Pendekar Sakti (Jilid ke-37) Tamat

“Baik,” jawab Kwan Cu dan keduanya segera memberi hormat kepada dua orang tua yang gagah itu, lalu cepat berlari menuju ke barat. Dua orang tua dari Go-bi-pai dan Siauw-lim-pai itu memandang penuh kekagumam.

***

Dusun Kiang-cee sudah bukan merupakan dusun lagi karena semua penghuninya sudah pindah, meninggalkan dusun yang menjadi kosong dan sunyi. Hal ini disebabkan karena dusun itu termasuk daerah pertempuran antara para pejuang dan tentara kaisar, maka penduduk menjadi ketakutan dan lari mengungsi. Banyak pula di antara penduduk laki-laki yang masih muda menggabungkan diri dengan para pejuang rakyat yang sebagian besar terdiri dari para petani yang dipimpin oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang berjiwa patriot. Dusun itu dijadikan markas kalau malam dan kalau siang menjadi kosong karena semua penghuninya maju perang. Di sebuah kuil kuno yang besar menjadi semacam “hospital” setelah datang Ngo Lian Suthai dan muridnya yang bukan lain adalah Gouw Kui Lan. Semenjak tinggal di kuil Ngo Lian Suthai, gadis ini mendapat banyak petuah dan akhimya ia membuka semua rahasianya kepada wanita suci itu. Ngo Lian Suthai menghibumya dan menyatakan bahwa dosa itu hanya dapat ditebus dan dicuci dengan jalan melakukan perbuatan-perbuatan baik lahir batin sebanyak mungkin. Maka dengan suka rela Kui Lan lalu menjadi muridnya dan ikut membantu perjuangan dengan jalan merawat para pejuang yang terluka dalam peperangan.

Pada hari itu di dalam dusun kedatangan dua orang pemuda yang datang dari lain jurusan. Pemuda pertama adalah The Kun Beng dan orang muda ini setelah mendengar bahwa Kui Lan berada di situ, langsung menuju ke kuil. la merasa amat menyesal akan semua perbuatannya dan ingin minta ampun kepada Kui Lan, akan tetapi oleh karena cinta kasihnya sudah dicurahkan kepada Sui Ceng, setelah mendapat pengampunan dia akan pergi lagi bertapa. Ia tahu bahwa tak mungkin dia menjadi suami Sui Ceng setelah rahasianya terbongkar dan dia tidak mau pula menjadi suami Kui Lan karena memang dia tidak mencinta gadis ini.

Kebetulan sekali, baru saja dia tiba di depan kuil, dari lain jurusan datang Gouw Swi Kiat, suhengnya!

“Bagus, Kun Beng, kau datang menebus dosa! Lekas-lekas kita menemui Lan-moi dan pemikahan akan dapat dilakukan di sini juga,” kata Swi Kiat girang. Hati kakak ini tak lain hanya ingin menolong keadaan adiknya yang tentu akan rusak namanya kalau tidak menjadi isteri Kun Beng.

“Bukan itu maksud kedatanganku, Suheng. Aku memang datang untuk mohon ampun dari adikmu, akan tetapi aku takkan menikah dengan siapapun juga.”

Tentu saja Swi Kiat menjadi marah sekali, mukanya merah dan alisnya berdiri.

“Orang she The!” bentaknya menudingkan telunjuknya. “Apakah sampai saat ini, setelah rahasiamu diketahui oleh suhu, kau masih membandel dan tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu? Kau harus mengawini adikku, kalau tidak, terpaksa aku akan mengadu nyawa denganmu untuk menebus hinaanmu!” Dengan marah sekali Swi Kiat mencabut keluar senjatanya yakni sepasang kipas maut yang amat lihai.

Biarpun menghadapi ancaman ini, Kun Beng sudah bulat hatinya. la menghela napas dan menjawab,

“Biar kau akan membunuhku, aku tak dapat memilih jalan lain, suheng. Kalau aku memaksa diri mengawini adikmu, aku hanya akan membikin dia menderita selama hidupnya, karena terus terang saja, aku tidak mencinta adikmu. Dulu perbuatan kami dilakukan karena kami sudah mata gelap dan terdorong oleh nafsu jahat.”

“Keparat, jadi kau mencinta Sui Ceng?” Pada saat pertanyaan ini diajukan, datanglah Kwan Cu dan Sui Ceng, akan tetapi Kwan Cu cepat menarik tangan Sui Ceng, diajak bersembunyi di belakang tembok kuil sambil mengintai dan mendengarkan. Hati Sui Ceng berdebar mendengar percakapan yang menyangkut namanya itu.

“Benar, Suheng. Aku mencinta Sui Ceng.”

“Jahanam!”

“Mungkin aku jahanam, Suheng. Akan tetapi itulah suara hatiku dan aku tidak bisa melakukan sesuatu di luar suara hatiku.”

“Pengecut besar, anjing tak kenal budi, kalau begitu biarlah kita mengadu nyawa di sini!” bentak Swi Kiat yang cepat menggerakkan sepasang kipasnya menyerang dengan hebat.

Kun Beng tentu saja sudah tahu benar akan kelihaian suhengnya dan akan bahayanya sepasang kipas maut itu, maka sambil melompat mundur dia pun mencabut tombaknya. Memang Pak-lo-sian Siangkoan Hai memiliki dua macam keahlian yang membuat namanya terkenal sekali di kalangan kang-ouw, yakni permainan sepasang kipas maut dan permainan tombak. Sesuai dengan bakat masing-masing, kakek ini menurunkan pelajaran ilmu tombak kepada Kun Beng dan ilmu kipas kepada Swi Kiat. Akan tetapi tentu saja biarpun telah memiliki keahlian masing-masing, kedua orang muda itu mengenal baik ilmu senjata yang dua macam itu.

Pertandingan antara kakak beradik seperguruan ini berjalan hebat sekali, akan tetapi masih berat sebelah. Swi Kiat menyerang dengan nekat dan dengan amarah meluap-luap hatinya sakit sekali melihat Kun Beng yang sudah merusak nama baik adiknya dan kini tidak mau bertanggung jawab untuk membersihkan nama adiknya. Tujuannya hanya satu, membunuh atau terbunuh. sebaliknya, Kun Beng sudah merasa akan kesalahan dan dosanya dan hatinya amat bersedih. Maka tidak mengherankan apabila permainan tombaknya tidak selihai biasanya, bahkan boleh dibilang kalut. la selalu berada di fihak yang terserang dan segera terdesak hebat. Saat yang membuka kesempatan baik bagi swi Kiat tidak disia-siakan dan kipas tangan kirinya telah menotok pundak Kun Beng. Baiknya pemuda ini cepat mengelak sehingga hanya tulang pundaknya saja yang putus, karena kalau mengenai urat nadi, pasti dia akan tewas.

Sui Ceng sejak tadi memandang pertempuran itu dengan muka pucat. la terharu mendengar bahwa Kun Beng amat mencintanya, cocok dengan perasaan hatinya sendiri, akan tetapi ia pun penasaran menyaksikan sifat pengecut dari bekas tunangannya itu. Ketika pertempuran terjadi, ia hanya memandang saja. Akan tetapi melihat Kun Beng terluka, hatinya tidak tega. Betapapun juga harus ia akui bahwa ia mencinta pemuda ini dan tanpa dapat dipertahankan lagi, ketika melihat Kun Beng terdesak hebat, ia lalu melompat dan pedangnya sudah menangkis kipas Swi Kiat.

Pemuda ini tertegun, akan tetapi melihat bahwa yang datang adalah Sui Ceng, marahnya makin menjadi. Wanita inilah yang menjadi gara-gara sehingga Kun Beng menolak untuk mengawini adiknya. Tanpa banyak cakap lagi dia segera menyerang Sui Ceng dengan pukulan-pukulan maut dari sepasang kipasnya. Akan tetapi sekarang dia menghadapi lawan yang amat tangguh, karena seperti juga dia, Sui Ceng amat marah dan melawan dengan sama hebatnya, tidak seperti Kun Beng tadi yang banyak mengalah.

Diam-diam Kwan Cu kagum melihat ilmu kipas yang dimainkan oleh Swi Kiat. Dari gerakannya, tahulah Kwan Cu bahwa sepasang kipas itu dipergunakan dengan dua tenaga yang berlawanan. Kipas kiri lemas dan halus gerakannya, mengandung tenaga Im yang mengandalkan lweekang tinggi, sedangkan kipas kanan kasar dan ganas, penuh tenaga Yang. Perbedaan yang bertentangan inilah yang biasanya menyukarkan lawan, seakan-akan lawan menghadapi dua orang lawan yang berbeda kepandaian dan tenaganya. Pantas saja bahwa ilmu kipas ini disebut Im-yang Po-san dan kehebatannya tiada keduanya dalam ilmu silat kipas pada masa itu.

Namun Sui Ceng bukanlah lawan yang empuk. Gadis ini adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li dan ilmu pedangnya hebat dan ganas. Apalagi sekarang Sui Ceng mengeluarkan pula sabuk merahnya sehingga dengan sepasang senjata ini, ia dapat mengimbangi senjata lawan. sabuknya adalah senjata yang lemas akan tetapi dapat pula dipergunakan untuk menotok jalan darah sehingga amat tepat untuk dipergunakan menghadapi senjata kipas di tangan swi Kiat. Maka pertempuran yang terjadi sekarang lebih seru daripada tadi.

Kwan Cu menjadi bingung dan juga berduka sekali. Ketika dia mendapat kenyataan betapa Sui Ceng mencinta Kun Beng sehingga melupakan sakit hati dan masih mau membantu ketika melihat Kun Beng terancam bahaya, dia merasa sedih sekali, apalagi ketika dia mendengar bahwa Kun Beng tidak mau menikah dengan Kui Lan yang berarti Sui Ceng juga tidak akan menikah selamanya, hatinya tertindih perasaan duka dan kecewa yang hebat. Maka kini bingunglah dia. Melihat Swi Kiat, dia amat kasihan dan kalau saja Swi Kiat tadi membunuh Kun Beng, tentu Kwan Cu takkan mau peduli. Sekarang dia melihat Swi Kiat bertempur mati-matian dengan Sui Ceng, bagaimana dia harus bertindak? Menghentikan pertempuran dengan Sui Ceng, pemuda ini tentu berkukuh hendak membunuh Kun Beng, dan Sui Ceng pasti akan melindungi Kun Beng dengan mati-matian. Apa akalnya?

Sebelum Kwan Cu yang kebingungan melihat pertempuran makin menghebat itu dapat mengambil keputusan, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar seruan Pak-lo-sian Siangkoan Hai “Berhenti, tahan senjata!”

Mendengar suara suhunya, Swi Kiat cepat melompat ke belakang dan segera menjatuhkan diri berlutut. “Suhu… !”

Sui Ceng juga menahan senjatanya tanpa melompat dan berdiri tegak, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api dan ia sama sekali tidak merasa takut biarpun menghadapi kakek yang luar biasa itu.

“Swi Kiat, apa artinya ini? Mengapa kau bertempur melawan Bun-siocia murid Kiu-bwe Coa-li?” tanya kakek itu sambil menyapu keadaan di situ dengan matanya. Melihat Kun Beng berada di situ dan terluka pundaknya, dia makin tidak mengerti.

“Suhu, teecu bertemu dengan Sute di sini dan teecu minta pertanggungan jawabnya terhadap Lan-moi. Ketika Sute menolak, teecu berdua lalu bertempur mati-matian.”

“Bagus, manusia macam Kun Beng memang harus dibikin mampus,” kata Pak-lo-sian, akan tetapi dalam suaranya terdengar nada sedih.

“Teecu berhasil melukainya, akan tetapi tiba-tiba muncul Bun-siocia yang membelanya dan teecu terpaksa melawannya.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menoleh kepada Sui Ceng dengan pandang mata terheran-heran, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, “Sungguh hebat dan patut dipuji kesetiaan nona Bun. Melihat bangsat Kun Beng mengkhianati pertunangannya, ia masih tetap mencinta. Sukar dicari cinta kasih yang demikian besar!”

Wajah Sui Ceng menjadi merah sampai ke telinganya. “Locianpwe, jangan bicara sembarangan! Dia itu bekas tunanganku yang dipilih oleh mendiang ibu, maka melihat dia hendak dibunuh orang dengan alasan dipaksa menikah, tentu saja aku tidak tinggal diam!”

Pak-lo-sian mengeluarkan jengekan dari hidungnya. “Hem, dia itu bukan tunanganmu lagi dan dia adalah muridku yang murtad. Urusan antara kami guru dan murid, kau murid Kiu-bwe Coa-li ada sangkut-paut apakah? Aku mau membunuh muridku sendiri yang berdosa, kau mau apa? Setelah berkata demikian dengan langkah lebar Pak-lo-sian menghampiri Kun Beng yang melihat gurunya demikian marah, segera berlutut dengan kepala tunduk.

“Kun Beng kau sudah tahu akan dosamu?”

“Sudah, Suhu. Teecu berdosa besar dan menanti hukuman mati di tangan Suhu.”

“Bangsat rendah! Mengapa kau tidak mau mempertanggung-jawabkan kesalahanmu terhadap adik suhengmu?”

“Teecu hanya akan merusak hidupnya dan hidup teecu sendiri kalau teecu menikah dengan adik Suheng. Di dalam dunia ini hanya dengan satu orang teecu mau menikah, yakni dengan tunangan teecu. Kalau tidak, lebih baik teecu tidak menikah. Terserah kepada Suhu memutuskannya.”

“Busuk…. busuk sekali! Kalau begitu, mengapa kau merusak nona Gouw Kui Lan? Hayo jawab!” bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan suaranya menunjukkan bahwa tiada pengampunan bagi Kun Beng.

Dengan kepala masih tunduk, pemuda itu menjawab lemah,

“Teecu sudah mengaku dosa, harap Suhu segera menjatuhkan hukuman.”

“Hm, kalau begitu matilah dengan tenang.” Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengangkat kipasnya dan hendak menjatuhkan pukulan kematian kepada muridnya.

“Tak boleh kau membunuh orang begitu saja!” tiba-tiba Sui Ceng membentak marah dan pedang serta sabuk merahnya bergerak cepat menyerang jalan darah di punggung kakek itu.

Terpaksa Pak-lo-sian menunda pukulan kepada muridnya, karena serangan Sui Ceng ini benar-benar berbahaya sekali. Sambil memutar tubuhnya, kipas yang tadi hendak dipergunakan untuk membunuh Kun Beng, bergerak cepat dan seketika itu juga pedang di tangan Sui Ceng terlempar jauh dan sabuk suteranya putus menjadi dua!

“Pergilah dan jangan mencampuri urusan orang lain!” bentak Pak-lo-sian. Akan tetapi melihat kenekatan Kun Beng, Sui Ceng tidak tega untuk membiarkan saja pemuda yang dicintanya itu terbunuh. Ia menyerang kakek itu dengan pukulan tangan kanannya.

“Buk!” tangan Sui Ceng membentur dada Pak-lo-sian, akan tetapi bukan Pak-lo-sian yang roboh, melainkan Sui Ceng sendiri yang terguling dan pergelangan tangannya terlepas sambungannya!

“Bun-siocia, jangan kau membelaku. Terima kasih banyak atas budimu, dan sampai mati aku orang she The takkan melupakanmu ” kata Kun Beng terharu.

Pak-lo-sian kembali mengangkat kipasnya untuk memukul Kun Beng, akan tetapi baru sampai di tengahnya, tiba-tiba kipasnya tertahan. la terkejut sekali karena merasa bahwa ada sambaran angin dahsyat yang memukul ke arah kipas itu sehingga tertahan. Ketika dia menoleh, ternyata bahwa Lu Kwan Cu telah berdiri di hadapannya. Pak-lo-sian terkejut dan tahulah dia bahwa pendekar sakti yang masih muda ini yang telah menahan pukulan kipasnya.

“Orang muda, biarpun kau telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak patut kalau kau mencampuri urusanku dengan muridku sendiri. Apakah kau masih belum mengerti tentang aturan dan kepantasan sebagai seorang gagah? Apakah kau belum mengerti bahwa orang gagah tidak akan mencampuri urusan rumah tangga lain orang? Manusia jahanam ini adalah muridku sendiri, berarti dia termasuk keluargaku dan aku boleh melakukan apa saja terhadapnya tanpa campur tanganmu!”

“Maaf, Locianpwe. Boanpwe sudah berani mencampuri urusan Locianpwe karena boanpwe amat kagum terhadap kegagahan dan sepak terjang Locianpwe yang sering kali dipuji-puji oleh mendiang suhu. Akan tetapi hari ini tanpa disengaja boanpwe akan melihat Locianpwe menurunkan tangan kejam kepada murid sendiri. Locianpwe, boanpwe pernah mendengar ujar-ujar emas yang menyatakan bahwa orang yang tidak mencoba untuk memperbaiki kesalahan dalam prilaku hidupnya, dialah orang yang benar-benar salah. Kun Beng memang pernah, melakukan perbuatan salah, akan tetapi dia telah mengakui hal itu dan benar-benar menyesal, maka tidak pantas kalau sampai dihukum mati.”

“Kau tahu apa tentang hati manusia? Seorang manusia yang sudah mandah disesatkan oleh nafsu buruk, adalah manusia lemah yang selalu akan mengotorkan dunia karena batinnya kurang teguh dan selalu akan menjadi korban nafsu iblis. Dia ini harus mati!”

“Boanpwe tidak dapat membiarkan saja Locianpwe melakukan pembunuhan pada seorang yang sudah bertobat, apalagi murid Locianpwe sendiri,” bantah K wan Cu.

Bergerak-gerak jenggot Pak-lo-sian yang panjang. “Aha, kau benar-benar sombong, bocah she Lu. Kau kepala batu seperti si jembel Ang-bin Sin-kai gurumu itu. Mari, mari! Kita coba-coba sebentar dan kalau kau dapat menangkan aku, biarlah aku memandang mukamu memberi ampun kepada anjing ini.”

Kwan Cu maklum bahwa dia tidak dapat mundur lagi. la sudah bertindak terlalu jauh dan terpaksa dia harus melayani kakek ini yang dia tahu memiliki kepandaian tinggi sekali dan tidak boleh dibuat main-main. Akan tetapi apa boleh, dia melakukan hal ini sebetulnya bukan karena dia sayang kepada Kun Beng, melainkan karena dia hendak membela Sui Ceng, atau pendirian gadis ini. Ia tahu akan cinta kasih yang besar dalam hati Sui Ceng terhadap Kun Beng, maka dia merasa amat berdosa telah memisahkan gadis ini dari tunangannya dan saat ini dia pergunakan untuk menebus dosanya.

Ketika Pak-lo-sian mengebutkan kipasnya ke arah mukanya, Kwan Cu cepat melangkah mundur dan mencabut sulingnya. la tidak mau mempergunakan pedang karena selain dia tidak mempunyai niat bermusuhan dengan kakek ini, juga senjata kipas kakek itu lebih tepat dihadapi dengan senjata yang lebih halus dan lemas seperti sulingnya itu.

Adapun Pak-lo-sian Siangkoan Hai, di dalam hati kecilnya memang tidak tega untuk menewaskan Kun Beng karena di antara dua orang muridnya Kun Beng lah yang amat disayangnya. Akan tetapi sebagai seorang gagah, tentu saja dia merasa kurang adil terhadap Swi Kiat kalau dia tidak berbuat seolah-olah hendak membunuh Kun Beng. Kini melihat campur tangannya Kwan Cu, diam-diam dia merasa girang sekali. Tidak saja dia mempunyai alasan kuat untuk membatalkan niatnya membunuh Kun Beng, juga idam-idaman hatinya hari ini tercapai. Idam-idaman hati ingin menguji kepandaian pemuda yang aneh ini. Semenjak dia menyaksikan sepak terjang Kwan Cu, melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda ini menggulingkan tokoh-tokoh besar seperti , Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, dia kagum bukan main dan merasa yakin bahwa pemuda ini tentu sudah mewarisi kepandaian dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tersohor. Maka ingin sekali dia mengukur kepandaian dan tenaga dengan ahli waris kitab itu.

Karena tahu bahwa K wan Cu sudah memiliki kepandaian luar biasa dan bahkan lebih tinggi tingkatnya dengan kepandaiannya sendiri, Pak-lo-sian tidak merasa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi. la melakukan serangan dengan hebat, mengeluarkan seluruh tenaganya. Maka bukan main dahsyatnya gerakan sepasang kipasnya. Sui Ceng dan dua orang murid Pak-lo-sian sendiri tak terasa pula melangkah mundur untuk menjauhi tempat pertempuran, karena hawa pukulan yang keluar dari sepasang kipas itu terasa menyakitkan kulit muka, sebentar panas dan sebentar dingin. Yang dingin keluar dari gerakan kipas kiri, yang panas dari kipas kanan. Inilah Im-yang Po-san yang dimainkan oleh seorang ahli yang sudah mencapai puncak kesempurnaan ilmu kipas ini!

Kwan Cu diam-diam terkejut bukan main. Lihai sekali Dewa Utara ini, masih lebih lihai daripada Hek-i Hui-mo kiranya. Biarpun di dalam goa di Pulau Pek-hio-to terdapat pula lukisan-lukisan tentang orang bersilat yang hampir sama dengan gerakan kakek ini, namun harus dia akui bahwa gerakan kakek ini, jauh lebih aneh dan hebat, sehingga biarpun dia berlaku waspada dan mainkan sulingnya dengan cepat, tetap saja dia terkurung oleh angin pukulan yang bergelombang datangnya dan tidak tentu sifatnya itu! Kalau saja Kwan Cu tidak memiliki tubuh yang sudah penuh dengan tenaga murni atau sinkang yang tinggi, serta tidak memiliki kewaspadaan sehingga dia dapat menduga tujuan setiap gerakan lawan, tentu dia harus mengakui keunggulan lawan.

Dengan mengumpulkan semangat dan mengerahkan seluruh tenaganya, Kwan Cu segera mainkan sulingnya secara hebat, menurutkan tipu-tipu lihai dari isi pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng, sedangkan tangan kirinya lalu bergerak-gerak mainkan Pek-in-hoat-sut. Dari kaki sampai ke jidatnya mengebulkan uap putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya!

Pak-lo-sian menahan seruan tertahan saking kagum dan herannya. la tahu bahwa pukulan kipasnya disertai tenaga sepenuhnya, tenaga lweekang yang sudah dia latih berpuluh tahun. Jaranglah orang dapat menahan sambaran angin pukulan kipas ini, akan tetapi anehnya, ketika angin pukulannya menyambar ke arah jalan darah di tubuh Kwan Cu, hawa itu terpental kembali jika bertemu dengan uap putih itu.

“Hebat sungguh Im-yang Bu-tek Cin-keng!” katanya perlahan, akan tetapi kini Kwan Cu benar-benar memperlihatkan “tanduknya”! Sulingnya digerakkan dengan sepenuh kegesitannya, sehingga jangan kata baru Pak-lo-sian seorang, biarpun dia dikeroyok oleh sepuluh orang Pak-lo-sian, kiranya sepuluh orang ini akan pening kepalanya dan kabur pandangan matanya. Tubuh pemuda ini benar-benar lenyap dari pandangan mata, yang kelihatan hanya uap putih mengebul di sekeliling Pak-lo-sian dan diselingi oleh kelebatan sinar mengkilap dari sulingnya.

Tak lama kemudian terdengar suara “krak! krakkk!” dua kali dan Pak-lo-sian melompat mundur, terhuyung-huyung dan keningnya penuh peluh dingin, napasnya terengah-engah. Ketika Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat memandang, kakek ltu hanya memegang gagang kipas yang sudah hancur !

Kwan Cu menjura, pemuda ini hanya merah mukanya dan dari kepalanya masih mengebul uap putih, akan tetapi dia tenang dan napasnya biasa saja.

“Pak-lo-sian Locianpwe benar-benar tidak bernama kosong.”

“Cukup,” Pak-lo-sian terengah-engah, “tak perlu kau merendahkan diri lagi. Benar-benar hebat! Baru sekali ini selama hidupku aku menghadapi lawan seperti kau. Sungguh hebat! Kalau saja yang mengalahkan dan merusak kipas-kipasku bukan seorang ahli waris Im-yang Bu-tek Cin-keng, tentu aku si tua Pak-lo-sian akan menghancurkan kepala sendiri.”

“Locianpwe telah berlaku mengalah…” kata Kwan Cu.

Pada saat itu, terdengar bunyi “tar! tar! tar!” dari jauh dan hampir berbareng Pak-lo-sian dan Kwan Cu berkata,

“Kiu-bwe Coa-li datang ”

Benar saja, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita sakti itu telah berada di situ dengan cambuknya yang menggemparkan dunia kang-ouw, terayun-ayun di tangannya. la melirik ke arah Kwan Cu, lalu berkata kepada Pak-lo-sian,

“Tua bangka utara, apa yang terjadi dengan kedua kipas mautmu?”

Terang sekali ucapan ini adalah ejekan, akan tetapi Pak-lo-sian tertawa bergelak, “Ha, ha, ha, Kiu-bwe Coa-li. Telah berpuluh tahun kau tidak berhasil mengalahkan kedua kipasku, sebaliknya aku pun tidak berhasil mengalahkan cambukmu. Akan tetapi, hari ini aku mengaku bahwa ilmu kipasku masih amat rendah dan perlu diperbaiki lagi.”

Kiu-bwe Coa-li melirik ke arah Kwan Cu dan tiba-tiba ia me!ihat Sui Ceng di situ. la tertegun. Tadi ia melihat pertandingan dari jauh dan saking tertariknya ia sampai tidak melihat kehadiran Sui Ceng.

“Sui Ceng, ada apa kau di tempat ini?” la melirik pula ke arah Kun Beng dengan mata marah.

“Kiu-bwe Coa-li, muridmu itulah yang menjadi gara-gara. Aku hendak membunuh muridku yang murtad, dia menghalangi sampai-sampai dia berani menyerangku. Akhimya kejadian itu memancing datangnya Lu-siauwhiap dan rusaknya kedua kipasku.”

“Sui Ceng, ke mana mukamu? Tak tahu malu, urusan orang lain kau berani turut bercampur tangan. Tua bangka utara mau membunuh muridnya, biarlah jangan kita ikut campur. Hayo kau harus pergi bersamaku sekarang!”

“Tidak, Suthai. Sebelum Pak-lo-sian Locianpwe berjanji takkan membunuh orang yang sudah menderita batinnya, teecu takkan pergi dari sini.”

Pak-lo-sian tertawa lagi bergelak, dan Kiu-bwe Coa-li marah dan malu bukan main. la menggerakkan pecutnya dan pecut yang berekor sembilan itu serentak melayang dan memukul ke arah sembilan jalan darah di tubuh Sui Ceng. “Kau pergi atau tidak?” bentak wanita sakti itu dengan suara menyeramkan.

“Suthai, jangan bunuh dia!” Tiba-tiba Kun Beng berseru keras dan meloncat ke depan, menghadang antara cambuk dan tubuh Sui Ceng. Oieh karena itu, cambuk ini tidak jadi menuju di tubuh Sui Ceng, melainkan menghantam tubuh Kun Beng. Pemuda ini terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Baiknya Kiu-bwe Coa-li tidak mau membunuh murid orang lain dan hanya ingin memberi hajaran saja, maka biarpun tubuhnya sakit-sakit dan terlempar jauh, Kun Beng tidak sampai terluka hebat.

“Sui Ceng, hayo kita pergi!” bentak pula Kiu-bwe Coa-li dan kini suaranya lebih menyeramkan lagi karena nenek tua ini sudah hampir tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dibantah dan dibangkang oleh muridnya di depan orang lain benar-benar merupakan hal yang amat tidak enak dan memalukan.

Kwan Cu berkata, “Sui Ceng, kau pergilah. Pak-lo-sian Locianpwe sudah berjanji takkan membunuh Kun Beng …” kata-kata ini adalah untuk membujuk supaya Sui Ceng mau pergi karena Kwan Cu tahu benar bahwa sekali lagi menolak, Sui Ceng pasti akan menerima pukulan yang mungkin akan merenggut nyawanya oleh Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi Sui Ceng benar-benar menggelengkan kepala lagi! “Sebelum bertemu dengan Kui Lan aku belum mau pergi.”

Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, bunyi cambuk menyakitkan telinga Kwan Cu melompat dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget. Ternyata bahwa sembilan ekor ujung cambuk dari Kiu-bwe Coa-li telah menyambar, ketika Sui Ceng menyatakan penolakannya untuk pergi tadi, akan tetapi Kwan Cu melompat menghadang di jalan sehingga ujung-ujung cambuk itu bukan menyambar kepada Sui Ceng, melainkan ke tubuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Kun Beng tadi. Akan tetapi kalau gerakan Kun Beng tadi masih dapat dilihat oleh Kiu-bwe Coa-li sehingga nenek ini keburu mengubah arah cambuknya, adalah gerakan Kwan Cu sekarang amat cepatnya, maka nenek itu tidak keburu menahan pukulannya. Sembilan cambuk itu melayang dan menghajar sembilan jalan darah kematian di tubuh Kwan Cu. Karena inilah Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget. la maklum bahwa pukulan yang dilakukan oleh Kiu-bwe Coa-li ini adalah jurus yang paling berbahaya dari ilmu cambuknya dan tidak seorang pun tokoh persilatan di dunia ini yang berani menerima serangan jurus ini yang dia kenal sebagai jurus Kiu-coa-toat-beng (Sembilan Ekor Ular Mencabut Nyawa). Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri juga terkejut, akan tetapi ia tidak dapat menarik kembali sambaran sembilan ujung cambuk itu, hanya ia bisa mengurangi tenaganya sehingga hanya dua pertiga tenaganya saja yang tersalur di ujung senjatanya yang lihai.

Akan tetapi seruan kaget Pak-lo-sian berubah menjadi seruan tertahan saking herannya, demikian pula Kiu-bwe Coa-li menjadi pucat setelah sembilan ujung cambuk itu tiba di tubuh Kwan Cu, ternyata tidak berakibat apa-apa! Kwan Cu tetap tersenyum saja seakan-akan serangan hebat ini tidak terasa sama sekali olehnya. Padahal, diam-diam Kwan Cu tadi telah mengerahkan seluruh tenaga dan sinkangnya yang telah menjadi satu dengan perasaannya, otomatis menolak tenaga pukulan ini dan dia menambah perisai tubuhnya dengan pengerahan ilmu menutup jalan darah dan mengumpulkan hawa murni yang terasa hangat mengelilingi seluruh tubuh secara cepat sekali. Namun, tetap saja dia merasa kulit tubuh di mana cambuk itu tiba, panas-panas!

“Terima kasih atas petunjuk dari Suthai,” kata Kwan Cu sambil menjura dan membungkukkan tubuhnya. Gerakan ini perlu sekali karena dengan membungkuk, dia dapat menggerakkan tubuh dan sinkangnya berjalan lebih cepat mengusir bekas-bekas pukulan yang betapapun juga akan mendatangkan bahaya kalau tidak segera dilenyapkan.

Sampai lama Kiu-bwe Coa-li membelalakkan matanya. Belum pernah ia mengalami hal sehebat ini. Pukulan dengan jurus Kiu-coa-toat-beng diterima tanpa berkejap mata oleh pemuda ini!

“Sudahlah aku sudah tua dan tak tahu malu! Lu-sicu, lain kali kalau aku masih hidup, aku hendak mencoba kelihaianmu sekali lagi!” katanya sambil menggerakkan kedua kaki dan lenyaplah wanita sakti itu dari situ.

Kwan Cu menarik napas panjang. “Hm, apakah artinya semua keributan ini? Orang yang dicurangi dan yang paling menderita dalam urusan ini adalah nona Gouw Kui Lan. Orang-orang berlancang hendak mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya kepadanya. Benar-benar tidak adil!”

Kata-kata ini menyadarkan Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Memang tepat sekali ucapan ini. Mereka ribut-ribut karena Kun Beng telah melakukan hal amat tidak baik terhadap diri Gouw Kui Lan dan kini orang ramai-ramai datang untuk menghukum Kun Beng tanpa bertanya kepada nona Kui Lan sama sekali!

“Mari kita temui dia di dalam!” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan semua orang mengikutinya masuk ke dalam kuil yang amat besar itu. Keadaan kuil sunyi saja dan pintu depan yang amat kuat dan tebal itu sukar sekali dibuka, agaknya dipalangi dari dalam. Namun dengan sekali dorong saja Pak-lo-sian berhasil mematahkan palangnya di sebelah dalam, pintu terbuka!

Semua orang tertegun dan berdiri di ambang pintu, tidak bergerak seperti patung. Kalau di luarnya sunyi saja, di sebelah dalam kuil itu penuh orang. Sedikitnya ada tiga ratus orang terbaring di situ, orang-orang yang terluka dalam peperangan melawan penjajah. Beberapa orang perawat sibuk sekali melayani mereka ini dan di antara mereka yang paling sibuk adalah Ngo Lian Suthai dan…. Gouw Kui Lan. Akan tetapi, melihat Kui Lan terdengar seruan dari mulut Swi Kiat.

“Lan-moi …!”

Nona itu menengok, ia telah menjadi seorang nikouw muda (pendeta wanita) berkepala gundul. Melihat kakaknya, ia tersenyum, akan tetapi mukanya berubah ketika ia melihat Kun Beng berada pula di situ.

“Kui Lan, mengapa kau telah menjadi nikouw….? Apa maksudmu?” teriak Swi Kiat sambil berlari menghampiri adiknya. “Aku datang untuk mengusahakan pernikahanmu dengan Kun Beng ”

Merah wajah nikouw muda itu, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum penuh kesabaran dan ketenangan, “Hushhh…. Kiat-ko, omongan apa yang kauucapkan itu? Lihatlah baik-baik, aku adalah seorang nikouw, bagaimana kau bisa bicara tentang pernikahan?”

Swi Kiat merasa ditampar mukanya, dia tak dapat menjawab dan menjadi bingung. Juga Kun Beng merasa terharu sekali. Penglihatan ini menikam ulu hatinya dan dia merasa betapa dosanya makin besar. Ia tahu bahwa masuknya Kui Lan menjadi nikouw adalah karena perbuatannya. Dua titik air mata tak terasa lagi turun membasahi pipinya. Sui Ceng berdebar. Kemarahannya terhadap Kui Lan lenyap seketika, terganti oleh rasa kasihan. Adapun K wan Cu memandang dengan penuh kekaguman.

Di dalam kesunyian ini, terdengar Kui Lan berkata, suaranya lantang dan biasa saja, penuh kesabaran.

“Kiat-ko, Kui Lan yang dulu sudah mati. Yang ada sekarang adalah Kui Lan Nikouw murid Ngo Lian Suthai. Tidak ada urusan sesuatu antara pinni (aku) dengan The-taihiap atau siapapun juga ”

“Adikku!” teriak Swi Kiat.

“Kiat-ko, aku sudah bersumpah menjadi orang beribadat, aku melupakan kehidupan lalu. Sudahlah, harap Cu-wi sekalian suka keluar, jangan mengganggu orang-orang yang menderita luka, mereka ini adalah para pejuang rakyat, dan ….”

Tiba-tiba dari luar menerobos masuk beberapa orang laki-laki yang membawa senjata. Mereka ini adalah para perajurit pejuang rakyat yang cepat berkata,

“Ngo Lian Suthai, celaka. Pasukan kita terpukul dan sebarisan musuh menuju ke sini. Mereka sudah mendengar bahwa kawan-kawan yang terluka berada di sini!?” Seorang di antara mereka menyambung. “Kita harus membawa kawan-kawan ini pergi dari sini, pertahanan sudah bobol dan kawan-kawan ini tentu akan menjadi korban semua!”

Tiba-tiba Kwan Cu berkata nyaring, “Pak-lo-sian Locianpwe! Kun Beng! Swi Kiat dan Sui Ceng. Kita semua harus malu! Rakyat berjuang melawan penjajah, bahkan nona Gouw sendiri membaktikan diri untuk membantu bangsa yang tertindas, sebaliknya kita semua ribut-ribut urusan tetek bengek! Dalam menghadapi bahaya bagi bangsa, urusan pribadi harus dilupakan, hayo kita gempur musuh!”

Kata-kata ini sebagai aliran listrik menggetarkan jiwa kepahlawanan dalam orang-orang gagah itu. Pak-lo-sian berseru nyaring. “Mana musuh! Akan kuhancurkan kepalanya!” Beramai-ramai mereka lalu lari bersama para perajurit pejuang itu yang menjadi petunjuk jalan.

Benar saja, di tengah jalan mereka bertemu dengan puluhan pejuang yang melarikan diri, dikejar oleh barisan musuh yang lebih besar jumlahnya. Banyak di antara mereka yang terluka. Pak-lo-sian segera memimpin mereka dan mengatur pertahanan. Teriakan dan sorak-sorai musuh sudah terdengar dekat. Pak-lo-sian mengatur kawan-kawan pejuang bersembunyi di balik pohon-pohon, menghadang di dalam hutan.

Ketika barisan musuh yang terdiri dari dua ratus orang lebih itu tiba, Pak-lo-sian memberi aba-aba dan menyerbulah mereka, menghantam musuh. Kwan Cu, Kun Beng, Swi Kiat dan Sui Ceng mengamuk hebat! Tiap kali senjata mereka bergerak, tentu seorang serdadu penjajah roboh tak bemyawa lagi. Biarpun kepandaian Kwan Cu lebih tinggi daripada Pak-lo-sian, namun sepak terang pemuda ini tidak sehebat Pak-lo-sian, karena di dalam hatinya Kwan Cu penuh welas asih dan dia tidak tega menyebarkan maut, biarpun kepada musuh bangsanya. Maka dia hanya menotok merobohkan mereka tanpa merampas nyawanya. Sebaliknya, Pak-lo-sian benar-benar hebat. Sepasang kipasnya telah rusak oleh Kwan Cu dan kini ujung lengan bajunya menyambar bagaikan sepasang kupu-kupu, akan tetapi jangankan sampai terkena ujung lengan baju ini, baru terkena sambaran anginnya saja, para musuh terlempar dengan mata mendelik dan napas putus!

Para pejuang mendapat bantuan lima orang sakti ini terbangun semangatnya dan mereka juga mengamuk, bahkan yang sudah terluka masih ikut pula menghantam musuh. Sebentar saja, lebih separuh jumlah musuh roboh malang-melintang dan bertumpang tindih. Sebagian lagi cepat-cepat melarikan diri dengan muka pucat, tidak tahan-menghadapi para pendekar itu.

Terbangun semangatnya oleh Gouw Kui Lan yang membaktikan dirinya untuk nusa bangsa, Pak-lo-sian dan empat orang muda itu tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka bahkan menunda keperluan lain dan semenjak saat itu, Pak-lo-sian terkenal sebagai pemimpin pejuang yang amat disegani. Mereka menggabungkan diri dengan para pejuang lain untuk membasmi barisan-barisan kaisar.

Berkat perlawanan pejuang rakyat yang gagah perkasa, akhirnya tumbanglah kekuasaan penjajah. Kaisar Si Cung, pengganti Kaisar Sin Cong juga mengerahkan barisan dan dengan bantuan suku bangsa Ouigur, akhimya dapat merebut kembali kota raja dan mengusir penjajah. Beberapa tahun kemudian, bangsa Tartar hanya merupakan sekelompok kecil yang cerai-berai dan melakukan kekacauan yang tidak berarti di sana-sini.

***

Setelah melakukan tugas membantu perjuangan rakyat beberapa tahun lamanya, para orang gagah yang tidak gugur dalam peperangan, kembali ke tempat masing-masing termasuk Pak-lo-sian yang mengajak Swi Kiat kembali ke utara. Kun Beng yang mendapat pukulan batin hebat karena peristiwa dengan Gouw Kui Lan, melenyapkan diri, agaknya untuk menebus dosa. Sui Ceng lalu menyusul gurunya, Kiu-bwe Coa-li untuk memperdalam ilmu silatnya serta mempelajari kebatinan. Hatinya masih terluka dan dia masih menderita patah hati serta duka, mengandung cinta kasih yang tidak tercapai.

Bagaimana dengan Kwan Cu, pendekar sakti itu? Pemuda ini menderita batinnya. Cinta kasihnya terhadap Sui Ceng mengalami kegagalan, membuat dia makin merasa jemu terhadap kehidupan. Biarpun usianya baru dua puluh empat tahun, namun dia seperti seorang yang jauh lebih tua. Namun, semangat membalas dendam masih terkandung dalam hatinya, terhadap An Kai Seng, musuh besar yang tinggal satu-satunya itu. Oleh karena itu, setelah peperangan selesai dan pemerintah Tang berdiri kembali, Kwan Cu lalu mulai melakukan perjalanan untuk mencari musuh besarnya ini. Akhirnya dia mendapat berita, bahwa An Kai Seng tinggal di kota An-keng di Propinsi An-hui. Segera dia menuju ke selatan untuk mencari musuh besarnya ini.

Kota An-keng terletak di tepi Sungai Yang-ce-kiang dan merupakan kota yang besar dan ramai. An Kai Seng tinggal di kota besar ini bersama isterinya dan dia tetap mempergunakan nama Tan Kai seng. Tak seorang pun pernah mengira bahwa Tan Kai Seng ini adalah cucu dari An Lu Shan si pemberontak yang sudah mendatangkan banyak sekali malapetaka kepada rakyat jelata.

Setelah mengetahui bahwa musuh besarnya, yakni Lu Kwan Cu yang amat lihai menghendaki nyawanya, An Kai Seng dan isterinya telah memperdalam ilmu silatnya sehingga kepandaiannya jauh lebih maju kalau dibandingkan dengan dahulu ketika dia bertemu dengan Kwan Cu. Isterinya bahkan belajar lagi dari gurunya, yakni Lui Kong Nikouw, sedangkan An Kai Seng belajar dari beberapa orang guru silat yang pandai. Tidak demikian saja, bahkan An Kai Seng yang kaya raya itu kini mendatangkan banyak jago-jago silat untuk menjadi pengawalnya dan menjaga keselamatannya. Juga Lui Kong Nikouw kini ditarik olehnya dan tinggal di kota An-keng. Di samping Lui Kong Nikouw, masih ada tiga orang lagi yang dia amat andalkan, yakni tiga jago yang disebut Sin-to Sam-eng (Tiga Orang Gagah Bergolok Sakti). Mereka ini adalah murid-murid Siauw- lim-si yang diusir dari partai itu karena melanggar peraturan. Dengan pandai mereka dapat menyelundup ke Go-bi-san dan menjadi murid partai Go-bi-pai pula, akan tetapi lagi-lagi mereka diusir karena memang mereka bukan orang baik-baik. Akan tetapi setelah menerima pelajaran ilmu silat dari dua partai ini, ditambah pula dengan pengalaman-pengalaman mereka dan pergaulan mereka dengan kaum hek-to (penjahat), kepandaian tiga orang ini benar-benar amat lihai. Yang tertua bemama Ang Kian, berjuluk It-to-cilan (Setangkai Bunga Cilan), seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang ditakuti orang. Setiap kali melakukan perbuatan terkutuk, dia selalu meninggalkan sebatang cilan-piauw, yakni semacam senjata rahasia berbentuk bunga cilan, maka dia mendapat nama julukan It-to-cilan.

Orang ke dua bernama Yap Ki, seorang ahli mempergunakan racun sehingga dijuluki Tok-ong (Raja Racun), sedangkan orang ke tiga adalah adiknya sendiri bernama Yap Ek yang paling lihai ilmu goloknya di antara dua orang kawannya.

Tiga orang penjahat ini dengan menggabungkan ilmu silat Siauw-lim-si dan Go-bi, dapat menciptakan ilmu golok yang mereka namakan Sin-sam-to-hiap (llmu Golok Tiga Serangkai Yang Sakti), nama yang benar-benar menggambarkan betapa sombong adanya tiga orang ini. Namun, memang ilmu golok mereka jarang ada yang dapat menandingi dan hal ini membuat mereka makin sombong dan tinggi hati. Hanya dengan harta bendanya yang banyak serta senyum serta lirikan mata Wi Wi Toanio yang menggiurkan, maka Ang Kai Seng berhasil menarik tiga orang ini menjadi sahabatnya atau lebih tepat disebut pengawal pribadinya. Ia maklum bahwa antara isterinya dan It-to-cilan Ang Kian yang berwajah tampan ada hubungan yang tidak seharusnya, akan tetapi An Kai Seng hanya dapat mengelus dada saja. Kepandaian isterinya lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, sedangkan An Kian juga memiliki kepandaian yang tak mampu dia melawannya. apalagi Ang Kian dan kawan-kawannya adalah pelindung-pelindungnya, maka dia merasa bahwa menjaga keselamatan diri sendiri lebih penting daripada kebahagiaan rumah tangganya. Maka dia tidak mempedulikan lagi kepada isterinya, bahkan ditemani oleh kawan-kawannya ini, dia mulai mencari hiburan di luar dan memelihara banyak selir di luaran.

Selain melakukan penjagaan yang amat kuat di rumahnya, juga di kota An-keng dan di sekitarnya, dia melepas banyak kaki tangan untuk menyelidiki kalau-kalau ada datang Kwan Cu musuh besarnya. Akan tetapi sampai beberapa tahun tidak ada kabar ceritanya tentang Kwan Cu. Paling akhir dia mendengar bahwa musuhnya itu membantu kaum pejuang, maka dia menganggap bahwa pemuda itu tentu gugur dalam peperangan. Hatinya mulai lega dan tenang.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika pada suatu hari dia mendapat kabar dari pengurus hotel Liok-an yang menjadi kaki tangannya pula bahwa di hotel itu datang , seorang pemuda yang mengaku bemama Lu K wan Cu! Kalau ada geledek menyambarnya di waktu tengah hari, Kai Seng agaknya takkan sekaget itu. Cepat dia mengumpulkan jago-jagonya dan mengadakan perundingan.

“Belum tentu kalau yang datang itu musuh besarmu, Tan-wangwe,” kata Ang Kian menghibur. “Baiknya kita semua pergi ke hotel itu dan kau melihat sendiri apakah dia betul-betul musuh besarmu itu. Kalau betul, tak usah banyak ribut lagi kita terus membunuhnya.” Memang Ang Kian amat sombong dan memandang rendah kepada musuh besar majikannya ini.

“Tak bisa, tak bisa!” kata Kai Seng yang sudah ketakutan. “Kalau benar dia Lu Kwan Cu, begitu melihat aku, tentu dia akan menyerangku!”

“Takut apa? Kita membawa kawan-kawan dan tak mungkin dia dapat mengalahkan kita,” kata Yap Ki. “Tidak tepat,” lagi-lagi Kai Seng mencela, “lebih baik lekas panggil Kwa-sian-seng.” Yang disebut Kwa-sianseng adalah seorang kaki tangannya yang selalu berpakaian seperti sastrawan, dan memang betul dia adalah seorang terpelajar yang terkenal ahli dalam melukis. Melihat sesuatu, dia dapat melukisnya cepat dan cocok sekali. Di samping kepandaian ini, dia pun mengerti ilmu silat cukup tinggi sehingga di kota An-keng dia dijuluki Bun-bu-siang-pit. Senjatanya adalah siang-pit (sepasang pit) yang tidak saja lihai kalau dipergunakan untuk menggambar, akan tetapi juga lihai kalau dimainkan sebagai senjata.

Orang she Kwa ini dipanggil dan segera mendapat tugas untuk menyelidiki pemuda di hotel Liok-an yang bemama Lu Kwan Cu itu. Kwa-sianseng menerima tugas ini dengan senyum menyeringai, karena setiap kali mendapat tugas dari hartawan she Tan ini, selalu dia akan pulang dengan kantong penuh uang.

Pemuda yang datang di hotel Liok-an itu memang benar Lu Kwan Cu. Biarpun pemuda ini dapat menduga bahwa tentu di kota ini An Keng Seng mempunyai banyak kaki tangan dan mata-mata, namun dia sengaja menuliskan nama aseli di buku tamu. Apa yang dia takutkan? Pemuda ini merasa yakin akan kepandaiannya sendiri dan dia sudah merasa pasti bahwa betapapun juga akhimya dia akan berhadapan muka dengan musuh besamya. Setelah membersihkan diri, dia lalu pergi ke rumah makan untuk makan siang.

Seperti juga di hotel Liok-an, di rumah makan itu terdapat banyak pelayan yang amat memperhatikan dia. Dengan pandangan matanya yang sudah awas itu, Kwan Cu dapat membedakan perhatian orang biasa dan perhatian orang yang mengandung maksud tertentu. Akan tetapi dia pura-pura tidak melihat dan makan dengan tenang, sungguhpun dia amat berhati-hati dan mencoba setiap masakan lebih dulu, menjaga kalau-kalau fihak musuh menaruh racun.

Di dalam rumah makan itu hanya ada beberapa orang tamu yang makan siang. Akan tetapi di antara mereka, hanya seorang yang menarik perhatian Kwan Cu dan diam-diam dia mengawasi gerak-gerik orang ini. la melihat orang ini sebagai seorang sastrawan dan biarpun orang itu kelihatan makan minum seorang diri, namun dia tahu bahwa orang itu amat memperhatikannya dan tiba-tiha dia melihat orang itu mencorat-coret sehelai kertas dengan pitnya. Melihat pit itu makin besar kecurigaan hati Kwan Cu. Pit itu, gagangnya terbuat daripada kuningan dan lebih tepat kalau dipergunakan sebagai senjata.

Akan tetapi Kwan Cu pura-pura tidak melihatnya dan mempercepat makannya. Setelah membayar heres, dia lalu keluar. Akan tetapi ketika dia sengaja lewat di dekat meja sastrawan itu dan melirik ke atas mejanya, dia menjadi terkejut dan heran karena hiarpun orang itu cepat-cepat menutupi kertas yang dicoret-coretnya, dia masih melihat sekelebatan bahwa di atas kertas itu tergambar wajahnya sendiri! Namun Kwan Cu dapat menekan perasaannya dan cepat melangkah keluar. la segera menyelinap dan bersembunyi di tempat agak jauh sambil memasang mata. Apakah kehendak sastrawan itu yang menggambar mukanya demikian cepat dan demikian cocok?

Tak lama kemudian dia melihat orang itu keluar, menengok ke kanan kiri lalu berjalan dengan tindakan kaki tergesa-gesa ke kiri. Kwan Cu mengikutinya dari jauh. Orang itu masuk ke dalam rumah gedung yang mewah dan terjaga kuat. Di pintu pekarangan saja dia melihat lima orang laki-laki yang sikapnya seperti tukang pukul, duduk sambil bercakap-cakap. Melihat sastrawan itu, lima orang penjaga menjura sambil tertawa.

“Lopek, bukankah rumah gedung itu tempat tinggal Kwan-wangwe (hartawan she Kwan)?” tanya K wan Cu kepada seorang tua yang memikul tahu.

Kakek itu menggerakkan alisnya heran. “Eh, anak muda, masa kau tidak tahu bahwa itu adalah gedung dari Tan-wangwe?”

Kwan Cu berdebar girang, akan tetapi dia tidak memperlihatkan kegembiraannya, bahkan nampak kecewa. “Aku mencari rumah hartawan Kwan.”

“Entahlah, aku tidak tahu di mana rumah hartawan Kwan. Kalau gedung itu memang rumah hartawan Tan Kai Seng, siapa orangnya tidak mengenal rumahnya?” Tukang tahu itu lalu pergi lagi setelah Kwan Cu menghaturkan terima kasihnya.

“Hm, tak salah lagi. Di situ tempat tinggal anjing she An itu,” pikimya dan tanpa membuang waktu lagi dia lalu melangkah lebar menuju ke pintu gerbang pekarangan gedung itu.

“Siapa kau? Mau apa menyelonong ke sini?” bentak seorang di antara lima penjaga pintu pekarangan.

“Katakanlah kepada Tan-wangwe bahwa seorang sahabat dari jauh hendak bertemu dengan dia,” jawab Kwan Cu tenang.

“Tan-wangwe sudah memesan kepada kami bahwa hari ini dia tidak mau terima tamu. Kau lekas tinggalkan nama dan alamat biar nanti kami yang menyampaikan. Besok pagi boleh datang lagi menerima keputusan.”

“Hm, dia hendak menyembunyikan diri? Tidak apa, aku bisa masuk sendiri menemuinya.” Sambil berkata demikian, K wan Cu tidak pedulikan lagi para penjaga itu dan terus berjalan masuk.

“Heiii, kau ini bangsat dari mana begini tidak tahu aturan? Berhenti!” Lima orang penjaga mengejar, akan tetapi Kwan Cu berjalan terus memasuki pekarangan.

“Kau harus dilempar keluar!” bentak seorang di antara mereka sambil mencengkeram pundak Kwan Cu dan hendak melemparkan pemuda itu keluar dari pekarangan. Akan tetapi, segera dia berseru kaget ketika tiba-tiba tubuhnya sendiri yang terpelanting keluar dari pekarangan, jatuh di jalan raya mengeluarkan suara berdebuk!

Empat orang penjaga yang lain menjadi marah dan mereka lalu memukul. Terdengar suara “bak-buk-bak-buk” dan bukan yang dipukul yang jatuh, melainkan para pemukulnya yang memekik kesakitan dan terguling roboh!

Jeritan para penjaga pintu terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung. Tak lama kemudian keluarlah berlarian beberapa orang dan Kwan Cu menjadi girang bukan main, karena di antara sekian banyak orang itu dia mengenal An Kai Seng dan Wi Wi Toanio!

“Bangsat she An, bersiaplah untuk mampus!” bentak Kwan Cu sambil menghunus pedang Liong-coan-kiam dari pinggangnya. Akan tetapi sekali berkelebat, Kai Seng dan Wi Wi Toanio lenyap di dalam gedung dan ketika K wan Cu hendak mengejar, dia dihadang oleh lima orang. Orang pertama adalah si sastrawan tadi yang bukan lain adalah Kwa-sianseng. Orang ke dua adalah Lui Kong Nikouw yang sudah dikenal oleh Kwan Cu. Adapun tiga orang lain adalah Sin-to Sam-eng yang belum dikenalnya.

Melihat Kwan Cu mengejar majikan mereka, lima orang ini maju mengeroyoknya. Akan tetapi Kwan Cu cepat menggerakkan Liong-cuan-kiam dan suara nyaring terdengar ketika pedangnya mengenai sebatang pit dari Kwa-sianseng dan sebatang golok di tangan It-to-cilan Ang Kian orang pertama dari Sin-to I Sam-eng. Terkejutlah lima orang itu karena yang senjatanya tidak terbabat putus oleh Liong-cuan-kiam, merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa tenaga dari pemuda itu jauh mengatasi tenaga mereka yang dipersatukan. Kwan Cu mengamuk terus dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, dibarengi dengan gerakan tangan kiri, dia berhasil merobohkan It-to-cilan dengan sebuah pukulan tangan kiri yang tepat mengenai jalan darah di lehernya.

Lui Kong Nikouw membabat dengan pedangnya, disusul oleh tiga orang kawannya yang menggerakkan senjata dengan cepatnya. Akan tetapi gerakan Kwan Cu lebih cepat lagi sehingga sebelum mereka sadar apa yang terjadi, Lui Kong Nikouw menjerit dengan pundak terluka dan Yap Ki si Raja Racun terlempar kena ditendang oleh Kwan Cu.

Bukan main kaget dan marahnya para pengeroyok ini.

Tok-ong Yap Ki berseru keras dan sambil melompat berdiri tangannya bergerak-gerak. Beberapa tok-ciam (jarum beracun) menyambar ke arah Kwan Cu, akan tetapi sekali saja Kwan Cu mengibaskan tangan kirinya, jarum-jarum itu terpental kembali, ada yang langsung menyerang Yap Ek dan si sastrawan dan lebih hebat lagi, ada yang kembali dan menyerang Yap Ki sendiri! Yap Ek dan si sastrawan roboh akan tetapi Yap Ki dapat menyelamatkan dirinya. Si Raja Racun ini kaget sekali melihat jarum-jarumnya mengenai saudaranya dan kawan sendiri, karena dia tahu bahwa jarum-jarum beracun itu amat berbahaya dan siapa yang terkena akan binasa dalam beberapa menit saja kalau tidak lekas-lekas dia beri obat pemunahnya.

Pada saat itu, dari dalam gedung keluarlah belasan orang bersenjata, sedangkan dari luar gedung masuk pula lebih dua puluh orang dengan senjata di tangan. Mereka ini adalah jagoan-jagoan dan kaki tangan An Kai Seng yang sudah mendengar bahwa musuh besar majikan mereka datang mengamuk.

Kwan Cu segera dikepung dan dikeroyok. Akan tetapi apakah artinya puluhan jagoan-jagoan murah itu? Dengan enaknya Kwan Cu menyimpan kembali pedangnya lalu menggerakkan kaki tangannya untuk merobohkan mereka bagaikan orang membabat rumput saja. Yap Ki sendiri tidak dapat membantu pengeroyokan itu, karena dia sibuk memberi obat pemunah kepada si sastrawan Kwa dan Yap Ek agar nyawa mereka ini tertolong. Kemudian, dia lalu maju menerjang lagi dengan goloknya.

Selagi Kwan Cu mengamuk hebat, dari luar datang lagi serombongan orang dan mereka ini ternyata adalah sepasukan penjaga keamanan kota yang jumlahnya tiga puluh orang! An Kai Seng sebagai hartawan yang terkenal dengan nama Tan-wangwe dan sering kali menyumbang sehingga hubungannya amat baik dengan para pembesar, tentu saja segera ditolong oleh penjaga-penjaga keamanan ketika mereka mendengar bahwa di rumah Tan-wangwe terjadi keributan dengan datangnya seorang pengacau.

Kwan Cu menjadi gemas. Akan tetapi pemuda ini tidak mau sembarangan membunuh orang. Dengan kepandaiannya yang tinggi dia dapat membikin para pengeroyoknya itu roboh seorang demi seorang dengan tulang-tulang yang patah dan luka-luka yang tidak menimbulkan bahaya bagi keselamatan nyawa mereka. Sebentar saja, jumlah pengeroyok tinggal belasan orang lagi dan sebagian besar sudah rebah malang melintang tak berdaya.

“Bangsat she Lu, kau keterlaluan!”tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang berpakaian panglima maju menerjang dari luar. Kwan Cu memandang dan melihat bahwa yang datang ini adalah Panglima Kam Cun Hong, maka sambil menangkis serangan pedang di tangan panglima ini dengan sulingnya yang sudah dia cabut secepat kilat, dia tertawa mengejek.

“Hm, bukankah kau panglima yang dulu sama-sama datang dengan Kiam Ki Sianjin? Bagus kau belum mampus oleh para pejuang, sekarang kau mengantar jiwa!” ,

Kata-kata Kwan Cu ini mengejutkan hati Kam Cun Hong. Panglima ini memang telah melarikan diri dari kota raja dan di kota ini minta perlindungan dari An Kai Seng yang sudah dikenalnya. Biarpun dahulunya mereka ini bermusuhan, yakni Kam Cun Hong membantu Si Su Beng sedang An Kai Seng adalah keturunan An Lu Shan, namun karena sama-sama mempunyai rahasia yang harus disembunyikan, maka An Kai Seng tidak menolaknya dan bahkan memberi rumah kepada bekas panglima ini. Mendengar ucapan K wan Cu, Panglima Kam takut kalau-kalau rahasianya diketahui oleh rakyat, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat dan melarikan diri.

Beberapa orang roboh lagi dan sisanya, hanya tujuh orang lagi termasuk Yap Ki si Raja Racun, menjadi gentar dan segera melarikan diri! Kwan Cu tertawa mengejek dan dia segera melompat ke dalam gedung hendak mengejar musuh besarnya. Semua kamar dibukanya, namun gedung yang amat besar itu sudah kosong melompong. Tak seorang pun pelayan berada di situ, agaknya sudah lari cerai-berai ketika keributan terjadi. Memang sebelumnya, An Kai Seng sudah mengatur terlebih dulu dan membubarkan semua pelayan agar tidak akan ada pelayan yang dapat dipaksa oleh Kwan Cu untuk memberitahukan tempat sembunyinya.

Kwan Cu penasaran dan mencari terus. Setiap kamar yang tertutup pintunya, didobrak dan dibukanya. Ketika tiba di ruang belakang, dia melihat sebuah kamar yang tertutup pintunya. Didengarnya berkereseknya kain di dalam kamar, tanda bahwa di dalam kamar itu ada orangnya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia mendorong pintu kamar yang tebal itu. Sekali dorong saja pecahlah daun pintunya dan dia segera melompat masuk.

“Ayaaa… kurang ajar sekali….!” terdengar pekik seorang wanita dan Kwan Cu merasa mukanya panas. Warna merah menjalar sampai di telinganya. Ternyata bahwa di dalam kamar itu terdapat Wi Wi Toanio yang agaknya sedang berganti pakaian, karena wanita cantik ini hanya memakai pakaian dalam yang amat pendek dan ringkas. Bukan main cantik dan menariknya wanita itu, sehingga untuk sesaat Kwan Cu berdiri bagaikan patung.

“Mana suamimu?” Kwan cu berusaha untuk membikin suaranya terdengar kasar, akan tetapi dia tidak sanggup menekan suaranya yang agak gemetar.

“Laki-laki tak bermalu! Kau….. kau melihat apakah? Cih, kurang ajar benar!” kata Wi Wi Toanio, biarpun mulutnya berkata begini, namun sepasang matanya berseri dan mulutnya tersenyum manis!

Kwan Cu cepat membalikkan tubuhnya dengan perasaan amat jengah dan hati berdebar.

“Lekas kau berpakaian, baru kita bicara!” katanya, diam-diam dia merasa cemas kalau-kalau ada orang yang melihat dia berada di dalam kamar seorang wanita yang hanya memakai pakaian seperti itu, apa akan kata orang?

Terdengar wanita itu tertawa kecil dengan genitnya, lalu terdengar pula dia memakai pakaian. Waktu yang dipergunakan oleh Wi Wi Toanio untuk berpakaian amat lamanya, sehingga Kwan Cu hilang sabar.

“Cepatan sedikit!” bentaknya. Akan tetapi Wi Wi Toanio hanya tertawa mengejek saja, kemudian mencium bau yang amat harum, kiranya wanita itu dalam berdandan bahkan bersolek, berbedak segala!

Tiba-tiba Kwan Cu miringkan tubuhnya dan tiga batang piauw menyambar lewat di samping tubuhnya.

“Jangan berlaku curang, takkan ada gunanya,” la mengejek tanpa menoleh. Benar-benar lihai pemuda ini, tanpa menoleh dia tahu bahwa dia diserang oleh Wi Wi Toanio mempergunakan piauw.

“Hm, kau mengambil pedang untuk apa ? Kau takkan menang melawan aku,” kata pula Kwan Cu dan Wi Wi Toanio terkejut bukan main sehingga tangannya yang memegang pedang gemetar. Bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa ia mengambil, pedang? Sementara itu, mengetahui bahwa wanita itu sudah mengambil pedang, tentu ia sudah berpakaian rapi, maka Kwan Cu lalu membalikkan tubuhnya memandang. Bukan main, Wi Wi Toanio memang benar-benar seorang wanita yang paling cantik yang pernah dilihatnya, dan pandai bersolek pula. Harus diakui oleh Kwan Cu bahwa belum pernah dia melihat wanita yang kecantikannya dapat menandingi kecantikan wanita ini.

“Kau mau apa?”tanya Wi Wi Toanio yang sudah memegang sebatang pedang, mulutnya tersenyum-senyum memikat. Kwan Cu masih bodoh dalam menghadapi kelincinan wanita maka dia tidak tahu bahwa tadi sebenarnya Wi Wi Toanio sengaja menantinya di dalam kamar itu untuk mulai dengan siasatnya memikat hati pemuda yang tak mungkin dikalahkan dengan kekuatan senjata ini.

“Jangan berpura-pura bodoh!” bentak Kwan Cu. “Aku mencari suamimu, lebih baik kau berterus terang saja, di mana dia? Kalau aku sudah membalas dendam kepadanya, aku takkan mengganggu dan tak peduli lagi dengan keadaanmu. Hanya An Kai Seng yang kucari dan aku tidak ingin mencari permusuhan dengan orang orang lain.”

“Kau benar-benar hebat dan gagah,” Wi Wi Toanio memuji, “jauh berbeda dengan Kai Seng dan kawan-kawannya yang tidak punya guna. Orang segagah engkau, yang masih begini muda, mengapa mengotori hati dan pikiran dengan permusuhan? Apakah tidak lebih baik kalau kita bersahabat? Aku aku ingin sekali menjadi sahabatmu, bahkan kalau kau sudi, aku suka berlutut dan mengangkat kau sebagai guruku.”

“Tak usah banyak cakap, di mana suamimu?”

Melihat Kwan Cu tak dapat dibujuknya, Wi Wi Toanio tidak menjadi kecewa. Sebagai seorang wanita berpengalaman, dari sinar pandang mata Kwan Cu saja tahulah dia bahwa ia tidak kalah sama sekali. Tahu bahwa pemuda itu betapapun juga sudah tertarik padanya, sudah mengagumi kecantikannya, maka ia menarik muka semanis mungkin.

“Lu Kwan Cu, apa boleh buat, agaknya kau tidak dapat dibujuk lagi untuk melenyapkan permusuhan. Kalau kau memang menghendaki pertempuran, mari kita lakukan secara terang-terangan dan secara orang gagah. Aku dan suamiku menantangmu untuk mengadakan pertempuran sampai mati di dalam hutan dekat rawa maut di sebelah barat kota ini. Beranikah kau?”

“Mengapa tidak berani? Biarpun suamimu akan mengumpulkan jago-jagonya di sana, aku takkan takut seujung rambut! Akan tetapi, siapa yang tidak tahu akan kelicikan suamimu? Siapa yang percaya bahwa suamimu benar-benar akan berada di sana?”

“Lu Kwan Cu, kau menghinaku! Bukan suamiku, akan tetapi akulah yang menantangmu! Kau tidak percaya padaku? Datanglah besok pada pagi hari, aku dan suamiku pasti akan berada di sana, tanpa seorang pun kawan! Di sana kita bertiga akan menentukan siapa yang harus mampus. Kalau kau berani datang, tanda bahwa kau benar seorang jantan, akan tetapi kalau kau tidak mau dan tidak percaya kepadaku, terserah, mau bunuh aku boleh bunuh. Jangan harap kau dapat menemui Kai Seng sebelum besok pagi di hutan itu.”

Kwan Cu berpikir sejenak, hatinya penuh keraguan.

“Lu Kwan Cu, apa kaukira akan dapat memaksaku? Ketahuilah bahwa aku masih menaruh hati kasihan kepadamu, kalau tidak demikian, andaikata sekarang aku merobek-robek pakaianku dan menjerit-jerit minta tolong, di mana lagi kau akan menaruh mukamu?”

Kwan Cu terkejut sekali. Memang hebat ancaman ini dan kalau dilaksanakan, tentu namanya akan hancur .

“Baiklah, andaikata suamimu tidak datang dan lari sembunyi, apa sih sukarnya mencari dia? Akhirnya aku pasti akan datang di hutan itu.” Setelah berkata demikian, Kwan Cu lalu melompat pergi dan keluar dari gedung itu.

Setelah K wan Cu pergi, Kai Seng muncul dari balik pintu rahasia yang berada di bawah tempat tidur. Mukanya pucat sekali, tubuhnya masih menggigil dan dia menarik napas berulang-ulang. “Baiknya kau pandai sekali mengusir dia, hanya aku merasa kurang senang melihat gayamu di depan musuh besar kita,” katanya kepada isterinya.

Wajah manis dari Wi Wi Toanio tiba-tiba menjadi berkerut dan ia memandang kepada suaminya dengan marah. “Apa katamu? Kalau kau sendiri becus mengusirnya, mengapa kau menyuruh aku? Sudah, sudah, besok kau boleh menghadapinya sendiri, aku lebih baik tinggal di rumah!”

Kai Seng segera menghampiri isterinya dan memegang lengannya.

“Jangan marah, isteriku yang manis. Nyawaku berada di tanganmu dan hanya engkau saja kiranya yang dapat menolongku, dapat menghadapi pemuda yang kepandaiannya seperti siluman itu.”

Wi Wi Toanio menarik tangannya dan tersenyum puas. “Kau lihat saja nanti. Aku bukan wanita kalau tidak dapat membikin dia bertekuk lutut di depanku. Lebih baik lagi, aku akan mencari tahu akan rahasia kepandaiannya dan kalau saja aku dapat membujuk sehingga dia mau menurunkan kepandaiannya itu, bukankah amat menguntungkan bagi kita? Akan tetapi kalau kau cemburu.. ” sinar mata yang jernih itu mengancam.

Kai Seng memeluk isterinya. “Tidak, isteriku. Demi keselamatan, aku tidak akan cemburu….. terserah kepadamu bagaimana kau akan menghadapinya.”

“Nah, kalau begitu, kau dengarlah baik-baik ” Isteri yang cantik dan juga amat licinnya ini lalu membisikkan rencana dan siasatnya untuk menghadapi Kwan Cu, didengarkan oleh Kai Seng sambil mengangguk-angguk seperti ayam makan padi.

***

Hutan di sebelah barat kota An-keng tidak berapa besar akan tetapi amat liar, karena di tempat itu banyak terdapat rawa-rawa yang amat berbahaya. Para penggembala tidak berani membawa binatang peliharaan mereka mendekati rawa, karena sekali tergelincir ke dalam rawa itu, tidak mungkin tertolong lagi. Rawa itu airnya tidak dalam, akan tetapi di bawah air terdapat lumpur yang dapat mengisap apa saja yang jatuh ke dalamnya. Di atas rawa penuh pohon-pohon dan memang di situ pemandangan amat indah, rumput-rumput hijau segar. Akan tetapi kalau orang melihat ke bawah, orang akan bergidik dan merasa ngeri.

Pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah berlari-lari memasuki hutan, mencari-cari musuh besarnya, yakni Kai Seng dan Wi Wi Toanio yang sudah berjanji hendak mengadu kepandaian dengannya di tempat itu. la tidak begitu mengharapkan akan bertemu dengan mereka, karena dia masih sangsi apakah benar-benar seorang wanita seperti Wi Wi Toanio mau memegang janjinya. Sampai lama dia mencari ke sana ke mari, akan tetapi tidak melihat bayangan seorang pun manusia.

“Hm, biarpun kau bersembunyi di mana saja, akhirnya aku pasti akan dapat mencarimu,” kata Kwan Cu seorang diri,” kata Kwan Cu seorang diri, “dan lain kali aku takkan mendengarkan omongan wanita itu.”

Baru saja dia hendak meninggalkan hutan, tiba-tiba dia melihat bayangan Wi Wi Toanio di pinggir rawa. Wanita ini menggunakan tangan kiri mencekik seorang laki-laki sambil memaki.

“Apa kaukira aku mudah saja menjadi kaki tanganmu? Sudah lama kau menyakiti hatiku dan sekaranglah pembalasanku!” Tangan kanan wanita itu melayang, menghantarn dada laki-laki itu yang terjengkang dan tanpa dapat mengeluarkan suara lagi laki-laki itu terlempar masuk ke dalam rawa!

‘Apa yang kaulakukan itu?” teriak Kwan Cu terkejut dan seperti terbang dia berlari rnenghampiri tempat itu. Wi Wi Toanio kelihatan berdiri seperti patung, mukanya pucat memandang ke arah laki-laki yang sudah terjungkal ke dalam rawa. Ketika Kwan Cu melihat, ternyata bahwa laki-laki itu jatuh ke dalam rawa dengan kepala lebih dulu sehingga yang kelihatan hanya kedua kakinya sampai ke pinggang saja. Kaki yang sudah lemas tak bergerak lagi, agaknya laki-laki itu telah tewas. Yang amat mengagetkan hatinya adalah ketika dia mengenal pakaian Jaki-laki itu sebagai pakaian An Kai Seng, musuh besarnya!

“Dia…. dia An Kai Seng….. apakah yang telah kauperbuat??” Kwan Cu memandang Wi Wi Toanio dengan heran.

Dengan perlahan Wi Wi Toanio membalikkan tubuh memandang Kwan Cu, mukanya pucat, rambutnya awut-awutan menambah kecantikannya dan di atas pipinya terdapat butiran-butiran air mata. Setelah pandang matanya bertemu dengan pandang mata Kwan Cu, tiba-tiba Wi Wi Toanio menangis.

“Eh, eh, eh, ada apakah….. ? Mengapa kau membunuh suamimu sendiri?”

Wi Wi Toanio tak dapat menjawab, bahkan lalu berlutut di depan kaki Kwan Cu. Tentu saja pemuda ini menjadi bingung sekali. la menyangka akan sesuatu yang tidak beres maka sekali memegang kedua pundak wanita itu, Wi Wi Toanio telah dipaksanya berdiri lagi.

“Katakan, sandiwara apa ini? Mengapa kau mendahuluiku membunuh musuh besarku itu?”

“Lu Kwan Cu, apakah….. hanya kau saja yang mempunyai sakit hati dan dendam? Apakah hanya kau saja yang membencinya? Aku aku lebih sakit hati kepadanya, aku lebih membencinya seperti membenci racun busuk! Kesempatan ini, selagi kami berada berdua di sini, kupergunakan untuk membalas sakit hatiku, sebelum kau mendahuluiku.”

Kwan Cu tertegun. “Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa sakit hati terhadap suami sendiri?”

“Aku seorang wanita malang ….dahulu aku dipaksa oleh manusia busuk itu menjadi isterinya. Aku tak berdaya, orang tuaku dibelinya. Aku….. aku tidak suka padanya, aku benci padanya! Kemudian kau datang, Taihiap. Kau seorang pendekar besar yang amat kukagumi, yang sudah lama ingin kujumpai, eh, ternyata kau adalah musuh besar suamiku. Ternyata kau pun telah dibikin sakit hati oleh manusia jahanam itu! Tidak itu saja, permusuhannya denganmu berarti menyeret aku pula ke dalam permusuhan ini, permusuhan dengan seorang pendekar pujaanku. Aku tak tahan lagi, aku mengusulkan supaya dia dan aku menantangmu di sini dan dalam keadaan berdua saja ini, kugunakan kesempatan untuk membalas dendam. Kubunuh dia!” Wi Wi Toanio menudingkan telunjuknya yang runcing itu ke arah mayat yang kini tinggal kelihatan kaki sebatas lutut saja, lalu menangis lagi.

Kwan Cu tertarik sekali, tidak hanya tertarik oleh penuturan ini, akan tetapi terutama sekali tertarik oleh kecantikan Wi Wi Toanio, oleh olah bicaranya yang demikian menarik, demikian manis sehingga pemuda ini seperti mabuk. Baru saja Kwan Cu mengalami patah hati karena Sui Ceng, hati mudanya haus akan sifat lemah lembut seorang wanita, haus akan kasih sayang seorang wanita, apalagi setelah dia digagalkan dalam cinta kasih pertamanya dengan Sui Ceng. Melihat Wi Wi Toanio, timbul kasihan di dalam hatinya. Alangkah malangnya nasib wanita ini, wanita yang secantik ini, seperti bidadari!

Wi Wi Toanio bukanlah seorang wanita luar biasa kalau ia tidak dapat membaca pikiran Kwan Cu dari sinar matanya. Tiba-tiba ia makin terisak dan dipegangnya kedua tangan Kwan Cu sambil berlutut di depan pemuda itu!

“Lu-taihiap, setelah aku membunuh An Kai Seng, aku….. aku yang sebatangkara ini sudah lama mengagumi Taihiap. Sudilah Taihiap menerima perasaan hatiku….. biar sampai mati aku Wi Wi seorang sengsara takkan merasa penasaran. Jangan takut, Taihiap, perkara pembunuh Kai Seng ini tentu semua orang mengira bahwa taihiap yang melakukannya, akan tetapi selama aku berada di sampingmu, tak seorang pun berani mengganggumu. Aku akan mengatakan bahwa Kai Seng tewas dalam pertempuran yang jujur. Dan kau boleh berdiam di gedungku, Taihiap. Atau kalau Taihiap menghendaki, aku rela meninggalkan gedung untuk ikut kau merantau. Sampai mati aku ingin berada di sampingmu, Taihiap.”

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan suara merayu-rayu ini, luluh hati Kwan Cu. Musuh besarnya telah tewas, dan dia tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan wanita ini, bahkan wanita ini pun menjadi korban dari musuh besarnya. Suara yang merdu merayu ini, wajah yang cantik jelita, tangan halus yang memegangi tangannya, semua ini terlampau kuat dan berpengaruh bagi batin Kwan Cu yang biarpun amat kuat namun masih hijau dalam menghadapi wanita. Hampir saja dia memeluk, wanita yang sudah menyerahkan diri dan nasib kepadanya. Akan tetapi, rasa jengah membuat dia membetot tangannya dan melompat mundur. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Belum pernah dia menghadapi wanita yang terang-terangan menyatakan cinta kasih kepadanya, apalagi seorang wanita secantik Wi Wi Toanio. Hatinya yang kosong dan kecewa karena kegagalan cinta kasihnya dengan Sui Ceng, menuntut isi. Dan sekarang, tiba-tiba saja wanita ini melemparkan diri ke dalam hatinya!

“Jangan….. ” suaranya gemetar dan berbisik, “jangan begitu Wi Wi Toanio…… , ini tidak baik…. ” katanya dan dia merasa heran sendiri karena napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas.

“Mengapa tidak baik?” Wi Wi Toanio bangun berdiri dan kembali dia memegangi kedua tangan pemuda itu. “Kita sama-sama bernasib malang, dan aku…. aku rela menjadi muridmu, menjadi muridmu, menjadi bujangmu….. asal saja kau menerima perasaan hatiku, Lu-taihiap….”.

Bayangan wajah wanita-wanita yang pernah mendekati hatinya terbayang di depan mata Kwan Cu. Pek-cilan Thio Loan Eng, Liyani gadis raksasa, Malita dan Malika dua gadis katai, Gouw Kui Lan. Akan tetapi tidak ada yang secantik Wi Wi Toanio, tidak ada yang demikian menariknya, bahkan melebihi Sui Ceng. Tidak ada pula di antara mereka yang menyatakan cinta kasih sebulatnya seperti Wi Wi Toanio.

“Jangan….. biarkan aku pergi!” Hati nurani Kwan Cu masih memberontak dan sekali renggut dia melepaskan diri, lalu melompat dan hendak lari pergi, lari dari tempat yang dianggapnya amat asing, amat berbahaya namun yang mendebarkan hatinya ini.

“Kau kejam, Lu-taihiap. Kalau begitu, biarlah aku Wi Wi yang malang nasibku binasa di saat ini juga!” sambil berkata demikian, wanita muda yang cantik jelita itu melompat ke dalam rawa di mana suaminya kini hanya kelihatan sepasang kaki sebatas lutut saja.

Kwan Cu belum pergi jauh, tentu saja pendengarannya yang luar biasa tajamnya itu dapat mendengar suara tubuh wanita itu terjatuh ke dalam lumpur berair.

“Wi Wi…. !” teriaknya dengan muka pucat dan dia cepat melompat ke pinggir rawa. Dilihatnya Wi Wi sudah tenggelam sampai ke pinggangnya, di dekat mayat suaminya! Muka wanita itu memandangnya sedemikian rupa sehingga Kwan Cu tidak dapat menahan hatinya lagi.

“Wi Wi…. , kau bertahan dulu, aku akan menolongmu….. ”

“Kalau kau meloncat ke sini, kita berdua akan mati, Taihiap.”

“Tunggu, aku akan mencari akal.”

“Tak usah kau menolongku, hidup juga percuma saja. Kalau kau tidak mau menerima perasaan hatiku, aku tidak mau ditolong!”

Kwan Cu tidak mau menjawab lagi, hatinya ngeri melihat betapa tubuh wanita itu melesak makin dalam, kini lumpur mengisapnya sampai ke dada. Bagaimana dia dapat menolongnya? Biarpun kepandaiannya tinggi, namun kalau dia melompat ke dalam rawa, dia pun akan terisap oleh lumpur itu dan tidak berdaya. Tiba-tiba dia mendapat akal. Didorongnya sebatang pohon sehingga roboh dan batang pohon ini dia lemparkan ke dalam rawa di dekat Wi Wi Toanio. Air memercik ke atas membasahi seluruh muka wanita yang kini kelihatan lemas. isapan lumpur telah rnenyesakkan dada dan membuat ia hampir tak dapat bernapas.

“Taihiap…. Aku… aku mati…. selamat tinggal…. ” katanya lemah.

“Wi Wi, tahankan, aku menolongmu!”

“Percuma…. ” kata Wi Wi Toanio dan kini ia makin tenggelam sampai ke leher.

“Wi Wi, pegang cabang pohon itu!”

“Tidak, biar aku…. mati….”

“Jangan, Wi Wi….aku kasihan padamu, aku akan menolongmu.”

“Katakan, kau cinta padaku atau tidak?”

Kwan Cu tertegun, mukanya merah sekali dan dadanya berdebar.

“Katakan. Kwan Cu sebelurn sebelum lumpur ini memasuki mulutku, memasuki telingaku….”

Kwan Cu melihat betapa sekarang air sudah sampai ke dagu wanita itu, maka secara setengah terpaksa dan dengan suara gemetar dia menjawab, “Aku…. cinta padamu, Wi Wi.” Setelah berkata demikian, tanpa membuang waktu lagi Kwan Cu melayang turun ke dalam rawa itu. Kakinya menotol batang pohon yang tadi dilempar dan dengan mengerahkan ginkangnya agar batang itu tidak bergerak seperti dihinggapi oleh seekor burung saja, tangannya menyambar baju di pundak Wi Wi Toanio.

“Brettt!” Baju robek akan tetapi tubuh Wi Wi Toanio telah terbetot sedikit sehingga kini air hanya sampai di pundaknya.

“Keluarkan lenganmu dari lumpur!” kata Kwan Cu yang cepat mengimbangi tubuhnya karena batang pohon itu bergoyang-goyang. Wi Wi Toanio menggerakkan tangannya dan tangan kirinya dapat terlepas dari isapan lumpur.

“Hati-hati, aku akan menarikmu keluar!” kata Kwan Cu yang cepat menyambar pergelangan tangan wanita itu, lalu dengan pengerahan tenaga lweekang yang hebat, dia dapat melawan isapan lumpur dan sedikit demi sedikit tertarik keluarlah Wi Wi Toanio dari bawah permukaan air. Kini tangan kanan Wi Wi Toanio merangkul pinggang Kwan Cu dan dia membantu pemuda ini menarik dirinya. Gerakan ini sebetulnya tidak perlu, karena kalau dia diam saja, Kwan Cu akhirnya akan dapat menariknya keluar. Bahkan dengan gerakan ini Wi Wi Toanio merusak keseimbangan tubuh Kwan Cu sehingga ketika batang pohon itu bergoyang-goyang, dia tidak dapat menahan diri lagi dan keduanya terpeleset dan…. tercebur ke dalam air!

“Celaka !” Wi Wi Toanio menjerit.

Akan tetapi K wan Cu dengan tenang menyambar cabang pohon dan sekali menarik dirinya, dia telah berdiri kembali di atas batang pohon.

Ia segera menangkap tangan Wi Wi Toanio lagi dan menariknya kuat-kuat. Ia berhasil! Kini Wi Wi Toanio dengan pakaian basah dan kotor, berdiri di atas batang pohon dengan menggigil, mendekap pinggang Kwan Cu yang juga basah dan kotor pakaiannya. Tiba-tiba Wi Wi Toanio mengeluh panjang dan ia pingsan dalam pelukan Kwan Cu. Pemuda ini terkejut dan setelah memeriksa ketukan nadi, tahulah dia bahwa wanita ini pingsan karena mengerahkan lweekangnya sendiri. Tadi di dalam lumpur kalau Wi Wi Toanio tidak mengerahkan lweekang sekuatnya. tentu tubuhnya sudah terisap semua dan dadanya terhimpit lumpur sampai tak dapat bernapas. Sekarang setelah terbebas, jalan darahnya lancar kembali dan ini mendatangkan goncangan kepada jantungnya, terutama karena baru saja dia mengalami kekhawatiran hebat. !

Kwan Cu lalu memanggul tubuh wanita itu dan melompat ke darat. Akan tetapi, ketika dia melompat ke darat, batang pohon itu bergerak sehingga lenyaplah sebagian besar tenaga lompatannya. Hal ini karena sekarang dia memanggul tubuh Wi Wi Toanio dan pula batang pohon itu mengambang di atas air, maka amat mudah bergoyang. Kwan Cu tidak berhasil melompat sampai ke darat, melainkan jatuh lagi ke dalam rawa! Baiknya, dia terjatuh di bagian pinggir, di mana lumpur terdapat tanah keras, sehingga dia selamat. Dengan tubuh Wi Wi Toanio di atas pundaknya, Kwan Cu berjalan naik dengan memegang dahan-dahan pohon sebagai bantuan. Akhirnya dia selamat sampai di darat dan Wi Wi Toanio mengeluh panjang, tanda siuman kembali dari pingsannya.

Begitu membuka mata, wanita ini lalu menubruk dan memeluk leher Kwan Cu sambil menangis terisak-isak. Kwan Cu memandang wajah wanita itu lalu sambil tertawa dia berkata,

“Jangan kau menangis, bukankah kita sudah selamat? Lihat, mukamu dan mukaku serta pakaian kita penuh lumpur!”

Wi Wi Toanio mengangkat mukanya, dan wajahnya yang cantik manis tersenyum geli di antara air matanya. “Mari kita mencuci pakaian kita,” katanya. “Di tengah hutan ml terdapat sumber air, biar aku yang akan mencuci pakaianmu.”

“Apakah kau tidak lebih baik pulang dan berganti pakaian? Aku… aku… ”

Akan tetapi Wi Wi Toanio tidak memberi kesempatan padanya untuk banyak membantah, karena wanita ini sudah memegang tangannya dan menariknya ke tengah hutan. Kwan Cu hanya menurut saja.

Dengan bujukan-bujukan, rayuan-rayuan dan tipu muslihat yang semenjak jaman purba dimiliki oleh pihak wanita untuk merobohkan hati pria yang bagaimana kuat pun, Wi Wi Toanio berhasil membikin Kwan Cu bertekuk lutut! Pemuda yang masih hijau ini akhirnya terjatuh ke dalam perangkap, roboh di bawah pengaruh Wi Wi Toanio yang memang amat cantik lahirnya, akan tetapi amat kotor batinnya itu. Kwan Cu mengalami pengalaman yang membuatnya seakan-akan buta dan tuli, membuat dia seperti menjadi seekor domba yang lunak dan jinak, yang menuruti segala kehendak dan kemauan Wi Wi Toanio yang amat pandai mengambil hati. Sampai tiga hari mereka berada di tengah hutan, akhirnya mereka bermufakat untuk mengadakan pertemuan di hutan itu setiap hari. Kemudian, barulah Wi Wi Toanio pulang ke kota Ankeng dan Kwan Cu juga kembali ke rumah penginapan. Pemuda ini berani kembali ke kota karena Wi Wi Toanio menanggung bahwa dia takkan ada yang berani mengganggu.

Benar saja, ketika Kwan Cu tiba di hotel, pengurus hotel berlaku amat hormat dan manis kepadanya, dan dia memuji kekasihnya yang ternyata tidak berkata bohong. Wanita itu yang sudah pulang terlebih dulu agaknya telah mengatur segala-galanya, bahkan untuk makannya, pengurus hotel menyediakannya dengan hidangan-hidangan istimewa!

***

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah pergi ke hutan itu. Semalam dia tidak bisa tidur, pikirannya penuh dengan Wi Wi Toanio. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan diam-diam dia harus mengakui bahwa biarpun perbuatannya itu tidak tahu malu, namun bagaimana lagi karena dia telah jatuh cinta kepada Wi Wi Toanio. la mencinta wanita itu dengan seluruh jiwa raganya, dan perasaan cinta kasihnya terhadap wanita-wanita lain, juga terhadap Bun Sui Ceng berubah menjadi cinta kasih terhadap Wi Wi Toanio. Sama sekali dia tidak tahu bahwa Wi Wi Toanio sedang mempermainkannya, dan dia hanya mengira bahwa Wi Wi Toanio benar-benar cinta kepadanya dengan suci murni!

Ia membuat rencana dalam hidupnya yang akan datang. Wi Wi Toanio sudah menyatakan hendak ikut pergi dengan dia, hendak menjadi suami isteri sampai tua, hidup penuh kebahagiaan dan melupakan segala hal yang sudah lalu. Bahkan Wi Wi Toanio tidak merasa keberatan untuk pergi ikut dengan dia tinggal di pulau kosong, yakni Pulau Pek-hio-to di mana dia mempelajari ilmu silat dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Wanita itu bahkan menyatakan hendak ikut mempelajari ilmu ini dari Kwan Cu, dan keduanya hendak memperdalam ilmunya di pulau itu, jauh dari dunia ramai, hidup berdua penuh cinta kasih.

Wi Wi Toanio pulang lebih dulu karena harus membersihkan nama, harus menyatakan kepada dunia ramai bahwa Kai Seng telah meninggal dunia karena terjerumus ke dalam lumpur. Setelah itu, barulah mereka dapat menjadi suami isteri yang sah, karena sebagai seorang janda, Wi Wi Toanio berhak menikah lagi dengan pria pilihannya. Bagi orang-orang biasa, tentu saja hal ini merupakan hal yang tidak masuk di akal. Tidak ada seorang janda yang menikah lagi. Akan tetapi Wi Wi Toanio bukanlah wanita biasa. Ia dapat dianggap sebagai seorang wanita gagah di dunia kang-ouw yang tidak kukuh mempertahankan tradisi lama, maka tentang perkawinan lagi dari seorang janda bukan apa-apa lagi.

Sebelum Kwan Cu berangkat ke hutan pengurus hotel menemuinya, membawa sebungkus barang.

“Taihiap, perkumpulan orang-orang hartawan di kota ini yang mendengar bahwa Taihiap seorang gagah yang amat terkenal, telah mengirim barang-barang sebagai tanda penghormatan. Harap Taihiap suka menerimanya.”

Kwan Cu terheran, akan tetapi dia menerima bungkusan itu dan membukanya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat sejumlah barang-barang perhiasan yang indah-indah, terbuat daripada emas, dan permata, juga terdapat pula potongan-potongan uang emas.

“Ah, bagaimana aku bisa menerima sumbangan sebanyak ini? Aku tidak mengenal mereka. Harap Lopek mengembalikan saja.”

“Jangan begitu, Lu-taihiap. Penolakan tentu akan mendatangkan rasa tidak enak dan malu. Harap Taihiap menerimanya, biarpun tidak semua.”

Kwan Cu menganggap bahwa kata-kata ini ada betulnya juga. Pula, dia memang amat tertarik melihat benda-benda ini, karena alangkah senangnya kalau dia bisa memberi “hadiah” kepada kekasihnya. la lalu mengambil sebatang tusuk konde terbuat daripada perak yang berukirkan atau berbentuk naga indah sekali dan bermata intan.

“Biarlah aku mengambil tanda mata ini saja. Selebihnya harap kaukembalikan, diiringkan ucapan terima kasihku.”

Demikianlah dengan tusuk konde itu di dalam sakunya, dia pergi ke hutan. Ia melihat kekasihnya telah berada di situ dan mereka tanpa banyak cakap lagi lalu saling berpelukan dengan mesra.

“Aku tunggu-tunggu kau setengah mati. Aku gelisah kalau-kalau diam-diam kau meninggalkan aku,” kata Wi Wi Toanio dengan sikap manja.

“Mengapa kau khawatir kutinggalkan? Demikian besarkah cintamu kepadaku, Wi Wi?”

Wi Wi Toanio menjatuhkan kepala di atas dada pemuda itu. “Aku akan bunuh diri kalau kautinggalkan, kekasihku.”

Kwan Cu tersenyum bangga. Hatinya sebesar gunung dan dia merasa amat berbahagia. Diambilnya tusuk konde yang tadi dia terima dari sumbangan para hartawan,lalu diperlihatkan kepada Wi Wi Toanio.

“Wi Wi, lihat, aku membawa hadiah untukmu.”

Wi Wi Toanio pura-pura memandang penuh kekaguman. Padahal “sumbangan” tadi sebetulnya adalah ia sendiri yang menyuruh pengurus hotel mengantarkan kepada Kwan Cu dengan maksud dan siasat tertentu.

“Pasangkan pada rambutku, Koko.” katanya dengan suara mesra.

Kwan Cu memasang tusuk konde itu pada rambut Wi Wi Toanio yang hitam panjang dan halus serta berbau harum itu.

“Koko, apakah artinya tanda mata ini? Apakah sekedar untuk penghias rambut?”

“Tentu saja, habis apa lagi kegunaannya?” tanya K wan Cu.

“Apa betul kau mencintaku seperti aku mencintamu, Koko? Mencinta dengan sepenuh jiwa ragamu?”

“Wi Wi, apakah kau masih bersangsi lagi? Lu K wan Cu adalah seorang gagah yang memegang teguh janjinya.”

“Kalau begitu berjanjilah bahwa kau akan menuruti segala kemauanku, Koko.”

Tanpa sangsi-sangsi lagi, sambil memeluk tubuh itu erat-erat Kwan Cu berbisik “Aku bersumpah untuk menuruti segala kehendakmu, kekasihku. Biar tusuk konde naga perak ini menjadi saksi.”

“Bagus! Girang sekali hatiku!” Kegirangan Wi Wi Toanio benar-benar besar dan luar biasa. Sepasang matanya yang indah seperti mata burung hong itu bersinar-sinar mukanya berseri-seri, akan tetapi di balik seri mukanya ini terbayang kekejaman yang hebat.

Tiba-tiba Kwan Cu melompat ke belakang dan bajunya pada lambung kiri berdarah. Kulit lambungnya terluka sedikit ketika dia melompat tadi karena Wi Wi Toanio telah menusuk lambungnya dengan tusuk konde yang dicabutnya perlahan-lahan. Kwan Cu membelalakkan matanya, memandang wajah cantik yang tersenyum itu.

“Wi Wi….. kau…. ” Akan tetapi kata-katanya ini dia hentikan dan secepat kilat tubuhnya melompat ke kanan. Ia mendengar gerakan orang di balik rumpun dan sekali dia melompat, dia melihat orang itu hendak melarikan diri. Dengan gerakan kakinya, Kwan Cu dapat menendang belakang lutut orang itu dengan cepat sehingga orang itu tidak sempat mengelak lagi, roboh terguling.

Kwan Cu menubruk maju dan menotok jalan darah orang itu. Ketika dia melihat wajah orang itu, tiba-tiba Kwan Cu menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil. Tak terasa lagi dia mundur tiga tindak. la melihat bahwa orang ini bukan lain adalah An Kai Seng.

“Kau….An Kai Seng…..??”

An Kai Seng yang tidak jadi tertotok, bangkit duduk karena sambungan lututnya sudah terlepas. la menyeringai dan berkata mengejek,

“Memang aku An Kai Seng dan kau adalah pendekar besar Lu Kwan Cu yang telah main gila dengan isteri orang lain. Cih, manusia macam kau ini hidup juga hanya mengotorkan dunia. Bunuhlah aku kalau kau hendak bunuh, lebih baik mati daripada hidup dengan nama busuk!”

Kwan Cu merasa seakan-akan dunia ini kiamat. la menoleh dan melihat Wi Wi Toanio memandangnya dengan mata menyatakan kemenangan besar! Tiba-tiba Kwan Cu menjadi mata gelap. Dicabutnya Liong-coan-kiam dan dia hendak mencincang tubuh musuh besarnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan Wi Wi Toanio.

“Lu Kwan Cu, tahan senjatamu!”

Suara yang lunak dan halus ini memang amat besar pengaruhnya terhadap Kwan Cu. Tanpa terasa lagi, dia menurunkan kembali pedangnya. Wi Wi Toanio melompat ke tempat itu sambil memegang tusuk kondenya yang tadi gagal membunuh Kwan Cu.

“Kwan Cu, lupakah kau akan sumpahmu tadi? Aku menghendaki agar kau mengampuni Kai Seng dan selamanya kau tidak boleh membunuhnya! Lihat tusuk konde ini yang menjadi saksi akan sumpahmu. Kau harus mentaati segala kehendakku!”

Kwan Cu menjadi makin pucat. Mengertilah dia sekarang bahwa semua ini adalah tipu muslihat dari Wi Wi Toanio. Selama ini An Kai Seng memang masih hidup, dan yang didorong masuk ke dalam rawa sampai mati mungkin hanyalah salah seorang kaki tangan mereka yang sengaja dikorbankan untuk siasat ini! Jadi selama ini Kai Seng tahu bahwa isterinya sengaja menjual diri kepada Kwan Cu dan selama itu mungkin sekali Kai Seng bersembunyi di dalam hutan, mengintai semua perbuatannya!

“Kau…. kau merencanakan tipu busuk ini…”

Wi Wi Toanio mengangguk. “Kau terlalu lihai untuk dilawan dengan senjata,” jawabnya sederhana.

Kwan Cu tak dapat berkata apa-apa lagi. Sebagai seorang gagah dia harus memegang teguh sumpahnya. Tak dapat dia membunuh Kai Seng kalau Wi Wi Toanio tidak menghendakinya.

“Kwan Cu, berjanjilah bahwa kau takkan membunuh Kai Seng,” kata pula Wi Wi Toanio dan suara yang biasanya terdengar mesra itu kini terdengar oleh Kwan Cu seperti suara setan.

“Baik, baik, aku menyerah kalah.”

Kemudian sambil mengeluarkan teriakan setengah tertawa dan setengah menangis, pendekar muda yang sakti ini lalu berkelebat dan lenyap dari situ!

Kai Seng memeluk isterinya. “Wi Wi, aku berhutang nyawa kepadamu. Kau benar-benar seorang isteri yang setia!” Biarpun mulutnya berkata demikian, namun di dalam perutnya Kai Seng merasa panas sekali kalau dia mengingat akan cara bagaimana isterinya menyelamatkan nyawanya, dia merasa amat sakit hati kepada Lu K wan Cu.

Wi Wi Toanio tahu akan isi hati suaminya, maka ia menghiburnya, “Jangan kau kecewa. Biarlah perlahan-lahan kita mencari Kwan Cu dan dengan pengaruh tusuk konde itu, kita akan dapat membunuhnya kalau dia bertemu dengan kita lagi.”

Akan tetapi usaha suami isteri yang curang ini selalu gagal. Di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar nama Lu Kwan Cu lagi, yang ada hanyalah Bu Pun Su (Tidak Ada Kepandaian). Semenjak munculnya pendekar yang berjuluk Bu Pun Su, dunia kang-ouw tergoncang hebat. Dan Bu Pun Su ini bukan lain adalah pemuda Lu Kwan Cu yang menderita pukulan hebat sekali seperti orang gila, namun selalu bertindak sebagai seorang pendekar penolong mereka yang sengsara. Sampai di sini berakhirlah sudah cerita Pendekar Sakti ini dan pembaca akan menjumpai lagi Bu Pun Su atau Lu Kwan Cu, Gouw Swi Kiat, The Kun Beng, Bun Sui Ceng, Han Le dan lain-lain tokoh dalam cerita yang amat hebat dan indah, yakni cerita“ANG I NIOCU” atau“PENDEKAR WANITA BAJU MERAH!”

TAMAT

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: