Pendekar Sakti (Jilid ke-24)

Bukan main panasnya hati Kwan Cu mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkannya itu.

“Banyak anjing-anjing penjilat yang akan melonjorkan kaki depan melihat orang melemparkan tulang kepadanya, akan tetapi aku tidak termasuk golongan ini, Lu Thong. Sudahlah, aku tidak ada waktu banyak untuk melayani obrolanmu.” Setelah berkata demikian Kwan Cu hendak pergi meninggalkan taman bunga itu, akan tetapi tiba-tiba tiga orang pengemis sakti itu menghadang dengan pedang di tangan.

“Kalian mau apa?” bentak Kwan Cu.

Lu Thong memberi isyarat dengan tangan dan seorang di antara tiga pengemis tua itu menjawab, “Hendak mencoba kepandaian seorang manusia sombong seperti engkau!” Ucapan ini di tutup oleh berkelebatnya tiga batang pedang yang menyambar laksana kilat.tidak percuma mereka mendapat julukan Pedang Kilat, karena gerakan pedang mereka benar-benar amat cepat sehingga pedang itu lenyap tidak kelihatan dan nampak hanya sinarnya saja yang berkilauan seperti kilat menyambar.

Ini kalau dilihat oleh mata orang lain, namun bagi mata Kwan Cu gerakkan itu tidak seberapa hebat. Bahkan dengan kepandaiannya yang luar biasa, yakni penglihatan dan pengertian tenatng pokok dasar segala pergerakan orang dalam bersilat, dia telah lebih dulu dapat menduga kemana tiga batang pedang itu hendak menyerangnya! Oleh karena itu, dia melakukan gerakan cepat sekali dan mendahului mereka. Ia maklum bahwa serangan mereka itu akan disusul oleh gerakan lain. Hal ini dapat dia lihat dari pergerakan pundak dan pandangan mata mereka, maka sebelum tiga orang itu sempat melanjutkan serangannya setelah Kwan Cu mengelak cepat, pemuda ini sudah dapat mendahului mereka dengan ketokan-ketokan telapak tangan yang dimiringkan ke arah pangkal lengan.

“Plak! Plak! Plak!” tiga kali jari-jari tangannya yang dibuka itu menyentuh pangkal lengan kanan lawan dan terdengarlah jeritan susul-menyusul, kemudian tiga batang pedang terlempar ke atas, ketiga orang Pengemis Sakti Berpedang Kilat itu mengaduh-aduh sambil memegangi pangkal lengan kanan dengan tangan kirinya. Adapun pedang yang tadi mereka pegang, tentu saja terpental jauh karena tangan mereka tiba-tiba menjadi kaku dengan jari-jari terbuka, seakan-akan terkena aliran listrik yang maha kuat!

Untuk sesaat Lu Thong tertegun melihat hal yang tak diduga-duganya ini, akan tetapi di lain saat dia telah melompat dengan senjatanya di tangan. Seperti main sulap saja melihat dia tiba-tiba memegang sebatang toya yang panjangnya ada lima kaki dan kedua ujung toya itu berkilauan karena memang ujungnya terbuat daripada emas. Bagaimana tiba-tiba saja pemuda ini bisa memegang sebatang toya panjang yang tadinya tidak kelihatan dia bawa? Ternyata bahwa toya itu dibuat istimewa, bersambung-sambung dan dapat di tekuk-tekuk sehingga dapat di gulungkan di pinggang, tertutup oleh baju luar.

“Kwan Cu, ternyata selama kau tidak muncul, kau telah memiliki kepandaian yang lumayan. Hendak kulihat apakah kau cukup kuat menahan seranganku!!”bentak Lu Thong sambil mengayun toyanya.

Kwan Cu dapat merasai angin sambaran toya ini dan teringatlah dia akan Jeng-kin-jiu, tokoh besar selatan yang terkenal sebagai ahli gwakang dan memiliki tenaga seperti gajah. Menurut penuturan Ang-bin sin-kai, untuk masa itu, tingkat kepandaian Jeng-kin-jiu sudah tinggi sekali dan dialah satu-satunya ahli gwakang yang dapat mengatur tenaga sehingga dapat menggunakan tenaga sampai seribu kati kuatnya! Kwan Cu maklum bahwa Lu Thong tentu telah mewarisi tenaga dan kepandaian suhunya, maka dia berlaku amat hati-hati. Karena kepandaian yang dia dapatkan dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, serta pelajaran ilmu-ilmu silat yang banyak macamnya yang dia pelajari dari lukisan-lukisan di dinding goa-goa pulau pohon berdaun putih, dia tahu cara bagaimana harus menghadapi serangan toya yang bertenaga besar ini. Dengan lincahnya dia mengelak ke sana ke mari menghindarkan diri dari sambaran toya yang datang bertubi-tubi.

Setelah menghadapi toya Lu Thong beberapa belas jurus saja, bukan main gembiranya hati Kwan Cu karena dia telah dapat mengerti akan pokok dasar gerakan permainan toya itu. Ia diam-diam merasa kagum, heran dan juga berterima kasih sekali akan pelajaran-pelajaran dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, oleh karena ilmu toya dari Jeng-kin-jiu yang demikian hebatnya, baru belasan jurus saja sudah dapat dia tangkap inti sarinya! Kalau dia mau, dia akan dapat meniru setiap gerakan dan serangan Lu Thong! Namun, dia tahu pula bahwa dalam hal tenaga gwakang, dia tidak dapat mengimbangi tenaga Lu Thong, sedangkan ilmu toya itu harus dilakukan dengan tenaga gwakang, baru sempurna jalannya.

Maka Kwan Cu segera mencabut sulingnya dan mulailah dia melakukan serangan balasan. Ia dapat menghadapi Lu Thong dengan enak saja karena sekarang dia dapat melihat jelas cara lawan bergerak, bahkan dia telah tahu kemana toya akan menyambar hanya dengan memperhatikan gerak pundak dan paha lawan saja!

Sebaliknya Lu Thong menjadi heran bukan main. Pukulannya selalu mengenai tempat kosong. Kalau Kwan Cu menggunakan ginkang untuk mengelak dari pukulannya, hal ini takkan mengherankan. Yang membuat dia tiada habis heran adalah cara Kwan Cu mengelak. Sebelum toyanya bergerak menyambar, lawannya itu sudah melangkah ke arah yang berlawanan dengan maksud pukulan toyanya, seakan-akan Kwan Cu sudah tahu lebih dulu bagaian mana yang hendak diserang. Kemudian Kwan Cu mainkan sulingnya dan terkejutlah Lu Thong. Serangan suling Kwan Cu sama benar gerakannya dengan serangan toyanya, hanya bedanya kalau dia menyerang dengan gwakang untuk menghancukan kepala atau mematahakan tulang, adalah Kwan Cu mempergunakan sulingnya untuk menotok jalan darah yang berbahaya.

Pertempuran ini benar-benar berat sebelah. Lu Thong terdesak hebat dan tidak kuat menghadapi lawannya lebih lama lagi. Setiap serangannya dapat dielakkan lebih dulu oleh lawannya yang berbalik menyerangnya, kadang-kadang dengan ilmu silatnya, akan tetapi tiba-tiba diubah lagi dengan ilmu silat lain yang sama sekali tak dikenalnya! Akhirnya, setelah kepalanya pening dan tenaganya mulai berkurang, sebuah totokan dari Kwan Cu tepat mengenai iganya.

Lu Thong merasa seluruh tubuhnya lemas, kedua tangannya menggigil dan terlepaslah toya dari pegangan. Kwan Cu menyusul dengan sebuah totokan pula ke arah pundak, kini untuk membebaskan totokan pertama tadi lalu melompat ke belakang, berdiri tegak dan berkata,

“Lu Thong, melihat muka Kong-kong Lu Pin, aku masih mengampuni nyawamu. Harap kau insyaf dan berubah menjadi manusia baik-baik sesuai dengan darah keluargamu. Selamat tinggal!” Sebelum Lu Thong dapat menjawab, sekali berkelebat Kwan Cu telah lenyap dari situ.

Lu Thong menarik napas panjang dan membanting di atas bangku. Ia tidak mempedulikan tiga orang pembantunya yang berdiri dengan muka kesakitan di situ, bahkan lalu memberi isyarat dengan tangannya agar tiga orang itu meninggalkannya seorang diri.

“Dia benar-benar hebat. Tentu Im-yang Bu-tek Cin-keng telah berada di tangannya,” pikir Lu Thong penasaran. Ia tidak menyusahkan keadaan dengan suhunya yang terancam oleh Kwan Cu, juga tidak memikirkan kata-kata Kwan Cu tadi. Yang dipikirkan hanya cita-citanya saja. Sayang Kwan Cu yang sakti tidak mau membantunya, pikirnya. Bagaimana, seorang pemuda yang sudah lemah imannya ini dapat mendengarkan nasihat Kwan Cu?

Sampai berhari-hari Lu Thong bermurung saja. Hiburan kelima orang selirnya yang cantik-cantik tidak mengubah kekesalan hatinya. Setiap hari dia memutar otak, mencari jalan baik.

***

Pada malam hari itu, sebuah bayangan yang amat gesit melompat-lompat di atas genteng-genteng tebal dari kompleks bangunan istana yang megah. Tak seorang pun manusia menyangka bahwa malam hari itu ada orang yang berloncat-loncatan di atas gentang bangunan itu. Memang, biarpun penjagaan daerah istana ini amat ketat, namun tidak ada seorang pun kepala jaga menyuruh anak buahnya menjaga di atas genteng. Siapakah orangnya yang dapat menembus penjagaan sehingga dapat berlari-lari di atas genteng? Penjagaan seluruh pintu istana amat kuat dan daerah istana itu sendiri dikelilingi oleh dinding yang tebal dan tinggi seklai, apalagi musuh dijaga oleh penjaga-penjaga yang berdiri di sepanjang tembok! Seekor burung pun takkan dapat lewat tanpa terlihat oleh barisan penjaga.

Namun, bukan iblis atau dewa yang berlompat-lompatan di atas genteng, melainkan seorang manusia biasa. Bukan lain adalah Kwan Cu, pemuda yang telah memiliki ilmu kepandaian luar biasa yang membuatnya menjadi seorang sakti. Tidak sukar baginya untuk melewati penjagaan yang kokoh kuat itu, karena gerakannya memang cepat sekali. Dari balik sebatang pohon, dia dapat melompat ke atas dinding tembok tanpa terlihat oelh penjaga, karena gerakannya itu luar biasa cepatnya. Mungkin juga ada penjaga yang melihat bayangan berkelebat, akan tetapi tentu dia mengira bahwa itu hanyalah bayangan pohon yang tersinar oleh lampu penerangan di luar tembok.

Kwan Cu sudah melakukan penyelidikan di luar istana dan mendapat keterangan bahwa memang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan tokoh-tokoh lain yang telah membunuh Ang-bin Sin-kai tidak berada di kota raja. Akan tetapi dia belum mau meninggalkan kota raja, pertama-tama karena dia hendak menyelidiki di dalam isatana dulu. Siapa tahu kalau-kalau di antara musuh-musuh besarnya itu ada yang bersembunyi di dalam istana. Ia ingin menyelidiki dan sekalian ia teringat akan ucapan Pangeran An Kong, putera An Lu Kui. Ia mendengar bahwa pangeran itu hendak melakukan perbuatan jahat terhadap seorang wanita yang disebutnya bunga liar. Tergerak hatinya untuk sekalian menyelidiki keadaan pangeran botak itu dan kalau perlu menolong wanita tadi.

Dia pernah dibawa oleh suhunya ke istana, akan tetapi ketika dia datang dengan suhunya, mereka langsung menuju ke dapur istana dan tidak pernah menyelidiki keadaan istana dari atas genteng. Oleh karena itu, Kwan Cu tidak tahu betul akan letak istana itu. Ia hanya mencari-cari dari atas genteng dan mengintai ke bawah setiap kali dia melihat ada ruangan di bawah genteng.

Di bawah genteng bangunan-bangunan istana yang tinggi itu, terdapat langit-langit yang tebal, maka agak sukarlah baginya untuk memeriksa keadaan di bawah. Apalagi banyak sekali terdapat loteng, karena rumah-rumah di situ sebagian besar bertingkat. Seringkali dia harus mempergunakan kakinya untuk bergantung dengan kepala di bawah dan mengintai dari celah-celah tiang genteng. Namun, dia hanya mendapatkan orang-orang berpakaian mewah sedang berpesta, dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang bermain tetabuhan, bernyanyi atau menari. Ada pula orang-orang berpakaian perwira sedang melakukan tugas menjaga, agaknya para pengawal istana.

Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan yang berada di ujung timur dan di ruangan besar nampak lampu dinyalakan besar. Beberapa orang laki-laki tengah duduk menghadapi meja panjang, seakan-akan orang sedang mengadakan rapat. Tertarik hati Kwan Cu dan dia segera menuju ke bangunan itu. Ia selalu berlaku hati-hati sekali maka ketika dia tiba di tempat yang agak gelap, dengan gerakan ringan sekali bagaikan daun kering tertiup angin, pemuda sakti ini, melayang turun, lalu jalan perlahan menuju ke tempat itu.

Dari balik jendela dia mengintai ke dalam. Benar saja, di dalam ruangan yang amat lebar itu dia melihat lima orang laki-laki yang sedang bercakap-cakap dengan perlahan, agaknya membicarakan sesuatu yang amat penting. Tiga orang di antaranya berpakaian seorang panglima tinggi, sedangkan yang dua orang adalah hwesio-hwesio setengah tua yang kelihatannya kuat dan bertubuh tegap.

Ketika Kwan Cu melayangkan pandangan matanya, dia mengenal seorang di antara tiga panglima itu. Orang itu bukan lain adalah An Lu Kui, adik dari An Lu Shan. Geli dirinya memikirkan betapa dahulu dia pernah mempermainkan panglima ini, atau lebih tepat gurunya yang mempermainkannya, karena dia memukul panglima ini dalam pondongan Ang-bin Sin-kai. Panglima itu masih nampak tegap dan gagah, biarpun sudah kelihatan agak tua. Air mukanya menunjukkan seorang yang penuh cita-cita dan teringatlah penuturan Lu Thong bahwa An Lu Kui termasuk seorang di antara tiga golongan yang ingin memperebutkan kedudukan raja di tempat itu!

Dua orang panglima yang lainnya itu dia tidak kenal, akan tetapi dia dapat menduga bahwa nereka pun memiliki kepandaian silat inggi. Juga dua orang hwesio setengah tua itu dia tidak kenal. Kalau saja dia tidak melihat An Lu Kui di situ, tentu Kwan Cu sudah pergi lagi. Akan tetapi kehadiran An Lu Kui menarik perhatiannya untuk mendengar percakapan mereka.

“Apakah Ji-wi Suhu (bapak pendeta berdua) telah menyampaikan pesanku kepada putera mahkota?” terdengar An Lu Kui bertanya kepada dua orang hwesio itu. Kwan Cu maklum bahwa yang disebut putera mahkota tentulah putera dari An Lu Shan yang telah membunuh ayahnya sendiri itu. Maka dia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Seorang di antara dua hwesio itu menganguk-angguk, “Sudah, Ong-ya,” Kwan Cu merasa geli mendengar sebutan ini. Sebutan itu biasanya ditujukan kepada seorang pangeran muda.

“Apa pendapat beliau?” tanya An Lu Kui.

“Beliau merasa bahwa memang perlu diadakan perundingan ini, karena harta yang dibawa oleh Menteri Lu Pin itu memang amat banyak dan berguna sekali untuk kerajaan.”

Mendengar jawaban hwesio itu, berdebar hati Kwan Cu. Mereka membicarakan tentang kong-kongnya, Lu Pin, untung tadi dia mendengarkan ucapan ini.

“Dan beliau memberi kekuasaan penuh kepada Ji-wi untuk membicarakan hal itu dengan kami?” tanya An Lu Kui.

Hwesio itu mengangguk. “Itulah sebabnya maka beliau memutus pinceng (saya) berdua sengaja untuk merundingkan soal ini dengan Ong-ya dan dengan Si-ciangkun (Panglima Si).”

“Bagus,” kata An Lu Kui. “Memang dalam menghadapi para pemberontak yang makin kuat dan dalam mengatur rencana mencari Lu Pin, kita harus bersatu padu dan mengerahkan seluruh tenaga. Herannya mengapa sampai sekarang Panglima Si Su Beng tidak datang.”

“Pinto (aku, sebutan pendeta To) datang!” tiba-tiba terdengar suara dari jauh dan diam-diam Kwan Cu terkejut. Orang yang dapat mendengar percakapan ini dari jauh dan sekaligus mengirim jawaban, adalah seorang berkepandaian tinggi yang mahir menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh). Maka cepat pemuda ini menyelinap dan bersembunyi di tempat yang gelap.

Tak lama kemudian, menyambar angin dan tiba-tiba seorang tosu (Pendeta Agama To) setengah tua yang berjenggot panjang telah berada di ruang itu. Mata tosu ini tajam dan memandang di sekelilingnya, kemudian dia berkata kepada semua yang berada di dalam ruangan.

“Kalian amat sembrono, membicarakan urusan penting harus berhati-hati dan menyelidiki lebih dulu kalau-kalau ada orang lain ikut mendengar!” Setelah berkata demikian, tubuh tosu ini berkelebat ke atas genteng agaknya untuk menyelidiki apakah betul-betul tidak ada orang lain yang bersembunyi. Kwan Cu makin terkejut dan cepat dia menyelinap ke belakang bangunan, berlindung di dalam gelap. Ia mendengar suara An Lu Kui perlahan kepada hwesio itu.

“Dia itulah orang baru dari Si Su Beng yang bernama Kiam Ki Sianjin, benar-benar lihai sekali!”

Tak lama kemudian, kembali bayangan tosu itu melayang turun dan berkata,

“Keadaan aman tidak seekor burung pun pinto lihat di atas genteng!”

An Lu Kui tertawa bergelak. “Kiam Ki Totiang terlalu curiga! Di tempat ini, siapakah yang berani mati melakukan pengintaian? Mari, Totiang silakan duduk. Karena Totiang belum lama datang, agaknya belum kenal dengan dua orang sahabat ini. Mereka ini adalah Mo Beng Hosiang yang berjuluk San-tian-jiu (Si Tangan Kilat) dan Mo Keng Hosiang yang berjuluk Hun-san-pian (Ruyung Pemecah Gunung). Ji-wi Suhu, inilah pembantu dan penasihat, juga guru dari Panglima Si Su Beng, yang bernama Kiam Ki Sianjin yang berjuluk Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara).”

Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk dan membalas penghormatan dua orang hwesio itu. “Hm, hm, hm, apakah bukan Bu-eng Siang-hiap (Sepasang Pendekar Tanpa Bayangan) yang tersohor? Bagus, bagus, dalam kerajaan ada sepasang naga yang menjaga, takut apalagi?”

Pujian ini sekaligus merupakan ejekan dan sikap memandang rendah. Hal ini terasa oleh Mo Beng Hosiang yang berwatak keras, maka biarpun dia sudah mendengar nama besar Kiam Ki Sianjin, dia pura-pura bertanya,

“Pinceng (saya) sudah mendengar nama Pak-lo-sian (Dewa Kutub Utara) Siangkoan Hai yang namanya menggegerkan dunia, tidak tahu dengan Toyu (Sahabat) masih ada hubungan apakah?”

Wajah Kiam Ki Sianjin merengut, akan tetapi tiba-tiba dia tertawa untuk menyembunyikan ketidaksenangannya mendengar nama Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Kiam Ki Sianjin ini adatnya memang sombong, dia pernah mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang dianggap mengembari namanya. Mereka berdua, kedua tokoh yang memakai julukan Dewa Utara ini, bertempur hebat. Setelah hampir satu hari mereka bertempur, akhirnya Kiam Ki Sianjin terpaksa meninggalkan lawannya yang ternyata amat lihai dan yang tidak mampu dirobohkan itu. Semenjak itu dia merasa benci sekali kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Maka kini mendengar ucapan Mo Beng Hosiang, dia merasa tersindir. Siapa tahu kalau hwesio gundul ini sudah mendengar akan pertempuran itu.

Suara ketawa dari Kiam Ki Sianjin amat aneh, meninggi merendah seperti suara kuda liar meringkik. Namun tenaga khikangyang terkandung dalam suara itu seakan-akan menggetarkan tiang-tiang ruangan itu.

“Gunung dan bukit biarpun sama-sama menonjol tidak dapat dikatakan sama. Naga dan ular biarpun berbentuk serupa tetap ada perbedaan. Mana Pak-lo-sian bisa dipersamakan dengan pinto?” Jawabnya ini sudah menyatakan betapa sombongnya tosu ini yang menganggap diri sendiri gunung dan Pak-lo-sian hanya bukit, atau yang mengumpamakan diri sendiri naga dan Pak-lo-sian hanya ular biasa!

Di antara mereka ini, sebagaimana telah dituturkan oleh Lu Thong kepada Kwan Cu, memang terdapat persaingan. Bu-eng Siang-hiap dan dua orang hwesio gundul itu, adalah pengikut setia dari pangeran mahkota yang pada waktu itu boleh dibilang paling berkuasa, sedangkan Kiam Ki Sianjin adalah guru dari pemberontak Si Su Beng yang sudah lama mengilar dan ingin sekali merampas kedudukan. Tentu saja sudah ada perasaan dendam dan bermusuhan di dalam hati mereka satu terhadap yang lain. Kini hanya atas usul An Lu Kui yang juga mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar, mereka mau datang berkumpul untuk merundingkan cara menghancurkan rakyat yang memberontak di sana-sini dan untuk mencari Menteri Lu Pin bersama harta benda yang dibawa pergi oleh bekas menteri itu. Tak mengherankan apabila di dalam percakapan mereka, terdengar ucapan-ucapan yang menyindir dan saling memandang rendah.

Mo Beng Hosiang yang berwatak keras, mendengar ucapan Kiam Ki Sianjin yang menyombongkandiri, menjadi tak senang.

“Memang nama besar Pak-lo-sian menjulang tinggi seperti gunung dan dahsyat seperti naga!” katanya sambil memandang kepada Kiam Ki Sianjin dengan mata menantang. Sudah terang sekali bahwa ucapan ini sengaja dikeluarkan untuk menekan kesombongan Kiam Ki Sianjin karena kedudukan tosu itu menjadi terbalik, bukan seperti gunung dan naga melainkan seperti bukit dan ular!

Melihat suasana sudah mulai panas antara dua orang kepercayaan dari dua golongan itu, diam-diam An Lu Kui menjadi girang. Sebagai golongan ke tiga tentu saja dia suka melihat perpecahan antara dua wakil golongan saingannya itu. Akan tetapi dia pun merasa khawatir kalau-kalau dua orang itu akan bertempur. Pada masa itu, dia justeru membutuhkan tenaga golongan-golongan saingannya ini untuk mencapai cita-citanya, yakni pertama-tama menindas pemberontakan rakyat, kedua untuk mencari Lu Pin dan harta pusaka kerajaan. Setelah dua hal ini tercapai dan beres, barulah dia akan mencari jalan untuk menggulingkan kedudukan dua golongan saingannya itu. Dari sini saja dapat dilihat bahwa An Lu Kui benar-benar cerdik sekali. Ia melompat di antara kedua orang itu dan menjura sambil berkata,

“Di waktu rumah tangga aman dan tentram, saudara-saudara saling bercakaran masih tidak mengapa, akan tetapi kalau rumah tangga sedang terancam bahaya kebakaran, semua saudara harus bersatu padu memadamkan api! Demikianlah ujar-ujar kuno yang baik sekali kita ingat selalu. Oleh karena itu, harap Ji-wi sudi bersabar dan mengingat bahwa kedatangan kita berkumpul di sini adalah untuk merundingkan hal-hal yang penting demi keselamatan negara.”

An Lu Kui masih merupakan orang yang berpengaruh karena dia adalah paman dari putera mahkota. Maka Mo Beng Hosiang segera menjura dan berkata kepada Kiam Ki Sianjin.

“Kiam Ki Toyu harap sudi memaafkan pinceng kalau ada kata-kata pinceng yang kurang tepat.”

Kiam Ki Sianjin sambil tertawa. “Tidak apa, tidak apa! Mo Beng Suhu belum mengenal pinto dengan baik, tentu masih belum percaya.”

Suasana damai dan persahabatan dapat ditimbulkan pula berkat ketangkasan dan kecerdikan An Lu Kui. Semua orang lalu duduk menghadapi meja panjang.

“Silakan Ang-ciankung menguraikan rencananya,” kata Kiam Ki Sianjin yang mempergunakan ujung lengan bajunya yang lebar untuk mengebut mukanya, mengusir hawa panas. Padahal malam hari itu, udara amat dinginnya. Tosu yang sombong ini masih saja hendak mendemonstrasikan kelihaiannya! Ingin dia menonjolkan diri dan memperlihatkan bahwa dia bukanlah “orang biasa!”

Melihat sikap tosu ini, diam-diam Kwan Cu menjadi geli hatinya. Dianggapnya tosu ini bersikap ketolol-tololan, akan tetapi melihat gerakan tosu tadi, dia dapat menduga bahwa memang tosu ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

“Menurut hasil penyelidikan para mata-mata kita,” An Lu Kui mulai bicara, “pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh para petani makin merajalela. Semua ini adalah karena pimpinan dan dorongan dari orang-orang di dunia kang-ouw yang masih bersetia kepada pemerintah Tang yang sudah kita hancurkan. Akan tetapi, agaknya mereka itu, biarpun mendapat pimpinan orang-orang pandai, takkan banyak berdaya kalau saja tidak ada sumber uang yang membiayai segala keperluan mereka. Mereka terdiri dari petani-petani miskin dan untuk mencukupi keperluan mereka sehari-hari, bukanlah biaya yang ringan. Kemudian mata-mata kita mendapat berita bahwa selain para hartawan yang masih setia kepada Kerajaan Tang menyumbang uang, terutama sekali biaya-biaya itu ditutup oleh sumber uang yang amat besar, yakni bukan lain dari bekas Menteri Lu Pin sendiri!”

“Ah, tentu harta pusaka kerajaan itu yang dipergunakannya!” teriak Kiam Ki Sianjin.

“Memang! Anjing Lu Pin itu menghamburkan harta yang dibawanya lari itu untuk membiayai pemberontakan,” kata An Lu Kui marah.

“Keparat jahanam!” Mo Beng Hosiang ikut memaki. “Kalau begitu berarti bahwa semua pemberontakan rakyat itu adalah atas anjuran Lu Pin yang menjadi biang keladinya.”

An Lu Kui mengangguk-angguk. “Begitulah kiranya. Memang, semenjak dahulu pun sudah diketahui oleh semua orang bahwa Menteri Lu Pin adalah menteri yang paling setia kepada Kerajaan Tang. Seluruh keluarganya telah binasa dalam membela Kerajaan Tang dan sampai sekarang pun dia masih ingin menegakkan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, kurasa untuk memadamkan pemberontakan ini, cara yang terbaik adalah mencari sampai dapat menteri setan itu. Kalau dia sudah dibinasakan, harta pusaka Kerajaan Tang dapat dirampas, kiraku dengan sendirinya tanpa dipukul, para pemberontak itu akan mengundurkan diri.”

“Akan tetapi, di manakah kita bisa mendapatkan anjing she Lu itu?” tanya Mo Keng Hosiang atau Si Ruyung Pemecah Gunung.

“Benar, di mana kita bisa mencari dia? Sudah bertahun-tahun orang-orang kita mencarinya dengan sia-sia. Agaknya dia telah mampus dan hartanya jatuh ke dalam tangan pemberontak.” Kata Mo Beng Hosiang.

“Tadinya aku pun mengira bahwa anjing she Lu itu sudah mampus,” kata An Lu Kui, “akan tetapi baru-baru ini aku mendapat berita lain yang menyatakan bahwa dia telah bersembunyi ke dalam sebuah goa dan dari situlah dia mengatur dan merencanakan semua pemberontakan para petani.”

Mendengar ini, tidak saja kedua hwesio dan Kiam Ki Sianjin menjadi amat tertarik, bahkan Kwan Cu yang mendengar di luar juga amat tertarik. Hati pemuda ini berdebar-debar dan baru sekaranglah terbuka matanya betapa gagah dan mulia adanya kong-kong angkatnya, Menteri Lu Pin. Ketika dia mendengar dari sastrawan Tu Fu, dia memang sudah merasa amat bangga akan kong-kong angkatnya itu. Akan tetapi selama ini, pikirannya penuh oleh keadaan suhunya yang meninggal dunia dikeroyok orang, maka hal menteri setia itu hampir tidak dia pikirkan lagi. Akan tetapi sekarang, mendengar semua penuturan ini, tergerak hatinya dan dia merasa amat kagum terhadap Menteri Lu Pin. Seluruh keluarganya sudah musnah, dia sendiri yang sudah tua sampai terlunta-lunta, dikejar-kejar, namun menteri tua yang amat setia itu masih saja berjuang melawan penjajah!

“Kong-kong benar-benar luar biasa, aku harus dapat mencarinya dan membelanya.” Kata Kwan Cu di dalam hati dan dia memperhatikan lagi keadaan di dalam, ingin sekali tahu di mana tempat persembunyian kakek angkatnya itu.

“Di goa manakah dia bersembunyi?” teredengar Kiam Ki Sianjin bertanya. Suaranya tinggi dan mengandung penuh gairah, karena siapakah orangnya di dalam istana itu yang tidak menjadi gairah hatinya mendengar bahwa tempat sembunyi Lu Pin telah diketemukan? Bukan karena mereka terlalu membenci menteri ini, tetapi semata-mata karena menteri itu membawa harta pusaka kerajaan! Inilah yang merupakan daya penarik luar biasa. Harta yang terdapat di dalam istana itu telah menjadi rebutan dan sebentar saja sudah habis. Kini semua hati dan mata yang selalu membayangkan harta dunia, ditujukan kepada harta pusaka yang dibawa pergi oleh Menteri Lu Pin.

“Inilah yang masih harus diselidiki,” jawab An Lu Kui sambil mengeluarkan segulung kertas. “Menurut penyelidikan, dia bersembunyi di dalam sebuah goa rahasia yang terdapat di Bukit Tengkorang Raksasa. Akan tetapi di dalam peta tidak terdapat bukit yang bernama demikian dan nama ini pun baru saja muncul menjadi sebutan orang. Akan tetapi menurut hasil penyelidikan, bukit ini adanya di antara Pegunungan Tai-hang dan Pegunungan Lu-liang, agaknya tidak jauh dari lembah Sungai Fen-ho yang mengalir di situ.”

An Lu Kui lalu membuka gulungan kertas itu di atas meja dan enam orang itu lalu melihat dengan penuh perhatian. “Pembantuku ini, Cang-ciangkun, telah memimpin pasukan penyelidik. Cang-ciangkun, coba kau jelaskan lagi bagaimana hasil penyelidikanmu itu,” kata An Lu Kui kepada seorang di antara dua orang panglima yang semenjak tadi tidak ikut bicara.

Panglima perang yang di sebut Cang-ciangkun itu adalah seorang perwira yang bertubuh tinggi besar, berwajah keren dan penuh brewok. Ia menarik bangkunya lebih dekat ke meja, lalu menunjuk ke arah peta itu dengan telunjuknya.

“Pasukan penyelidik yang kupimpin telah sampai di bagian ini. Dis epanjang jalan kami mencari keteangan dan dari beberapa orang tua petani kami mendengar bahwa daerah ini dahulu sering didatangi oleh seorang pengemis tua yang aneh.”

“Ang-bin Sin-kai…….” Kata Kiam Ki Sianjin perlahan. An Lu Kui mengangguk membenarkan.

“Kemudian kami tiba di lembah Sungai Fen-ho dan di situlah kami mendengar adanya goa rahasia di Bukit Tengkorak Raksasa dan menurut keterangan beberapa orang petani yang kami paksa, seringkali daerah ini didatangi oleh orang-orang yang kelihatannya gagah dan membawa-bawa pedang dan tombak. Biarpun tak seorang pun yang pernah mendatangi Goa Tengkorak atau Bukit Tengkorak Raksasa, namun agaknya yang suka datang itu adalah para pemimpin pemberontak, karena setelah mereka pergi lagi, menurut petani itu, mereka membawa barang-barang buntalan yang kelihatannya berat.”

Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk, “Sangat boleh jadi….” Akan tetapi tiba-tiba dia menahan kata-katanya dan secepat kilat dia melompat ke arah jendela. Memang pada saat itu, Kwan Cu amat memperhatikan dan ingin sekali dia melihat peta di atas meja itu, maka saking tertariknya, dia melakukan gerakan yang menimbulkan suara. Sedikit suara ini ternyata telah dapat ditangkap oleh pendengaran Kiam Ki Sianjin yang amat tajam.

Ketika Kiam Ki Sianjin melompat ke dekat jendela terus keluar dari situ dengan gerakan Monyet Tua Melompati Cabang, lebih dulu Kwan Cu telah melompat pergi dan sebelum Kiam Ki Sianjin masuk kembali, pemuda ini telah mendahului masuk dari pintu depan. Dengan tenang dia berjalan menuju ruangan itu, disambut oleh An Lu Kui dan kawan-kawannya dengan mata terbelalak.

“Siapa……. kau………?” An Lu Kui bertanya. Maksudnya hendak membentak marah, akan tetapi melihat cara pemuda itu masuk begitu saja tanpa mereka ketahui, membuat dia terheran-heran dan gugup. Apalagi ketika pada saat dia mengajukan pertanyaan itu, tubuh pemuda ini berkelebat ke arah mereka!

An Lu Kui dan kawan-kawannya bersiap menyambut, akan tetapi tiba-tiba tubuh pemuda itu terapung ke atas kepala mereka terus ke atas lalu tiba-tiba sebelum menyentuh langit-langit, tubuh itu berjungkir balik dan kini bagaikanseekor capung beterbangan di dalam kamar, tubuh pemuda itu menukik ke bawah lalu tahu-tahu gulungan peta itu telah dirampasnya!

An Lu Kui hendak menubruk, akan tetapi terlambat karena Kwan Cu sudah melompat pula dari atas meja melalui kepalanya dan kini pemuda itu telah berdiri di tengah ruangan sambil tersenyum-senyum dan peta itu dia masukan ke dalam saku dengan sikap amat tenang! Untuk sejenak, An Lu Kui dan kawan-kawannya tercengang, karena sesungguhnya gerakan pemuda tadi luar biasa sekali. Tiada ubahnya seekor capung atau burung yang amat ringan dan gesit. Kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri sukarlah untuk mempercayai kejadian itu.

“Siapa kau yang berani mati bermain gila di sini?” kembali An Lu Kui membentak dan kini panglima ini mencabut sepasang tombaknya yang lihai.

Kwan Cu tersenyum dan menjawab, “An-ciangkun, apakah baik kabarmu? Kau sudah kelihatan tua, akan tetapi tetap saja ganas dan galak!”

Mendengar ini, An Lu kui tercengang dan tidak jadi menyerang, sebaliknya Cang Kwan panglima brewokan itu membentak,

“Bangsat kecil, siapakah kau yang sudah bosan hidup?”

“Bangsat besar, aku bernama Lu Kwan Cu. Kalian tadi membuka mulut besar hendak menangkap kong-kongku Lu Pin? Jangan bermimpi, Kawan!”

“Bohong besar!” seru Liong Tek Kauw panglima kedua pembantu An Lu Kui, “Aku tahu betul keadaan Menteri Lu Pin dan dia tidak mempunyai cucu yang bernama Lu Kwan Cu!”

Kwan Cu tersenyum lagi. “Tentu kau seorang panglima pengkhianat dan penjilat maka kau tahu baik akan keadaan kong-kongku. Akan tetapi aku tidak peduli akan kata-katamu itu, pengkhianat. Pendeknya jangan kalian bermimpi untuk menangkap Menteri Lu Pin yang setia dan gagah berani, pahlawan bangsa tidak seperti kalian ini, katak-katak busuk yang berbahaya.”

“Tangkap dia!” tiba-tiba An Lu Kui berseru keras. “Dia adalah bocah gundul murid Ang-bin Sin-kai! Aku ingat sekarang, dia memang telah diakui cucu oleh Lu Pin!” Sambil berkata demikian, An Lu Kui lalu menyerang dengan sepasang tombaknya.

Kwan Cu mengelak tangkas sambil menyindir. “Hm, kau sudah ingat betapa dahulu aku pernah membagi beberapa kali tamparan kepadamu, An-ciangkun?”

“Bangsat, mampuslah kau!” seru An Lu Kui sengit dan tombaknya melakukan gerakan menyilang dari kanan kiri, hendak menggunting leher pemuda itu.

Akan tetapi, hanya dengan merendahkan tubuh sedikit saja, Kwan Cu sudah dapat membebaskan diri dari ancaman dan sepasang tombak itu melayang melalui atas kepalanya. Cang Kwan dan Liong Tek Kauw dua orang panglima pembantu An Lui Kui dengan marah maju menyerang dengan golok besar mereka yang menyambar-nyambar menyilaukan mata ketika terkena cahaya lampu yang terang.

“Rebahlah kalian!” bentak Kwan Cu dan tahu-tahu ketika dua batang golok itu sudah dekat dengan tubuhnya dari kanan kiri, dia melompat ke belakang dan sebelum dua orang panglima itu dapat menarik kembali golok mereka, dua kali berturut-turut Kwan Cu menotok dengan telujuknya dan aneh sekali! Dua orang panglima itu roboh dan terus bergulingan sambil mengaduh-aduh, kemudian mereka tak bergerak lagi, rebah dengan tubuh lemas tak berdaya di dekat dinding.

Kwan Cu tidak mau membuang banyak waktu. Ketika dia melihat An Lu Kui tercengang, dia menggerakkan kakinya, melompat sambil menendang dua kali ke arah tangan panglima itu. Terdengar suara keras ketika sepasang tombak itu terlepas dari pegangan An Lu Kui dan terlempar jauh ke atas lantai mengeluarkan suara nyaring. An Lu Kui masih mencoba untuk mengelak ketika tangan Kwan Cu menyambar, namun terlambat, pundaknya kena di tepuk dan panglima ini jatuh duduk dengan tubuh lemas dan setengah tubuhnya sebelah kanan terasa lumpuh!

Pada saat itu, angin pukulan menyambar dari depan dan belakang. Kiranya dua orang hwesio itu sudah turun tangan. Tadi mereka hanya menonton saja karena memang sebetulnya di dalam hati mereka, dua orang hwesio ini tidak suka kepada An Lu Kui dan mencurigainya. Akan tetapi, setelah melihat An Lu Kui dan dua orang pembantunya telah roboh, mereka tidak mau tinggal diam dan segera menyerang. Mo Beng Hosiang Si Tangan Kilat menyerang dengan kedua tangannya yang dibuka jari-jarinya, melakukan pukulan hebat sekali, sesuai dengan julukannya. Adapun Mo Keng Hosiang Si Ruyung Pemecah Gunung telah menyerang dengan ruyungnya yang aneh. Joan-pian (ruyung lemas) itu merupakan rantai pendek yang ujungnya di pasangi bola baja sebesar kepalan tangan dan digerakkan dengan ayunan keras menghantam punggung Kwan Cu.

Pemuda ini terkejut sekali melihat datangnya serangan yang memang hebat sekali ini. Dengan tangan kirinya dia menangkis pukulan Mo Beng Hosiang sehingga hwesio itu terhuyung ke belakang. Hampir saja bola baja di ujung joan-pian yang dipakai menyerang oleh Mo Keng Hosiang mengenai sasarannya, yakni punggung Kwan Cu. Pemuda ini yang maklum menghadapi lawan-lawan tangguh, cepat mencabut sulingnya sambil mengelak dengan gerakan Kong-ciak-kai-peng (Merak Membuka Sayap) sehingga serangan senjata Mo Keng Hosiang lewat di atas punggung dan kepalanya. Sekaligus Kwan Cu menyerang Mo Beng Hosiang yang sudah maju lagi itu dengan sulingnya. Mo Beng Hosiang bukan seorang lemah, dia memiliki ilmu pukulan yang di sebut Pek-lek-sin-jiu (Tangan Geledek Sakti). Menghadapi pukulan suling yang biarpun dilakukan perlahan namun telah dapat dia duga kehebatannya itu, dia cepat menampar dengan tangan kanannya. Jari-jari tangan kanan ini menegang dan kaku seperti baja. Tamparannya dilakukan keras sekali dengan maksud membuat suling itu remuk atau terlepas dari pegangan Kwan Cu.

Namun pemuda ini telah memiliki kepandaian yang tak dapat di ukur tingginya. Baru melihat sekali saja dia sudah tahu kemana tamparan itu di arahkan, maka sebelum tamparan datang, sulingnya sudah di tarik ke bawah dan tangan kirinya yang tadi di pentang, memukul ke depan sambil tubuhnya diputar sedemikian rupa dan cepat sekali sebelah kakinya menendang ke arah Mo Keng Hosiang!

Bukan main hebatnya serangan ini dan amat indah pula gerakannya sehingga terdengar pujian, “Bagus sekali!” Yang memuji ini adalah Kiam Ki Sianjin yang berdiri menonton saja. Seperti sikap Bu-eng Sian-hiap ketika menonton pertempuran antara Kwan Cu dengan An Lu Kui bersama dua orang pembantunya, kini Kiam Ki Sianjin juga menonton saja, enggan membantu dua orang hwesio itu yang memang tidak disukainya. Namun diam-diam dia amat memperhatikan gerakan pemuda aneh itu dan makin lama kedua mata tosu ini makin terbelalak lebar karena selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan ilmu silat demikian anehnya seperti yang dimainkan oleh pemuda pemegang suling itu!

Kiam Ki Sianjin adalah seorang kang-ouw yang ulung dan banyak pengalaman. Telah banyak dia melihat ilmu silat tinggi-tinggi dan aneh-aneh. Bahkan dia dapat mengenal ilmu silat dari lima tokoh besar dunia persilatan, yakni ilmu-ilmu silat dari Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, dan Kiu-bwe Coa-li . Akan tetapi belum pernah dia melihat ilmu silat yang di mainkan oleh pemuda ini. Tadi dia mendengar seruan An Lu Kui bahwa pemuda ini adalah murid dari Ang-bin Sin-kai dan memang betul, gerakan Ilmu Silat Sam-hoan-ciang dari Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi setelah dia perhatikan, ternyata banyak sekali perbedaannya. Pemuda ini bergerak seenaknya saja seperti bukan orang main silat, lebih patut disebut main-main saja, seperti seorang pemuda tidak becus main silat yang pura-pura mau bermain silat. Akan tetapi, semua gerakannya tepat sekali menghindarkan diri dari serangan kedua lawannya dan biarpun gerakannya ketolol-tololan, namun bukan main hebatnya. Apalagi setelah dia memperhatikan dan melihat betapa pemuda itu kini bersilat tepat seperti ilmu silat yang dimainkan oleh kedua lawannya, Kiam Ki Sianjin menjadi bengong! Tiap kali diserang oleh Mo Beng Hosiang, pemuda iti melayani hwesio tangan kilat itu dengan ilmu silat yang mirip sekali dengan Pek-lek-sin-jiu! Adapun apabila Mo Keng Hosiang yang menyerang, juga pemuda ini menghadapinya dengan ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Ruyung Pemecah Gunung itu.

“Iblis muda dari manakah dia? Ilmu silat apa yang telah dia pelajari?” Demikian Kiam Ki Sianjin bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri. Tosu yang cerdik itu sengaja tidak mau turun tangan lebih dulu, bukan saja karena dia memang tidak suka membantu dua orang hwesio kepercyaan putera mahkota yang diam-diam dimusuhi pula oleh muridnya, Si Su Beng, akan tetapi juga dia hendak mempelajari lebih dulu gerakan pemuda itu untuk mengukur sampai di mana tingkat kepandaiannya agar nanti kalau dia harus menghadapi pemuda itu, dia sudah dapat mengetahui cara bagaimana harus melawannya.

Adapun Kwan Cu, setelah beberapa puluh jurus menghadapi keroyokan dua orang hwesio itu, diam-diam terkejut. Baru kali ini dia menjumpai lawan-lawan yang benar-benar tangguh. Biarpun dengan mudah dia dapat menghadapi semua serangan mereka dan dapat menyelamatkan diri tanpa banyak kesukaran, namun untuk membalas menyerang, juga bukan hal yang mudah. Setiap pukulan sulingnya dapat ditangkis oleh tangan yang keras dan kuat dari Mo Beng Hosiang, adapun senjata yang aneh dari Mo Keng Hosiang juga cukup tangguh untuk menangkis setiap serangannya sulingnya.

Ketika dia mempelajari ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng di pulau berdaun putih, Kwan Cu telah mempelajari pula semua ilmu-ilmu silat tinggi yang terukir di dinding-dinding goa. Ilmu silat itu hampir meliputi seluruh pokok dasar ilmu silat tinggi yang ada di dunia persilatan. Dari latihan-latihan ini, dimatangkan oleh kepandaian pokok dasar persilatan yang dipelajarinya dari kitab rahasia itu, Kwan Cu telah dapat menggabung semua ilmu silat itu dan dengan sendirinya menciptakan berbagai ilmu silat yang aneh-aneh. Diantaranya, dia telah dapat mengatur ilmu silat tangan kosong berdasarkan lweekang dan khikang, disertai hawa di dalam tubuh menurut latihan siulian dari kitab itu. Ilmu silat ini dia beri nama Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Ia memberi nama ilmu sihir, karena di dalam gerakan ilmu silat ini bangkit tenaga batin yang amat kuat sehingga kedua lengannya dapat mengebulkan uap putih seperti mega putih. Uap putih inilah yang mempunyai pengaruh menolak segala serangan yang dilakukan berdasarkan tenaga dari ilmu hitam atau segala macam hoat-sut (ilmu sihir). Selain ini, masih banyak sekali ilmu-ilmu silat yang aneh dan tinggi yang diciptakan oleh Kwan Cu. Akan tetapi maklumlah, dia masih muda sekali dan belum banyak pengalaman bertempur sehingga ketika menghadapi dua orang hwesio yang tangguh itu, dia masih belum mendapat jalan bagaimana harus mengalahkan mereka.

Menghadapi ketangguhan mereka, timbullah niat dalam hati Kwan Cu untuk mencoba ilmu-ilmu silat yang diciptakannya sendiri. Maka ketika dia mengelak dari serangan lawan-lawannya, dia lalu menyelipkan sulingnya kembali di ikat pingganya, lalu dia mengeluarkan seruan tinggi dan nyaring. Maka berubahlah ilmu silatnya. Kini dia tidak mau meniru ilmu silat dari kedua lawannya untuk menjaga diri, melainkan langsung mengerahkan tenaga dalam dan mainkan Pek-in-hoat-sut.

Bukan main hebatnya akibat dari permainan ilmu silatnya ini. Dengan dua kali sampokan lengannya yang mengebulkan uap putih, Mo Beng Hosiang tertangkis tangannya dan memekik kesakitan, sedangkan Mo Keng Hosiang berseru terkejut karena senjatanya terpental dan terputus tengah-tengahnya! Kemudian, dua kali lagi pukulan Kwan Cu diikuti oleh jerit kesakitan dan terpentallah tubuh kedua orang hwesio itu sampai ke dinding ruangan dan mereka rebah tak bergerak lagi karena pingsan! Akan tetapi, Kwan Cu sendiri setelah mengeluarkan empat kali gerakan itu, terhuyung-huyung dan cepat dia mengatur pernapasannya sehingga keadaannya sebentar saja sudah pulih kembali. Tahulah dia bahwa dalam penggunaan tenaga luar biasa ini, karena kurang pengalaman, dia telah mengerahkan terlalu keras sehingga menguras hawa di dalam tubuhnya sendiri! Oleh karena itu, dia sekarang maklum bahwa ilmu silatnya Pek-in-hoat-sut tidak boleh di buat main-main dan harus dilakukan dengan sewajarnya dan tidak dipaksa. Akan tetapi dia girang sekali melihat hasilnya sungguhpun dia agak menyesal karena khawatir kalau-kalau dua orang hwesio itu tewas.

“Hebat………. Hebat………! Entah ilmu silat iblis apakah yang telah kau pergunakan tadi. Anak muda, kau benar-benar lihai sekali. Amat aneh kalau Ang-bin Sin-kai mempunyai murid seperti engkau.”

“Kiam Ki Sianjin, aku memang murid dari mendiang suhu Ang-bin Sin-kai.” kata Kwan Cu sederhana. Setelah dapat mengalahkan dua orang lawannya yang tangguh tadi, besarlah hati Kwan Cu. Dia sedang mencari musuh-musuh besar suhunya yang amat tangguh, yakni di antaranya Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo, orang tokoh besar yang sama sekali tak boleh dipandang rendah. Maka sekarang, selain untuk membei hajaran kepada orang-orang yang bermaksud mencelakakan kong-kongnya ini, juga dia hendak menguji kepandaiannya sendiri.

“Hm, biarlah, aku tidak peduli kau murid dari siapa. Akan tetapi coba kau menghadapi pedangku, kita main-main sebentar, anak muda.”

Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan dan tangannya bergerak sedikit kebelakang, tahu-tahu tosu ini telah memegang sebatang pedang yang bukan sembarang pedang, karena pedang itu hitam seluruhnya!

“Hm, orang tua. Siapa percaya omonganmu? Kau bilang main-main akan tetapi mengeluarkan pedang. Dan kau pun bermaksud mencelakakan kong-kong, maka dengan demikian berarti bahwa kau juga musuh. Tak perlu kau mempergunakan kata-kata hendak main-main, marilah kita mengadu kepandaian, hendak kucoba lihainya Dewa Utara!”

“Bagus, terimalah ini!” seru Kiam Ki Sianjin sambil melompat maju dan menusukkan pedang hitamnya ke arah ulu hati Kwan Cu. Akan tetapi, melihat gerakan ini dan mengerling sekilas ke arah pundak tosu itu, Kwan Cu sudah dapat menduga bahwa serangan ini tidak akan dilanjutkan dan hanya merupakan pancingan belaka, maka dia sengaja berdiri tegak, tidak mengelak maupun menangkis sama sekali!

Sikap pemuda ini mengherankan hati Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena sudah kepalang, dia melanjutkan serangannya. Memang benar dugaan Kwan Cu, serangannya yang dia namakan gerak tipu Menggertak Bintang Menghancurkan Bulan ini, serangan pedang ke ulu hati lawan tadi hanya gertakan belaka, akan tetapi sebetulnya pada saat pedangnya sudah mendekati, dia menariknya kembali dan berbareng tangan kirinya menghantam ke arah kepala lawan sambil mengjukan kaki kirinya ke depan! Kalau lawan dapat terpikat, tentu akan mengelak atau menangkis serangan pedang sehingga tidak menduga akan datangnya pukulan tangan kiri yang tiba-tiba dan amat berbahaya itu. Pukulan tangan kiri ini memang hebat sekali, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan seorang lawan yang kurang kuat. Di dalam pukulan ini, Kiam Ki Sianjin menggunakan tenaga yang disebut Soan-hong-kang (Tenaga Angin Puyuh).

Namun Kwan Cu sudah bersiap sedia menghadapi ini. Ia sudah dapat menduga bahwa serangan susulanlah yang berbahaya. Menghadapi pukulan yang mendatangkan hawa pukulan dingin ini, dia hendak mencoba tenaga pukulan Pek-in-hoat-sut, maka dia tidak mau mengelak, sebaliknya lalu mengangkat lengan kanan yang telah mengeluarkan uap putih untuk menangkis.

“Dukkk….!”

“Ayaaaaaaa, lihai sekali!” Kiam Ki Sianjin berseru sambil mudur dua langkah, karena pertemuan lengan itu telah membikin gempur kuda-kudanya.

Juga Kwan Cu merasa lengan kanannya tergetar hebat dan dia pun mundur sampai dua langkah. Bukan main hebatnya pukulan Soan-hong-kang dari Kiam Ki Sianjin tadi. Akan tetapi diam-diam Kwan Cu menjadi girang bukan main. Ia tadi hanya mengerahkan setengahnya lebih dari tenaga Pek-in-hoat-sut, kira-kira hanya enam bagian. Kalau dia mengerahkan seluruh tenaganya, dia yakin bahwa dia tentu akan dapat membuat tosu itu terpental jauh. Hal ini amat membesarkan hatinya dan dia tersenyum lebar. Tentu saja dengan pengertian bahwa ilmunya lebih tingi dari lawannya ini, dia menjadi tabah sekali.

“Totiang (panggilan untuk tosu), kau belum menyaksikan semua pukulanku ini, bagaimana sudah tahu kelihaiannya? Nah, cobalah kau tahan!” Setelah berkata demikian, Kwan Cu membalas serangan tosu itu dengan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, kini dia tambah tenaganya kira-kira tujuh bagian.

Benar saja, Kiam Ki Sianjin terkejut sekali. Ia melihat betapa kedua lengan tangan pemuda itu mengebulkan uap asap putih yang mendatangkan hawa panas luar biasa. Angin pukulan itu saja sudah menggetarkan tubuhnya. Maka dia lalu menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Tangan kirinya mempergunakan tenaga Soan-hong-kang, sedangkan tangan kanannya mainkan pedang hitamnya dengan cepat sekali. Namun harus dia akui bahwa dia terdesak hebat, karena pedang hitamnya itu sebelum mengenai tubuh lawan, telah bertolak kembali oleh hawa pukulan aneh dari lengan beruap putih itu! Sampai tiga puluh jurus Kwan Cu sambil tersenyum-senyum girang mainkan ilmu Pek-in-hoat-sut. Hatinya makin besar karena dengan ilmu silat ini saja, kalau dia mau mengerahkan tenaga sepenuhnya, dia percaya akan dapat menang dari tosu ini. Akan tetapi pengalamannya tadi telah membuat dia kapok, tidak berani lagi dia mengerahkan terlalu banyak tenaga, khawatir kalau-kalau dia kehabisan hawa dalam tubuh.

“Kurang cukup lihai, Totiang? Nah, ini ilmu silatku yang lain!” Pemuda ini dengan gembira mengejek dan tiba-tiba saja ilmu silatnya berubah hebat sekali. Kalau tadi gerakannya tenang bertenaga, kini gerakannya lincah dan seperti tidak karuan. Ia melompat-lompat, menubruk dan kedua kakinya bukan menendang, melainkan mencakar! Namun kedua tangannya yang dibuka seperti cakar pula, mencengkeram sana-sini dengan kekuatan dan kecepatan luar biasa sekali. Inilah ilmu silat ciptaanya sendiri yang dikarangnya menurut lukisan-lukisan pada dinding. Banyak sekali pelajaran ilmu silat yang merupakan Kin-na-hoat, yakni ilmu silat mencengkeram yang dipergunakan untuk merampas senjata musuh. Karena banyaknya ilmu silat macam ini, dia lalu memilih dan menciptakannya menurut gerakan seekor burung merak, maka ilmu silat ciptaannya yang aneh ini bernama Kong-ciak-sin-na atau Ilmu Mencengkeram Burung Merak!

Kembali Kiam Ki Sianjin tertegun. Kalau selama hidupnya dia belum pernah menyaksikan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut yang tadi dimainkan oleh pemuda ini dan yang telah membuatnya repot sekali, adalah ilmu silat yang dimainkan lawannya sekarang ini, jangankan melihat, bahkan dalam mimpi pun belum pernah dia menyaksikannya! Ia dapat menduga bahwa ini adalah semacam ilmu mencengkeram, akan tetapi Kin-na-hoat macam apa! Gerakannya kacau-balau, namun pemuda itu seakan-akan kini mempunyai empat tangan. Kedua kakinya merupakan dua tangan pula karena pemuda itu melompat tinggi dan baik kaki mau pun tangannya mencakar-cakar dan mencengkeram ke arah mata, hidung, tenggorokan, ulu hati dan mencoba untuk merampas pedangnya!

Kiam Ki Sianjin bingung dan kelabakan. Ia lalu menjadi penasaran dan mencoba untuk membabat pinggang pemuda itu ketika lawannya sedang melompat tingi. Akan tetapi, kaki Kwan Cu mencengkeram kearah pundaknya sedemikian cepatnya sehingga kalau Kiam Ki Sianjin melanjutkan babatannya, sebelum pedang mengenai tubuh lawan tentu pundaknya sudah akan terkena cengkeraman kaki atau semacam tendangan yang aneh gerakannya.

Kiam Ki Sianjin menarik kembali tangannya untuk membabat kaki yang menyerangnya, akan tetapi tiba-tiba tangan Kwan Cu mencengkeram pergelangan tangannya dan di lain saat, pedangnya telah terampas!

Kwan Cu tertawa dan melompat berjumpalitan ke belakang, lalu berdiri sambil tersenyum-senyum dengan pedang hitam di tangan.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: