Pendekar Sakti (Jilid ke-30)

“Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai masih mempunyai murid lain. Kau memang patut menjadi murid jembel itu. Agaknya dia telah memberi pelajaran kepadamu bagaimana caranya menjadi jembel busuk!” Lu Thong memaki lalu menyerang dengan hebatnya.

Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dia memiliki tenaga besar sekali. Akan tetapi karena dia pernah menerima ilmu pukulan yang hebat dari Ang-bin Sin-kai, yakni Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), dia segera mempergunakan ilmu silat ini untuk menyerang pemuda jembel yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai.

Han Le cepat mengelak sambil memaki, “Kau menggunakan Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng? Sungguh tidak tahu malu!” Pemuda ini pun lalu mempergunakan ilmu silat itu untuk menghadapi lawannya. Segera mereka bertempur hebat sekali. Kepandaian mereka berimbang, demikian pula tenaga dan kegesitan mereka. Sungguh hebat gerakan setiap serangan mereka sehingga Sui Ceng yang berada di atas genteng masih dapat merasai sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Hati Sui Ceng berdebar. Tanpa disengaja ia telah menyaksikan pertempuran antara murid-murid dua orang tokoh besar. Memang, baik Lu Thong maupun Han Le telah mewarisi kepandaian guru mereka sehingga mereka itu kini seakan-akan mewakili Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai untuk melanjutkan pertempuran-pertempuran antara dua orang kakek itu yang dahulu dilakukan sering kali, akan tetapi keduanya sama kuat dan tidak ada yang pernah kalah. Sayangnya, akhir-akhir ini Ang-bin Sin-kai terpaksa tewas karena keroyokan. Kalau hanya Jeng-kin-jiu yang menyerangnya, agaknya sehari semalam keduanya tidak akan kalah atau menang.

Seratus jurus telah berlalu dan keduanya masih belum ada yang dapat mendesak lawan.

Dari atas genteng, sui Ceng tiada habisnya mengagumi pertempuran di bawah itu. Memang jembel itu adalah seorang ahli lweekang dan ilmu silatnya selalu berdasarkan tenaga dalam yang dahsyat. Sebaliknya, Lu Thong memiliki ilmu silat yang kuat sekali, dan dia adalah seorarg ahli gwakang yang telah mencapai tingkat tinggi sehingga dia dapat mengimbangi kepandaian lawannya. Sistem yang dipergunakan oleh Lu Thong adalah tenaga keras menindih yang lemah, sebaliknya Han Le mempergunakan kehalusan dan kelemasan lweekang untuk memunahkan tenaga kasar.

Akan tetapi, biarpun kedua orang muda itu belum dikenalnya, sekali mendengar percakapan antara mereka tadi, simpati Sui Ceng terjatuh kepada pemuda jembel itu. Betapa tidak? Han Le adalah murid dari Ang-bin Sin-kai, seorang tokoh besar yang telah tewas sebagai seorang gagah pembela perjuangan rakyat. Adapun Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu yang telah membantu penjajah, apalagi kalau diingat bahwa Lu Thong, adalah cucu dari Lu Pin yang telah dibinasakan seluruh keluarganya oleh penjajah, kini pemuda mewah ini bahkan menjadi kaki tangan penjajah.

Tiba-tiba Han Le mengubah ilmu silatnya dan kini gerakannya amat aneh dan sukar diduga lebih dulu. Benar saja, setelah pemuda jembel ini mengeluarkan ilmu silatnya yang amat aneh itu, Lu Thong terdesak hebat dan selalu menangkis atau mengelak, main mundur terus.

Sui Ceng merasa girang melihat ini dan yang lebih aneh lagi, pemuda tampan yang juga menonton seperti dia dan semenjak tadi tersenyum-senyum sekarang bertepuk tangan memuji,

“Bagus sekali! Ilmu silat seperti itu belum pernah aku melihatnya! Saudara sin-kai (pengemis sakti), terus hajar dia. Bunuh saja orang tidak berbudi itu”

Lu Thong yang terdesak hebat itu, tiba-tiba lalu berjongkok dan sekali dia menggerakkan kedua tangan ke depan sambil membentak, “Hah!” kedua tangan itu mendorong ke depan dengan tubuhnya berjongkok. Inilah semacam sinkang yang luar biasa sekali, yang merupakan kepandaian simpanan dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Hebatnya pukulan ini luar biasa sekali. Han Le merasa betapa dari dua tangan lawan itu menyambar tenaga yang bukan main hebatnya, yang mendorongnya dengan hebat. Terkejutlah dia dan pemuda ini cepat melompat ke atas berpoksai di udara. Biarpun dia dapat menggagalkan serangan lawan ini, namun tetap saja hawa pukulan itu membuat dia terlempar sampai tiga tombak lebih!

Pemuda tampan yang menjadi penonton melakukan gerakan berbareng dengan Sui Ceng. Keduanya melompat dan menghadapi Lu Thong, terus menyerang tanpa bertanya lagi! Pemuda tampan itu menyerang dengan pukulan hebat ke arah lambung Lu Thong dari sebelah kanan, sedang Sui Ceng yang menyambar bagaikan seekor burung garuda, memukul pula dari atas sebelah kiri dengan tangan kanannya menotok pundak!

Lu Thong terkejut sekali. Gerakan dua orang ini tidak kalah cepatnya dari pada gerakan Han Le, maka diam-diam dia mengeluh dan secepat kilat dia menggulingkan diri, terus bergulingan sehingga terhindar dari pukulan-pukulan itu. Kemudian dia melompat cepat dan dengan marah membentak,

“Kalian ini anjing-anjing pengecut hendak melakukan pengeroyokan. Jangan kaukira aku takut. Tunggu aku mengambil senjataku!” Setelah berkata demikian, LuThong berlari memasuki gedungnya dan tak lama kemudian dia telah keluar lagi sambil menyeret sebuah toya yang besar, panjang dan hebat.

Sementara itu, Han Le memandang kepada Sui Ceng dan pemuda tampan itu dengan muka terheran. Tak disangkanya bahwa dua orang ini memiliki ilmu silat, tinggi pula. Memang dia sudah dapat menduga bahwa Sui Ceng, gadis yang dua kali dijumpainya di dalam restoran, adalah seorang kang-ouw, akan tetapi tak disangkanya bahwa gadis itu memiliki gerakan yang demikian cepatnya ketika tadi menyerang Lu Thong.

Adapun Sui Ceng dan pemuda tampan itu saling pandang, agaknya mereka seperti pernah saling bertemu, namun lupa lagi entah di mana dan bilamana. Sebelum mereka keburu membuka mulut, Lu Thong sudah keluar pula dan dengan amat marahnya dia lalu menyerang HanLe. Pemuda jembel ini mengelak dengan lompatan jauh sambil merogoh ikat pinggangnya yang tertutup oleh baju luar dan tahu-tahu di tangannya telah kelihatan sebatang pedang yang berkilauan cahayanya. Ternyata bahwa dia telah membawa sebatang po-kiam (pedang pusaka) yang disembunyikan di belakang baju luarnya.

Pertempuran hebat terjadi lagi antara Han Le dan Lu Thong. Kini bahkan lebih seru daripada tadi karena keduanya mempergunakan senjata. Namun, seperti juga tadi, Lu Thong memperlihatkan bahwa dia benar-benar patut menjadi murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, karena ilmu toyanya memang kuat sekali. Sungguhpun permainan pedang Hun-khai Kiam hoat dari Han Le juga hebat, namun pertahanan Lu Thong tidak dapat di-bobolkan. Beberapa kali Han Le mengeluarkan tipu-tipu yang amat aneh, bukan Hun-khai Kiam-hoat dan juga bukan dari cabang persilatan lain, amat aneh gerakannya dan tiap kali pemuda jembel itu mengeluarkan serangan yang aneh ini, Lu Thong menjadi bingung dan terpaksa melompat mundur sambil memutar toya menjaga diri. la benar-benar tidak dapat menghadapi ilmu pedang yang aneh sekali, yang digerakkan dengan membuat lingkaran-lingkaran besar keci1, nampaknya kacau namun berisi tenaga yang kuat dan sinar pedangnya menyilaukan mata. Akan tetapi, setelah lawannya mundur, Han Le tidak dapat melanjutkan ilmu pedangnya yang aneh ini dan kembali melawan dengan Hun-khai Kiam-hoat, seakan-akan dia memiki semacam ilmu pedang aneh yang belum dipelajarinya sampai hafal benar.

Sementara itu, pemuda tampan yang tadi ikut menyerang Lu Thong, kini setelah melihat Sui Ceng, memandang seperti orang terkena pesona. Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata, kemudian dengan hati berdebar dia melangkah maju, menghadapi Sui Ceng lalu menegur halus,

“Nona, kalau aku tidak salah duga, bukankah Nona ini nona Bun Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li?”

Sui Ceng terkejut. Memang sejak tadi pun ia merasa sudah kenal pemuda ini, akan tetapi ia lupa lagi. Mendengar pemuda itu menyebut namanya, ia lalu berkata,

“Bagaimana saudara bisa tahu bahwa aku adalah Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li? siapakah saudara?”

Mendengar ini, tiba-tiba wajah yang tampan itu berseri gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar, membuat wajah itu nampak makin tampan.

“Sekali bertemu aku sudah menduga! Apalagi menyaksikan cara kau menyerang bangsat she Lu itu! Nona, aku adalah The Kun Beng…”

Seketika itu juga, wajah Sui Ceng menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Ia hanya dapat membuka mulut dan dari bibirnya keluar kata-kata, “Ah… ahhh… ” Bagaimana ia takkan merasa jengah dan gugup bertemu dengan pemuda yang ternyata adalah tunangannya itu!

Kun Beng mengerti bahwa tunangannya itu tentu jengah dan malu-malu, maka dia cepat mencari jalan untuk menghilangkan perasaan tidak enak ini. Katanya dengan wajah berseri,

“Ceng-moi, marilah kita membantu pemuda itu untuk membinasakan jahanam Lu Thong. Mari kita bertiga berlumba, siapa yang akan dapat merobohkan dia lebih dulu!” Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu mencabut senjatanya, yakni sebatang tombak pendek.

Sui Ceng berani lagi mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu. Empat mata bertemu pandang dan keduanya mendapat kenyataan yang amat menyenangkan, yakni bahwa orang yang dipastikan menjadi jodoh masing-masing itu bukan tidak menyenangkan hati. Kun Beng tersenyum, Sui Ceng tersenyum pula sambil mengangguk ia mencabut pedangnya. Keduanya lalu melompat dan menyerbu Lu Thong yang masih bertempur ramai menghadapi Han Le.

Kepandaian Sui Ceng dan Kun Beng sudah amat tinggi, tidak kalah oleh tingkat kepandaian dua orang muda yang sedang bertempur itu atau setidaknya berimbang. Maka menyerbunya dua orang ini membuat Lu Thong menjadi sibuk sekali. Menghadapi pedang di tangan Han Le saja sudah berat baginya, apalagi kini ditambah oleh pedang Sui Ceng dan tombak Kun Beng. Mereka bertiga adalah murid-murid dari tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, maka betapapun tangguh ilmu toyanya, dia terdesak hebat sekali.

“Kalian curang! Main keroyokan!” bentaknya berulang-ulang sambil memutar toyanya dengan nekat.

“Membunuh seekor anjing jahat atau ular keji tak perlu ,menggunakan aturan lagi. Kau lebih jahat daripada anjing penjilat atau ular!” seru Kun Beng sambil mempercepat permainan tombaknya. Sui Ceng juga mempercepat gerakan pedangnya.

“Traaang! Traaang!” Lu Thong mengeluh dan roboh. Ia berhasil menangkis pedang dan tombak Sui Ceng dan Kun Beng, akan tetapi karena datangnya serangan itu cepat dan kuat sekali, toyanya terlepas, dari tangannya dan pada saat itu, Han Le dapat mengirim tendangan yang mengenai lututnya sehingga Lu Thong terlempar dan roboh dengan sambungan lutut terlepas! Ia tak berdaya lagi dan meramkan mata sambil menggigit bibir, menanti datangnya senjata lawan yang akan menamatkan riwayatnya.

“Tahan dulu! Jangan bunuh dia!!” tiba-tiba terdengar suara orang berseru dan tahu-tahu ketika bayangan orang berkelebat, di depan Lu Thong telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan bersikap tenang sekali.

Sui Ceng berubah air mukanya ketika mengenal bahwa pemuda yang datang ini bukan lain adalah Kwan Cu! Akan tetapi, di depan tunangannya, ia diam saja karena merasa malu untuk menegur pemuda ini, apalagi kedatangannya demikian aneh, seakan-akan hendak membela Lu Thong, manusia yang dianggap tidak berbudi dan patut dibunuh itu.

“Hm, siapakah kau dan mengapa kau menahan kami yang hendak membunuh bangsat ini?” tanya Han Le penasaran dan sepasang matanya yang amat tajam menentang pandang mata Kwan Cu. Akan tetapi yang dipandang tidak menjadi gentar, bahkan dengan suara bersungguh-sungguh dan kening dikerutkan dia berkata,

“Aku tahu bahwa sesungguhnya kalian berhak membunuhnya, karena dia memang telah tersesat dan melakukan hal yang amat tidak patut. Aku percaya bahwa kalian hendak membunuh dia karena kalian adalah pejuang-pejuang rakyat yang membenci penjajah yang menguasai tanan air kita. Akan tetapi ada satu hal yang kuminta kalian ingat, yakni bahwa pemuda ini adalah keturunan terakhir daripada Menteri Lu Pin!”

“Kau mengoceh! Justeru karena dia keturunan Menteri Lu Pin maka harus dibinasakan!” seru Han Le yang sudah marah sekali. Pedangnya berkelebat membacok ke arah Lu Thong, akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin dari sisinya dan pedang serta tangannya yang sedang menyerang Lu Thong itu terpental ke samping. Bukan main marahnya pemuda jembel ini. Ia cepat melompat dan membalikkan tubuh menghadapi Kwan Cu.

“Kau agaknya juga kaki tangan penjajah, patut dibikin mampus lebih dulu!” Segera dia menyerang dengan pedangnya, mainkan ilmu Hun-khai Kiam-hoat yang amat berbahaya.

Kwan Cu mengelak cepat dan tertegun menyaksikan ilmu pedang pemuda jembel yang gagah perkasa ini. Karena dia merasa tidak mungkin pemuda ini mainkan Hun-khai Kiam-hoat yang dikenalnya baik, dia sengaja mengelak terus sambil memperhatikan gerakan-gerakan pemuda itu.

Adapun Sui Ceng memandang dengan bengong. Pemuda jembel itu mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai, mengapa dengan Kwan Cu mereka tidak saling mengenal? Bukankah Kwan Cu juga murid Ang-bin Sin-kai? Gadis ini benar-benar merasa heran sehingga ia hanya berdiri seperti patung dan menonton mereka yang sedang bertempur.

Kun Beng juga tidak ingat lagi siapa adanya pemuda yang datang melindungi Lu Thong itu, maka dengan tersenyum dia lalu menggerakkan tombaknya dan berkata kepada Sui Ceng.

“Ceng-moi, biar aku binasakan dulu pengkhianat itu, kemudian kita membantu Han Le membikin mampus pengkhianat yang baru datang.” Cepat tombaknya bergerak menusuk dada Lu Thong.

“Trang!!” Tombaknya terpental dan Kun Beng memandang kepada Sui Ceng dengan muka pucat dan mata terbelalak.

“Ceng-moi, mengapa kau menangkis tombakku? Apa artinya ini?”

“Dia itu adalah Lu Kwan Cu, murid dari Ang-bin Sin-kai, bukan pengkhianat. Kita dengarkan dulu apa yang hendak dia katakan maka dia mencegah kita membunuh pengkhianat ini.”

Kun Beng terkejut dan cepat dia memandang kepada Kwan Cu yang dengan tangan kosong selalu mengelakkan diri dari serangan pedang Han Le.

“Lu Kwan Cu bocah gundul dahulu itu…. ??” tanyanya seperti kepada diri sendiri.

Sementara itu, Kwan Cu menjadi makin terheran-heran karena ketika Han Le yang pandai mainkan Hun-khai Kiam-hoat itu tidak berhasil merobohkannya, lalu tiba-tiba Han Le mengubah ilmu pedangnya, mengeluarkan ilmu pedang yang aneh, yakni dengan membuat lingkaran-lingkaran dengan pedangnya, mengurung tubuh Kwan Cu.

“Heeeeei …..! Berhenti dulu! Siapakah kau yang bisa mainkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu pedang menurut Ilmu Silat Thian-te-sin-coan {Lingkaran Sakti Langit Bumi) ini ?”

Han Le juga terkejut mendengar seruan Kwan Cu, akan tetapi pemuda ini sudah terlalu panas perutnya karena sebegitu jauh dia belum berhasil merobohkan pemuda yang bertangan kosong itu. Tanpa menjawab dia mempercepat gerakan pedangnya. Akan tetapi ia terkejut sekali karena lawannya bergerak mengikuti serangannya dan tiba-tiba saja lawannya itu mendahului gerakannya yang agaknya sudah dimengerti betul oleh lawannya, lalu tahu-tahu gagang pedangnya kena dicengkeram dan dirampas!

“Nanti dulu, kau siapakah? Dari mana kau bisa mendapatkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat? Dari mana pula kau bisa mainkan ilmu pedang berdasarkan Thian-te-sin-coan? Hayo jawab!” Muka Kwan Cu menjadi tegang.

Han Le kaget bukan kepalang melihat betapa lawannya dengan satu kali gebrakan saja setelah membalas serangan-serangannya telah berhasil merampas pedangnya. Ia masih penasaran dan cepat tangan kanannya memukul dada Kwan Cu. Pukulan ini dahsyat sekali dan hawa pukulan ini pun menurut petunjuk daripada ukiran-ukiran di dalam goa Pulau Pek-hio-to! Kwan Cu cepat melompat ke belakang beberapa kaki jauhnya.

“Kau pernah apakah dengan suhu Ang-bin Sin-kai? Dan bagaimana kau bisa mainkan ilmu silat yang terdapat di Pulau Pek-hio-to?” Kembali Kwan Cu mendesak.

Mendengar ini, Han Le menjadi pucat dan dia berdiri seperti patung dengan mata terbelalak.

“Kau…..kau siapakah?”

“Aku murid Ang-bin Sin-kai, Lu Kwan Cu namaku.”

Han Le mengeluarkan teriakan girang lalu dia menubruk dan berlutut di depan Kwan Cu, memeluk kedua kaki pemuda itu.

“Aduh, Suheng! Suheng Lu Kwan Cu yang sudah lama kucari-cari! Tidak kusangka dapat bertemu di sini. Harap Suheng mengampunkan kekurangajaranku ” katanya.

Kwan Cu memegang kedua pundak Han Le dan sekali dia menggerakkan tangannya, biarpun Han Le sudah mengerahkan lweekangnya, tetap saja pemuda jembel ini kena ditarik naik dan terpaksa berdiri.

“Hayo bilang, kau siapa? Jangan main-main!” seru Kwan Cu.

“Siauwte adalah murid Ang-bin Sin-kai pula. Setelah Suheng pergi, suhu mengambil aku bocah sengsara sebagai murid, kemudian suhu yang menyuruh aku menyusul Suheng ke Pek-hio-to!”

Kwan Cu tercengang dan tak dapat berkata-kata saking herannya.

“Kwan Cu, kau sudah lupa pulakah kepadaku?” tiba-tiba pemuda tampan yang dia lihat berdiri di dekat Sui Ceng berkata. “Aku adalah The Kun Beng, murid Pak-lo-sian!”

Kwan Cu kembali berubah air mukanya dan dia memandang kepada Sui Ceng, hatinya tidak karuan rasanya.

“Dia ini Bun Sui Ceng yang dulu itu, dia tunanganku ” Kun Beng memperkenalkan.

“Koko !” Sui Ceng menegur tunangannya itu.

Hati Kwan Cu terpukul. Panggilan gadis itu dengan sebutan “koko” terhadap Kun Beng terdengar begitu manis dan mesra, juga amat menusuk jantungnya. Ia memandang kepada Kun Beng dengan wajah dingin karena dia teringat akan nasib Gouw Kui Lan.

Tanpa berkata sesuatu Kwan Cu menghampiri Lu Thong, lalu dia cepat mengetuk dan mengurut kaki kakak angkatnya ini sehingga tersambung kembali lutut yang tadi terlepas.

“Suheng, mengapa kau mencegah siauw-te membunuhnya?” Han Le bertanya.

“Dia ini patut dikasihani. Seluruh keluarganya telah musnah, dan dia tersesat karena berada di lingkungan orang-orang yang berhati khianat. Lu Thong, apakah kau sekarang sudah insyaf? Lihatlah mereka ini, mereka ini adalah orang-orang muda yang membantu rakyat. Kau sebagai seorang pemuda Han yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa kau tidak dapat mencontoh mereka? Mengapa kau tidak mau menyumbangkan tenaga untuk tanah air dan bangsa? Ingatlah, kong-kong Lu Pin telah meninggal dunia dalam keadaan amat mengenaskan. Seluruh keluargamu terbinasa pula. Tidak ingatkah kau kepada ayah bundamu yang menjadi korban jahanam An Lu Shan?”

Menitik air mata dari kedua mata Lu Thong.

“Aku….. tadinya aku bermaksud mencapai kedudukan tinggi, sebagai kaisar aku akan lebih mudah membalas musuh-musuhku…. menjunjung tinggi nama keluargaku, mencuci noda mereka yang dianggap sebagai pemberontak….. ”

“Kau keliru! Mereka bukan pemberontak, akan tetapi mereka tewas sebagai pahlawan-pahlawan bangsa! Dan ke mana larinya cita-citamu yang terlalu muluk itu? An Lu Shan terbunuh oleh puteranya sendiri, kemudian puteranya terbunuh pula oleh Si Su Beng. Dan kau…… apakah kaukira akan dapat mengharapkan kurnia dari Si Su Beng?”

Pada saat itu, terdengar derap kaki banyak orang dan terdengar Sui Ceng berseru,

“Pasukan Gi-lim-kun (pasukan pengawal kaisar) datang menyerbu!”

Empat orang muda itu bersiap-siap. Sui Ceng melintangkan pedangnya di depan dada. Han Le memegang kembali pedangnya yang dia terima dari Kwan Cu. Kun Beng memegang tombaknya erat-erat dan Kwan Cu juga bertolak pinggang dan sepasang matanya bersinar-sinar.

Setelah menepuk-nepuk lututnya dan merasa bahwa lututnya dapat digerakkan biarpun masih agak sakit, Lu Thong lalu mengambil toyanya yang tadi terlepas dari tangannya.

“Kau mau apa ?” bentak Sui sambil menodongkan pedangnya di dada Lu Thong. Akan tetapi yang ditodong tidak menghiraukannya dan masih terus mengambil toyanya.

“Hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan di sini,” katanya dengan suara dingin dan matanya mengeluarkan sinar yang amat berlainan dari tadi.

“Lu Thong, keturunan pemberontak, menyerahlah! Kami datang atas nama kaisar untuk menangkapmu!” terdengar teriakan komandan barisan Gi-lim-kun yang sudah datang di luar pekarangan rumahnya.

“Apa kataku, Lu Thong? Kaisar begitukah yang hendak kaubela dengan mempertaruhkan nyawa bangsamu?” kata Kwan Cu perlahan, akan tetapi cukup membakar isi dada Lu Thong. Dengan muka merah dan mata melotot, toya dipegang erat-erat, Lu Thong berteriak kepada barisan yang terdiri dari tiga puluh orang itu,

“Anjing-anjing keparat! Dengarlah baik-baik. Sekarang baru terbuka mataku dan kulihat kepalamu semua bukan kepala manusia, melainkan kepala anjing-anjing penjilat. Dan aku Lu Thong keturunan Lu Pin dan Ang-bin Sin-kai Lu Sin, mulai sekarang tugasku ialah menghancurkan kepala-kepala anjing!” Sambil berkata demikian, dia memutar toyanya dan berlari terpincang-pincang menyerbu barisan Gi-lim-kun. Kwan Cu segera menyusulnya, setelah melirik ke arah Sui Ceng, Han Le, dan Kun Beng dengan pandang mata penuh arti.

Tiga orang muda ini saling pandang dan diam-diam mereka membenarkan, pembelaan Kwan Cu terhadap Lu Thong tadi, karena sekarang ternyata Lu Thong yang khianat telah sekaligus berubah menjadi Lu Thong yang mengandung penuh dendam terhadap penjajah yang sudah memusnahkan seluruh keluarga! Mereka pun lalu berlari menyusul dan memutar senjata mengamuk dan menyerbu barisan Gi-lim-kun!

Mana bisa barisan Gi-lim-kun kuat menghadapi lima orang muda ini? Mereka ini adalah orang-orang muda murid tokoh-tokoh yang sakti, yang memiliki kepandaian luar biasa sekali. Biarpun barisan Gi-lim-kun terdiri dari ahli-ahli silat yang pandai, namun menghadapi serbuan lima orang muda ini, sebentar saja mereka menjadi kocar-kacir. Mayat bergelimpangan yang amat mengerikan. Yang paling hebat amukannya adalah Lu Thong. Toyanya menyambar-nyambar dan sedikitnya ada lima orang anggauta Gi-lim-kun yang pecah kepalanya terkena pukulan toyanya!

Di antara mereka semua, hanya Kwan Cu seorang yang lain lagi sepak-terjangnya. ia tidak tega menjadi alat ini, entah karena terdorong oleh keinginan mendapatkan harta, atau pun terkena tipu dan bujukan maka mereka menjadi barisan Gi-lim-kun. Oleh karena itu, pemuda ini hanya bergerak dengan tangan kosong dan dia cukup puas asalkan dapat menotok roboh mereka itu tanpa membahayakan nyawa mereka. Han Le agaknya juga tidak begitu kejam karena pedangnya hanya merobohkan orang dan melukainya tanpa mematikan lawan. Sebaliknya, Sui Ceng benar-benar seperti gurunya. Setiap kali pedangnya bergerak, seorang anggauta Gi-lim-kun menjerit kesakitan dengan lengan putus, kaki putus, bahkan ada yang lehernya putus! Demikian pula Kun Beng mengamuk, akan tetapi pemuda ini tidak seganas Sui Ceng atau Lu Thong.

Akan tetapi, lima orang jago muda ini mengamuk di tengah-tengah kota raja dan hal ini bukanlah merupakan pekerjaan main-main yang mudah saja. Tak lama kemudian, datanglah barisan baru yang jauh lebih kuat daripada barisan Gi-lim-kun yang sudah dapat diobrak-abrik, karena barisan ini adalah barisan Si-wi, yakni pengawal pribadi kaisar, dan dipimpin pula oleh Kiam Ki Sianjin, dan panglima-panglima yang berkepandaian tinggi!

Pertempuran berjalan makin hebat. Kwan Cu yang mengetahui bahwa bagi empat orang kawannya, Kiam Ki Sianjin terlampau tangguh, cepat mencabut sulingnya dan menghadapi kakek ini. Akan tetapi tetap saja empat orang kawannya menjadi terkurung seperti tadi, dan terpaksa bersilat cepat untuk melindungi tubuh daripada hujan senjata lawan yang amat banyak jumlahnya itu. Akan tetapi, sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka otomatis tahu bagaimana caranya untuk melayani keroyokan yang demikian banyaknya. Tanpa ada yang mengomando, mereka otomatis berkelahi berdekatan satu sama lain, bahkan lalu membuat lingkaran dengan punggung dihadapkan kepada kawan sendiri sehingga mereka merupakan lingkaran segi empat yang tak dapat diserang dari belakang! Dengan jalan ini, Lu Thong, Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le dapat mempertahankan diri dengan kuatnya dan kadang-kadang terdengar pekik orang dan terjungkalnya seorang anggauta Si-wi.

Namun, Sui Ceng amat kecewa tidak melihat Kwan Cu berada di lingkaran mereka itu. Hal ini adalah karena Kwan Cu sengaja menghadapi Kiam Ki Sianjin, mencegah kakek ini ikut menyerang empat orang kawannya. Sui Ceng mengira bahwa karena kepandaiannya tidak tinggi, kwan Cu sudah tertawan atau melarikan diri. Ia menggigit bibir dengan gemas kalau memikirkan bahwa pemuda itu sudah melarikan diri meninggalkan kawan-kawannya. Ia tidak tahu bahwa kepandaian Kwan Cu sudah tinggi sekali. Kemenangan Kwan Cu atas Han Le tadi tidak membikin dia merasa heran karena sebagai murid-murid seguru, tentu saja Kwan Cu sudah mengetahui semua cara bersilat dari Han Le dan dapat memenangkannya! Demikian pula Kun Beng sama sekali tidak mengira bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi. Hanya Han Le dan Lu Thong yang mengetahuinya baik-baik. Lu Thong yang sudah pernah merasai kelihaian Kwan Cu, adapun Han Le lebih-lebih lagi. Tidak saja dia sudah dapat menduga bahwa suhengnya yang sudah tinggal di Pulau Pek-hui-to itu telah mempelajari ilmu kesaktian yang luar biasa, juga tadi dia telah merasai sendiri kehebatan kepandaian suhengnya.

Makin lama kurungan makin rapat. Pihak pengeroyok memang luar biasa banyaknya. Roboh satu datang dua, roboh lima datang sepuluh. Empat orang jago muda itu sudah bertempur tiga jam lebih dan mereka mulai lelah sekali. Apalagi Lu Thong lututnya terasa sakit dan dia menjadi makin lambat gerakannya. Akhirnya, sebuah tusukan tombak melukai pahanya dan dia terhuyung-huyung roboh. Baiknya Han Le cepat menyambar tangannya dan menariknya ke dalam lingkaran, sehingga tubuh Lu Thong terlindung oleh tiga orang muda itu.

Di lain fihak, Kwan Cu yang tadinya menghadapi Kiam Ki Sianjin, sekarang ternyata telah dikeroyok tiga orang, yakni Kiam Ki Sianjin sendiri dan dua orang panglima yang lihai sekali ilmu goloknya. Kwan Cu melayani mereka dengan gagah dan sedikit pun tidak terdesak, bahkan pada jurus ke lima puluh lebih, dia berhasil merobohkan seorang panglima dengan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut. Namun, sebagai gantinya datang pula dua orang panglima lain, sedangkan Kiam Ki Sianjin masih terus melawannya dengan amat kuatnya, dan kali ini agaknya tidak mudah bagi Kwan Cu untuk mengalahkan Kiam Ki Sianjin.

Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le sudah lelah dan mulai terdesak. Biarpun korban fihak musuh yang jatuh tak terhitung banyaknya, namun setiap kali ada yang jatuh, mereka yang jatuh diangkat pergi dan sebagai gantinya datang pengeroyok-pengeroyok lain yang masih segar dan memiliki kepandaian silat tinggi juga. Tiga orang muda ini maklum bahwa kalau diteruskan, mereka pasti akan celaka semua. Kini mereka tidak begitu mudah lagi menjatuhkan lawan, karena para pengeroyok kini terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat lumayan.

Kwan Cu maklum pula akan hal ini. Tiba-tiba pemuda ini menyimpan sulingnya dan ketika dua orang panglima menyerang dari kanan kiri dan Kiam Ki Sianjin mendesak dari depan, dia melayani dua orang panglima yang bergolok itu dengan Ilmu Silat Kong-ciak-sin-na, sedangkan terhadap Kiam Ki sianjin dia melancarkan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut. Tosu itu sudah cukup mengenal kelihaian lengan tangan yang mengebulkan uap itu, maka cepat-cepat dia menjatuhkan diri untuk menyimpan napas dan mengerahkan lweekang agar dia cukup kuat menghadapi serangan ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut, akan tetapi dua orang panglima yang belum mengenal Kwan Cu baik-baik, terus mendesak pernuda itu. Dan sebelum mereka tahu bagaimana terjadinya, pundak mereka telah terkena cengkeraman IImu Silat Kong-ciak-sin-na dan golok mereka terlempar. Kwan Cu tidak mau berlaku kepalang tanggung. Ia mengangkat tubuh dua orang ini, yang seorang dia lemparkan ke arah Kiam Ki Sianjin dan menggunakan kesempatan itu untuk memutar-mutarkan orang ke dua dan membobolkan kepungan yang mengurung tiga orang kawannya yang masih melawan mati-matian.

“Kawan-kawan, mari kita pergi!” katanya setelah berhasil menyerbu dan memasuki kurungan.

Sui Ceng dan Kun Beng tertegun melihat bahwa Kwan Cu ternyata masih hidup dan berada di situ, dan diam-diam Sui Ceng merasa girang sekali. Ternyata pemuda ini tidak melarikan diri seperti yang tadi ia khawatirkan. Kemudian Kwan Cu melihat Lu Thong yang terduduk dan luka kakinya. Cepat Kwan Cu melemparkan panglima itu kepada Kun Beng dan berkata,

“Kun Beng, kauterima ini dan pergunakan sebagai senjata mencari jalan keluar. Aku akan menggendong Lu Thong!”

Kun Beng menyambut datangnya tubuh panglima itu dengan tangan kiri dan sekali dia mengulur tangan, dia telah berhasil membekuk batang leher panglima itu yang masih hidup akan tetapi sudah tidak berdaya karena jalan darahnya telah ditotok oleh Kwan Cu.

“Lebih baik kalian juga menangkap seorang lawan untuk dijadikan senjata!” kata Kun Beng.

Sui Ceng dan Han Le mengerti apa yang dikehendaki oleh kawan ini. Dengan cepat mereka mendesak maju dan sebentar saja Han Le dan Sui Ceng sudah dapat menangkap masing-masing seorang pengeroyok dan mengamuklah tiga orang ini, mencari jalan keluar, membobolkan kurungan sambil memutar-mutar tubuh lawan yang mereka pegang kakinya!

Dalam pengamukan ini, Sui Ceng, Han Le dan Kun Beng lagi-lagi kehilangan Kwan Cu. Ke mana perginya pemuda itu? Setelah mengempit tubuh Lu Thong dengan tangan kirinya, Kwan Cu melompat cepat melalui kepala para pengurung itu dan dia sengaja melarikan di dekat Kiam Ki Sianjin yang menyumpah-nyumpah marah melihat kawan-kawannya dibikin kocar-kacir oleh tiga orang muda itu.

“Bodoh, goblok! Menghadap tiga orang saja tidak becus menangkap dan mengalahkan.” Tosu ini memaki-maki anak buahnya.

“Locianpwe, mereka menggunakan kawan kami sebagai senjata untuk mengamuk,” jawab seorang perwira Si-wi.

“Bodoh! Bacok mampus saja semuanya, biar kawan sendiri kalau sudah mereka tangkap, perlu apa takut membacoknya?”

Demikianlah, para Si-wi itu lalu mengepung kembali dan kini mereka menggunakan senjata untuk menangkis dan membacok tiga orang muda itu sehingga senjata mereka tentu saja mengenai kawan sendiri yang diputar-putarkan oleh tiga orang muda perkasa itu. Melihat kenekatan para pengeroyok ini, Sui Ceng dan kawan-kawannya terkejut. Tentu saja mereka lalu melemparkan orang yang mereka pegang karena tubuh orang itu hancur terkena hujan senjata kawan-kawan sendiri dan mulailah menangkap lain orang untuk dijadikan senjata. Biarpun mereka agak lambat maju, namun mereka dapat juga menipiskan kepungan dan keadaan mereka tidak terdesak seperti tadi. Apalagi sekarang mereka tidak perlu melindungi Lu Thong seperti tadi.

“Eh, mana Kwan Cu…?” tanya Sui Ceng yang merasa heran sekali. Tadi Kwan Cu berada di dalam kepungan, jadi di belakangnya, juga di belakang Kun Beng dan Han Le, karena Kwan Cu menghampiri Lu Thong yang berada di tengah-tengah. Akan tetapi mengapa sekarang Kwan Cu dan Lu Thong sudah lenyap dari situ? Juga kedua orang kawannya tidak tahu kemana perginya Kwan Cu mengempit tubuh Lu Thong, akan tetapi oleh karena mereka selalu menghadapi keroyokan musuh, mereka tidak sempat melihat Kwan Cu yang melompat cepat sekali melalui kepala mereka dan para pengeroyok!

Adapun Kwan Cu sebagaimana dituturkan di atas, sengaja lari membawa Lu Thong mendekati Kiam Ki Sianjin. Tentu saja melihat pemuda itu mengempit tubuh Lu Thong, Kiam-Ki-Sianjin cepat mengejar dengan pedang di tangan.

“Bangsat Lu Kwan Cu, ternyata engkau hendak mati-matian membela pemberontak!” serunya.

Kwan Cu tersenyum sindir. “Kiam Ki Sianjin, dia ini adalah keturunan menteri Lu Pin, bagaimana aku takkan membelanya?” Pemuda ini menyimpan sulingnya dan kini tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang pedang yang bercahaya gemilang. Inilah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin yang sengaja diberikan kepadanya.

Kiam Ki Sianjin tertegun dan merasa agak jerih. Baru sekarang dia melihat pemuda ini memegang pedang. Biasanya, dengan tangan kosong atau paling-paling dengan sebatang suling di tangan, pemuda itu sudah terlampau tangguh baginya, apalagi sekarang memegang sebatang pedang mustika!

“Kiam Ki Sianjin, apakah kau tidak melihat siapa adanya pendekar-pendekar muda itu? Lihatlah baik-baik, gadis perkasa itu adalah murid tunggal dari Kiu-bwe Coa-li, pemuda bertombak itu adalah murid terkasih dari Pak-lo-sian Siang-koan Hai, dan pemuda sederhana itu adalah suteku! Aku tanggung bahwa kalau kau terus mengurung mereka, semua anak buahmu akan hancur lebur. Dan bukan itu saja, kalau sampai mereka terluka, tentu para Locianpwe itu akan bersumpah membalas dendam kepadamu.”

“Habis, apa kehendakmu?” tanya Kiam Ki Sianjin memandang tajam.

“Kalau kau hendak menghalangi mereka lari, kau tahu bahwa aku akan menyerangmu mati-matian dan mungkin sekali aku akan dapat menewaskan engkau. Akan tetapi kalau kau mau melepaskan mereka lari, kita kelak akan dapat bertemu pula dan aku takkan melupakan maksud baikmu ini.”

Sampai beberapa lama Kiam Ki Sian-jin diam saja, matanya memandang ke arah tiga orang muda yang tengah mengamuk hebat mencari jalan keluar. Memang sepak terjang mereka hebat sekali dan sekarang pun para anak buahnya sudah mulai kocar-kacir. Akhirnya dia mengangguk dan Kwan Cu girang sekali.

“Terima kasih, Kiam Ki Sianjin. Kau ternyata berpemandangan jauh.” Ia lalu membawa Lu Thong melompat ke barat!

“Sui Ceng, Kun Beng dan Sute! Lari melalui pintu barat!”

Tiga orang muda itu ketika mendengar seruan Kwan Cu yang tiba-tiba ini, menjadi terheran, akan tetapi mereka lalu memutar senjata memaksa para Si-wi yang masih berani mengeroyok untuk mundur dan larilah mereka ke barat. Kwan Cu sudah tidak kelihatan lagi oleh mereka. Aneh sekali, setelah mereka tiba di dinding sebelah barat, di situ tidak kelihatan ada musuh, maka mudah saja mereka melompati tembok itu. Dan ternyata bahwa Kwan Cu sudah berada di bawah tembok sambil mengempit Lu Thong.

“Kau sudah di sini ?” tanya Kun Beng tak mengerti. Juga Sui Ceng terheran, akan tetapi Han Le diam-diam makin kagum akan kepandaian suhengnya itu.

Kiam Ki Sianjin memenuhi janjinya. Ia tidak memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengejar, melainkan menyuruh mereka merawat kawan-kawan yang luka serta mengurus mayat mereka yang tewas. Oleh karena itu, kawanan orang muda perkasa itu dengan mudah dapat melarikan diri keluar dari kota raja dan memasuki hutan sebelah barat. Dengan Kwan Cu di depan, mereka berlari terus sampai jauh dari kota raja. Kemudian mereka berhenti dan Kwan Cu segera mengambil saputangan untuk membalut luka di paha Lu Thong dan setelah mengurut serta menotok jalan darah di kaki pemuda ini, Lu Thong dapat berdiri dan berjalan pula, sungguhpun masih terasa amat sakit pahanya yang terluka itu.

“Kwan Cu, kau cerdik sekali, bisa mencarikan jalan keluar yang tak terjaga untuk kita,” kata Kun Beng memuji dan bibirnya tersenyum kalau dia mengingat betapa bodohnya pemuda itu diwaktu masih kecilnya. “Kwan Cu, pertemuan kita dalam keadaan yang menguntungkan telah membuat kita bertemu sebagai sahabat, aku senang sekali akan hal ini. Sekarang, biarlah kita berpisah dan kelak aku mengharapkan sekali kedatanganmu untuk menghadiri….. pernikahan kami.” Sambil berkata demikian, pemuda yang tampan itu melirik ke arah Sui Ceng. Gadis itu menjadi jengah dan malu, mengerling tajam dan menegur tunangannya dengan pandangan matanya itu.

Akan tetapi tak seorang pun tahu betapa mendongkol dan marah hati Kwan Cu terhadap Kun Beng. Ingin dia menceritakan tentang Gouw Kui Lan, ingin dia menampar muka pemuda yang tampan itu. Akan tetapi Kwan Cu dapat menekan nafsunya dan dia hanya tersenyum dan mengangguk tanpa menjawab sesuatu.

“Ceng-moi, marilah kita pergi,” ajak Kun Beng kepada Sui Ceng dengan suara mesra.

“Ke…..manakah? Aku….aku hendak kembali mencari Suthai.”

“Hendak menemui Kiu-bwe Coa-li Suthai? Baiklah, mari kita bersama menjumpainya, memang perlu kita memberitahukan kepada gurumu tentang penetapan hari pernikahan.”

Sui Ceng makin merah mukanya. Untuk sekejap ia melirik kearah Kwan Cu dan bukan main heran hatinya melihat pandangan mata Kwan Cu yang berapi-api ditujukan kepada Kun Beng yang demikian mengerikan dan dia bergidik. Alangkah anehnya Kwan Cu setelah dewasa, aneh dan menarik hati. Akan tetapi pandang mata itu membayangkan kebencian yang hebat dan Sui Ceng merasa tidak enak hati.

“Marilah,” katanya perlahan dan ia lalu melompat tanpa berpamit kepada Kwan Cu atau yang lain-lain, sedangkan Kun Beng juga melompat menyusul dengan wajah berseri-seri.

Kwan Cu menggigit bibirnya dan mengepal tinjunya, memandang ke arah perginya dua orang itu tanpa bergerak seperti patung. Lu Thong yang kini sudah terbuka matanya dan sadar akan kesesatannya, duduk memisahkan diri di bawah pohon. Dia merenungkan dan kadang-kadang menggigit bibir, mengepalkan tinju, wajahnya pucat seperti seorang yang kehilangan semangatnya.

“Suheng.” Han Le menegur Kwan Cu yang masih berdiri seperti patung itu. Kwan Cu tersadar dan cepat menoleh wajahnya merah sekali ketika dia melihat pandang mata pemuda itu. Mata itu seakan-akan dapat membaca isi hatinya.

“Suheng, mengapa kau kelihatan berduka?”

Kwan Cu menjadi sadar betul-betul dan dengan tersenyum dia lalu memegang lengan pemuda itu.

“Tidak apa-apa, Sute. Sekarang kau ceritakanlah bagaimana kau bisa menjadi murid suhu, semenjak kapan kau belajar ilmu silat kepada suhu dan bagaimana pula kau bisa mainkan ilmu silat yang hanya terdapat di atas Pulau Pek-hui-to?”

Karena melihat Lu Thong masih duduk melamun seorang diri, kedua orang pemuda ini lalu duduk di atas batu dan berceritalah Han Le.

“Aku adalah seorang anak sengsara. Kedua orang tuaku menjadi korban perang dan mereka tewas oleh bala tentara pemberontak An Lu Shan. Baiknya ketika aku sedang dikeroyok oleh balatentara pemberontak dan hampir mengalami kebinasaan, datanglah suhu yang menolongku. Hal itu terjadi tidak lama setelah kau berpisah dari suhu. Suhu lalu mengambil murid kepadaku. Sebelum itu aku adalah anak murid dari Kun-lun-pai, dan karena semenjak kecil aku sudah belajar ilmu silat, tidak sukar bagiku untuk menerima gemblengan dari suhu. Kemudian, suhu mendengar tentang jatuhnya pemerintah Tang dan didudukinya kerajaan oleh An Lu Shan. Suhu marah dan hendak memberi hajaran kepada orang-orang kang-ouw yang membantu pemberontak. Aku hendak ikut, akan tetapi dilarangnya dengan alasan bahwa kepandaianku masih jauh daripada mencukupi untuk berhadapan dengan tokoh-tokoh kang-ouw itu. Bahkan suhu lalu menyuruh aku menyusulmu ke Pulau Pek-hui-to. Akan tetapi ketika tiba di pulau itu, kau tidak ada dan aku mendapatkan ukiran-ukiran di dalam goa. Karena tertarik aku lalu berlatih seorang diri mempelajari semua ukiran itu dan mendapat kenyataan bahkan semua itu adalah pelajaran ilmu silat yang luar biasa sekali, akan tetapi sukar sekali dipelajarinya. Suheng, melihat ilmu silatmu, agaknya kau sudah dapat memecahkan semua rahasia dari pelajaran itu, bukan?”

Kwan Cu mengangguk. “Sute, ilmu silatmu sendiri sudah amat tinggi dan baik. Tidak mudah untuk memecahkan rahasia ilmu silat itu, karena ketahuilah bahwa lukisan-lukisan itu adalah petunjuk dari ilmu-ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.”

Berseri wajah Han Le yang tampan. “Ah, kalau begitu benar kata suhu. Suheng telah mewarisi ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng!” Wajahnya bersinar penuh kekaguman.

Kwan Cu menarik napas panjang. “Ilmu kepandaian itu tidak ada batasnya, Sute. Sepandai-pandainya orang, masih ada yang melebihinya, akhirnya dia akan mengaku bahwa dia amat lemah apabila menghadapi musuh yang berada di dalam hati sendiri.” Kwan Cu termenung dan dia teringat akan Sui Ceng. Ia benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu, akan tetapi gadis itu telah bertunangan dengan Kun Beng. Hal inilah yang menyakitkan hatinya. Andai kata gadis itu bertunangan dengan pemuda lain, agaknya akan mudah baginya untuk menyerah dan berusaha melupakan gadis itu. Akan tetapi Kun Beng? Nama ini membuat dia otomatis teringat akan Kui Lan dan timbullah penasaran dan sakit hatinya. Tidak, Sui Ceng tidak boleh menikah dengan pemuda itu!

“Han Le, kau tentu akan membantu perjuangan rakyat bukan?”

“Tentu saja, Suheng. Orang tuaku tewas oleh penjajah dan aku belum puas kalau para penjajah belum terusir dari negara kita.”

“Bagus, kalau begitu kaubawalah Lu Thong. Obat satu-satunya bagi dia adalah perjuangan membela tanah air dan bangsanya untuk menebus kesesatannya.” Kwan Cu menghampiri Lu Thong, diikuti oleh sutenya.

Lu Thong sudah sadar dari lamunannya dan dia memandang kepada Kwan Cu dengan bibir tersenyum pahit.

“Kwan Cu, kau tentu cinta kepada Sui Ceng, bukan?”

Bukan main kagetnya Kwan Cu mendengar ucapan ini. Memang, berbeda dengan Kwan Cu atau Han le, Lu Thong sudah kenyang dengan pengalaman tentang hubungan pria dan wanita, tentang kasih asmara dan tanda-tandanya. Biarpun dia hanya sekelebatan saja melihat semua pertemuan dan percakapan itu, akan tetapi dia sudah dapat menduga dengan tepat sekali.

“Lu Thong, omongan apakah yang kau keluarkan ini? Sekarang bukan waktunya bicara yang bukan-bukan. Sebaliknya aku hendak bertanya kepadamu, apakah sekarang kau sudah insyaf betul-betul dan sadar bahwa yang sudah-sudah kau telah tersesat jauh sekali?”

Lu Thong menarik napas panjang. “Memang aku bodoh dan mudah tertarik oleh kedudukan dan harta, Kwan Cu. Akan tetapi apakah yang dapat kulakukan sekarang? Keluargaku telah terbinasa, dan kalau kuingat-ingat aku adalah anak yang paling puthauw (tidak berbakti), anak durhaka.” Tiba-tiba Lu Thong menangis sambil menutupi kedua matanya dengan tangan.

Kwan Cu terharu. “Lu Thong, sudah menjadi kewajibanmu untuk menebus dosa itu dan membalaskan sakit hati orang tuamu.”

Lu Thong menurunkan tangannya, air matanya mengalir perlahan melalui pipinya.

“Apa dayaku? Musuh-musuhku adalah penjajah dan mereka amat kuat. Baru menghadapi pasukan Si-wi saja, aku sudah terluka, apalagi kalau menghadapi barisan penjajah? Pula di sana ada orang-orang sakti seperti Kiam Ki Sianjin dan lain-lain.”

“Kau tidak berdiri sendiri, Lu Thong. Di fihak kita pun ada ratusan laksa rakyat yang berjuang dengan penuh dendam terhadap penjajah. Sukakah kau membantu perjuangan mereka?”

“Membantu para pemberontak?”

“Nah, itulah kepicikanmu, Lu Thong. Memang, pejuang-pejuang rakyat itu disebut pemberontak oleh penjajah, akan tetapi bagaimana orang-orang gagah yang membela tanah air dan bangsa dari tindasan penjajah asing disebut pemberontak? Insyaflah bahwa para pejuang rakyat itu sudah dibikin sakit hati oleh penjajah.”

Lu Thong melompat bangun. “Kau benar, Kwan Cu. Baik, aku bersedia untuk membantu perjuangan rakyat dengan taruhan nyawaku.”

Kwan Cu sebaliknya menjadi girang sekali. “Bagus, kalau begitu kau benar-benar saudaraku! Kau ikutlah dengan suteku ini dan dia akan membawamu ke tempat rakyat yang sedang menyusun kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan penjajah. Aku akan menyusul kelak.”

Maka berangkatlah Lu Thong dan Han Le, menuju ke markas pasukan pejuang rakyat yang terdekat, karena memang sebelum pergi ke kota raja, Han Le sudah dengah aktif sekali membantu para pejuang ini. Adapun Kwan Cu sendiri, tadinya dia berniat untuk menyusul perjalanan Sui Ceng dan Kun Beng. Ingin sekali dia mencegah mereka melakukan perjalanan bersama. Ingin sekali dia membongkar rahasia Kun Beng di depan Sui Ceng, agar gadis yang dicintanya itu tahu betapa buruk watak tunangannya, yang sudah merusak kehormatan seorang gadis yang menjadi adik dari suhengnya sendiri! Akan tetapi, dia teringat akan tugas-tugasnya, yakni membalas sakit hati guru dan kong-kongnya. “Urusan pribadi harus dikesampingkan,” pikirnya dengan hati getir, “lebih dulu aku harus mencari mereka yang telah menewaskan suhu, kemudian aku akan mencari keturunan An Lu Shan yang tinggal seorang itu, yakni An Kai Seng.” Kwan Cu teringat akan tantangan, Pek-eng Sianjin, maka dia lalu menuju ke Bukit Leng-san. Tadinya memang dia sudah mengeluarkan nama Pek-eng Sianjin dari daftar orang-orang yang hendak dibalasnya karena membunuh suhunya. Hal ini karena dia sudah mendengar sumpah Pek-eng Sianjin bahwa tosu ini tidak ikut mengeroyok dalam pembunuhan Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi, sebaliknya Pek-eng Sianjin merasa terhina dan menantangnya untuk datang ke Leng-san. Kalau dia tidak meladeni tantangan ini yang diucapkan di hadapan tokoh-tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin, Bian Ti Hosiang, dan Bin Ti Siansu, tentu namanya akan jatuh sebagai seorang muda pengecut.

“Aku harus memenuhi tantangannya lebih dulu baru aku akan mencari tempat tinggal Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, dan siluman Toat-beng Hui-houw,” pikimya sambil berlari cepat sekali ke selatan.

***

Di Bukit Leng-san, Pek-eng Sianjin sudah bersiap-siap menanti kedatangan Kwan Cu, pemuda yang telah menghinanya di depan tokoh-tokoh besar. Di pegunungan ini, Pek-eng Sianjin sudah kehilangan empat orang saudaranya yang terbunuh mati oleh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Ang-bin Sin-kai Lu Sin, telah membentuk pula sebuah perkumpulan yang diberi nama Pek-eng Kauw-hwe (Perkumpulan Agama Garuda Putih)! Ia mendapatkan tiga orang kawan, yakni dua orang tosu dan seorang hwesio yang dikumpulkan di situ, selain untuk bersama-sama mengurus perkumpulan itu, juga untuk menjadi kawannya menghadap Kwan Cu. Dua orang tosu itu memang sudah mengangkat saudara dengan dia dan mengganti nama menjadi Thian-eng Sianjin dan Te-eng Sianjin. Dua orang saudara ini memang tadinya adalah orang-orang kang-ouw dari kalangan jalan hitam, maka cocok sekali dengan Pek-eng Sianjin. Mereka adalah pelarian dari Thian-san-pai, yang diusir dan tidak diakui lagi karena mereka telah melakukan perbuatan jahat. Setelah bertemu dengan Pek-eng Sianjin, mereka menerima pelajaran ilmu silat baru dan menjadi saudara angkat yang sehidup semati. Adapun hwesio itu adalah Loan Kek Hosiang, seorang hwesio pelarian dari Siauw-lim-pai. Juga seperti dua orang tosu tadi, hwesio ini telah melarikan diri karena terancam oleh fihak Siauw-lim-pai yang hendak menghukumnya setelah dia melakukan perbuatan terkutuk, yakni mengganggu anak bini orang!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: