Pendekar Sakti (Jilid ke-27)

Nikouw tua itu menggeleng kepalanya yang gundul halus. “Marilah kita duduk di ruang tamu, Taihiap. Di sana kita akan bicara dengan leluasa.”

“Perkenankan teecu (murid) menjumpai Ngo Lian Suthai sendiri agar teecu mendapat keterangan lebih jelas.”

“Menyesal sekali, Taihiap. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Ngo Lian Suthai tidak boleh banyak bicara dan bergerak. Beliau harus istirahat. tentu saja kau boleh bertemu dengan Ngo Lian Suthai, akan tetapi tidak baik kalau mengajaknya bercakap-cakap. Hal itu akan mengganggu kesehatannya.”

Terpaksa Kwan Cu membenarkan pendapat ini dan dengan menggandeng tangan Kui Lan, dia mengikuti nikouw itu ke ruang tamu.

“Siapakah Siocia ini, Taihiap?” Nikouw tua itu bertanya sambil memandang kepada Kui Lan dengan sepasang matanya yang bening.

“Dia ini adalah Gouw Kui Lan adik angkatku. justru kedatanganku ini untuk minta pertolongan Ngo Lian Suthai agar suka menerima adikku sementara waktu tinggal di sini.”

“Tentu saja boleh, Taihiap. Jangan khawatir, Nona, kau boleh tinggal disini seperti di dalam rumahmu sendiri.”

“Terima kasih, Suthai, Tentu saja sambil menanti datangnya saudaraku, aku akan membantu pekerjaan yang dapat kulakukan di dalam bio ini,” kata Kui Lan sambil memandang ke sekeliling. Tempat itu memang menyenangkangkan sekali, selain bersih, juga dikelilingi oleh tanaman bunga, nampaknya aman dan penuh kedamaian.

“Sekarang ceritakanlah, Suthai. Apa yang terjadi dengan Ngo Lian Suthai?”

Nikouw tua itu lalu menuturkan apa yang telah terjadi lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu dan Kui Lan tiba di depan kuil itu.

Ngo Lian Suthai adalah nikouw berusia enam puluh tahun yang menjadi ketua dari Kwan-im-bio. Selain seseorang ahli batin yang patuh akan semua isi kitab dari Dewi Kwan Im, juga Ngo Lian Suthai memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, karena dia adalah murid dari Bu-tong-pai. Lebih dari dua puluh tahun Ngo Lian Suthai memimpin para nikouw di Kwan-im-bio itu dan selama itu, kuil menjadi lebih terkenal dan mendapatkan banyak penyumbang. Kuil itu dibangun sehingga merupakan kuil terbesar di daerah utara. Selain perabot-perabot yang berada dalam kuil terdiri dari barang-barang berharga sumbangan para penderma, juga di situ terdapat patung-patung yang sukar didapat, di antaranya terdapat sebuah patung setengah badan yang amat besar. Tinggi patung itu sama dengan tinggi seorang manusia biasa akan tetapi karena hanya setengah badan, maka ukuran badannya dua kali lebih besar dari ukuran badan manusia. Patung itu terbuat daripada perunggu dan indah sekali. Hanya bentuknya amat menyeramkan, karena biarpun dia merupakan sebuah patung pendeta laki-laki yang berpakaian sebagai pendeta biasa, namun di kepalanya terdapat sepasang tanduk seperti tanduk kerbau dan mulutnya bercaling seperti mulut babi!

Jarang ada orang yang mengerti apakah arti patung ini dan patung dewa atau iblis manakah gerangan. Akan tetapi Ngo Lian Suthai yang mendapatkan dan membawa patung itu dapat menceritakan dengan jelas. Patung ini dibuat oleh seorang pendeta Budha yang pandai, dan arti daripada patung ini adalah untuk menggambarkan betapa pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang mengaku pendeta dan berpakaian seperti pendeta, namun sebenarnya masih mempunyai akhlak yang bejat. Oleh karena itu, untuk menyindir bahwa kepala pendeta macam itu masih terisi pikiran-pikiran busuk, maka kepala patung di tumbuhi sepasang tanduk, dan karena banyak di antara pendeta itu mengeluarkan kata-kata yang tidak selayaknya seorang suci pada mulut patung itu dipasangi caling!

Jadi singkatnya patung itu adalah untuk memperingatkan kepada para pendeta atau orang yang menganut penghidupan suci, agar supaya digunduli dan jubahnya merupakan jubah pendeta, namun isi hati dan pikirannnya masih kotor.

Patung yang amat indah dan sukar didapat ini oleh Ngo Lian Suthai ditaruh di ruang tengah sehingga setiap anak muridnya dapat melihatnya tiap hari, merupakan patung peringatan yang mengerikan hati setiap muridnya.

Pada suatu hari, lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu datang, di dalam bio kedatangan seorang tamu, seorang laki-laki tinggi besar bermuka kuning yang membawa golok besar terselip di punggungnya. Laki-laki itu sikapnya kasar sekali, akan tetapi nikouw itu menyambutnya, karena mengira bahwa orang itu hendak bersembahyang minta berkah dari Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im, yakni Dewi Welas Asih).

“Di mana Ngo Lian Suthai? Aku hendak bicara dengan dia!” Laki-laki tinggi besar itu berkata dengan kasar dan matanya jelalatan ke dalam.

“Congsu siapakah dan ada keperluan apa hendak bertemu dengan Ngo Lian Suthai?” tanya nikouw tua penyambut itu.

“Beritahukan bahwa Luan-ho Oei-Liong datang hendak bertemu,” kata laki-laki itu.

Mendengar nama kepala bajak ini, terkejutlah nikouw tua itu.

“Baik-baik, silahkan Congsu duduk menanti sebentar, pinni (aku) akan melaporkan kepada Ngo Lian Suthai,” katanya dan cepat-cepat masuk ke belakang utuk melaporkan hal itu kepada ketuanya.

Akan tetapi Luan-ho Oei-Liong tidak sabar lagi. Ia segera bertindak masuk ke ruang tengah di mana terdapat patung besar dari perunggu itu sambil tersenyum puas dia lalu mengangkat patung itu dengan kedua tangannya, terus diangkat keluar dan diletakkan di ruang tamu. Semua nikouw yang melihat itu menjadi gempar. Mereka tidak berani mencegah, apalagi setelah melihat betapa dengan mudahnya laki-laki kasar itu mengangkat dan memindahkan patung. Patung itu beratnya hampir seribu kati dan selain Ngo Lian Suthai, tidak ada yang kuat mengangkatnya.

Tak lama kemudian, dari dalam keluarlah seorang nenek yang berpakaian pendeta serba putih, memegang sebatang tongkat hitam yang panjang dan kecil. Nenek ini gerak-geriknya lemah-lembut, demikian pula wajahnya membayangkan sifat yang mulia akan tetapi sepasang matanya amat berpengaruh. Ketika ia melirik ke arah patung perunggu yang sudah berdiri di ruang tamu, ia menggerakkan alisnya yang sudah hampir putih itu dan memandang Luan-ho Oei-liong.

“Congsu, pinni telah keluar, ceritakan apakah maksud kedatanganmu dan mengapa pula kau memindahkan patung itu?”

Melihat sikap yang halus dan sinar mata yang berpengaruh itu, Luan-ho Oei-liong yang bermuka kuning berubah sikapnya, tidak sekasar tadi dan dia menjura memberi hormat.

“Ngo Lian Suthai, telah lama siauwte mendengar namamu yang besar sebagai seorang gagah yang berhati mulia dan pemurah. Oleh karena itu, hari ini aku sengaja datang untuk memberi hormat dan untuk mohon pertolonganmu.”

“Pertolongan apakah yang dapat diberikan oleh pinni yang tua dan lemah ini kepada Congsu yang muda dan gagah perkasa?”

“Hanya pertolongan sedikit saja, Suthai, yakni harap Suthai memberikan patung perunggu ini kepadaku, atau kalau Suthai berkeberatan aku bersedia membelinya,” jawab kepala bajak itu sambil menunjuk ke arah patung yang berdiri di ruang itu.

Ngo Lian Suthai nampak heran sekali,”Patung ini? Untuk apakah kau membutuhkan patung ini, Congsu?”

“Terus terang saja, Ngo Lian Suthai patung ini hendak kupergunakan untuk tumbal dan jimat penunggu perahu sehingga pengaruh jahat akan merasa takut untuk menggangu kami. Pendeknya, patung ini akan kami sembah sebagai juru pelindung keselamatan.”

Ngo Lian Suthai mengerutkan keningnya. “Salah sekali, Congsu. Patung ini adalah lambang kejahatan dan kepalsuan, tidak seharusnya dipuja-puja. Maaf, untuk keperluan itu terpaksa pinni tidak dapat memberikan patung ini kepadamu.”

Berubah air muka kepala bajak itu mendengar ucapan ini, akan tetapi dia masih tersenyum menyeringai.

“Sebetulnya keinginan memiliki patung ini atas desakan adikku perempuan Sin-jiu Siang-kiam (Sepasang Pedang Tangan sakti) yang bernama Oei Hwa. Dialah yang selalu merasa khawatir akan marabahaya yang dapat menimpa kami, maka mendesak agar supaya aku datang ke sini minta atau membeli patung ini, Suthai. Harap kau orang tua suka mengalah dan menolong kami.”

Ngo Lian Suthai tentu saja sudah mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa, nama seorang gadis cantik jelita akan tetapi berwatak seperti siluman, yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi, lebih tinggi dari Luan-ho Oei-liong, kakaknya. Maka ucapan kepala bajak tadi boleh dibilang selain memperkenalkan adiknya, juga merupakan ancaman halus. Namun pendeta wanita itu tidak merasa gentar karena hatinya sudah bersih dari perbuatan menyeleweng, maka rasa takut pun lenyap dari lubuk hatinya.

“Menyesal sakali, Congsu. Patung ini buatan sucouw (kakek guru) yang membuatnya dengan maksud membuat peringatan kepada mereka yang menyeleweng daripada garis-garis kehidupan manusia sesuai kehendak Thian. Pinni amat membutuhkan untuk memberi peringatan kepada murid pinni khususnya dan masyarakat umumnya.”

“Ngo Lian Suthai, kalau begitu percuma saja kau berjubah pendeta dan memakai nama sebagai orang suci!” tiba-tiba Luan-ho Oei-liong berkata marah. Sudah habis kesabarannya.

“Dengan alasan yang mana kau dapat berkata begitu, Congsu?” Ngo Lian Suthai masih bersikap tenang, sabar dan bibirnya tersenyum ramah.

“Kau berpura-pura menjadi orang suci, akan tetapi masih pelit dan kikir. Jangankan menolong orang lain, memberikan patung yang bahkan akan kubeli saja kau tidak rela! Mana sifat-sifat kesucianmu?”

Ngo Lian Suthai mengeleng-gelengkan kepala dan berkata sungguh-sungguh.

“Congsu, tidak ada manusia yang benar-benar suci, kalau pun ada yang mengaku suci, itu hanya pura-pura dan bohong belaka. Pinni sendiri seorang manusia berdosa yang berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhkan segala macam nafsu keduniaan. Memberi itu sifatnya bermacam-macam, demikianpun menolong. Pemberian atau pertolongan yang mendatangkan keburukan, apalagi mendatangkan kejahatan dan penyelewengan, bukanlah pertolongan atau pemberian lagi namanya. Patung ini lambang kejahatan, seharusnya dianggap sebagai peringatan bukan untuk dipuja-puja. Kalau pinni memberikan kepadamu untuk kau puja-puja, hal itu berarti bahwa pinni bahkan menolong kau berbuat sesat. Dan ini adalah dosa besar, Congsu. Kewajiban pinni bukan menolong manusia menjadi sesat, sebaliknya bahkan mengulur tangan untuk mencegah mereka berbuat keliru dalam hidupnya. Sekali lagi menyesal sekali, pinni tidak dapat memberikan patung ini.”

“Biarpun dibeli mahal?” Luan-ho Oei-liong mendesak sambil bangkit berdiri dari bangkunya.

“Patung ini hanya dapat dibeli dengan budi pekerti yang baik dan kesadaran. Kalau Congsu sudah sadar betul dan dapat memperbedakan baik dan buruk, mengejar kebajikan meninggalkan kejahatan, barulah patung ini patut kaubawa agar kau selalu ingat betapa buruknya kejahatan dan kepalsuan seperti digambarkan pada diri patung ini.”

Merah sekali wajah kepala bajak yang berkulit muka kuning itu. Ia mencabut goloknya dan membentak,

“Nikouw tua bangka yang sombong dan bosan hidup. Kalau begitu hendak kubeli dengan golokku!” Setelah berkata demikian, Luan-ho Oei-liong lalu menyerang nenek tua itu dengan goloknya, disabetnya ke arah leher! Memang kepala bajak ini sudah mendengar bahwa nenek itu memiliki kepandaian silat yang lihai, maka dia mendahului menyerangnya.

“Omitohud, untuk membasmi kejahatan, terpaksa pinni melayanimu, Luan-ho Oei-liong !” kata nikouw tua itu yang cepat mengangkat tongkatnya menangkis sambaran golok itu.

Ngo Lian Suthai adalah ahli lweekang, akan tetapi ketika ia menangkis sambaran golok, ia merasa tanggannya gemetar. Ia telah tua sekali dan selama menjadi kepala nikouw di Kwan-im-bio, ia tidak pernah bertempur dan hanya melatih ilmu silat untuk menjaga kesehatan jasmani saja. Maka tenaganya banyak berkurang dan memang tenaga dari bajak laut itu besar sekali.

Para nikouw yang berada di situ tak seorang pun berani maju karena mereka maklum bahwa kepandaian bajak laut itu hebat sekali, jauh melebihi kepandaian mereka yang tidak seberapa. Akan tetapi Ngo Lian Suthai memang patut dipuji. Biarpun sudah amat tua, ia masih gesit dan tongkatnya merupakan benteng pertahanan yang sukar ditembus. Kepala bajak itu menjadi penasaran dan gemas, goloknya diputar makin cepat dan serangan yang dilakukan sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Kalau saja pertempuran itu terjadi tiga puluh tahun yang lalu, belum tentu Luan-ho Oei-liong dapat menahan nikouw ini. Akan tetapi sekarang nikouw itu sudah kehabisan tenaga dan hanya dapat bertarung sampai tiga puluh jurus. Ia mulai lemah dan setiap kali menangkis serangan, tongkatnya terpental ke belakang. Akhirnya, kepala bajak laut itu berhasil membacok ke arah pundak kiri, akan tetapi dia membalikkan goloknya sehingga bagian yang tidak tajam yang memukul pundak. Namun pukulan itu bahkan lebih hebat akibatnya, karena tidak saja meremukkan tulang pundaknya, juga mendatangkan luka di dalam dada! Ngo Lian Suthai terguling dan pingsan.

“Ha, ha, ha, Ngo Lian Suthai, kau mencari penyakit sendiri. baiknya aku Luan-ho Oei-liong bukanlah orang yang kejam. Kalau aku mempergunakan mata golokku, bukankah tubuhmu sudah putus menjadi dua?” Sambil berkata demikian, kepala bajak ini menyambar patung perunggu dan dibawanya lari keluar dari bio.

Para nikouw sibuk mengangkat ketua mereka ke dalam kamar untuk dirawat lukanya. Namun luka itu parah sekali sehingga setelah siuman, Ngo Lian Suthai tak dapat bangun dan dengan suara tenang dan perlahan nikouw tua itu menyatakan bahwa nyawanya takkan dapat ditolong lagi.

“Paling lama aku akan dapat bertahan sampai satu bulan,” katanya sambil tersenyum. “Hal ini tidak mengapa, hanya sayang sekali patung itu akan tersenyum dan setan yang menjadi penghuni di dalamnya akan bersorak kemenangan karena dia dipuja-puja oleh manusia-manusia sesat.”

Demikian peristiwa yang diceritakan oleh nikouw tua penyambut tamu kepada Kwan Cu. Pemuda ini menjadi marah sekali, kemudian dia mendapat perkenan untuk menemui Ngo Lian Suthai di dalam kamarnya.

Pendeta wanita yang sudah tua itu nampak berbaring di atas dipan sederhana dan pundaknya di balut. Mukanya pucat sekali dan tubuhnya lemah, akan tetapi begitu melihat Kwan Cu, ia tersenyum dan mengangkat tangan memberi salam.

“Ah, Lu-taihiap, kau datang? Kau baik-baik saja, bukan?”

Kwan Cu terharu. Ia telah mengenal nenek ini ketika dia melakukan perjalanan melewati dusun ini dan mampir karena tertarik akan keharuman nama Kwan-im-bio dan nama Ngo Lian Suthai yang dihormati banyak orang banyak. Sekali pandang saja Kwan Cu dapat melihat bahwa nenek itu mengalami luka hebat di dalam dadanya dan tak dapat ditolong pula, kecuali kalau di situ ada Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Obat.

“Teecu menyesal sekali mendengar malapetaka yang menimpa diri Suthai.” kata Kwan Cu.

“Bukan malapetaka, orang muda. Segala sesuatu yang telah ditentukan Thian pasti akan terjadi, kita tak mampu menolak atau menawarnya. Kau datang dengan siapa?” tanya nenek itu sambil memandang ke arah Kui Lan.

Nona itu lalu maju dan berlutut, sedangkan Kwan Cu memperkenalkan, “Nona ini adalah Gouw Kui Lan, adik angkat teecu. Kedatangan teecu ini pun hendak mohon pertolongan Suthai agar sudi menerima Kui Lan tinggal untuk sementara waktu di sini, sampai teecu dapat menemukan kakaknya.”

“Boleh, boleh, jangan khawatir. Tinggalkan dia di sini, tentu akan kami jaga baik-baik. Akan tetapi, kalau kau hendak pergi Taihiap, dapatkah kau menolongku mencari Luan-ho Oei-liong di Sungai Luan-ho?”

“Untuk membalaskan sakit hati Suthai padanya? Teecu tentu akan mencari dia dan menghajarnya!” kata Kwan Cu gemas.

“Bukan begitu, Taihiap. Pinni tidak merasa sakit hati kepada siapapun juga. Yang penting adalah patung itu hendaknya kau suka merampasnya kembali. Mata biasa tak dapat melihatnya, akan tetapi pinni tahu bahwa patung itu telah dijadikan tempat tinggal pengaruh jahat atau boleh disebut siluman. Oleh karena itulah maka pinni tidak menghendaki patung itu terjatuh kedalam tangan orang lain, apalagi orang-orang yang sesat. Hal ini akan menimbulkan bahaya dan kejahatan akan merajalela. Kalau sudah terkejar olehmu hancurkan saja patung itu.”

“Baiklah, Suthai. Teecu akan pergi mencari Luan-ho Oei-liong untuk memenuhi perintah Suthai.”

Nenek itu menarik napas lega. Adapun Kui Lan lalu maju kedepan dan berkata lembut, “Suthai, dalam keadaan seperti ini, amat tidak baik kalau Suthai terlalu banyak bicara. Biarkan teecu merawat dan menjaga Suthai.”

Ngo Lian Suthai tersenyum dan memegang lengan gadis itu, lalu melirik ke arah Kwan Cu.

“Lu-Taihiap, terimakasih kau sudah membawa anak baik ini ke sini. Ternyata ia akan merupakan perawat yang berhati mulia.”

Kwan Cu merasa bahwa dia sudah terlalu lama mengganggu nenek itu, maka dia lalu bermohon diri dan berpesan kepada Kui Lan agar hati-hati tinggal di tempat itu, menanti sampai dia dapat menemukan Swi Kiat.

Kemudian pemuda itu meninggalkan Kwan-im-bio dan cepat menuju ke utara karena terlebih dahulu, sebelum mencari Swi Kiat dan Kun Beng, dia hendak memenuhi permintaan Ngo Lian Suthai, yakni mencari kepala bajak dan merampas kembali patung setan itu.

***

Sungai Luan-ho setelah melewati kota Ceng-tek dan mendekati laut, menjadi makin lebar dan besar. Ada bagian-bagian yang merupakan sungai besar sekali sehingga pantai di seberang nampak amat jauh, seakan-akan samudera kecil saja.

Perahu-perahu nelayan nampak di sana-sini, akan tetapi itu hanyalah perahu-perahu nelayan miskin tanpa layar. Ada pula yang mempunyai layar, akan tetapi layar yang butut dan penuh tambalan. Mereka ini boleh berlayar dengan hati tenang, akan tetapi tidak ada perahu besar para saudagar berani melintasi daerah ini, karena nama Luan-ho Oei-liong sudah amat terkenal. Kalaupun ada yang melintas, tentulah perahu-perahu saudagar yang sudah mendapat izin dari kepal bajak laut itu, setelah membayar uang “pajak!” Di bagian timur dekat laut, memang terdapat banyak sekali perahu-perahu basar para saudagar dan dari penghasilan memunggut “pajak” inilah Luan-ho Oei-liong menjadi kaya raya. Siapa tidak mau membayar pajak, tentu kapalnya akan dirampok habis-habisan.

Semua nelayan memandang kepada Kwan Cu dengan mata kaget dan takut ketika pemuda ini bertanya dimana dia dapat bertemu dengan bajak air Luan-ho Oei-liong. Mereka mengira bahwa pemuda ini adalah sahabat bajak itu dan tentu saja seorang penjahat. Akan tetapi Kwan Cu tersenyum melihat salah sangka ini dan berkata,

“Kawan-kawan harap jangan salah lihat. Aku bukan sahabat kepala bajak itu, melainkan seorang yang mempunyai kepentingan untuk bertemu dengan dia. Tunjukkan saja di mana tempat tinggalnya agar aku dapat menjumpainya.”

Biarpun merasa amat heran, namun semua nelayan tahu belaka di mana orang dapat bertemu dengan kepala bajak yang menjadi raja Sungai Luan-ho itu.

“Congsu harap menurutkan aliran air sungai ini dan setelah melalui kota Ceng-tek, di dalam hutan-hutan pohon pek kiranya Congsu akan dapat bertemu dengannya. Kalau dia tidak berada di darat dalam hutan itu, tentulah dia berada di perahunya dan sedang berlayar,” kata seorang di antara mereka.

Kwan Cu mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan perjalanan menurutkan aliran air sungai. Benar saja, di dalam hutan yang besar di mana sungai itu mengalir terdapat rumah-rumah para bajak air yang merupakan sebuah pedusunan kecil. Para bajak menyambut Kwan Cu dengan pandangan curiga.

“Mengapa kau mencari ketua kami?” tanya seorang di antara mereka.

“Aku datang untuk membayar pajak kepadanya,” jawab Kwan Cu sambil tersenyum. “Karena aku utusan para saudagar di kota raja yang hendak mengirim barang melalui sungai Luan-ho, tentu saja untuk hubungan pertama ini kali aku harus bertemu dengan dia sendiri.”

Para bajak itu memang telah dipesan kepalanya bahwa mereka tidak boleh sekali-kali mengganggu para pembayar pajak yang bahkan harus dilindungi, maka mendengar bahwa Kwan Cu adalah “langganan” baru segera mereka memberi keterangan.

“Ketua kami sedang berada di perahunya, di sebelah timur hutan ini. Akan tetapi beliau sibuk dan pada waktu sekarang kiranya akan marah kalau ada orang mengganggunya.”

“Aku tidak mengganggunya, bahkan mendatangkankan keuntungan baginya. Tak mungkin dia akan marah,” kata Kwan Cu tersenyum. “Kalau kalian takut mengantarku, berilah pinjam sebuah sampan dan aku akan menjumpainya sendiri.”

Para bajak itu melihat Kwan Cu hanya seorang pemuda yang kelihatan lemah dan tidak membawa senjata, tidak bercuriga apa-apa, bahkan lalu menggeluarkan sebuah sampan berikut dayungnya untuk dipinjamkan kepada Kwan Cu. Tentu saja untuk ini Kwan Cu harus lebih dulu mengeluarkan sepotong uang emas sebagai hadiahnya.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Kwan Cu mendayung perahunya dengan tenaga biasa. Akan tetapi setelah perahunya dibantu oleh aliran air meninggalkan hutan-hutan itu jauh di belakangnya, dia mendayung cepat sekali dan tak lama kemudian sampailah perahunya di bagian sungai yang airnya melimpah-limpah dan amat lebarnya, seperti samudera kecil. Dan di tengah-tengah samudera kecil itu dia melihat kapal-kapal atau perahu-perahu besar dengan layar hitam. Itulah tandan dari perahu bajak sungai!

Jauh di utara, di kaki langit, nampak mega putih menjulang tinggi seperti uap dari kawah berapi. Sinar senja mendatangkan pemandangan yang amat indahnya dan air sungai mengalir tenang. Kwan Cu tertarik oleh sebuah perahu yang paling besar dan dicat paling mewah di antara perahu-perahu yang nampak layar hitamnya di sana-sini. Ke arah perahu besar inilah dia mendayung biduknya.

Ia mendayung perahunya dari sebelah kanan perahu besar itu dan perahu itu sedemikian besarnya sehingga dia tidak melihat adanya lain sampan yang datang dari kiri perahu, yang didayung oleh seorang gadis dengan kecepatan luar biasa pula. Yang mendebarkan hati Kwan Cu adalah sebuah patung besar sekali, dari perunggu, yang berdiri di atas perahu dengan megahnya. Tak salah lagi, itulah patung yang dirampas dari kuil Kwan-im-bio!

Dengan gerakan lincah Kwan Cu melompat ke arah perahu besar, sedikitpun tidak menimbulkan goncangan pada perahu itu. Hal ini sudah menunjukkan betapa tinggi ginkangnya, sungguh kepandaian yang dimiliki ahli-ahli silat tinggi di masa itu.

Dengan hati tertarik Kwan Cu mendekati patung itu. Di atas perahu sunyi saja dan ada terdengar suara perlahan dari percakapan orang yang agaknya berada di dalam bilik di atas perahu itu. Patung itu memang hebat. Terbuat dari pada perunggu dan ukiranya halus sekali. Sepasang mata dan tanduknya merah dan seakan-akan mata itu mengeluarkan sinar yang ganjil. Mengingat kata-kata Ngo Lian Suthai bahwa di dalam patung ini tersembunyi pengaruh jahat, Kwan Cu bergidik.

Tiba-tiba perahu bergoncang sedikit dan ketika Kwan Cu menoleh, dia melihat seorang gadis yang cantik jelita telah berdiri di belakangnya. Gadis ini sikapnya gagah sekali, bertubuh langsing padat dan usianya paling banyak baru delapan belas tahun.

“Hm, tentu inilah Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa adik dari kepala bajak itu,” pikir Kwan Cu ketika melihat gadis itu membawa sepasang pedang yang gagangnya kelihatan tersembul di balik punggungnya.

Sebaiknya, gadis yang baru saja lompat naik dari sampan itu, terkejut melihat Kwan Cu. Akan tetapi ia segera membentak, “Maling-dina, kau boleh mampus lebih dulu!”

Kata-kata itu disusul oleh tonjokan tangannya yang kecil mungil, menuju ke arah dada Kwan Cu.

Pemuda ini cepat-cepat mengelak dan diam-diam dia kagum sekali karena pukulan itu mendatangkan angin pukulan yang antep dan berbahaya. Hm,lihai sekali, pikirannya. Pukulan tadi membuktikan adanya tenaga lweekang yang tak boleh dipandang ringan.

Sebaliknya ketika gadis tadi melihat cara Kwan Cu mengelak, dia tertegun. Elakan itu demikian capat dan mudah, sewajarnya seakan-akan orang menghadapi pukulan biasa saja. Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu sepasang pedang telah di tangannya.Tanpa banyak cakap lagi gadis itu lalu menyerang Kwan Cu dengan sepasang pedangnya.

Melihat gerakan pedang ini, Kwan Cu makin heran. Bukan ilmu pedang biasa saja, pikirnya.Cepat, kuat dan ganas sekali. Gerakan ini mengigatkan dia akan ilmu silat dari tokoh-tokoh besar di kalangan Kang-ouw, tingkatnya tidak kalah oleh ilmu pedang dari Ang-bin Sin-kai sendiri! Murid siapakah wanita ini? ia cepat mengelak dan untuk mengimbangi serangan-serangan gadis itu, dia lalu mengeluarkan ilmunya yang didapat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Terjadilah keanehan, Im-yang Bu-tek Cin-keng memang hebat, begitu Kwan Cu mainkan ilmunya ini, semua gerakkan-gerakkan silat lawanya dapat ditiru dan dimainkan sama baiknya! Gadis itu mengeluarkan seruan kaget dan membelalakkan mata dengan amat heran.

“Keparat, mengapa kau meniru-niru gerakan orang?” bentuknya dengan suaranya yang halus, akan tetapi ia tidak mengendurkan serangan-serangannya.

Kwan Cu yang memperhatikan wajah gadis itu setelah kini mendengarkan suaranya untuk kedua kalinya, menjadi berdebar hatinya. Mungkinkah? Tak salah lagi, inilah wajah Bun Sui Ceng! Ia ingat betul wajah itu, sama benar dengan wajah yang diimpikan, dan ilmu pedang yang dimainkannya ini memang tepat kalau diturunkan oleh Kiu-Bwe Coa-Li, wanita sakti itu!

Pada saat gadis itu masih menyerang dan mencoba mendesak Kwan Cu dengan sepasang pedangnya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari seorang wanita.

“Siapa berani main gila di perahuku? Apakah belum mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa?” Bentakan ini disusul oleh keluarnya seorang gadis dari pintu bilik.

Gadis itu otomatis menghentikan serangannya dan Kwan Cu menoleh ke arah pintu. Ia melihat seorang gadis yang bertubuh langsing dan hampir sama dengan tubuh gadis yang menyerangnya. Juga gadis yang baru muncul ini memegang sepasang pedang, akan tetapi pedangnya itu berwarna dua macam. Yang kiri putih dan yang kanan hitam. Wajahnya cantik sekali, pakaiannya mewah dan bedanya dengan gadis yang tadi menyerang Kwan Cu adalah sikap yang sangat genit dari gadis yang muncul dari pintu ini. Matanya menggerling tajam penuh gairah pada Kwan Cu, bibirnya tersenyum manis. Akan tetapi ketika ia mengerling kearah gadis yang menyerang Kwan Cu, sinar matanya berapi-api dan bibirnya cemberut.

Dari belakang Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa ini muncul seorang laki-laki pula, seorang laki-laki tinggi besar yang berkulit muka kuning. Menjadi kebalikan dari sikap Oei Hwa, laki-laki ini memandang kepada gadis penyerang Kwan Cu tadi dengan mata kagum dan kurang ajar sebaliknya memandang kepada Kwan Cu dengan marah.

“Kau siapakah, berani lancang naik keperahu Luan-ho Oei Liong? Apakah kau sudah tidak menyayangi kepalamu lagi?” tanyanya sambil menudingkan jari telunjuknya kepada Kwan Cu.

Pertanyaan yang diajukan oleh Oei Liong ini membuat gadis yang baru saja menyerang Kwan Cu itu menjadi kaget dan ia menoleh memandang ke arah Kwan Cu dengan bingung. Ternyata bahwa pemuda ini bukan anggota bajak jadi siapakah gerangan pemuda tampan yang kelihatan bodoh akan tetapi telah berhasil mengelak dari seranggan-seranggan pedangnya ini?

Adapun Oei Hwa yang memandang ke arah gadis itu dengan marah, menyambung pertanyaan kakaknya sambil menudingkan telunjuknya yang runcing kepadanya,

“Dan kau ini, bocah lancang, siapa pulakah kau?”

Setelah Oei Hwa muncul, memang Kwan Cu makin yakin di dalam hatinya bahwa gadis yang disangkanya Sin -Jiu Siang-kiam Oei Hwa itu adalah pendatang dari luar dan kalau dia tidak salah sangka, tentulah gadis ini Bun Sui Ceng adanya!

“Luan-ho Oei Liong, soal namaku tidak penting. Adapun kedatanganku ini adalah untuk mengambil kembali patung ini yang hendak kukembalikan ke kuil Kwan-im-bio dan memberi hajaran padamu atas kekurangajaran terhadap Ngo Lian Suthai!” Kata Kwan Cu sambil tersenyum.

“Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa, adapun tentang aku, soal namaku juga tidak penting. Kedatanganku sengaja hendak membasmi bajak sungai Luan-ho agar kalian tidak menganggu lagi kepada mereka yang berlalulintas di sungai ini!” kata gadis itu sambil melirik ke arah Kwan Cu. Pemuda inipun memandangnya dan keduanya tersenyum, merasa geli dan lucu serta gembira dapat mempermainkan pemimpin-pemimpin bajak itu.

“Keparat! Kalau begitu biar kuantar kau ke neraka!” Oei Liong mencabut golok besarnya. Akan tetapi adiknya mencegah, kemudian Oei Hwa melangkah maju dan bertanya,

“Kalau kedatangan kalian ini sama-sama hendak memusuhi kami, mengapa datang-datang kalian bertempur di atas perahuku?” Memang Oei Hwa jauh lebih cerdik daripada kakaknya dan gadis ini hendak menyelidiki lebih dulu keadaan dua orang penyerang yang tidak mau memperkenalkan nama itu.

Menghadapi pertanyaan ini, dan melihat betapa sepasang mata yang bening itu memandangnya penuh perhatian dan agak mesra, Kwan Cu menjadi bingung, lalu menjawab sekenanya saja.

“Kami…kami hendak berlatih dulu sebelum menghadapi kalian.” Gadis yang tadi menyerangnya itu memandangnya dengan sinar mata lucu, lalu menyambung sambil mengangguk-angguk.

“Betul, kawan yang baru datang ini hendak mempelajari beberapa petunjuk agar dapat dipergunakan menghadapi kalian kepala-kepala bajak yang sudah tiba masanya mampus!”

Kwan Cu menjadi geli dan gemas. Ternyata gadis itu, kalau benar Sui Ceng, masih sama dengan dahulu, lincah jenaka dan suka mempermainkan orang. Juga agak sombong seperti gurunya, Kui-bwe Coa-li sehingga datang-datang berani mengaku bahwa tadi ia telah memberi petunjuk kepadanya!

Oie Liong tak sabar lagi, dia membentak keras sambil menyerang Kwan Cu dengan golok besarnya. Serangan ini hebat sekali datangnya dan mendatangkan angin keras. Gadis yang tadi menyerangnya Kwan Cu melihat ini menjadi khawatir. Setelah kini dia mengerti bahwa pemuda yang tadi diserangnya bukan penjahat, ia ingin menolongnya dari ancaman serangan golok yang diketahuinya amat lihai itu. Ia hendak melompat dan menangkis serangan golok yang tertuju kepada Kwan Cu, akan tetapi Oei Hwa sudah mendahuluinya dan menyerang sambil membentak marah,

“Gadis liar, jangan berlagak!”

Terpaksa gadis itu menangkis dan terjadilah pertempuran yang hebat antara dua orang gadis yang sama cantiknya itu. Sama-sama bersenjata siang-kiam (sepasang pedang) lagi. Setelah bergerak, ternyata bahwa keduanya sama lincah dan gesit, akan tetapi setelah pertandingan berlangsung belasan jurus, segera kelihatan bahwa ilmu pedang dari Oei Hwa masih kalah jauh. Ilmu pedang dari gadis itu benar-benat hebat sekali, ganas dan gerakannya sukar sekali diduga, ditambah pula dengan tenaga lweekangnya yang mengatasi Oei Hwa. Oleh karena itu, sebentar saja Oei Hwa terdesak hebat. Tentu saja Sin-jiu Siang-kiam ini terkejut dan heran sekali. Belum pernah ia menghadapi seorang lawan yang begini lihai, padahal sudah ratusan kali ia bertempur menghadapi orang kang-ouw! Di lain fihak, Luan-ho Oei-liong juga sibuk sekali menghadapi Kwan Cu. Berkali-kali golok besarnya menyambar, membabat, menusuk dan membacok, akan tetapi pemuda yang bertangan kosong itu seakan-akan merupakan bayangan setan, selalu serangannya mengenai tempat kosong!

“Setan keparat!” bentaknya berkali-kali sambil memperhebat serangannya. Akan tetapi sebentar saja, setelah beberapa kali Kwan Cu mempermainkannya dengan menjewer telinga, menyepak pantat, mencolok perut, Oei Liong menjadi kewalahan dan gentar sekali, mengira bahwa pemuda ini memang benar-benar iblis sendiri yang datang menganggunya. Mana ada manusia memiliki kepandaian sehebat itu sehingga dengan tangan kosong dapat mempermainkannnya sedemikian rupa, padahal tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw takkan berani main-main terhadap golok besarnya?

Tiba-tiba Oei Hwa bersuit keras sekali, memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri. Sebelum Kwan Cu dan gadis lihai itu mengerti apa maksud suitan itu, Oei Hwa dan Oei Liong melompat ke pinggir perahu terus terjun ke dalam air.

Pada saat itu, perahu besar itu bergoyang-goyang ke kanan kiri! Ternyata bahwa Oei Hwa melihat anak buahnya datang ke perahu besar dengan sampan, maka ia memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri. Kini, dengan bantuan anak buahnya, mereka berusaha menggulingkan perahu itu! Akan tetapi tidak mudahlah untuk menggulingkan perahu sebesar itu.

Kwan Cu dan gadis itu terhuyung-huyung di atas perahu dan gadis itu menjadi gelisah sekali. “Celaka!” serunya akan tetapi ketika ia memandang kepada Kwan Cu, ia melihat pemuda itu tersenyum saja seenaknya, seakan-akan digoyang-goyang seperti itu di atas perahu merupakan ayunan yang menyenangkan baginya.

“Mengapa kau cengar-cengir saja seperti monyet? Berbuatlah sesuatau, Tolol!” Gadis itu membentak mengkal.

Kemudian gadis itu melihat perahunya di pinggir perahu besar, tergolek-golek karena gerakan air yang diakibatkan oleh usaha para bajak laut.

“Hayo lompat ke dalam perahu itu!” ajaknya. Kwan Cu tersenyum, karena betapapun galaknya sikap gadis itu, ternyata untuk melarika diri dan menyelamatkan diri masih teringat kepadanya sehingga mengajaknya lari bersama.

Gadis itu melompat terlebih dahulu. Akan tetapi segera terdengar jeritnya dan air muncrat tinggi-tinggi. Ternyata bahwa perahu itu adalah perangkap yang sengaja dipasang oleh Oei Hwa yang amat cerdik. Sukar untuk menggulingkan perahu besar, Oei Hwa sengaja membawa perahu kecil itu, dipasang sedemikian rupa sehingga dari atas kelihatan sebagai jalan satu-satunya untuk melarikan diri, akan tetapi sebenarnya dia dan kakaknya berada di bawah perahu. Begitu gadis itu meloncat, perahu kecil segera digulingkan dan ditarik tenggelam sehingga tentu saja gadis itu terjun ke dalam air!

Melihat ini Kwan Cu terkejut sekali. Baginya sendiri, masih banyak jalan untuk membebaskan diri dari kepungan bajak, akan tetapi melihat bahaya yang mengancam gadis yang disangkanya Bun Sui Ceng itu, dia terpaksa melompat pula ke dalam air!

Baiknya Oei Liong tergila-gila oleh kecantikan gadis itu, sehingga sebelum Oei Hwa turun tangan, terlebih dulu Oei Liong menangkap gadis itu dan dibawa tenggelam sehingga gadis itu menjadi lelah dan pingsan karena banyak minum air! Sebaliknya, Oei Hwa juga mempunyai maksud hati yang sama dengan kakaknya, ia tertarik oleh ketampanan wajah Kwan Cu, maka bagaikan seekor ikan duyung, nona ini menangkap kedua kaki Kwan Cu dan menyeretnya ke bawah permukaan air!

Oei Liong memeluk tubuh gadis tawanannya, dibawa berenang ke perahu, demikian pula Oei Hwa. Pertama-tama, di atas perahu mereka menolong dua orang tawanannya itu. Tubuh gadis itu dijungkirbalikkan sehingga banyak air sungai keluar dari mulutnya. Akan tetapi anehnya, ketika Oei Hwa membalikkan tubuh Kwan Cu, tidak setetes pun air keluar dari pemuda ini! Oei Hwa menggaruk-garuk kepalanya, apalagi ketika ia melihat perut pemuda yang tadinya kembung itu kini telah kempes kembali.

“Hwa-moi (adik Hwa), gadis ini cantik sekali, tidak kalah olehmu. Dia pantas menjadi isteriku!” kata Oei Liong tertawa girang dan dia cepat mempergunakan tambang pengikat layar untuk membelenggu kaki tangan gadis itu, sedangkan sepasang pedang gadis itu yang diambil oleh anak buahnya dia rampas. Demikian pula Oei Hwa lalu membelenggu kaki tangan Kwan Cu.

“Hwa-moi, pemuda ini berbahaya sekali. Lebih baik lekas kita binasakan dia!” Kata Oei Liong

Adiknya melirik dengan pipi merah. Dalam pakaian basah kuyup dan rambut awut-awutan, warna merah di pipi itu membuat Oei Hwa kelihatan makin cantik.

“Kau memikirkan kepentingan dirimu sendiri saja, Twako. Pemuda ini kulihat seratus kali lebih baik dari padamu. Apa hanya kau saja yang memikirkan jodoh.?” Oei Liong tertegun, kemudain tertawa bergelak-gelak sambil menudingkan telunjuknya kepada muka adiknya yang menjadi malu.

“Sudahlah, mari kita menghaturkan terimakasih kepada Dewa Air yng telah melindungi kita,” kata Oei Hwa. Keduanya lalu maju dan berlutut di depan patung perunggu itu!

Kemudian, diantarkan oleh anak buah mereka, kakak beradik ini lalu menggotong tubuh Kwan Cu dan gadis tawanan itu ke pantai dan langsung dibawa ke dalam hutan, sarang mereka. Hati mereka girang sekali karena mereka menemukan orang-orang muda yang menjadi tawanan itu lihai sekali, namun mereka mempunyai daya untuk membuat dua orang tawanan mereka itu tak berdaya, yakni dengan jalan meminumkan obat beracun!

Tiba-tiba sebelum mereka jauh meninggalkan pantai, seorang anak buah mereka menjerit dan menudingkan telunjuk ke tengah sungai. Semua orang menenggok dan aneh sekali! Perahu besar dimana patung perunggu itu disimpan perlahan-lahan tenggelam, seakan-akan di bawahnya bocor.

“Celaka, lekas cegah dia tenggelam!” teriak Oei Hwa dan Oei Liong. Semua anak buah bajak berperahu dan cepat menuju ke perahu besar itu, akan tetapi terlambat, perahu itu telah tenggelam bersama arca yang mengerikan itu!

“Celaka!” Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa membanting-banting kakinya melihat perahu tenggelam. Ia tidak begitu menyayangkan perahunya yang besar dan indah itu tenggelam, terutama sekali yang membikin ia merasa menyesal adalah tenggelamnya patung perunggu yang berada di atas perahunya. Tenggelamnya patung itu merupakan tanda bencana bagi dia dan kawan-kawannya!

“Sudahlah, Hwa-moi,” Luan-ho Oei Liong menghibur adiknya, “Untuk gantinya patung Dewa Air, aku sudah mendapatkan nona ini dan kau mendapatkan pemuda ganteng itu, bukankah mereka lebih baik? Mudah nanti kita mencari patung baru yang lebih baik.”

Terhibur juga hati Oei Hwa ketika ia melirik ke arah Kwan Cu yang dipondongnya, maka ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama kakaknya dan para bajak sungai, menuju ke hutan yang mereka jadikan sarang.

Malam hari itu bulan bersinar gemilang dan di dusun dalam hutan itu, para bajak mengadalkan perayaan pesta pernikahan dua orang pemimpin mereka. Pesta diadakan di lapangan yang luas dan dua orang tawanan itu dibelenggu kaki tangannya, didudukkan di tengah lapangan. Para bajak sungai hendak menyaksikan betapa dua orang calon pengantin itu hendak diberi obat yang disebut oleh pemimpin mereka sebagai obat pengantin! Padahal obat itu adalah obat beracun yang akan membuat Kwan Cu dan nona tawanan itu mabuk dan kehilangan ingatan sehingga keduanya akan menurut segala kehendak Oei Liong dan Oei Hwa!

Kwan Cu saling lirik dengan nona di sebelahnya. Diam-diam pemuda ini merasa geli karena nona ini cemberut dan memandangnya dengan muka marah. Sedikitpun tidak kelihatan nona perkasa itu takut, maka diam-diam Kwan Cu menjadi kagum. Baginya sendiri, tidak ada yang perlu ditakutkan, karena kalau dia mau, sesungguhnya dengan beberapa gerakan saja semua belenggu kaki tangannya akan mudah dia putuskan dan dengan mudah pula dia akan dapat menolong keselamatan mereka berdua. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini dan akan menanti dan melihat lebih dulu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kwan Cu mengganggap semua itu sebagai lelucon yang menggelikan belaka belaka, bahkan semua yang dihadapinya merupakan hiburan yang menggirangkan hatinya.

“Dasar kau yang menjadi biang keladi!” Nona di sebelahnya menggerutu kepadanya.

Kwan Cu tersenyum dan memandang dengan mata jenaka. Gadis itu makin marah, akan tetapi juga terheran-heran. Dia sendiri memang berhati tabah dan keras, sedikitpun tidak sudi memperlihatkan kelemahan hati dan tidak mau kelihatan takut. Akan tetapi tersenyum-senyum seperti pemuda itu, dengan pandangan mata demikian jenaka seakan-akan merasa gembira sekali, tak mungkin dapat ia lakukan! Bagaimana dalam keadaan demikian berbahaya dan tidak berdaya, pemuda itu masih dapat tersenyum-senyum gembira?

“Kau cengar-cengir mau apakah?” bentaknya perlahan-lahan sambil melototkan matanya. “Sungguh, kalau bukan kau tolol atau gila, agaknya aku yang sudah berubah ingatanku melihat orang tertawan dan berada dalam keadaan bahaya masih cengar-cengir seperti badut!”

“Mengapa tidak bergirang hati? Kau dengar sendiri tadi, kau dan aku hendak dikawinkan oleh Oei Liong dan Oei Hwa. Siapa yang tidak girang?”

Nona itu menjebikan bibirnya yang merah. “Hm, kau girang hendak menjadi suami Oei Hwa, siluman wanita itu? Dasar mata keranjang! Huh, muak perutku melihat mukamu!”

Kwan Cu makin geli hatinya. “Jadi kau tidak suka dikawin oleh Oei Liong, kepala bajak yang gagah dan bermuka kuning itu?”

“Siapa sudi? Lebih baik aku mati!”

“Aha, sudah tentu kau tidak suka karena kau sudah bertunangan! Bukankah kau tunangannya The Kun Beng?”

Nona itu membelalakan matanya dan mukanya berubah.”Bagaimana kau bisa tahu? Siapakah kau?”

“Bun Sui Ceng, lupa lagikah kau kepadaku? Dahulu sudah seringkali kita bertemu.”

“Heeee….?? Siapa kau?” Gadis itu yang ternyata memang benar Bun Sui Ceng adanya, bertanya kaget.

“Aku selamanya takkan bisa lupa kepadamu, takkan lupa kepada mendiang ibumu yang berhati mulia. Aku adalah bocah gundul yang dulu pernah ditolong oleh ibumu.”

“Kwan Cu ….?!? Kau Lu Kwan Cu…?” Sui Ceng memandang dengan mata terbelak dan sinar matanya mencari-cari, menyelidiki ke seluruh kepala dan muka Kwan Cu, maka tertawalah gadis itu, tertawa geli sekali.

Kwan Cu mengerutkan kening, kalau tadi dia mentertawai gadis itu, sekarang dia ditertawai. apanyakah yang menggelikan? Apakah mukanya bercoreng hitam?

“Eh, Sui Ceng, kau cekikikan itu ada apakah?” tanyanya mendongkol.

Sui Ceng makin geli, mengigit bibirnya agar mulutnya tidak terbuka dalam ketawanya, karena dia tidak mungkin dapat menggunakan tangan untuk menutupi mulutnya. Oleh gerakan bibir itu ia nampak lucu sekali.

“Alangkah lucunya keadaanku,” akhirnya ia dapat berkata, “tak kusangka dapat bertemu dengan kau di sini, dalam keadaan ini pula. Hi, hi, hi Kwan Cu , kau masih dogol seperti dulu, dogol dan tolol, sungguh menggelikan hati sekali. Dan kau sekarang agaknya mata keranjang sekali, sehingga kau kelihatan gembira benar hendak dikawin oleh siluman wanita Oei Hwa itu.”

“Kau keliru Sui Ceng. Aku bergirang bukan karena akan dipaksa menjadi suami Oei Hwa, melainkan bergirang karena kau dan aku keduanya akan menikah. Dan….melihat keadaan kita ini, aku merasa bahwa kitalah yang akan saling menikah, kau dengan aku dan aku dengan kau…bukankah ini menggembirakan sekali?”

Untuk sejenak Sui Ceng tertegun dan memandang dengan sinar mata bodoh lalu tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali sampai ke telinga-telinganya.

“Kwan Cu, kalau aku tidak tahu bahwa kau adalah seorang yang dogol, tolol dan jujur, aku tentu akan menganggap ucapanmu itu kurang ajar sekali.”

Kwan Cu tersenyum. “Terus terang saja Sui Ceng, kau tentu lebih suka menikah dengan aku daripada dengan siluman muka kuning itu, bukan?”

“Tentu saja, orang bodoh! Akan tetapi, jangan kita mengoceh yang bukan-bukan. Lebih baik sekarang mencari jalan bagaimanakita dapat lepas dari bencana ini, atau bagaimana menanti sikap kalau mereka memaksa kita.”

“Terserah kepadamu, aku akan menurut saja apa yang akan kau lakukan.”

“Kalau mereka memaksa, aku akan memberontak dan melawan mati-matian, begitu mendapat kesempatan melepaskan diri dari belenggu ini.”

Kwan Cu mengangguk-angguk. “Aku pun begitu,” katanya.

Hening sesaat dan mereka saling pandang.

“Kwan Cu, kau berubah sekali, maka tadi aku tidak mengenalmu. Dulu kau gundul dan buruk, seperti anak cacingan, sekarang…..”

“Sekarang bagaimana…..?”

“Hemmmmm, harus kuakui bahwa kau sekarang telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas saja siluman wanita itu tergila-gila padamu.”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: