Pendekar Sakti (Jilid ke-2)

Orang-orang yang melihat ini, menjadi ribut. Ketika mereka mengejar dan melihat betapa kakek bermuka harimau itu berlari cepat sekali, mereka berteriak-teriak,

“Ah, tentu dia penculik anak-anak itu! Kejar!”

“Tangkap penculik anak-anak!”

“Bunuh dia!”

Teriakan-teriakan susul-menyusul dan para pengejar makin banyak, akan tetapi kakek itu benar-benar lihai karena dalam sekejap mata saja dia sudah hilang dari pandangan mata orang banyak, tidak tahu kemana menghilangnya.

Sebentar saja, gegerlah seluruh kota Lung-to dan semua orang membicarakan tentang penculik itu. Banyak orang memberi bumbu sehingga tak lama kemudian, orang menggambarkan penculik itu sebagai seorang siluman yang bermuka singa dan yang mengerikan sekali! Para penjaga keamanan kota menjadi sibuk karena mereka berusaha untuk mencari dan menangkap penculik yang telah beberapa hari mengacau kota itu. Akan tetapi tetap saja tidak ada seorang pun tahu kemana perginya si penculik.

Pada saat orang-orang sedang kebingungan dan geger, muncullah seorang wanita yang amat cantik dan juga bersikap gagah sekali. Wanita ini masih muda, usianya takkan lebih dari dua puluh lima tahun, pakaiannya sederhana berwarna putih, akan tetapi kesederhanaan pakaiannya ini yang menambah kecantikan wajah dan potongan tubuhnya yang langsing dan padat itu makin nampak nyata. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya beronce benang-benang sutera merah. Rambutnya yang panjang terurai ke belakang itu diikat dengan pengikat rambut dari sutera merah pula. Pinggiran bajunya yang putih bersih itu berwarna biru, menambah kepantasan. Siapakah wanita ini? Melihat dari sikapnya, tak dapat diragukan lagi bahwa dia tentulah seorang wanita perkasa yang pandai ilmu silat. Dugaan ini tidak salah karena sesungguhnya dia adalah pendekar wanita yang terkenal dengan sebutan Pek-cilan (Bunga Cilan Putih). Sebetulnya nama sebutan ini lebih berdasarkan kecantikannya dan baju putihnya daripada kegagahannya. Namanya Thio Loan Eng, dan semenjak dewasa memang telah banyak merantau dan melakukan perbuatan-perbuatan besar, sehingga dapat mengangkat tinggi nama sendiri. Ilmu pedangnya amat terkenal di kalangan kang-ouw, karena Loan Eng adalah puteri dari Thio Keng In, tokoh terkenal dari barat yang memiliki ilmu pedang turunan dari keluarga Thio. Menurut kepercayaan orang, ilmu pedang keluarga Thio ini masih warisan dari ilmu pedang Thio Hui, tokoh besar dari jaman Sam Kok!

Ketika itu Loan Eng sedang berada di Lung-to. Ia mendengar suara ribut-ribut ini dan keluar dari kamar di hotelnya. Dengan cepat ia mendengar tentang penculikan seorang anak kecil oleh seorang saikong yang bermuka harimau, maka cepat pendekar wanita ini lalu mengadakan penyelidikan.

Sambil tertawa-tawa, Tauw-cai-houw membawa Kwan Cu ke dalam sebuah hutan yang amat liar di sebelah selatan kota Lung-to, terpisah kurang lebih lima belas li. Di tengah hutan ini memang menjadi tempat sembunyinya selama dia melakukan penculikan-penculikan terhadap anak-anak kecil di kota Lung-to. Setelah tiba di tempat tinggalnya, yakni sebuah lapangan yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar, dia melemparkan Kwan Cu ke atas tanah. Anak ini terguling, akan tetapi cepat melompat berdiri lagi dengan mata terbelalak. Kini dia benar-benar merasa seram ketika melihat betapa di atas tanah menggeletak tulang-tulang manusia dan tengkorak-tengkorak berserakan. Melihat ukuran tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak itu, dapat di duga bahwa itu adalah tengkorak dan tulang anak-anak kecil seperti dia!

Tauw-cai-houw mengambil sebuah kantong yang tadinya dia gantungkan di cabang pohon. Ia membuka kantong itu dan mengeluarkan sebutir buah yang kulitnya bersisik seperti kulit ular.

“Kau makanlah ini!” katanya kepada Kwan Cu sambil mengangsurkan buah itu. Akan tetapi Kwan Cu tidak mau menerimanya, hanya menggelengkan kepala. Sinar mata anak ini sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut terhadap saikong yang setengah gila itu.

“Hayo makan!” kembali Tauw-cai-houw membentak, akan tetapi dengan bandel sekali Kwan Cu menggeleng kepala.

Tauw-cai-houw menjadi marah. Dipegangnya leher Kwan Cu dan sekali tekan saja mulut anak itu terbuka. Buah ular itu diremas dalam tangan kanan dan dijejalkan ke dalam mulut Kwan Cu! Rasanya asam dan pahit, akan tetapi karena dijejalkan terus, terpaksa Kwan Cu menelannya! Sungguh aneh, biarpun rasanya asam dan pahit, setelah memasuki perutnya, terasa perutnya hangat dan enak sekali! Ia tidak tahu bahwa buah ular itu adalah semacam buah yang langka dan merupakan obat yang amat mujijat khasiatnya terhadap aliran darah. Selain pembersih darah, juga dapat menguatkan tubuhnya. Ternyata Tauw-cai-houw memaksa anak itu makan buah obat ini agar tubuh anak ini menjadi kuat dan dagingnya, darah, serta sumsumnya akan merupakan hidangan yang amat baik untuknya!

Setelah Kwan Cu menelan obat itu, Tauw-cai-houw tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, selama bertahun-tahun ini belum pernah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau! Sekali ini aku pasti akan berhasil. Kau adalah seorang anak sin-tong (anak ajaib), jantung dan otakmu pasti akan menghasilkan semua usahaku selama ini. Ah, kau mengingatkan betapa semua anak-anak ini hanyalah sebangsa boan-tong (anak nakal) belaka. Hm, sungguh menyebalkan!”

Kwan Cu tidak mengerti maksud kata-kata ini, hanya sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu memandang tajam.

“Mengapa matamu mendelik terus kepadaku?” Tauw-cai-houw membentak marah. “Tenanglah, matamu yang tajam itu takkan memasuki perutku, hanya akan membikin muak saja!”

Setelah berkata demikian, saikong ini lalu menyalakan api unggun yang besar, dan memasang tempat pemanggang dari kayu seperti yang bisa dipergunakan untuk memanggang binatang buruan. Kwan Cu masih juga tidak mengerti, hanya memandang segala tingkah laku orang tua yang aneh itu. Diam-diam dia membuat perbandingan, mana yang lebih aneh, kakek ini ataukah dua orang kakek yang saling hantam di tepi laut itu.

“Di dunia ini benar-benar banyak sekali orang-orang aneh. Dia ini tentu juga miring otaknya!” katanya dan karena kata-kata ini tanpa disengaja diucapkan keras-keras, maka didengar oleh Tauw-cai-houw.

“Apa katamu? Kau berani memaki aku gila?”

“Kalau kau tidak gila, mengapa kau menangkapku dan membawaku kesini? Kemudian kau memaksaku makan buah yang pahit dan tidak enak, perbuatan ini kalau tidak dilakukan oleh seorang gila, habis oleh siapa lagi!” Kwan Cu membantah berani.

“Benar, benar! Kau sin-tong (anak ajaib), kalau tidak demikian tak nanti kau berani mengeluarkan ucapan-ucapan seperti itu! Ha, ha, ha, hendak kudengar apa yang akan kaukatakan setelah kau kupanggang di atas api itu!” ia menuding ke arah api unggun yang sudah menyala besar.

“Celaka, memang kau benar-benar gila!” Kwan Cu menarik nafas panjang.

Sambil tertawa dengan suaranya yang serak, Tauw-cai-houw menubruk dan dalam sekejap mata saja kedua tangan Kwan Cu sudah ditelikung ke belakang dan diikat dengan tambang kulit pohon. Ia seperti seekor babi kecil yang sudah diikat keempat kakinya dan hendak dipanggang hidup-hidup. Kemudian, lebihan tambang pengikat tangan Kwan Cu, yang masih panjang, diikatkan di atas cabang pohon oleh kakek itu, tepat di atas api yang bernyala-nyala!

Kalau lain orang anak yang dipanggang seperti itu, tentu akan menjerit-jerit, akan tetapi Kwan Cu lain lagi wataknya. Anak ini benar-benar berhati baja dan biarpun dia sudah mulai merasa hawa panas dari bawah menyambarnya, dia tetap menggigit bibir tidak mau menangis atau berteriak.

“Benar-benar sin-tong! Sin-tong!” melihat hal ini Tauw-cai-houw menjadi makin girang. Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi pucat dan memaki-maki api di bawah tubuh Kwan Cu yang mengeluarkan suara “ces, ces!” lalu padam! Apa yang terjadi? Tadi sehabis dijejali buah ular yang asam dan pahit, Kwan Cu ingin sekali membuang air kecil, akan tetapi karena dia tidak sempat dan telah diikat tangannya, tentu saja dia tidak dapat membuang air kecil. Kini setelah digantung di atas, rasa panas membuat dia tidak dapat menahan lagi, dan kencinglah dia begitu saja. Sungguh kebetulan sekali, air kencing yang banyak itu menimpa api unggun dan memadamkan api itu karena kayu bakarnya menjadi basah semua!

Kwan Cu berotak cerdik. Kini dia dapat menduga bahwa kakek gila di bawah ini adalah seorang pemakan daging anak-anak! Diam-diam dia bergidik juga, akan tetapi takut dia tidak! Agaknya anak ini memang telah lenyap perasaan takutnya setelah terlepas dari bahaya maut di tengah samudra.

“Lopek, apakah kau tidak mendengar suara tengkorak-tengkorak itu bicara?” tanya Kwan Cu kepada Tauw-cai-houw yang sedang mengumpulkan lagi kayu bakar yang kering sambil mengomel panjang pendek.

Mendengar ini, Tauw-cai-houw menjadi terkejut sekali.

“Bohong, bocah nakal! Mana ada tengkorak bicara? Tutup mulutmu, kau sudah kenyang, akan tetapi aku sudah lapar sekali!”

“Siapa membohong? Aku mendengar dengan jelas tengkorak-tengkorak di bawah itu berkata-kata.”

Kini Tauw-cai-houw menghentikan pekerjaannya dan dia memandang ke atas di mana Kwan Cu tergantung dengan muka di bawah.

Kwan Cu mengeluarkan suara mengejek. “Mana bisa kau mendengarnya? Aku adalah seorang anak sin-tong (anak ajaib), ingatkah kau?”

Wajah Saikong itu berubah, agak pucat. “Apa kata mereka?” tanyanya, suaranya tidak begitu keras seperti tadi.

“Turunkanlah dulu aku dari sini, nanti kuceritakan apa yang kudengar tentang mereka, ” kata Kwan Cu.

Tauw-cai-houw memang otaknya tidak begitu beres, maka mendengar ini, dia lalu menurunkan Kwan Cu.

“Lepaskan dulu ikatan tanganku, ikatanmu kuat sekali sehingga kau membikin tanganku sakit,” kata pula anak ini, suaranya tetap tenang seperti tidak terjadi sesuatu yang hebat dan yang mengancam nyawanya.

Mendengar ini Tauw-cai-houw ragu-ragu, akan tetapi dia lalu menggerutu, “Dibuka juga, apa kaukira bisa pergi lari?” ia lalu membuka ikatan kedua tangan Kwan Cu. Anak ini menggosok-gosok pergelangan kedua tangannya yang terasa sakit dan kelihatan kulitnya matang biru.

“Hayo lekas ceritakan, apa yang kau dengar dari tengkorak-tengkorak itu?”

Kwan Cu melirik ke kanan kiri dan diam-diam dia merasa seram melihat rangka manusia ini. Selama hidupnya belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini, maka diam-diam dia merasa betapa kepalanya yang gundul itu menjadi dingin sekali. Tanpa di sengaja dia meraba kepalanya. Dan setelah meraba, dia mengeluarkan seruan tertahan. Ternyata bahwa kepalanya kini menjadi pelontos dan licin sekali, semua rambut yang tadinya masih ada sedikit-sedikit telah lenyap sama sekali, menjadi licin!

Melihat air muka anak itu terkejut dan terheran-heran, Tauw-cai-houw tertawa bergelak. “Rambutmu, baik yang di kepala maupun yang di tubuh, telah rontok semua oleh daya coa-ko (buah ular) tadi. Apa kaukira aku doyan makan daging berbulu dan berambut?”

Kwan Cu mendongkol sekali. Jadi buah yang pahit tadi gunanya untuk membikin rambut dan bulu-bulunya rontok sehingga dia seperti seekor ayam yang dicabut bulu-bulunya sebelum dimasak? Terlalu sekali!

“Nah, hayo ceritakan, tengkorak-tengkorak itu berkata apa?” Tauw-cai-houw berkata tidak sabar lagi.

“Mereka saling bercakap-cakap membicarakan kau,” Kwan Cu mulai memberi keterangan. “Katanya bahwa hari ini adalah hari kematianmu, karena sebagai seorang anak sin-tong, dagingku panas dan sumsumku beracun, hingga begitu kau makan aku, kau akan mampus!”

Kini Tauw-cai-houw benar-benar menjadi pucat dan tanpa terasa lagi dia melangkah mundur sampai tiga tindak. Ia memandang kepada Kwan Cu dengan mata terbelalak, dan diam saja ketika melihat anak itu berjalan pergi sambil berkata, “Karena itu demi keselamatanmu sendiri, jangan kau makan aku!”

Kwan Cu berjalan pergi dan dia tidak berani menengok lagi. Hatinya berdebar karena dia tidak mendengar orang itu mengejar. Benar-benar dia dapat mengakalinya demikian mudah? Akan tetapi, tiba-tiba dia mendengar angin menyambar dan tahu-tahu dia telah ditangkap lagi! Seperti tadi, kedua tangannya telah diikat kembali dan Tauw-cai-houw berkata dengan suara mengancam,

“Sin-tong, betapapun juga, tetap saja kau akan kupanggang! Kau kira aku akan begitu bodoh? Aku akan mengambil sekerat dagingmu dan sedikit sumsummu, kuberikan kepada harimau lebih dulu! Kalau harimau yang makan dagingmu dan sumsummu tidak mati, mengapa aku akan takut makan kau?” Sambil tertawa terbahak-bahak Tauw-cai-houw membawa kembali Kwan Cu ke tempat tadi dan kali ini benar-benar Kwan Cu putus harapan. Akan tetapi, anak ini tetap tidak mau menangis atau menjerit minta tolong. Ia menghadapi dengan mata terbuka, bahkan matanya makin besar cahayanya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih, dibarengi bentakan nyaring.

“Siluman jahat, lepaskan anak itu!” Bentakan ini dibarengi menyambarnya pedang yang bercahaya ke arah dada saikong itu. Tauw-cai-houw terkejut sekali karena gerakan serangan pedang ini bukan main cepatnya. Ia terpaksa melepaskan tubuh Kwan Cu yang jatuh membelakang. Kwan Cu merasa jidatnya sakit terbentur batu, akan tetapi anak ini tidak mengeluh dan cepat-cepat miringkan kepala untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata olehnya bahwa yang menyerang penculik itu adalah seorang wanita baju putih yang cantik sekali. Ketika penyerang yang bukan lain adalah Thio Loan Eng ini menemukan jejak penculik yang membawa lari anak kecil, ia lalu menyusul terus sampai ke dalam hutan dan kebetulan sekali ia melihat Tauw-cai-houw hendak memegang seorang anak kecil. Ia terkejut sekali ketika mengenal saikong ini, juga berbareng marah sekali, maka langsung ia lalu menyerangnya dengan tusukan Sin-liong-jut-tong (Naga Sakti Keluar Gua).

Tauw-cai-houw adalah seorang yang tinggi ilmu silatnya, maka biarpun diserang dengan tiba-tiba secara hebat ini, masih dapat dia melepaskan Kwan Cu. Kemudian sekali saja tangannya bergerak, dia telah mencabut sebatang golok yang amat besar dan tajam.

“Bangsat kecil, siapa kau berani sekali menyerangku?” bentak Tauw-cai-houw sambil memalangkan goloknya di depan dada dengan sikap mengancam.

Loan Eng berdiri tegak dengan menudingkan pedangnya kepada Tauw-cai-houw. “Siluman keji! Sudah lama nonamu mendengar tentang kejahatanmu dan kebetulan sekali kita bertemu di sini. Inilah tandanya bahwa Tauw-cai-houw akan segera tamat riwayatnya. Orang jahat, kau telah kehilangan anakmu sendiri, mengapa kau sekarang berlaku kejam kepada anak-anak orang lain? Apakah kau sudah tidak mempunyai perasaan lagi sehingga kau membuat anak-anak menjadi seperti ini?” Dengan tangan kirinya Loan Eng menunjuk kearah tengkorak-tengkorak yang menggeletak di kanan kiri Kwan Cu.

Semenjak tadi Tauw-cai-houw berdiri bengong dan takjub. Belum pernah dia melihat seorang wanita yang dalam pandangan matanya demikian cantik jelitanya, yang mengingatkan dia kepada isterinya dahulu! Kemudian mendengarkan ucapan Loan Eng dia seperti tersadar dan untuk beberapa lama dia tak dapat berkata-kata!

“Tauw-cai-houw, bersedialah untuk mampus!” Loan Eng membentak ketika melihat orang itu hanya berdiri memandangnya dengan mata terbelalak kagum. Dengan seruan ini, wanita perkasa itu kembali menyerang dengan pedangnya dan kali ini ia menggerakkan pedangnya secara lihai sekali. Inilah ilmu pedang keturunan dari keluarganya dan biarpun Tauw-cai-houw amat lihai, namun dia segera menjadi repot sekali menghadapi serangan pedang ini.

“Nona, tahan, Nona…..aku tak dapat melawanmu….” Loan Eng membelalakkan matanya yang bagus. Ia merasa heran sekali mendengar suara lawannya dan ketika ia memandang, ternyata bahwa saikong yang bertubuh besar dan bermuka seperti harimau itu telah menangis tersedu-sedu!

“Nona, jangan serang aku…..kalau kau kehendaki aku akan melepaskan anak ini, aku akan melakukan apa saja yang kau kehendaki, akan tetapi….jangan kau tinggalkan aku selamanya…..”

Loan Eng sudah mendengar tentang Tauw-cai-houw, dan sudah mendengar pula tentang riwayat orang aneh ini, juga tahu bahwa orang ini otaknya miring. Akan tetapi mendengar kata-kata permintaan itu, mau tidak mau ia merasa jengah dan merahlah mukanya.

“Keparat!” serunya marah dan kembali pedangnya membacok dengan gerak tipu Batu Karang Menimpa Jurang. Bacokan ini hebat sekali dan demikian cepatnya sehingga tak mungkin dielakkan pula. Terpaksa Tauw-cai-houw menangkis dengan goloknya.

“Traaang….!” Bunga-bunga api berpijar dan Loan Eng merasa tangannya tergetar hebat.

“Nona, jangan serang aku ……jangan tinggalkan aku…” berkali-kali Tauw-cai-houw berkata dengan suara dengan penuh permohonan. Akan tetapi Loan Eng menjadi makin penasaran dan marah. Ia menyerang terus bertubi-tubi dan lawannya hanya menangkis atau mengelak cepat, sama sekali tidak mau membalas, hanya minta-minta dengan suara pilu. Sesungguhnya , Loan Eng sendiri merasa bahwa kepandaian saikong ini masih lebih lihai dari padanya. Kalau Tauw-cai-houw membalas, tentu akan terdesak wanita perkasa ini. Akan tetapi, saikong itu tidak mau membalas sedikitpun juga dan betapapun lihainya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Loan Eng adalah ilmu pedang yang baik sekali dan juga kepandaian Loan Eng sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Maka bagaimana dia dapat mempertahankan diri terus tanpa membalas?

Setelah melakukan perlawanan selama lima puluh jurus lebih, akhirnya sebuah bacokan pedang Loan Eng menyerempet lengan kanannya sehingga segumpal daging dekat sikunya terbabat pedang dan goloknya lepas dari pegangan.

“Aduh, nona ….jangan lukai aku….” Saikong itu berseru akan tetapi Loan Eng mendesak terus.

“Cep! Cep!” dua kali ujung pedangnya berhasil menusuk pundak dan paha lawannya.

Tauw-cai-houw mengaduh-aduh dan terhuyung-huyung mundur. “Nona…..Nona…jangan lukai aku….” Ia masih berseru dan mengangkat kedua tangannya ke atas sambil memandang kepada Loan Eng dengan sinar mata mengasih. Loan Eng diam-diam merasa kasihan juga kepada orang ini, akan tetapi mengingat kejahatan-kejahatannya yang sudah melampaui batas prikemanusiaan, Loan Eng menggigit bibirnya yang merah lalu melompat maju dengan sebuah tusukan hebat sekali.

“Aduh, isteriku…..mengapa kau berhati sekejam itu?” Tauw-cai-houw menjerit dan setelah memanggil-manggil isterinya, tubuhnya berkelojotan dan tak lama kemudian dia menghembuskan nafas terakhir. Dadanya telah tertembus oleh pedang Loan Eng yang cepat membersihkan pedangnya dan sekali tebas saja ia telah memutuskan tali yang mengikat kedua tangan Kwan Cu.

Loan Eng mengira bahwa anak ini akan berlutut menghaturkan terima kasih kepadanya, akan tetapi dia kecelik besar. Kwan Cu bahkan berdiri tegak didepannya dengan sinar mata bernyala-nyala dia mencela, “Kau kejam sekali!”

Loan Eng benar-benar tertegun .

“Apa? Aku kejam? Kalau aku kejam, habis bagaimana kau menganggap dia itu?” Dengan pedangnya ia menunjuk kearah mayat Tauw-cai-houw.

“Dia? Dia jahat .” Jawab Kwan Cu tanpa ragu-ragu lagi.

“Hem, anak bodoh. Kalau aku tidak berlaku seperti yang kau sebut kejam tadi, apa kau kira sekarang kau masih dapat bernafas lagi? Mungkin kau sudah masuk kedalam perutnya yang gendut itu.”

“Akan tetapi tidak perlu dibunuh.” Bantah Kwan Cu dan mendengar kata-kata ini, diam-diam Loan Eng terheran. Ia tadi sudah merasa heran mengapa anak ini tidak merasa mengeluh atau menangis, tadinya ia mengira bahwa anak ini tentu ditotok jalan darah bagian Ahhiat sehingga membuatnya menjadi gagu, akan tetapi ternyata anak ini tidak apa-apa. Mengapa ada anak demikian bandel dan kuat? Jidat anak itu masih berdarah bekas terbentur ketika jatuh tadi, akan tetapi sedikitpun tidak pernah mengeluh. Dan sekarang, kata-kata itu lagi. Sungguh-sungguh tak pantas keluar dari mulut seorang anak kecil!

Ia merasa tidak seharusnya berbantah dengan seorang anak berusia lima tahun, akan tetapi anak ini lain lagi. Kata-katanya membuatnya merasa penasaran. Ia telah menolong nyawa anak ini dan apa balasannya? Celaan! Sungguh membuat penasaran dan gemas.

“Bocah ingusan! Kau tahu apa? Kau lihat rangka-rangka itu? Kalau si jahat itu tidak kubunuh, kau pun akan menjadi rangka, dan bukan kau saja, masih banyak anak-anak kecil akan ditangkapnya, dibunuhnya secara keji. Aku telah membunuh seorang jahat dan melenyapkan bencana demi keselamatan banyak orang anak-anak seperti engkau. Dan engkau menganggap aku kejam?”

Setelah mendengar pembelaan ini, baru agaknya Kwan Cu mau mengerti, dia mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul dan berkata, “Toanio, kau benar aku yang salah. Terima kasih banyak atas pertolonganmu tadi.”

Loan Eng mau tidak mau harus tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali. Alangkah mahalnya ucapan “terima kasih” dari anak jembel ini. Akan tetapi diam-diam ia tertarik . Anak ini bukan anak biasa, dan cara anak ini mengaku kesalahan sendiri, benar-benar mengherankan dan mengagumkan hatinya.

“Anak, siapakah namamu?”

“Namaku Lu Kwan Cu.”

“Sebatangkara?” Kwan Cu mengangguk sunyi.

“Tidak ada tempat tinggal?” Kwan Cu menggeleng, juga tanpa berkata sesuatu.

Loan Eng menggeleng-geleng kepala dan menarik nafas panjang. Alangkah banyaknya anak-anak terlantar seperti Kwan Cu ini. Banyak sudah ia bertemu dengan anak-anak seperti ini, sebatangkara, berkeliaran menjadi pengemis, tidak jarang mati kelaparan. Akan tetapi, belum pernah ia bertemu dengan jembel kecil seperti Kwan Cu ini. Juga wajah anak ini berbeda sekali dengan lain-lain jembel.

“Kwan Cu, maukah kau ikut dengan aku?”

“Ke mana?”

“Kemana saja aku membawamu pergi.”

“Mengapa? Untuk apa?”

“Anak bodoh, apa kau lebih suka berkeliaran seorang diri di dunia yang penuh kejahatan ini? Baru saja kau mengalami peristiwa yang mengancam nyawamu, apakah kau tidak ingin ikut dengan aku, menjadi muridku?”

“Menjadi muridmu, Toanio? Belajar apa?”

“Benar-benar pepat pikiranmu. Tentu saja belajar ilmu silat!”

“Untuk apa belajar silat?”

“Bodoh! Kalau kau memiliki kepandaian silat, apakah segala macam orang jahat seperti Tauw-cai-houw itu dapat mengganggumu?”

“Tidak, Toanio,” Anak itu menggeleng kepalanya yang gundul. “Aku tidak suka belajar silat.”

“He? Kenapa?” Wanita cantik itu bertanya heran.

“Aku tidak mau belajar menjadi orang kejam.” Kwan Cu teringat akan dua orang aneh di pantai laut. “Ilmu silat hanya dapat dipergunakan untuk memukul orang, bahkan untuk membunuh orang. Aku tidak suka pukul orang, juga tidak suka bunuh orang!” Mendengar filsafat kanak-kanak ini, hati nyonya itu tertegun. Benar-benar anak ini luar biasa sekali, Loan Eng bermata tajam dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia dapat pula melihat bahwa anak ini bertulang baik sekali untuk belajar silat.

“Kalau aku mendapat kesempatan belajar, aku ingin belajar, membaca dan menulis, bukan belajar menggerakkan senjata tajam yang mengerikan,” jawab Kwan Cu dengan suara tetap.

“Hm, kaukira aku hanya dapat menggerakkan pedang saja? Akupun pernah mempelajari ilmu surat.”

Kwan Cu sangat girang sekali. “Kalau begitu aku mau menjadi muridmu, Toanio!” Setelah berkata demikian, serta merta anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Loan Eng yang kembali melengak, kemudian ia tertawa. Ketika Kwan Cu memandang, anak ini heran juga. Setelah tertawa nyonya ini tampak cantik sekali bagaikan matahari yang bersinar terang, sedangkan tadinya ada bayangan kemuraman pada wajah manis itu, seakan-akan matahari yang tertutup mendung.

“Toanio, bolehkah teecu (murid) mengetahui namamu yang mulia?”

“Aku disebut orang Pek-cilan, namaku Thio Loan Eng.”

Kwan Cu mencatat nama ini di dalam otaknya, kemudian setelah Loan Eng mengajaknya pergi, dia mengikuti wanita perkasa ini tanpa banyak cakap lagi. Loan Eng merasa kasihan pada Kwan Cu, maka ia ingin menolong anak ini.

“Kau ikut aku ke rumahku didusun Tun-hang, di sana kau boleh belajar membaca dan menulis, akan tetapi kau harus membantu pekerjaan di rumah,” katanya.

Kwan Cu mengangguk-angguk. “Tentu saja, Toanio. Aku pun tidak suka menganggur saja.”

Diam-diam Loan Eng berpikir. Anak ini bukanlah anak sembarangan, pikirnya. Sudah terang anak ini punya keberanian luar biasa, juga keuletan menderita yang amat mengagumkan. Selain itu, pandangan dan pikirannya mendalam dan luas, kini ucapan ini membayangkan bahwa ia mempunyai keangkuhan pula.

“Dimana orang tuamu? Siapakah mereka?” tanyanya sambil berjalan perlahan karena kalau ia menggunakan ilmu berjalan cepat, tentu anak ini kan tertinggal jauh.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa namaku Lu Kwan cu, yang lain-lain aku tidak tahu sama sekali,”

Loan Eng makin merasa heran. Sungguh kasihan, mungkin semenjak kecil sudah hidup merantau seorang diri, pikirnya.

“Toanio, mengapa orang gila tadi menyebut kau sebagai isterinya? Dan mengapa ada orang makan anak kecil?” Kwan Cu bertanya.

Loan Eng lalu menceritakan keadaan Tauw-cai-houw. Ia telah mendengar riwayat orang itu dari mendiang ayahnya.

“Dia mempunyai riwayat yang amat menyedihkan. Isterinya yang masih muda dan cantik telah lari dengan laki-laki lain, meninggalkan seorang anak kecil. Kemudian dia merantau seperti orang gila mencari-cari isterinya, menggendong anaknya yang masih kecil itu. Ketika dia tiba di dalam sebuah hutan dan menurunkan anaknya dari gendongan, anaknya itu diterkam harimau! Ketika itu dia sedang mencari buah-buahan untuk anaknya, dan ketika dia datang menolong ternyata sudah terlambat. Anaknya telah menjadi mangsa harimau yang kelaparan. Ia mengamuk dan seperti orang gila dia membunuh seluruh harimau yang berada di dalam hutan itu. Pukulan batin ini terlampau berat baginya sehingga selain benci kepada harimau, juga timbul iri hatinya setiap kali dia melihat anak kecil. Akhirnya, kegilaannya memuncak dan dia membunuh serta makan daging setiap anak kecil yang diculiknya. Kau masih beruntung hanya menderita luka di jidatmu setelah tertangkap olehnya, sedikit saja aku terlambat kaupun akan menjadi mangsanya. Entah bagaimana, dia telah berubah seperti seekor harimau dan menganggap diri sendiri sebagai harimau yang suka makan anak kecil. Oleh karena itu maka di kalangan kang-ouw dia dikenal sebagai Tauw-cai-houw atau Harimau Menagih Hutang, yaitu hutang nyawa anaknya!”

“Aduh kasihan sekali. Kalau begitu memang lebih baik dia mati,” kata Kwan Cu.

Akan tetapi, pada saat itu Loan Eng memandang kepadanya. Pendekar wanita ini teringat akan luka dijidat Kwan Cu dan kini ketika ia melirik ke arah jidat anak itu, ia menjadi heran sekali. Jidat yang tadinya matang biru dan agak terluka di tengah-tengah benjol itu, kini lukanya telah lenyap sama sekali.

“Coba aku melihat luka di jidatmu!” katanya dan cepat ia memegang kepala anak itu. Benar-benar mengherankan sekali karena luka itu sekarang sama sekali tidak berbekas lagi. Kulit itu halus saja dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bekas terluka. Sungguh tak mungkin sekali! Menurut kebiasaan, luka dan benjol seperti itu takkan lenyap dalam waktu satu dua hari, akan tetapi baru beberapa jam saja luka di jidat anak ini telah lenyap.

Melihat air muka nyonya perkasa itu terheran-heran, Kwan Cu bertanya,

“Ada apakah yang aneh pada jidatku, Toanio?”

“Kau tadi diberi makan apakah oleh Tauw-ci-houw?” tanya Loan Eng tanpa memperdulikan pertanyaan Kwan Cu.

“Sebelum dia memanggangku, dia menjejalkan sebutir buah yang pahit dan masam ke dalam mulutku sehingga terpaksa aku menelannya.”

“Buah yang kulitnya bersisik seperti ular?”

Ketika Kwan Cu mengangguk membenarkan, Loan Eng menjadi terkejut dan girang sekali sehingga dia memegang kedua pundak Kwan Cu dengan keras. Anak itu menyerigai kesakitan sehingga Loan Eng cepat melepaskan pegangannya.

“Apanya yang hebat, Toanio? Buah itu tidak enak sekali.”

“Kau tahu apa? Buah itu khasiatnya hebat sekali. Ratusan orang kang-ouw berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan buah yang hanya terdapat di puncak Hoa-san dan yang pohonnya hanya berbuah setiap lima puluh tahun sekali! Kau mau tahu kehebatannya?” Loan Eng mencabut pedangnya dan secepat kilat ia menggoreskan ujung pedangnya pada lengan kiri Kwan Cu. Anak itu terkejut, akan tetapi biarpun merasa sakit dan perih, dia tidak mengeluh, hanya memandang kepada Loan Eng dengan keheranan. Kulit lengannya terbuka dan darah mengalir keluar. Akan tetapi hanya sebentar saja karena darah itu menutup kulit dan cepat mengering. Sebentar saja lenyaplah rasa sakit dan ketika Loan Eng menggosok-gosok darah kering itu, ternyata bahwa luka pada kulitnya telah tertutup kembali, hanya ada bekas guratan yang halus sekali, hampir tidak kelihatan!

“Kau lihat, hebat bukan? Kecuali terputus uratmu, kulit dan dagingmu menjadi kebal dan biarpun dapat terluka, kau akan segera sembuh kembali. Kalau kau sudah mempelajari lweekang, bahkan kau takkan dapat terluka oleh senjata tajam! Kau benar-benar beruntung sekali, Kwan Cu!”

Kwan Cu kurang mengerti, akan tetapi melihat khasiat buah itu, dia mengeluarkan lidahnya saking kagumnya.

“Semua ini berkat pertolonganmu, Toanio. Kalau kau tidak datang menolong, apa artinya buah itu bagiku?”

Besar juga hati Loan Eng. Betapapun juga, anak ini ternyata tahu akan terima kasih. “Baiknya Tauw-cai-houw telah gila. Kalau dia sendiri yang makan buah itu, apakah aku dapat menang dalam pertempuran melawan dia tadi?” Biarpun mulutnya bilang begitu, namun di dalam hatinya Loan Eng tahu bahwa kalau saja Tauw-ci-houw tidak tertarik oleh kecantikannya dan teringat akan isterinya, ia takkan dapat menang menghadapi orang gila itu yang kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya.

“Kwan Cu, berjalan seperti ini, dalam sebulan belum tentu kita akan sampai di Tun-hang. Hayo kugendong kau!”

Kwan Cu memandang ragu. “Toanio pakaianku kotor.”

“Habis mengapa?” Wanita perkasa itu memandang sambil tersenyum.

“Pakaianmu begitu bersih, aku takut akan mengotorkan pakaianmu saja.”

“Anak bodoh!” seru nyonya itu dan sebelum Kwan Cu sempat menjawab, ia telah dipondong. Sebentar kemudian Kwan Cu merasa kepalanya pening karena nyonya itu berlari cepat sekali bagaikan seekor burung sedang terbang.

“Aduh cepatnya!” serunya girang setelah dia menjadi biasa dengan kelajuan ini

“Kau mau mempelajarinya?”

“Tentu saja, Toanio. Kepandaian ini amat besar gunanya. Aku suka mempelajarinya.”

Loan Eng tetap berlari cepat dan kembali nyonya perkasa ini tersenyum. Anak ini baik sekali, cocok untuk menjadi kawan anakku, pikirnya.

“Bukankah tadi kau bilang tidak suka belajar ilmu silat?”

“Eh apakah lari cepat termasuk ilmu silat, Toanio? Yang aku tidak suka adalah ilmu memukul dan membunuh orang. Ilmu berlari cepat seperti ini tidak dapat melukai orang. Aku suka mempelajarinya!”

Dengan berlari cepat sekali, dalam beberapa hari saja Loan Eng sudah tiba di dusun Tun-hang, sebuah dusun kecil di kaki gunung Fu-niu akan tetapi yang mempunyai daerah dan tanah subur sekali. Kehidupan penduduk di situ hanya bercocok tanam, akan tetapi biarpun hidupnya amat sederhana, namun mereka cukup makan dan sehat, boleh dibilang makmur.

Rumah keluarga Thio cukup terkenal, karena selain rumah ini paling besar diantara semua rumah di Tun-hang, juga siapakah yang tidak mengenal Bun-pangcu, mending suami Loan Eng? Dahulu Loan Eng tinggal di situ dengan ayahnya dan kemudian setelah ia menikah dan ayahnya sudah meninggal dunia, ia tinggal berdua dengan suaminya, seorang gagah perkasa bernama Bun Liok Si, ketua dari Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang berpusat di kota Cin-an. Sin-to-pang terkenal sebagai perkumpulan orang gagah, dan seperti dapat diduga dari nama perkumpulannya, perkumpulan ini terkenal karena ilmu goloknya yang lihai. Tentu ilmu golok yang amat hebat. Setelah dia menikah dengan Thio Loan Eng, nama perkumpulan ini menjadi makin terkenal karena Loan Eng merupakan seorang tokoh yang diindahkan dari dunia kang-ouw.

Pernikahan itu amat berbahagia dan Loan Eng beserta suaminya dikaruniai seorang puteri yang mungil dan yang diberi nama Bun Sui Ceng. Akan tetapi ketika Sui Ceng berusia tiga tahun, terjadi peristiwa yang hebat sekali. Untuk mengurus perkumpulannya yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, Bun Liok Si sering kali pergi ke kota Cin-an. Akhir-akhir ini makin sering Liok Si pergi ke Cin-an dan makin lama saja dia berada di kota itu meninggalkan anak isterinya. Loan Eng tidak bercuriga, karena sebagai seorang isteri yang bijaksana, ia mencintai dan juga percaya penuh kepada suaminya.

Akan tetapi di antara pembantu-pembantu suaminya, terdapat seorang pemuda yang diam-diam menaruh hati cinta kepada Loan Eng yang cantik jelita. Pada suatu hari, pemuda ini menjumpai Loan Eng dan menceritakan bahwa kini Bun Liok Si mempunyai seorang kekasih di kota Cin-an, dan bahwa kekasihnya itu telah dijadikan isteri kedua. Oleh karena itulah maka Bun Liok Si jarang sekali pulang ke dusun dan betah sekali tinggal di Cin-an.

Thio Loan Eng adalah seorang wanita yang berhati keras sekali, seperti mendiang ayahnya. Ia mencinta dan percaya pada suaminya, akan tetapi kalau ia dipermainkan, ia menjadi seorang iblis wanita! Dengan marah sekali ia lalu membawa pedangnya dan menyusul ke Cin-an. Benar saja, ia mendapatkan suaminya berada dalam rumah seorang nona cantik yang menjadi penyanyi terkenal di kota itu. Meluaplah kemarahannya dan ia membunuh perempuan itu. Juga ia menyerang suaminya kalang kabut dengan pedangnya. Bun Liok Si merasa bersalah dan minta ampun, akan tetapi Loan Eng tidak mau memberi ampun dan menyerang terus. Kalau saja Bun Liok Si mau melawan dengan goloknya yang lihai, agaknya isterinya takkan menang. Akan tetapi pada waktu itu, Bun Liok Si yang sudah merasa bersalah itu berlaku mengalah dan tidak mau membalas. Ilmu pedang Loan Eng cepat dan ganas sekali, maka akhirnya pedang di tangan nyonya muda yang marah besar ini menembus dada suaminya sendiri! Di dalam saat terakhir Bun Liok Si masih memaafkan isterinya dan berpesan agar isterinya itu merawat Sui Ceng baik-baik!

Setelah melihat suaminya menggeletak tak bernyawa di depan kakinya, barulah Loan Eng merasa menyesal sekali. Kemudian ia mendengar bahwa memang sudah lama suaminya itu dibujuk-bujuk dan dirayu-rayu oleh nona penyanyi ini dan ketika ia menyelidiki, ternyata bahwa nona penyanyi ini bersekutu dengan pemuda yang melaporkan kepadanya tentang ketidaksetiaan suaminya! Loan Eng menjadi sadar dan pada hari itu juga ia mencari pemuda yang menjadi pembantu suaminya dan tanpa ampun lagi ia membunuh pemuda ini!

Perkumpulan Sin-to-pang menjadi gempar, akan tetapi tak seorang pun berani menentang Loan Eng atau Pek-cilan yang ilmu pedangnya hebat itu. Bun Liok Si amat dicinta oleh semua anggautanya, maka para anak buah Sin-to-pang menaruh dendam pada Loan Eng, sesungguhpun mereka tidak berani menyatakan secara berterang. Loan Eng juga tidak mau mempedulikan lagi kepada perkumpulan mendiang suaminya, dan ia hidup berdua dengan puterinya di rumah besar warisan orang tuanya sendiri di dusun Tun-hang.

Pada saat Loan Eng memondong Kwan Cu tiba dipinggir dusun Tun-hang, tiba-tiba ia menghentikan larinya ketika melihat tiga orang laki-laki yang kepalanya diikat saputangan putih berdiri di pinggir jalan dan memandangnya dengan tajam.

“Mengapa kalian memandang saja kepadaku?” tanya nyonya cantik ini dengan ketus.

Tiga orang itu berubah air mukanya dan mereka cepat memberi hormat sambil menjura.

“Tidak, Thio-toanio, kami tidak bermaksud apa-apa, hanya merasa heran melihat toanio menggendong seorang anak laki-laki yang tidak kami kenal,” kata seorang di antara mereka.

“Bukan urusanmu, jangan ambil pusing! Eh, siapakah sekarang yang menjadi pangcu (ketua) dari Sin-to-pang?” tiba-tiba ia bertanya.

“Belum ada, Toanio, kebetulan sekali Toanio bertanya tentang hal ini. Sesungguhnya kami bertiga untuk sementara ini mengurus perkumpulan, sementara menanti adanya seorang ketua. Karena kita sudah membicarakan perkumpulan, biarlah kami bertiga mengulangi lagi permohonan kami kepada Thio-toanio. Harap Toanio sudi mengingat akan usaha dan jerih payah Bun-pangcu dan suka memimpin perkumpulan kami yang…..”

“Cukup! Aku sampai bosan mendengarkannya. Berapa kali sudah kukatakan bahwa aku tidak peduli lagi dengan perkumpulan busuk itu? Perkumpulan yang hanya mengutamakan nafsu dan pelanggaran susila?”

“Toanio terlalu tidak adil!” Seorang diantara mereka berseru. “Hanya seorang yang melanggar, akan tetapi Toanio mengutuk kami semua. Apakah kematian Bun-pangcu masih belum cukup merupakan tebusan dosa? Apakah…..”

Belum habis orang itu bicara, tangan Loan Eng menyambar dan terdengar orang itu berseru kesakitan dan tubuhnya terlempar kebelakang sampai lima langkah. Ternyata bahwa tangan Loan Eng tadi telah memukul pundaknya dan sambungan tulang pundaknya terlepas!

Loan Eng memandang dengan mata penuh ancaman. “Biarlah sedikit hajaran ini membikin kalian kapok dan tidak akan mengganggu aku lagi!” Setelah berkata demikian, Loan Eng melompat pergi dan sebentar saja nyonya yang keras hati ini telah masuk ke dalam dusun, langsung menuju kerumahnya.

Kwan Cu senang tinggal di rumah keluarga Thio. Tidak saja Loan Eng amat suka dan bersikap baik sekali padanya, juga Bun Sui Ceng, puteri dari Loan Eng ternyata adalah seorang anak yang manis dan lincah. Sui Ceng suka kepada Kwan Cu karena anak ini jauh lebih cerdik dari padanya, dan dalam banyak hal selalu Kwan Cu menjadi penasihatnya. Sui Ceng menganggap Kwan Cu sebagai kakaknya sendiri dan demikian Kwan Cu merasa mendapatkan seorang adik yang manis. Terhadap Loan Eng, Kwan Cu berlaku penuh hormat dan dia pun amat rajin membantu pekerjaan rumah sehingga nyonya janda ini amat suka padanya.

Akan tetapi, kalau semenjak kecil Sui Ceng amat gemar belajar ilmu silat, sebaliknya Kwan Cu tidak pernah mau belajar ilmu pukulan, dan lebih tekun mempelajari ilmu surat dan juga ilmu ginkang! Sebentar saja Kwan Cu telah memiliki ilmu meringankan tubuh mengagumkan Loan Eng. Benar sebagaimana dugaannya, Kwan Cu amat baik bakatnya, bahkan dalam usia enam tahun anak ini sudah tahu cara melatih diri dalam hal siulian atau samadhi! Di luar kesadaran anak itu sendiri, diam-diam Loan Eng melatih ginkang dan lweekang kepada Kwan Cu.

Dua tahun lewat tanpa terasa dan usia Kwan Cu sudah tujuh tahun. Di dalam waktu dua tahun itu, dia telah dapat mempelajari ilmu surat dan kini dia telah lancar dan pandai membaca kitab-kitab tebal, bahkan dengan lancarnya dia dapat membaca kitab-kitab berat yang berisi ujar-ujar para nabi! Benar-benar dalam hal ini pun Loan Eng merasa terkejut dan terheran sekali atas kecerdasan otak anak yang pendiam itu.

Keluarga Thio adalah keluarga yang kaya, maka selain gedung yang besar itu, Loan Eng juga menerima warisan berupa barang-barang berharga. Akan tetapi nyonya janda ini hidup secara sederhana, hanya dibantu oleh dua orang pelayan yang sekalian bekerja sebagai pengasuh Sui Ceng. Semenjak suaminya meninggal, nyonya ini sering kali pergi merantau dan meninggalkan anaknya di dalam asuhan pelayan itu.

Pada suatu pagi Kwan Cu dan Sui Ceng bermain-main di depan rumah. Thio Loan Eng sedang pergi ke kota, membeli barang-barang keperluan yang tak dapat dibeli di dusun mereka, Sui Ceng sedang memamerkan kepandaian silatnya kepada Kwan Cu. Anak perempuan yang berusia lima tahun ini memang mempunyai gerakan yang lincah dan gesit, maka Kwan Cu memandang dengan hati gembira. Dalam pandangannya, Sui Ceng bergerak-gerak seperti orang menari-nari hingga tak terasa pula dia bertepuk tangan memuji.

“Bagus, adik Ceng. Sayang gerakanmu kurang cepat.”

“Apa? Kurang cepat? Kwan Cu, kau tidak pernah belajar silat, bagaimana kau berani lancang mengatakan kurang cepat?” Sui Ceng bertanya penasaran.

“Memang aku tak pernah belajar karena aku tidak suka dengan ilmu pukul orang, akan tetapi kalau aku melihat ibumu mengajarmu, ternyata gerakan ibumu jauh lebih cepat dari padamu. Oleh karena itu maka aku bilang gerakanmu kurang cepat.”

Sui Ceng tidak jadi marah. Kalau demikian halnya kata-kata tadi bukan merupakan celaan. “Mana bisa aku dibandingkan dengan ibu? Tentu saja aku kalah cepat. Ibu adalah seorang yang paling cepat gerakannya di dunia ini.” Kwan Cu diam saja, akan tetapi diam-diam dia berpikir bahwa kalau dibandingkan dengan dua orang kakek yang dulu dilihatnya di dekat pantai, ibu anak ini jauh sekali.

Kedua anak ini tidak tahu bahwa semenjak tadi, tiga orang laki-laki berdiri agak jauh di luar rumah itu dan memandang ke arah mereka. Tiga orang itu muncul tak lama setelah Loan Eng pergi ke Cin-an dan mereka kini bicara kasak-kusuk, lalu dengan langkah lebar mereka memasuki pekarangan gedung itu.

Kwan Cu memandang dan dia melihat tiga orang yang telah dikenalnya dua tahun lalu. Mereka itu adalah orang-orang yang pernah membujuk kepada Loan Eng untuk menjadi pangcu dari Sin-to-pang dan kemudian ditolak oleh Loan Eng, bahkan seorang di antaranya telah dipukul jatuh. Diam-diam Kwan Cu berkhawatir dan tanpa terasa lagi dia lalu berjalan menghadang di depan Sui Ceng.

“Toanio tidak ada di rumah, harap Sam-wi datang lain kali saja,” kata Kwan Cu kepada mereka.

“Ha-ha-ha, kau bukankah budak pengemis dulu itu? Aku sudah tahu kalau Toanio tidak ada, tak usah kau banyak buka mulut!” Seorang di antara mereka membentak dan sekali lagi mengulur tangan, dia telah memegang tangan Kwan Cu dan mendorong anak itu roboh terguling.

“Kau manusia busuk!” Sui Ceng dengan marah sekali memaki. “Kau berani menjatuhkan Kwan Cu? Kupukul kepalamu!” Sambil berkata demikian Sui Ceng menyerang dengan kepalan tangannya yang kecil!

Akan tetapi, dengan mudah saja orang itu menangkap tangan dan sekali tarik, Sui Ceng telah berada dalam gendongannya dan kedua tangan anak itu dipegang dalam sebuah tangan tanpa dapat bergerak lagi.

“Lepaskan dia! Lepaskan adik Ceng!”

Kini Kwan Cu sudah melompat bangun, menerjang dalam usaha hendak merampas kembali Sui Ceng.

Akan tetapi, kembali sebuah dorongan membuat dia jatuh jungkir-balik. Sungguh heran tiga orang itu, karena begitu di dorong jatuh, begitu anak gundul itu melompat berdiri lagi dan mencoba untuk merampas Sui Ceng!

“Lepaskan adik Ceng!” serunya berulang-ulang dan dengan nekat dia mencoba untuk merebut anak itu, Sui Ceng juga berseru-seru,

“Kwan Cu, tolonglah aku…!”

Sebuah tendangan mengenai kaki Kwan Cu dan membuat anak itu terlempar jauh, lalu jatuh mengeluarkan suara berdebuk. Akan tetapi, seperti tidak merasakan sesuatu, anak gundul itu telah bangun kembali dan mengejar!

Orang tertua di antara ketiga orang itu, yang berjenggot kasar, memukul kepala Kwan Cu. Anak ini tidak pernah belajar silat, akan tetapi perasaannya memperingatkan bahwa kalau sampai kepalanya sampai terpukul, mungkin dia akan binasa. Maka dia cepat miringkan kepalanya dan sebaliknya yang terkena pukulan adalah pundaknya.

“Buk!” Orang itu terkejut sekali karena seperti memukul bantal kapok saja, dan biarpun Kwan Cu kembali jatuh berguling-guling seperti bola ditendang, namun dia segera melompat kembali dan berteriak-teriak menuntut supaya Sui Ceng dilepaskan!

“Twako, kita tinggalkan anak setan itu!” kata orang yang memondong Sui Ceng sambil melompat pergi, diikuti oleh dua orang kawannya.

“Lepaskan adik Ceng….!” Kwan Cu mengejar dan kembali ketiga orang itu terkejut bukan main karena melihat betapa anak gundul itu dapat berlari cepat! Memang selama dua tahun ini, yang dengan tekun dipelajari oleh Kwan Cu selain ilmu membaca dan menulis, adalah berlari cepat dan tanpa disadarinya dia melatih ginkang dan lweekang! Oleh karena dia telah memiliki tenaga lweekang, dibantu daya luar biasa dari buah ular yang dulu dia makan dengan terpaksa oleh Tauw-cai-houw, maka semua tendangan, pukulan, dan dorongan itu biarpun membuat dia jatuh bangun, namun tidak melukainya!

Tiga orang pemimpin Sin-to-pang yang menculik Sui Ceng berlari terus memasuki hutan dan ketika mereka menengok, mereka tidak melihat Kwan Cu lagi. Mereka tertawa girang dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ketengah hutan. Tiga orang ini tidak mengira bahwa diam-diam Kwan Cu mengikuti mereka. Tadi ketika dia mengejar, dia sendiri merasa heran karena ternyata dalam hal berlari cepat, dia tidak kalah oleh ketiga orang itu! Bahkan kalau dia mau, agaknya dia akan dapat berlari lebih cepat lagi! Kemudian, ketiga orang itu memasuki hutan, Kwan Cu mendapat pikiran yang amat baik. Kalau dia terus menerus mengejar, seandainya dia dapat menyusul mereka, apa gunanya? Ia takkan dapat menolong Sui Ceng, dan ini tidak berarti apa-apa. Lebih baik dia mengejar dan mengintai dengan diam-diam agar dia tahu kemana Sui Ceng dibawa sehingga kemudian dia bisa memberitahukan kepada Loan Eng, ibu dari anak itu. Ini lebih tepat karena kalau sampai dia dapat membawa Loan Eng datang menyusul mereka, apa sih sukarnya merebut kembali Sui Ceng?

Demikianlah, ketika tiga orang itu sudah tiba di tempat persembunyian mereka, yakni di dalam sebuah rumah bambu di tengah hutan, dan ketika Kwan Cu melihat Sui Ceng masuk di situ anak itu cepat berlari keluar dari hutan, kembali ke dusun Tun-hang. Tak seorangpun di dusun itu tahu tentang penculikan ini, dan keadaan di dalam dusun tetap aman seperti biasa. Kwan Cu masuk kedalam gedung dan ketika pelayan-pelayan bertanya di mana adanya Sui Ceng, dengan tenang Kwan Cu menjawab,

“Adik Ceng dibawa lari oleh tiga orang Sin-to-pang akan tetapi harap kalian jangan ribut-ribut, kita menunggu saja sampai Toanio pulang.”

Akan tetapi, dua orang wanita pelayan itu tentu saja tidak mau diam dan mereka segera mewek-mewek dan sesambatan memanggil-manggil Sui Ceng. Dengan sebal sekali lalu Kwan Cu keluar dan duduk di halaman depan menanti kembalinya Loan Eng.

Siang hari itu juga Loan Eng datang membawa bungkusan besar terisi barang-barang belanjaan dari kota. Dua orang pelayan wanita itu berlari-lari dari dalam sambil menangis.

“Toanio….Toanio..” kata mereka megap-megap menahan tangis.

“Diam kalian!” Kwan Cu membentak marah sehingga dua orang pelayan itu terkejut.

“Kau…..kau setan cilik!” Pelayan itu memaki. “Nona majikan diculik orang, kau tidak bersusah sedikit juga pun!”

Akan tetapi, ketika mendengar ini, Loan Eng seketika menjadi pucat dan memegang pundak Kwan Cu. “Apa yang terjadi?” tanyanya dan biarpun mukanya pucat, wanita gagah ini masih bersuara tenang.

“Teecu baru bermain-main dengan adik Ceng di halaman depan ketika tiga orang pengurus Sin-to-pang yang dulu pernah menjumpai Toanio di jalan dua tahun lalu itu datang. Tanpa banyak bicara lagi mereka lalu membawa pergi adik Ceng dan teecu mencoba untuk merebut kembali, akan tetapi teecu dipukul jatuh bangun.”

“Bohong dia! Anak ini tidak susah sedikit pun, mana dia berani mencoba menolong?” Pelayan yang seorang berkata.

“Tutup mulutmu dan pergi kebelakang!” Loan Eng membentak dan dua orang pelayan itu dengan ketakutan dan menyusut air mata pergi kebelakang.

“Lanjutkan ceritamu, Kwan Cu,” kata Loan Eng

“Ketiga orang itu membawa adik Ceng keluar dusun dan teecu terus mengikuti mereka.”

“Bagus! Kemana mereka membawa Ceng-ji?” Loan Eng percaya penuh atas keterangan ini karena maklum bahwa anak ini memiliki ginkang yang cukup tinggi dan tanpa disadari oleh anak itu sendiri, dia telah memberi pelajaran ilmu lari cepat Chou-sang-hui (Terbang Di Atas Rumput)

“Mereka membawa adik Ceng ke dalam hutan di sebelah timur dusun dan di tengah-tengah hutan itu terdapat sebuah gubuk. Di sanalah adik Ceng di bawa masuk lalu teecu cepat berlari pulang untuk memberi tahu kabar kepada Toanio.”

“Bagus, Kwan Cu. Mari kita kejar mereka!” Sambil berkata demikian, nyonya ini lalu memegang tangan Kwan Cu dan berlarilah ia cepat sekali. Baiknya Kwan Cu telah mempelajari ilmu ginkang sehingga biarpun masih juga ia terseret, namun dia juga masih dapat menggunakan dua kakinya untuk ditotolkan pada tanah dan membantu tenaga tarikan itu hingga mereka maju pesat sekali. Beberapa penduduk dusun ketika melihat Loan Eng berlari-lari cepat sambil menarik tangan Kwan Cu, menjadi terheran-heran dan bertanyalah mereka kepada kedua orang pelayan yang menceritakan sambil menangis tentang diculiknya Sui Ceng. Maka gemparlah dusun itu.

Ketika melihat bahwa Kwan Cu dapat mengimbangi larinya dengan menotolkan kakinya pada tanah, diam-diam Loan Eng menjadi kagum dan senang melihat kemajuan anak ini. Akan tetapi pada saat itu ia sedang merasa gelisah dan marah karena terculiknya Sui Ceng, maka ia tidak berkata sesuatu. Karena Loan Eng berlari cepat sekali, sebentar saja mereka telah tiba di dalam hutan itu dan Kwan Cu lalu menunjuk ke arah gubuk yang berada di tengah hutan.

Ketika Loan Eng tiba di tempat itu, ia terkejut sekali karena gubuk itu telah dijaga oleh sedikitnya lima puluh orang yang semuanya diikat saputangan putih kepalanya. Ia tahu bahwa mereka ini adalah anggauta-anggauta dari Sin-to-pang, karena memang semenjak suaminya tewas, semua orang itu mengikat kepalanya dengan kain putih tanda berkabung!

Akan tetapi Loan Eng tidak merasa gentar dan cepat maju menghampiri. Tiga orang pemimpin Sin-to-pang yang menculik Sui Ceng cepat berlari maju, menyambut dengan penuh penghormatan

“Thio-toanio telah datang untuk menyambut Bun-siocia. Harap menerima penghormatan kami,” berkata orang yang berjenggot kasar kepada Loan Eng sambil menjura . Kemudian dia memberi aba-aba dan ketika Loan Eng memandang, ia melihat puluhan orang anggauta itu mencabut golok dan dipalingkan di depan dada. Diam-diam nyonya janda ini terharu juga karena ia tahu karena inilah penghormatan dari Sin-to-pang seperti yang biasa dilakukan mereka kepada mendiang suaminya!

“Aku bukan apa-apa, bukan pengurus bukan anggauta Sin-to-pang untuk apa segala penghormatan itu? Aku datang mengambil kembali Ceng-ji dan hendak bertanya kenapa kalian berani mati sekali menculiknya?”

“Toanio, kami sedang melakukan upacara pengangkatan ketua, dan Bun-siocia telah menjadi pilihan kami untuk menggantikan ayahnya sendiri, mengapa kami dianggap menculik?”

“Apa katamu?” Mata Loan Eng terbelalak kaget. “Ceng-ji kalian angkat menjadi ketua?”

“Benar, Toanio. Di dalam dunia ini selain Toanio dan Bun-siocia, tidak ada yang lebih berhak menjadi ketua Sin-to-pang. Dan oleh karena Toanio menolak, maka pilihan kami jatuh pada Bun-siocia.”

“Kalian gila! Lepaskan anakku Ceng-ji kalau kalian tidak ingin melihat aku mengamuk. Anak baru berusia enam tahun bagaimana bisa menjadi ketua Sin-to-pang ?”

“Tidak bisa dibawa sekarang, Toanio. Kau sendiri tahu bahwa dalam upacara pengangkatan kepala perkumpulan kami, tidak boleh diganggu, adapun tentang usia, kami cukup bersabar untuk mendidik Bun-siocia dan sementara ini kami sanggup mewakilinya.”

“Kurang ajar!” Loan Eng menggerak-gerakkan pedangnya dengan sikap mengancam, sekali. “Kau mau membebaskan dia atau tidak?”

“Toanio, kau lihat sendiri. Bun-siocia sedang melakukan sembahyang untuk pengangkatan itu,” kata seorang di antara tiga orang pemimpin sin-to-pang itu.

Loan Eng memandang ke arah rumah gubuk itu dan benar saja, ia melihat beberapa orang hwesio sedang melakukan upacara sembahyang untuk mengambil sumpah kepada Sui Ceng yang diangkat menjadi ketua Sin-to-pang.

Loan Eng meloncat ke depan pintu dan di situ ia melihat Sui Ceng sedang berlutut di depan meja sembahyang di mana dipasang gambar mendiang suaminya, Bun Liok Si yang tewas dalam tangannya sendiri! Ia tertegun dan berdiri bagaikan patung. Sementara itu, Sui Ceng telah mendengar suara ibunya tadi, maka kini ia menengok. Ketika ia melihat ibunya, ia berseru girang.

“Ibu, aku telah berada di antara kawan-kawan ayah!” Ia menunjuk ke arah gambar ayahnya.”Lihat, itu dia ayah dan aku diangkat menjadi pengganti ayah!”

Hati Loan Eng tergetar. Memang ia selalu membohongi anaknya itu tentang ayah anak itu. Dikatakan selalu bahwa ayahnya telah pergi jauh sekali, naik perahu menyeberangi laut.

“Ceng-ji…” katanya perlahan dan ia hendak menyerbu ke dalam gubuk, akan tetapi tiba-tiba tiga batang golok menghadang di depannya.

“Toanio, puterimu telah memilih jalannya. Dia telah diambil sumpahnya maka sekarang dia telah menjadi Bun-siauw-pangcu (ketua Bun cilik), harap kau jangan mengganggu Pangcu kami!”

“Bangsat, aku adalah ibunya!” seru Loan Eng sambil meloncat kembali ke halaman depan gubuk itu yang lebar. Ia maklum kalau terjadi pertempuran, ia akan dikeroyok oleh banyak orang, maka ia harus mencari tempat yang lebar dan luas agar pergerakannya lebih leluasa.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: