Pendekar Sakti (Jilid ke-26)

Kui Lan mengangguk dan menarik napas panjang, lalu duduk di atas akar pohon. “Duduklah, In-kong. Mereka tidak hanya berselisih, bahkan Kiat-ko telah bersumpah untuk mencari dan membunuh Kun Beng…. Dan aku tidak rela melihat Kun Beng terbunuh olehnya. Aku…… aku cinta kepada Kun Beng.”

Merah muka Kwan Cu mendengar pengakuan yang dianggapnya amat ganjil dari mulut gadis ini. “Aku sudah mendengar ketika kau bicara dengan pangeran botak An Kong. Akan tetapi, mengapakah mereka bermusuhan? Mereka adalah saudara sepergururan, bagaimana mereka bias bermusuhan sedemikian hebat sehingga kakakmu bersumpah untuk membunuh sutenya sendiri?”

Sampai beberapa lama Kui Lan ragu-ragu, kemudian ia menghela napas dan berkata, “Kun Beng seringkali membicarakan engkau, dan memujimu sebagai seorang yang aneh dan berbudi. Oleh karena itu, tiada salahnya kalau aku menceritakan semua peristiwa yang kualami kepadamu, apalagi karena aku hendak minta tolong kepadamu untuk mengakurkan mereka kembali.”

Kui Lan lalu bercerita, menurutkan pengalamannya dengan singkat, akan tetapi agar lebih jelas bagi kita, marilah kita mengikuti sendiri semua pengalamannya itu.

Swi Kiat dan Kui Lan adalah putera-puteri dari keluarga Gouw yang bertempat tinggal di dalam Propinsi Hok-kian. Sesungguhnya ayah dari kedua orang anak ini adalah bekas seorang perwira Kerajaan Tang yang telah mengundurkan diri karena tidak suka melihat kaisar dan para pembesar lainnya melakukan korupsi besar-besaran dan bukan merupakan pemimpin dan pelindung rakyat, bahkan sebaliknya merupakan pemeras-pemeras berwewenang yang lebih jahat daripada perampok-perampok tulen.

Bekas perwira she gouw ini membawa keluarganya pindah ke dalam dusun dan uang simpanan yang tidak seberapa dia membeli tanah dan hidup sebagai petani yang berbahagia dan tenteram. Ia di segani di dusunnya karena selain luas pengertiannya, juga dia memiliki kepandaian silat yang bagi orang-orang dusun sudah amat tinggi sehingga dusun itu menjadi aman. Tidak ada orang jahat berani memperlihatkan aksinya setelah Gouw-ciangkun ini tinggal di situ.

Pada suatu hari, Swi Kiat dan adiknya bermain-main di halaman depan rumahnya. Ketika itu Swi Kiat baru berusia lima tahun dan Kui Lan berusai tiga tahun. Sebagai putera seorang petani, Swi Kiat memang amat rajin. Kalau dia tidak membantu para pekerja di ladang, baik hanya untuk mengawasi atau pun membantu sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan tenaganya yang masih kecil, tentu dia membantu pekerjaan ibunya. Pada hari itu, Swi Kiat bertugas menjaga adiknya yang masih kecil dan mengajaknya bermain-main.

Pada saat mereka bermain-main, tiba-tiba kelihatan seorang kakek kecil pendek yang berpakaian sederhana. Entah darimana datangnya kakek ini karena tahu-tahu telah berada di luar pekarangan rumah dan duduk di atas rumput, memandang ke arah dua orang anak yang bermain-main itu. Swi Kiat dan Kui Lan melihat pula orang itu, akan tetapi tidak memperhatikannya karena hanya mengira bahwa kakek itu seorang dusun lain yang duduk beristirahat. Padahal sebetulnya kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang tokoh besar yang baru namanya saja sudah cukup hebat untuk membuat penjahat-penjahat mengangkat kaki seribu!

“Engko Kiat, ambilkan bunga itu…..” kata Kui Lan merengek-rengek.

“Mengapa kau minta bunga yang buruk di atas pohon itu? Lebih baik kucarikan bunga teratai di empang atau bunga mawar di kebun belakang, lebih bagus dan mudah mengambilnya,” jawab kakaknya.

“Tidak mau, aku mau bunga yang di atas pohon itu!’ Kui Lan tetap merengek.

“Baiklah, baiklah, tapi jangan kau menangis,” Swi Kiat marah-marah, akan tetapi dia lalu naik ke atas pohon itu untuk mencarikan bunga bagi adiknya. Dalam usia lima tahun, Swi Kiat telah mulai berlatih silat dan tubuhnya digembleng oleh ayahnya sehingga dia memiliki tenaga dan kegesitan yang lebih daripada anak-anak biasa. Bagaikan seekor monyet, dia memanjat pohon itu dan megambilkan tiga tangkai bunga. Akan tetapi, sebelum dia turun, tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan gatal-gatal. Alangkah kagetnya ketika anak ini melihat bahwa dia telah dikeroyok oleh ratusan ekor semut merah karena tanpa disengaja dia tadi telah menyentuh sarang mereka.

Swi Kiat memiliki ketabahan besar dan biarpun dia sibuk sekali mengusir semut-semut yang menggigit di badannya, dia tidak mengeluarkan keluhan hanya berseru, “Semut….. semut…….!” Ia merayap turun sambil menggaruk sana menepuk sini. Gigitan semut-semut merah itu sakit dan gatal luar biasa sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi. Ketika dua tangannya sibuk mengusir semut, keseimbangan tubuhnya kacau dan dia terpeleset dari atas dahan!

Anak itu tentu akan mengalami bencana hebat karena dia terjatuh dari dahan yang tinggi sekali. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tiba-tiba terdengar suara orang.

“Bodoh sekali…..!” dan tahu-tahu tubuh Swi Kiat telah ditangkap oleh sebuah lengan yang pendek kecil sehingga dia tidak sampai terbanting ke atas tanah. Kakek yang tadi duduk di luar pekarangan, tahu-tahu telah berada di situ dan dapat menyambut tubuh Swi Kiat dengan amat mudah.

Swi Kiat masih sibuk mengusiri semut dan menggaruk ke sana ke mari. Biarpun semut-semut itu sudah pergi, namun gatal-gatal masih hebat sekali sehingga anak ini tidak mempedulikan kakek yang telah menolongnya.

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan pundak Swi Kiat ditampar. Aneh sekali, seketika itu juga lenyaplah rasa gatal dan sakit bekas gigitan semut, sungguhpun di sana-sini masih nampak merah-merah bekas gigitan. Swi Kiat memandang dengan mata terbelalak, barulah dia teringat bahwa kakek ini telah menolongnya, maka serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut.

“Kakek yang baik, terima kasih atas pertolonganmu.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai senang sekali melihat Swi Kiat. Ia dapat melihat bahwa anak ini bertulang baik dan bakatnya luar biasa. Juga melihat betapa dalam penderitaan anak itu tidak mengeluh sama sekali, membuktikan bahwa anak itu memiliki ketabahan dan ketenangan. Tiga tangkai kembang masih selalu di pegangnya, ini pun menyatakan bahwa dia memiliki dasar setia.

Swi Kiat lalu memberikan kembang itu kepada Kui Lan yang menerimanya dan terus bersembunyi di belakang kakaknya, karena ia takut melihat kakek kecil pendek yang suaranya nyaring itu.

“Anak yang tangkas, kalau hendak mengambil bunga di atas pohon, mengapa susah-susah memanjat pohon yang banyak semutnya?” kata Siangkoan Hai tertawa.

“Eh, kakek yang aneh. Kembang berada di atas pohon, kalau tidak memanjat naik, habis bagaimana mengambilnya?” tanya Swi Kiat heran.

Siangkoan Hai tertawa makin keras. “Banyak jalannya. Kau bias menyambit tangkai kembang sehingga kembang-kembang itu turun sendiri ke bawah, atau kau dapat melompat dan mengambilnya tanpa menyentuh dahan pohon yang banyak semutnya.”

Swi Kiat berpikir sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Membicarakannya mudah, akan tetapi siapa dapat melakukan hal itu?” Memang Swi Kiat seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah begitu saja kalau tidak melihat buktinya.

“Kau tidak percaya kepadaku? Lihat baik-baik!” Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengambil segenggam batu kerikil dan sekali tangannya bergerak, lima butir kerikil melayang ke arah pohon dan….. tak lama kemudian, lima tangkai bunga melayang ke bawah.

“Hebat sekali kepandaianmu menyambit, kakek yang baik. Akan tetapi, bagaimana dengan jalan ke dua?”

Siangkoan Hai tertawa makin keras dan tiba-tiba tubuhnya yang pendek kecil melayang ke arah pohon. Gerakan tubuhnya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata karena tiba-tiba dia sudah turun kembali dan ditangannya terdapat sepuluh tangkai bunga! Bunga-bunga ini dia berikan kepada Kui Lan yang tertawa-tawa gembira. Anak ini belum dapat menghargai dan mengagumi semua perbuatan kakek itu yang dianggapnya aneh. Yang membikin dia gembira adalah pemberian bunga-bunga yang banyak itu.

“Luar biasa sekali!” tiba-tiba terdengar suara Gouw-ciangkun datang berlari-lari dari luar pekarangan, terus menjura dengan hormat kepada Siangkoan Hai.

“Ayah, kakek ini lihai sekali, aku ingin belajar ilmu kepandaian dari padanya,’ kata Swi Kiat sambil memandang kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan mata kagum.

“Locianpwe benar-benar amat mulia, sudi mengajak main-main anak-anakku yang bodoh dan nakal,” kata Gouw-ciangkun.

“Memang puteramu ini berjodoh dengan aku, biarlah dia menjadi muridku,” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Gouw-ciangkun adalah seorang bekas perwira dan ahli silat, maka dia tahu akan perlunya anak-anaknya mempelajari ilmu silat. Mendengar ucapan kakek yang kecil pendek ini, dia lalu menjura dan berkata,

“Banyak terima kasih atas budi Locianpwe, akan tetapi bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai berwatak keras dan sombong, akan tetapi dia jujur dan baik hati. Ia tidak menjawab pertanyaan Gouw-ciangkun, karena baginya perkenalan tiada artinya dan bersopan-sopan juga bukan kegemarannya, dia bahkan bertanya kepada Swi Kiat.

“Eh, bocah tangkas. Sukakah kau menjadi muridku?”

Swi Kiat memang cerdik. Dia sudah yakin betul bahwa kakek ini seorang luar biasa maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu, teecu merasa gembira sekali.”

Siangkoan Hai tertawa dan menoleh kepada Gouw-ciangkun. “Puteramu sudah setuju, aku tiada banyak waktu. Selamat tinggal!” Tiba-tiba saja dia berkelebat dan tahuh-tahu kakek itu dan juga Swi Kiat tidak kelihatan pula bayangannya.

Gouw-ciangkun terkejut bukan main. Ia girang bahwa puteranya mendapatkan guru yang demikian lihai, akan tetapi dia juga gelisah karena tidak tahu siapakah gerangan guru anaknya itu. Maka biarpun kakek itu sudah tidak kelihatan, dia tetap berseru keras.

“Locianpwe, mohon kau sudi meninggalkan nama!”

Entah darimana datangnya, terdengar amat jauh akan tetapi jelas sekali, ada jawaban, “Orang menyebutku Pak-lo-sian!”

Mendengar ini, Gouw-ciangkun tertegun dan berdiri seperti patung. Ia girang bukan main dan juga kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kakek kecil pendek itu adalah tokoh besar dari utara yang karena kesaktiannya mendapat julukan Dewa Utara!

Demikianlah, Swi Kiat semenjak hari itu mengikuti suhunya dan tak lama kemudian gurunya mengambil murid seorang anak lain yakni The Kun Beng.

Hanya sekali setahun, kadang-kadang sampai dua tahun, Swi Kiat datang mengunjungi orang tuanya atas perkenan suhunya yang mengajaknya merantau jauh. Kehidupan keluarga Gouw aman dan tenteram sampai terjadinya sebuah peristiwa beberapa belas tahun kemudian.

Kui Lan telah berusia tujuh belas tahun dan ia merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita, bagaikan bunga mawa yang sedang mekar semerbak. Gadis ini pun mempelajari ilmu silat akan tetapi hanya dibawah pengajaran ayahnya sendiri yang tentu saja kalah jauh apabila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Siangkoan Hai. Setiap kali Swi Kiat mengunjungi orang tuanya, pemuda ini tentu memberi petunjuk-petunjuk kepada adiknya sehingga Kui Lan memperoleh kemajuan pesat. Tentu saja kini tingkat kepandaian Swi Kiat jauh melampaui ayahnya sehingga orang tua itu menjadi amat bangga dan girang.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, semenjak Gouw-ciangkun tinggal di dusun, keadaan di situ aman dan tenteram, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya. Apalagi setelah Kui Lan menjadi dewasa dan memiliki kepandaian silat tinggi, orang-orang makin menaruh hormat dan segan terhadap keluarga Gouw ini.

Akan tetapi, pada suatu hari, dusun ini kedatangan serombongan orang-orang kasar yang ternyata adalah gerombolan perampok ganas yang melarikan diri dari utara karena mereka diobarak-abrik oleh Swi Kiat dan Kun Beng! Kepala rampok yang memimpin gerombolan ini bernama Ang Hok yang berjuluk Tok-hui-coa (Si Ular Terbang Berbisa). Berkat penyelidikannya, Ang Hok mendapat keterangan bahwa seorang di antara dua pemuda murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang perkasa itu adalah putera Gouw-ciangkun yang tinggal di dusun Keng-kin-bun di sebelah utara kota raja. Dengan hati mengandung dendam, Tok-hui-coa Ang Hok lalu melarikan diri membawa anak buahnya yang belum tewas menuju dusun itu untuk membalas dendamnya kepada keluarga Gouw!

Pada senja hari itu, Gouw-cingkun ditemani oleh isterinya dan Gouw Kui Lan, tengah makan malam sehabis bekerja keras sehari penuh, mengepalai buruh tani di sawah. Mereka makan sambil bercakap-cakap dan seperti biasa yang dipercakapkan mereka tentulah Swi Kiat.

“Tahun baru kurang tiga pekan lagi,” kata Gouw-ciangkun, “tentu Swi Kiat akan pulang.”

“Dulu Kiat-ko bilang bahwa sekarang dia jarang ikut merantau suhunya, karena kakek itu sekarang selalu bertapa di puncak gunung. Bahkan Kiat-ko sering kali mendapat tugas untuk membasmi perampok-perampok dan membantu perjuangan rakyat terhadap pemberontak An Lu Shan,” kata Kui Lan menyambung.

Mereka bicara dengan asyik sekali. Tiba-tiba mereka terganggu oleh suara gemuruh di luar rumah, suara banyak orang datang berkumpul di situ. Lalu terdengar bentakan keras.

“Inilah rumah keluarga Gouw! Bakar habis, bunuh semua orang!”

Gouw-ciangkun cepat menyambar goloknya, sedangkan Kui Lan juga buru-buru lari ke kamarnya mengambil pedang. Akan tetapi pada saat itu, rumah bagian depan telah di bakar dan pintu depan telah didorong roboh oleh Tok-hui-coa Ang Hok. Di belakang ikut masuk anak buahnya yang sebanyak dua puluh orang.

“Penjahat-penjahat rendah darimanakah berani kurang ajar di rumah kami?” Gouw-ciangkun membentak marah dan menggerakkan golok menghadang mereka.

“Ha, ha, ha, ha, ha! Inikah Gouw-ciangkun yang menjadi ayah dari si laknat Gouw Swi Kiat? Keluarga Gouw, bersiaplah untuk terima binasa!” kata Tok-hui-coa Ang Hok sambil maju menyerbu, mainkan ruyungnya yang besar dan berat.

Gouw-ciangkun dapat menduga bahwa mereka itu tentulah penjahat-penjahat yang merasa sakit hati terhadap puteranya, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyambut serangan lawan dan mengamuk. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa telapak tangannya panas dan sakit ketika goloknya bertemu dengan ruyung itu. Ternyata bahwa tenaga kepala perampok itu besar sekali. Sebentar saja Gouw-ciangkun telah dikeroyok oleh banyak orang.

“Penjahat-penjahat anjing, jangan kurang ajar!’ Tiba-tiba Kui Lan membentak sambil melompat keluar dari kamarnya dengan pedang di tangan. Seorang anggauta perampok yang telah menghampiri nyonya Gouw dengan golok di tangan, tiba-tiba diserangnya dan penjahat itu menjerit dengan dada tertembus pedang!

“Ibu, menyingkirlah ke dalam kamar!” seru Kui Lan sambil memutar pedangnya, membantu ayahnya yang terkepun dan terdesak.

Adapun Tok-hui-coa Ang Hok ketika melihat munculnya seorang gadis yang demikian gagahnya, menjadi seperti linglung dan dia memandang tanpa berkedip.

“Ha, ha, ha, tak kusangka di sini terdapat setangkai bunga cilan yang harum! Kawan-kawan, keroyok dan binasakan anjing tua ini, biar aku memetik kembang itu!” katanya kemudian dan dengan ruyung diputar cepat dia menyambut Kui Lan.

Biarpun Gouw-ciangkun gagah, akan tetapi dia telah mulai tua dan tenaganya terbatas. Lagi pula selama menjadi petani, jarang sekali dia melatih ilmu silatnya dan juga tidak pernah bertempur, maka gerakannya kaku sekali. Bagaimana dia dapat menghadapi keroyokan belasan orang perampok itu? Memang benar bahwa dia telah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok setelah mengamuk nekat dan mati-matian, akan tetapi akhirnya tubuhnya menjadi korban keganasan para perampok, dihujani pukulan senjata tajam sehingga dia roboh mandi darah.

Adapun Kui Lan, mana ia dapat melawan Tok-hui-coa Ang Hok yang sudah kawakan dan penuh tipu muslihat pertempuran? Baru dua puluh jurus saja pedang di tangan gadis ini sudah terlempar jauh dan sebelum Kui Lan dapat mengelak, ia telah diringkus dan sebuah totokan di pundak membuatnya tidak berdaya lagi.

“Ha, ha, ha, kawan-kawan. Bunuh semua orang di dalam rumah dan bakar habis rumahnya!” teriak Ang Hok sambil lari keluar memondong tubuh Kui Lan.

Para perampok itu tentu saja tidak mau menyia-nyiakan waktu baik ini. Mereka merampok dulu habis-habisan, baru membunuh nyonya Gouw dan membakar rumah itu. Kemudian, dalam perjalanan mereka menyusul kepala mereka, mereka terlebih dulu merampok habis dusun itu dan melakukan permbunuhan keji.

Dalam keadaan lumpuh tertotok jalan darahnya, Kui Lan dibawa pergi oleh Tok-hui-coa Ang Hok ke arah pegunungan batu karang dimana banyak terdapat goa-goa yang besar. Di goa-goa itulah sarang para perapok yang baru datang dari utara ini. Di sepanjang jalan terdengar suara Ang Hok tertawa-tawa menyeramkan. Kepala rampok yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan berwajah menyeramkan ini merasa girang sekali. Sekali ini hasil pekerjaannya memang hebat. Tidak saja dia dapat membalas dendam dan menghabiskan keluarga Gouw untuk membalas sakit hatinya terhadap Gouw Swi Kiat, juga dia berhasil mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita seperti Kui Lan yang telah dipondongnya itu.

Hampir pingsan Kui Lan mengalami perlakuan yang kasar dan tidak senonoh oleh kepala rampok ini, akan tetapi apa dayanya? Selain kalah pandai dalam ilmu silat, juga ia telah dibikin tidak berdaya, semua urat-urat ditubuhnya lemas dan tenaganya lenyap. Baiknya sebelum Ang Hok melakukan hal-hal yang lebih hebat lagi, datanglah anak buahnya, tertawa-tawa sambil memanggul hasil-hasil rampokan.

Ang Hok meninggalkan Kui Lan dan keluar dari dalam goa, menemui anak buahnya.

“Kawan-kawan sekalian. Bunga yang kupetik itu benar-benar cantik dan aku telah mengambil keputusan untuk menjadikan isteriku. Bersiaplah untuk merayakan pesta pernikahanku malam nanti!’

Kawan-kawannya bersorak gembira. Memang hal itu merupakan hal baru yang mengherankan. Biasanya kepala rampok itu mengganggu anak bini orang dan setelah bosan lalu dioperkannya kepada anak buahnya. Baru kali ini agaknya kepala rampok itu jatuh hati terhadap seorang wanita!

Kawanan perampok itu lalu mendatangi dusun-dusun dan memaksa orang-orang dusun untuk menyediakan hidangan untuk meramaikan pesta pernikahan kepala mereka. Kasihan sekali orang-orang dusun ini, karena mereka dengan hati berat dan terpaksa harus melakukan segala perintah ini. Suasana di pegunungan batu karang pada malam hari itu ramai sekali dan para perampok menari-nari dan minum sampai mabuk.

Akan tetapi, tiba-tiba di sana-sini terdengar jeritan orang dan beberapa orang perampok roboh tak bernyawa lagi. Seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali tahu-tahu telah berdiri di situ dan kedua tangannya bergerak-gerak. Setiap kali tangannya bergerak, sebutir benda hitam melayang dan mengenai seorang perampok yang tak dapat menghindarkan diri lagi, terus saja roboh dan mati!

Geger keadaan di situ. Orang-orang dusun melihat kesempatan baik ini, cepat-cepat melarikan diri, pulang ke rumah masing-masing di bawah gunung. Adapun para perampok menjadi amat marah dan sebentar saja pemuda itu telah dikepung oleh perampok-perampok yang memegang senjata tajam di tangan.

Tok-hui-coa Ang Hok sendiri sudah menghadapi pemuda itu dengan ruyungnya yang berat. Sepasang matanya yang besar itu menjadi merah. Bukan main marahnya melihat pesta pernikahannya diganggu orang, apalagi orang itu hanya seorang pemuda saja. Akan tetapi, begitu dia mencabut ruyung dan melompat ke depan pemuda itu, barulah dia melihat siapa adanya orang ini dan terkejutlah dia bukan main. Pemuda itu dikenalnya sebagai The Kun Beng, orang kedua yang telah mengobrak-abrik sarangnya di utara, yakni sute (adik seperguruan) dari Gouw Swi Kiat!

Tanpa banyak cakap lagi, Ang Hok lalu berseru, “Kawan-kawan, keroyok…..” Dia sendiri pun lalu memutar ruyungnya dan mengemplang kepala pemuda itu.

Memang benar, pemuda ini adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah kita kenal ketika masih kecil. Pemuda ini telah dewasa, wajahnya tampan sekali. Mukanya berkulit putih halus, berbentuk bulat dengan sepasang alis hitam melengkung panjang menghias sepasang mata yang tajam berapi-api. Akan tetapi biarpun matanya membayangkan pengaruh dan keberanian, mulutnya selalu tersenyum manis membayangkan kelembutan hatinya.

Kun Beng berdua dengan Swi Kiat memang telah mengobrak-abrik sarang Ang Hok yang mereka dengar amat jahat. Mereka berhasil mengobrak-abrik sarang, membunuh banyak perampok, akan tetapi Ang Hok tak dapat mereka tewaskan karena kepala rampok ini keburu melarikan diri. Lalu dua orang pendekar muda itu berpencar. Kun Beng berkewajiban untuk mengejar Ang Hok dan membasmi orang-orang jahat ini sampai ke akar-akarnya, adapun Swi Kiat hendak pergi membantu perjuangan para petani yang terkurung dan terancam oleh barisan dari pemerintah penjajah. Ini semua merupakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.

Demikianlah, di satu fihak Swi Kiat menuju ke barat untuk melakukan tugas membantu barisan pejuang rakyat, adapun Kun Beng terus mengejar Ang Hok ke selatan, Swi Kiat berjanji hendak menyusul ke selatan setelah tugasnya selesai.

Akan tetapi alangkah terkejutnya hati Kun Beng ketika tiba di dusun Keng-kin-bun pada malam hari itu, dia melihat rumah terbakar dan tangisan penduduk yang demikian memilukan hati. Cepat dia mencari keterangan dan begitu mendengar bahwa di dekat situ terdapat gunung batu karang yang dijadikan sarang oleh gerombolan kejam, dia segera berlari secepat terbang menyusul ke tempat itu. Dengan hati penuh kegeraman, dia melihat bahwa gerombolan itu bukan lain adalah sisa-sisa perampok yang telah dibasminya, sedang merayakan pesta pernikahan Ang Hok dengan seorang gadis dusun yang diculiknya! Segera pemuda ini menghujankan senjata rahasianya yakni batu-batu hitam biasa yang dipungutnya di mana saja. Memang, disamping ilmu silatnya yang tinggi, Kun Beng terkenal dengan kepadaiannya mempergunakan batu-batu kecil sebagai senjata rahasia. Ia melontarkan batu-batu bundar itu seperti seorang bermain gundu, akan tetapi jangan dikira bahwa batu-batu itu tidak berbahaya karena sentilan jari tangannya dapat membuat batu-batu itu berubah menjadi peluru yang dapat menembus tubuh manusia!

Demikianlah, setelah kini Ang Hok sendiri bersama anak buahnya maju mengeroyoknya, Kun Beng tertawa mengejek dan mengeluarkan senjatanya yang telah banyak dikenal dan ditakuti oleh para penjahat, yakni sepasang tombak pendek. Sekali tangkis saja, dua batang golok penjahat terlepas dari pegangan dan orang-orangnya roboh terpukul tombak yang gerakannya demikian cepat tak dapat diikuti oleh pandangan mata mereka.

Ang Hok maklum bahwa kepandaian pemuda ini memang lihai sekali, maka sambil berteriak-teriak mendorong anak buahnya untuk mengurung lebih rapat, dia lalu melompat dan lari ke dalam goa. Disambarnya tubuh Kui Lan dan dibawanya lari turun gunung!

Kun Beng marah sekali. Tombaknya digerakkan cepat dan sebentar saja belasan orang pengeroyoknya telah roboh malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi. Kemudian pemuda perkasa ini lalu melompat dan mengejar Ang Hok.

Karena ilmu lari cepat dari Ang Hok memang sudah tinggi, maka biarpun Kun Beng belum kehilangan bayangan kepala rampok itu, masih saja dia belum dapat menyusulnya sampai fajar menyingsing dari timur. Ang Hok bukan seorang bodoh. Ia tidak mau turun gunung, sebaliknya dia bahkan berputar-putar di sekitar pegunungan yang banyak batu karangnya itu sehingga dia dapat bersembunyi. Akan tetapi mata pemuda pengejarnya awas sekali dan kemanapun juga dia lari, selalu dapat dikejarnya.

Akhirnya Ang Hok nekat dan lari masuk ke dalam hutan batu karang penuh dengan rawa-rawa berbahaya. Tiba-tiba, ketika melintasi sebuah tempat yang tertutup rumput setengah kering, kepala rampok ini memekik keras dan tubuhnya amblas sampai kepinggang. Ternyata bahwa dia telah menginjak rawa berlumpur yang tertutup atau di tumbuhi oleh rumput! Ia meronta-ronta, namun gerakannya ini bahkan membuat tubuhnya tenggelam makin dalam sampai sebatas dada!

“Tolong…… tolong………..!” Betapapun kejam dan ganas adanya Tok-hui-coa Ang Hok, dan betapapun berani dan tabahnya, menghadapi maut yang mencengkeramnya sedikit demi sedikit, mulut maut yang menelan nyawanya lambat-lambat itu, timbul ngeri dan takutnya.

Kui Lan biarpun telah setengah lumpuh akibat totokan, namun ia masih sadar dan ia pun merasa ngeri ketika tubuhnya ikut amblas sampai pinggang. Ketika Ang Hok meronta-ronta, dia terbawa pula tenggelam sehingga sampai di pundak. Bahkan kedua lengannya yang lemas ikut pula tenggelam, berbeda dengan Ang Hok yang kini mengangkat kedua tangan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka dan terpentang lebar.

Tadinya Kun Beng telah kehilangan jejak Ang Hok, akan tetapi pekik mengerikan serta jeritan minta tolong itu menariknya ke tempat itu. Ia melihat betapa Ang Hok dan gadis itu terbenam di dalam lumpur dan rawa itu sebetulnya kurang lebih empat tombak lebarnya.

“Tolonglah aku…….!” jerit Ang Hok ketika dia melihat pemuda itu muncul di pinggir rawa.

Akan tetapi Kun Beng tentu saja tidak mau mempedulikannya, bahkan memutar otak bagaimana dia dapat menolong gdais itu yang sebentar lagi tentu terbenam sampai lenyap.

“Tolonglah…… Taihiap….. tolonglah aku……” kembali Ang Hok menjerit-jerit.

“Aku tak dapat menolongmu, pula agaknya inilah hukuman Thian kepadamu atas segala kejahatanmu, Tok-hui-coa,” kata Kun Beng dengan suara dingin. “Kalau aku dapat menolong juga, bukan kau yang kutolong, melainkan nona itu yang menjadi korbanmu.”

Tanpa disadarinya Kun Beng mengeluarkan kata-kata yang salah sehingga Ang Hok tiba-tiba menjadi beringas dan tertawa bergelak. “Kau tidak mau menolongku dan bermaksud menolong nona ini? Ha, ha, ha, lihat kalau kau tidak mau segera menolongku, sebelum aku mati terbenam, lebih dulu aku akan menekannya ke bawah Lumpur!” Sambil berkata demikian, kepala rampok ini lalu menaruh tangannya yang berlumpur di atas kepala Kui Lan. Memang, kalau dia mau, sekali tekan saja akan tamatlah riwayat hidup gadis ini, kepalanya akan terbenam di dalam lumpur dan akan mati.

Bingung sekali hati Kun Beng. Keparat, pikirnya, sekarang dia hendak memaksaku dengan dengan mengancam nyawa gadis itu. Akan tetapi pemuda ini melihat bahwa kalau dia menolong kepala rampok ini, tentu keadaan gadis itu akan terlambat dan akan mati juga. Diam-diam dia lalu menggenggam erat-erat sebutir batu hitam.

“Dia akan mati, mati tersiksa. Kalau aku turun tangan membunuhnya, lebih baik baginya, bagiku dan juga bagi gadis itu,” pikir Kun Beng dan secepat kilat tangannya menyambar. “Tak!” Sebelum dia tahu apa yang terjadi, kepala Ang Hok telah terkena sambaran batu dan dia tewas pada saat itu juga. Batu ini memasuki kepalanya dan kini dengan lemas dia terkulai, perlahan-lahan diisap oleh lumpur, seakan-akan di bawah lumpur terdapat siluman-siluman yang menarik kedua kakinya ke bawah!

Kini lumpur telah sampai di bawah leher Kui Lan. Kun Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi. Tubuhnya melompat dan melayang di atas permukaan rawa, kedua tangannya diulur ke depan. Karena tangan gadis itu sudah terbenam dan yang kelihatan hanya kepala, leher dan pundaknya, Kun Beng tak dapat berbuat lain kecuali menyambar baju di pundak gadis itu dan di dalam lompatannya yang kuat dan cepat, dia menarik baju itu.

“Breeeettt!”

“Celaka!” seru Kun Beng yang sudah berada di seberang rawa. Karena kuatnya gadis itu terbenam dan kuatnya dia menarik baju, dia tidak berhasil membetot tubuh gadis itu karena pakaiannya yang di sambar tadi robek-robek! Ketika dia menoleh, ternyata bahwa pakaian sebelah atas dari gadis itu telah lenyap dan “terbang”, kini berada di tangannya, pakaian yang penuh lumpur. Dengan muka merah dan bingung, Kun Beng melemparkan pakaian itu. Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi girang karena betapapun juga, sebelah tangan gadis itu telah keluar dari dalam lumpur, terbawa oleh betotannya tadi.

Adapun Kui Lan yang telah banyak mengalami penderitaan dan kekagetan semenjak tertawan oleh kepala rampok tadi, kini menjadi makin bingung dan malu sehingga kepalanya terkulai dan ia jatuh pingsan!

Sekali lagi Kun Beng melompat, kini menambah tenaga lompatannya. Ia berhasil menyambar lengan Kui Lan dan memabawa gadis itu ikut melayang. Akan tetapi tenaga lompatannya tertahan oleh berat tubuh gadis itu, apalagi karena lumpur yang menahan tubuh gadis itu ternyata banyak melenyapkan tenaga lompatan Kun Beng. Hal ini membuat Kun Beng dan Kui Lan melayang turun sebelum sampai di seberang lumpur itu! Akan tetapi, kepandaian Kun Beng ternyata sudah hebat sekali. Pemuda ini dengan tenang menahan napas, lalu berseru keras sekali dan tahu-tahu tubuhnya mumbul kembali dalam keadaan berpoksai (membuat salto) dan dengan memondong tubuh Kui Lan yang penuh lumpur, dia berhasil melompat ke seberang lumpur, di atas tanah yang keras! Pemuda itu menarik napas panjang dengan hati lega. Ia menoleh ke arah lumpur dan bergidik.

“Berbahya sekali.” Pikirnya. Kalau sampai dia terjatuh ke dalam lumpur itu bersama gadis yang dipondongnya, tentu mereka berdua akan tewas. Ia menoleh ke arah Ang Hok dan ternyata penjahat itu telah tenggelam, hanya kelihatan sedikit rambutnya saja. Ketika dia memandang ke bawah, ke arah tubuh gadis yang dipondongnya, mukanya menjadi merah sekali. Ternyata bahwa tubuh bagian atas dari gadis itu sama sekali tidak tertutup oleh pakaian lagi! Akan tetapi dia merasa lega bahwa tubuh itu diselimuti oleh lumpur tebal sehingga gadis itu seakan-akan memakai pakaian warna abu-abu yang amat pas dan ketat mencetak bentuk tubuh tubuhnya yang menggairahkan hati. Kun Beng lalu membawa lari gadis itu, kembali ke dalam goa di mana tadi dipergunakan oleh gerombolan perampok sebagai sarang. Ternyata di dalam goa itu terdapat segala macam keperluan, sampai-sampai di situ tertimbun beras dan makanan.

Kui Lan membuka matanya perlahan dan serentak gadis ini meloncat bangun begitu melihat bahwa ia terbaring di atas pasir di dalam goa. Hatinya berdebar keras dam alangkah kagetnya ketika ia menengok ke bawah melihat betapa dada dan punggungnya sama sekali tidak tertutup oleh pakaian. Kemudian ia melihat seorang pemuda duduk di atas batu membelakanginya, nampaknya tengah melamun. Pemuda itu adalah pemuda tampan dan gagah yang tadi menolongnya.

“Keparat!” desis mulut Kui Lan melihat pemuda ini karena ia teringat akan keadaannya yang setengah telanjang. Tanpa pikir panjang lagi ia lalu menerjang dengan kepalan tangannya. Akan tetapi, bagaikan mempunyai mata di belakang kepala, pemuda itu mengelak dan berdiri lalu menoleh sambil tersenyum.

“Nona, mengapa kau menyerangku?”

“Kau…. orang yang tidak tahu malu! Kau telah berani menghinaku, berani….. merobek pakaianku. Hayo kembalikan pakaianku!’

Biarpun hatinya berdebar tidak karuan dan darahnya panas mengalir di seluruh tubuhnya, terutama di mukanya yang tampan, Kun Beng berkata,

“Sabarlah, Nona. Aku tahu perasaanmu, akan tetapi harap kau jangan malu-malu. Biarpun pakaianmu sudah hilang, akan tetapi tubuhmu tertutup lumpur tebal. Bukankah itu sama pula dengan pakaian untuk sementara ini? Aku sengaja menanti sampai kau siuman agar kita dapat bicara secara baik-baik.”

“Kau….. kau kurang ajar!” seru Kui Lan dan kini ia cepat-cepat mempergunakan kedua lengan untuk disilangkan menutupi dadanya. Pergerakan ini membuat lumpur yang kering rontok sehingga nampak kulit yang putih. Kun Beng cepat membalikkan tubuh membelakangi gadis itu.

“Nona, aku sekarang sudah lega melihat kau tidak apa-apa. Sekarang aku akan pergi untuk mencarikan pakaian agar kau dapat memakainya. Akan tetapi pesanku, jangan sekali-kali kau banyak bergerak dan jangan melenyapkan lumpur itu, karena betapapun juga, lumpur itu merupakan pakaian yang indah dan cukup sopan.”

Setelah berkata demikian, Kun Beng berkelebat dan lenyap dari goa itu. Kui Lan tertegun. Bukan main cepatnya gerakan pemuda itu, pikirnya, luar biasa sekali. Alangkah gagahnya dan tangkasnya karena kalau tidak memiliki kepandaian tinggi, bagaimana dapat menolongnya dari cengkeraman penjahat dan dapat mengeluarkannya dari lumpur itu? Dan alangkah…. tampannya! Berpikir sampai disini, Kui Lan menjatuhkan diri duduk di atas batu dan tiba-tiba ia menjadi pucat. Baru sekarang ia teringat akan keadaan rumah dan orang tuanya.

“Ayah…… ibu……..!” Gadis ini berbisik dengan muka pucat sekali. Ia belum tahu dengan jelas bagaiman nasib ayah bundanya, karena ketika terjadi pengeroyokan, ia tidak sempat melihat keadaan ayahnya. Kui Lan melompat bangun dan lari keluar dari goa. Akan tetapi, ia segera melompat ke dalam kembali setelah ingat bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang! Ia bingung sekali. Menurutkan perasaannya, ingin sekali ia terbang kembali ke dusunnya melihat keadaan orang tuanya. Akan tetapi keadaannya tidak mengijinkannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari luar goa.

“Kui Lan, pakailah pakaian ini.” Dan dari luar goa lalu dilemparkan segulung pakaian yang diterima oleh gadis itu dengan girang. Cepat-cepat gadis ini menanggalkan semua pakaian yang masih menempel di tubuhnya karena pakaian yang sudah terbenam lumpur itu betul-betul membuat sekuruh tubuh terasa gatal-gatal dan kaku sekali. Setelah ia memakai pakaian yang dilempar masuk oleh Kun Beng, ternyata pakaian itu pas betul dengan tubuhnya dan cukup pantas biarpun hanya pakaian wanita petani.

“Terima kasih, kau baik betul……” kata gadis itu dari dalam goa.

“Tak usah berterima kasih, Kui Lan. Apakah kau sudah selesai berpakaian?” tanya pemuda itu dan tiba-tiba terasalah dalam hati Kui Lan betapa pemuda itu suaranya kini amat lemah lembut dan halus sedangkan panggilan namanya begitu saja juga jauh berbeda dengan tadi.

Akan tetapi gadis ini kembali teringat akan orang tua dan rumahnya, maka ia cepat melompat keluar dari goa itu. Kun Beng telah berdiri di depan goa dan mereka kini berhadapan.

“Aduh, pantas sekali kau memakai pakaian itu!” pujinya dengan pandang mata kagum.

Kui Lan menunduk dengan muka merah. “Jangan kau mengejek, ini hanya pakaian gadis petani sederhana saja.”

“Bahkan kesederhanaannya menonjolkan kecantikan yang wajar.” Kun Beng memuji lagi. Pemuda ini memang sengaja memuji dan hendak menghibur hati gadis yang cantik ini. Karena ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan tadi, dia mendengar betapa ayah bunda dari gadis ini telah dibunuh secara mengerikan oleh kawanan perampok, sedangkan rumahnya terbakar musnah!

Berdebar hati Kui Lan mendengar pujian-pujian itu. Ia mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu. Memang tampan, tampan dan gagah sekali, pikinya. Dua pasang mata bertemu dan keduanya memandang penuh arti, sungguhpun berbeda sekali. Kun Beng memandang dengan penuh keharuan dan iba hati terhadap gadis itu, sebaliknya Kui Lan memandang dengan penuh kagum, terima kasih dan …… suka. Ya, hati gadis ini telah jatuh begitu bertemu pandang dengan Kun Beng.

“Kau….. siapakah namamu?” tanyanya setelah menunduk lagi karena pertemuan pandang itu membuat ia merasa malu-malu.

“Namaku The Kun Beng, pemuda perantau. Dan aku sudah tahu akan namamu, Kui Lan bukan? Aku mendengar dari orang-orang dusun itu.”

Kui Lan teringat kembali kepada orang tuanya, ia cepat meloncat dan berkata, “Aku harus pulang……!”

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa terkejut dan marah sekali karena Kun Beng telah menangkap lengan kanannya.

“Eh, kau mau apakah? Lepaskan tanganku!” bentaknya.

Kun Beng melepaskan pegangannya dan pandang matanya makin sayu.

“Kui Lan, kuminta supaya kau jangan kembali ke dusunmu.”

Gadis itu membuka matanya lebar-lebar. “Mengapa aku kaularang pulang dan apa maksud dan kehendakmu pula menahanku?”

“Marilah kita duduk di tempat teduh itu, Kui Lan dan kita bicara dengan tenang.” Tanpa sungkan-sungkan lagi Kun Beng lalu memegang tangan gadis itu dan menggandengnya, seperti laku seorang kakak terhadap seorang adiknya.

Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Kun Beng dan pemuda ini sama sekali tidak kelihatan hendak berbuat kurang ajar, hati Kui Lan mulai berdebar gelisah. Pasti ada apa-apa yang hebat, pikirnya. Otomatis ia teringat akan orang tuanya maka dengan wajah pucat ia lalu memegang lengan pemuda itu tanpa menanti sampai di tempat teduh dan mengguncang-guncang lengan itu.

“Taihiap…… katakanlah, apa yang terjadi dengan dusunku…….? Dengan orang tuaku……..??”

Kun Beng mengerutkan alisnya. “Sabar dan tenanglah, Kui Lan. Mari kita duduk di tempat yang teduh dan kau harus mendengar dengan tenang.”

“Tidak, tidak! lekas kau katakan sekarang juga, atau…… lebih baik aku pulang!” Ia hendak pergi, akan tetapi kembali Kun Beng menangkap lengannya. Pegangan tangan pemuda itu demikian kuatnya sehingga takkan ada gunanya kalau kiranya gadis itu memberontak.

“Apa boleh buat, Kui Lan. Dengarlah, kawanan perampok itu telah banyak mendatangkan bencana di kampungmu, merampoki rumah-rumah, membakar dan membunuh.”

“Ayah dan ibu…..?”

Kun Beng mengangguk perlahan. “Ayah bundamu tewas dan rumahmu dibakar oleh mereka…..”

Kui Lan semalam mengalami hal-hal yang menggoncangkan batinnya, dan tubuhnya masih lemah sekali. Kini mendengar warta yang hebat ini, seketika ia menjadi pucat, terhuyung dan tentu akan roboh kalau Kun Beng tidak cepat-cepat memeluk dan memondongnya. Pemuda ini memang sudah dapat menduga lebih dulu, maka cepat dia menotok jalan darah di leher gadis itu agar goncangan hebat tidak merusak ingatan gadis itu. Ia sengaja melarang gadis itu ke kampungnya, karena kalau gadis itu melihat sendiri bencana yang menimpa keluarganya, akan lebih fatal akibatnya. Untuk menjaga ini pula, ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan, dia sengaja menyeret mayat-mayat perampok dan melempar mereka ke dalam rawa lumpur sehingga mereka semua terkubur di situ, agar tidak kelihatan lagi oleh gadis itu musuh-musuh besarnya yang telah menghancurkan keluarganya.

Kemudian dia lalu membawa tubuh Kui Lan kembali ke dalam goa. Kui lan mengalami pukulan batin dan tubuhnya mulai panas sekali. Ketika ia siuman dari pingsan, ia mengigau, memanggil-manggil ayah bundanya dan berkali-kali ia roboh pingsan. Kun Beng mersakasiha sekali dan pemuda ini merawatnya baik-baik.

Selama tiga hari Kui Lan berada dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, namun berkat perawatan yang penuh perhatian dari Kun Beng, krisis berbahaya telah lewat dan ia mulai sadar kembali. Panasnya berangsur-angsur berkurang dan kini ia merasa letih dan lemah. Ketika ia membuka matanya pada pagi hari ketiga, ia melihat Kun Beng duduk di dekatnya sambil memegang sebuah mangkok bubur.

“Makanlah Kui Lan. Bubur ini akan menguatkan tubuhmu,” katanya halus.

Kui Lan untuk sejenak merasa nanar dan dikumpulkannya ingatannya, mengenangkan semua peristiwa yang telah terjadi. Kemudian ia menangis sambil sambil menutupkan kedua tangan dimukanya, teringat ia akan ayah bundanya yang tewas.

“Tenang, Manis. Jangan menurutkan perasaan hati,” Kun Beng menghibur.

“Aku……sebatang kara ….” Kui lan mengeluh.

“Apa kaukira aku bukan orang?” Tanpa disengaja Kun Beng berkata demikian, maksudnya hanya untuk menghibur.

Kui Lan bangun duduk, akan tetapi meramkan mata karena pusing. Kun Beng cepat menjaga pungungunya dan menempelkan mangkok pada bibir gadis itu.

“Minumlah bubur ini dulu.”

Tanpa membuka matanya, Kui Lan makan bubur itu, atau lebih tepat meminumnya. Habislah bubur hangat itu dan ia merasa peningnya hilang dan tubuhnya segar. Dibukanya kembali matanya, dan dipandangnya muka pemuda yang berlutut di dekatnya.

“Berapa lamakah aku tak sadarkan diri?”

“Kau terkena demam, selama tiga hari dan kau tidak ingat apa-apa, setiap hari hanya mengigau saja,” kata Kun Beng tersenyum. “Syukurlah sekarang kau telah sehat kembali.”

“Tiga hari? Dan selama itu….. kau telah menjaga dan merawatku di sini?”

Merah muka Kun Beng ketika gadis itu memandangnya sedemikian rupa. Ia mengangguk, akan tetapi segera dibukanya mulutnya.

“Apa artinya itu? Kau perlu ditolong dan di sini terdapat banyak bahan makanan.”

“Ahh …. The-taihiap…. kau baik sekali…” kembali Kui Lan menangis saking terharu dan juga bersyukur bahwa dalam penderitaannya yang hebat, ia bertemu dengan seoarang pendekar muda yang demikian gagah perkasa dan budiman.

“Hushh, sudahlah, memang sudah kewajibanku untuk menolongmu,” kata Kun Beng sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.

Tiba-tiba Kui Lan memegang lengan Kun Beng erat-erat. “Katakan, Taihiap, mengapa kau menolongku? Mengapa kau rela mengorbankan waktu dan tenaga untukku?” Mata gadis itu memandang tajam dan kini terlihat sinar mata yang ganjil dan yang membuat Kun Beng berdebar hatinya. Gadis itu memang cantik sekali dan menarik hatinya yang masih muda dan membuat darahnya yang masih panas itu bergolak.

“Mengapa? Karena kau perlu ditolong, karena aku kasihan padamu…….”

“Taihiap, kau ….kau suka kepadaku?”

Makin merah muka Kun beng. Pertanyaan seperti ini tak disangkanya akan keluar dari mulut gadis itu. Akan tetapi dia maklum gadis itu masih lemah hatinya, masih amat perasa hatinya, dan sekali-kali tidak boleh dibikin kecewa atau berduka. Untuk sekedar menghibur hati gadis itu, harus dibikin senang hatinya, dan pula memang dia suka kepada Kui Lan. Laki-laki manakah yang tidak akan suka melihat gadis yang demikian cantik manis, dan juga yang harus dikasihani nasibnya?

“Tentu saja, Kui lan. Aku suka sekali padamu,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Dengan mata basah Kui Lan memandang kepada pemuda itu, suaranya tergetar penuh haru ketika ia mengajukan pertanyaan penuh mendesak.

“Dan cinta kepadaku?”

Bukan main bingungnya hati Kun Beng. Cinta? Ini lain lagi halnya. Ia tidak berani memastikan apakah dia cinta kepada gadis ini. Apakah suka itu cinta? ia memang suka dan kasihan, akan tetapi apakah ini boleh disamakan dengan cinta? Ia masih terlalu hijau untuk mengetahui soal-soal pelik ini. Semenjak Kun Beng sudah pandai mempertimbangkan sesuatu, pertunangannya dengan Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe coa-li seperti yang telah ditetapkan oleh gurunya membuat dia sering kali termenung mengenangkan wajah Sui Ceng. Wajah seorang anak perempuan yang lincah, gembira dan juga manis sekali. Wajah ini lambat-laun menjadi bayang-bayang dalam mimpi dan biarpun dia tidak pernah bertemu dengan tunangannya itu, namun dia menggambarkan di dalam angan-angannya seorang gadis yang gagah perkasa, berwajah cantik manis dan mencocoki hatinya setiap gerak-geriknya. Ia berkeras hati menentukan bahwa dia mencintai Sui Ceng, tunangannya itu. Bukankah sudah semestinya begitu?

Akan tetapi, bagimana dia harus menjawab gadis yang sedang menderita hebat ini? Wajahnya yang agak pucat yang kini basah dengan air mata, suara yang mengandung harap dan permohonan itu, ah, tidak sanggup Kun Beng mengecewakan Kui Lan. Pula, dia hanyalah seorang pemuda yang masih lemah pertahanan imannya menghadapi rayuan seorang wanita yang demikian cantiknya, yang dari pandang matanya merayu-rayu mengharapkan jawaban bahwa dia juga mencintai. Akhirnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun Kun Beng mengangguk-anggukkan kepalanya!

Kui Lan mengeluarkan keluh perlahan, suaranya yang menyatakan keharuan dan kebahagiaan hatinya. Ia lalu menubruk pemuda itu dan menyatakan keharuan dan kebahagiaan hatinya. Ia lalu menubruk pemuda itu dan menyadarkan muka pada dada Kun Beng. Pemuda ini merasa betapa air mata yang hangat menembus baju membasahi kulit dadanya. Sampai lama mereka berada dalam keadaan ini dan semenjak saat itu mereka tenggelam dalam gelombang asmara, bagaikan dua orang yang amat berbahaya. Kurang pandai sedikit saja menguasai kemudi biduk akan terguling tertelan buih-buih onmbak yang berupa nafsu-nafsu hewani dalam diri setiap manusia!

Sampai dua hari lagi mereka berdua berada di dalam goa itu. Pada hari kedua, di waktu senja, bayangan seorang pemuda bertubuh tegap bermuka gagah berlari-lari naik di pegunungan batu karang itu. Gerakannya amat gesit dan cepat, tanda bahwa dia telah memiliki ilmu ginkang yang luar biasa. Memang, setiap orang ahli silat tinggi yang melihatnya berlari-lari seperti itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang ahli dalam ilmu lari cepat Liok-te-hui-teng (Terbang di Atas Bumi).

Pemuda ini bukan lain adalah Gouw Swi Kiat, putera dari keluarga Gouw yang terbasmi oleh perampok, atau kakak dari Gouw Kui Lan. Wajahnya muram dan berduka, karena pemuda ini telah tiba di dusunnya dan melihat kehancuran keluargannya. Ketika dia bertanya tentang adik perempuannya, penduduk di dusunnya tidak ada yang dapat memberitahukannya, hanya menyatakan bahwa ketika terjadi keributan, Kui Lan dilarikan oleh kepala rampok yang bersarang di atas pegunungan batu karang itu dan yang tadinya hendak dijadikan isteri oleh kepala rampok.

“Kemudian datanglah seorang pemuda gagah yang membunuh semua perampok itu, dan tentang adikmu, entah bagaimana nasibnya. Kami sekalian tak seorang pun berani naik ke sana,” demikian orang-orang dusun menutup penuturannya.

Mendengar ini, Swi Kiat lalu langsung menuju ke gunung itu. hatinya sedih bukan main, juga geram dan marah. Kalau saja para perampok itu masih hidup, biarpun sampai ke ujung dunia, pasti akan dikejar dan dibunuhnya semua. Setalah mencari ke sana ke mari, akhirnya dia pun tiba di luar goa bekas sarang perampok dan lapat-lapat terdengar olehnya orang bercakap-cakap. Swi Kiat cepat menyelinap diantara batu-batu karang dan tanpa mengintai ke dalam, dia memasang telinga mendengarkan percakapan itu dari luar goa. Alangkah terkejutnya dan herannya ketika dia mengenal suara adiknya!

“Taihiap, sungguh aneh dan lucu kalau kita renungkan keadaan kita. Aku yang telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih, belum pernah mendengar riwayatmu, bahkan belum mengenal betul keadaanmu. Sebaliknya kau pun yang sudah dapat dikatakan menjadi suamiku, belum mengetahui betul keadaanku…” suara ini terdengar demikian manja dan mesra, dan Swi Kiat yang mengenal betul suara adiknya, menjadi ragu-ragu. Betul-betulkah itu Kui Lan yang bicara? Mengapa bicara seperti itu dan bicara kepada siapakah? Karena ingin tahu sekali, Swi Kiat dengan amat hati-hati mengintai dan alangkah herannya ketika dia melihat benar-benar adiknya dengan pakaian seperti petani wanita sedang rebah di atas lantai goa, merebahkan kepalanya di atas pangkuan seorang pemuda yang bukan lain adalah The Kun Beng, sutenya sendiri! Swi Kiat mengejap-ngejapkan matanya, merasa seperti dalam sebuah mimpi. Akan tetapi dia mendengar Kun Beng yang menjawab kata-kata adiknya tadi.

“Kui lan, pertemuan kita memang kehendak Thian. Aku kasihan sekali kepadamu dan aku bersedia mengorbankan nyawa untuk menolong dan membelamu.”

“Terima kasih, Taihiap. Kau memang laki-laki yang paling mulia di atas dunia ini.”

Kun Beng duduk seperti orang melamun, wajahnya nampak tidak gembira dan berkali-kali dia menghela napas dan seperti tidak merasa sesuatu sungguhpun tangan kirinya mengelus-elus rambut kepala gadis itu.

“Sayang sekali iblis menggangu kita, Kui Lan, sehingga kita tidak berdaya dibuatnya, sehingga kita lupa…. dan kita melakukan pelanggaran yang hebat…. aku menyesal sekali.”

“Tidak, Taihiap! Tidak demikian, aku tidak menyesal. Aku memang sudah rela menyerahkan jiwa raga kepadamu. Hanya kau seorang di dunia ini yang akan dapat menguasai hatiku. Aku….aku girang dan bangga dapat menjadi….”

Sebelum Kui Lan mengatakan “istrimu”, lebih dulu Kun beng memutuskan omongannya. Pemuda ini paling takut dan tidak suka mendengar pengakuan Kui Lan sebagai isterinya.

“Kui lan, aku berdosa besar. Aku telah mempergunakan kesempatan untuk menggangu seorang gadis sebatangkara……”

“Aku tidak sebatangkara, Taihiap. Bukankah ada kau di sini?”

“Maksudku, hidup seorang diri di dunia ini tanpa sanak tanpa saudara, sebatangkara seperti aku pula.”

“Salah!” Kui Lan tertawa kecil. “Aku mempunyai rahasia, Taihiap. Sesunguhnya aku masih mempunyai seorang saudara, yakni kakakku yang menjadi seorang pendekar besar seperti engkau pula, Kakakku adalah murid dari Pak-lo-sia Siangkoan Hai, seorang……”

“Apa katamu ? Siapakah nama kakakmu itu?” Kun Beng bertanya kaget sekali dan melompat bangun sehingga Kui Lan juga ikut bangun.

“Mengapa kau sepucat ini, Taihiap? Kakakku adalah Gouw Swi Kiat.”

“Aduhai, Kui Lan. Mengapa tidak kau katakan hal ini dulu-dulu kepadaku? Celaka…….!kukira kau..”

“Kaukira apa, Taihiap?” Kui Lan benar-benar gugup dan bingung.

“kukira kau seorang gadis dusun biasa saja yang bernasib malang dan…..dan…kalau aku tahu bahwa kau adalah adik dari suhengku, akau takkan…..takkan berani…”

“Jadi kau ini sute dari Kiat-ko? Dia tidak pernah menceritakan halmu.”

“Memang suhu melarang kami membicarakan tentang keadaan suhu dan murid-muridnya. Aduh, Kui Lan, bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Kau adik dari Gouw-suheng, dan aku…..aku telah….”

Tiba-tiba terdengar suara di luar goa dan Kun Beng cepat melompat. Akan tetapi dia didahului oleh masuknya seorang pemuda yang datang-datang terus memaki-maki.

“Kui Lan, kau gadis tak tahu malu! kau mencemarkan nama keluarga kita! Sute, kau pun seorang berjiwa rendah, kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!”

Kalau saja yang muncul itu seorang siluman atau iblis yang bermuka mengerikan belum tentu mereka akan sekaget itu. Apalagi Kun Beng yang menjadi pucat dan dengan suara perlahan dia hanya bisa berkata, “Suheng…”

“Kiat-ko..” keluh Kui lan yang sudah mencucurkan air mata melihat kakaknya itu,”Mengapa kau baru datang? Ayah dan ibu…”

Wajah Swi Kiat menjadi makin muram. “Ayah dan ibu dibunuh orang dan kau bahkan main gila dengan seorang laki-laki. Tak malukah engkau?”

“Kiat-ko, jangan berkata demikian keji! Ayah ibu dibunuh perampok dan para perampok itu telah terbalas oleh The-Taihiap ini. Dan aku…..aku cinta padanya. Kiat-ko, kami….kami saling mencinta….harap kauampunkan kami….”

Melihat adiknya ini, kemarahan hati Swi Kiat mereda. Ia menarik napas panjang lalu menghadapi Kun Beng dengan muka keras.

“Sute, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kau harus menikah dengan adikku dan kau harus segera memberi laporan kepada suhu, membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng!”

Muka Kun Beng menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.

“Suheng, tak kusangka bahwa Kui Lan adikmu….tak mungkin aku membatalkan pertunangan itu,suhu akan marah sekali.” “Apa kau bilang? Tidak peduli suhu marah, kau harus berani menghadapi akibat perbuatanmu sendiri. Kau harus menjadi suami Kui Lan!” Kun Beng menggeleng kepalanya “Tidak ada niatku untuk menjadi suaminya, Suheng. Memang kami telah lupa dan terbujuk iblis, akan tetapi…” “Apa? Kau tidak cinta padanya?”

“Aku….terus terang saja aku suka dan kasihan sekali kepada adikmu. Agaknya karena nasibnya yang malang, dan karena tadinya aku sendiri tidak tahu bahwa engkau adalah kakaknya, aku…aku kasihan dan dia….dia menderita sakit, kurawat..dan…dan keadaan yang sunyi ini, ditambah cinta kasih adikmu kepadaku, membuat aku lupa…” “Keparat! Lekas kaukatakan bahwa kau bersedia membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng dan bersedia menikah dengan Kui Lan. Kalau tidak, aku akan lupa bahwa kau adalah suteku dan aku akan habiskan perhitungan ini dengan senjata!” Swi Kiat yang berwatak keras menjadi merah mukanya dan dia sudah mencabut keluar senjatanya, yakni sebuah kipas yang amat lihai kalau dimainkan oleh murid Pak-Lo-sian Siang-Koan Hai ini. “Apa boleh buat, Suheng. Aku…..aku tidak bisa melakukan sesuatu yang berlawanan dengan suara hati. Aku malu terhadap suhu, dan pula….aku tidak ingin menjadi suami Kui Lan… “Keparat pengecut!” Swi Kiat cepat menyerang sutenya dengan kipas ditangannya. Serangan ini ditujukan ke arah ulu hati Kun Beng, sebuah serangan yang dapat mendatangkan maut apabila mengenai sasaran. Kipas ini di bagian gagang dan rangkanya terbuat daripada gading gajah, sedangkan permukaanya terbuat daripada kulit harimau, tidak saja dapat dipergunakan untuk menampar dan memukul, juga amat berbahaya karena ujung-ujung gagangnya dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah. Kun Beng cepat mengelak sambil berkata, “Suheng, jangan kau serang aku! Aku sudah menerima salah dan berdosa, jangan menambah dosaku, jangan menambah dosaku dengan mengangkat tangan melawanmu….” Akan tetapi Swi Kiat tidak peduli, bahkan mendesak lebih hebat lagi. “Kiat-ko…jangan kau serang dia….!”

Kui Lan menjerit sambil menangis. Gadis ini hatinya hancur ketika tadi mendengar penolakan Kun Beng. Dari sikap pemuda itu, tahulah ia kini bahwa sebetulnya Kun Beng sudah bertunangan, dan bahwa sesungguhnya pemuda itu tidak cinta kepadanya, hanya suka dan kasihan. Rasa suka yang timbul karena hati kasihan, dan bahwa perbuatan Kun Beng terhadap dirinya lebih banyak dikuasai oleh nafsu semata, bukan oleh cinta kasih yang murni. Hatinya perih sekali dan juga sakit, akan tetapi sekarang melihat Kun Beng diserang oleh kakaknya, ia menjadi khawatir. Betapapun juga, ia masih cinta sekali kepada Kun Beng dan cintanya itu takkan mudah hilang begitu saja.

Seruan Kui Lan menambah kemarahan di hati Swi Kiat yang menyerang lebih hebat lagi dengan gerak tipu Khai-san-coan-hoa (Buka Kipas Menembus Bunga) dan dilanjutkan dengan gerak tipu Khai-san-koan-jit (Buka kipas menutup matahari). Inilah tipu-tipu yang amat hebat dari ilmu kipas Im-yang-san-hoat. Melihat serangan-serangan ini, Kun Beng terkejut sekali karena maklum bahwa kakak seperguruannya bukan main-main lagi, melainkan menyerang untuk mengarah nyawanya! “Suheng, ingatlah akan hubungan kita, ingatlah Suhu!” Kun Beng berseru kembali sambil sibuk mengelak ke sana ke mari atas serangan-serangan maut yang dilancarkan oleh suhengnya.

“Mampuslah, bedebah!” Swi Kiat maju mendesaknya. Karena cepatnya Swi Kiat menyerang kipas maut di tanganya telah berhasil menyerempet pundak kiri Kun Beng yang mengeluh sambil terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan dia telah menderita luka cukup parah di dekat sambungan tulang. “Kiat-ko…..! Jangan bunuh dia…!” Kui lan menubruk kakaknya. Pada saat itu, Kun beng sudah naik darah dan sambil meringis kesakitan pemuda ini juga sudah mencabut senjatanya, yakni tombak pendek. Dengan senjata ini, dia membalas serangan suhengnya, karena dia merasa telah dilukai. Tusukan tombaknya ke arah dada itu dielakkan oleh Swi kiat, akan tetapi karena pada saat itu Kui Lan memberot bajunya dari belakang, gerakkannya terhalang dan tombak di tangan Kun Beng menyerempet pinggir lengannya. “Brett!” baju itu robek sedikit dan kulit lengan terluka, walaupun tidak parah namun cukup banyak mengeluarkan darah. “Kiat-ko, sudahilah pertempuran ini…..! The-taihiap, cukuplah…. kasihanilah aku….!” Kui Lan mengis dan memeluk kakaknya. Tentu saja Swi Kiat menjadi terhalang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Beng untuk melompat keluar dari goa dan melarikan diri. Melihat hal ini, Kui Lan menjatuhkan diri di atas lantai goa dan menangis tersedu-sedu. Tadinya Swi Kiat hendak mengejar bayangan Kun beng, akan tetapi melihat keadaan adiknya dia tidak tega meninggalkannya dan dia belutut di depan adiknya dan mendekap kepalanya. “Kiat-ko….,ayah dan ibu…” Kui Lan terisak-isak. Mengingat akan ayah bundanya, tak terasa Swi Kiat juga mencucurkan air mata. Kakak beradik itu menangisi nasib mereka dan kematian orang tuanya, dan keduanya melirik keluar goa di mana nampak bayangan Kun Beng berlari-lari cepat sekali, merupakan bayangan hitam dikala senja itu, seperti seekor kalong yang besar sekali terbang pergi. “Kiat-ko, dia sudah pergi…” kata-kata ini merupakan ratapan hatinya yang merasa perih sekali. “Aku akan mengejarnya,” kata Swi Kiat. “Kiat-ko, jangan kau bunuh dia. Betapapun juga, aku cinta padanya, aku rela berkorban bagaiman juga untuknya. Aku akan setia sampai mati kepada The Kun Beng…” Swi Kiat sudah mengerti bahwa hubungan antara adiknya dan sutenya sudah sedemikian rupa sehingga mereka harus menjadi suami isteri, baik dengan jalan kasar maupun halus dia harus mengusahakan hal itu. “Aku akan mengejarnya, Kui lan. Jangan khawatir, aku takkan membunuhnya. Andaikata aku bermaksud membunuhnya juga, belum tentu aku sanggup karena kepandaiannya tidak kalah oleh kepandaianku. Aku akan mengusahakan agar dia suka kembali kepadamu, suka menjadi suamimu.” Setelah berkata demikian, Swi Kiat melepaskan pelukannya dan secepat kilat tubuhnya berkelabat keluar, berlari mengejar Kun Beng yang sudah tidak kelihatan bayangannya lagi. Kui Lan yang ditinggal seorang diri di dalam goa menangis terguguk. Ia tidak tahu bahwa semenjak tadi, semenjak terjadi pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat, terdapat bayangan orang lain yang mengintai dan mendengarkan semua peristiwa itu. Jangankan Kui Lan yang kepandaianya masih rendah sehingga pendengarannya tidak dapat menangkap gerakan orang yang amat ringan itu, bahkan Kun Beng dan Swi Kiat yang mencurahkan seluruh perhatian untuk pertempuran itu, tidak mengetahui akan adanya bayangan ini. Bukan main kagetnya hati Kui Lan ketika tiba-tiba di belakangnya berdiri seorang pemuda yang yang berkepala botak dan berpakaian mewah sekali. Orang itu tersenyum kepadanya dan sepasang matanya memandang kagum sehingga Kui Lan merasa seakan-akan orang muda itu hendak menelannya bulat-bulat dengan sinar matanya. “Siapa kau….?” tegur Kui Lan kaget sambil melompat bangun. Orang itu masih muda, berwajah cukup menarik, hanya kepalanya saja botak. Pakaiannya amat indah dan mudah dilihat bahwa dia seorang bangsawan, baik dari gerak-geriknya maupun dari pakaiannya, terutama dari pakaiannya, karena bangsawan manapun juga memakai kalau memakai pakaian butut akan lenyap sifat kebangsawannya.

Aku bernama An Kong, seorang pangeran,” kata pemuda itu sambil menjura hormat, akan tetapi mulutnya tersenyum dan matanya melirik ceriwis. “Nona Kui Lan, aku tanpa sengaja telah mendengar semua urusanmu. Kau harus dikasihani, nasibmu buruk sekali. Kau telah dikhianati oleh pemuda keparat itu dan kini kakakmu bermusuhan dengan sutenya sendiri. Orang bernasib malang dan cantik jelita sepertimu ini, siapakah yang tidak menaruh hati kasihan? Hanya orang jahat seperti The Kun Beng itu saja yang tega melukai hatimu. Kau harus ditolong, maka ikutlah aku, nona. Kau akan mengalami hidup berbahagia di istanaku. Jangan kaupedulikan lagi pemuda keparat itu dan kakakmu yang berhati keras. Marilah!” Sambil berkata demikian , Pangeran An Kong lalu mengulur tangan menagkap pergelangan tangan Kui Lan.

Kui Lan cepat menarik tangannya, namun terlambat. Pemuda itu gerakkannya cepat sekali dan sebelum ia dapat memberontak, ia diangkat dan dipondong! Kui Lan terkejut dan menjerit, akan tetapi sebuah totokan yang tepat telah membuat ia tidak kuasa lagi membuka mulut.

Bagaimana pemuda itu dapat tiba di situ? Sebetulnya, karena Swi Kiat membantu para pejuang rakyat dan membebaskan mereka dari kepungan, pihak pemerintah menjadi marah sekali. An Kong adalah putera dari An Lu Kui, dan pemuda ini secara kebetulan dapat melihat Swi Kiat. Karena dia pun sedang membantu usaha ayahnya berlomba mencari jasa dan kedudukan di kerajaan, diam-diam dia lalu mengikuti perjalanan Swi Kiat. Hanya dia saja yang sanggup melakukan hal ini, karena An Kong adalah murid dari Jeng-kin-Jiu Kak Thong Taisu dan dia memiliki kepandaian tinggi. Diam-diam dia mengikuti jejak Swi Kiat, tidak berani menurunkan tangan. Ia maklum akan kelihaian murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Ia hendak mencari tahu lebih dulu di mana tempat tinggal pemuda itu sehigga dia dapat membawa kawan-kawannya untuk menangkapnya.

Demikianlah, dia mengikuti Swi Kiat terus sampai tiba di pegunungan itu dan secara kebetulan sekali dia melihat pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat. An Kong adalah seorang pemuda mata keranjang maka begitu melihat Kui Lan, hatinya menjadi tertarik sekali. Apalagi dia mendapat kenyataan bahwa Kui Lan adalah adik Gouw Swi Kiat, maka tentu saja hal ini amat baik sekali baginya. Ia dapat menangkap Kui Lan, selain untuk memenuhi hasrat hatinya, juga hal ini berarti sebuah pukulan hebat bagi Swi Kiat!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kui Lan dibawa ke istana oleh An Kong dan hampir saja Kui Lan menjadi korban keganasan dan kekejian bangsawan rendah ini kalau saja tidak datang Lu Kwan Cu yang menolongnya.

Semua itu diceritakan oleh Kui Lan kepada Kwan Cu yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Tentu saja cerita Kui Lan tidak sejelas yang di atas, hanya terbatas pada apa yang diketahui oleh gadis itu. Namun Kwan Cu sudah dapat menduga apa yang terjadi seluruhnya.

***

Kwan Cu menarik napas panjang ketika dia mendengar penuturan itu.

“Kasihan sekali kau, Kui Lan. Dan terlalu Kun Beng. Tak kusangka dia akan tersesat sejauh itu.”

“Dia tidak tersesat, semua yang terjadi adalah kesalahanku. Aku sudah setengah menduga bahwa dia tidak cinta kepadaku, akan tetapi cinta kasih membuat aku buta dan akulah yang menyeretnya sehingga dia melakukan semua hal atas diriku sebagaimana yang kukehendaki.”

“Begitukah?” tanya Kwan Cu dan diam-diam pemuda itu berdebar hatinya, bukankah Kun Beng itu tunanngan Sui Ceng? Dan sekarang Kun Beng melakukan hal itu kepada Kui Lan, berarti Kun Beng tidak berharga lagi menjadi calon suami Sui Ceng.

“Memang akulah yang bersalah. The-taihiap tidak berdosa, dan aku tidak menyesal. Biarpun dia tidak mau menjadi suamiku, namun aku tetap akan bersetia kepadanya sampai mati.”

Terharu hati Kwan Cu mendengar ucapan ini. Ia mengelus-elus kepala Kui Lan seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya.

“Kau anak baik, Kui Lan. Sayang sekali kau terlalu lemah iman, tidak dapat menguasai hati menolak godaan iblis yang berupa napsu. Akan tetapi, hal itupun buka salahmu karena pada waktu itu, kau baru saja menderita tekanan batin yang hebat sehingga imanmu menjadi lemah.”

Dengan mata basah Kui Lan lalu berkata, “Taihiap, sukakah kau menolongku mencari mereka itu dan mendamaikan mereka? Kalau sampai mereka saling bermusuhan, baik kakakku atau The-Taihiap yang tewas, aku akan kehilangan orang-orang yang paling kucinta dan kematian seorang di antara mereka akan membawa nyawaku pula.”

Kwan Cu mengangguk-angguk. “Baiklah, Kui Lan. Mereka itupun sahabat-sahabatku, kalau aku dapat menemukan mereka, tentu akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mencegah mereka saling membunuh.”

“Terimakasih, Lu-taihiap, terima kasih. Budimu takan kulupakan selama hidupku.”

Kwan Cu tersenyum. “Kau memang anak baik dan perasaanmu halus sekali. Aku pun seorang yang hidup sebatangkara, biarlah kau kuanggap adikku sendiri.”

Bukan main girangnya hati Kui Lan mendengar ini. “Terimakasih kepada Thian bahwa kau telah tergerak hatimu untuk menolongku, Koko yang baik. Tadinya aku sudah bingung sekali kemana aku harus pergi dalam keadaan seorang diri ini, akan tetapi setelah kau mengangkatku sebagai adikmu, aku tidak khawatir lagi karena kau tentu akan membawaku kemanapun kau pergi.”

Kwan Cu tertegun. Berdiri seperti patung tak mengeluarkan kata-kata lagi. Gadis ini cerdik sekali dan dapat mempergunakan kesempatan dengan amat cepatnya. Hal itu tak pernah disangka-sangkanya dan dia merasa betul, sebagai adiknya, Kui Lan tentu akan ikut dengan dia, atau setidaknya dia harus dapat mencarikan tempat yang layak bagi Kui Lan!

“Kui Lan, kau seorang gadis dan kepandainmu juga belum cukup, mana bisa melakukan perjalanan jauh yang masih tidak ada ketentuan tujuannya?”

“Dengan kau di sampingku, aku takut apakah?” kata Kui Lan sambil tersenyum.

“Tentu saja aku akan melindungimu, akan tetapi kalau kita melakukan perantauan bersama, akan menimbulkan tiga macam kerugian.”

“Kerugian? Coba sebutkan apa itu!” Kui Lan berkata dengan muka cemberut, akan tetapi bahkan menambah kemanisannya.

“Pertama akan mendatangkan kesan buruk karena orang-orang akan menganggap tidak pantas seorang gadis melakukan perantauan bersama seorang pemuda.”

“He, bukankah kau ini kakakku sendiri? apanya yang tidak pantas bagi seorang gadis melakukan perjalanan bersama kakaknya?”

“Kui Lan, pandangan mata dan pendengaran telinga orang-orang kang-ouw amat tajam, mereka akan tahu bahwa kita bukanlah saudara kandung dan tentu akan timbul sangkaan yang tidak-tidak yang kesemuanya hanya akan merusak nama baik kita. Hal yang kedua, kalau kau ikut aku, perjalanan tak dapat dilakukan cepat-cepat dan bagaimana aku dapat menyusul mereka? Ke tiga, andaikata tersusul, dan kau berada di dekatku, tentu mereka akan naik darah karena kau yang menjadi pokok pertentangan mereka. Maka lebih baik kau jangan terlihat oleh mereka.”

Menghadapi alasan-alasan yang amat kuat ini, Kui lan menghela napas dan mengangkat pundak, katanya tak berdaya,

“Habis, apakah kau mau meninggalkan aku seorang diri di hutan ini?”

“Tentu saja tidak, adik Kui Lan. Aku mengenal sebuah tempat yang amat cocok bagimu, di mana kau boleh tinggal denagn hati tentram dan aku dapat meninggalkan engkau dengan tenang pula. Kau boleh tinggal di tempat itu dengan aman sampai aku dapat menemukan Swi Kiat dan Kun Beng.”

“Di mana tempat itu?” Kui Lan ragu-ragu karena pada dewasa itu agaknya tak mungkin mendapatkan tempat yang aman bagi seorang gadis muda seperti dia, yang sudah banyak mengalami ganguan-ganguan dari orang jahat.

“Di dusun Kau-Ling sebelah utara kota Tan-Shan ada sebuah Kwan-im-bio (Kelenteng Dewi Kwan Im) yang besar dan para nikouw (pendeta wanita) yang berada di situ terkenal sebagai pendeta pendeta yang saleh beribadah. Kau boleh tinggal di sana untuk sementara waktu dengan hati aman dan tentram.”

Kui Lan mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya, maka berangkatlah dua orang muda ini menuju ke kota Tan-shan yang letaknya di sebelah timur laut dari kota raja. Menurut pendapat Kui lan, mereka telah melakukan perjalanan cepat sekali karena gadis ini sepanjang jalan telah mempergunakan ilmu lari cepat yang pernah ia pelajari dari ayahnya. Akan tetapi tidak demikian menurut anggapan Kwan Cu. Kalau pemuda ini tidak melakukan perjalanan bersama Kui Lan, dalam waktu satu hari saja dia tentu akan sampai di dusun Kau-ling. Sekarang bersama Kui Lan, dalam waktu lima hari barulah mereka tiba di dusun itu dan langsung menuju Kwan-im-bio.

“Taihiap datang……!” seru beberapa orang nikouw yang kebetulan berada di pekarangan depan kuil itu untuk melakukan tugas menyapu dan lain-lain. Agaknya mereka merasa gembira sekali melihat kedatangan pemuda ini dan tahulah Kui Lan bahwa Kwan Cu telah dikenal baik oleh semua nikouw yang sudah tua-tua itu.

“Selamat datang, Taihiap. Kebetulan sekali Taihiap berkenan mengunjungi tempat kami karena kedatangan Taihiap memang amat diperlukan,” kata seorang nikouw tua yang pekerjaannya sebagai nikouw penyambut tamu.

“Ada terjadi apakah, suthai? Dan di mana Ngo Lian Suthai? Teecu mohon bertemu dengan beliau,” kata Kwan Cu.

“Ngo Lian Suthai terluka oleh Luan-ho Oei-Lioang (Naga Kuning dari Sungai Luan) dan keadaannya payah.”

Kwan Cu terkejut sekali. “Suthai maksudkan Luan-ho Oei-Liong si bajak laut yang merajalela di sungai Luan-ho?” Kwan Cu memang pernah mendengar nama ini dan biarpun dia belum pernah bertemu dengan orangnya, namun sudah lama dia mempunyai niat untuk memberi hajaran kepada bajak yang dikabarkan orang amat ganas ini.

“Benar dia, Taihiap.”

“Akan tetapi mengapa demikian? Apakah Ngo Lian Suthai melakukan pelayaran di Sungai Luan?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: