Pendekar Bodoh ~ Jilid 11

Biauw Suthai dan Pek I Toanio serta lain-lain tamu lalu berpamit dan meninggalkan rumah keluarga Kwee. Lin Lin dengan telaten sekali menjaga Cin Hai dan tidak menurut perintah ayahnya yang menyuruh ia mengaso. Melihat kebandelan anaknya ini, Kwee In Liang hanya menggeleng kepala dan menghela napas saja, lalu ia meninggalkan kamar itu dengan muka muram.

Benar seperti ucapan Biauw Suthai, setelah diberi makan obat pel itu, pada keesokan harinya Cin Hai siuman dari pingsannya. Pemuda ini merasa terharu melihat kebaikan Lin Lin yang sudah memelihara dan menjaganya selama itu. Diam-diam ia merasa bersyukur sekali dan cinta kasih yang bersemi di dalam hatinya terhadap Lin Lin makin mendalam dan berakar. Bibinya juga seringkali datang menengok, sedangkan pamannya biarpun tiap hari sedikitnya satu kali datang menjenguk, akan tetapi bersikap dingin. Sedangkan Kwee Tiong, Kwee Sin, Kwee Bun dan Kwee Siang tak pernah datang menengok. Hanya Kwee An yang sering datang dan tiap kali mereka bercakap-cakap, Kwee An selalu memuji-mujinya dan minta supaya kelak Cin Hai suka memberi petunjuk dalam ilmu silat kepadanya.

Pada hari ke tiga, Cin Hai keluar dari kamarnya dan mencari hawa sejuk di belakang rumah yang mempunyai sebuah taman yang luas dan indah. Ia teringat akan Ang I Niocu dan memikir dengan heran mengapa gadis itu pergi tanpa pamit. Ketika diberitahu oleh Lin Lin akan kepergian Ang I Niocu ia hanya merasa menyesal mengapa Gadis Baju Merah itu tidak memberitahukan kepergiannya sedangkan ia masih pingsan. Akan tetapi ia tidak kecewa. Ia tidak mengerti mengapa kini setelah berkumpul dengan ie-ienya dan dengan Lin Lin, kerinduannya terhadap Ang I Niocu lenyap. Ia tidak tahu bahwa dulu ia hidup sebatang kara dan hanya mempunyai teman Ang I Niocu, tetapi sekarang ia telah berada di rumah Loan Nio, bibinya yang sangat cinta kepadanya itu, dan di sini ada pula Lin Lin yang telah dapat merebut hatinya dengan diam-diam.

Ketika ia sedang duduk melamun, tiba-tiba terdengar suara merdu memanggilnya, “Engko Hai… Engko Hai…”

Cin Hai tersenyum. Ia mengenal baik suara Lin Lin, akan tetapi ia diam saja, bahkan ia lalu duduk di bawah sebatang pohon dalam taman itu. Akhirnya suara panggilan Lin Lin terdengar penuh kekhawatiran, maka hati Cin Hai menjadi tidak tega. Ia lalu menjawab, “Aku berada di sini!”

Lin Lin berlari-lari menghampiri dan wajah gadis ini menjadi merah, matanya bersinar, akan tetapi mulutnya cemberut.

“Engko Hai, engkau nakal sekali. Mengapa engkau diam saja dan bersembunyi di sini? Kukira engkau…”

“Kaukira apa?”

“Kukira engkau pergi tanpa pamit, seperti Ang I Niocu…” Lin Lin lalu menjatuhkan diri duduk di dekat Cin Hai.

“Kalau aku pergi, kenapakah?” “Kalau engkau pergi, aku… ahh… ah, Engko Hai jangan menanyakan yang bukan-bukan. Kau lupa belum menelan pil ini!” Gadis itu lalu mengeluarkan sebutir pil dari sakunya dan memberikan itu kepada Cin Hai.

Cin Hai menerima pil itu dan memandang wajah Lin Lin yang berada di dekatnya. “Lin Lin… kenapakah engkau… sebaik ini kepadaku…?” suara Cin Hai terdengar menggetar penuh perasaan.

Lin Lin membalas memandang dan ketika pandang mata bertemu dengan pandang mata Cin Hai, ia lalu menundukkan mukanya dengan wajah merah.

“Engkau jangan memandang aku seperti itu, Engko Hai…” katanya berbisik.

Cin Hai memegang tangan Lin Lin dan merasa betapa tangan dara itu menggigil. “Lin Lin, kenapakah? Kaupandanglah aku dan jawablah pertanyaanku tadi!”

Tetapi Lin Lin tidak berani memandangnya dan menyembunyikan mukanya di dada. “Aku… tidak berani, Hai-ko.”

“Lin Lin, kau aneh sekali. Mengapa tidak berani? Katakanlah…”

Tiba-tiba Lin Lin tertawa dan mencoba untuk merenggutkan tangannya yang terpegang akan tetapi tidak dapat. “Sudah, Engko Hai, jangan membikin aku merasa malu sekali. Telanlah piI itu!”

Lin Lin makin merasa malu dan kini tubuhnya menggigil. “Sudahlah, Engko Hai lepaskan tanganku dan telanlah pil itu!” katanya memohon.

“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku. Cintakah kau padaku?”

“Engkau nakal sekali, Engko Hai!”

“Jawablah dulu!”

Dengan tersenyum kemalu-maluan dan matanya yang indah mengerling tajam Lin Lin mengangguk!

Bukan main senangnya Cin Hai melihat pengakuan gadis ini. “Lin Lin, kini hidup ini berarti bagiku. Alangkah indahnya dunia ini. Lihatlah pohon-pohon itu menari-nari girang menyaksikan kebahagiaan kita!”

“Ah, pohon itu bergerak karena tertiup angin!” bantah Lin Lin.

“Dan daun-daun itu, melambai-lambai kepada kita. Burung-burung itu pun bernyanyi karena hendak ikut menyatakan kebahagiaan mereka! Lin Lin, kau sungguh membuat aku berbahagia sekali. Adikku, aku… aku cinta kepadamu…”

“Sudahlah, kautelan pil itu!” kata Lin Lin cemberut, tapi hatinya berdebar-debar karena gembira dan bahagia.

“Baiklah, akan kutelan. Tapi kau jangan cemberut, karena kalau kau marah dan cemberut wajahmu menjadi makin manis dan aku takkan dapat menelan pil pahit ini!”

“Kau… kau memang nakal!” Lin Lin berkata sambil mencubit lengan pemuda itu. Cin Hai lalu menelan pil itu dan merasa betapa lukanya telah tak terasa lagi sakitnya. Ia lalu mengeluarkan sulingnya.

“Lin Lin aku akan melagukan sebuah nyanyian indah untukmu.”

Cin Hai lalu meniup sulingnya dan karena ia mencurahkan seluruh perasaannya yang mencinta di dalam tiupan suling itu maka terdengarlah suara suling yang indah merayu dan merdu sekali hingga Lin Lin meramkan matanya, karena di dalam suara suling itu, ia seakan-akan mendengar pernyataan cinta kasih Cin Hai kepadanya!

Setelah Cin Hai selesai meniup sulingnya, dengan mata basah Lin Lin berkata, “Terima kasih, Hai-ko, aku telah mendengar suara hatimu. Memang engkau semenjak dulu baik sekali kepadaku. Ingatkah kau betapa dulu kau mati-matian melawan Guruku untuk membelaku? Ah, aku tidak dapat melupakan semua kejadian itu!”

Cin Hai memandang wajah Lin Lin dengan tersenyum.

“Ha, kau mengingatkan akan hal-hal dahulu. Dulu kau seorang anak perempuan yang berkuncir dua, yang nakal, bengal, dan bandel!” Cin Hai tertawa dan matanya memandang penuh menggoda.

Lin Lin cemberut. “Dan kau… kau… ah, lucu sekali…”

“Aku kenapa…?” Cin Hai menuntut.

“Engkau buruk rupa, kepalamu gundul penuh kudis, dan engkau bodoh… dan nakal…” Lin Lin tertawa geli dan Cin Hai lalu berdiri menangkapnya, tetapi Lin Lin lebih cepat, karena gadis ini telah berdiri dan lari. Cin Hai mengejarnya sambil berkata,

“Awas, kalau kena tangkap, kucubit bibirmu yang nakal itu!” Lin Lin berlari memutari pohon dan kembang, Cin Hai mengejar dan mereka berkejar-kejaran bagaikan dua orang anak kecil, begitu gembira, begitu mesra dan penuh bahagia. Tiba-tiba Kwee Tiong muncul dari pintu belakang dan dengan wajah tak senang ia berkata, “Lin Lin Ayah memanggilmu!” Tanpa menengok kepada Cin Hai, Kwee Tiong lalu masuk kembali ke dalam rumah. Lin Lin memperlihatkan wajah kecewa, akan tetapi Cin Hai berkata,

“Pergilah, Lin-moi! Ie-thio tentu ada hal penting maka ia memanggilmu.”

Lin Lin lalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Cin Hai yang duduk melamun dengan penuh kebahagiaan.

Ketika tiba di kamar ayahnya, Lin Lin melihatnya ayahnya duduk seorang diri dengan muka muram. Begitu melihat anak gadisnya masuk, ayah ini serta merta menegur,

“Lin Lin sikapmu sungguh tidak patut dan memalukan!”

Lin Lin terkejut dan memandang kepada ayahnya dengan heran, “Ada apakah, Ayah?”

“Engkau bergaul terlalu dekat dengan Cin Hai, hal ini tidak patut sekali.”

Lin Lin tahu bahwa ayahnya ini tentu telah mendapat laporan-laporan dari Kwee Tiong.

“Ayah, apakah salahnya kalau aku bergaul dengan Engko Hai? Bukankah ia keluarga kita sendiri dan bukankah ia seorang pemuda yang baik dan gagah serta telah menolong kita?” jawabnya dengan berani.

“Betul, akan tetapi engkau harus ingat bahwa engkau telah dewasa dan ia seorang pemuda dewasa pula. Tidak patut kalau engkau berlaku terlalu manis dengan dia. Apa akan kata orang luar kalau melihat?”

“Ayah, mengapa engkau berkata demikian?” Lin Lin bertanya dengan marah. “Engko Hai adalah seorang pemuda baik dan sopan. Aku… aku suka bergaul dengan dia!” Memang semenjak dulu Lin Lin sangat dimanja oleh ayahnya hingga ia berani bersikap bandel terhadap ayah ini.

“Lin Lin.” Kwee In Liang menghela napas. “Engkau harus taat kepadaku dalam hal ini. Engkau sudah cukup dewasa dan setiap saat akan ada orang yang datang melamarmu. Engkau harus memutuskan hubunganmu dengan Cin Hai dan jangan engkau bertemu dengan dia kalau tidak ada keperluan penting.”

“Ayah!” Gadis itu berseru.

“Diam!! Engkau harus menurut, atau… apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang puthauw (tidak berbakti)??”

Dibentak seperti ini, Lin Lin menundukkan kepala dan menangis!

“Ayah, kau… kau kejam!” katanya dan ia lalu melarikan diri menuju ke kamarnya, di mana ia membantingkan dirinya di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.

Tak lama kemudian, Loan Nio masuk ke kamar itu dengan tindakan perlahan. Ia memeluk tubuh gadis itu dan berbisik mesra,

“Lin Lin, aku telah tahu akan kemarahan Ayahmu. Anakku, apakah… kau suka kepada Cin Hai? Jawabnya terus terang, anakku, bagaimana kalau aku mengajukan usul kepada Ayahmu agar kau dan Cin Hai… di… jodohkan? Setujukah kau?”

Lin Lin tersentak bangun dan menyusut air mata. Ia memandang kepada Loan Nio dengan mata terbelalak. Tak pernah terpikir olehnya tentang perjodohan dengan Cin Hai, maka pertanyaan yang tiba-tiba datangnya ini membuatnya bingung dan malu. Kemudian, sambil terisak ia memeluk ibu tirinya dan menangis lagi.

“Lin Lin.” kata Loan Nio sambil mengusap-usap rambut gadis itu, “kepadaku tak perlu kau menyimpan rahasia hatimu. Kalau kau tidak setuju, katakanlah! Kalau kau diam saja, maka akan kuanggap bahwa kau setuju, dan sekarang juga aku akan bicara dengan Ayahmu.” Lin Lin diam saja, hanya tubuhnya bergoyang-goyang karena menahan isak tangisnya!

“Sudahlah, tenangkan hatimu dan serahkan persoalan ini kepadaku.” Setelah menepuk-nepuk bahu Lin Lin, nyonya yang baik hati ini lalu meninggalkan kamar Lin Lin dan menuju ke kamar suaminya.

Lin Lin adalah seorang gadis yang berhati keras dan bersemangat. Ia tak dapat menahan sabar menanti hasil daripada pembicaraan ibu tirinya dengan ayahnya, maka setelah menanti sebentar, lalu ia menggunakan kepandaiannya meloncat keluar dari jendela kamarnya, lalu dengan hati-hati sekali ia mengintai di atas genteng dan mengintai ke bawah, di mana ayahnya sedang bercakap-cakap dengan Loan Nio!

Ketika Cin Hai dengan hati girang sekali masuk ke dalam rumah untuk memasuki kamarnya, tiba-tiba telinganya yang tajam dapat menangkap lapat-lapat suara Kwee In Liang seperti orang sedang marah. Maka ia lalu mengambil jalan memutar, keluar lagi ke belakang dan mempergunakan kepandaiannya melompat ke atas genteng. Alangkah herannya ketika ia mendapatkan Lin Lin sedang mengintai pula, maka diam-diam ia menyelinap ke tempat lain dan mengintai dari bagian lain. Ia tidak perlu mengintai, hanya mempergunakan ketajaman telinganya untuk mendengarkan.

“Tidak, tidak, sekali-kali tidak!” kata kata Kwee In Liang keras-keras dan dengan suara marah. “Memang ia seorang yang cukup baik dan cukup gagah, akan tetapi orang jaman dahulu pernah berkata bahwa memilih mantu harus melihat keadaan orang tuanya. Dan apakah orang tua anak itu? Pemberontak! Apa kau pikir aku harus berbesan dengan pemberontak?”

“Tapi ayahnya telah meninggal dunia dan tidak perlu kiranya kita membawa-bawa namanya!” terdengar Loan Nio membantah.

“Hem, macan mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan namanya! Dan nama apakah yang ditinggalkan oleh orang she Sie itu! Nama busuk pula!”

“Pikirlah dengan tenang. Cin Hai berbeda dengan ayahnya, ia seorang anak yang baik. Juga mereka berdua telah saling mencintai!”

“Apa?” terdengar Kwee In Liang berseru marah. “Saling cinta? Bagaimanakau bisa tahu?”

“Lin Lin sudah mengaku kepadaku!”

“Anak keparat! Tidak, tidak boleh! Ia harus meniadi mantu keluarga Gan di See-tok, dan habis perkara!”

Kedua suami isteri yang sedang bertengkar ini tidak tahu betapa di atas genteng terdapat dua orang yang pada saat itu berwajah pucat sekali. Air mata mengalir turun membasahi pipi Lin Lin dan hatinya terasa bagaikan diremas-remas. Sedangkan Cin Hai berdiri pucat dan air matanya mengalir pula, tetapi bukan karena sedih, hanya sakit hati mendengar betapa ayahnya dan keluarganya dipandang hina dan rendah sekali. Sakit hatinya yang dulu, yang telah dapat dipadamkan ketika ia bertemu kembali dengan ie-ienya dan terutama dengan Lin Lin, kini timbul kembali. Ayahnya sekeluarga telah ditangkap oleh Kwee In Liang, dan kini bahkan dihinanya lagi! Ayahnya yang telah menjadi tanah itu masih direndahkan!

Timbul keangkuhan dan kemarahan di dalam hati Cin Hai. Kalau saja ia tidak ingat kepada Lin Lin, tentu ia telah meloncat turun dan menyerbu Kwe In Liang yang berani merendahkan ayahnya!

Dengan hati terluka, Cin Hai meloncat turun dan langsung menuju ke kamarnya, mengambil semua pakaiannya dan segera keluar dari situ. Akan tetapi, ketika keluar dari rumah itu, Lin Lin yang berada di atas genteng sambil menangis, dapat melihatnya. Cepat gadis ini meloncat turun pula dan mengejar sambil berseru,

“Hai-ko… kau hendak ke mana…?” Mendengar suara panggilan Lin Lin, Cin Hai mengeraskan hatinya dan tanpa menengok lagi ia mempercepat larinya!

Akan tetapi, karena serangan batin yang hebat itu dan karena nafsu marahnya menggelora, maka luka di dadanya yang belum sembuh betul itu lalu pecah kembali dan tiba-tiba ia merasa betapa dadanya sesak dan panas! Cin Hai mempertahankan rasa sakit ini dan lari terus sedangkan Lin Lin tetap mengejar sambil menangis dan berteriak-teriak.

“Engko Hai… tunggu… Engko Hai…”

Setelah hampir dua puluh li jauhnya, Cin Hai merasa tak kuat lagi. Hari mulai gelap dan kebetulan sekali ia melihat sebuah kuil di pinggir jalan. Ia lalu membelok ke situ dan seorang hwesio tua menyambutnya.

“Losuhu, tolonglah beri sebuah kamar kepadaku. Aku sedang terluka dan tolong kaucegah siapa saja yang memasuki kamarku.”

Hwesio yang baik hati ini membawa Cin Hai ke sebuah kamar di mana terdapat sebuah pembaringan bambu sederhana. Cin Hai lalu menutup kamar itu dan duduk di atas pembaringan lalu bersamadhi untuk melawan rasa sakit di dadanya.

Lin Lin yang tidak tertinggal jauh karena selain ia memiliki ilmu berlari yang cukup cepat, juga karena sakit di dada Cin Hai membuat pemuda itu agak lambat larinya, dapat cepat menyusul dan gadis ini girang sekali ketika melihat bahwa Cin Hai memasuki kuil itu. Ia juga masuk ke dalam kuil dan disambut oleh hwesio tua tadi.

“Losuhu, di manakah perginya orang tadi? Aku ingin bertemu dengan dia!”

Hwesio itu dengan muka sabar berkata, “Duduklah dulu, Nona. Tuan tadi telah berpesan bahwa siapa pun tidak boleh bertemu dengan dia.”

Tetapi Lin Lin menjadi tidak sabar. “Orang lain tak boleh bertemu dengan dia, tetapi aku harus bicara dengan dia!” kata-katanya ini dikeluarkan dengan suara keras sekali.

“Tak baik memaksa orang yang tidak mau bertemu muka, Nona,” kata hwesio tadi dengan masih sabar. Dan kata-kata ini membangkitkan keangkuhan Lin Lin, maka ia berkata.

“Kalau tidak mau bertemu, biarlah aku bicara dari luar kamarnya saja!”

Karena gadis ini mendesak terus, akhirnya hwesio itu terpaksa mengantarkan Lin Lin ke kamar Cin Hai.

“Engko Hai…!” Suara Lin Lin mengandung isak ketika ia memanggil dari luar kamar.

Semenjak Lin Lin datang, Cin Hai sudah mendengar suaranya, dan pemuda ini menahan gelora hatinya yang ingin sekali keluar dan bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi hatinya berbisik, “Ayahnya telah menghina Ayahku!”

Maka ia lalu menjawab dari dalam,

“Lin Lin, ada apakah kau mengejarku? Bukankah kau sudah mendengar sendiri kata-kata Ayahmu tadi?”

Hwesio itu meninggalkan mereka karena ia maklum bahwa gadis ini benar-benar mempunyai hubungan dengan orang di dalam kamar.

“Hai-ko, jangan kausamakan Ayah dengan aku!” kata Lin Lin dengan suara memohon.

“Sudahlah Lin-moi, kaupulanglah karena Ayahmu tentu akan marah sekali kalau tahu kau menyusul ke sini. Pulanglah dan biarkan aku orang rendah ini merana seorang diri. Lupakan aku, aku tidak berharga di hadapan keluarga Kwee yang terhormat. Ingat, aku seorang keturunan pemberontak hina!”

“Engko Hai…!” Lin Lin menangis sedih dan dengan nekat ia lalu mendorong daun pintu kamar Cin Hai. Ia melihat betapa pemuda itu dengan muka pucat rebah di pembaringan bambu dan keadaannya menyedihkan sekali karena pipi pemuda itu basah oleh air mata!

“Engko Hai…!” Lin Lin menubruk dan gadis ini menangis tersedu-sedu sambil mendekap kaki Cin Hai yang tertutup selimut.

Melihat keadaan gadis kekasihnya yang benar-benar menyatakan cinta hati yang tulus kepadanya ini, hati Cin Hai melunak.

“Lin-moi… Lin-moi… jangan kau bersedih, Adikku yang manis…” katanya dengan penuh kasih sayang.

Lin Lin menyusut kering air matanya dan di antara air mata yang membasahi bulu mata yang panjang dan bagus ia tersenyum. Hatinya girang lagi mendengar suara Cin Hai yang penuh kasih sayang itu.

“Kalau kau tidak ingin aku menangis, janganlah kau membenciku dan jangan kau pergi meninggalkan aku, Engko Hai.”

Cin Hai merasa terharu sekali. “Adikku, percayalah, selama hayat dikandung badan, aku takkan sanggup membenci kau. Aku akan tetap mencintaimu, mencinta dengan sepenuh hati dan nyawa.”

Lin Lin memandang dengan sayu. “Hai-ko… kaumaafkanlah kata-kata Ayahku. Dia memang kejam… ah, akan kukatakan terus terang kepadanya. Aku tidak sudi dijodohkan dengan orang lain, lebih baik aku mati atau… atau… aku akan minggat dan pergi bersama kau, Engko Hai.”

Cin Hai tersenyum sedih. “Jangan begitu, Lin Lin. Tak baik seorang gadis gagah dan berbudi seperti engkau melarikan diri.”

“Habis, bagaimanakah baiknya, Haiko? Ayah begitu keras hati dan kukuh.”

“Puterinya begini keras hati dan kukuh, mengapa ayahnya tidak?” Cin Hai menggoda. “Kita harus bersabar. Aku tahu bahwa ayahmu bukan seorang jahat, maka biarlah kita menunggu sampai ia berubah pendirian dan tidak begitu membenciku.”

“Ayah tidak membencimu, tetapi agaknya membenci Ayahmu.”

Cin Hai menghela napas. “Itulah! Aku ingin sekali mengetahui riwayat Ayahku. Sekarang kau pulanglah agar kemarahan Ayahmu mereda. Percayalah, Lin Lin, aku takkan melupakanmu dan pada suatu hari baik, pasti aku akan datang kembali”

Lin Lin mengangkat mukanya. “Kau akan pergi ke mana, Hai-ko?”

“Aku hendak pergi ke kampung kelahiranku dan hendak mencari keterangan tentang orang tuaku.”

“Tetapi… kau pasti akan kembali kepadaku, bukan?”

“Tentu saja, Lin-moi, kaukira aku akan merasa senang berjauhan dengan engkau?”

Lin Lin kembali memeluk lutut Cin Hai yang masih rebah di pembaringan. “Hai-ko, kalau kau tidak kembali, aku akan betul-betul minggat dari rumah dan akan mencarimu sampai dapat!”

Akhirnya Lin Lin meninggalkan tempat itu setelah berkali-kali Cin Hai diharuskan berjanji bahwa pemuda itu betul-betul akan kembali. Akan tetapi belum lama gadis itu pergi, tiba-tiba ia kembali lagi dengan wajah pucat sekali. Dengan terengah-engah ia berkata setelah mendorong pintu kamar Cin Hai. “Celaka, Hai-ko, celaka…!” Gadis itu tak dapat melanjutkan kata-katanya akan tetapi lalu menangis dengan sedih.

Cin Hai meloncat dari tempat tidurnya dan cepat memegang kedua pundak Lin Lin. “Lin-moi, tenanglah. Ada apakah yang terjadi?”

Lama sekali Lin Lin menangis sedih, baru dia bisa berkata,

“Celaka, Hai-ko! Rumah telah kedatangan musuh, perwira-perwira jahanam itu datang dan mencelakakan serumah tanggaku! Semua terluka dan… dan Ayah…”

Tanpa banyak cakap lagi Cin Hai lalu menarik tangan Lin Lin dan diajak keluar dari kuil itu. Ia menggunakan kepandaiannya berlari cepat sambil menarik tangan Lin Lin hingga gadis ini seakan-akan terbang. Mereka menuju ke rumah keluarga Kwee dan dari jauh mereka telah mendengar suara tangis sedih.

Ketika Lin Lin datang bersama Cin Hai, Kwee Tiong dengan pedang di tangan lalu menyerang Lin Lin dengan hebat. Akan tetapi, sekali layangkan kakinya, Lin Lin telah berhasil menendang pergelangan tangan Kwee Tiong dan pedang itu mencelat jauh.

“Perempuan rendah! Sundal tak tahu malu!” teriak Kwee Tiong dengan mata beringas. “Engkau main gila di luar, tak tahu di rumah ditimpa malapetaka! Aku akan mencekik lehermu dengan tanganku sendiri!” Pemuda yang sudah kalap ini lalu menubruk maju, akan tetapi Cin Hai lalu mengulurkan jari tangan menotoknya hingga ia roboh dengan lemas, tak dapat berkutik maupun berteriak lagi.

“Lebih baik begini, agar dia jangan membuat gaduh lagi,” kata Cin Hai dan bersama Lin Lin ia lalu lari memasuki rumah.

Pemandangan yang nampak di dalam rumah itu membuat kedua kaki Cin Hai terasa lemas dan memeluk tubuh Kwee In Liang yang rebah di lantai mandi darah! Di sudut masih nampak banyak orang lain rebah mandi darah, di antaranya Loan Nio, Kwee Sin, Kwee Bun, Kwee Siang, dan Kwee An!

Cin Hai cepat melakukan pemeriksaan, Kwee In Liang menderita luka parah di dadanya karena bacokan pedang dan jiwanya sukar ditolong lagi. Loan Nio ternyata telah tewas karena bacokan yang tepat mengenai lehernya. Juga Kwee Sin, Kwee Bun dan Kwee Siang telah tewas. Hanya Kwee An yang masih bisa diharapkan karena biarpun ia menderita luka parah di pundak, akan tetapi tubuh pemuda ini jauh lebih kuat daripada saudara-saudaranya. Sungguh peristiwa yang mengerikan sekali. Cin Hai tak tahan dan ikut mengucurkan air mata. Ia mengangkat jenazah-jenazah itu dengan baik-baik dan memanggil para pelayan untuk membantu. Kemudian ia lalu menolong Kwee An dan Kwee In Liang. Setelah menotok jalan darah dan mengurut pundak Kwee An, pemuda ini siuman, akan tetapi sangat lemah hingga setelah terbelalak memandang dengan liar untuk mencari-cari musuh-musuhnya, ia lalu rebah lagi dengan lemas dan meramkan mata.

Kwee An lalu dirawat oleh seorang pelayan yang memberi obat dan membalut luka pemuda itu, sedangkan Lin Lin dan Cin Hai menolong Kwee In Liang. Setelah diurut pundaknya oleh Cin Hai, orang tua ini membuka kedua matanya. Untuk beberapa lama kedua matanya memandang sayu seakan-akan tidak dapat mengenal keadaan di sekelilingnya, akan tetapi lambat laun pemandangan matanya makin terang hingga ia dapat mengenal Cin Hai dan Lin Lin. Ia menggerak-gerakkan kedua tangan dan menyuruh kedua anak muda itu mendekat, lalu ia menggerak-gerakkan bibirnya.

Lin Lin dan Cin Hai mendekatkan kepala mereka untuk dapat menangkap kata-kata orang tua ini.

“Lin Lin kaujaga baik-baik dirimu… aku tidak kuat lagi… Cin Hai, kau… kau… balaskan sakit hati ini… jangan kaukawini Lin Lin sebelum kaubalaskan sakit hati ini”

Cin Hai dan Lin Lin mengangguk-angguk dan Lin Lin menangis terisak-isak. “Cin Hai… kau berjanjilah…” suara orang tua itu makin lemah.

“Aku berjanji Ie-thio!” kata Cin Hai dengan sungguh-sungguh, karena ia merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk membalas sakit hati bibinya yang terbunuh secara kejam.

“Aku aku puas… balaskanlah sakit hati ini, basmi anjing-anjing itu… kalau sudah berhasil kau betul-betul mantuku yang baik…” setelah berkata demikian, orang tua ini menghembuskan napas terakhir. Lin Lin menubruk jenazah ayahnya dan jatuh pingsan! Setelah sadar, ia menangis dengan sedih sekali dan menjambak-jambak rambutnya sendiri karena merasa menyesal mengapa kejadian itu terjadi di luar tahunya!

“Sudahlah, Lin-moi, engkau bahkan harus bersukur bahwa engkau tidak berada di rumah. Karena kalau berada di rumah, tentu engkau pun akan menjadi korban. Kwee An yang begitu lihai pun dapat dirobohkan. Kalau engkau dan semua menjadi korban, siapakah yang akan dapat membalas dendam?”

Karena hiburan-hiburan Cin Hai, Lin Lin dapat menenteramkan hatinya. Kwee Tiong lalu dibebaskan totokannya dan dengan kata-kata tajam Cin Hai berhasil mengusir kemurkaan yang menggelora di dada pemuda itu. Kemudian Kwee Tiong menuturkan peristiwa yang hebat itu.

Ketika Cin Hai dan Lin Lin sedang berkejar-kejaran, datanglah serombongan perwira Sayap Garuda menuju ke rumah keluarga Kwee. Mereka ini adalah lima orang perwira yang dulu mengganggu pesta keluarga Kwee. Kini mereka datang bersama tiga orang tua, yakni dua orang perwira Sayap Garuda lain yang menjadi anggauta daripada Santung Ngo-hiap, yakni orang pertama dan ke dua, sedangkan yang ke tiga adalah seorang hwesio gundul yang bukan lain adalah Hai Kong Hosiang adanya!

KEDATANGAN mereka ini sebenarnya hendak mencari Cin Hai untuk menebus kekalahan mereka yang lalu, akan tetapi karena Cin Hai tidak berada di situ, mereka lalu mengamuk membabi buta dan membunuh semua keluarga Kwee! Tentu saja Kwee In Liang dan putera-puteranya melawan dengan nekad, terutama Kwee An dengan gagah berani menahan serbuan mereka. Dengan pertempuran hebat ini, Kwee An dapat melukai beberapa orang perwira, akan tetapi lawan itu terlampau banyak dan terlampau tangguh terutama Hai Kong Hosiang, hingga akhirnya semua kena dirobohkan! Hanya pelayan-pelayan saja yang tidak dibunuh, sedangkan Loan Nio sendiri pun dengan nekad menyerbu hingga dirobohkan dengan bacokan pedang, Kwee Tiong yang bersifat pengecut dan licin, melihat kehebatan rombongan itu, cepat melarikan diri dan bersembunyi hingga ia terhindar daripada kebinasaan!

Mendengat penuturan Kwee Tiong yang tiada hentinya mencela dan mempersalahkan Cin Hai dan Lin Lin, gadis itu kembali menangis tersedu-sedu,

“Sudahlah, Saudara Kwee Tiong, jangan kau mempersalahkan adikmu lebih jauh. Ketahuilah sebenarnya aku pergi memang dengan sengaja dan tidak ada maksudku untuk kembali lagi. Sedangkan Adik Lin Lin menyusulku dengan maksud membujuk supaya aku kembali lagi, jangan kau menyangka yang tidak-tidak. Sekarang lebih baik kita urus pemakaman jenazah-jenazah ini dan nanti kalau Kwee An sudah sadar, kita bisa mendengar penjelasan-penjelasan dari padanya.

Karena ia hanya mengandalkan tenaga Cin Hai untuk membalas dendam akhirnya Kwee Tiong tidak mengomel lagi dan membantu merawat jenazah-jenazah itu dengan sedih.

Setelah sadar dari pingsan dan agak kuat bercakap-cakap, Kwee An dengan air mata berlinang dan gigi dikertak karena sakit hati, berkata kepada Cin Hai. “Aku bersumpah untuk membalas dendam ini! Mereka itu adalah kelima perwira yang dulu mengacau di sini ditambah tiga orang lagi, yakni orang pertama dan ke dua dari Santung Ngo-hiap, dan yang ke tiga adalah Hai Kong Hosiangl!”

“Hm, aku pernah bertemu dengan hwesio itu!” kata Cin Hai. “Kautenangkanlah hatimu, Saudaraku. Besok aku berangkat dan demi kehormatanku, aku akan berusaha untuk membasmi delapan orang bangsat kejam itu!”

“Jangan Cin Hai! Kau jangan berangkat besok, tidak boleh!” Tiba-tiba Kwee An berkata penuh semangat.

“Kenapa?”

“Kaukira aku akan enak saja tinggal diam sedangkan orang lain hendak mengadu jiwa untuk membalas dendam ini? Tidak, dendam ini harus kubalas sendiri!”

Cin Hai tersenyum maklum. “Baiklah, aku akan menanti sampai sembuh dan kita akan pergi bersama!” Setelah mendapat jawaban ini barulah Kwee An merasa lega dan ia lalu jatuh pulas.

Dengan telaten Cin Hai dan Lin Lin menjaga dan melayani Kwee An dan Lin Lin bahkan minta bantuan gurunya untuk mengobati kakaknya ini. Biauw Suthai ikut merasa berduka dan gemas serta berjanji akan membantu usaha pembalasan sakit hati itu.

Dua pekan kemudian, berkat pengobatan Biauw Suthai dan perawatan yang sangat telaten dari Lin Lin dan Cin Hai, Kwee An sembuh kembali dari pada lukanya yang dideritanya. Setelah melihat bahwa Kwee An sembuh dan kuat kembali, barulah Cin Hai mengajak pemuda itu berangkat untuk mencari musuh-musuh mereka.

Ketika mereka hendak berangkat, Lin Lin minta supaya ia dibawa dan ikut membalas dendam. Sebenarnya gadis ini merasa berat sekali untuk berpisah dengan Cin Hai yang amat dicintainya dan ia tidak rela melepas pemuda itu pergi untuk menghadapi bahaya seorang diri. Akan tetapi ketika mereka berdua bicara di dalam ruang belakang Cin Hai berkata,

“Lin Lin, kau sendiri tahu betapa pentingnya perjalanan yang akan kulakukan bersama Kwee An ini. Bukan saja penting akan tetapi sangat berbahaya maka biarkanlah aku pergi berdua dengan Kwee An dan jangan kau ikut menghadapinya.”

Lin Lin menyemberutkan mulutnya, “Justru karena penting dan berbahaya inilah maka aku harus ikut Engko Hai. Urusan sakit hati ini langsung menjadi tugasku, mengapakah aku harus takut menghadapi bahaya karenanya? Dan kalau memang ada bahaya, apa kaukira aku dapat enak-enak saja berpeluk tangan tinggal di rumah dan membiarkan engkau dan Engko An pergi menempuhnya? Ah, Hai-ko engkau tahu bahwa aku akan menderita karena khawatir dan cemas memikirkan nasibmu berdua. Biarkan aku ikut, Engko Hai!”

Cin Hai menjadi serba salah. Ia memang harus membenarkan pendapat gadis ini akan tetapi kepandaian gadis ini masih belum cukup tinggi untuk menghadapi perwira-perwira Sayap Garuda yang lihai dan kejam itu. Kalau gadis ini dibiarkan ikut, bukan dapat membantu usaha pembalasan sakit hati, sebaliknya akan menambah beban saja, karena ia harus melindungi Lin Lin yang ia cinta.

“Jangan engkau ikut, Adikku yang manis. Tidak percayakah engkau kepadaku? Engkau mendengar sendiri pesan terakhir Ayahmu, dan biarkan tugas pembalasan dendam itu menjadi syarat bagiku untuk dapat menjadi… suamimu!”

Akan tetapi dengan sikap bandel Lin Lin bahkan lalu menangis sambil membanting-banting kaki dan berkata, “Tidak… tidak… aku mau ikut…!”

Cin Hai melihat sikap Lin Lin yang seperti seorang anak kecil hendak ditinggal pergi oleh ibunya ini, lalu tersenyum dan menyentuh pundaknya,

“Sudahlah jangan engkau marah. Biar kita merundingkan dulu dengan kakakmu dan Gurumu, karena aku bermaksud berangkat besok. Masih banyak waktu bagi kita untuk merudingkan persoalan ini.”

Maka mereka lalu mengadakan perundingan dengan Biauw Suthai dan Kwee An. Juga Pek I Toanio yang sering berkunjung ke situ ikut pula merundingkan hal ini.

“Lin Lin, muridku, pendapat Sie Taihiap memang betul. Engkau tak usah ikut pergi, karena kepandaianmu belum cukup untuk melakukan pembalasan dendam ini. Ketahuilah, kepandaian musuh-musuhmu amat tinggi dan sama sekali bukan lawanmu.”

“Akan tetapi aku sama sekali tidak takut!” jawab Lin Lin sambil berdiri dengan kedua tangan dikepalkan dan kedua mata bernyala penuh semangat.

Biauw Suthai dan yang lain-lain tersenyum melihat sikap gadis ini. “Aku percaya penuh akan ketabahanmu,” kata Biauw Suthai, “akan tetapi, ketahuilah, bukan soal takut dan berani yang terpenting dalam hal ini. Kalau engkau ikut, maka tidak saja engkau takkan membantu, bahkan akan menambah beban kepada Sie-taihiap dan kakakmu Kwee-kongcu.”

“Menambah beban?” kata Lin Lin penasaran “Teecu tidak minta digendong, teecu sanggup berjalan sendiri, dan mereka berdua ini tak usah pedulikan teecu asal teecu boleh ikut.”

“Lin Lin, engkau sungguh bodoh,” kata gurunya. “Bukan demikian maksudku, akan tetapi apabila terjadi pertempuran, maka tentu engkau akan terancam dan hal ini merupakan tambahan tugas yang lebih berat bagi kedua anak muda ini yang harus melindungimu. Mengertikah engkau? Apakah engkau akan senang apabila pembalasan dendam ini sampai gagal hanya karena ikutmu?” .

Mendengar alasan yang kuat ini, Lin Lin diam saja dan tak dapat menjawab, hanya mulutnya yang berbentuk manis itu cemberut menandakan kekecewaan hatinya. Akhirnya ia dapat dibujuk oleh Pek I Toanio dan gurunya membatalkan keinginannya.

Setelah mendapat pesan dari Biauw Suthai, Pek I Toanio, Lin Lin, dan juga Kwee Tiong yang mendengarkan perdebatan itu diam saja, maka berangkatlah Cin Hai dan Kwee An. Mereka berdua tahu ke mana harus mencari musuh-musuh mereka, yakni ke kota raja! Mereka berdua berangkat berjalan kaki saja dan mempergunakan kepandaian mereka berlari cepat.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sudah pergi Lin Lin berlari masuk ke dalam kamarnya. Biauw Suthai menggeleng-gelengkan kepala melihat ini dan ia lalu berkata kepada Pek I Toanio,

“Anak itu kecewa karena ditinggal pergi oleh Sie-taihiap! Benar-benar anak panah asmara telah tertancap di hatinya, dan selain itu, ia pun merasa bersedih karena merasa sunyi ditinggal seorang diri oleh mereka berdua. Kaupergilah, hiburlah hatinya dan katakan bahwa kami akan tinggal di sini untuk sementara waktu dan menemaninya.”

Sambil tersenyum maklum, Pek I Toanio lalu mengejar Lin Lin ke dalam kamarnya dan ia mendapatkan gadis itu sedang berbaring telungkup di atas tempat tidur dan tubuhnya bergoyang-goyang karena menahan isak tangisnya! Kakak seperguruan yang sangat mencintai sumoinya ini lalu memeluk pundaknya dan berkata menghibur,

“Sumoi, seorang gadis gagah seperti engkau tidak patut bersikap begini lemah.”

Lin Lin bangun dan duduk di dekat sucinya, “Suci aku tidak sedih karena tidak boleh ikut pergi, akan tetapi sedih karena yang menyebabkan aku tidak dapat ikut adalah kedangkalan ilmu silatku.”

“Sumoi, kalau begitu, mengapa sementara menanti mereka kembali kau tidak memperdalam ilmu silatmu? Ketahuilah, aku dan Suthai akan tinggal di sini menemanimu untuk sementara waktu.”

Tiba-tiba wajah gadis yang muram itu berubah terang dan ia tersenyum! Pek I Toanio menjadi geli melihat gadis yang aneh mudah berubah ini. Baru saja menangis sekarang sudah tersenyum.

Lin Lin lalu menghadap kepada gurunya dan ia sendiri mengatur dua buah kamar di dalam rumah yang besar itu untuk suci dan gurunya. Kemudian ia minta kepada gurunya untuk memberi petunjuk-petunjuk untuk memperdalam ilmu silatnya. Ia berlatih giat sekali karena ia pikir bahwa untuk mengimbangi Cin Hai yang berilmu tinggi, ia harus mempertinggi kepandaiannya pula!

Pada suatu sore ia berlatih silat di dalam pekarangan belakang sambil mendengarkan petunjuk-petunjuk Biauw Suthai yang berdiri memandang gerakan-gerakannya. Setelah selesai bersilat Lin Lin lalu duduk bercakap-cakap dengan Biauw Suthai.

“Suthai, bagaimana pendapatmu tentang ilmu silat Engko Hai?”

“Ilmu silat Sie Taihiap sudah mencapai tingkat yang tidak dapat diukur tingginya, muridku. Ia telah mewarisi kepandaian tunggal dari Gurunya yakni Bu Pun Su yang luar biasa. Biarpun anak muda itu tidak memperlihatkannya, akan tetapi sebenarnya ia telah memiliki segala inti sari ilmu silat dan mendapat gemblengan yang hebat secara aneh dari Bu Pun Su orang tua sakti itu.”

“Suthai, apakah teecu bisa mendapat kemajuan sampai setinggi tingkatnya?”

Biauw Suthai tertawa dan wajahnya yang menyeramkan itu kini nampak gembira. “Muridku, kepandaian manusia tidak ada batasnya dan asalkan orang mau berusaha, tentu ia akan mencapai tujuannya. Akan tetapi untuk dapat memiliki kepandaian silat seperti Sie-taihiap orang harus memiliki bakat dan jodoh dengan guru yang luar biasa seperti Bu Pun Su.”

“Dan sampai di mana tingkat kepandaian Ang I Niocu?” tiba-tiba Lin Lin bertanya.

“Dia? Ah, kepandaiannya pun hebat, karena sesungguhnya ilmu kepandaiannya dan ilmu kepandaian Sie-taihiap adalah secabang. Ketahuilah, kalau aku tidak salah, Ang I Niocu adalah cucu murid dari Bu Pun Su karena Kakek itu adalah susiok-couwnya. Dalam hal ilmu silat, biarpun Ang I Niocu memiliki gerakan yang indah dan lebih matang, akan tetapi ia masih kalah setingkat oleh Sietaihiap.”

“Suthai, teecu ingin sekali mencoba kepandaian Ang I Niocu. Agaknya teecu takkan kalah melawan dia,” entah mengapa tiba-tiba suara Lin Lin terdengar marah dan sengit karena perasaan cemburu telah menyerang hatinya. Gurunya heran mendengar ini, dan tiba-tiba Biauw Suthai yang berkepandaian tinggi dapat mendengar suara tindakan kaki yang ringan sekali di belakang mereka ketika nenek ini mengerling, ternyata Ang I Niocu telah berada di belakang mereka, bersembunyi di balik sebatang pohon.

“Wanita itu agaknya sombong dan sangat bangga akan kecantikannya. Coba saja Suthai ingat kembali betapa ia berlagak ketika memperlihatkan kepandaiannya dulu itu.”

“Lin Lin, kalau belum tahu jelas, jangan suka menyangka yang tidak-tidak terhadap orang lain. Pula, bukankah ia telah membantu pihakmu dalam pertempuran dulu itu?” kata Biauw Suthai yang merasa tidak enak sekali karena tentu saja Ang I Niocu dapat mendengar percakapan mereka.

“Suthai, teecu tidak menyangka yang tidak-tidak, karena teecu juga tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dia kecuali… karena ia… kawan baik Engko Hai, maka ia pun boleh kuanggap sebagai kawan. Akan tetapi, kalau ia tidak sombong, mengapa ia pergi diam-diam dan tanpa pamit? Ia menjadi kawan baik Engko Hai, akan tetapi ketika Engko Hai terluka, mengapa ia tidak peduli bahkan meninggalkannya pergi?”

“Sudahlah Lin Lin, kau membicarakan seorang yang berdiri tidak jauh dari kita!” kata Biauw Suthai, lalu nenek ini berpaling dan berkata, “Niocu, silakan duduk!”

Ang I Niocu keluar dari belakang pohon itu dan Lin Lin cepat berdiri dan memandang kepada Dara Baju Merah itu dengan mata terbelalak. Ia merasa heran sekali ketika melihat betapa wajah Ang I Niocu pucat sekali dan dari kedua mata yang bagus itu keluar dua titik air mata yang masih menetes di atas pipinya.

Akan tetapi, ketika pandangan matanya bertemu dengan Lin Lin, bibir Ang I Niocu mengeluarkan senyum sedih. “Adikku yang baik, kata-katamu semua benar belaka. Memang aku seorang yang sombong dan bodoh. Adikku, aku maklum akan isi hatimu, jangan kau khawatir. Hai-ji dan aku hanya… hanya kawan baik dan kawan senasib belaka…” Dara Baju Merah itu memejamkan mata seakan-akan menahan rasa sakit yang menyerang dadanya, kemudian ia berkata lagi, kini suaranya terdengar tegas, “Akan tetapi, dalam hal kepandaian, agaknya kau masih harus belajar banyak untuk dapat mengimbangi kepandaianku, apalagi kalau hendak menyamai ilmu kepandaian Hai-ji. Kau tadi menyatakan keinginanmu hendak mencoba ilmu silatku, bukan? Nah, marilah kita main-main sebentar!”

Lin Lin memang berhati tabah, sedikit pun ia tidak menjadi jerih ia lalu menarik keluar belati pendek yang menjadi senjata ampuh baginya. Biauw Suthai hendak mencegah, akan tetapi Ang I Niocu menghadapi nenek ini sambil berkata dan menjura,

“Suthai, aku bukan anak kecil lagi, jangan Suthai salah sangka. Aku hanya bermaksud menambah pengertiannya dan kepandaian Adik ini.”

Mendengar ucapan dan melihat sikap Ang I Niocu, Biauw Suthai menarik napas lagi, ia hanya menggerakkan tangannya kepada Lin Lin dan berkata. “Lin Lin, jangan kau berlaku kurang ajar kepada tamu dan belajarlah baik-baik dari Ang I Niocu!”

Ang I Niocu lalu menghunus pedangnya dan berkata kepada Lin Lin,

“Nah, kaumaju dan seranglah, Adikku yang baik, dan jangan kau berlaku sungkan-sungkan lagi.”

Lin Lin adalah seorang gadis yang masih muda sekali dan belum mempunyai banyak pengalaman. Hatinya masih keras dan tabah, maka ketika mendengar ucapan Ang I Niocu, ia merasa bahwa ia disindir dan dipandang ringan. Maka tanpa mengeluarkan kata-kata lagi ia lalu menyerang dengan belatinya. Ang I Niocu mengelak cepat dan keduanya lalu bertempur seru. Senjata Lin Lin yang berupa belati pendek itu membuat gerakan tangannya cepat sekali jauh lebih cepat daripada gerakan pedang. Lagipula, gadis ini telah mendapat didikan ilmu silat semenjak kecil oleh Biauw Suthai yang berilmu tinggi, maka dapat dimengerti bahwa gadis ini telah memiliki kepandaian yang lumayan dan tak mudah dikalahkan oleh sembarang orang. Selain memiliki ilmu silat tinggi, juga tubuhnya ringan sekali dan gerakannya gesit bagaikan seekor burung walet.

Akan tetapi sekarang ia menghadapi Ang I Niocu yang selain memiliki kepandaian tinggi, juga telah memiliki pengalaman luas daripada Lin Lin. Juga, kalau Lin Lin bertempur dengan bernafsu sekali, adalah Ang I Niocu menghadapinya dengan tenang. Nona Baju Merah ini memainkan pedangnya sambil mengeluarkan ilmu Pedang Tari Bidadari yang indah dan lihai. Tubuhnya bergerak-gerak perlahan dan lemah gemulai, pedangnya berkelebat cepat dan dapat menangkis setiap serangan Lin Lin yang makin bernafsu melancarkan serangan-serangan hebat. Ang I Niocu sengaja berlaku mengalah dan lebih banyak mempertahankan diri daripada menyerang. Ia membiarkan Lin Lin melakukan serangan bertubi-tubi dan hanya menggunakan sedikit gerakan untuk menangkis atau mengelak, hingga ia hanya sedikit mengeluarkan tenaga, sedangkan Lin Lin bagaikan seekor naga yang muda dan ganas menyambar-nyambar dengan belatinya!

Lama juga mereka saling mengeluarkan kepandaian. Lin Lin terus mengejar dan Ang I Niocu mengelak dan mempertahankan diri. Peluh telah membasahi wajah Lin Lin yang menjadi kemerah-merahan dan kedua matanya yang indah itu bersinar-sinar galak, sedangkan Ang I Niocu tetap saja bermain dengan tenang. Rambut Ang I Niocu yang diikat dengan saputangan merah dan terurai ke belakang itu berkibar dalam gerakannya, sedangkan rambut Lin Lin yang hitam dan panjang serta dikuncir dua menyabet ke sana ke mari bagaikan dua ekor ular hitam.

Biauw Suthai berdiri menonton pertempuran itu dengan kagum. Karena asyiknya ia menonton, Biauw Suthai tak terasa lagi kadang-kadang menggerak-gerakkan tangan seakan-akan ia sendiri yang sedang bertempur menghadapi Ang I Niocu. Kalau Lin Lin membuat kesalahan dalam gerakannya, ia menjadi kecewa dan membanting-banting kakinya, sedangkan kalau Lin Lin melepaskan kesempatan baik dalam sebuah penyerangan, ia menjadi marah dan mengeluarkan suara dengan lidahnya. Orang tua ini benar lupa diri karena asyik dan kagumnya melihat pertempuran itu.

Sebetulnya Ang I Niocu hanya hendak mengukur saja sampai dimana kepandaian gadis itu. Maka setelah puas melayani Lin Lin, tiba-tiba ia merubah gerakannya dan kini melancarkan serangan-serangan hebat hingga pedangnya berkelebat cepat dan bayangan tubuhnya bergulung-gulung karena cepatnya gerakannya. Lin Lin terkejut sekali dan terdesak hebat. Akan tetapi Ang I Niocu tidak mau menyerang terus, bahkan lalu melompat ke belakang sambil berkata,

“Adik, sudah cukup kita mengukur tenaga.”

Lin Lin merasa kagum sekali. Kini ia tahu bahwa kepandaian Ang I Niocu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri dan tahu pula bahwa Nona Baju Merah itu tidak bermaksud buruk. Maka buru-buru ia simpan belatinya dan menghampiri Ang I Niocu.

“Cici, kepandaianmu lihai sekali dan aku mohon engkau sudi memberi petunjuk.”

Ang I Niocu ketika mendengar kata-kata ini dan melihat sikap yang polos dari Lin Lin, timbul perasaan sukanya. Ia memegang Lin Lin, dan berkata, “Adik Lin Lin, engkau masih harus belajar banyak kalau ingin mengimbangi kepandaian Hai-ji”

Ketika melihat betapa wajah gadis ini tertutup oleh kedukaan, ia bertanya, “Adik Lin Lin, mengapa wajahmu nampak murung? Bagaimana dengan keluargamu, baik-baik saja bukan?”

Ternyata Ang I Niocu sama sekali tidak tahu akan peristiwa hebat yang menimpa keluarga Kwee, oleh karena ketika rasa cemburu dan iri hati merusak hatinya hingga membuat ia angkat kaki dan pergi tanpa pamit dulu, ia lalu menjauhkan diri dari dusun itu dan hendak melanjutkan perantauannya. Telah dicobanya dengan berkeras hati untuk melupakan Cin Hai, akan tetapi ternyata ia gagal. Makin dilupa, makin ia teringat kepada pemuda itu dan akhirnya ia tak dapat menahan hatinya lagi. Ia teringat betapa Cin Hai mendapat luka dan ia menjadi kuatir sekali. Inilah yang membuat ia kembali ke kampung itu dan dengan diam-diam masuk pekarangan belakang hingga mendengar percakapan antara Lin Lin dan Biauw Suthai.

Ketika mendapat pertanyaan dari Ang I Niocu tentang keluarganya, tak tertahan lagi Lin Lin lalu memeluk Nona Baju Merah itu sambil menangis keras dan sedih. Ang I Niocu menjadi bingung, akan tetapi ketika ia memandang ke arah Biauw Suthai, nenek tua ini memberi isyarat kepadanya hingga ia hanya mengelus-elus kepala Lin lin yang disandarkan di dadanya.

“Adikku yang baik. Tenangkanlah hatimu dan mari kita bicara dengan baik.” Ia lalu menuntun Lin Lin ke dalam rumah menurut isyarat yang diberikan oleh Biauw Suthai.

Kwee Tong dan Pek I Toanio menyambut Ang I Niocu yang dalam pandangan matanya tidak beda seperti seorang bidadari! Maka Kwee Tiong lalu menyuruh pelayan mengeluarkan hidangan dan ia melayani tamunya dengan hormat dan bermuka-muka. Akan tetapi Ang I Niocu yang telah tahu akan sifat pemuda macam Kwee Tiong ini, tidak ambil peduli kepadanya dan bersikap seolah-olah pemuda ini tidak ada.

Ketika mendengar penuturan Lin Lin tentang bencana yang menimpa keluarga Kwee, wajah Ang I Niocu menjadi merah karena ia merasa marah sekali.

“Jahanam benar perwira-perwira itu! Dan Hai Kong Hosiang selalu ikut campur dalam urusan-urusan busuk. Pendeta palsu itu sudah seharusnya dibasmi dari muka bumi!” Sambil mengepal-ngepal tangannya Ang I Niocu menyatakan perasaannya. “Dan bagaimana dengan luka kakakmu? Di mana adanya dia dan di mana Hai-ji?” tanyanya kepada Lin Lin.

“Mereka telah pergi lima hari yang lalu, untuk mencari musuh-musuh kami itu dan membalas dendam!”

Ang I Niocu mengangguk. “Dan kau sendiri, Adik Lin, mengapa kau tidak ikut pergi?” Pertanyaan ini mengandung dua maksud, pertama-tama karena ia memang merasa heran mengapa Lin Lin tidak mau ikut membalaskan sakit hati orang tuanya. Kedua kalinya karena ia hendak memancing dan menyelidiki sampai di mana hubungan antara gadis ini dengan Cin Hai.

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Lin Lin menjadi marah dan cemberut. “Inilah yang menyesalkan hatiku! Mereka itu tidak mau membawaku serta! Sungguh menggemaskan!”

Pek I Toanio ikut bicara dan membela Cin Hai, “Sie-taihiap tidak mau membawa Sumoi oleh karena memang kalau Sumoi ikut, maka usaha membalas dendam itu akan lebih sukar lagi.”

“Kepandaian Lin Lin belum cukup tinggi menempuh bahaya besar itu,” Kata Biauw Suthai dengan sabar. “Dan lagi, kalau Lin Lin pergi, aku akan ditinggal seorang diri di rumah, bagaimana kalau penjahat-penjahat itu datang kembali?” kata Kwee Tiong yang tak sadar bahwa ucapan ini menunjukkan sifatnya yang pengecut.

Ang I Niocu tersenyum memandang Lin Lin. “Kau benar, Adikku. Tidak ada bahaya bagi seorang anak yang hendak membalaskan sakit hati orang tuanya.” Lin Lin memandangnya dengan berterima kasih karena ternyata Nona Baju Merah ini membela dan membenarkannya. Pada saat ia hendak menyatakan kemenangannya kepada guru dan sucinya, Ang I Niocu yang tidak mau berbantah dengan Biauw Suthai telah berkata pula,

“Akan tetapi betapapun juga, kau harus tunduk kepada nasihat Gurumu.” Ucapan ini membuat Lin Lin menunduk dan tidak jadi membuka mulut. Akan tetapi di dalam hati ia merasa tertarik dan suka sekali kepada Ang I Niocu. Dengan sangat ia membujuk-bujuk agar wanita itu suka bermalam di rumahnya. Yang lain ikut membujuk pula hingga akhirnya Ang I Niocu menyatakan setuju. Lin Lin gembira sekali dan ia menarik tangan Ang I Niocu ke kamarnya, karena ia tidak mau berpisah dengan nona ini dan minta Ang I Niocu bermalam di dalam kamarnya saja.

Dan pada keesokan harinya, ternyata Lin Lin telah pergi dari rumah itu bersama Ang I Niocu. Gadis ini dengan sangat mernbujuk kepada Ang I Niocu untuk membawanya pergi menyusul Cin Hai. Biauw Suthai hanya menggeleng-geleng kepalanya dan berkata kepada Pek I Toanio,

“Muridku, biarpun keselamatan Lin Lin tak perlu dikhawatirkan karena ia pergi bersama Ang I Niocu, akan tetapi hatiku merasa tidak tenteram. Lebih baik kita pergi mencari mereka itu untuk membantu apabila mereka berada dalam bahaya.”

Keduanya lalu berpamit kepada Kwee Tiong yang menjadi kecewa dan khawatir sekali. “Kalau Lin Lin pergi dan jiwi pergi pula, habis kalau sampai terjadi apa-apa di rumah ini, aku harus berbuat apa?”

Pek I Toanio mendongkol sekali melihat sikap pemuda yang penakut ini, maka katanya dengan ketus, “Kongcu, mengapa memiliki hati sedemikian kecilnya? Adik-adikmu pergi dengan nekad mencari musuh, akan tetapi engkau yang ditinggal di rumah seorang diri saja merasa takut.”

Akan tetapi Biauw Suthai yang tak mau banyak bicara dengan pemuda ini berkata, “Kwee-kongcu, kalau engkau merasa takut, kaupergi saja kepada Suhumu dan tinggal di rumah kuil.” Kemudian guru dan murid ini meninggalkan Kwee Tiong tanpa memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk banyak membantah. Kwee Tiong lalu menutup pintu rumahnya, menghentikan semua pelayan yang membantu rumah keluarga Kwee dan ia pergi ke Tiang-an lalu menemui gurunya, yaitu Tong Gak Hosiang di kelenteng Ban-hok-tong, di mana ia berlutut sambil menangis dan menceritakan segala hal ihwalnya kepada pendeta itu.

Tong Gak Hosiang hanya bisa menghela napas, dia lalu menasihati muridnya untuk berdiam saja untuk sementara waktu di kelenteng itu.

Setelah melakukan perjalanan cepat tanpa berhenti, Cin Hai dan Kwee An tiba di kota raja. Di sepanjang perjalanan, kedua anak muda ini menuturkan pengalaman masing-masing dan Kwee An merasa kagum sekali akan hasil yang diperoleh Cin Hai, anak yang ketika kecilnya gundul yang selalu dihina orang itu. Ia makin suka kepada Cin Hai dan sepanjang perjalanan tiada hentinya ia minta petujuk-petunjuk dan nasihat-nasihat tentang persilatan. Dengan melihat permainan silat Kwee An saja, Cin Hai dapat melihat kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya hingga ia dapat memberi petunjuk yang benar-benar sangat berguna bagi Kwee An dan berdasarkan petunjuk ini, ilmu silat Kwee An menjadi lebih sempurna lagi.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: