Pendekar Sakti (Jilid ke-21)

Dongengnya ini dipercaya oleh sebagian orang lelaki, akan tetapi tidak dipercaya oleh kaum wanitanya sehingga di antara mereka timbul pertentangan semenjak Kahano berada di situ. Akan tetapi, ternyatalah oleh mereka bahwa Kahano pandai sekali ilmu silat dan bukan merupakan laki-laki yang lemah.

Melihat kecantikan Malita dan Malika, Kahano yang sudah agak tua itu tergila-gila dan timbullah satu kehendak rendah. Ia ingin menjadi raja dari bangsa itu dan mengambil Malita dan Malika sebagai isteri-isterinya! Mula-mula kehendak atau cita-cita ini dipendamnya saja karena kedudukan ayah kedua gadis ini kuat sekali sebagai raja yang terkasih dan bijaksana. Akan tetapi sedikit demi sedikit dia menanam rasa penasaran dan memberontak dalam hati kaum laki-laki sehingga dia berhasil mempunyai pengikut yang banyak juga. Kemudian meninggallah raja, ayah dari kedua orang dara jelita itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kahano untuk memberontak.

Ketika Kwan Cu mendengar Kahano dari daratan Tiongkok, dia lalu menjadi marah.

“Kahano, kalau kau bukan penduduk aseli, maka dosamu lebih besar lagi. Kau telah menghasut orang-orang untuk memberontak dan maksudmu menjadi raja dan mengambil puteri-puteri itu sebagai isteri, telah menunjukkan betapa rendah martabatmu. Lebih baik kau dan pengikut-pengikutmu ini menyerah saja. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tak akan dihukum asal saja kalian suka berjanji untuk selanjutnya tidak akan melakukan kekacauan lagi. Ketahuilah bahwa sekarang kaum perempuan bangsa katai ini telah insyaf, bahwa cara satu-satunya unruk mencapai perdamaian antara kaum laki-laki dan wanita, adalah dengan kerja sama dan persamaan hak, seperti yang terjadi di negara kita.”

Kahano tertawa bergelak. Biarpun orangnya kecil, ternyata suara ketawanya besar.

“Ha, ha, ha, orang muda sombong. Kau dapat membodohi mereka ini, akan tetapi apa kaukira aku tidak tahu bagaimana perangai kaum laki-laki di daratan Tiongkok? Apa kaukira aku tidak tahu betapa ayah bunda yang kelaparan menjual anak-anak gadisnya kepada orang-orang kaya, tuan-tuan tanah tua, hanya untuk ditukar dengan makanan? Memang sudah semestinya begitu. Orang perempuan memang dilahirkan cantik dan di takdirkan untuk menjadi alat penghibur laki-laki. Mereka mahluk lemah yang harus menurut dan taat kepada laki-laki, akan tetapi di pulau ini terjadi sebaliknya. Aku hendak mengubah aturanmu itu, sesuai dengan aturan bangsamu, apakah kau masih berani mati untuk merintangi kehendakku? Siapakah kau ini berani mati mencampuri urusan orang lain?”

“Aku bernama Lu Kwan Cu dan aku sekali-kali bukan bermaksud mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sudah menjadi tugasku untuk membela orang-orang tertindas dan melenyapkan pengacau-pengacau keamanan seperti engkau ini!”

Kahano mengutuk dan memberi aba-aba kepada lima orang pembantunya. Enam orang katai itu lalu bergerak dengan teratur sekali, mengurung Kwan Cu dari enam jurusan. Melihat gerak kaki mereka, diam-diam Kwan Cu memuji. Mereka ini memiliki gerakan kaki yang amat teratur dan gesit sekali, dan sikap mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tinggi.

Setelah Kahano berseru keras, enam orang itu mulai menyerang. Pedang pendek mereka bergerak dengan cepat dan serangan mereka tidak di lakukan secara sembarangan, melainkan secara teratur sekali, susul-menyusul seakan-akan memang keenam orang itu sudah berlatih lebih dulu untuk maju berenam dengan ilmu silat tertentu yang harus di lakukan oleh enam orang!

Kwan Cu terkejut dan cepat mengelak. Akan tetapi, biarpun dia dapat mengelak dari serangan pertama tahu-tahu orang kedua sudah menyusul serangan dari belakang, dan ketika dia membalikkan tubuh sambil mengelak ke kiri, orang di sebelah kanan telah menyusul serangan ke tiga. Dengan begitu, setiap serangan selalu datang dari arah belakangnya dan setiap serangan merupakan serangan yang amat berbahaya.

“Lihai sekali!” serunya tanpa terasa lagi. Ia merasa gentar untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong, maka cepat dia mencabut sulingnya, senjata satu-satunya yang selalu berada di tubuhnya. Dengan suling ini, dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat. Ia menangkis dengan keras dan membalas serangan enam orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, segera terjadi hal yang amat mengherankan, juga mengecilkan hati Kwan Cu. Tiba-tiba Kahano berseru dan kini enam orang itu kesemuanya membalasnya dengan serangan yang mirip dengan ilmu pedangnya pula! Bahkan lebih hebat lagi, agaknya enam orang itu setengah dapat menduga ke mana pedangnya akan bergerak selanjutnya, seakan-akan keenam orang itu pernah mempelajari Hun-kai Kiam-hoat, sesungguhpun belum mahir betul.

Menghadapi keroyokan yang dilakukan dengan ilmu silat yang sama dengan ilmu pedangnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali. Apalagi senjatanya hanya sebatang yang kosong dan tidak dapat dia gerakkan dengan tenaga besar, maka biarpun dia dapat menangkis setiap serangan lawan, namun dia tidak kuasa membuat lawannya itu melepaskan pedangnya.

Kwan Cu terkurung makin hebat dan pada saat-saat tertentu dengan aba-aba yang di keluarkan oleh Kahano, enam orang itu mengubah gerakan mereka dan tiba-tiba saja maju menubruk berbareng dengan dahsyat sekali! Biarpun Kwan Cu sudah berusaha mengelak sambil memutar sulingnya, namun bajunya terobek oleh tiga ujung pedang kecil.

Pemuda ini berubah air mukanya. Ia maklum bahwa ujung pedang mereka itu mengandung racun yang berbahaya dan sekali kulit tubuhnya tergurat ujung pedang, banyak kemungkinan nyawanya akan melayang! Lebih hebat lagi, selagi pemuda ini kebingungan, tiba-tiba Kahano melompat ke atas dan sebuah tendangan yang cepat sekali mengenai pergelangan tangan Kwan Cu yang memegang suling. Pemuda ini merasa pergelangan tangannya kaku. Memang Kahano dahulu adalah pemain akrobat, loncatannya tinggi dan tendangannya tepat mengenai urat besar sehingga Kwan Cu tidak kuasa memegang sulingnya lagi yang terlempar jauh.

“Ha, ha, ha! Lu Kwan Cu bocah sombong. Baru sekarang kau mengenal kelihaian Kahano!” Si katai berjenggot ini tertawa bergelak saking girangnya. Lima orang kawannya mendesak makin hebat, mendapat tambahan semangat melihat hasil tendangan pemimpin mereka yang lihai.

Kwan Cu segera dapat menenteramkan hatinya. Ia teringat bahwa di antara anggauta tubuhnya, yang berani menghadapi ujung pedang enam orang lawannya hanya kedua tangannya yang sudah diberi obat oleh Malita. Ia teringat pula betapa tenaga keenam orang ini kecil saja, terbukti pula dari tendangan tadi. Tendangan Kahano itu tidak mengandung tenaga besar, dan hasil yang baik itu hanya karena tepatnya tendangan itu mengenai urat besar di pergelangan tangannya. Teringat akan hal ini, Kwan Cu berseri wajahnya dan dia tersenyum.

“Kahano, kaulah yang sombong. Sekarang akan kau rasai kelihaian Lu Kwan Cu!” sambil berkata demikian, Kwan Cu menggerakkan tangannya dengan jari-jari terpentang. Ia bersilat dengan ilmu silat Sin-ci-tin-san yang mengandung tenaga lweekang dan gwakang amat besar sehingga baru saja sambaran hawa pukulannya saja sudah dapat merobohkan lawan. Di samping itu, dia pun menggerakkan kedua kakinya menurutkan gerakan ilmu silat Sam-hoan-ciang sehingga dia seakan-akan mempunyai muka tiga dan gerakan-gerakan kakinya selalu membentuk segitiga dan tidak dapat di serang dari belakang oleh lawan-lawannya.

Tepat betul gerakan Kwan Cu ini. Begitu dia mainkan ilmu silat Sin-ci-tin-san, enam orang pengeroyoknya menjadi bingung sekali. Mereka agaknya dapat pula menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari Sin-ci-tin-san, akan tetapi oleh karena ilmu silat ini di lakukan mengandalkan lweekang yang tinggi dan tenaga yang besar, tentu saja mereka tidak dapat menirunya! Hal ini merupakan keuntungan bagi Kwan Cu yang mendesak terus selagi enam orang itu kebingungan, tidak tahu harus berbuat bagaimana menghadapi pukulan-pukulan sepuluh jari tangan Kwan Cu yang baru hawa pukulannya saja sudah membuat tubuh mereka tergetar!

Melihat hasil serangannya, Kwan Cu mengamuk makin hebat. Ia dengan heran sekali melihat betapa enam orang ini pun seakan-akan mengenal ilmu silat Sin-ci-tin-san, karena mereka dapat menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari ilmu silat ini, bahkan mereka mencoba untuk menyerangnya dengan meniru gerakan itu. Ilmu silat apakah yang mereka miliki ini sehingga semua ilmu silatnya dapat dikembari oleh mereka? Kalau dia berlaku lambat, tentu mereka akan dapat menguasai diri dan kalau sekali ini dia tidak mampu mengalahkan mereka, agaknya itu akan menjadi tanda bahwa dialah sebaliknya yang akan kalah dan mendapatkan bencana besar!

“Robohlah kalian!” Kwan Cu berseru untuk memperkuat pengaruh dan lweekangnya, dan kedua tangannya bergerak cepat sambil mengerahkan tenaga sekuatnya. Yang paling dia desak adalah Kahano, maka ketika kedua tangannya bergerak, terdengar Kahano menjerit, disusul oleh dua orang kawannya. Ternyata bahwa pukulan Kwan Cu tadi hanya setengah dapat dielakkan mereka, akan tetapi hawa pukulannya masih menghantam Kahano dan dua orang kawannya, yakni seorang yang berada di belakangnya dan seorang pula yang berada di kanannya. Pedang pendek Kahano terlepas dari pegangan dan si katai brewok ini terpukul dadanya sehingga dia terlempar ke belakang dengan dada menderita luka dalam. Orang yang berada di belakang Kwan Cu lebih hebat lagi. Tangan kanan Kwan Cu, atau lebih tepat jari-jari tangan kanannya, telah dapat menampar kepala orang itu sehingga si katai gundul ini terlempar bagaikan seekor anjing dilemparkan dan dia roboh tak dapat bangun kembali. Orang yang berada di kanannya, hanya terkena langgar telunjuk Kwan Cu, namun karena tepat mengenai tangannya yang memegang pedang, pedang itu pun terlepas dari pegangan dan dia menjerit-jerit kesakitan sambil mundur dan memegangi tangan kanan dan tangan kirinya. Ternyata bahwa tulang-tulang tangan kanannya itu telah patah-patah.

Tiga orang lain yang berada di depan Kwan Cu, ketika melihat ini, terbang semangat mereka dan timbul watak pengecut. Mereka melempar pedang dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala yang gundul itu, minta ampun! Memang, sudah terlalu lama kaum laki-laki di pulau katai itu diperlakukan seperti wanita sehingga rata-rata memiliki watak penakut dan berhati kecil.

Kwan Cu tertawa bergelak dengan puas dan mengambil sulingnya. Berhasillah tugasnya mengamankan pulau itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat bayangan beberapa orang berkelebat dekatnya dan lenyaplah suara ketawanya ketika dia melihat apa yang telah terjadi pada saat dia tertawa tadi. Ketika dia memandang, enam orang laki-laki katai itu telah kehilangan kepala mereka dan kini tubuh mereka tergeletak dengan leher terputus dan darah mengalir deras dari leher-leher yang tak berkepala lagi itu.

Dengan kening berkerut Kwan Cu memandang tajam kepada Malita, Malika dan beberapa orang wanita lain yang sudah berdiri di situ dengan pedang di tangan. Malita dan Malika menyusut darah yang menempel di pedang mereka, menggunakan pakaian yang menempel pada mayat-mayat itu.

“Mengapa kalian lakukan ini? Alangkah kejamnya!” seru Kwan Cu tak senang.

Malika menghadapinya dengan sikap menantang. Gadis ini memang berwatak keras dan pemberani. Ia menentang pandang mata Kwan Cu tanpa takut sedikitpun juga, lalu berkata,

“Kau bilang kami kejam? Kalau mengingat betapa enam orang iblis ini hendak membuat kami kaum perempuan menjadi barang permainan yang hina-dina, hukuman penggal kepala masih terlampau murah untuk mereka!”

Kwan Cu menghela napas, lalu berkata,

“Sudahlah, Malika, dan kau juga Malita. Yang sudah lalu biarlah lenyap. Memang mereka ini jahat sekali dan patut dihukum mati, akan tetapi apakah perbuatan ini merupakan tanda bahwa kalian kaum wanita kini hendak berkuasa lagi dan melupakan kerja sama yang baik?”

“Tidak, sama sekali kami tidak akan mengulangi kesalahan besar yang dilakukan oleh nenek moyang kami. Kami sudah berjanji kepadamu dan janji kami selalu kami pegang teguh. Kami akan melakukan pemilihan raja baru dengan adil, kaum laki-laki pun berhak memilih. Dan kami tak kan memandang-mandang lagi apakah ia laki-laki atau wanita, akan tetapi siapa saja yang bersalah akan dihukum dan yang tertindas akan dibela, baik ia laki-laki maupun wanita! Dan semua ini, kebahagiaan yang akan kami hadapi ini, semua berkat pertolonganmu yang amat berharga, saudara Kwan Cu yang budiman!”

“Semua berkat pertolonganmu,” semua wanita berkata pula dan tiba-tiba, dipimpin oleh Malita dan Malika, semua orang wanita yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Cu sambil menangis riuh-rendah!

Kwan Cu tertegun, kebingungan, kemudian dia menghela napas dan berkata dalam hatinya, “Perempuan, perempuan….perempuan namamu dan di manapun sama saja, paling mudah menangis!” berpikir sampai di sini, timbul pikiran lain yang membantahnya.

“Ah, Kong Hoat putera Liok-te Mo-li itu terang seorang laki-laki, akan tetapi dia pun suka menangis.”

Pikiran kedua mengejek, “Ah, Kong Hoat memang dasar cengeng!”

Demikianlah, menghadapi tangis karena berterima kasih dan gembira dari banyak wanita kecil-kecil ini, Kwan Cu malahan melamun, teringat yang bukan-bukan. Akan tetapi, dia sadar kembali dan berkata.

“Sudahlah, untuk apa menangis? Kalian membikin aku merasa sedih dan jangan-jangan aku akan ikut menangis pula. Malita dan Malika, kalian pada saat ini boleh dibilang menjadi pemimpin bangsamu, jangan melakukan upacara yang berlebih-lebihan ini. Aku bertindak sebagai seorang manusia yang harus menolong manusia lain sedapat mungkin. Aku hanya ada satu permintaan, yakni kalau sekiranya kalian tidak keberatan.”

Malita menyusut air matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum manis sekali.

“Apakah permintaanmu itu, saudaraku yang baik? Apa saja yang menjadi permintaanmu, pasti akan kami turuti. Kau ingin menjadi pemimpin kami? Kami setuju sepenuhnya! Kau ingin memilih seorang jodoh di antara kami? Kiranya tak seorangpun dara akan menolakmu siapapun dia adanya!” setelah mengucapkan kata-kata ini, sadarlah Malita bahwa ia bicara terlalu banyak, maka merahlah mukanya.

“Jangan main-main, Malita. Aku bukan Kahano! Tiada lain hanya ini. Perbolehkanlah aku tinggal di pulau ini seorang diri, entah berapa tahun sampai aku merasa bosan dan pergi meninggalkan pulau ini. Selama aku berada di sini, harap kalian jangan menggangguku, karena aku bermaksud hendak bersamadhi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia di tempat ini. Tempat ini amat menarik hatiku.”

Malita dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran.

“Kau memang orang aneh, seorang sakti yang berbudi tinggi. Hal itu bukan merupakan permintaan karena tentu tak seorangpun merasa keberatan kalau kau tinggal di pulau ini.”

“Nah, kalau begitu selamat berpisah. Kalian pulanglah dan aturlah pemerintahanmu sebaik-baiknya dan tinggalkan aku di sini. Jangan ingat lagi kepadaku, karena akupun takkan mengganggu kalian di sana.”

Mendengar keputusan ini, terkejutlah Malita.

“Mengapa begitu keras, saudara Kwan Cu? Setidaknya, perkenankanlah kami kadang-kadang mengunjungimu di sini untuk melihat apakah kau tidak kekurangan sesuatu di sini,” kata Malita.

“Dan sudah tentu kami yang akan menjaga makananmu setiap harinya,” kata Malika.

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepala dan menggoyang-goyang tangannya.

“Jangan! Kulihat pulau ini mengandung pohon-pohon yang berbuah dan kulihat tadi beberapa ekor binatang hutan yang kiranya akan dapat menjadi bahan makanan bagiku. Aku ingin seorang diri saja di sini, tanpa mendapatkan gangguan dari siapapun juga. Kecuali…..” sambungnya ketika meliha sinar mata pada wajah mereka, “kecuali kalau ada sesuatu yang hebat menimpa kalian, tentu saja aku selalu bersiap sedia untuk menolong kalian. Nah, pergilah, mayat-mayat ini tinggalkan saja, biar aku nanti yang akan menguburnya di tempat ini.”

Terpaksa Malita memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ dengan wajah kecewa sekali. Akan tetapi, belum lama ia berjalan ia segera membawa kawan-kawannya, datang lagi dan berlutut.

“Ada apa lagi?” tanya Kwan Cu tak senang.

“Saudara Kwan Cu, biarpun kami tak berani melanggar laranganmu dan tidak akan mengganggumu di tempat ini, setidaknya berjanjilah bahwa sewaktu-waktu kau akan datang mengunjungi kami agar kami dapat melihat bahwa kau masih berada di dekat kami.”

Kwan Cu tersenyum. Ia tidak boleh terlalu keras agar mereka ini jangan menduga yang bukan-bukan sehingga akan pecah rahasia sebenarnya dari keinginannya berada seorang diri di tempat itu.

“Baiklah, kelak kalau kau dan adikmu menikah, beritahulah aku dan aku akan datang menyaksikan pernikahan itu!”

Bertitik air mata di pipi Malita, bahkab Malika juga menangis sesenggukan karena terharu. Mereka lalu pergi dari situ, menuju ke perahu-perahu kecil milik Kahano dan kawan-kawannya sambil menoleh beberapa kali ke arah raksasa muda yang masih berdiri bertolak pinggang melihat sampai mereka pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.

***

Setelah menggali lubang dan mengubur jenazah Kahano dan lima orang kawannya, Kwan Cu segera menghampiri gua yang dijadikan tempat bersembunyi para pemberontak tadi. Ia memeriksa dinding gua dengan sepasang obor yang dibuatnya dari pada rumput kering dan alangkah girangnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dinding-dinding itu sebagaimana telah diduganya semula, terhias oleh gambar-gambar manusia sedang bersilat! Gambar-gambar ini ukirannya bagus dan jelas sekali sehingga melihat gambar-gambar ini saja orang sudah dapat mempelajari ilmu silat yang terlukis di situ!

“Hm, dari sini kiranya mereka itu mempelajari ilmu silat mereka yang aneh!” pikirnya. Gambar-gambar itu benar-benar hebat sekali karena amat banyak dan mengandung gerakan dari hampir semua ilmu silat yang pernah dia pelajari dan yang pernah dia dengar dari suhunya, Ang-bin Sin-kai. Manusia gaib siapakah yang dapat membuat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat seperti ini?

Sampai sehari penuh Kwan Cu memeriksa gambar-gambar itu dan masih juga belum habis. Ternyata bahwa seluruh terowongan yang menembus kegua-gua lain juga terhias gambar-gambar seperti itu, namun anehnya, semua lukisan itu menggambarkan orang bersilat tangan kosong! Tidak ada sebuah pun gambar orang bersilat dengan senjata di tangan. Ada yang bersilat seorang seorang diri, ada yang bertempur, ada pula yang di keroyok dua, tiga, sampai dikeroyok puluhan orang! Agaknya lukisan dititik beratkan kepada tokoh yang dikeroyok, karena kedudukan tokoh ini jelas sekali, teratur baik setiap gerak kaki atau tangan. Menghadapi sebaris lukisan yang menggambarkan cara bagaimana seorang laki-laki dikeroyok oleh puluhan orang, Kwan Cu terkejut. Bukan main hebatnya kedudukan orang yang dikeroyok itu, jauh lebih kuat dari pada ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Saking girangnya, Kwan Cu sampai lupa makan lupa tidur, setiap hari dia melihat dan mempelajari gambar-gambar yang terlukis di dinding gua dan terowongan itu. Kemudian teringatlah dia akan maksud dan kedatangannya di pulau ini sesungguhnya, yakni mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Hatinya berdebar keras. Betapapun jelas adanya ukiran-ukiran ini yang dengan sendirinya telah merupakan pelajaran yang hebat sekali, namun tanpa buku petunjuk atau guru yang membimbing, ilmu-ilmu silat tinggi itu bisa dipelajari dengan cara yang keliru!

“Bukan tak mungkin bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang merupakan kouw-koat (teori ilmu silat) dari semua lukisan ini.” pikirnya.

Setelah berpikir demikian, Kwan Cu merangkak keluar dari gua kecil itu dan baru dia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua karena dia mempelajari dan melihat semua lukisan di dinding itu sambil merangkak! Ternyata bahwa sudah dua hari dua malam dia berada di gua itu tanpa berhenti untuk makan atau tidur. Kini dia merasa perutnya lapar sekali. Maka pergilah dia ke dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon itu. Keadaan di situ memang aneh. Semua pohon mempunyai daun yang keputih-putihan, sungguhpun daun-daun itu berbeda corak dan ukurannya. Dan diantara pohon-pohon itu, ada pula yang mengandung buah-buahan yang biarpun ada yang berwarna merah, namun merahnya juga pucat seperti dikapur.

Kwan Cu berlaku hati-hati sekali. Niarpun perutnya amat lapar dan mulutnya amat haus, namun dia tidak berlaku sembrono. Buah-buahan itu asing baginya dan siapa tahu kalau-kalau di tempat aneh ini terdapat buah-buah yang mengandung bisa. Sebelum makan buah itu, dia menciumnya lebih dulu dan menancapkan suling pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong ke dalam buah itu. Gurunya pernah memberi tahu bahwa suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata, juga dapat di pergunakan untuk menguji apakah dalam sesuatu benda terdapat bisa yang berbahaya. Kalau suling yang kehijauan itu berubah hitam seperti hangus, itulah tanda bahwa buah itu mengandung racun. Setelah dilihatnya bahwa suling itu tidak hangus, barulah dia berani mencoba makan. Ternyata buah itu wangi dan manis, sehingga hatinya girang sekali. Juga di situ terdapat banyak binatang hutan yang rupanya seperti kijang, maka dia tidak khawatir lagi akan makanan untuk perutnya.

Betapapun tertarik hatinya untuk mempelajari semua lukisan orang bersilat di dalam gua yang kecil gelap itu, namun Kwan Cu tidak mau melihatnya lagi. Hatinya tetap bahwa dia harus lebih dulu mencari kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng, karena itulah tujuan utamanya datang mencari pulau ini.

Berhari-hari dia mencari. Semua gua, dari yang besar sampai yang paling kecil dia masuki, namun dia tidak mendapatkan tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Bahkan sebulan telah berlalu dia belum juga bisa menemukan kitab itu. Namun Kwan Cu adalah seorang pemuda yang keras hati dan tak mudah patah semangat. Ia yakin bahwa kitab itu tentu belum ditemukan oleh Kahano, karena kalau Kahano telah mempelajari ilmu silat dari kitab itu, tak mungkin dia akan dapat mengalahkannya. Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiu-bwe Coa-li dan masih banyak tokoh-tokoh sakti dari dunia kang-ouw, semua ingin memiliki kitab itu. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kitab itu tentulah mengandung pelajaran ilmu yang bukan main tingginya. Kemajuan ilmu silat Kahano dan kawan-kawannya yang diherankan oleh Malita, tentulah karena Kahano dan kawan-kawannya mempelajari sebagian daripada gambar-gambar lukisan dinding itu.

Beberapa pekan telah lewat pula dan tahu-tahu sudah tiga bulan Kwan Cu tinggal di pulau kosong itu. Dan belum juga dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dicari-carinya, biarpun sudah beberapa kali dia memasuki gua-gua yang banyak itu dan memeriksa di balik batu-batu karang yang besar. Selama seratus hari ini, Kwan Cu belum lagi mempelajari ilmu silat yang di lukis di dinding, karena kemauannya amat keras hendak menemukan kitab rahasia itu lebih dulu. Ia percaya penuh akan kebenaran kitab sejarah peninggalan Gui Tin dan biarpun sudah seratus hari mencari dengan sia-sia kepercayaannya ini tidak berkurang, bahkan dia menjadi makin penasaran dan memaki-maki diri sendiri sebagai seorang yang bodoh dan sial.

Pada suatu hari, ketika dia mencari seekor kijang untuk dipanggang dagingnya, tiba-tiba dia melihat bayangan putih berkelebat cepat di atas tanah. Hampir saja dia tidak dapat melihat apakah yang berkelebat itu, karena gerakan bayangan ini cepat luar biasa. Akan tetapi, ketika dia mengejar ke arah itu, dia melihat seekor binatang yang rupanya seperti kelinci berbulu putih, berlari cepat sekali. Ia menjadi tertarik. Belum pernah dia melihat binatang seindah itu bulunya. Putih bersih seperti kapas dan keempat kakinya yang pendek-pendek itu amat cepat larinya. Ia mengejar sambil mengerahkan ginkangnya, dan biarpun dia tidak atau belum dapat menangkap binatang putih itu namun binatang itu pun tidak dapat memperbesar jaraknya. Binatang itu nampak kebingungan sekali dan segera berlari ke arah bukit batu karang yang di tumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih yang tidak berbuah. Kwan Cu mengejar terus. Ketika binatang itu tiba di bawah sebatang pohon di puncak bukit, pohon yang terbesar, tiba-tiba saja binatang itu lenyap!

“Eh, ibliskah dia? Bagaimana bisa menghilang begitu saja sedangkan di sini, kecuali pohon-pohon besar ini, tidak ada tetumbuhan lainnya?” pikir Kwan Cu penasaran. Pemuda ini mencari-cari dengan pandangan matanya, dan akhirnya dia melihat sebuah lubang di dekat pohon itu, lubang yang berada di tengah antara dua batang akar yang menonjol keluar dari permukaan tanah.

“Hm, jadi dia bersembunyi di sini,” pikir Kwan Cu sambil tersenyum gembira. Ia mempergunakan pedang kecil yang dahulu menjadi senjata Kahano dan disimpannya karena dia memang membutuhkan senjata untuk menolong sesuatu yang diperlukan. Dengan pedang yang kecil seperti pisau ini, dia menggali lubang itu dan merenggut putus dua akar yang menjepit lubang. Makin dalam dia menggali lubang itu makin besar. Kegembiraan Kwan Cu membesar pula. Ini merupakan pengalaman baru baginya. Bagaimana seekor binatang yang begitu kecil bisa membuat sarang begini besar?

Kurang lebih tiga kaki dalamnya dia menggali dan tiba-tiba, ketika dia mengayun pedang itu ditancapkan pada tanah untuk memperdalam galian, terdengar suara keras dan pedang itu patah! Kwan Cu terkejut dan heran sekali. Dengan jari-jari tangannya dia menggali tanah dan ternyata bahwa pedangnya tadi telah memukul dinding besi yang mengeluarkan cahaya kehitaman dan kelihatannya kuat sekali!

“Apakah ini…..?” katanya makin heran. Ia lalu makin bersemangat, mempergunakan patahan pedang untuk menggali tanah di sekitar pedang besi itu dan ternyata bahwa dinding ini merupakan sebuah peti besi segi empat yang lebarnya ada satu kaki lebih. Di samping peti besi ini terdapat lubang lain yang kecil, agaknya binatang itu mempergunakan peti besi yang kuat ini untuk perisai dan tentu dia bersembunyi di dalam sebuah lubang yang digalinya tepat di bawah peti itu.

Namun Kwan Cu tidak ingat lagi akan kelinci atau binatang berbulu putih yang tadi dikejar-kejarnya. Seluruh perhatiannya kini tercurah kepada peti besi ini. Hatinya berdebar-debar dan diam-diam dia dia berdoa kepada Thian semoga peti inilah yang akan memberi jalan kepadanya mendapatkan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng!

Ia membawa peti besi itu ke guanya. Memang selama tiga bulan berada di situ, Kwan Cu telah memilih sebuah gua yang paling besar, gua yang tidak merupakan terowongan dan sinar matahari dapat masuk ke dalamnya, sebagai tempat tinggalnya, dimana dia mengaso dan tidur.

Setelah makan buah-buahan yang dia simpan di dalam gua itu, Kwan Cu mulai mendekati peti besi dan setelah diperiksanya keadaan di luarnya sambil membersihkan tanah yang melengket di situ, dia tidak mendapatkan sesuatu tulisan. Lalu dia membuka tutup peti besi itu dengan amat hati-hati. Hampir saja dia bersorak girang ketika melihat betapa isi peti itu memang sebuah kitab yang sudah kuning. Jelas kelihatan bahwa ktiab itu terbuat daripada sutera putih yang sudah menguning saking tuanya dan seakan-akan apabila dipegang, kitab itu akan hancur menjadi debu! Dengan kedua tangan gemetar, Kwan Cu mengulurkan tangan hendak mengambil kitab itu, akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan dia menarik kembali tangannya. Keringat dingin membasahi jidatnya, karena dia teringat akan kehebatan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Baru kitab palsu itu saja oleh Panglima An Lu Shan telah dipasangi racun yang amat berbahaya sehingga menewaskan seorang tokoh yang berilmu tinggi seperti Hek-mo-ong! Apalagi kitab ini kalau benar-benar kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tentulah yang aselinya! Siapa tahu kalau-kalau penyimpannya, yakni Liu Pang, juga mempergunakan akal seperti yang telah di lakukan oleh An Lu Shan?

Kwan Cu mengeluarkan sulingnya dan beberapa kali dia menggosok-gosokkan sulingnya itu di atas kitab tua itu. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada suling itu dan legalah hati Kwan Cu. Ia sudah yakin bahwa kitab itu tidak dipasangi racun jahat, namun ketika dia menjamah dan mengeluarkan kitab itu dari peti, tetap saja kedua tangannya gemetar dan wajahnya tegang sekali. Siapa orangnya yang takkan merasa seperti itu apabila mendapatkan kitab yang diinginkan oleh seluruh tokoh besar di daratan Tiongkok?

Kwan Cu harus berlaku hati-hati. Kitab itu sudah tua sekali dan lembaran-lembarannya yang terbuat daripada sutera itu sudah lapuk. Maka dia meletakkan kitab itu di dalam peti lagi dan hanya berusaha membuka halaman pertama, karena pada kulit muka tidak terdapat tulisan apa-apa. Setelah halaman pertama dibuka, dia melihat huruf-huruf kuno yang sudah amat dikenalnya, yakni huruf-huruf yang dipergunakan pula untuk menuliskan Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu dan yang Gui-siucai telah mengerjakannya sampai hafal betul. Dan huruf-huruf ini juga berbunyi: IM-YANG BU-TEK CIN-KENG! Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar dan membasahi pipi Kwan Cu. Inilah kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli!!

Dapat kita bayangkan betapa girang dan terharunya hati Kwan Cu setelah dia mendapat kenyataan bahwa kitab kuno yang dia dapatkan di atas pulau ini betul-betul adalah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli. Kitab itu diperebutkan oleh tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, bahkan dicari-cari oleh pembesar. Dia sendiri semenjak dahulu telah merindukan kitab ini, telah ditempuhnya jalan yang amat jauh dan berbahaya. Sekarang, secara kebetulan sekali kitab itu telah berada di tangannya!

Sampai lama sekali Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut, bibirnya bergerak-gerak. Ia menghaturkan terima kasihnya kepada Thian Yang Maha Kasih, kepada arwah Gui-siucai yang telah membuka rahasia kitab itu kepadanya. Kemudian dengan amat hati-hati dia mulai mempelajari isi kitab.

Ia harus berlaku hati-hati sekali karena sutera yang tertulis dengan huruf kuno itu sudah amat tua. Baru di buka lembar pertama saja, bagian pinggir yang tersentuh tangannya menjadi hancur! Bukan itu saja, bahkan bagian tengah lembaran itu yang bergerak ketika dia buka telah menjadi robek-robek. Maka dia mengambil keputusan untuk mempelajari selembar demi selembar, sama sekali tidak berani membuka lembar berikutnya kalau lembar yang dibuka itu belum dihafalnya benar-benar. Juga dia berlaku amat sopan dan menghormat isi kitab itu yang dianggapnya sebagai kitab suci, untuk menghormat manusia sakti yang menciptanya. Tiap kali hendak membaca kitab itu, dia terlebih dulu berlutut sebagai pernghormatan, dan menjelang malam hari, dia berlutut lagi menghaturkan terima kasih atas segala pelajaran yang telah diterimanya pada hari itu. Hal ini dia lakukan setiap hari!

Pelajaran yang dia dapatkan dari lembaran-lembaran pertama adalah uraian tentang tenaga yang menggerakkan seluruh dunia, yakni tenaga Im dan Yang (Positive dan Negative) . Tentang dua tenaga yang bertentangan namun yang apabila bersatu mendatangkan kekuatan dan daya penggerak di seluruh permukaan bumi ini. Ia mendapat uraian yang amat jelas dan terperinci, disertai contoh-contoh. Kemudian, pada lembar-lembar berikutnya, diterangkan dengan seluasnya tentang unsur tenaga alam yang terdiri dari ngo-heng (lima zat).

Kitab itu bukanlah kitab biasa dan untuk mempelajari isinya dibutuhkan kecerdikan yang luar biasa dan bakat yang amat besar. Kwan Cu mengerahkan seluruh tenaga otaknya dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Tidak satu pun dilewatkannya, tidak sebaris pun kalimat dialpakannya. Semua dia telan bulat-bulat dan diolah di dalam otaknya yang memang cerdik.

Baiknya dia berlaku hati-hati, karena ternyata kemudian olehnya betapa setiap kali dia membalikkan lembar berikutnya, lembar yang terdahulu tergencet dan menjadi hancur! Jelasnya, setiap lembar yang sudah dipelajarinya takkan mungkin dibacanya kembali karena sudah rusak. Orang lain takkan dapat membaca kitab itu setelah dia membaca habis, karena kitab itu akan merupakan kitab rusak yang hampir menjadi debu.

Pelajaran-pelajaran berikutnya merupakan uraian-uraian tentang cara mempergunakan tenaga-tenaga Im dan Yang di dalam tubuh sehingga hawa di dalam tubuh yang merupakan tenaga tersembunyi dapat dikuasai dengan baik. Terdapat pula pelajaran tentang samadhi dan mengatur pernapasan, tentang cara mengugah panca indera di dalam batin sehingga panca indera di tubuh menjadi kuat dan tajam. Semua pelajaran ini di sertai penjelasan-penjelasan terperinci tentang sebab-sebab dan akibatnya, sehingga amat jelas bagi Kwan Cu. Pernah dia menerima latihan samadhi dan pengerahan tenaga lweekang dari Ang-bin Sin-kai, akan tetapi pelajaran itu hanya merupakan pelajaran yang sudah mati, yang dilakukannya sebagai tiruan atau jiplakan belaka. Sekarang baru dia mengerti mengapa segala macam tenaga yang tersembunyi di dalam tubuh itu dapat timbul.

Sampai setahun lebih Kwan Cu jarang sekali keluar dari dalam guanya kalau tidak sangat lapar perutnya. Jarang pula dia tidur kalau tidak sudah amat mengantuk tak tertahankan lagi matanya. Tubuhnya menjadi kurus kering dan matanya cekung. Setelah makan waktu setahun lebih, barulah selesai bagian melatih samadhi dan pernapasan yang selain dipelajari teorinya, juga dipraktekkan setiap saat.

Kemudian mulailah kitab itu mengurai tentang ilmu silat! Bukan main hebatnya. Di situ dibentangkan tentang ilmu-silat-ilmu silat yang sudah ada dan dimiliki manusia, ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dibuat partai-partai persilatan menjadi termasyhur, seperti ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain. Akan tetapi, yang diajarkan di situ hanya rahasia pokok dan dasar dari semua ilmu silat itu. Ternyata pula bahwa lukisan-lukisan di dinding gua-gua dan terowongan itu adalah ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang persilatan ini, memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang ternyata hanya pada variasi dan kembangan belaka. Adapun pada dasarnya semua gerakan ilmu silat adalah serupa dan berasal dari satu sumber!

Untuk memperdalam pengertiannya, Kwan Cu meneliti semua lukisan di dinding gua-gua dan terowongan-terowongan itu, mempelajarinya dengan penuh perhatian. Setelah dia mulai dapat menangkap apa yang disebut pokok dasar gerakan ilmu silat tinggi, matanya terbuka dan amat mudahlah baginya untuk mempelajari ilmu-ilmu silat itu. Ia mempraktekkannya dengan melatih diri, meniru semua gerakan ilmu silat dari berbagai cabang itu dan alangkah girangnya ketika dia dapat mainkan ilmu silat-ilmu silat itu dengan amat mudahnya! Tanpa disadarinya, dia telah maju sekali dalam gerakan yang terdorong oleh tingginya tenaga lweekang dan khikang, serta tanpa terasa latihan napas telah membuat ginkangnya istimewa sekali.

Pada suatu hari, selagi dia melatih seorang diri di dekat pantai laut pulau kosong yang berpohon putih itu, tiba-tiba dia mendengar suara gaduh seperti dahulu pernah didengarnya ketika dia mula-mula naik naik perahu melintasi lautan ganjil itu. Ia tidak mempedulikan suara ini dan terus saja berlatih silat berganti-ganti gerakan dan dia mainkan pelbagai ilmu silat tinggi dari Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai. Tiba-tiba datang angin bertiup keras sekali, dibarengi suara mendesis hebat dan air laut di tepi pantai bergelombang seakan-akan Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) sendiri hendak keluar dari dasar laut!

Namun, Kwan Cu seperti tidak mendengar semua ini dan tidak merasai sambaran angin pohon yang demikian hebatnya, yang membuat pohon-pohon besar di pulau itu menjadi doyong. Orang biasa saja apabila kebetulan berada di situ, pasti akan melayang terbawa angin badai yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi, Kwan Cu tetap bersilat dengan penuh semangat, sama sekali tidak merasa betapa pakaiannya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan tubuhnya karena terbawa oleh angin dan saking kerasnya angin, pakaiannya itu mulai robek-robek dan melayang entah kemana perginya.

Tanpa di ketahui oleh Kwan Cu, air laut mulai naik ke gelombang besar membuat air makin mendekati tempat dia bermain silat! Akhirnya setelah air menyentuh kakinya, barulah pemuda ini terkejut, seakan-akan air itu menyerangnya. Otomatis dia melompat untuk mengelak dan otomatis pula dia menendang ke arah air. Air itu muncrat dan terpental saking kerasnya tenaga tendangannya. Pemuda itu kini melihat ombak besar mendarat di pantai. Makin gembiralah hati Kwan Cu. Seperti Ang-bin Sin-kai gurunya yang suka bercanda dengan laut, dia kini menghadapi ombak, bahkan dia menerjang maju melawan ombak! Hebat sekali pemuda ini. Setiap kali ombak besar menyerangnya, bukan dia terdorong roboh, bahkan air yang terdampar kepadanya dan yang dipukul atau ditendangnya, menjadi buyar!

Akan tetapi, makin lama makin hebatlah air menaik sehingga terpaksa Kwan Cu main mundur, terdesak oleh air yang makin lama makin dalam, siap untuk menelan tubuhnya. Pula, baru sekarang dia merasa betapa tubuhnya sudah setengah telanjang, karena pakaiannya telah robek sana sini dan ujungnya sudah hilang semua entah terbang kemana! Angin bertiup makin keras dan ketika dia memandang ke arah laut, Kwan Cu membelalakkan matamya. Laut menjadi demikian buas, dan airnya berombak-ombak tinggi disertai uap yang hitam menggelapkan langit di atas laut.

Mulai takutlah hati Kwan Cu menghadapi kekuasaan alam yang luar biasa ini. Air kini naik makin tinggi seakan-akan hendak menelan pulau itu. Kwan Cu melompat-lompat mundur dan tiba-tiba dia terkejut setengah mati ketika tanah yang diinjaknya bergoyang-goyang, miring ke sana ke mari seakan-akan pulau itu berubah menjadi sebuah perahu yang mengambang!

“Aduh, akan kiamatkah dunia?” serunya kaget dan dia lalu berlari-lari ke guanya. Dalam berlari ini, beberapa kali dia terhuyung-huyung dan tentu dia sudah jatuh kalau saja ginkangnya tidak luar biasa baiknya. Sambil melompat ke kanan kiri mengimbangi goyangan tanah yang makin menghebat, akhirnya bisa juga dia sampai di dalam guanya. Ia melihat betapa semua pohon bergoyang-goyang dan daun-daun putih rontok, namun tidak sebatang pun tumbang. Ia tahu bahwa akar-akar pohon berdaun putih itu banyak dan amat dalam, maka tidak mengherankan apabila pohon-pohon itu demikian kuat menghadapi serangan angin yang demikian dahsyatnya.

Sampai sehari semalam Kwan Cu berdiam di dalam guanya, serasa mabuk dan beberapa kali dia mau muntah-muntah, baiknya dia cepat mengerahkan hawa di dalam tubuhnya untuk menekan perut sehingga isi perutnya tidak terlalu tergoyang oleh “gempa bumi” yang tiada habisnya itu seakan-akan pulau akan meletus setiap saat! Gua itu sendiri dindingnya sampai retak-retak, sehingga pemuda itu khawatir kalau-kalau gambar-gambar di dinding itu akan rusak dan pelajarannya terhalang karenanya. Demikian besar perhatian Kwan Cu terhadap pelajarannya sehingga dalam keadaan sehebat itu, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya, sebaliknya mengkhawatirkan kalau-kalau pelajarannya akan terhalang atau tertunda.

Akhirnya gempa bumi itu reda dan suara ombak yang bergemuruh juga melenyap. Air tadinya telah sampai di kaki gua di mana Kwan Cu berlindung, hal ini amat mengejutkan hati Kwan Cu karena kejadian ini berarti bahwa air laut telah naik tinggi sekali.

Matahari bersinar kembali, tanah di mana dia berada tidak goyang lagi. Kwan Cu segera keluar setelah menaruh peti kitab dan buntalan pakaiannya yang semenjak kemarin dia peluk saja, terutama peti kitab itu. Ia melihat bekas-bekas air laut di mana-mana basah belaka. Akan tetapi, tak sebatang pun pohon tumbang, hal ini membanggakan hati pemuda ini. Alangkah kuatnya pohon berdaun putih. Aku harus menjadi seorang manusia sekuat dia! Tidak tumbang oleh gelombang hidup yang betapa berat sekalipun.

Akan tetapi, ketika dia tiba di pantai, dia melihat perahunya telah lenyap. Bukan itu saja, bahkan pulau-pulau kecil yang tadinya dia lihat banyak sekali berada di kanan kiri pulaunya, kini telah berubah arahnya. Ia menengok ke sana ke mari dan alangkah terkejutnya bahwa guanya sekarang juga berubah letaknya. Biasanya, matahari terbit menghadapi guanya, berarti bahwa guanya menghadap ke timur, akan tetapi sekarang, matahari terbit dari belakang gua. Hal ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa guanya itu telah berubah letaknya, kini menghadap ke barat! Ataukah matahari yang sekarang muncul dari barat dan tenggelam di timur? Tak boleh jadi, pikirnya. Ia lalu teringat akan goncangan-goncangan pada pulaunya, maka berdebarlah hatinya. Apakah tidak bisa jadi kalau pulaunya itu yang “pindah”? Pulaunya hanyut terbawa ombak yang mengamuk?

Dugaan Kwan Cu yang tidak dipercayanya sendiri itu sesungguhnya tepat. Memang pulaunya itu telah hanyut! Pulau ini terlepas dari dasar laut, dan hanya karena pohon-pohon berdun putih itu akarnya sampai dalam sekali, berpuluh meter panjangnya, yang menolong pulau itu dari kebinasaannya. Dengan pohon-pohon yang masih tegak di atas pulau, maka tanah pulau itu pun tidak dapat pecah-pecah dan masih merupakan pulau atau “perahu besar” dari tanah dan pohon dan dengan kuatnya dapat melawan badai, seungguhpun terpaksa harus pindah tempat karena dorongan ombak yang kuat sekali. Dan bukan baru satu kali itu saja pulau itu berpindah tempat, sudah berkali-kali apabila datang taufan hebat mengamuk seperti tadi. Sesungguhnya karena keistimewaan pulau ini belaka yang membuat Liu Pang menyembunyikan Im-yang Bu-tek Cin-keng di pulau itu. Calon kaisar ini maklum bahwa hanya di atas pulau itu saja maka kitab rahasia ini dapat disimpan dengan sentosa.

Ketika Kwan Cu memperhatikan pulau-pulau di sekitarnya, dia menjadi berdebar tegang. Pulau-pulau itu sekarang kelihatan gundul dan bersih, dan jumlahnya jauh berkurang dari semula, seakan-akan banyak di antaranya telah lenyap ditelan ombak. Segera ingatannya melayang kepada para raksasa, Lakayong dan puterinya Liyani, teringat pula pada Malita dan Malika dan bangsa katai itu. Bagaimana dengan nasib mereka?

Karena perahunya telah lenyap, Kwan Cu segera merobohkan sebatang pohon berdaun putih yang dia tahu amat kuat batangnya, membuangi cabang-cabang dan ranting-ranting serta daun-daunnya, lalu mempergunakan batang pohon itu sebagai perahu! Kepandaiannya telah meningkat amat tinggi dan dengan berdiri di atas batang pohon itu yang mengambang di permukaan air, dia dapat mempergunakan cabang pohon sebagai dayung dan mendayung cepat sekali sambil berdiri! Mula-mula dia mencari pulau tempat tinggal bangsa katai, dan setelah dia berkeliling dengan bingung karena kedudukan pulaunya telah berubah, akhirnya dia mendapatkan pulau bangsa katai itu. Ia mendarat dengan dada berdebar tegang dan tenggorokan seakan-akan tersumbat sesuatu dan kedua mata pedas menahan jatuhnya air mata, Kwan Cu melihat betapa pulau itu telah musnah sana sekali. Bangunan-bangunan kecil hancur dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja, semua tersapu bersih oleh air yang mengamuk. Kwan Cu memeriksa semua pulau dan hatinya makin terharu karena tidak seorangpun manusia katai selamat. Agaknya semua telah hanyut oleh air dan sudah jelas nasib mereka, pasti semua terendam ke dasar laut atau ke dalam perut-perut ikan-ikan besar. Akan tetapi ketika dia melongok ke dalam sebuah gua, tiba-tiba dia melihat pemandangan yang membuat air matanya tercucur keluar. Di dalam gua itu dia melihat Malita dan Malika, dua orang puteri katai kakak beradik itu saling peluk, dengan tubuh mereka terikat pada batu karang yang kuat, dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi! Agaknya mereka dalam serangan ombak yang menenggelamkan pulau, telah berdaya untuk menolong diri dengan mengikatkan diri sendiri pada batu karang dan saling berpelukan, akan tetapi mereka tewas karena tenggelam di dalam air yang menaik tinggi sampai menutupi semua pulau itu!

“Malita……… Malika……. kasihan kalian …..” kata Kwan Cu yang segera melepaskan tubuh mereka dari ikatan. Tubuh kedua orang gadis katai itu tidak kaku, akan tetapi sudah dingin sekali. Tiba-tiba dia mendengar suara burung mayat yang beterbangan di pantai sebelah selatan.

“Tentu di sana terdapat korban lain,” pikirnya. Ia lalu berlari menuju ke pantai itu dengan maksud mengumpulkan korban-korban untuk dikubur bersama. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dari jauh dia melihat tubuh seorang raksasa terbujur di pantai! Dan ketika dia berlari cepat tiba di tempat itu, dia terbelalak memandang kepada jenazah seorang wanita raksasa yang bukan lain adalah Liyani!

“Liyani……!” Kwan Cu cepat melompat dan berlutut untuk memeriksa. Tubuh yang sudah hampir telanjang itu ternyata telah tak bernapas lagi, mati seperti Malita dan Malika. Dengan hati tidak karuan rasa, teringatlah Kwan Cu akan pengalamannya ketika dia berada di pulau raksasa. Gadis raksasa ini suka kepadanya, dan sekarang, gadis yang baik hati ini telah tewas dalam keadaan yang amat memilukan hati.

“Liyani…… agaknya kau dan bangsamu juga musnah oleh amukan laut mengganas……!” Kwan Cu segera memondong tubuh Liyani yang tinggi besar itu tanpa sukar, karena semenjak mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tenaga pemuda ini sudah meningkat luar biasa sekali. Lalu dia membawa pulang tiga jenazah itu dengan perahu ke pulaunya.

Ia menggali lubang dalam dan lebar, kemudian menurunkan tiga jenazah yang jauh sekali ukuran tubuhnya itu ke dalam lubang. Sampai lama dia memandang kepada tiga mayat itu. Ia melihat betapa keadaan Malita dan Malika masih cantik, pakaian mereka masih rapi dan rambut mereka masih tergelung indah. Akan tetapi keadaan Liyani amat memilukan hati. Hampir telanjang dan rambutnya terlepas, agaknya sudah lama ombak mempermainkannya sehingga dari pulau raksasa yang begitu jauh dia terdampar ke pulau bangsa katai.

Kwan Cu teringat akan tusuk konde yang dahulu dia terima dari Liyani, maka cepat dia berlari ke dalam guanya, mengambil tusuk konde itu dari buntalan pakaiannya dan kembali ke dalam lubang kuburan. Dengan hati penuh belas kasihan, dia merapikan rambut Liyani digelungnya baik-baik dan sedapat-dapatnya lalu di pasangnya tusuk konde itu di rambut gadis raksasa ini. Tiga orang gadis yang sudah menjadi mayat itu diletakkan telentang berjajar, Liyani di sebelah kiri. Malita di tengah dan Malika di sebelah kanan.

Ketika dia hendak menutupi lubang itu dengan tanah, hatinya tidak tega, maka dia cepat mengumpulkan daun-daun putih yang rontok dan banyak sekali terdapat di pulau itu, dan dengan daun-daun ini dia menutupi tiga jenazah itu sampai tidak kelihatan lagi. Setelah timbunan daun itu cukup tebal, barulah dia menutupnya dengan tanah sampai bergunduk tinggi dan di tanamnya sebatang pohon berdaun putih yang masih kecil di atas gundukan tanah kuburan ini.

Baiknya pulau berpohon putih itu tidak terbinasa oleh taufan dan ombak laut. Kalau terjadi demikian, biarpun andaikata Kwan Cu dapat menyelamatkan diri, dia tentu akan kelaparan pula. Namun ternyata bahwa semua binatang di pulau itu hanya mengalami kekagetan saja, dan mereka sempat menyembunyikan diri ke dalam gua-gua yang banyak terdapat di pulau itu.

Semenjak saat itu, Kwan Cu, lebih prihatin. Kedukaan dan keharuan hatinya melihat dua bangsa manusia yang aneh sekali itu yakni bangsa raksasa dan bangsa katai, termusnah oleh kekuasaan alam, membuat dia makin yakin akan kekuasaan alam yang dalam sekejap mata dapat memusnahkan dua bangsa manusia. Apakah daya manusia terhadap kekuasaan alam? Kurang apakah kehebatan dan kekuatan bangsa raksasa itu? Namun mereka tidak berdaya menghadapi bencana yang dilakukan olah alam maha kuasa. Kurang bagaimana sederhana dan suci kehidupan bangsa katai itu? Mereka jauh lebih mulia dan suci hidupnya apabila dibandingkan dengan manusia biasa, dan kalaupun mereka pernah membuat dosa, agaknya dosa itu tidak sebesar dosa yang biasa di lakukan oleh manusia seperti bangsa Kwan Cu, akan tetapi kalau alam menghendaki, bangsa yang suci ini pun dapat di musnahkan!

Kenyataan ini membuat Kwan Cu makin tunduk kepada kekuasaan alam yang berada dalam tangan Thian Yang Maha Kuasa dan Sakti. Apalagi ketika dia makin tekun mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, terbukalah matanya. Kitab ini tidak saja mengajarkan ilmu silat-ilmu silat yang tinggi-tinggi, bahkan memberi pelajaran tentang pokok-pokok dasar semua ilmu silat dan pergerakan tubuh manusia dalam pertempuran, akan tetapi juga berisi filsafat-filsafat kebatinan yang amat tinggi. Filsafat kebatinan ini condong kepada aliran Lo Cu yang menyatakan bahwa makin tinggi kepandaian seseorang makin terbukalah matanya bahwa semua yang di sebut “kepandaian” itu sebenarnya hanya kosong belaka! Makin terbuka mata orang akan kekuasaan alam, makin terasalah olehnya betapa kecil tak berarti adanya dirinya, betapa menggelikan dan tiada harganya segala macam kepandaian yang dimiliki manusia!

Oleh karena itu, makin dalam pengetahuan Kwan Cu, makin lama dia mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, makin sederhana jiwanya dan makin pendiam wataknya. Ia merasa seakan-akan dia bukan sedang mempelajari ilmu kepandaian, melainkan mempelajari ilmu pengertian untuk menemukan diri sendiri dan untuk mengenal sifat-sifat manusia yang ada pada dirinya. Tanpa disadarinya, dia telah mendapatkan ilmu yang amat tinggi, mendapatkan dasar-dasar dari segala pergerakan ilmu silat yang kesemuanya harus bersandarkan kepada tenaga Im dan Yang. Namun dengan sadar dia kini melihat betapa semua pengetahuannya adalah kosong belaka dan membuat dia tidak berani menyombongkan kepandaian, karena segala kepandaian manusia dipelajari dari otak, sedangkan siapakah penggerak otak manusia? Kalau Yang Maha Kuasa mencabut tenaga dan kegunaan otak, habislah semua yang dianggap oleh manusia sebagai “kepintaran” itu! Bahkan lebih hebat lagi kalau Yang Maha Kuasa menghendaki napas yang keluar masuk tanpa disengaja oleh manusia, akan lenyaplah ujud yang disebut manusia! Apakah mahluk yang begini lemah, yang mengandalkan hidup dan keadaannya dari pengaruh alam, patut menyombongkan diri dan menganggap diri sendiri pandai? Menggelikan sekali!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: