Pendekar Sakti (Jilid ke-20)

Gadis itu belum pernah melihat Liong-cu-hio, akan tetapi penciumannya amat tajam. Dan baunya saja ia dapat mengenal racun yang berbahaya dari daun itu. Setelah puas memeriksa daun itu, ia membungkusnya kembali. Kemudian matanya memandang ke arah suling pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong yang selalu dibawa oleh Kwan Cu. Di dalam tangan gadis itu, suling ini merupakan sebatang suling yang terbuat dari pada bambu besar untuk bangunan.

Gadis itu tetawa berkikikan seorang diri, kelihatan geli sekali melihat suling sebesar itu. Ia mengangkat suling ini dan mencoba untuk membunyikannya. Akan tetapi oleh karena tangannya terlalu pendek sehingga tak dapat mencapai lubang-lubang pada suling, ketika ia meniup, suling itu hanya mengeluarkan bunyi senada saja.

Pada saat gadis itu membungkus kembali semua barang-barang Kwan Cu dari pantai datang berlarian banyak orang. Ternyata bahwa gadis ke dua tadi sudah datang lagi dan kini ia dikawani oleh dua puluh orang gadis-gadis dan wanita-wanita muda yang rata-rata memiliki kecantikan yang menarik hati. Akan tetapi mereka inipun kecil-kecil seperti dua gadis tadi. Ramailah keadaan di situ ketika semua wanita itu mengagumi Kwan Cu dan memandangnya dengan terheran-heran. Kemudian mereka bekerja sama, menyeret tubuh Kwan Cu ke pantai dan dengan susah payah karena tubuh Kwan Cu berat sekali, mereka menaikkan Kwan Cu ke dalam perahu pemuda itu, lalu beramai-ramai mendorong perahu ke laut. Kepala perahu itu diikat dengan tambang yang tersedia di perahu Kwan Cu, diikatkan pada sepuluh buah perahu-perahu kecil. Kemudian mereka mendayung perahu-perahu itu dan menarik perahu Kwan Cu pergi dari pulau itu.

Orang-orang pendek ini tinggal di sebuah pulau yang berbukit, tak jauh dari pulau kosong di mana Kwan Cu ditawan. Mereka mendarat dan menyeret Kwan Cu ke darat, terus menariknya ke dusun mereka yang penuh dengan rumah-rumah kecil. Kwan Cu di biarkan berbaring di atas tanah dan pada saat itu, Kwan Cu siuman kembali dari keadaan setengah mabuk karena pengaruk saputangan merah tadi. Ia menggerakkan kaki tangannya dan merasa betapa tubuhnya terikat oleh tali-tali yang kuat. Ketika ia memandang, ternyata dia berada di dalam sebuah jala yang aneh.

Kwan Cu terkejut dan terheran-heran. Mimpikah aku? Demikianlah dia berpikir. Tiba-tiba dia mendengar suara di dekat mukanya dan ketika dia memandang ke depan, hampir saja dia berteriak saking kaget dan herannya. Ia melihat dua orang gadis kecil sekali yang cantik menarik. Gadis pertama yang manis dengan tahi lalat di pipi melakukan gerakan seperti orang bersilat, siap untuk menyerangnya, juga gadis ke dua yang cantik bersiap-siap. Kemudian dia melihat gadis pertama mencabut keluar sehelai saputangan merah dari balik bajunya, maka terciumlah bahu yang amat harum. Teringatlah Kwan Cu bahwa ketika dia hendak bangun, dia pun mencium bahu ini, maka dia dapat menduga bahwa saputangan itulah yang membuat dia pingsan. Ia mempergunakan kecerdikannya dan tidak jadi meronta untuk melepaskan diri. Ia diam saja sambil memandang penuh perhatian.

Benar saja, ketika melihat bahwa raksasa yang tertawan itu tidak memberontak, dua orang gadis itu tidak jadi menyerang hanya memandang penuh kewaspadaan. Kwan Cu menggerakkan matanya memandang ke depan dan dia terheran-heran. Dia dirubung oleh banyak orang, akan tetapi anehnya, semua orang kecil yang berada di situ adalah wanita-wanita belaka!

“Mimpikah aku? Setelah bertemu dengan raksasa-raksasa apakah aku sekarang berubah pula seperti raksasa dan orang-orang wanita ini sebetulnya orang biasa? Atau sudah gilakah aku?” demikian Kwan Cu berpikir dengan bingung. Memang, kalau di bandingkan, keadaannya terbalik sama sekali dengan keadaannya beberapa hari yang lalu. Lakayong memiliki tubuh yang tiga kali lebih besar tubuhnya dan sekarang, dia menjadi tiga kali lebih besar daripada wanita-wanita ini.

“Kalian siapakah? Dan mengapa aku ditawan?” ia mencoba bertanya dengan suara halus agar tidak menimbulkan rasa takut pada orang-orang wanita itu.

Akan tetapi ketika gadis cantik bertahi lalat di pipinya itu menjawabnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali karena dia tidak mengerti sedikit pun juga akan maksud kata-katanya. Suara gadis itu merdu dan halus, akan tetapi ucapannya bagi telinga Kwan Cu hanya terdengar tidak karuan seperti berikut.

“Karika yiyi kaduka nana….”

Celaka, kembali aku bertemu dengan orang-orang aneh, pikir Kwan Cu. Bentuk tubuh yang kecil itu, bahasa yang aneh itu, tidak sangat mengheran hati Kwan Cu karena setelah bertemu dengan Lakayong dan rakyatnya, dia tahu bahwa di dunia ini terdapat manusia-manusia yang aneh. Yang amat mengherankan hatinya adalah bahwa semua orang katai yang berada di situ hanya wanita-wanita belaka! Apakah ini dunia wanita?

Kwan Cu teringat akan pengalamannya ketika bertemu dengan Lakayong dan rakyatnya. Bahasa yang dipergunakan oleh Lakayong juga jauh berbeda dengan bahasanya sendiri, jangankan yang di pergunakan oleh bangsa raksasa itu, bahkan yang di pergunakan di daratan Tiongkok sendiri ada puluhan atau ratusan macam! Akan tetapi, biarpun bahasanya berlainan tulisannya semua sama! Inilah yang memudahkan seseorang di Tiongkok untuk melakukan perhubungan dengan orang-orang di daerah lain. Ketika dia berada di pulau raksasa, dia dapat berhubungan dengan menggunakan tulisan kuno. Siapa tahu kalau orang-orang kecil ini pun dapat membaca tulisannya.

Setelah berpikir demikian, Kwan Cu lalu mengeluarkan telunjuknya dari jala, diikuti oleh pandang mata para wanita itu. Kwan Cu lalu menuliskan tulisan huruf kuno seperti yang pergunakan oleh Lakayong.

Wanita-wanita kecil itu menghampirinya dan melihat corat-coretnya, namun mereka tidak mengerti artinya. Kwan Cu lalu menghapus coretan di tanah itu dan kini dia mencoret tanah dengan tulisan yang lebih muda usianya dari pada tulisan yang dipergunakan oleh Lakayong.

“Dapat membaca ini?” tanya dalam tulisan itu.

Usahanya berhasil! Wanita-wanita itu saling pandang dan gadis bertahi lalat mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mencoret tanah di dekat tulisan Kwan Cu.

“Aku dapat membaca tulisanmu, kau siapakah dan datang dari mana?”

Bukan main girangnya hati Kwan Cu ketika dia membaca tulisan halus dan kecil itu, akan tetapi yang dapat dibacanya dengan jelas.

“Biarkan aku duduk dan lepaskan jala ini, aku akan bercerita, ” tulisannya karena amat sukarlah menulis sambil berbaring miring seperti itu. Ia tidak mau melepaskan diri dengan kekerasan, karena kawatir kalau-kalau akan dicurigai.

Gadis yang menjadi pemimpin itu berunding dengan adiknya dan dengan wanita-wanita lain. Kemudian mereka lalu mendekati dan dari luar mereka mengikat kedua tangan Kwan Cu di belakang tubuh, juga mengikat kedua kaki pemuda itu erat-erat! Kwan cu merasa geli sekali dan tangan-tangan yang halus dan kecil itu bergerek amat cepat, jari-jari yang kecil seakan-akan mengitik-itiknya, akan tetapi dia menahan tawanya dan menenangkan diri. Ia dapat menduga bahwa wanita-wanita ini tidak percaya kepadanya dan akan membelenggunya lebih dulu sebelum melepaskannya dari jala itu.

Dugaanya tepat. Setelah dua kaki tangannya dibelenggu, lalu jala itu di buka. Ia diperbolehkan bangun duduk bersandar pada batu karang yang bentuknya seperti pilar. Di sini ia di ikat lagi, tali yang panjang dibelit-belitkan pada lengan dan dadanya, terus di ikatkan pada batu karang itu. Yang lebih hebat, gadis kedua yang lincah itu sekali melompat telah berdiri di pundak kirinya, membawa sehelai tali yang lalu dikalungkan dua kali pada lehernya! Biarpun hanya longar saja, lehernya di ikat pada pilar itu. Satu akal yang cerdik sekali!

Kwan Cu duduk bersila dan bersandar pada tiang batu karang. Dia mencoba-coba dengan urat-urat tangannya untuk mengetahui sampai di mana kekuatan tali yang mengikatnya. Ia mendapat kenyataan bahwa kalau dia mau, mudah saja baginya untuk merengut putus tali itu.

Gadis bertahi lalat pada pipinya itu lalu mengunakan telunjuknya menuliskan huruf-huruf di atas tanah di depan Kwan Cu.

“Aku bernama Malita dan ini adikku Malika. Kami berdua yang mengepalai bangsa kami di pulau ini. Kau menjadi tawanan kami dan jangan coba untuk memberontak, karena biarpun besar kalau kami mau, dengan mudah kami akan membunuhmu dengan senjata-senjata kami yang berbisa. Kau seorang laki-laki dan pada waktu ini, kami benci dan tidak percaya kepada semua laki-laki. Akan tetapi kau datang dari bangsa raksasa, kau siapakah dan menagapa kau datang ke daerah kami?”

Kwan Cu membaca tulisan itu dan tersenyum. Nama-nama yang aneh tetapi cukup manis, pikirnya. Akan tetapi pernyataan bahwa mereka ini membenci laki-laki, membuat Kwan Cu menjadi heran sekali. Ia ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, akan tetapi kedua tangannya di ikat di belakang tubuhnya, bagaimana dia dapat menulis? Tentu saja dia dapat melepaskan tangannya, akan tetapi hal ini tentu akan membikin mereka takut dan curiga. Maka dia menjawab dengan mulutnya.

“Bagaimana aku dapat menulis jawabannya kalau tanganku terikat?” sambil berkata demikian, ia melirik ke arah tali yang mengikat dadanya.

Malita dan Malika bicara, agaknya mereka berunding kemudian Malita menulis lagi.

“Wajahmu tampan dan gagah, kau berbeda dengan laki-laki bangsa kami. Agaknya kau bukan orang jahat. Akan tetapi kau tetap laki-laki dan kami sudah tidak percaya lagi kepada semua mahluk jantan. Maka, kami akan melepaskan tangan kananmu agar kau dapat menulis, akan tetapi awas, sekali saja kau memberontak, kau akan binasa!”

Kwan Cu tersenyum ramah dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Malita lalu mencabut pisau lalu memutuskan ikatan tangan kanan Kwan Cu. Setelah tali itu putus dan Kwan Cu membebaskan tanganya Malita cepat mencabut pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mengeluarkan saputangan merahnya. Kwan Cu bergidik. Ia lebih takut kepada saputangan yang harum itu dari pada pedang di tangan Malita. Juga Malika mencabut pedangnya dan melompat berdiri. Wanita-wanita yang berdiri agak jauh dari tempat itupun juga bersiap sedia, semua mencabut pedang dan bersikap seperti orang bersiap untuk bertempur.

Melihat cara mereka mencabut pedang dan bergerak, Kwan Cu menjadi kagum karena mereka itu terang sekali memiliki kepandaian silat yang tinggi! Orang-orang ini kecil dan lemah, akan tetapi sebaliknya dari pada rakyat Lakayong yang bertenaga besar dan lamban, mereka ini agaknya amat cekatan dan cerdik.

Kwan Cu lalu mulai menulis di atas tanah, “Aku seorang perantau yang bernama Kwan Cu. Aku tiba di daerah ini tanpa sengaja dan aku tidak bermaksud buruk. Biar pun aku seorang laki-laki, akan tetapi aku tak pernah menggangu orang, apalagi orang wanita. Kalian percayalah kepadaku.”

Kedua orang gadis itu saling pandang dan kini beberapa orang wanita datang pula untuk ikut membaca tulisan Kwan Cu. Mereka bicara dengan ribut dan melihat sikap mereka, Kwan Cu dapat menduga bahwa mereka ini sebagian besar tidak percaya akan tulisannya tadi.

“Kami sudah cukup sering tertipu oleh laki-laki yang manis mulut tetapi berhati palsu,” tulis Malita. “Karena itu, kau tentu akan maklum bahwa kami tidak bisa sembarangan saja percaya kepadamu. Apa yang kau cari di tempat ini?”

“Aku mencari sebuah pulau kecil bundar dan ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Harap kalian melepaskan aku dan aku tak akan mengganggu kalian, akan kulanjutkan perantauanku. Bahkan kalau ada sesuatu yang dapat kulakukan untuk kalian, akan kubantu kalian karena aku adalah seorang sahabat.”

Kembali orang-orang wanita itu ribut-ribut ketika membaca tulisan ini. Mereka agaknya masih ragu-ragu untuk mempercayai kata-kata ini. Tiba-tiba terdengar ribut-ribut dan Kwan Cu yang terheran-heran melihat seorang laki-laki kecil berlari-lari, dikejar oleh banyak wanita. Laki-laki itu memegang tongkat besar dan beberapa orang pengejarnya telah kena dihajar roboh.

Malita marah sekali dan dengan pedang di tangan dia melompat dengan gerakan yang menurut pandangan Kwan Cu hampir menyerupai gerakan Ouw-liong-coan-tah (Naga Hitam Tembuskan Menara), semacam gerakan melompat dari ilmu silat tinggi!

Akan tetapi sebelum Malita dapat menyusul laki-laki yang sudah pergi jauh, Kwan Cu telah mendahuluhinya. Pemuda ini menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mencengkeram segenggam tanah dan dilemparkan tanah itu ke arah laki-laki pendek yang melarikan diri. Laki-laki itu berteriak roboh dan pingsan, terpukul oleh segenggam tanah yang baginya merupakan segumpal tanah yang besar! Orang-orang wanita segera memburu ke tempat itu dan sebentar saja laki-laki itu digiring pergi dalam keadaan terbelenggu erat-erat.

Malita kembali menghampiri Kwan Cu. Sikapnya agak berubah tidak segalak tadi dan senyumnya menghias wajahnya yang cantik. Juga para wanita lainnya kini memandang Kwan Cu dengan sikap manis.

“Kenapa kau merobohkan orang jahat itu?” tanya Malita dengan tulisannya.

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak bermaksud buruk. Aku melihat dia seorang laki-laki begitu kejam untuk merobohkan beberapa orang wanita, maka aku turun tangan,” jawab Kwan Cu.

“Kau pandai melempar am-gi (senjata rahasia), agaknya kau memiliki kepandaian. Apakah kau benar-benar berniat baik dan tidak memusuhi kami?”

“Aku selalu berada di fihak benar, dan aku bersumpah takkan menggangu wanita. Kalau aku berniat buruk, apa kalian kira aku takkan dapat melepaskan ikatan ini? Katakanlah kepadaku bahwa kalian percaya kepadaku dan kalian akan melihat bahwa aku sangup melepaskan ikatan ini.”

Malita terkejut akan tetapi ia tersenyum dan menulis,

“Kau raksasa yang aneh, gagah dan bersifat halus. Mengherankan sekali. Aku percaya kepadamu.”

Setelah membaca ini, Kwan Cu tertawa girang dan sekali dia mengerahkan lweekangnya, terdengar suara keras dan semua ikatannya putus!

Malita, Malika dan semua wanita masih sangsi. Mereka berdiri menjauhi Kwan Cu, siap dengan pedang di tangan!

Kwan Cu tersenyum, berdiri dan menggeliat, diawasi oleh semua wanita kecil-kecil itu dengan pandang mata kagum. Kemudian Kwan Cu duduk kembali sambil menulis di tanah.

“Nah, marilah kita bicara dengan baik. Kalian ini benar-benar aneh sekali. Mengapa aku hanya melihat wanita saja dan laki-laki satu-satunya yang kulihat tadi menjadi tawananmu? Mengapa pula kalian membenci laki-laki dan bukankah kalian ini pun puteri-puteri dari seorang ayah laki-laki pula?”

Membaca tulisan ini, kembali semua wanita ribut-ribut, bahkan ada yang mengucurkan air mata dan menangis dan mengharukan sekali. Kwan Cu menjadi semakin terheran, akan tetapi Malita menerima sebuah gulungan kertas berikut alat tulis. Ia lalu menulis panjang lebar untuk menceritakan keadaan bangsanya kepada pemuda raksasa itu.

Semenjak beberapa keturunan, bangsa katai ini merupakan bangsa yang keadaannya terbalik dengan banga-bangsa manusia lainnya. Yang berkuasa adalah wanitanya. Hal ini adalah karena dahulu muncul seorang wanita sakti yang memiliki kepandaian tinggi. Wanita ini membenci laki-laki dan ia hanya mau menurunkan kepandaiannya kepada murid-murid wanita, dengan menyuruh murid-murid itu bersumpah bahwa kepandaian mereka tidak boleh diturunkan kepada laki-laki. Demikianlah maka para wanitanya rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi dan biar pun dalam tenaga mereka kalah oleh laki-laki, namun apabila berkelahi, selalu para wanita yang menang. Juga para penjaga keamanan dan para prajurit terdiri dari wanita. Yang laki-laki sebaliknya hanya bertugas di sawah dan laki-lakilah yang bertugas mencari makanan. Mereka selalu memilih pimpinan mereka atas dasar pemilihan umum, dan biasanya yang dicalonkan sebagai pemimpin tentulah wanita. Akan tetapi, walapun jarang terjadi, pernah pula seorang laki-laki dicalonkan untuk menjadi pemimpin, di mana tentu saja kalau sudah memenuhi syarat-syarat yang berat yang ditentukan oleh bangsa wanita ini. Karena dalam hal ini, bukan kepandaian silat saja yang menjadi syarat utama, melainkan pengetahuan yang luas dan kecerdikan yang lebih daripada orang lain.

Raja atau kepala terakhir yang dipilih adalah ayah dari Malita dan Malika, seorang yang sudah banyak pengalaman karena sudah pernah merantau jauh keluar pulau. Di bawah pimpinan ayah ke dua orang gadis ini, rakyat orang katai hidup makmur, karena memang pemimpin ini pandai sekali, ditambah oleh bantuan dua orang puterinya yang memiliki kepandaian silat istimewa. Malita dan Malika adalah murid-murid terpandai dari ahli waris ilmu silat yang diturunkan oleh nenek sakti, dan setelah guru kedua orang gadis ini meninggal dunia, boleh dibilang yang memiliki kepandaian tertinggi di pulau ini adalah Malita dan Malika.

Setelah raja itu meninggal dunia, otomatis yang ditunjuk menjadi ratu adalah Malita. Akan tetapi, setelah ayah Malita menjadi raja, timbul pemberontakan di dalam hati orang-orang laki yang di pimpin oleh enam orang laki-laki yang menjadi pembantu raja. Mereka inilah yang mula-mula mencetuskan permintaan bahwa sudah sepatutnya kalau laki-laki menjadi raja dan laki-laki pula yang berkuasa!

Malita dan Malika marah sekali dan terjadilah pertempuran hebat antara laki-laki yang di pimpin oleh enam orang pemberontak itu melawan Malita dan Malika yang memimpin barisan wanita. Celakanya, sebagian besar orang-orang lelaki, baik yang sudah menjadi suami maupun yang belum menikah, terkena bujukan enam orang ini dan ikut pula memberontak. Akan tetapi, laki-laki itu kesemuanya, hanya mengandalkan tenaga yang lebih besar, namun dalam hal mempermainkan senjata, mereka kalah jauh. Hanya enam orang itu saja yang secara diam-diam telah mempelajari ilmu silat, dapat melakukan perlawanan hebat. Akhirnya, banyak laki-laki menjadi korban dalam peperangan itu dan banyak pula yang tertawan. Namun, enam orang laki-laki itu dapat melarikan diri ke sebuah pulau kosong yang mempunyai gua-gua di batu-batu karang. Enam orang laki-laki itu bersembunyi di dalam gua diikuti tiga puluh orang lebih laki-laki yang masih setia kepada mereka.

Malita dan Malika sudah berusaha beberapa kali memimpin barisan wanita untuk mengalahkan, menawan atau membunuh para pemberontak itu, namun alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa tidak saja pertahanan mereka amat kuat dengan adanya gua-gua yang panjang dan gelap, juga tambah hari kepandaian mereka tambah hebat. Apalagi enam orang laki-laki yang dipimpin oleh seorang yang bernama Kahano, seorang laki-laki berjenggot yang merupakan kepala juga guru dari mereka, kepandaian mereka amat hebat dalam beberapa hari ini, seakan-akan mereka menemukan guru yang pandai!

Tadinya, Malita dan Malika berdua saja dengan mudah mendesak dan hampir mengalahkan enam orang laki-laki pemimpin pemberontak itu, akan tetapi beberapa pekan kemudian ketika mereka mencoba untuk menyerang para pemberontak, enam orang laki-laki itu maju dan menghadapi Malita dan adiknya. Dan bukan main lihainya …….enam orang ini terutama sekali Kahano! Mereka bersenjata pedang pendek dan permainan pedang ini mempunyai bentuk dan gaya baru yang luar biasa sekali. Hampir-hampir saja Malita dan Malika kalah! Namun akhirnya, karena anak buah Kahano yang lain-lain agaknya baru saja mempelajari ilmu silat, Malita dapat memukul mundur semua laki-laki itu dan mereka berlari-lari dan masuk ke dalam gua, sehingga kembali gerakan Malita gagal. Untuk meyerbu ke dalam gua amat berbahaya sekali karena Kahano dan anak buahnya menghujankan anak panah dari dalam gua!

“Nah, inilah yng menggelisahkan hati kami, saudara Kwan Cu.” Tulis Malita akhirnya setelah menceritakan semua hal yang terjadi di pulau itu dengan tulisan-tulisan yang kecil-kecil. “Oleh karena itulah kami amat bercuriga dan membenci kaum laki-laki yang ternyata telah memberontak dan berhati palsu. Laki-laki yang kau robohkan tadi adalah seorang diantara para tawanan kami yang mencoba melarikan diri. Kami benar-benar gelisah sekali. Kepandaian Kahano demikian cepatnya maju dan lihai sekali, kalau semua laki-laki yang ikut dengan dia mendapat latihan dan memiliki kepandaian seperti dia, tentu kami akan kalah!”

Kwan Cu tersenyum, lalu dia pun minta kertas dan menuliskan banyak kata-kata di situ.

“Saudara Malita, Malika dan semua wanita yang berada di sini, maafkan kalau aku menyatakan sesuatu yang mungkin akan terasa janggal oleh kalian. Di duniaku, fihak laki-lakilah yang berkuasa dan fihak laki-laki yang mengatur seluruhnya.”

Para wanita ribut-ribut setelah membaca ini dan hampir saja mereka menyerang Kwan Cu kalau saja tidak dicegah oleh Malita.

“Kau laki-laki memang mau menang sendiri saja!” tulis Malita dengan coretan cepat, mengandung kemendongkolan hati. “Mendiang ibuku dulu pernah bercerita bahwa dahulu pernah kaum laki-laki kami memegang kekuasaan dan bagiamana keadaan nasib kami kaum wanita? Kaum lelaki enak-enak saja, kami wanita yang bekerja keras. Bukan itu saja, kami diperlakukan seperti barang permainan, mudah di tukar dan diperjualbelikan. Laki-laki mempunyai isteri berapa saja sesuka hatinya! Bahkan raja di kala itu mempunyai isteri lebih dari tiga puluh orang! Apa begitu pula keadaan di duniamu?”

Diam-diam Kwan Cu harus mengakui bahwa memang di dunianya hampir-hampir begitulah keadaannya. Memang banyak orang-orang lelaki, tidak semua dan ada kecualinya tentu, yang menganggap wanita sebagai barang permainan dan yang memandang rendah sekali kepada kaum wanita. Bahkan dia pun telah mendengar tentang kaisar dan para pembesar yang mempunyai selir tidak hanya tiga puluh orang wanita, bahkan lebih banyak lagi. Ia harus berlaku cerdik untuk dapat membereskan persoalan pertempuran antara kaum laki-laki dan kaum wanita dari bangsa katai ini.

Kwan Cu menulis lagi. “Sama sekali tidak begitu. Kaum laki-laki di negaraku selalu memperlakukan baik sekali terhadap wanita. Tak seorangpun laki-laki mau mengganggu wanita, menikah hanya dengan seorang isteri saja, hidup damai dan rukun, bekerja sama demi kebahagiaan suami isteri dan anak-anaknya. Laki-laki bertenaga lebih besar dan karenanya pekerjaan-pekerjaan berat yang memerlukan tenaga harus dilakukan oleh kaum lelaki, sebaliknya pekerjaan halus dan kerajinan tangan dilakukan oleh pihak wanita.”

Mendengar ini, para wanita saling pandang dan di antaranya ada yang mengucurkan air mata saking terharu hatinya.

“Alangkah bahagianya hidup kami kalau keadaan kami bisa seperti yang kau ceritakan itu,”menulis Malita. “Akan tetapi sayang, kaum laki laki bangsa kami lain lagi, dan itulah sebabnya maka dahulu kaum wanitanya memberontak dan mempelajari ilmu kepandaian agar dapat menguasai laki laki sehingga kami dapat mencegah perlakuan sewenang sewenang.”

“Kenapa tidak bisa diatur begitu? Kalian harus berusaha dan aku akan membantu kalian sehingga di pulau ini akan tercapai keadaan makmur dan damai seperti yang kuceritakan tadi.” Wanita-wanita itu nampak girang dan wajah mereka berseri-seri. Diam-diam Kwan Cu harus akui bahwa wanita-wanita cilik ini rata rata memiliki wajah yang amat cantik menarik, terutama sekali Malita dan Malika, yang kecantikannya tidak kalah oleh wanita wanita di kota raja di negaranya. “Akan tetapi, biarpun kami amat berterima kasih kepadamu, kami sangsi apakah kita akan dapat mengalahkan Kahano yang sudah tua itu mempunyai niat yang amat buruk. Pertama-tama dia menghendaki agar aku dan adikku Malika menjadi isterinya dan dia mau menjadi raja di sini!” ketika menuliskan hal ini, muka Malita menjadi merah saking marah dan jengahnya. “Dan yang amat mengkhawatirkan, kepandaiannya makin lama makin maju pesat sekali setelah dia berada di pulau kecil itu. Agaknya di pulau pohon putih itu dia mendapatkan seorang guru yang pandai.” Mendengar ini, berdebar hati Kwan Cu. “Pulau pohon putih? Di manakah itu?” “Itulah pulau yang kini menjadi tempat tinggal mereka. Pulau itu di tumbuhi pohon-pohon putih, dan di situ terdapat banyak sekali gua-gua yang panjang dan aneh. Sebetulnya pulau itu menjadi tempat penguburan raja-raja kami, bahkan nenek sakti yang pernah menurunkan ilmu silat pada kami, juga berasal dari pulau itu dan di kubur di sana pula.” Kwan Cu menyembunyikan rasa girangnya. Itulah gerangan pulau yang di maksudkan dalam buku sejarah Gui Tin di mana tersimpan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? “Mari antarkan aku ke sana, akan kutawan semua laki-laki yang berada di sana. Akan ku tangkap Kahano yang memberontak itu!” katanya gagah sambil berdiri. Akan tetapi Malita nampak ragu-ragu. Apalagi Malika yang lebih berwatak keras dari pada kakaknya. Gadis ini berdiri dan mencabut pedangnya. “Raksasa,” tulisnya di tanah menggunakan ujung pedangnya, “kau mudah saja bicara seakan-akan kau benar-benar akan dapat menangkan Kahano dan kawan-kawannya. Sekarang begini saja, aku dan kakakku Malita hendak menguji kepandaianmu. Biarpun kau besar sekali dan tentu tenagamu amat besar, akan tetapi kalau tidak memiliki kepandaian, apa gunanya?” Malika menegur adiknya dengan kerling mata tajam, kemudian ia menulis. “Maafkan adikku yang nakal dan kasar, saudara Kwan Cu. Akan tetapi, ada pula benarnya kata-kata itu. Kami tidak mau membiarkan kau yang bermaksud baik itu mengalami kegagalan dan celaka di tangan Kahano yang lihai. Maka, maukah kau kuuji kepandaianmu?”

Kwan Cu mengangguk, dan tanpa banyak cakap, dia bersiapa sedia, berdiri menghadapi dua orang gadis itu dengan hati-hati. Ia dapat menduga bahwa kedua orang gadis yang kecil ini memiliki ginkang yang amat tinggi dan karenananya tentu memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.

Malita dan Malika bersiap dengan pedang mereka, kemudian Malika berseru dan menyerbulah kedua orang gadis itu dengan hebatnya. Malita melompat dan tubuhnya melayang tinggi sehingga ia dapat menusukkan pedangnya ke arah dada Kwan Cu, adapun Malika yang cerdik menggunakan pedangnya untuk membabat kedua kaki Kwan Cu yang besar. Benar saja dugaan Kwan Cu, gerakan dua orang gadis ini cepat sekali dan cara penyerangan mereka menggunakan teori silat yang tinggi.

Kwan Cu menggunakan Pai-bun-tui-pek-to untuk menghadapi serangan dua orang gadis kecil ini. Baiknya pemuda ini telah memiliki pandangan mata yang awas dan karena tubuhnya jauh lebih besar, maka langkahnya pun lebar sekali bagi Malita dan Malika. Sekali saja Kwan Cu melangkah, dia telah menghindarkan diri jauh-jauh dari dua pedang kecil yang menyerangnya. Akan tetapi bagaikan dua ekor nyamuk yang gesit sekali, Malita dan Malika terus mendesak dan mengejarnya dengan pedang mereka.

Kwan Cu memperhatikan gerakan-gerakan mereka dan diam-diam dia terkejut sekali. Ilmu pedang mereka itu benar-benar lihai, dan kalau saja mereka merupakan dua orang gadis dengan tubuh sebesar dia, tentu dia takkan sanggup menghindarkan diri dari serangan mereka itu. Gerakan pedang mereka selain amat cepat, juga gerakannya mempunyai perubahan yang tak terduga-duga, begitu indah dan juga kuat sekali. Tubuh mereka seakan-akan telah menjadi satu dengan pedang dan bagaikan dua kunang-kunang di waktu malam gelap, dua orang gadis itu menyambar-nyambarnya dari segala jurusan.

Kwan Cu menjadi bingung. Untuk membuktikan bahwa dia dapat membantu mereka ini dan mengalahkan para pemberontak, dia harus dapat menunjukkan kepandaiannya dan dapat mengalahkan Malita dan Malika. Akan tetapi, dengan tangan kosong saja, tak mungkin dia dapat mengalahkan mereka tanpa melukai mereka ini. Ia tentu akan dapat mempergunakan Ilmu silat Sin-ci-tin-san yang lihai, akan tetapi apakah tubuh mereka yang kecil-kecil ini akan dapat menahan hawa pukulan Sin-ci-tin-san?

Makin lama, Malita dan Malika mendesaknya makin hebat sehingga Kwan Cu terpaksa menahan desakan mereka dengan Ilmu Silat Sam-hoan-ciang. Ilmu silat ini biarpun hanya terdiri dari tiga bagian pukulan, namun membuat dia dapat bertahan kuat dan hawa pukulan yang ditimbulkan dari gerakan kedua tangannya merupakan perisai yang menangkis semua serangan lawan. Malita dan Malika tak dapat mendekatinya lagi karena di sekitar tubuh pemuda itu bertiup angin pukulan yang membuat tubuh mereka terpental mundur kembali setiap kali mereka hendak menyerang.

Kwan Cu masih tidak puas dan sambil tersenyum dia lalu mengeluarkan sulingnya yang tadi dia ambil dari buntalan pakaian dan dia selipkan di ikat pinggangnya.

Malita memandang heran. Apakah pemuda raksasa yang aneh dan lihai ini hendak menyuling sambil bertempur? Akan tetapi, keheranannya bertambah ketika Kwan Cu bukannya menggunakan benda itu untuk menyuling melainkan mempergunakannya untuk bertempur! Dengan sulingnya ini, Kwan Cu mulai memainkan gerakan-gerakan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai. Ia bermaksud mengalahkan dua orang gadis cilik ini dengan merampas pedang mereka. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dua orang gadis itu agaknya tidak gentar menhadapi sulingnya dan agaknya sudah dapat menduga lebih dulu kemana sulingnya akan bergerak sehingga mereka dapat mempertahankan diri dengan baik. Melihat gerakan mereka, Kwan Cu merasa yakin bahwa mereka telah mengenal ilmu pedangnya, karena ke manapun juga dia hendak menggerakkan suling, keduanya sudah bersiap sedia dan setiap elakan demikian tepatnya.

Untung bagi Kwan Cu bahwa dua orang lawannya yang kecil itu tenaganya kecil pula sehingga baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk menangkis serangan-serangan mereka. Namun diam-diam pemuda ini merasa kagum dan girang. Ilmu pedang yang di perlihatkan oleh Malita dan Malika benar-benar hebat dan agaknya memang di tempat ini menjadi sumber ilmu-ilmu silat tinggi. Tak salah lagi, tentu kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng berada di pulau yang di jadikan tempat sembunyi kaum pemberontak itu. Ia menjadi girang dan penuh harapan. Memang tujuan dari pada perantauannya ke tempat-tempat aneh ini adalah untuk mendapatkan ilmu silat tinggi dan sekarang dia telah menyaksikan orang-orang kecil yang memiliki ilmu silat mengherankan. Bagaimanakah dua orang gadis ini seakan-akan mengenal ilmu pedangnya yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai? Ia harus menyelidiki semua ini.

Setelah mengambil keputusan untuk mengalahkan dua orang gadis ini karena dia telah puas menyaksikan ilmu pedang mereka, tiba-tiba Kwan Cu berseru keras sambil meyembunyikan sulingnya di balik lengan baju, kini dia bersilat ilmu silat Sin-ci-tin-san, akan tetapi bukan mempergunakan tangan, melainkan mempergunakan ujung lengan bajunya! Serangan yang amat dahsyat ini benar-benar membuat Malita dan Malika kewalahan sekali. Seharusnya, ilmu silat ini di mainkan dengan jari tangan yang melakukan serangan menotok, akan tetapi oleh karena Kwan Cu tak ingin mencelakai dua orang gadis ini, dia mempergunakan ujung lengan baju sebagai gantinya. Ia telah memperhitungkan dengan tepat dan mendapat akal bagaimana harus mengalahkan lawan-lawannya.

Sambaran pukulan yang dilakukan oleh ujung lengan bajunya mengandung tenaga lweekang yang berat, maka benar sebagaimana perhitungannya, ketika ujung pedang kedua orang gadis ini beradu dengan ujung lengan baju, mereka berteriak kesakitan karena telapak tangan mereka menjadi panas. Kwan Cu mempergunakan lweekangnya untuk mengubah ujung lengan baju yang tadinya keras kaku menjadi lembek. Sekejap mata saja dua pedang itu telah terlibat ujung lengan baju dan sekali dia menggerakkan kedua tangannya, pedang-pedang itu terampas olehnya.

Malita dan Malika menghentikan gerakan mereka dan dengan menjura Malita menulis di atas dengan ujung sepatunya. “Kami menyerah kalah dan percaya penuh akan kelihaianmu.”

“Kalian memiliki ilmu pedang yang hebat sekali,” jawab Kwan Cu sambil mengembalikan dua batang pedang kecil itu.

“Akan tetapi, Kahano dan kawan-kawannya lebih berbahaya lagi. Kalau menghadapi mereka, kau harus mempergunakan kedua tanganmu, dan untuk menjaga agar jangan kau terluka oleh senjata mereka yang mengandung racun berbahaya, kedua tanganmu harus digosok lebih dulu dengan obat kami,” kata Malita.

Setelah mendapat kenyataan bahwa pemuda raksasa itu benar-benar lihai, Malita dan kawan-kawannya menjadi amat gembira dan penuh harapan. Malita lalu mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati raksasa muda yang akan menolong mereka itu. Dalam kesempatan ini, Kwan Cu mempelajari bahasa mereka yang bagi telinganya terdengar amat kaku.

Malita dan Malika mengajak Kwan Cu berunding bagaimana harus mengadakan penyerangan terhadap pemberontak.

“Yang terberat untuk dihadapi hanya enam orang di bawah pimpinan Kahano itu,” kata Malita sambil menjelaskan dengan tulisan bagian kata-kata yang tidak atau belum dimengerti oleh Kwan Cu, “untuk anak buah mereka, serahkan saja kepada kami dan kawan-kawan. Asal kau sudah dapat mengalahkan dan menawan enam orang itu, tentu akan beres. Akan tetapi sukarnya, mereka itu menyembunyikan diri dalam gua-gua yang panjang dan gelap dan pertahanan mereka di situ kuat sekali. Setiap kali kami mau menyerbu masuk, kami dihujani anak panah dan senjata rahasia dari dalam gua.”

“Kita lihat saja dulu, keadaan mereka di sana, baru nanti mencari akal,” kata Kwan Cu sambil makan hidangan yang enak akan tetapi aneh bagi lidahnya. Ia merasa agak malu-malu ketika melihat betapa semua wanita itu menonton dia makan hidangan yang bagi mereka amat banyak itu. Hm, alangkah gembulku dalam pandangan mereka, pikir Kwan Cu.

Malam hari itu Kwan Cu bermalam di dusun mereka. Karena tidak ada rumah atau kamar yang cukup besar bagi Kwan Cu, terpaksa pemuda ini bermalam di luar rumah-rumah kecil itu, di udara terbuka. Namun dia mendapat hiburan yang luar biasa sekali. Ketika hari mulai gelap dan dia sudah membaringkan tubuhnya di bawah pohon untuk mengaso dan mengenangkan semua pengalamannya yang aneh-aneh itu, tiba-tiba nampak banyak sekali obor menerangi tempat itu. Berbarengan dengan munculnya obor-obor ini, terdengar suara tetabuhan yang amat merdu namun aneh sekali iramanya. Suara tetabuhan ini lalu disusul oleh nyanyian bersama yang membuat Kwan Cu merasa heran, karena dalam suara nyanyian bersama ini, dia mendengar suara laki-laki yang besar!.

Obor-obor itu makin mendekat dan Kwan Cu melihat sesuatu yang membuat dia terkejut dan juga gembira, karena tak diduga-duganya bahwa para pemegang obor itu adalah wanita-wanita dan juga laki-laki bangsa katai itu. Mereka nampak begitu rukun dan damai, sedangkan di antara mereka nampak pula banyak anak-anak kecil yang dalam pandangan Kwan Cu luar biasa lucunya, seperti bayi-bayi berjalan! Malita dan Malika memimpin rombongan ini dan menurut tafsiran Kwan Cu tak kurang dari lima puluh orang wanita-wanita muda dan dua puluh orang laki-laki muda yang datang membawa obor itu. Pakaian mereka seragam, yang wanita merah dan yang laki-laki biru. Agaknya mereka dalam keadaan dan suasana berpesta riang gembira.

Kwan Cu bangun dan duduk bersandarkan pohon. Malita menghampirinya dan bersama Malika, ia menjura tanda menghormat Kwan Cu yang membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum ramah.

“Nasihatmu baik sekali, saudara Kwan Cu. Lihat, laki-laki yang tadinya menjadi tawanan kami, sekarang telah kami bebaskan dan setelah kami menjelaskan tentang nasihatmu agar kami hidup rukun dan damai saling mengalah dan saling melindungi, mereka menerima dengan gembira dan menyatakan hendak membantu kami menumpas Kahano dan kawan-kawannya.”

“Bagus sekali! Tidak ada berita lebih menggirangkan daripada ini,” kata Kwan Cu.

Adapun orang-orang lelaki yang berada disitu, lalu bersama maju dan berlutut di depan Kwan Cu dengan mata memandang kagum dan juga agak takut-takut.

Kwan Cu melihat betapa kaum lelaki di situ memang bersemangat kecil dan jelas sekali nampak sifat rendah diri dan kalah pengaruh oleh kaum wanitanya. Namun harus diakui bahwa mereka pun memiliki bentuk yang tampan dan menarik serta potongan tubuh yang bagus. Anak-anak kecil kelihatan lucu sekali ketika mereka memandang kepada “raksasa muda” itu dengan mata terbelalak ketakutan.

“Kami sengaja mengumpulkan orang-orang untuk menghiburmu sebagai penghormatan,” kata Malita, kemudian ia memberikan tanda dengan tangannya.

Tetabuhan dibunyikan makin gencar dan dari rombongan itu keluarlah belasan orang gadis dengan pakaian indah, menari-nari di depan Kwan Cu dengan gerakan lemah gemulai. Kwan Cu terpesona. Belum pernah dia menyaksikan tari-tarian yang demikian indahnya, ditarikan oleh gadis-gadis yang biarpun bentuk tubuhnya sudah menunjukkan kepenuhan dan kedewasaan, namun tingginya hanya sampai di pahanya saja! Seakan-akan dia melihat boneka-boneka hidup menari dengan indahnya.

Ini semua menggirangkan hati Kwan Cu, tetapi yang paling menggembirakan adalah sikap laki-laki dan wanita yang berada di situ, saling pandang antara suami isteri, penuh cinta kasih dan pengertian, tertawa-tawa dan tiada ubahnya dengan pasangan-pasangan di dusun-dusun di negaranya, dimana hidup petani-petani yang sederhana akan tetapi selalu hidup rukun dengan keluarganya.

“Pesta seperti biasanya kami lakukan setahun sekali,” kata Malita kepada Kwan Cu tanpa mempergunakan tulisan karena Kwan Cu yang berotak cerdik luar biasa itu sebentar saja sudah menguasai bahasa percakapan yang mudah-mudah.

“Untuk merayakan apakah?” tanya Kwan Cu sambil menikmati gerak tarian para gadis cantik yang berputar-putar di hadapannya menurutkan irama lagu.

“Untuk merayakan dewi bulan dan dalam kesempatan itu, memberikan kesempatan kepada para calon dara untuk memilih calon jodohnya.”

Kwan Cu tertegun. Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata. Hm, benar-benar dunia nyata di pulau ini. Bahkan dalam hal memilih jodoh, wanitalah yang berhak memilih!

“Jadi laki-laki tak berhak memilih jodohnya?” tanyanya.

Sepasang mata Malita memancarkan sinar penasaran. “Laki-laki memilih? Hm, akan rusaklah semua kalau laki-laki yang diberi kekuasaan memilih jodohnya. Laki-laki selalu memilih jodohnya berdasarkan kecantikan wanita dan keindahan bentuk tubuh! Laki-laki seakan-akan buta dalam hal memilih jodoh. Kalau mereka memilih, tentu takkan dapat terbentuk rumah tangga bahagia. Mereka memilih yang cantik-cantik untuk akhirnya bercekcok di kemudian hari karena ternyata pilihannya tidak mencocoki wataknya sendiri. Kemudian bagaimana? Mereka itu, laki-laki buta itu, akan mencari-cari wanita lain!”

Kwan Cu tersenyum. “Malita, agaknya kau masih belum dapat melenyapkan kebencianmu terhadap laki-laki.”

Malita tersenyum juga menjadi sabar kembali. “Bukan semata-mata terdorong kebencian, melainkan berdasarkan kenyataan. Sifat buruk laki-lakilah yang memancing kebencian di dalam hati wanita.”

“Kurasa tidak akan terjadi seperti penuturanmu itu apabila pemilihan laki-laki berdasarkan cinta kasih.” Kata Kwan Cu.

Tiba-tiba gadis bertahi lalat di pipinya itu tertawa berkikikan sambil menutupi mulutnya, seakan-akan mendengar sesuatu yang amat menggelikan hatinya. Tentu saja Kwan Cu menjadi melongo karena dia tidak mengerti apa gerangan yang ditertawakan oleh Malita.

“Eh, kau tertawa begitu geli ada apakah?” tanyanya tak senang karena berada di tengah-tengah orang-orang katai ini, kembali datang perasaan tidak sedap dalam hati Kwan Cu merasa bahwa dia akan kembali jadi buah tertawaan.

“Apakah di antara bangsa raksasa terdapat juga perasaan cinta kasih yang membikin gila orang?” tanya Malita.

“Tentu saja ada. Apa kau kira kami bangsa yang kau sebut raksasa bukan manusia yang mempunyai perasaan dan hati?”

“Bukan demikian maksudku, saudara Kwan Cu yang baik. Melihat kau dan kepandaianmu tadinya kukira bahwa bangsamu adalah manusia yang sudah pandai dan tidak bodoh serta lemah sehingga mudah pula dikuasai oleh perasaan palsu yang disebut cinta kasih. Akan tetapi ternyata ternyata sama saja dengan kami, masih dapat dipengaruhi oleh perasaan palsu itu.”

“Bagaimana kau berani menyatakan bahwa cinta kasih itu adalah sesuatu perasaan yang palsu?” tanya Kwan Cu penasaran.

“Cinta kasih yang timbul dalam hati wanita memang murni dan suci, akan tetapi cinta kasih dalam dada seorang laki-laki hanya palsu belaka! Cinta kasih seorang laki-laki hanya berdasarkan nafsu, berdasarkan rasa tertarik dan suka kepada wajah yang indah, bentuk tubuh yang menggairahkan! Sebaliknya, cinta kasih yang timbul yang timbul dalam hati wanita berdasarkan watak yang baik dan budi bahasa yang halus, bukan semata-mata karena wajah yang tampan dan gagah!”

Kwan Cu kembali tertegun. Baru kali ini dia mendengar filsafat seperti ini sungguhpun dia memang jarang sekali mendengar atau tak pernah membaca tentang filsafat cinta kasih. Namun dia penasaran sekali karena sebagai seorang laki laki dia merasa laki-laki direndahkan oleh ucapan itu.

“Tak mungkin!” bantahnya. “Tidak semua laki-laki hanya mendasarkan cintanya pada nafsu dan keindahan. Ada pula laki-laki yang berpribudi dan bijaksana.”

“Seribu satu saudara Kwan Cu. Seribu orang hanya ada satu! Aku berani bertaruh bahwa seorang laki laki takkan suka mencinta seorang wanita yang buruk rupa atau cacad tubuhnya. Eh, apakah kau sendiri sudah mempunyai seorang wanita yang kau kasihi?”

Kwan Cu tak dapat menjawab, wajahnya memerah. Ia teringat akan sumpahnya di depan gadis raksasa Liyani bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng! Akan tetapi di depan Malita dia tidak menyatakan sesuatu.

“Saudara Kwan Cu, andaikata kau sudah mempunyai seorang gadis yang kau cinta, aku berani memastikan bahwa gadis itu tentulah seorang yang cantik manis, bukan seorang gadis yang tidak ada hidungnya! Aku tidak percaya akan ada seorang laki laki yang mencinta seorang gadis yang hidungnya lenyap atau rusak.” setelah berkata demikian, Malita tertawa mengejek.

“Kau mau menang sendiri saja,” Kwan Cu merasa perutnya panas, “aku juga merasa yakin bahwa tidak ada seorang gadis yang menjadi seorang laki laki yang hidungnya rusak seperti yang kau katakan tadi.”

“Siapa bilang tidak mungkin? Banyak wanita yang mencinta sepenuh hati suaminya yang buruk rupa, yang bopeng, yang pincang dan sebagainya. Cintanya suci murni, karena seperti kukatakan tadi, cinta kasih seorang wanita berdasarkan kesetiaan, berdasarkan watak baik dan kecocokan hati dan pikiran, bukan seperti laki laki yang buta cinta, hanya suka kepada apa yang baik menarik, akan tetapi mudah pula bosan setelah melihat wanita lain yang lebih menarik!”

Kwan Cu menjadi panas, akan tetapi dia sempat menahan gelora hatinya dan hampir saja dia tertawa. Untuk apakah berdebat urusan cinta dengan gadis ini?

“Sesukamulah, Malita. Hanya kalau kau dan kawan kawanmu mau menuruti nasehatku, dalam menetapkan perjodohan, harus ada persetujuan kedua fihak, baik dari si wanita maupun dari si lelaki, baik dari fihak wanita maupun dari fihak laki-laki jangan sekali kali ada paksaan. Dengan demikian, kiranya baru akan dapat dibentuk rumah tangga yang damai.”

Pesta penghormatan itu berjalan sampai menjelang tengah malam. Tiba-tiba banyak sekali obor padam dan terdengar pekik di sana-sini. Kwan Cu terkejut sekali melihat beberapa orang laki-laki yang tadi memegang obor, terjungkal roboh dan keadaan menjadi panik. Di bawah penerangan bulan, kelihatan bayangan yang gesit di sana-sini dan anak panah-anak panah yang kecil menyambar-nyambar.

Kwan Cu dan Malita melompat bangun.

“Mereka datang menyerbu!” seru Malita marah sambil mencabut pedangnya.

“Biar aku menghadapi mereka!” Kwan Cu berseru dan pemuda ini berlari cepat dengan lompatan-lompatan jauh menuju ke arah para penyerbu. Memang benar dugaan Malita, banyak sekali orang katai datang dari arah pantai sambil menghujankan anak panah kepada orang-orang yang sedang berpesta. Kahano yang mendengar bahwa pulau itu kedatangan raksasa dan bahwa para wanita tengah mengadakan pesta di malam itu, dan terutama sekali mendengar betapa para laki-laki yang tertawan kini telah berbaik dengan para wanita, menjadi marah dan memimpin semua orang menyerbu.

Kwan Cu yang berlari mendatangi, tiba-tiba disambut oleh puluhan batang anak panah yang kecil-kecil namun cukup berbahaya datangnya. Pemuda ini cepat mencabut sulingnya dan memutarnya seperti pedang sehingga semua anak panah yang kecil-kecil itu tersampok runtuh. Ia maju terus dan para pemberontak itu ketika menyaksikan betapa raksasa ini amat tangguh, menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai!

Akan tetapi, pada saat itu, Malita dan Malika dan kawan-kawannya telah datang menyerbu dan pertempuran yang hebat terjadilah. Kwan Cu menyerang ke sana ke mari dengan sulingnya. Ia tidak mau membunuh, hanya menggunakan tenaganya untuk membuat senjata-senjata lawan terlempar sambil berseru berkali-kali,

“Malita, jangan bunuh mereka, tawan saja!”

Menghadapi amukan raksasa ini, orang-orang katai yang sudah panik itu menjadi makin kacau balau. Apalagi memang kepandaian para wanita itu hebat dan mereka biarpun menerima latihan ilmu silat tinggi yang aneh dari Kahano, namun masih belum dapat mengatasi kepandaian para wanita. Sebentar saja mereka dikalahkan, terluka dan tertawan. Kwan Cu sengaja mencegah mereka itu melarikan diri, akan tetapi setelah dia menjaga di pantai dan menangkap setiap orang katai yang hendak melarikan diri, dan pertempuran selesai, ternyata bahwa betapapun juga. Kahano dan lima orang kawannya telah melarikan diri dari pulau itu!

Malita dan kawan-kawannya girang sekali melihat betapa semua anak buah Kahano telah dapat tertawan, sungguhpun Malita masih penasaran karena Kahano dan lima orang kawannya yang menjadi biang keladi kekacauan itu dapat melarikan diri. Pada malam hari itu juga, Malita dan kawan-kawannya lalu memberi nasihat kepada semua tawanan, dibantu oleh orang-orang lelaki yang sudah insyaf dan baik kembali. Para tawanan itu setelah mendapat penerangan bahwa semenjak hari itu tidak akan ada tindas-menindas antara laki-laki dan wanita, bahwa akan diadakan kerja sama yang baik menurut nasihat Kwan Cu raksasa muda itu, menjadi terharu. Mereka tadinya kena hasutan Kahano hanya karena mereka menganggap pihak wanita terlalu menindas dan merendahkan mereka yang bertenaga lebih besar.

“Setiap pelanggaran atau kejahatan, setiap penindasan dan kekejaman, baik dilakukan wanita maupun laki-laki, akan diadili dan yang melakukan dihukum!” demikian Malita menutup penerangannya, sesuai dengan nasihat dan penerangan Kwan Cu yang memasukkan aturan-aturan bangsanya kepada bangsa katai ini.

Dan pada keesokan harinya, diantar oleh Malita, Malika dan sepuluh orang prajurit wanita, Kwan Cu naik perahunya menuju ke pulau yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan lima orang kawannya. Melihat pulau itu dari perahunya, Kwan Cu berdebar hatinya. Tak salah lagi, inilah pulau yang ditunjuk di dalam buku sejarah Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan. Ia melihat pulau yang kecil dan bundar bentuknya dan dari jauh sudah kelihatan pohon-pohon yang keputih-putihan, batu-batu karang yang menjulang tinggi dan gua-gua di batu karang yang bermulut hitam gelap.

“Itulah Pek-hio-to (pulau daun putih) yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan kawan-kawannya,” kata Malita kepada Kwan Cu. Kwan Cu di dalam kegembiraan dan ketegangan hatinya tidak menjawab, melainkan mendayung makin cepat lagi ke arah pulau itu sehingga perahunya meluncur cepat sekali dan para wanita itu memandang dengan kagum.

Pulau kecil itu ternyata paling tinggi letaknya di antara semua pulau-pulau kecil yang berada di sekitar daerah itu. Kelihatannya seperti bukit kecil yang berwarna putih.

Setelah Kwan Cu mendaratkan perahunya, dia dan semua wanita katai melompat turun ke pantai. Malita mengeluarkan sehelai saputangan warna putih dari balik bajunya dan memberikan saputangan itu kepada Kwan Cu.

“Seperti sudah kukatakan kemarin, Kahano dan kawan-kawannya menggunakan bisa ular di ujung senjata mereka. Bisa itu amat berbahaya, dan kalau kulit tanganmu sampai terluka, nyawamu akan terancam bahaya. Akan tetapi kalau kau menggosok-gosok kedua tanganmu dengan sapu tangan yang sudah mengandung obat penawar ini, kau tidak usah takut mengahdapi ujung senjata mereka.”

Kwan Cu menerima saputangan itu sambil mengucapkan terima kasihnya lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan saputangan itu. Aneh sekali, terasa panas dan gatal-gatal tangannya, akan tetapi Malita menyuruh dia menggosok-gosok terus sampai lenyap rasa gatal-gatal itu. Benar saja, lama-lama lenyap rasa gatalnya, tinggal rasa panas-panas hangat pada telapak tangannya. Ia mengembalikan saputangan putih kepada Malita dan diam-diam dia merasa kagum. Agaknya gadis ini seorang ahli tentang racun dan senjata yang berbahaya sehingga perlu membawa saputangan-saputangan yang aneh dari berbagai warna. Ia masih teringat sapu tangan merah yang dapat membuat dia mabuk dan tertidur.

“Di mana tempat mereka bersembunyi?” tanya Kwan Cu sambil mengajak Malita dan kawan-kawannya naik ke tengah pulau. Mata pemuda ini memandang ke sekeliling dan dia melihat bahwa pulau itu memang aneh sekali dan menyeramkan keadaannya. Pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak banyak akan tetapi daun-daunnya berwarna putih belaka, juga rumput-rumput banyak yang berwarna putih. Pulau ini mengingatkan dia akan daerah utara kalau sedang dilanda musim salju. Gua-gua yang banyak terdapat di bukit karang itu nampak menghitam, amat jelas di antara daun-daun yang putih itu.

“Sukar untuk mengatakan di mana mereka bersembunyi. Gua-gua di sini banyak sekali dan di antaranya terdapat lima buah gua yang merupakan terowongan bersambung satu kepada yng lain,” Jawab Malita sambil memimpin rombongan itu kepada sebuah gua yang gelap. “Nah, gua ini yang terbesar, akan tetapi dari gua ini orang dapat mencapai gua-gua di lain bagian.”

Kwan Cu melihat bekas tapak-tapak kaki kecil di sekitar mulut gua dan tahu bahwa memang orang-orang katai itu menyembunyikan diri di dalam gua. Akan tetapi agaknya sia-sia kalau hendak mengejar, karena orang-orang itu dari dalam gua yang gelap tentu akan melihat kedatangannya dan mereka dapat melarikan diri melalui mulut gua yang lain. Selain itu, gua itu memang cukup besar bagi orang-orang katai, namun bagi dia agaknya dia hanya dapat masuk dengan jalan merangkak! Ini berbahaya sekali! Akhirnya dia mendapat akal.

“Kumpulkan kayu-kayu bakar dan daun-daun kering di mulut gua yang berhubungan satu dengan yang lain itu, tutup empat mulut gua dengan kayu bakar dan daun kering, biarkan yang satu ini saja terbuka. Setelah penuh dengan kayu bakar , bakar semua tumpukan itu agar asapnya memenuhi gua dan terowongan. Asap itulah yang akan memaksa mereka keluar dari gua melalui mulut gua ini dan aku akan menjaga di sini.”

Mendengar siasat ini, Malita mengangguk-angguk dengan kagum. Ia lalu mengatur, memecah kawan-kawan menjadi empat bagian untuk melakukan tugas menutup dan membakar mulut gua. Adapun Kwan Cu lalu bersembunyi di belakang batu karang, menjaga kalau-kalau para pemberontak itu muncul dari gua besar itu.

Tempat sembunyi Kwan Cu adalah di balik pohon yang berada di dekat gua dan pemuda ini bersandar pada batu karang itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh batu karang yang hitam itu dan mendapatkan bagian-bagian yang halus teraba oleh tangannya. Ia memandang dan melihat ukiran-ukiran seperti huruf di dinding batu karang di luar gua. Akan tetapi coretan atau ukiran itu tak dapat dibaca karena telah tertutup oleh tanah yang mengeras, merupakan kulit dari batu karang itu. Kwan Cu mengerahkan tenaga dan mempergunakan tangan untuk menarik keluar kulit batu karang itu. Sebagian dari pada kulit yang terjadi dari tanah mengeras itu terlepas dan ternyata bahwa huruf itu adalah huruf LIU. Berdebar hati Kwan Cu karena huruf ini mengingatkan dia akan bunyi kitab sejarah yang dia dapatkan di dalam sumur di Kun-lun-san, yakni kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang menyatakan bahwa kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong oleh LIU PANG yang akhirnya menjadi raja. Ia segera mengerjakan kedua tangannya untuk melepaskan kulit batu karang yang menutup huruf-huruf selanjutnya.

Sementara itu, Malita, Malika dan kawan-kawan mereka sudah mulai bekerja, menutupi empat mulut gua yang lain dengan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu membakar semua itu. Asap yang tebal bergumpal-gumpal memasuki gua dan terus memasuki terowongan itu!

Karena amat tertarik oleh ukiran huruf di dinding sebelah luar gua, Kwan Cu lupa bahwa dia sedang bertugas menanti munculnya Kahano dan kawan-kawannya, dan dia tidak ingat lagi bahwa sudah beberapa lama dia bekerja mencoba untuk melepaskan kulit batu karang yang sudah amat keras dan menjadi satu dengan batunya. Setelah dengan susah payah bekerja sehingga kuku-kuku jari tangannya sampai pecah-pecah, akhirnya Kwan Cu dapat membaca empat huruf yang berbunyi LIU SIN TONG TANG (Guna Anak Ajaib Liu). Hampir saja Kwan Cu berjingkrak saking girangnya. Tak salah lagi, yang dimaksudkan dengan anak ajaib she Liu itu tentu bukan lain adalah Liu Pang, karena anak yang kelak menjadi kaisar patut disebut atau menyebut diri sendiri anak ajaib. Ia makin dekat dengan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang sudah lama dicari-carinya.

Akan tetapi pada saat itu asap telah memasuki terowongan dan bahkan sudah ada asap yang keluar dari mulut gua yang dijaga oleh Kwan Cu. Tak lama kemudian terdengarlah batuk-batuk dan berlari-lari keluarlah enam orang katai dari dalam gua itu. Gerakan mereka gesit sekali dan keenam-enamnya memegang sebatang pedang kecil yang nampaknya tidak berbahaya, akan tetapi yang sesungguhnya mengandung bisa putih yang amat berbahaya pada ujungnya. Enam orang itu bukan lain adalah Kahano beserta lima orang kawannya.

Kwan Cu yang mendengar suara mereka, lalu memandang. Ia melihat seorang katai yang usianya sudah agak tua, dengan kumis dan jenggot putih tebal menutupi mulutnya. Lima orang yang lain berkepala gundul dan biarpun mereka masih muda-muda, namun wajah mereka buruk rupa dan nampak kejam-kejam. Kwan Cu teringat akan penuturan Malita bahwa lima orang yang menjadi murid Kahano adalah pemuda-pemuda jahat yang di benci oleh para gadis karena sikap mereka yang kurang ajar. Yang menarik perhatian adalah saputangan yang mengikat kepala mereka. Saputangan itu berwarna kuning dan bentuknya sama, seakan-akan menjadi tanda pengenal bagi golongan mereka.

“Tak salah lagi, dialah Kahano dan kawan-kawannya,” pikir Kwan Cu. Hati pemuda ini sedang gembira sekali berhubung ditemukannya huruf-huruf yang menyatakan bahwa dia benar-benar berada di pulau yang di cari-carinya. Ia melompat keluar dan dengan dua kali lompatan saja dia sudah tiba di depan enam orang yang sedang mengatur napas untuk menghilangkan pengaruh asap yang menyerangnya di dalam terowongan dan gua. Cara mereka mengatur napas membuat Kwan Cu terkejut, karena itulah peraturan dari ilmu lweekang yang sangat tinggi.

Adapun Kahano dan kawan-kawannya ketika melihat kedatangan Kwan Cu menjadi marah sekali.

“Hm, jadi kaukah yang memimpin mereka dan melakukan akal ini?” tanya Kahano dan Kwan Cu kembali tertegun karena kini Kahano mempergunakan bahasa yang biasa di pergunakan oleh penduduk Tiongkok di bagian utara!

“Kau bisa bahasa daratan Tiongkok?” tanya Kwan Cu terheran-heran.

“Tentu saja bisa, karena kau pun seorang yang berasal dari sana,” jawab Kahano. “Oleh karena itu, mengingat hubungan antara orang kang-ouw, kuharap kau tidak mencampuri urusan kami dan jangan kau mengganggu kami.”

Memang benar bahwa sebetulnya Kahano adalah seorang keturunan Jepang-Tiongkok yang sudah lama merantau di daratan Tiongkok daerah utara, di perbatasan Mongol. Ketika merantau di sana, dia telah mempelajari ilmu silat dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai orang yang kurang baik. Kadang-kadang dia ikut dengan serombongan pemain akrobat dan bermain sebagai seorang pelawak yang cocok sekali dengan keadaannya yang pendek kecil itu. Setelah dia merasa bosan di daratan tiongkok, dia mengambil keputusan untuk kembali ke Jepang dengan naik perahu. Akan tetapi perahunya terserang oleh taufan hebat dan akhirnya dia terdampar dalam keadaan pingsan di atas pulau bangsa katai itu. Ia dianggap sebagai bangsa sendiri oleh mereka dan Kahano yang cerdik itu pura-pura bisu, sehingga dia tidak dicurigai. Setelah dia dapat mempelajari bahasa orang-orang katai itu, barulah dia bicara dan mendongeng bahwa dia adalah seorang yang terpilih oleh dewata sebagai calon pemimpin mereka, akan tetapi dengan syarat menjadi bisu untuk beberapa tahun!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: