Pendekar Bodoh ~ Jilid 1

Pendekar Bodoh

(lanjutan Ang I Niocu)

by Kho Ping Hoo


Di sebelah barat kota Tiang-an, di luar tembok kota dekat hutan pohon cemara, terdapat sebuah kuil tua yang temboknya sudah banyak yang rusak dan warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan bermaksud sebagai puja-puji kepada dewata berbunyi“Lam Bu  Mi To Hud” masih dapat terbaca, demikian pula merk bio (kuil) itu yang dipasang di depan pintu luar dan berbunyi“Ban Hok Tong” atau“Kuil Selaksa Rejeki.”

Pada siang hari yang sunyi itu terdengarlah suara orang mengajar ilmu membaca dari dalam bio dan kadang-kadang terdengar suara pendeta membaca liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh lagi, maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening.

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya…!” terdengar penuh kegemasan dan tidak sabar.

“Tahu, tahu…” suara anak kecil itu cepat menjawab, “Artinya adalah, di empat penjuru samudera, semua adalah saudara!”

“Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?”

“Siapa, Sian-seng (Pak Guru)?? Tentu bukan kita, karena kau dan aku bukanlah saudara,” terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja.

“Bodoh! Yang dimaksud dengan saudara bukanlah pertalian persaudaraan yang berdasar kekeluargaan, tapi adalah rasa persaudaraan berdasarkan perikemanusiaan, tahu?”

Suara anak itu menandakan bahwa ia masih sangat kecil, mana bisa ia menikmati “makanan rohani” yang berat ini. Maka terdengar jawabannya takut-takut, “Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng.”

“Memang kau tolol, bodoh, dungu seperti kerbau! Mengajar kau tidak bisa dengan mulut saja, harus dengan tangan. Nah, kaurasakan ini supaya mengerti!” Lalu terdengarlah suara tamparan, tapi sedikit pun tidak terdengar pekik kesakitan walaupun kalau orang menjenguk ke dalam akan melihat betapa seorang anak laki-laki berusia paling banyak enam tahun telah ditampar sampai merah pipinya. Anak itu menggigit bibirnya.

“Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu.” “Ujar-ujar yang mana, Sian-seng? Kemarin kita mempelajari banyak sekali ujar-ujar,” jawab murid itu.

“Ujar-ujar yang ke tiga.”

Sunyi sebentar, lalu terdengar suara anak itu lantang, “Janganlah kau perbuat kepada lain orang sesuatu yang kau sendiri tak suka orang lain perbuat kepadamu!”

“Bodoh, itu adalah ujar-ujar yang kita pelajari kemarin dulu, bukan kemarin. Kau selalu sebut ujar-ujar ini saja! Agaknya hanya ujar-ujar yang dapat memasuki batok kepalamu yang keras itu.”

“Memang hak-seng paling suka kepada ujar-ujar ini, Sian-seng,” jawab anak itu yang tiba-tiba menjadi berani.

“Mengapa begitu?”

“Harap Sian-seng terangkan dulu apakah semua ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu itu baik dan betul?”

“Tentu saja, tolol! Kalau tidak baik dan betul tak nanti dipelajari orang sedunia.”

“Kalau begitu, apakah Sian-seng suka kalau kutampar mukamu?”

“Apa katamu? Kau… kau bangsat….”

“Sian-seng tadi menampar pipiku, tapi tidak suka kalau kutampar, bukankah itu menyalahi ujar-ujar yang kita pelajari?”

Untuk beberapa saat tak terdengar suara apa-apa seakan-akan guru itu tercengang, tapi kemudian terdengar ia memaki kalang kabut. Dan pada saat itu di luar kuil terjadilah hal-hal yang lebih hebat lagi.

Seorang hwesio (pendeta) gundul yang bertubuh tinggi besar dengan sepasang mata bundar menakutkan dan lengan tangan yang besar berbulu, entah dari mana datangnya, berhenti di luar kuil dan ia menurunkan sebuah keranjang rotan besar sekali yang tadi dipanggulnya. Ia lalu duduk di atas keranjang itu sambil melihat ke arah pintu kuil dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dari dalam pintu kuil itu keluarlah tiga orang-orang tua yang juga pendeta-pendeta penganut Agama To (Tosu) yang memelihara rambut dan rambut itu digelung ke atas dan diikat ditengah-tengah. Tiga orang tosu itu juga aneh karena yang seorang tinggi kurus bertongkat kayu cendana, yang ke dua pendek tapi gesit sekali gerak-geriknya, sedangkan yang seorang lagi tinggi besar dan bercambang bauk yang menyongot ke sana-sini, berbeda dengan dua orang kawannya yang berjenggot putih panjang dan halus.

Hwesio gundul tinggi besar itu ketika melihat tiga tosu ini keluar dari pintu kuil, tampak terkejut karena memang ia tidak menduga sama sekali akan melihat mereka di situ. Sebaliknya, ketiga orang tosu itu ketika melihat hwesio, juga kaget sekali dan mereka bertiga lalu menggerakkan tubuh loncat menghampiri. Loncatan ini luar biasa sekali, karena sekali saja meloncat, mereka bertiga telah melayang ke tempat hwesio itu yang jauhnya tak kurang dari sepuluh tombak (setombak kira-kira dua meter)!

“Hai Kong, kau berani menemui kami? Apakah kau mencari mampus?” Tosu jangkung kurus bertanya sambil mengketuk-ketukkan ujung tongkatnya ke atas tanah.

Tiba-tiba hwesio gundul yang bernama Hai Kong Hosiang itu tertawa dan suara ketawanya ini aneh sekali. Keras dan parau memekakkan telinga dan sebentar merendah bagaikan suara orang bernyanyi. Suara ini terdengar sampai di tempat jauh hingga guru dan murid yang sedang berada di dalam sebuah kamar dalam kuil itu menjadi terkejut. Anak kecil itu tak dapat menahan keinginan tahunya, maka sambil membawa suling bambunya ia berlari keluar dan dari kamar itu. Gurunya marah dan mengejarnya sambil berteriak,

“Cin Hai… Cin Hai…. kau tolol kembalilah nanti kuadukan kau kepada Pamanmu!”

Karena dikejar-kejar, Cin Hai lari ke tempat yang rendah di pinggir kuil lalu memanjat naik. Ketika siucai (sasterawan) tua yang kurus sekali seperti orang cacingan itu mengejar ke situ, ia lalu memanjat ke atas genteng! Ternyata Cin Hai yang baru berusia enam tahun itu berani sekali memanjat naik berlari di sepanjang wuwungan bangunan pinggir dari kuil itu. Kepalanya yang gundul dan bulat kecil itu seperti berkilau karena tertimpa cahaya matahari!

Gurunya berteriak-teriak memanggil dengan gemas dan memburu sampai di luar pintu, tetapi tiba-tiba sasterawan itu melihat tiga orang tosu dan seorang hwesio aneh yang kini saling berhadapan di luar kuil itu. Ia menjadi takut dan buru-buru bersembunyi di belakang pintu kuil! Cin Hai kini duduk di atas genteng dan memandang ke bawah. Juga ia heran sekali melihat tiga orang itu yang kini siap hendak mengeroyok Si Hwesio tinggi besar. Sementara itu, setelah tertawa keras yang mengejutkan Cin Hai dan gurunya, hwesio gundul itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan ia menggerak-gerakkan kedua lengannya yang hebat sambil berkata, “Ha, ha, ha! Kalian Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok Keng Cu, jangan kalian sombong karena kemenanganmu yang tipis pada beberapa tahun yang lalu di Heng-san! Apakah kaukira aku takut menghadapi Kanglam Sam-lojin (Tiga Kakek dari Kanglam) yang tersohor? Ha, ha, ha! Kalian maju bertiga baru mengimbangi aku, tapi sekarang jangankan bertiga, kautambah tiga belas lagi akan kutewaskan semua, ha, ha!”

Kemudian hwesio gundul itu menggerakkan tubuhnya dan memang ia hebat sekali. Berbeda dengan tubuhnya yang besar dan kasar itu, gerakannya sebet dan gesit sekali. Tubuhnya bagaikan lenyap dan hanya bayang-bayangnya saja bergerak menyerang ketiga lawannya!

Tapi Kanglam Sam-lojin adalah tiga tokoh persilatan yang telah lama disohorkan orang. Mereka ini adalah tokoh-tokoh terakhir dari cabang persilatan Liong-san-pai dan ketiganya merupakan saudara seperguruan yang memiliki kepandaian silat tinggi dan keistimewaan masing-masing. Giok Im Cu yang tertua memiliki tenaga lweekang yang tinggi sekali hingga sukar dicari keduanya, Giok Yang Cu yang tinggi besar dan brewokan memiliki tenaga gwakang (tenaga luar, kekuatan urat) yang melebihi tenaga seekor kerbau jantan, sedangkan Giok Keng Cu adalah ahli mempergunakan piauw (senjata rahasia yang disambitkan) bersayap. Di samping kepandaian khusus ini, ilmu silat mereka juga tinggi dan lihai sekali.

Maka, menghadapi serangan Hai Kong Hosiang ini, mereka bertiga lalu berpencar dan menghadapi hwesio dari tiga jurusan. Hai Kong Hosiang ternyata luar biasa, karena gerak-geriknya aneh seperti menari berlenggak-lenggok, sama sekali bukan seperti gerakan silat, tapi kedua tangannya bagaikan dua ekor ular yang hidup dan sepuluh jari tangannya pun hidup bergerak-gerak dan tiap jari selalu mengancam jalan darah lawannya! Inilah ilmu silatnya yang aneh dan disebut Jian-coa-kun-hoat atau Ilmu Silat Seribu Ular. Ia gesit bagaikan ular dan setiap serangan yang dilancarkan selalu mengarah urat kematian lawan dan datangnya secara tiba-tiba tak terduga sama sekali! Baiknya ketiga tosu yang menjadi lawannya pernah bertempur dengan dia kira-kira tiga tahun yang lalu di puncak Heng-san hingga ketiga tosu itu sedikitnya tahu pula keganasan ilmu silat ini hingga mereka dapat menjaga diri dan melancarkan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya.

Cin Hai yang duduk di atas genteng itu dengan senang menonton pertempuran dan gembira sekali. Memang ia suka sekali menonton orang bersilat dan tiap kali di kota diadakan keramaian dan dipertunjukkan permainan demonstrasi silat, ia selalu pasti ada di antara penonton, dan minggat dari gedung pamannya biarpun sudah dilarang. Kini ada tontonan adu silat tanpa bayar tentu saja ia senang sekali. Apalagi adu silat kali ini sungguh berbeda dengan adu silat biasa yang dilakukan di atas panggung. Ia melihat, betapa empat orang yang berkelahi itu bergerak-gerak dengan aneh sekali dan kedua matanya menjadi kabur dan silau ketika melihat betapa tubuh keempat orang itu lenyap terganti oleh bayang-bayang hitam yang bergerak cepat sekali. Matanya yang silau kini tak dapat membedakan lagi mana hwesio gundul dan mana tiga orang tosu yang mengeroyoknya! Hanya kadang-kadang saja, warna merah dari jubah hwesio gundul itu masih tampak dan ternyata ia terkurung di tengah-tengah. Sungguh satu tontonan yang mengasyikkan dan menegangkan hati, apalagi karena Cin Hai tahu bahwa hwesio gundul itu dikeroyok tiga dalam pertempuran yang sungguh-sungguh dan mati-matian, berbeda dengan segala pibu (adu kepandaian silat) maka dengan tak terasa pula saking tegangnya Cin Hai memasukkan ujung suling ke mulut seperti orang sedang meniup suling.

Sementara itu, ketiga tosu yang mengeroyok Hai Kong Hosiang makin lama makin terdesak oleh Jian-coa-kun-hoat yang benar-benar lihai. Mereka terkejut sekali karena betul-betul kepandaian Si Gundul ini telah maju hebat dan jauh bedanya jika dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu. Karena tahu bahwa jika terus bertempur dengan tangan kosong akhirnya akan kalah, tiba-tiba Giok Im Cu berseru keras,

“Hai Kong, kau benar-benar hendak mengadu jiwa?”

Setelah berkata demikian, Giok Im Cu yang bertubuh tinggi kurus itu mencabut ranting kayu yang tadi ketika bertempur ia selipkan di ikat pinggangnya. Biarpun ranting itu hanya kecil saja, namun berada di dalam tangannya lalu berubah menjadi sebuah senjata yang ampuh karena ranting yang lemas itu dapat menerima tenaga lweekang yang ia salurkan ke dalamnya. Kedua kawannya lalu meniru perbuatan ini, Giok Keng Cu yang bertubuh kecil pendek dan sangat gesit itu lalu mencabut sebatang golok besar bergagang emas yang ia putar-putar sampai menerbitkan angin dingin, sedangkan Giok Yang Cu yang tinggi besar seperti Thio Hwie (seorang tokoh ternama dalam dongeng sejarah Samkok) lalu mencabut keluar sebatang pedang pusaka yang berkilauan saking tajamnya!

Ketiga tosu dengan senjata masing-masing ini lalu menyerang dengan hebatnya bagaikan serangan badai mengamuk.

“Ha, ha, ha! Hayo kalian keluarkan semua kepandaian, akhirnya akan kumampuskan seorang demi seorang!” Hai Kong Hosiang menyindir dan ia lalu mengeluarkan sebatang senjata aneh, yang tadi tersimpan di sebelah dalam jubahnya hingga tidak kelihatan. Senjata ini dilihat dari jauh kelihatan seperti sebatang kayu kering yang tidak lurus dan bengkak-bengkok tapi kalau dilihat dari dekat akan ternyata bahwa senjata itu adalah seekor ular yang telah kering! Biarpun telah mati dan kering, tapi tubuh binatang itu masih utuh dan lengkap, bahkan matanya yang melotot dan lidahnya yang terjulur itu membuat ia seakan-akan masih hidup. Senjata ini selain aneh juga berbahaya sekali karena ular itu bukan sembarang ular, tapi seekor ular berbisa yang luar biasa jahatnya. Hai Kong Hosiang memegang senjata tongkat ular itu pada ekornya hingga kalau ia mainkan senjata istimewa ini, lidah ular yang bercabang dua dan tajam itu dapat digunakan untuk menotok jalan darah, sedangkan mulut bergigi ular itu dapat melukai kulit. Ini masih ditambah lagi dengan kejahatan racun yang penuh di mulut ular itu yang membuat setiap luka kecil pada tubuh lawan dapat menyeretnya ke lubang kuburan!

Sebentar saja keempat orang itu telah bertanding pula, kini jauh lebih hebat karena kalau tadi tubuh mereka masih tampak sebagai bayang-bayang yang bergerak ke sana ke mari, maka kini setelah mainkan senjata, tubuh mereka lenyap dan sebagai gantinya tampak gulungan-gulungan sinar yang bermacam-macam bentuk dan warnanya. Pertempuran adu jiwa yang seru dan serem, tapi yang membuat pemandangan indah menarik hingga Cin Hai menonton di atas genteng menjadi makin gembira lagi.

Hampir saja ia bersorak dan bertepuk tangan, tapi tiba-tiba kakinya yang menginjak genteng terpeleset hingga hampir saja ia jatuh ke bawah. Ia kaget dan pindah duduk di tempat yang lebih rendah. Sementara itu, gurunya yang tadi bersembunyi di balik pintu, ketika mencoba untuk menjenguk keluar dan menongolkan kepalanya, terkejut sekali melihat keempat orang itu kini bertempur dengan senjata tajam, maka segera kepala yang nongol itu ditariknya kembali ke belakang dengan cepat seperti kepala kura-kura, sedangkan tubuhnya yang kurus kering seperti cecak itu menggigil ketakutan!

Biarpun senjata di tangan Hai Kong Hosiang hebat sekali dan permainan silatnya yang berdasarkan permainan ilmu Pedang Jian-coa-kiam-sut (Ilmu Pedang Seribu Ular) lihai dan berbahaya, namun menghadapi tiga macam permainan senjata dari Kang-lam Sam-lojin itu, ia merasa kewalahan dan keteter juga, gerakannya mulai tak tetap dan sinar ketiga senjata lawannya makin menekan tongkat ularnya.

“Ha, Hai Kong, sekarang kau hendak lari ke mana?” Giok Keng Cu si kecil pendek menyindir sambil memperhebat gerakan golok besarnya.

“Ha, ha ha! Tiga tikus tua, kamu kira kalian akan terlepas dari tanganku, ha, ha!” Biarpun dalam keadaan terdesak, Hai Kong Hosiang masih sempat tertawa. Kemudian terdengarlah bunyi melengking yang aneh dari mulutnya. Suara ini menyerupai bunyi suling dan melengking tinggi rendah seperti berlagu.

Dan pada saat itu, keranjang rotan besar yang tadi dia panggul dan kini terletak di atas tanah, lalu bergoyang-goyang dan tubuhnya terangkat naik seperti ada apa-apa di dalamnya yang hendak keluar! Dan sesaat kemudian, ketika bunyi lengking dari mulut Hai Kong Hosiang itu meninggi, terbukalah tutup keranjang besar itu dan dari dalamnya tersembul kepala ular yang besar sekali! Ular itu mendesis-desis dan membuka mulutnya yang lebar, lidahnya yang merah dan tajam itu menusuk-nusuk keluar dari tengah-tengah mulutnya yang merah. Sepasang matanya liar memandang ke arah suara lengking yang menggairahkannya. Kemudian ia keluar dari keranjang itu dan alangkah panjang tubuhnya! Kepala ular itu terangkat, naik bagaikan sedang mencari-cari mangsanya dan pada saat itu, dari dalam keranjang keluar pula ular lain berturut-turut hingga semua isi keranjang yang ternyata mengandung lima ekor ular yang mengerikan itu telah keluar semua.

Tiga orang tosu yang sedang mendesak Hai Kong Hosiang, terkejut sekali melihat betapa lima ekor ular itu cepat menghampiri mereka dan segera mengurung dalam segi lima yang teratur. Gerakan kelima binatang buas itu cepat dan gesit, sedangkan tubuh mereka yang berkembang dengan warna merah kehijauan itu berlenggak-lenggok seperti sedang menari-nari. Nyata sekali bahwa gerakan-gerakan mereka terpengaruh oleh bunyi lengking dari mulut Hai Kong Hosiang!

Giok Keng Cu cepat mengeluarkan hui-piauw (piauw terbang) dari sakunya dan sekali menggerakkan tangan, lima batang menyambar ke arah dua ekor ular yang berada di depannya. Tapi pada saat itu juga, dari jurusan Hai Kong Hosiang menyambar dua benda hitam yang membentur dua batang piauw itu sedangkan tiga batang piauw yang masih menyambar, dapat dikelit oleh dua ekor ular yang ternyata gerakannya gesit sekali itu!

Biarpun pada dasarnya mempunyai hati yang besar dan ketabahan serta keberanian luar biasa, tapi ketika melihat betapa dari keranjang itu keluar lima ekor ular yang menakutkan sekali, Cin Hai merasa ngeri juga! Ia memandang keadaan di bawah dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Bunyi lengking yang keluar dari mulut Hai Kong Hosiang membuat telinganya terasa sakit dan perasaannya tak enak sekali. Sementara gurunya yang bersembunyi dengan tubuh menggigil, ketika mendengai bunyi lengking yang aneh itu, tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat. Biarpun masih menggigil ketakutan, ia memaksakan diri untuk menongolkan kepala lagi. Tapi pemandangan yang dihadapinya sekarang terlampau hebat dan mengerikan untuknya. Jantungnya terasa berloncat-loncatan ke atas, berjungkir balik beberapa kali di dalam dadanya kemudian jatuh kembali ke tempat semula dengan terbalik! Ia merasa lemas dan roboh pingsan bagaikan sehelai kain yang dilepaskan, sedangkan di bawah tubuhnya tiba-tiba menjadi basah!

Keadaan ketiga tosu itu makin berbahaya. Kini lima ekor ular itu, atas desakan bunyi lengking dari Hai Kong Hosiang, mulai dengan penyerangan mereka. Sedikit demi sedikit kurungan mereka makin rapat dan ketiga tosu yang bergerak di dalam kurungan itu tak dapat keluar, sedangkan ruang untuk bergerak makin sempit. Mereka mempertahankan diri dan melakukan serangan hebat dengan senjata mereka, tapi lima ular itu ternyata gesit sekali dan dapat mengelakkan tiap serangan senjata lawan. Selain itu masih ada Hai Kong Hosiang yang tidak tinggal diam, tapi juga menyerang dengan tak kurang hebatnya!

Keadaan tiga orang tosu itu berbahaya sekali dan agaknya mereka takkan tertolong lagi. Tapi pada saat itu, dari atas terdengarlah bunyi yang lebih tinggi nadanya daripada bunyi lengking dari mulut Hai Kong Hosiang, dan aneh! Mendengar bunyi lengking yang lain ini kelima ular itu agaknya menjadi bingung sekali. Gerakan mereka kacau-balau dan mereka berlima mengangkat-angkat kepala tinggi-tinggi seakan-akan tak tahu harus berbuat apa. Terang sekali bahwa mereka mencari-cari ke atas dengan sepasang mata mereka untuk dapat mendengar “perintah” itu lebih nyata dan jelas lagi! Melihat hal ini, Hai Kong Hosiang lalu menyelipkan tongkat ularnya di dalam jubah dan ia menggerak-gerakkan kedua tangannya untuk memperkuat perintahnya dan lengking yang keluar dari mulutnya makin menghebat. Tapi bunyi lengking dari atas itu juga makin hebat seakan-akan tak mau kalah bersaing! Ular-ular itu makin panik dan bingung hingga akhirnya seekor yang terkecil kena sabet oleh ranting di tangan Giok Im Cu hingga berkelojotan!

Sebenarnya apakah yang terjadi? Ternyata Cin Hai, anak kecil gundul yang dengan enak-enak asyik nonton di atas genteng dan merasa betapa bulu tengkuknya meremang melihat lagak dan keganasan ular-ular itu, makin lama makin tak tertahan mendenar bunyi lengking yang keluar dari mulut Hai Kong Hosian dan suara itu seakan-akan menembus anak telinganya dan langsung menusuk-nusuk hatinya. Maka ia menjadi marah, lalu ditiupnyalah suling yang memang sejak tadi telah dimasukkan di mulutnya. Cin Hai memang pandai meniup suling dan ia meniru-niru segala macam lagu yang didengarnya. Kini mendengar nada lengking hwesio gundul yang aneh itu, ia mencoba-coba dan bersusah payah untuk menirunya pula. Tapi, biarpun ia telah meniup nada yang setinggi-tingginya tak juga dapat meniru dengan tepat dan baik, bahkan suara lengking sulingnya terdengar sumbang dan lebih menyakitkan telinga daripada suara Hai Kong Hosiang!

Akan tetapi aneh, ketika ia telah meniup sulingnya, makin tinggi nada yang ditiupnya, makin berkuranglah rasa sakit di telinga dan hatinya akibat suara yang dikeluarkan oleh hwesio itu, maka dengan gembira Cin Hai makin memperkeras bunyi sulingnya. Ketika ia melirik ke bawah kegembiraannya bertambah karena ia melihat betapa hwesio gundul yang berwajah menyeramkan dan yang ia benci itu tampaknya marah sekali, sedangkan lima ekor ular itu menjadi tidak karuan gerakannya.

Cin Hai lalu meniup dan meniup lagi tak tentu apa yang dilagukannya asal meniup nada yang tinggi-tinggi saja! Ia sama sekali tidak mengira bahwa karena perbuatannya ini maka ular-ular itu kehilangan bimbingan dan karenanya ia telah menolong tiga orang itu.

Bukan main marahnya hati Hai Kong Hosiang karena perbuatan anak kecil yang nakal itu ternyata telah menggagalkan kurungannya terhadap ketiga tosu musuhnya, padahal tadi ia telah merasa pasti sekali bahwa tak lama lagi ketiga tosu itu tentu akan dapat ia robohkan. Sebaliknya, tiga orang tosu itu ketika melihat betapa keadaan Hui Kong Hosiang dan ular-ularnya telah kacau, segera menggunakan kesempatan itu untuk meloncat keluar kurungan. Mereka bertiga mengeluarkan keringat dingin karena keadaan mereka tadi benar-benar berbahaya.

“Hai Kong, kau makin tua makin jahat dan lihai!” Giok Im Cu berkata memuji, lalu ia mengajak kedua kawannya pergi secepat mungkin. Ia tahu bahwa biarpun seekor ular hwesio itu telah dapat dilukai, namun dengan empat ekor ularnya yang lihai, hwesio itu masih merupakan lawan yang sangat tangguh dan sukar dilawan. Tanpa mempedulikan anak kecil gundul yang tanpa disengaja telah menolong jiwa mereka, ketiga tosu itu lari meninggalkan tempat itu.

Hai Kong Hosiang membanting kakinya yang besar dan kuat. Ia tak mau mengejar, karena sungguhpun ia tak usah kalah dalam hal ilmu lari cepat, tapi kalau dapat mengejar juga, apa gunanya? Seorang diri tanpa dibantu ular-ularnya ia takkan menang menghadapi tiga orang tosu yang lihai itu. Ia marah sekali karena gagal membunuh tiga orang musuh lamanya bahkan seekor ularnya masih berkelojotan kena gebuk ranting Giok Im Cu yang lihai. Tentu tulang punggung ular itu telah remuk! Semua gara-gara anak setan itu, pikirnya.

Hai Kong Hosiang melihat ke arah Cin Hai yang masih saja meniup sulingnya. Hwesio gundul itu lalu mengayun tangan kirinya dan sebutir pelor batu hitam menyambar, Cin Hai sama sekali tidak tahu akan datangnya serangan. Tahu-tahu suling yang terpegang di tangannya dan sedang ditiup itu telah terbang bagaikan direnggut oleh tangan yang tidak kelihatan! Ketika ia memandang ke bawah, kembali tangan kiri Hai Kong Hosiang diayun dan sebutir pelor hitam melayang menuju arah kepala Cin Hai! Hai Kong Hosiang dengan muka merah karena gemas telah membayangkan betapa kepala anak kecil yang gundul seperti kepalanya sendiri itu akan pecah ditembusi pelornya dan betapa tubuh itu akan menggelinding turun dari atas genteng tanpa nyawa pula. Tapi alangkah heran dan kagetnya melihat pelornya itu tiba-tiba saja mencong arahnya dan sebaliknya menghantam tembok di dekat anak itu hingga tembus dan tembok itu berlubang!

Ketika ia sedang bengong terdengar suara yang halus penuh kesabaran menegur.

“Tidak malukah kau, Hwesio? Menyerang seorang anak kecil tak berdaya?” Dan tiba-tiba saja di belakang Cin Hai muncul seorang kakek tua berpakaian penuh tambalan. Kakek ini tubuhnya sedang, mukanya penuh cambang kasar dan kaku, bajunya tambal-tambalan, kesemuanya membayangkan kemiskinan dan kekasaran hingga agaknya sangat aneh dan janggal bila suara teguran yang halus dan sabar itu keluar dari mulutnya yang tampak kasar kejam itu!

Ketika melihat kakek jembel itu, Hai Kong Hosiang menjadi pucat. Tanpa banyak cakap lagi ia mengambil semua ular besarnya dan memasuk-masukkan mereka ini ke dalam keranjang kembali. Lalu ia memanggul keranjang rotannya dan pergi secepat terbang dari situ sambil mengomel panjang pendek.

“Setan alas benar-benar! Tak seperti hari ini sialnya diriku. Gagal membasmi Kang-lam Sam-lojin, bertemu dengan Bu Pun Su Si Jembel Tua! Baiknya ia tidak menurunkan tangan jahat kepadaku. Dengan dia berada di sini, apa perlunya aku melelahkan diri?”

Tapi Hai Kong Hosiang keliru kalau menganggap bahwa kakek jembel itu berlaku murah padanya karena pada saat itu juga ia merasa betapa keranjang yang dipanggulnya menjadi berat dan tiba-tiba dari keranjang itu menetes turun darah ke atas pundaknya. Ia cepat menurunkan keranjangnya dan cepat membuka tutupnya. Apa yang dilihatnya? Kelima ularnya telah mati semua dan di kepala kelima ular itu tampak luka kecil yang mengalirkan darah. Ia tahu bahwa ini adalah akibat dari serangan gelap Bu Pun Su, Si Jembel tadi, yang mempergunakan gin-ciam (jarum perak) untuk membunuh ular-ular itu.

Melihat betapa binatang-binatang peliharaan yang telah dipelihara dan dididik bertahun-tahun sampai pandai dan dapat membela dirinya itu mati semua tiba-tiba Hai Kong Hosiang membanting-banting kakinya dan menangis! Hwesio gundul yang bertubuh tinggi besar itu melolong-lolong dan tersedu-sedu melampiaskan rasa mendongkol dan marahnya.

Kemudian ia berdiri dan meninggalkan keranjangnya. Sambil berlari-lari ia berkata. “Awas Bu Pun Su, lain kali aku akan membunuhmu untuk ini!”

Cin Hai yang masih duduk di atas genteng kini tahu bahwa kakek jembel yang berdiri di belakangnya itu telah menolongnya, maka ia lalu bertanya, “Eh, kakek tua renta, dia tadi menyambit dengan apakah?”

Bu Pun Su (Tiada Kepandaian) Si Jembel Tua itu tertawa bergelak dan kembali suara ketawanya sama sekali tidak sesuai dengan keadaannya, merdu dan halus. “Eh, anak tolol, dia tadi menyambitmu dengan tangan maut. Kalau tidak ada aku si tua renta, sekarang kau sudah menghadap Giam Lo-ong (Malaikat Pencabut Nyawa)!”

Sementara itu, guru anak itu yang masih berdiri di belakang pintu, setelah mendengar di luar sunyi dan suara Cin Hai bercakap-cakap di atas, lalu berlari keluar dan memanggil-manggil.

“Cin Hai… Cin Hai… kau turunlah, mari kita pulang!”

Tapi Cin Hai tak mempedulikannya bahkan lalu bertanya kepada kakek yang menolongnya tadi, “Kakek, bagaimanakah kau tadi menolongku?”

“Kau ingin mempelajarinya?” tanya Bu Pun Su.

“Tentu saja, asal kau orang tua sudi mengajarku,” jawab anak itu.

“Cin Hai… Cin Hai…” terdengar gurunya memanggil lagi.

“Tunggulah sebentar, Sianseng, itu Si Gundul dengan ular-ularnya datang lagi!” Cin Hai berteriak dari atas.

“Ya Tuhan Yang Maha Esa… !” guru itu menjerit dan cepat ia menyelinap lagi ke belakang daun pintu. Cin Hai menahan gelinya dan ia berkata kepada kakek jembel itu,

“Dia juga Guruku dan mengajar ilmu surat padaku.”

Bu Pun Su tertawa dan berkata,

“Kalau kau ingin aku mengajarmu, kau harus mengangkat guru padaku.”

“Boleh, boleh, mengangkat guru saja, apa susahnya? Asal jangan disuruh menghafal ujar-ujar yang sulit, dan membingungkan.”

“Lebih dari itu, anak bodoh. Kau harus tunduk dan taat padaku serta menurut segala perintahku.”

Tiba-tiba Cin Hai merengut. “Semua orang menyebutku bodoh, bahkan kau caIon guruku juga! Lama-lama aku bisa percaya bahwa aku benar-benar bodoh.”

“Ha, ha, memang kau bodoh. Bagaimana kau mau mentaati segala perintahku?”

“Tentu, tentu saja. Ada ujar-ujar yang berkata bahwa apapun juga kata guru, murid harus taat dan menurut.”

“Nah, kalau begitu, kau loncatlah ke bawah!”

“Lo… lo… loncat ke bawah?” Ci Hai memandang kakek jembel itu dengan matanya yang bundar terbelalak. “Tapi, tapi… begini tinggi…”

Mata kakek jembel yang lebih bundar dan lebih lebar itu berdiri.

“Ingat, apapun juga kata guru, murid harus…”

“Iya, dah! Aku loncat!!” kata Ci Hai yang lalu mengenjot kakinya dan mengayun tubuh ke bawah! Tapi ia tidak terbanting dan kakinya tidak patah-patah sebagaimana yang ia khawatirkan, karena pada saat ia terjun, sebuah tangan yang kuat telah memegang leher bajunya dan membawanya turun dengan ringan.

“Bagus, kau harus turuti segala perintahku. Kau pulanglah dengan gurumu itu dan setahun kemudian, sekembaliku dari Nam-thian, kau akan kuambil!” Cin Hai yang kini maklum akan kelihaian kakek jembel ini, mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul! Dan pada saat itu pun Bu Pun Su berkelebat lenyap dari depan anak itu!

Cin Hai lalu mencari gurunya di belakang pintu. Guru sekolahnya itu sampai menjumbul karena kaget ketika Cin Hai tiba-tiba muncul di depannya sambil berteriak keras, “Sianseng!”

Melihat anak kecil itu, ia mulai marah lagi. Dengan lengan terulur ia hendak menjiwir telinga Cin Hai, tapi anak itu mengangkat kedua lengan ke atas melindungi telinganya sambil berkata,

“Sianseng, jangan kau berbuat sesuatu kepada lain orang apa yang kau sendiri tak suka orang lain berbuat kepadamu!” dan ketika guru kurus kering itu menjadi makin marah dan hendak menjatuhkan tamparan kepadanya, ia buru-buru berkata lagi, “Sianseng, bukankah kau tadi mengajarkan Su-hai-ci-lwee-heng-te-ya? Mengapa Sianseng selalu memukul hakseng tanpa ingat perikemanusiaan?”

Dihujani ujar-ujar yang sering ia ajarkan kepada muridnya itu, Si Guru menjadi bohwat (habis daya) dan tangan yang sudah diangkat naik itu diturunkan kembali.

“Hayo kita lekas pulang, takut kalau siluman-siluman itu datang lagi” ia lalu memegang lengan muridnya dan menyeretnya sambil berlari anjing menuju ke kota yang tak berapa jauh karena tembok kotanya tampak dari kuil itu.

Anak kecil yang bernama Cin Hai itu adalah seorang anak yatim piatu. Semenjak berusia empat tahun, ia telah ditinggal mati kedua orang tuanya dan ia lalu dipelihara oleh ie-ienya (bibi adik ibu) yang menjadi isteri ke dua dari Kwee In Liang, seorang pembesar militer berpangkat touwtong yang tinggal di Tiang- an. Karena ketika ditinggal mati kedua orang tuanya ia masih kecil sekali, maka Cin Hai tak dapat ingat lagi bagaimana rupa kedua ayah bundanya dan tidak tahu pula bagaimana matinya.

Kwee-ciangkun (Panglima Kwee) telah ditinggal mati oleh isterinya yang pertama hingga ia kawin lagi dengan ie-ie dari Cin Hai itu. Dari isteri pertama ia mempunyai enam orang anak, lima orang laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak laki-laki yang sulung berusia sepuluh tahun dan tiap tahun tambah seorang anak hingga anak perempuan yang bungsu itu kini telah berusia lima tahun! Mungkin karena setiap tahun melahirkan anak inilah yang menyebabkan isteri Kwee-ciangkun menjadi lemah dan jatuh sakit sampai matinya.

Kwee-ciangkun sangat memanjakan anak-anaknya hingga mereka itu rata-rata bersifat manja dan nakal. Tapi hal ini dapat dimengerti karena keenam orang anak-anak itu ditinggal mati ibunya ketika usia mereka masih belum dewasa. Ketika itu Loan Nio, bibi Cin Hai itu, menjadi pelayan di gedung keluarga Kwee, dan ia memang telah bekerja di situ semenjak masih kanak-kanak hingga dewasa. Boleh dibilang semua anak-anak Kwee-ciangkun ketika kecilnya diasuh oleh gadis ini sehingga mereka menjadi suka dan biasa kepada Loan Nio. Maka, setelah ibu anak-anak itu meninggal, dan melihat sifat-sifat yang baik serta wajah yang manis dari gadis itu, Kwee-ciangkun lalu mengambilnya menjadi isteri kedua.

Memang boleh dipuji tindakan panglima yang masih muda ini, karena pilihannya memang tepat dan bijaksana, tidak semata-mata terdorong oleh nafsu ingin senang sendiri, tapi sebagian besar didasarkan untuk kepentingan anak-anaknya. Demikianlah, Loan Nio menjadi seorang isteri panglima dan sekaligus menjadi ibu enam orang anak, seorang ibu yang baik karena di dalam hatinya memang ia mempunyai rasa kasih sayang terhadap anak-anak yang semenjak kecil diasuhnya itu.

Cuma sayangnya, anak-anak itu telah terlampau manja dan karena mereka pun tahu bahwa ibunya yang sekarang ini bukanlah ibu sendiri, perasaan mereka tentu berbeda dan kadang-kadang terasa sesuatu ganjalan yang tak menyenangkan. Apalagi ketika Loan Nio mendatangkan anak kemenakannya yang telah yatim piatu, yakni Cin Hai, maka sering terjadi hal-hal yang menyakiti hati Cin Hai dan Loan Nio, sungguhpun kejadian-kejadian itu terjadi di luar tahu Kwee In Liang sendiri.

Kwee In Liang adalah seorang pembesar militer yang memiliki kepandaian silat tinggi, karena ia adalah seorang murid dari Kun-lun-pai. Karena ini, maka tidak heran bila ia mendidik kelima puteranya dengan ilmu silat, di samping mendidik mereka dalam ilmu surat. Ketika isterinya membawa Cin Hai ke dalam gedung, hal ini diterima oleh Kwee-ciangkun dengan tangan terbuka dan senang hati, karena ia yang berhati baik juga merasa kasihan kepada Cin Hai. Melihat bahwa Cin Hai usianya sebaya dengan puteranya yang ke lima, maka ia lalu sekalian menyuruh Cin Hai belajar sama-sama dengan putera-puteranya, di bawah pimpinan seorang guru sastera dan untuk belajar silat, untuk tingkat permulaan ia serahkan mereka kepada seorang guru silat she Tan yang terkenal di kota itu.

Tapi ternyata bahwa Cin Hai menjadi korban dari segala ejekan dan kebencian. Anak ini kepalanya sengaja digundul plontos karena dulu sering mendapat sakit kulit di kepalanya. Pula, mukanya yang membayangkan kebodohan mungkin karena bingung dan banyak menangis ketika ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, membuat ia menjadi bahan godaan semua orang. Kalau sedang belajar bersama-sama dengan anak-anak Kwee-ciangkun, jika ia tidak menghafal dan tak dapat menjawab pertanyaan guru, ia dimaki tolol dan bodoh bahkan si guru tak segan-segan untuk mengetok kepalanya yang gundul itu. Tapi kalau ia rajin menghafal hingga pengertiannya melebihi kelima anak-anak Kwee-ciangkun, ia lalu dibenci oleh mereka itu dan dianggap sombong. Tak jarang di luar tahunya orang-orang tua, ia dikeroyok, dipukuli, dan dimaki-maki oleh kelima anak laki-laki Kwee-ciangkun itu.

Juga guru silat she Tan yang mengajar mereka agaknya sengaja menghina Cin Hai. Entah mengapa, mungkin karena mengingat bahwa anak gundul itu datang dari dusun, atau karena hendak menyenangkan hati tuan-tuan muda yakni putera-putera Kwee-ciangkun, atau memang ia sendiri mempunyai rasa tak suka melihat wajah Cin Hai, tapi nyatanya ia tidak mengajar sungguh-sungguh kepada Cin Hai bahkan seringkali ia menyuruh Cin Hai menghadapi Kwee Tiong putera tertua yang telah berusia sepuluh tahun itu untuk berlatih. Tentu saja Cin Hai hanya mendapat gebukan-gebukan dalam latihan itu karena selain kalah besar, juga kalah tenaga dan kalah kepandaian!

Baiknya, sikap yang tahu diri dan agung dari Loan Nio yang telah menjadi “nai-nai” (nyonya) itu membuat semua orang tak berani menghina Cin Hai secara berterang di muka nyonya muda itu. Dan Loan Nio menjadi tempat Cin Hai menumpahkan segala kesedihannya. Kalau ia sedang digoda atau dipukul, tak sebutir pun air mata dapat meloncat keluar dari kedua matanya yang bundar, tapi kalau sudah berada dengan bibinya, dan kepala yang gundul rebah di pangkuan nyonya muda itu, barulah air mata membanjir keluar. Betapapun juga, tak pernah satu kalipun ia mengadu kepada bibinya mengapa ia menangis, mengapa kepalanya benjol-benjol dan mukanya biru-biru. Bibinya hanya menganggap bahwa lazim bagi seorang anak laki-laki untuk kadang-kadang berkelahi sampai kepalanya benjol! Dan ia mengira bahwa kesedihan anak itu karena teringat akan orang tuanya, maka ia tak pernah bertanya karena tak mau menambah kesedihan anak itu.

Akan tetapi, tidak semua orang berhati kejam dan buruk. Ada beberapa orang pelayan yang merasa kasihan melihat nasib Cin Hai lalu diam-diam memberitahukan kepada Loan Nio tentang perlakuan guru itu kepada Cin Hai. Biarpun hatinya sangat panas, tapi sebagai seorang bijaksana yang panjang pikir, Loan Nio tidak menimbulkan ribut. Ia hanya memberi tahu kepada Cin Hai supaya jangan belajar silat lagi dan sengaja ia memanggil seorang guru sasterawan tua untuk mengajar Cin Hai. Cita-citanya hanya agar supaya anak itu kelak menjadi seorang pandai yang dapat menempuh ujian dan menggondol pangkat tinggi. Dan ia sengaja menyewa sebuah kamar di kelenteng yang terletak di luar tembok kota sebelah barat itu untuk tempat Cin Hai belajar.

Nyonya muda yang bijak mencinta kemenakannya itu tentu saja tidak tahu bahwa Cin Hai memang tak begitu rajin belajar dan guru kurus kering ini pun berlaku sewenang-wenang dan main ketok kepala saja. Agaknya kepala Cin Hai yang gundul plontos itu memang mempunyai daya penarik kepada orang untuk mengulurkan tangan dan mengetoknya!

Kelima putera Kwee-ciangkun semua berwajah tampan dan gagah. Yang sulung bernama Kwee Tiong, ke dua Kwee Sin, ke tiga Kwee Bun, ke empat Kwee Siang, ke lima Kwee An. Sedangkan anak ke enam yang perempuan adalah seorang anak mungil dan manis, bermuka bundar dengan mulut kecil dan mata lebar, namanya Kwee Lin dan biasa disebut Lin Lin. Karena hanya mempunyai seorang saja anak perempuan, tak heran bila Kwee-ciangkun sangat cinta kepada Lin Lin dan diam-diam, di luar tahu orang lain, setelah Lin Lin berusia lima tahun, ia mulai menurunkan kepandaian silat yang tinggi kepada anak perempuannya ini! Biarpun orang luar tidak tahu, namun Lin Lin tentu saja sebagai seorang anak kecil tak dapat menyimpan rahasia dan membocorkannya kepada saudara-saudaranya. Semua saudaranya merasa iri hati, tapi mereka tak berani mengganggu Lin Lin, karena tahu betapa sayangnya ayah mereka kepada anak yang bungsu lagi perempuan ini.

Guru Cin Hai yang kurus kering itu adalah seorang she Kui. Setelah mengalami peristiwa aneh yang menyeramkan di luar kuil tempat ia mengajar itu, ia lari ke gedung Kwee-ciangkun sambil menarik tangan muridnya bagaikan dikejar setan. Ia tak mempedulikan celananya yang telah menjadi basah karena tak tahan lagi saking kagetnya ketika melihat orang-orang aneh itu bertempur, dan melihat ular-ular yang mengerikan itu.

Ketika memasuki pekarangan gedung keluarga Kwee, mereka bertemu dengan Kwee Tiong.

“Eh, Kui-sianseng, mengapa kau lari-lari seperti maling dikejar?” tanya anak itu.

“Twa-kongcu (Tuan Muda Terbesar)… celaka… ada… ada… siluman…” jawab kakek kurus kering itu gagap.

Kwee Tiong terbelalak memandang. “Apa katamu? Siluman?”

Cin Hai memotong, “Ya, siluman menyeramkan sekali. Beginilah macamnya…” ia lalu menggunakan kedua tangan untuk menarik mata dan mulutnya sambil mengeluarkan suara “hii… hii… hi…”

Kwee Tiong menggerakkan hidungnya ke atas mengejek, “Ah, betapapun buruknya, kukira siluman itu tidak lebih buruk daripada mukamu!”

Cin Hai hanya tertawa ha-ha-hi-hi dan ia menurut saja ketika gurunya terus menarik tangannya dibawa ke dalam gedung menghadap bibinya.

Tentu saja nona muda itu terkejut melihat kedatangan mereka yang tidak seperti biasanya, apalagi melihat muka Kui-sianseng itu pucat dan tubuhnya gemetar.

“Eh, Kui-sianseng, mengapa masih begini, siang sudah pulang? Apakah yang terjadi? Cin Hai, apakah kau berlaku nakal tadi?” Cin Hai tersenyum kepada bibinya dan menggelengkan kepala.

“Maaf… saya… saya tidak sanggup mengajar di kuil itu… ada… siluman…” Kui-sianseng itu masih saja gugup, bingung dan takut.

“Sabarlah, Kui-sianseng, sebetulnya apakah yang telah terjadi?”

Dengan suara terputus-putus, sasterawan tua kurus kering itu lalu menceritakan segala peristiwa yang dilihatnya tadi dengan ditambahi bumbu-bumbu yang timbul dari khayalan pikirannya yang penuh kepercayaan tahyul hingga Cin Hai tertawa geli.

Akhirnya tanpa dapat ditahan lagi, guru yang hafal segala ujar-ujar dan filsafat semua nabi tapi yang satu pun tak pernah terbukti dalam segala perbuatannya itu lalu berpamit dan minta berhenti, kemudian pergi dari situ. Kalau tidak takut kepada bibinya, tentu Cin Hai bersorak karena girang hati bahwa akhirnya ia terlepas jua dari siksaan dan godaan guru she Kui yang memaksa ia “makan” segala ujar-ujar di dalam buku-buku tebal itu secara bulat-bulat!

Nyonya muda itu menghela napas. “Cin Hai, mengapa nasibmu begini buruk? Agaknya tidak ada seorang guru yang suka mengajarmu, habis bagaimanakah dan kau akan menjadi apakah kelak? Biarlah, mulai sekarang, aku sendiri akan mengajarmu membaca dan menulis, tapi pengertianku dalam hal ini juga tidak sangat banyak. Apakah terpaksa aku harus memberi pelajaran menjahit dan menyulam padamu?”

Cin Hai menggunakan tangan kiri untuk menutup mulutnya agar tidak tertawa geli. Ia belajar menyulam? Tapi ia menjawab,

“Ie-ie, kalau memang kauanggap perlu, boleh saja aku belajar menjahit dan menyulam.”

Bibinya melerok. “Anak tolol, masak anak lelaki belajar menyulam?”

“Ie-ie, mengapa semua orang menyebutku bodoh dan tolol, bahkan ie-ie sendiri juga menyebutku tolol? Apakah benar-benar aku tolol? Ah… tentu saja aku bodoh dan tolol, kalau tidak masak semua guru membenciku.” Bibinya menjadi terharu dan menariknya dekat-dekat.

“Tidak, Cin Hai, kau tidak bodoh, asal saja kau mau rajin-rajin belajar.” Nyonya muda yang murah hati itu mengelus-elus kepala Cin Hai yang gundul plontos.

“Itulah sukarnya, ie-ie, terus terang saja, aku lebih suka belajar silat dan meniup suling.”

“Anak tolol…”

Cin Hai mengangkat telunjuk ke atas.

“Nah, nah, lagi-lagi aku disebut tolol!”

“Sudahlah, aku lupa. Kau tidak boleh berkata demikian, Cin Hai. Kau harus belajar ilmu surat agar kelak menjadi seorang pandai yang memegang jabatan penting dan menjadi seorang pembesar. Alangkah akan bangga dan senangnya hatiku kelak bila kau bisa menjadi seorang pembesar yang dihormati orang!” Sampai di sini suara nyonya muda itu terdengar parau karena keharuan hatinya membuat ia terisak.

Cin Hai memegang tangan bibinya, “Hatimu mulia sekali, ie-ie. Baiklah, aku akan belajar ilmu membaca dan menulis dari le-ie sendiri. Tapi, sekarang aku teringat bahwa sulingku telah lenyap dan aku harus membuat lagi sebuah. Di hutan sebelah utara kota ada tumbuh bambu-bambu kuning gading yang kecil dan dapat dibuat suling. Bolehkan aku ke sana, ie-ie?”

“Baru saja datang mau pergi lagi! Bagaimana kalau le-thiomu sewaktu-waktu bertanya tentang kau?”

“Kalau le-thio (Paman, suami Bibi) bertanya beritahukan saja, ie-ie, dan lagi, untuk apa le-thio menanyakan aku? Belum pernah ia mempedulikan aku!”

“Kau suka benar akan suling, Cin Hai?” tanya ie-ienya.

“Ie-ie, suling adalah satu-satunya kawan baikku. Kalau aku hendak menyatakan segala perasaan hatiku, aku nyatakan kepada seorang kawan baikku, sedangkan aku tidak… ya, kecuali kau, aku tidak mempunyai kawan baik lagi selain suling bambu yang dapat kutiup-tiup sesuka hatiku…”

Nyonya muda itu menghela napas dan menggunakan saputangan untuk menahan air matanya. “Pergilah, Cin Hai. Buatlah sulingmu tapi jangan terlalu lama di hutan.”

Cin Hai dengan girang hati lalu berlari-lari keluar.

“Engko Hai. Kau mau ke mana?” tiba-tiba terdengar suara halus menegur dari sebelah kiri dan seorang anak perempuan muncul dengan rambutnya yang di kuncir bergantungan di kanan-kiri lehernya.

“Eh, Lin Lin! Sampai kaget aku. Kau tahu, setelah bertemu dengan para siluman dan setan itu, aku menjadi mudah kaget! Kukira kau siluman yang tadi!”

Anak perempuan itu mencibirkan mulutnya yang kecil manis, tapi matanya yang lebar terbelalak, tanda bahwa ia tertarik sekali.

“Apa? Kau tadi melihat siluman? Di mana, bagaimana?” tanyanya ingin tahu sekali.

“Ah, nanti saja lain kali kuceritakan. Sekarang aku mau pergi.”

“Engko Hai, kau mau ke manakah?”

“Mau ke hutan di sebelah utara itu mencari bambu.”

“Aneh benar, itu di belakang kan banyak bambu, mengapa mesti mencari jauh-jauh?”

“Ah, kau tahu apa? Bambu yang kucari ini adalah bambu untuk suling.”

“Engko Hai, aku ikut! Nanti di jalan kau ceritakan tentang siluman itu.”

“Jangan!”

“Aku mau! Aku tidak minta kaugendong, aku jalan dengan kaki sendiri!” anak perempuan itu berkeras hingga dengan muka “apa boleh buat”, Cin Hai lalu bertindak keluar, diikuti oleh Lin Lin yang sementara itu telah mengeluarkan topi kakeknya dan memakainya hingga dari belakang dan dari jauh ia kelihatan seperti seorang laki-laki. Memang anak dari Kwee-ciangkun sangat dimanja dan bebas hingga boleh pergi ke mana mereka suka tanpa ada yang berani mencegah.

Kedua anak itu berjalan dengan tindakan yang pendek-pendek tapi cepat menuju ke jalan yang kecil. Jalan itu mengarah ke utara, menuju ke luar kota di mana terdapat sebuah hutan besar juga. Di sepanjang jalan Cin Hai bercerita tentang pengalamannya siang tadi, dan ia menambahkan betapa dengan suara sulingnya ia mengusir semua ular siluman! Ia menambah-nambahi ceritanya dan menonjolkan diri sendiri sebagai jagoan hingga Lin Lin memandang padanya dengan matanya yang bagus itu setengah percaya dan kagum!

Memang di antara anak-ahak Kwee-ciangkun, yang tidak membenci kepada Cin Hai hanya Lin Lin seorang. Ini bukan berarti Lin Lin suka kepada Cin Hai, karena kalau mereka berdua dekat, sering mereka berbantah dan bercekcok membawa mau sendiri, tapi tidak sampai saling pukul atau saling membenci. Lin Lin memang sejak kecil telah memiliki sifat peramah dan suka bergaul serta mempunyai perangai yang halus. Pula anak ini sangat cerdas dan mempunyai bakat dalam ilmu silat hingga pada saat itu biarpun usianya belum lebih dari lima tahun, ia telah mempelajari dasar-dasar ilmu silat.

“Engko Hai, itu yang kita tuju sudah tampak. Hayo kita balapan lari ke sana!”

Cin Hai memandang Lin Lin dengan senyum mencemooh. Tapi ia menjawab juga, “Boleh, hayo kita mulai. Satu… dua… ti…ga!” Dan larilah ia secepatnya untuk mendahului Lin Lin. Ia ingin meninggalkan Lin Lin jauh-jauh agar ia dapat sampai di hutan lebih dulu dan menanti anak perempuan itu sambil mentertawakannya!

Tidak tahunya ketika ia menengok, ternyata Lin Lin telah lari di sebelahnya, bahkan perlahan-lahan tapi tentu mulai menyusulnya! Dan yang membuat ia heran adalah kedua kaki Lin Lin tampaknya begitu ringan dan langkahnya lebar dan tinggi! Kini Lin Lin telah mendahuluinya dan anak perempuan itu menengok sambil tersenyum manis tapi yang menyakiti hati Cin Hai karena dianggapnya senyum itu mengejeknya! Ia merapatkan gigi dan mempercepat larinya hingga benar-benar saja ia bisa menyusul lagi dan mereka lari berendeng.

Akan tetapi, tidak seperti kelihatannya, hutan yang di depan itu bukanlah dekat, tidak kurang dari setengah li jauhnya hingga ketika mereka tiba di hutan dengan berbareng Cin Hai membuka mulutnya dan dadanya turun naik karena ia terengah-engah bagaikan ikan dilempar di pasir panas! Sebaliknya, Lin Lin hanya mengeluarkan peluh di leher dan di dahinya, tapi napasnya biasa saja! Ini tidak mengherankan, karena anak perempuan itu sejak kecil telah dilatih oleh Tan-kauwsu (Guru Silat Tan) dan juga telah diberi latihan napas oleh ayahnya sendiri! Sedangkan Cin Hai hanya lari sekuatnya dan mempergunakan tenaganya tanpa disesuaikan dengan jalan napas, karena ia tidak pernah diberi latihan dasar pelajaran silat.

Biarpun merasa penasaran tidak dapat mengalahkan Lin Lin, namun Cin Hai terhindar dari rasa malu karena mereka tiba di hutan berbareng.

“Tidak kusangka, Lin Lin, larimu secepat kelinci!” katanya setelah napasnya pulih kembali.

Lin Lin tersenyum. “Dan larimu seperti kuda.” Keduanya tertawa.

“Di mana tempat bambu yang kau maksudkan itu?” tanya Lin Lin sambil memandang ke sekelilingnya takut-takut karena di hutan itu memang besar dan agak gelap karena matahari telah mulai turun.

“Di sebelah kiri sana, hayo!” Cin Hai mengajak kawannya.

Betul saja, tidak jauh dari situ terdapat rumpun bambu kuning gading yang bagus dan kecil-kecil serta lurus batangnya. Tapi tiba-tiba Cin Hai teringat bahwa ia tidak membawa pisau atau senjata tajam lainnya! Bagaimana ia harus mengambil itu? Sementara itu karena berada di bawah pohon-pohon besar, keadaan makin gelap hingga mereka menjadi cemas dan menyangka bahwa senja telah tiba. Cin Hai tidak berpikir panjang lagi, maju dan memegang batang bambu yang diinginkan lalu mencabut sekuat tenaganya.

Tapi sia-sia saja, karena bambu itu banyak sekali akarnya dan kuat pula. Jangankan tenaga seorang kanak-kanak seperti Cin Hai, biar seorang dewasa sekalipun belum tentu akan dapat mencabut sebatang bambu dari rumpunnya. Betapapun juga, Cin Hai mempunyai kemauan keras dan pantang mundur. Ia mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya ia berteriak kesakitan karena tangannya penuh bulu bambu yang gatal!

“Biarkan aku mencobanya,” kata Lin Lin. Ia ingat ketika ayahnya pernah memberi petunjuk kepadanya tentang dasar-dasar melatih sinkang dan ayahnya pernah mendemonstrasikan gerakan sinkang dan menendang sebatang pohon hingga pohon itu jebol berikut akar-akarnya.

Karena tangannya sudah gatal-gatal, Cin Hai mundur dan membiarkan Lin Lin mencoba. Ia menyangka bahwa anak perempuan itu tentu akar mencoba untuk mencabut seperti yang dilakukannya tadi, maka ia berkata memperingatkan, “Hati-hati, Lin Lin, banyak bulu-bulu gatal!”

Tapi alangkah herannya ketika Lit Lin tidak mencabut, tapi memasang kuda-kuda, lalu dengan berseru, “Haih!” anak itu menggunakan kaki kanan menyapu sebatang bambu! Batang bambu bergoyang-goyang dan dua helai daunnya rontok, tapi batangnya tidak dapat dijebolkan oleh tendangan Lin Lin tadi. Berkali-kali anak itu mencoba dengan kedua kakinya, tapi sia-sia.

Tiba-tiba terdengar seruan orang memuji, “Bagus betul!”

Lin Lin dan Cin Hai terkejut dan menengok. Ternyata tanpa mereka ketahui, di belakang mereka telah berdiri seorang tokouw (pendeta wanita) yang berwajah buruk sekali. Kulit muka tokouw itu hitam seperti pantat kuali, sedangkan pipinya telah kisut berkerut-kerut dan mata sebelah kanan buta. Tokouw itu pakaiannya panjang dan longgar berwarna putih dan di tangan kanannya terdapat sebuah hudtim (kebutan pertapa) yang berbulu panjang berwarna putih pula. Di punggungnya tampak gagang sebilah pedang.

Lin Lin dan Cin Hai terkejut melihat tokouw yang buruk rupa itu, sedangkan Lin Lin merasa agak takut.

“Bagus, anak yang manis. Siapakah yang mengajarmu menggunakan ilmu Gerakan Menyapu Ribuan Tiang itu tadi?”

Biarpun agak takut-takut Lin Lin menjawab juga, “Ayah yang mengajarku.”

“Bagus! Sekarang kaulihat ini!” Tokouw itu menggerakkan hudtim yang dipegangnya hingga ujung bulu hudtim yang hanya beberapa lembar itu, yaitu bulu yang terpanjang membelit beberapa batang bambu.

“Naik!” Tokouw itu berseru dan heran sekali, rumpun bambu dengan kurang lebih lima belas batang bambu itu dengan mengeluarkan suara keras jebol berikut akar-akarnya. Tokouw itu mengerakkan hudtimnya lagi dan rumpun bambu itu bagaikan dilontarkan oleh tenaga yang kuat sekali terlempar beberapa tombak jauhnya lalu roboh ke arah lain hingga daun-daunnya tidak menimpa mereka!

Lin Lin melongo, dan terheran-heran, sedangkan Cin Hai tak dapat ditahan lagi bertepuk tangan dan berseru, “Bagus! Bagus!” Ia tidak saja girang menyaksikan kehebatan tenaga ini, tapi juga girang karena bambu yang dikehendaki telah berada di situ, tinggal ambil saja!

“Nah, anak baik, sekarang kauturutlah padaku dan menjadi muridku!”

“Tidak mau, aku tidak mau!” Lin Lin berkata sambil melangkah mundur ketakutan.

Tokouw itu mengedikkan kepalanya dan mukanya yang buruk itu makin tampak mengerikan.

“Dengarlah, anak manis. Ribuan orang akan berlutut dan memohon-mohon di depanku untuk minta menjadi muridku. Tapi kau menolak begitu saja!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: