Pendekar Sakti (Jilid ke-3)

“Thio-toanio, mendiang Bun-pangcu adalah ayahnya! Dan dia sekarang adalah Pangcu kami, tak seorang pun boleh mengganggu!”

“Pengangkatan ketua secara paksa, ah, orang-orang ini tak salah lagi tentu miring otaknya! Sungguh banyak sekali orang gila di dalam dunia ini!”

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan semua orang, juga Loan Eng , menengok ke arah suara itu. Ternyata yang bicara tadi adalah Kwan Cu yang kini sudah nongkrong di bawah pohon, semenjak tadi memperhatikan peristiwa yang terjadi di depan matanya.

Tiga orang pemimpin Sin-to-pang itu memandang kepada Kwan Cu dengan mata mendelik. Mereka mendongkol sekali karena dimaki gila, juga dapat menduga bahwa Loan Eng dapat menemukan tempat mereka tentu atas petunjuk bocah gundul itu. Akan tetapi pada saat seperti itu mereka tidak sempat melayani bocah gundul itu.

“Huang-ho Sam-eng (Tiga Pendekar Sungai Kuning), sekali lagi aku bertanya, apakah kalian tidak mau membebaskan Sui Ceng dengan baik-baik sehingga aku tak perlu turun tangan?”

“Tak mungkin, Toanio. Dengan berbuat begitu, berarti kami melanggar sumpah setia kepada mendiang Bun-pangcu!” jawab seorang di antara mereka. Memang tiga orang pemimpin yang dulu menjadi pembantu-pembantu Bun Liok Si adalah tiga saudara yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-eng dan mereka ini sudah semenjak mudanya terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman.

“Kalau begitu kalian mencari penyakit sendiri!” bentak Loan Eng.

“Kami siap sedia mengorbankan nyawa untuk Sin-to-pang!”

Loan Eng tidak banyak cakap lagi lalu langsung menggerakkan pedangnya menyerang. Tiga orang itu lalu mengurungnya, merupakan segitiga dan menggerakkan golok mereka menangkis. Pertempuran hebat terjadi dan mata Kwan Cu yang menonton pertempuran itu dari bawah pohon menjadi silau melihat gerakan pedang dari Loan Eng. Pedang nyonya ini bergerak cepat, berkelebat kesana kemari laksana kilat menyambar-nyambar. Sebentar saja tiga orang pengeroyok menjadi terdesak hebat. Akan tetapi, benar seperti kata-kata mereka tadi, mereka melawan dengan nekat dan mati-matian, bertekad hendak melawan sampai titik darah terakhir dalam membela perkumpulan mereka. Pengangkatan Sui Ceng sebagai keturunan langsung dari Bun Liok Si menjadi ketua perkumpulan amat perlu, untuk menjaga perkumpulan yang sudah bertahun-tahun menduduki tempat di dunia kang-ouw itu. Para anggauta semenjak Bun Liok Si tewas, menjadi lemah semangatnya dan perkumpulan itu terancam keruntuhan.

Biarpun dia sendiri tidak suka belajar ilmu silat yang dianggapnya sebagai ilmu memukul dan membunuh orang, namun melihat cara Loan Eng menggerakkan pedang menghadapi tiga orang pengeroyoknya itu membikin Kwan Cu menjadi gembira dan kagum sekali. Ia menonton dengan sepasang matanya bersinar-sinar, dan dengan penuh perhatian dia melihat betapa sinar pedang nyonya itu mengurung tiga pengeroyoknya. Benar-benar amat mengherankan hatinya. Sudah jelas bahwa nyonya itu dikurung dan di keroyok tiga, akan tetapi mengapa sinar pedangnya bahkan dapat mengurung dan mengancam tiga pengeroyoknya ?

Memang ilmu pedang keluarga Thio amat hebatnya. Ini dapat dirasai oleh Huang-ho Sam-eng, dan dengan diam-diam mereka juga kagum sekali. Tidak aneh apabila ketua mereka dulu tewas dalam tangan nyonya ini. Mereka bertiga telah menerima pelajaran ilmu golok langsung dari Bun Liok Si dan di kalangan kang-ouw, kepandaian main golok dari tiga pendekar Sungai Huang-ho ini sudah terkenal sekali. Akan tetapi kini menghadapi Loan Eng, mereka benar-benar terdesak hebat dan tidak dapat menyerang karena mereka tidak sempat. Pedang Loan Eng bergerak cepat sekali dan tiap kali tertangkis oleh sebatang golok, maka pedang itu terpental dan sekaligus membuat serangan lain ke arah pengeroyok yang lain lagi! Juga tubuh nyonya cepat bagikan seekor burung walet menyambar-nyambar, sukar sekali diikuti pergerakannya.

Sementara itu, Loan Eng yang bernafsu keras untuk cepat-cepat menjatuhkan tiga orang lawannya dan segera menolong puterinya, lalu berseru nyaring dan tahu-tahu tubuhnya mencelat ke atas, kaki kanannya digerakkan secara tiba-tiba menendang ke arah golok dari pengeroyok yang berada di depannya. Terdengar suara nyaring sekali dan golok di tangan penyerang itu terpukul oleh ujung kaki sehingga pemegangnya merasa terkejut bukan main. Bukan sembarang orang berani menendang sebatang golok yang terpegang kuat. Selagi dia terkejut dan memandang dengan mata terbelalak, Loan Eng sudah memutar pedangnya menyerang dua orang yang lain. Mereka ini terkejut sekali dan cepat mengelak mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Loan Eng untuk menggerakkan pedangnya ke depan dengan kecepatan yang tak dapat terduga lebih dahulu oleh lawan-lawannya. Terdengar jerit kesakitan dan orang itu roboh dengan pundak terluka dan goloknya terlempar dari pegangan.

“Toanio, jangan bunuh orang!” berkali-kali Kwan Cu berteriak dan teriakan ini ada baiknya karena merupakan peringatan bagi Loan Eng yang sedang marah. Dengan amat cepatnya, kembali ia merobohkan dua orang lawannya dengan melukai paha dan lengan mereka, kemudian bagaikan seekor burung garuda, ia melompat ke dalam gubuk itu. Beberapa anak buah Sin-to-pang yang menghadang di pintu, sekali diterjangnya telah kocar-kacir, jatuh tunggang langgang ke kanan kiri. Benar-benar hebat sepak terjang nyonya yang sedang marah itu, laksana seekor harimau betina diganggu anaknya.

“Ibu , jangan ganggu anak buahku!” tiba-tiba Sui Ceng berseru nyaring dan seruan ini tidak saja membuat Loan Eng melengak, juga para anak buah Sin-to-pang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut sambil menyebut ,

“Bun-siauw-pangcu!”

Loan Eng benar-benar tertegun sekali. Teriakan tadi membuat ia teringat kepada mendiang suaminya. Seakan-akan suaminya yang berseru tadi melalui mulut anaknya! Naik sedu sedan dalam kerongkongan nyonya itu dan tanpa banyak cakap lagi ia menyambar tubuh Sui Ceng dan dibawanya lari keluar!

Ketika Loan Eng lewat di depan Kwan Cu yang sudah berdiri di bawah pohon, ia berkata, “Kwan Cu, terpaksa aku meninggalkan kau, anak baik! Aku hendak pergi bersama Sui Ceng. Kelak kalau kau bertemu Sui Ceng, pesanku padamu, bantu dan jagalah dia baik-baik. Selamat tinggal, Kwan Cu,” sambil berkata demikian, Loan Eng memeluk dan mencium jidat Kwan Cu , lalu pergi cepat sekali sambil menggendong Sui Ceng!

Kwan Cu berdiri bagaikan patung dan mulutnya berkemak kemik, “Aku akan menjaga adik Ceng! Akan kujaganya baik-baik….” Dan tak terasa pula anak gundul ini menangis dengan air mata mengalir di kedua pipinya.

Anak ini merasa ditinggalkan seorang diri. Kini kembali sebatangkara, ditinggalkan kepada nasibnya sendiri. Ia tidak berduka hanya menangis saking merasa terharu saja. Belum pernah ia dikasihi orang seperti nyonya janda tadi dan ciumannya pada jidatnya menghangatkan hatinya. Seakan-akan dia kehilangan seorang ibu!

Dengan kedua kaki lemas anak ini lalu pergi dari tempat itu. Akan tetapi baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba di depannya telah menghadang tiga orang pemimpin Sin-to-pang yang terluka. Luka-luka mereka hanya luka-luka kulit saja dan sebentar saja mereka telah dapat berdiri kembali. Kini kemarahan mereka tertimpa pada Kwan Cu.

“Anak gundul, kalau bukan kau yang menjadi biang keladi, tak nanti Thio-toanio dapat merebut kembali anaknya!” kata yang berjenggot kasar dan ketika tangannya melayang, sebuah tempilingan keras telah melayang ke arah Kwan Cu. Anak ini tentu saja kalah gesit dan terdengar suara “plak” yang keras sekali dan tubuh anak ini jatuh bergulingan. Ia hanya merasa pening sebentar, akan tetapi tidak merasa sakit, maka dengan cepat dia telah berdiri lagi dan memandang kepada tiga orang itu dengan sepasang matanya yang besar itu terbelalak lebar dengan sinar terang.

Pemukulnya menjadi heran sekali. Mengapa anak ini demikian kuatnya sehingga dapat menahan pukulannya? Orang ke dua lalu maju memukul ke arah dada Kwan Cu. Untuk kedua kalinya anak ini jatuh bergulingan di atas tanah dan debu mengebul. Akan tetapi kembali Kwan Cu bangun lagi dan kelihatannya tidak sakit, sama sekali anak ini tidak mengeluh. Memang dia merasa dadanya sesak terkena hawa pukulan, akan tetapi sebuah tenaga yang tidak kelihatan seakan-akan mendesak perasaan tak enak ini dari sebelah dalam dan dalam sekejap mata saja rasa sesak itu lenyap lagi!

Sebelum Kwan Cu dapat berdiri tegak, sebuah tendangan dari orang ketiga mengenai lambungnya. Kini tubuh anak ini terlempar ke atas dan membentur batang pohon di bawah mana dia tadi duduk. Dengan menerbitkan suara keras tubuhnya tertumbuk pada pohon, lalu jatuh lagi bergulingan. Alangkah kaget dan herannya tiga pemimpin ini ketika melihat Kwan Cu kembali bangkit seperti tak pernah terjadi sesuatu.

Sekarang mereka saling pandang, juga anak buah Sin-to-pang yang telah berkumpul di situ memandang dengan muka heran. Seorang di antara pemimpin Sin-to-pang itu lalu mengambil goloknya yang tadi terlempar ke atas tanah, kemudian dengan langkah lebar dia mengejar Kwan Cu lalu mengangkat golok membacok ke arah Kwan Cu!

“Sute, jangan!” seru yang berjenggot kasar mencegah adiknya. Akan tetapi terlambat, karena golok itu telah menyambar. Kwan Cu melihat sinar golok, menjadi silau, maka dia mengangkat tangannya melindungi lehernya. Golok itu membacok lengannya, di bawah siku. Anehnya pembacok itu merasa seperti ada tenaga yang hebat menolak goloknya dan biarpun dia berhasil melukai lengan anak itu, akan tetapi lengan anak itu tidak putus, bahkan goloknya terpental dan terlepas dari pegangannya!

Benar-benar mengherankan sekali hal ini. Tiga orang pemimpin itu benar-benar tidak mengerti. Melihat gerakan anak ini, jelas bahwa dia tidak mengerti ilmu silat, buktinya ketika dipukul, ditendang, dan dibacok, anak itu tidak mengelak atau melawan sama sekali. Akan tetapi anehnya, semua pukulan dan tendangan tidak melukainya. Bahkan lengannya kini terbabat golok yang dibacokkan dengan keras, mengapa lengan itu tidak putus, bahkan golok itu yang terlempar? Ketika mereka memandang ternyata bahwa lengan itu mengeluarkan darah banyak juga.

Hal ini sebetulnya tidak terlalu aneh. Tubuh anak ini telah memiliki tenaga mujijat dari khasiat buah ular yang dijejalkan ke dalam mulutnya oleh Tauw-cai-houw dan di samping tenaga mujijat ini. Kwan Cu juga tanpa disadarinya telah melatih diri dengan lweekang yang diajarkan oleh Loan Eng. Anak ini tekun sekali melakukan siulian (samadhi) maka diam-diam dia telah menampung tenaga lweekang di dalam tubuhnya tanpa dia ketahui sendiri!

Luka pada lengannya terasa perih sekali dan juga lengannya terasa ngilu dan lumpuh, akan tetapi benar-benar luar biasa daya tahan dari anak gundul ini. Ia hanya menggigit bibirnya dan sama sekali tidak mengeluh.

Kwan Cu menggunakan tangan kanan untuk mengusap-usap darah yang mengalir dari lengan kirinya, sambil berkata, “Hm, Sin-to-pang hanya bisa menculik anak kecil dan melukai anak-anak pula. Apakah ini yang dahulu Bun-pangcu mengajarmu bertindak?”

Mendengar ucapan ini, pucatlah wajah tiga orang pemimpin Sin-to-pang ini. Tanpa disengaja, Kwan Cu telah mengingatkan mereka kepada larangan-larangan yang diadakan oleh mendiang Bun Liok Si, di antaranya bahwa semua anggauta Sin-to-pang dilarang keras mengganggu wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah! Kemudian, wajah mereka yang pucat itu menjadi makin terbelalak lebar matanya ketika melihat pemandangan yang benar-benar sukar mereka percaya. Terdengar seruan-seruan “aaahh…..”,”aneh…” “dia seorang anak sin-tong!” dari para anggauta Sin-to-pang.

Memang mengherankan. Beberapa kali Kwan Cu mengusap luka di lengannya dan setelah darah yang mengering di luar luka itu lenyap, ternyata kulit lengan itu telah halus lagi, tidak nampak sedikit pun tanda-tanda bekas luka! Melihat ini, tiga orang pemimpin itu lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh semua anak buah yang berjumlah lima puluh orang!

“Sin-siauwhiap (pendekar sakti cilik), mohon maaf dan mohon petunjuk yang berharga,” kata si jenggot kasar, orang tertua dari Huang-ho Sam-eng.

Benar-benar amat menggelikan kan tetapi juga mengagumkan betapa Kwan Cu yang diperlakukan seperti ini, dapat berkata dengan sikap bersungguh-sungguh dan tenang, seakan-akan dia memang benar seorang bocah sakti.

“Cu-wi sekalian mengapa begitu ribut-ribut? Nona Sui Ceng sudah bersumpah di depan arwah ayahnya bahwa ia menerima menjadi ketua dari Sin-to-pang , akan tetapi oleh karena ia masih sangat kecil dan belum memiliki kepandaian, mengapa dia tidak boleh ikut ibunya? Cu-wi melihat sendiri betapa hebat kepandaian Thio-toanio, kalau Siauw- pangcu (Ketua Cilik) belajar silat dari ibunya, bukankah kelak akan menjadi seorang pangcu yang benar-benar baik? Dari pada Cu-wi meributkan halnya calon pangcu itu, lebih baik Cu-wi menjaga agar perkumpulan Cu-wi tetap berjalan baik dan bersih sehingga kelak kalau Siauw-pangcu datang Cu-wi takkan dipersalahkan sebagai anggauta-anggauta yang melanggar kewajiban! Nah, aku sudah bicara, bolehkah sekarang aku pergi?”

Semua orang mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Tidak mengherankan apabila Kwan Cu dapat berbicara seperti itu, karena selama dua tahun ini memang dia amat tekun membaca kitab-kitab kuno sehingga dia tahu akan peraturan-peraturan dan filsafat-filsafat! Dasar dia mempunyai otak yang luar biasa maka apa yang dibaca itu dapat diingatnya dengan amat baik dan bahkan kalau banyak orang dewasa tidak dapat menangkap inti sari dari pada kitab-kitab kuno itu, Kwan Cu dengan bakatnya yang luar biasa dapat menyelami arti-artinya!

Kata-kata Kwan Cu itu berkesan dalam hati para anggauta Sin-to-pang sehingga mereka ini melakukan kewajiban sebagaimana mestinya sambil menanti-nanti datangnya Siauw-pangcu yang di bawa lari oleh ibunya.

Adapun Kwan Cu lalu meninggalkan tempat itu, dan untuk kedua kalinya dia berjalan kemana saja kakinya membawa dirinya, tiada arah tujuan, tiada bekal selain pakaian yang menempel pada tubuhnya.

Lu Pin, seorang sastrawan yang amat pandai, juga terkenal sebagai seorang ahli pahat atau ahli ukir patung yang luar biasa, berkat jasa-jasanya dalam urusan pemerintahan, telah diangkat menjadi menteri oleh kaisar. Sesuai dengan bakatnya, dia dijadikan menteri urusan kebudayaan, dan karena jasa Lu Pin inilah maka pada masa itu, kebudayaan di Tiongkok diperkembang dan dipupuk. Seni-seni ukir, seni lukis dan lain-lain mendapat perhatian pemerintah. Dilihat dari luar, nampaknya penghidupan Menteri Lu Pin ini makmur dan senang, akan tetapi kalau orang melihat menteri itu duduk di dalam kamarnya seorang diri, orang itu akan melihat betapa menteri yang pandai dan berwatak jujur dan adil ini sering kali duduk termenung dan menghela nafas berulang-ulang. Pada wajahnya yang bersinar agung dan keningnya yang lebar itu terbayang kemuraman dan kedukaan hati yang besar sehingga biarpun usianya baru empat puluh tahun lebih, namun dia nampak lebih tua. Apakah yang menindih perasaan menteri yang memperoleh kedudukan tinggi ini? Banyak sekali.

Menteri Lu Pin berasal dari keluarga rakyat biasa saja, akan tetapi berkat kemauan besar dan keuletannya, dia dapat melanjutkan pelajarannya sampai mendapat gelar siucay, dan bakatnya yang memang luar biasa membuat dia menjadi seorang sastrawan dan seniman yang tinggi kepandaiannya. Akan tetapi dia ketika mudanya sudah banyak menderita, bergaul dengan orang-orang senasib sependeritaan, yakni seniman-seniman yang hidupnya terlantar dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

Kini setelah menjadi menteri, teringatlah dia akan nasib kawan-kawannya, nasib saudara saudaranya yang masih amat sengsara. Oleh karena itulah maka seringkali dia termenung dan bersedih hati. Yang lebih-lebih membuat hatinya sakit adalah keadaan kakaknya. Di dalam dunia ini dia hanya mempunyai kakaknya itu sebagai saudara satu-satunya, karena keluarga lain sudah tidak ada lagi. Akan tetapi berbeda dengan dia, kakaknya ini menuntut penghidupan yang jauh berlainan. Kakaknya semenjak kecil biarpun bersama dia mempelajari kesusastraan, namun bakat kakaknya bukan di situ letaknya, melainkan dalam ilmu silat! Juga, watak kakaknya ini berbeda jauh dengan dia. Kalau Lu Pin bercita-cita tinggi untuk mencapai kedudukan dan kemuliaan, adalah kakaknya itu tidak peduli akan semua ini. Bahkan akhir-akhir ini dia mendengar kakaknya itu merantau bagaikan seorang pengemis jembel! Inilah yang amat mengganggu hatinya, akan tetapi dia tidak berdaya. Kakaknya ini selain memiliki kepandaian tinggi sekali dalam hal ilmu silat, juga mempunyai watak yang aneh. Sebelum Lu Pin diangkat menjadi menteri, pernah dia mencari dan bertemu dengan kakaknya dan ketika kakak ini di bujuk-bujuknya untuk mencari kedudukan, baik dalam hal pembesar sipil maupun militer karena kakaknya mempunyai kepandaian bun (silat), kakaknya bahkan menjadi marah dan memaki-makinya!

“Pin-te (adik Pin), apakah matamu sudah buta? Kalau mata lahirmu buta, tak mungkin mata batinmu buta pula! tidak dapatkah kau melihat betapa negara kita ini dipegang oleh orang-orang yang tak patut disebut manusia pula? Tak dapatkah kau melihat kaisar dan seluruh anggota pemerintahan adalah orang-orang yang mengutamakan kesenangan belaka, yang melakukan korupsi besar-besaran dan menginjak-injak rakyat sendiri? Apakah kau mengajak aku membantu manusia-manusia macam begitu? Cih, lebih baik aku mati saja!” demikian kakaknya ini mengakhiri kata-katanya lalu pergi meninggalkannya.

Memang semenjak kecil, kakaknya yang bernama Lu Sin itu, beradat keras, tinggi hati, dan kasar. Akan tetapi Lu Pin maklum sedalam-dalamnya bahwa di dunia ini tidak ada orang yang lebih mulia batinnya dari pada kakaknya itu! Inilah hal pertama yang membuat Lu Pin merasa menderita batinnya, biarpun dia kini telah menjadi seorang menteri berkedudukan tinggi dan dimuliakan orang senegerinya.

Soal kedua yang menekan batinnya adalah rumah tangganya. Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan puteranya ini pun sudah menikah pula dan menjabat seorang pembesar bagian sipil. Karena rumah Lu Pin besar sekali dan menteri ini tidak mau berpisah dari puteranya, dia minta agar supaya puteranya sekeluarga tinggal bersama dia. Akan tetapi puteranya akhirnya pindah juga ke rumah lain karena mantu perempuan selalu bercekcok dengan ibu mertua!

Inilah yang memberatkan hati Menteri Lu Pin. Biarpun rumah gedung baru dari puteranya itu berada di kota raja pula dan tidak jauh, namun melihat isterinya tidak akur dengan anak mantunya, sungguh merupakan hal yang sangat mengecewakan. Dan karena isteri puteranya adalah puteri dari seorang berpangkat pangeran, tentu saja dia makin merasa tidak enak. Lu Pin amat sayang kepada cucu laki-laki yang bernama Lu Thong. Anak ini tampan, bermata lebar, tidak kalah bagusnya dengan putera-putera pangeran, selalu berpakaian mewah dan manja sekali. Kadang-kadang diam-diam Lu Pin mengakui bahwa watak cucunya ini kurang baik, pemarah seperti ibunya dan pengecut seperti ayahnya, akan tetapi karena dia hanya cucu satu-satunya, maka Lu Pin amat sayang kepadanya. Sering kali menteri ini menyuruh datang cucunya itu, atau bahkan dia sendiri memerlukan datang ke rumah puteranya untuk mengunjungi dan melihat Lu Thong.

Pada suatu hari, ketika Lu Pin kebetulan sedang berada di rumah puteranya, dia mendengar Lu Thong menangis dan rewel. Ia lalu bertanya dan mendapat jawaban dari puteranya bahwa anak itu rewel sekali minta dipanggilkan guru silat yang pandai karena anak ini ingin belajar ilmu silat!

Menteri Lu Pin menghela napas. Ia mengelus-elus kepala Lu Thong yang menangis sambil berkata, “Cucuku yang tampan. Mengapa kau ingin mempelajari ilmu kepandaian yang kasar dan mengerikan itu? Dari pada kau memegang golok atau pedang yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah, aku akan lebih merasa girang dan tenteram hatiku kalau melihat kau menggerakkan alat tulis membuat syair yang baik atau lukisan yang indah!” “Tidak, Kong-kong, aku ingin belajar silat. Dalam bermain-main, kalau berkelahi aku selalu kalah. Aku mau menjadi pendekar, mau menjadi orang gagah yang ditakuti karena kepandaianku, bukan karena harta dan kedudukan Ayah atau Kong-kong!” anak itu merengek-rengek dengan manja.

“Anak manja!” Ayahnya membentak marah-marah. “Apakah kau akan menjadi seorang petualang yang liar?” kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil berkata, “Hm, celaka benar. Agaknya darah Pek-hu (Uwa) yang kotor, darah petualang yang memalukan mengalir pula dalam darah anak ini!”

Tiba-tiba menteri Lu Pin memandang puteranya dengan marah. “Tutup mulutmu dan jangan kau berani mengeluarkan kata-kata kotor terhadap Sin-ko (Kakak Sin)!”

Lu Seng Hok, putera dari Lu Pin itu, memandang kepadanya dan menghela napas. “Ayah memang aneh sekali. Pek-hu Lu Sin sudah terang sekali mencemarkan nama keluarga Lu. Ia beberapa kali mengacau, mengganggu pembesar-pembesar tinggi, bahkan pernah mengacau dalam dapur istana menghabiskan makanan kaisar. Orang seperti itu bukankah hanya membikin malu kepada kita saja? Celakanya, banyak orang-orang besar mengetahui hubungan kita dengan dia.”

“Sudah, Hok-ji (Anak Kok), jangan kita bicara lagi tentang Pek-humu itu. Betapapun juga, dia adalah seorang yang budiman, jauh lebih dari aku atau kau.”

Seng Hok tidak berani membantah ayahnya, akan tetapi di dalam hatinya dia mengejek dan diam-diam dia berkata di dalam hati, “Huh manusia macam itu! Jembel tua memalukan, kerjanya hanya mengacau mengandalkan silatnya.” Kemudian, karena tidak berani membantah ayahnya, dia menimpakan kemarahannya kepada anaknya, yang dimaki-maki lagi.

“Kau tak perlu membuka mulut minta belajar silat lagi pendeknya, kau tidak boleh belajar silat!”

Akan tetapi kini perhatian Lu Thong tertarik ketika mendengar nama Lu Sin disebut-sebut. “Kong-kong, apakah kakek Lu Sin itu benar-benar lihai ilmu silatnya? Aku pernah mendengar orang bilang bahwa seluruh bala tentara kerajaan tidak dapat menangkap dan melawan dia.”

Menteri Lu Pin mengangguk-angguk sambil memeluk cucunya yang terkasih.

“Cucuku, kakekmu Lu Sin itu biarpun hidup sebagai petualang, namun dia seorang yang luar biasa sekali. Kepandaian silatnya pada waktu itu sukar dicari tandingannya, dan dia dijuluki Ang-bin-sinkai. Memang, kalau orang memiliki kepandaian silat seperti dia itu, barulah orang-orang tidak berani main-main terhadapnya, dan kalau saja adatnya tidak begitu kukuh dan aneh, kalau saja dia menerima pangkat, tentu dengan mudah dia akan diberi pangkat tinggi dalam bidang kemiliteran kaisar. Bahkan kaisar pernah menawarkan kedudukan Koksu (Guru Negara) kepadanya. Sayang….. dia lebih senang merantau.”

“Menjadi pengemis kotor!” Lu Seng Hok menambahkan. “Anak rewel, apa kau ingin mempunyai kepandaian silat tinggi dan kemudian menjadi seorang pengemis jembel?”

Akan tetapi Lu Thong tampak diam saja. Anak kecil ini biarpun manja dan rewel, namun harus diakui bahwa dia memiliki pikiran yang amat cerdik. Ia lalu memandang kepada ayahnya dan berkata,

“Ayah, kalau kau berhasil membujuk kakek Lu Sin untuk tinggal di sini dan mengajar ilmu silat kepadaku, bukankah itu baik sekali? Selain dia tidak mengembara dan memalukan ayah, juga aku bisa mendapat pimpinan dari seorang ahli.”

“Kau tidak akan belajar silat!” kata Lu Seng Hok dengan kukuh.

“Ayah, betapaun juga kakek Lu Sin adalah keluarga kita. Dia masih tetap saja menggunakan nama keturunan Lu! Kalau kita mempunyai orang tua yang berkepandaian tinggi itu, apakah akan kata orang kalau aku sebagai keturunan Lu tunggal, sama sekali tidak mengerti ilmu silat dan amat lemah? Kong-kong terkenal sebagai ahli bu. Ini merupakan dwi tunggal yang baik sekali dan kalau aku dapat mempelajari bun dan bu di bawah pimpinan dua orang tua ini bukankah aku akan menjadi seorang bun-bu-cwan-jai (ahli sastra dan ahli silat)?”

Ketika ayah dan anak ini bersitegang mempertahankan pendirian masing-masing, Lu Pin mendengarkan saja dan mendengar ucapan Lu Thong dia menjadi girang sekali. Wajah orang tua ini berseri-seri dan dia lalu bertepuk tangan.

“Bagus, bagus sekali! Lu Thong, kaulah agaknya yang akan mengharumkan nama keluarga Lu! Hok-ji, ucapan puteramu itu betul sekali. Sekarang kita harus mencari Pek-humu Lu Sin dan kita membujuknya untuk melatih Lu Thong. Bagus sekali!”

Seng Hok setelah berpikir-pikir, juga menyetujui kehendak ayahnya ini. Ia pikir bahwa tentu saja amat baik kalau Lu Thong menjadi seorang ahli sastra merangkap ahli silat. Ayah mana yang tidak akan suka melihat puteranya menjadi seorang bun-bu-cwan-jai?

Akan tetapi mencari Ang-bin Sin-kai Lu Sin tidak semudah mencari orang lain. Nama Ang-bin Sin-kai memang sudah amat terkenal, dari seorang pengemis yang paling jembel sampai kaisar sendiri mengenal nama tokoh besar yang luar biasa ini. Akan tetapi di mana adanya kakek aneh ini, tak seorang pun mengetahuinya! Dan karena sekarang sudah menyetujui untuk memberi kesempatan kepada Lu Thong belajar ilmu silat, maka Lu Seng Hok mulai mengundang guru silat untuk memberi pimpinan dasar kepada puteranya. Akan tetapi, Lu Thong tidak demikian mudah dipuaskan hatinya. Segala macam guru silat saja, dia tidak sudi mengangkat menjadi gurunya.

Anak ini paling suka memelihara anjing dan di pekarangan depan gedung ayahnya, penuh dengan anjing-anjing yang galak, besar dan juga bagus. Ia selalu dimanja oleh ayahnya yang sengaja membeli anjing-anjing besar dan bagus. Lu Thong memelihara lebih dari sepuluh ekor anjing! Ia pernah mendengar tentang kakak kong-kongnya yang bernama Ang-bin Sin-kai Lu Sin itu dan pernah mendengar cerita bahwa kakeknya ini pernah memukul mati seekor harimau tanpa menyentuh kulitnya! Oleh karena itu tiap kali ada guru silat yang diundang oleh ayahnya datang hendak mengajarnya, dia minta kepada guru silat ini untuk memukul anjingnya tanpa menyentuh kulitnya! Dan akibatnya banyak sudah guru silat yang tidak mampu merobohkan anjing itu tanpa menyentuh kulitnya, sebaliknya ada beberapa orang di antara guru-guru silat itu yang menjadi korban gigitan anjing galak! Oleh karena sebegitu jauh Lu Thong masih juga belum mempunyai guru yang pandai dalam ilmu silat dan dia masih belum mau belajar silat. Ayahnya menjadi bingung dan juga bohwat (kehabisan akal) menghadapi anaknya yang terus rewel minta supaya kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin, dipanggil datang!

Pada suatu hari masih pagi sekali Lu Thong sudah bermain-main di halaman gedung ayahnya. Tiga ekor anjing yang terbesar dan terbaik menemaninya di situ. Anak ini mengajar anjing-anjingnya melompat, mencari barang yang disembunyikan, dan lain-lain.

Tiba-tiba tiga ekor anjing ini menggonggong keras dan berlari ke arah pintu. Dari pintu gerbang masuk seorang pengemis tua yang pakaiannya sudah penuh tambal-tambalan, rambutnya awut-awutan, dan kulit tubuhnya kotor dan ada penyakit gatal di sana-sini, terutama sekali pada kakinya. Ketika dia datang memasuki pintu gerbang, banyak lalat mengerubungi dan mengikutinya.

Melihat pengemis ini, Lu Thong lalu memanggil anjing-anjingnya dan tiga ekor anjing yang sudah mengerti akan perintah majikan mudanya ini lalu berlari mendekati Lu Thong. Anak ini memandang tajam dan ketika melihat sikap pengemis itu berani sekali tidak seperti pengemis biasa, diam-diam dia menaruh perhatian dan dadanya berdebar. Inikah kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin? Mukanya tidak kemerah-merahan, pikirnya. Menurut penuturan kong-kongnya, juga melihat dari nama julukan “Ang-bin” atau muka merah, tentu kakek yang menjadi ahli silat itu bermuka merah. Betapapun juga dia hendak bersikap hati-hati dan agar jangan disangka kurang sopan, dia bertanya dengan halus kepada pengemis tua itu.

“Kakek tua kau masuk ke sini ada keperluan apakah?”

Pengemis itu memandang dan wajahnya nampak berseri mendengar suara dan melihat sikap yang manis dari Lu Thong ini.

“Ah, ah, benar! Pohon baik berbuah manis. Kakeknya terpelajar cucunya pun tahu sopan-santun. Bagus sekali! Siauw-kongcu (Tuan Kecil), bukankah kau putera dari Lu Seng Hok?”

Makin bergairahlah hati Lu Thong. Siapa lagi kalau bukan Ang-bin Sin-kai yang berani memanggil nama ayahnya begitu saja? Maka dia lalu mengangguk.

Pengemis itu memandang lagi penuh perhatian dan kini dia melihat ke arah pakaian Lu Thong serta hiasan rambutnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi, “Betapapun juga merak tak dapat beranak garuda! Sayang sekali, kemewahan kakeknya menurun padanya!”

Lu Thong adalah seorang anak yang cerdik dan terpelajar. Ia tahu bahwa peribahasa yang menyatakan bahwa merak tak dapat beranak garuda menyindirkan bahwa seorang pesolek anaknya pun pesolek pula. Akan tetapi karena dia menduga bahwa pengemis ini adalah kakeknya yang selama ini dicari-cari, yaitu Lu Sin, dia tidak menjadi marah, bahkan berkata,

“Kakek yang baik, ayah sedang pergi ke kantornya. Siapakah kau dan ada keperluan apakah mencari ayah?”

“Siapa mencari ayahmu? Aku datang hendak mengobrol dengan Lu Pin, kakekmu.”

Hampir Lu Thong berjingkrak saking girangnya. Tak salah lagi, ini tentulah Ang-bin Sin-kai Lu Sin, kakak dari kong-kongnya itu! Akan tetapi dia masih menahan gelora hatinya dan bertanya lagi, pura-pura tidak tahu,

“Kong-kong Lu Pin tidak tinggal di sini, akan tetapi di gedung menteri sebelah kanan istana! Kakek, siapakah namamu?”

Kakek itu nampak kecewa. “Hm, kesana aku sudah pergi. Akan tetapi penjaga mengusirku, kukira melalui ayahmu aku akan lebih mudah bertemu Lu Pin. Namaku? Ah, aku sendiri sudah tidak tahu lagi siapa namaku, Siauw-kongcu.”

Dengan mata bersinar-sinar , Lu Thong lalu berkata, “Kakek yang baik, bukankah kau Ang-bin Sin-kai Lu Sin?”

Pengemis itu nampak sangat terkejut. “Kau sudah mendengar nama itu? Hm, Ang-bin Sin-kai barulah patut disebut seekor garuda. Garuda sakti yang terbang di angkasa raya, bebas lepas tidak terikat oleh sesuatu. Dia seorang yang patut dikagumi!” sehabis berkata demikian pengemis itu merangkapkan kedua tangannya ke dada dan memberi hormat ke atas!

Lu Thong terheran-heran. Pengemis ini terang sekali bukan orang sembarangan. Sikap dan kata-katanya bahkan membayangkan bahwa pengemis ini adalah seorang terpelajar pula. Akan tetapi, jawabannya tadi membikin dia ragu-ragu kalau kakek ini Ang-bin Sin-kai, mungkinkah dia memuji-muji nama Ang-bin Sin-kai bahkan memberi hormat? Adakah kakek sakti itu demikian sombongnya?

Tiba-tiba Lu Thong mendapat sebuah pikiran yang bagus. Ia bersuit keras sambil menunjuk ke arah kakek itu dan tiga ekor anjing serentak menyalak lalu menubruk ke arah pengemis tadi! Pengemis tua itu terkejut sekali dan dengan mata terbelalak ketakutan dia melangkah mundur.

“Siauw-kongcu, tahan anjing-anjingmu! Suruh mereka mundur, lekas!”

Lu Thong tersenyum geli, “Ang-bin Sin-kai, kau adalah kakekku sendiri, siapa hendak menakut-nakutimu? Kau bunuhlah anjing-anjing busuk itu, aku takkan menyesal. Aku sengaja hendak melihat kelihayanmu, Kong-kong!”

“Hush….siapa bilang aku Ang-bin Sin-kai? Aku bukan….bukan..!” akan tetapi dia segera roboh terguling karena ditubruk oleh tiga ekor anjing yang galak-galak itu!

“Siauw-kongcu, aku adalah sahabat Lu Pin. Bagaimana kau berani menghinaku? Panggil anjing-anjingmu, lekas!”

Alangkah kecewa hati Lu Thong melihat keadaan itu. Dengan jelas sekali dia melihat betapa kakek ini amat lemah. Kalau tadinya dia merasa girang, sekarang dia amat merasa amat kecewa dan marah.

“Jadi kau bukan Ang-bin Sin-kai? Lebih baik lagi, biar anjing-anjingku mengantar kau keluar sebagai hukuman atas kelancanganmu masuk ke sini tanpa ijin!” Ia lalu memberi aba-aba kepada anjing-anjingnya untuk menyeret kakek itu keluar dari halaman.

Sungguh kasihan sekali kakek pengemis itu. Ia hanya dapat menjaga lehernya dengan kedua tangan, karena takut kalau-kalau lehernya digigit anjing-anjing yang galak itu. Anjing-anjing itu menggigit lengannya, kakinya, bajunya dan mencoba untuk menyeret keluar dari situ. Akan tetapi, tubuh pengemis ini tinggi dan tentu saja dia terlalu berat bagi tiga ekor anjing itu.

“Siauw-kongcu….kau kejam….kau jahat! Lu Pin tidak seperti ini….lepaskan aku!” pengemis ini berteriak-teriak kesakitan dengan lengan dan kakinya telah berdarah.

Akan tetapi Lu Thong bahkan tertawa bergelak melihat kejadian yang dianggapnya lucu ini.

“Ha-ha-ha! Orang macam ini kuanggap Ang-bin Sin-kai! Ha,ha,ha! Merangkaklah….merangkaklah keluar! Ha,ha,ha coba kau berlomba-lomba dengan anjing-anjing itu keluar!”

Karena tidak tahan lagi digigit anjing-anjing itu, pengemis tadi sambil mengeluh lalu merangkak-rangkak keluar! Ia hendak berdiri akan tetapi tiap kali dia berdiri dia roboh kembali karena terkaman anjing-anjing itu. Baiknya dia selalu melindungi lehernya, karena kalau sampai lehernya yang digigit, pasti dia akan tewas! Baru saja dia merangkak beberapa jauhnya, dia diterkam dan diseret kembali oleh tiga ekor anjing.

Lu Thong tertawa terkekeh-kekeh melihat permainan baru ini. Ia seakan-akan melihat seekor tikus besar sekali dipermainkan oleh tiga ekor kucing yang tidak hendak membunuhnya lebih dulu sebelum puas bermain-main!

Keadaan pengemis itu makin payah, ia kini tidak minta dilepaskan, bahkan ia lalu melawan dan memukul, menggigit dan menjewer anjing-anjing itu sambil memaki-maki, “Lu Pin kau manusia durhaka! Tidak ingat kau betapa dulu kau belajar syair dari aku! Tidak ingat kau betapa dulu beberapa cawan arakku memasuki perutmu! Sekarang cucumu berlaku begini? Ah….”

Namun Lu Thong tidak mau mempedulikan omongan yang dianggapnya hanya ocehan belaka dari seorang pengemis yang mau berpura-pura menjadi sahabat kong-kongnya. Kong-kongnya, menteri Lu Pin menteri yang mulia dan berkedudukan tinggi, belajar syair dari pengemis ini? Bah, sungguh menggelikan dan menggemaskan.

“Kau menghina kong-kong, memasuki rumah ini seperti maling. Kau patut dihukum!” katanya.

Pada saat itu, dari luar pintu gerbang berlari masuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, sebaya dengan Lu Thong. Anak ini berpakaian seperti pengemis dan kepalanya gundul.

“Sungguh biadab! Kejam sekali!” anak itu datang-datang berseru marah dan dia lalu memungut batu-batu untuk disambitkan kepada anjing-anjing itu. Ketika sambitannya mengenai tubuh anjing, terdengar suara “buk!” dan anjing itu berkuik-kuik kesakitan lalu menjauhkan diri dari kakek pengemis. Sambitan itu cukup bertenaga dan membuat anjing itu merasa kesakitan. Akan tetapi Lu Thong telah melihat perbuatan ini menjadi marah sekali. Ia berseru beberapa kali dan memberi aba-aba kepada ketiga ekor anjingnya sehingga binatang-binatang ini kembali menyerbu kakek itu.

Anak jembel yang gundul itu menjadi marah. Karena sambitannya tidak dapat menolong kakek pengemis, dia lalu melompat ke arah Lu Thong dengan beberapa lompatan yang jauh sehingga Lu Thong menjadi kaget sekali.

“Orang kejam, hayo kau panggil anjing-anjingmu!” anak gundul itu membentak dan selain suaranya nyaring sekali, juga dari sepasang matanya bersinar api, sikapnya keren sekali dan berpengaruh.

Lu Thong memang mempunyai sifat pengecut. Melihat sikap anak gundul itu dan melihat lompatannya yang kuat tadi dia telah menjadi takut. Kini melihat anak gundul itu berdiri di depannya dengan sikap mengancam dan memerintah hatinya menjadi gentar. Cepat dia memanggil ketiga ekor anjingnya yang segera meninggalkan kakek jembel tadi berlari menghampiri Lu Thong dengan ekor digerak-gerakkan ke kanan kiri.

Anak gundul itu lari menghampiri pengemis tua yang sudah payah, lalu menolongnya.

“Kasihan sekali kau, orang tua,” katanya menghibur sambil membantu kakek itu berdiri.

Kakek pengemis itu memandang kepada anak gundul ini dengan mata terheran, penuh kekaguman.

“Siapa kau?” tanyanya sambil meringis kesakitan karena kakinya yang penuh koreng itu telah banyak kulitnya yang pecah-pecah tergigit anjing-anjing yang galak tadi.

“Aku? Namaku Lu Kwan Cu.”

Tiba-tiba jembel tua itu merenggutkan tangan Kwan Cu yang memegangnya. “Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi ditolong oleh seorang she Lu lagi!” katanya

Kwan Cu tersenyum. “Orang tua, tidak baik menilai pribadi orang dari she dan namanya! Bukankah peribahasa dahulu kala menyatakan bahwa menilai pribudi seseorang lihatlah hati dan perbuatannya, jangan melihat nama, pakaian, dan mulutnya?”

Tiba-tiba mata kakek yang tadi memandang penuh kebencian itu, kini memandang dengan kagum dan terbelalak lebar. “Eh, anak siapakah kau? Murid siapa?”

Kwan Cu tersenyum, “Aku tidak tahu siap orang tuaku, dan aku bukan murid siapa-siapa.”

Kakek itu tersenyum, dan ini mengherankan Kwan Cu. Bagaimana dengan tubuh luka-luka itu orang ini masih dapat tersenyum? Ia lalu membantu kakek itu berdiri dan kini pengemis tua itu tidak lagi menolak bantuannya.

Bagaimana Kwan Cu bisa datang ke tempat itu? Memang, anak ini telah melakukan perjalanan jauh sekali sampai ke kota raja, tanpa ada tujuan yang tetap. Ketika dia tiba di pintu gerbang kota raja dan matanya terbelalak kagum sekali dan terheran-heran menyaksikan bangunan-bangunan yang demikian megah dan besarnya, tiba-tiba dia mendengar suara terkekeh-kekeh yang sudah di kenalnya. Ia cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang hwesio gundul yang tubuhnya bundar seperti bola berdiri di bawah pintu gerbang itu sambil memandangnya. Hwesio ini sedang makan makanan dari sebuah mangkok butut, yaitu mangkok yang biasanya dibawa oleh seorang hwesio untuk meminta makanan dari siapa saja yang dijumpainya pada waktu dia merasa lapar, mangkok itu dipegang di tangan kiri, tangan kanannya menjemput makanan sedangkan di bawah lengan kanannya itu terjepit sebatang tongkat hwesio yang panjang.

“Eh, losuhu berada di sini?” Tanya Kwan Cu sambil buru-buru maju menjura .

“Ha-ha-ha, Kwan Cu, kau masih ingat kepadaku?” kata hwesio itu yang bukan lain adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang dulu dijumpainya di pinggir laut, hwesio yang bertempur mati-matian melawan Ang-bin Sin-kai karena memperebutkan dia!

Kak Thong Taisu lalu melemparkan mangkoknya yang butut sehingga makanan itu tumpah di atas tanah. “Makanan busuk, diberi oleh seorang yang pelit!” Kemudian ia memukulkan tongkatnya ke mangkok itu, dan aneh sekali! Mangkok itu tidak menjadi hancur, bahkan lalu mencelat keatas yang segera diterimanya dengan tangannya, dan mangkok itu kini telah menjadi bersih seperti dicuci saja. “Hm, orang-orang kota raja ini semuanya kaya-kaya dan pelit-pelit, menyebalkan sekali!”

“Losuhu, kalau teecu boleh bertanya, Losuhu hendak pergi ke mana dan datang dari manakah?” tanya Kwan Cu

“Pinceng datang dari belakang dan hendak menuju ke muka,” jawab hwesio tua itu seperti orang berkelakar. “Sekarang telah bertemu dengan kau, muridku, maka aku tidak khawatir lagi akan kelaparan, karena ada orang yang akan mencarikan makanan untukku!”

“Teecu bukan murid Losuhu, dan tentu saja teecu mau mencarikan makanan untuk Losuhu, yaitu kalau Losuhu merasa lapar.”

Kak Thong Taisu nampak terkejut. “Apakah kau sudah bertemu Ang-bin Sin-kai dan sudah diambil murid olehnya?”

Kwan Cu menggeleng kepalanya. “Tidak, teecu tidak bertemu dengan Locianpwe itu. Akan tetapi seandainya bertemu, teecu tidak akan menjadi muridnya.”

“Ha-ha-ha, kepalamu yang gundul itu keras juga kiranya!” Setelah berkata demikian, dengan tongkatnya Kak Thong Taisu mengemplang kepala Kwan Cu.

“Plak!” ujung tongkat itu mengenai kepala yang gundul itu, akan tetapi biarpun dia merasa sakit sekali dan kepalanya tiba-tiba menjadi benjol, Kwan Cu tidak menaruh hati sakit atau pun marah. Ia hanya mengejapkan matanya tiga kali untuk menahan sakit. Diam-diam dia malah merasa geli mendengar kata-kata hwesio ini. Hwesio ini sendiri mempunyai kepala yang gundul, bundar, dan besar, juga amat licin, akan tetapi masih memakinya sebagai kepala gundul! Sungguh cocok kata-kata kuno yang menyatakan bahwa mencari keburukan orang lain sama mudahnya seperti mencari kerbau di ladang, sebaliknya mengetahui keburukan sendiri sama sukarnya dengan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan rumput kering!

“Bagaimana apakah kau masih tidak mau menjadi muridku?”

Kwan Cu menggeleng kepala dan dia teringat akan pengalaman-pengalamannya selama ini dan menarik kesimpulan bahwa hanya orang-orang ahli silat yang selalu menimbulkan keributan dan kerusuhan, serang-menyerang atau bunuh-membunuh.

“Mengapa kau tidak mau menjadi muridku? Hayo jawab dan beri penjelasan yang betul, kalau tidak akan kuketok kepalamu sampai pecah!” Hwesio gemuk itu nampak tidak sabar dan mendongkol sekali. Orang-orang muda sedunia akan berebut menjadi muridnya, dan anak gundul jembel ini, dia bahkan menampik!

“Mengapa?” Kwan Cu mengerutkan kening, mengingat-ingat lalu berkata dengan suara tetap, “Karena teecu teringat akan peribahasa kuno yang menyatakan bahwa: binatang menggunakan kekerasan karena dia tidak berakal, maka seorang manusia lebih rendah dari pada binatang apabila dia melakukan kekerasan. Nah, oleh karena itu, teecu tidak suka belajar ilmu silat, Losuhu. Teecu anggap peribahasa itu tepat sekali. Binatang yang tidak berakal, mempergunakan kekerasan tanpa kesadaran, sebaliknya kalau manusia melakukan kekerasan, dia sadar sepenuhnya kalau kelakuannya itu salah dan jahat!”

Hwesio itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar, kemudian dia memandang keatas sambil tertawa bergelak-gelak. Suara ketawa ini keras dan hebat sekali sehingga Kwan Cu merasa tanah yang diinjaknya sampai tergetar oleh gema suara tertawa itu. Adapun orang-orang yang lewat di situ, menjadi kaget sekali, akan tetapi ketika mereka memandang dan mencoba untuk mendekati, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lalu memandang kepada mereka dengan mata dipelototkan. Mereka menjadi takut dan pergi lagi cepat-cepat!

“Ha, ha, ha! Lucu, lucu, lucu! Eh, Kwan Cu, kata-katamu itu membuat mataku melihat seekor lembu yang baru lahir menyusui seekor lembu tua yang menjadi neneknya!”

“Mana, Losuhu?” tanya Kwan Cu yang merasa heran. “Mana ada anak lembu yang baru terlahir dapat menyusui lembu lain, neneknya pula?”

Hwesio itu menudingkan jarinya itu kepada Kwan Cu. “Kaulah anak lembu itu! Kau hendak memberi pelajaran kepadaku tentang filsafat, bukankah itu sama saja dengan seekor anak lembu hendak menyusui neneknya? Ha,ha,ha, kau tahu satu tidak tahu lima, tahu lima tidak tahu sepuluh! Kwan Cu, tidak ada sesuatu di permukaan bumi ini yang memiliki sifat tunggal, semua tentu memiliki dua sifat yang bertentangan, dua sifat yang bagi kita manusia biasa disebut menguntungkan dan merugikan! Pernahkah kau mendengar orang mengeluh karena hari sedang hujan yang lain mengeluh karena tidak ada hujan? Pernahkah kau mendengar munculnya matahari disambut dengan senyum oleh seorang dan sebaliknya disambut dengan muka cemberut oleh orang lain? Semua hal mempunyai dua sifat, tergantung dari pada yang menghadapinya. Kekerasan tak terkecuali, memiliki dua sifat menguntungkan dan merugikan. He, anak gundul goblok, tahukah kau sekarang bahwa belum tentu kekerasan itu salah dan jahat seperti anggapanmu tadi?”

Kwan Cu mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik sekali karena memang dia suka akan filsafat-filsafat kebatinan. Ia sudah terlalu banyak membaca buku kuno dan semenjak belajar membaca, otaknya sudah dijejali oleh segala macam filsafat ini.

“Benar-benarkah semua hal di dunia ini mempunyai dua sifat baik dan buruk, Losuhu?”

Hwesio itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang bundar. “Tentu! Coba kau sebutkan sesuatu sebagai contoh.”

Kwan Cu menengok ke sana ke mari, dan tiba-tiba dia menunjukkan telunjuk ke arah tahi kuda yang bertumpuk di pinggir jalan. “Apakah barang kotor itu juga mempunyai sifat baik? Teecu menganggapnya kotor dan hanya merugikan saja, mengotori jalan, menimbulkan bau tak sedap dan menjijikkan kalau di pandang.”

“Anak bodoh, itu karena kau memandangnya dari segi yang merugikan saja. Tahukah kau bahwa keluarnya benda itu dari perut kuda mendatangkan dua macam keuntungan? Pertama, untung bagi si kuda sendiri karena kalau tidak bisa keluar perutnya akan kembung dan dia akan mati! Kedua, tahi kuda itu kalau sudah meresap ke dalam tanah menjadi pupuk yang amat baik dan menyuburkan tanah. Bukankah itu keuntungan-keuntungan belaka dan termasuk sifat-sifat baik?”

Kwan Cu melengak dan terpaksa dia tersenyum geli. Sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu bergerak kanan kiri, menandakan bahwa otaknya yang cerdik bekerja keras. Ia mencari akal untuk mengalahkan hwesio gemuk ini dengan pendirian yang aneh itu.

“Losuhu, ada satu hal lagi. Apakah kejahatan juga mempunyai sifat baik?”

Kini Kak Thong Taisu yang melengak. Ia merasa seperti dadanya di todong oleh senjatanya sendiri. Senjata makan tuan! Akan tetapi hwesio ini adalah seorang manusia yang sudah matang luar dalam tentu saja tidak mau kalah. Sambil menggerak-gerakkan kedua matanya yang kelereng itu, dia berkata,

“Tentu saja bocah tolol! Kalau tidak ada kejahatan di dunia ini, mana mungkin ada kebaikan? Siapa mau bicara kebaikan kalau tidak ada kejahatan? Siapa bisa mengatakan baik kalau tidak ada buruk dan mana di dunia ini ada orang berbudi kalau tidak ada orang jahat? Kejahatan merupakan imbangan dari pada kebajikan seperti Im (positif) menjadi imbangan dari pada yang (negatif) kalau salah satu tidak ada mana mungkin dunia bisa berputar dan matahari bisa terbit dan tenggelam?”

Filsafat ini terlalu berat bagi otak Kwan Cu yang masih kecil, maka untuk beberapa lama dia bengong saja.

Sebaliknya setelah berkata demikian Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Ha,ha,ha, anak bodoh, anak tolol!”

“Losuhu,” Kwan Cu mendapatkan bahan pula ketika mendengar makian ini, “apakah kebodohan juga mempunyai sifat baik?’

“Tentu saja, kalau tidak bodoh dulu, mana bisa menjadi pintar? Tanpa adanya kebodohan, mana manusia mengenal kepintaran?”

Dibalikkan seperti ini, Kwan Cu mulai dapat menangkap dan dia tertawa bergelak, menimpali suara ketawa hwesio gemuk itu sehingga dua orang ini tertawa-tawa, membikin orang-orang yang lewat di situ memandang terheran-heran.

“Orang-orang miring otaknya…”demikian mereka berbisik.

“Kwan Cu, kau terlalu sekali. Perutku menjadi lapar karena kau mengajakku bercakap-cakap saja. Hayo kau carikan makanan untukku. Hanya di rumah-rumah bangsawan-bangsawan terdapat makanan enak.”

Hwesio gemuk ini mengajak Kwan Cu memasuki kota raja. Kak Thong Taisu menyuruh Kwan Cu berjalan dahulu dan menyuruh anak ini minta makanan dari rumah gedung bangsawan. Kwan Cu menurut dan kebetulan sekali dia memasuki halaman gedung dari pembesar Lu di mana dia melihat Lu Thong sedang menyuruh tiga ekor anjing-anjingnya mengeroyok seorang kakek pengemis itu sebagaimana telah di tuturkan di bagian pertama dari cerita ini.

“Lopek, marilah kita keluar dari halaman orang kaya ini,” kata Kwan Cu sambil menolong pengemis tua yang terluka oleh gigitan-gigitan anjing tadi. Pengemis itu dengan susah payah berdiri dan merangkulkan lengan kirinya pada leher Kwan Cu dan terseok-seok mereka keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, setelah kini anak gundul itu tidak berada di dekatnya lagi, Lu Thong timbul keberaniannya, dia berseru keras dan tiga ekor anjing itu kembali menyalak-nyalak dan menyerbu Kwan Cu dan pengemis tua yang sedang jalan terpincang-pincang hendak keluar! Kwan Cu tidak berdaya karena dia sedang menggandeng kakek itu keluar. Pengemis itu demikian lemah sehingga kalau dia di lepaskan pegangannya, tentu orang tua itu akan roboh! Sebaliknya pengemis tua itu tidak mempedulikan sama sekali tiga ekor anjing yang menggonggong-gonggong dan mengurung. Wajah pengemis tua ini menjadi terang berseri dan dia bahkan bernyanyi dengan suara yang tinggi!

“Alam hidup bukan untuk diri pribadi, karenanya dapat kekal abadi! Tidak seperti Lu manusia hina (siauw jin), lupa akan asal usulnya, setelah hidup mewah dan kaya, si miskin ia hina! Mana dia akan dapat tahan lama?”

Nyanyian ini diulang-ulangi dan diam-diam Kwan Cu merasa kagum. Susunan kata-katanya amat indah dan dia puji kakek ini yang dapat menghubungkan ujar-ujar Lo Cu dengan kata-kata lain yang isinya menyinggung-nyinggung orang she Lu yang dia tidak tahu entah siapa! Ia masih ingat bahwa bait pertama yaitu, “Alam hidup bukan untuk diri pribadi, karenanya dapat kekal abadi” adalah ujar-ujar dari nabi Lo Cu tentang pelajaran To.

Tiga ekor anjing itu mengejar terus dan pada saat mereka hendak menubruk dan menyerang dua orang yang keluar itu, tiba-tiba dari atas menyambar turun tubuh dengan kepalanya yang gundul kelimis. Kak Thong Taisu telah berada di situ, tertawa bergelak sambil berkata,

“Nyanyian orang edan!” akan tetapi biarpun dia tujukan ucapannya ini kepada kakek pengemis tadi, sebetulnya dia sama sekali tidak memperhatikan kakek pengemis dan Kwan Cu. “Cocok betul dia dengan bocah tolol.” Kemudian, ketika Kak Thong Taisu melihat tiga anjing yang mengejar-ngejar pengemis itu dan Kwan Cu, matanya berseri-seri.

“Ah, anjing bagus, daging gemuk!”

Sambil berkata demikian, hwesio ini melangkah dua kali sambil menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu dia telah dapat menangkap tiga ekor anjing itu pada ekornya! Benar-benar hebat tenaga Si Tangan Seribu Kati ini, karena dia memegang tiga ekor anjing pada ekor mereka itu hanya dengan tangan kiri dan sekali lagi mengayun , terdengar suara “prak!” dan pecahlah kepala tiga ekor anjing itu menghantam lantai!

Lu Thong memandang kejadian ini dengan mata terbuka lebar. Ia tidak marah melihat tiga ekor anjingnya dibunuh orang, bahkan dia lalu menghampiri hwesio itu dan berkata, “Losuhu, kau lebih hebat dari pada Ang-bin Sin-kai agaknya!”

Kak Thong Taisu membalikkan tubuhnya, melempar mayat tiga ekor anjing tadi, dan memandang kepada anak itu. Ia menatap wajah Lu Thong dari kepala sampai ke kakinya, penuh perhatian dan diam-diam dia mengakui bahwa anak ini pun memiliki tulang dan bakat yang baik sekali, sungguhpun tidak sebaik Kwan Cu.

“Kau tahu apa tentang Ang-bin Sin-kai?” tanyanya.

“Dia adalah kakak dari kong-kongku, mengapa aku tidak tahu? Dia lihai sekali, akan tetapi melihat kepandaian losuhu, kau berani bertaruh bahwa Losuhu tentu lebih lihai!”

“Hm, jadi kau cucu dari Lu Pin?”

Lu Thong mendongkol sekali. Sudah dua kali dalam satu hari ini orang menyebut nama kakeknya begitu saja. Kakeknya Lu Pin adalah seorang menteri, bagaimana seorang pengemis tua dan seorang hwesio menyebut namanya begitu saja. Akan tetapi kali ini Lu Thong tidak mau memperlihatkan muka marah. Ia cerdik sekali dan dia ingin belajar ilmu silat, maka dia lalu menjura dan berkata,

“Betul sekali, Losuhu. Teecu yang rendah dan bodoh adalah cucu dari orang tua itu. Sayang sekali teecu bernasib buruk .”

Hwesio ini mengangkat alisnya dan memandang penuh perhatian, “Apa katamu? Bernasib buruk setelah kau mengenakan pakaian demikian indahnya, tinggal di gedung demikian mewahnya?”

Mendengar ini, tiba-tiba Lu Thong menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu dan merenggutkan hiasan rambut serta pakaiannya sehingga sobek-sobek. “Buat apa semua kemewahan ini, Losuhu? Teecu ingin sekali belajar ilmu silat yang tinggi.”

“Kau masih cucu Ang-bin Sin-kai, apa susahnya untuk memenuhi keinginan itu ?”

“Inilah, Losuhu, yang membuat hati teecu selalu tak senang. Ang-bin Sin-kai tidak mau mengajar silat kepada teecu!”

Diam-diam Kak Thong Taisu berpikir, anak ini cukup cerdik dan berbakat baik, ia telah dikecewakan oleh Kwan Cu yang tidak mau menjadi muridnya, sekarang ada anak ini yang di tolak oleh Ang-bin Sin-kai! Mengapa dia tidak mau mengambil sebagai murid? Hendak dia lihat bagaimana Ang-bin Sin-kai kelak kalau melihat keturunannya belajar ilmu silat dari padanya!

“Eh, anak, siap namamu?”

“Teecu bernama Lu Thong.”

Girang hati Kak Thong Taisu, karena nama anak ini ada persamaan dengan namanya .

“Kalau aku mengajar silat kepadamu bagaimana?”

Bukan main girangnya hati Lu Thong dan serta merta dia lalu menjatuhkan diri dan berlutut di depan hwesio itu, “Suhu, teecu akan belajar dengan giat!”

“Akan tetapi kau harus ikut kau merantau, menjadi pelayanku, mengemis makanan untukku dan hanya boleh makan sisa makananku. Sanggupkah?”

Tentu syarat-syarat ini amat berat, bahkan terdengar mengerikan dalam telinga Lu Thong, akan tetapi oleh karena dia memang cerdik, dia tidak mau menurutkan perasaannya. “Teecu hanya akan tunduk kepada semua perintah Suhu. Akan tetapi teecu tadi mendengar suhu memuji anjing-anjing itu sebagai daging-daging gemuk, apakah Suhu suka kalau teecu menyuruh orang memasaknya?”

Berseri wajah Kak Thong Taisu. “Tentu saja, aku sampai lupa! Sayang kalau daging-daging gemuk itu dibuang begitu saja.”

Pada saat itu, beberapa orang muncul dari dalam dan mereka ini kaget sekali ketika melihat Lu Thong berlutut di depan seorang hwesio gemuk. Mereka adalah Lu Seng Hok dan isterinya, yang diikuti oleh beberapa pelayan. Tadi Lu Thong memang telah membohong kepada pengemis tua itu ketika dia mengatakan bahwa ayahnya tidak berada di rumah.

“Thong-ji, kau sedang apa di situ? Siapa hwesio ini?” tanya Lu Seng Hok kepada anaknya dengan kening di kerutkan.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: