Pendekar Sakti (Jilid ke-9)

Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Pengemis kelaparan! Kau kira aku sudah begitu rakus untuk mengambil ilmu silatmu? Tanpa meniru akupun tak dapat kau kalahkan. Aku bersumpah!” ia mengangkat kedua tangan di depan dada seperti menghormat kepada Buddha.

Ang-bin Sin-kai mengangguk puas, lalu kakek ini bersilat tangan kosong. Dalam pandangan Lu Thong dan Kwan Cu, kakek ini bergerak cepat sekali seperti orang menari-nari dengan jari-jari tangan terbuka. Akan tetapi setelah Ang-bin Sin-kai mengulangi sampai dua kali ilmu silat tangan kosong yang terdiri dari dua puluh empat jurus itu, Jeng-kin-jiu sudah dapat menghafalnya!

“Hebat, hebat! Pinceng sudah hafal semua,” kata hwesio gemuk itu.

Ang-bin Sin-kai tertawa lagi. “Eh, Thong-ji (anak Thong), sekarang coba, kau menghadapi Kwan Cu, hendak kulihat hwesio bundar ini sampai berapa jauhnya memberi pelajaran kepadamu!” Kemudian dia menoleh kepada Kwan Cu. “Coba kau layani Lu Thong, hitung-hitung berlatih!”

Kwan Cu baru saja mempelajari dua macam ilmu silat, yakni ilmu mempertahankan diri Pai-bun-tui-pek-to dan ilmu menyerang Sam-hoan-ciang. Mendengar ucapan suhunya, dengan taat dia lalu berdiri menghadapi Lu Thong sambil memasang kuda-kuda.

“Lu Thong, kau hadapi dia dengan Lam-hai-kong-jiu (Tangan kosong Dari Laut Selatan)!” kata Jeng-kin-jiu sambil tertawa-tawa gembira. Bagi dia dan juga Ang-bin Sin-kai, tidak ada kesenangan yang lebih menggembirakan daripada tandingan silat, seperti dua orang kakek yang sudah “nyandu” adu ayam melihat dua jago berlaga.

Berbeda dengan Kwan Cu, Lu Thong sudah banyak mempelajari ilmu silat dari gurunya, dan dalam hal tingkat kepandaian silat, Lu Thong juga cerdik dan berbakat, terutama sekali karena baru-baru saja Kwan Cu mulai mempelajari ilmu pukulan dari Ang-bin Sin-kai dan juga baru saja anak ini mulai suka mempelajari ilmu silat yang tadinya dianggap sebagai ilmu memukul orang yang tiada gunanya. Akan tetapi, kalau dilihat dari isinya, dasar dalam diri Kwan Cu jauh lebih kuat. Bocah gundul ini memiliki tubuh yang kuat, di tambah pula oleh nasibnya yang baik sehingga dia tanpa sengaja telah makan coa-ko (buah ular), kemudian Ang-bin Sin-kai yang memang sengaja melatihnya kuda-kuda terus-menerus sehingga berdasar kuat sekali.

Ketika Lu Thong sudah siap, cucu menteri ini serta-merta melancarkan serangan-serangan hebat dengan kedua kepalan tangannya. Kwan Cu cepat mainkan Pai-bun-tui-pek-to, ilmu silat mempertahankan diri yang baru saja dipelajarinya. Ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Lu Thong, dia merasa kulit lengannya pedas, maka tahulah dia bahwa Lu Thong memiliki tenaga gwakang yang lihai sekali. Memang, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga hebat. Semenjak belajar kepadanya, dia telah melatih kedua tangan muridnya ini dengan tekun dan menggembleng tangan Lu Thong dengan latihan-latihan memukul pasir panas. Biarpun usianya masih delapan tahun, namun Lu Thong telah berani mempergunakan lengannya untuk menangkis serangan tongkat!

Kwan Cu berlaku hati-hati dan dalam menghadapi serangan lawannya, dia lalu mempergunakan tenaga lweekang. Ia tidak mau mengadu kekerasan, dan hanya menolak lengan lawan dengan meminjam tenaga.

Kagetlah Lu Thong ketika dia merasa betapa kedua tangan Kwan Cu seperti karet saja, lunak dan setiap pukulannya dapat ditangkis dengan tak banyak tenaga. Ia menjadi penasaran dan mengeluarkan ilmu silatnya, menyerang dengan Ilmu Silat Lam-hai-kong-jiu yang ganasnya seperti gelombang Laut Selatan mengamuk.

Kwan Cu terdesak hebat dan payah juga. Biarpun ilmu silatnya Pai-bun-tui-pek-to dapat dipergunakan untuk menghindarkan semua serangan lawan., dan biarpun dia melihat adanya pintu-pintu terbuka dalam kedudukan Lu Thong, namun dia tidak sempat membalas serangan lawan. Cara menkombinasikan Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to dan Sam-hoan-ciang belum dipahaminya benar. Namun dengan sekuat tenaga dia melakukan perlawanan. Beberapa kali kepalan tangan Lu Thong telah mengenai tubuhnya, namun berkat tenaga lweekang, pukulan itu tidak sampai membuat dia terjungkal. Menarik sekali kalau dilihat sikap kedua orang kakek yang menonton murid-murid mereka bertempur. Ang-bin Sin-kai duduk di atas tanah, bersandar kepada pohon dan menonton dengan mata merem melek, sedikit pun tidak mengeluarkan suara dan tidak pula bergerak. Akan tetapi, sebaliknya, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tidak mau diam, seperti orang melihat ayamnya diadu. Ia berjingkrak-jingkrak, sebentar-sebentar berseru “ah!,” “bagus!” atau mencela “salah!” sambil memperhatikan gerakan muridnya. Kaki tangannya bergerak-gerak seakan-akan dia sendiri yang bertempur. “Untuk apa kau mempelajari tendangan Liong-jiauw-twi (Tendangan Kaki Naga)?” tiba-tiba dia berkata seperti mencela muridnya. Padahal ucapan ini merupakan petunjuk dan mendengar ini, Lu Thong lalu menambah serangannya dengan tendangan yang datangnya bertubi-tubi dan cepat sekali. Menghadapi serangan ini, Kwan Cu tak berdaya dan dengan kerasnya sebuah tendangan mengenai pahanya sehingga tubuhnya terlempar jauh dan jatuh berduduk ke atas tanah! “Ha, ha, ha! Ang-bin Sin-kai, muridmu kalah!” Kwan Cu menjadi merah mukanya dan teringat akan nasihat suhunya, dia lalu menjura kepada Lu Thong dan berkata, “Kepandaianmu hebat. Aku mengaku kalah!” Lu Thong mengangkat dadanya dan memandang bangga. Gurunya menepuk-nepuk pundaknya dengan gembira. Ang-bin Sin-kai bangkit berdiri dan pada wajahnya terbayang sinar kegembiraan pula. Ia merasa gembira melihat jalannya pertandingan tadi, karena dia maklum bahwa dasar dari kedua orang anak itu sudah terlihat nyata. Kwan Cu jauh lebih kuat dan kalau saja anak gundul itu sudah mempelajari ilmu menyerang yang hebat, sekali terkena pukulannya Lu Thong tentu takkan dapat bangun kembali tanpa menderita luka hebat. Sedangkan Kwan Cu yang berkali-kali mengalami pukulan dan sekali tendangan hebat, sama sekali tidak terluka! Pula, dia senang melihat cara muridnya mengaku kalah. “Hwesio gendut. Yang baik-baik kau melatih Lu Thong agar kelak tidak mengecewakan. Sepuluh tahun kemudian, kita bertemu lagi dan kita mengadu murid-murid kita. Beranikah kau?” “Ha, ha, ha! Pengemis kurus, tentu saja aku berani. Boleh, boleh! Sepuluh tahun kemudian kita bertaruh dalam pibu murid-murid kita.” “Bagus! Taruhanku begini. Kalau muridku menang kau harus memberi hadiah semacam ilmu silat, sebaliknya kalau Lu Thong menang aku akan menambah dengan semacam ilmu silat pula kepadanya. Bagaimana?” “Ha, ha, ha! Kau memang pengemis kelaparan yang licik! Bagimu, menambah pelajaran kepada muridku tidak ada ruginya karena dia adalah cucumu sendiri. Akan tetapi bolehlah, aku pun sudah berjanji ingin menjadi guru dari bocah gundul goblok ini!” Ang-bin Sin-kai lalu mengajak muridnya pergi, akan tetapi sebelum pergi, dia menoleh kepada Lu Thong dan memandang dengan tajam sambil berkata, “Thong-ji, karena kau adalah cucu dari Lu Pin, maka aku hendak memberi nasihat. Hilangkanlah sifat kesombonganmu, karena kalau kau pelihara sifat itu, kelak kau tentu akan mengalami kekecewan karena kesombonganmu.” Ketika mengangkat muka memandang Lu Thong merasa terkejut sekali melihat melihat sinar mata kakek itu demikian tajam dan seakan-akan menembus sampai menjenguk ke dalam lubuk hatinya! Ia buru-buru menundukkan mukanya dan belakang lehernya terasa dingin. “Baik, Kong-kong,” katanya perlahan. Ang-bin Sin-kai lalu pergi bersama Kwan Cu. Bocah gundul ini merasa penasaran dan tidak hanya tubuhnya merasa sakit sekali. Begitu bertemu, gurunya telah menurunkan ilmu silat yang hebat kepada Lu Thong seperti yang dilihatnya tadi. Sedangkan dia hanya menerima ilmu-ilmu silat yang untuk menahan serangan Lu Thong saja masih tidak sanggup! Akan tetapi, dasar dia memang anak yang taat dan penerima, dia tidak mau berkata apa-apa dan diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kelak dia akan mencari ilmu silat sendiri yang membuat dia tidak terkalahkan!

Hek-i Hui-mo (Iblis Tebang Baju Hitam) setelah berhasil menggondol pergi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, lalu melarikan diri secepatnya. Ia tidak percaya akan keterangan Kwan Cu, bocah gundul itu bahwa kitab itu palsu, karena kalau palsu, mengapa Panglima An Lu Shan begitu mau bersusah payah untuk menterjemahkannya? Hek-i Hui-mo adalah seorang pendeta Tibet yang selain berkepandaian tinggi sekali, juga dia membentuk sebuah perkumpulan agama di Tibet yang memisahkan diri dari Lama atau juga dari aliran pendeta Buddha jubah kuning. Semua murid-muridnya atau anak buahnya mengenakan jubah hitam seperti dia pula. Hwesio ini mempunyai cita-cita untuk menguasai daerah Tibet dan untuk keperluan ini, perlu sekali menterjemahkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, selain untuk mempertinggi ilmu silat, juga untuk melatih ilmu perang kepada murid-muridnya. Kalau lain orang tokoh besar menganggap tidak ada gunanya lagi kitab itu yang selain di anggap palsu, juga dianggapnya tidak ada orang yang mampu menterjemahkannya, Hek-i Hui-mo beranggapan lain. Ia tahu bahwa di Tiongkok, tidak hanya Gui Tin yang pandai tentang sastra kuno. Ia mengenal pula nama dua orang sastrawan yang kepandaiannya mungkin tidak kalah oleh Gui Tin. Yang seorang adalah Li Po, dan orang ke dua adalah Tu Fu. Tidak ada harapan untuk minta bantuan Li Po karena sastrawan besar ini orangnya aneh dan keras. Ia hendak mencoba untuk minta bantuan sastrawan besar Tu Fu karena kebetulan sekali dia tahu di mana adanya sastrawan perantau ini pada waktu itu. Tu Fu di samping Li Po, adalah seorang sastrawan yang amat pandai dan terkenal. (Bahkan sampai di jaman atom ini masih terkenal hasil- hasil karyanya). Ia adalah seorang dari keluarga terpelajar dan berpangkat. Ia masih keturunan dari Tu Yu, seorang jenderal besar yang gagah perkasa dan terkenal sekali dari Kerajaan Cin barat. Kakeknya juga seorang sastrawan besar yang ternama, bernama Tu Shen Yan, sedangkan ayahnya, pernah menjadi seorang jaksa. Namun Tu Fu berwatak jujur dan berjiwa patriot. Ia amat mencinta nusa bangsanya dan melihat keadaan pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang korup, dia tidak mau menduduki pangkat dan bahkan rela hidup sebagai perantau yang miskin, seperti halnya mendiang Gui Tin yang semasa hidupnya dia kenal baik. Hek-i Hui-mo maklum bahwa selain Gui Tin yang sudah tewas, orang-orang yang kiranya dapat menterjemahkan kitab kuno yang telah berada di tangannya, hanya Tu Fu dan Li Po, akan tetapi yang dapat dia mintai tolong hanya Tu Fu seorang. Maka pergilah dia ke Ho-nan di mana dia tahu sastrawan muda itu berada pada waktu itu. Memang Tu Fu telah menjadi seorang perantau yang menjelajah di propinsi-propinsi Kiang-su, Ce-king, Ho-nan, dan Shan-tung. Di kota Kai-feng sebelah timur ibukota Ceng-cou, di dekat pintu gerbang sebelah timur, terdapat sebuah rumah bobrok, bentuknya seperti kelenteng. Memang rumah ini adalah bekas kelenteng yang sudah rusak dan yang gentingnya sudah hampir tidak ada sehingga kalau hujan, tempat itu menjadi basah semua sedangkan di waktu panas tidak terlindung sama sekali. Agaknya yang dapat hidup di tempat rusak dan kotor ini hanya ayam dan babi belaka. Akan tetapi, pada waktu itu, sebelah dalam kelenteng, ada seorang manusia yang tinggal. Orang ini belum tua benar, usianya kurang lebih tiga puluh tiga tahun atau tidak lebih dari tiga puluh lima tahun. Melihat potongan pakainnya, biarpun kain bajunya sudah lapuk dan penuh tambalan, jelas dapat dilihat bahwa dia seorang terpelajar. Pakaiannya seperti pakaian pendeta, panjang sampai ke kaki, dengan ikat pinggang terbuat daripada tali hitam. Kumisnya hitam dan panjang, menggantung di kanan kiri mulitnya. Jenggotnya sedikit saja, di tengah-tengah dagu dan tergantung sepanjang lehernya. Kepalanya tertutup sebuah topi butut, topi sastrawan pula. Tubuhnya kecil kurus, tulang-tulang pipinya menonjol. Sepasang matanya lebar dan tajam sinarnya sedangkan dahinya lebar sekali. Inilah dia Tu Fu, sastrawan yang rela hidup dalam kemiskinan karena dia tidak suka pada pemerintah yang dipimpin oleh orang-orang tidak jujur. Ia rela menderita seperti bangsanya, yakni rakyat kecil yang banyak sekali menderita seperti dia pula. Di dalam penghidupannya yang miskin, kelaparan. Ia berduka sekali dan menangis, bukan hanya karena kehilangan puteranya, terutama sekali karena penderitaan keluarganya ini mengingatkan dia akan keadaan para petani miskin, rakyat kecil yang banyak juga menderita kelaparan seperti keluarganya! Semenjak itu, dia pergi merantau, membuat sajak-sajak yang isinya selain memuji alam indah permai sebagaimana menjadi kesukaan para sastrawan, juga dia membuat sajak-sajak keluhan dan protes terhadap pemerintah yang lalim! Betapapun miskinnya Tu Fu, kalau orang menjenguk ke dalam kelenteng bobrok itu, dia akan melihat sastrawan ini tidak pernah berpisah dari alat tulisnya, yakni pena bulu, kertas, dan tinta! Pada waktu itu, matahari telah condong ke barat dan keadaan di dalam kelenteng sudah mulai remang-remang. Akan tetapi, Tu Fu seperti tidak merasai ini semua dan dia masih saja duduk termenung seperti orang bersamadhi, tangkai pena di tangan kanan dan sebuah kipas bobrok di tangan kiri. Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang hwesio berpakaian hitam yang tubuhnya gendut, kulit mukanya hitam dan misainya panjang. Hwesio itu merangkapkan kedua tangan di depan dadanya dan berkata, “Omitohud! Tu-siucai benar-benar rajin sekali. Untuk apakah kau bekerja begitu keras?” tanya hwesio ini yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo adanya. Bagaikan dalam mimpi, Tu Fu menjawab, “Aku takkan berhenti bekerja sebelum berhasil menuliskan sesuatu yang berguna!” “Tu-siucai bersusah payah menulis sajak, untuk apakah gerangan?” tanya pula Hek-i Hui-mo.

“Untuk siapa?” Tu Fu mengerutkan keningnya. “Tentu saja untuk rakyat sebagai penambah semangat dan untuk negara sebagai obat pahit yang manjur!” Sambil berkata demikian, Tu Fu bangkit berdiri dan baru sekarang dia memandang kepada pengunjungnya dengan mata terbelalak karena dia heran sekali siapa adanya pendeta yang tak dikenalnya ini. Namun, sebagai seorang terpelajar dan sopan, dia memberi hormat lalu bertanya, “Siapakah Losuhu ini? Dan mengapa datang mengunjungi siauwte yang miskin? Harap dimaafkan, di sini siauwte tidak mampu mengeluarkan air teh atau arak untuk disuguhkan.” Hek-i Hui-mo tertawa bergelak. “Mengapa Siucai memikirkan keadaan lain orang? Bagi pinceng tidak membutuhkan makan minum, akan tetapi sebaliknya kaulah yang memerlukan makan dan minum. Lihat, pinceng membawa sedikit daging dan arak untukmu!” Sambil berkata demikian, Hek-I Hui-mo mengeluarkan seguci arak wangi dan sebungkus daging panggang dari saku bajunya yang lebar. To Fu menerima pemberian ini dan menghela napas, “Apa artinya haus dan lapar? Kadang-kadang sampai sepuluh hari aku tidak makan minum dan bajuku mempunya tambalan lebih seratus jumlahnya, akan tetapi, apakah artinya kalau dibandingkan dengan penderitaan rakyat kecil? Mengingat penderitaan mereka itu, perutku terasa kenyang sendiri dan bajuku sudah terlampau baik! Ah, Losuhu, agaknya hidupmu sebagai pendeta lebih bahagia daripada hidupku sebagai seorang sastrawan!” “Keliru, keliru! Tu-siucai keliru sekali!” jawab Hek-i Hui-mo sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya. “Suka dan duka timbul karena hati dan pikiran sendiri. Kebahagiaan berada di dalam hati sendiri, demikian pula keadaan. Kebahagiaan dapat di usahakan dengan mudah, mengapa kau masih saja duduk merenung menyusahkan keadaan orang lain? Kalau kau suka menerima jabatan, apakah lagi yang menyusahkanmu? Kau memiliki kepandaian tinggi.” “Cukup!” tiba-tiba Tu Fu membentak dan suaranya keras saking marahnya. “Siapa sudi membantu orang-orang yang hidup seperti lintah menghisap darah petani miskin? Tidak! Lebih baik mati!” Kemudian, teringat bahwa dia bersikap kasar terhadap seorang suci, dia lalu memberi hormat dan berkata dengan sikap halus, “Maaf, Losuhu. Kalau tadi siauwte dikuasai oleh nafsu amarah. Siapakah sebetulnya Losuhu?” ulangnya, karena pertanyaannya tadi belum terjawab. “Nama pinceng Thian Seng Hwesio dan pinceng datang dari Tibet,” jawab Hek-i Hui-mo. Memang sebetulnya dia bernama Thian Seng Hwesio, dan di kalangan kang-ouw saja dia disebut Hek-i Hui-mo. Mendengar keterangan ini, Tu Fu memandang dengan mata lebar. “Dari barat? Ah, Losuhu melakukan perjalanan begitu jauh menjumpai siauwte, ada keperluan apakah?” “Tu-siucai, pinceng tidak mempedulikan perjalanan ribuan li jauhnya dengan maksud memohon sedikit pertolongan darimu, maka pinceng mengharap kemurahan hatimu dan mengharap Tu-siucai takkan menolak.” Hek-i Hui-mo biarpun terkenal kejam dan ganas, namun dia juga seorang cerdik dan banyak pengalaman. Menghadapi seorang sastrawan seperti Tu Fu yang biarpun kepandaian tinggi tidak mau menduduki jabatan dan rela hidup menderita, maka dia tahu bahwa orang ini memiliki kekerasan hati yang luar biasa, dan seperti juga Gui Tin, tiada gunanya menghadapi orang seperti ini menggunakan kekerasan. Andaikata dia mempergunakan kekerasan memaksa sastrawan ini membantunya menterjemahkan kitab, hati sastrawan ini hanya akan tersinggung saja dan kalau sampai terjadi demikian, maka agaknya biarpun dia akan memukul sampai mati, sastrawan muda ini takkan sudi membantunya! Oleh karena itulah maka Hek-i Hui-mo menjalankan siasat licin dan bersikap halus dan manis budi. Berbeda dengan Gui Tin yang lebih tua yang sudah banyak bertemu dengan orang-orang kangouw , Tu Fu tidak mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, maka dia tidak mengenal Hek-i Hui-mo dan keganasannya. Ia memang seorang yang berhati mulia dan suka menolong, apalagi menolong seorang hwesio yang lajimnya menuntut penghidupan beribadat suci, tentu saja dia bersiap sedia untuk menolong. “Tu-siucai tak perlu tergesa-gesa. Silakan makan lebih dulu, baru nanti kita bicara kembali,” kata Hek-i Hui-mo. Tu Fu tidak berlaku sungkan-sungkan dan sastrawan muda ini lalu makan habis daging dan minum arak itu sampai setengah guci. Setelah tu Fu selesai makan, Hek-i Hui-mo lalu mengeluarkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dari saku bajunya, dan sambil memperlihatkan kitab itu kepada Tu Fu, dia berkata, “Pertama-tama pinceng ingin sekali mengetahui pendapat Siucai tentang kitab ini. Pinceng mendapat kitab kuno ini akan tetapi tidak dapat mengerti huruf-hurufnya yang kuno dan sukar dibaca. Dan karena kitab ini bagi pinceng penting sekali. Maka harap Siucai sudi menerangkan apakah kitab ini palsu atau bukan?” Tu Fu menerima kitab itu seperti seorang kelaparan menerima sepotong kue. Sastrawan mana yang tidak tertarik dan penuh gairah melihat sejilid kitab? Ia menerima kitab itu dengan penuh khidmat, lalu mulai membuka lembaran-lembaran pertamanya. “Hm, sebuah kitab kuno yang menarik hati sekali,” katanya perlahan, didengarkan oleh Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian. “Sudah ribuan tahun usianya dan ditulis dengan bahasa dalam jaman Kerajaan Couw Timur!” Hek-i Hui-mo tertegun. “Pinceng mendengar bahwa kitab ini di tulis di jaman Shia!” Tu Fu menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin! Sudah pasti sekali ditulis dalam bahasa Couw Timur, Lo-suhu, siauwte tahu betul akan hal ini.” “Kalau begitu, apakah kitab ini palsu?”

“Bagaimana orang dapat menyatakan palsu kalau tidak melihat aselinya? Orang baru dapat mengenal kejahatan kalau sudah mengenal kebaikan, maka orang pun baru bisa mengenal barang palsu kalau sudah melihat barang tulennya. Siauwte tidak bisa mengatakan bahwa kitab ini palsu atau aseli, namun kitab ini benar-benar amat menarik hati. Siauwte mengenal seorang yang benar-benar ahli dalam bahasa yang ditulis dalam kitab ini yaitu Gui-siucai.” Kembali Hek-i Hui-mo tertegun. “Pinceng mendengar bahwa Giu-suicai sudah meninggal dunia, akan tetapi, pinceng lebih suka mohon pertolongan kepadamu, Tu-siucai. Harap kau suka menterjemahkan kitab ini untuk pinceng.” Tu Fu tidak menjawab, melainkan membuka lembaran kitab itu dan membacanya. Baru membaca dan membalik-balikkan lembaran kitab itu, berkerutlah keningnya. “Aneh sekali! Kitab ini bernama Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebuah kitab pelajaran yang luar biasa anehnya. Akan tetapi yang lebih aneh lagi adalah kau, Lo-suhu. Kitab ini adalah pelajaran tentang ilmu silat dan ilmu perang, bagaimana seorang hwesio yang menuntut penghidupan suci seperti Lo-suhu ingin mempelajari isi kitab ini? Apakah gunanya untuk Lo-suhu?” Hek-i Hui-mo merasa muaknya panas. Kalau saja kulit mukanya tidak begitu hitam, tentu akan terlihat betapa mukanya menjadi merah. Ia merasa mendongkol dan marah sekali. Hm, pikirnya, kalau saja aku tidak membutuhkan pertolongan cacing buku ini, kuketok kepalanya sampai pecah! Ia menarik muka suungguh-sungguh ketika menjawab. “Tu-siucai, harap jangan salah mengerti. Kitab ini seperti kaukatakan tadi adalah kitab ilmu silat dan ilmu perang. Untuk pinceng pribadi memang tidak ada gunanya, sungguhpun harus pinceng akui bahwa semenjak kecil pinceng paling suka mempelajari ilmu silat. Akan tetapi tidakkah kau lihat betapa buruknya keadaan negara? Kalau pinceng dapat mempelajari ilmu silat dari dalam kitab ini yang juga belum tentu hebat, bukankah pinceng dapat menurunkan kepandaian itu kepada orang-orang gagah sehingga dapat dipergunakan untuk membela negara?” Pada saat Tu Fu hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari luar kelenteng, disusul oleh suara seorang wanita berkata, “Bangsat gundul menjemukan! Kaukira dapat melarikan diri dariku? Kembalikan kitab itu!” Hek-i Hui-mo terkejut sekali dan sekali dia melompat, dia telah berada diluar kelenteng menghadapi Kiu-bwe Coa-li yang datang bersama muridnya, Sui Ceng! Bukan main kagetnya hati Tu Fu ketika melihat betapa hwesio gendut itu seakan-akan menghilang dari depannya. “Aduh….., setankah dia?” katanya perlahan. Kemudian dia mendengar suara gaduh di luar kelenteng. Tu Fu segera memburu keluar dan bukan main heran dan terkejutnya ketika dia melihat dua bayangan orang bertempur di halaman kelenteng seperti iblis sedang menari-nari! Memang Hek-i Hui-mo tidak membuang waktu lagi. Begitu dia melihat bahwa yang datang adalah Kiu-bwe Coa-li, tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengeluarkan tasbih dan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan segera menyerang dengan hebatnya. Kiu-bwe Coa-li tertawa mengejek dan wanita sakti ini pun lalu menggerakkan pecutnya yang bernama Kiu-bwe-sin-pian (Ruyung Lemas Berekor Sembilan). Pertempuran kali ini bukan main dahsyatnya. Satu lawan satu, tanpa khawatir ada tokoh lain yang mengganggu mereka. Bun Sui Ceng berdiri di pinggir menonton pertempuran antara gurunya dan Hek-i Hui-mo dengan penuh perhatian. Mukanya yang manis dan elok itu sama sekali tidak nampak gelisah, karena anak ini selain mempunyai hati yang tabah, juga percaya penuh bahwa gurunya pasti akan menang. “Kiu-bwe Coa-li, kau manusia usilan mengganggu saja!” seru Hek-i Hui-mo dan Tongkat Kepala Naga di tangan kanannya menyambar bagaikan halilintar ke arah kepala wanita itu. “Pendeta busuk, kau pencuri tak tahu malu!” balas memaki Kiu-bwe Coa-li dan sedikit miringkan kepala saja, serangan lawan dapat digagalkan. Pecut berekor sembilan di tangannya tidak tinggal menganggur, cepat melakukan serangan balasan, merupakan sembilan ekor ular yang bergerak dari segala jurusan, menyerang ke sembilan jalan darah di tubuh lawannya! Hek-i Hui-mo terkejut sekali melihat serangan hebat ini. Ia maklum akan kelihaian lawan dan sudah mendengar pula tentang keganasan Kiu-bwe Coa-li yang terkenal sekali turun tangan, tentu akan menewaskan lawan.Maka tanpa ayal lagi dia lalu menggerakkan tasbihnya diputar sedemikian rupa dibantu oleh Tongkat kepala Naga untuk melindungi tubuhnya. Beberapa kali terdengar suara, “Tar!Tar! Tar!”dari pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li, sungguh membikin hati menjadi ngeri. Makin lama, pertempuran berjalan makin seru dan gerakan mereka menjadi makin cepat.Tiga macam senjata berubah menjadi gulungan sinar yang paling menarik dan indah dipandang adalah gerakan cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li. Cambuk yang berujung sembilan itu merupakan segundukan sinar yang bertangan sembilan, seperti seekor ikan gurita yang berjari sembilan. Setiap ujung cambuk ini merupakan perenggut nyawa yang lihai sekali.

Namun ilmu silat Hek-i Hui-mo juga tidak kalah hebatnya. Dia adalah seorang tokoh barat yang pernah menggemparkan Tibet, yang telah menjatuhkan jago-jago dan tokoh-tokoh dari barat dan boleh dibilang, selama melakukan perantauannya di dunia kang-ouw, Hek-i Hui-mo tak pernah terkalahkan. Entah sudah berapa ratus orang lawan terpaksa mengakui kehebatan ilmu silatnya dan sudah berapa puluh lawan binasa di tangannya! Tasbihnya berputar menjadi segundukkan sinar bundar seperti mustika naga sakti, adapun tongkatnya yang merupakan naganya sehingga sepasang senjata di tangannya itu bergerak-gerak bagaikan seekor naga mengejar mustikanya! Sukarlah untuk dikatakan siapa yang lebih lihai diantara dua orang tokoh besar ini. Masing-masing memiliki keistimewaan sendiri dan keduanya mengaku bahwa selamanya baru kali ini mereka menghadapi tandingan yang benar-benar seimbang dan berat. Agaknya pertempuran ini akan menjadi pertandingan mati hidup yang berjalan lama sekali sebelum seorang di antara mereka menggeletak tak bernyawa lagi di depan kaki lawannya. Pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar, saking kerasnya, sampai terdengar angin bersiutan, dan karena sembilan ekor bulu pecut itu menyambarnya dari berbagai jurusan dalam kecepatan yang tidak sama, maka suara angin itu terdengar aneh sekali, bagaikan sembilan buah suling ditiup berbareng. Hek-i Hui-mo menangkis dengan tongkat yang disapukan dan sehelai daripada ujung pecut Kiu-bwe Coa-li menyambar dan melibat kaki meja sembahyang yang sudah berdiri miring. Hebat sekali tenaga manita sakti ini, karena meja itu melayang ke atas dan bagaikan disambitkan, meja itu menimpa tempat di mana Sui Ceng berdiri. Melihat hal itu, Tu Fu menjerit. Akan tetapi dia membelalakkan kedua matanya saking kagum dan heran melihat anak perempuan yang manis itu menampar dengan tangan kirinya yang kecil. “Brakk!” meja itu pecah berkeping-keping! Kini tongkat Liong-thouw-tung di tangan kanan Hek-i Hui-mo menyambar pinggang Kiu-bwe Coa-li. Serangan ini dilakukan sekuat tenaga sehingga wanita sakti itu tidak berani menangkis. Tubuhnya melompat ke atas dan mundur. Akan tetapi Hek-i Hui-mo tidak mau memberi hati dan terus melangkah maju lalu menyapu lagi dengan tongkatnya, dibarengi memukul kepala lawan dengan tasbihnya! Kiu-bwe Coa-li cepat mengelak dan tongkat yang kuat itu menyambar tiang kelenteng di bagian depan. “Kraaaakk…….. bruuuk……!” Tiang itu patah dan mengeluarkan suara hiruk-pikuk! “Aduh, tahan…..! Tahan……! Apa-apaan sih semua ini? Apakah Ji-wi (Tuan Berdua) tidak malu? Orang-orang tua bertingkah seperti anak-anak kecil berebut kembang gula. Ada urusan dapat diurus, mohon mendengar kata-kata siauwte,” Tu Fu berseru berkali-kali sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Kalau saja tidak mengingat bahwa Tu Fu adalah orang yang dapat dimintai tolong menterjemahkan kitab yang tidak dapat mereka baca sendiri itu, mana dua orang tokoh lihai ini mau mendengarkan kata seorang sastrawan lemah seperti Tu Fu? Keduanya melompat kebelakang dan saling pandang bagaikan dua ekor harimau sedang marah. “Tu-siucai, kau menahan kami mau apakah?” tanya Kiu-bwe Coa-li dengan suara dingin sehingga Tu Fu merasa bulu tengkuknya berdiri. Bukan main hebatnya wanita ini, pikirnya, sudah bukan merupakan manusia lagi! “Harap Suthai suka bersabar, dan demikian pula Lo-suhu. Sebetulnya, mengapa Ji-wi bertempur mati-matian seakan-akan di dunia ini tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik daripada saling gempur dan saling mencoba untuk membunuh?” Hek-i Hui-mo menarik napas panjang. “Tak lain karena kitab itulah. Kami berebut Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!” Tu Fu masih membawa kitab itu. Kini dia mengangkat kitab itu tinggi-tinggi dan berkata, “Memperebutkan kitab ini? Alangkah lucunya. Dan untuk dapat membaca dan mengerti isinya saja, Ji-wi tidak bisa dan sengaja datang untuk minta siauwte menterjemahkannya?” Kiu-bwe Coa-li mengangguk dan berkata tegas, “Orang she Tu, tak usah direntang panjang lagi. Memang kami membutuhkan isi kitab itu. Akan tetapi karena di sini kami dua orang, terpaksa kami harus melenyapkan salah seorang lebih dulu, barulah nanti kau yang bekerja, menterjemahkan kitab itu. Hayo, Hek-i Hui-mo, kita selesaikan pertempuran kita!” “Baik, Kiu-bwe Coa-li. Awaslah kau!” Dua orang jago tua ini sudah bersiap-siap lagi untuk bertempur mati-matian, akan tetapi Tu Fu segera mencegah mereka. Sastrawan ini, seperti juga Gui Tin dan Li Po atau sastrawan dan seniman-seniman lainnya, tidak suka akan kekerasan dan mencinta kedamaian, maka tentu saja Tu Fu tidak mau melihat dua orang aneh itu saling gempur mati-matian seperti tadi. “Tahan!” katanya keras. “Kalau Ji-wi berkeras hendak saling bunuh, aku Tu Fu takkan mau menterjemahkan kitab ini. Biar Ji-wi memaksa dan membunuhku, aku takkan mau menterjemahkannya.” Mendengar ini, kedua orang tokoh kang-ouw itu tertegun dan saling pandang. Mereka sudah maklum bahwa sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman sama anehnya dengan orang-orang kang-ouw bahkan mereka itu lebih hebat pula. Biarpun mereka itu memiliki jasmani yang lemah, namun mereka berhati keras dan tidak takut mati. Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo percaya dan tahu bahwa kata-kata yang keluar dari mulut sastrawan ini menyatakan tidak mau membantu, biar dia dibunuh atau disiksa sekalipun, tetap dia takkan mau menterjemahkan isi kitab itu. Dan apa artinya kitab itu tanpa ada penterjemahnya? Tiada beda dengan kertas-kertas pembungkus belaka!

“Habis, kalau di sini ada kami berdua, bagaimana Tu-siucai hendak menagturnya?” tanya Hek-i Hui-mo dengan suara minta pertimbangan. Tu Fu mempersilakan mereka duduk di atas lantai di depan kelenteng. Kemudian dia melambaikan tangan kepada Sui Ceng yang tanpa ragu-ragu datang menghampiri. “Anak baik, kau benar-benar hidup dalah alam yang aneh,” kata sastrawan itu sambil mengelus-elus rambut Sui Ceng yang hitam, halus, dan panjang, kemudian sastrawan in berkata kepada dua orang tokoh kang-ouw itu. “Harap Ji-wi dengarkan baik-baik keputusanku yang tak dapat diubah lagi. Siauwte sanggup membantu dan menterjemahkan isi kitab ini, akan tetapi hanya dengan syarat. Pertama, siauwte hanya akan menterjemahkan dengan cara membacanya saja dan Ji-wi harap mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengingatnya baik-baik. Kedua, sehabis membaca semua isi kitab, kitab ini harus dibakar di depan siauwte, agar tidak menjadi perebutan mati-matian lagi. Hanya dengan dua macam syarat ini siauwte mau menolong, kalau tidak, biar Ji-wi akan membunuh siauwte, tak nanti siauwte mau menterjemahkannya. Bagaimana?” Kedua orang tokoh kang-ouw itu saling pandang. Celaka, pikir mereka, bagaimana dapat menghafal isi kitab dengan sekali mendengar saja? Akan tetapi kalau mereka tidak mau menerima, selain sastrawan aneh ini tak mungkin dipaksa, juga mereka masih saling berhadapan dan untuk mendapatkan kitab itu harus bertempur mati-matian dulu. Andaikata menang, bagaimana pula isi kitab dapat diterjemahkan? Apalagi kalau sampai terdengar oleh tiga orang tokoh besar yang lain dan mereka datang pula, tentu akan makin berabe saja! “Aku setuju!” kata Kiu-bwe Coa-li. “Hanya aku minta supaya pembacaan dilakukan dua kali!” Kiu-bwe Coa-li memang cerdik. Ia datang bersama muridnya dan dia percaya akan kecerdikan otak Sui Ceng. Tentu muridnya akan dapat membantu dan mengingat-ingat bunyi isi kitab itu. Hek-i Hui-mo tidak dapat mencari jalan lain. Ia pun tahu bahwa fihak Kiu-bwe Coa-li untung dengan adanya Sui Ceng, maka dia merasa ragu-ragu, lalu berkata, “Tidak adil sekali. Kau dibantu oleh muridmu sedangkan aku hanya seorang diri!” “Kau boleh mencari seorang pembantu pula,” jawab Kiu-bwe Coa-li. Tu Fu mengerti akan maksud pembicaraan dua orang itu, akan tetapi dia pun tidak dapat memecahkan persoalan ini. Kebetulan sekali pada saat itu, terdengar tindakan kaki dan muncullah seorang anak laki-laki berusia kurang lebih delapan tahun. “Tu-sianseng, hakseng (murid) datang membawa makanan,” kata anak itu sambil memandang kepada tamu-tamu gurunya dengan mata terheran. “Eh, Tu-siucai, siapakah anak ini?” tanya Hek-i Hui-mo yang memandang tajam kepada anak laki-laki yang berwajah tampan dan jujur ini. Biarpun anak ini bertubuh kurus dan tinggi, namun dia memiliki bakat yang baik juga untuk belajar silat. “Dia adalah Li Siang Pok, seorang anak dari kota Kai-feng. Ayahnya seorang sastrawan pula dan dia datang di sini untuk belajar kesusastraan dari siauwte.” “Hm, jadi dia boleh dibilang muridmu?” Tu Fu mengangguk membenarkan. “Bagus! Pinceng mengambil dia sebagai pembantuku! Dengan adanya dia yang membantu pinceng, mengingat-ingat isi kitab Im-yang Bu-tk Cin-keng, maka keadaan pinceng dan Kiu-bwe Coa-li menjadi berimbang. Ini baru adil namanya!” Tu Fu ragu-ragu, lalu bertanya kepada Siang Pok, “Siang Pok, Lo-suhu ini minta bantuanmu untuk mengingat-ingat bunyi isi kitab kuno yang akan kubacakan. Maukah kau?” Siang Pok adalah seorang anak yang suka sekali akan kesusastraan, tentu saja mendengar akan dibacanya kitab kuno, tanpa berpikir panjang lagi dan tanpa bertanya lebih jelas, dia menganggukkan kepalanya. “Hakseng bersedia, Sianseng!” Demikianlah, mereka semua duduk bersila di atas kelenteng sebelah luar. Keadaan di situ sunyi dan ketika Tu Fu mulai membaca isi kitab, suaranya terdengar lantang dan jelas. Empat orang yang duduk mengelilinginya, yakni Hek-i Hui-mo, Kiu-bwe Coa-li, Sui Ceng, dan Siang Pok, mendengarkan dengan penuh perhatian. Kitab itu tidak terlalu tebal dan isinya pun tidak begitu banyak, karena seperti juga kitab-kitab kuno lainnya, ditulis hanyalah garis besarnya saja. Sebagaimana diketahui, kitab itu isinya dibagi menjadi dua soal, yakni tentang ilmu silat dan tentang ilmu perang. Kepandaian Tu Fu ini dalam hal bahasa kuno, tidak kalah oleh mendiang Gui Tin, maka dia dapat membacanya dengan amat lancar. Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng, tidak mendengarkan atau lebih tepat, tidak memperhatikan sama sekali akan bunyi ilmu perang yang dibaca oleh Tu Fu. Guru dan murid ini mencurahkan seluruh perhatiannya kepada bunyi ilmu silat saja. Sebaliknya, karena tidak diberi tahu lebih dulu, anak laki-laki yang bernama Lai Siang Pok itu mendengarkan seluruh isi kitab, yaitu bagian ilmu silat dan bagian ilmu perangnya. Demikian pula, Hek-i Hui-mo, karena dia mempunyai cita-cita pemberontakkan, dia juga memperhatikan kedua bagian ini. Hampir satu hari lamanya Tu Fu membaca habis kitab itu untuk kedua kalinya dan semua fihak merasa puas. Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo karena mengerahkan seluruh ingatan untuk mengingat-ingat kembali apa yang mereka telah dengarkan tadi, kini melihat saja dan tidak mempedulikan lagi ketika Tu Fu menggunakan api membakar kitab itu di depan mereka! Setelah melihat kitab itu habis terbakar Hek-i Hui-mo tertawa bergelak dan dengan cepat sekali dia melompat lalu mengempit Lai Siang Pok, terus di bawa lari! “He, Lo-suhu! Lepaskan muridku!” Tu Fu berteriak-teriak, akan tetapi hanya suara ketawa dari jauh sana menjawabnya. Adapun Kiu-bwe Coa-li yang tidak mau terganggu pikirannya yang sedang menghafal itu lalu menggandeng tangan Sui Ceng dan pergi pula dari situ. Tu Fu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata seorang diri. “Benar-benar aneh sekali orang-orang itu. Apa sih gunanya segala macam ilmu kekerasan yang kasar itu?? Aneh…..aneh……!” Sastrawan ini pun beberapa hari kemudian tidak kelihatan lagi di tempat itu, telah melanjutkan perantauannya.

Ketika berada di tempat sunyi, Kiu-bwe Coa-li segera bertanya kepada muridnya. “Sui Ceng, coba kauulangi kata-kata di dalam kitab yang dibaca oleh Tu-siucai tadi.” Sui Ceng lalu mengulangi kata-kata yang masih diingatnya. Kiu-bwe Coa-li tidak mempedulikan tentang peraturan latihan lweekang dan ginkang, yang paling diperhatikan hanya gerakan-gerakan ilmu silat yang terdapat di dalam kitab itu. Semua terdapat tiga puluh enam pokok gerakan yang perkembangannya dapat timbul sendiri tergantung dari bakat dan kecerdikan masing-masing pelajar. Karena gerakan-gerakan itu hanya ditulis dan tidak digambar, maka dapat dibayangkan betapa sukarnya. Setelah ia mendengar apa yang yang masih diingatnya oleh Sui Ceng dan dikumpulkan dengan ingatannya sendiri, Kiu-bwe Coa-li ternyata hanya dapat mengumpulkan empat belas gerakan saja! Akan tetapi, empat belas jurus pokok gerakan silat Im-yang Bu-tek Cin-keng ini baginya sudah cukup berharga. Memang dia seorang yang ahli dalam ilmu silat dan ternyata olehnya betapa hebat, lihai, dan aneh isi gerakan-gerakan ini. Cepat-cepat ia lalu mempelajari gerakan-gerakan ini dan disesuaikan dengan kepandaiannya sendiri. Selama tiga bulan Kiu-bwe Coa-li seakan-akan lupa makan dan lupa tidur, tiap hari hanya berlatih ilmu silat baru yang sesungguhnya dia ciptakan sendiri berdasarkan apa yang ia dengar dari kitab itu. Dan tercipatalah ilmu silat baru yang benar-benar luar biasa sekali. Kiu-bwe Coa-li menjadi girang dan berbareng ia pun lalu melatih muridnya dengan sungguh-sungguh. “Sui Ceng, ilmu silat yang kita dapatkan ini entah Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli atau bukan, namun kau harus tahu bahwa ini memang benar-benar ilmu silat yang aneh dan hebat sekali. Setelah kuperbaiki apa yang kita berdua ingat, kurasa ilmu silat yang kuciptakan berdasarkan dari Im-yang Bu-tek Cin-keng ini, takkan mudah dikalahkan oleh lain orang. Mari kita mencari seorang di antara mereka, hendak kucoba sampai di mana kegunaan ilmu silat baru ini!” Maka berangkatlah Kiu-bwe Coa-li bersama muridnya, untuk mencari seorang di antara empat besar, yakni Hek-i Hui-mo, Jeng-kin Jiu Kak Thong Taisu, Ang-bin Sin-kai atau juga Pak-lo-sian Siangkoan Hai untuk mengadu ilmu silatnya yang baru! Perjalanan dilakukan lambat sekali karena sepanjang hari Kiu-bwe Coa-li melatih diri dengan ilmu silat baru ini, dan juga berbareng memberi latihan-latihan ilmu silat tinggi kepada muridnya. Pada suatu hari, mereka tiba di kota Cin-leng yang cukup besar dan ramai. Berbeda dengan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya, Kiu-bwe Coa-li paling teliti dalam memilih makan dan tempat menginap. Ia selalu memilih rumah penginapan yang terbersih dan memilih makanan dari restoran yang besar. Oleh karena itu, pakaian yang dipakai oleh Sui Ceng pun selalu bersih dan baik dan anak perempuan ini dibelikan pakaian beberapa stel yang dibungkus dengan kain kuning dan selalu buntalan itu digendong di atas punggungnya. Di kota Cin-leng, begitu memasuki sebuah rumah penginapan yang besar, Kiu-bwe Coa-li terus saja berdiam di dalam kamarnya, duduk di atas pembaringan dan bersamadhi. Sebaliknya, Sui Ceng yang ketika memasuki kota tadi melihat bangunan-bangunan indah dan keadaan kota yang ramai, lalu keluar dari hotel itu dan pergi berjalan-jalan. Ketika tiba di depan sebuah restoran, perhatian Sui Ceng tertarik kepada tujuh orang yang sedang makan di ruang depan restoran itu. Mereka ini nampaknya seperti orang-orang gagah dan dari pakaian mereka, tahulah Sui Ceng bahwa mereka adalah serombongan piauwsu (pengawal kiriman barang berharga). Dari wajah mereka yang muram dan percakapan mereka yang hangat, Sui Ceng dapat menduga tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Oleh gurunya, Sui Ceng selalu dibekali uang, karena Kiu-bwe Coa-li berwatak terlalu angkuh untuk membiarkan muridnya mencuri atau mengemis makanan. Maka Sui Ceng lalu bertindak memasuki restoran itu dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari para piauwsu yang sedang bercakap-cakap itu. Tentu saja ada beberapa orang yang memandang kepadanya dengan heran, karena jarang terjadi seorang anak perempuan berusia kurang lebih tujuh tahun memasuki restoran seorang diri, akan tetapi selanjutnya tidak ada yang menaruh perhatian, karena ia disangka puteri seorang kaya raya yang suka jajan!

Sui Ceng tertarik sekali ketika mendengar seorang diantara para piauwsu itu berkata, “Jalan satu-satunya bagi kita untuk menolong mereka, tak lain kita harus minta bantuan dari Bin Kong Siansu ketua Kim-pan-sai. Selain orang tua itu, agaknya siluman itu takkan dapat di lawan.” Pada saat itu, terdengar suara banyak orang mendatangi di luar restoran. Ketika Sui Ceng melirik, yang datang itu adalah belasan orang laki-laki yang kelihatan gagah dan yang pada saat itu nampak marah sekali. “He, pengecut-pengecut dari Hui-to-piauwkiok (Perusahaan Expedisi Golok Terbang)! Keluarlah untuk terima binasa!” teriak seorang di antara para pendatang itu. “Hm, menyebalkan sekali orang-orang Sin-to-pang itu!” kata seorang piauwsu sambil mencabut goloknya, lalu berjalan keluar diikuti oleh kawan-kawannya. Sementara itu, ketika mendengar bahwa orang-orang yang datang adalah anggauta-anggauta Sin-to-pang (Perkumpilan Golok Sakti), Sui Ceng terkejut sekali dan cepat berdiri lalu melihat dengan penuh perhatian. “Kalian ini orang-orang Sin-to-pang mau apakah? Ketua kami dan isterinya mengalami bencana, kalian ini sebagai orang-orang yang menganggap diri gagah, bukannya membantu bahkan mencari masalah!” kata piauwsu tadi sambil bersiap dengan golok di tanganya. Seorang di antara anggauta-anggauta Sin-to-pang, yang semuanya juga memegang golok, menudingkan goloknya sambil memaki, “Orang-orang rendah! Kalau tidak ketua kalian si pemikat she Ong itu membujuk Thio-toanio, tidak nanti sampai terjadi Thio-toanio tertangkap oleh Toat-beng Hui-houw (Macan Terbang Pencabut Nyawa)! Sekarang kalian harus menebus kesalahan ketuamu itu, baru kami akan menolong Thio-toanio.” “Manusia-manusia sombong dan bodoh!” para piauwsu itu berseru dan terjadilah perang tanding antara belasan anggauta Sin-to-pang dan tujuh orang paiuwsu itu. Semua menggunakan golok dan pertempuran terjadi ramai sekali. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu menjadi ketakutan dan cepat-cepat melarikan diri. Akan tetapi, pada saat itu, sesosok bayangan yang kecil melompat ke tengah medan pertandingan dan terdengar seruan nyaring, “Tahan semua senjata!” Bayangan ini adalah Sui Ceng yang bergerak dengan tubuh ringan dan cepat, juga suaranya dikeluarkan dengan tenaga khikang sehingga terdengar nyaring dan berpengaruh. Beberapa orang segera menahan senjata mereka dan mundur, akan tetapi ada tiga orang anggauta Sin-to-pang dan dua orang piauwsu yanga berangasan dan masih saja bertanding dengan hebatnya. “Tahan kataku!” teriak Sui Ceng dan sekali saja dia menggerakkan tangannya dan tubuhnya menyambar, terdengar suara berkerontangan dan empat batang golok telah terlepas dari pegangan dan terlempar ke atas tanah mengenai batu-batu. Orang-orang itu terkejut sekali karena ternyata bahwa yang membuat tangan mereka untuk sesaat lumpuh tadi adalah seorang anak perempuan! Sui Ceng telah mempergunakan gerakan jari-jari tangan untuk menotok urat-urat nadi mereka, dan mengandalkan ginkangnya yang sudah tinggi, dia dapat melakukan serangan-serangan ini dengan amat mudah! “Siauw-pangcu (ketua cilik)!!” para anggauta-anggauta Sin-to-pang berseru ketika mereka melihat Sui Ceng. Serta-merta orang-orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Sui Ceng! Para piauwsu yang melihat hal ini menjadi tertegun dan kini dua orang di antara mereka mengenal pula Sui Ceng yang dulu pernah ikut ibunya, ketika ibunya menikah dengan Ong Kiat pemimpin mereka. “Ah, tidak tahunya Siocia yang datang!” kata mereka sambil memberi hormat. Menghadapi semua penghormatan ini, Sui Ceng sama sekali tidak merasa kikuk atau sungkan. Ia berdiri tegak, lalu berkata, “Mengapa di antara orang-orang sendiri sampai menimbulkan keributan yang tidak perlu? Ada urusan dapat diurus, ada persoalan dapat diselesaikan. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi?” Oleh karena kini orang-orang datang lagi berduyun-duyun untuk mendengarkan pembicaraan mereka, para piauwsu itu mempersilakan Sui Ceng dan anggauta-anggauta Sin-to-pang untuk memasuki restoran. Mereka mengambil tempat di ruang atas dan di situ Sui Ceng duduk dikelilingi oleh orang-orang Sin-to-pang dan para piauwsu dari Hui-to-piauwkiok. Maka berceritalah mereka tentang bencana yang menimpa Ong Kiat dan isterinya, yakni Thio Loan Eng. Bencana itu baru terjadi dua hari yang lalu. Ketika itu, Ong Kiat yang menjadi ketua dari Hui-to-piauwkiok mengawal sendiri barang kiriman dari Hak-keng ke kota raja. Terpaksa dia turun tangan sendiri karena barang yang dikirim itu adalah barang berharga, sumbangan para hartawan di Hak-keng untuk pembesar-pembesar di kota raja. Memang pada masa itu, di Tiongkok lajim terjadi pengiriman barang-barang “upeti” yang amat mahal dari para hartawan kepada pembesar-pembesar tertentu sampai ke kaisar, akan tetapi tak seorang pun berani menyatakan bahwa kiriman itu merupakan “sogokan”.

Perjalanan dari Hak-keng ke kota raja melalui kota Cin-leng, dan sampai ke kota ini rombongan yang terdiri dari, dua gerobak kuda terisi barang kiriman dan dikawal oleh Ong Kiat dan tujuh orang anak buahnya, tidak mengalami gangguan sesuatu. Para petualang di dunia liok-lim tidak ada yang berani menggangu rombongan ini ketika mereka melihat dua macam bendera yang tertancap di atas gerobak. Yang pertama bendera berlukiskan sebuah golok terbang sebagai lambang dari Hui-to-piauwkiok (Perusahaan Expedisi Golok Terbang), dan bendera kedua adalah bendera kuning bertuliskan merah ONG, tanda bahwa Ong Kiat sendiri mengawal barang-barang berharga itu. Rombongan itu bermalam di Cin-leng, dan pada keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke kota raja. Akan tetapi perjalanan kali ini amat sukar, karena dari Cin-leng ke kota raja melalui hutan-hutan belukar yang amat liar dan di situ tidak terdapat jalan besar yang dapat dilalui gerobak dengan mudah. Terpaksa memperlebar jalan kecil di dalam hutan dengan menbabat rumput dan pepohonan. Baru saja memasuki hutan kedua, kira-kira tiga puluh li dari kota Cin-leng di sebelah utara, senja telah tiba. Selagi Ong Kiat dan tujuh orang anak buahnya membabat alang-alang, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang keras dan menyeramkan sekali dan dari atas sebatang pohon besar menyambar turun bayangan orang yang tidak dapat melihat dengan jelas saking cepatnya gerakan orang ini. Orang itu hanya melompat ke atas gerobak di depan dan menghilang lagi, meninggalkan gema ketawa yang menyeramkan. “Ibliskah dia……?” tanya seorang anak buah, kawan Ong Kiat. “Set, jangan sembarangan bicara,” mencela Ong Kiat. “Tidak tahukah kalian bahwa orang itu tidak sengaja mempermainkan kita? Lihat!” Ong Kiat menunjuk ke atas gerobak pertama dan ketika tujuh orang anak buahnya menengok, mereka menjadi pucat sekali. Ternyata bahwa dua buah bendera yang tadinya tertancap di atas gerobak dan berkibar-kibar tertiup angin, sekarang sudah lenyap tak meninggalkan bekas! Alangkah hebatnya kepandaian bayangan tadi, sekali melompat saja sudah dapat merampas dua bendera tanpa dapat mereka lihat sedikit pun juga. Ong Kiat sendiri tidak dapat melihat gerakan orang tadi dengan jelas, akan tetapi karena ilmu silatnya lebih tinggi daripada kawan-kawannya, dia masih dapat mengikuti ke mana bayangan tadi melayang sehingga dia dapat melihat lenyapnya dua benderanya. Ong Kiat lalu menghadap ke arah bayangan tadi menghilang, kemudian menjura dan mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan sambil berkata, “Siauwte Ong Kiat mengharap supaya sahabat yang di depan jangan mempermainkan kami dan sukalah memberi maaf apabila kami tidak menyambut kedatanganmu karena tidak tahu. Kalau sahabat berlaku murah, kami Hui-to-piauwkiok bukanlah orang-orang yang tak kenal budi dan tentu akan memenuhi permintaan yang pantas dari padamu.” Setelah Ong Kiat mengakhiri kata-katanya, keadaan sunyi sekali. Semua orang menahan napas dan yang terdengar hanya berkereseknya daun-daun pohon dipermainkan oleh angin lalu. Tiba-tiba terdengar lagi suara ketawa yang menyeramkan seperti tadi dan dari jurusan depan, menyambar dua benda merupakan sinar kuning dan putih yang meluncur mengarah dada dan leher Ong Kiat! Piauwsu ini bukan seorang lemah. Ia tahu bahwa dia diserang dengan senjata rahasia yang aneh, maka cepat dia miringkan tubuhnya ke kiri dan ketika dua tangannya bergerak dari samping, dia telah menangkap dua benda kuning dan putih itu. Alangkah mendongkolnya ketika dia melihat bahwa benda-benda itu bukan lain adalah dua buah benderanya yang tadi dicabut orang! Akan tetapi, diam-diam dia terkejut sekali karena ketika dia menyambut bendera-bendera tadi, kedua tangannya tergetar. Bukan main hebatnya tenaga yang menyambitkan dua bendera bergagang kayu itu. “Ong Kiat, manusia lancang!” terdengar suara yang parau dan kasar. “Kau telah berani sekali mengambil Pek-cilan sebagai isterimu, padahal dia sudah dipastikan akan mampus di dalam tanganku. Akan tetapi aku masih mau mengampuni jiwamu dan hanya akan menghukummu dengan merampas dua gerobak barang ini. Kau dan anak buahmu lekas pergi dari sini dan tinggalkan dua gerobak barang ini di sini!” Wajah Ong Kiat sebentar berubah pucat sebentar merah saking marah dan dongkolnya mendengar kata-kata yang amat menghina ini. Ia adalah seorang gagah, biarpun pekerjaannya sebagai piauwsu mengharuskannya untuk bersikap baik terhadap para perampok agar jangan banyak dimusuhi orang, akan tetapi kalau orang terlalu menghina, dia pasti akan melawan! “Sahabat yang manakah begitu sombong? Harap keluar memperkenalkan diri. Aku Ong Kiat bukanlah orang yang menjadi ketakutan karena gertak kosong belaka!” Sambil berkata demikian, dia mencabut goloknya yang tajam mengkilap. Tujuh orang kawannya juga sudah mencabut golok masing-masing. Ong Kiat terkenal sebagai seorang ahli golok yang lihai, murid Thian-san-pai yang tak boleh dibuat permainan. Juga tujuh orang kawannya telah mempelajari ilmu golok dan rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tangguh. Kembali terdengar suara ketawa, kali ini disertai ejekan. “Kalian sudah bosan hidup, jangan bilang aku berlaku kejam!” Sehabis ucapan ini, dari belakang rumpun menyambar keluar tubuh seorang kakek yang benar-benar menyeramkan. Bajunya yang berlengan lebar berwarna biru muda, celananya biru tua dan kakinya telanjang. Hidungnya bengkok dan besar, mulutnya tertutup cambang dan jenggot putih. Kepalanya botak kelimis, hanya di kanan kiri terdapat rambut hitam yang kaku dan berdiri. Yang hebat adalah jari-jari tangannya, karena sepuluh jari tangannya itu berkuku panjang dan dan runcing seperti kuku harimau! Ketika dia melompat keluar, kedua kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seperti kaki harimau saja. “Kau tidak mengenal aku? Ha, ha, ha!” Kakek yang menyeramkan ini mengeluarkan suara ketawa seperti auman harimau.

Ong Kiat memandang takjub. Melihat keadaan kakek ini, dia teringat akan seorang tokoh hek-to (jalan hitam, dunia orang jahat) yang di juluki orang Toat-beng Hui-houw (Harimau Terbang Pencabut Nyawa). Akan tetapi, Toat-beng Hui-houw kabarnya sudah lenyap dari dunia dan sudah puluhan tahun tak pernah memperlihatkan diri. Ong Kiat cepat-cepat memberi hormat. “Siauwte bermata buta, tidak mengenal siapa adanya Locianpwe yang terhormat.” Toat-beng Hui-houw semenjak mudanya berwatak keras dan sombong sekali, maka mendengar orang tidak mengenal namanya, dia menjadi makin marah. “Buka telingamu dan matamu lebar-lebar, Ong-piauwsu! Aku adalah Toat-beng Hui-houw, dan kau tentu sudah tahu bahwa siapapun juga yang tidak mentaati perintah Toat-beng Hui-houw, berarti harus mati!” Setelah berkata demikian, secepat kilat tangannya yang berkuku panjang itu menyambar ke arah kepala Ong Kiat! Piauwsu muda ini terkejut sekali, tidak hanya karena nama itu, akan tetapi juga karena serangan yang datangnya tiba-tiba dan hebat bukan main ini. Cepat dia menggerakkan goloknya menangkis sekuat tenaga, bermaksud membabat putus kuku-kuku panjang dari lawannya itu. “Traaang….!” Ong Kiat berseru kaget dan cepat melompat ke belakang karena merasa betapa goloknya beradu dengan benda yang luar biasa keras dan kuatnya sehingga kalau dia tidak buru-buru menarik kembali goloknya dan melompat mundur, tentu golok itu akan terlepas dari pegangannya! Baiknya golok pusaka yang ampuh dan kuat, kalau tidak demikian, agaknya golok itu sudah menjadi rusak ketika bertemu dengan kuku-kuku yang demikian kerasnya! “Ha, ha, ha! Kau harus mampus! Kau juga!” kata-kata ini diulangi terus dan tubuhnya bergerak maju sambil menyerang dengan sepasang tangannya yang berkuku runcing dan panjang. Terdengar suara “traaang! traaang!!” beberapa kali dan golok di tangan ketujuh orang kawan Ong Kiat itu terbang terlepas dari tangan, ada yang retak dan ada pula yang terpotong menjadi dua! Lalu disusul jeritan-jeritan ngeri ketika kuku-kuku yang panjang itu mengenai tubuh mereka. Ada yang lehernya hampir putus, kulit perutnya robek dan sebentar saja tujuh orang piauwsu itu tergeletak tumpang tindih dalam keadaan yang amat mengerikan! Keadaan mereka ini tiada bedanya dengan orang-orang yang telah diserang oleh seekor harimau yang ganas. Akan tetapi, Toat-beng Hui-houw sengaja hanya melukai pundak seorang diantara tujuh kawan Ong Kiat itu yang kini duduk merintih-rintih dan memegangi pundak kanannya yang berlumur darah. Ong Kiat menjadi marah sekali. Dengan nekat dia lalu menyerang dengan goloknya. Serangannya tidak boleh dibuat permainan, karena dia mempergunakan ilmu golok Thian-san-pai yang lihai. Toat-beng Hui-houw maklum akan hal ini maka dia pun tidak berani sembarangan menangkis, melainkan mempergunakan ginkangnya yang istimewa untuk mengelak kesana kemari. Orang sudah tahu akan kegesitan seekor harimau, akan tetapi Toat-beng Hui-houw (Harimau Terbang) karena gerakannya itu seolah-olah seekor harimau yang bersayap! Tidak saja dia pandai dan cepat sekali mengelak ke sana ke mari, bahkan kadang-kadang dia melompat tinggi seperti terbang saja. Selain mengelak atau menangkis serangan Ong Kiat yang mengamuk seperti gila karena sudah nekat sekali, juga Toat-beng Hui-houw membalas dengan serangan-serangan kukunya yang berbahaya. Betapapun pandainya Ong Kiat mainkan goloknya, namun menghadapi kakek yang luar biasa sekali ini dia hanya dapat betahan sampai tiga puluh jurus saja. Agaknya kalau Toat-beng Hui-houw menghndaki kematiannya, dalam sepuluh jurus juga Ong Kiat akan roboh binasa. Namun kakek ini hendak menawannya hidup-hidup, maka dia hanya berusaha merampas golok. Akhirnya, ketika golok itu diputar dan menyerang lehernya, kakek itu berseru keras sekali dan kedua tangannya bergerak. Tangan kanan mendahului golok mencengkeram ke arah lambung lawan dan tangan kiri menyusul untuk merampas golok! Ong Kiat tak berdaya. Kalau dia membiarkan lambungnya dicengkeram, tentu dia akan binasa dan goloknya yang datangnya kalah cepat belum tentu akan mengenai lawan. Terpaksa dia melompat ke belakang dan menarik pulang goloknya, namun terlambat. Golok itu telah kena dicengkeram dan sekali renggut saja sudah pindah tangan! Toat-beng Hui-houw mendesak terus dan akhirnya jalan darah di pundak Ong Kiat telah kena dicengkeram oleh jari-jari itu. Kulit pundaknya pecah dan Ong Kiat roboh dalam keadaan lumpuh tak berdaya lagi! “Ha, ha, ha, ha, ha! Baru kalian tahu betapa lihainya Toat-beng Hui-houw!” Ia lalu menggunakan kakinya yang telanjang itu untuk menendang bangun anggauta piauwsu yang terluka pundaknya tadi. “Hei, kau!” Aku sengaja tidak membikin mampus padamu agar kau dapat memanggil Pek-cilan, datang kesini! Katakan bahwa selambat-lambatnya besok pagi ia harus datang di sini, kalau tidak, suaminya akan kucekik mampus dan dia pun akan kucari ke rumahnya. Pakai kuda itu!” Piauwsu itu tak berdaya. Terpaksa dia menangkap kembali kudanya dan mengaburkan kuda itu kembali ke Hak-keng. Ia melakukan perjalanan cepat sekali tanpa berhenti, sedangkan luka dipundaknya tidak dirawat, maka ketika dia tiba di depan Thio Loan Eng, dia roboh pingsan! Dapat diduga betapa hebat kemarahan dan kekagetan hati Loan Eng mendengar tentang keadaan suaminya. Tanpa banyak cakap lagi, ia lalu cepat melarikan kuda menuju ke tempat itu, diikuti oleh semua anggauta piauwkok, yakni piauwsu-piauwsu yang kebetulan berada di kota yang jumlahnya ada sepuluh orang. Begitu tiba di tempat yang dituju, Loan Eng mencabut pedangnya dan berseru dengan suara keras,

“Toat-beng Hui-houw siluman buas, kau keluarlah untuk terima binasa!”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari Toat-beng Hui-houw, lalu tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia telah berdiri di hadapan Loan Eng. Pendekar wanita ini pun belum pernah bertemu dengan kakek ini, maka seperti juga Ong Kiat, ia terkejut sekali menyaksikan keseraman kakek ini. Akan tetapi ia tidak pernah mengenal takut dan sambil menudingkan pedangnya ke muka orang, ia berkata,

“Toat-beng Hui-houw, antara kita tidak pernah terjadi permusuhan, mengapa kau berlaku begitu kejam, membunuh kawan-kawan kami dan bahkan menawan suamiku?” Kakek yang menyeramkan itu tertawa bergelak dengan suara mengejek lalu berkata, “Pek-cilan, kau terlalu mengandalkan kegagahan sendiri dan sama sekali tidak melihat orang! Kau telah membunuh suteku Tauw-cai-houw, maka sekarang aku datang untuk menagih hutang!” Terkejut hati Loan Eng mendengar ini, ah, tidak tahunya kakek mengerikan ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari Tauw-cai-houw, manusia gila yang dulu menculik dan hendak memanggang Kwan Cu hidup-hidup dan yang telah terbunuh olehnya dalam pertempuran. Tauw-cai-houw saja sudah amat lihai, apalagi suhengnya ini! Namun Loan Eng tidak menjadi jerih. Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Toat-beng Hui-houw, kau mau menang sendiri saja. Sutemu (adik seperguruanmu) Tauw-cai-houw itu adalah orang gila. Aku melihat dia menangkap seorang anak kecil yang hendak dipanggang dan dimakan dagingnya. Apakah aku harus berpeluk tangan saja dan tidak mencegahnya? Kau pun tentu maklum bahwa kejahatan seperti itu tak dapat diampunkan lagi. Sutemu bertempur dengan aku dan dia binasa, mengapa hal ini kau jadikan alasan untuk membunuh orang-orangku dan menawan suamiku?” “Bodoh! Suteku sedang meyakinkan Ilmu Hoat-lek Kim-ciong-ko (Ilmu Kebal Berdasakan Ilmu Gaib) dan untuk itu dia membutuhkan daging dan darah seorang anak sin-tong (anak ajaib)! Kau datang mengganggu dan bahkan membunuhnya. Sekarang aku yang akan mengambil darahmu untuk dijadikan obat panjang usia, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, Toat-beng Hui-houw menubruk dengan kuku-kuku tangannya yang panjang dan runcing. Loan Eng maklum bahwa dia menghadapi seorang kakek yang selain lihai sekali, juga agaknya pun miring otaknya, maka ia lalu berlaku hati-hati sekali.

Pedangnya diputar cepat sehingga berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Kalau dibandingkan dengan ilmu golok Ong Kiat, ilmu pedang Loan Eng ini ternyata lebih ganas dan berbahaya, akan tetapi kini Toat-beng Hui-houw bergerak cepat sekali dan kakek ini mengerahkan seluruh kepandaiannya. Pandangan mata Loan Eng menjadi kabur dan gelap saking cepatnya gerakan kakek itu, apalagi kini dari kedua tangan kakek itu menyambar hawa dingin yang berbau amis sekali. Diam-diam Loan Eng bergidik. Ia pernah mendengar akan kehebatan kakek ini, dan mendengar pula bahwa kuku-kuku yang panjang itu sewaktu-waktu apabila mengahadapi lawan tangguh, direndam dalam air obat terisi bisa yang amat jahat. Ia tahu bahwa sekali saja ia terkena kuku yang runcing seperti pisau itu, tentu ia akan terkena bisa dan celaka. Namun Loan Eng memang terkenal seorang keras hati yang tidak mau menyerah dan pantang mundur. Ia menyerang terus, mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, menggerakkan pedangnya dalam tipu-tipu yang paling diandalkan.

Pertandingan terjadi luar biasa hebatnya, jauh lebih hebat daripada ketika Toat-beng Hui-houw menghadapi Ong Kiat. Sepuluh orang piauwsu yang ikut datang bersama Loan Eng, menjadi bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Ingin membantu, namun maklum akan kekurangan sendiri dan baru melihat pertandingan itu saja mereka telah menjadi pening dan tidak dapat membedakan mana kawan dan lawan karena gerakan kedua orang yang bertempur luar biasa cepatnya. Baru kali ini Loan Eng merasa mendapat lawan yang amat tangguh. Toat-beng Hui-houw benar-benar jauh lebih tangguh daripada Tauw-cai-houw dan setelah melawan sampai empat puluh jurus lebih, akhirnya ia pun harus menyerah kalah. Sepuluh buah kuku yang runcing itu berhasil mencengkeram pedangnya dan tanpa dapat ditahan lagi, pedangnya terlepas dari tangannya. Kemudian Toat-beng Hui-houw menubruk maju, disambut oleh tendangan kaki Loan Eng yang menggunakan ilmu tendang Soan-hong-twi. Namun, alangkah kagetnya ketika kaki kirinya dapat tertangkap pula! Sebelum ia sempat memukul, pundaknya dapat dicengkeram dan matanya menjadi gelap. Loan Eng roboh pingsan!

Melihat hal ini, sepuluh orang piauwsu yang berada di situ menjadi kaget dan marah sekali. Dengan golok di tangan, mereka menyerbu Toat-beng Hui-houw. Kakek yang mengerikan ini hanya tertawa bergelak dan begitu tubuhnya bergerak didahului oleh kedua tangannya yang berkuku panjang, tiga orang piauwsu roboh tak bernyawa pula! Melihat kehebatan ini, tujuh orang piauwsu yang lain lalu melompat ke atas kuda mereka dan melarikan diri dari situ! Kemudian mereka mengadakan perundingan dalam restoran untuk mencari jalan guna menolong Ong Kiat dan Loan Eng dan kemudian datang rombongan anggauta Sin-to-pang sehingga terjadi pertempuran sebagaimana yang telah dituturkan di bagian depan.

Adapun orang-orang Sin-to-pang lalu menuturkan bahwa mereka mendengar pula tentang bencana yang menimpa Loan Eng. Mereka menjadi marah sekali. Semenjak mendengar bahwa Loan Eng menikah dengan Ong Kiat, para anggauta Sin-to-pang ini sudah merasa sakit hati dan tidak senang kepada Hui-to-piauwkiok. Kini mendengar bahwa Loan Eng mendapat bencana, mereka menganggap bahwa itu adalah kesalahan Ong Kiat, mereka sama sekali tidak tahu bahwa justeru Toat-beng Hui-houw turun gunung mengganggu Ong Kiat karena Ong Kiat memperisteri Loan Eng dan karena Loan Eng telah membinasakan Tauw-cai-houw, sute dari Toat-beng Hui-houw!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: