Pendekar Sakti (Jilid ke-28)

Merah wajah Kwan Cu, merah karena girang. “Aah, pujianmu itu berlebihan. Aku bukan apa-apa kalu dibandingkan dengan Kun Beng……”

Merah wajah Kwan Cu, merah karena girang. “Aah, pujianmu itu berlebihan. Aku bukan apa-apa kalu dibandingkan dengan Kun Beng……”

“Kau sudah bertemu dengan dia? Aku belum pernah melihatnya sekarang.”

“Aku pun belum. Akan tetapi sejak pertemuan tadi, aku sudah menduga bahwa kau tentulah Sui Ceng, kau masih lincah dan jenaka seperti dulu…….dan….. lebih cantik!”

Sui Ceng menundukan mukanya, kini agak kecewa menghadapi bahaya yang mungkin akan menamatkan nyawanya, nyawa mereka berdua.

“Sayang sekali, Kwan Cu. Tadinya aku hendak mendahului dan mawakili engkau, menjalankan pesan terakhir dari menteri Lu Pin yang agung. Ternyata agaknya riwayat kita akan tamat sampai di tempat ini…..” Gadis itu menghela napas berulang-ulang.

“Pesanan dari Lu-kong-kong? Pesan apakah….?” Kwan Cu bertanya.

“Jadi kau belum sampai ke Goa Tengkorak?”

“Aku memang hendak menuju ke sana, akan tetapi tertunda karena peristiwa ini.”

“Hemmm, sayang…..pesanan itu akan hilang begitu saja agaknya kau dan aku takkan terlepas dari ancaman ini. Kasihan Lu-Taijian….”

“Bagaimana bunyi pesan itu?”

“Kau harus pergi ke sana sendiri dan membacanya sendiri.”

Percakapan mereka terhenti karena dengan iringan tambur dan gembreng, diiringkan pula oleh anak buah bajak sungai, nampak datang Oei Liong dan Oei Hwa, keduanya dalam pakaian pengantin!

“Ha-ha-ha-ha-ha….!” Kwan Cu tertawa terkekeh-kekeh.

“Hush! kau cekakakan ada apakah? Girang barangkali melihat mempelai datang ?” Sui Ceng menegur

Kwan Cu makin geli. “Lihat, alangkah lucunya mereka itu….! Mereka telah berpakaian pengantin dan kita masih dibelenggu begini macam, hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?”

Sui Ceng benar-benar merasa heran melihat sikap pemuda ini yang sama sekali tidak susah atau takut. Ia sendiri sejak tadi sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk memutuskan belenggu, namun sia-sia belaka. Kwan Cu tidak berusaha meloloskan diri, sebaliknya menanti kelanjutan perbuatan para bajak itu bagaikan seorang anak kecil hendak menikmati tontonan yang bagus. Benar-benar pemuda aneh sekali!

Oei Liong dan Oei Hwa datang membawa cawan arak dan di tangan kiri masing-masing memegang seguci kecil penuh arak. Inilah arak yang mengandung racun perampas ingatan orang!

“Manisku, sebelum kau memakai pakaian pengantin, lebih dulu minumlah arak ini sebagai tanda pemberian selamat dariku,” kata Oei Liong sambil memperlihatkan guci itu.

“Kau juga, Kanda. Minumlah arak ini sebagai tanda cinta kasihku,” kata Oei Hwa yang mukanya sudah merah itu dengan sikap genit sekali. Nona ini memang tadi sudah minum arak sampai mabuk sehingga tidak mengenal malu lagi.

“Aku tidak sudi!” Jawab Sui Ceng membentak keras dan mengedikkan kepalanya.

“Sayang sekali kalau harus dipaksa, Manisku. Maafkan,terpaksa aku mempergunakan kekerasan.” Sambil berkata demikian, Oei Liong menggerakkan tangan menotokkan leher Sui Ceng yang tak dapat menggelakkan sehingga jalan darahnya terkena totokan yang lihai itu dan lemaslah dia tak berdaya lagi!

Oei Liong sudah siap untuk mendekati Sui Ceng dan membuka mulut gadis itu, ketika tiba-tiba terdengar suara orang-orang menjerit dan berlari-lari. Ternyata bahwa yang berlari-lari itu adalah para bajak yang menjaga di luar dusun.

“Celaka….ada siluman mengamuk!” Begitu terdengar teriakan-teriakan itu dan para bajak yang belari-lari itu mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil.

Oei Liong terkejut dan terpaksa menunda niatnya untuk memaksa Sui Ceng minum arak itu. Juga diam-diam Kwan Cu membatalkan niatnya untuk memutuskan belenggu. Karena kalau sekiranya tidak ada gangguan itu, tentu dia telah memutuskan belengu dan memberikan hajaran kepada Oei Liong. Ia tidak akan membiarkan saja Sui Ceng dipaksa minum arak yang memang dia curigai itu.

“Ada apakah ribut-rbut? Siapa yang kurang ajar, tidak tahu aturan sehingga berani mengganggu upacara pernikahan kami?” teriak Oei Liong dengan marah sekali. Kepala bajak ini sudah mencabut golok besarnya, demikian pula Oei Hwa sudah mencabut sepasang pedangnya, keduanya dengan hati marah dan mendongkol lalu melompat menuju ke arah terjadinya ribut-ribut tadi.

Akan tetapi mereka tak perlu lari jauh dan tiba-tiba keduanya berdiri kaku seperti patung ketika melihat apa yang menyebabkan anak buah mereka ketakutan setengah mati itu.

Dari luar dusun, kelihatan bayangan besar berlompat-lompatan menuju ke tempat mereka dan di bawah sinar bulan purnama, kini bayangan itu kelihatan nyata sekali, yakni patung perunggu yang tadi tenggelam bersama perahu ke dasar sungai! Terkena sinar bulan, patung itu seakan-akan hidup, sepasang matanya yang merah mengeluarkan sinar mengerikan. Patung itu benar-benar bergerak, melompat-lompat dengan lompatan panjang ke tempat berkumpulnya para bajak itu.

Ketika terjadi ramai-ramai tadi, diam-diam Kwan Cu menggerakkan kedua kakinya yang terbelenggu dan dari belakang dia mengayun kakinya itu menendang ke arah leher Sui Ceng. Tanpa sepengetahuan gadis itu, dia telah berhasil membuka totokan yang membuat gadis itu bebas kembali jalan darahnya. Gadis ini merasa heran akan tetapi ia tak sempat untuk menyelidiki siapa yang telah membebaskannya karena pada saat itu ia pun memandang ke arah bayangan yang berlompatan itu dengan mata terbelak dan muka pucat. Sui Ceng adalah seorang gadis yang gagah perkasa, akan tetapai melihat patung yang tadi sudah tenggelam bersama perahu itu muncul di darat dan hidup, bulu tengkuknya berdiri semua dan ia bergidik dengan hati merasa seram dan ngeri.

Jangankan Oei Liong, Oei Hwa dan Sui Ceng, sedangkan Kwan Cu sendiri yang semenjak kecilnya mengalami banyak sekali hal-hal yang aneh dan menyeramkan, pada saat itu duduk melenggong dengan mulut terbuka dan mata terbelalak memandang ke arah patung itu seakan-akan dia sendiri sudah berubah menjadi patung.

Semua bajak sungai, seorang demi seorang mengambil langkah seribu dan lari tunggang-langgang ke dalam hutan yang lebat ketika patung itu melompat-lompat menghampiri mereka. Kini tinggal Oei Liong dan Oei Hwa sendiri yang masih berdiri di situ dengan tangan memegang senjata, akan tetapi tangan mereka serasa lumpuh saking takut yang mengamuk di dalam hati dan pikiran.

“Oei Liong dan Oei Hwa, kalian berdosa besar!” demikian patung itu mengeluarkan suara, suaranya besar dan nyaring sekali sehingga Kwan Cu yang tadinya seperti berubah menjadi patung, kini siuman kembali dari keadaannya. “Kalian membiarkan kami tenggelam dan sekarang melakukan upacara pernikahan tanpa minta ijin. Karena dosa-dosa itu, kalian harus binasa….!” Kemudian terdengar patung itu menggereng, dan melompat-lompat lagi menghampiri Oei Liong dan Oei Hwa !

Kakak beradik ini adalah orang-orang berhati kejam dan mereka takkan merasa ragu-ragu untuk menyembelih leher manusia. Akan tetapi mereka itu amat percaya akan tahayul. Kini menghadapi kemurkaan patung itu, mereka menjadi pucat sekali dan tanpa dikomando, keduanya lalu melompat dan melarikan diri! Oei Liong sampai tersandung dan jatuh dua kali karena biarpun dia berkepandaian tinggi kedua kakinya mengigil dan membuat larinya kaku sekali!

“Ha, ha, ha, ha, ha!” Kwan Cu tertawa geli setelah melihat semua bajak laut berlari pergi. “Saudara yang baik, lekaslah kau keluar dari kurungan itu!”

Sui Ceng tertegun dan gadis ini pun sudah pucat sekali. Ia membayangkan betapa hebatnya mati dalam tangan patung mengerikan ini. Akan tetapi mengapa Kwan Cu mengajaknya bicara?

Terjadilah hal yang amat aneh. Patung itu tertawa bergelak-gelak tanpa menggerakkan bibirnya, dan tiba-tiba patung itu terlempar ke atas dan jatuh berdebuk, bergulingkan di atas tanah dalam keadaan rusak karena terbentur batu. Akan tetapi ketika terlempar dia meninggalkan seorang manusia yang ternyata bersembunyi di dalamnya! Manusia ini tertawa bergelak-gelak dan ternyata dia adalah pemuda yang bertubuh tinggi besar, bermata lebar dan suaranya besar.

“Matamu tajam sekali, Kawan! Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku bersembunyi di dalamnya?” tanyanya sambil memandang kepada Kwan Cu.

Kwan Cu menatap wajah pemuda tinggi besar itu dengan tajam, kemudian diapun tertawa terpingkal-pingkal.

“Ha, ha, ha, tidak tahunya saudara Kong Hoat yang bermain setan-setanan, pantas saja demikian lihai sehingga tikus-tikus itu melarikan diri.”

Pemuda itu terkejut dan sekali dia melompat, dia telah berada di dekat Kwan Cu. Dengan cepat dia membuka belenggu yang mengikat tangan kaki Kwan Cu dan Sui Ceng, kemudian dia bertanya,

“Kau siapakah?”

“Lihat baik-baik, kawan. Lupa lagikah kau kepadaku? Bagaimana dengan keadaan Liok-te Mo-li, ibumu?”

Pemuda itu memang benar pemuda nelayan yang gagah perkasa, putra dari Liok-te Mo-li. Mendengar suara Kwan Cu dan memandang dengan penuh perhatian, dia lalu teringat dan dengan girang sekali dia menepuk-nepuk pemuda itu.

“Ha,ha,ha, tidak tahunya saudara Lu Kwan Cu! Bagus, bagus, tidak percuma aku bermain gila seperti tadi. Kalau saja aku tahu bahwa kau yang mereka tawan, tentu aku akan mengejar mereka terus sampai mereka mampus ketakutan! Sekali lagi, bagaimana kau bisa tahu bahwa di dalam patung ada orang yang sembunyi?”

“Mudah saja. Kau boleh saja menyembunyikan tubuhmu, akan tetapi ketika kau melompat, kau tidak mungkin dapat menyembunyikan telapak kakimu.”

Sui Ceng terheran-heran. Dia sendiri biarpun memandang kepada patung yang hidup itu dengan mata melotot, tidak dapat melihat telapak kaki itu.

Kong Hoat tertawa-tawa lagi, kini bergelak-gelak keras dan dari kedua matanya keluar air mata bercucuran. Melihat ini, Sui Ceng melongo dan tak dapat bicara apa-apa. Benar-benar orang aneh sekali pemuda tinggi besar ini, aneh, seperti juga Kwan Cu.

“Ha, ha, ha, saudara Kwan Cu. Apakah kau tadi melihat betapa siluman wanita itu berlari-lari tunggang-langgang sampai terkentut-kentut?” sambil berkata demikian, Kong Hoat memukul-mukul pundak Kwan Cu dengan keras. Kalau bukan Kwan Cu yang dipukul, tentu pundak itu akan remuk tulang-tulangnya!

Kwan Cu tertawa terbahak-bahak. “Aku lebih memperhatikan Oei Liong yang berlari-lari tunggang-langgang sampai terkencing-kencing!” Kwan Cu juga memukul-mukul pundak Kong Hoat.

Dalam sendau gurau ini, diam-diam kedua orang itu saling menguji kepandaian masing-masing dan sangat terkejut tahulah Kong Hoat bahwa tenaga dan kepandaian Kwan Cu jauh mengatasi kepandaiannya, maka dia menjadi makin kagum, menghormat, dan girang bukan main.

“Eh, sampai lupa aku. Siapakah Lihiap ini?”

Kwan Cu teringat dan dia memperkenalkan Sui Ceng. “Saudara Kong Hoat, Nona ini pun bukan orang luar. Dia adalah nona Bun Sui Ceng, murid terkasih dari Kiu-Bwe Coa-li.”

Mendengar ini seketika lenyap suara ketawa Kong Hoat. Ia cepat menjura dengan penuh hormat kepada Sui Ceng dan berkata,

“Aduh, alangkah bahagia hatiku dapat bertemu dengan murid dari wanita sakti itu. Bun-lihiap, siauwte adalah Kong Hoat, seorang nelayan bodoh.”

Sui Ceng tertawa, semenjak tadi melihat pemuda kasar dan jujur ini, ia merasa kagum dan geli, terutama sekali melihat betapa tiap kali tertawa terpingkal-pingkal, Kong Hoat selalu mengucurkan air mata.

“Kong-enghiong, kau terlalu merendahkan diri. Kalau tidak ada kau yang menolong, aku dan dia ini entah sudah mati atau belum pada saat ini,” kata Sui Ceng sambil melirik ke arah Kwan Cu dengan pandang mata memandang rendah. “Lebih baik aku sekarang segera mengejar untuk membasmi para bajak sungai itu.”

“Tak perlu, lihiap. Tidak akan ada gunanya. Kalau kau mengejar, mereka akan lari cerai berai dan biarpun kau berhasil, tentu hanya beberapa orang saja yang dapat kau susul. Sebaliknya, kalau kau tidak mengejar, kurasa mereka semua akan datang kembali setelah melihat bahwa patung hidup itu sebetulnya hanya main-main belaka.” Kembali Kong Hoat tertawa sambil mengucurkan air mata.

“Sui Ceng, dia berkata benar. Mereka tadi melarikan diri hanya karena kaget dan takut setengah mampus terhadap patung itu. Saudara Kong Hoat, lebih baik kau ceritakan bagaimana kau bisa melakukan permainan tadi?”

Sui Ceng terpaksa menunda niatnya mengejar para bajak, karena ia sendiripun ingin sekali mendengar penuturan pemuda tinggi besar itu.

“Aku memang mendapat tugas dari ibuku yang menyelidiki keadaan bajak sungai yang dipimpin oleh Luan-ho Oei Liong dan Sin-jiu Siang -kiam Oei Hwa. Ibuku memang semenjak mudanya menjagoi di kalangan bajak, menguasai daerah sungai dan telaga, juga bahkan sudah menjelajahi sampai ke samudera. Akan tetapi ibu tak pernah melakukan kejahatan, apalagi merampok rakyat yang bermata pencaharian menjadi nelayan. Karena mendengar akan kejahatan bajak sungai yang dipimpin oleh dua saudara Oei itu, ibu lalu menyuruh aku untuk menyelidiki. Kebetulan sekali aku melihat kalian dikeroyok dan karena aku sendiri sangsi apakah aku akan dapat menghadapi dua orang saudara yang ternyata amat lihai ilmu silatnya itu, aku lalu terjun dan menyelam ke bawah perahu besar dan menenggelamkannya. Kemudian aku lalu mempergunakan akal, memakai patung itu untuk mengusir mereka dan menolong kalian bebas dari belenggu.” Setelah menuturkan pengalamannya, kembali nelayan muda yang gagah ini tertawa bergelak sambil mencucurkan air mata.

Sui Ceng geli sekali melihat keadaan pemuda ini dan karena melihat sikap Kong Hoat yang jujur dan polos, tanpa sungkan-sungkan ia lalu mencela, “Saudara Kong Hoat, kau…..cengeng (mudah menangis) sekali!”

Kong Hoat tidak menjadi marah mendengar celaan ini, bahkan sambil tertawa dia menjawab, “Bukan salahku, salahnya mataku yang gampang menangis. Karena mataku ini maka di tempatku aku dijuluki orang Nelayan Cengeng!” Ucapan ini menambah kegelian hati Sui Ceng dan Kwan Cu sehingga tiga orang muda yang perkasa itu tertawa-tawa.

Tiba-tiba terdengar suara orang-orang berteriak dan para bajak sungai itu dengan berteriak dan para bajak sungai itu dengan dipimpin oleh Oei Liong dan Oei Hwa datang menyerbu!

“Nah, mereka benar-benar datang. Tentu mereka sudah tahu akan tipuanku tadi. Biar aku mengambil senjataku yang kusembunyikan di luar dusun ini!” kata Kong Hoat sambil berlari keluar dari dusun untuk mengambil senjatanya, yakni sebatang dayung yang panjang dan berat.

“Apakah kau bersenjata?” tanya Sui Ceng kepada Kwan Cu. Pemuda itu mengeleng kepalanya.

“Sepasang pedangku juga dirampas oleh keparat Oei Liong, akan tetapi jangan khawatir, dengan tangan kosong aku sanggup melayani mereka. Apalagi ikat pinggangku masih ada!” Gadis ini meloloskan ikat pinggang sebelah luar yang berwarna merah dan sekali ia menggerakkan tangan, ikat pinggang itu bergerak-gerak seperti seekor ular merah yang menyambar-nyambar. Diam-diam Kwan Cu kagum sekali dan teringatlah dia akan kelihaian ilmu dari Kiu-Bwe Coa-li, guru dari gadis ini. Ia yakin bahwa dengan senjata ang-kin (sabuk merah) itu, Sui Ceng cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawannya. Ia sendiri tersenyum dan tahu bahwa gadis ini masih memandang rendah kepadanya, maka dia pikir tak perlu memamerkan kepandaian dan akan bergerak secara sembunyi saja.

Gerombolan bajak muncul dan meraka telah bersenjata lengkap

“Dimana adanya keparat yang telah menipu kami dan menghina Dewa Sungai!” Oie Liong berseru sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi.

“Aku di sini, siap untuk mengemplang pecah kepalamu!” tiba-tiba terdengar teriakan keras dan Kong Hoat muncul berlari-lari sambil menyeret dayungnya yang besar dan berat.

“Kepung! Bikin mampus keparat itu, tangkap dua orang mempelai!” Seru Oei Liong dan Oei Hwa. Mereka ini menyerahkan pemuda nelayan bersenjata dayung itu kepada anak buah mereka, karena bagi mereka, lebih baik mereka berusaha menangkap kembali Kwan Cu dan Sui Ceng.

“Kwan Cu, mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka dan menghajar mereka dengan sabukku!” kata Sui Ceng yang merasa khawatir kalau-kalau kepandaian Kwan Cu masih terlampau rendah untuk menghadapi dua orang kepala bajak itu dengan tangan kosong saja.

Kwan Cu tersenyum dan benar-benar melompat mundur di belakang Sui Ceng, lalu duduk di bawah pohon dengan sikap sebagai seorang yang hendak menonton pertunjukan bagus, akan tetapi diam-diam matanya mencari-cari batu-batu kecil dan kedua tangannya mengerayang mengumpulkan batu-batu ini.

Keadaan menjadi geger. Puluhan orang bajak yang sudah dikumpulkan itu segera menyerbu, sebagian mengepung Kong Hoat dan sebagian pula membantu Oei Liong dan Oei Hwa yang mencoba untuk menangkap Kwan Cu dan Sui Ceng hidup-hidup.

Oei Hwa ketika melihat bahwa Kwan Cu tidakmau melawan, Bahkan duduk di bawah pohon hatinya girang bukan main dan mengira bahwa pemuda itu memang suka menjadi suaminya maka tidak melawan. Ia mendahului semua orang melompat ke dekat Kwan Cu dan dengan sikap yang genit ia berkata,

“Calon suamiku, apakah kau tidak mengalami kekagetan tadi? Marilah kita menyingkir lebih dulu sementara kawan-kawan kita menangkap gadis yang masih berkepala batu ini dan membunuh orang kasar itu!”

“Cih, perempuan hina -dina!” Sui Ceng memaki dengan marah dan sinar merah dari sabuknya meluncur ke arah leher Oei Hwa. Kepala bajak ini kaget sekali dan cepat menangkis. Akan tetapi inilah kesalahannya. Ketika ditangkis, sabuk itu bahkan melibat pedang dan pedang itu pasti aka terampas kalau saja Oei Hwa yang menjadi kaget tidak cepat-cepat mempergunakan pedang yang kiri untuk menusuk dan membabat tangan Sui Ceng. Terpaksa murid Kiu-bwe Coa-li ini melepaskan libatan sabuknya karena ia pun maklum akan kelihaian lawan. Ia menarik sabuknya sambil tertawa menghina, kemudian ia menyerang lagi. Terpaksa Oei Hwa melayaninya dan menyerang dengan sengit.

“Hwa-moi, jangan lukai dia. Ingat, dia calon So-somu (kakak ipar perempuan)!” kata Oei Liong yang maju pula membantu adiknya, bukan untuk membinasakan Sui Ceng, melainkan berusaha menangkapnya hidup-hidup. Juga beberapa orang bajak yang kepandaiannya sudah tinggi ikut pula menyerbu.

Akan tetapi Oei Liong dan kawan-kawannya kecele sekali kalau dia mengira akan dapat menangkap hidup-hidup gadis perkasa itu. Biarpun hanya bersenjata sehelai sabuk yang lemas, namun gadis ini lihai sekali. Tadinya para bajak mengira bahwa betapapun pandainya gadis itu, tanpa senjata tajam, hanya memegang sehelai sabuk, tentu mudah ditawan, dan sabuk itu tentu tidak berbahaya.

Akan tetapi tak disangka-sangka, setiap kali sabuk yang berubah menjadi sinar merah itu melayang, ujungnya “mencium” tubuh seorang anggota bajak, orang itu tentu memekik ngeri dan roboh tak bernyawa lagi dalam keadaan tidak terluka sama sekali! Ternyata bahwa inilah ilmu cambuk dari Kiu-bwe Coa-li yang selalu mengarah jalan darah kematian daripada lawan!

Dalam beberapa gebrakan saja, para bajak sungai yang tadinya berlomba ingin sekali berjasa dan menawan serta memeluk gadis cantik itu, dikagetkan oleh robohnya tujuh orang kawan mereka dalam keadaan tewas! Gentarlah mereka semua dan tanpa ada perintah dari Oei Liong dan Oei hwa, sebagian besar sudah mundur tak teratur!

Di lain fihak, para bajak yang mengeroyok Kong Hoat, juga menemui “batunya”. Dayung di tangan nelayan muda ini benar-benar lihai dan kekuatannya seperti seekor gajah mengamuk. Banyak kepala anak buah bajak pecah terpukul dayung, tulang-tulang iga patah-patah dan remuk kena sambaran senjata yang keras itu. Para bajak menjadi kocar-kacir dan banyak pula yang tidak tahan menghadapi Kong Hoat lalu melarikan diri, hanya bergerombol di tempat yang jauh sambil menonton mereka yang masih bertempur.

“Pergunakan jala wasiat!” tiba-tiba Oei Hwa membentak keras, memberi perintah kepada aank buahnya. Barulah para bajak itu ingat akan senjata yang ampuh itu. Beramai-ramai mereka lalu mengambil jala-jala yang sengaja dibuat bukan untuk menjala ikan, melainkan untuk menjala manusia, yakni lawan yang tangguh.

Oei Liong sendiri bersama Oei Hwa lalu mencabut jala yang tipis dan dilipat-lipat serta diselipkan di punggung dan sekali Oei Liong menggerakkan tangan, sehelai jala melayang di atas kepala Sui Ceng. Gadis ini cepat mengelak, akan tetapi sehelai jala lain yang berwarna hijau dan dilepaskan oleh Oei Hwa telah menyambar di atas kepalanya. Sui Ceng terkejut sekali. Kalau sampai dirinya tertutup oleh jala, semua ilmu silatnya takkan ada gunanya lagi, tentu akan rusak dan terhalang. Maka ia melompat lagi mengelak, dan sebentar saja dia terdesak hebat.

Di lain fihak, Kong Hoat juga didesak hebat oleh para bajak yang kini mempergunakan jala untuk mengalahkannya.

“Kwan Cu, mengapa kau diam saja?” Sui Ceng berseru gemas melihat pemuda ini masih enak-enak saja duduk di bawah pohon.

“Sebentar aku rampas jala-jala mereka,” kata Kwan Cu yang cepat mengeluarkan sulingnya, kemudian dia berlari menghampiri Sui Ceng karena selain dia lebih menghawatirkan keselamatan gadis ini, juga dalam pertempuran dua rombongan itu, Sui Ceng yang lebih berbahaya kedudukannya karena selain dikeroyok oleh para bajak, juga di situ ada Oei Liong dan Oei Hwa yang lihai.

Dengan gerakan yang kaku dibuat-buat, Kwan Cu menyerbu dengan sulingnya. Ia tidak menyerang siapapun juga, hanya menanti dan ketika ada jala seorang bajak laut dilemparkan ke atas untuk menangkap Sui Ceng, tubuhnya berkelebat, sulingnya digerakkan ke arah jala dan tahu-tahu jala itu robek di tengah-tengahnya, tak dapat dipergunakan lagi. Lain jala menyambar, Kwan Cu mengulur tangan kirinya dan tahu-tahu jala ini telah dirampasnya, disendal cepat dan putuslah tali jala yang dipegang oleh bajak itu!

Sui Ceng kagum dan memuji kecerdikan Kwan Cu, sungguhpun ia melihat bahwa semua itu bukan karena kepandaian Kwan Cu, melainkan karena kecerdikannya. Ia segera meniru perbuatan Kwan Cu, menyambut setiap jala,disambar dan ditarik kuat-kuat sehingga tali jala menjadi putus!

“Kanda, mengapa engkau membantunya? Dia membikin susah pada kami!” seru Oei Hwa dengan kecewa sekali.

“Kwan Cu, calon isterimu itu bawel sekali, perlu digampar mulutnya!” kata Sui Ceng gemas dengan suara menghina, dan ia cepat melompat ke arah Oei Hwa, Benar-benar mengirim pukulan atau tamparan pada muka Oei Hwa.

Dalam menampar ini, Sui ceng mempergunakan gerak tipu Yu-coan-hoa-jiu (Pukulan Menembus Bunga), maka biarpun tidak hebat datangnya, namun sukar dielakkan.

“Plak!” sebelah pipi Oei Hwa kena ditampar oleh Sui Ceng sehingga kelihatan bekas kemerah-merahan dan bibir yang terkena tamparan juga menjadi berdarah. Sui Ceng tertawa girang dan puas, akan tetapi sebaliknya Oei Hwa menjadi marah sekali.

“Liong-ko, terpaksa aku harus menghancurkan kepala budak ini!” seru Oei Hwa marah sekali dan ia cepat melemparkan pedang di tangan kirinya ke arah Sui Ceng. Lemparan pedang ini adalah ilmu timpuk yang disebut Kim-liong-touw-ka (Naga Emas membuka Pakaian) dan hebatnya buka main. Pedang itu meluncur bagaikan kilat cepatnya, menyambar ke arah dada Sui Ceng.

Tentu saja Sui Ceng terkejut sekali karena ini benar-benar tak pernah disangka-sangkanya, dan tahu-tahu sudah ada “pedang terbang” menuju ke dadanya. Ia cepat melempar tubuh ke kiri akan tetapi tubuhnya masih akan terserempet pedang kalau tidak pada saat itu, pedang yang meluncur tadi tahu-tahu berbunyi “tring…!” dan menyeleweng ke pinggir!

Sui Ceng cepat memasang kuda-kuda dan Oei Hwa yang melihat timpukan pedang kirinya meleset, segera melompat maju dan memutar pedang di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya cepat mencabut lipatan jalanya. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika melihat betapa jalanya itu sudah hancur dan robek-robek.

Semua itu adalah perbuatan Kwan Cu yang bekerja dengan cepat dan diam-diam, mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang tinggi tanpa diketahui oleh siapapun juga. Tadi ketika melihat Oei Hwa bergerak, dia sudah tahu bahwa nona ini hendak mempergunakan pedang untuk menimpuk, maka dia segera menyusul timpukan itu dengan batu kecil sehingga pedang tadi tidak dapat mengenai tubuh Sui Ceng. Kemudian dengan gerakan seperti seorang yang mainkan ilmu silat secara ngawur, dia menggerakkan sulingnya ke sana ke mari dan dalam keadaan kacau balau itu dia telah berhasil merusak jala-jala dari Oei Hwa, Oei Liong, dan beberapa orang bajak lain yang berdekatan!

Setelah melihat bahwa keadaan Sui Ceng tidak berbahaya lagi, dia menenggok ke arah Kong Hoat. Alangkah kagetnya keetika melihat pemuda kasar ini telah tertangkap oleh jala, dan pemuda ini mengamuk, memutar dayung di dalam jala itu sehingga para bajak tidak berani mendekat, hanya menambah jala untuk memperkuat kurungan sehingga sebentar saja tubuh Kong Hoat sudah dikurung oleh tujuh helai jala. Ia benar-benar seperti seekor ikan buas tertangkap di dalam jala, bergerak-gerak dan meronta-ronta tanpa dapat keluar dari jala, akan tetapi juga mereka yang menangkapnya tidak berani turun tangan!

Kwan Cu cepat melompat dan dengan sulingnya dia menyontek jal-jala itu. Para bajak menyerbu, akan tetapi dengan amat lincah dan gerakan lucu dibuat-buat seakan-akan gerakannya kaku, Kwan Cu mengelak dan memutari jala. Ia seperti sedang main kucing dan tikus, dikejar-kejar oleh para bajak dan menggelilingi jala itu. Akan tetapi, Kwan Cu diam-diam mempergunakan kepandaiannya. Suling di tangannya yang dipegang ketika dia berlari-lari mengitari jala menjauhi para bajak, diam-diam telah merobek jala itu di sana sini sehingga tiba-tiba Kong Hoat merasa jala itu mengendur. Ketika nelayan ini mempergunakan dayungnya mengangkat, ternyata jala-jala itu telah robek dengan mudah saja dia keluar dari situ.

“Jahanam keparat, rasakan pembalasanku!” seru nelayan ini dengan marah dan dayungnya mengamuk hebat sekali.

Kwan Cu kembali duduk di bawah dibawah pohon sambil menonton pertempuran. Ia melihat Sui Ceng kini hanya dikeroyok dua oleh Oei Hwa dan Oei Liong, karena para anak buah bajak sudah pada mengundurkan diri, Tidak berani lagi menghadapi gadis perkasa itu. Adapun Kong Hoat juga dijauhi oleh lawan-lawannya setelah dia berhasil menyapu roboh enam orang bajak lagi. Melihat Sui Ceng di keroyok, Kong Hoat lalu berlari-lari sambil menyeret dayungnya, langsung membantu Sui Ceng.

Pertempuran terpecah dua, Sui Ceng menghadapi Oei Hwa sedangkan Kong Hoat mengamuk dan menyerang Oei Liong. Hebat sekali pertempuran ini dan kepandaian mereka seimbang, hanya bedanya Kong Hoat lebih mengandalkan tenaga besar sedangkan Oei Liong lihai sekali permainan goloknya dan lebih cepat gerakkannya.

Adapun pertandingan antara Sui Ceng dan Oei Hwa tidak begitu ramai, karena memang tingkat kepandaian Sui Ceng jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Oei Hwa. Setelah kini tidak dikeroyok lagi. Sui Ceng menggerakkan sabuk merahnya demikian cepatnya sehingga Oei Hwa menjadi pening dan tak lama kemudian ia menjerit, terhuyung-huyung dan roboh telentang tak bergerak lagi. Ujung sabuk di tangan Sui Ceng telah menotok jalan darah kematian di dadanya!

Melihat Kong Hoat terdesak oleh Oei Liong, Sui Ceng cepat menggerakkan sabuknya. Pada saat itu, golok Oei Liong tengah menyambar dari atas untuk dibacokkan ke arah kepala Kong Hoat, akan tetapi alangkah terkejut hati Oie Liong ketika tiba-tiba dia merasa goloknya terlepas dari tangan dan ketika dia menengok, ternyata bahwa goloknya itu telah terampas oleh sabuk merah Sui Ceng. Kecut hati kepala bajak ini dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun.

Melihat ini, Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi Kong Hoat segera menggerakkan dayungnya dan sekali kemplang saja remuklah kepala Luan-ho Oei Liong.

“Saudara Kong Hoat, mengapa kau bunuh dia yang sudah tidak melawan?” tanya Sui Ceng dengan suara tidak puas, karena ia menganggap perbuatan Kong Hoat ini keterlaluan.

“Bun-lihiap, kejahatan seperti pohon liar dan untuk membasminya kita harus mencabut akarnya. Kalau kepalanya mati, anak buahnya masih ada harapan untuk kapok,” kata Kong Hoat.

Kata-kata ini segera terbukti karena para anak buah bajak yang melihat dua orang pemimpin mereka tewas, sisanya lalu melempar senjata dan berlutut. Mereka khawatir kalau-kalau keluarga mereka yang tinggal di dusun itu dibasmi oleh tiga orang pendekar itu, maka cepat-cepat mereka memohon ampun.

“Sam-taihiap (Tiga Pendekar Besar), mohon sudi mengampuni kami.”

Melihat bahwa kata-kata Kong Hoat ternyata benar, Sui Ceng lalu tersenyum dan berkata,

“Terserah kepadamu untuk meghadapi mereka, saudara Kong Hoat. Kau lebih mengerti bagaimana harus melayani mereka itu.”

Kong Hoat lalu mengangkat dayungnya dan memalangkan dayung itu di depan dadanya, kemudian dia berkata,

“Kalian semua harus bersyukur bahwa dua orang kawanku yang gagah perkasa ini masih mengampuni jiwa anjingmu. Sekarang kalian harus dapat mengubah cara hidupmu. Kami takkan melarang kalau kiranya kalian membajak perahu-perahu pembesar pemerintah penjajah, atau minta sumbangan dari para hartawan. Akan tetapi, jangan bertindak sembarangan saja seperti yang dilakukan oleh dua orang pemimpinmu yang sudah tewas. Kalian kami bebaskan, akan tetapi hati-hati, kalau lain kali kami masih mendengar bahwa sepak terjangmu keterlaluan, pohon ini menjadi contohnya!” Setelah berkata demikian, Kong Hoat menggerakkan dayungnya ke arah sebatang pohon. Terdengar suara keras dan pohon itu tumbang karena patah dihantam oleh dayung itu.

Semua bajak menjadi pucat dan mengangguk-angguk menyatakan taat akan pesanan ini.

“Ketahuilah, bahwa kawan-kawanku ini adalah pendekar-pendekar berilmu tinggi, sedangkan aku sendiri biarpun tidak ternama akan tetapi kiranya kalian sudah mendengar nama ibuku, yakni Liok-te Mo-li!”

Mendengar nama ini, benar saja semua bajak itu menjadi gemetar seluruh tubuh mereka dan saling memandang dengan gelisah. Nama Liok-te Mo-li siapakah yang tidak pernah mendengarnya? Wanita sakti itu boleh dibilang menjadi ratu dari segala bajak air, karena selain sakti, juga pandai sekali dalam air dan ganasnya terhadap penjahat luar biasa.

“Hamba sekalian akan mentaati perintah dan tidak berani melanggarnya,” kata beberapa orang bajak itu.

“Nah, sekarang uruslah semua mayat ini dan ubah cara hidup kalian,” kata pula Kong Hoat. Kemudian tanpa banyak cakap lagi, Kong Hoat, Sui Ceng dan Kwan Cu keluar dari dusun itu.

Setelah tiba di luar hutan, Kong Hoat lalu menjura kepada Sui Ceng dan Kwan Cu, katanya dengan sejujurnya.

“Ji-wi benar-benar hebat sekali, siauwte benar-benar tunduk atas kepandaian Ji-wi yang luar biasa tingginya. Mudah-mudahan saja kelak siauwte akan mempunyai keberuntungan untuk bertemu dengan Ji-wi. Selamat tinggal.” Setelah berkata demikian, nelayan muda itu menyeret dayung dan pergi situ.

Sui Ceng dan Kwan Cu berpandangan dan Kwan Cu tertawa

“Kong Hoat benar-benar hebat dan mengagumkan. Akan tetapi kau lebih-lebih luar biasa sekali, Sui Ceng. Aku tunduk betul akan kepandaian.”

“Akan tetapi kau lebih cerdik, Kwan Cu. Tadi aku benar-benar binggung sekali ketika dikurung oleh jala-jala itu. Baiknya kau datang dan memberi contoh yang amat baik. Aku percaya penuh bahwa dengan akalmu yang cerdik, kau akan mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silat. Eh, kata guruku, kau mungkin sudah mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Betulkah ini?”

Merah wajah Kwan Cu. tadi dia sudah berhasil menyembuyikan kepandaiannya, maka kini dia hanya menggeleng-geleng kepalanya tanpa memberi jawaban. Untuk menyimpangkan perhatian Sui Ceng dia tiba-tiba berkata,

“Sui Ceng, tadi kau kehilangan sepasang pedangmu, apakah kau tidak mau mengambilnya dulu? Bukankah tadi dirampas oleh Oei Liong?”

Sui Ceng benar saja lupa untuk bertanya-tanya lagi tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebaliknya ia menggeleng-geleng kepala dan berkata,

“Pedang-pedang itu pedang biasa saja, tanpa itu pun aku masih mempunyai ang-kin ini. Kalau pedang Liong-coan-kiam, barulah boleh disebut pedang baik!”

“Liong-coa-kiam? Pedang apakah itu dan milik siapa?” tanya Kwan Cu dengan suara girang karena dia berhasil mengalihkan perhatian Sui Ceng dari pertanyaan tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Sui Ceng kelihatan kaget dan menyesal bahwa dia telah terlanjur bicara tentang pedang itu.

“Pedang Liong-coa-kiam adalah pedang peninggalan Menteri Lu Pin untukmu, berada di Goa Tengkorak.”

Kwan Cu teringat akan tugasnya mengunjungi Goa Tengkorak, Maka dia lalu berkata cepat.

“Aah, aku harus ke sana sekarang juga! Aku perlu bertemu dengan kong-kong Lu Pin.”

Sudah bergerak bibir Sui Ceng untuk menceritakn tentang kematian Lu Pin, akan tetapi ditahannya bibir itu. Memang, biarpun Sui Ceng pernah berkata akan pesan terakhir dari Menteri Lu Pin, namun Kwan Cu mengira bahwa kong-kongnya masih hidup, yakni menurut anggapan orang-orang di dalam istana.

“Kalau begitu kita berpisah di sini,” kata Sui Ceng.

Kwan Cu nampak kecewa. “Benar katamu, Sui Ceng. Kau…….kau tentu tidak sudi melakukan perjalanan bersamaku.”

Sui Ceng tertawa melihat sikap pemuda ini. “Bukan begitu, memang kita tidak mempunyai keperluan untuk melakukan perjalanan bersama. Bahkan aku mengajak kau berlomba, siapakah yang akan dapat memenuhi pesanan kong-kongmu itu lebih dahulu.”

Hm… kau tidak adil. Kau sudah tahu akan pesanan itu, sedangkan aku belum. Baiklah, aku segera akan menyusulmu, Sui Ceng. Kita pasti akan bertemu lagi kelak.”

“Selamat berpisah,” kata Sui Ceng sambil memutar tubuhnya.

“Selamat berpisah sampai berjumpa kembali,” kata Kwan Cu tanpa memutar tubuh, bahkan memandang kepada gadis itu yang mulai berjalan pergi. Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng membalikan tubuhnya sambil berseru.

“Kwan…” Ia terpaksa menghentikan panggilannya karena melihat bahwa pemuda itu ternyata belum pergi, masih berdiri memandangnya! Merah muka Sui Ceng melihat kenyataan ini.

“Ada apakah, Sui Ceng? Masih ada sesuatau yang harus kita bicarakan agaknya?”

“Aku lupa untuk bertanya tentang sikapmu tadi ketika kita masih dibelenggu,” berkata sampai di sini, wajah nona itu menjadi makin merah dan sepasang matanya menyinarkan cahaya penasaran. “Kau bilang bahwa kau gembira sekali karena keaadan kita waktu itu menyatakan bahwa kita seakan-akan saling…….saling menikah? Mengapa? Mengapa kau gembira?”

Terbelalak lebar sepasang mata Kwan Cu yang bersinar tajam dan berpengaruh itu. Perlahan-lahan kedua pipinya merah sekali. Akan tetapi, pemuda ini semenjak bersumpah di depan Liyani, gadis raksasa itu bahwa dia mencintai seoang gadis yang bernama Bun Sui Ceng, dia sering kali melamun dan bermimpi tentang gadis ini. Dan semenjak itu dia betul-betul merasa betapa dia mencintai Sui Ceng! Terdorong oleh kejujurannya, pula karena dia melihat bahwa Sui Ceng juga seorang gadis jujur, dia lalu memberanikan diri, menekan hatinya yang berguncang, lalu berkata dengan gagahnya.

“Mengapa aku gembira dapat menikah dengan engkau? Sui Ceng, karena aku…….aku cinta kepadamu!”

Sui Ceng bengong. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian terus terang, tanpa tedeng aling-aling lagi menyatakan isi hatinya, mengaku cinta padanya. Akan tetapi ia lalu teringat akan sesuatu dan mukanya menyatakan kemarahan.

“Kwan Cu, bagus benar watakmu! Bukankaah kau sudah tahu bahwa aku ini tunangan The Kun Beng?”

“Memang aku sudah tahu,” kata Kwan Cu mengangguk.

“Dan kau masih berani menyatakan ci…….cinta …padaku?”

“Mengapa tidak?”

“Kau mengkhianati Kun Beng yang kau anggap kawan sendiri!”

Kwan Cu mengangguk. “Memang, akan tetapi kalau aku tidak berterus terang, bukankah itu berarti aku mengkhianati hati sendiri? Pula, terus terang saja kukatakan bahwa Kun Beng tidak berharga untuk menjadi suamimu!”

Makin terheranlah gadis itu dan untuk kedua kalinya ia bengong. Kemudian ia bertanya bibirnya tersenyum mengejek, “Hm, dan kaupikir bahwa kaulah orang yang paling berharga untuk menjadi………menjadi suamiku?”

Kwan Cu mengangguk. “Memang, begitulah pikiranku.”

Sui Ceng membanting-banting kakinya. “Kau kurang ajar sekali, Kwan Cu. Kau besar mulut! Kalau ada pedang di tanganku, tentu kau akan kuserang!”

“Kau sudah melakukan hal itu di atas perahu.”

“Ya, akan tetapi terganggu, belum sampai aku menusuk dadamu.”

” Kau ingin sekali membunuhku?”

“Ya, kalau kau begitu sombong, begitu kurang ajar, dan begitu rendah hati memburukkan nama orang lain di depanku.”

“Dengan ang-kinmu itu pun kau dapat melakukan pembunuhan terhadapku, Sui Ceng. Mengapa kau tidak lakukan hal itu?”

Sui Ceng tertegun. “Selain sombong….. kau… kau… ”

“Ya….”

“Kau juga tabah sekali. Kau orang aneh, agaknya kau sudah sudah miring otakmu.” Setelah berkata demikian, Sui Ceng lalu membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Kwan Cu.

Kwan Cu mengangkat kedua tangan, meraba-raba kepalanya sendiri dan menggerutu.

“Benar-benarkah sudah miring otakku? Mengapa aku begini tergila-gila setelah melihatnya? Ah…. jangan-jangan sudah miring benar-benar otakku…. ” Sambil menggerutu dan mengeluh panjang pendek, Kwan Cu pergi dari situ, langsung menuju bukit di mana terdapat Goa Tengkorak, tempat bersembunyi kong-kongnya, yakni Menteri Lu Pin.

***

Di dalam Goa Tengkorak yang menyeramkan itu terdengar suara orang menangis.

“Kong-kong, aku bersumpah untuk membasmi keturunan An Lu Shan manusia jahanam itu!” Terdengar orang yang menangis itu berkata dan suaranya lebih menyeramkan lagi karena bergema di dalam goa yang besar penuh tengkorak-tengkorak raksasa itu. Orang ini adalah Lu Kwan Cu yang berhasil mendapatkan Goa Tengkorak di mana kong-kong angkatnya telah meninggal dunia. Ketika memasuki goa, Kwan Cu belum mengetahui bahwa Menteri Lu Pin telah meninggal dunia, akan tetapi setelah dia membaca tulisan berukir di dinding, mencabut pedang Liong-coan-kiam, lalu menuju ke hio-louw, dia melihat makam kong-kongnya itu dan menangislah dia. Hatinya amat terharu. Mereka itu dua saudara yang gagah perkasa dan berjiwa pahlawan. Lu Sin dan Lu Pin. Dan keduanya merupakan orang-orang yang amat dijunjung tinggi dan dikasihani oleh Kwan Cu. Kini keduanya tewas karena membela kebenaran, membela negara dan bangsa. Dan hanya dia seoranglah yang berkewajiban membalas dendam, atau lebih tepat lagi berkewajiban melanjutkan cita-cita mereka berdua.

Kemudian Kwan Cu meninggalkan goa itu setelah menutupi goa itu dengan batu-batu dan alang-alang seperti yang dilakukan oleh Sui Ceng dulu. Hati dan pikirannya penuh cita-cita, dan dia merasa sebagai seorang yang memanggul banyak macam tugas kewajiban. Pertama-tama, dia akan membalas dendam kepada para pembunuh Ang-bin Sin-kai, yakni Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, Toat-beng Hui-houw, Pek-eng Sianjin dan para pembantu mereka. Ke dua, dia akan mencari keluar An Lu Shan dan akan membunuh mereka semua, sesuai dengan pesan kong-kongnya, Menteri Lu Pin. Urusan ke tiga, dia juga harus mencari Kun Beng dan Swi Kiat, untuk memenuhi permintaan Gouw Kui Lan, gadis yang bernasib malang itu.

Berpikir tentang Kun Beng dan Swi Kiat, Kwan Cu teringat akan Bun Sui Ceng. Hatinya berdebar kalau dia teringat akan pertemuannya dengan gadis itu beberapa hari yang lalu. Sui Ceng benar-benar telah menjadi seorang gadis yang melampaui keindahan gadis dalam mimpinya. Ia benar-benar jatuh hati kepada gadis itu, dan hatinya perih kalau teringat bahwa gadis itu telah ditunangkan dengan Kun Beng. Bukan perih karena cemburu atau iri, melainkan karena dia mendapat kenyataan batwa Kun Beng bukanlah seorang pemuda yang patut menjadi suami Sui Ceng. Bukankah Kun Beng telah melakukan hal yang amat rendah terhadap Gouw Kui Lan? Tidak, Kun Beng tidak seharusnya menjadi suami Sui Ceng. Dia akan mencegah terjadinya perjodohan itu! Kasihan kepada Kui Lan, juga kasihan kepada Sui Ceng.

Dengan cepat Kwan Cu melakukan perjalanan menuju ke kota raja karena dia hendak menyelidiki betul-betul di mana dia dapat mencari Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan musuh-musuh yang lain. la teringat kepada Lu Thong, cucu kong-kongnya yang berhati khianat itu, ia akan mempergunakan kekerasan, memaksa Lu Thong mengaku di mana adanya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Juga dia akan mengunjungi An Kong putera An Lu Kui. Kali ini dia akan membunuh orang ini, juga An Lu Kui, karena mereka ini adalah keluarga An Lu Shan.

Semenjak Kwan Cu menyerbu ke kota raja dan berhasil menolong Kui Lan keluar dari gedung An Kong, tembok kota raja dijaga makin keras. Jangankan manusia biasa, seekor burung pun agaknya tak mungkin lewat di atas tembok kota raja tanpa terlihat oleh para penjaga yang banyak jumlahnya dan yang melakukan penjagaan secara bergilir .

Akan tetapi Kwan Cu bukanlah manusia biasa, juga bukan burung yang tidak mempunyai akal budi. Dengan gerakannya yang amat gesit, Kwan Cu dapat melewati penjagaan dan melompat ke atas tembok, mempergunakan kegelapan malam sehingga dia dapat masuk ke kota raja tanpa terlihat oleh siapapun juga.

Ternyata bahwa kota raja telah terjadi perubahan besar. Di antara mereka yang bersaingan merebutkan kedudukan, Si Su Beng kawan pemberontak An Lu Shan telah berhasil membunuh putera An Lu Shan yang dulu membunuh ayahnya sendiri. Kemudian Si Su Beng berhasil menduduki tempat tertinggi. Hal ini adalah berkat bantuan jago-jagonya, terutama sekali berkat bantuan Kiam Ki Sianjin, tosu yang berjuluk Pak-kek Sian-ong itu.

Biarpun diam-diam An Lu Kui dan kaki tangannya menaruh hati dendam karena pangeran yang terbunuh itu adalah keponakannya sendiri, namun An Lu Kui tidak berani berbuat sesuatu. Hanya diam-diam dia mengumpulkan kawan-kawannya mencari jalan untuk merampas kembali kedudukan yang dipertuan di Kerajaan Tang yang sudah dirampasnya itu.

Malam itu gelap dan dingin sekali hawanya. Kwan Cu pertama-tama segera menuju ke rumah gedung di mana tinggal An Kong pangeran botak putera An Lu Kui yang dulu pernah diserbunya ketika dia menolong Gouw Kui Lan. Baginya An Kong juga keturunan atau keluarga An Lu Shan maka patut dibinasakan. Lagi pula, manusia macam An Kong itu memang sudah pantas kalau menerima hukuman mati, karena hidupnya hanya mengotorkan dunia dan melakukan kejahatan dan kekejian belaka.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Kwan Cu berhasil mengintai ke dalam. Di ruang tengah dia melihat An Kong tengah bercakap-cakap dengan dua orang perwira yang dikenalnya sebagai panglima-panglima pembantu An Lu Kui yang dulu pernah dikalahkan. Mereka itu adalah Cang Kwan yang berwajah brewok dan Liong Tek Kauw, dua orang panglima yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi yang bagi Kwan Cu bukan apa-apa. Melihat An Kong, bangkit amarah di dada Kwan Cu, karena tidak saja pangeran botak ini mengingatkan dia akan Kui Lan yang bernasib malang, akan tetapi dia juga teringat, akan keluarga Lu yang terbinasa karena kekejaman keluarga An.

“An Kong anjing botak, aku datang untuk mengambil nyawamu!” kata Kwan Cu sambil melayang ke bawah. Tadi ketika mengintai, dia mempergunakan dua kakinya dikaitkan pada balok melintang di bawah genteng dan kini tubuhnya melayang bagaikan seekor garuda menyambar.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: