Pendekar Sakti (Jilid ke-34)

Juga Kwan Cu yang mengerti bahwa tak lama lagi Sui Ceng pasti akan roboh di bawah tangan Toat-beng Hui-houw yang lihai itu, berbisik kepada Yok-ong dengan hati gelisah.

“Locianpwe, andaikata nona itu terluka oleh kuku tangan Toat-beng Hui-houw yang mengandung bisa berbahaya masih dapatkah dia tertolong?”

Yok-ong mengangguk. “Memang racun di tiap kuku jari Toat-beng Hui-houw bisa mematikan dan sukar diobati. Akan tetapi aku telah mempunyai semacam obat penolak bisa yang luar biasa dan yang pasti akan dapat melawan bisa itu. Asal saja lukanya tidak amat berat.”

Kwan Cu segera berdiri dari tempat duduknya dan dengan tindakan perlahan dia mendekati tempat pertempuran, agaknya tertarik sekali. Yok-ong hendak mencegah namun tidak keburu. Orang-orang di kedua fihak juga melihat ini, akan tetapi oleh karena pemuda muka merah yang mengaku petani Gunung Tai-hang-san itu bukan orang dari salah satu fihak dan dianggap sebagai petani biasa saja yang menonton, tak seorang pun memperhatikannya. Apalagi keadaan amat tegang dan semua mata memandang ke arah pertempuran yang hebat luar biasa itu.

Sui Ceng benar-benar terdesak hebat. Ia memang nekat dan biarpun dia mendengar perintah gurunya supaya mundur, namun mana bisa seorang gadis seperti Sui Ceng sudi mundur dan mengaku kalah? Apa lagi terhadap musuh besar yang sudah membunuh ibunya.

“Kalau aku tak berhasil membalaskan dendam ibu, biarlah aku mampus di sini!”pikir gadis ini sambil memutar pedangnya yang makin kacau gerakannya.

Tiba-tiba Toat-beng Hui-houw tertawa seperti ringkik kuda, disusul oleh gerengan seperti harimau dan tangan kirinya yang penuh kuku panjang itu berhasil merampas pedang Sui Ceng. Sekali kuku-kukunya bergerak, terdengar suara”krak!” dan pedang itu patah-patah menjadi tiga! Sui Ceng masih tidak mau melompat atau mengaku kalah, bahkan dia lalu menghantam dengan tangan kiri ke dada lawan!

Toat-beng Hui-houw tertawa besar dan sekali dia menangkis dengan tenaga sepenuhnya, Sui Ceng terhuyung ke kiri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Toat-beng Hui-houw untuk menggunakan kuku-kukunya yang berbisa mencakar kearah dada Sui Ceng! Nona ini maklum akan datangnya serangan maut. Cepat dia miringkan tubuhnya, akan tetapi kalah cepat. Terdengar baju robek dan pundaknya terkena cengkeraman itu. Sui Ceng mengerahkah lweekang dan meronta sehingga cengkeraman itu dapat terlepas, namun ia lalu terhuyung-huyung dan roboh. Pundaknya terasa panas sekali sampai menembus ke jantungnya. Racun-racun berbahaya dari kuku telah memasuki luka di pundaknya.

“Ha, ha, ha, kau boleh menyusul ibumu!” seru Toat-beng Hui-houw sambil menghampiri tubuh nona yang telentang pingsan itu, siap untuk mengirim pukulan terakhir. Kiu-bwe Coa-li meramkan mata, dan Kun Beng sudah siap melompat menolong tunangannya.

Tiba-tiba kelihatan pemuda dusun bermuka merah itu berlari-lari dan berteriak-teriak,

“Tidak adil……! Tidak adil…….!” Ia berlari terus dengan kacau, menyeruduk Toat-beng Hui-houw yang hendak membunuh Sui Ceng. Melihat datangnya pemuda dusun ini, Toat-beng Hui-houw menjadi heran dan juga marah.

“Mau apa kau??” bentaknya sambil mendorong pundak Kwan Cu. Pemuda ini tahu bahwa dorongan itu akan melukainya, akan tetapi karena dia mengandalkan kepandaian Yok-ong, dan pula dia ingin menolong nyawa Sui Ceng, dia pura-pura tidak tahu. “Reeettt!” Robeklah baju pundaknya dan kulit pundaknya tergores oleh kuku tangan Toat-beng Hui-houw.

“Toat-beng Hui-houw, kau terlalu sekali! Pemuda itu adalah orang luar, mengapa kau melukainya?” bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Sebetulnya bukan Pak-lo-sian terlalu sayang kepada pemuda yang aneh mukanya itu, melainkan karena pemuda itulah yang telah menolong nyawa Sui Ceng, maka dia membelanya. Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan mundur, lalu menudingkan telunjuknya yang berkuku panjang kepada Kwan Cu sambil membentak,

“Eh, kepiting rebus! Apa-apaan kau datang mencari kematian?” Biarpun bertanya begini, di dalam hatinya Toat-beng Hui-houw merasa heran sekali. Bisa dikukunya amat hebat, sekali gurat saja orang tentu akan roboh dan pingsan atau sekaligus mampus. Akan tetapi mengapa pemuda yang terang-terangan sudah terluka pundaknya ini tidak lekas-lekas roboh pingsan? la tidak tahu bahwa Kwan Cu telah mengerahkan tenaga dan seluruh hawa murni yang dia dapat dari latihan menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sehingga bisa itu untuk sementara tertahan oleh hawa yang mengepul naik dari pusarnya menuju kepundak yang tergurat kuku berbisa tadi.

Kwan Cu dengan kedua tangan tuding sana tuding sini, mengeluarkan suara mengomel panjang pendek dan berteriak-teriak, “Mana ada pertandingan macam ini? Masa seorang kakek-kakek tua melawan seorang gadis muda yang lemah? Tidak adil sekali. Seharusnya, gadis melawan gadis, kakek melawan kakek, pemuda melawan pemuda dan bocah melawan bocah. Ini baru senang ditonton. Masa kakek yang kukunya panjang mengerikan ini harus bertanding dengan gadis yang begini halus?” Kwan Cu menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengangkat tubuh Sui Ceng dan dengan lagak seperti orang merasa berat menggendong tubuh itu, dia berlari-lari ke arah Yok-ong.

“He, kau mau bawa dia ke mana?” teriak Kun Beng yang segera mengejar.

“Dia mati, harus dikubur baik-baik,” jawab Kwan Cu tanpa menoleh.

Yok-ong menyambut Kwan Cu dan tanpa dilihat orang lain, raja tabib ini menotok tiga jalan darah di tubuh Sui Ceng lalu menyuruh Kwan Cu memberikan tubuh gadis itu kepada Kun Beng yang datang berlari-lari.

“Berikan dia padaku!” kata Kun Beng.

“Eh, eh, eh, kau ini pemuda mau apakah? Kalau dia harus dibawa ke sana biarlah aku menggendongnya ke sana. Mengapa menggendong tubuhnya saja orang harus berebut? Kau agaknya ingin sekali menggendongnya!” Kwan Cu lalu membawa gadis itu berlari-larian kembali menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Semua orang memandang kepada pemuda muka merah ini dan merasa lucu juga kasihan. Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri merasa terharu melihat seorang petani bodoh masih memiliki perikemanusiaan begitu besar .

Kwan Cu tadi ketika membawa Sui Ceng kepada Yok-ong, memang sengaja memberi kesempatan kepada Yok-ong untuk mengobati gadis itu, kemudian tanpa diketahui oleh siapapun juga, dia menerima sebuah pil besar berwarna putih dan mendapat bisikan dari Yok-ong. Kini pil besar itu telah dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia menurunkan gadis itu di atas tanah.

“Kau baik sekali, orang muda,” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Sayang dia takkan dapat tertolong lagi,” kata Kiu-bwe Coa-li. Suaranya tenang-tenang saja akan tetapi kalau orang melihat matanya ia akan bergidik. Mata itu membayangkan nafsu amarah dan bayangan-bayangan maut terbayang di situ.

Akan tetapi Kwan Cu tidak mempedulikan mereka semua, kini dia lalu mendekatkan mukanya pada leher Sui Ceng.

“Petani busuk, kau mau apa?” Kun Beng membentak marah dan mengangkat tangan hendak memukul.

“Diamlah kau! Mengapa begitu ribut?” bentak Pak-lo-sian sambil memandang kepada muridnya dengan alis dikerutkan. Kun Beng merundukkan mukanya yang menjadi sedih luar biasa. Pak-lo-sian maklum akan kedukaan hati muridnya ini maka dia menghibur, “Lihat, petani muda ini agaknya hendak berusaha mengobatinya.”

Memang benar, Kwan Cu telah menempelkan bibirnya pada luka di pundak Sui Ceng. la membuka mulutnya dan menggunakan giginya menggigit kulit di sekitar luka! la menggigit keras-keras, lalu mengumpulkan pil putih yang sudah dihancurkannya dengan ludah dikumpulkan di ujung lidah dan sambil mengerahkan lweekangnya, dia meniupkan hancuran obat itu ke dalam luka! Hal ini tentu saja tidak terlihat oleh siapapun juga, bahkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai saling pandang lalu mengangkat pundak. Dalam pandangan mereka, pemuda petani yang aneh ini hanya menggigit pundak itu saja!

“Eh, apa yang kaulakukan itu?” Kembali Kun Beng bertanya karena pemuda itu tidak kuat melihat si muka merah seakan-akan mencumbu kekasihnya dan menciumi pundaknya!

Kwan Cu mengangkat mukanya dan dengan mukanya yang merah ketololan itu dia tersenyum menyeringai. Orang-orang melihat betapa gigi dan bibir pemuda ini berlepotan darah! “Aku sudah usir setannya, sudah usir setannya!”

Kun Beng tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengira bahwa pemuda muka merah ini gila dan dalam gilanya telah menggigit dan bahkan minum darah dari Sui Ceng. Dengan pengerahan tenaga sekuatnya dia lalu menendang pantat Kwan Cu yang masih berjongkok. Tubuh Kwan Cu bagaikan sebuah bal karet melayang kembali ke tengah lapangan di mana Toat-beng Hui-houw masih berdiri memandang semua itu.

Tubuh Kwan Cu yang melayang-layang tadi kini turun dan seperti yang tidak disengaja, tubuh pemuda muka merah ini melayang turun tepat di atas kepala Toat-beng Hui-houw. Sebetulnya kakek bermuka harimau ini mendongkol sekali dan kalau menurutkan hatinya, sekali pukul saja dia dapat menghancurkan tubuh pemuda yang dianggapnya tolol itu. Akan tetapi tadi dia telah mendengar celaan dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ketika dia melukai pemuda muka merah itu, maka kini dia tidak mau melanjutkan perbuatannya. Pula dia memang melihat sendiri betapa pemuda tani ini terlempar kepadanya bukan karena kehendak sendiri, melainkan karena ditendang oleh pemuda murid Pak-lo-sian itu. Maka dia lalu mengulur tangan dan sekali sambar dia sudah memegang leher baju Kwan Cu dan melontarkan tubuh pemuda itu ke tempatnya yang tadi, yakni didekat Yok-ong, juga dekat Kwa Ok Sin, Jeng-kin-jiu, dan Liok-te Mo-li.

Sambil berteriak-teriak ketakutan tubuh Kwan Cu terputar-putar di udara dan meluncur ke dekat Liok-te Mo-li. Nenek ini mengulur tangan dan menangkapnya, lalu melepaskannya di dekat Yok-ong sambil berkata,

“Orang muda, kau bersemangat besar. Aku kagum sekali!”

Kwan Cu tidak banyak cakap, lalu duduk di dekat Yok-ong, diam-diam menerima obat pemunah bisa dan menelannya menurut petunjuk Yok-ong.

“Kau lancang sekali, hampir-hampir terbuka rahasia kita,” kata Yok-ong.

“Teecu tidak bisa membiarkan Sui Ceng tewas,” jawab Kwan Cu.

Sementara itu, Pak-lo-sian menegur muridnya.

“Kun Beng kau benar-benar tidak tahu budi. Lihat, nona Bun tertolong nyawanya karena perbuatan pemuda muka merah tadi, dan kau bahkan menendangnya. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurunya!”

Kun Beng terkejut dan ketika dia melihat, benar saja, Sui Ceng telah siuman kembali dan warna biru hitam pada pundaknya telah lenyap! Kiu-bwe Coa-li sedang memeriksa jalan darah muridnya dan ia mengangguk puas.

“Aneh sekali, nyawamu tertolong oleh suatu keajaiban, Sui Ceng.” kata nenek ini sambil memandang ke arah Kwan Cu yang masih duduk merengut.

Kun Beng menjadi girang dan juga malu. Ia lalu melompat ke tengah lapangan dan menghadapi Toat-beng Hui-houw.

“Sahabatku kalah olehmu, marilah kaucoba mengalahkan aku!”

Pak-lo-sian mengomel, “Kun Beng benar-benar berani mati dan gegabah sekali. Mana dia bisa menangkan siluman itu? Swi Kiat, suruh dia kembali!” Gouw Swi Kiat mentaati perintah suhunya dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat di sebelah Kun Beng. Akan tetapi sebelum dia dapat menyampaikan pesan suhunya, Toat-beng Hui-houw yang mengira bahwa dia hendak dikeroyok dua, sudah tertawa bergelak dan siap untuk menyerang. Ia tidak gentar menghadapi dua orang pemuda ini dan dia dapat menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Toat-beng Hui-houw, kau mundurlah. Jasamu sudah cukup. Karena sekarang yang maju adalah murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, biarkan pinceng yang menghadapinya.” Yang berkata demikian ini adalah Bian Kim Hosiang, ketua Bu-tong-pai. Kata-kata ini amat mengherankan oleh karena biasanya, seorang ciangbunjin (ketua partai) tidak mau turun tangan dengan begitu mudahnya, apalagi menghadapi seorang anak murid partai lain, kecuali kalau menghadapi ketua lain partai. Akan tetapi dalam hal ini, tindakan Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong pai ini dapat dimengerti. Ia merasa sakit hati sekali terhadap Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang disangka membunuh sutenya secara pengecut sekali. Maka kini dia hendak membalas dendam, hendak mengalahkan murid Pak-lo-sian dan kemudian setelah itu, kalau Pak-lo-sian merasa sakit hati baru dia akan melayani Dewa Utara itu.

“Benar, pinto juga ingin merasai kelihaian murid Pak-lo-sian!” kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Seperti halnya Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, juga ketua Kim-san-pai ini berpikiran sama. Melihat bahwa yang maju adalah dua orang murid Pak-lo-sian, maka dia juga ikut maju untuk memberi hajaran sebagai pembalasan.

Swi Kiat menjadi bingung ketika tiba-tiba dua orang pendeta dari fihak lawan itu melayang dan menghadapi dia dan sutenya. Ia tidak keburu menyampaikan pesanan suhunya, karena kalau fihak lawan sudah keluar dan dia bersama sutenya kembali, hal itu akan mendatangkan rasa malu yang luar biasa sekali. Tentu dia dan sutenya dianggap takut dan melarikan diri dari dua orang pendeta ini. Swi Kiat yang menjadi bingung itu melirik ke arah suhunya dan Pak-lo-sian mengerti akan kebingungan hati muridnya. Kakek ini belum tahu duduknya perkara. Biarpun tadi beberapa kali dua orang ketua dari Bu-tong dan Kim-san itu menyindir dan memakinya, namun dia tidak sekali-kali mengira bahwa dia disangka membunuh murid-murid mereka secara curang. Ia sudah kenal kepada dua orang ketua ini dan tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang jahat dan kejam. Maka dia lalu berkata sambil tersenyum.

“Anak-anak bodoh! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai hendak memberi pelajaran, mengapa tidak lekas-lekas menerimanya?”

Mendengai ini, Swi Kiat lenyap keraguannya dan dia lalu siap sedia dengan senjatanya yang lihai, yakni sepasang kipas yang disebut Im-yang-siang-san. Murid pertama dari Pak-lo-sian ini memang sudah mewarisi keahlian bersilat kipas dengan Ilmu Silat Im-yang San-hoat yang amat lihai. Adapun Kun Beng memang sejak tadi sudah mengeluarkan tombaknya.

Bian Kim Hosiang tertawa mengejek. “Biarpun murid-murid kami terbunuh secara curang mempergunakan ilmu kotor atau ilmu siluman, akan tetapi kami tidak serendah itu dan kami akan merobohkan kalian secara jujur.” Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sehelai saputangan panjang. Ia menggulung-gulung saputangan itu, menjadi gulungan kain, kemudian sekali dia menggerakkan tangan, gulungan kain itu menjadi kaku seperti sebatang toya! Benar-benar seperti Kauw-ce-thian (raja monyet dalam dongeng kuno yang mempunyai wasiat tongkat kim-kauw-pang) mainkan tongkat wasiatnya! Dengan senjata buatan sendiri ini, ternyata bahwa Bian Kim Hosiang tidak saja memandang ringan pada lawannya, juga dia telah memperlihatkan bahwa tenaga lweekangnya bukan main besarnya. Sambil memutar toya kain ini Bian Kim Hosiang menghadapi Kun Beng yang bersenjata tombak.

Adapun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai, orangnya lebih sabar daripada ketua Bu-tong-pai, juga kepandaiannya tidak kalah. Bin Kong Siansu terkenal sebagai tokoh besar yang telah memperkembangkan dan memperbaiki Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat yang sudah tersohor lihai itu sehingga Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat boleh direndengkan dengan ilmu-ilmu pedang dari partai-partai besar, bahkan ada yang menyatakan bahwa ilmu pedang ini sesumber dengan ilmu pedang dari Thian-san-pai yang banyak dikagumi orang. Tosu ini menghadapi Swi Kiat dan mengulur tangan mencabut keluar sebatang pedang tipis.

“Orang muda, majulah untuk menerima hukuman dari dosa yang diperbuat oleh gurumu,” katanya perlahan.

Swi Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ini, akan tetapi melihat betapa Kun Beng sudah mulai bertanding melawan Bian Kim Hosiang, dia pun menjura kepada ketua Kim-san-pai itu, lalu dengan sepasang kipasnya, dia melakukan penyerangan hebat. Bin Kong Siansu menggerakkan pedangnya dan sekali saja pedangnya bergerak, dua sinar berkelebat ke arah sepasang kipas di tangan Swi Kiat. Tentu saja pemuda ini terkejut dan tidak membiarkan kipasnya rusak dalam segebrakan saja. Sebagai seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, dia sudah dapat melihat bahwa pedang lawannya tadi melakukan semacam gerak tipu seperti Goat-kan-ji-jit (Bulan Mengejar Dua Matahari) dan hendak menusuk bolong sepasang kipasnya. Maka cepat dia mengelak dan kini sepasang kipasnya mulai digerakkan dalam permaiann silat kipas yang amat lihai dari suhunya, yakni Im-yang San-hoat. Sepasang kipas ini dimainkan dengan gerakan yang saling bertentangan, misalnya kalau kipas kanan menyambar dari kanan, kipas kiri menyambar dari kiri, atau kalau yang pertama menyambar dari atas, yang ke dua menyusul dengan serangan dari bawah dan sebagainya. Yang amat sukar adalah betapa lawan tidak dapat menduganya, yang kanan ataukah yang kiri yang menjadi penyerang sesungguhnya dan mana pula yang hanya pancingan belaka.

Namun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Tingkatnya masih melebihi Swi Kiat, demikian pula ilmu ginkang dan lweekangnya, maka dengan pedangnya yang digerakkan secara cepat dan kuat, dia dapat menggagalkan semua serangan balasan dari pemuda itu, sebaliknya dia terus menggencet lawannya.

Bagaimana dengan Kun Beng? Sama saja keadaannya dengan suhengnya. Kepandaian ketua Bu-tong-pai sudah sejajar dengan kepandaian tokoh-tokoh besar lainnya. Biarpun Bian Kim Hosiang hanya mempergunakan toya terbuat daripada kain, namun setiap kali tombak di tangan pemuda itu terpukul senjata aneh ini, Kun Beng merasa telapak tangannya sakit-sakit.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tahu benar bahwa kedua orang muridnya takkan dapat mencapai kemenangan. Hal ini pun tidak dianggap memalukan, karena dia sudah tahu bahwa dia sendiri kiranya takkan mudah mengalahkan ketua-ketua dari Kiam-san-pai dan Bu-tong-pai itu, apalagi kedua muridnya itu boleh di bilang sudah patut dipuji, karena menghadapi dua orang ciangbunjin itu masih dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus! Pula, semenjak tadi sebagai guru, Pak-lo-sian memperhatikan semua gerakan ilmu silat muridnya dan dia tidak melihat adanya kesalahan-kesalahan. Mereka terdesak bukan karena kalah lihai ilmu silat yang mereka pelajari, hanya karena tingkat mereka masih kalah tinggi, baik dalam hal tenaga dalam mau pun kecepatan atau pengalaman bertempur. Ia pun tidak gelisah ketika pada saat hampir bersamaan Swi Kiat tersabet pedang pundaknya sehingga pemuda ini terhuyung-huyung lalu roboh mandi darah dan Kun Beng mengeluh kesakitan ketika pangkal pahanya terpukul oleh toya kain yang kadang-kadang keras seperti baja itu sehingga pemuda ini pun roboh. Pak-lo-sian dapat melihat bahwa luka-luka yang diderita oleh dua orang muridnya itu tidak berbahaya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat dua orang pendeta itu memburu maju dan mengangkat senjata untuk membinasakan dua orang muridnya. Pucatlah wajah Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Dia adalah seorang tokoh besar yang tidak mau berlaku curang atau menyalahi peraturan biarpun kedua orang muridnya terancam bahaya maut, namun baginya lebih baik kematian dua muridnya atau biarpun dia sendiri akan mati, dia tidak nanti akan melanggar peraturan yang jujur.

Kwan Cu melihat dua orang pemuda itu menghadapi bahaya maut, otomatis hendak bergerak, akan tetapi dia kalah dulu oleh Liok-te Mo-li, wanita seperti setan yang pernah dijumpainya, yakni ibu dari Kong Hoat, nelayan muda yang “cengeng” itu. Nenek ini melompat dan ginkangnya memang amat hebat sehingga sekali melompat ia telah berada di tengah lapangan.

“Traaang!” Pedang di tangan Bin Kong Siansu sampai mengeluarkan bunga api ketika terbentur dengan tongkat hitam yang dipegang oleh Liok-te Mo-li ketika nenek ini menangkis tusukan pedang ketua Kim-san-pai yang diarahkan ke tenggorokan Swi Kiat, sedangkan tongkat itu bergerak lagi amat cepatnya menangkis toya kain di tangan Bian Kim Hosiang!

Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terkejut sekali. Tenaga nenek ini ternyata bukan main hebatnya dan melihat wajah nenek ini, mereka merasa bulu tengkuk mereka berdiri. Memang Liok-te Mo-li berwajah menyeramkan, apalagi pada saat itu ia sedang marah, maka wajahnya menjadi lebih hebat lagi. Kedua orang tokoh besar dunia kang-ouw itu terheran-heran karena selamanya mereka belum pernah melihat nenek aneh ini.

“Siapakah kau dan mengapa kau mencampuri urusan pertandingan yang dilakukan dengan jujur?” membentak Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dengan marah.

Liok-te Mo-li tertawa, suara ketawanya juga amat menyeramkan, karena biarpun perlahan saja namun amat menusuk anak telinga.

“Hi-hi-hi! Aku mendengar bahwa kalian adalah ketua-ketua partai besar Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, mengapa seganas itu hatimu? Aku tidak peduli tentang pertempuran antara kedua fihak dan kedatanganku ini adalah karena undangan dari Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi, biarpun di dalam undangan disebutkan akan diadakan musyawarah besar, kenyataannya apa yang kulihat? Pertandingan-pertandingan yang berat sebelah! Tadi kulihat kakek seperti siluman yang kukunya panjang itu menghina seorang nona muda, sekarang kulihat pula dua ekor monyet tua menghina dua orang muda dan hendak membunuhnya! Aku tidak memihak siapa-siapa, akan tetapi melihat orang-orang muda dihina orang-orang tua bangka, aku Liok-te Mo-li tidak nanti tinggal diam saja!”

Terkejutlah dua orang ketua partai ini mendengar nama ini. Nama ini sudah amat terkenal sebagai nama yang amat menakutkan karena sepak terjang Liok-te Mo-li memang aneh dan kadang-kadang mendirikan bulu roma saking hebatnya. Sebelum mereka sempat membuka mulut, tiba-tiba dari rombongan Kiam Ki Sian-jin melompat dua orang, yakni Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong. Dua kakak beradik seperguruan dari Tibet ini memandang dengan marah. Terdengar suara Kiam Ki Sianjin yang memang menyuruh dua orang kawannya ini maju.

“Ji-wi Bengcu (dua ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai harap mengundurkan diri dan biarkan Hek-i Hui-mo dan sutenya menghadapi nenek yang usil tangan dan gatal mulut ini!”

Karena kedatangan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ke tempat itu memang hanya bertujuan membalaskan sakit hati mereka atas kematian murid mereka dan mereka tidak ingin melibatkan diri dalam permusuhan dengan golongan atau orang-orang lain, keduanya lalu mengangkat pundak dan mengundurkan diri. Adapun Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempergunakan kesempatan itu untuk melompat ke depan dan menyambar tubuh dua orang muridnya yang terluka untuk dirawat.

Hek-i Hui-mo sudah pernah bertemu dengan Liok-te Mo-li, bahkan dulu pernah dia bertempur dengan nenek ini ketika Liok-te Mo-li membasmi gerombolan perampok di daerah Tibet dan karena kepala perampok itu terhitung “anak buah” dari Hek-i Hui-mo maka terjadi bentrok di antara mereka. Namun pertempuran itu masih belum diketahui mana yang kalah dan mana yang menang karena Liok-te Mo-li keburu melarikan diri setelah melihat fihak Hek-i Hui-mo mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mengeroyoknya.

“Hm, Hek-i Hui-mo, siluman jahat! Dengan adanya kau di sini, mudah di ambil kesimpulan fihak mana yang tidak benar! Manusia macam kau tentu selalu membantu yang jahat,” kata Liok-te Mo-li. “Kau hendak mengeroyokku seperti dulu? Kau sekarang sudah mengekor kepada bala tentara kerajaan? Nah, terimalah hadiahku ini!” Sambil berkata demikian, Liok-te Mo-li yang tiba-tiba naik darahnya melihat Hek-iHui-mo, menggerakkan kedua tangannya sambil mengempit tongkatnya. Sinar lembut melayang dari kedua tangannya, langsung menyerang Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong dan para kawan mereka yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin.

Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong, dan tokoh-tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin dan lain-lain cepat mengebutkan ujung lengan baju dan ada yang mengelak ketika jarum-jarum halus itu menyambar, akan tetapi beberapa orang yang kurang tinggi kepandaiannya tidak sempat lagi menghindarkan diri. Tiga orang perwira pengikut Kiam Ki Sianjin menjerit dan roboh dengan muka berubah pucat. Nyawa mereka sukar ditolong karena jarum-jarum ini telah memasuki tubuh dan bergerak melalui jalan darah, langsung menyerang urat-urat nadi yang berbahaya!

“Aduh celaka, Liok-te Mo-li tidak dapat menahan nafsu dan membuat gara-gara!” kata Kwa Ok Sin sambil berdiri dan membanting-banting kakinya. Jeng-kin-jiu juga menggeleng-geleng kepala, akan tetapi tidak bisa berbuat sesuatu karena hal itu sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

“Tiga orang itu takkan dapat diselamatkan lagi,” kata Yok-ong perlahan kepada Kwan Cu. Pemuda ini sudah hendak bangun dan membantu Liok-te Mo-li ketika melihat nenek ini dikeroyok oleh Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya dipegang oleh Yok-ong yang berbisik,

“Jangan bergerak. Mereka terlalu lihai, aku sendiri pun tidak berani sembarangan bergerak. Liok-te Mo-li mencari penyakit sendiri dan memperbesar permusuhan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti.”

Biarpun Kwan Cu tidak takut sedikitpun juga menghadapi tokoh-tokoh besar di fihak Kiam Ki Sianjin, akan tetapi dia pikir bahwa omongan Yok-ong ini betul juga, maka dia berdiam diri. Betapapun juga, sepak terjang Liok-te Mo-li tidak dia setujui, biarpun nenek ini membela keadilan, akan tetapi dia terlalu ganas sehingga sekali turun tangan ia telah menewaskan tiga orang perwira yang sebetulnya tidak tahu apa-apa.

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong telah maju dan mengeroyok Liok-te Mo-li. Tentu saja nenek ini menjadi sibuk sekali. Memang kepandaiannya sudah tinggi, namun kepandaian Hek-i Hui-mo juga tidak boleh dibuat main-main. Apalagi selama beberapa tahun ini kepandaian Hek-i Hui-mo meningkat tinggi sekali, setelah dia mempelajari ilmu silat aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu seperti yang dia dengar dibacakan oleh pujangga Tu Fu. Selain itu, dia dibantu oleh Coa-tok Lo-ong yang tingkat kepandaiannya juga tidak lebih rendah daripada suhengnya dan Liok-te Mo-li. Kalau hanya menghadapi seorang di antara dua tokoh Tibet ini, agaknya pertandingan akan berjalan lebih ramai dan seimbang, akan tetapi dikeroyok dua seperti itu, Liok-te Mo-li benar-benar amat terjepit dan terdesak.

Sepasang senjata Hek-i Hui-mo amat berbahaya, yakni seuntai tasbih di tangan kiri dan sebatang Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) di tangan kanan. Ia melakukan serangan bertubi-tubi dengan kedua senjatanya, setiap serangan cukup keras untuk menghancurkan batu karang. Adapun Coa-tok Lo-ong mainkan senjatanya yang mengerikan, yakni sebatang tongkat yang sebetulnya adalah seekor ular berbisa yang masih hidup! Ular hidup ini tadinya dia simpan di dalam saku bajunya yang lebar dan ular itu tidak dapat bergerak karena memang sudah ditekan pusat tulang belakangnya sebelum digulung dan dikantongi. Sekarang dia buka totokan pada tubuh ular itu dan dengan memegangi ekornya dia mainkan ular itu dengan hebatnya! Dapat dibayangkan sendiri betapa berbahayanya senjata seperti ini karena selain dikerahkan dengan penyaluran tenaga lweekang sehingga dapat dipakai memukul dan menotok, juga ular itu sendiri bergerak-gerak sambil mengeluarkan semburan bisa sehingga sukar sekali dihadapi.

Baiknya Liok-te Mo-li amat besar tenaganya sehingga ketika dia memutar tongkatnya, angin menderu dan debu beterbangan, tubuhnya terbungkus oleh sinar tongkat dan debu. Namun dia sudah tua, keuletan tenaganya terbatas dan sebentar saja setelah dapat mempertahankan selama delapan puluh jurus, ia mulai terengah-engah. Liok-te Mo-li terkejut menghadapi kenyataan betapa majunya kepandaian Hek-i Hui-mo dan bahwa sute dari pendeta Tibet ini pun lihai sekali. Ia maklum bahwa akhirnya ia akan kalah dan roboh juga, maka diam-diam ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

Tak terasa lagi Kwan Cu memegangi tangan Yok-ong yang dekat dengan lengannya. Kwan Cu memandang ke arah Liok-te Mo-li dengan wajah ngeri, sebaliknya Yok-ong terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya diremas oleh tangan Kwan Cu. Ia merasa betapa tulang-tulang tangannya seperti akan remuk. Dari tangan pemuda itu keluar hawa yang luar biasa sekali sehingga raja tabib ini merasa seluruh lengannya lumpuh, sebentar panas sekali dan sebentar pula dingin bukan main. Ia melongo dan memandang kepada Kwan Cu, lalu dia mencoba mengerahkan seluruh hawa murni dan tenaga lweekang dari tubuhnya untuk melawan tenaga yang keluar dari tangan Kwan Cu. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lweekangnya tidak kuat menghadapi tekanan itu!

Akan tetapi perlawanannya menginsyafkan Kwan Cu bahwa tanpa disengaja dia telah memijit tangan Yok-ong dengan pengerahan tenaga sakti Im-yang Bu-tek Sin-kang yang dia pelajari dari kitab rahasia itu, maka cepat-cepat dia melepaskan pegangannya. Untuk mengalihkan perhatian Yok-ong, dia segera berbisik,

“Locianpwe, apakah yang dikeluarkan oleh Liok-te Mo-li itu?” Sebenarnya dia sudah melihat nyata bahwa nenek itu mengeluarkan daun Liong-cu-hio, daun aneh yang amat mengerikan itu, daun yang mengandung bisa luar biasa sekali dan boleh disebut raja dari sekalian bisa!

Benar saja, perhatian Yok-ong tertuju kepada nenek itu dan sekali pandang saja muka Yok-ong menjadi pucat. “Ahhh, mungkinkah ia memegang Liong-cu-hio? Celaka sekali……. !” Ia hendak melompat dan mencegah nenek itu mempergunukan daun itu, namun terlambat. Sambil tertawa-tawa aneh Liok-te Mo-li tiba-tiba melontarkan belasan helai daun itu kearah lawannya dan orang-orang yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin!

Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo adalah tokoh-tokoh kenamaan yang sudah tidak asing lagi dengan segala macam bisa, maka mencium bau aneh dari daun-daun itu, mereka cepat melompat tinggi untuk menghindarkan diri. Kemudian, dengan tongkatnya, Hek-i Hui-mo mengemplang dari atas, tepat mengenai pergelangan tangan kiri nenek itu.

“Krak!” remuklah pergelangan lengan itu sedangkan ular di tangan Coa-tok Lo-ong juga berhasil memagut leher nenek itu. Liok-te Mo-li menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi jeritnya disusul oleh suara ketawanya yang mendirikan bulu roma dan tiba-tiba tangan kanannya menyebarkan beberapa helai daun lagi sambil menggigit tongkatnya! Kemudian, secepat kilat, dibarengi suara ketawanya yang menyayat hati, sebelum dua orang lawannya sempat menyerang, ia mengemplang kepalanya sendiri dengan tongkat yang dipegangnya. Ia roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.

Akan tetapi, akibat dari penyebaran daun-daun itu hebat bukan main. Teriakan-teriakan ngeri terdengar ramai sekali di rombongan Kiam Ki Sianjin dan belasan orang perwira dan anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai roboh dengan tubuh hangus! Sekali saja terkena sambitan daun itu, hanguslah bagian tubuh yang terkena dan sebentar lagi seluruh tubuh menjadi hangus seperti terbakar! Yang hebat lagi, orang lain yang hendak menolong, baru saja menjamah tubuh kawan yang hangus itu, menjerit dan tangannya menjadi hangus pula!

Tentu saja para tokoh yang berkepandaian tinggi, dapat menyelamatkan diri dan dapat mengelak dari sambaran daun-daun itu, akan tetapi kali ini kerugian mereka benar-benar hebat sekali sehingga di fihak Kiam Ki Sianjin menjadi gempar. Kiam Ki Sianjin sendiri marah bukan main. Ia menantang pihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Pak-lo-sian jangan enak-enakan mengandalkan campur tangan dari luar! Hayo keluarkan lagi jago-jagomu!”

Coa-tok Lo-ong lalu mempergunakan sebatang pisau kecil untuk menusuk-nusuk daun-daun Liong-cu-hio itu, lalu dibungkuslah daun-daun itu dengan hati-hati dan disimpannya di saku baju. Ia kelihatan girang sekali mendapatkan daun-daun yang berbahaya ini.

“Lebih celaka lagi kalau daun-daun itu disimpan oleh manusia seperti itu.” kata Yok-ong perlahan. Wajah orang tua ini kelihatan gelisah sekali melihat akibat pertempuran yang demikian mengerikan.

Pak-lo-sian telah menanggalkan baju luarnya. Ia melihat betapa dua orang muridnya telah terluka. Sui Ceng telah terluka pula. Dua orang murid Kun-lun-pai yang masih ada tidak boleh diandalkan, maka dia hendak maju sendiri.

“Nanti dulu, Pak-lo-sian. Ingat bahwa kau adalah wakil kami, maka kau harus maju terakhir. Biarkan pinto maju lebih dulu untuk membalas kematian murid-murid pinto,” kata Seng Thian Siansu.

Pak-lo-sian menggeleng kepalanya. “Tidak bisa, Siansu. Kau adalah orang tertua maka berilah kesempatan kepadaku yang lebih muda.”

“Omongan apa yang kalian keluarkan ini? Akulah yang akan maju lebih dulu.” kata Kiu-bwe Coa-li.

“Tidak bisa!” bantah Pak-lo-sian.

“Tar! Tar! Tarrr!” Cambuk Kiu-bwe Coa-li berbunyi. “Aku maju lebih dulu dan habis perkara!” Kata-katanya ini disusul oleh gerakannya yang amat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di tengah lapanganan.

Melihat majunya Kiu-bwe Coa-li yang dianggap sebagai pembunuh murid mereka. Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu naik darahnya dan serentak mereka maju lagi sebelum didahului oleh orang lain. Hal ini menggirangkan hati Kiam Ki Sianjin sehingga dia memberi isyarat mencegah Hek-i Hui-mo yang hendak maju. Memang inilah maksud dari Kiam Ki Sianjin, yakni hendak mengadukan mereka. Ia tahu betul akan kelihaian Kiu-bwe Coa-li.

“Bagus, sekarang kami mendapat kesempatan membalas kematian murid-murid kami!” seru Bian Kim Hosiang yang cepat menyerang. Kini Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai ini tidak lagi mempergunakan toya yang dibuatnya dari kain, melainkan dia menyambar sebuah toya kuningan yang aseli, yakni senjatanya yang sejak tadi dibawa-bawa oleh seorang muridnya. Serangan toyanya amat hebat dan sambaran senjatanya ini mendatangkan angin yang berbunyi mengaung. Namun Kiu-bwe Coa-li tidak menjadi gentar, bahkan sambil mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, dia mengelak dan membalas. Sembilan ekor cambuknya menari-nari di udara, masing-masing mengeluarkan bunyi yang nyaring dan mengurung tubuh ketua Bu-tong-pai itu dari segala jurusan dengan totokan-totokan mautnya! Sebentar saja kedua orang tokoh besar itu telah saling serang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan seluruh kepandaian mereka yang amat tinggi.

Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai juga amat benci kepada Kiu-bwe Coa-li yang dianggap membunuh sutenya secara curang, maka dia pun lalu menggerakkan pedangnya mengeroyok. Perlu diketahui bahwa dua orang pendeta yang tewas secara aneh, yaitu Bin Hong Siansu adalah sute dari Bin Kong Siansu, sedangkan yang keduanya, yakni Bian Ti Hosiang adalah murid kepala dari Bian Kim Hosiang. Mereka adalah orang-orang penting dari kedua partai persilatan itu, maka kematian mereka mendatangkan kegemparan dan dendam yang hebat.

Sejak tadi, Pak-lo-sian sudah beberapa kali mendengar ucapan kedua orang ketua partai persilatan itu, maka diam-diam dia merasa amat heran dan tidak mengerti mengapa mereka menyebut dia dan Kiu-bwe Coa-li sebagai pernbunuh-pembunuh curang. Kini melihat Kiu-bwe Coa-li dikeroyok dua orang, dia menjadi penasaran dan cepat dia melompat ke dalam gelanggang pertempuran, mempergunakan kipasnya menangkis pedang di tangan Bin Kong Siansu sambil berseru.

“Bin Kong Siansu, tahan dulu!”

Bin Kong Siansu menjadi makin marah melihat majunya Pak-lo-sian. Memang Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dicarinya maka dia bersama ketua Bu-tong-pai datang di situ.

“Kebetulan sekali, kau harus mampus bersama siluman wanita itu!” bentaknya sambil menyerang.

“Nanti dulu, Siansu. Kau dan Bian Kim Hosiang agaknya amat membenci kami berdua, ada apakah?”

“Masih berpura-pura? Benar-benar tua bangka jahanam tak tahu malu. Kau dan Kiu-bwe Coa-li secara curang dan tak bermalu telah membunuh suteku dan murid kepala dari Bu-tong-pai, sekarang masih berpura-pura tanya lagi?” jawab ketua Kim-san-pai sambil menyerang terus.

“Eh, eh, eh, omongan kosong apa yang kaukeluarkan ini?” tanya Pak-lo-sian dan lagi-lagi dia menangkis.

“Kami ada bukti dan saksi, tak perlu banyak mulut lagi. Kalau kau berani, terimalah ini!” Bin Kong Siansu menyerang untuk ketiga kalinya dan kali ini serangannya amat hebat sehingga terpaksa Pak-lo-sian melayaninya.

“Kalau kau menyerangku sebagai seorang yang berfihak kepada penjilat kaisar, aku akan mengadu nyawa denganmu. Akan tetapi kau menyerangku karena salah sangka, aku tidak mau melayanimu.” Sambil berkata demikian, Pak-lo-sian hendak meninggalkan lawannya.

“Pengecut tua bangka, kau hendak mempermainkan orang dengan siasatmu! Bin Kong Siansu, jangan percaya mulut tua bangka yang memang ahli siasat dan akal bulus ini!” tiba-tiba terdengar suara yang amat tinggi dan tahu-tahu seekor ular melayang dan menyerang ke arah kepala Pak-lo-sian. Tokoh utara ini cepat mengebut dengan kipasnya sehingga kepala ular itu terdorong angin kipas dan dia melanjutkan dengan menotokkan ujung gagang kipas ke arah penyerangannya. Coa-tok Lo-ong, penyerang itu, cepat mengelak karena dia maklum akan kelihaian lawannya.

Bin Kong Siansu tadinya juga merasa heran melihat penyangkalan Pak-lo-sian, akan tetapi ucapan dari Coa-tok Lo-ong ini membuat dia tidak ragu-ragu lagi dan cepat dia membantu Coa-tok Lo-ong, memutar pedang dan menyerang Pak-lo-sian. Dengan demikian, Siangkoan Hai dikeroyok dua! Bagaimana Bin Kong Siansu bisa ragu-ragu lagi? Surat peninggalan yang ditandatangani oleh sutenya dan murid kepala Bu-tong-pai sudah menjadi bukti yang nyata, apalagi masih ada saksi hidup yang kini pun berada dan hadir di tempat itu, yakni Siok Tek To-jin. Maka dia percaya penuh akan kata-kata Coa-tok Lo-ong dan menganggap bahwa seorang yang begitu curang membunuh sutenya, tentu takkan segan-segan untuk mempergunakan siasat untuk mencoba menyangkal perbuatannya itu.

Melihat Pak-lo-sian sudah dikeroyok dua oleh Bin Kong Siansu dan Coa-tok Lo-ong, Hek-i Hui-mo lalu melompat pula dan membantu Bian Kim Hosiang mengeroyok Kiu-bwe Coa-li. Pertempuran menjadi makin ramai dan hebat dengan masuknya Hek-i Hui-mo ini.

“Tidak adil….! Sungguh tidak adil……..!” bentak Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang “menggelundung” naik dan menyerbu di tempat pertempuran. “Adu kepandaian macam apa ini? Sungguh tak tahu malu, kiranya hanya main keroyokan saja.”

“Eh, Jeng-kin-jiu, kau mau apakah?” tiba-tiba berkelebat bayangan dan di depannya sudah menghadang Kiam Ki Sianjin dan Toat-beng Hui-houw. “Apakah kau mau membantu fihak pemberontak yang mengacaukan negara?”

“Aku tidak membantu mana-mana! Aku hanya menghendaki agar pertempuran-pertempuran yang berat sebelah ini dihentikan! Aku sudah menyesal sekali dahulu dapat diperkuda oleh An Lu Shan sehingga aku kesalahan tangan membunuh Ang-bin Sin-kai sahabat baikku. Sekarang ini, kalian tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, yang mewakili semua orang gagah di dunia, yang katanya memiliki kedudukan batin lebih tinggi daripada orang biasa, apakah hanya untuk seorang raja saja kalian sampai mengadu nyawa mati-matian?”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Kiam Ki Sianjin sambil tersenyum mengejek.

“Kiam Ki Sianjin, ketika kau masih mengeram di dalam goa di gunungmu, aku sudah berada di istana, akan tetapi kau sekarang bersikap seakan-akan kau sudah menjadi seorang jenderal! Alangkah sombongmu. Dengarlah baik-baik kalau memang kau seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kalau pibu (adu kepandaian) ini memang akan diteruskan, berlakulah jujur dan tidak secara pengecut. Biarkan seorang melawan seorang, jangan main keroyokan. Aku sudah ribuan kali bertempur dan ratusan kali menghadapi pibu, akan tetapi selama hidupku baru kali ini menyaksikan pibu yang demikian tidak tahu malu!”

“Jeng-kin-jiu, kau adalah orang luar. Biarpun aku sudah memanggilmu ke sini, akan tetapi ternyata kau menarik diri sendiri dan menjadi penonton dan orang luar. Kau peduli apa? Kau lihat sendiri, mereka bertempur atas kehendak mereka, tidak ada yang memaksa. Kalau mereka memang suka berdamai, mengapa mereka memaksa hendak mengadakan adu kepandaian? Sudahlah, kami tak hendak menyeret kau dalam pertandingan ini, lebih baik kau keluar dan turun dari gunung ini.”

“Tak mungkin! Aku bisa membiarkan kalian bertanding kalau memang adil, akan tetapi aku paling benci kecurangan dan ketidakadilan. Tak boleh aku berpeluk tangan saja melihat hal ini terjadi di depan mataku!” Sambil berkata demikian, Jeng-kin-jiu siap untuk menyerang dan membantu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dikeroyok dan didesak hebat oleh para pengeroyoknya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar ledakan dua kali dan asap tebal sekali berwarna hitam campur putih, memenuhi tempat itu. Jeng-kin-jiu yang berada agak jauh dari ledakan ini, kaget dan cepat melompat mundur ke dekat Kwa Ok Sin kembali karena mencium bau yang amat keras. Akan tetapi semua orang yang berada di gelanggang pertempuran, kecuali Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo, menjadi terhuyung-huyung dan bernapas terengah-engah lalu roboh terguling! Mereka yang roboh ini adalah Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu!

Apakah yang terjadi? Tak seorang pun mengetahuinya bahkan Yok-ong hanya berseru perlahan kepada Kwan Cu “Itulah asap berbisa obat pembius yang sering dipergunakan oleh penjahat dari See-than (negeri barat)! Heran dari mana datangnya asap itu?”

Akan tetapi biarpun Kwan Cu juga tidak melihat siapa yang mempergunakannya dia telah tahu dengan baik bahwa yang mengeluarkan obat bius itu tentulah Coa-tok Lo-ong sute dari Hek-i Hui-mo karena dahulu di kuil tempat tinggal Siok Tek Tojin, dia pernah mencium bau asap itu.

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak sedangkan Coa-tok Lo-ong cepat menciumkan obat penawar di depan hidung Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dalam beberapa detik saja mereka ini telah siuman kembali dan menjadi terheran-heran. Akan tetapi, Hek-i Hui-mo cepat menghampiri tubuh Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, lalu menotok mereka sehingga sebelum orang lain dapat mencegahnya, kedua tulang pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li telah terlepas sambungannya! Mereka untuk beberapa lama takkan dapat bersilat sebelum tulang itu disambung kembali!

“Ji-wi Pai-cu dari Bu-tong dan Kim-san, sekarang musuh-musuh besar Ji-wi sudah roboh. Tidak membalas dendam sekarang, mau tunggu kapan lagi?” kata Kiam Ki Sianjin kepada ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi kedua orang ini yang mempunyai kedudukan tinggi dalam partai mereka, tentu saja merasa malu untuk membinasakan lawan yang roboh karena pengaruh obat bius. Melakukan hal itu dianggap amat rendah. Akan tetapi kalau tidak membunuh mereka sekarang, bukanlah hal yang mudah untuk merobohkan kedua orang tokoh besar itu selagi mereka sadar. Karenanya, dua orang ketua partai ini menjadi ragu-ragu dan bersangsi.

“Kalau Ji-wi tidak tega, biarlah aku yang membunuh mereka!” kata Coa-tok Lo-tong sambil melompat maju ke arah Kiu-bwe Coa-li dan serentak dia menggerakkan ularnya ke arah tenggorokan Kiu-bwe Coa-li!

“Bangsat rendah, pergilah kau!” tiba-tiba dari samping, Coa-tok Lo-ong merasa ada sambaran angin yang dahsyat sekali, karena dia tidak dapat mengelak lagi, dia membatalkan serangannya terhadap Kiu-bwe Coa-li dan mempergunakan tangan kirinya untuk menangkis.

“Duk!” dua tangan beradu dan Coa-tok Lo-ong terlempar sampai dua tombak lebih, akan tetapi Jeng-kin-jiu yang menyerangnya juga terpental ke belakang sampai empat kaki! Ternyata bahwa dua orang tokoh ini hampir sama kehebatan tenaga mereka, akan tetapi ternyata bahwa tenaga raksasa dari Jeng-kin-jiu masih unggul. Berkat tingginya lweekang mereka, adu tenaga tadi tidak mendatangkan luka di dalam tubuh.

“Jeng-kin-jiu, kau bukan orang luar lagi sekarang, akan tetapi pembantu pemberontak!” bentak Hek-i Hui-mo yang cepat mengayun tongkat kepala naga menyerang kepala Jeng-kin-jiu.

“Bangsat Hek-i Hui-mo, lupakah kau akan perundingan kita dulu?” seru Jeng-kin-jiu sambil menangkis ayunan tongkat itu dengan toyanya. Pertemuan tongkat dan toya yang digerakkan dengan tenaga raksasa ini menimbulkan suara keras dan orang-orang yang berada di dekat situ merasai getaran yang hebat. Sebagaimana diketahui dahulu memang Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu keduanya membantu An Lu Shan, bahkan ketika tokoh-tokoh besar berjiwa patriot seperti Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian dan yang lain-lain datang menyerbu istana, mereka inilah yang melindungi An Lu Shan dan menyelamatkan nyawa kepala pemberontak itu. Akan tetapi kemudian, melihat betapa rakyat Han berjuang terus, bahkan dipimpin oleh orang-orang pandai, Jeng-kin-jiu baru terbuka matanya bahwa hal yang dia kerjakan bukanlah main-main belaka. Ia boleh disuruh menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw yang bagaimana pandai pun, akan tetapi menghadapi gelombang perjuangan rakyat bangsanya sendiri, dia bergidik dan merasa ngeri. Oleh karena ini dia lalu mengajak berunding dengan kawan-kawannya, yakni Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw dan yang lain-lain, menyatakan kekhawatirannya karena ternyata bahwa yang mereka lindungi adalah musuh rakyat jelata, bukan musuh Kaisar Tang sebagaimana yang tadinya mereka kira. Jeng-kin-jiu semenjak itu lalu mengasingkan diri di atas gunung, menyesali perbuatannya yang telah membikin banyak orang gagah gugur termasuk Ang bin Sin-kai. Sebaliknya, Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw dan yang lain-lain kena dibujuk lagi oleh Kiam Ki Sianjin sehingga mereka kini kembali membantu kaisar asing. Hal ini adalah karena Hek-i Hui-mo memang berdarah Tibet maka dia tidak peduli akan perjuangan bangsa Han.

Kini dua orang tokoh besar yang sama gemuknya dan sama pula lihainya itu bertanding. Kalau tadinya Kwan Cu sudah mau melompat maju melihat Coa-tok Lo-ong mempergunakan asap obat bius, kini dia mengurungkan niatnya lagi. Kejadian itu semua terjadi demikian cepat dan kini Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertotok pundak mereka, menggeletak dalam keadaan masih pingsan. Melihat betapa fihak Pak-lo-sian kini tinggal Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang amat tua itu, Kwan Cu sudah ingin sekali membantu mereka, akan tetapi kembali niatnya ini terpaksa dia tunda karena kini dia asyik menyaksikan pertarungan antara Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo. Hatinya berdebar tegang. Kedua orang ini termasuk pengeroyok-pengeroyok dan pembunuh-pembunuh Ang-bin Sin-kai, juga dia masih ingat betul bagaimana ketika dia masih kecil, dua orang tokoh besar ini pun pernah menawan dan ikut menyiksanya untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Akan tetapi tiba-tiba semacam perasaan yang aneh terasa olehnya. Biarpun dia akui bahwa dua orang yang bertempur itu adalah musuh-musuh dan pembunuh gurunya, jadi keduanya juga musuh yang harus dia balas, namun melihat mereka berdua saling serang itu hati Kwan Cu condong Kepada Jeng-kin-jiu dan dia mengharapkan kemenangan bagi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu! Hal ini sebetulnya tidak mengherankan bagi kita, karena memang anak ini ketika pertama kali muncul di dunia ramai, ditemukan oleh Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai sebagai orang satu-satunya yang selamat dari kapal yang tenggelam oleh badai dan ombak. Kemudian, bahkan Jeng-kin-jiu yang memberi nama Kwan Cu kepadanya sedangkan Ang-bin Sin-kai yang memberi nama keturunan Lu. Biarpun tokoh-tokoh aneh itu tidak menyatakan, akan tetapi setidaknya Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai adalah seperti “ayah-ayah angkat” bagi Kwan Cu. Tentu saja dia lebih sayang kepada Ang-bin Sin-kai karena pengemis sakti ini selain menjadi gurunya, juga sikapnya lebih baik terhadapnya.

Ketika Kwan Cu memperhatikan jalannya pertempuran, ternyata bahwa betapapun lihainya Jeng-kin-jiu dengan toyanya, namun tongkat dan tasbih Hek-i Hui-mo masih lebih lihai lagi. Memang, dahulu ketika mereka masih memperebutkan Kwan Cu dan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tingkat atau ketangguhan ilmu silat mereka seimbang. Akan tetapi, semenjak dia mendengar isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng salinan yang dibaca oleh pujangga Tu Fu, dia lalu mendapat kemajuan yang hebat dan juga aneh, seperti halnya Kiu-bwe Coa-li yang juga ikut mendengarkan. Tadi ketika dikeroyok kalau saja tidak keburu Coa-tok Lo-ong melepaskan asap berbisa yang amat ampuh, agaknya takkan ada yang sanggup mengalahkan atau meroboh kan Kiu-bwe Coa-li.

Kwan Cu melihat betapa Jeng-kin-jiu ternyata masih kalah setingkat, menjadi ikut penasaran. Dalam hal tenaga, agaknya Jeng-kin-jiu tidak kalah, akan tetapi ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo benar-benar aneh dan ditambah pula dengan tasbihnya yang merupakan tangan maut menyambar-nyambar, keadaan Jeng-kin-jiu amat terdesak. Tiba-tiba Kwan Cu mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang mengandung kemarahan besar, akan tetapi dia tidak berbuat sesuatu, karena kesadarannya mengingatkan bahwa yang bertempur adalah musuh-musuh besar gurunya. Ia mengeluarkan seruan ketika melihat kecurangan yang terjadi dalam pertempuran itu. Tanpa disangka-sangka, Coa-tok Lo-ong menyerang Jeng-kin-jiu dengan senjata rahasia yang amat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata.

“Itu jarum-jarum Coa-tok-ciam…….. ” Yok-ong juga berseru perlahan.

Jeng-kin-jiu bukanlah seorang yang disebut tokoh nomor satu di selatan kalau dia tidak tahu akan serangan gelap ini. Biarpun jarum-jarum itu amat halus dan tidak kelihatan oleh mata, namun dia masih dapat mendengar suara angin senjata rahasia ini dan cepat-cepat dia mengebutkan tangan baju sebelah kiri. Ia tidak dapat berbuat lain karena pada saat itu, Hek-i Hui-mo sedang melakukan serangan yang hebat dan mendesaknya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyingkirkan diri. Oleh karena ini, biarpun dia dapat mempergunakan ujung lengan baju menyampok jatuh banyak jarum-jarum Coa-tok-ciam (Jarum Racun Ular) namun dia tidak dapat sama sekali membebaskan diri dari ancaman jarum-jarum yang dilontarkan dalam gelombang ke dua. Tiga batang jarum hitam yang amat halus telah mengenai tubuhnya, sebatang di paha, sebatang di pundak dan sebatang lagi merasuki punggungnya.

Kalau orang lain yang terkena jarum-jarum ini, tentu akan roboh pada saat itu juga. Akan tetapi Jeng-kin-jiu adalah seorang yang tubuhnya sudah penuh oleh hawa murni dan tenaga lweekangnya sudah dapat dia salurkan sampai ke ujung-ujung kuku. Maka begitu merasa tiga bagian tubuhnya itu gatal-gatal dan sakit, dia cepat mempergunakan Ilmu Pi-khi-koan-hiat (Menutup Hawa Menghentikan Jalan Darah) sehingga racun dari Coa-tok-ciam yang memasuki tubuhnya tidak dapat menjalar dan hanya mengeram di sekitar jarum itu saja.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa terkurung, Jeng-kin-jiu lalu memutar toyanya dengan tenaga raksasa, dia maju dan menyerang membabi-buta. Terutama sekali dia mengejar Coa-tok Lo-ong yang sudah melukainya dengan cara amat curang itu.

Coa-tok Lo-ong terkejut sekali karena tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu sudah tiba di depannya dan memukul dengan kerasnya. Ia mengelak dan berbareng dari samping menyabetkan ularnya ke arah dada Jeng-kin-jiu. Akan tetapi, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mengulur tangan kiri, menangkap kepala ular itu dan sekali remas saja, hancurlah kepala ular itu! Berbareng dengan itu, kembali dia mengirim serangan dengan toyanya. Coa-tok Lo-ong cepat menyingkir dan sebentar saja Jeng-kin-jiu yang mengamuk seperti singa gila itu telah dikurung oleh Hek-i Hui-mo dan lain-lain. Bahkan kini para perwira juga ikut mengepungnya. Akan tetapi mereka ini hanya mengantar nyawa dengan sia-sia saja karena sebentar saja di tangan Jeng-kin-jiu telah menghancurkan kepala beberapa orang pengeroyok.

“Mundur semua……!” seru Kiam Ki Sianjin yang kini ikut mengepung pula. “Biarkan para cianpwe yang membunuh anjing gila ini!”

Akan tetapi keributan semua ini sebetulnya tidak ada gunanya. Pada saat dia mengamuk, terpaksa untuk menyalurkan tenaga lweekang pada gerakan-gerakannya, kadang-kadang Jeng-kin-jiu harus melepaskan Ilmu Pi-khi-koan-hiat sehingga racun-racun itu mulai menjalar di tubuhnya. Maka tiba-tiba dia merasa kedua matanya gelap. Sambil meramkan mata, hwesio yang kosen ini masih saja mengamuk terus, dan dia hanya melindungi tubuh dan melakukan serangan semata-mata menurutkan pendengaran telinganya saja.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Racun telah sampai di jantungnya dan tanpa mengeluarkan keluhan sedikit pun, Jeng-kin-jiu roboh dan tewas dengan toya masih berada dalam genggaman tangannya! Melihat hal ini, semua orang tertegun dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi.

“Inilah seorang yang gagah perkasa benar-benar, patut ditiru oleh kita semua. Demikianlah hendaknya sikap seorang gagah dan namanya takkan terlupa oleh keturunan kita!” kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

Pada saat pertempuran terjadi, Sui Ceng telah menghampiri gurunya dan berlutut di depan tubuh gurunya dengan muka sedih. Demikian pula Kun Beng dan Swi Kiat telah berlutut di depan Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Dua tokoh besar ini telah siuman dari pingsannya dan kini mereka hanya memandang murid-murid mereka dengan senyum tawar. Mereka tak berdaya, dan biarpun mereka dengan bantuan murid-murid mereka dapat duduk, namun kedua pundak mereka tak dapat digerakkan lagi sehingga tak mungkin mereka menghadapi lawan dalam pertempuran.

“Sekarang boleh dilakukan hukuman terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang membunuh murid-murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!” kata Coa-tok Lo-ong tanpa mengenal malu sambil memandang kepada dua orang ketua partai Bu-tong-pai dah Kim-san-pai.

“Asal mereka sudah mengaku dan memberi tahu mengapa mereka melakukan pembunuhan secara curang terhadap muridku, pinto sudah puas dan bersedia memaafkan mereka,” kata Bin Kong Sian-su ketua Kim-san-pai. Mendengar ini, Bian Kim Hosiang juga mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai mendengar omongan itu lalu tertawa bergelak. Biarpun kedua pundak dan lengannya tidak dapat digerakkan lagi, namun tubuhnya masih kuat dan sekali menggerakkan kaki, dia telah melompat berdiri, kedua muridnya berdiri di kanan-kirihya. Sikapnya masih gagah, hanya kedua lengannya saja yang tergantung tak berdaya.

“Dua orang Ciangbunjin dari Bu-tong dan Kim-san agaknya sudah gila, buta atau memang sudah kembali menjadi anak-anak kecil. Aku Siangkoan Hai, selama hidup tidak pernah berbuat curang, sungguhpun sudah berkali-kali dicurangi orang seperti yang baru saja kualami ini. Maka dua orang Ciangbunjin harap membuka mata lebar-lebar dan mempergunakan pula otaknya!”

“Benar, kalian ditipu oleh jahanam-jahanam tak tahu malu seperti Coa-tok Lo-ong, masih keenakan saja, mana orang-orang macam kalian ini pantas menjadi ketua dari partai-partai besar?” kata Kiu-bwe Coa-li yang juga sudah berdiri, Sui Ceng berdiri di sebelahnya dan kini cambuk berekor sembilan itu dipegang oleh Sui Ceng. Biarpun gadis ini masih agak lemah dan pundaknya masih terasa sakit, ia dengan gagah berdiri di samping gurunya, siap membelanya mati-matian.

Mendengar kata-kata Kiu-bwe Coa-li yang tidak disengaja mendakwa kepada Coa-tok Lo-tong, sute dari Hek-i Hui-mo ini berubah mukanya. Akan tetapi Kiam Ki sianjin yang mendalangi semua itu, menjadi khawatir sekali. Tokoh-tokoh besar yang pro rakyat kini sudah tak berdaya, tidak membasmi mereka sekarang mau tunggu kapan lagi? Kalau mereka ini sudah tewas, berapa besar kekuatan pemberontak?

“Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, biarpun kalian sekarang sudah dikalahkan, aku masih membuka kesempatan bagimu. Kalau kalian suka tunduk dan berjanji akan membantu kami atau akan membujuk agar supaya para pemimpin pemberontak mengundurkan diri, kami akan memberi ampun kepada kalian dan murid-murid serta kawan-kawanmu.”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: