Pendekar Sakti (Jilid ke-22)

Sang waktu lewat cepat sekali tanpa terasa oleh manusia. Setiap lembar dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dipelajari oleh Kwan Cu sedikitnya seminggu berikut prakteknya dan dua tahun kemudian, tamatlah buku ini di pelajarinya.

Itu pun baru merupakan setengah daripada kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, yakni bagian latihan tenaga lweekang dan bagian ilmu silat saja, karena ketika dia menamatkan bagian ilmu silat dan hendak mulai membuka lembaran atau bagian ilmu perang, ternyata bahwa bagian ini telah lengket menjadi satu dan kalau dipaksa dibuka, lembaran-lembaran itu akan hancur! Di bagian paling bawah terdapat lembaran tentang ilmu pengobatan, juga halaman-halaman ini tidak dapat dibuka.

Namun, setelah menamatkan bagian ilmu silat, Kwan Cu sudah tiada nafsu lagi untuk mempelajari bagian lain. Untuk apakah bagian segala pengetahuan tentang ilmu perang? Ia benci akan perang yang hanya merupakan penyembelihan antara sesama manusia, lepas daripada persoalan yang menimbulkan perang itu sendiri. Adapun tentang ilmu pengobatan, memang tadinya dia ada hasrat untuk mempelajarinya dan menjadi agak kecewa melihat bagian ini tidak mungkin dibaca. Akan tetapi pengetahuannya yang mulai mendalam tentang garis-garis hidup membuat dia berpikir bahwa betapapun pandai seseorang mengobati orang sakit, kalau Thian tidak menghendaki, si sakit itu takkan tertolong juga! Sembuh tidaknya seorang penderita penyakit memang tergantung dari pengobatan, hal ini dia percaya sepenuhnya. Namun baginya, mati hidupnya seorang sama sekali bukan tergantung dari pengobatan. Kalau Thian menghendaki nyawa seseorang, biarpun seribu orang dewa datang menolong, orang itu pasti akan mati juga!

Karena kini kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah tak dapat dipergunakan lagi, yakni bagian depan setelah dia baca telah menjadi hancur dan robek-robek sedangkan bagian belakang telah lengket-lengket tak dapat dibuka, maka Kwan Cu lalu mengubur kitab itu berikut petinya, di dekat makam tiga orang gadis, yakni Liyani, Malita dan Malika. Juga di atas “kuburan” kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng ini dia taruhi tanda batu karang besar. Kemudian dengan telunjuknya dia mencoret-coret batu karang itu dan……. Bukan main hebatnya, ternyata bahwa di atas batu karang yang keras itu telah terdapat tulisan tangan yang amat jelas. Tulisan itu berbunyi seperti berikut:

“Teecu Lu Kwan Cu telah menerima petunjuk dan selamanya teecu akan mentaati semua pelajaran yang teecu terima serta bersumpah untuk mempergunakan segala pelajaran demi kebaikan dan perikemanusiaan.”

Kurang lebih sebulan kemudian, nampak pemuda itu membawa buntalannya, menyeret sebuah perahu buatannya sendiri, menuju ke air laut yang tenang. Ia meluncurkan perahu ke air, melompat ke dalam perahu dan memegang dayung, lalu mendayung perahu itu ke tengah samudera. Tak lama kemudian, dia menghentikan gerakan tangannya yang mendayung perahu, menengok ke arah pulau itu. Semua kelihatan jelas, bahkan pohon yang tumbuh di atas makam Liyani, Malita dan Malika kini sudah tinggi. Juga batu karang yang ditulisinya itu kelihatan dari perahunya. Segala pengalaman selama tiga tahun di atas pulau itu terbayanglah. Basah kedua mata Kwan Cu dan dia cepat menyusutkan dengan ujung lengan bajunya yang sudah kumal. Kemudian dia menarik napas panjang dan mendayung perahunya lagi. Tak lama kemudian, dia memasangkan layar yang dibuatnya dari pakaiannya yang di sambung-sambung, dan meluncurlah perahu itu cepat sekali menuju ke utara, ke daratan tanah Tiongkok. Tak seorang pun di daratan Tiongkok tahu bahwa pada saat itu, seorang pemuda yang telah mewarisi kepandaian luar biasa dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, seorang pendekar yang sakti, sedang menuju ke daratan Tiongkok, dan akan terjadilah sejarah baru dalam dunia kang-ouw!

***

Sebaliknya, Kwan Cu yang kini sudah berusia dua puluhan itu sama sekali tidak tahu bahwa selama dia pergi, yakni kurang lebih empat tahun dari daratan Tiongkok, di Tiongkok telah terjadi perubahan besar sekali. Telah terjadi hal-hal yang amat hebat!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pada masa itu, Kaisar Kerajaan Tang adalah Kaisar Hian Tiong yang terkenal sebagai seorang yang amat doyan pelesir, mencari kesenangan dan hiburan bagi diri sendiri belaka, sama sekali tidak mempedulikan pemerintahannya, apalagi keadaan rakyatnya. Oleh karena itu, secara sembrono sekali kaisar ini mengangkat An Lu Shan sebagai panglima besar di utara, dan sama sekali dia tidak menaruh dugaan atau kecurigaan terhadap An Lu Shan. Bahkan sampai pada saat An Lu Shan telah membentuk pasukan yang besar dan mempunyai niat memberontak, kaisar ini masih enak-enak saja berpelesiran di istananya yang indah, dikelilingi oleh selir-selirnya yang banyak jumlahnya dan yang rata-rata amat cantik jelita dan muda-muda!

Bukan sampai di situ saja kelalaian Kaisar Hian Tiong. Bahkan ketika An Lu Shan mulai menggerakkan tentaranya ke selatan, kaisar ini masih tinggal enak-enakan saja di dalam istananya.

“Bentuk pasukan, hancurkan pemberontakan bodoh itu, apa sih sukarnya?” katanya acuh tak acuh, seakan-akan yang dihadapinya hanya persoalan kecil belaka.

Para menteri yang jujur dan setia tergopoh-gopoh menghadap kaisar untuk memperingatkan junjungan ini daripada mabuk dan mimpinya, akan tetapi kaisar tetap tinggal enak-enak, bahkan mencaci para menteri itu sebagai pengecut-pengecut besar!

Menteri Lu Pin yang dianggap menteri tertua yang paling setia dan disegani oleh kaisar, lalu didatangi oleh para menteri dengan desakan agar Menteri Lu Pin suka memberi peringatan kepada kaisar.

Menteri Lu Pin lalu menghadap kaisar dan diterima oleh Kaisar Hian Tiong dengan ucapan menyindir.

“Apakah kau yang terkenal sebagai menteri jujur, setia dan keturunan panglima gagah perkasa, juga berhati pengecut seperti mereka itu dan hendak menakut-nakuti aku?”

Merahlah wajah Lu Pin mendengar sabda kaisar ini. Ia memberi hormat dengan berlutut sambil berkata,

“Harap Sri Baginda sadar dari keadaan Sri Baginda yang tidak sewajarnya ini. Sesungguhnya para perdana menteri dan panglima itu memberi nasihat amat baik kepada Paduka. Demikianpun hamba datang menghadap ini bukan karena hamba berhati pengecut, melainkan karena hamba melihat datangnya bahaya besar yang mengancam keselamatan negara kita. Sadarlah Paduka dari mimpi, keadaan kita benar-benar terancam bahaya besar dan tentara An Lu Shan si pemberontak jahat itu telah menyerang makin jauh ke selatan.”

Marah sekali Kaisar Hian Tiong mendengar ini. Ia menggebrak meja dan menudingkan jari tangannya ke arah pintu,

“Pergi! Pergilah! Hendak kulihat sampai di mana kebisaan An Lu Shan! Mustahil kalau para barisan penjaga kita dapat dia bobolkan!”

Dengan hati terpukul, Menteri Lu Pin keluar dari ruangan itu dan menuturkan kepada para menteri lainnya atas kegagalannya dengan suara penuh kekecewaan dan kedukaan. Tidak senanglah hati para menteri itu ketika mendengar bahwa kaisar tetap saja tenggelam dalam mimpi buruk. Keadaan sudah amat berbahaya dan kalau para pemberontak sampai berhasil memasuki kota raja, tentu mereka sekeluarga sekarang takkan selamat pula.

Hal ini yang melemahkan semangat mereka. Ketika para mata-mata An Lu Shan datang menghubungi mereka, sebagian besar para menteri ini lalu menerima uluran tangan para pemberontak. Demi keselamatan seluruh keluarga dan harta benda serta kedudukan mereka, para menteri ini tidak segan-segan untuk berkhianat dan memihak pemberontak. Diam-diam mereka memberi kesanggupan kepada An Lu Shan bahwa apabila tentara pemberontak itu memasuki kota raja, mereka diam-diam akan mengadakan bantuan dari dalam agar pembobolan benteng kota raja dipermudah!

Menteri Lu Pin dapat membuka rahasia mereka ini. Dengan hati amat berang, menteri yang setia ini lalu menghadap kaisar dan membeberkan semua rahasia para menteri yang berkhianat. Marahlah kaisar dan baru kaisar sadar akan keadaan yang memang amat berbahaya. Segera dia memeritahkan pasukan pengawal untuk menangkap-nangkapi para menteri dorna itu dan menghukum penggal kepala sekeluarga mereka! Setelah melakukan hal ini, kaisar lalu menggerakkan barisan untuk mempertahankan kerajaan. Akan tetapi, hal ini benar-benar merupakan pengobatan yang amat terlambat bagi penyakit yang berat. Dengan di hukumnya para menteri, keadaan menjadi makin kalut dan lemah. Kalau saja Kaisar Hian Tiong dari dahulu sadar pada waktu para menteri itu belum memiliki hati khianat, agaknya keadaan masih dapat diharapkan akan tertolong.

Terlambatlah semua usaha kaisar ini. Barisan pemberontak An Lu Shan telah menerobos dan memasuki kota raja! Pertahanan kaisar hancur luluh!

Dalam kekacuan yang menghebat ini, Menteri Lu Pin menjadi tujuan pertama dari An Lu Shan. Tentu saja An Lu Shan telah mendengar bahwa Menteri Lu Pin yang menggagalkan rencananya menghubungi para menteri, dan bahwa Menteri Lu Pin yang membuka rahasia para menteri pengikutnya sehingga para menteri dorna itu sekeluarga di jatuhi hukuman mati oleh kaisar. Maka begitu memasuki kota raja, An Lu Shan memerintahkan semua anak buahnya untuk pertama-tama mencari Menteri Lu Pin dan membunuh serta membasmi seluruh keluarganya!

Akan tetapi, atas desakan keluarganya, Manteri Lu Pin siang-siang telah melarikan diri, mengungsi dikawal oleh pasukan panglima yang setia. Diam-diam Menteri Lu Pin mengumpulkan harta benda sepeti besar dari istana, bukan dengan niat hendak mempergunakan harta benda itu untuk dirinya sendiri, melainkan dia bercita-cita besar hendak melarikan harta benda itu agar jangan terjatuh ke dalam tangan pemberontak serta kelak dapat dia pergunakan untuk membiayai pasukan yang akan dipimpinnya untuk memukul mundur para pemberontak itu!

Kota raja diduduki, dan sungguh malang nasib keluarga Menteri Lu pin. Semua keluarga, dari yang tua sampai anak bayi, dikumpulkan dan dibakar hidup-hidup oleh An Lu Shan! Bahkan Lu Seng Hok, puteri Lu Pin atau ayah dari Lu Thong sekeluarganya juga dibasmi dalam pembersihan ini, tidak terkecuali para bujang pelayan! Hanya Lu Thong seorang yang dibawa pergi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yakni gurunya, yang tidak ikut jadi korban.

Lu Pin mendengar tentang berita ini dan di sepanjang jalan, kakek ini menangis keras, bukan semata menyedihi kebinasaan seluruh keluarganya. Kakek ini memang berjiwa patriot dan amat setia kepada pemerintah, maka sambil menangis dan dia bersembahyang dan bersumpah bahwa dia akan menuntut balas kepada pemberontak An Lu Shan! Melihat kesetiaan ini, tiga orang panglima besar yang mengawalnya bersama pasukan kecil, ikut pula menangis.

Akan tetapi, An Lu Shan ternyata bukan orang bodoh dan sebentar saja dia telah mendengar kemana larinya Menteri Lu Pin yang dibencinya itu. Segera dia mengirim pasukan besar untuk melakukan pengejaran kepada Lu Pin dan rombongannya! Tiga hari kemudian, benar saja pasukan gerak cepat ini berhasil menyusul rombongan Menteri Lu Pin.

Pertempuran hebat terjadilah. Pasukan pengawal Menteri Lu Pin melakukan perlawanan mati-matian, namun jumlah pasukan pengejar jauh lebih besar sehingga banyak di antara mereka roboh. Akhirnya hanya tiga orang panglima besar itu saja yang masih sempat menggendong Menteri Lu Pin dan membawa peti harta dan melarikan diri. Namun tentu saja para pengejar yang sudah mendengar bahwa menteri tua itu membawa sepeti harta benda yang tak ternilai harganya, melakukan pengejaran cepat sekali. Tiga orang panglima ini memiliki kepandaian tinggi, maka mereka berhasil membawa pergi Menteri Lu Pin. Namun, kalau mereka sampai tersusul, menghadapi pengeroyokan yang demikian banyaknya, mana mereka mampu mempertahankan diri?

Sehari semalam mereka telah melarikan diri, terus dikejar oleh barisan pemberontak. Akhirnya, pada esok paginya, ketika mereka tiba di daerah pegunungan yang amat liar, kuda-kuda yang ditunggangi oleh tiga orang panglima yang membawa lari Menteri Lu Pin, roboh dan tewas saking lelahnya. Padahal para pengejar sudah dekat dan suara teriakan mereka telah terdengar riuh rendah.

“Kita terpaksa melawan mati-matian!” berkata tiga orang panglima yang gagah berani itu.

Menteri Lu Pin mengalirkan air mata. “Sudah terlalu banyak orang menjadi korban karena aku seorang, padahal bukan maksudku untuk menyelamatkan badan yang sudah tua dan tidak berharga ini. Sam-wi Ciangkun (Tiga Panglima), harap Sam-wi membawa pergi harta ini dan usahakanlah agar supaya dapat dibentuk pasukan baru guna menumpas penjahat An Lu Shan dan membalaskan sakit hati kerajaan kita. Biarkan aku mereka tangkap, aku tidak takut mati.”

Namun tiga orang panglima itu menolak. “Harta benda ini tiada artinya bagi kami bertiga. Tanpa adanya Taijin yang bijaksana untuk mengatur, bagaimana dapat dibentuk pasukan besar? Tidak, Taijin, kalau sudah semestinya kita mati, biarlah kita mati bersama di tempat ini! Namun kami berjanji bahwa penjahat-penjahat itu takkan mudah begitu saja untuk merenggut nyawa kita!” Sambil berkata demikian, tiga orang panglima itu mencabut golok besar mereka dan menanti dengan penuh semangat.

Maka datanglah para pengejar itu dan mereka menyerbu bagaikan taufan mengamuk! Tiga orang panglima perang itu menjaga Menteri Lu Pin yang berdiri di tengah-tengah. Mereka merupakan benteng segitiga yang amat kuat dan para pemberontak yang terdekat, segera terjungkal mandi darah terlanggar golok mereka yang tajam dan kuat. Hebat sekali perang tanding yang tidak seimbang ini. Datangnya pemberontak seperti semut dan tak lama kemudian, tiga orang panglima itu sudah lelah sekali. Mereka mulai menerima bacokan yang mendatangkan luka, namun mereka tetap mengamuk bagaikan banteng-banteng terluka!

Pada saat yang amat berbahaya bagi Menteri Lu Pin dan tiga orang pengawalnya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan kaget dan kacau-balaulah kepungan para pemberontak. Tak lama kemudian, nampaklah tubuh para pemberontak terpental dan terlempar ke sana ke mari, seakan-akan ada seorang raksasa kuat yang menangkap-nangkapi dan melempar-lemparkan tubuh mereka.

Ketika Menteri Lu Pin memandang, dia menjadi amat terharu melihat bahwa yang mengamuk dan memaki-maki para pemberontak itu bukan lain adalah Lu Sin atau Ang-bin Sin-kai kakaknya sendiri!

“Anjing-anjing pemberontak yang busuk! Kalian berani menganggu adikku yang tercinta?” berkali-kali Ang-bin Sin-kai memaki dan setiap kali tangannya diulur, tentu dua tiga orang pemberontak ditangkapnya dan dilemparkannya sampai jauh. Adapula yang ditendang bagaikan seorang menendang bal karet saja. Tubuh para pemberontak terapung dan jatuh dengan kepala pecah atau tulang patah. Keadaan amat kacau-balau dan para pemberontak menjadi gentar dan ngeri melihat sepak terjang Ang-bin Sin-kai yang saat itu kelihatan amat menyeramkan. Kakek pengemis itu yang biasanya bermuka merah, kini menjadi makin merah mukanya, kedua matanya bersinar-sinar, rambutnya terurai dan jenggotnya melambai-lambai dalam gerakannya yang kuat dan cepat, pakaiannya robek sana-sini.

Dua orang perwira pemberontak ketika melihat kakek pengemis ini, menjadi amat penasaran. Kakek pengemis itu kurus dan tua, bertangan kosong pula, masa tidak dapat merobohkannya? Mereka melompat turun dari atas kuda dan dengan pedang di tangan, kedua orang perwira itu menyerang Ang-bin Sin-kai yang masih saja mengamuk dan melempar-lemparkan para pemberontak yang berada di hadapannya. Ketika dua pedang dari kanan kiri itu menyambar dekat, tiba-tiba dia membuat gerakan seperti seekor burung garuda hendak terbang kedua lengannya di pentang ke kanan kiri dan sungguh hebat, tahu-tahu dia telah dapat mencekik batang leher kedua perwira pemberontak itu, dan pedang mereka terpental ketika beradu dengan jari-jari tangan kakek ini. Ang-bin Sin-kai maklum bahwa untuk mengundurkan para pemberontak, dia harus menjatuhkan pimpinan mereka, maka ketika dia melihat bahwa yang terpegang oleh kedua tangannya adalah perwira-perwira pemberontak, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu membenturkan kepala mereka satu kepada yang lain!

Terdengar suara keras dan Ang-bin Sin-kai melemparkan kedua tubuh perwira pemberontak yang kepalanya sudah pecah itu ke atas sampai tinggi.

“Lihat pemimpin-pemimpinmu ini, hai anjing-anjing pemberontak! Siapa berani mati hendak mengukur tenaga dengan Ang-bin Sin-kai, boleh lekas maju!”

Suara ini dikeluarkan dengan keras dan menyeramkan. Tentu saja para pemberontak menjadi makin ketakutan ketika melihat bahwa dua orang pimpinan mereka sudah tewas. Apalagi ketika mereka mendengar nama Ang-bin Sin-kai yang sudah amat terkenal, tanpa pikir panjang lagi mereka lalu melarikan diri. Suara derap kaki kuda menjauh dan tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi, kecuali suara keluhan para anggauta pemberontak yang tergeletak di sana-sini.

Tiga orang panglima pengawal Menteri Lu Pin menjadi kagum sekali, mereka lalu memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan menjura sebagai tanda terima kasih. Namun Ang-bin Sin-kai tidak memperhatikan mereka, melainkan datang mengehampiri Menteri Lu Pin dan tersenyum pahit dan berkata,

“Inilah jadinya kalau kau membantu kaisar lalim!”

Menteri Lu Pin sejak tadi telah basah matanya, mendengar ucapan ini, dia mengedikkan kepala dan berkata keras,

“Twako, aku bukan berjuang untuk kaisar, melainkan untuk tanah air dan bangsa! An Lu Shan telah berkhianat dan merusak negara, semua bukan semata kesalahan kaisar, namun para petugas juga mempunyai bagian dalam kesalahan itu. Aku bersumpah hendak membalas dendam kepada An Lu Shan, aku sengaja pergi membawa harta benda di dalam peti ini untuk membentuk pasukan baru agar dapat mengusir penjajah khianat itu dari kota raja!”

“Adik Pin, suaramu seperti harimau ompong tak berkuku yang meraung-raung! Kau yang begini lemah bagaimana bisa mengusir An Lu Shan dengan pasukannya yang dibantu oleh orang-orang pandai?” kata Ang-bin Sin-kai.

“Kita sama lihat saja nanti!” jawab Menteri Lu Pin gagah. “Biarpun aku seorang lemah, seorang seniman bodoh, namun semangatku masih, Sin-ko. Soal orang-orang pandai, ada kau di sini, takut apakah?”

Melihat sikap adiknya, Ang-bin Sin-kai menjadi terharu sekali.

“Orang bodoh, kau kira aku tidak tahu akan semua yang terjadi? Aku amat kagum kepadamu, Adikku. Kau patut menjadi teladan semua pembesar dan pemimpin rakyat. Kau tidak tahu bahwa semenjak kau keluar dari kota raa, aku selalu mengikuti kau secara diam-diam. Aku telah mendengar pula tentang nasib keluargamu. Ah, adikku yang gagah, kau menderita demikian hebat akan tetapi masih bersemangat membela negara, sungguh aku pengemis hina-dina merasa bangga dan juga malu kepada diri sendiri.”

“Sin-ko, jangan kau berkata begitu…….” Menteri Lu Pin mencucurkan air mata saking terharunya. Ia menghampiri kakek pengemis itu dan kedua orang kakak beradik ini berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dari kedua mata Ang-bin Sin-kai berlinang dua butir air mata. Inilah adik kandungnya, menteri setia yang berjiwa patriot aseli! Dan adiknya ini padahal seorang lemah yang tidak mengerti ilmu silat! Sedangkan dia, seorang yang semenjak kecil mempelajari kepandaian silat, tidak mengacuhkan sama sekali tentang keselamatan tanah air! Pada saat berpelukan dengan Menteri Lu Pin, terbangunlah semangat dalam dada Ang-bin Sin-kai. Tak patut dia disebut seorang gagah apabila dia tidak dapat berbuat seperti adiknya ini, tidak dapat mengorbankan diri untuk rakyat dan negara. Ia tahu bahwa An Lu Shan mendapat bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Hek-i Hui-mo sendiri menjadi sekutu An Lu Shan. Siapakah akan dapat menghadapi mereka kalau tokoh-tokoh seperti dia tidak mau turun tangan?

“Adik Pin, kau betul. Harta ini harus kau simpan baik-baik dan dengan diam-diam kau dapat mengerahkan kesatuan yang kuat, atau setidaknya dengan harta ini kau dapat membantu pengerahan para pasukan rakyat gerilya. Aku tahu sebuah tempat persembunyian yang amat baik, Adikku. Pergilah ke timur, di sebelah bukit ini terdapat pegunungan dan setelah kau menyebrangi sungai kecil, kau akan melihat hutan pohon pek dan di sebelah selatan hutan itulah terdapat sebuah gua besar yang penuh dengan tulang-tulang binatang purbakala yang besar-besar. Gua itu lebar sekali, aku telah mempergunakannya sebagai tempat bertapa. Kaubawalah harta ini dan kau bersembunyilah di gua itu. Gua itu tertutup oleh serumpun pohon bunga cilan yang lebat sekali, takkan terlihat dari luar. Aku sendiri akan segera ke kota raja dan akan kuhajar An Lu Shan dan kaki tangannya. Selamat berpisah adikku!”

Bukan main girangnya hati Menteri Lu Pin mendengar ini. Memang dia amat kecewa melihat kakaknya yang sakti ini di kala terjadi perang, tidak muncul sama sekali. Memang mereka sekeluarga adalah keturunan patriot ternama, sudah selayaknya kalau kakaknya pun bersikap sebagai seorang pahlawan bangsa.

“Terima kasih, Sin-ko. Semoga perjuanganmu berhasil,” jawabnya. Dua orang kakak beradik ini kembali berpelukan, disaksikan oleh tiga orang panglima yang memandang dengan penuh penghormatan dan kekaguman. Mereka menjadi saksi dari pertemuan dua orang kakak beradik yang berjiwa gagah, namun yang keadaannya amat berlainan, seorang kakek pengemis dan seorang menteri setia, namun keduanya gagah perkasa dalam bidang masing-masing. Mereka lalu berpisah dan tiga orang panglima itu melanjutkan kawalan mereka terhadap Menteri Lu Pin, menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Ang-bin Sin-kai.

Benar saja seperti petunjuk dari Ang-bin Sin-kai, mereka mendapatkan gua besar itu yang amat lebar dan di situ penuh dengan tulang-tulang besar putih dan kuat. Selain ini juga di sebelah ruangan kecil di dalam gua itu mereka mendaparkan sebuah hiolouw (tempat hio atau tempat abu hio) yang amat besar dan kuno. Hiolouw ini biasanya dipergunakan oleh Ang-bin Sin-kai untuk membakar dupa dan akar-akar untuk mengusir hawa busuk dari dalam gua. Melihat tulang-tulang berserakan itu, Menteri Lu Pin tertarik sekali hatinya. Dia adalah seorang ahli ukir yang kenamaan dan pandai, melihat tulang-tulang ini dia merasa tertarik dan gembira. Tulang-tulang itu merupakan bahan untuk diukir yang baik sekali.

Setelah membereskan dan membersihkan tempat itu, Menteri Lu Pin lalu menyuruh tiga orang panglima pengawalnya untuk mulai menghubungi para pejuang rakyat. Mereka ditugaskan untuk memperkuat pasukan-pasukan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap pemberontak An Lu Shan. Mereka disuruh membawa sebagian daripada harta istana itu untuk membiayai dan membantu pergerakan rakyat dan sewaktu-waktu datang ke gua itu memberi laporan. Adapun Menteri Lu Pin yang hidup seorang diri di dalam gua, mendapatkan makanan dari buah-buahan yang tumbuh di sekitar tempat itu, dan di dalam waktu senggang, dia mulai membuat ukir-ukiran pada tulang-tulang besar tadi.

Menteri Lu Pin tinggal sampai bertahun-tahun di situ dan dia telah menciptakan ukir-ukiran berupa tengkorak-tengkorak manusia yang luar biasa besarnya, semuanya dibuatnya daripada tulang-tulang itu sehingga tengkorak-tengkorak atau rangka-rangka manusia raksasa itu seperti tulen, terbuat daripada tulang-tulang! Ia mengatur dan menyambung-nyambung tulang-tulang ini, didirikan di sepanjang terowongan gua, berjajar seperti barisan raksasa yang menjaga gua, namun raksasa yang sudah menjadi rangka yang amat menyeramkan! Memang, Menteri Lu Pin membuat ini bukan saja untuk menimbulkan daya khayalnya menjadi kenyataan, akan tetapi juga dengan maksud agar para penjahat yang iseng-iseng dan kebetulan masuk ke situ, akan menjadi ketakutan dan mundur kembali setelah melihat rangka-rangka raksasa yang benar-benar menyeramkan sekali itu.

Biarpun An Lu Shan telah berhasil merebut kedudukan Kaisar Hian Tiong, namun ternyata bahwa rakyat di mana-mana tidak mau terima begitu saja. Pemberontakan terjadi di mana-mana di kalangan rakyat jelata. Di sana-sini rakyat melakukan perlawanan terhadap barisan An Lu Shan sehingga An Lu Shan boleh di bilang tak dapat tidur nyenyak! Ia sudah melakukan usaha-usaha untuk menumpas perlawanan rakyat ini, akan tetapi bagaimana dia dapat memadamkan gelora dalam hati rakyat yang tidak sudi melihat dia menduduki singgasana kaisar?

Tadinya Jeng-kin-ji, Hek-i Hui-mo dan lain-lain tokoh besar membantu usaha ini menumpas perlawanan rakyat di beberapa tempat. Akan tetapi setelah beberapa tahun perlawanan rakyat bukannya mereda bahkan makin menghebat, diam-diam Jeng-kin-jiu dan yang lain-lain sadar dan terkejut. Barulah mereka tahu bahwa sebenarnya rakyat tidak suka kepada pemberontakan An Lu Shan! Apalagi ketika kaum persilatan juga membantu perlawanan dan perjuangan rakyat ini, diam-diam Jeng-kin-jiu menjadi gentar. Ia lalu berunding dengan Hek-i Hui-mo dan yang lain-lain dan berkata,

“Kalau begini, kita telah menempatkan diri ke dalam kedudukan amat berbahaya. Sebelum menghebat keadaan ini, lebih baik kalau kita mengundurkan diri dan mencuci tangan daripada kekeruhan ini.” Memang mereka merasa ngeri kalau teringat akan ucapan Ang-bin Sin-kai bahwa kelak mereka akan mati sebagai pengkhianat-pengkhianat bangsa dengan nama busuk ratusan tahun lamanya! Setelah mengadakan permufakatan, mereka lalu menghadap An Lu Shan dan menyatakan bahwa kini setelah kerajaan digulingkan, mereka hendak kembali ke tempat pertapaan masing-masing.

Tentu saja An Lu Shan menjadi amat kecewa, akan tetapi dia pun tidak berani menahan tokoh-tokoh besar ini, bahkan untuk memikat hati mereka, dia lalu memberi bekal berupa harta benda yang amat besar jumlahnya dan dengan demikian dia dapat menarik janji mereka bahwa sewaktu-waktu apabila ada kesulitan menimpa kerajaan, orang-orang pandai ini bersedia untuk membantunya.

Sepeninggal orang-orang sakti ini, An Lu Shan lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk melakukan kekerasan berlipat ganda kepada pemberontak. Mereka yang tertangkap, lalu disiksa di tempat umum agar rakyat dapat melihatnya. Keganasan dan kekejaman terjadi di mana-mana dan biarpun rakyat menjadi takut sekali, namun hal ini menumbuhkan kebencian yang amat mendalam terhadap An Lu Shan.

Pada suatu hari, di kota Thian-cin, pagi-pagi sekali keadaan di tanah lapang telah ramai sekali. Tanah lapang ini menjadi markas pasukan An Lu Shan yang melakukan “operasi” dan berpindah-pindah. Di kota mana saja mereka tiba, mereka mendirikan tenda dan mulai menangkap-nangkapi orang-orang yang mereka cap sebagai pemberontak untuk menerima hukuman yang mengerikan di tempat terbuka. Dalam hal ini, tentu terjadi hal-hal yang amat kotor, para petugas ini mendatangi orang-orang biasa, mengancam akan menangkapnya sebagai pemberontak. Apabila yang diancam ini mempunyai harta, tentu dia tidak segan-segan untuk mengeluarkan emas dan perak untuk menyogok agar dirinya selamat. Ada pula yang sengaja menangkap keluarga di mana terdapat gadisnya yang cantik sehingga dengan jalan mengancam, keluarga itu terpaksa menyerahkan gadis itu kepada pembesar setempat supaya keluarga itu bebas daripada siksa dan kebinasaan! Masih banyak lagi hal-hal kotor terjadi dan dilakukan oleh orang yang bermoral rendah., baik oleh anak buah An Lu Shan maupun oleh pembesar-pembesar setempat yang telah mempunyai hubungan baik dengan kepala-kepala pasukan yang beroperasi itu.

Penduduk Thian-cin dipaksa meninggalkan rumah untuk menonton hukuman yang akan dijalankan di tempat terbuka, di lapangan rumput dekat markas pasukan itu. Hal itu di sebut sebagai hari istimewa karena menurut pengumuman kepala pasukan, yang akan menjalani hukuman adalah pemimpin-pemimpin gerombolan yang tertawan, yang jumlahnya ada sepuluh orang. Penduduk berbondong datang ke tempat itu, bukan karena memang suka melihat orang tersiksa, melainkan dipaksa oleh anggauta-anggauta pasukan supaya datang menonton, dan juga karena ingin tahu siapakah gerangan sepuluh orang yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin pejuang rakyat itu.

Di tengah-tengah lapangan itu, sepuluh orang laki-laki diikat kepada tiang-tiang dan mereka ini benar-benar tidak patut di sebut pemimpin-pemimpin pejuang karena pakaian mereka seperti orang-orang sastrawan, dan mereka kelihatan lemah. Wajah mereka pucat-pucat dan mereka tergantung kepada tiang dengan kepala menunduk.

Di belakang tiang itu, berjajar barisan yang berpakaian seragam bersikap garang, sedangkan para penonton berdiri berjejal di tempat yang agak jauh, menghadapi sepuluh orang itu. Kemudian datanglah sepuluh orang prajurit yang membawa cambuk panjang. Mereka ini rata-rata bertubuh tinggi besar dan nampak kuat sekali. Sambil memutar-mutar cambuk mereka menyeringai dan masing-masing menghampiri korbannya, siap menanti komando dari pemimpin mereka.

Seorang perwira pasukan maju ke depan, menghadapi para penonton dan berkata keras-keras.

“Lihatlah, begini nasib para pengacau! Pukul mereka ini masing-masing lima puluh kali!” teriaknya dan mulailah menghitung, “Satu…..!”

Sepuluh orang algojo itu mengayun cambuk.

“Tar…..!” Hampir berbareng sepuluh batang cambuk itu jatuh di tubuh sepuluh orang tawanan. Jerit mengerikan terdengar dan baju mereka robek-robek. Darah mengalir dari kulit di mana cambuk itu menyabet. Wajah para penonton menegang. Mana mungkin sepuluh orang ini di sebut pemimpin-pemimpin gerombolan? Mereka begitu lemah. Sebenarnya, mereka ini sastrawan-sastrawan yang memiliki hati anti kepada An Lu Shan. Perasaan mereka itu terdengar oleh mata-mata dan mereka ditangkap. Juga ada sebagian di antara mereka yang tidak punya uang untuk memberi sogokan sehingga mereka menjadi korban fitnah belaka.

“Dua……!” Komandan itu memberi aba-aba.

Akan tetapi sebelum sepuluh orang algojo itu menjatuhkan cambuk untuk kedua kalinya, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan berteriaklah sepuluh orang algojo itu dengan terkejut karena tahu-tahu cambuk mereka terlepas dari tangan!

Mereka cepat memandang dan seorang pemuda tampan yang berpakaian sederhana telah berdiri di situ, di kedua tangannya kelihatan sepuluh batang cambuk itu. Wajah pemuda yang tampan sekali ini kelihatan berkerut ketika dia berkata,

“Jangan pukul mereka yang tidak berdosa! Lepaskan mereka ini.”

Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban, pemuda ini kembali menggerakkan tubuhnya dan dalam sekejap mata saja sepuluh orang tawanan itu telah terlepas dari ikatan tangan mereka! Semua orang menjadi melongo karena pemuda itu hanya berlari dari tiang ke tiang, tidak kelihatan dia melepaskan tali, akan tetapi ternyata ikatan tangan orang-orang itu telah putus semua!

Para prajurit menjadi gempar. Beberapa orang perwira datang menghampiri pemuda itu dengan golok terhunus.

“Kau siapakah berani mati mengacau disini? Apa kehendakmu?” Biarpun bersikap galak, namun para perwira ini tidak berani sembarangan turun tangan karena mereka telah menyaksikan sendiri kelihaian pemuda aneh ini.

“Aku datang untuk mewakili orang-orang itu, kasihan mereka yang bertubuh lemah, tentu takkan kuat menerima lima puluh kali cambukan. Kalau memang kalian haus akan hiburan menyiksa orang, biarlah aku yang mewakili hukuman mereka. Ikatlah aku dan cambuklah sesukamu, agar hatimu yang buas akan puas.”

Para perwira itu saling pandang dengan mata terbelalak. Tadinya mereka mengira bahwa pemuda ini tentulah dari barisan rakyat yang memberontak, tidak tahunya pemuda ini adalah seorang yang tidak waras otaknya.

“Kau betul-betul hendak mewakili mereka menerima hukuman cambuk? Mereka ada sepuluh orang, masing-masing menerima lima puluh cambukan, apakah kau bersedia menerima lima ratus kali cambukan?” tanya seorang perwira.

Pemuda itu menoleh ke arah penonton dan pandang matanya bertemu dengan pandangan mata seorang berpakaian sastrawan yang pakaiannya sudah banyak tambalan namun matanya mengandung pengaruh luar biasa sekali. Sastrawan tua itu mengangguk- anggukkan kepalanya kepada pemuda itu dan berubah giranglah wajah pemuda yang tadinya amat keruh dan muram.

“Boleh, boleh, sesukamulah!” katanya kepada para perwira itu dengan wajah berseri, akan tetapi kembali wajahnya muram dan berduka ketika dia menyambung kata-katanya, “Aku memang sudah patut menerima hukuman lima puluh kali cambukan atas dosa-dosaku!”

“Lima ratus kali, bukan lima puluh kali!” bentak komandan itu.

“Sesukamulah, mau lima ratus atau seribu kali. Akan tetapi yang patut kuterima sebagai hukumanku adalah lima puluh kali!” jawab pemuda itu yang menghampiri sebuah di antara tiang-tiang dan memeluk tiang di belakang tubuhnya.

Komandan itu menjadi cemas dan geli. Tak perlu bersitegang dengan seorang gila pikirnya. Lebih baik dia memperlihatkan kepada rakyat yang menonton bahwa dia adalah seorang yang “bijaksana” dan yang berlaku adil.

“Rakyat semua!” serunya memandang kepada penonton. “Orang muda ini dengan sesuka sendiri mewakili hukuman yang hendak dijatuhkan kepada sepuluh orang ini. Kami berlaku adil dan menerima permintaannya. Hai, kalian sepuluh orang yang bernasib baik, kalian kami bebaskan, akan tetapi sebagai gantinya, kalian harus membayar denda setiap orang lima puluh tail perak. Kami beri waktu tiga hari lamanya!”

Sepuluh orang itu saling pandang seperti tidak percaya akan pendengaran sendiri. Tadinya mereka sudah mengira bahwa mereka pasti akan mati di tiang siksaan itu. Dengan mata penuh terima kasih akan tetapi juga belas kasihan karena mengira pemuda ini berotak miring, mereka memandang kepada pemuda ini.

“Saudara yang baik, sudah yakinkah kau akan menolong kami sepuluh orang? Cambukan lima ratus kali akan merenggut nyawamu.” Kata seorang di antara bekas tawanan itu.

Namun pemuda ini menggerakkan tangan menyuruh mereka pergi sambil berkata,

“Pergilah, pergilah! Untuk apa mengganggu aku yang mau menjalani hukumanku?”

Sepuluh orang itu lalu minggir dan berdiri di antara para penonton akan tetapi tentu saja mereka tidak mau pergi sebelum menonton apa yang akan terjadi atas diri pemuda yang aneh itu.

“Hayo, pukul aku!” teriak pemuda ini.

Komandan menunjuk seorang algojo yang paling kuat tubuhnya dan memberi tanda supaya menjalankan hukuman cambuk itu. Algojo ini segera menghampiri pemuda yang amat aneh itu dan wajahnya menyeringai gembira. Sekali ini dia menghadapi pengalaman yang aneh. Ia sudah merasa bosan menyiksa orang-orang yang lemah dan yang jatuh pingsan dengan tiga kali cambukan saja. Akan tetapi, pemuda ini, yang berotak miring dan yang dengan secara aneh sekali dapat merampas cambuknya tadi, benar-benar merupakan seorang hukuman yang luar biasa. Pemuda ini dengan gerakan yang tidak dapat dilihat, telah dapat merampas cambuk sepuluh orang algojo dan cambuk-cambuk itu lalu dilemparkan ke tanah dengan sikap acuh tak acuh. Ketika para algojo mengambil cambuk masing-masing dari tanah, ternyata bahwa gagang cambuk yang terbuat daripada kayu telah hancur sama sekali, tinggal cambuknya saja!

Tentu saja hal itu membuat semua orang merasa khawatir dan gentar, akan tetapi setelah sekarang pemuda itu dengan suka rela mau menerima hukuman, benar-benar merupakan hal yang amat luar biasa dan menggembirakan.

Dengan lagak gagah algojo yang terpilih untuk menjalankan hukuman itu mengangkat cambuk tak bergagang itu tinggi-tinggi di atas kepala, mengayun-ayunkannya beberapa kali kemudian dengan sekuat tenaga dia menimpakan ujung cambuk ke arah dada pemuda yang kini kedua tangannya telah diikatkan pada tiang oleh seorang algojo lain.

“Tar…..!” Semua penonton menahan napas, mengharapkan sesuatu yang aneh. Mereka itu semua mengharapkan cambuk itu akan putus atau stidak-tidaknya, cambukan itu takkan terasa oleh pemuda aneh yang seperti gila lakunya ini. Akan tetapi, semua orang menahan napas dan merasa amat kecewa. Baju pemuda itu robek dan cambuk itu meninggalkan tanda merah pada kulitnya. Pemuda itu mengrutkan kening dan nampaknya berduka sekali, akan tetapi harus diakui bahwa dia agaknya sama sekali tidak merasakan perihnya bekas cambuk. Bahkan dia meramkan kedua matanya, menahan jatuhnya air mata dan bibirnya bergerak-gerak seperti berdoa. Cambuk itu menari-nari di atas tubuhnya, mengenai mukanya yang tampan, pakaiannya mulai robek di sana-sini. Di antara hujan cambukan, terdengar pemuda itu berkata perlahan sambil, meramkan kedua matanya.

“Suhu, semoga Suhu puas melihat hukuman yang teecu terima dengan segala kerelaan hati. Biarlah Suhu menganggap ini sebagai hukuman teecu yang meninggalkan Suhu sehingga Suhu teraniaya oleh orang-orang jahat…..”

Tak seorangpun di antara para penonton maupun para prajurit An Lu Shan mengerti apa maksud kata-kata itu. Hanya seorang saja yang mengerti, yakni sastrawan tua yang pakaiannya tambal-tambalan itu. Sastrawan ini memandang tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata perlahan,

“Dia benar-benar menerima hukuman dengan suka rela. Ah…… orang inilah harapan rakyat…..! Benar-benar dia agaknya yang mewarisi isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Memang benar, pemuda yang seperti gila dan bersikap aneh, yang sekarang seperti gila dan bersikap aneh, yang sekarang menerima cambukan dengan mata meram dan tiada sakit sedikit pun keluhan keluar dari bibirnya, bukan lain adalah Lu Kwan Cu! Siapakah sastrawan berbaju tambal-tambalan itu yang berdiri di antara para penonton dan yang agaknya mengerti akan sikap aneh dari Kwan Cu? Dia ini bukan lain adalah pujangga besar, pecinta rakyat jelata, pujangga yang namanya tetap harum sampai ribuan tahun lamanya, yakni Tu Fu! Untuk mengetahui bagaimana Kwan Cu bisa dapat berada di tempat itu dan bagaimana pula pujangga Tu Fu dapat menonton pelaksanaan hukuman itu, marilah kita mundur dulu beberapa hari yang lalu.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lu Kwan Cu meninggalkan pulau berpohon putih dan dengan perahu buatannya sendiri, dia menuju ke barat, ke daratan Tiongkok. Ia teringat akan pesan suhunya Ang-bin Sin-kai, bahwa suhunya itu hendak bertapa di pantai Laut Po-hai. Maka dia menujukan perahunya ke pantai ini. Kesukaran-kesukaran di dalam pelayaran itu dapat di tempuh dengan amat mudah, karena sekarang dia bukanlah Kwan Cu pada empat tahun yang lalu. Kepandaiannya telah meningkat puluhan kali, bahkan ratusan kali tanpa dia sadari dan dia kini benar-benar telah menjadi seorang yang sakti.

Setelah mendarat di pantai Laut Po-hai, dia mencari-cari gurunya, akan tetapi hasilnya nihil. Kemudian dia bertemu dengan para nelayan di dekat pantai, dan dari mereka inilah dia mendengar tentang pemberontakan An Lu Shan dan tentang perubahan hebat yang telah terjadi selama empat tahun itu.

Kwan Cu mendengarkan semua itu tanpa perhatian. Ia tidak tertarik sama sekali tentang semua kejadian itu, karena memang pemuda ini setelah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, pandangannya telah luas sekali, tidak sempit dan tidak mudah di kuasai oleh nafsu dan pertimbangan otak sendiri. Ia telah terbuka mata hatinya tentang kekuasaan Thian, dan dia percaya sepenuhnya bahwa peristiwa di dunia ini, sesungguhnya dilakukan oleh manusia, namun keputusan terakhir di tangan Thian. Oleh karena ini, betapapun janggal terdengarnya oleh orang lain, Kwan Cu percaya pula bahwa berhasilnya pasukan pemberontak An Lu Shan juga merupakan penentuan dari Yang Maha Kuasa!

Hanya satu hal yang terpikir olehnya di saat dia mendengar itu, bahwa suhunya tentu pergi ke kota raja. Suhunya adalah kakak dari Menteri Lu Pin yang menjadi kakek angkatnya pula, pada peristiwa pengoperan kekuasaan itu tentu setidaknya mendatangkan akibat kepada Menteri Lu Pin. Mustahil kalau Ang-bin Sin-kai diam saja dan tidak menengok keadaan kota raja.

“Pasti Suhu berada di kota raja dan tidak aneh kalau aku mendapatkan dia di dapur isatana, siapapun juga kaisarnya yang menempati istana itu,” pikir Kwan Cu dengan geli mengenangkan kesukaan gurunya menyikat habis hidangan kaisar di dalam istana.

Maka berangkatlah Kwan Cu langsung menuju ke kota raja. Di dalam perjalanan, dia mendengar pula tentang usaha rakyat menentang pemerintah An Lu Shan dan melihat betapa keadaan memang benar-benar berubah tidak mempengaruhi ketenangan batinnya. Ia melakukan perjalanan cepat tanpa menarik perhatian orang lain. Bagi orang lain, dia hanya seorang pemuda tampan sederhana yang berpakaian buruk, menggendong sebuah buntalan dan di samping pakaian butut itu, suling pemberian Hang-houw-sian Yok-ong adalah harta satu-satunya.

Beberapa kali dia bertemu dengan rombongan pengusngsi yang menuju ke selatan, menjauhi pasukan-pasukan An Lu Shan yang terkenal buas dan kejam. Terutama sekali mereka yang memiliki anak-anak gadis, banyak yang mengungsi ke selatan, sejauh mungkin.

Ketika dia telah tiba di dekat kota Thian-cin, dia melihat pula serombongan pengungsi terdiri dari para petani yang kehilangan tanah dan kehilangan pekerjaan. Berbondong-bondong mereka berjalan kaki menuju ke selatan, mencari hidup baru. Mereka berjalan dengan kaki lemas karena memang telah melakukan perjalanan jauh, dan wajah mereka semua nampak muram.

Ketika Kwan Cu bertemu dengan rombongan ini, tiba-tiba di antara para pengungsi, terdengar seorang tua bernyanyi dengan suara yang lantang:

“Seekor babi gemuk memimpin negara

mana negara bisa kuat dan rakyat bisa bahagia?

Akan tetapi srigala utara lebih jahat lagi.

Tak saja rakyat diabaikan, bahkan dicekik mati.

Negara kacau, selalu timbul pengkhianatan bangsa.

Penasaran……! Penasaran…….!

Sayang sekali dua saydara Lu menjadi korban.

Menteri setia ditumpas habis sekeluarga,

pendekar gagah korbankan nyawa dengan sia-sia.

Penasaran…..! Penasaran…….!

Berkali-kali orang itu mengucapkan nyanyian ini sampai seorang di antara para pengungsi menegurnya,

“Tu-siucai, harap kau diam jangan bernyanyi seperti itu. Apakah kau ingin kita semua di tangkap dan dihukum mati?”

Mendengar teguran ini, si penyanyi tidak menjawab, hanya berkata seorang diri dengan suara keras,

“Didalam dunia memang banyak orang yang berhati pengecut dan penakut. Bagaimana kehormatan bangsa bisa dapat dipertahankan? Aku pergi mengungsi bukan karena takut kepada pemberontak An, melainkan karena tidak kuat melihat keadaan lebih lama lagi, muak perutku dan ingin muntah saja mulutku.”

Orang yang menegurnya tadi hendak menegur lagi dengan muka merah, akan tetapi tiba-tiba dia berseru kaget dan memandang dengan mata terbelalak lebar. Ternyata bahwa si penyanyi yang ditegurnya tadi, tanpa di lihat bagaimana terjadinya tahu-tahu telah lengap dari tengah-tengah rombongan itu. Tidak saja si penegur itu yang menjadi kaget, bahkan orang-orang lain juga menjadi bengong seperti melihat setan di tengah hari.

“Di mana dia? Kemana perginya Tu-siucai?” terdengar suara susul menyusul.

“Dia menghilang begitu saja!” Ramailah rombongan itu akan tetapi karena mereka khawatir akan pengejaran pasukan An Lu Shan, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan itu sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa yang aneh itu.

Apakah betul penyanyi tadi dapat menghilang? Sebenarnya penyanyi itu adalah pujangga Tu Fu, seorang sastrawan yang berbatin kuat berpikiran tajam dan berbakat luar biasa, namun bertubuh lemah. Mana bisa dia menghilang begitu saja. Ketika dia bicara dengan penegurnya tadi, tahu-tahu berkelebat bayangan yang hampir tak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tahu-tahu Tu Fu merasa tubuhnya dibawa melompat cepat sekali melewati kepala orang-orang dalam rombongan pengungsi itu! Sastrawan ini terpaksa meramkan mata karena angin meniup keras ke arah mukanya. Ketika dia membuka mata, ternyata dia telah berdiri di dalam hutan, jauh dari rombongan pengungsi yang tidak kelihatan lagi. Di hadapannya berdiri seorang pemuda sederhana yang menjura sambil berkata,

“Siauwte mohon maaf sebanyaknya kepada Tu-siucai yang terhormat karena siauwte telah berani berlaku lancang membawa Siucai ke sini.”

Tu Fu biarpun seorang sastrawan namun pengalamannya sudah banyak dan luas sekali, bahkan dia mengenal semua tokoh-tokoh kang-ouw yang paling terkenal. Kini dia menghadapi Kwan Cu dengan senyum di bibir dan matanya memandang kagum.

“Seorang muda yang gagah perkasa dan lihai sekali. Siapakah namamu dan murid siapakah kau?”

“Siauwte seorang tak berarti, Bu-pun-su (Tiada Kepandaian), dan tidak ada sesuatu yang berharga untuk diceritakan. Akan tetapi, dua saudara Lu yang Siucai nyanyikan tadi, amat menarik hati siauwte. Bolehkah siauwte mengetahui siapakah adanya mereka itu? Apakah mereka itu Lu Sin dan Lu Pin?”

Tu Fu tertawa. “Orang muda yang aneh, kau lebih aneh daripada Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Baiklah, Bu-pun-su (Tiada Kepandaian), aku akan menyebutmu Bu-pun-su saja, sebutan yang merupakan pujian tertinggi sungguh pun aku masih belum tahu apakah kau patut mendapat sebutan itu. Memang benar, yang kunyanyikan tadi adalah menteri setia Lu Pin dan pendekar perkasa Ang-bin Sin-kai Lu Sin.”

“Apakah yang terjadi dengan mereka?” Kwan Cu bertanya dan biarpun dia telah menekan goncangan hatinya, namun dia tetap saja berdebar-debar. Di dalam dunia ini, manusia yang dipandang dan yang selalu dikenangnya hanya Ang-bin Sin-kai seorang, maka sesuatu yang terjadi kepada kakek sakti ini tentu saja menggerakkan hatinya.

Orang-orang yang memiliki kepandaian istimewa, hampir selalu mempunyai tabiat aneh. Demikian pula sastrawan Tu Fu. Biarpun dia tidak mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi, namun ketabahan hati dan keangkuhannya tidak kalah oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang manapun juga. Kekerasan hati dan keteguhan semangatnya laksana baja yang tak dapat dibengkokkan. Ketika dia mendengar pertanyaan Kwan Cu yang terdengar seperti tuntutan, dia mengedikkan kepalanya dan memandang tajam sambil berkata,

“Orang muda, ada hubungan apa antara kau dan Ang-bin Sin-kai? Ada hubungan apa pula antara kau dengan keluaraga Lu?”

“Sudah siauwte katakan bahwa siauwte seorang tidak berharga, tak perlu dibicarakan tentang diri siauwte.”

“Hm, anak sombong. Jangan coba merendahkan diri di depan air! Kauceritakan apa hubunganmu dengan Ang-bin Sin-kai, kalau tidak jangan harap mendengar sesuatu tentang dia dari mulutku!”

Kwan Cu menghela napas kewalahan. Ia maklun bahwa dia menghadapi seorang yang berwatak keras dan bersemangat baja, maka dia mengalah dan berkata,

“Ang-bin Sin-kai adalah guruku.”

Mendengar ini sastrawan Tu Fu mencak-mencak, membanting-banting kaki dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Kwan CU,

“Bu-pun-su, murid macam apa engkau ini? Sudah bertahun-tahun Ang-bin Sin-kai tewas dalam penasaran dan sekarang tiba-tiba kau muncul menanyakan apa yang terjadi dengan dia? Apa gunanya air bagi tetumbuhan yang mati mengering dan apa gunanya obat bagi si sakit yang sudah tak bernapas lagi? Guru dalam bahaya dan berjuang mati-matian mempertahankan nama baik negara dan bangsa kau bersembunyi tidak memperlihatkan diri. Sekarang guru sudah tewas di tangan orang jahat, kau pura-pura muncul dan tanya-tanya apa yang telah terjadi dengan gurumu? Kau sudah sepantasnya mendapat hukuman! Kalau aku menjadi gurumu, kau kuhukum lima puluh kali cambukan pada tubuhmu!”

Kwan Cu menjura lagi. “Siucai yang terhormat, sudilah kiranya menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi dengan guruku Ang-bin Sin-kai yang tercinta.”

“Ang-bin Sin-kai adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan berjiwa besar, tidak seperti engkau yang katanya menjadi muridnya. Melihat tokoh-tokoh kang-ouw membela pemberontak An Lu Shan, dia menjadi penasaran dan menyerbu kota raja. Akan tetapi dia tidak kuat menghadapi tokoh-tokoh besar seperti Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo dan lain-lain karena dikeroyok. Suhumu benar-benar seorang patriot sejati, seorang pahlawan gagah perkasa.”

Bukan main sedihnya hati Kwan Cu mendengar akan nasib suhunya itu. Tak terasa pula dua titik air mata meloncat keluar dari sepasang matanya. Ia terharu sekali akan nasib gurunya yang amat dia cinta, setua itu masih terlibat urusan dunia dan terpaksa mengorbankan nyawa untuk nama dan kehormatan negara. Hatinya mulai diliputi rasa sakit hati dan dendam terhadap para pembunuh suhunya, akan tetapi kesadarannya timbul ketika dia teringat bahwa kesemuanya itu adalah kehendak Thian yang tak dapat di cegah lagi. Hatinya menjadi dingin lagi dan dia berkata perlahan,

“Mengapa Suhu begitu lemah menurutkan nafsu hati? Apakah Suhu tidak tahu bahwa semua itu sudah menjadi kehendak alam yang berkuasa?”

Mendengar ini, kembali Tu Fu mencak-mencak dan membanting-banting kaki.

“Wahai semua mahluk yang kebetulan berada di dekat tempat ini. Dengarlah kalian kata-kata seorang pemuda hijau yang berlagak menjadi ahli filsafat besar! Seorang pemuda masih berbau minyak dan param berani mencela gurunya, Ang-bin Sin-kai yang kuhormati?”

Merah muka Kwan Cu mendengar ini. Ia menjawab perlahan karena entah mengapa, dia merasa segan dan tunduk menghadapi orang tua ini yang mempunyai pengaruh luar biasa.

“Siucai yang baik, siauwte mana berani mencela guru? Siauwte hanya menyatakan dengan sebenarnya bahwa memang kesemuanya adalah kehendak Thian Yang Maha Kuasa. Apakah daya manusia menghadapi kehendak dan keputusan Thian? Kita hanya bisa menerima, mengapa suhu tidak melihat kenyataan ini?”

Tu Fu makin marah-marah. “Inilah namanya memanggang daging dengan api bernyala, matang dan gosong luarnya, sedangkan di sebelah dalamnya masih mentah! Demikian pula hasilnya kalau orang memberi pelajaran terlalu dalam kepada seorang pemuda yang masih hijau dan goblok! Akibatnya menjadi seorang pemuda berlagak ahli filsafat padahal masih mentah! Pengetahuan mendalam tanpa pengalaman matang seperti mangkok berkembang tanpa isi. Apa gunanya? Hanya untuk pameran belaka! Bu-pun-su, kau bermimpi dalam sadar. Jalan Tuhan memang luar biasa dan tak dapat di mengerti oleh manusia dan memang sudah menjadi kewajiban manusia untuk menyerahkan seluruh hasil dan keputusan kepada Thian dengan penuh iman dan kepercayaan. Akan tetapi jangan kau lupa bahwa manusia juga berhak untuk berikhtiar, untuk berusaha demi kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Penyerahan secara membuta tanpa disertai ikhtiar, itu bahkan berarti penghinaan namanya! Kau dilahirkan bertanah air, berbangsa, bukankah itu kehendak Thian pula? Kalau kau tidak dapat membela tanah air dan bangsa, membiarkan tanah air dan bangsa dihina dan diinjak-injak oleh kaki orang lain, patutkah kau disebut seorang anak bangsa? Hm, kau memang pantas dicambuk lima puluh kali!” Tu Fu marah-marah dan masih banyak kata-kata pedas dilontarkan kepada pemuda itu.

Kwan Cu tertegun. Semua kata-kata yang dikeluarkan dari mulut sastrawan tua ini merupakan hal baru baginya, menancap di ulu hatinya dan terasa betul-betul olehnya. Ia terlalu diayun oleh lamunan Nabi Lo Cu yang memang sukar ditangkap artinya.

“Siucai yang bijaksana, siapakah sebenarnya kau yang kenal baik kepada suhuku dan yang dapat mengeluarkan buah pemikiran sedemikian baiknya?”

“Bu-pun-su murid murtad, belum pernahkah gurumu menyebut nama Tu Fu si sastrawan miskin?”

Kwan Cu terkejut sekali mendengar nama ini. Tentu saja dia sudah pernah mendengar nama ini, bukan satu dua kali bahkan telah berkali-kali, karena dahulu, gurunya yang pertama, yakni Gui-siucai, berkali-kali menyebut nama Tu Fu ini dengan penuh kekaguman. Gui Tin menyebut nama Tu Fu sebagai pujangga dan sastrawan yang paling besar di samping sastrawan Li Po, seorang sastrawan patriot yang berjiwa besar. Tidak itu saja, bahkan gurunya, Ang-bin Sin-kai sering menyatakan kekagumannya kepada Tu Fu. Kini melihat sendiri orangnya dan mendengar ucapannya yang amat berkenan di dalam hatinya, sekaligus tunduklah hati Kwan Cu. Ia merasa berhadapan dengan seorang yang setingkat dengan gurunya bahkan melebihi gurunya dalam hal ilmu filsafat dan kebatinan. Maka serta merta dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tu Fu. Dengan amat terharu dia berkata,

“Locianpwe, teecu telah berlaku kurang hormat mohon maaf sebanyaknya. Sekarang teecu melihat betapa besar dosa teecu terhadap suhu Ang-bin Sin-kai, oleh karena itu mohon petunjuk dari Locianpwe bagaimana selanjutnya teecu berlaku, karena sesungguhnya teecu tidak tahu harus berlaku bagaimana.”

“Pertama-tama kau harus di hukum lima puluh kali cambukan,” kata Tu Fu dengan wajah sungguh-sungguh. “Orang muda seperti engkau ini mudah terharu, mudah berduka dan mudah gembira. Siapa bisa percaya bahwa kau benar-benar sadar bahwa tindakan suhumu itu baik dan sempurna? Di kota ini Thian-cin, tak jauh dari sini , orang-orang baik-baik dan tidak berdosa sedang ditangkapi dan dihukum cambuk. Kalau kau bisa mencegah perlakuan sewenang-wenang itu dan mewakili mereka kau akan dapat melanjutkan usaha suhumu membasmi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang amat berbahaya bagi keselamatan negara dan bangsa.”

Mendengar ini, bangkit semangat Kwan Cu. “Mari, Locianpwe, akan teecu perlihatkan bahwa kepercayaan Locianpwe terhadap murid Ang-bin Sin-kai takkan sia-sia belaka.” Tanpa menanti jawaban Kwan Cu menyambar tubuh sastrawan itu dan dibawanya lari cepat sekali ke kota Thian-cin di mana sedang berlangsung penghukuman cambuk atas diri sepuluh orang sastrawan yang didakwa menjadi pemimpin para gerombolan pengacau yang sesungguhnya adalah pejuang-pejuang rakyat. Kwan Cu menrunkan tu Fu di antara para penonton sedangkan dia sendiri sebagaimana telah dituturkan di bagian depan turun tangan merampas cambuk, mencegah di lanjutkannya hukuman itu dan dengan suka rela dia menerima cambukan-cambukan sebagai hukuman kepada dirinya yang membiarkan gurunya tewas di tangan orang-orang jahat.

Demikianlah sebabnya mengapa Kwan Cu dapat datang di Thian-cin bersama sastrawan Tu Fu dalam saat yang amat tepat sehingga dia dapat menolong sepuluh orang hukuman itu dan sebaliknya dengan suka rela dia menerima cambukan-cambukan dari algojo yang tidak mengenal kasihan.

Biarpun para penonton merasa amat ngeri menyaksikan pemuda yang dianggapnya setengah gila dicambuki, namun diam-diam mereka merasa heran sekali, mengapa pemuda ini meramkan mata dan sama sekali tidak pernah mengaduh, biarpun pakaiannya robek-robek dan tubuhnya serta mukanya penuh dengan gurat-gurat merah bekas cambuk.

Suara cambuk mereka memecah di udara lalu disusul menjepretnya ujung cambuk memecah pakaian Kwan Cu dan menimpa kulit dadanya, susul-menyusul sampai puluhan kali. Tiba-tiba di antara para penonton terdengar suara,

“Cukup, Bu-pun-su sudah lima puluh kali kau menerima hukuman!” Inilah suara dari sastrawan besar Tu Fu yang menghitung jumlah cambukan itu sampai lima puluh kali. Pujangga ini benar-benar merasa kagum terhadap Kwan Cu yang demikian jujur dan setia kepada sumpahnya. Juga dia merasa kagum akan kesadaran pemuda itu yang merasa berdosa terhadap Ang-bin Sin-kai dan untuk kedosaannya menebus dengan lima puluh kali cambukan, padahal kalau dipikir benar-benar, pemuda itu tidak berdosa apa-apa, karena ketika gurunya ditewaskan orang, dia benar-benar tidak tahu.

Baru saja ucapan ini dikeluarkan oleh Tu Fu, tiba-tiba algojo yang mencambuk tubuh Kwan Cu itu menjerit keras dan cambuknya terlepas dari pegangan karena telapak tangannya berdarah! Ternyata bahwa ketika cambukan yang ke lima puluh satunya tiba, Kwan Cu mengerahkan tenaga sedemikian rupa sehingga tenaga cambukan itu membalik dan melukai telapak tangan si pemegang cambuk sendiri. Demikianlah lihainya Kwan Cu yang sudah dapat menyalurkan tenaga itu sehingga membalik melukai pecut. Getaran tenaga yang membalik itu membuat telapak tangan algojo terobek kulitnya sehingga dia melepaskan cambuk, mengaduh-aduh sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah!

Komandan pasukan mengira bahwa algojo itu saking lelahnya merasa sakit tangannya. Ia sudah amat mendongkol melihat pemuda itu dicambuk lima puluh kali masih belum apa-apa, maka segera dia memberi aba-aba kepada sembilan orang algojo yang lain untuk turun tangan.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: