Pendekar Sakti (Jilid ke-31)

Selain empat orang yang lihai ini, Pek-eng Sinjin juga menerima murid-murid yang menjadi pembantu-pembantunya. Akan tetapi yang paling mereka sayang adalah tiga orang anak-anak yang usianya baru delapan sembilan tahun. Tiga orang anak kecil inilah mereka harapkan untuk menggantikan kedudukan mereka kelak, maka mereka bertiga, yakni Pek-eng Sianjin dan dua orang tosu lain, masing-masing mengambil seorang anak menjadi muridnya dan melatih ilmu silat kepada mereka ini.

Pek-eng Sianjin adalah seorang ahli pedang Sin-eng Kiam-koat, sedangkan Thian-eng Sianjin memiliki ilmu pedang Thian-san Kiam-hoat yang kini dia gabung pula dengan Sin-eng Kiam-hoat, Te-eng Sianjin memiliki ilmu tombak yang lihai dari Thian-san-pai pula. Adapun Loan Kek Hosiang juga memiliki ilmu pedang dari Siauw-lim-pai yang kini dia tukar atau saling pelajari dengan ilmu pedang dari Pek-eng Sianjin. Mereka selalu berlatih dengan giatnya, terutama sekali setelah mendengar bahwa tak lama lagi akan datang seorang musuh besar dari Pek-eng Sianjin, ketua dari Pek-eng Kauw-hwe.

Ketika Kwan Cu mendaki Bukit Leng-san, dari kaki bukit itu kelihatannya sunyi saja. Akan tetapi setelah dia mendekati puncak dari bukit yang tidak seberapa tinggi itu, dia melihat sepasukan orang muda yang bertubuh kuat, terdiri dari dua puluh orang, menghadang di tengah jalan.

“Apakah orang yang datang ini bernama Lu Kwan Cu?” terdengar seorang di antara pasukan itu bertanya dengan suara heran. Mereka ini adalah sebagian dari murid-murid Pek-eng Kauw-hwe yang ditugaskan menjaga dan menangkap musuh yang baru datang. Melihat bahwa musuh suhu mereka itu ternyata hanyalah seorang pemuda sederhana yang bertangan kosong, berpakaian sederhana dan kelihatannya lemah, orang-orang muda ini memandang ringan.

“Betul, aku adalah Lu Kwan Cu dan aku datang untuk memenuhi undangan Pek-eng Sianjin. Apakah dia berada di puncak bukit?”

Para orang muda itu saling pandang, kemudian terdengar gelak tawa mereka. Hampir mereka tidak percaya bahwa inilah musuh yang agaknya ditakuti oleh guru mereka. Apa sih anehnya orang muda yang tubuhnya kelihatan lemah itu?

“Kamu yang bernama Lu K wan Cu?” tanya seorang pemuda bermuka hitam dengan tubuh seperti raksasa sambil melangkah maju menghadapi kwan Cu. “Kalau begitu, menurutlah saja kami rantai untuk dihadapkan kepada suhu. Lebih baik kau menurut daripada kami harus menggunakan kekerasan dan ada tulang-tulangmu yang patah!” katanya mengejek dan kembali terdengar suara ketawa di sana-sini.

Kwan Cu tidak marah, bahkan merasa kasihan terhadap mereka. Ia tahu bahwa memang banyak orang muda yang tingkahnya seperti mereka ini. Baru mempelajari sejurus dua jurus ilmu silat saja, lalu merasa diri terpandai dan kuat, siap untuk mencari keributan dan memukul orang untuk memamerkan kepandaiannya. Beginilah contohnya orang yang masih dangkal ilmu pengetahuannya dan belum mengerti betul akan isi daripada ilmu silat yang sesungguhnya bukan dipergunakan untuk menyombongkan diri, bahkan sebaliknya makin tinggi ilmu yang dipelajarinya akan merasa bahwa dia masih belum mengerti apa-apa dan selalu berlaku merendah.

“Sahabat, aku datang bukan untuk mencari permusuhan, melainkan untuk memenuhi undangan Pek-eng Sianjin. Mengapa kau bersikap begini kasar?”

Si muka hitam itu tertawa mengejek. “Ha, ha, ha! Kami mendengar bahwa orang yang bernama Lu Kwan Cu akan datang untuk mengadakan pibu (mengadu kepandaian silat) dengan suhu. Akan tetapi kalau orangnya hanya seperti engkau saja, untuk apa suhu harus melelahkan diri? Dari pada susah-susah kau akan menemui kematian di puncak, lebih baik sekarang saja aku yang akan menghajarmu!”

Setelah berkata demikian, si muka hitam lalu memasang kuda-kuda dan kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu menyambar ke arah dada Kwan Cu. Dengan tenang Kwan Cu menanti datangnya pukulan tanpa mengelak sedikitpun.

“Buk!” Pukulan itu dengan kerasnya tiba di dada Kwan Cu, akan tetapi pendekar muda ini berkedip pun tidak. Bahkan sebaliknya, si muka hitam itu terlempar ke belakang dan tulang-tulang jari tangannya patah-patah! Ia bergulingan di atas tanah mengaduh-aduh karena rasa sakit membuat dia lupa malu. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk ribuan jarum.

Gegerlah keadaan di situ. Para muda itu cepat mencabut senjata dan sebentar saja hujan senjata menjatuhi tubuh Kwan Cu. Akan tetapi pemuda ini tidak mau berurusan dengan anak-anak muda yang dianggapnya hijau dan tolol itu. Sekali tubuhnya berkelebat, para pengeroyok itu melongo karena tahu-tahu pemuda yang akan dikeroyoknya itu telah lenyap dari situ.

Ketika mereka menengok, ternyata bahwa Kwan Cu sudah berlari cepat menuju ke puncak bukit! Barulah mereka beramai-ramai mengejar sambil berteriak-teriak. Akan tetapi, mana bisa mereka menyusul larinya pemuda sakti itu?

Setelah mendekati puncak, Kwan Cu melihat bangunan tembok di atas puncak gunung itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia mendengar suara angin yang aneh dan tahulah dia bahwa banyak sekali senjata gelap menyambar ke arah dirinya. Mendengar angin sambaran itu, tahulah dia bahwa yang menyambar hanyalah senjata-senjata yang digerakkan oleh orang-orang yang masih lemah tenaganya. Maka dia hanya memutar kedua lengannya sambil mengerahkan tenaga sedikit saja. Anak-anak panah yang ratusan banyaknya itu runtuh semua, tak dapat melukainya, bahkan sebatang pun tidak ada yang bisa merobek bajunya!

Ia berlari terus dan berseru, “Pek-eng Sianjin, bagus benar kau menyambut datangnya tamu yang kau undang sendiri!” Hati pemuda ini mulai panas dan biarpun tadinya dia tidak mengandung maksud buruk terhadap Pek-eng Sianjin, namun sekarang pandangannya lain. Orang seperti Pek-eng Sianjin yang ternyata curang sekali itu amat berbahaya bagi keamanan umum dan perlu disingkirkan.

Belum juga dia tiba di depan bangunan itu, dari atas pohon menyambar turun tubuh empat orang yang gesit gerakannya. Mereka ini adalah Pek-eng Sianjin, Thian-eng Sianjin, Te-eng Sianjin dan Loan Kek Hosiang, siap dengan senjata.

“Lu K wan Cu, sekarang rasakan pembalasan dendamku!” seru Pek-eng Sianjin yang cepat menyerang dengan pedangnya, disusul oleh tiga orang saudaranya.

Kwan Cu marah bukan main, akan tetapi tetap mengelak dan menyabarkan hatinya. Sambil meloncat ke sana ke mari mengelakkan diri dari sambaran empat senjata lawan, dia berkata keras,

“Pek-eng Sianjin, insyaflah kau! Aku sudah mengampunkan nyawamu karena kau bersumpah tidak ikut membunuh guruku. Sekarang aku datang sebagai tamu yang kauundang mengadakan pibu. Mengapa kau berlaku curang, menyuruh orang mengeroyok dan melepas anak panah, sekarang kau mengeroyok pula? Apa kehendakmu?”

“Bangsat rendah! Gurumu telah membunuh empat orang adikku, kemudian kau telah menghinaku. Apa kaukira aku mau melepaskan engkau dari sini? Bersiaplah untuk mampus!”

Serangan mereka itu dipercepat dan terpaksa Kwan Cu mencabut keluar sulingnya, dia mengerahkan tenaga dan menangkis sekaligus serangan empat batang senjata. Akan tetapi biarpun dia berhasil membikin terpental senjata-senjata itu, dia tidak dapat membikin senjata itu terlepas dari pegangan lawan-lawannya. Mengertilah Kwan Cu bahwa, para pengeroyoknya memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

“Pek-eng Sianjin, sekali lagi kuharap kau sadar dan tahu akan kesopanan di dunia kang-ouw. Kalau mau berpibu secara baik, pergunakanlah aturan. Kecuali kalau kau memang sengaja mau mengadu nyawa!”

“Hari ini kalau bukan kau tentu aku yang mati di sini!” jawab Pek-eng Sian-jin sambil menyerang dengan buasnya.

Kwan Cu mulai timbul marahnya. Sudah nyata sekarang bahwa tosu ini memang berakhlak bejat, menurutkan nafsu hati dan dendam tanpa mengingat bahwa fihaknya sendirilah yang salah besar. Empat orang adik seperguruannya takkan binasa di tangan Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Ang-bin Sin-kai kalau tidak melakukan kejahatan luar biasa, dan Pek-eng Sianjin sendiri pun tidak akan mengalami hinaan dari Kwan Cu kalau saja dia bertindak di atas jalan yang benar. Sekarang, sebaliknya daripada menginsyafi kedosaannya, kakek ini bahkan secara amat curang dan tak tahu malu telah mengeroyok Kwan Cu dan sudah terang menghendaki kematian pemuda ini.

“Kau mencari penyakit sendiri!” seru Kwan Cu dan dia mulai melakukan serangan balasan. Pek-eng Sianjin adalah seorang tokoh kang-ouw dan ilmu silatnya sudah cukup tinggi, demikian pula tiga orang kawannya yang mengeroyok. Mereka mengurung Kwan Cu dari empat jurusan dan melakukan serangan-serangan hebat. Namun Kwan Cu yang gesit dan jauh lebih tinggi tingkat ilmu kepandaiannya itu, melayani mereka dengan tabah sekali. Sulingnya bergerak-gerak bagaikan naga menyambar sehingga setiap serangan lawan kalau tidak dielakkannya tentu dapat ditangkis. Sedangkan tangan kirinya tak tinggal diam, dia bergerak menurut Ilmu Silat Kong-ciak-sin-na dan mencoba untuk merampas senjata lawan.

Namun empat orang lawannya itu dapat bergerak gesit dan mereka lebih berhati-hati sekali ketika Pek-eng Sianjin berseru,

“Awas, jangan membiarkan dia merampas senjata. Awas terhadap tangan kirinya!”

Kwan Cu mendongkol sekali. Sampai sebegitu jauh dia belum dapat merampas senjata mereka. Kalau dia memang mempunyai niat untuk menyebar maut, kiranya dengan mudah dia akan dapat menggulingkan para pengeroyok ini dengan mempergunakan ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut atau pun dengan sulingnya untuk menotok jalan darah di tubuh lawan. Akan tetapi, Kwan Cu tidak mau sembarangan membunuh. Dia belum kenal siapa adanya tiga orang kawan Pek-eng Sianjin ini dan tidak tega menjatuhkan tangan kejam terhadap orang-orang yang belum diketahui kejahatannya.

Karena kepungan mereka makin rapat dan desakan mereka makin menghebat, Kwan Cu berseru keras dan tiba-tiba saja lawannya menjadi bingung. Tubuh pemuda ini sekarang bergerak sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata mereka. Sebentar Kwan Cu mendesak Pek-eng Sianjin, sebentar pula berganti lawan dan bahkan kadang-kadang melompat tinggi sekali untuk turun di sebelah belakang seorang di antara mereka. Pemuda ini mengeluarkan kepandaiannya dan mempergunakan ginkangnya yang paling tinggi. Kacau-balaulah pengepungan itu dan permainan senjata mereka kini tidak teratur lagi. Membacok dan menusuk ke mana saja bayangan pemuda itu berkelebat, akan tetapi selalu tidak mendapatkan sasaran.

Tiba-tiba Pek-eng Sianjin yang sudah menjadi penasaran dan marah sekalit menubruk dengan pedangnya dari belakang, dibarengi dengan tangan kiri yang mencengkeram hendak memeluk leher. Inilah serangan yang disebut Pek-mo-jio-beng (Iblis Putih Merebut Nyawa), hebatnya bukan main. Pedang itu digerakkan dengan khikang sepenuhnya sehingga ujung pedang tergetar, selain cepat juga amat kuatnya dapat menembus dinding baja, sedangkan tangan kiri itu mencengkeram dengan gerakan Kin-na-jiauw yang dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya. Jangan kata kulit dan daging manusia, batu karang yang keras akan hancur terkena cengkeraman ini. Biarpun amat lihai, sesungguhnya ilmu serangan ini adalah semacam gerak tipu yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah nekat dan hendak mengadu nyawa dengan lawannya. Gerakan Pek- mo-jio-beng ini tidak dapat ditarik kembali, sekali dikeluarkan, kalau lawannya tangguh tentu akan kena dipeluk untuk mati bersama, kalau lawannya kurang tangguh pasti takkan dapat mengelakkan diri dari dua serangan yang merupakan sepasang tangan maut itu!

Kwan Cu mendengar suara angin serangan yang dahsyat ini, yang dilakukan oleh Pek-eng Sianjin dari belakang. Pemuda ini tahu bahwa lawan ini sudah berlaku nekat dan telah mengeluarkan serangan dari kepandaian simpanan. Biarpun pemuda ini tidak melihat dengan matanya, namun telinga dan perasaannya yang amat tajam sudah dapat membedakan bahwa Pek-eng Sianjin melakukan serangan dengan pedang dan tangan kiri, Kwan Cu tidak menjadi gugup. Pada saat itu, tombak di tangan Te-eng Sianjin menusuk perutnya dari depan. Kwan Cu yang lebih memperhatikan serangan dari belakangnya, mengangkat kaki kanan memapaki tombak ini dari samping. Gerakan macam ini tidak sembarang ahli silat tinggi berani melakukannya, karena kalau meleset sedikit saja, tentu kaki akan beradu dengan ujung tombak dan betapapun kuatnya, sepatu berikut kulit kaki tentu akan tertembus atau terluka. Namun tendangan Kwan Cu ini tepat sekali datangnya, mengenai bawah mata tombak dan tombak itu terpental. Dengan meminjam tenaga tusukan tombak, Kwan Cu membanting kaki ke kanan sehingga tubuhnya juga miring ke kanan, berbareng dia memukulkan sulingnya ke belakang punggung, tepat menangkis serangan pedang di tangan Pek-eng Sianjin. Adapun pukulan tangan kiri Pek-eng Sian-jin lewat di samping tubuhnya sebelah kiri.

Akan tetapi keadaan Kwan Cu yang tubuhnya miring dan kelihatannya berada dalam kedudukan berbahaya ini tidak disia-siakan oleh tiga orang kawan Pek-eng Sianjin, Te-eng Sianjin sudah menggerakkan tombaknya pula, menusuk sekuat tenaga. Thian-eng Sianjin membacok dengan pedangnya, demikian pula Loan Kek Hosiang melakukan bacokan hebat dengan pedangnya! Agaknya Kwan Cu sudah tidak ada harapan untuk menghindarkan diri dari tiga serangan hebat ini.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan seruan terkejut dari tiga orang itu yang wajahnya menjadi pucat sekali. Apa yang terjadi? Kwan Cu yang tubuhnya sudah miring itu, secepat kilat menangkap tangan kanan Pek-eng Sian-jin, memencet keras sehingga pedangnya terlepas, kemudian sekaligus Kwan Cu mengerahkan tenaga lweekang dan tubuh Pek-eng Sianjin diangkat oleh tangan kirinya terus dibanting ke depan menjadi perisai yang menangkis semua serangan tiga orang itu! Tombak Te-eng Sianjin tepat sekali menancap di perut Pek-eng Sianjin sampai tembus, pedang Thian-te Sianjin melukai pundaknya dan yang lebih lagi, pedang di tangan Loan Kek Hosiang membabat putus lengan kanan yang dipegang oleh Kwan Cu! Tewaslah seketika itu juga Pek-eng Sianjin, setelah mengeluarkan pekik yang menyeramkan tadi!

Setelah melepaskan lengan yang sudah putus, Kwan Cu tidak mau berbuat kepalang tanggung. Tubuhnya bergerak cepat, suling di tangannya menyambar-nyambar dan robohlah tiga orang kawan Pek-eng Sianjin tadi dalam keadaan tertotok jalan darahnya!

Para anak murid Pek-eng Kauw-hwe yang kini sudah datang mendekat berdiri dengan wajah pucat, sama sekali tidak berani bergerak. Tak pemah mereka sangka bahwa pemuda itu demikian lihainya!

“Kalian lihatlah, begini nasib seorang yang berhati curang dan jahat. Pek-eng Sianjin telah mencari kematiannya sendiri. Aku masih tidak tega untuk membunuh orang-orang lain dan biarlah kematian Pek-eng Sianjin ini menjadi peringatan bagi kalian semua agar mengubah watak dan berbuat kebaikan sesuai dengan jalan kebenaran. Rakyat sedang membutuhkan bantuan orang-orang pandai untuk mengusir penjajah, mengapa kalian tidak membantu perjuangan suci itu bahkan sebaliknya menimbulkan kekacauan? Pikirkanlah kata-kataku ini baik-baik!” Setelah berkata demikian tubuh pemuda ini berkelebat dan dalam sekejap mata lenyap dari situ.

Setelah terlongong-longong untuk beberapa saat dan tidak berani bergerak atau pun membuka suara, barulah para anggauta Pek-eng Kauw-hwe itu beramai-ramai menolong tiga orang tua yang lumpuh tertotok dan mengurus jenazah Pek-eng Sianjin yang amat mengerikan itu. Lengannya putus, isi perutnya berantakan keluar dan pundaknya hampir putus pula.

***

Kiam Ki Sianjin yang menjadi pembantu utama dari Si Su Beng yang kini menduduki istana kerajaan, dapat melihat bahwa perjuangan rakyat amat kuatnya dan mengancam kedudukan yang dipertuan. Ia tahu bahwa kekuatan perjuangan rakyat itu karena rakyat dari segala lapisan serentak bangkit dan dipimpin pula serta dibantu oleh orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi.

Oleh karena itu, dia mendapatkan sebuah pikiran yang amat baik. Ia mengirim surat kepada semua partai persilatan yang besar-besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Thian-san-pai, Go-bi-pai dan lain-lain. Juga dia mengundang kepada tokoh-tokoh besar seperti Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Seng Thian Siansu dari Kun-lun-pai dan fihak-fihak yang kelihatannya anti kaisar penjajah untuk mengadakan pertemuan atau yang disebutnya musyawarah besar di Bukit Tai-hang-san pada Gouw-gwe Cap-gouw (Bulan lima tanggal lima belas), di mana akan dirundingkan dan diperdebatkan pendirian mereka yang bertentangan. Diam-diam tentu saja Kiam Ki Sianjin mengumpulkan tokoh-tokoh yang kiranya akan berdiri di fihaknya, yakni seperti Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Toat-beng Hui-houw, Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang yang disebut Bu-eng Siang- hiap dan yang tadinya membantu putera An Lu Shan dan setelah putera mahkota itu dibinasakan oleh Si Su Beng, lalu menyerah dan membantu pula kepada Si Su Beng. Masih banyak tokoh-tokoh berkepandaian tinggi yang berdiri di fihaknya, maka sekali ini Kiam Ki Sianjin bermaksud mengundang semua tokoh dan apabila fihak yang anti kaisar masih tidak mau mengalah, di puncak Tai-hang-san itu akan dijadikan tempat pembasmian mereka!

Banyak ketua-ketua partai persilatan dan tokoh-tokoh besar sengaja datang kepada Kiam Ki Sianjin untuk minta penjelasan setelah menerima surat itu. Di antara mereka yang datang adalah Bian Ti Hosiang tokoh ke dua dari Bu-tong-pai dan Bin Hong Siansu tokoh ke dua dari Kim-san-pai. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dua orang tokoh ini kebetulan sekali bertemu dengan Kwan Cu di gedung Kiam Ki Sian-jin dan telah mencoba kepandaian pemuda itu pula. Kini mereka pergi dari istana untuk kembali ke tempat masing-masing, menyampaikan hasil penyelidikan mereka setelah mereka bertemu dengan Kiam Ki Sianjin.

Biarpun mereka keluar dari istana tidak bersama-sama, namun setelah tiba di luar kota raja, mereka bertemu dan melakukan perjalanan bersama.

“Bin Hong Toyu, bagaimana pendapatmu tentang bocah yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai itu?” di tengah perjalanan Bian Ti Hosiang bertanya. Mereka melakukan perjalanan sambil menggunakan ilmu lari cepat sehingga tubuh mereka bergerak seperti terbang saja, akan tetapi mereka tidak kelihatan lelah, bahkan masih dapat bercakap- cakap. Ini menunjukkan betapa tingginya ilmu kepandaian mereka.

Bin Hong Siansu menghela napas panjang. “Kita harus mengaku bahwa kita sudah tua dan ketinggalan jaman. Belum pemah selama hidupku melihat seorang pemuda yang demikian lihainya.”

“Kalau begitu, fihak yang anti kaisar tentu jauh lebih kuat daripada fihak yang membantu kaisar,” kata pula Bian Ti Hosiang tokoh ke dua dari Bu-tong-pai itu.

“Belum tentu demikian. Biarpun pemuda itu lihai, tak mungkin kepandaiannya akan bisa mengatasi Hek-i Hui-mo atau Toat-beng Hui-houw, Kiam Ki Sian-jin juga belum tentu kalah, tadi kelihatan kalah karena mereka bertempur mempergunakan meja, hal yang amat aneh!” jawab Bin Hong Siansu. “Bagiku sendiri, kurasa pendirian Kiam Ki Sianjin lebih benar. Kalau orang kang-ouw tak mau membantu kaisar, hal itu berarti bahwa mereka akan mendatangkan bencana yang lebih besar kepada rakyat. Kalau pemberontakan-pemberontakan itu ditindas dan keadaan negara aman kembali, tentu rakyat hidup tenang dan damai. Kaisar adalah pilihan Yang Maha Kuasa, jatuh bangunnya sebuah kerajaan, menang kalahnya perebutan kedudukan kaisar, telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Mengapa harus membangkang terhadap keputusan nasib yang ditentukan oleh Thian?”

Bian Ti Hosiang mengerutkan kening. “Pinceng masih belum dapat mengambil keputusan, terserah kepada suheng Bian Kim Hosiang saja.” Memang di dalam hatinya, hwesio Bu-tong-pai ini masih ragu-ragu untuk menyetujui pendapat tosu dari Kim-san-pai itu. Dia pun terpengaruh oleh bujukan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena dia tahu bahwa Suhengnya sering kali menyatakan tidak sukanya kepada pemerintah penjajah, maka dia sendiri tidak berani mengambil keputusan.

Perjalanan dilanjutkan cepat sekali dan tahu-tahu siang telah berganti senja dan angkasa gelap sekali, agaknya akan turun hujan.

“Kita harus mencapai tempat bermalam,” kata Bin Hong Siansu kepada kawannya.

“Benar, agaknya akan turun hujan dan kita masih berada di dalam hutan. Apakah ada goa untuk berlindung di hutan ini?”

“Jangan khawatir ,” kata Bin Hong Siansu, “di luar hutan ini terdapat sebuah hutan dan di situ ada seorang kenalanku. Dia adalah Siok Tek Tojin yang mengepalai sebuah kuil.”

Mereka mempercepat larinya dan tak lama kemudian benar saja, setelah keluar dari hutan mereka tiba di sebuah dusun. Bin Hong Siansu membawa kawannya ke sebuah kuil yang cukup besar, disambut oleh seorang tosu bertubuh tinggi kurus dan bermata seperti mata burung. Bian Ti Hosiang yang berpemandangan awas, dapat menduga bahwa tosu yang menyambut mereka ini berhati kejam, akan tetapi karena tuan rumah adalah kawan dari Bin Hong Siansu dan menyambut mereka dengan ramah, dia pun tidak memperlihatkan kecurigaannya.

Dengan ramah Siok Tek Tojin menyambut dua orang tamunya, mengeluarkan hidangan dan bercakap-cakaplah mereka dengan asyiknya. Dari percakapan tuan rumah, Bian Ti Hosiang tahu pula bahwa tosu ini adalah seorang yang memuji-muji kaisar dan memuji-muji pula Kiam Ki Sianjin.

Malam hari itu, Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu menginap di kamar yang berlainan. Hal ini adalah atas kehendak tuan rumah yang ingin menghormati tamu-tamunya dan ingin menyediakan tempat yang enak bagi tamunya.

“Di sini ada banyak kamar, harap Ji-wi Beng-yu (dua sahabat) jangan sungkan-sungkan,” katanya berkali-kali sambil tersenyum.

Menjelang tengah malam, ketika Bian Ti Hosiang masih duduk bersamadhi di atas tempat tidurnya, tiba-tiba dia mendengar suara dari arah jendela dan ketika dia membuka mata dan memandang, terkejutlah dia me1ihat asap bergulung-gulung masuk dari jendela itu! Ia melompat turun akan tetapi segera terguling karena tercium olehnya bau yang harum dan keras seka1i. Ia maklum bahwa asap itu adalah asap beracun yang dapat membius orang akan tetapi sebentar saja dia telah pingsan. Ketika dia sadar kembali, dia mendapatkan dirinya masih rebah di atas lantai dengan kedua tangan ke belakang dan ketika dia hendak mengerahkan lweekangnya, ternyata bahwa seluruh tubuhnya telah lemas, tanda bahwa jalan darahnya telah ditotok orang secara lihai sekali. Asap telah menghilang akan tetapi hwesio ini masih merasa pening. Dengan tubuhnya yang amat lemah karena jalan darahnya tidak lancar, dia bergulingan dan dengan susah payah dapat juga dia duduk dan menyandarkan punggungnya pada tiang pembaringan. Kemudian dia berseru,

“Penjahat manakah yang begitu curang menyerang orang tanpa memberi tahu lebih dulu?” Dari luar jendela terdengar suara orang ketawa mengejek,

“Kiu-bwe Coa-li, apakah kau sudah membereskan Siok Tek Tojin?” suara itu bertanya, dijawab oleh suara wanita yang kecil tinggi melengking.

“Sudah, hanya tosu dari Kim-san-pai itu yang masih harus kita bereskan. Bagaimana, Pak-lo-sian, apakah babi gemuk itu sudah dapat dibikin beres?”

“Ha, ha, ha, sudah heres, dia sudah tidak berdaya. Marilah kita bekuk Bin Hong Siansu ” kata suara pertama yang besar dan parau.

Diam-diam Bian Ti Hosiang tertegun dan terheran. Benarkah pendengarannya? Benar-benarkah dua orang yang herada di luar jendela itu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Kalau memang benar, mengapa dua orang tokoh besar yang luar biasa lihainya itu melakukan perbuatan sepcrti ini terhadap dia? Ia teringat akan sahabatnya yang menurut pembicaraan tadi belum tertawan, maka dia cepat berseru sambil mengerahkan lweekangnya,

“Bin Hong Toyu !! Hati-hatilah, ada dua orang jahat di tempat ini….. !”

Belum lama gema suaranya lenyap, pintu kamamya ditendang orang dan masuklah Bin Hong Siansu.

“Bian Ti Hosiang, ada terjadi apakah… ??” Tosu dari Kim-san-pai ini bertanya. Akan tetapi sebagai jawaban pertanyaan ini, tiba-tiba dari jendela menghembus asap tebal, asap hitam dan putih yang sebentar saja memenuhi kamar itu.

“Bin Hong Siansu, hati-hatilah terhadap asap beracun itu. Cepat-cepat kau pergilah!” teriak Bian Ti Hosiang. Mendengar ini Bin Hong Siansu kaget sekali dan cepat melompat keluar dari kamar. Akan tetapi baru saja sampai di pintu sudah penuh oleh asap hitam, dia roboh terkena pukulan yang amat dahsyat, tepat pada dadanya. Pemukul yang tidak kelihatan karena terhalang oleh asap hitam itu tentu memiliki kepandaian tinggi sekali karena pukulannya jatuh tanpa dapat ditangkis atau dielakkan lagi. Bin Hong Siansu terhuyung-huyung tanpa disadarinya mengisap asap itu dan roboh pingsan. Demikian pula Bian Ti Hosiang, biarpun sudah berusaha dengan merebahkan tubuhnya di atas lantai agar jangan kena mengisap asap itu, akhirnya dia pun pingsan karena tidak tahan pula dengan asap yang ternyata bisa mengapung rendah itu. Di dalam kamar yang penuh asap itu, berkelebat bayangan yang berbaju hitam. Ia menghampiri Bian Ti Hosiang, memukul pelipis hwesio ini perlahan kemudian dia melakukan hal yang sama kepada Bin Hong Siansu. Setelah melakukan hal ini, dia tertawa bergelak dan sekali berkelebat saja, dia telah menghilang keluar dari kamar itu, masuk di dalam gelap.

Akan tetapi belum lama dan belum jauh dia meninggalkan rumah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan lain di depannya dan tahu-tahu seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana telah berdiri menghadangnya. Pemuda itu menegurya.

“Siapakah Losuhu ini dan mengapa malam-malam berlari-larian seperti dikejar orang?” Pemuda itu bukan lain adalah Lu Kwan Cu yang kebetulan pada malam hari itu tiba di dusun ini sepulangnya dari Leng-san dan hendak mulai perjalanannya mencari musuh-musuh besar gurunya. Ia memandang dengan penuh perhatian dan melihat bahwa orang yang berlari dengan gerakan luar biasa cepatnya itu adalah seorang hwesio yang bertubuh tinggi kecil, bermuka menyeramkan dan berpakaian serba hitam, mengingatkan dia akan pakaian Hek-i Hui-mo!

Ketika hwesio ini menjawab, hati Kwan Cu berdebar. Suara hwesio ini demikian tinggi kecil seperti suara wanita!

“Bedebah perlu apa kau bertanya tanya? Minggirlah!” Dan tangan hwesio itu mencengkeram ke arah pundaknya. Inilah ilmu silat semacam Eng-jiauw-kang (Pukulan Kuku Garuda) yang lihai sekali! Kwan Cu tidak berani berlaku lambat karena ketika angin pukulan ini menyambar, dia. mencium bau yang amat amis, dan dia menduga dengan hati bergidik bahwa tangan hwesio ini tentulah mengandung racun berbahaya pula.

Dengan sigapnya Kwan Cu mengelak dan sebelum dia menegur, hwesio itu yang juga tercengang melihat betapa pemuda yang dikiranya pemuda dusun ini dapat mengelakkan diri dari pukulannya, cepat berlari pergi. Kwan Cu diam-diam mempergunakan kegesitannya dan sekali mengulur tangan dia telah berhasil menjambret baju hitam yang panjang itu sehingga sepotong kain hitam tertinggal di dalam tangannya.

Kwan Cu hendak mengejar, akan tetapi malam gelap sekali dan hwesio itu dapat berlari cepat. Ia tidak mengenal hwesio itu dan tidak tahu urusannya, tidak enaklah kalau dia terus mengejar maka dia lalu melompat ke arah kuil yang berada di dekat situ, dari mana hwesio yang aneh itu tadi melarikan diri. Robekan kain hitam dikantonginya dan dia melakukan ini tanpa disadarinya.

Dengan hati-hati Kwan Cu melakukan penyelidikan dan dia masih mencium bau harum yang menyesakkan dada ketika dia mendekati kuil itu. Cepat pemuda ini mengatur napas dan mengerahkan tenaga lweekang yang didapatinya ketika bersamadhi di atas Pulau Pek-hui-to untuk mengusir racun dan untuk “menyaring” napas yang memasuki paru-parunya, kemudian dia melakukan pengintaian. Dan dia melihat pemandangan yang amat aneh di dalam sebuah kamar di kuil itu.

Setelah Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu sadar dari pingsannya, mereka merasa betapa kepala mereka seperti akan pecah. Karena totokan yang membikin tubuh Bian Ti Hosiang lumpuh telah bebas dan ikatan tangannya juga telah dilepaskan orang, maka dia bisa mengerahkan lweekang dan alangkah terkejutnya ketika dia merasa kepalanya sakit sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, tahulah dia bahwa dia telah menderita luka yang luar biasa hebatnya dan bahwa nyawanya takkan tertolong lagi. Demikian pula dengan Bin Hong Siansu!

Tiba-tiba masuklah Siok Tek Tojin, sebelah tangan kirinya lumpuh dan dia masuk terpincang-pincang.

“Aduh, Ji-wi Bengyu, celaka…. ” katanya terengah-engah. “Hampir saja pinto sendiri tewas oleh dua orang siluman itu! Entah apa sebabnya Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai datang menyerbu dan menyebar kebinasaan!”

“Kau…. bertemu dengan mereka… ?” tanya Bian Ti Hosiang yang masih merasa ragu-ragu sambil menahan sakit.

“Tentu saja! Lihat, pundak kiriku ditotok dan sampai sekarang pinto masih belum dapat membebaskannya dan separuh tubuhku lumpuh. Pak-lo-sian yang melakukan ini sambil berkata bahwa dosa pinto tidak terlalu besar maka pinto diampuni. Kesalahan pinto hanya karena berani menerima Ji-wi sebagai tamu!”

“Apakah mereka bilang mengapa mereka menyerang kami?” tanya Bin Hong Siansu penasaran sambil memegangi kepalanya yang seperti mau pecah itu. Kemudian tiba-tiba dia muntahkan darah hitam dan jatuh pingsan pula!

Siok Tek Tojin menjadi bingung dan dengan tangan kanannya dia mencoba menyadarkan tosu dari Kim-san-pai. Akhimya dengan napas terengah-engah Bin Hong Siansu dapat sadar juga, akan tetapi sudah tidak kuat duduk lagi. Adapun Bian Ti Hosiang sambil meramkan mata bersandar pada tiang pembaringan, lalu berkata terengah-engah,

“Lekas ceritakan….. apa yang mereka katakan…. ”

Dengan suara hampir menangis Siok Tek Tojin berkata,

“Kiu-bwe Coa-li yang berkata bahwa Ji-wi harus dibunuh karena Ji-wi mengadakan perhubungan dengan Kiam Ki Sianjin di istana.”

Akan tetapi kedua orang pendeta itu sudah payah sekali. keadaan mereka sehingga sukar untuk mendengarkan dengan jelas. Hal ini diketahui pula oleh Siok Tek Tojin, maka pendeta ini cepat-cepat pergi mengambil kertas, pit dan tinta bak lalu berkata,

“Ji-wi, harap sudi menuliskan sedikit kata-kata keterangan tentang peristiwa pembunuhan ini agar pinto dapat membawanya ke Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tanpa ada penjelasan Ji-wi, pinto khawatir sekali kalau-kalau ada salah sangka terhadap diri pinto.”

Kedua orang pendeta ini maklum akan maksud Siok Tek Tojin ini. Karena luka yang diderita oleh Bin Hong Siansu lebih hebat daripada Bian Ti Hosiang, maka hwesio Bu-tong-pai itulah yang menggerakkan tangan menerima pit itu dan dengan pelayanan Siok Tek Tojin, dia lalu menuliskan beberapa huruf di atas kertas dengan tangan gemetar.

“Teecu murid berdua diserang oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian.”

Kemudian tulisan itu ditandatangani oleh Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Sian-su. Setelah menandatangani surat itu, keduanya lalu mengeluh dan roboh pingsan tidak pemah siuman kembali!

Adapun Kwan Cu yang mengintai dari luar, melihat dan mendengar semua ini. Dari jauh dia pun tahu bahwa dua orang pendeta yang terluka itu takkan tertolong lagi, karena sinar mukanya sudah suram, tidak ada cahaya lagi. Ia teringat akan hwesio tinggi kurus yang berpakaian hitam tadi, maka dia tidak menanti sampai Bian Ti Hosiang menuliskan keterangan, cepat dan tanpa terdengar oleh siapapun juga dia lalu meloncat keluar dan mengejar ke arah bayangan hitam yang telah melarikan diri. Pemuda ini merasa terheran-heran. Ia mengenal dua orang pendeta itu yang pernah dijumpainya di rumah Kiam Ki Sianjin. Memang mereka itu mencurigakan dengan kunjungan mereka di rumah Kiam Ki Sianjin, pembantu kaisar penjajah, akan tetapi mengapa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian membunuh mereka? Ia sudah mengenal watak dua orang tokoh besar itu, yang kebesaran namanya, berendeng dengan mendiang suhunya, yang termasuk dalam Lima Tokoh Besar di dunia kang-ouw, mengapa mereka melakukan pembunuhan secara curang? Mengapa pula mereka mempergunakan asap beracun?

Bagaikan kilat menyambar masuklah dugaan di dalam hati Kwan Cu bahwa agaknya ada orang yang hendak merusak nama baik Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo- sian dan kalau dugaannya benar, maka yang hendak merusak nama mereka itu bukan lain adalah hwesio berjubah hitam tadi! Ia harus dapat mengejar dan menyusulnya untuk mencari keterangan lebih jelas!

Akan tetapi dia telah tertinggal jauh. Selain malam gelap sekali, dia juga tidak tahu arah mana yang kemudian diambil oleh hwesio aneh itu. Sampai fajar menyingsing Kwan Cu mengejar cepat, namun sia-sia. Ia tidak melihat bayangan hwesio aneh itu dan dengan putus asa dia menghentikan pengejarannya.

Ketika dia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi dan dilihatnya di dalam kuil tua itu, dia terkejut. Tosu yang menjadi tuan rumah itu berkata bahwa dia menjadi saksi dan telah bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian! Bahkan dia sendiri juga ditotok oleh Pak-lo-sian. Inilah aneh sekali! Benar-benarkah hal itu terjadi? Kalau tidak benar, ini hanya berarti bahwa tosu itu juga menjadi komplotan hwesio jubah hitam yang sengaja berpura-pura dan memperkuat usaha memburukkan nama dua orang tokoh besar itu!

Mendapat pikiran ini, Kwan Cu tidak mempedulikan bahwa tubuhnya sudah mulal lelah, bukan karena setengah malam mengejar-ngejar bayangan yang tidak tentu arahnya, akan tetapi karena dia kurang tidur. Ia berlari-lari lagi, kini lebih cepat, kembali ke kuil di mana dia menyaksikan peristiwa yang aneh itu.

Setelah tiba di kuil dan masuk ke dalam kamar yang pernah dilihatnya, dia hanya mendapatkan jenazah Bian Ti Ho-siang dan Bin Hong Siansu, sudah dingin dan dengan wajah membayangkan penasaran. Adapun tosu yang menjadi pengurus kuil tidak kelihatan mata hidungnya. Ia memasuki kamar-kamar lain, memanggil-manggil, namun tidak seorang pun menjawab. Ketika dia melakukan pemeriksaan, temyata bahwa semua pakaian tosu itu tidak ada di kamar, tanda bahwa tosu itu telah pergi membawa semua pakaiannya. Ini berarti bahwa tosu itu bukan sekedar pergi keluar di tempat dekat, tapi tentu akan melakukan perjalanan jauh. Tentu untuk menyampaikan warta pembunuhan ini ke Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!

Kwan Cu menghadapi urusannya sendiri yang dianggap lebih penting daripada urusan ini. Urusan ini hanya merupakan teka-teki yang membingungkannya dan tidak ada sangkut-pautnya dengan dia. Maka dia lalu mengurus dua jenazah itu, mengubur mereka dengan baik-baik di halaman kuil, kemudian dia melanjutkan perjalanannya sambil mengenangkan tugas-tugasnya yang amat berat yang masih harus dilaksanakannya.

Pertama-tama dia harus mencari musuh besar kong-kongnya yang hanya tinggal seorang lagi saja, yakni An Kai Seng, keturunan An Lu Shan yang masih belum dia ketahui di mana tempat tinggalnya. Adapun musuh besar gurunya adalah Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo, dan Toat-beng Hui-houw, tiga orang tokoh besar yang tidak boleh dipandang ringan dan yang masih selalu meragukan hatinya apakah dia akan mampu menghadapi dan mengalahkan mereka. Di antara tiga orang tokoh besar ini, dia merasa paling benci kepada Toat-beng Hui-houw. Tidak saja kakek yang seperti siluman ini mengeroyok dan ikut membunuh Ang-bin Sin-kai, akan tetapi juga dia mendengar akan kejahatan kakek ini dan terutama sekali karena dia masih ingat betapa Pek-cilan Thio Loan Eng, wanita gagah yang dia kasih sayangi seperti kepada ibu sendiri, telah menjadi korban keganasan kakek itu. Ia harus membalas dendam dan membunuh Toat-beng Hui-houw, tidak saja untuk membalaskan kematian suhunya, akan tetapi juga untuk membalaskan dendam Pek-cilan Thio Loan Eng.

Teringat akan Pek-cilan Thio Loan Eng, terbayanglah wajah Sui Ceng di depan matanya dan Kwan Cu menghela napas. Otomatis kedua kakinya mogok berjalan dan dia menjatuhkan diri di bawah pohon, beristirahat dan melanjutkan lamunannya tentang Sui Ceng. Selain mencari musuh-musuh besar gurunya, kong-kongnya dan Pek-cilan Thio Loan Eng, juga dia masih menghadapi urusan ini yang baginya tidak kalah pentingnya. Ia harus mencegah berlangsungnya perjodohan antara Kun Beng dan Sui Ceng. Ia harus melakukan ini demi kebaikan Sui-Ceng, demi kebaikan Kui Lan yang disia-siakan oleh Kun Beng dan demi kebaikan….. dirinya sendiri.

“Aku cinta kepadanya….. ah, gila benar, aku cinta mati-matian kepada Bun Sui Ceng !” Kwan Cu menggaruk-garuk kepalanya. Dahulu tidak mempunyai perasaan seperti ini, akan tetapi semenjak dia bersumpah di depan gadis raksasa secara main-main untuk menghindarkan desakan gadis itu, bahwa dia sudah mempunyai seorang gadis pujaan, yakni yang bernama Bun Sui Ceng, semenjak itu entah mengapa dia selalu terkenang kepada Sui Ceng. selalu terbayang gadis cilik yang lincah, jenaka dan manis itu. sekarang, setelah dia bertemu muka dengan Sui Ceng yang sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, hatinya jatuh betul-betul. Akan tetapi helaan napasnya makin berat ketika dia teringat bahwa gadis itu bagaimanapun juga sudah bertunangan dengan Kun Beng pertunangan yang sah karena disahkan oleh mendiang Pek-cilan Thio Loan Eng ibu dari Sui Ceng dan Pak-lo-sian Siang-koan Hai guru dari Kun Beng! Menghalangi perjodohan itu berarti dia akan berhadapan dengan Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dan mungkin juga dengan Kiu-bwe Coa-li yang tentu akan melindungi nama baik muridnya!

“Beraaaaat ….” pikir pemuda ini sambil menarik napas panjang dengan wajah berduka, “mengapa begitu memasuki dunia ramai aku harus berhadapan dengan tokoh-tokoh besar yang dahulu pun sudah membikin susah padaku ketika aku masih kecil?” Lamunannya makin menjauh, kenangannya membawanya kepada masa kecilnya dan ketika dia teringat betapa Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dan Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio mengurungnya, mendesaknya dan memaksanya serta menghinanya, Kwan Cu tersenyum gembira dan matanya bersinar-sinar.

“Biarlah, biar aku mencoba kepandaian mereka semua itu, hitung-hitung untuk menagih hutang mereka dahulu ketika aku masih kecil. Hitung-hitung aku mengangkat nama suhu Ang-bin Sin-kai yang patut disebut jago nomor satu di antara Lima Tokoh Besar dunia kang-ouw!”

Dengan adanya pikiran ini, Kwan Cu menjadi gembira kembali dan dia lalu melanjutkan perjalanannya, mencari keterangan tentang An Kai Seng, musuh besar gurunya atau keturunan terakhir An Lu Shan, pemberontak yang sudah banyak menghancurkan kehidupan rakyat jelata itu.

***

Kota Jeng-tauw terletak di pesisir laut timur. Kota ini adalah sebuah kota besar di Propinsi Shan-tung, juga amat ramai karena selain kotanya besar dan penduduknya banyak, letaknya di pinggir laut maka merupakan pusat perdagangan. Kapal-kapal besar keluar masuk ke dalam pelabuhan dan banyak pedagang besar mendapat penghasilan baik sekali. Oleh karena itu, makin lama kota ini menjadi makin ramai dan banyaklah dibuka orang hotel-hotel dan restoran-restoran besar. Toko-toko penuh dengan barang-barang dari lain daerah dan selalu dikunjungi banyak orang.

Di antara sekian banyaknya orang hartawan yang tinggal di kota Jeng-tauw, kiranya yang paling terkenal adalah Tan-wangwe (hartawan Tan) atau yang nama lengkapnya Tan Kai Seng. Ia tidak saja terkenal karena memang amat kaya, memiliki banyak gedung-gedung besar dan memiliki pula rumah-rumah penginapan dan perahu-perahu yang disewakannya untuk mengangkut barang dari perahu-perahu besar yang berlabuh jauh dari pelabuhan, juga dia terkenal sekali karena hartawan Tan ini memiliki kepandaian ilmu silat yang kabamya amat tinggi. Sudah tentu saja sebagai seorang hartawan dia tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya itu, akan tetapi semua orang kang-ouw yang datang di kota itu tentu mendengar dan menyaksikannya sendiri. Di samping ini semua, hartawan Tan yang masih muda itu menjadi lebih terkenal karena dia telah menikah dengan seorang wanita yang telah lama menjadi sebutan orang sebagai bunga kota Jeng-tauw.

Wi Wi Toanio, demikian nama wanita ini, adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun ketika dikawin oleh Tan wangwe, seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa dan banyak orang membandingkannya dengan Permaisuri Yang Kui Hui yang tersohor cantik jelita, kekasih daripada Kaisar Kerajaan Tang yang telah roboh oleh An Lu Shan. Selain memiliki kecantikan luar biasa, juga Wi Wi Toanio tidak seperti gadis Han umumnya, yakni malu-malu dan tidak berani memperlihatkan wajah di depan umum. Sebaliknya, Wi Wi Toanio yang mempelajari ilmu silat tinggi dan berkepandaian lihai berkat latihan dari seorang nikouw (paderi wanita) dari Thian-san, sering kali keluar dari rumah menunggang kuda berbulu merah. Semenjak belum menikah, dia sudah mempunyai lagak yang amat genit, akan tetapi karena yang berlagak genit ini seorang gadis cantik jelita yang berkepandaian tinggi pula, maka dalam pandangan orang-orang lelaki ia bahkan kelihatan makin cantik dan menarik!

Orang-orang pada tahu bahwa Wi Wi Toanio masih berdarah Tartar, karena ibunya adalah seorang Tartar bangsawan, akan tetapi tak seorang pun berani membicarakan hal ini. Yang sama sekali tidak diduga orang adalah Tan-wangwe sendiri. Dia ini sebenamya adalah An Kai Seng, cucu dalam dari An Lu Shan sendiri, akan tetapi tidak ada orang yang mengetahuinya dan mereka menerimanya sebagai seorang Han yang kaya raya.

Memang An Kai Seng orangnya cerdik sekali. Biarpun dia keturunan An Lu Shan pemah menjadi kaisar, boleh dibilang dia keturunan bangsawan tinggi. Akan tetapi An Kai Seng tahu bahwa kedudukan keluarga kakeknya itu berbahaya sekali. Oleh karena itu setelah dia berada di istana, diam-diam dia mengumpulkan harta-harta rampasan dari rakyat dan bekas pemerintah Tang, kemudian dia keluar dari istana, menyatakan kepada semua keluarganya bahwa dia lebih suka menjadi pedagang! Padahal bukan begitu keadaannya. Ia keluar dari istana membawa harta benda yang besar sekali untuk mencari kebebasan, agar dia jangan terlibat oleh urusan pemerintahan yang tidak menarik hatinya.

Setelah hidup di luar keluarga kaisar, An Kai Seng lalu mengumbar hawa nafsunya. Ia seorang pemuda, tampan, memegang uang banyak sekali, tentu saja dia seperti kuda tanpa kendali. Di samping berfoya-foya, dia pun memperdalam kepandaiannya di dalam ilmu silat, belajar dari guru-guru silat yang ternama. Kemudian dia mendengar berita tentang kekacauan di istana, tentang pembunuhan terhadap An Lu Shan oleh puteranya sendiri, kemudian tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Si Su Beng terhadap putera mahkota. Diam-diam An Kai Seng memuji diri sendiri yang sudah lari dari istana dan mulailah dia berhati-hati menjaga harta bendanya. Mulailah dia berdagang dan mendapatkan untung besar sekali karena dia memang semenjak kecil mempelajari ilmu surat sehingga terhitung seorang bun-bu-coan-jai (pandai ilmu silat dan surat).

Alangkah kaget dan takutnya ketika dia mendengar berita tentang terbunuhnya An Lu Kui dan An Kong, dan mendengar pula bahwa ada seorang musuh besar keluarga An hendak membasmi semua keturunan dan keluarga An Lu Shan!

An Kai Seng ketakutan hebat. Ia cepat-cepat pindah dari kota yang dekat dengan kota raja, mengangkut semua barang dan harta bendanya, dan pindah ke Jeng-tauw dengan nama sudah diganti, yakni Tan Kai Seng. Karena dia memang pandai sekali bicara Han dan mukanya juga tampan seperti muka orang Han biasa, dia diterima oleh masyarakat di Jeng-tauw sebagai hartawan Tan Kai Seng yang masih muda dan masih bujang. Maka tenanglah hatinya, apalagi setelah dia bertemu dengan Wi Wi Toanio dan berhasil mengawininya, Kai Seng merasa hidupnya bahagia dan aman. Siapakah yang tahu bahwa dia adalah keturunan An Lu Shan? Dan andaikata ada orang yang tahu, apa yang ditakutinya? Ia hartawan, berkuasa dan mempunyai banyak kawan ahli-ahli silat, bahkan boleh dibilang dengan secara diam-diam, semua buaya darat di kota itu adalah kaki tangannya! Semua pembesar di kota itu menjadi pelindungnya, dan selain dia sendiri telah memiliki ilmu silat tinggi, juga isterinya terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat! Siapa dapat mengganggunya? Iblis sendiri pun akan gentar untuk mengganggunya!

Akan tetapi kekhawatiran hatinya membuat dia tidak tinggal diam. Ia menyebar kaki tangannya untuk menyelidiki tentang pembunuh An Lu Kui dan An Kong dan mendapat keterangan bahwa pembunuh mereka itu adalah seorang pemuda murid Ang-bin Sin-kai yang amat lihai, bernama Lu Kwan Cu. Juga untuk menjaga keamanannya, selain dia dan isterinya memperdalam ilmu silat mereka dari guru-guru pandai, dia pun membeli dua batang pedang yang bagus dengan harga mahal sekali. Setiap hari dia dan isterinya tidak pernah berpisah dari pedang ini. Selain itu, dia pun memelihara guru-guru silat yang berpakaian sebagai pelayan, yang jumlahnya ada tujuh orang dan mereka ini menjadi pengawal pribadinya!

Berkat kekuasaan uangnya yang mampu membayar setiap mata-mata dan penyelidik, An Kai Seng dapat mengumpulkan keterangan tentang Lu Kwan Cu sehingga biarpun dia belum pernah bertemu muka dengan musuh besar ini, dia dapat menggambarkan keadaan pemuda itu, dari bentuk badannya, pakaiannya dan wajahnya. Sekali saja bertemu, tentu dia akan mengenal pemuda yang mengancam keluarga An itu.

Dalam hal ilmu silat, Kai Seng memang sudah memiliki tingkat yang cukup tinggi, bahkan sebelum dia meninggalkan istana, dia sudah menerima warisan ilmu pedang yang cukup lihai dari Coa-tok Lo-ong (Raja Racun Ular) yang baru saja datang dari Tibet. Coa-tok Lo-ong adalah sute (adik seperguruan) dari Hek-i Hui-mo, maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya. Ilmu pedang yang dipelajarinya itu adalah ilmu Pedang Pat-coa Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Ular). Selain ilmu pedang dari Coa-tok Lo-ong ini, Kai Seng masih mempelajari banyak ilmu silat dari guru silatnya yang pandai, di antaranya dia mempelajari pula ilmu gulat dari Mongol. Akan tetapi, setelah dia bertemu dengan Wi Wi Toanio, dia mendapatkan orang yang melebihinya dalam segala-gala, kecuali dalam kekayaan. Tidak saja kecantikan dan kegenitan gadis ini merampas semangat dan hatinya, juga ilmu silat Wi Wi Toanio temyata masih mengatasi kepandaiannya! Sebagai murid dari Thian-san-pai, Wi Wi Toanio telah mempelajari Ilmu Silat Thian-san Kiam-hoat sampai hampir sempurna sehingga ketika secara main-main suami isteri ini mengadu ilmu pedang, Pat-coa Kiam-hoat masih tidak dapat menandingi Thian-san Kiam-hoat! Tentu saja Kai Seng menjadi girang sekali karena selain sebagai seorang isteri yang amat cantik dan tercinta, juga dalam diri isterinya dia mendapatkan seorang pembantu dan pelindung yang boleh diandalkan.

Biarpun tujuh orang pengawal pribadinya terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi, namun tingkat mereka itu masih belum dapat menandingi tingkat kepandaian Kai Seng sendiri, apalagi kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu pedang Wi Wi Toanio. Karena itu, tujuh orang pengawal ini amat tunduk dan menghormati majikannya, tidak hanya karena majikannya lebih pandai, terutama sekali karena Kai Seng amat royal terhadap para pengawalnya ini.

Pada suatu hari, ketika Kai Seng sedang bercakap-cakap dengan isterinya di ruang dalam sambil menikmati kue-kue yang mereka beli dari seorang pedagang dari selatan, tiba-tiba seorang pelayannya datang menghadap dan melaporkan dengan muka pucat.

“Siauw-ya (Tuan Muda), menurut para pembantu di rumah penginapan, di kota ini kedatangan seorang pemuda yang mencari keterangan tentang Siauw-ya!”

An Kai Seng dan isterinya saling pandang dan seketika itu juga kue yang tadinya amat enak itu seakan-akan berubah pahit.

“Selidiki apa kehendaknya dan coba panggil tujuh kauwsu (guru silat) ke sini!” Pelayan itu keluar kembali dan cepat menjalankan perintah itu. Sebelum keluar untuk melakukan tugasnya, lebih dulu dia mencari tujuh orang pengawal pribadi dari majikannya dan memanggil mereka.

“Cu-wi Kauwsu dipanggil oleh Siauw-ya.”

Tujuh orang pengawal yang berpakaian sebagai pelayan akan tetapi bajunya digulung dan amat ringkas, lebih mirip pakaian guru silat itu, segera masuk ke dalam, di mana Kai Seng dan Wi Wi Toanio telah menanti. Segera mereka mengadakan perundingan yang sungguh-sungguh.

Tak lama kemudian, pelayan yang tadi keluar datang lagi dengan wajah bangga, karena dia telah mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang pemuda yang mencari-cari majikannya itu.

“Siauw-ya, ternyata dia adalah pemuda biasa saja. Hamba melihatnya sendiri dan dia bukanlah orang yang perlu dikhawatirkan. Namanya adalah Lu Kwan Cu, demikian dia tuliskan di buku hotel.”

“Cukup, keluar kau!” bentak Kai Seng dan pelayan itu keluar dengan mengomel panjang pendek. Ia mengharapkan hadiah, akan tetapi ternyata majikannya kelihatan terkejut dan bahkan kelihatan pucat, mendengar omongannya tadi.

Memang, mendengar bahwa nama pemuda yang dicurigainya itu adalah Lu Kwan Cu, pemuda yang telah membunuh An Lu Kui dan An Kong, yang dikabarkan berkepandaian tinggi sekali, bukan main kagetnya hati Kai Seng. Akan tetapi dia menjadi lega kembali setelah isterinya menghibumya.

“Mengapa kau gelisah? Belum tentu kalau kabar tentang pemuda itu benar. Betapapun lihainya, kita takut apakah? Aku sendiri sanggup memenggal lehernya dengan pedangku. Mustahil dia akan dapat menangkan kita. Apalagi, kita sudah mengatur siasat sehingga andaikata dia memang lihai sekali, dia tidak akan dapat mencari kita.”

Malam hari itu Kai Seng tak dapat tidur dan nampak gelisah sekali, sehingga Wi Wi Toanio menjebikan bibirnya yang merah dan mencelanya sebagai seorang penakut.

“Orang macam apakah adanya Lu Kwan Cu sehingga kau begitu takut? Kalau kau tidak berkeras melarang, aku ingin pergi ke hotel itu dan mengusirnya dengan pedangku,” kata isteri yang cantik jelita dan genit akan tetapi berani itu.

“Jangan, isteriku, jangan berlaku sembrono. Menurut kabar dari istana dari orang-orang yang mengetahui, kakek luarku An Lu Kui dan pamanku An Kong yang sudah terkenal lihai sebagai murid dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu masih dapat terbunuh olehnya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia lihai sekali.” ,

“Hemmm, aku belum menyaksikan seberapa lihainya kong-kong dan pamanmu itu. Akan tetapi aku masih percaya kepada pedangku dan aku tidak takut andaikata pemuda yang bemama Lu Kwan Cu itu berkepala tiga dan bertangan delapan!”

Kai Seng tidak berani membantah karena dia takut kalau-kalau isterinya marah. Memang, suami ini kalah oleh isterinya, kalah tinggi kepandaiannya dan juga kalah pengaruh. Namun sampai hampir pagi barulah dia dapat tidur. Berbeda dengan isterinya yang sore-sore sudah tidur dengan nyenyaknya.

Akan tetapi pada keesokan harinya, Kai Seng harus bangun lagi ketika pintu kamamya digedor pelayan dari luar.

“Siauw-ya…. lekas bangun….!”

Wi Wi Toanio dan Kai Seng melompat dari tempat tidur dan Kai Seng segera membuka pintu.

“Ada apa?” tanyanya dengan muka pucat, karena memang hatinya selalu merasa tidak enak.

Yang menggedor pintu adalah pelayan yang kemarin memberi laporan padanya. Pelayan itu kelihatan gugup ketika mewartakan.

“Pemuda Lu Kwan Cu itu benar-benar berani mati datang ke sini, sekarang sedang dihadapi oleh tujuh kauwsu.”

Muka hartawan muda itu makin pucat. “Lekas kauberitahukan kepada semua pelayan agar supaya apabila ditanya menyatakan bahwa aku dan Toanio tidak ada di rumah. Awas, jangan ada yang membocorkan hal ini. Kemudian kau cepat-cepat mengundang semua sahabatku yang pandai ilmu silat, minta bantuan mereka dan katakan bahwa di rumahku kedatangan seorang penjahat yang mengacau.”

“Baik, Siauwya!” kata pelayan itu yang cepat berlari pergi, dan di dalam hatinya kembali pelayan ini mengomel panjang pendek. “Kedatangan seorang seperti pemuda yang lemah itu saja sudah ribut bukan main seperti kedatangan setan!”

“Wi Wi, lekas kautukar pakaian pelayan, lepaskan semua perhiasanmu itu!” kata Kai Seng yang cepat-cepat menanggalkan pakaian dan memakai pakaian pelayan yang memang sudah disediakan sejak kemarin. Saking gugupnya, dia sampai terbalik memakai celana dan baju, sehingga dalam terburu-buru ingin cepat itu, dia bahkan makin lambat mengenakan pakaian samarannya itu. Inilah hasil perundingannya dengan tujuh orang pengawalnya kemarin. Dalam perundingan itu diambil keputusan bahwa kalau Lu Kwan Cu benar-benar datang menyerang Kai Seng dan Wi Wi Toanio akan menyamar sebagai pelayan dan kemudian melihat perkembangan selanjutnya.

Dengan senyum sindir berkembang di bibirnya yang manis, Wi Wi Toanio memandang kelakuan suaminya itu. Yang dipandang melirik dan merahlah wajahnya karena memang dari kegugupannya mengenakan pakaian ini saja sudah merupakan pengakuan dirinya bahwa dia benar-benar merasa bingung, takut, dan gugup.

“Eh, kau senyum-senyum saja, tidak lekas-lekas mengganti pakaian?” katanya menegur untuk menutupi rasa malunya.

Wi Wi Toanio mainkan bibirnya. “Mengapa aku harus berganti pakaian sebagai pelayan? Aku bukan pelawak yang hanya membikin para pelayan kalau melihatku pada tertawa geli. Tidak, aku akan menghadapi musuh besarmu itu dengan pakaian ini.”

Kai Seng menggeleng-geleng kepalanya. “Wi Wi, Jangan berlaku sembrono, lebih baik kita berhati-hati, siapa tahu Lu Kwan Cu itu benar-benar amat lihai!”

“Biarpun dia lihai, akan tetapi bukankah yang dia cari adalah engkau? Padaku dia tidak kenal dan tidak mempunyai urusan sesuatu, mengapa aku takut-takut menghadapinya? Dia tidak akan mengapa-apakan aku.”

“Bukankah kau isteriku?” Kai Seng berkata jengkel.

Wi Wi Toanio tersenyum dan berkata menghibur, “Siapa bilang aku bukan isterimu? Akan tetapi mustahil kalau Lu Kwan Cu mengerti bahwa aku isterimu!”

Kai Seng merasa kalah dan tidak berani mendesak. Lagi pula apa yang diucapkan oleh isterinya itu memang tidak salah. Yang dicari oleh Lu Kwan Cu hanya dia, keturunan An Lu Shan. Isterinya tentu takkan diganggu oleh musuh besar itu.

“Kalau begitu, marilah kita keluar, lihat apakah para kauwsu dapat mengusimya.” Kai Seng tidak lupa membawa pedangnya, sedangkan Wi Wi Toanio masih berlaku ayal-ayalan.

“Kau keluarlah dulu, aku tidak mau keluar sebelum berhias dan tukar pakaian. Masa baru saja bangun tidur, belum cuci muka belum apa-apa sudah disuruh keluar bertemu orang?”

Kai Seng makin mendongkol. Baginya sehabis bangun tidur, isterinya bahkan makin cantik saja. Akan tetapi dia tidak berani membantah karena memang bagi seorang wanita, sukarlah untuk di suruh keluar dari kamar sehabis bangun tidur sebelum berhias dan mengganti pakaian.

“Jangan terlalu lama!” katanya dan dia bergegas keluar.

Ketika Kai Seng tiba di luar, dia melihat tujuh orang jagonya itu sedang menghadapi seorang pemuda dan melihat pemuda ini, timbullah ketabahannya. Tidak disangkanya bahwa laporan pelayannya kemarin itu benar belaka. Pemuda ini berpakaian buruk dan miskin seklai, tubuhnya tidak begitu besar dan nampaknya lemah. Namun dia tidak berani berlaku sembrono dan hanya berdiri dan mendengarkan dari jauh.

“Sudah kukatakan berkali-kali, orang muda, bahwa majikan kami bukan orang yang kaucari itu. Dia benar bernama Kai Seng, akan tetapi nama keturunannya adalah Tan, bukan An,” kata kauwsu tertua yang masih mencoba untuk mengusir pemuda itu dengan alasan.

“Siapapun juga yang kau cari, bagaimana kau berani berlaku kurang ajar dan berani mati mencari keributan di rumah Tan-wangwe?” bentak seorang kauwsu termuda yang kasar karena dia merasa berani dan marah melihat pemuda yang dipandangnya ringan ini.

Pemuda itu yang bukan lain adalah Kwan Cu, tertawa mengejek. Ia telah menemukan jejak musuh besarnya dan dia bukanlah seorang pemuda yang suka bertindak sembrono. Telah dicarinya keterangan yang jelas tentang An Kai Seng dan biarpun dia mendengar bahwa hartawan bernama Kai Seng di kota ini seorang ber-he Tan. Namun dia masih tetap curiga dan menduga bahwa dia tentulah An Kai Seng yang mengubah namanya. Apalagi dia telah mendapat keterangan tentang wajah dan keadaan musuh besarnya itu, dan ketika dia mempergunakan waktu sehari semalam di kota Jeng-tauw untuk menyelidik, dia mendengar bahwa wajah, dan bentuk badan hartawan Tan Kai Seng ini sesuai benar dengan keterangan yang dia dapat tentang musuh besarnya, yakni An Kai Seng. Memang dia berlaku sangat teliti dan tidak buru-buru turun tangan, hendak mencari kepastian lebih dulu.

“Aku tidak peduli apakah majikanmu itu she Tan, she An atau she Boan, akan tetapi aku hendak bertemu dengan majikanmu yang bernama Tan Kai Seng itu!” jawab Lu Kwan Cu atas pertanyaan para kauwsu yang berpakaian sebagai pelayan-pelayan itu.

“Hm, kau berkeras kepala hendak bertemu dengan majikan kami, padahal kami sudah berkali-kali memberi tahu padamu bahwa majikan kami sedang ke luar kota!” kata kauwsu tertua.

“Aku tidak percaya! Lekas panggil dia keluar, kalau tidak terpaksa aku akan mencarinya sendiri di dalam rumah ini.”

Kauwsu termuda marah sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Kwan Cu.

“Kau ini bocah ingusan yang tidak tahu diri! Kau hendak mencari majikan kami dan hendak memasuki rumah secara paksa, apakah kehendakmu? Apakah kau hendak merampok?’

Kwan Cu tersenyum sindir dan masih berlaku sabar dan tenang.

“Kalian hendak mengetahui apakah kehendakku? Dengarlah baik-baik. Kalau majikanmu itu benar-benar Kai Seng yang kucari-cari, memang benar aku hendak merampok. Akan tetapi bukan harta benda yang hendak kurampok, melainkan kepalanya!”

“Bangsat rendah, kau terlalu sombong!” seru kauwsu termuda dan karena dia memandang rendah secepat kilat dia mengirim serangan dengan pukulan tangan kanannya.

“Bagus, seorang pelayan memiliki kepandaian silat yang lumayan juga!” sindir Kwan Cu yang cepat mengelak ke kiri dan sekali dia menggerakkan kaki, dia telah menendang pantat kauwsu termuda itu sehingga tubuh kauwsu yang tinggi besar itu terlempar dua tombak lebih lalu jatuh mengeluarkan suara keras. Debu mengebul dan makin banyak lagi debu mengebul ketika dengan meringis kesakitan, kauwsu itu bangun berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya, bukan hanya utuk menghilangkan debu dari celananya, akan tetapi juga untuk memijit-mijit tulang belakang yang terasa sakit sekali!

Melihat betapa segebrakan saja kauwsu itu dapat dilemparkan dengan mudah oleh pemuda ini, semua kauwsu mengerti bahwa lawan ini benar-benar berkepandaian tinggi. Serentak terdengar suara senjata dicabut dari sareungnya dan gemerlapanlah golok dan pedang yang berada di tangan tujuh orang kauwsu itu.

“Hm, hm, hm, bagus sekali. Para pelayan di sini tidak memegang sapu dan kee-mo-cing (kebutan bulu ayam), melainkan memegang golok dan pedang!” kata Kwan Cu menyindir lagi. Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membuka mulut lebih banyak lagi karena dengan gerakan berbareng, tujuh orangkauwsu itu sudah menubruknya dan menghujankan senjata mereka di tubuh Kwan Cu.

Melihat gerakan mereka, makin curigalah hati Kwan Cu. Sambil mempergunakan ghinkangnya mengelak, meloncat, dan kadang-kadang mempergunakan tangan kaki untuk menangkis serangan, dia berkata lagi.

“Aha, tidak saja pelayan-pelayan bergolok berpedang, bahkan ilmu silat kalian sudah tinggi. Benar-benar hartawan majikanmu itu aneh sekali, seperti bangsawan-bangsawan di kota raja saja yang memelihara tukang-tukang pukul untuk melindungi dirinya!”

Para kauwsu itu terkejut melihat betapa pemuda itu berkelebat ke sana ke mari seperti burung saja gesitnya. Mereka mendesak makin rapat dan mainkan senjata mereka main gencar. Adapun Kai Seng yang melihat dari jauh, menjadikecil hatinya karena pemuda itu benar-benar gesit sekali. Akan tetapi dia masih mengharapkan salah seorang di antara para kauwsunya akan berhasil melukai pemuda itu.

Namun sebentar saja harapannya ini lenyap dan diterbangkan angin kenyataan. Pada saat semua senjata merangsangnya, Kwan Cu melompat tinggi melalui kepala para pengeroyoknya ke kiri, kira-kira setombak jauhnya dari mereka. Kauwsu itu cepat membalikkan tubuh dan mengejarnya. Kauwsu termuda yang berdiri paling dekat, cepat menubruk dan menggunakan gerak tipu Sian-jit-tit-lou (Dewa Menunjuk Jalan) menusuk ke arah dada Kwan Cu. Gerakan ini cepat dan kuat sekali. Alangkah girangnya hati kauwsu muda ini ketika dia melihat pedangnya amblas kedalam dada Kwan Cu sampai dekat gagangnya! Akan tetapi sebentar saja dia membelalakkan matanya penuh keheranan karena dada itu tidak mengucurkan darah, bahkan pemuda itu tersenyum-senyum mengejek. Ketika dia melihat dengan jelas, tahulah dia bahwa pedangnya amblas antara dada dan lengan, tegasnya pedang itu dikempit dengan lengan oleh lawannya. Ia tadi tidak melihat hal ini dan mengira bahwa tusukannya berhasil karena pemuda itu tidak mengelak sama sekali dan gerakannya ketika mengempit pedang itu begitu cepat sehingga tidak kelihatan olehnya!

Kai Seng yang berdiri dan melihat dari jauh, karena dia memiliki kepandaian lebih tinggi daripada kauwsu muda itu, dapat melihat akan hal ini dan siang-siang dia sudah terkejut sekali. Itulah gerakan yang banyak persamaannya dengan gerak tipu Khai-ciang-kiap-kiam (Membuka Tangan Mengempit Pedang), sebuah gerakan yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang karena selain gerakan ini amat berbahaya sehingga salah sedikit saja dada dapat tertembus pedang, juga gerakan ini memerlukan ketajaman mata dan tenaga lweekang yang sudah sempurna!

Kauwsu muda itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut pedangnya yang terjepit oleh lengan Kwan Cu, akan tetapi usahanya sia-sia belaka. Kwan Cu tersenyum-senyum dan tidak segaris pun urat mukanya memperlihatkan bahwa dia mengerahkan tenaganya. Ketika melihat para pengeroyok lain sudah mengejar dan menggerakkan senjata, Kwan Cu tiba-tiba melepaskan kempitannya dan membarengi mengayun tangan menjamah dagu kauwsu muda itu.

“Aduuuh….. awaaaaaaas, jangan tusuk aku!” Kauwsu muda itu tubuhnya terlempar ke arah para kawannya sendiri. Para kauwsu lainnya terkejut sekali dan cepat mereka menurunkan senjata agar jangan sampai menusuk kawan sendiri yang melayang ke arah mereka. Dengan cepat mereka melompat ke kanan kiri dan kasihan sekali, kauwsu muda itu tidak jadi menubruk kawan-kawannya dan….. “ngek!” Ia terbanting ke atas tanah, untuk kedua kalinya pantatnya beradu dengan tanah. Akan tetapi kali ini amat kerasnya sehingga pecahlah kulit pantatnya, menimbulkan rasa sakit dan perih. Akan tetapi kauwsu ini kebingungan karena dia tidak dapat memilih mana yang kurang sakitnya, dagu atau pantatnya. Dagunya yang tadi dijamah oleh lawannya terasa sakit bukan main sehingga dia merasa seakan-akan dagunya itu kini menjadi tebal seperti baru saja di sengat oleh dua puluh lima tawon berbisa! Karena kedua-duanya sakit sekali, tangan kanannya mengaruk-garuk dagu, tangan kirinya memencet-mencet pantat, lakunya seperti seekor kera kepanasan!

Enam orang kauwsu yang lain menubruk dan marah sekali melihat seorang kawan mereka dirobohkan. Akan tetapi Kwan Cu sudah siap sedia dan pemuda ini tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia memang tidak ingin membunuh secara serampangan saja. Yang dicarinya adalah An Kai Seng seorang, orang-orang lain tidak masuk hitungan pembalasan dendamnya. Apalagi para pelayan ini dianggapnya tidak bersalah apa-apa, hanya menurut perintah majikan seperti boneka-boneka yang harus dikasihani karena tidak punya kebebasan. Melihat datangnya enam orang itu, cepat-cepat Kwan Cu mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sin-na, kedua tangan dan kakinya bergerak aneh dan cepat sekali seperti sepak terjang seekor merak sakti sedang marah. Dalam beberapa gebrakan saja dia sudah berhasil merampas semua senjata dan tidak lupa pada saat merampas senjata, dia mengirim totokan, tendangan atau pukulan siku yang membuat enam orang kauwsu itu terlempar ke kanan kiri, terbanting dan roboh seprti keadaan kauwsu termuda. Tujuh orang kauwsu itu hanya dapat mengaduh-aduh bahkan ada yang tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali, yakni mereka yang terkena totokan siku di bagian ulu hati sehingga sesak napas.

Kwan Cu melemparkan semua senjata yang dirampasnya dan cepat melompat ke arah ruangan depan untuk melakukan pemeriksaan dan hendak mencari orang yang menjadi majikan para pengeroyok tadi. Akan tetapi, sebelum melewati pintu ruangan depan, tiba-tiba dia mendengar sambaran angin dan cepat-cepat dia mengelak sambil mengerahkan tenaga, mengulur tangan kanan, mempergunakan sebuah gerak tipu dari Kong-ciak-sin-na untuk merampas pedang yang ditusukkan kepadanya dengan cepat itu.

Akan tetapi dia terkejut melihat pedang itu cepat sekali ditarik kembali dan tidak dapat dirampasnya, bahkan pedang itu kini menyerangnya lagi dengan bacokan ke arah paha!

Kwan Cu melompat mundur memandang. Penyerangnya adalah seorang pelayan pula yang masih muda dan yang memegang sebuah pedang yang berkilauan cahayanya. Ia tercengang dan diam-diam memuji bahwa hartawan yang bernama Kai Seng itu benar-benar amat hati-hati dan mempunyai banyak jago-jago yang tidak boleh dipandang ringan.

“Ahhh….. masih ada lagi kaki tangan jahanam she An yang begini lihai?” Kwan Cu berseru.

“Majikan kami she Tan, bukan she An. Kau orang kurang ajar lebih baik lekas minggat kalau tidak ingin mampus!” bentak pelayan itu yang sebenarnya bukan lain adalah An Kai Seng sendiri!

Sedikitpun Kwan Cu tidak menduga bahwa pelayan muda yang lihai ilmu pedangnya ini, adalah An Kai Seng, orang yang dicari-carinya. Kalau saja sebelumnya dia tidak dikeroyok olehkauwsu-kauwsu yang berkepandaian tinggi dan juga berpakaian sebagai pelayan, tentu dia akan bercuriga terhadap pelayan muda itu. Tidak pantas seorang pelayan berkepandaian setinggi itu. Akan tetapi, melihat kepandaian tujuh orang kauwsu yang mengeroyoknya, dia tidak merasa aneh lagi akan kepandaian pelayan muda berpedang ini. Agaknya memang musuh besarnya, An Kai Seng, sudah mendengar tentang usahanya membalas dendam dan telah siap sedia menjaga diri, memelihara jago-jago silat yang pandai.

Ketika pelayan muda itu memutar pedangnya dan menyerangnya dengan hebat sekali, diam-diam Kwan Cu terkejut. Ia tidak boleh menyamakan pelayan ini dengan tujuh orang pelayan yang tadi mengeroyoknya, karena ilmu pedang yang dimainkan pelayan muda ini benar-benar lihai sekali dan terang bahwa itu adalah ilmu pedang yang di ajarkan oleh seorang ahli silat tinggi kelas satu. Diam-diam Kwan Cu merasa bersyukur bahwa dia telah mempelajari ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, karena kalau saja dia hanya menerima latihan dari Ang-bin Sin-kai, agaknya belum tentu dia dapat mengalahkan pemuda ini, apalagi kalau hanya bertangan kosong. Baru berusaha untuk mencari musuh besar kong-kongnya saja dia sudah menjumpai orang-orang demikian lihai, apalagi kalau dia kelak bertemu dengan musuh-musuh suhunya. Tugasnya tidak ringan dan mudah, baiknya dia telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sehingga dia boleh merasa tenang menghadapi lawan-lawannya.

Karena maklum bahwa kalau dia hanya mempergunakan tangan kosong dan mainkan Kong-ciak-sin-na dan Pek-in-hoat-sut saja agaknya akan memakan waktu lama sebelum dia mengalahkan pelayan ini, Kwan Cu segera mencabut sulingnya. Ia tidak mau membuang banyak waktu menghadapi segala macam pelayan, betapapun pandainya pelayan ini. Tenaga dan waktunya harus dihemat untuk kelak menghadapi musuh-musuhnya, karena dia tidak ingin membinasakan orang-orang yang tidak mempunyai permusuhan dengannya.

“Jangan kau mengorbankan nyawa untuk bangsat An Kai Seng, keturunan orang Tartar yang sudah banyak membikin sengsara rakyat itu,” kata Kwan Cu sambil memutar sulingnya. Setelah kini dia mempergunakan senjata, benar saja pelayan muda itu menjadi sibuk sekali. Gerakan pedangnya kacau-balau karena suling lawannya bagaikan berubah menjadi banyak sekali dan mengurung serta mendesak dirinya dari segala jurusan. Setelah Kwan Cu dapat menangkap inti sari ilmu pedang lawannya yang amat ganas itu, tiba-tiba dia melakukan serangan kilat, menangkis pedang lawan dengan sulingnya dibarengi dengan gerakan menggaet, sedangkan tangan kirinya memukul ke arah pangkal lengan kanan lawan yang memegang pedang.

“Lepaskan senjata!” serunya nyaring sambil mengerahkan tenaganya.

Pedang dan suling bertemu di udara dan betapapun pelayan muda itu mengeluarkan seluruh tenaganya, dia tidak mampu menarik kembali pedangnya yang seakan-akan berakar pada suling itu. Tiba-tiba dia merasa pangkal lengannya sakit dan lumpuh dan terpaksa pedangnya dia lepaskan!

Akan tetapi pelayan itu adalah An Kai Seng yang tentu saja merasa khawatir kalau-kalau pemuda ini akan terus menurunkan tangan maut kepadanya, oleh karena itu, dia cepat mempergunakan tangan kirinya memukul dada Kwan Cu sambil mengerahkan tenaga lweekangnya.

Tadinya Kwan Cu hanya akan merasa puas setelah merampas pedang saja, akan tetapi melihat lawannya tlba-tiba memukul dengan pukulan maut yang amat berbahaya, dia lalu berseru,

“Pergilah!”

Pukulan tangan kiri ke arah dadanya itu sama sekali tidak ditangkisnya, hanya dengan tangan kirinya dia menyampok sambil mengeluarkan tenaga Pek-in-hoat-sut. Pelayan muda itu menjerit dan tubuhnya terpental dua tombak dan jatuh bergulingan sampai tiga tombak lebih! Baiknya Kwan Cu memang tidak berniat mencelakakannya, maka dia hanya jatuh dan terbanting babak belur saja, tidak mengalami luka di dalam tubuhnya. Akan tetapi, pukulan pada pangkal lengannya tadi membuat lengannya kaku dan tubuhnya yang terbanting terasa sakit-sakit.

“Bangsat kecil jangan kurang ajar!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan sinar yang berkeredepan menyambar ke arah tenggorokan Kwan Cu.

Pemuda ini terkejut sekali karena gerakan pedang yang menyerangnya ini bahkan lebih gesit, cepat, dan kuat dari pada pedang pelayan muda yang baru saja dikalahkannya tadi. Bukan main, benar-benar musuh besar kongkongnya telah memelihara banyak sekali orang pandai, pikirnya sambil mengelak cepat dan menangkis pedang itu dengan sulingnya. Terdengar suara nyaring dan Kwan Cu merasa betapa tenaga lweekang dari penyerang ini bahkan lebih besar daripada tenaga si pelayan muda tadi!

la cepat memandang dan seketika itu juga dia melongo. Di depannya berdiri seorang wanita muda yang berpakaian indah dan ketat, cantik jelita bukan main, seperti seorang bidadari turun dari kahyangan. Tidak saja wajahnya yang putih halus kemerah-merahan itu mempunyai tarikan yang amat menarik hati dan memikat sedangkan potongan tubuhnya juga menggairahkan, juga sepasang mata wanita ini berkilauan penuh gairah hidup, bibirnya yang manis itu tersenyum simpul dan Kwan Cu mencium bau harum yang membuatnya berdebar. Memang wanita ini cantik sekali lebih cantik daripada Gouw Kui Lan, bahkan masih lebih cantik daripada Bun Sui Ceng sekalipun! Belum pernah Kwan Cu melihat gadis secantik ini, maka biarpun dia bukan seorang mata keranjang, namun dia tetap seorang pria dan melihat seorang wanita demikian cantik manisnya setidaknya dia menjadi tertegun.

“Eh, mengapa kau memandang saja kepadaku begitu kurang ajar? Siapakah kau dan mengapa kau membikin kacau di sini?” Wanita cantik itu menegur, akan tetapi dengan mata berkedip-kedip bangga dan mulut tersenyum manis sekali.

Kwan Gu menjadi merah sekali mukanya. la menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang terguncang, lalu tanpa berani memandang langsung agar tidak terpesona oleh wajah itu, dia menjawab,

“Namaku Lu Kwan Cu dan aku datang untuk mencari An Kai Seng. Akan tetapi para pelayan itu menyerangku, terpaksa aku merobohkan mereka.” Tiba-tiba Kwan Cu mengangkat muka dan memandang pula, kini bukan karena kagum dan untuk menikmati wajah cantik itu, melainkan karena dia teringat akan keterangan orang bahwa musuh besarnya An Kai Seng itu mempunyai isteri yang amat cantik. Inikah isterinya itu? “Siapakah kau dan di mana adanya An Kai Seng?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: