Pendekar Sakti (Jilid ke-32)

Wanita itu tertawa kecil sehingga giginya yang seperti mutiara berderet itu tampak sebentar lalu tertutup kembali oleh sepasang bibirnya yang merah dan halus.

“Aku tidak kenal dengan segala An Kai Seng, dan tidak tahu dia berada di mana.” Baru bicara sampai di sini, wanita itu melirik ke arah pelayan muda tadi yang sudah berdiri lagi sambil meringis kesakitan. Aneh sekali, wanita ini tersenyum geli dan memandang pula kepada Kwan Cu. “Hm, kau malah sudah mengalahkan pelayanku itu?” Sambil berkata demikian, wanita itu menudingkan telunjuknya ke arah pelayan tadi. Otomatis Kwan Cu ikut menengok ke arah pelayan muda tadi yang kini sudah berjalan terhuyung-huyung keluar dari pekarangan rumah.

Akan tetapi, gerakan lehernya untuk menengok itu mendatangkan kesempatan baik bagi wanita tadi yang terus saja menusuk dengan pedangnya ke arah lambung Kwan Cu! Pemuda ini terkejut sekali dan cepat dia menggerakkan lengan, miringkan tubuh dan cepat pula menyampok pedang dengan sulingnya. Kembali terdengar suara keras dan pedang itu terpental kembali.

“Kau curang!” Kwan Cu menegur dengan hati mendongkol kalau saja dia kurang hati-hati, serangan menggelap tadi tentu akan mendatangkan bahaya besar baginya..”Siapakah kau?”

Wanita itu tersenyum mengejek dan sepasang matanya bergerak genit. Melihat sepasang mata ini, hati Kwan Cu berdebar dan dia mengaku bahwa sepasang mata ini lebih tajam dan lebih berbahaya daripada sepasang pedang mustika! Maka dia cepat-cepat mengalihkan pandang tidak berani menatap secara langsung!

“Kau datang ini hendak mencari orang atau hendak berkenalan dengan aku? Mengapa tanya-tanya nama segala macam?”

Celaka, pikir Kwan Cu. Perempuan ini tidak saja memiliki gaya dan kecantikan luar biasa yang dapat merobohkan hati laki-laki, juga lidahnya amat tajam dan pandai sekali bicara. Kwan Cu yang masih amat muda dan belum berpengalaman dalam menghadapi wanita, masih belum tahu bahwa seorang wanita seperti ini memiliki kecerdikan dan muslihat yang lebih pandai daripada seorang ahli perang.

Dengan muka merah sekali sampai ke telinga-telinganya, Kwan Cu membentak, “Jangan sembarangan bicara! Aku datang hendak menghancurkan kepala An Kai Seng dan kau lebih baik lekas menyingkir karena aku tidak suka menjatuhkan tangan kepada seorang wanita, apalagi kalau kau tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan An Kai Seng.”

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak kenal An Kai Seng, yang ada, di sini hanya Tan-wangwe, akan tetapi kau tidak percaya. Habis apa yang hendak kaulakukan?” tanya wanita itu sambil menatap wajah Kwan Cu yang tampan dan tenang.

“Aku harus melihat dulu orang yang bernama Kai Seng itu, hendak kulihat apakah dia orang yang kucari-cari ataukah bukan?”

“Jadi kau mau apa?” Wanita itu berkata menantang.

“Aku akan masuk dan memeriksa seluruh isi rumah ini.”

Wanita itu tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih mengkilap.

“Kau.. kau mengagumkan!” Kwan Cu melengak dan tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh wanita ini, akan tetapi wanita ltu cepat menyambung kata-katanya, kini dengan bentakan keras dan dengan pedang dilintangkan di depan dadanya. “Dan kau sombong! Kau mau menggeledah rumah orang begitu saja? Baru dapat kaulakukan kalau kau sudah dapat mengalahkan pedangku!” Ucapan ini ditutup dengan tusukan pedang yang amat lihai, dan tusukan ini disusul oleh serangan-serangan lain yang cepat sekali.

Kwan Cu sudah dapat menduga akan kehebatan ilmu pedang wanita ini maka dia tidak berlaku ayal dan cepat menggerakkan sulingnya menangkis dan mengelak. Serentetan serangan dari enam jurus dengan amat mudahnya telah dapat dihindarkan oleh Kwan Cu.

“Kau hebat!” Wanita itu memuji. “Coba kau tahan yang ini!” dengan gerakan tubuh yang amat indah seperti orang menari, ia lalu menggerakkan pedangnya pula, kini melakukan serangan dengan pedangnya. Serangan ini memang istimewa, dalam sejurus serangan ini terdapat tiga bagian yang dilakukan dengan tenaga berlainan dan dengan tujuan berlainan pula. Tusukan pertama dilakukan dengan pengerahan tenaga mengikat, babatan ke dua yang menyusul dengan tenaga mengait, dan serangan ke tiga adalah tusukan ke arah kening di antara mata dengan dibarengi oleh pukulan tangan kiri dan lanjutan pemutaran pedang di depan mata lawan untuk mengacaukan lawan sehingga andaikata lawan dapat menghindarkan diri dari tiga kali serangan pedang, dia akan terkena oleh pukulan tangan kirinya!

“Hm, inilah In-liong-sam-hian (Naga Awan Muncul Tiga Kali)! Kalau begitu kau murid Thian-san!” seru Kwan Cu yang cepat sekali mengerahkan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari serangan yang susul-menyusul dan dia tahuamat berbahaya ini. la pernah mendengar dari Ang-bin Sin-kai tentang ilmu-ilmu silat yang paling ampuh dan berbahaya dari berbagai cabang persilatan dan justeru ilmu pedang yang ini dia pernah mendengar dari suhunya. Kalau dahulu dia hanya mendengar teorinya saja, setelah dia mempelajari ilmu kesaktian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, sekali melihat saja tahulah dia bahwa ini adalah ilmu silat dari Thian-san-pai.

Wanita itu pun nampak terkejut dan kagum ketika Kwan Cu selain dapat menghindarkan diri dari serangannya yang dipilihnya paling hebat itu, juga dapat menduga tepat bahwa dia adalah anak murid Thian-san-pai. Akan tetapi ia hanya tertawa mengejek dan cepat melakukan serangan bertubi-tubi!

Kwan Cu merasa tidak perlu membuang waktu melayani wanita ini, akan tetapi karena ilmu pedang dari wanita itu memang lihai sekali, maka dia menjadi bingung. Kalau dia tinggalkan, memang mudah saja baginya untuk melompat dan terus lari ke dalam rumah. Akan tetapi, lawannya ini tentu akan mengejarnya sehingga dia tidak leluasa melakukan penggeledahan. Di samping ini, dia pun harus berlaku hati-hati karena siapa tahu kalau-kalau di dalam rumah dipasangi perangkap, karena ternyata bahwa pemilik rumah ini adalah seorang yang menjaga diri baik-baik sehingga di situ terdapat banyak ahli silat yang pandai. Lagi pula, salahnya adalah karena dia tidak mau melukai perempuan ini, bukan hanya karena dia tidak enak hati untuk melukai seorang perempuan yang belum diketahuinya siapa dan dianggapnya tiada dosa, juga dia merasa tidak tega. Tak dapat disangkal pula bahwa kecantikan dan gaya wanita ini sedikit banyak telah menarik hatinya. Kalau dia mau, memang agaknya dalam sepuluh jurus saja dia dapat merobohkan tanpa melukainya adalah hal yang tidak begitu mudah. Akhirnya dia mendapatkan akal. Dengan sulingnya dia melakukan serangan kilat dan “breeettt!” robeklah baju wanita itu di bagian pinggang!

Wanita itu terkejut sekali karena suling lawannya seakan-akan telah mengenai tubuhnya, akan tetapi ternyata bahwa lawannya tidak mau melukainya, dan suling itu diselewengkan sedikit sehingga bukan kulitnya, melainkan bajunya yang robek. Akan tetapi serangan tadi benar-benar hebat karena amat dekat dengan kulitnya sehingga bukan hanya baju luarnya, malah baju dalamnya ikut robek dan kulit pinggangnya yang putih itu kelihatan!

Karena mengalami kekagetan hebat, wanita itu menjadi tertegun dan Kwan Cu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tangan kirinya bergerak dengan Ilmu Silat Kong-ciang-sin-na, sedangkan tangan kanan menggerakkan suling menotok ke arah pinggang. Dalam sekejap mata saja pedang wanita itu sudah dirampasnya dan kedua kaki wanita itu menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi akibat totokan suling tadi! Sambil tersenyum Kwan Cu melemparkan pedang itu ke atas dan sambil mengeluarkan bunyi nyaring, pedang itu menancap pada langit-langit rumah. Sampai setengah lebih tergantung di situ sambil bergoyang-goyang saking kerasnya tenaga sambitannya.

Wanita itu menangis! Tangan kiri menutupi pinggang yang terbuka pakaiannya dan tangan kanan diremas-remasnya, akan tetapi kedua kakinya tak dapat bergerak.

“Kubunuh kau manusia kurang ajar ” teriaknya berkali-kali. Akan tetapi Kwan Cu tidak melayaninya dan hanya tersenyum sambil berlari memasuki rumah. la merasa kasihan dan juga geli. Akan tetapi, setelah melakukan pemeriksaan dengan cepat, teliti dan hati-hati, Kwan Cu menjadi kecewa. Semua pelayan yang ditemuinya di dalam gedung itu mengatakan bahwa majikan mereka yang bernama Tan Kai Seng dan pada saat itu sedang keluar rumah Kwan Cu tidak suka berlaku kejam kepada para pelayan ini akan tetapi untuk memuaskan hatinya yang kecewa dia memilih seorang pelayan laki-laki yang berwajah bodoh. Cepat dia mencabut pedangnya, yakni pedang Liong-coan-kiam yang selama itu hanya disembunyikan di balik baju. Sekali sabet saja meja besar dan tebal di ruang dalam terbabat dan terbelah menjadi dua. Kemudian dia memegang leher baju pelayan itu dan menempelkan pedangnya di atas hidung.

“Kalau kau tidak menjawab sejujurnya, pedang ini akan memutuskan hidungmu. Tidak itu saja, aku akan membikin semua kaki tanganmu buntung agar selama hidup kau tidak akan dapat bekerja dan akan menjadi pengemis yang tidak dapat makan sendiri!”

“Ampun…… Siauwya……….” kata pelayan itu sambil menggigil ketakutan.

“Nah, katakan siapa sebetulnya majikanmu itu!”

“Hamba tidak membohong, Siauwya majikan hamba bernama Tan Kai Seng……”

“Di mana dia?”

“Tadi……… tadi dia berada di sini……….”

“Jangan bohong! Mana dia ?” Kwan Cu membentak dan dia mengerahkan sedikit tenaga pada tangan kirinya yang menggencet pundak pelayan itu. Pelayan itu meringis kesakitan, pundaknya serasa ditusuk jarum.

“Am……..ampun, Siauwya………… hamba tidak membohong. Tadi………. tadi majikan hamba berada di sini, bahkan tadi keluar……”

Kwan Cu berpikir, lalu membentak lagi, “Yang mana dia? Yang mana? Hayo cepat katakan!”

“Dia…….. dia yang tadi melawan Siauwya.”

“Apa? Yang muda-muda dan berpakaian pelayan, memegang pedang……. ?”.

Pelayan itu hanya mengangguk dengan tubuh menggigil ketakutan. Kini setelah membuka rahasia majikannya, dia menjadi makin ketakutan karena dia tahu bahwa kalau majikannya tahu akan pengkhianatannya, dia akan menerima hukuman berat.

Kwan Cu terkejut mendengar ini dan dia merasa menyesal sekali. Tadi dia sudah bercuriga terhadap pelayan muda yang lihai ilmu pedangnya itu. Diakah An Kai Seng keturunan An Lu Shan? Mungkin sekali!

“Dan gadis muda yang pandai main pedang itu, siapa dia?”

“Dia adalah Wi Wi Toanio, isteri majikan hamba……..”

Baru saja mendengar ini, Kwan Cu cepat melompat keluar lagi. Hm, yang tahu akan rahasia hartawan muda bernama Kai Seng ini tentu hanya isterinya. Mungkin sekali An Kai Seng telah mengubah shenya menjadi Tan, dan hal ini tentu saja tidak diketahui oleh semua pelayan. Hanya isterinya yang tentu tahu akan hal ini!

Ketika tiba di ruang depan, dia melihat wanita muda yang cantik tadi masih berdiri, sedang mengatur napas dan ternyata bahwa wanita itu telah berhasil membebaskan diri dari totokannya. Ia kaget dan memuji karena hanya dengan tenaga lwekang yang sudah tinggi saja orang dapat membebaskan totokan begitu cepatnya.

Wi Wi Toanio melihat Kwan Cu keluar lagi, cepat hendak melarikan diri, akan tetapi dengan sekali lompatan,Kwan Cu sudah berada di depannya.

“Jadi kaukah Wi Wi Toanjo isteri dari An Kai Seng?” tanya Kwan Cu dengan mata bersinar mengancam.

“Suamiku bernama Tan Kai Seng!” Wi Wi Toanio berkata dan mencoba untuk tersenyum sungguhpun hatinya berdebar penuh rasa takut. Ia telah merasai sendiri betapa lihainya orang yang mau membunuh suaminya ini.

Kwan Cu menengok ke arah pelayan muda yang tadi telah dikalahkannya, akan tetapi seperti yang sudah diduganya, pelayan muda itu kini tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Tiba-tiba dia mendengar gerakan orang dan Wi Wi Toanio mempergunakan kesempatan selagi Kwan Cu menengok, untuk cepat melompat melarikan diri keluar.

“Kau hendak lari ke mana?” Kwan Cu mengejar dan di lain saat pemuda ini telah memegang pergelangan tangan Wi Wi Toanio.

“Lepaskan aku ! Lepaskan!” la meronta-ronta dan mencoba untuk melepas kan tangannya, akan tetapi sia-sia, karena pegangan Kwan Cu amat kuatnya. “Katakan dulu, siapa sebenarnya suamimu itu? Apakah dia bukan An Kai Seng keturunan An Lu Shan?” tanya Kwan Cu perlahan sambil mempererat pegangannya sehingga wanita muda itu merasa sakit sekali seluruh lengannya.

Pada saat itu, para pelayan yang tadi ketakutan setengah mati, telah keluar dan memandang dari pintu dengan muka pucat. Sementara itu, pelayan yang tadinya diperintah oleh Kai Seng untuk memberitahukan pada kawan-kawannya, telah datang diiringkan oleh belasan orang laki-laki yang sudah memegang senjata tajam. Mereka ini menyerbu dari luar dan siap menolong Wi Wi Toanio yang dipegang tangannya oleh Kwan Cu. Melihat ini, Wi Wi Toanio segera melakukan siasatnya yang amat cerdik. la lalu merapatkan tubuhnya, tidak mempedulikan rasa sakit pada tangannya dan sengaja merapatkan tubuh pada tubuh pemuda itu, lalu berteriak-teriak.

“Kau manusia kurang ajar! Kau hendak berlaku kurang sopan terhadapku? Lihat lihatlah semua orang, inilah orang yang mengaku bernama Lu Kwan Cu, seorang yang katanya pendekar muda berilmu tinggi! Akan tetapi dia hendak membujukku, mengajakku minggat bersama. Alangkah rendahnya!”

Kwan Cu merasa betapa tubuh wanita itu merapat dan dia kembali mencium bau yang harum. Ketika mendengar teriakan ini, dia terkejut sekali, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya dan otomatis dia melepaskan pegangannya dan melangkah mundur.

“Kau bohong! Aku tidak berlaku kurang ajar, hanya mau tahu di mana perginya Kai Seng itu!” katanya mendongkol.

Sambil memijat-mijat pergelangan lengannya Wi Wi Toanio tersenyum mengejek lalu berkata pula perlahan, “Kalau kau memang gagah, carilah sendiri!” Lalu ia berjalan pergi.

Kwan Cu merasa bingung. Tentu saja dia dapat menangkap wanita itu, dibawa ke tempat sunyi untuk dipaksa mengaku siapa sebetulnya hartawan muda itu dan di mana bersembunyinya. Akan tetapi kalau dia teringat akan teriakan nyonya muda tadi, dia menjadi merasa malu dan tidak enak sekali. Kalau sampai dia menangkapnya, tentu semua orang akan membenarkan kata-kata Wi Wi Toanio dan namanya akan menjadi busuk di dunia kang-ouw!

Sementara itu, kawan-kawan Kai Seng yang terdiri dari jago-jago silat di kota itu, sudah datang dan menyerbu Kwan Cu. Terpaksa pemuda ini lalu menggerakkan sulingnya. la tidak mau membuang banyak waktu dan sebentar saja terdengar suara keras, senjata-senjata tajam terlempar jauh dan orang-orang itu berteriak-teriak kesakitan, roboh seorang demi seorang.

Setelah belasan orang itu semua dibikin tak berdaya, Kwan Cu sudah tidak melihat lagi bayangan Wi Wi Toanio. Ia mendongkol sekali, merasa dipermainkan oleh wanita itu. Cepat dia mengejar dan mencari, akan tetapi dia tidak dapat menemukan suami isteri itu di kota dan akhirnya dia mendapat keterangan bahwa mereka telah melarikan diri dengan perahu mereka ke laut!

Kwan Cu merasa menyesal sekali. Jauh-jauh dan lama dia mencari dan setelah bertemu, dia kena diakali. Musuh besarnya sudah bertemu dengan dia, bahkan sudah dia kalahkan, akan tetapi dia tidak tahu bahwa dia itulah musuh besarnya sehingga dia tidak membunuhnya, bahkan tidak melukainya karena mengira bahwa dia adalah seorang pelayan biasa.

Biarlah, aku tentu akan dapat menemukannya kembali,” katanya sambil menghela napas dan terbayanglah wajah yang cantik jelita dari Wi Wi Toanio, suaranya yang merdu, bentuk tubuhnya yang menggalrahkan dan keharuman yang menawan hati masih tercium oleh hidungnya. Kembali Kwan Cu menarik napas panjang. Benar-benar seorang wanita yang cantik, pandai dan….. berbahaya sekali!

Pada suatu hari, Kwan Cu beristirahat di luar sebuah hutan, duduk di bawah pohon, berlindung dari panas terik matahari yang menggigiti kulit. Dengan ujung bajunya dia menghapus peluh yang membasahi mukanya, peluh sehat yang dipaksa keluar oleh hawa panas matahari. Seperti biasa, dalam menganggur ini dia memeriksa seluruh saluran darah di dalam tubuhnya, untuk membuka saluran yang terhalang jalannya. Dengan perlahan dia meraba-raba urat nadinya dan dengan totokan dia menyempurnakan jalan darahnya. Setelah mendapat kenyataan bahwa peredaran jalan darahnya sempurna, dia lalu mengeluarkan sulingnya dan menyuling dengan asyiknya. Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan baginya daripada meniup sulingnya. Telah penat otaknya berpikir tentang tugasnya, tentang musuh-musuh besar dari suhunya dan kong-kongnya.

An Kai Seng telah terlepas dari tangannya dan tidaklah mudah untuk mencarinya, karena tentu saja An Kai Seng akan menyembunyikan dan menjaga diri baik-baik, apalagi dengan bantuan isterinya yang demikian cantik dan licin, kiranya akan makan waktu lama untuk bias menemukannya kembali. Lebih dulu dia akan mencari musuh-musuh besar gurunya dan teringatlah dia akan pemberitahuan Kiam Ki Sianjin bahwa pada Gouw-gwe Cap-gouw (bulan lima tanggal lima belas) akan diadakan musyawarah besar di puncak Tai-hang-san dan di sanalah dia akan dapat menjumpai musuh-musuh yang membunuh gurunya itu.

Pada waktu itu, bulan lima kurang beberapa hari lagi dan dia masih mempunyai waktu beberapa pekan, maka Kwan Cu lalu mulai melakukan perjalanan menuju ke Tai-hang-san. Ia melakukan perjalanan cepat dan terus menerus, hanya beristirahat kalau dia merasa lelah benar seperti siang hari itu.

Tanpa disengaja, Kwan Cu meniup suling mainkan lagu yang seringkali dimainkan oleh Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Obat, dia begitu saja mainkan lagu ini karena ketika tadi menyuling, pikirannya melayang kepada tabib aneh itu. Sulingnya adalah pemberian dari Yok-ong dan dia tidak tahu di mana adanya orang pandai itu sekarang. Memikirkan Yok-ong, Kwan Cu diam-diam menduga apakah kiranya orang pandai itu akan dapat menolong Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu sekiranya Raja Tabib itu berada di tempat terjadinya malapetaka yang menimpa diri dua pendeta itu. Sambil menyuling, kini pikirannya melayang kembali dan terkenanglah dia akan peristiwa pembunuhan dua orang pendeta yang benar-benar merupakan teka-teki baginya itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki menyanyikan lagu yang sedang dimainkan oleh Kwan Cu dengan sulingnya. Suara nyanyian ini merdu sekali dan Kwan Cu harus mengakui bahwa suara itu amat empuk. Dengan gembira Kwan Cu melanjutkan tiupan sulingnya dan kini terdengar paduan suara antara suling dan nyanyian orang itu, menyanyikan lagu yang sering kali dimainkan oleh Hang-houw-siauw Yok-ong. Diam-diam Kwan Cu memuji tenaga khikang orang itu, karena orangnya belum kelihatan, namun suara nyanyiannya demikian keras dan nyaring. la tidak merasa heran bahwa orang itu dapat pula mendengar suara sulingnya karena dia tadi bermain suling dengan memakai tiupan tenaga khikang sehingga suara sulingnya dapat terdengar dari tempat jauh. Kalau saja pada saat itu ada orang lain di situ, tentu orang ini akan menjadi amat heran karena suara suling dan nyanyian itu merupakan paduan suara yang menjadi satu, akan tetapi penyuling dan penyanyinya terpisah jauh!

Yang amat menarik hati Kwan Cu adalah kata-kata dalam nyanyian itu, maka dia lalu mencurahkan perhatiannya untuk mendengarkan nyanyian itu sehingga terdengar jelas olehnya kata demi kata. Mendengar suara ini, Kwan Cu menjadi makin kagum karena dari kata-kata nyanyian ini dia mendapat kesan bahwa penyanyinya bukanlah orang sembarangan atau penyanyi biasa saja. Suara nyanyian itu terdengar penuh mengejek, akan tetapi di dalamnya tersembunyi pula semangat kegagahan dan kata-katanya sendiri merupakan filsafat sederhana yang sudah sering kali disyairkan oleh para pujangga,

“Hutan sungai tetap murni tak berubah

apabila tiada tangan kotor orang menjamah,

mengapa tempat tinggal orang kacau belaka!

Mengapa mereka saling bunuh tiada habisnya?

Katakan manusia berakal budi

katakan manusia mahluk tertinggi

aku lebih kagum melihat burung dan kelinci.

Katakan dusun kota indah dan damai,

aku lebih cinta hutan dan sungai!”

Baru saja kata-kata nyanyian ini habis dinyanyikan, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan di depan Kwan Cu berdiri seorang laki-laki muda yang tampan dan aneh pakaiannya. Bajunya lebar panjang, berkembang dan kepalanya ditutup oleh kopyah. Wajahnya tampan dan usianya tidak berselisih banyak dengan usia Kwan Cu. Tubuhnya tegap dan wajahnya selalu tersenyum-senyum mengejek. Lagaknya kelihatan angkuh dan tinggi hati, akan tetapi sepasang matanya yang mengeluarkan cahaya berapi itu menandakan bahwa dia bersemangat besar dan memiliki kepandaian dan tenaga dalam yang sudah tinggi.

“Eh, bocah!” katanya dengan lagak sombong. “Siapa kau yang dapat meniup suling menyanyikan lagu itu?”

Kwan Cu tersenyum dan merasa betapa lucunya orang ini. Ia bangkit berdiri dengan tenang, memandang dengan penuh perhatian dan tidak segera memberi jawaban. Yang membuat Kwan Cu tertarik dan merasa lucu adalah pakaian pemuda itu. Bajunya berkembang-kembang besar seperti yang biasa dipakai oleh wanita dan alangkah lucunya topi itu! Topi bukan kopyah pun bukan, benar-benar amat lucu. Memang aneh sekali manusia ini, aneh seperti nyanyiannya pula.

“Bocah tolol, mengapa kau tersenyum-senyum saja? Apakah kau tuli?”

“Aku tidak tuli, juga tidak buta. Justru karena aku tidak tuli dan tidak buta maka aku mendengar dan melihat kau yang amat lucu ini.”

“Apa katamu? Aku lucu?” la memandangi pakaiannya sendiri, lalu mengangkat dada dan tersenyum puas. “Memang, memang aku terkenal amat tampan dan lucu, lagi gagah!”

Kwan Cu menggerakkan hidungnya seperti kalau mencium bau yang tidak enak. “Lucu memang lucu, tentang tampan boleh jugalah, akan tetapi gagah? Ah, kau bahkan kelihatan seperti seorang perempuan!”

Pemuda aneh itu mengangkat alisnya. “Apa? Kau jangan menghina, ya? Kau ini pemuda hijau berani berlancang mulut. Kaukira berhadapan dengan siapa? Akulah seorang pemuda yang gagah dan tidak hanya gagah, juga terpelajar. Aku seorang Bun-bu-coan-jai (ahli silat dan surat). Kau lihat ini?” la menggerakkan kedua tangannya ke arah pinggang dan tahu-tahu kedua tangannya itu telah memegang sepasang poan-koan-pit (senjata yang berupa sepasang alat menulis atau pensil Tiongkok).

“Hm, itu adalah sepasang poan-koan-pit yang sering kali dipergunakan oleh anak-anak yang sedang belajar menulis,” kata Kwan Cu sengaja mempermainkan. Kwan Cu timbul kejenakaan dan kegembiraannya bertemu dengan pemuda yang aneh ini.

“Belajar menulis telingamu!” Pemuda itu memaki gemas. “Dengan pit di tangan kanan aku dapat menuliskan syair-syair gubahan pujangga Tu Fu yang kukagumi! Dengan pit di tangan kiri aku dapat melukis gambar seperti yang dilakukan oleh ahli silat Siang Koan yang sakti! Itu kalau aku menjadi seorang ahli kesenian. Kalau aku menjadi ahli silat, pit di tangan kiriku ini dapat mencabut nyawa musuh dan pit di tangan kanan ini dapat mengantarkan lawanku ke neraka!”

Kwan Cu tertawa bergelak. Perutnya sampai terasa kaku karena dia tertawa terpingkal-pingkal. Ia melihat betapa pemuda ini penar-benar amat lucu, karena dia dapat mengerti bahwa semua lagaknya yang kelihatan sombong luar biasa itu sebetulnya hanyalah dibuat-buat belaka. Di balik kelucuan dan kesombongan ini, dia, melihat seorang pemuda berjiwa luhur dan berwatak aneh, juga garis-garis pada jidatnya menandakan bahwa pemuda ini semuda itu sudah mengalami kepatahan hati dan pernah mengalami batin yang hancur penuh kecewa dan duka.

“Kenapa kau tertawa lagi, Tolol?” bentak pemuda berkopyah itu.

Kwan Cu memperlihatkan sulingnya. “Aku sih tidak terlalu pintar seperti engkau. Akan tetapi dengan sulingku ini agaknya aku tidak usah mengaku kalah padamu, hai orang lucu yang pandai menyanyikan lagu aneh. Kau masih pernah apakah dengan Hang-houw-siauw Yok-ong?”

Pemuda itu tidak menjawab, hanya matanya tertuju kepada suling itu dengan melongo, kemudian dia menatap wajah Kwan Cu yang menjadi amat kaget melihat betapa. sepasang mata itu kini berubah tajam menyelidik dan cerdik sekali.

“Hm, kau tentu Lu Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai!” katanya tiba-tiba dan lenyaplah untuk sesaat kelucuan mukanya.

Kwan Cu terkejut. “Eh, kau siapakah, sahabat? Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?” Kwan Cu menjadi curiga dan mengira bahwa pemuda ini jangan-jangan kawan dari An Kai Seng yang sengaja mencari perkara.

“Sulingmu adalah pemberian suhu.”

Berseri wajah Kwan Cu. “Aha, jadi kau adalah murid dari Hang-houw-siauw Yok-ong, locianpwe yang budiman itu? Pantas saja kau begini aneh. Siapakah namamu, saudara yang gagah perkasa?”

“Panggil saja aku Hok Peng. Sekarang awaslah, aku hendak menyerangmu dengan poan-koan-pit!” Baru saja kata-kata ini diucapkan, dia sudah menyerang Kwan Cu dengan hebatnya!

Kwan Cu kaget dan cepat melompat ke belakang. “Gilakah kau? Tiada hujan tiada angin menyerangku?” tanyanya mendongkol sekali.

“Kau berkenan mendapat hadiah suling wasiat dari suhu, hendak kulihat apakah kau patut menerima hadiah itu” jawab pemuda aneh itu dan kembali dia menyerang dengan hebat. Ketika dia menyerang, gerakannya amat cepat dan tubuhnya ringan sekali, melompat-lompat seperti tidak mengambah bumi saja.

Kwan Cu kagum sekali. Terang bahwa Hok Peng memiliki ginkang yang tinggi dan melihat cara dia menyerang, sepasang poan-koan-pit itu pun lihai dan tidak boleh dipandang ringan. Cepat Kwan Cu memasang kuda-kuda dan melayaninya dengan suling di tangannya. Ketika dia melihat Hok Peng menusuk kearah iganya dengan totokan yang lihai, dia cepat menggerakkan suling dari atas ke bawah, menindih pit kanan lawannya dan tubuhnya doyong ke belakang seperti mau jatuh. Akan tetapi sebenarnya bukan demikian, melainkan Kwan Cu siap siaga dengan tangan kirinya menjaga kalau-kalau pit kiri lawannya bergerak. Benar saja, Hok Peng berseru,

“Bagus sekali!” Karena merasa betapa tindihan suling dan pit kanannya itu luar biasa beratnya sehingga tergetar lengan kanannya dengan kecepatan kilat selagi kedua kakinya masih terapung seperti terbang, pit kirinya menusuk leher Kwan Cu.

Kwan Cu yang sudah menduga lebih dulu melihat gerakan pundak kiri Hok Peng, segera melepaskan tindihan sulingnya dan tangan kirinya memapaki pit itu dengan jari-jari ditekuk karena dia melakukan gerakan merampas dari ilmu silatnya Kong-ciak-sin-na yang lihai!

Hok Peng tertawa mengejek dan secepatnya menarik kembali pit kirinya. Pada saat itu kedua kakinya sudah menginjak tanah lagi dan dengan gerakan saling susul, kedua pitnya kini melakukan penyerangan bertubi-tubi. la benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menguji pemuda yang pernah dipuji-puji oleh Hang-houw-siauw Yok-ong dan yang telah menerima hadiah suling dari gurunya itu. Kwan Cu tidak mau kalah dan menggerakkan sulingnya secara cepat sekali. Diam-diam dia mempelajari semua gerakan ilmu silat dari Hok Peng dan mengakulah Kwan Cu bahwa pemuda aneh dan lucu itu benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali. Kalau dibandingkan kepandaian Hok Peng ini bahkan masih mengatasi kepandaian An Kai Seng atau Wi Wi Toanio. Bahkan kalau dibandingkan pula dengan murid-murid tokoh besar, masih lebih menang sedikit daripada Lu Thong. Kiranya hanya Sui Ceng yang akan sanggup menghadapinya dengan kepandaian seimbang. Bagi Kwan Cu sendiri, biarpun dia mengakui akan kelihaian sepasang senjata Hok Peng, namun sekali melihat saja dia sudah dapat menangkap inti sari daripada ilmu silat lawannya, berkat pengetahuannya tentang pokok dasar daripada segala pergerakan tubuh dalam bersilat yang diwarisinya dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Kalau tadinya Hok Peng menyerang sambil tersenyum-senyum mengejek, kini berkali-kali dia mengeluarkan seruan kagum. la benar-benar merasa aneh dan tidak mengerti bagaimana semua jurus simpanan yang dia pelajari dan yang biasa merupakan jurus ampuh yang tidak sembarang dapat dihindari oleh lawan-lawannya, kini dengan mudah dapat dipatahkan oleh Kwan Cu.

“Kau lihai sekali!” serunya sampai tiga kali. “Coba kauterima ini!” Kini dia mengubah caranya bersilat dan sepasang poan-koan-pit di tangannya itu kini bergerak secara aneh dan luar biasa, datang dari depan bagaikan gelombang samudera dan menerjang bertubi-tubi dari atas bagaikan hujan badai. Hok Peng telah mengeluarkan ilmu silat paling hebat dari semua pelajarannya, ilmu silat yang boleh dimainkan dengan kedua tangan kosong maupun dengan senjata yang sepasang, yang oleh gurunya dinamakan Ilmu Silat Badai dan Ombak.

Kwan Cu tercengang menghadapi serangan hebat ini. Dari kedua tangan Hok Peng seakan-akan keluar tenaga mujijat yang luar biasa sekali, sedangkan sepasang pit itu menyambar-nyambar, sungguh hebat sekali ilmu silat pemuda aneh ini. Satu kali ini Kwan Cu benar-benar menemui lawannya, lawan yang amat tangguh dan lihai. Kalau tadi dengan pandangan matanya yang awas serta dengan pengertiannya yang mutlak tentang pokok dasar segala gerakan silat Kwan Cu dapat menghadapi Ilmu Silat Badai dan Ombak ini, dia menjadi amat terkejut. Ilmu silat ini dilakukan dengan kecepatan yang amat luar biasa sehingga dia tidak sempat untuk mempelajari sarinya. Terpaksa Kwan Cu melawan dengan ilmu silatnya pula, dan dia tidak sekali-kali berani berlaku ayal, karena dia pun merasa penasaran kalau sampai kalah oleh pemuda aneh ini. Cepat Kwan Cu mengerahkan lweekangnya dan mainkan ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih mainkan sulingnya, kini dengan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat.

Bukan main hebatnya pertempuran ini. Keduanya sama lincah, sama cepat dan sama kuat. Makin kagum hati Kwan Cu, karena pemuda ini tahu bahwa kalau dia tidak pernah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, pasti dia akan kalah. Seratus jurus lewat dan masih saja belum ada yang kalah atau menang di antara mereka. Sebaliknya, Hok Peng kini benar-benar terkejut. Ia telah mainkan seratus jurus ilmu silatnya yang dahsyat, namun tetap saja dia tidak mampu mengalahkan lawannya. Ilmu Silat Badai dan Ombak ada seratus dua puluh jurus dan kini dia sudah mainkan seratus jurus, masih tinggal dua puluh jurus lagi. Tiba-tiba dia teringat betapa dari tadi, Kwan Cu tak pernah membalasnya, hanya mengelak dan menangkis saja, sedangkan dari kedua lengan pemuda itu mengepul uap putih yang memiliki pengaruh hebat atas hawa pukulannya. Aduh, celaka, pikirnya. Tak salah lagi Kwan Cu tentu tengah mempelajari ilmu silatnya dan kalau sampai dia terus mainkan semua ilmu Silat Badai dan Ombak yang masih dua puluh jurus lagi, sama halnya dengan menghadiahkan ilmu silat itu kepada Kwan Cu!

Tiba-tiba Hok Peng menghentikan serangannya dan melompat mundur. Wajah pucat dan dia menyimpan kembali poan-koan-pitnya, lalu tersenyum pahit.

“Aku kena kauakali! Kau tentu sudah mewarisi Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Kwan Cu balas bertanya karena dia pun merasa amat suka dan kagum kepada pemuda lucu ini.

“Siapapun juga yang tidak memiliki Im-yang Bu-tek Sin-kun (ilmu silat sakti dari Im-yang Bu-tek Cin-keng), takkan mungkin dapat menahan serangan-seranganku tadi tanpa membalas sedikit pun. Dan kau tentu telah mencatat dalam hatimu sebanyak seratus jurus ilmu silatku tadi.”

Kwan Cu tersenyum. “Hok Peng, sahabat baik. Kau sudah beruntung menjadi murid Hang-houw-siauw Yok-ong, apa ruginya membagi sedikit kepadaku? Ilmu silatmu tadi benar-benar hebat, aku takluk padamu.”

Merah wajah Hok Peng. “Sudahlah, bertemu dengan orang macam kau apa gunanya membicarakan tentang ilmu silat? Suhu sendiri kiranya belum tentu dapat mengalahkan engkau, karena kata suhu, siapa yang mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, takkan terlawan oleh siapapun juga. Baiknya Badai dan Ombak masih ada dua puluh jurus lagi yang belum kaulihat. Aku akan menggembleng yang dua puluh jurus itu dan siapa tahu kalau kelak yang dua puluh jurus ini akan dapat mengalahkan engkau.”

“Eh, saudara Hok Peng, apakah kau begitu haus akan kemenangan? Kau benar-benar murka sekali, kurang apakah kepandaianmu? Kau menjadi murid seorang sakti seperti Yok-ong locianpwe, pandai ilmu silat, pandai ilmu pengobatan, dan pandai meniup suling dan bernyanyi.”

Hok Peng cemberut. “Sayang sekali, dalam ilmu pengobatan otakku terlalu keras. Sehingga hanya dapat mempelajari sedikit saja, adapun tentang menyuling, kau lebih pandai. Kalau tidak begitu, bagaimana suhu memberikan sulingnya padamu? Ah, Kwan Cu, setelah kita saling mengukur kepandaian, aku tidak kecewa melihatmu. Hanya saja masih ada penasaran dalam hatiku melihat betapa kau benar-benar tidak kenal budi dan kebaktian terhadap gurumu”

Kwan Cu terkejut dan marah. “Eh, omongan apa yang kau keluarkan ini? Membuta tuli menuduh orang lain tanpa alasan. Boleh jadi aku Lu Kwan Cu memang seorang bodoh dan kasar, akan tetapi bagaimana kau bisa bilang aku tidak kenal budi dan kebaktian?”

“Tentu saja kau tidak kenal budi dan kebaktian. Gurumu tewas dalam penasaran, dikeroyok orang-orang yang curang, mengapa kau diam saja dah enak-enak seperti tidak terjadi apa-apa, bukankah ini menandakan bahwa kau tak kenal…… ”

“Tahan lidahmu, Hok Peng! Aku sekarang juga sedang mencari-cari mereka yang telah membunuh suhuku dan aku pasti akan membalaskan sakit hati suhu dan menagih hutang nyawa mereka!”

Hok Peng tersenyum, dan matanya yang tajam memandang penuh selidik. “Bagus, kau tidak bohong. Aku tarik kembali tuduhanku bahwa kau tak kenal budi dan kebaktian, akan tetapi kau ternyata tolol.”

“Ah, apakah kau masih belum puas dan ingin mengajak berkelahi lagi?” tanya Kwan Cu gemas.

“Aku bukan sembarangan saja menuduh. Kau memang tolol kalau belum tahu siapa adanya orang-orang yang mengeroyok dan membunuh gurumu Ang-bin Sin-kai itu.”

“Mereka adalah Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo, dan Toat-beng Hui-houw!” kata Kwan Cu.

Hok Peng melengak. “Eh, eh, eh, jadi kau sudah tahu pula? Memang tiga orang locianpwe itulah pembunuhnya, dengan jalan mengeroyok secara tidak tahu malu dan curang sekali! Kalau begitu kau memang tidak tolol, hanya bodoh sekali.”

“Hm, apalagi yang menyebabkan kebodohanku?” tanya Kwan Cu, ini tidak marah lagi karena memang semua kata-kata yang lucu dari Hok Peng beralasan dan agaknya orang ini boleh sekali dijadikan kawan baik.

“Karena kau tentu akan membuang waktu dengan sia-sia kalau kau mencari-cari mereka itu, padahal mereka berada di……”

“Puncak Tai-hang-san pada Gouw-gwe Cap-gouw!” Kwan Cu menyambung cepat.

Kembali Hok Peng melengak. Sepasang matanya yang bundar seperti kelereng itu bergerak-gerak memandang, kemudian dia mengangguk-angguk.

“Hm, jadi kau sudah tahu pula? Baik, baik, bagus! Akan tetapi tetap saja kau masih bodoh. Jalan yang terdekat ada mengapa mengambil jalan jauh? Bukankah itu bodoh namanya?”

“Hok Peng yang baik, dalam hal ini aku mengaku bodoh. Memang aku belum kenal jalan dan aku hanya melalui jalan menurut keterangan orang-orang yang kujumpai. Mohon petunjukmu, jalan manakah yang terdekat ke Tai-hang-san itu?”

“Memang kalau dilihat dari jauh, agaknya puncak Tai-hang-san berada di sisi utara dan agaknya kalau mau ke puncak, jalan dari utara adalah jalan terdekat. Akan tetapi kalau kaulanjutkan kepercayaan ini, percayalah bahwa sampai waktu Gouw-gwe Cap-gouw tiba, kau belum dapat sampai ke puncak. Jalan dari utara ini banyak sekali halangannya, terhalang oleh jurang-jurang berbahaya dan oleh hutan-hutan lebat yang akan membikin kau tersesat jalan dan akhirnya kau akan terlambat. Kalau kau mengambil jalan dari timur, dari kaki pegunungan terus menanjak ke barat, kau akan sampai di sana dengan cepat dan kiranya masih belum terlambat kalau sekarang juga kau melanjutkan perjalanan. Akah ramai di sana ” Setelah berkata demikian, pemuda aneh ini lalu pergi sambil bernyanyi-nyanyi, tidak mempedulikan lagi kepada Kwan Cu.

“Hok Peng, terima kasih, kau baik sekali!” Kwan Cu berseru girang ke arah pemuda itu yang sama sekali tidak mempedulikan seruannya. Akan tetapi Kwan Cu juga tidak mengharapkan jawaban dari pemuda yang aneh itu, karena dia maklum bahwa orang-orang seperti Yok-ong dan muridnya ini adalah orang-orang yang wataknya memang aneh dan lain daripada orang-orang biasa.

Dengan cepat Kwan Cu lalu melanjutkan perjalanannya, kini dia mengubah arah perjalanannya, tidak lagi hendak mendaki Bukit Tai-hang-san dari utara, melainkan dari timur seperti yang dinasihatkan oleh Hok Peng.

***

Pada waktu yang bersamaan, banyak orang lain juga mendaki Bukit Tai-hang-san dari jurusan-jurusan yang berlawanan atau berlainan. Orang-orang tua yang kelihatannya aneh, orang-orang muda yang bertubuh tegap dan kekar, nenek-nenek yang aneh dan gagah, semua pergi mendaki Bukit Tai-hang-san dan kesemua orang ini berjalan dengan gerakan cepat seperti terbang.

Di antara sekian banyaknya orang-orang gagah yang baik ke Tai-hang-san, terdapat pula Kiu-bwe Coa-li, nenek yang menjadi tokoh besar dunia persilatan, yang namanya lebih ditakuti daripada nama raja iblis oleh orang-orang dari jalan hitam (penjahat), karena Kiu-bwe Coa-li terkenal bertangan baja dan berjari maut. Tokoh selatan ini biarpun sekarang sudah kelihatan amat tua, namun wajahnya masih saja kelihatan keras dan sepasang matanya benar-benar amat berpengaruh dan jarang ada orang berani menentang pandang matanya yang bagaikan pedang pusaka tajamnya. Nenek sakti ini naik Pegunungan Tai-hang-san dengan perlahan saja, namun dua orang muda yang berjalan di kanan kirinya harus mengerahkan ginkang agar jangan sampai tertinggal oleh Kiu-bwe Coa-li!

Dua orang muda itu adalah Bun Sui Ceng dan The Kun Beng. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Sui Ceng dan Kun Beng melakukan perjalanan bersama menuju ke tempat tinggal Kiu-bwe Coa-li yang pada saat itu sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan ingin melanjutkan pelajarannya bertapa.

Akan tetapi, ketika Sui Ceng dan Kun Beng datang dan berlutut di depan wanita sakti ini, Kiu-bwe Coa-li kelihatan sedang marah-marah. Hal ini dapat diketahui oleh Sui Ceng karena gadis ini yang semenjak kecil ikut gurunya tentu saja sudah kenal baik akan watak gurunya yang aneh.

“Kau datang padaku ada apakah, Sui Ceng?” tanya Kiu-bwe Coa-li tanpa mempedulikan Kun Beng yang juga berlutut di depannya.

“Teecu…….. teecu sudah kangen kepadamu, Suthai dan…….. dan teecu sudah…………. sudah bertemu dengan dia ini.”

Kiu-bwe Coa-li memandang ke arah Kun Beng melalui ujung hidungnya, hanya sedetik saja sinar matanya yang tajam itu menyapu wajah dan tubuh Kun Beng.

“Siapa dia?” tanyanya, suaranya membuat Kun Beng merasa dingin tengkuknya. Nenek sakti ini benar-benar hebat sekali, hebat dan menakutkan, pikirnya, lebih aneh daripada suhunya sendiri, Pak- lo-sian Siangkoan Hai yang sudah amat aneh.

“Maafkan teecu yang berani lancang menghadap tanpa diperintah,” kata Kun Beng tanpa berani mengangkat mukanya, “teecu adalah The Kun Beng.”

“Ah, jadi kau murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai si tua bangka? Coba kau angkat mukamu!”

Kun Beng terpaksa mengangkat mukanya memandang dan dia terkejut sekali melihat sinar mata nenek itu penuh selidik memandang mukanya. la tidak tahan menatap sinar mata itu lebih lama lagi dan kembali dia menunduk.

“Apa maksudmu datang bersama Sui Ceng ke sini?” tanya Kiu-bwe Coa-li tegas.

“Teecu…. teecu bersama Ceng-moi hendak….. hendak mohon keputusan tentang……. tentang perjodohan………” Setelah mengucapkan kata-kata ini, Kun Beng menjadi merah mukanya, demikianpun Sui Ceng menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

Tiba-tiba tangan Kiu-bwe Coa-li bergerak dan entah kapan mengambilnya, tahu-tahu cambuknya yang berekor sembilan itu telah bergerak di tangannya dan meluncur cepat ke arah tubuh Kun Beng.

“Suthai !” Sui Ceng menjerit karena murid ini sudah mengenal betul sifat cambuk ini, yakni sekali digerakkan tentu mengambil sedikitnya satu nyawa orang!

Sembilan ekor cambuk itu melayang-layang di atas tubuh Kun Beng dan secepat kilat menyambar, sebuah ekor cambuk menotok jalan darah di pundak pemuda itu tanpa dapat dielakkan lagi! Kun Beng merasa sambaran angin yang luar biasa keras dan cepatnya. la tidak dapat mengelak atau menangkis lagi, maka cepat-cepat dia mengerahkan tenaga lweekangnya dikumpulkan ke arah pundak menahan napas untuk menerima datangnya totokan ini.

Kekhawatiran Sui Ceng, sebetulnya tidak ada artinya. Dalam serangan ini Kiu-bwe Coa-li hanya mempergunakan sebagian tenaganya dan dia sudah tahu bahwa dengan tenaga sebesar itu, muridnya sendiri akan dapat menerima totokan tanpa menghadapi bahaya. Oleh karena itu, kalau pemuda ini sanggup menerimanya, barulah dia memiliki kepandaian yang seimbang dengan muridnya dan patut menjadi suami muridnya. Pendeknya, serangan ini merupakan ujian atau percobaan terhadap Kun Beng!

Ketika jalan darah di pundaknya terkena totokan ujung cambuk itu, Kun Beng merasa seluruh tubuhnya tergetar, akan tetapi dia merasa lega karena ternyata dengan tenaga lweekangnya dia dapat menahan totokan itu dan tidak sampai terluka. Kiu-bwe Coa-li menarik kembali cambuknya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau cukup berharga menjadi suami Sui Ceng. Akan tetapi pada saat seperti ini jangan bicarakan tentang perjodohan!”

Sui Ceng mengangkat mukanya memandang kepada gurunya dengan penasaran. Gadis ini biarpun amat sayang dan taat kepada gurunya, akan tetapi kadang-kadang ia berani membantah. Memang di dunia ini orang satu-satunya yang berani menentang Kiu-bwe Coa-li, kiranya hanyalah Sui Ceng seorang. Sui Ceng sebelum menghadap gurunya, telah melakukan perjalanan bersama Kun Beng dan selama ini hubungan mereka makin rapat. Sui Ceng tidak melihat sesuatu yang mengecewakan dalam diri tunangannya. Kun Beng seorang pemuda tampan dan gagah berani, pula sopan santun. Timbullah rasa cinta dalam hati Sui Ceng terhadap tunangannya ini sebagai jodohnya. Mendapatkan Kun Beng sebagai suami kiranya tidak mengecewakan, karena jarang ada pemuda seperti Kun Beng.

Oleh karena hatinya sudah bulat-bulat menyetujui perjodohan ini, tentu saja ia menjadi kaget mendengar omongan gurunya yang seakan-akan tidak menyetujui. Ia mengangkat muka dan memandang muka Kiu-bwe Coa-li. Biarpun bibirnya tidak mengeluarkan sepatah pun kata, nenek tua itu sudah tahu akan isi hati muridnya, maka sambil tersenyum mengejek ia berkata,

“Sui Ceng, tentang perjodohan boleh diundurkan dulu. Kini pinni (aku) menghadapi urusan yang lebih besar. Si bedebah Kiam Ki Sianjin agaknya memandang rendah kepadaku sehingga dia mengirim undangan untuk mengadakan pertemuan di puncak Tai-hang-san. Dalam suratnya dia menyatakan bahwa dia mengundangku karena mengingat bahwa aku pernah menyerang istana, hal ini berarti bahwa aku mencampuri urusan kerajaan. Ia hendak mengadakan pertemuan dengan orang-orang yang anti dan pro kaisar. Padahal dengan membongkar-bongkar urusan lama, dia akan memperingatkan aku bahwa aku pernah kalah ketika menyerbu ke istana! Bangsat tua tidak tahu malu, aku memang kalah pada waktu itu, akan tetapi aku kalah karena dikeroyok oleh banyak orang.” Kiu-bwe Coa-li menghentikan kata-katanya, dan mukanya menunjukkan bahwa dia marah sekali.

“Kalau begitu, apakah kehendak Suthai selanjutnya?” tanya Sui Ceng.

“Aku tidak sudi mencampuri urusan kerajaan. Akan tetapi aku tetap seorang Han dan kalau disuruh memilih antara Kaisar Han dan kaisar asing, tentu saja aku memilih kaisar bangsa sendiri, betapapun jahat dan lalimnya dia! Kiam Ki Sianjin memandang rendah kepadaku dan aku harus membasmi orang-orang itu yang menjadi penjilat kaisar asing dan mengkhianati bangsa sendiri. Sui Ceng, kau dan aku harus berangkat ke Tai- hang-san. Kun Beng ini boleh ikut juga. Dalam pertemuan besar ini, tua bangka Pak-lo-sian pasti akan hadir juga sehingga sekalian kita bicarakan urusan perjodohan kalian dengan tua bangka itu.”

Ucapan Kiu-bwe Coa-li ini merupakan perintah dan tak boleh dibantah lagi. Sui Ceng menjadi girang sekali, akan tetapi Kun Beng menjadi gelisah. Celaka, pikirnya. Kalau betul suhunya pergi ke Tai- hang-san, tentu suhengnya Gouw Swi Kiat akan berada di sana pula. Bagaimana kalau suhengnya itu menceritakan semua peristiwa yang terjadi antara dia dan Kui Lan? Tentu suhunya akan marah besar dan akan celakalah dia. Tidak saja dimusuhi oleh suhengnya, bahkan kalau Sui Ceng mengetahui akan hal itu, tentu tunangannya akan berubah benci kepadanya.

Akan tetapi Kun Beng memang cerdik dan dapat memandang jauh. Ia sudah kenal betul akan watak Swi Kiat yang keras dan angkuh. Tak mungkin sekali suhengnya itu mau membuka rahasia adik sendiri kepada orang lain biarpun kepada suhu sendiri tentu tidak. Urusan ini biarpun menjelekkan nama Kun Beng namun yang akan lebih rusak nama dan kehormatan keluarganya adalah Gouw Kui Lan, karena sebagai seorang wanita dialah yang akan mengalami keburukan nama lebih hebat daripada seorang pria. Dan Swi Kiat pasti tahu akan hal ini dan takkan membuka mulut. Siapa lagi kalau bukan Swi Kiat yang tahu akan urusan itu? Kun Beng merasa lega hatinya. Ia tidak takut kalau hanya Swi Kiat yang memusuhinya, karena selain dia memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh Swi Kiat, juga dengan adanya Sui Ceng di sampingnya, Swi Kiat akan bisa berbuat apakah? Setelah berpikir demikian, hatinya lega dan dia ikut dengan Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng ke Tai-hang-san.

Setelah mulai menanjak ke pegunungan, rombongan Kiu-bwe Coa-li bertemu dengan tokoh-tokoh besar yang juga hendak mendaki pegunungan itu, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li sudah memesan kepada Kun Beng dan Sui Ceng agar supaya menutup mulut dan tidak menegur siapa pun juga, biarpun ada yang sudah mereka kenal.

“Menghadapi urusan besar ini, kalian harus membuka mata membuka telinga akan tetapi menutup mulut rapat-rapat!”

Kiu-bwe Coa-li dan dua orang muda itu mendaki bukit dari selatan maka mereka tidak bertemu dengan Kwan Cu yang naik dari jurusan timur. Pemuda ini berjalan seorang diri dengan cepatnya. Puncak Gunung Tai-hang-san menjulang tinggi, bermain dengan mega-mega putih dan memang kelihatannya berada di sebelah utara. Akan tetapi perjalanannya dari timur benar seperti yang dikatakan oleh Hok Peng, amat mudah dan selalu puncak itu kelihatan, tidak tertutup oleh hutan-hutan yang terlalu lebat sehingga dalam perjalanan ini Kwan Cu tak pernah takut kalau-kalau tersasar jalannya.

Ketika dia tiba di lereng Bukit Tai-hang-san dan sedang berjalan dengan cepat, tiba-tiba dia melompat dan hampir saja dia menubruk seorang tua yang duduk di bawah pohon, menyandarkan tubuh pada batang pohon itu dengan kedua kakinya yang panjang dilonjorkan menghalang jalan. Kwan Cu benar-benar merasa terkejut dan dia menggosok-gosok kedua matanya. Tadi dari jauh dia tidak melihat ada orang duduk di situ, bagaimana tiba-tiba saja ada kakek yang duduk dengan kedua kaki menghalang jalan? Hampir saja dia menginjak kaki itu kalau dia tidak cepat-cepat melompat.

“Bocah-bocah sekarang amat kurang ajar!” Kakek itu berkata menggerutu sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ada orang tua duduk sengaja dilompati saja tanpa permisi. Benar-benar tidak sopan!”

Kwan Cu yang sudah berhasil menghindarkan diri sehingga tidak menginjak kaki orang cepat membalikkan tubuh memandang. la hendak menegur orang ini yang tentu sengaja hendak mempermainkannya karena dia sudah tahu bahwa orang itu sengaja memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa, tahu-tahu duduk di situ sehingga dia tidak tahu bila kakek itu datang. Akan tetapi sekarang kakek itu malah menegurnya!

Ketika dia melihat muka orang yang menegurnya, Kwan Cu kaget dan heran. Yang duduk itu adalah seorang kakek yang mukanya hitam seperti pantat kuali, hitam sekali seperti malam gelap. Belum pernah selama hidupnya dia melihat muka sehitam ini. Bangsa apakah dia? Kalau dilihat dari potongan mukanya, terang bahwa dia seorang bangsa Han biasa saja yang bertubuh jangkung kurus, akan tetapi mengapa kulit mukanya begitu hitam? Kulit tubuh bagian lain biasa saja, putih dan halus, hanya di bagian muka yang amat hitam sehingga sukarlah untuk mengenat muka ini, kecuali sepasang matanya yang mencorong dan berpengaruh. Kwan Cu merasa seperti pernah melihat mata seperti ini, akan tetapi oleh karena muka yang luar biasa warnanya itu, dia tidak dapat mengenal lagi.

“Ang-bin Sin-kai meninggalkan warisan ilmu silat akan tetapi tidak meninggalkan warisan budi pekerti sehingga muridnya menjadi seorang kasar, tidak dapat menghormat orang yang lebih tua,” Kakek itu bicara lagi, menggerendeng seorang diri.

Kembali Kwan Cu tertegun. Suara ini berbeda sekali dengan tadi, kalau suara tadi parau dan kasar sekarang berubah menjadi halus dan tenang, suara yang sudah pernah didengarnya. Agaknya orang ini sengaja mengeluarkan suara seperti itu agar dia mengenalnya, akan tetapi betapapun dia memeras otak, tetap saja dia tidak dapat ingat lagi siapa adanya orang tua ini.

“Hari ini menerima hadiah, besok sudah lupa lagi akan pemberiannya, demikianlah watak manusia,” lagi-lagi kakek itu berkata dan kali ini Kwan Cu hampir saja menempiling kepalanya sendiri,

“Bodoh benar, mengapa aku begini pelupa?” pikirnya dan serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek yang masih duduk bersandar pada batang pohon itu sambil berkata dengan girang,

“Locianpwe, mohon ampun sebesarnya atas kekurangajaran teecu yang semenjak tadi tidak mengenal Yok-ong Locianpwe. Bukan sekali-kali mendiang suhu Ang-bin Sin-kai yang salah, melainkan teecu sendiri yang kurang ajar dan bodoh.”

Tiba-tiba tubuh orang itu melompat tinggi melampaui atas kepala Kwan Cu. Pemuda ini merasa sambaran angin ke arah lehernya, akan tetapi dia diam saja karena dia percaya penuh bahwa kakek raja tabib ini adalah seorang locianpwe yang berbudi mulia, tak mungkin mau mencelakakan dirinya. Bahkan dia sama sekali tidak mengerahkan lweekang untuk menjaga diri, karena takut kalau-kalau perbuatan ini akan dianggap sebagai pameran. Kwan Cu merasa leher bajunya disambar orang dan di lain saat tubuhnya sudah ditarik dan dibawa pergi cepat sekali.

Ternyata bahwa kakek ini membawanya bersembunyi di balik semak-semak belukar, mendekam di situ tanpa mengeluarkan kata-kata. Sebelum Kwan Cu sempat bertanya, dia mendengar tindakan kaki orang dari jauh. Tindakan kaki ini berat sekali sehingga pohon-pohon serasa tergetar. Dengan telinganya yang tajam dia dapat mengetahui bahwa yang datang adalah empat orang, agaknya sengaja menjatuhkan kaki dengan pengerahan tenaga luar biasa, sedangkan yang tiga lagi sukar untuk ditangkap suara derap kakinya, demikian ringan tubuh mereka melayang di atas tanah.

Sebentar saja, meluncurlah empat orang di jalan itu. Tiba-tiba tubuh Kwan Cu menggigil dan seluruh tubuhnya terasa panas ketika dia melihat siapa adanya mereka ini. Orang pertama yang sengaja menjatuhkan kaki dengan kerasnya bukan lain adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, musuh besar yang telah mengeroyok dan membunuh suhunya! Inilah yang membikin Kwan Cu naik darahnya dan membikin tubuhnya menjadi panas sekali. Orang ke dua adalah seorang kakek tua yang juga berjubah hitam seluruhnya seperti Hek-i Hui-mo, juga kepalanya gundul dan tubuhnya tinggi kecil. Kembali dada Kwan Cu tergetar karena dia mengenal hwesio yang dijumpainya pada malam hari di dekat kelenteng di mana Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu terbunuh. Tak terasa lagi Kwan Cu meraba sakunya dan ingat bahwa dia masih menyimpan sepotong robekan kain dari jubah hitam hwesio ini. Adapun orang ke tiga dan ke empat adalah seorang tosu yang sudah amat tua, akan tetapi Kwan Cu tidak mengenal mereka.

Hanya sekejap saja dia dapat melihat mereka karena bagaikan bayang-bayang yang cepat gerakannya mereka telah lenyap lagi, naik ke atas gunung. Kakek bermuka hitam itu berdiri dan menghela napas panjang.

“Heran sekali, Bian Kim Hosiang dari Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai juga datang, akan tetapi bersama-sama dengan Hek-i Hui-mo! Benar-benar lihai setan berbaju hitam itu, bisa menarik hati dua orang ketua partai ini. Hmmm, bahkan Coa-tok Lo-ong juga datang, bakal ramai sekali ini…..” Kakek ini berjalan perlahan keluar dari tempat persembunyian tanpa mempedulikan Kwan Cu.

Pemuda ini lalu bangkit berdiri dan mengikutinya. Tiba-tiba kakek itu berpaling padanya dan berkata,

“Kwan Cu, bagaimana kau bisa mengenalku?”

“Sesungguhnya teecu takkan mungkin dapat mengenal Locianpwe kalau saja Locianpwe tidak menolong teecu dengan suara aseli itu.” Kwan Cu mengaku terus terang. Hang-hauw-siauw Yok-ong tertawa dan memandang ke atas.

“Memang itulah baiknya orang menyamar. Kita bisa mengenal orang lain tanpa dikenal. Bukankah itu menyenangkan sekali ? Eh, Kwan Cu, bagaimana dengan kepandaianmu?”

“Teecu hanya bisa mainkan satu dua jurus pukulan, tiada harganya untuk diketahui oleh Locianpwe. Teecu hanya mohon petunjuk dan pimpinan.”

“Ha, ha, ha, kau sejak dulu memang pandai merendah. Sikap yang amat baik sekali, anakku. Kau tadi menjadi panas melihat mereka lewat, ada apakah? Apa maksudmu berkeliaran di tempat ini?”

“Locianpwe, terus terang saja teecu hendak ke Tai-hang-san untuk menuntut balas atas kematian suhu. Teecu hendak membalas dendam kepada mereka yang mengeroyok suhu secara pengecut, yakni Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan Toat-beng Hui-houw!”

Yok-ong tersenyum lebar, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang itu sudah menjadi hakmu dan kewajibanmu. Akan tetapi, apakah kepandaianmu sudah begitu tinggi sehingga kau seorang diri berani menghadapi mereka bertiga?”

“Teecu datang bukan bermodalkan kepandaian, akan tetapi bermodal semangat, kebenaran dan kebaktian terhadap suhu.”

“Agaknya kau sudah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, bukan? Kulihat sinkang (tenaga sakti) dalam tubuhmu sudah tinggi sehingga dalam sekejap kau tadi dapat menindas hawa kemarahanmu ketika kau melihat Hek-i Hui-mo. Bagus, memang kau patut menerima ilmu yang tinggi, bakatmu besar sekali. Akan tetapi harus kauketahui bahwa tiga orang yang kausebutkan tadi bukanlah lawan yang boleh dibuat main-main.”

“Teecu mengerti, Locianpwe, akan tetapi dalam memenuhi tugas ini, teecu menyediakan selembar nyawa untuk taruhan. Tak lain mohon petunjuk dari Locianpwe, mengingat akan baiknya hubungan antara Locianpwe dengan mendiang suhu.”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: