menyergap maju dengan tangan kanan memukul. Kasang menubruk dengan tangan kanan mencengkeram. Kwan Cu diam saja berdiri seenaknya, seakan-akan tidak melihat adanya bahaya yang mengancam dari kanan kiri!

Liyani menjerit ngeri, semua menahan napas karena serangan itu sudah dekat sekali. Agaknya tiada jalan keluar bagi Kwan Cu dan alangkah ngerinya kalau pukulan dan cekikan kedua orang muda itu betul-betul mengenai kepala dan leher pemuda yang kecil itu!

Akan tetapi, ketika dua orang raksasa itu sudah dekat sekali tangannya pada tubuhnya tiba-tiba Kwan Cu tertawa geli dan tubuhnya, berkelebat lenyap dari situ. Ia telah mempergunakan gerakan yang disebut Tui-teng-kui-cauw (Melompat Mundur Pulang ke Sarang), sebuah cabang dari gerakan Yan-cu-kui-cauw (Burung Walet Pulang ke Sarang). Kegesitan tubuhnya seperti burung walet saja dan ketika ia tiba-tiba lenyap dari tengah-tengah, kedua orang raksasa itu tiada ampun lagi saling gebuk dengan serunya. Kepalan tangan Wisang menghantam kepala Kasang, sedangkan tangan kanan Kasang kena mencengkeram jidat Wisang.

“Bluk! Blek!” terdengar suara keras, disusul oleh jeritan mereka. “aduh celaka!” keduanya terhuyung-hunyung ke belakang, memegangi kepala dan jidat yang terpukul oleh tangan masing-masing.

Liyani tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut saking gelinya. Lakayong tertawa terbahak-bahak dan di antara para penonton lebih ramai lagi, sampai-sampai ada yang tertawa demikian gelinya sehingga dia terjungkal dari batu yang didudukinya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya Wisang dan Kasang. Setelah kepala mereka yang terasa pening berputar-putar itu sembuh, mereka memandang Kwan Cu.

“Nah, begitulah caranya orang berkelahi betul-betul. Tidak seperti tadi hanya pura-pura dan main-main saja,” Kwan Cu mengejek. Dua orang muda raksasa itu tanpa berkata apa-apa lalu menyerang lagi, kini makin ganas dan marah. Inilah yang dikehendaki Kwan Cu. Makin marah mereka, makin mudahlah baginya untuk mempermainkan mereka dan makin sering kedua orang itu saling pukul dan saling tendang.

Bahkan satu kali Kwan Cu berlaku berani luar biasa. Ia membiarkan dirinya terpegang oleh Wisang! Semua menahan napas dan kembali terdengar Liyani menjerit cemas, bahkan terdengar Lakayong berteriak, “Jangan bunuh dia!”

Akan tetapi tentu saja Wisang menjadi marah sekali tidak mau mendegar larangan ini dan dia bergerak hendak mencekik leher Kwan Cu! Melihat kesempatan ini, Kasang menubruk maju dan ikut memegang Kwan Cu. Pendeknya dilihat begitu saja agaknya Kwan Cu sudah tidak ada harapan untuk terlepas lagi. Akan tetapi, sebenarnya memang pemuda ini segaja membiarkan dirinya terpegang. Begitu merasa bahwa kedua raksasa itu sudah memeganginya dia cepat bergerak dan kedua kakinya menendang ke atas dengan tubuh terjungkir balik, kaki kirinya menendang kearah mata wisang dan kaki kanan ke arah mata Kasang!

Dua orang raksasa itu memekik kesakitan dan mata kanan mereka telah menjadi biru, sakitnya bukan main! Untuk sedetik pegangan mereka mengendur karena sebelah tangan mereka otomatis meraba mata yang terluka. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kwan Cu untuk memberontak dan melepaskan diri, terus melompat pergi. Kini dengan mata meram, saking sakit dan marahnya, kedua orang muda raksasa itu menubruk maju dan dengan sendirinya ketika dua tangan mereka mencengkeram, mereka saling cekik dan saling cengkeram, mencari lawan sambil mencengkeram dan memukul sekenanya. Maka benar-benar berkelahilah mereka satu dengan yang lain dan terdengar mereka teraduh-aduh.

Kwan Cu menganggap bahwa permainannya sudah cukup. Ia melompat ke atas berdiri dengan kaki kiri di pundak Wisang dan kaki kanan di pundak Kasang menjambak rambut ke dua raksasa itu dan mengerahkan tenaga, menarik rambut itu mengadukan kepala mereka satu kepada yang lain.

“Dukkkkkkkk!!” dua orang kepala yang besar sekali itu saling tumbuk, disusul oleh jerit mereka, “Aduuuuuuuh!” dan ketika Kwan Cu melompat turun, tubuh kedua orang raksasa itu terputar lalu roboh tak bergerak lagi. Mereka jatuh pingsan dan kepala mereka ini tumbuh benjol yang besar dan biru!

Ramailah sorak sorai para penonton. Liyani memandang ke arah Kwan Cu dengan sinar mata yang menakutkan hati Kwan Cu. Raja Lakayong menghampiri Kwan Cu dan tiba-tiba raja ini berkata,

“Saudara Kwan Cu, cobalah kita bermain-main sebentar!” sambil berkata demikian raja ini bergerak memukul ke arah Kwan Cu. Pemuda ini terkejut sekali. Pukulan raja ini mendatangkan angin keras tanda bahwa tenaganya besar sekali. Ia mengelak dan melompat mundur sambil berseru,

“Eh, eh, eh eh, raja Lakayong saudaraku, mengapa kau menyerbuku?”

“Aku kagum melihat kegagahanmu. Puaskanlah hatiku, saudaraku, aku ingin sekali mencoba kepandaianmu sendiri,” kata Lakayong sambil menyerang terus dengan cepat. Gerakan raja ini jauh lebih kuat dan cepat dari pada gerakan kedua orang raksasa muda itu.

Kwan Cu dapat memaklumi isi hati Raja ini. Sebagai seorang yang menghargai kepandaian dan kegagahan, melihat seorang gagah lain, tentu saja Raja ini menjadi gatal tangan dan belum merasa puas kalau belum menguji kepandaiannya dengan tangan sendiri. Pendeknya, Raja ini ingin mencoba kepandaiannya atau yang lajimnya di negerinya disebut pibu (mengadu kepandaian)! Maka Kwan Cu segera melayaninya dengan hati-hati sekali.

Ia menjadi girang ketika mendapat kenyataan bahwa Raja ini telah mentaati pelajarannya dan kini semua pukulan dan tendangannya ditujukan ke arah bagian tubuh yang berbahaya. Kalau Raja ini yang tadi menghadapi Wisang dan Kasang, ada kemungkinan dua orang raksasa muda itu akan tewas dalam pertempuran. Pukulan Raja ini keras sekali dan kepala raksasa muda itu agaknya akan pecah jika terkena pukulan dahsyat ini.

Namun, semua gerakan pukulan Lakayong tiada bedanya gerakan Wisang dan Kasang, sama sekali dilakukan dengan ngawur, mengandalkan tenaga saja, sama sekali tidak menuruti teori ilmu berkelahi yang baik. Karena itu, kalau dia mau Kwan Cu dapat merobohkannya dengan mudah saja. Akan tetapi dia tidak tega untuk melakukan hal ini, karena kalau mengalahkan Lakayong dengan mudah, sedikitnya akan turunlah penghargaan Raja mereka ini. Ia sengaja membiarkan dirinya terdesak dan setelah pertempuran berjalan agak lama, cepat sekali dia menggunakan ilmu silat Sin-ci-tin-san, menotok jalan darah thian-hu-hiat dari lawan. Tiba-tiba Lakayong merasa betapa tubuhnya lemas tak berdaya sama sekali sehingga dia roboh perlahan, Kwan Cu cepat menyusuli dengan totokan lain dan boleh kembalilah kesehatan Raja itu.

Untuk sesaat, Lakayong dapat duduk dengan mata terbelalak heran. Kemudian dia mengangkat kedua tangan, berdiri dan memeluk Kwan Cu sambil berkata jelas,

“Saudara Kwan Cu hebat sekali. Aku dapat dikalahkan dengan mudah!”

Para penonton terheran-heran, lalu bersorak memuji Kwan Cu.

“Hidup calon raja kita!” mereka bersorak-sorak.

Liyani berlari menghampiri Kwan Cu dan tanpa terduga-duga, gadis ini berlutut sehingga tingginya sama dengan Kwan Cu, memeluk dan menciumnya seperti dulu! Kwan Cu memberontak melepaskan diri dengan muka pucat. Ia tadi merasa kaget setengah mati karena orang-orang itu menyorakinya sebagai calon raja. Lebih kaget bukan main ketika Liyani menciuminya dan kekagetannya menjadi-jadi ketika tiba-tiba Liyani yang memegang tangannya berkata keras,

“Dia inilah calon jodohku!”

Mau rasanya Kwan Cu melarikan diri dari tempat itu. Semua kejadian ini membuatnya menjadi bingung setengah mati. Ia lalu berkata kepada semua orang.

“Tidak, tidak! Aku bukan calon raja dan calon jodoh Liyani. Jodohnya adalah Kasang karena Kasang lebih kuat daripada Raja !”

Semua orang terdiam dan melongo. Juga Liyani dan Lakayong. Akan tetapi Kwan Cu berkata, “Aku tidak mungkin menjadi calon raja karena aku harus pergi dari sini. Dan aku tidak bisa jadi calon jodoh Liyani karena aku……. aku orang kecil, tidak sesuai dengan jodohnya.”

“Itu bukan alasan!” Liyani membantah. “Hanya dengan alasan yang jujur dari bangsaku aku mau menerima penolakan ini!”

“Alasan jujur yang bagaimanakah?”

“Pertama, kalau kau mau menyatakan bahwa kau membenciku, aku tidak keberatan kau menolakku. Ke dua, hanya kalau kau sudah mempunyai calon jodoh atau bahkan sudah mempunyai jodoh perempuan lain, baru aku mau mencari lain jodoh.”

Kwan Cu menjadi makin bingung dan ia menggaruk-garuk bagian belakang telinganya. Ia berada dalam keadaan yang teramat sulit. Untuk menyatakan bahwa ia membenci Liyani, selain hal itu tidak sesuai dengan hatinya yang sama sekali tidak membenci gadis raksasa ini, juga amat berbahaya karena tentu semua orang di situ akan memusuhinya. Untuk mengaku bahwa dia sudah punya calon jodoh atau isteri, tidak mungkin pula. Akan tetapi, alasan kedua ini sebetulnya lebih ringan dan lebih aman. Setelah berpikir-pikir dia menjawab tanpa ragu-ragu,

“Aku tidak membencimu, Liyani. Dan aku memang belum punya jodoh. Akan tetapi aku sudah mempunyai calon jodoh, seorang gadis di negeriku.”

Tiba-tiba Liyani menangis! Kwan Cu menjadi bingung sekali.

“Jangan berduka, Liyani. Kita tidak cocok menjadi jodoh, aku sudah mempunyai calon jodoh yang besarnya sama dengan aku. Jodohmu adalah pemuda tinggi besar yang gagah seperti Kasang.”

“Calon jodohmu itu…. Apakah kau suka kepadanya?” tanya Liyani sambil menyusut air matanya.

“Tentu saja, aku…suka sekali padanya,” jawab Kwan Cu menelan ludah.

“Dan dia… apakah suka padamu”

“Tentang itu… barang kali dia suka, belum kutanyakan.”

“Cantikkah dia?”

“Cantik sekali, yaitu menurut pandangan mataku.”

“Siapa namanya?” Tak disangkanya bahwa Liyani begitu nekat dan terus bertanya dengan teliti. Bagaimana harus dijawabnya? Ia tadi membohong dan kini dia tidak dapat menjawab.

“Siapa namanya?” Liyani mendesak.

“Namanya…apa perlunya kusebut-sebutkan namanya? Kau takkan mengenalnya.”

“Kalau begitu kau bohong!”

Kwan Cu terkejut. Pikirannya diputar-putar dan terbayanglah wajah Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li. Agaknya gadis cilik itu saja yang patut menjadi jodohnya.

“Namanya Bun Sui Ceng!” akhirnya dia berkata dan mukanya menjadi merah sekali ketika dia berkata demikian.

Kembali Liyani menangis makin keras. “Sekarang tak ada lagi orang yang patut menjadi jodohku, hanya kau yang bisa mengalahkan ayah!”

“Siapa bilang? Kasang bisa mengalahkan ayahmu,” kata Kwan Cu yang mendapat siasat baik sekali.

Pada saat itu, Kasang dan Wisang sudah siuman kembai dan mereka ikut mendengarkan percakapan itu. Mendengar betapa Kasang dipuji-puji oleh Kwan Cu dan hendak dijodohkan dengan Liyani, dia (Wisang) menggereng keras dan tiba-tiba menyerang Kasang! Serangan itu hebat sekali dan dilakukan selagi Kasang tidak bersiap, maka kalau pukulan yang ditujukan ke arah kepala itu mengenai sasaran, amat berbahayalah bagi Kasang.

Kwan Cu yang melihat hal ini, cepat melompat dan sebelum pukulan Wisang itu mengenai Kasang, tubuh Wisang terpental ke belakang dan dia roboh tak dapat bangun kembali. Tulang pundaknya telah patah dan biarpun Kwan Cu merasa kasian, namun pukulannya tadi memang dia sengaja dan dia tidak mau mengobati atau menyambung tulang pundaak itu, karena kalau Wisang tidak dibikin cacat, kelak tentu dia akan mengacau lagi. Kini Wisang biarpun akan sembuh, tenaga tangan kanannya akan lenyap dan dia tidak berbahaya lagi.

Adapun Lakayong yang mendengar omongan Kwan Cu, menjadi heran dan bertanya, “Saudara Kwan Cu, betul-betulkah Kasang dapat mengalahkan aku?”

“Tentu saja, akan tetapi tidak sekarang, boleh dicoba besok pagi. Dia sekarang menjadi muridku dan dia akan kuberi pelajaran sehari ini.”

Setelah Kwan Cu mendapat kesempatan bertemu dengan Lakayong seorang diri, dia menceritakan siasatnya. Dalam pertempuran tadi, dia mendapat kenyataan bahwa sifat-sifat Kasang memang lebih baik dari pada Wisang dan rencana pembunuhan raja itu pun tentu Wisang yang mengaturnya.

“Liyani suka kepada Kasang, maka harap besok kau suka mengalah pada Kasang agar puterimu suka menerima pinangannya. Kau melakukan ini demi kebahagiaan puterimu, apakah kau tidak suka?” tanya Kwan Cu.

Mengertilah Lakayong dan dia mengangguk-angguk. Kwan Cu sebenarnya tidak memberi pelajaran apa-apa kepada Kasang, hanya nasehat-nasehat agar pemuda ini tidak mengacau lagi dan agar besok menghadapi Lakayong, dia tahu bahwa raja itu sengaja mengalah. Kasang berterima kasih sekali dan mengaku bahwa dia memang kena bujukan Wisang yang jahat.

Demikianlah atas rencana Kwan Cu yang disetujui dan dibantu pelaksanaannya oleh raja Lakayong dan Kasang, pada keesokkan harinya, bertempat di kebun itu, hanya disaksikan oleh Liyani seorang saja, dilakukan pertandingan antara Kasang dan Lakayong. Dalam pertandingan yang kelihatan hebat ini namun yang sesungguhnya hanya main-main belaka, akhirnya Raja Lakayong kena ditubruk dan ditangkap oleh sepasang lengan Kasang yang kuat. Lakayong mencoba untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak dapat dan akhirnya mengaku kalah sambil berkata,

“Ah,benar-benar setelah menjadi murid saudara Kwan Cu kau hebat sekali, Kasang. Aku menerima kalah!”

Kasang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Rajanya dengan wajah berseri. “Mohon ampun sebanyaknya atas segala kedosaanku,” katanya. “Dalam kesempatan ini untuk kedua kalinya kuulangi pinanganku terhadap Liyani.”

Lakayong berpaling kepada puterinya,

“Liyani, kau sudah mendengar sendiri pinangan Kasang yang gagah perkasa. Nah, seperti biasa terserah kepadamu keputusannya.”

Terdengar sedu sedan di leher gadis itu. “Terserah kepada ayah saja aku hanya menurut.”

“Bagus! Kasang, calon menantuku, kami menerima tunanganmu!” kata Raja itu gembira sekali.

Liyani memandang kearah Kwan Cu lalu menangis dan berlari pergi.

Kwan Cu menghaturkan selamat kepada Kasang dan Lakayong dan kedua orang itu sebaliknya tiada hentinya mengucapkan terima kasih mereka, karena dengan akal dan siasat Kwan Cu belaka maka gadis yang keras kepala itu dapat ditundukkan.

“Sekarang aku mohon diri hendak melanjutkan pelayaranku,” kata Kwan Cu.

Lakayong mengerutkkan kening. “Kalau mungkin, kami tidak ingin berpisah denganmu lagi, saudaraku yang baik. Akan tetapi kalau kami memaksa, itu tidak adil namanya. Kau hendak pergi kemanakah?”

“Aku hanya ingin berkelana saja dan aku mendengar ada sebuah pulau kecil bundar yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian tentang pulau itu dan di mana letaknya?”

Lakayong dan Kasang memandang dengan mata terbelalak lebar.

“Apa?” seru Raja raksasa itu. “Kau hendak mencari pulau bayangan?”

Kwan Cu memandang heran.”Pulau bayangan? Apa maksudmu? Aku hanya mendengar bahwa pulau itu kecil, berbentuk bundar dan ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian akan pulau itu?”

“Benar, yang kaumaksudkan tentu Pulau Bayangan! Saudaraku yang baik harap kau batalkan saja niatmu itu. Kami sudah sering kali berperahu di sekitar kepulauan ini dan sering kali tiba-tiba melihat pulau yang kau maksudkan itu. Akan tetapi apabila kami mendekatinya, tiba-tiba dia menghilang! Pulau itu aneh dan jauh dan kami mengambil kesimpulan bahwa pulau itu tentu bukan berada di sekitar sini, melainkan berada di seberang laut jalan maut.”

“Di manakah laut jalan maut itu? Aku akan mencari ke sana.”

Kasang mengeluarkan seruan kaget, dan Lakayong menjadi pucat.

“Jangan, saudara Kwan Cu. Jangan sekali-kali kau melintasi batas laut itu. Sudah banyak saudara-saudara kami tewas di sana. Laut itu adalah batas yang tak boleh dilalui manusia, di situ banyak terdapat keajaiban yang merupakan tangan maut. Siapapun juga tak mungkin dapat melalui batas itu. Lebih baik kau mengunjungi pulau-pulau kosong yang banyak terdapat di sekitar sini.”

“Tidak, Raja yang baik. Aku akan mencobanya, betapapun besar bahaya yang akan aku hadapi.”

Lakayong menarik napas panjang. “Kau orang aneh, mungkin kau akan berhasil menjelajahi pulau itu. Akan tetapi hati-hatilah, memang benar-benar berbahaya sekali di daerah itu. Aku sendiri pernah mencobanya, namun terpaksa aku kembali setelah tiba di batas laut itu. Bukan main ganasnya. Letaknya di sebelah timur pulau kami ini, tepat dari mana matahari muncul.”

“Terima kasih dan selamat tinggal, Raja Lakayong, dan kau juga, saudara Kasang. Yang baik-baiklah kau menjaga Liyani.” Setelah berkata demikian Kwan Cu lalu pergi ke pantai mencari perahunya, diikuti oleh Lakayong dan Kasang. Ketika penduduk mendengar tentang kepergian Kwan Cu, berbondong-bondong mereka mengantar sampai ke pantai. Akan tetapi di antara sekian banyaknya orang, tidak nampak bayangan Liyani.

Kwan Cu menurunkan perahunya di air dan dia telah menerima dua buah dayung yang baik dari Raja Lakayong sebagai pengganti dayungnya ketika perahunya diserang oleh taufan beberapa hari yang lalu. Orang-orang di pantai melambaikan tangan, Raja Lakayong menghapuskan dua butir air mata yang menitik turun ke atas pipinya. Semua orang terharu, terutama sekali Lakayong dan Kasang yang sudah merasa betapa besar jasa pemuda kecil itu bagi mereka.

“Selamat tinggal, saudara-saudaraku yang baik. Kita yieee…. (selamat tinggal)…..” kata Kwan Cu sambil mendayung perahunya ke timur. Karena dia mempergunakan tenaga, maka sebentar saja dia meninggalkan pulau besar yang mendatangkan pengalaman-pengalaman aneh kepadanya itu.

Tiba-tiba terdengan seruan suara nyaring.

“Saudara Kwan Cu…!”

Kwan Cu menoleh dan alangkah herannya ketika dia melihat sebuah perahu layar besar yang dikendarai oleh…. Liyani!

“Eh, kau Liyani. Hendak pergi kemanakah kau?” tanyanya heran.

“Aku sengaja menantimu di sini, aku hendak pergi bersamamu!”

Baiknya Kwan Cu ingat bahwa dia berada di dalam perahu, kalau tidak tentu dia akan melompat ke belakang dan berjungkal ke dalam air saking kagetnya.

“Ikut pergi bersamaku?? Kau gil…..eh, apa maksudmu?”

“Kau telah menipuku! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa dalam pertandingan antara ayah dan Kasang, ayah sengaja berlaku mengalah dan semua itu adalah rencanamu belaka? Kau menghendaki dan memaksa aku menerima Kasang sebagai jodohku mengapa?”

Kwan Cu menelan ludah. Hebat benar gadis ini, pikirnya. Ia mendekatkan perahunya ke perahu besar Liyani, mengikatkan tali di kepala perahu gadis itu, lalu melompat masuk ke dalam perahu besar, berdiri menghadapi gadis raksasa itu.

“Dengarlah baik-baik, Liyani. Tuduhanmu tadi kuterima dan aku minta maaf. Memang aku sengaja melakukan hal itu. Ketahuilah. Kau tidak mungkin ikut dengan aku. Kita tidak sesuai dan di negeriku, kau hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan seperti ketika aku berada di pulaumu, bahkan kau akan mengalami gangguan-gangguan yang tidak mengenakkan hati. Aku memang ingin melihat kau menjadi isteri Kasang, karena dia pemuda baik dan cocok menjadi jodohmu. Apa lagi, ayahmu pun menghendaki demikian. Adapun aku….sudah kukatakan bahwa aku mempunyai calon jodohku sendiri.”

“Bun Sui Ceng….??”

Kwan Cu tertegun. Nama gadis murid Kiu-bwe Coa-li itu malah masih teringat oleh Liyani! Apa boleh buat, ia menganggung membenarkan.

“Kau tidak bohong?”

Kwan Cu menggeleng kepala.

“Berani kau bersumpah?”

Kwan Cu melongo.

“Bersumpah? Bersumpah bagaimana?”

“Bersumpah bahwa kau benar-benar suka kepada gadis yang bernama Bun Sui Ceng itu, bahwa kau benar-benar menghendaki dia menjadi jodohmu.”

Kwan Cu menjadi bingung sekali. Ia mencoba untuk membayangkan wajah Sui Ceng yang manis dan tergeraklah hatinya. Mengapa tidak? Sui Ceng merupakan gadis yang memang disukanya, tidak saja gadis itu memang baik terhadapnya, bahkan ibu gadis itu, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, adalah manusia pertama yang berlaku baik kepadanya.

“Aku bersumpah bahwa aku suka kepada Bun Sui Ceng dan bahwa aku menghendaki ia menjadi jodohku, ” kata Kwan Cu dan ketika dia mengucapkan kata-kata ini, dia berlaku sungguh-sungguh.

Liyani menangis. Lalu gadis ini berdiri dengan muka menengadah ke langit dan kedua tangannya di pentang lebar.

“Dengarlah, dewa awan, dewa matahari dan dewa laut. Kalian menjadi saksi atas sumpah saudara Kwan Cu! Kalau dia melanggar sumpahnya, biarlah kalian yang menghukumnya dan biarlah saudara Kwan Cu selama hidupnya takkan mendapat jodoh!”

Suara gadis ini demikian menyeramkan sehingga Kwan Cu merasa bulu tengkuknya berdiri.

“Kau terimalah ini sebagai tanda mata dariku. Selama hidup aku takkan melupakanmu saudara Kwan Cu.”

Biarpun bagi Liyani tusuk konde itu kecil saja, namun bagi Kwan Cu merupakan benda sebesar pisau belati. Ia menerimanya dan berkata dengan terharu,

“Terima kasih, Liyani, dan akupun takkan melupakanmu, takkan melupakan kau, ayahmu, dan semua orang yang berada di atas pulaumu.”

Setelah berkata demikian, Kwan Cu melompat kembali ke dalam perahunya, melepaskan ikatan dan mendayung perahunya, terus ke arah timur. Ketika dia menengok, dia melihat Liyani masih berdiri di perahunya sambil memandang ke arahnya. Dilihat dari jauh, Liyani tidak kelihatan besar lagi, melainkan nampak sebagai dara biasa yang bertumbuh tunggi semampai pinggang ramping dan bentuk tubuh yang indah. Kwan Cu melambaikan tangan, di balas oleh Liyani dan pemuda ini menghela napas panjang lalu mendayung cepat perahunya tanpa menoleh lagi.

***

Kwan Cu terus mendayung perahunya dengan cepat menuju ke timur. Matahari telah naik tinggi melewati kepalanya. Ia melihat pulau-pulau yang gundul di sebelah kiri, akan tetapi ia tidak mau mendarat. Ingin dia segera tiba di daerah laut maut yang diceritakan oleh Lakayong. Akan tetapi, dia melihat laut yang amat tenang dan yang agaknya tidak ada batasnya itu. Kalau dia melihat ke timur, yang nampak hanyalah air belaka dan jauh di sebelah timur air laut bertemu dengan kaki langit sehingga sukar dibedakan mana batasnya, karena warna laut dan langit hampir sama.

Malam tiba dan baiknya bulan purnama muncul berseri. Kwan Cu terus saja mendayung dan akhirnya karena lelah, menjelang tenggah malam setelah bulan purnama naik tinggi, dia tidur pulas di dalam perahu membiarkan perahunya itu berdiam tak bergerak di atas air yang tenang. Untung baginya bahwa tadi orang-orang di pulau raksasa memberi bekal kue manis yang besar sekali kepadanya, sebesar dua kepalanya, sehingga tidak menderita kelaparan. Untuk minumnya, diapun telah membawa bekal seguci minuman yang rasanya wangi dan tawar, tidak seperti arak namun dapat menghangatkan perut.

Kwan Cu tertidur sampai lama sekali. Ia baru sadar ketika perahunya bergoyang-goyang. Ketika dia membuika matanya ternyata bulan purnama sudah lenyap dan sebagai gantinya, matahari mengintip di kaki langit sebelah timur, memancarkan cahaya kemerahan yang menimbulkan pemandangan indah sekali.

Namun Kwan Cu tak mungkin dapat menikmati keindahan alam itu karena ketika dia melihat ke bawah, ke pinggir perahunya untuk mengetahui mengapa perahunya bergoyang-goyang, dia terkejut bukan main. Di sekeliling perahunya kelihatan banyak sekali ikan besar-besar, sebesar perahunya, berenang ke sana ke mari dan setiap kali tubuh ikan melanggar perahunya, perahu itu bergoyang-goyang!

“Celaka…” pikir Kwan Cu. Ikan itu banyak sekali dan kalau dia mengunakan dayung memukul dan mengusir, tentu ikan itu akan marah. Kalau sampai ikan-ikan itu menyerbu perahunya, akan celakalah dia. Juga untuk mendayung perahu tak mungkin karena dayungnya tentu akan melanggar tubuh ikan yang terdekat. Keadaannya seperti seekor domba yang dikurung oleh puluhan ekor harimau yang siap menerkam setiap saat.

“Celaka, bagaimana baiknya sekarang?” Kwan Cu diam saja sambil duduk di dalam perahunya, memegang dayung siap akan memukul ikan yang akan menyerbu perahunya. Akan tetapi ikan-ikan itu hanya berenang ke sana ke mari, kadang-kadang sengaja menyenggol perahu sehingga perahu itu bergoyang-goyang hampir terbalik. “Kurang ajar, mereka sengaja mempermainkan aku,” pikir Kwan Cu. Teringatlah dia akan daun Liong-cu-hio yang berada di dalam bungkusan kainnya. Ia teringat ketika Liok-te Mo-li, nenek yang aneh itu memberi bekal daun-daun ini kepadanya, nenek itu berkata bahwa kalau dia diserang dan diancam oleh ikan-ikan buas dia dapat mempergunakan daun-daun itu untuk menyelamatkan diri. Dengan perlahan dia membuka bungkusannya membasahi kedua tangan dengan air laut, lalu mengambil dua helai daun itu. Ia merasa heran sekali daun-daun itu sama sekali tidak mengering, masih segar seperti ketika habis dipetik. “Mudah-mudahan Liok-te Mo-li tidak berbohong,” pikir Kwan Cu dan dia melemparkan sehelai daun ke kanan dan sehelai pula ke kiri sambil mengerahkan tenaga. Daun-daun itu meluncur dan jatuh di air. Setelah tiba di air dan terapung, daun-daun itu bergerak-gerak seperti benda hidup. Kwan Cu tidak heran melihat ini, karena dulu pun sudah melihat betapa daun-daun itu bergerak-gerak setiap kali tersentuh sesuatu.

Ia memandang penuh perhatian dan harapan. Maka terjadilah sesuatu yang amat hebat. Seekor ikan yang berada paling dekat dengan daun itu, tadinya tidak mengacuhkannya sama sekali, akan tetapi begitu daun itu bergerak-gerak dia cepat menyambar dan menelannya. Akan tetapi, begitu daun itu tertelan olehnya, seketika itu juga tubuhnya terapung dalam keadaan mati! Perutnya yang putih itu nampak tersembul di permukaan air. Sudah menjadi kebiasaan liar dari ikan-ikan itu, apabila melihat seekor ikan lain mati, mereka segera menyerbu untuk makan dagingnya. Akan tetapi, tiap kali ikan menggigit segumpal daging dari ikan yang mati itu, ikan ini pun terapung dalam keadaan mati pula! Namun ikan-ikan itu bodoh sekali dan yang lain-lain serentak berpesta, menyerbu yang sudah mati sehingga sebentar saja air penuh dengan bangkai ikan. Kwan Cu bergerak memandang ke belakangnya dan di sebelah kiri perahu dia meyaksikan pemandangan yang sama. Di situpun ikan-ikan berpesta pora, yang hidup menyerbu yang mati untuk terkena bisa daun Liong-cu-hio sehingga menjadi bangkai pula tanpa dapat menggelepar lagi.

“Hebat…!” Kwan Cu berseru dengan hati ngeri. Ia bergidik melihat betapa bangkai ikan makin banyak saja terapung di permukaan laut. Agaknya semua ikan di tempat itu akan mati terkena bisa yang jahat. Kini tahulah dia akan arti ucapan Liok-te Mo-li bahwa dia akan menyaksikan “pesta” yang mengembirakan kalau melemparkan daun itu ke laut.

Kwan Cu segera mendayung perahunya cepat-cepat, pergi dari tempat itu. Ia merasa ngeri, juga merasa malu kepada diri sendiri. Ia anggap perbuatannya tadi rendah dan pengecut. Kalau dia tahu bahwa akibat daun itu akan demikian hebat, tentu dia akan mencari jalan lain untuk menyelamatkan diri dari keadaannya yang terancam tadi.

“Aku takkan mempergunakan daun-daun iblis lagi,” pikirnya. “Terlalu keji”

Dengan cepat dia mendayung perahunya ke arah matahari yang mulai nampak di permukaan laut sebelah timur. Ia mendayung perahunya cepat sekali, namun belum juga kelihatan adanya pulau di sebelah sana, bahkan dia tidak melihat adanya lautan yang disebut jalan maut itu. Apakah ikan-ikan itu yang dianggap berbahaya oleh Lakayong? Tak mungkin, pikirnya. Sungguhpun ikan-ikan tadi baginya besar sekali dan membahayakan perahunya, namun bagi Lakayong dengan perahunya yang besar, ikan-ikan itu hanya merupakan ikan-ikan kecil saja yang tak mengancam keselamatan perahu raksasa itu.

Sehari penuh dia mendayung dan pada malam harinya dia tertidur lagi di dalam perahu, membiarkan perahunya terapung di atas air yang masih tenang.

Pada keesokkan harinya, dia mendegar suara mendesis-desis seperti mendengar ada ribuan ekor ular menyerangnya. Kwan Cu terbangun dari tidurnya dan melihat bahwa matahari telah naik agak tinggi dari permukaan laut sebelah timur. Ia memandang ke kanan kiri dengan heran tidak tahu apakah yang menimbulkan suara mendesis itu. Tiba-tiba dia melihat awan atau uap hitam yang bergerak mendatang dari arah utara menuju ke tempat di mana perahu berada. Makin lama uap itu makin besar dan sebagian uap menutup matahari sehingga pandangan mata pemuda itu menjadi gelap. Kemudian dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Beberapa ekor burung laut beterbangan ketakutan dan di antaranya ada yang terbang menerjang uap itu, lalu jatuh dalam keadaan hangus!

Bukan main kagetnya. Suara mendesis-desis makin keras dan ternyata bahwa suara itu keluar dari asap atau uap hitam ini. Uap ini melayang di atas permukaan laut hanya kurang lebih dua kaki dari atas kaki, seakan-akan ada hawa air laut yang menahannya. Ketika uap hitam itu sudah dekat degan perahunya, Kwan Cu mengerakkan dayungnya menyentuh uap, segera menjadi hangus ujungnya!

Pemuda ini kaget setelah mati dan cepat dia menjerembab di dalam perahu, bertiarap sehingga tubuhnya menempel pada perahu dengan telungkup. Kemudian semua menjadi gelap karena uap itu telah melayang diatas perahunya. Kwan Cu mengatur napas dan mengarahkan lweekangnya untuk melawan hawa napas ini. Suara mendesis-desis membisingkan telinganya dan membuat kepalanya pening.

Akhirnya suara mendesis menjauh tak lama kemudian suara itu lenyap, hawa panas pun lenyap. Baru Kwan Cu berani membuka mata dan menggerakkan leher menengok ke atas. Udara bersih dan ternyata bahwa uap hitam yang mengerikan itu telah lewat. Baiknya uap itu melayang agak tinggi dari permukaan laut, kalau lebih rendah tentu perahunya akan hangus, berikut tubuhnya.

Setelah yakin bahwa tidak ada bahaya lagi, Kwan Cu duduk dan pada saat itu juga dia merasakan getaran yang luar biasa hebatnya pada perahu yang didudukinya. Kiranya perahu ini terpegang oleh gerakan air yang luar biasa kuatnya dan Kwan Cu melihat sesuatu yang amat ganjil. Air laut yang dimasuki oleh perahunya itu bergerak mengalir dengan kekuatan yang dasyat sekali.

“Inilah agaknya batas yang disebut jalan maut itu,” pikir Kwan Cu dengan hati berdebar. Akan tetapi ketabahan dan ketenangannya tidak lenyap. Ia mencoba sedapat mungkin dengan keduanya untuk menahan perahunya supaya tidak terbalik. Dengan memukul dan menekan ke kanan kiri perahu, dia berhasil menjaga keseimbangan berat perahunya di bawa hanyut cepat sekali oleh aliran air itu. Memang amat aneh. Di laut yang kelihatan begitu tenang, bagaimana ada semacam sungai banjir?

Entah ke mana perahunya dihanyutkan, Kwan Cu tidak ingat lagi. Ia bekerja keras menjaga agar perahunya tidak terbalik dan perahunya meluncur bukan main cepatnya, jauh lebih cepat daripada kalau dia mempergunakan tenaga. Hal ini dapat dia rasai pada sambaran angin dari depan. Juga ketika ada air yang terkena pukulan dayungnya memercik ke atas mengenai lengan dan mukanya, dia merasa betapa air itu dingin sekali seperti salju!

Sampai matahari tenggelam, masih saja perahunya terbawa hanyut dengan kecepatan yang makin lama makin pesat. Ia melihat pulau-pulau kecil di kanan kiri, agak jauh, dan penglihatan ini menambah kenyataan betapa cepatnya air mengalir itu membawa perahunya. Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia melihat bahwa “sungai” yang tidak kelihatan ini agaknya memutari pulau-pulau itu. Tak lama kemudian, malam tiba dan cahaya bulan tak cukup terang sehingga pulau-pulau kecil itu pun lenyap tak dapat terlihat lagi.

Semalam itu masih terus bekerja. Ia tak berani mengurangi tenaganya karena sekali saja dia melepaskan dayung, perahunya mungkin akan terbalik dan kalau hal ini terjadi, berbahayalah keadaannya. Tubuhnya sudah terasa letih sekali, bukan hanya pengerahan tenaga sehari semalam tanpa ada hentinya, juga karena dia tidak mendapatkkan kesempatan untuk mengisi perut sama sekali.

“Celakalah kali ini,” pikir Kwan Cu.

“Kalau terus menerus begini, sampai berapa lama aku dapat bertahan?”

Menghadapi keadaan yang berbahaya ini, Kwan Cu teringat akan nasehat Lakayong. Benar juga rakasasa itu. Daerah inilah yang disebut daerah maut, atau jalan maut, karena memang luar biasa berbahayanya. Baru perjumpaan dengan uap berbisa tadi saja sudah amat berbahaya, dan sekarang terdapat aliran air yang begini dasyat.

Menjelang pagi, tenaga Kwan Cu sudah mulai lemas. Hampir-hampir dia tak dapat menahan lagi. Akan tetapi, tiba-tiba perahunya tidak begitu laju lagi dibawa hanyut, tanda bahwa tenaga aliran sungai yang tidak kelihatan itu mengecil. Ketika dia memandang ke depan dalam suasana pagi yang masih suram, dia tahu mengapa terjadi hal itu. Kirannya di depan membentang panjang pulau-pulau kecil yang hitam, dan tentu aliran itu tertahan oleh pulau-pulau sehingga buyar tenaganya dan perahunya pun terlepas dari pegangan aliran itu.

Dengan mengarahkan sisa tenaganya, Kwan Cu mendayung perahu ke kiri dan akhirnya dia berhasil melepaskan perahu sama sekali daripada aliran air yang mulai melemah itu. Ia membiarkan perahunya terapung dan ketika dia memandang ke kanan, kini nampaklah aliran sungai itu, agak kekuning-kuningan di antara air laut yang biru, yakni air laut yang tenang dan diam. Kwan Cu mengeleng-geleng kepala. Benar-benar suatu yang aneh sekali. Dari manakah timbulnya air kuning itu yang begitu saja muncul di tengah laut? Apakah dari dasar laut muncul sumber air itu? Ah, alangkah hebat, berkuasa, dan aneh adanya alam ini, yang bagi tangan Thian merupakan permainan kecil belaka.

Hal pertama-tama dilakukan oleh Kwan Cu adalah minum air minuman manis yang masih ada sisanya, kemudian dia makan sisa kuenya yang mulai mengeras dan kurang enak. Tangannya gemetar, tanda bahwa urat-uratnya sudah amat letih.

Sementara itu, matahari mulai naik tinggi dan pulau-pulau yang masih menahan aliran air kuning dan yang menyelamatkannya itu mulai kelihatan. Hati pemuda ini berdebar. Apakah pulau bundar kecil yang dicarinya itu berada diantara pulau-pulau itu? Siapa tahu kalau memang Im-yang Bu-tek Cin-keng benar-benar berada di atas sebuah di antara pulau-pulau itu, pikirnya penuh harapan. Ia mulai mendayung perahunya mendekati pulau-pulau itu, hendak menyelidik dan mencari-cari apakah di situ terdapat pulau yang di tumbuhi pohon-pohon berdaun putih.

Akan tetapi dia merasa tangannya lelah, tidak kuat lagi untuk mendayung lama-lama.

“Aku harus beristirahat dulu, harus tidur. Akan tetapi tidur di dalam perahu amat berbahaya, jangan-jangan perahuku akan hanyut pula ketika aku sedang tidur.” Mengigat ini, hatinya menjadi ngeri dan Kwan Cu mengerahkan tenaga untuk mendayung perahu itu ke arah sebuah pulau terdekat agar dia dapat tidur di darat.

Pulau itu kecil saja, akan tetapi ternyata merupakan sebuah pulau yang subur, dengan pohon-pohon kecil kehijauan. Kwan Cu tidak ada tenaga lagi untuk menyelidiki keadaan pulau itu, karena tubuhnya sudah amat letih. Setelah dia menyeret perahu ke darat, dia lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan sebentar saja pulaslah dia!

***

Kwan Cu yang sedang tidur pulas itu tidak tahu bahwa menjelang tengah hari, sebuah perahu yang kecil sekali mendarat di pesisir itu dan dari perahu itu melompat keluar dua orang gadis yang gesit sekali gerakannya. Dua orang gadis muda ini cantik-cantik sekali, pakaiannya terbuat daripada semacam sutra halus yang mencetak bentuk tubuh dengan ketat. Rambut mereka diikat ke belakang, rambut yang hitam dan bergoyang-goyang di belakang panggung.

Dua orang gadis cantik ini berlari-lari, akan tetapi tiba-tiba memandang ke arah perahu Kwan Cu dengan mata terbelalak dan kulit muka mereka yang kemerah-merahan dan halus itu, tiba-tiba menjadi pucat sekali dan keduanya berdiri terpaku pada tanah yang mereka injak, seakan-akan telah berubah menjadi dua patung batu yang indah.

Kemudian mereka lalu bicara perlahan sambil mencabut pedang dari belakang punggung, siap menghadapi segala macam bahaya. Gerakan mereka lincah dan cepat sekali, sehingga pencabutan pedang itupun hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata saking cepatnya. Kemudian mereka berlompat-lompatan ke arah perahu yang tadi ditarik ke darat oleh Kwan Cu. Setelah mereka tiba di dekat perahu, barulah dapat dimengerti mengapa mereka menjadi begitu kaget dan kelihatan takut. Ternyata bahwa kedua orang gadis itu kecil sekali setelah berada di dekat Kwan Cu yang kelihatan besar bukan main. Dua orang gadis itu kelihatan seperti anak-anak berusia lima enam tahun, padahal melihat bentuk tubuh dan wajah mereka, tentu mereka telah berusia sedikitnya tujuh belas tahun!

“Perahu raksasa!” kata seorang di antara mereka yang mempunyai tanda hitam seperti titik pada pipi kanannya dan yang menambah kemanisan wajahnya.

Gadis ke dua memandang ke kanan kiri, dan tiba-tiba menjerit perlahan sambil menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Kwan Cu yang masih tidur pulas di bawah sebatang pohon kecil. Gadis dengan tahi lalat di pipinya menengok sambil melompat seperti seekor burung walet membalikkan tubuh, dan ia pun mengeluarkan jerit tertahan. Bagi mereka, tubuh Kwan Cu kelihatan besar sekali, seperti seorang raksasa!

Keduanya bicara perlahan dan dengan gerakan cepat akan tetapi ringan sekali, dua orang gadis itu berlari-lari menghampiri Kwan Cu dengan pedang siap di tangan. Biarpun kecil tubuh mereka, namun mereka mempunyai ketabahan besar, karena kini mereka berani menghampiri raksasa itu sama sekali tidak melarikan diri ketakutan.

Hal ini tidak mengherankan kalau kita mengetahui siapa adanya dua orang gadis itu. Mereka ini adalah dua orang puteri raja yang sudah meninggal dunia dari suku bangsa katai yang hidup di sebuah di antara pulau-pulau di daerah itu, dan kedua orang gadis ini sekarang dianggap sebagai pemimpin mereka, karena di antara mereka, dua orang gadis ini di anggap sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian paling tinggi. Ini dapat di buktikan dari gerakan mereka yang benar-benar ringan dan cepat sekali, seakan-akan mereka mempunyai sepasang sayap seperti burung yang gesit sekali.

Ketika mereka tiba di dekat Kwan Cu yang masih tidur pulas saking lelahnya, gadis bertahi lalat di pipinya mencabut keluar sehelai sapu tanggan merah dari balik baju di dadanya, sedangkan gadis ke dua lalu menurunkan tali temali yang seperti sebuah jala ikan dari punggungnya. Biarpun ia sedang tidur pulas, kalau sekiranya yang datang mendekatinya itu orang-orang biasa, agaknya Kwan Cu akan mendengar juga karena telinganya telah terlatih baik. Akan tetapi yang datang adalah dua orang gadis yang memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa sehingga daun-daun kering yang mereka injak pun tidak menimbulkan suara apa-apa. Hal ini bukan karena hanya ilmu mereka sudah tinggi, akan tetapi juga karena mereka memakai sepatu yang bahannya lemas dan empuk sekali.

Gadis bertahi lalat di pipinya itu dengan gerakan cepat lalu meloncat ke dekat kepala Kwan Cu yang kelihatan besar sekali dan sekali ia mengerakkan tangan, sapu tangan merah itu melayang dan menyambar muka Kwan Cu.

Pemuda ini merasa bahwa ada sesuatu yang halus menutupi mukanya. Ia cepat membuka matanya, akan tetapi dari sapu tangan merah ini keluar keharuman luar biasa yang membuat dia tidak kuasa membuka mata saking mengantuknya dan dalam sekejap dia tertidur pulas kembali!

Gadis kedua yang berwajah gembira, cepat bergerak, melemparkan jalanya menyelimuti tubuh Kwan Cu. Dengan gerakan cekatan ia lalu membelit tubuh Kwan Cu dengan jala itu mengikat sana sini dan sebentar saja dibantu oleh gadis pertama, tubuh Kwan Cu sudah terbungkus jala itu dan kelihatan seperti seekor ikan besar masuk ke dalam jala yang kuat!

“Pergilah kau memanggil kawan-kawan untuk membawa raksasa ini pulang,” kata gadis bertahi lalat kepada adiknya.

Gadis ke dua sambil tertawa-tawa gembira lalu meloncat dengan cepat dan berlari-lari ke arah perahunya dan berlayar pergi. Adapun gadis pertama lalu duduk di dekat Kwan Cu, memeriksa bungkusan besar dari Kwan Cu yang tadi oleh pemuda itu diletakkan di dekatnya. Ia membuka bungkusan itu dengan wajah tertarik. Wajahnya yang cantik kemerah-merahan, rambutnya bergerak ke kanan kiri ketika ia dengan susah panyah membuka bungkusan yang berat itu. Akhirnya ia dapat membuka bungkusan dan setiap lembar pakaian Kwan Cu diperhatikannya dengan baik-baik, karena bahan pakaian itu sangat asing dan kasar baginya.

Ketika melihat bungkusan kuning, ia membukanya. Bungkusan itu adalah bungkusan daun Liong-co-hio yang berbahaya! Akan tetapi ketika membuka bungkusan itu, gadis itu segera melompat kaget sambil mengeluarkan suara keras. Di cabutnya saputangan merah yang tadi yang berhasil menidurkan Kwan Cu, lalu kedua tangannya digosok-gosokkan kepada saputangan itu. Setelah menyimpan kembali saputangannya, ia duduk dan memegang daun-daun itu! Sungguh mengherankan, daun yang dapat menghanguskan setiap tangan orang yang menyentuhnya kini berada di tangan gadis ini tanpa mendatangkan akibat apa-apa. Ternyata saputangan merah itu mengandung obat penawar yang luar biasa sekali.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: