Pendekar Sakti (Jilid ke-25)

“Pedang busuk!?” katanya dan sekali dia menekuk tiga jarinya pada pedang itu, terdengar suara nyring dan pedang itu telah patah tengahnya!

“Terimalah kembali senjatamu!” seru Kwan Cu sambil melontarkan potongan pedang itu kepada pemiliknya.

Kiam Ki Sianjin melihat dua sinar hitam berkelebat menuju ke tenggorokan dan dadanya. Ia cepat mengelak sambil melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari senjatanya sendiri. Akan tetapi ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari depannya!

“Setan……! Iblis….!” Berkali-kali Kiam Ki Sianjin berkata seorang diri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia harus akui bahwa selamanya dia belum pernah menghadapi lawan yang sedemikian pandainya dan dia mengaku bahwa di dunia persilatan muncul seorang pendekar muda yang amat sakti. Maka dia berjanji hendak memperdalam ilmu silatnya karena dia merasa bahwa dia telah tertinggal jauh sekali.

***

Hati Kwan Cu girang dan puas sekali ketika dia meninggalkan ruangan besar tempat orang-orang penting berkumpul itu. Tanpa disengaja dan dicari, dia telah dapat menemukan sebuah peta berikut penjelasan dari An Lu Kui dan kawan-kawannya tentang tempat persembunyian Menteri Lu Pin. Hal ini sudah amat membesarkan hatinya karena selain dia mendengar makin jelas tentang kegagahan sepak terjang kong-kongnya itu, juga dia mendapat kesempatan untuk mencari kong-kongnya dan melindungi orang tua yang baik hati itu. Selain daripada itu, dia pun mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya pada orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi di samping kepuasan ini juga dia maklum bahwa kini tidak saja dia menghadapi musuh besar yang lihai dan yang telah menewaskan suhunya, melainkan juga mendapat musuh-musuh besar yang mengancam keselamatan kong-kongnya.

Malam itu dia tidak terus keluar dari lingkungan istana, akan tetapi masih mencari-cari dan menyelidiki, karena dia ingin sekal menyelidiki keadaan di situ dan juga ingin mencari pangeran botak putera An Lu Kui untuk menolong wanita yang terancam oleh pangeran mata keranjang itu.

Malam sudah amat larut dan bulan tua mulai menampakkan diri di antara mega-mega hitam. Kwan Cu sudah mulai putus asa mencari tempat kediaman Pangeran An Kong karena keadaan di situ sunyi belaka. Ia pikir bahwa pangeran botak itu mungkin sekali berada di luar istana dan hal ini membuat dia menyesal sekali mengapa tadi siang dia tidak mengikuti pangeran itu, dan tidak menanyakan keterangan kepada Lu Thong. Ia menyesal karena dipikirnya bahwa wanita itu takkan tertolong lagi.

Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara wanita menangis perlahan. Cepat bagaikan seekor burung, dari atas genteng Kwan Cu melompat ke bawah dan mengintai ke dalam sebuah kamar dari rumah gedung yang berada di sebelah selatan kelompok bangunan istana itu. Hatinya berdebar girang dan juga warna merah menjalari mukanya ketika dia melihat siapa adanya orang yang berada di dalam kamar itu.

Di dalam kamar itu amat terang dan keadaan perabot kamarnya mewah sekali. Bahkan dari luar jendela saja sudah dapat tercium bau yang amat harum, tanda bahwa penghuni kamar adalah seorang pesolek yang mewah. Di atas meja yang indah terdapat guci arak yang menyiarkan bau harum pula, arak baik yang amat mahal.

Wanita yang menangis terisak-isak dengan suara perlahan karena takut, adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun, berwajah cantik akan tetapi pucat sekali. Rambutnya terlepas dan terurai menutupi sebagian mukanya yang berkulit halus, pakaiannya kusut. Gadis ini duduk di atas sebuah bangku sambil menangis sedih.

Di depannya, juga duduk di atas bangku sambil kadang-kadang minum arak dari cawan emasnya, kelihatan pangeran botak An Kong dengan mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum-senyum.

“Kui Lan, mengapa kau begitu keras hati dan keras kepala? Mengapa kau berduka? Ingatlah, bukan sembarang wanita dapat masuk ke kamar ini dan lebih-lebih lagi bukan sembarang wanita dapat menjadi biniku, walaupun hanya bini muda. Aku amat sayang kepadamu, Kui Lan, kau cantik jelita dan halus gerak-gerikmu, aku sayang dan kasihan kepadamu. Tahukah kau bahwa kalau bukan kau, lain gadis yang berkeras menolak kehendakku, akan kusuruh algojo menyiksanya? Atau aku akan mempergunakan kekerasan. Akan tetapi kepadamu aku tidak mau berlaku demikian, Kui Lan. Aku cinta padamu dan aku ingin kau membalas cintaku itu.”

Jawaban Kui Lan gadis itu, hanya suara tangis yang lebih menyedihkan hati. Kwan Cu sudah mendidih darahnya menyaksikan keadaan ini, akan tetapi dia masih bersabar, hendak didengar dan dilihatnya lebih lanjut apa yang akan terjadi, karena dia belum mengerti duduknya perkara.

“Kui Lan, kalau kau mau menyambut cinta kasihku, kalau kau mau berlaku manis kepadaku, percayalah, ada kemungkinan kau kuangkat menjadi isteriku yang sah! Menurutlah, Kui Lan, bungaku yang manis,” kata pula An Kong dengan suara membujuk setelah dia menenggak habis arak di dalam cawannya.

Kini gadis itu menurunkan kedua tangan yang menutupi mukanya. Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang luar biasa cantiknya.

“Siauw-ong-ya…..” Gadis itu berkata dengan suara gemetar namun terdengar merdu dan halus, “aku tidak menghendaki semua kedudukan tinggi itu. Tidak kasihankah kau kepadaku, Siauw-ong-ya. Kau sudah tahu bahwa aku……. bahwa di sana ada The Kun Beng….. bahwa aku harus bersetia kepadanya karena……. Aku cinta padanya……. Siauw-ong-ya kembalikanlah aku kepada orang tuaku atau……… atau kau bunuh saja aku agar aku dapat bersetia kepada The Kun Beng sampai matiku, sesuai dengan sumpahku…….”

Mendengar ini, Kwan Cu terkejut sekali. The Kun Beng……. Ia ingat betul nama ini dan terbayanglah wajah seorang bocah tampan dan manis budi, murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Sekaligus terbayang pula semua pengalamannya dengan murid Pak-lo-sian ini ketika dia masih kecil dan perhatiannya makin membesar terhadap gadis yang mengaku cinta kepada The Kun Beng ini.

Sebaliknya, An Kong nampak marah sekali. Pemuda botak ini bangkit berdiri dengan kasar sehingga bangku yang didudukinya terguling, menimbulkan suara berisik. Mukanya menjadi makin merah, sebagian karena pengaruh arak dan sebagian lagi karena pengaruh kemarahannya.

“Kau benar-benar keras kepala dan menggemaskan! Bagaimana kau berani menyebut-nyebut nama The Kun Beng, pemuda liar murid iblis tua Siangkoan Hai itu? Apa kaukira aku takut kalau kau menyebut-nyebut namanya? Apa kau kira aku tidak tahu akan riwayatmu yang kotor dengan pemuda itu? Kui Lan! Boleh jadi kau mencinta pemuda iblis itu karena tertarik oleh ketampanannya, akan tetapi kau goblok sekali. Kau pun tahu bahwa dia tak mungkin dapat menjadi suamimu karena dia sudah bertunangan dengan Bun Sui Ceng, gadis liar itu!’

Kembali Kwan Cu terkejut dan hatinya berdebar keras, mukanya berubah. Kun Beng bertunangan dengan Sui Ceng? Terbayanglah wajah Sui Ceng yang manis dan teringat kembali dia akan pembohongan terhadap gadis raksasa Liyani ketika dia menuturkan bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng! Ataukah hal itu bukan suatu kebohongan? Apakah benar-benar dia mencinta Sui Ceng? Tak mungkin! Akan tetapi mengapa dia merasai hatinya berdebar dan telinganya panas mendengar bahwa Sui Ceng sudah bertunangan dengan Kun Beng?

Kembali Kui Lan mengucurkan air mata. “Biarpun semua itu benar belaka, Siauw-ong-ya namun aku cinta kepada Kun Beng dan aku bersumpah takkan menjadi isteri laki-laki lain, biarpun aku tiada harapan untuk menjadi isterinya.”

“Perempuan bodoh! Bagaimana kau masih bersetia kepada seorang laki-laki yang berlaku demikian kejam terhadapmu? Dia telah merusak namamu, telah mengkhianati suhengnya sendiri, telah melakukan perbuatan terkutuk kepadamu, telah menyeretmu ke dalam lumpur kehinaan……..”

“Cukup. Siauw-ong-ya! Biarpun apa yang akan terjadi, aku akan bersetia sampai mati kepadanya. Dia tetap merupakan laki-laki tunggal yang boleh menguasai hati, jiwa dan ragaku. Bunuhlah aku kalau kaukehendaki!”

Marahlah An Kong mendengar ini. Ia melompat dan tahu-tahu sudah berdiri di depan Kui Lan. Ia mengulur tangan menangkap pergelangan tangan wanita itu, akan tetapi Kui Lan sigap mengelak. Kwan Cu yang tadinya sudah siap hendak melompat masuk, tertegun melihat betapa gadis itu sedikitnya mengerti ilmu silat, karena gerakannya ketika mengelak menunjukkan bahwa dia mengerti ilmu menjaga diri.

Akan tetapi, kepandaian gadis itu tidak seberapa karena di lain saat, tangannya sudah tertangkap oleh An Kong.

“Kui Lan, aku cinta kepadamu. Marilah kita minum arak bersama, Manis!” kembali suaranya melembut karena sesungguhnya dia tidak tega untuk bersikap kasar terhadap gadis ini. Ia menarik Kui Lan ke meja dan melepaskan pegangannya, lalu menuangkan arak ke dalam cawannya yang kosong.

“Minumlah, Manis, mari kita habiskan isi cawan ini seorang setengah. Minumlah, Sayang…….”

Akan tetapi, Kui Lan mempergunakan tangan kanannya yang tidak terpegang untuk menyampok lawan. Gerakan ini tidak saja membuat cawan itu terlepas dari pegangan An Kong, bahkan guci arak yang berdiri di atas meja pun terguling dan pecah….. Arak yang putih harum mengalir keluar membasahi meja.

Habislah kesabaran An Kong. “Kau menghendaki kekerasan, bunga liar? Baik, baik aku akan melayani kehendakmu!” setelah berkata demikian, An Kong hendak memeluk, akan tetapi Kui Lan menampar mukanya sehingga terpaksa dia menggunakan tangan kiri menangkap tangan yang menampar itu.

Pada saat mereka bergulat, terdengarlah suara tenang akan tetapi berpengaruh,

“An Kong, anjing berwajah manusia, lepaskan dia!”

An Kong terkejut sekali. Cepat dia melepaskan Kui Lan dan melompat sambil membalikkan tubuhnya. Di lain saat dia telah mencabut sepasang senjatanya, yakni kebutan di tangan kiri dan joan-pian di tangan kanan. Ketika dia memandang, teryata bahwa yang berada di dalam kamarnya itu adalah pemuda berpakaian sederhana yang siang tadi dia lihat di rumah makan dan yang dihinanya kemudian dia dicegah oleh Lu Thong, suhengnya. Memuncak kemarahannya dan dengan gemas dia membentak,

“Jembel busuk, bagaimana kau berani memasuki kamarku?”

Kwan Cu tersenyum mengejek. “An Kong, semua yang mengelilingi dirimu, pangkat dan kedudukan, pakaian yang mewah, kamar yang indah, kesemuanya ini hanya merupakan selimut yang menyembunyikan watak aselimu yang rendah dan hina-dina. Orang macam kau masih berani memaki aku?”

“Bangsat bermulut kotor! Kau telah mengetahui namaku, tidak tahukah kau bahwa aku murid dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tokoh besar dari selatan? Siapakah kau yang begitu berani mati mengantarkan nyawa sendiri kesini?”

“Aku bernama Kwan Cu dan gurumu itu sudah lama aku kenal. Tak perlu kau memperkenalkannya kepadaku lagi.”

An Kong sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi, sambil berseru keras dia lalu menyerang dengan joan-pian di tangan kanannya, diikuti oleh sambaran kebutannya yang menotok jalan darah Kwan Cu di bagian iga.

Kwan Cu maklum bahwa kepandaian An Kong cukup tinggi kalau dibandingkan dengan ahli silat-ahli silat tingkat biasa, namun baginya tentu saja bukan apa-apa. Dengan mudah dan sigap dia miringkan tubuh mengelak dari sambaran joan-pian, adapun serangan kebutan ke arah iganya itu dapat dia sampok dengan jari-jari tangannya. Secepat kilat Kwan Cu melanjutkan gerakan menyerang, dia menyampok muka pemuda botak itu dengan telapak tangannya.

An Kong terkejut sekali melihat cepatnya gerakan lawan dan bagaimana lawannya dapat menyampok serangan kebutannya yang terkenal lihai sekali itu. Cepat dia mempergunakan kebutannya untuk menangkis tamparan pada mukanya ini dengan maksud untuk melukai tangan Kwan Cu. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika kebutannya itu pada saat beradu dengan tangan lawannya, lalu terpental kembali dan menyabet ke arah mukanya sendiri! An Kong mengeluarkan teriakan tertahan dan cepat melompat mundur sambil berjungkir balik beberapa kali.

“Ha, An Kong, lihatlah baik-baik. Cambukmu lebih mengerti bahwa orang macam kau harus dihajar!” kata Kwan Cu yang tidak mau memberi hati lagi, terus pemuda ini menyerang dengan pukulan-pukulan tangan miring yang dipelajarinya dari lukisan-lukisan di dinding goa. Ini merupakan ilmu silat tangan kosong lain macam lagi yang telah dipahaminya, yakni ilmu silat yang dimainkan dengan kedua tangan miring dan jari-jari tangan terbuka. Kwan Cu menamakan ilmu silatnya ini Heng-pai-hud-jiu (Ilmu Silat Memuja Budha Tangan Miring). Namun gerakan kakinya masih mengambil sistem dari Ilmu Siat Sam-hoan-ciang (Ilmu Silat Tiga Lingkaran) yang dia pelajari dari suhunya, Ang-bin Sin-kai.

Menghadapi serangan-serangan aneh ini, An Kong tidak berdaya dan dia terdesak mundur terus. Biarpun pemuda botak ini mengerahkan kepandaian dan tenaga, mencoba menyerang lawan dengan sepasang senjatanya, namun tubuh lawannya seperti bayangan saja yang tak dapat diserang dengan senjata. Kwan Cu yang sudah tahu akan semua gerakan lawan, tahu pula ke mana arah mana senjata itu menyambar tentu saja lebih tahu dapat mempersiapkan diri mencari kedudukan yang kosong lalu menyerang tanpa mempedulikan sambaran senjata yang tentu takkan dapat mengenai tubuhnya yang sudah mengambil tempat yang kosong itu.

Adapun Kui Lan, gadis itu, berdiri dengan mulut ternganga. Ia tahu betul akan kelihaian An Kong yang memiliki kepandaian setingkat dengan The Kun Beng. Akan tetapi bagaimana pemuda aneh itu dapat menghadapinya dengan tangan kosong, bahkan dalam beberapa gebrakan saja telah mendesak An Kong sedemikian rupa?

Kwan Cu belum pernah menghadapi peristiwa seperti yang dia lihat di dalam kamar tadi. Hal ini menimbulkan kebenciannya terhadap An Kong dan kerena kali ini dia menghadapi musuh dengan hati benci, maka dia tidak main-main lagi dan menyelesaikan pertempuran itu secepat mungkin. Ketika lawannya sudah terdesak hebat di pojok kamar, Kwan Cu cepat memasukkan tangannya menghantam pinggang An Kong. Pemuda botak ini menjerit keras dan kedua senjatanya terlepas dari tangannya, lalu dia terhuyung-huyung dan roboh pingsan. Dari mulutnya keluar darah!

Pada saat itu terdengar pintu kamar diketok orang dan suara yang keras memanggil.

“Kong-ji (anak kong), kau belum tidur?”

Itulah suara An Lu Kui, pikir Kwan Cu. Ia mendengar pula tindakan kaki banyak orang, maka tahulah dia bahwa An Lu Kui tidak datang sendiri. Cepat ia melompat ke depan gadis itu.

Kui Lan melangkah mundur dengan wajah makin pucat. Sepasang matanya yang bening memandang kepada Kwan Cu penuh kecurigaan. Ketika Kwan Cu mengulurkan tangan dengan maksud mengajak gadis itu lari keluar dari tempat itu, Kui Lan mundur lagi sambil menggeleng-geleng kepala dan berkata,

“Tidak……. tidak……… jangan kausentuh aku.”

Bukan main gemasnya Kwan Cu mendengar ucapan ini. Mukanya menjadi merah sekali. Ia tahu bahwa gadis ini telah menjadi ngeri hatinya melihat laki-laki, setelah mengalami kekagetan dari An Kong. Hm, apakah dia menganggap aku seorang laki-laki mata keranjang? Hatinya gemas dan dia berkata dengan kaku,

“Nona, kamar ini sudah terkurung, aku tak perlu banyak cakap. Pendeknya, kau ingin keluar dari sini atau tidak?”

“Tentu saja!” jawab Kui Lan cepat dan gadis ini lalu menggerakkan kaki melompat ke arah jendela yang masih tertutup. Kwan Cu maklum akan maksud gadis itu, yakni hendak keluar. Akan tetapi, melihat gerakan gadis itu yang tidak begitu kuat, dia khawatir sekali dan sebelum gadis itu sampai di jendela, dia telah menyambar dan tahu-tahu dia telah memeluk pinggang yang ramping itu, terus dipondongnya tanpa mempedulikan betapa gadis itu meronta-ronta dalam pondongannya. Kwan Cu mencabut suling dan melompat ke arah jendela, sekaligus menendang daun jendela terbuka sambil memutar sulingnya.

Baiknya dia melakukan hal ini karena begitu jendela terbuka, beberapa batang golok telah menyerang ke arah jendela. Akan tetapi golok-golok ini tertangkis oleh putaran sulingnya sehingga beterbangan mencelat ke sana-sini dan ada pula yang patah menjadi dua! Kemudian Kwan Cu meloncat ke atas genteng.

An Lu Kui dan beberapa orang perwira menyusul, akan tetapi dua orang yang terdepan, roboh kembali ke bawah genteng karena tendangan Kwan Cu yang telah siap sedia. An Lu Kui yang sudah tahu akan kelihaian Kwan Cu, tidak berani mengejar, hanya berteriak-teriak memberi tanda kepada para pengawal istana untuk mengejar pemuda itu, kemudian dia segera memasuki kamar puteranya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat keadaan An Kong, maka dia segera menolongnya.

Adapun Kwan Cu dengan gadis itu masih berada di dalam pondongannya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng sampai dia tiba di dinding tembok yang mengelilingi kelompok bangunan istana. Para pengawal telah siap sedia dan segera mengeroyok pemuda itu. Akan tetapi mereka ini tentu saja hanya merupakan makanan empuk sekali bagi Kwan Cu. Dengan menggerakkan kedua kaki dan tangan kanannya, beberapa orang pengawal terlempar jauh dalam keadaan pingsan menimpa kawan-kawan lain sehingga para pengeroyok menjadi gentar. Ketika mereka memanndang, ternyata pemuda itu bagaikan seekor burung garuda, telah melompat naik ke atas dinding yang demikian tingginya.

Barisan anak panah dari dalam dan luar tembok menhujankan anak panah mereka ke arah bayangan Kwan Cu, namun pemuda itu terlalu gesit bagi mereka. Apalagi dengan tangan kanannya mengebut ke sana ke mari, anak-anak panah itu runtuh semua dan sebentar saja Kwan Cu telah melompat turun di luar tembok dan menghilang ke dalam kegelapan.

Gempar seluruh istana. Belum pernah istana diserbu oleh seorang pengacau sedemikian lihainya dan nama Lu Kwan Cu menjadi buah tutur semua orang. Ketika Lu Thong mendengar akan hal ini, diam-diam dia mengeluh dan berkali-kali menyayangkan bahwa pemuda sedemikian saktinya tidak mau bekerja sama dengan dia!

***

Kita tinggalkan dulu Lu Kwan Cu yang menolong Kui Lan dan membawa lari gadis itu dari dalam istana. Marilah kita menengok keadaan Menteri Lu Pin, menteri yang amat setia dan berjiwa patriot.

Di sepanjang lembah Sungai Fen-ho, di sebelah selatan kira-kira lima puluh lie dari kota Tai-goan, di antara kedua pegunungan besar yakni Pegunungan Tai-hang dan Pegunungan Lu-liang, terdapat daerah pegunungan yang liar. Banyak bukit-bukit kecil di daerah ini dan di antaranya terdapat sebuah bukit yang penuh batu karang, akan tetapi anehnya di atas batu-batu karang ini tumbuh pula pohon-pohon besar. Di atas bukit ini, di tempat yang amat tersembunyi dan tertutup oleh batu-batu karang raksasa yang menjulang tinggi, tempat yang amat sunyi dan sepi seperti mati, terdapat sebuah goa batu karang. Goa ini luar biasa besarnya dan amat gelap sehingga orang akan merasa ragu-ragu untuk memasukinya, karena goa semacam ini biasanya menjadi tempat persembunyian binatang-binatang buas. Bahkan di dalam dongeng, goa-goa besar seperti ini biasanya ditempati oleh naga-naga atau siluman-siluman buas!

Apalagi kalau orang memberanikan diri memasuki goa ini, mungkin dia akan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya. Agak ke sebelah dalam dari goa ini yang diterangi oleh cahaya matahari dari lobang-lobang di atas goa, terdapat pintu raksasa yang amat tebal dan berat. Sepuluh orang biasa saja belum tentu dapat mendorong pintu itu sampai terbuka.

Di belakang pintu raksasa ini terdapat ruang yang luas dan tinggi dan hebatnya di sepanjang dinding ruangan luas ini kelihatan barisan tengkorak-tengkorak yang tinggi besar, berdiri berderet-deret dengan mulut terbuka yang dahsyat itu menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar. Tengkorak-tengkorak ini dahsyat dan menyeramkan sekali karena amat besar dan tinggi. Tinggi tengkorak-tengkorak itu sedikitnya ada tiga kali tinggi manusia biasa.

Bukan main seramnya keadaan di situ. Tengkorak-tengkorak raksasa itu seakan-akan hidup. Mata mereka yang bolong itu seperti melirik-lirik dan gigi yang besar-besar itu seperti berbunyi menggerut-gerut. Bahkan kedua lengan besar-besar itu seperti bergerak-gerak hendak menerkam siapa saja yang berani memasuki ruangan itu.

Inilah Gua Tengkorak yang dijadikan tempat sembunyi oleh Menteri Lu Pin. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Menteri Lu Pin ditolong oleh Ang-bin Sin-kai dari kepungan para pasukan An Lu Shan, kemudian Ang-bin Sin-kai menunjukkan tempat sembunyi yang baik bagi adiknya itu, yakni di goa ini. Tadinya goa ini menjadi tempat bertapa dari Ang-bin Sin-kai selama bertahun-tahun dan di situ memang banyak terdapat tulang-tulang rangka bekas tulang binatang-binatang purbakala. Setelah Menteri Lu Pin bersembunyi di situ, menteri yang juga seorang ahli seni ukir yang amat pandai, dalam waktu senggangnya lalu membuat tengkorak-tengkorak dari tulang-tulang binatang purba dan didirikan disitu sebagai penjaga goa! Tengkorak-tengkorak raksasa inilah yang menolongnya dari bencana, karena siapa saja yang berhasil membuka pintu raksasa, akan terkejut dan ketakutan, lalu mundur kembali. Siapa orangnya yang takkan gentar menghadapi tengkorak-tengkorak raksasa yang demikian dahsyat dan mengerikan?

Di dalam persembunyian itu, Menteri Lu Pin tidak tinggal diam dan enak-enak saja. Ia mengadakan hubungan dengan para pemimpin pemberontak atau pejuang rakyat yang menentang pemerintahan An Lu Shan dan kawan-kawannya. Tiga orang panglimanya yang setia kerap kali datang ke goa itu untuk menerima petunjuk-petunjuk, mendatangi patriot-patriot yang dikenal baik oleh Lu Pin, menerima harta pusaka yang diambil sedikit demi sedikit untuk membiayai pasukan-pasukan pejuang!

Akhirnya, harta pusaka itu habis di pergunakan oleh para pejuang dan yang tinggal hanyalah sebatang pedang pusaka Kerajaan Tang yang disebut Liong-coan-kiam. Lu Pin merasa puas dan senang sekali betapapun juga, dia masih sempat melakukan bakti terhadap negara. Kalau tadinya para pemimpin pejuang masih suka datang untuk merawat dan mencarikan makan baginya, kini kakek ini tidak memperbolehkan mereka datang.

“Kalian berjuanglah. Usirlah penjajah dari tanah air dan tolonglah rakyat jelata daripada penindasan. Itulah kewajiban orang-orang gagah di dunia ini. Tentang aku……. jangan kalian pedulikan. Aku sudah tua dan kalau untuk mencari makan saja, di bukit ini masih banyak buah-buah dan sayur-sayur yang dapat kumakan. Tinggalkan aku seorang diri,” katanya.

Dan semenjak itu, benar saja kakek ini hidup sebagai seorang pertapa, seorang diri di tempat sunyi itu. Kalau dia merasa lapar, dia keluar dari goanya untuk mencari buah-buah yang dapat mengenyangkan perut. Pintu raksasa itu dapat dibuka dari dalam dengan mudah, karena ada alat pembukanya.

Pada suatu hari, karena makanan yang disediakan di dalam goa telah habis, kakek Lu Pin hendak keluar dari goa untuk mencari buah-buah baru. Seperti biasa, sebelum membuka pintu raksasa, lebih dulu dia mengintai dari lubang kecil yang sengaja dibuatnya untuk mencari tahu keadaan di luar goa.

Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa di luar goa itu telah penuh orang-orang yang berpakaian sebagai tentara dan mendengar pula ringkik kuda di luar goa. Ia dapat mengerti bahwa mereka ini adalah pasukan dari pemberontak An Lu Shan, maka segera dia menutup itu dan kembali ke dalam goa, duduk dekat hio-louw besar sekali sambil bersamadhi untuk menenteramkan hatinya. Ia maklum bahwa fihak pemberontak telah menemukan tempat persembunyiannya, akan tetapi diam-diam kakek ini tertawa memikirkan bahwa kedatangan mereka itu tentu bukan semata-mata untuk menangkapnya, melainkan lebih banyak tertarik untuk merebut kembali harta pusaka Kerajaan Tang. Dan harta pusaka itu telah habis dia pergunakan untuk membiayai perjuangan rakyat!

Benar saja dugaan Menteri Lu Pin. Yang datang itu adalah barisan penyelidik dari An Lu Shan yang terus-menerus mencari Lu Pin dan harta pusaka kerajaan yang dibawanya lari. Melihat keadaan goa ini, para penyelidik itu menjadi curiga. Biarpun mereka belum dapat memastikan bahwa orang yang dicari-carinya berada di dalam goa, namun keadaan goa yang tersembunyi ini hendak mereka selidiki.

Di antara pemimpin pasukan ini, terdapat beberapa orang perwira yang kuat dan berkepandaian tinggi. Dengan mempersatukan tenaga, mereka dapat juga akhirnya membuka pintu raksasa. Akan tetapi segera mereka melompat mundur kembali dengan muka pucat sekali dan tubuh menggigil ketika mereka menyaksikan barisan tengkorak besar-besar menyambut mereka di belakang pintu! Dan anehnya pintu raksasa itu tertutup sendiri! Hal ini sebetulnya terjadi karena memang pintu itu dipasangi alat oleh Menteri Lu Pin dan apabila terbuka, dapat tertutup kembali. Untuk kakek itu, mudah saja membuka pintu dari luar karena ada rahasianya dari luar.

“Goa siluman….” berkata seorang perwira ketakutan.

“Goa tengkorak raksasa…… siapa tahu di dalamnya terdapat siluman atau raksasa hidupnya?” kata yang lain.

“Agaknya tak mungkin tempat seperti ini didiami oleh manusia,” kata pula suara lain.

Akan tetapi mereka tetap tidak mau meninggalkan goa itu dan menjaga di luar goa, agak jauh di tempat aman, sampai dua pekan lamanya! Tentu saja kakek Lu Pin yang sudah tua dan lemah tubuhnya itu, tidak dapat menahan lagi. Setiap hari dia mengintai dari lobang dan melihat betapa goa itu tetap terjaga, tahulah dia bahwa dia akan mati kelaparan di dalam goa. Namun dia tidak gentar menghadapi maut dan di dalam keadaan tersiksa ini, teringatlah dia akan Lu Kwan Cu. Seluruh keluarganya telah musnah, kecuali Lu Thong. Ia mendengar dari para pemimpin pejuang rakyat bahwa cucunya itu bahkan menerima kedudukan dari pemberontak An Lu Shan. Hal ini amat menyakitkan hatinya.

“Thian Yang Agung, mengapa dalam keluarga hamba terlahir manusia seperti itu? Rusak dan hancurlah nama keluarga Lu oleh binatang Lu Thong itu….” berpikir sampai disini, seringkali kakek ini menangis sedih. Kemudian dia teringat kepada Lu Kwan Cu, cucu angkatnya. Kepada anak inilah harapannya disandarkan dan sekarang, dalam menghadapi maut, kakek ini mengerahkan sleuruh tenaga terakhir untuk mengukir beberapa huruf di dinding goa. Dengan tangan-tangan gemetar dan tubuh lemas dia mengukir huruf-huruf pesan terakhir untuk Lu Kwan Cu ini, kemudia setelah ukiran huruf-huruf itu selesai, dia roboh tak sadarkan diri lagi sampai maut merenggut nyawanya!

Pada saat bekas Menteri Lu Pin yang setia itu menghembuskan napas terakhir di dalam Goa Tengkorak, di luar goa terjadi hal yang lebih hebat lagi.

Tiga orang tinggi besar berpakaian seperti petani sedang dikeroyok hebat oleh puluhan orang pasukan penyelidik An Lu Shan. Mereka ini bukan lain adalah tiga orang panglima yang dahulu mengawal Menteri Lu Pin. Sudah berbulan-bulan mereka tidak datang dan kini mereka sengaja datang hendak mengunjungi kakek Lu Pin. Alangkah kaget dan cemas hati mereka melihat puluhan orang anggauta pasukan musuh sedang menjaga di situ!

Tanpa banyak tanya lagi, tiga orang panglima yang kini sudah berganti berpakaian seperti petani itu lalu mencabut sejata dan menyerang pasukan musuh. Mereka mainkan golok besar mereka dan sekali lagi mereka mengamuk seperti ketika dahulu mereka mengamuk membela Lu Pin dari kepungan bala tentara musuh. Banyak anggauta tentara lawan mandi darah menjadi korban golok besar mereka.

Akan tetapi selain fihak musuh terlalu banyak jumlahnya, juga disitu berkumpul pula para perwira-perwira barisan pemberontak An Lu Shan yang berkepandaian tinggi, maka tiga orang panglima itu sebentar saja telah terkurung dan terdesak hebat. Telah ada beberapa luka di tubuh mereka terkena senjata musuh, namun mereka mengamuk terus laksana tiga ekor naga sakti.

Pada saat nyawa tiga orang panglima gagah yang setia terancam maut, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Anjing-anjing pengkhianat, rebahlah kalian!”

Bentakan ini disusul munculnya seorang gadis cantik gagah sekali. Usianya masih sangat muda, baru belasan tahun. Pakaiannya sederhana dan ringkas, pedangnya tergantung dipinggang sebelah kiri. Namun gadis muda ini benar-benar hebat sekali sepak terjangnya. Begitu ia muncul, terdengar jeritan-jeritan di sana-sini dan kelihatan robohnya banyak anggauta tentara An Lu Shan yang mengeroyok tiga orang panglima itu. Padahal gadis itu tidak mencabut senjata sama sekali dan hanya mempergunakan kedua tangan dan kakinya saja.

Melihat hal ini, para perwira yang tadi mendesak tiga orang panglima pengikut Lu Pin itu, terpecah menjadi dua dan empat orang perwira segera menyambut kedatangan gadis itu. Melihat gerakan yang tangkas dan kuat dari para perwira, gadis ini lalu mencabut senjatanya, sebatang pedang panjang yang berkilauan cahayanya tertimpa cahaya matahari.

Namun empat orang perwira musuh itu ternyata cukup tangguh sehingga biarpun dengan susah payah, mereka masih dapat menghadapi amukan gadis cantik ini. Akan tetapi tiba-tiba entah darimana datangnya, muncul seorang nenek tua yang memegang cambuk. Sekali cambuknya berbunyi di udara, empat orang perwira yang mengeroyok gadis itu berseru kaget dan senjata golok mereka terbang pergi dari tangan mereka. Ternyata bahwa cambuk itu mempunyai sembilan cabang dan kini dengan sekali gerakan saja telah dapat membelit dan merampas senjata empat orang itu sekaligus! Gadis itu berseru gembira dan dua kali pedangnya bergerak, robohlah dua orang perwira dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Yang dua lagi tidak sempat melarikan diri, karena cambuk nenek itu mengejar mereka dan ujung-ujung cambuk yang seperti ular itu menotok jalan darah kematian di punggung mereka, membuat mereka roboh tak bernyawa lagi.

Kemudian gadis dan nenek itu mengamuk. Banyak sekali tentara di fihak musuh tewas, termasuk para perwira yang mengeroyok tiga panglima pengikut Lu Pin. Hanya sedikit saja yang dapat melarikan diri, karena biarpun banyak yang melompat ke atas kuda dan membalapkan kuda mereka, namun gadis cantik itu mengeluarkan panah tangan dan berkali-kali tangannya bergerak. Setiap gerakan melayangkan sebatang anak panah dan robohlah seorang penunggang kuda. Dari puluhan orang pasukan itu, hanya ada tujuh orang saja yang sempat melarikan diri dan terbebas daripada maut.

Siapakah gadis dan nenek yang sakti itu? Bukan lain nenek itu adalah Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti tokoh besar dari selatan. Gadis itu adalah muridnya, yakni Bun Sui Ceng, bocah perempuan yang dulu amat lincah itu dan kini telah berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik dan perkasa.

Tiga orang panglima itu memandang semua sepak terjang yang hebat dari nenek dan gadis itu dengan bengong dan kagum. Kemudian mereka menjura dengan hormat dan seorang di antara mereka berkata,

“Banyak terima kasih atas budi pertolongan Suthai dan Lihiap. Kalau tidak ada pertolongan Ji-wi, tentu kami sudah menjadi korban keganasan anjing pemberontak itu. Mohon tanya siapakah Suthai dan Lihiap yang gagah perkasa.”

Kiu-bwe Coa-li mengerak-gerakkan cambuknya dengan sikap tidak sabar, “Sudahlah, cukup segala penghormatan ini. Pinni (aku) bukan menteri, juga bukan kaisar. Lebih baik lekas tunjukkan saja di mana adanya Lu Pin bekas menteri itu!”

Melihat sikap yang amat galak dari Kiu-bwe Coa-li, tiga orang panglima itu terkejut sekali. Mereka maklum bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang aneh dan maklum pula bahwa tokoh-tokoh sering kali mengejar harta-harta pusaka. Siapa tahu kalau-kalau nenek sakti yang galak ini pun mencari Menteri Lu Pin dengan maksud kurang baik. Mereka adalah patriot-patriot sejati yang gagah, yang siap mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa, siap pula membela Menteri Lu Pin yang amat mereka junjung tinggi.

“Suthai menanyakan Lu-taijin ada maksud apakah?” tanya seorang di antara mereka. Bun Sui Ceng memandang khawatir. Ia sudah maklum akan watak gurunya yang keras dan tidak mau dibantah oleh siapapun juga. Benar saja, nenek sakti itu mengerutkan kening dan pecutnya bergerak-gerak di tangannya.

“Kau peduli apa dengan urusanku? Hayo katakan di mana dia berada dan habis perkara!”

Namun tiga orang panglima itu adalah orang-orang yang setia. Jangankan baru gertakan seorang nenek tua yang sakti, biarpun maut mengancam nyawa, mereka takkan sudi membuka rahasia persembunyian Menteri Lu Pin.

“Kalau Suthai tidak memberitahukan maksud Suthai menjumpai Lu-taijin, maafkan kami tidak dapat memberitahukan di mana tempat tinggalnya.”

Baru saja pembicara itu menutup mulutnya terdengar bunyi “tar”, nyaring sekali dan cambuk di tangan nenek itu menyambar turun ke atas kepala tiga orang panglima tadi!

“Suthai, jangan…..!” Bun Siu Ceng melompat maju dan mengangkat kedua tangannya seakan-akan melindungi kepala tiga orang panglima itu. “Mereka adalah pejuang-pejuang rakyat, jangan dibunuh!”

“Pejuang atau bukan, mereka kurang ajar dan harus dibunuh, habis perkara!” jawab Kiu-bwe Coa-li dengan suara menyeramkan.

Sui Ceng cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara memohon.

“Suthai, ampunkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu siapa adanya Suthai. Biarlah teecu (murid) yang bicara dengan mereka.”

Cambuk berekor sembilan itu masih bergetar di tangan Kiu-bwe Coa-li dan dipegang di atas kepalanya. Akan tetapi, perlahan-lahan cambuk itu turun dan nenek itu berkata penuh penyesalan.

“Hm, kau anak nakal! Siapa peduli akan menteri dan kaisar? Dasar kau yang mencari-cari perkara!”

Namun jawaban ini sudah cukup bagi Sui Ceng. Setiap kali gurunya menyebutnya “anak nakal” itu berarti bahwa gurunya memenuhi permintaannya. Dengan girang dia lalu melompat bangun dan menghadapi tiga orang panglima yang memandang dengan mata terbelalak, masih kaget dan takut melihat sikap Kiu-bwe Coa-li yang aneh dan galak.

“Sam-wi Lo-pek (Paman Bertiga), sesungguhnya guruku ini tidak peduli sama sekali tentang di mana adanya Lu-taijin. Hanya atas desakanku saja beliau terpaksa mencari tempat persembunyian Lu-taijin. Harap Sam-wi jangan mencurigai kami. Biarpun kami sudah mendengar bahwa Lu-taijin membawa harta pusaka besar, namun kami bukan sebangsa perampok dan kunjungan kami hanya sekedar ingin bertemu karena aku ingin sekali bicara dengan orang tua yang mulia dan gagah perkasa itu.”

Merahlah wajah tiga orang panglima itu mendengar ini. Mereka segera menjura dalam sekali dan seorang di antara mereka berkata,

“Maaf, maaf! Mohon maaf sebanyaknya bahwa kami yang sudah menerima pertolongan, sebaliknya telah berani mati untuk mencurigai Ji-wi. Kebetulan sekali kami pun baru saja tiba dengan maksud mengunjungi Lu-taijin yang sudah lama kami tinggalkan di sini. Akan tetapi ketika tadi kami melihat pasukan pemberontak berkumpul di sini, kami menjadi khawatir dan segera menyerbu mereka. Lu-taijin berada di dalam goa itu, Lihiap. Marilah kita bersama masuk ke dalam untuk menemuinya, karena kami sudah sangat ingin melihat keadaannya.”

Biarpun tiga orang panglima itu bergerak cepat memasuki goa, tetap saja Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng dapat mendahului mereka. Dan alangkah heran dan kaget hati tiga orang itu ketika melihat betapa dengan tangan kirinya saja Kiu-bwe Coa-li dapat mendorong pintu raksasa itu sehingga terbuka, nampaknya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun juga. Mereka mengeluarkan lidah saking kagumnya. Mereka bertiga yang bertenaga besar masih tak dapat mendorong pintu itu terbuka dan biasanya mereka hanya masuk dengan mempergunakan alat pembuka pintu yang tersembunyi di luar pintu itu.

Lima orang ini memasuki pintu dan Kiu-bwe Coa-li nampak tertegun sejenak melihat tengkorak-tengkorak raksasa itu. Biarpun ia seorang nenek sakti yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya maut dan kejadian yang aneh-aneh dan menyeramkan, namun selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyaksikan tengkorak-tengkorak yang demikian menyeramkan. Adapun Bun Sui Ceng yang masuk di belakang gurunya, mengeluarkan seruan tertahan dan merasa bulu tengkuknya berdiri! Tak terasa pula dia memegang tangan gurunya.

“Apa kau takut?” tanya Kiu-bwe Coa-li tak puas sambil menoleh dan memandang kepada muridnya. Bun Sui Ceng cepat melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng, kini mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya yang manis.

Mereka masuk terus ke dalam dan tiba-tiba tiga orang panglima itu menjerit berbareng.

“Lu-taijin…….!” Tergopoh-gopoh mereka berlari menghampiri tubuh kakek yang sudah menggeletak miring di bawah dinding goa itu, tangan kiri memegang pedang Liong-coan-kiam, sedangkan tangan kanan memegang alat pengukir.

“Lu-taijin…..!” kembali tiga orang berseru sambil beramai-ramai mengangkat tubuh kakek itu yang sudah lemas dan dingin.

Melihat sekelebatan saja, Kiu-bwe Coa-li tahu bahwa kakek itu sudah tak bernyawa lagi.

“Tak perlu ribut-ribut, dia sudah mati,” katanya. “Mari kita pergi, Sui Ceng, untuk apa berdiam di sini lebih lama lagi setelah orangnya yang ingin kau temui itu meninggal dunia?”

Akan tetapi muridnya tidak menjawab dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, ia melihat muridnya itu tengah membaca ukir-ukiran yang berada di dinding tepat di mana kakek tadi menggeletak mati. Kiu-bwe Coa-li melangkah maju dan ikut membaca huruf-huruf yang diukir amat indahnya itu.

“Lu Kwan Cu”

Kau cucu tunggal setelah seluruh keluargaku dibakar oleh pemberontak An Lu Shan. Lu Thong tak termasuk hitungan. Kepadamu kuharapkan agar kau membinasakan seluruh keluarga An Lu Shan, bukan untuk membalaskan kesengsaraan keluarga, melainkan kesengsaraan rakyat dan negara! Pedang Liong-coan-kiam kuberikan kepadamu. Sekali lagi, bebaskanlah rakyat daripada angkara penjahat besar An Ku Shan sekeluarganya!

Kong-kongmu,

LU PIN

“Hebat, sampai nyawanya meninggalkan raga, beliau tetap seorang patriot sejati bagi nusa dan bangsanya,” kata Sui Ceng dan ketika Kiu-bwe Coali memandang, ia melihat mata muridnya itu berlinang air mata.

“Hm, hm, hm, kau telah terpengaruh oleh semangat kakek itu, Sui Ceng. Mari kita kembali ke gunung, untuk apa menyeret diri ke dalam kancah permusuhan?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Suthai. Biarpun Suthai di mulut berkata demikian, akan tetapi teecu telah tahu akan perasaan hati Suthai. Bukankah dahulu Suthai juga menjadi marah dan mencoba untuk membasmi kaki tangan An Lu Shan? Teecu akan membantu untuk memenuhi cita-cita Lu-taijin yang mulia, hendak teecu basmi penjahat-penjahat yang menindas rakyat itu,” katanya dengan gagah.

Kiu-bwe Coa-li menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mereka itu kuat sekali, Sui Ceng. An Lu Shan dibantu oleh orang-orang pandai dan agaknya sudah menjadi takdir bahwa negara kita harus berada di dalam kekuasaan mereka. Lagi pula, bukankah menurut pesan Lu-taijin, yang diserahi tugas adalah Lu Kwan Cu? Heran aku, siapakah Lu Kwan Cu itu?”

Tiba-tiba Sui Ceng tersenyum. Gadis ini memang luar biasa, mudah menangis dan mudah pula tersenyum. Ia teringat akan Kwan Cu, bocah gundul itu dan tak terasa pula tersenyum geli kalau mengingat betapa tugas seberat itu diserahkan kepada bocah gundul setolol itu!

“Suthai, tidak ingatkah Suthai akan anak laki-laki yang menjadi sebab keributan dahulu? Semua tokoh besar memperebutkan dia, gara-gara kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu!’

Berubah wajah nenek sakti itu. “Ah….. dia……??” Ia mengerutkan kening dan berkata. “Sui Ceng, bocah itu bukan bocah biasa dan siapa tahu kalau-kalau dia sudah mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Sui Ceng kembali tersenyum geli. “Mana mungkin begitu, Suthai? Di waktu gurunya, Ang-bin Sin-kai, tewas oleh keroyokan kaki tangan An Lu Shan, Kwan Cu tidak muncul dan sudah lama dia tidak memperlihatkan diri. Bagaimana dia bisa melakukan tugas sepenting ini? Biarlah aku mewakilinya, karena tugas ini bukan hanya tugasnya, melainkan tugas setiap orang gagah yang membela negara dan bangsanya.”

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li bangga dan girang melihat sikap muridnya. Tidak percuma ia mempunyai murid yang hanya seorang ini, karena memang muridnya ini berjiwa gagah. Dia sendiri jemu untuk berurusan dengan segala keruwetan dunia, apalagi ia memang merasa kecewa ketika tidak berhasil membinasakan tokoh-tokoh yang mengkhianati bangsa.

“Baiklah, Sui Ceng. Kau boleh melakukan tugas ini, akan tetapi kau berhati-hatilah. Dan jangan lupa bahwa kau harus mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maksudku sebetulnya, kau harus mencari pemuda murid iblis utara itu, The Kun Beng.”

Merah sekali wajah Sui Ceng. Ia mengerti akan maksud gurunya, akan tetapi untuk mendapatkan penjelasan yang lebih nyata, ia pura-pura bertanya,

“Mengapa teecu harus mencari dia, Suthai?”

“Bocah bodoh! Seorang anak harus mentaati kehendak orang tuanya. Aku sendiri sebagai gurumu, tidak bisa berkata apa-apa, karena dalam hal perjodohan, orang tuamulah yang lebih berhak. Biarpun ibumu sudah tida ada, akan tetapi pesannya harus ditaati. Bukankah ibumu sudah mengikatkan tali perjodohan antara kau dan The Kun Beng murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Nah, kaucarilah dia agar perjodohan dapat dilangsungkan segera. Tentu saja kau harus memberi tahu kepadaku apabila pernikahan akan dilangsungkan.”

Warna merah makin menjalar luas sampai membikin merah kedua telinga gadis itu.

“Aahh, Suthai……! Perlu benarkah itu? Antara dia dan aku tidak ada hubungan sedikit pun juga. Bahkan semenjak kanak-kanak sampai sekarang, aku tak pernah melihat dia!”

“Biarpun begitu, Sui Ceng. Jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Thian dan disahkan oleh orangtua. Apakah sukarnya mencari murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Dia tentu lihai sekali seperti suhunya.”

Sui Ceng cemberut. “Biarpun dia lihai dan baik, teecu tidak peculi, Suthai. Mana ada wanita mencari laki-laki? Kalau dia memang sudah diikatkan dengan teecu, mengapa bukan dia yang mencari teecu? Mengapa harus teecu yang mencarinya? Teecu tidak sudi!”

Kiu-bwe Coa-li tertawa, suara ketawanya aneh sekali. “Bodoh, lupa bahwa kita berdua menyembunyikan diri di gunung dan tak seorang pun tahu di mana kita berdua? Andaikata dia mencari, apa kau kira dia bisa menemukan kita? Sudahlah, kau boleh berangkat dan hati-hatilah, jangan kau berpikiran singkat. Ingat semua nasihat dan pelajaran yang selama ini kaudapatkan dariku.” Kiu-bwe Coa-li meraba kepala muridnya dengan sentuhan mesra. Menghadapi sikap yang tidak seperti biasanya dari gurunya, terharulah hati Sui Ceng dan gadis ini lalu memeluk gurunya sambil menangis.

“Jaga baik-baik dirimu, Suthai. Tak lama lagi teecu tentu akan menyambangi Suthai di puncak gunung.”

Pada saat itu, tiga orang panglima sedang sibuk mencoba untuk memindahkan hio-louw (tempat abu hio) yang amat besar, akan tetapi sia-sia belaka. Hio-louw itu beratnya seribu kati lebih dan tidak dapat mereka angkat!

Mendengar suara mereka “ah-ah-uh-uh-uh!” mengerahkan tenaga, Kiu-bwe Coa-li menengok.

“Eh, eh, eh, tidak mengurus jenazah baik-baik melainkan mengangkat-angkat hio-louw besr itu, apa-apaan kalian ini?” Kiu-bwe Coa-li menegur mereka.

Mendengar ini, tiga orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li.

“Suthai yang mulia, tolonglah kami. Lu-taijin dahulu berpesan bahwa apabila beliau meninggal dunia, agar supaya jenazahnya dikubur di bawah hio-louw. Tidak tahunya hio-louw ini demikian beratnya sehingga kami bertiga tidak kuat memindahkannya.”

“hm, hm, hm, orang-orang lemah seperti kalian ini mana bisa berhasil melawan pasukan-pasukan An Lu Shan?” kata Kiu-bwe Coa-li mengejek, akan tetapi ia bertindak menghampiri hio-louw itu. Dengan tangan kanannya dia memegang telinga hio-louw dan sekali sentak, hio-louw itu terangkat naik dan diturunkannya lagi di tempat yang agak jauh dari tempat semula!

Tiga orang itu saling pandang dan mereka menghaturkan terima kasih sambil berlutut. Kemudian mereka cepat menggali lubang di bawah hio-louw itu. Kiu-bwe Coa-li mengambil pedang Liong-coan-kiam dari tangan jenazah Lu Pin, memandang pedang itu dan mengangguk-angguk kagum.

“Pedang pusaka yang baik,” katanya. “Suthai, pedang itu adalah pedang untuk Kwan Cu,” kata Sui Ceng, mengira bahwa gurunya menginginkan pedang tadi.

“Untuk apa pedang macam ini bagiku?” kata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tangan yang memegang pedang, pedang itu meluncur seperti anak panah dan tertancap sampai ke gagangnya pada dinding batu karang yang diukir oleh Lu Pin! Pedang itu tertancap di tengah-tengah tulisan-tulisan itu dan sukarlah bagi orang biasa untuk mencabutnya kembali!

“Aku pergi, Sui Ceng,” kata nenek itu dan tanpa menanti jawaban tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari situ.

Tiga orang panglima yang sedang menggali lubang, melihat kepergian nenek itu, menjadi bingung sekali. Mereka keluar dari lubang dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sui Ceng.

“Lihiap, harap kau jangan pergi dulu. Siapa yang akan mengembalikan hio-louw itu di tempat semula?”

Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi melihat kepada mayat Menteri Lu Pin yang wajahnya masih membayangkan keagungan, ia mengangguk. Tiga orang itu bekerja keras dan setelah lubang itu cukup dalam dan dengan penuh penghormatan dan di antar oleh tangis, mereka mengubur jenazah Menteri Lu Pin. Sui Ceng lalu mengerahkan tenaganya akan tetapi hanya setelah mempergunakan kedua tangannya, gadis ini dapat memindahkan hio-louw yang memang amat berat.

Tiga orang panglima itu juga membaca tulisan yang diukir di dinding, lalu mereka menyatakan kepada Sui Ceng bahwa mereka di dalam perjuangan hendak pula mendengar-dengar kalau-kalau ada pemuda yang dimaksudkan oleh mendiang Lu-taijin itu. Setelah itu, mereka lalu keluar dari goa. Sui Ceng berkata,

“Mari kita tutup goa ini dengan batu-batu agar tidak ada sembarang orang dapat memasukinya dan mengganggu goa ini.” Setelah berkata demikian, gadis ini melempar-lemparkan batu-batu besar menutupi mulut goa.

Tiga orang itu tertegun. “Akan tetapi…… bagaimana kalau pemuda yang bernama Lu Kwan Cu itu datang ke sini? Bagaimana dia akan dapat masuk?”

Sui Ceng tertawa. “Kalau dia sanggup menunaikan tugas yang diberikan kepadanya, apa susahnya untuk membongkar batu-batu ini dan membuka goa?”

Terpaksa tiga orang itu lalu membantu dan sebentar saja goa itu telah tertutup oleh batu-batu yang bertumpuk sehingga tidak kelihatan dari luar. Kemudain tanpa banyak cakap lagi Sui Ceng lalu melompat pergi diikuti oleh pandang mata tiga orang panglima itu yang merasa takjub dan kagum sekali.

***

“Turunkan aku……! Lepaskan aku…..! lepaskan, kau laki-laki kurang ajar!” Gadis dalam pondongan Kwan Cu itu meronta-ronta dan memaki-maki minta dilepaskan dari pondongan. Namun Kwan Cu tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menjawab bahkan membiarkan saja kedua tangan gadis itu memukul-mukuli dadanya. Ia merasa betapa pukulan tangan gadis itu cukup antep dan keras, namun baginya tidak terasa sama sekali. Diam-diam Kwan Cu merasa mendongkol sekali, maka dia sengaja tersenyum sambil berlari terus dengan cepatnya, keluar dari kota raja.

Akhirnya gadis itu tidak dapat melanjutkan makiannya karena ia merasa lelah, hanya menangis sambil menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda yang membawanya lari.

Setelah tiba jauh dari tembok kota raja, Kwan Cu masuk ke dalam hutan dan menurunkan gadis itu di bawah sebantang pohon. Malam telah berganti pagi dan keadaan yang suram sejuk itu menyatakan kepadanya akan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh gadis yang telah ditolongnya. Kwan Cu tersenyum.

“Nah, disini kau boleh memaki-maki dan menjerit sekerasmu. Para pengejar dari istana telah tertinggal jauh dan keadaan kita tidak terancam bahaya lagi.”

“Kau….. kau laki-laki kasar, kurang ajar dan sombong! Kau berani memondongku, laki-laki sopan tidak akan sudi menyentuh kulit tubuh seorang gadis yang tidak dikenalnya. Kalau ada kakakku disini, kau tentu akan dihancurkan kepalamu!” Gadis itu memaki lagi dengan sepasang matanya bersinar-sinar, menyaingi bintang pagi yang masih berkedip-kedip di angkasa.

Kwan Cu tersenyum lebar. “Kaumaksudkan kakakmu Gouw Swi Kiat? Murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Aha, dia takkan marah-marah seperti kau, bahkan akan mengucapkan terima kasih kepadaku. Wahai gadis manis, tahukah kau mengapa aku menolongmu?”

“Mengapa lagi kalau kau tidak tertarik oleh kecantikan seorang gadis muda? Laki-laki di mana-mana sama saja, gila kecantikan dan lupa daratan, lupa perikemanusiaan menjadi budak nafsu binatang!”

Berkerut kening Kwan Cu. Hatinya tersinggung sekali.

“Hmmm, entah karena memang watakmu yang galak dan kasar ataukah karena kau sudah mengalami banyak penderitaan maka kau dapat mengeluarkan tuduhan sekeji itu. Dengarlah, perempuan, aku menolongmu karena empat hal. Pertama-tama aku benci melihat An Kong si pangeran botak yang mata keranjang itu. Ke dua karena aku mendengar bahwa kau adalah kekasih The Kun Beng, seorang kenalanku yang baik. Ketiga karena kau adalah adik dari Swi Kiat seorang sahabatku pula, dan keempat karena aku melihat muka si tua Siangkoan Hai dan murid-muridnya. Kaukira aku mempunyai maksud lain apa lagikah? Kalau kau tidak suka, sudahlah, biarkan aku pergi. Terima kasih atas segala makian dan tuduhanmu yang keji!” Setelah melontarkan kata-kata ini dengan suara gemas, Kwan Cu lalu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Ia mengkal sekali.

“In-kong ……… (tuan penolong), perlahan dulu………”

Kwan Cu mengangkat alis dan menoleh. Ia tertegun melihat gadis itu berdiri memandangnya dengan mata sayu dan di atas kedua pipi yang halus itu nampak butiran-butiran air mata! Benar-benar heran sekali, bagaimana gadis ini yang tadi marah-marah sekarang berbalik menangis? Sikap dan watak wanita benar-benar merupakan teka-teki besar bagi Kwan Cu.

“Ada apalagi kau memanggil aku? Mengapa pula memakai sebutan In-kong? Aku tidak menolongmu. Apakah kurang cukup makian-makianmu tadi?”

Makin deras keluarnya air mata dari sepasang mata yang bening itu.

“Benar-benarkah kau…… tidak akan menggangguku seperti yang kusangka semula?”

Kwan Cu tersenyum pahit, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Kau memang manis dan mudah menggugah hati laki-laki untuk mengganggumu. Akan tetapi karena kau sudah terlalu banyak menderita yang diakibatkan oleh sinar mata keranjang pria kau lalu menganggap bahwa semua laki-laki gila nafsu dan mata keranjang. Tidak Nona, aku Lu Kwan Cu selama hidupku tidak akan mempergunakan kekerasan mengganggu wanita.”

Gadis ini terkejut mendengar nama ini, karena tadi di dalam kamar An Kong, ia sama sekali tidak memperhatikan nama ini.

“Jadi kau ini Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai yang sering di sebut-sebut oleh Kun Beng? Ah, maafkan aku….. maafkan aku yang sedang menderita ini….” Tiba-tiba gadis itu menubruk maju dan berlutut di depan Kwan Cu.

Pemuda ini menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Lalu dia mengangkat tubuh gadis itu sambil memegang kedua pundaknya.

“Sudahlah, Nona, tak perlu semua penghormatan ini dan kau janganlah terlalu berduka, tidak baik untuk kesehatanmu.”

Mendengar ucapan ini, gadis itu lalu memeluk dan menjatuhkan mukanya di dada Kwan Cu seakan-akan seorang adik yang minta hiburan dari seorang kakak yang menyayanginya.

“Nasibku amat buruk…..” keluhnya sambil menangis.

Kembali Kwan Cu menggeleng kepala berkali-kali. Aneh sekali watak gadis ini, pikirnya. Tadi ditolong dan dipondong begitu saja, memaki-maki dan meronta-ronta, mengatakan dia kurang ajar dan tidak sopan. Sekarang atas kehendak sendiri bahkan memeluknya dan mendekapkan muka di dadanya. Alangkah anehnya. Akan tetapi timbul hati kasihan di dalam hatinya menyaksikan gadis itu terisak-isak di dadanya.

“Tenanglah, diamlah, Nona. Mengapa kau begini berduka?” Tanpa terasa, darah Kwan Cu panas juga. Dia seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, apalagi bersentuhan kulit atau lebih-lebih lagi memeluk tubuh seorang gadis yang demikian cantik. Otomatis tangannya mengelus-elus rambut yang hitam panjang dan halus itu, sedangkan hatinya berdebar tidak karuan.

Rabaan tangan penuh kasih dan iba dirambutnya agaknya terasa oleh gadis itu. Dengan kaget ia menjauhkan dirinya, memandang kepada Kwan Cu, akan tetapi kini sinar ketakutan dan curiga telah lenyap dari matanya.

“Apakah kau kenal baik dengan Kun Beng dan kakakku Swi Kiat?” tanya gadis itu.

“Aku hanya bertemu dengan mereka sewaktu aku masih kecil. Dahulu kakakmu itu seorang anak yang berangasan, berbeda dengan Kun Beng yang halus dan ramah. Akan tetapi dahulu aku tidak tahu bahwa Swi kiat mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Kui Lan.”

Gadis itu, Gouw Kui Lan, tersenyum pahit. “Memang kakakku selalu ikut dengan gurunya dan aku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Akan tetapi sekarang kedua orang tuaku telah meninggal dunia dan aku hidup berdua dengan Kiat-ko. In-kong, aku hendak minta pertolonganmu, kauusahkanlah perdamaian antara Kiat-ko dan Kun Beng.”

“Eh, mengapakah? Apakah mereka itu berselisih?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: