Pendekar Sakti (Jilid ke-35)

“Bangsat tua, siapa sudi mendengar omongan-omonganmu? Mau bunuh lekas bunuh, habis perkara!” kata Kiu-bwe Coa-li dan biarpun kedua lengannya sudah lumpuh tak dapat digerakkan lagi, namun sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat dan sepasang kakinya siap untuk mengirim tendangan maut.

“Kiam Ki Sianjin, anjing penjilat belang! Apa sih sayangnya kalau tulang-tulangku yang keropos ini dihancurkan? Aku akan mati sebagai seorang gagah, bukan seperti kau yang kelak mampus seperti anjing penjilat kelaparan yang tidak dipakai lagi oleh majikanmu, penjajah asing!” Pak-lo-sian Siangkoan Hai mencaci.

Naik darah Kiam Ki Sianjin mendengar ini dan dia lalu mencabut pedangnya. Ia adalah seorang tokoh besar yang dijuluki Pak-kek-sian-ong, bagaimana dia bisa menelan mentah-mentah hinaan ini?

“Kalau begitu mampuslah kalian!” bentaknya.

Akan tetapi tiba-tiba Seng Thian Siansu melompat dan pedangnya menangkis pedang di tangan Kiam Ki Sianjin.

“Nanti dulu, Kiam Ki Sianjin. Biarpun kawan-kawanku telah kalah oleh akal busuk, akan tetapi di fihakku masih ada aku orang tua. Kalau aku sudah kalah, boleh kalian berbuat sesuka hatimu terhadap kami. Hayo, majulah, aku menyediakan selembar nyawaku yang tidak berharga!” Biarpun sudah amat tua dan lemah, ketua Kun-lun-pai ini berdiri dengan gagahnya, pedangnya siap di tangan melakukan gerak Sian-jin-tit-louw (Dewa Menunjuk Jalan), membuka kuda-kudanya dengan tenang sekali.

Seng Thian Siansu adalah ketua Kun-lun-pai, seorang tua yang banyak dikenal dan disegani orang. Sebagai seorang ciangbunjin dari partai yang amat besar, dia dihormati sekali dan karenanya kali ini setelah dia yang maju, dari fihak Kiam Ki Sianjin tidak ada yang berani mengeroyok. Akan tetapi mereka ini tidak menjadi gentar, karena para tokoh ini maklum bahwa Seng Thian Siansu sekarang berbeda dengan Seng Thian Siansu sepuluh dua puluh tahun yang lalu. Kakek ini sudah terlalu tua dan kabarnya sudah beberapa kali menderita sakit tua sehingga amat lemah dan tidak memiliki lagi tenaga besar .

Toat-beng Hui-houw hendak mencari jasa, maka sambil tertawa-tawa dia melompat maju menghadapi Seng Thian Siansu.

“Aku mohon pengajaran dari Siansu yang namanya tersohor di kolong langit,” katanya sambil menyeringai dan menggerakkan kedua tangan sehingga sepuluh kukunya terulur panjang. Kemudian dengan gerakan cepat sekali dia maju menyerang dengan sepasang tangannya yang digerakkan seperti seekor harimau mencakar. Tidak ketinggalan kedua kakinya mengirim tendangan bertubi-tubi sehingga dia benar-benar kelihatan seperti seekor harimau menyerang.

Seng Thian Siansu adalah seorang ketua dari partai besar, tentu saja ilmu kepandaiannya amat tinggi. Ia adalah ahli waris dari ilmu silat Kun-lun-pai dan tentang kepandaian, dia jauh lebih menang daripada Toat-beng Hui-houw. Akan tetapi sayang sekali, sudah ada belasan tahun dia termakan oleh usia tua sehingga tenaganya sebagian lenyap dan juga kegesitannya berkurang banyak. Bagaikan sebatang pedang pusaka yang ampuh, apa dayanya kalau sudah dimakan karat? Maka begitu pedangnya yang menangkis serangan Toat-beng Hui-houw terbentur oleh kuku tangan kakek seperti siluman ini, dia merasa telapak tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dengan cepat Seng Thian Siansu terkurung dan terdesak hebat oleh Toat-beng Hui-houw yang menyerang sambil tertawa-tawa mengejek. Akan tetapi dia salah kira kalau dapat dengan mudah mengalahkan kakek yang usianya sudah tinggi sekali itu. Ilmu pedang dari Seng Thian Siansu sudah mencapai tingkat mendekati kesempurnaan, maka daya tahannya juga amat luar biasa. Sayang sekali, seperti sudah dituturkan di atas, tenaga kakek ini sudah amat terbatas, demikian pula kecepatannya. Ia sudah mulai terengah-engah, akan tetapi dengan semangat penuh dia masih terus mempertahankan diri.

Kwan Cu sudah bergerak hendak melompat, akan tetapi kembali Yok-ong mencegahnya.

“Bagaimana kita bisa membantu kalau mereka bertempur satu lawan satu?” katanya.

Kwan Cu menjadi bingung. Sejak tadi dia hendak membantu fihak Pak-lo-sian, akan tetapi kesempatan baik belum ada. Tentu saja dia pun harus tunduk pada Yok-ong yang mengemukakan alasan-alasan kuat. Sebagai orang gagah dia harus bisa memegang aturan.

Seng Thian Siansu kini benar-benar terdesak hebat. Pada suatu saat, Toat-beng Hui-houw yang merasa penasaran sekali mengapa sebegitu lama belum juga dia bisa mengalahkan kakek tua renta itu, membentak keras dan kedua tangannya dapat menangkap tangan ketua Kun-lun-pai itu yang memegang pedang. Seng Thian Siansu merasa tangan kanannya sakit sekali bagaikan terjepit oleh jepitan baja. Kuku-kuku kedua tangan Toat-beng Hui-houw amblas ke dalam tangannya dan menghancurkan tangan itu. Akan tetapi, sambil menahan sakit, ketua Kun-lun-pai ini menggunakan tangan kirinya untuk memukul sambil mengerahkan seluruh tenaga terakhir ke arah dada Toat-beng Hui-houw.

“Blek!” Toat-beng Hui-houw mengeluarkan gerengan seperti seekor macan terpukul. Tubuhnya terhuyung dan dia muntahkan darah segar. Biarpun tenaga kakek Kun-lun-pai itu tidak begitu besar, akan tetapi karena rasa sakit pada tangan kanannya, tenaganya bertambah dan pukulan itu hebat sekali. Akan tetapi, dia sendiri terpaksa harus melepaskan pedangnya dan tangan kanannya sudah bukan berupa tangan lagi. Jari-jarinya putus dan tangan itu hancur! Seng Thian Siansu maklum bahwa selain tangan kanannya hancur juga darahnya telah kemasukan racun yang keluar dari kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw, maka dia lalu duduk bersila meramkan mata, menanti datangnya maut dengan tenang.

Sebaliknya, Toat-beng Hui-houw akhirnya roboh pingsan. Pada saat semua orang masih bengong melihat pertempuran yang berakibat hebat itu, tiba-tiba Sui Ceng melompat, menyambar pedang Seng Thian Siansu yang jatuh di atas tanah dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, gadis ini mengayun pedang dan putuslah leher Toat-beng Hui-houw!

Sesaat semua orang terkesima, akan tetapi segera gegerlah orang-orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin. Beberapa orang melompat maju dan Kiam Ki Sianjin sendiri berseru,

“Curang sekali……!”

Bun Sui Ceng setelah memenggal kepala Toat-beng Hui-houw, lalu tertawa nyaring dan berkata, “Ibu, terbalaslah sudah dendam hatimu terhadap siluman ini!” Kemudian dengan air mata mengucur gadis ini berdiri dengan gagahnya menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya.

“Bukan Seng Thian Siansu yang curang, akan tetapi aku sendiri Bun Sui Ceng yang sengaja memenggal kepala siluman ini, untuk membalas sakit hati ibuku yang tewas di tangannya. Siapa tidak terima? Boleh maju! Untuk perbuatanku tadi, aku sanggup menghadapi segala akibatnya!”

“Tangkap dia!”

“Bunuh dia!”

“Basmi semua pemberontak!”

Teriakan-teriakan ini terdengar saling susul dan semua orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, kecuali orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, serentak maju hendak menggempur Sui Ceng dan yang lain-lain.

“Tahan dulu…….!!” Tiba-tiba bayangan yang amat cepatnya melayang dan menyambar-nyambar, diikuti bayangan lain yang juga amat gesitnya. Bayangan pertama adalah Kwan Cu yang tak dapat menahan hatinya lagi, apalagi ketika melihat betapa Sui Ceng berada dalam bahaya hendak dikeroyok. Begitu tiba ditempat itu, Kwan Cu menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengeroyok. Dengan amat cepat, tanpa dapat terlihat oleh lain orang, dia telah memukul mundur semua orang dengan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut. Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya hanya merasa adanya angin yang kuat sekali mendorong mereka mundur beberapa tindak dan ternyata tahu-tahu pemuda dusun yang tadi dianggap tolol telah berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang.

Adapun bayangan ke dua adalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Berbeda dengan Kwan Cu raja tabib ini dengan cepat sekali seperti burung menyambar-nyambar, telah dapat menyambar tubuh Thian Seng Siansu, kemudian berturut-turut dia menyambar tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li, dibawa ke belakang, kemudian tanpa mempedulikan Sesuatu dia mengobati tokoh-tokoh yang terluka ini. Pertama-tama dia mempergunakan obat untuk mengobati luka di tangan Seng Thian Siansu karena keadaan kakek ini yang paling hebat. Setelah menotok beberapa jalan darah, Yok-ong lalu memberi obat pada tangan yang rusak dan memberi pil ke dalam mulut kakek ini yang memandangnya dengan penuh keheranan dan kekaguman.

Setelah itu, barulah Yok-ong memeriksa di pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Karena dia amat lihai dalam ilmu mengobatan, tulang pundak yang sudah terlepas dan kalau menurut ahli pengobatan lainnya baru akan sembuh sedikitnya dua pekan, sebentar saja Yok- ong sudah dapat menyambungnya dengan baik!

“Sayang tak boleh mengerahkan tenaga lweekang di kedua lengan pada hari ini, harus menanti sampai dua hari.” kata Yok-ong kepada dua orang tokoh itu.

“Eh, muka hitam! siapakah kau yang sudah berpura-pura dungu dan bodoh, menyamar sebagai petani ini?” tanya Kiu-bwe Coa-li dengan heran sekali.

Pak-lo-sian tertawa. “Ha-ha-ha, didunia ini yang dapat mengobati orang seperti ini hanyalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Bukankah kau Yok-ong?”

Akan tetapi Yok-ong tidak menjawab, hanya menudingkan telunjuk ke depan dan mukanya berubah terheran-heran Sehingga dia menjadi bengong. Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li juga memandang ke depan. Mereka melihat betapa Sui Ceng sudah mundur, juga kini Sui Ceng, Kun Beng, swi Kiat dan dua orang anak murid Kun-lun-pai, memandang dengan bengong ke tengah lapangan adu silat tadi. Memang apa yang mereka lihat amat mengherankan hati mereka.

Kwan Cu dengan tangan bertolak pinggang menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya. Pemuda ini kelihatan marah sekali, akan tetapi mukanya kelihatan amat lucu karena muka yang berwarna merah seperti udang direbus itu tidak dapat digerakkan sehingga seperti topeng saja.

“Kalian ini pengkhianat-pengkhianat bangsa dan anjing-anjing penjilat selalu memutarbalikkan duduknya perkara. Diri sendiri pengecut dan curang mengatakan orang lain curang. Sungguh tak tahu malu!”

Karena Kwan Cu sengaja mengubah suaranya, Kiam Ki Sianjin tidak mengenalnya. Akan tetapi karena melihat betapa pukulan anak muda ini benar-benar lihai, dia berlaku hati-hati dan menjawab,

“Bocah dusun! Bagaimana kau bisa bilang begitu? Memang fihak Pak-lo-sian amat curang, kalau tidak curang, mengapa gadis itu membunuh Toat-beng Hui-houw yang sedang tak berdaya?”

“Nona itu membunuh siluman Toat-beng Hui-houw bukan untuk mengeroyok dan bukan untuk berlaku curang. Kalian sudah mendengar sendiri bahwa ibunya terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw! Pembalasan dendam tidak boleh dicampur-adukkan dengan perbuatan curang. Andaikata kalian menganggapnya mengeroyok, biarlah itu dianggap pula sebagai pembalasan karena bukankah kalian tadi juga mengeroyok ketika kedua locianpwe Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian maju?”

“Setan kecil! Kalau kau memang murid seorang pandai dan mengaku sebagai orang gagah atau pendamai, ternyata kau berat sebelah! Mungkin sekali Toat-beng Hui-houw membunuh ibu gadis itu, akan tetapi siapa tahu kalau memang ibu gadis itu penjahat besar?”

Kwan Cu tertawa dan dia menjura kepada Kiam Ki Sianjin dengan penghormatan yang sifatnya mengejek.

“Harap Locianpwe suka mendengarkan dongenganku sebentar. Toat-beng Hui-houw, adalah suheng dari Tauw-cai-houw, saikong yang berwatak keji dan suka makan daging anak-anak kecil. Pada suatu hari pendekar wanita Pek-cilan Thio Loan Eng yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru dunia, menewaskan bangsat keji itu dengan pedangnya. Bukankah itu sudah adil? Lalu siluman tua ini, Toat-beng Hui-houw, melakukan pembalasan terhadap Pek-cilan Lihiap. Inipun boleh-boleh saja karena memang dia suheng dari Tauw-cai-houw. Akan tetapi tahukah Locianpwe bagaimana cara Toat-beng Hui-houw membalas dendam? la menawan Pek-cilan Lihiap, kemudian selagi pendekar wanita itu masih hidup, dia menggigit lehernya dan mengisap darahnya sampai habis!”

Terdengar seruan-seruan kaget, dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai beserta anak murid mereka bergidik mendengar perbuatan yang amat keji dan di luar perikemanusiaan ini! Bun Sui Ceng menjadi pucat dan ia mengeluarkan pertanyaan tanpa disadarinya.

“Siapa dia yang mengerti semua peristiwa itu?”

Pertanyaan ini terdengar pula oleh Kiam Ki Sianjin yang juga menjadi penasaran, maka tanyanya.

“Orang muda, siapakah namamu dan apa kehendakmu sekarang?”

“Namaku? Aku adalah Ang-bin Siauw-bu-beng (Si Kecil Tak Bernama Yang Bermuka Merah). Dan kehendakku? Tak lain kedatanganku ini untuk mendongeng!”

Semua orang, baik dari fihak Kiam Ki Sianjin maupun di fihak Pak-lo-sian Siang-koan Hai, tak seorang pun yang pernah mendengar nama julukan Ang-bin Siauw-bu-beng, maka mereka memandang heran. Apalagi ketika Kwan Cu menyatakan bahwa kedatangannya untuk mendongeng! Sui Ceng hampir tak dapat menahan ketawanya karena ia merasa amat lucu. Bagaimana di tengah-tengah medan pertandingan mati-matian yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa orang, pemuda muka merah yang buruk rupa ini datang hendak mendongeng? Sungguh menggelikan.

Akan tetapi Kiam Ki Sianjin marah bukan main. Ia adalah seorang ahli silat kelas satu, masa sekarang dia boleh di permainkan begitu saja oleh seorang badut muda ?

“Jangan kau main-main, lekas pergi kalau kau tidak ingin remuk tulang-tulangmu. Siapa sudi mendengar ocehan dan dongenganmu?” Sambil berkata demikian, dia mendorong dengan kedua tangannya dengan sikap seperti orang mau mengusir. Akan tetapi sebenarnya dalam dorongannya ini, dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang luar biasa dahsyatnya.

Kwan Cu hanya merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah kedua tangannya diangkat seperti orang yang mencegah orang yang hendak memukulnya. Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Tadi dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang dan dia tahu bahwa jangankan pemuda aneh ini, biarpun batu yang beratnya beribu kati akan terguling terkena dorongannya ini. Baru angin dorongannya saja sudah bertenaga sedikitnya tiga ratus kati. Akan tetapi, pemuda itu dengan merendahkan tubuh dan mengangkat kedua tangan, ternyata dari angkatan tangan ini keluar sebuah tenaga tersembunyi yang dari bawah mendorong tangan Kiam Ki Sianjin ke atas sehingga dorongan tenaga Jian-mo-kang lewat di atas kepala Kwan Cu mengenai angin kosong! Daun-daun pohon yang berada di sebelah belakang Kwan Cu, seperti tertiup angin ketika terkena sambaran tenaga Jian-mo-kang yang menyeleweng ke atas ini dan rontoklah banyak daun pohon itu!

“Locianpwe, ampunkan selembar nyawaku dan jangan bunuh aku dulu sebelum boanpwe (aku yang rendah) mendongeng,”. kata Kwan Cu sambil tersenyum. “Tadi sudah kuceritakan dongeng tentang Toat-beng Hui-houw sehingga kita semua kini tahu akan macam orang itu dan kiranya sudah sepatutnya kalau nona yang lihai itu membunuhnya. Sebelum mendongeng tentang para locianpwe yang masih hidup, aku akan mulai dengan yang sudah tewas, yakni Jeng-kin-jiu Locianpwe. Dia itu memang sekarang tewas sebagai seorang gagah, akan tetapi harus disayangkan bahwa kematiannya itu merupakan penebusan dosa dari penyelewengan hidupnya. Benar-benar sayang. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang tokoh besar dari selatan yang biarpun amat aneh namun belum pernah berlaku curang dan jahat. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh guru besar Khong Cu, musuh manusia yang paling berbahaya adalah dirinya sendiri! Melihat kehidupan mulia dan enak, Jeng-kin-jiu telah kena dibujuk dan menjadi kaki tangan An Lu Shan, bahkan mengajar para pangeran, sama sekali tidak peduli bahwa majikannya itu adalah penindas bangsanya. Kemudian, lebih celaka lagi, dengan kawan-kawannya yang sama-sama menyeleweng batinnya, dia melakukan pengeroyokan dan membunuh seorang pendekar besar yang namanya akan tetap wangi selama dunia berkembang, yaitu Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Adapun Liok-te Mo-li nenek yang aneh itu, memang ia gagah perkasa dan lihai sekali, juga selalu di waktu dahulu ia membasmi orang-orang jahat. Sayang dia terlalu ganas dan kejam, menyebar maut seenaknya saja maka akhirnya ia pun tewas karena curangnya orang-orang jahat pula!”

Mendengar ucapan-ucapan Kwan Cu makin mengacau, apalagi melihat betapa musuh-musuh besarnya, yakni Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertolong dan telah diobati oleh seorang kakek muka hitam yang aneh, Bian Kim Ho siang dan Bin Kong Siansu menjadi marah dan keduanya melompat maju.

“Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dua manusia durhaka! Jangan kalian bersembunyi dibalik kegilaan badut kecil ini. Kalian sudah sembuh? Hayo kita bertanding lagi sampai salah seorang di antara kita mampus!” bentak Bian Kim Hosiang.

“Fihak Pak-lo-sian sudah kalah semua, di sana tidak ada jagonya lagi. Menurut perjanjian mereka harus mengaku kalah dan mentaati perintah kehendak kami!” Kiam Ki Sianjin berkata keras, tanpa mempedulikan lagi kepada pemuda muka merah itu.

Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu saling pandang, lalu tersenyum pahit.

“Kiam Ki Sianjin, kami adalah orang-orang gagah yang sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat lagi!” Seng Thian Siansu mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya sudah putih semua. Mereka memang sudah tidak berdaya. Kiu-bwe Coa-li sudah tak dapat menggerakkan kedua lengannya, demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Seng Thian Siansu sendiri tangannya sudah remuk, tak mungkin berkelahi lagi. Murid-murid Pak-lo-sian juga terluka, demikian pula Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li. Adapun dua orang murid Kun-lun-pai kepandaiannya masih jauh di bawah tingkat lawan. Mereka terpaksa harus mengaku kalah.

“Jadi kau sudah mengaku bahwa fihakmu kalah, Pak-lo-sian?” tanya Kiam Ki Sianjin dengan muka kegirangan.

“Memang….. kami……”

Tiba-tiba Kwan Cu melanjutkan kata-kata Pak-lo-sian ini dengan cepat.

“Kami belum kalah! Aku Ang-bin Siauw-bu-beng mewakili fihak Pak-lo-sian Cianpwe menjadi jagonya!”

Tiba-tiba Yok-ong melompat di dekat Kwan Cu. Semua orang lagi-lagi tertegun karena gerakan kakek muka hitam itu demikian cepatnya sehingga sekali lihat saja tahulah semua orang bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

“Siauw-bu-beng, tak boleh kau meninggalkan Lohu! Kalau kau yang muda berani maju, mengapa aku tidak?” Yok-ong adalah seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah hampir sempurna, maka tentu saja dia pun dihinggapi penyakit “gatal tangan” seperti ahli-ahli silat lain apabila melihat adu kepandaian, apalagi menghadapi begitu banyak jago-jago silat. Maka dia tidak dapat menahan hatinya untuk “main-main” sebentar, dan di samping ini dia juga merasa khawatir melihat Kwan Cu menghadapi para tokoh besar itu. Ia tahu bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi berapa tinggikah kepandaian seorang bocah yang masih belum matang?

Yok-ong lalu menjura kepada Kiam Ki Sianjin setelah mengejapkan mata kepada Kwan Cu.

“Kiam Ki Sianjin, sudah lama sekali aku mendengar namamu yang menjulang setinggi awan. Sekarang, bertemu dengan kau sebagai kaki tangan kaisar, sungguh menyenangkan sekali. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, dan mohon petunjukmu dalam ilmu pukulan.”

Kwan Cu maklum akan “penyakit” ahli silat yang menghinggapi Yok-ong, maka sambil memainkan mata kepada dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, dia berkata,

“Ji-wi Locianpwe harap mundur dulu, nanti saja kalau tiba giliran kita, Ji-wi maju lagi!”

Kata-kata ini memanaskan perut Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, dan kalau saja yang mengeluarkan kata-kata main-main ini bukan seorang bocah, tentu dia sudah mengirim serangan. Akan tetapi Bin Kong Siansu sudah menarik tangannya diajak mundur. Kwan Cu juga mundur, akan tetapi dia berdiri tidak jauh di belakang Yok-ong, karena dia merasa curiga dan khawatir kalau-kalau Yok-ong akan dicurangi pula.

Biarpun Kiam Ki Sianjin dapat menduga bahwa kakek muka hitam ini lihai, namun sebagai seorang tokoh besar dia tidak sudi bertanding melawan orang yang tidak terkenal, maka dia lalu menjura dan berkata,

“Sahabat telah mengetahui namaku yang rendah, sebaliknya aku belum tahu dengan siapa aku berhadapan. Ini tidak adil sekali.”

Yok-ong tertawa, suara ketawanya halus dan merdu seperti ketawa seorang yang amat sopan.

“Kiam Ki Sianjin, yang akan bergerak adalah tangan kaki kita, perlu apa memperkenalkan nama? Akan tetapi karena kau mendesak, baiklah. Namaku adalah Hek-bin Lo-bu-beng (Si Tua Tak Bernama Yang Bermuka Hitam)!”

Kwan Cu tertawa geli. Kiranya kakek Raja Tabib ini meniru dia, menambah kata-kata Muka Hitam di depan nama julukan baru, yakni Lo-bu-beng.

Kiam Ki Sianjin menjadi merah mukanya. “Hm, kau dan bocah itu sengaja tidak mau memperkenalkan nama. Akan tetapi tidak apalah. Apakah kau maju sebagai jago dari fihak pemberontak?”

“Sesukamu, boleh saja kau menganggap begitu. Akan tetapi sebetulnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa aku maju sebagai wakil dari mereka yang tertindas. Kiam Ki Sianjin, keluarkanlah pedangmu, aku sudah lama mendengar bahwa kau adalah seorang ahli pedang yang jempolan!”

Kiam Ki Sianjin diam-diam berpikir dan mencari akal. Kalau orang ini sudah tahu bahwa dia pandai main pedang, tentulah orang ini sudah bersedia lebih dulu menghadapi pedangnya, dan boleh dipastikan bahwa kakek muka hitam ini tentulah seorang ahli dalam penggunaan senjata pula.

“Tak perlu menggunakan senjata,” katanya, “mari kita mengadu tenaga lweekang saja. Apakah kau berani menerima?” Kiam Ki Sianjin adalah seorang yang semenjak muda meyakinkan ilmu lweekang sampai tingkat tinggi dan dalam hal kepandaian ini, kiranya dia tidak usah kalah oleh lima tokoh besar, yakni Pak-lo-sian, Jeng-kin-jiu, Ang-bin Sin-kai, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li. Maka, mengira bahwa Si muka hitam ini ahli senjata, dia lalu memilih adu tenaga lweekang supaya mendapat kemenangan dengan mudah.

Yok-ong pura-pura terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya. “Ayaaa… mengapa kau mengajak yang aneh-aneh?”

“Berani tidak?” tanya Kiam Ki Sianjin mendesak, girang karena melihat si muka hitam kelihatannya ragu-ragu dan terkejut. Kalau si muka hitam menolak, berarti orang itu mengaku kalah dan boleh dihukum menurut sesuka hati yang menang.

“Apa boleh buat, kau tuan rumah dan aku tamu yang harus menghormati kehendak tuan rumah. Dengan cara bagaimana kau hendak mengajakku mengadu kekuatan itu?” tanya Yok-ong.

“Tidak berbahaya, sama sekali tidak berbahaya! Kita mengadu telapak tangan dan mendorong, siapa yang jatuh di atas tanah dia yang kalah!” kata Kiam Ki Sianjin sambil tertawa-tawa. Semua orang terkejut. Memang ada banyak cara meng adu lweekang, akan tetapi yang paling berbahaya adalah adu lweekang dengan menempelkan telapak tangan dan saling mendorong. Dalam adu lweekang macam ini, sembilan bagian orang yang kalah akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang hebat sekali.

Akan tetapi anehnya, si muka hitam agaknya tidak mengerti akan bahaya itu dan dengan tertawa-tawa dia berkata,

“Aha, tidak tahunya kau akan mengajak aku main-main seperti anak kecil saja. Baiklah, memang aku pun tidak mempunyai niat buruk di dalam hatiku. Kalau menang baik, kalau kalah paling-paling hanya terdorong jatuh, apa susahnya?”

“Sahabat Lo-bu-beng, hati-hatilah! Dia punya tenaga Jian-mo-kang!” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang juga merasa khawatir kalau-kalau si muka hitam yang pandai mengobati itu akan binasa di bawah tangan Kiam Ki Sianjin yang lihai.

Yok-ong menoleh dan tersenyum kepada jago tua dari utara itu.

“Biarlah, kami hanya main-main dan saling dorong, bukan saling pukul. Apa sih bahayanya?”

Akan tetapi pada saat dia menoleh, Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga dan meluruskan kedua lengan ke depan, lalu membentak,

“Lo-bu-beng, bersiaplah!”

Yok-ong memutar tubuhnya dan bukan saja dia, juga tokoh-tokoh 1ain yang hadir di situ maklum bahwa kembali Kiam Ki Sianjin mempergunakan kesempatan untuk mencari kedudukan yang lebih menguntungkan. Dalam adu tenaga seperti ini, siapa yang mengerahkan tenaga dan meluruskan lengan lebih dulu, dia berada dalam kedudukan menyerang, sedangkan yang menempelkan tangan dan meluruskan lengan terakhir berada dalam kedudukan menahan. Akan tetapi agaknya si muka hitam ini tidak tahu akan hal ini bahkan tanpa menarik napas panjang seperti orang yang hendak mengumpulkan tenaga lweekang, akan tetapi dengan tertawa-tawa dia lalu memasang kuda-kuda dengan tumit diangkat, lalu meluruskan tangan menempelkan telapak tangan ke telapak tangan Kiam Ki Sianjin.

Begitu kedua telapak tangan menempel, Kiam Ki Sianjin lalu mengempos semangat dan napasnya, dan mendorong sambil mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang dahsyat. Tadi sudah dituturkan tentang kehebatan tenaga Jian-mo-kang ini, yang hanya pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan batu seberat tiga ratus kati dan kalau tangan itu menempel pada batu yang beratnya seribu kati, batu itu akan terdorong roboh. Akan tetapi ketika tangannya menempel pada telapak tangan Yok-ong, dia merasa betapa telapak tangan si muka hitam itu lunak dan halus sekali seperti kapas! Ia terkejut dan tahu bahwa lawannya mempergunakan Bian-ciang-kang (Telapak Tangan Kapas) yang menggunakan tenaga “lemas” untuk menghadapi tenaga “keras” Menghadapi tenaga ini, Kiam Ki Sianjin kehilangan kekuasaan tenaganya, seakan-akan semua tenaga Jian-mo-kang yang dikerahkan itu “amblas” ke dalam telapak tangan lawan, atau seperti sepotong besi yang berat masuk ke dalam air! Cepat dia hendak menarik kembali telapak tangannya untuk mengubah gencetan dari arah lain, akan tetapi alangkah kagetnya ketika telapak tangannya itu telah “menempel” pada telapak tangan si muka hitam, tidak dapat ditarik lepas! Telapak tangan lawannya itu seakan-akan mengeluarkan daya luar biasa yang menyedot kulit telapak tangannya sendiri.

Sebagai seorang ahli silat dan ahli lweekeh, Kiam Ki Sianjin maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli dalam mempergunakan tenaga “Im-kang”, maka kalau dia melanjutkan usahanya menarik kembali tangannya, dia akan kehilangan keseimbangan tenaga dalamnya. Dengan nekat dia lalu mendorong lagi, kini dia mengimbangi kekuatan lawan, kalau lawan mempergunakan tenaga Yang-kang, dia pun mengerahkan tenaga Yang-kang, kalau tenaga Im-yang, dia pun mengerah kan lweekang mempergunakan tenaga Im-yang.

Sebaliknya Yok-ong diam-diam juga memuji bahwa tenaga lweekang dari lawannya benar-benar hebat dan sudah tinggi sekali, tidak kalah jauh oleh tenaganya sendiri. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya dan mempergunakan tenaga yang mendorong lawan. Kini tenaga Yang dari kedua fihak bertanding hebat, disalurkan melalui lengan tangan, terus ke telapak tangan sehingga dari empat telapak tangan yang beradu itu mengepul uap putih sedangkan masing-masing merasa betapa telapak tangan mereka menjadi panas sekali!

Keringat dingin memenuhi dahi Kiam Ki Sianjin, sedangkan Yok-ong hanya merah saja wajahnya. Dari sini saja sudah dapat dilihat bahwa tenaga si muka hitam itu sudah lebih tinggi, apalagi kalau orang lain yang melihatnya, karena wajah Yok-ong yang tertutup warna hitam itu tidak berubah sama sekali! Memang, Kiam Ki Sianjin sudah merasa betapa telapak tangannya seakan-akan terbakar dan kalau dia teruskan, tentu kedua telapak tangannya akan hangus. Akan tetapi, untuk menarik mundur sudah tidak ada waktu lagi, maka dia berlaku nekad dan mengerahkan seluruh tenaga Jian-mo-kang.

Hek-i Hui-mo melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, menjadi gelisah sekali. Ia lalu melangkah maju dan dengan tangan kirinya, dia mendorong punggung Kiam Ki Sianjin. Dengan perbuatannya ini, biarpun dia membantu, namun dia sama sekali tidak menyentuh lawan atau si muka hitam, sehingga dia tidak akan disebut curang. Akan tetapi, bantuannya ini bagi orang lain akan kelihatan aneh dan bahkan merugikan Kiam Ki Sianjin, namun sesungguhnya dari telapak tangannya yang menempel punggung Kiam Ki Sianjin, dia menyalurkan tenaga lweekangnya yang setingkat dengan Kiam Ki Sianjin, membantu orang tua ini menghadapi si muka hitam.

Segera kelihatan akibat bantuan ini. Bagaikan terdorong oleh tenaga raksasa, tubuh Yok-ong terdorong ke belakang! Juga dia merasa telapak tangannya panas sekali, sedangkan Kiam Ki Sianjin menjadi lega karena rasa panas di tangannya berkurang banyak. Tentu saja Yok-ong tidak kuat menahan serangan dua tenaga ahli lweekeh yang dipersatukan atau disambung ini dan dia tahu bahwa dia akan kalah.

Kwan Cu menjadi mendongkol dan marah sekali. Ia melangkah maju dan hendak mendorong punggung Yok-ong seperti yang dilakukan oleh Hek-i Hui-mo, akan tetapi Yok-ong menggerakkan kepalanya, digelengkan beberapa kali sehingga Kwan Cu mundur kembali. tiba-tiba terdengar Yok-ong berseru keras dan nyaring sekali. Dengan pengerahan tenaga seadanya, dalam sedetik dia dapat mendorong tangan Kiam Sianjin. Memang hebat sekali tenaga lweekang dari raja tabib ini, karena biarpun yang menahan di depannya ada dua orang, namun pengerahan seluruh tenaganya ini untuk sesaat dapat membuat Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo terdorong ke belakang! Hal ini sebetulnya adalah berkat obat-obat penguat tubuh yang diminum oleh raja tabib ini, sehingga dia memang mempunyai kekuatan tubuh luar biasa sekali.

Akan tetapi, pengerahan tenaga tadi hanyalah siasat belaka dari Yok-ong karena dia maklum bahwa kalau dilanjutkan, dia akhirnya akan kalah juga. Setelah dia berhasil mendorongkan keadaan lawan dan kini kedua lawannya mengerahkan seluruh tenaga, tiba-tiba dia mengerahkan kedua tangan ke bawah dan melepaskan tempelan tangannya, lalu tubuhnya mengelak ke bawah terus ke kanan.

Hebat sekali akibat akal ini. Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga sebesarnya, dibantu pula oleh Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya. Sekarang dilepas secara tiba-tiba, tak dapat dicegah lagi dia terdorong ke depan. Apalagi masih ada Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya, maka dilain saat kedua orang tokoh besar ini terjungkal ke depan, jatuh bangun dan saling tindih! Baiknya mereka adalah ahli-ahli yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka dapat menyimpan kembali tenaga mereka dan hanya mengalami benjut-benjut saja. Namun batu-batu yang tertimpa tangan mereka pada remuk!

Kwan Cu bertepuk tangan gembira dan sebentar saja Pak-lo-sian juga terkekeh-kekeh, diikuti pujian dari semua orang di fihaknya.

“Kiam Ki Sianjin sudah kalah……!” seru Kwan Cu berulang-ulang sambil bertepuk-tepuk tangan.

Dengan muka merah sekali Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo bangun berdiri mengibas-ngibaskan pakaian mereka yang terkena debu, untuk beberapa lama tidak mampu bicara. Kemudian Hek-i Hui-mo melangkah maju dan dengan alis berdiri dia menudingkan kepada Yok-ong.

“Siluman muka hitam! Tidak bisa kau dibilang menang, karena kemenanganmu itu hanya karena siasat busukmu belaka!”

Yok-ong tidak meladeninya karena raja tabib ini adalah seorang yang amat hati-hati menjaga kesehatannya. Setelah mengalami adu tenaga yang demikian hebatnya, dia tidak banyak bicara, hanya berdiri diam dan mengatur pernapasan mengumpulkan kembali tenaganya. Melihat ini, Kwan Cu maklum bahwa kakek sakti ini perlu diberi waktu untuk beristirahat dulu karena fihak lawan masih amat kuat. Ia yang segera maju dan mencela Hek-i Hui-mo.

“Locianpwe, kau disebut ahli silat nomor satu dari barat, akan tetapi mengapa kau tadi membantu Kiam Ki Sianjin dan sekarang bahkan menyalahkan kakekku? Sudahlah, nanti akan datang giliranmu, sekarang lebih baik kau meniru perbuatan kakekku, mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya. Sekarang aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan kedua ciangbunjin (ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.”

Hek-i Hui-mo sudah mengertak gigi dan hendak menyerang Kwan Cu, akan tetapi dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai sudah melompat maju dan berkata kepada Hek-i Hui-mo,

“Memang benar apa yang dikatakan oleh Siauw-ang-mo (Setan Kecil Merah) ini. Biarkan kami berdua mendengarkan kata-katanya lebih lanjut,” kata Bin Kong Siansu. Kemudian dia menghadapi Kwan Cu dan berkata,

“Anak muda, kau tadi bilang mewakili Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian musuh besar kami, sebenarnya bagaimana maksudmu? Kami jauh-jauh datang sengaja hendak memberi hukuman kepada mereka yang secara curang dan terlalu telah membunuh dan menghina orang dari partai kami, apakah kau hendak menghalangi?”

Kwan Cu tersenyum dan menjura dengan hormat. “Mana berani boanpwe menghalangi niat dari Ji-wi Ciangbun yang lihai? Akan tetapi, boanpwe sekal-kali tidak akan merintangi apabila Ji-wi hendak membunuh atau membalas dendam kepada Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian kedua Cianpwe itu. Hanya saja, hukuman itu hendaknya dijalankan setelah boanpwe selesai mendongeng.”

“Keparat! Kau berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, masih berani melawak dan hendak mempermainkan kami?” bentak Bian Kim Hosiang yang adatnya memang keras.

“Sama sekali tidak melawak dan mempermainkan, akan tetapi dengarlah saja, Ji-wi Locianpwe tentu akan suka mendengar dongeng ini.” Sebelum orang membantah pula, Kwan Cu cepat melanjutkan omongannya,

“Kurang lebih sebulan yang lalu, di sebuah kuil di selatan kota raja terjadi hal yang amat aneh. Kuil itu terjaga oleh seorang tojin bemama Siok Tek Tojin, dan pada hari itu di dalam kuil datanglah seorang hwesio pendek bundar membawa pedang dan seorang tosu. Mereka bermalam di kuil itu.”

“Dia adalah Bian Ti Hosiang murid kepala Bu-tong-pai!” seru Bian Kim Hosiang.

“Tosu itu tentulah suteku Bin Hong Siansu!” Bin Kong Siansu juga berseru.

“Kebetulan sekali terkaan Ji-wi Locianpwe memang benar,” Kwan Cu melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum. “Pada malam hari, dua orang pendeta itu terbunuh orang di dalam kamarnya.”

“Benar! Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang membunuh mereka secara pengecut!” teriak Bian Kim Hosiang dengan mata merah memandang kepada dua orang tokoh besar itu.

Kwan Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Memang pembunuhnya mengaku bahwa mereka adalah Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li.”

Kiu-bwe Coa-li melompat dengan marah. “Buang kentut busuk! Kalau kedua tanganku dapat digerakkan, kepala kalian sudah hancur!”

Juga Pak-lo-sian melompat dan berkata marah, “Bohong sama sekali!”

Kwan Cu menengok dan berkata, “Sabar….. sabar….. boanpwe belum habis bercerita. Memang pembunuh-pebbunuh keji itu mengaku bernama Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Mereka membunuh secara curang sekali, dan mempergunakan obat bius sehingga dua orang pendeta itu pingsan lalu mereka dibunuh. Kebetulan sekali, pembunuh yang aselinya melarikan diri di dalam gelap dan kehilangan sepotong jubah hitamnya! Adapun orang kedua adalah Siok Tek Tojin yang bersekongkol dengan penjahat jubah hitam itu.”

Terdengar seruan kaget di antara orang-orang yang berdiri dekat Kiam Ki Sianjin. Siok Tek Tojin melompat maju dengan golok di tangan. “Jahanam bau! Kau berani membawa-bawa nama pinto dengan obrolan kosong itu?” Tanpa menanti apa-apa lagi Siok Tek Tojin menusukkan goloknya ke arah dada Kwan Cu. Tusukan ini cepat sekali dan kuat. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengelak maupun menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum bodoh. Semua orang di fihak Pak-lo-sian terkejut, bahkan Sui Ceng mengeluarkan jerit tertahan karena disangkanya bahwa pemuda muka merah yang membantu fihaknya itu akan terkena tusukan.

Jangankan Sui Ceng, bahkan Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sendiri mengira bahwa pemuda aneh itu tentu akan tertusuk golok. Siok Tek Tojin sudah girang sekali, apalagi melihat pemuda itu menoleh kepada Sui Ceng sambil berbareng mengeluarkan kata didahului dengan bentakan, ” Aha! Nona, kau baik sekali mengkhawatirkan keselamatanku!”

Kalau dibicarakan memang sungguh aneh sekali dan semua orang yang berada di situ tentu tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan mata mereka sendiri. Pemuda itu tidak mengelak, bahkan kini kepalanya menengok ke belakang dan dadanya terbentang tanpa perlindungan menerima tusukan golok. Yok-ong makin membelalakkan matanya dan menahan napas. Akan tetapi…… setelah ujung golok dekat dengan dada Kwan Cu, tiba-tiba berbareng dengan bentakan “Aha!” tadi, golok itu menyeleweng ke pinggir seakan-akan terdorong oleh tenaga tidak kelihatan yang menyampoknya dari samping!

Siok Tek Tojin merasa heran bukan main dan dia juga penasaran. Apakah dia diserang penyakit demam sehingga tangannya lemah dan menggigil? Ia kini menyerang lagi, bukan menusuk, bahkan membacokkan goloknya yang menyeleweng tadi ke arah leher Kwan Cu. Pemuda ini sekarang sudah memandangnya kembali dan sambil tersenyum, Kwan Cu lagi-lagi tidak mengelak, hanya mengeluarkan seruan kaget.

“Ayaaa…..! Kau galak sekali!”

Dan kembali terjadi keanehan. Mata golok yang sudah menyambar dekat dengan leher, tiba-tiba menyeleweng dan bahkan membalik hendak menyerang pundaknya sendiri!

“Ilmu siluman…… !” beberapa orang berbisik. Akan tetapi hanya Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo saja yang setengah dapat menduga akan tetapi mereka masih sangsi akan semacam ilmu sinkang (tenaga dalam yang sakti) yang pernah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan yakni tentang lweekang yang dapat disalurkan melalui suara itu sehingga dengan bentakan-bentakan saja orang yang memiliki kepandaian ini dapat merobohkan lawan atau menangkis pukulan! Benar-benarkah pemuda ini dapat memiliki kepandaian seperti itu? Hanya seorang yang sudah yakin yakni Yok-ong. Dia menduga bahwa pemuda yang dia kenal Kwan Cu adanya itu tentu telah mewarisi kepandaian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kalau hal ini betul maka tidak heran kalau Kwan Cu memiliki sinkang sehebat itu.

Siok Tek Tojin masih penasaran dan hendak menerjang lagi akan tetapi tiba-tiba Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai melompat maju dan menahannya.

“Siok Tek Toyu biarkan pemuda itu melanjutkan dongengannya agar kita dapat mendengar baik-baik.” Ketua Kim-san-pai ini menahan sambil memegang lengannya. Siok Tek Tojin merasa lengannya lumpuh dan menggigil ketika terpegang oleh ketua Kim-san-pai ini, maka tahulah dia bahwa pencegahan itu bukan main-main. Ia lalu menjura dan mengundurkan diri.

Kwan Cu tertawa. “Tentu Cu-wi Locianpwe ingin sekali mendengar siapa orangnya yang berjubah hitam dan yang sesungguhnya merupakan pembunuh tulen dari Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Sian Su. Sebelum boanpwe menyebutkan namanya baiklah boanpwe melanjutkan dongeng ini. Siok Tek Tojin yang sudah bersekongkol, lalu pura-pura menolong dua orang pendeta yang sudah hampir tewas itu, menceritakan bahwa dia pun diserang oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dan karena dua orang pendeta itu memang mendengar percakapan antara Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian di luar jendela yang tentunya diatur pula oleh si jubah hitam dan Siok Tek Tojin, maka mereka percaya penuh dan tidak ragu-ragu membuat sehelai surat yang ditujukan kepada Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tentu saja mereka menulis bahwa mereka terbunuh oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian!”

Kiam Ki Sianjin membentak, “Orang muda, jangan kau sembarangan bicara! Urusan ini bagaimana kau berani mengacaukan? Sudah ada bukti surat dan saksinya Siok Tek Tosu bahwa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian membunuh Ji-wi Beng-yu dari Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Bagaimana kau dapat mengarang cerita busuk tanpa bukti-bukti?”

“Bukti? Locianpwe menghendaki bukti? Belum selesai ceritaku! Setelah si jubah hitam itu lari di malam gelap, dia bertemu dengan seorang yang berhasil mencuri sedikit kain dari jubahnya. Inilah sobekan kain itu!” Kwan Cu mengeluarkan kain yang dulu dia ambil dari jubah Coa-tok Lo-ong, kemudian katanya sambil tersenyum sindir, “Orang berjubah hitam itu sekarang hadir di sini! Tanyakan apakah ini bukan kain dari jubahnya! Dan bukti ke dua, ketika dia mengeluarkan asap obat bius di kelenteng itu sama benar dengan obat bius yang tadi merobohkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian kedua Locianpwe yang mulia. Nah, dialah orangnya yang membunuh dua tokoh Kim-san-pai dan Bu-tong-pai kemudian menggunakan nama kedua orang Locianpwe itu dengan maksud mengadu domba!”

Baru saja ucapan ini habis dikatakan, Coa-tok Lo-ong mengeluarkan seruan keras,

“Jadi kaukah orang muda yang kurang ajar itu?” Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan asap hitam mengebul di dekat Kwan Cu.

“Para Locianpwe, awas!” Dengan cepat sekali Kwan Cu mendorong tubuh Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dua orang ketua itu terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Mereka mengalami kekagetan hebat, akan tetapi mereka selamat, terbebas dari pengaruh asap hitam yang jahat. Adapun Yok-ong yang melihat ini, cepat membagi-bagi pil penawar racun di antara Pak-lo-sian sekawanannya sehingga mereka tak usah takut menghadapi serangan asap itu.

Kwan Cu sendiri lalu menahan napas dan meniupkan hawa murni dari tenaga sinkangnya sehingga dia tidak sampai mengisap asap, dan selain itu, dia pun lalu menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut sehingga seluruh tubuhnya mengebulkan uap putih yang menolak asap hitam ini. Cepat melompat dan sudah berada di depan Coa-tok Lo-ong.

“Kau sudah mengaku sendiri? Bagus!” bentak pemuda ini.

Coa-tok Lo-ong marah sekali, cepat dia lalu memukul dengan tangannya. Ia merasa menyesal mengapa ular hidupnya sudah mati diremas oleh Jeng-kin-jiu tadi. Dengan mati-matian dia lalu menyerang Kwan Cu dengan tangan kosong, akan tetapi tentu saja Kwan Cu tidak mau memberi kesempatan lagi. Ia mainkan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut yang lihai itu dan dalam beberapa jurus saja, sebuah pukulan tangan kiri Kwan Cu tanpa mengenai kulit dadanya sudah membikin Coa-tok Lo-ong terlempar dalam keadaan pingsan! Kwan Cu melompat dan menangkap lehernya, lalu melontarkan tubuh penjahat itu ke arah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu.

“Ji-wi Locianpwe, inilah pembunuh dari orang-orangmu!” Bin Kong Siansu dan Bian Kim Hosiang kini tidak ragu-ragu lagi, cepat sekali keduanya bergerak dan dalam sekejap mata saja tubuh Coa-tok Lo-ong menjadi sasaran senjata mereka hingga tewas dalam saat itu juga!

Hek-i Hui-mo menggereng keras melihat sutenya tewas dan dia menyerang kedua ciangbunjin ini. Karena marahnya, Hek-i Hui-mo menggerakkan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan kebutannya, yang satu menyerang Bian Kim Hosiang, yang ke dua menyerang Bin Kong Siansu. Dua orang ciangbunjin ini adalah tokoh-tokoh besar yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja mereka cepat menangkis. Akan tetapi tangkisan mereka membuat keduanya terjengkang. Demikian hebat dan luar biasa tenaga dari Hek-i Hui-mo!

Hek-i Hui-mo membentak, “Kalian membunuh suteku, harus membayar kembali dengan nyawa!”

Akan tetapi tiba-tiba ada angin besar yang datang dari pukulan luar biasa menahan sepasang senjata yang hendak membunuh kedua ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ini. pukulan ini datangnya dari Kwan Cu yang sudah menghadang di depannya.

“Hek-i Hui-mo, kau masih ada perhitungan denganku!” kata Kwan Cu.

Hek-i Hui-mo marah sekali. Ingin dia sekali serang menghancurkan kepala pemuda yang sudah membuka rahasia sutenya, bahkan yang sudah merobohkan sutenya sehingga sutenya itu tewas di dalam tangan kedua ciangbunjin dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi dia pun ingin sekali tahu siapa adanya pemuda muka merah yang aneh ini.

“Kau siapakah? Mengapa memusuhi kami?”

“Dengarlah dulu aku mendongeng!” kata Kwan Cu dengan suara keras sehingga terdengar oleh banyak orang. “Hek-i Hui-mo ini semenjak dahulu terkenal sebagai seorang pendeta Tibet yang selalu menimbulkan kekacauan. Di Tibet sendiri dia telah mengacau agama di sana, bahkan mendirikan golongan yang disebut Golongan Jubah Hitam, dibantu oleh sutenya Coa-tok Lo-ong yang jahat. Dulu pernah dia mengancam jiwa seorang anak kecil untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kemudian dia pernah pula menawan pujangga besar Tu Fu untuk dipaksanya membaca kitab kuno Im-yang Bu-tek Cin-keng. Baiknya kitab itu palsu, sama palsunya dengan hatinya sendiri. Kemudian, sebagai anjing penjilat pemberontak, bersama-sama Jeng-kin-jiu dan Toat-beng Hui-houw, dia membunuh secara curang pendekar besar Ang-bin Sin-kai.”

“Dia itu murid Ang-bin Sin-kai! Dia Lu Kwan Cu !” tiba-tiba Kiam Ki Sianjin berseru keras dan kaget. Memang ketika tadi Kwan Cu mainkan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut dan tubuhnya mengebulkan uap putih, Kiam Ki Sianjin sudah curiga, kini mendengar omongan Kwan Cu, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda ini tentulah Kwan Cu adanya!

Mendengar ini, Kwan Cu tersenyum. Ia merogoh saku dan mengeluarkan seguci kecil arak yang tadi memang dia terima dari Yok-ong. Dituangnya arak ini di tangan, lalu dibuat mencuci mukanya yang sebentar saja berubah, tidak lagi kemerahan seperti udang direbus, melainkan menjadi muka seorang pemuda yang tampan dan gagah.

“Memang aku Lu Kwan Cu, datang untuk membalas dendam!” katanya.

“Kwan Cu….!” terdengar teriakan kaget dan ini adalah suara Sui Ceng. Gadis ini menjadi bengong dan tak terasa lagi matanya basah oleh air mata. Hatinya tidak karuan rasanya. Tak disangka-sangkanya bahwa Kwan Cu-lah pemuda itu, tidak dinyana-nyana bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dan ia pernah memandang rendah kepada Kwan Cu, dan…… dan Kwan Cu pernah menyatakan cinta kasih hatinya secara terang-terangan! Teringatlah Sui Ceng akan pengalaman yang sudah-sudah dan tahulah dia bahwa ketika mereka ditawan oleh bajak sungai, Kwan Cu sengaja berlaku ketolol-tololan. Tak terasa lagi merahlah mukanya dan hatinya berdebar tidak karuan.

Hek-i Hui-mo menjadi pucat, akan tetapi dia tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Jadi bocah gundul yang dulu menjadi permainan para tokoh besar itu, sekarang telah menjadi seorang pemuda yang demikian lihainya? Ia mengeluarkan seruan keras dan kedua senjatanya cepat menyerang Kwan Cu.

Kali ini Kwan Cu tidak main-main lagi. Sekali tangannya bergerak, tercabutlah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin. Dengan pedang ini dia bersumpah hendak membalas dendam. Jeng-kin-jiu sudah tewas oleh bekas kawan-kawannya sendiri dan hal ini menggirangkan hatinya, karena Kwan Cu memang menaruh hati sayang kepada hwesio itu. Ia girang karena pada akhir hidupnya, Jeng-kin-jiu membuktikan bahwa sesungguhnya dia mempunyai dasar watak yang gagah perkasa dan baik. Toat-beng Hui-houw sudah tewas di tangan Sui Ceng, hal ini pun menyenangkan hatinya karena memang gadis itu lebih berhak membalas sakit hati ibunya. Sekarang musuh besar gurunya tinggal Hek-i Hui- mo, maka setelah mencabut pedangnya dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat sambil mulutnya berbisik,

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: