Pendekar Sakti (Jilid ke-36)

“Suhu, dengan ilmu pedang Suhu, teecu akan membalaskan sakit hati suhu! Saksikanlah dari tempat istirahatmu, Suhu!”

Tentu saja Hek-i Hui-mo sudah tahu dan kenal akan ilmu pedang peninggalan Ang-bin Sin-kai ini, maka dia memandang rendah. Betul bahwa tingkat kepandaiannya dahulu setingkat dengan Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi setelah pemuda itu mainkan pedangnya, dia kaget setengah mati. Baru beberapa gebrakan saja, sinar pedang Liong-coan-kiam telah berhasil membabat putus sebagian dari rambut kebutannya. Bukan main! Biarpun ilmu pedang ini tiada bedanya dengan yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai, namun gerakannya jauh berlainan. Gerakan ilmu pedang di tangan pemuda ini jauh lebih cepat dan kuat, berlipat ganda kuatnya sehingga biarpun Hek-i Hui-mo sudah mengerahkan tenaga, namun tetap saja tergetar tangannya setiap kali tongkatnya terbentur oleh pedang itu yang cepatnya bukan main sehingga beberapa kali hampir saja Hek-i Hui-mo terlambat mengelak atau menangkis!

“Eh, eh, eh, kiranya kau benar-benar Hang-houw-siauw Yok-ong!” terdengar Pak-lo-sian berseru dan tertawa bergelak.

Mendengar ini, Kiam Ki Sianjin cepat menengok dan ternyata bahwa kakek muka hitam yang amat lihai dan yang tadi mengalahkan Kiam Ki Sianjin dalam mengadu lweekang, kini seperti Kwan Cu telah mencuci mukanya dan dia itu bukan lain adalah Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Tabib!

Gentarlah hati Kiam Ki Sianjin melihat ini. Pemuda itu saja sudah amat lihai dan sukar dikalahkan, sekarang di fihak musuh ada pula Yok-ong, maka kalau pertempuran dilakukan seorang melawan seorang, fihaknya tentu akan kalah. Apalagi pada saat itu dia melihat Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu, berlari menghampiri Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li. Dua orang ciangbunjin ini lalu berkata dengan muka merah,

“Kami berdua yang bermata buta dan bertelinga tuli telah salah sangka, mendakwa Ji-wi yang putih bersih sehingga kami patut dihukum mampus.”

“Ah, tidak apa, Ji-wi Bengyu. Kalian menjadi korban tipu muslihat dari para penjilat,” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li mengejek,

“Sungguh memualkan perut, kedua ciangbunjin yang bernama besar ternyata masih mudah saja diberi makan tai oleh anjing-anjing itu!”

Mendengar ini, dua orang tua ini menjadi pucat dan kemudian, makin merah wajahnya. Mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Semua anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai melihat ini, beramai-ramai lalu datang dan ikut berlutut pula!

“Kami orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, bersedia menerima binasa untuk menebus dosa!” kata kedua orang ketua ini.

Melihat ini, Kiu-bwe Coa-li merasa terharu. “Ji-wi jangan seperti anak kecil. Orang-orang yang berdosa adalah penjilat-penjilat penjajah, mereka berada di depan dan terang-terangan mereka memusuhi kita. Mengapa tidak lekas-lekas memukul mereka?”

Serentak orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai bangkit berdiri dan memandang kepada Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya dengan mata penuh kemarahan. Melihat ini, Kiam Ki Sianjin lalu mengeluarkan sebuah terompet dari tanduk dan meniupnya keras sekali. Itulah tanda bagi semua tentara yang memasang baihok (barisan sembunyi) untuk bergerak!

Maka keluarlah barisan yang mengepung bukit itu dari segenap jurusan, dengan senjata di tangan mereka berbaris rapi dan mulai menyerbu ke atas. Juga Kiam Ki Sianjin dibantu oleh kawan-kawannya lalu mencabut senjata dan menyerbu!

Kwan Cu masih bertempur ramai dengan Hek-i Hui-mo. Melihat hal ini dia lalu berseru,

“Yok-ong Locianpwe, harap jangan melawan dan menyelamatkan kawan-kawan berlari lebih dulu. Biar teecu yang menahan mereka!” Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, dia lalu menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali dan tangan kirinya juga mainkan Pek-in-hoat-sut dengan jurus-jurus yang paling berbahaya. Mana Hek-i Hui-mo kuat menahan serangan dari seorang yang sudah mengisap semua pelajaran tinggi dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Tenaga yang dipergunakan oleh Kwan Cu pada saat itu, adalah tenaga sepenuhnya, maka terdengarlah suara keras. Tongkat Kepala Naga putus oleh pedang Liong-coan-kiam yang terus menyabet sehingga pinggang Hek-i Hui-mo terbabat putus menjadi dua!

Kemudian Kwan Cu mengamuk hebat. Pertama-tama yang diserbunya adalah Kiam Ki Sianjin karena di antara semua lawan, yang terberat adalah kakek ini. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh banyak kawannya mengurung Kwan Cu dan sebagian pula menyerbu kepada Yok-ong dan kawan-kawannya. Akan tetapi, Yok-ong lalu memberi tanda kepada Pak-lo-sian dan yang lain-lain untuk mengikuti dia mundur. Sambil mundur, mereka ini tidak tinggal diam saja. Yok-ong menggunakan kaki tangannya merobohkan setiap orang yang berani dekat. Pak-lo-sian Siangkoan Hai sambil tertawa terbahak-bahak menggunakan kedua kakinya. Biarpun kedua tangannya tak dapat digerakkan, namun sepasang kakinya berpesta-pora dan menendang para pengeroyok. Siapapun juga yang kena tendangannya pasti terpental jauh untuk bangun dihadapan Giam-lo-ong (Raja Maut)! Demikian pula Kiu-bwe Coa-li yang mengamuk dengan sepasang kakinya.

Seng Thian Siansu yang sudah tua dan yang remuk tangan kanannya, hanya mempergunakan tangan kiri menangkap-nangkapi para pengeroyok dan melempar-lemparkan mereka. Adapun Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat juga mengamuk hebat membabati para tentara yang tentu saja bukan menjadi lawan mereka yang seimbang. Dua orang murid Kun-lun-pai juga mengamuk, demikian pula Bian Kim Hosiang, Bin Kong Siansu, dan para murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Namun jumlah tentara yang naik banyak sekali sehingga kalau pertempuran itu diteruskan, tenaga mereka pasti akan kalah juga.

“Lari, ikut padaku!” kata Yok-ong dan Raja Tabib ini lalu membawa semua kawannya menuju ke jalan rahasia yang tadi pernah dia perlihatkan kepada Kwan Cu. Karena mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan ilmu lari cepat, apalagi para tentara juga gentar menghadapi mereka, sebentar saja Yok-ong sudah dapat membawa mereka memasuki goa dan melarikan diri melalui terowongan di bawah tanah.

Kwan Cu masih mengamuk hebat. Tidak terbilang banyaknya orang yang roboh di bawah amukan pedangnya. Lama-lama dia merasa tidak tega melihat banyaknya orang tewas. Entah sudah berapa puluh musuh yang tewas, mayat mereka bertumpuk-tumpuk dan bergelimpangan. Darah membanjir membuat hatinya ngeri. Namun dia tidak sempat merobohkan Kiam Ki Sianjin yang amat kosen.

“Untuk apa membunuhi orang-orang yang hanya menjadi alat?” pikirnya, maka dia mulai mundur. Akan tetapi, dimana-mana dia terkurung oleh tentara yang seperti semut banyaknya itu.

Di bawah hujan senjata yang luar biasa banyaknya itu, tiba-tiba meluncur anak-anak panah yang cepat sekali datangnya. Kwan Cu salah hitung. Ia mengira bahwa panah-panah itu datangnya dari tentara biasa yang memang semenjak tadi kalau ada kesempatan lalu menghujankan anak panah mereka. Akan tetapi semua anak panah itu dengan sekali sampok saja dengan tangan kirinya, sudah runtuh berhamburan. Kali ini, dia pun menggunakan tangan kirinya menyampok, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia merasa kulit lengan kirinya sakit dan berdarah, tanda bahwa yang melepaskan adalah orang-orang pandai yang bertenaga besar.

Lebih kaget lagi ketika anak-anak panah seperti itu makin gencar datangnya. Ketika Kwan Cu melihat ke arah pelepas anak-anak panah itu, dia melihat bahwa yang melepaskan adalah Kiam Ki Sianjin dan Kam Cun Hong, perwira tinggi kepercayaan Si Su Beng. Memang, dalam hal ilmu silat panglima she Kam ini tidak sangat hebat kepandaiannya, akan tetapi dalam ilmu memanah, dia ahli dan lihai sekali.

Kwan Cu sibuk menangkis, namun tetap saja sebatang anak panah meleset dari lengannya dan menancap di dadanya sebelah kiri dekat pundaknya! Baiknya tubuhnya telah terisi oleh sinkang yang luar biasa, maka dia keburu menolak anak panah itu dan yang menancap tidak sampai menembusi dagingnya dan tidak melukai anggauta tubuh sebelah dalam. Namun, ini sudah cukup mengejutkan Kwan Cu yang cepat melompat dan mempergunakan ilmu ginkangnya, melompati kepala para pengeroyoknya dan sebentar saja dia sudah lenyap!

Kiam Ki Sianjin memimpin kawan-kawan dan anak-anak buahnya melakukan pengejaran namun pemuda itu tidak kelihatan lagi karena dia sudah masuk kedalam jalan terowongan di bawah tanah, mengejar rombongan Yok-ong yang sudah lari terlebih dulu. Dengan amat berang dan kecewa, Kiam Ki Sianjin mengobrak-abrik hutan, membakari alang-alang, dan akhirnya menjelang senja dia menarik mundur pasukannya dan kembali ke kota raja dengan hati penasaran, kecewa, dan juga gentar.

***

Yok-ong berhasil membawa rombongannya keluar dari kurungan tentara kerajaan dan mereka muncul di dalam sebuah hutan yang besar di sebelah kiri Bukit Tai-hang-san, sebelah selatan kota Tai-goan. Setelah menghaturkan terima kasih, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu memimpin anak murid masing-masing untuk kembali ke Bu-tong-san dan Kim-san.

Adapun Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Bun Sui Ceng, The Kun Beng, dan Gouw Swi Kiat masih menanti di situ dengan hati gelisah karena Kwan Cu belum juga muncul. Setelah menanti beberapa lama, Seng Thian Siansu bersama dua orang muridnya juga berangkat, dan menerima obat dari Yok-ong, Seng Thian Siansu merasa terharu dan berterima kasih sekali, lalu pulanglah dia ke Kun-lun-san. Tiga orang ketua partai besar ini berjanji akan mendidik murid-murid mereka, karena negara membutuhkan orang-orang gagah untuk menghadapi keganasan penjajah.

Di antara mereka yang menanti munculnya Kwan Cu, yang kelihatan gelisah sekali adalah Yok-ong karena kakek ini merasa suka sekali kepada Kwan Cu. Akan tetapi sebenarnya, hati Sui Ceng lebih gelisah daripada Yok-ong, cuma saja gadis ini tentu saja menyembunyikan perasaannya. Mereka menanti munculnya Kwan Cu sambil tiada hentinya memuji dan membicarakan murid Ang-bin Sin-kai itu. Tahulah mereka semua bahwa pemuda itu tentu telah mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Tak lama kemudian, muncullah Kwan Cu dari goa itu.

“Kwan Cu….. kau terluka….. ?” Sui Ceng berseru lebih dulu tanpa dapat menahan mulutnya ketika melihat baju pemuda itu penuh darah dan sebatang anak panah menancap pada dada kirinya. Juga Yok-ong menghampiri dan hendak memeriksa lukanya, akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya.

“Tidak apa….. tidak apa, hanya luka sedikit. Biarlah sementara waktu anak panah ini tidak dicabut dulu.” Kata-kata ini cukup memberitahukan bahwa anak panah itu mengandung racun. Memang, kalau dicabut maka racun yang berada diujung anak panah akan lebih lekas menjalarnya dan berbahaya sekali, akan tetapi kalau dibiarkan dulu dan dengan pengerahan tenaga lweekang, racun itu tidak mudah menjalar.

Yok-ong merasa heran mengapa pemuda itu belum mau diobati. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengacuhkan lukanya, bahkan lalu berkata,

“Aku sudah khawatir sekali kalau Cu-wi sudah pergi dari sini. Aku ingin sekali menyampaikan sesuatu mengenai diri Sui Ceng.” Semua orang melongo. Sui Ceng menjadi merah mukanya dan Kun Beng memandang dengan rasa cemburu.

“Apa kehendakmu mengenai diri muridku?” Kiu-bwe Coa-li bertanya dengan marah.

“Suthai, aku pernah ditinggali pesan oleh ibu dari Sui Ceng, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, bahwa aku harus melindungi Sui Ceng. Sekaranglah waktunya aku harus mentaati pesan itu. Terang-terangan kukatakan bahwa perjodohan antara Sui Ceng dan Kun Beng harus dibatalkan!”

Sui Ceng menjadi pucat, juga Kun Beng menjadi pucat, sedangkan Swi Kiat memandang dengan mata bersinar-sinar sambil menduga-duga mengapa Kwan Cu mengemukakan hal yang memang menjadi isi hatinya.

“Kwan Cu, sepak terjangmu tadi mengagumkan hatiku, akan tetapi omonganmu sekarang ini benar-benar membikin aku marah sekali,” kata Kiu-bwe Coa-li. “Katakanlah alasan-alasannya mengapa kau bicara begitu.”

Melihat Kwan Cu ragu-ragu, Pak-lo-sian yang juga merasa tersinggung karena Kun Beng adalah muridnya, mendesak, “Kwan Cu, lekas ceritakan mengapa kau menghendaki demikian.”

Kwan Cu memandang kepada Kun Beng, lalu kepada Swi Kiat, kemudian dia bicara dengan suara lantang, “Bukan hak dan kewajiban teecu untuk menceritakan alasan itu. Lebih baik Kun Beng dan Swi Kiat yang bercerita tentang diri Kun Beng dan Gouw Kui Lan.”

Pucatlah wajah Kun Beng dan tubuhnya gemetar. Melihat ini, Sui Ceng menjadi berdebar. Ia sudah jatuh cinta kepada tunangannya ini dan sekarang hal apakah yang akan didengarnya? Swi Kiat menggigit bibirnya, karena hal ini menodakan nama baik adiknya, nama baik keluarganya. Sakit hatinya mendengar Kwan Cu membongkar rahasia ini. Tadinya dia hendak mengurus hal ini dengan Kun Beng secara diam-diam jangan sampai terdengar oleh orang lain.

Pak-lo-sian membanting kakinya diatas tanah. “Kalian muridku berdua! Mengapa diam saja? Hendak menyembunyikan rahasia dari gurumu?”

Kun Beng hanya menundukkan kepalanya, tak berani bergerak. Swi Kiat lalu menelan ludah beberapa kali kemudian terpaksa dia menuturkan dengan suara gemetar tentang perbuatan Kun Beng terhadap Kui Lan, adiknya. Bukan main kagetnya semua orang mendengar ini. Sui Ceng menjadi pucat sekali dan air matanya mengalir turun membasahi pipinya.

Kiu-bwe Coa-li lalu bangkit dan berkata, “Sui Ceng, tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan. Perjodohanmu putus sampai di sini! Hayo kita pergi!” Kiu-bwe Coa-li lalu melompat dan berlari pergi dari situ.

Sui Ceng ragu-ragu, lalu menghampiri Kwan Cu. Sambil menggigit bibir dia berkata, “Kau iri hati, kau… kau….!” Tangannya menampar dan “plak!” pipi Kwan Cu sudah ditamparnya. Pemuda itu hanya memandangnya dengan tenang. Sui Ceng terisak lalu berlari mengejar gurunya.

Pak-lo-sian marah bukan main. “Kun Beng, murid macam engkau harus binasa, memalukan nama baik gurumu!” Kakinya menendang, akan tetapi bukan Kun Beng yang terjungkal, melainkan Swi Kiat! Pemuda ini telah menubruk dan memasang dirinya sehingga dia mewakili sutenya. Tubuhnya terlempar bergulingan. Pak-lo-sian terkejut sekali, akan tetapi Swi Kiat yang patah tulang pundaknya terkena tendangan, telah maju berlutut,

“Suhu, mohon mengampuni nyawa sute. Dia dia adalah suami adik teecu, dia harus mengawini Kui Lan !”

Melihat ini semua, Kun Beng tiba-tiba berdiri dan sambil tertawa bergelak, dia melompat dan sebentar kemudian lenyap dari situ. Mendengar suara ketawa ini, semua orang bergidik, dan Yok-ong berkata seorang diri, “Kasihan….. suara ketawa itu menunjukkan bahwa batinnya terpukul hebat dan mungkin otaknya terkena getaran” Ini hanya berarti bahwa ada kemungkinan Kun Beng menjadi gila!

Pak-lo-sian marah dan mengejar Kun Beng diikuti oleh Swi Kiat. Namun mereka tak dapat menemukan jejak Kun Beng lagi. Yok-ong lalu menghampiri Kwan Cu dan alangkah kagetnya ketika dia melihat pemuda itu menangis terisak-isak. Ternyata bahwa Kwan Cu merasa menyesal setengah mati melihat akibat daripada pembongkaran rahasia itu. Ia dapat merasa betapa Sui Ceng terluka hatinya, Kiu-bwe Coa-li kecewa, Pak-lo-sian Siangkoan Hai malu dan marah, Swi Kiat berduka dan Kun Beng mungkin…. gila!

“Locianpwe…… aku…… aku berdosa besar…….”

“Sudahlah, hati yang menanggung cinta kasih memang membikin orang menjadi buta dan sembrono. Biar kuobati lukamu.” Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya dan pergi sambil menundukkan mukanya. Yok-ong tahu akan kekerasan hati pemuda ini, maka dia lalu memasukkan sebungkus obat di kantong pemuda itu sambil berkata,

“Pakai obat ini pada lukamu, pasti akan sembuh.” Akan tetapi Kwan Cu tidak menjawab dan terus berjalan dengan kepala tunduk. Mukanya pucat dan kakinya limbung. Yok-ong menggeleng-geleng kepalanya dan segera pergi karena tahu bahwa dia tidak dapat menghibur pemuda yang luka hatinya itu.

Kwan Cu berjalan terus tanpa tujuan, memasuki hutan yang besar itu. Dadanya yang terluka sakit sekali rasanya, namun dia tidak ambil peduli. Kematian bukan apa-apa baginya pada saat itu. Rasa panas di pipinya lebih menyakitkan hati daripada rasa panas pada luka di dadanya. Anak panah itu masih menancap di dada, tidak dipedulikannya pula.

“Kwan Cu…. !” Ia menengok dan meliha Sui Ceng berdiri di depannya. “Kau…. kau kenapa?”

Kwan Cu melihat air mata mengalir di pipi gadis itu. la menarik napas panjang, “Kau tentu tak mau mengampuni aku….. ” katanya lemah.

“Lukamu itu….. ! Mengapa belum diobati?”

Kwan Cu menundukkan mukanya dan tiba-tiba timbul pikiran yang amat aneh di kepalanya. Dengan tangan, dia menekan anak panah itu yang tentu saja masuk makin dalam ke dadanya! Ia merasa sakit sekali, akan tetapi dengan senyum aneh dia berkata, “Lebih baik aku mati saja ” Rasa sakit tak tertahankan lagi dan Kwan Cu roboh terguling dalam keadaan pingsan! Tubuhnya sebetulnya kuat sekali dan biarpun anak panah itu menancap makin dalam, dia takkan apa-apa kalau batinnya tidak menerima pukulan hebat akibat peristiwa tadi.

Ketika dia siuman kembali, dia melihat dirinya duduk dan bersandar pada pohon. Bajunya yang atas sudah tidak ada, entah ke mana. Ia bertelanjang sebatas pinggang ke atas. Akan tetapi dia tidak memperhatikan semua ini, karena dia melihat Sui Ceng telah duduk di depannya dan sedang merawat luka di dadanya. Anak panah itu telah dicabut dari dadanya dan kini dengan saputangannya, Sui Ceng tengah membersihkan lukanya.

Darah muda Kwan Cu memanaskan seluruh tubuhnya. Alangkah cantiknya wajah yang berada dekat di depannya. Alangkah indahnya rambut yang terurai itu, bibir yang merah dan penuh, mata yang masih membayangkan tangis.

“Sui Ceng…. kau baik sekali…. ” Gadis itu tidak menjawab, hanya menggigit bibir menahan isak, akan tetapi kedua tangannya masih tetap bekerja membersihkan darah dari luka yang membiru itu.

“Sui Ceng….. alangkah….. alangkah cantiknya engkau……”

Dua tetes air mata mengalir di pipi gadis ini, matanya dikejap-kejapkan karena pandangan matanya terganggu dan bibirnya gemetar.

“Sui Ceng, sekali lagi….. aku…. aku cinta kepadamu….. ” suara Kwan Cu menjadi bisik-bisik karena kepalanya sudah berdenyut-denyut pula, pandangan matanya berkunang-kunang. “Kau…. kauampunkan aku, Sui Ceng, aku…… aku berdosa besar….. ”

Air mata dari mata gadis itu turun makin banyak dan kini bukan hanya bibirnya yang gemetar, bahkan sepuluh jari tangannya yang merawat luka ikut menggigil. Akan tetapi ia tetap membungkam dan matanya tak pernah melirik wajah Kwan Cu.

“Sui Ceng….. ” suara Kwan Cu lemah dan lirih sekali, “biarkan……. aku mati…… aku lebih suka mati daripada menyakiti hatimu….. ” Dan tiba-tiba kepala Kwan Cu terkulai, dia pingsan lagi untuk kedua kalinya!

Melihat ini, Sui Ceng menjadi kaget sekali. Ia memeluk tubuh pemuda itu dan menggoyang-goyangnya. “Kwan Cu……. dengarlah….. aku ! Jangan mati, Kwan Cu…..!” Namun Kwan Cu tetap tidak bergerak.

Tubuh Kwan Cu tanpa dia ketahui sendiri, telah memiliki kekuatan yang aneh berkat latihan-latihan lweekang menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Racun yang dipasang di ujung anak panah yang dilepaskan oleh Kiam Ki Sianjin, adalah racun pemberian dari Coa-tok Lo-ong dan amat ganas. Kalau saja di dalam tubuh Kwan Cu tidak mengalir hawa murni dari sinkang yang sudah dilatihnya, pasti racun itu akan cepat menjalar dan menewaskannya.

Berkat kekuatan ini Kwan Cu siuman kembali. Ia mendengar suara orang memanggil-manggil namanya dari jauh. Suara itu makin lama makin dekat dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Sui Ceng menangis sambil memanggil-manggil namanya. Ia tidak tahu bahwa wajahnya sudah pucat seperti mayat dan detak nadinya sudah berhenti, maka gadis itu mengira bahwa dia sudah mati! Padahal, hentian detak nadi ini adalah akibat dari pengerahan lweekang yang sudah tak dapat diukur tingginya lagi. Tadi sebelum pingsan Kwan Cu menahan sakit dan mengerahkan lweekangnya sehingga dia berhasil menghentikan jalan darahnya, maka ketika Sui Ceng meraba urat nadi, tidak merasa ada detaknya lagi.

“Sui Ceng, terima kasih….. kau……kau menangis untukku……” katanya.

Sui Ceng memandang muka yang tadinya berada di atas pangkuannya itu. Melihat Kwan Cu “hidup kembali” ia cepat-cepat menurunkan kepala pemuda itu diatas tanah dan berkata, “Kwan Cu, jangan kau mati…..”

Kwan Cu tersenyum. “Tidak, Sui Ceng. Kalau kau menghendaki aku hidup, katakanlah bahwa kaumaafkan aku.”

“Aku…. aku maafkan kau, Kwan Cu.”

Sinar gembira membayang di wajah Kwan Cu. Ia mengerahkan tenaga dan berhasil bangkit duduk. Dirogohnya saku bajunya dan dikeluarkannya bungkusan obat pemberian dari Yok-ong.

“Yok-ong locianpwe memberi obat ini untukku. Campurlah dengan air dan masukkan ke dalam luka di dadaku.”

Sui Ceng cepat menerima bungkusan itu dan pergi mencari air yang mudah didapat di dalam hutan itu, lalu tanpa banyak cakap ia mengobati luka di dada Kwan Cu. Luar biasa manjurnya obat dari Yok-ong ini, karena begitu obat itu dijejalkan ke dalam luka, rasa panas lenyap dan obat yang tadinya berwarna putih bersih setelah terkena air itu, kini perlahan-lahan berubah hitam! Tak lama kemudian, darah kehitaman keluar dari luka itu. Kwan Cu bersila, meramkan mata sambil mengempos semangatnya, mempergunakan hawa dalam tubuh untuk mendesak keluar semua racun yang mengotori darahnya sehingga darah hitam yang keluar dari lukanya makin deras, akhirnya keluarlah darah merah. Setelah ini baru Kwan Cu menghentikan penggunaan tenaga dalam, lalu membuka matanya dan memakai pakaiannya lagi.

Semenjak tadi, Sui Ceng memandang kepada pemuda itu dengan air muka sebentar kagum sebentar duka.

“Sui Ceng, kau benar-benar berhati mulia seperti ibumu. Kau sudah pergi dengan gurumu, mengapa bisa datang di tempat ini?”

Sui Ceng menjawab dengan kepala tunduk. ” Aku…. aku merasa menyesal sekali telah berlaku kasar padamu, telah……. telah menampar mukamu. Kau maafkan aku, Kwan Cu.”

Kwan Cu tertawa bergelak. “Sepatutnya kau membunuhku, Sui Ceng, tidak hanya menamparku. Kalau ada orang yang minta maaf, akulah orangnya, bukan kau.”

Hening sesaat. Keduanya duduk dibawah pohon dan setelah kini sembuh dari sakitnya, Kwan Cu merasa sungkan dan kikuk. Merah mukanya kalau dia teringat betapa tadi dia kembali mengeluarkan kata-kata menyatakan cinta kasih kepada gadis ini. Keheningan suasana itu membuat Kwan Cu lebih kikuk, maka agar jangan sampai Sui Ceng merasa kikuk pula, dia mulai membuka percakapan,

“Sui Ceng, bagaimana kau bisa memisahkan diri dari gurumu?”

“Aku sengaja meninggalkan suthai dan sudah mendapat perkenannya. Suthai kembali ke gunung dan kelak aku akan menyusulnya.”

“Jadi kau sengaja pergi dari Kiu-bwe Coa-li suthai untuk menyusulku?”

Sui Ceng mengangguk. Hening lagi sesaat. Beberapa kali Kwan Cu menggerakkan bibir, akan tetapi sukarlah kata-kata keluar dari mulutnya. Akhirnya dia memberanikan diri dan bertanya,

“Sui Ceng, setelah kau menyusulku, apakah yang hendak kaukatakan? Kita terlibat dalam urusan yang amat tidak enak, dan aku…. aku….”

“Kwan Cu, bagaimana kau bisa tahu tentang…. Kun Beng dan adik Swi Kiat?”tiba-tiba Sui Ceng bertanya sambil memandang tajam.

‘Untuk inikah kau menyusulku, Sui Ceng?”

“Ya, untuk mengajukan pertanyaan ini. Aku penasaran sekali dan ingin mendengar sejelasnya.”

Untuk beberapa lama Kwan Cu menatap wajah gadis yang kemerah-merahan dan mata yang berkaca-kaca itu, maka tertusuklah hatinya. Dengan suara perlahan dia bertanya,

“Sui Ceng, kau…. kau amat mencinta Kun Beng…..?”

Merah sekali wajah Sui Ceng. Gadis ini tahu bahwa Kwan Cu amat mencintanya dan tentu saja akan hancur hati pemuda ini kalau ia mengaku bahwa ia mencinta Kun Beng. Akan tetapi tidak ada lain jalan bagi Sui Ceng untuk menyangkal dan pula ia tidak suka menyangkal, karena gadis ini berwatak jujur.

Dengan air mata berlinang dan suara terputus-putus Sui Ceng menjawab,

“Bagaimana aku tidak… tidak akan mencintanya? Dia adalah tunanganku, dia adalah jodohku yang dipilih sendiri oleh mendiang ibu akan tetapi dia… dia…” Sampai di sini Sui Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya, tubuhnya lemas dan tiba-tiba ia sudah berada dalam pelukan Kwan Cu. Karena amat berduka dan patah hati, Sui Ceng merasa mendapatkan hiburan dan ia menyandarkan kepalanya di dada Kwan Cu sambil menangis. Usapan tangan Kwan Cu pada kepalanya mendatangkan hiburan besar baginya seakan-akan ia berada di pangkuan ibunya sendiri.

Kwan Cu merasa amat terharu dan kasihan, “Sui Ceng, jangan berduka, adikku, tenangkanlah hatimu…. kau sekarang bukan tunangan Kun Beng lagi, tak perlu kau memikirkan dia. Dia tidak berharga bagimu dan aku…. aku mencintamu dengan segenap jiwaku, Sui Ceng. Jangan kau khawatir, marilah kita membangun hidup baru, rumah tangga bahagia, menjauhkan diri dari segala hal yang menjengkelkan hati. Aku akan melindungimu Sui Ceng…..”

Tubuh gadis itu tersentak, akan tetapi ia tidak mengangkat kepalanya dari dada Kwan Cu. Untuk sesaat pikirannya bekerja keras. Harus ia akui bahwa kalau sekiranya tidak ada Kun Beng di dunia ini, ia akan menerima pernyataan cinta kasih Kwan Cu dengan hati terbuka. Ia sudah mengetahui bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan mulia, bahkan jauh lebih baik daripada Kun Beng. Akan tetapi, hati Sui Ceng sudah tertambat kepada The Kun Beng tunangannya itu. Ia amat mencinta Kun Beng dan pula, bukankah pemuda itu pilihan ibunya sendiri?

“Sui Ceng, jangan kau takut.”Kwan Cu menghibur karena dia mengira bahwa gadis itu berdiam diri dengan hati takut menghadapi kemurkaan gurunya. “Jangan kau takut kepada siapapun juga. Biarpun Kiu-bwe Coa-li suthai akan marah kepadamu, akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah orangnya yang dapat membelamu dengan taruhan nyawa. Tak seorang pun di dunia ini akan dapat mengganggumu selama aku masih hidup!”

Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng melepaskan diri dari pelukan Kwan Cu dan memandang kepada pemuda itu dengan muka pucat. Ia menggelehg-gelengkan kepalanya dengan keras.

“Tidak! Tidak….. jangan begitu, Kwan Cu. Jangan menyeretku ke dalam lembah kehinaan!”

Kwan Cu terkejut sekali. Ia mengulur tangan hendak memegang lengan Sui Ceng, akan tetapi gadis itu menarik tangannya.

“Jangan sentuh aku lagi. Tidak patut kita bersentuhan, kau tidak berhak dan aku…. aku harus menjaga kesusilaan. Memang aku tidak takut kepada suthai, akan tetapi, aku harus mentaati kehendak ibuku. Apakah kau ingin melihat aku mengingkari pesan ibu? Tidak, Kwan Cu. Bagiku, aku adalah jodoh dan tunangan Kun Beng, pilihan ibu. Kalau sampai terjadi perpecahan sehingga ikatan itu putus, aku bersumpah selamanya takkan mau menikah. Kecuali… kecuali kalau Kun Beng menikah dengan orang lain ” Kembali Sui Ceng menangis dengan sedih.

Kwan Cu menarik napas panjang. “Betapapun juga, aku kagum padamu, Sui Ceng. Cinta kasihmu terhadap Kun Beng benar-benar tulus dan murni, hanya pemuda itu yang tidak tahu diri. Kau setia dan mulia, maka aku kembali telah merusak kesucianmu. Dengarlah, Sui Ceng, sekali-kali aku tidak membuka rahasia Kun Beng karena iri hati kepadanya. Memang aku ingin melihat kau berbahagia. Kalau Kun Beng tidak melakukan perbuatan sesat itu, akulah orangnya yang akan membantu perjodohan kalian. Akan tetapi, ternyata Kun Beng memperlihatkan bahwa dia tidak patut menjadi suamimu, maka aku kasihan kepadamu dan berusaha menggagalkan perjodohan itu.”

Sui Ceng mengangguk-angguk terharu. “Aku tahu, Kwan Cu, karenanya aku datang mencarimu. Sekarang ceritakanlah bagaimana kau bisa mengetahui akan hal itu?”

Kwan Cu lalu menuturkan pengalamannya ketika dia menolong Kui Lan dari cengkeraman An Kong dan menceritakan pula bahwa sekarang Kui Lan berada di kelenteng Kwan-im-bio di dusun Kau-ling sebelah utara Tang-shan yakni kelenteng yang diketuai oleh Ngo Lian Suthai. Sebagaimana sudah dituturkan dibagian depan, Ngo Lian Suthai kenal baik dengan Kwan Cu dan ketua nikouw itu terluka oleh bajak sungai yang mencuri patung. Semua ini diceritakan dengan sejujurnya oleh Kwan Cu dan akhirnya dia berkata dengan suara penuh kedukaan dan kehancuran hati,

“Sui Ceng, sebelum aku tahu bahwa kau telah dijodohkan dengan Kun Beng, aku telah menaruh hati suka kepadamu. Kau sudah mendengar ceritaku, maka tentu kau juga menaruh hati kasihan kepada Kui Lan gadis yang malang itu.”

“Kasihan? Dia seorang gadis lemah iman yang bodoh! Gadis seperti itu tidak ada harganya!”

Kalau lain orang yang mendengar omongan ini, tentu hanya akan menuduh bahwa Sui Ceng merasa sakit hati kepada Kui Lan karena tunangannya direbut. Akan tetapi Kwan Cu lain lagi dan dia dapat melihat kebenaran kata-kata ini.

“Memang, Kui Lan terlampau lemah, mudah sekali menuruti ajakan iblis yang menggoda. Betapapun juga, keadaannya harus dan patut dikasihani.”

Tiba-tiba Sui Ceng bangkit berdiri. “Selamat tinggal, Kwan Cu. Mungkin kita takkan bertemu lagi.”

“Eh, kau hendak ke mana?”

“Aku akan menemui Kui Lan dan akan kuusahakan agar supaya Kun Beng mengambilnya sebagai isteri yang sah!”

Kwan Cu makin kagum. “Kau hebat sekali, Sui Ceng. Benar-benar kau berbudi luhur seperti ibumu.” Tiba-tiba pemuda ini teringat akan kata-kata Sui Ceng tadi yang menyatakan bahwa gadis ini dapat mengambil keputusan lain tentang perjodohannya kalau saja Kun Beng menikah dengan orang lain. Dengan demikian berarti bahwa kalau sampai terjadi Kun Beng menikah dengan Kui Lan, dia mempunyai banyak harapan terhadap Sui Ceng! Maka cepat-cepat dia berkata,

“Tunggu dulu, aku pun akan pergi ke sana! Aku yang mula-mula menolong Kui Lan dan aku pula yang berkewajiban untuk menolongnya mendapatkan Kun Beng kembali. Awas kepala Kun Beng kalau dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak mau mengawini Kui Lan.”

Kedua orang muda itu lalu berangkat dengan cepat, menuju ke kuil Kwan-im-bio di dusun Kau-ling. Karena kedua orang muda yang perkasa ini mempergunakan ilmu lari cepat, tak sampai lama mereka tiba di dusun itu. Akan tetapi mereka kecewa karena ternyata bahwa Ngo Lian Suthai telah pergi merantau membawa Kui Lan yang diaku sebagai muridnya.

“Eh, bagaimana mungkin?” tanya Kwan Cu kepada nikouw yang menyambut mereka. “Aku tahu benar bahwa Ngo Lian Suthai terluka hebat, bagaimana dia bisa pergi?”

Nikouw itu tersenyum. “Taihiap, manusia yang baik selalu mendapat perlindungan Thian. Ngo Lian Suthai telah mendapat penyembuhan, berkat pertolongan Yok-ong locianpwe.”

Kwan Cu melengak. Jadi sebelum bertemu dengan dia, Yok-ong malah sudah menyembuhkan Ngo Lian Suthai? Aneh sekali kakek Raja Tabib itu, di mana-mana dan di waktu tenaganya diperlukan selalu muncul akan tetapi tidak banyak bicara.

“Kemana perginya Ngo Lian Suthai?”

“Sukar untuk menentukan tempatnya. Akan tetapi kalau tidak salah, Ngo Lian Suthai pernah menyatakan bahwa sahabat-sahabatnya membantu perjuangan rakyat di wilayah Pao-ting. Dan suthai selalu merasa sejiwa dengan mereka itu, maka tidak akan meleset jauh kalau kiranya Taihiap menyusul ke sana.”

Kwan Cu menghaturkan terima kasih, lalu bersama Sui Ceng menuju ke Pao-ting yang pada saat itu memang menjadi sebuah di antara pusat-pusat pasukan pejuang rakyat yang berusaha menggulingkan pemerintah Tartar. Pao-ting berada di sebelah selatan kota raja, maka dua orang muda itu melakukan perjalanan yang cukup lama, sampai makan waktu sebulan lebih. Hal ini adalah karena di tengah perjalanan, mereka sering kali berhenti untuk membantu perjuangan rakyat. Makin kagumlah hati Sui Ceng melihat sepak terjang Kwan Cu dan sekarang tahu benarlah gadis ini bahwa kepandaian Kwan Cu benar-benar luar biasa hebatnya, jauh melebihi kepandaian tokoh-tokoh besar, di antaranya gurunya sendiri, Kiu-bwe Coa-li! Diam-diam ia mengharapkan agar Kun Beng suka menikah dengan Kui Lan, karena hal ini akan memungkinkan hatinya menyetujui pinangan K wan Cu terhadapnya. Ia memang mencinta Kun Beng, akan tetapi kalau tunangannya itu memang sudah menikah dengan Kui Lan, tentu ia akan dapat melupakannya dan kiranya tidak akan sukar baginya untuk membalas cinta kasih seorang pemuda seperti Kwan Cu

***

Pada suatu hari, ketika Kwan Cu dan Sui Ceng baru saja keluar dari sebuah hutan di selatan kota raja, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun tujuh batang anak panah. Kwan Cu dan Sui Ceng bersiap sedia untuk menangkis atau mengelak, akan tetapi ternyata tak sebatang pun anak panah mengenai mereka dan ketika mereka memandang, ternyata bahwa tujuh batang anak panah itu menancap di tanah mengelilingi mereka.

Sui Ceng terkejut dan diam-diam ia mengagumi orang yang melepaskan anak panah itu, karena dapat menancap rata pada jarak yang sama di sekeliling mereka. Akan tetapi bagi Kwan Cu, kepandaian seperti itu bukan apa-apa dan dia berdongak ke atas sambil berkata tenang,

“Sahabat dari manakah bermain-main seperti ini dengan kami?”

Sebetulnya, sejak tadi pun Kwan Cu sudah tahu bahwa di atas pohon itu bersembunyi empat orang, akan tetapi dia sengaja diam saja agar tidak mengagetkan hati Sui Ceng yang sesungguhnya masih belum sembuh benar daripada lukanya yang diderita dalam pertempuran dipuncak Tai-hang-san.

Baru saja kata-kata ini dikeluarkan oleh Kwan Cu, dari atas pohon menyambar turun empat orang yang gerakannya amat ringan dan gesit sehingga kembali Sui Ceng terkejut. Akan tetapi baik dia maupun Kwan Cu tidak mengenal orang-orang ini. Setelah mereka berdiri berhadapan dengan Kwan Cu dan Sui Ceng, gadis ini memandang penuh perhatian dan orang yang ke empat dari rombongan ini mempunyai wajah yang seperti pernah dilihatnya, akan tetapi ia sudah lupa lagi entah di mana. Orang itu adalah seorang pemuda yang ganteng dan bersikap sopan santun. Gerak-geriknya yang halus dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang sastrawan muda, sepasang matanya tajam dan tubuhnya jangkung. Usianya sebaya dengan Kwan Cu. Adapun orang ke dua adalah seorang kakek yang kecil bongkok, orang ke tiga seorang kakek bermuka hitam bertubuh tinggi besar. Sedangkan orang ke empat yang berdiri paling depan adalah seorang nikouw (pendeta wanita) yang berjubah kuning.

Melihat bahwa yang datang sebagian besar adalah orang-orang tua, Kwan Cu lalu menjura dan bertanya,

“Entah apakah yang menjadi kehendak Cu-wi sekalian maka menghadang perjalanan kami?”

” Apakah kau yang bernama Lu Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai?” tanya nikouw itu sambil memandang tajam. Juga tiga orang kawannya memandang tajam kepada Kwan Cu tanpa melirik ke arah Sui Ceng sehingga pemuda ini maklum bahwa mereka tentu pernah mendengar namanya di puncak Tai-hang-san.

“Siauwte memang benar bernama Lu Kwan Cu, tidak tahu Suthai dan yang lain-lain ini siapakah? Dengan maksud apa menghentikan perjalanan siauwte?”

Mendengar bahwa pemuda di depan mereka itu benar-benar Lu Kwan Cu yang namanya disebut-sebut oleh seluruh orang gagah di dunia kang-ouw, karena anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai telah menceritakan peristiwa menggemparkan di atas Tai-hang-san itu, empat orang ini memandang dengan mata menyatakan kekaguman, akan tetapi juga kurang percaya. Mungkinkan seorang pemuda sederhana yang kelihatan tidak memiliki kepandaian ini telah dapat mengalahkan semua tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw?

“Pinni adalah Lui Kong Nikouw dari Thian-san-pai.”

“Aku bernama Bu Kek Sian dari Go-bi-pai,” jawab kakek kecil bongkok.

“Aku yang bodoh dan kasar adalah Kong Seng Kak Hwesio dari Siauw-lim-pai,” jawab kakek tinggi besar bermuka hitam. Mendengar ini, Kwan Cu heran dan memandang lebih tajam. Ternyata bahwa kakek yang memakai topi ini memang benar kepalanya gundul, sehingga biarpun pakaiannya seperti petani, namun dia adalah seorang hwesio.

Kong Seng Kak tertawa bergelak melihat sinar mata heran dari Kwan Cu.

“Pinceng memang sengaja menyamar sebagai petani biasa. Kalau pinceng memakai jubah pendeta dan berada di antara para pejuang rakyat, bukankah nama Siauw-lim-si akan dicap hitam oleh kerajaan dan kuil kami akan mengalami serangan hebat?”

Kwan Cu kagum sekali mendengar bahwa hwesio kasar ini ternyata membantu rakyat, maka dia cepat menjura dan berkata, ,

“Kong Seng Kak Twa-suhu benar-benar seorang patriot sejati, siauwte merasa kagum sekali.”

Tiba-tiba terdengar suara halus berkata memperkenalkan diri. “Aku yang rendah adalah Lai Siang Pok.”

Mendengar nama ini, Sui Ceng tiba-tiba teringat dan dia melangkah maju setindak, lalu berkata, “Eh, bukankah kau murid pujangga Tu Fu yang dahulu dibawa lari oleh Hek-i Hui-mo?”

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya makin menarik. “Bun-lihiap benar-benar bermata tajam dan mempunyai ingatan kuat sekali. Siauwte memang benar Lai Siang Pok dan Hek-i Hui-mo adalah guruku.” Setelah berkata demikian Lai Siang Pok menundukkan muka dan menutup mulut.

Diam-diam Sui Ceng berpikir sampai di mana tingkat kepandaian pemuda murid Hek-i Hui-mo ini. Teringat ia akan semua pengalamannya di waktu ia masih kecil, ketika gurunya, Kiu-bwe Coa-li memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang ternyata palsu itu dengan Hek-i Hui-mo. Seperti pernah dituturkan di bagian depan, Tu Fu dipaksa membaca kitab itu dan pendengar-pendengarnya adalah Hek-i Hui-mo yang dibantu oleh pemuda Lai Siang Pok itu, sedangkan Kiu-bwe Coa-li dibantu oleh Sui Ceng. Setelah membaca, kitab itu lalu dibakar, demikian menurut perjanjian dan syarat yang diajukan oleh pujangga Tu Fu. Kemudian setelah mendengarkan bersama Lai Siang Pok, Hek-i Hui-mo lalu menculik Siang Pok dan dipaksa menjadi muridnya. Sekarang Hek-i Hui-mo telah binasa oleh Kwan Cu, apakah maksud kedatangan pemuda ini?

Kwan Cu tentu saja dapat menduga akan maksud ini, maka dia lalu tersenyum dan bertanya,

“Setelah memperkenalkan nama Cu-wi, perlu kiranya siauwte memperkenalkan pula sahabat ini, ialah Bun Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li suthai.”

Akan tetapi mereka tidak mempedulikan Sui Ceng, sebaliknya Lui Kong Nikouw lalu berkata,

“Lu-taihiap, tentu kau ingin mengetahui maksud kami menghadangmu di sini, bukan?” Kwan Cu menjadi merah muka nya disebut taihiap (pendekar besar), akan tetapi sebetulnya panggilan ini memang dengan hati tulus, karena siapakah yang tidak menganggapnya sebagai seorang pendekar besar setelah apa yang dia lakukan di puncak Tai-hang-san?

“Siauwte tidak sabar lagi mendengar keterangan Suthai.” jawab Kwan Cu.

“Pinni, datang untuk bertanya mengapa Taihiap yang gagah perkasa telah berani mempermainkan dan mengganggu muridku, Wi Wi Toanio.”

Sui Ceng mengerutkan kening dan Kwan Cu terkejut. “Mempermainkan dan mengganggu bagaimana, Suthai?” tanyanya penasaran.

Lui Kong Nikouw tersenyum dan tampaklah bahwa dahulu di waktu mudanya, nikouw ini tentu berwajah cantik dan senyumnya masih membayangkan kegenitan seperti yang dipunyai oleh Wi Wi Toanio. “Taihiap, muridku itu adalah seorang wanita muda yang paling cantik di seluruh wilayah timur, sudah sepatutnya dan dapat dimengerti kalau hati laki-laki tergila-gila kepadanya. Akan tetapi Taihiap harus dapat menahan nafsu dan tahu bahwa dia adalah seorang yang telah menjadi isteri orang lain. Perbuatan Taihiap sungguh tidak patut.”

Bukan main marahnya Kwan Cu, sedangkan wajah Sui Ceng menjadi merah sekali.

“Suthai, kau mengeluarkan omongan yang membikin orang penasaran! Aku Lu Kwan Cu tidak pernah mempermainkan wanita!” Akan tetapi ketika dia membayangkan wajah dan tubuh dari Wi Wi Toanio, hatinya berdebar. Di dalam hati kecilnya, dia tidak dapat menyangkal bahwa isteri dari An Kai Seng itu benar-benar menarik hatinya. Akan tetapi Kwan Cu tahu bahwa kata-kata dari Lui Kong Nikouw tadi merupakan racun yang akan merusak hubungan baiknya dengan Bun Sui Ceng, maka cepat-cepat dia melanjutkan.

“Wi Wi Toanio adalah isteri dari An Kai Seng musuh besarku yang harus kubunuh karena An Kai Seng adalah keturunan An Lu Shan, musuh besar kong-kongku dan guruku. Bagaimana aku bisa mempermainkannya? Pada waktu itu memang benar dia membela suaminya dan kalah dalam pertempuran olehku, apakah hal ini dianggap mengganggu?” setelah berkata demikian, Kwan Cu tanpa disengaja melirik ke arah Sui Ceng.

Lui Kong Nikouw mengeluarkan, suara jengekan. “Huh, siapa percaya mulut laki-laki? Mengganggu atau tidak, kau telah mengalahkan muridku yang berarti penghinaan besar bagi nama Thian-san-pai, maka sekarang pinni sengaja menunggu di sini untuk minta pengajaran darimu.”

“Nanti dulu, Lui Kong Nikouw!” kata Bu Kek Sian, “Pertandinganmu melawan Lu-taihiap mempunyai dasar permusuhan, maka harus dilakukan nanti setelah aku mencoba kepandaiannya. Jauh-jauh aku datang dari Go-bi karena tertarik mendengar kegagahan Lu-taihiap, maka biarlah aku yang hendak minta petunjuk lebih dulu.”

“Betul! Demikianpun pinceng, karena murid Siauw-lim-pai takkan melewatkan kesempatan bagus menerima petunjuk dari seorang pandai!” menyambung Kong Seng Kak Hwesio.

Sambil tersenyum Kwan Cu menoleh kepada Lai Siang Pok dan berkata,

“Dan Lai-enghiong ini tentunya hendak membalaskan kematian gurunya, bukan?”

Dengan muka kemalu-maluan pemuda itu menjawab. “Sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk berusaha membalas pembunuh gurunya, akan tetapi karena kepandaianku sangat terbatas, biarlah siauwte minta pengajaran paling akhir saja.”

Bu Kek Sian si kakek kecil bongkok tertawa terkekeh-kekeh dan melompat maju. Tangannya telah mengetuarkan sebuah rantai baja yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya.

“Lu-taihiap, harap kau tidak terlalu pelit untuk memperlihatkan beberapa jurus ilmu silatmu yang lihai agar lebih terbuka mataku yang sudah agak lamur,” katanya sambil tertawa-tawa. Biarpun dia kelihatan lucu dan bicara merendah, namun di dalam kata-katanya itu terkandung nada yang sombong. Melihat gerak-gerik orang ini, Kwan Cu merasa bahwa Sui Ceng saja akan dapat menandinginya. Semua orang ini tidak memandang mata kepada Sui Ceng, kecuali Lai Siang Pok, maka diam-diam Kwan Cu merasa tidak puas. Melihat diri sendiri dipuji-puji dan orang-orang itu mengesampingkan Sui Ceng, dia merasa bahwa hal ini merendahkan derajat gadis itu. Sambil tersenyum, dia melirik ke arah Sui Ceng dan berkata,

“Sui Ceng, Lo-enghiong dari Go-bi ini pandai mempergunakan sabuknya dan melihat sabuk yang hebat ini hatiku sudah gentar sekali. Kau pernah mempelajari ilmu mainkan sabuk, sukakah kau sedikit mengeluarkan tenaga membagi tugas yang berat menghadapi para orang gagah ini?” Kwan Cu sengaja memberi kesempatan kepada Sui Ceng untuk memperlihatkan kepandaiannya menghadapi orang sombong ini, karena memang tadi rantai panjang itu dilibatkan di pinggangnya seperti sabuk.

Sui Ceng mengerti kehendak Kwan Cu. Memang nona ini sudah merasa mendongkol sekali. Ia diperkenalkan sebagai murid Kiu-bwe Coa-li, akan tetapi orang-orang itu kecuali Siang Pok, tidak mempedulikannya. Bukankah sama halnya dengan tidak memandang mata kepada gurunya? Sesungguhnya bukan demikian. Orang-orang ini tentu saja sudah mendengar nama besar Kiu-bwe Coa-li sebagai tokoh yang memiliki kepandaian mengagumkan, akan tetapi peristiwa di puncak Tai-hang-san itu terdengar oleh mereka dan mereka tahu bahwa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian sudah kalah oleh fihak Kiam Ki Sianjin, maka mereka tidak begitu menaruh perhatian lagi.

“Kalau saja tokoh besar yang perkasa dari Go-bi-pai tidak menganggap terlalu rendah untuk menghadapiku, tentu saja aku mau mewakili kau,” jawab Sui Ceng.

Kwan Cu menghadapi Bu Kek Sian dan berkata, “Bu Kek Sian Lo-enghiong. Fihak yang hendak mengujiku ada empat orang dan kalau aku hanya maju seorang diri, itu tidak adil namanya. Juga kurang memandang mata kepada nona ini sebagai murid Kiu-bwe Coa-li. Hanya yang meragukan, apakah ada yang berani menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li?!”

Bu Kek Sian terkekeh. “Nama besar Kiu-bwe Coa-li siapakah yang belum mendengarnya? Tentu saja aku tidak berani memandang rendah, akan tetapi setelah aku melayani nona ini beberapa jurus, aku masih mengharapkan sedikit petunjuk darimu.” Kata-kata ini saja sudah menunjukkan kesombongan Bu Kek Sian, karena dengan kata-kata ini dia mau menyatakan bahwa dalam beberapa jurus saja dia pasti akan dapat mengalahkan nona muda ini. Kalau dia menganggap bahwa dia takkan dapat mengalahkan dan sebaliknya dia yang akan kalah, tentu saja orang yang sudah kalah tidak berani maju lagi!

Sui Ceng menjadi panas perutnya. Tangannya bergerak dan tahu-tahu sinar merah berkelebat ketika dia telah meloloskan ang-kin (sabuk merah) yang melibat di pinggangnya.

“Bu Kek Sian Lo-sicu, marilah kita mengadu senjata.” tantangnya.

Bu Kek Sian terkejut dan heran sekali. Benar-benarkah nona ini akan menghadapi rantai bajanya dengan sehelai sabuk sutera? Akan tetapi dia pun bukan seorang yang tidak dapat mempergunakan pikirannya. Kalau seorang lawan sudah berani berlaku demikian berani, tentulah lawan itu memiliki kepandaian yang tinggi. Pula nona ini mempergunakan sabuk sutera atas kehendaknya sendiri, maka amat kebetulan sehingga dia tak usah terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

“Baiklah, kausambut seranganku, Nona!” Bu Kek Sian lalu menggerakkan tangannya dan rantai bajanya meluncur dengan lengkungan lebar menyerang kepala Sui Ceng. Gadis ini merendahkan tubuhnya kemudian mengelak ke kiri karena ia tahu bahwa setelah luput menghantam kepala, rantai yang panjang itu ujungnya masih akan menghantam tubuh bagian lain. Benar saja dugaannya, ujung rantai itu melayang dan dari pinggir menotok ke arah iganya. Sambil mengelak cepat, sabuk merah meluncur bagaikan ular merah yang hidup, gerakannya tak terduga dan berlenggang-lenggong, cepat menotok ke arah leher tokoh Go-bi-pai itu.

Bu Kek Sian kagum melihat gerakan nona yang cepat ini. Ia segera menyendal rantainya sehingga ujung rantai yang tak berhasil menotok iga, tiba-tiba tertarik kembali dan menyambar ke arah sabuk merah. Bu Kek Sian sengaja mengerahkan tenaganya agar supaya sabuk merah itu akan terbetot putus oleh rantai bajanya. Akan tetapi, sabuk merah itu bergerak memecut dan terdengar suara “tar! tar!” dua kali seperti bunyi cambuk seorang penggembala sapi. Kemudian ujung sabuk merah yang terbentur rantai itu melayang kembali dan dengan lengkungan yang amat manis, ujung sabuk ini menotok ke arah jalan darah Im-yang-hiat yang berada di ulu hati kakek ini. Bu Kek Sian mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat dia melempar dirinya ke belakang. Bukan main hebatnya serangan itu dan alangkah ganasnya! Baru mempergunakan sehelai sabuk saja, gadis ini sudah demikian lihainya, apalagi gurunya, Kiu-bwe Coa-li yang mempergunakan pecut dengan sembilan ekornya! Bu Kek Sian menjadi hati-hati sekali dan kini dia memutar rantainya cepat sekali untuk mendesak Sui Ceng. Akan tetapi, Sui Ceng adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja dalam hal kesaktian ia telah mewarisi kepandaian gurunya, maka dengan mudah ia dapat mengimbangi gerakan senjata lawan, bahkan ia kini bergerak demikian cepatnya sehingga tubuhnya lenyap dan yang kelihatan hanya bayangannya saja yang didahului oleh berkelebatnya sinar merah dari sabuk suteranya.

Beberapa jurus kemudian, terdengar suara rantai terlepas di atas tanah dan Bu Kek Sian melompat mundur dengan muka pucat. Sambungan sikunya telah terkena totokan ujung sabuk yang menyebabkan tangannya lumpuh dan rantainya terlepas. Kakek ini memandang kepada Sui Ceng dengan mata terbuka lebar-lebar kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil mengomel,

“Aku Bu Kek Sian sungguh manusia tak berguna! Bagaimana masih berani menantang Lu-taihiap?? Bagaimana mataku buta tidak melihat bahwa murid Kiu-bwe Coa-li demikian hebatnya?”

Melihat kekalahan Bu Kek Sian oleh nona muda yang cantik itu, Kong Seng Kak Hwesio kagum sekali. Ia melompat maju dengan tangan memegang sebatang toya hitam dan berkata gembira,

“Benar-benar menyenangkan sekali hari ini bertemu dengan orang-orang muda yang lihai. Bagus, bagus, biar pinceng menerima beberapa jurus untuk menambah bekal membasmi iblis penjajah!”

Melihat gerakan hwesio Siauw-lim-pai ini, Kwan Cu dapat menduga bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi dan tenaganya amat besar. Selain ini, juga seorang patriot yang gagah perkasa. Oleh karena itu, dia segera maju sendiri, khawatir kalau-kalau Sui Ceng kesalahan tangan melukai hwesio kosen ini.

“Losuhu, biarlah boanpwe yang menerima kehormatan ini,” katanya dan memberi tanda dengan mata agar Sui Ceng mundur. Gadis ini pun tidak ada nafsu lagi untuk bertempur, karena demikianlah watak Sui Ceng yakni ia akan makin bersemangat kalau menghadapi lawan-lawan yang tangguh, sebaliknya, kepandaian Bu Kek Sian dianggapnya masih belum cukup tinggi sehingga ia pun memandang rendah hwesio muka hitam ini.

Kong Seng Kak Hwesio berseri wajahnya. “Bu Kek Sian Bengyu tidak punya peruntungan baik, berbeda dengan pinceng yang kini mendapat kesempatan belajar satu dua jurus ilmu silat dari Lu-taihiap,” Sambil berkata demikian, toyanya diputar di atas kepalanya bagaikan kitiran cepatnya, akan tetapi hwesio ini tidak segera menyerang.

“Mulailah, Losuhu,” kata Kwan Cu.

Sebaliknya dari menyerang, hwesio muka hitam itu bahkan menurunkan kembali toyanya dan menggeleng-geleng kepalanya. “Taihiap harap segera mengeluarkan senjata.”

Kwan Cu makin kagum melihat hwesio ini. Sudah terang hwesio ini telah mendengar akan sepak terjangnya di Tai-hang-san dan tahu bahwa dia telah mengalahkan tokoh-tokoh besar, namun hwesio ini masih merasa tidak adil kalau menghadapi dia yang bertangan kosong. Timbul rasa sukanya dan dia mendapat kenyataan bahwa memang jago-jago Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang gagah.

“Kita hanya mau mencoba tenaga, berbahaya sekali kalau bertanding mengunakan senjata. Apakah tidak lebih baik kalau menguji tenaga dengan saling mendorong atau membetot toya itu? Masing-masing boleh berusaha bagaimanapun juga, boleh menonjok atau memukul, pendeknya siapa yang melepaskan toya atau roboh, terhitung kalah.”

Kong Seng Kak Hwesio girang sekali. Memang dia agak jerih menghadapi ilmu silat pemuda ini yang dikabarkan amat lihai dan aneh, akan tetapi dalam hal tenaga gwakanng maupun lweekang, dia sudah terkenal sekali. Masa dia akan kalah oleh pemuda yang kelihatannya tidak bertenaga besar itu? Usul yang diajukan oleh pemuda itu menguntungkan dirinya dan kalau dia bisa menang, biarpun dalam cara adu tenaga yang sederhana, bukankah namanya akan terangkat tinggi sekali karena dapat mengalahkan Lu-taihiap yang demikian tersohornya? Dengan cepat dia segera menerima usul ini.

Kwan Cu memegang tongkat yang diangsurkan kepadanya. Kedua orang itu memegang ujung toya dan memasang kuda-kuda.

“Lu-taihiap, bersiaplah, pinceng mulai!” seru Kong Seng Kak Hwesio sambil mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba dia mendorong toya yang dipegangnya itu dengan tenaga sepenuhnya. Kwan Cu merasa betapa tenaga hwesio ini memang hebat sekali dan tahu pula bahwa Kong Seng Kak Hwesio mempergunakan tenaga gwakang, maka dia lalu menahan dorongan itu dengan pengerahan tenaga lemas sehingga hwesio Siauw-lim-pai itu merasa seluruh lengannya gemetar. Tiba-tiba Kong Seng Kak Hwesio melakukan gerakan membetot dengan tiba-tiba dan disentakkan untuk mencabut toya agar terlepas dari tangan Kwan Cu atau kalau pemuda itu menahan, agar tubuh Kwan Cu terbawa ke depan. Akan tetapi kembali dia kecelik karena sedikit pun pemuda itu tidak bergeming. Ia tak menyangka hanya dengan melihat pundaknya saja, Kwan Cu sudah dapat mengetahui terlebih dulu gerakan apa yang hendak dia lakukan, maka pemuda itu dapat berjaga-jaga lebih dulu. Mendadak hwesio itu mengeluarkan seruan keras sekali dan tubuhnya merendah, lalu dengan pengerahan tenaga luar biasa dia mendorong toya ke atas untuk mengangkat tubuh Kwan Cu atau untuk memaksa pemuda itu melepaskan toya. Kwan Cu terkejut. Tak disangkanya bahwa tenaga gwakang dari lawannya ini benar-benar besar sekali. Ketika dia melirik ke arah wajah hwesio itu, tahulah dia bahwa kalau dia melawan dengan lweekang, maka tak dapat tidak tenaga gwakang itu akan memukul kembali dan dapat mendatangkan luka pada Kong Seng Kak Hwesio. Oleh karena itu, Kwan Cu mengambil jalan lain. Ia menyimpan tenaga dan ketika lawannya menyontekkan toya ke atas, dia menurut saja sehingga tubuhnya terbawa ke atas! Akan tetapi, biarpun begitu, Kwan Cu masih memegangi ujung toya dan keadaan tubuhnya masih tetap dalam kuda-kuda seperti tadi.

Tidak hanya Kong Seng Kak Hwesio, juga yang lain-lain merasa kagum sekali. Hwesio itu menggerak-gerakkan toyanya dengan tenaga besar, mengobat-abitkan toyanya dengan maksud agar, pegangan Kwan Cu terlepas, namun sia-sia belaka, agaknya tubuh pemuda itu sudah menjadi satu dengan toya yang dipegangnya.

Tiba-tiba Kwan Cu berseru nyaring dan kedua kakinya bergerak di udara, tubuhnya melengkung dan dengan sekali mengenjotkan kaki, dia melompat dengan toya masih dipegangnya. Kong Seng Kak Hwesio merasa betapa tenaga betotan itu luar biasa sekali, akan tetapi dia mengerahkan tenaga dan memegangi ujung toya seeratnya. Oleh karena ini toya yang dipegangnya itu terputar dan tubuhnya ikut terputar-putar. Kwan Cu bergerak terus, mengerahkan tenaga dan ginkangnya sehingga bagaikan seekor burung yang kakinya diikat tali yang dipegang oleh Kong Seng Kak Hwesio, dia “terbang” mengelilingi hwesio itu. Setelah beberapa belas kali putaran, akhimya Kong Seng Kak Hwesio tidak kuat lagi menahan. Ia melepaskan pegangan toyanya dan meramkan mata mengatur napas melenyapkan rasa pening di kepalanya. Kemudian dia memberi hormat kepada Kwan Cu sambil menerima kembali toyanya.

“Aduh, nama besar Lu-taihiap bukan omong kosong belaka. Pinceng mengaku kalah.”

Melihat betapa dua orang kakek itu sudah dikalahkan oleh Kwan Cu dan Sui Ceng dalam pertandingan persahabatan dan mendengar pemuda itu dipuji-puji, Lui Kong Nikouw lalu melompat ke depan Kwan Cu. Sepasang pedang yang berkilauan telah berada di tangannya.

“Lu Kwan Cu, kau menjadi makin sombong dan kepala besar saja mendengar pujian-pujian itu. Marilah kau bersiap menghadapi pinni untuk menebus dosa dan kekurangajaranmu terhadap muridku.”

“Suthai, aku tidak hendak mencari permusuhan.”

“Jadi kau bersedia minta maaf dan berjanji takkan mengganggu muridku lagi ?”

“Muridmu itu aku takkan mengganggu seujung rambutnya, akan tetapi suaminya, An Kai Seng, adalah musuh besarku dan harus kubunuh!”

“Kau berjanji tidak akan mengganggu muridku akan tetapi mau membunuh suaminya? Bagus! Omongan apa ini? Hayo kau keluarkan senjata!” Biarpun berkata demikian, namun tanpa menanti orang mencabut senjata, Lui Kong Ni kouw sudah menggerakkan pedangnya menyerang. Sepasang pedang itu menyerang berbareng dengan gerakan indah dan cepat dari Ilmu Pedang Thian-san Kiam hoat, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk melepaskan diri karena segera pedang-pedang itu mengurung dengan gulungan sinamya yang berkilauan.

Diam-diam Sui Ceng kagum melihat keindahan ilmu siang-kiam-hoat ini. Sebagai seorang wanita yang suka akan segala sesuatu yang indah, diam-diam ia memperhatikan dan ingin memetik beberapa bagian yang terindah. Akan tetapi, ia pun merasa bahwa ia sendiri sanggup menghadapi nikouw itu. Sebaliknya, Kwan Cu tetap tidak mau mencabut senjata dan hanya melayani nikouw itu dengan kedua tangan kosong. la mengandalkan ginkangnya untuk mengelak ke sana ke mari dan bahkan ikut berputaran mengimbangi gerakan dua pedang yang cepat itu. Sampai puluhan jurus dua batang pedang itu belum mampu menyenggol badan Kwan Cu bahkan kini pemuda itu mulai mempergunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk mencoba merampas pedang lawan.

Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na memang lihai sekali dan juga belum pernah muncul di dunia kang-ouw, maka ilmu ini sama sekali tidak dikenal oleh Lui Kong Nikouw. Dalam beberapa gebrakan saja, pedang di tangan kirinya telah kena dirampas oleh Kwan Cu. Nikouw itu hanya merasa jari tangan kirinya menggigil dan tahu-tahu pedangnya lenyap berpindah ke tangan Kwan Cu. la terkejut bukan main dan cepat berseru,

“Suheng, mengapa kau tidak lekas-lekas membantuku? Mari kita membalas sakit hati suhu!”

Kwan Cu terheran-heran karena dia tadi tidak pernah melihat suheng (kakak seperguruan) dari nikouw ini. Keheranannya bertambah ketika tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan sebatang tongkat yang aneh gerakannya telah menyerangnya dari samping. Ketika dia menengok, temyata olehnya bahwa yang menyerangnya dengan sebatang tongkat itu bukan lain adalah pemuda bemama Lai Siang Pok tadi. Kalau saja dia tidak sedang diancam oleh tongkat dan pedang kanan nikouw, tentu Kwan Cu akan berdiri seperti patung saking herannya. Bagaimana seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan tahun disebut kakak seperguruan oleh nikouw tua ini?

Akan tetapi kenyataannya memang demikian. Seperti diketahui, Lai Siang Pok adalah murid dari Hek-i Hui-mo dan pemuda ini dapat mewarisi ilmu tongkat yang tinggi dari Hek-i Hui-mo karena dia pun ikut menghafal bunyi isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Kemudian gurunya itu bertemu dengan Lui Kong Nikouw dan diam-diam di antara dua orang pendeta tua ini terdapat hubungan yang tidak bersih. Untuk menutupi rahasia ini, Lui Kong Nikouw yang menjadi seorang tokoh Thian-san-pai yang tersesat dan tidak diakui oleh partai Thian-san lagi, diaku murid oleh Hek-i Hui-mo. Karena sebagai murid baru, tentu saja menurut peraturan ia harus menyebut suheng kepada Siang Pok. Hal ini pun dilakukan oleh Lui Kong Nikouw dengan girang, karena dia bekas wanita genit sekali tentu merasa senang menyebut seorang pemuda ganteng sebagai kakak seperguruannya, sungguhpun pemuda itu patut menjadi cucunya! Namun dasar kepandaian Lui Kong Nikouw adalah dasar ilmu silat Thian-san-pai, sedangkan dari Hek-i Hui-mo ia hanya menerima beberapa macam ilmu pukulan saja.

Lai Siang Pok seorang pemuda pendiam dan dia melakukan serangan tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Akan tetapi ketika Kwan Cu menangkis sambaran tongkat itu dengan pedang rampasannya, pemuda ini diam-diam kagum karena tenaga Siang Pok bahkan lebih besar daripada tenaga nikouw itu. Hal ini adalah karena Siang Pok melatih diri dengan lweekang menurut petunjuk Im-yang Bu-tek Cin-keng yang pernah didengamya dari pujangga Tu Fu. Namun, kalau suhunya sendiri tidak kuat melawan Kwan Cu, apalagi dia?

Sebentar saja, ketika K wan Cu mengerahkan tenaga dan membabat dengan pedangnya, tongkat di tangan Siang Pok patah menjadi dua dan pedang di tangan Lui Kong Nikouw terbang entah ke mana! Dua murid Hek-i Hui-mo ini menjadi pucat dan memandang dengan tercengang. “Lu-taihiap benar-benar tangguh. Sedikitnya siauwte harus belajar dua puluh tahun lagi baru berani mengukur tenaga kembali.” kata Siang Pok sambil menjura kepada Kwan Cu, lalu dia melompat dan pergi tanpa pamit kepada Lui Kong Nikouw. Pemuda ini memang tidak suka kepada nikouw itu karena dia telah dapat mengetahui hubungan antara suhunya dan “sumoi” ini. Selain itu, juga Siang Pok tidak suka kepada suhunya yang dianggap jahat dan membantu penjajah. Bahkan diam-diam pemuda ini membantu perjuangan rakyat dan sebagai seorang pemuda Han bekas murid pujangga Tu Fu, darah kepatriotan masih mengalir di tubuhnya. Kelak pemuda ini akan menjadi seorang yang berilmu tinggi dan mendapat nama besar di dunia kang-ouw.

Lui Kong Nikouw juga tidak berkata apa-apa apa lagi, dengan muka merah ia lalu menggerakkan kedua kakinya, pergi dari situ tanpa pamit.

Terdengar tertawa terbahak-bahak dan yang tertawa adalah Kong Seng Kak Hwesio.

“Ha, ha, ha! Memang benar, gurunya naga muridnya tentu naga pula. Ang-bin Sin-kai adalah seorang perkasa yang berjiwa gagah, muridnya pun demikian. Lu-taihiap, sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu tinggi, mengapa kau tidak mau lekas-lekas turun tangan membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?” ,

Kwan Cu menjura. “Aku yang muda dan bodoh, biarpun tidak secara terang-terangan membantu perjuangan, akan tetapi sesungguhnya aku masih melakukan tugasku membalas dendam atas kematian suhu dan kong-kong Lu Pin. Lo-suhu, kau yang sering kali berada di dalam peperangan, pernahkan kau mendengar nama Ngo Lian Suthai ketua dari kuil Kwan-im-bio ?”

“Ah, dia? Benar-benar seorang wanita gagah perkasa yang berjiwa suci. Dia dan muridnya berada di tempat pertempuran tidak jauh dari sini, setiap hari dia dan muridnya mengurus dan merawat para pejuang yang terluka.”

“Lo-suhu, di manakah tempat itu?” Sui Ceng ikut bertanya dengan penuh keinginan tahu.

“Di sebuah bio tua di dusun Kiang-cee sebelah barat hutan ini. Semua pejuang mengenal tempat itu baik-baik, dan setiap orang yang terluka dalam pertempuran melawan barisan kerajaan, selalu diantarkan ke tempat itu untuk dirawat.”

Mendengar ini, Sui Ceng lalu berkata kepada Kwan Cu, “Mari kita cepat pergi ke Kiang-cee!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: