Pendekar Bodoh ~ Jilid 12

Di kota raja mereka berdua mencari keterangan dan mendengar bahwa asrama kaum perwira Sayap Garuda adalah sebuah bangunan besar merupakan benteng yang disebut Eng-hiong-koan atau Penginapan Para Pendekar. Dengan tabah dan berani sekali Cin Hai dan Kwee An pada keesokan harinya, pagi-pagi telah mengunjungi Eng-hiong-koan dan memberitahukan kepada penjaga bahwa mereka ingin menemui para perwira Sayap Garuda.

“Kami adalah kenalan-kenalan baik dari Ma-ciangkun dan lain-lain perwira, terutama kelima Santung Ngo-hiap.”

“Sayang sekali bahwa sekarang para perwira sedang mengadakan pertemuan besar hingga kurasa tak sempat menjumpai kalian berdua,” jawab penjaga itu.

“Pertemuan apakah?” tanya Cin Hai.

“Di dalam gedung sedang diadakan pemilihan tiga orang perwira yang hendak diangkat menjadi kepala perwira istana dan menjadi pengawal pribadi Kaisar,” jawab penjaga itu. Akan tetapi penjaga kedua yang tidak suka melihat kawannya mengajak kedua pemuda itu mengobrol, lalu berkata,

“Kamu berdua boleh datang lagi besok pagi saja. Pendeknya pada saat itu tak seorang pun boleh memasuki En-hiong-koan.”

Kwee An dan Cin Hai merasa mendongkol sekali. Mereka saling pandang dan saling memberi tanda dengan kejapan mata. Keduanya bergerak cepat dan hampir berbareng mereka mengulur tangan menotok kedua penjaga itu yang segera roboh dengan tubuh lemas karena tertotok jalan darah mereka oleh Cin Hai dan Kwee An! Dengan tenang kedua pemuda gagah ini lalu bertindak masuk. Mereka langsung ke ruang belakang di mana terdengar suara orang bersorak dan tanpa jerih sedikit pun mereka lalu melangkah masuk dari sebuah pintu yang besar dan tinggi.

Ternyata ruang belakang itu amat luas dan di tengah ruang itu telah terdapat sebuah panggung karena memang ruang ini merupakan ruang berlatih silat atau lian-bu-thia. Kurang lebih tiga puluh orang perwira duduk mengitari panggung itu, dan di kepala panggung duduk seorang hwesio gundul yang bertubuh tinggi kurus, dan di sebelahnya duduk beberapa orang perwira tua yang kelihatannya merupakan perwira-perwira tingkat tinggi. Juga Ma Ing nampak duduk di sebelah hwesio itu.

Pada saat itu, memang sedang diadakan pertandingan adu silat di antara para perwira yang dicalonkan untuk menjadi pemimpin perwira penjaga istana. Pemilihan ini dilakukan atas perintah kaisar sendiri yang minta supaya tiga orang panglima yang berkepandaian tinggi dan lihai untuk menjadi pengawal pribadi di dalam istana. Siapa orangnya yang tidak mau mencoba peruntungannya dengan kesempatan ini? Menjadi pengawal pribadi kaisar adalah sebuah pekerjaan yang enak dan mulia.

Pemilihan ini dilakukan dan diawasi oleh hwesio tinggi kurus itu yang sebenarnya adalah hwesio kepala dalam Kuil See-thian-tong yang menjadi kuil di lingkungan istana dan yang biasanya dikunjungi kaisar. Selain menjadi kepala hwesio di kuil raja itu, juga hwesio yang bernama Beng Kong Hosiang ini diangkat pula menjadi penasihat para perwira, ini kedudukan yang tinggi, karena sebenarnya hwesio ini bukan lain ialah suheng atau kakak seperguruan dari Hai Kong Hosiang yang sudah terkenal kelihaiannya.

Di bawah pengawasan Beng Kong Hosiang, maka telah diadakan pemilihan dan para perwira itu mengadu kepandaian untuk merebut kedudukan itu. Pada saat Cin Hai dan Kwee An memasuki ruangan itu, dua orang perwira Sayap Garuda sedang bergumul di atas panggung dan semua perwira yang menonton bersorak-sorak gembira, juga Beng Kong Hosiang, Ma Ing dan perwira lain yang dianggap tertua dan terpandai, menikmati pertandingan itu hingga mereka tidak melihat masuknya pemuda ini.

Cin Hai berbisik kepada Kwee An dan keduanya lalu menggenjot tubuh mereka melalui kepala para perwira lalu melompat ke atas panggung di mana dua orang perwira itu sedang mengadu kepandaian.

Dengan gerakan ringan dan cepat, Cin Hai dan Kwee An masing-masing memegang seorang perwira pada lehernya dan melemparkan mereka ke bawah panggung seakan-akan orang melempar ayam saja!

Semua orang terkejut, tak terkecuali Beng Kong Hosiang. Ketika Ma Ing melihat siapa yang datang mengacau, ia menjadi pucat karena ia telah mengenal Cin Hai yang telah dirasai kelihaiannya itu.

Cin Hai lalu memandang ke sekeliling dan keadaan di situ sunyi senyap karena semua orang masih tercengang melihat peristiwa yang tak disangka-sangka itu. Siapakah orangnya yang berani mati mengacau di dalam Eng-hiong-koan pada saat perwira-perwira mengadakan pemilihan, bahkan pada saat Beng Kong Hosiang berada di situ? Mungkin setan pun berani mengacau maka tindakan kedua orang pemuda itu sungguh-sungguh membuat mereka tercengang dan terheran!

“Cuwi-ciangkun (para panglima yang terhormat), kedatangan kami berdua bukan sengaja hendak mengacau dan kami sebenarnya tidak mempunyai urusan sesuatu dengan Eng-hiong-koan ini. Akan tetapi karena musuh-musuh kami berada di sini, terpaksa kami datang juga. Kini kami minta supaya para musuh besar kami itu suka tampil ke muka dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang biadab!”

Semua orang merasa heran mendengar ini dan mereka tercengang melihat ketenangan anak muda itu. Yang tidak tahu akan persoalannya saling pandang dan angkat pundak. Melihat keberanian ini, Beng Kong Hosiang tertawa terkekeh-kekeh karena ia memandang rendah sekali kepada kedua orang itu, maka katanya dengan suaranya yang tinggi nyaring,

“Eh, anak-anak muda yang berani mati! Siapakah musuh-musuhmu itu?”

Sekarang Kwee An yang menjawab dengan suaranya yang halus nyaring,

“Musuh-musuh kami adalah si pengecut Boan Sip, kedua saudara Tan Song dan Tan Bu, kelima kawanan yang disebut Santung Ngohiap Ma Ing, Un Kong Sian dan tiga saudaranya yang lain, dan yang terakhir seorang hwesio keparat bernama Hai Kong Hosiang. Manusia-manusia biadab yang namanya kusebutkan itu kalau berada di tempat ini harap maju untuk menerima kematian!”

Semua orang terkejut, tak terkecuali Beng Kong Hosiang. Alangkah beraninya kedua pemuda itu. Orang-orang yang namanya mereka sebut adalah perwira-perwira kelas tinggi, bahkan Ma Ing dan Un Kong Sian mendapat tempat duduk di deretan Beng Kong Hosiang karena mereka itu telah dianggap perwira-perwira yang tinggi kedudukan dan kepandaiannya, demikian pula tiga orang saudara seperguruannya dan yang kesemuanya berjumlah lima orang dan disebut Santung Ngohiap. Lebih-lebih lagi nama terakhir, yakni Hai Kong Hosiang, karena hwesio ini adalah sute (adik sepergurunan) dari Beng Kong Hosiang sendiri!

Musuh-musuh besar yang namanya disebutkan tadi semua berada di situ, kecuali Boan Sip dan Hai Kong Hosiang. Biarpun wajah mereka menjadi berubah ketika nama-nama mereka disebut, tetapi karena berada di rumah sendiri dan mempuyai banyak kawan-kawan, terutama adanya Beng Kong Hosiang di situ membuat mereka tabah dan berani. Secara otomatis Tan Song dan Tan Bu lalu berdiri dan menghampiri kelima saudara Santung Ngohiap yang duduk di dekat Beng Kong Hosiang. Juga lima jago dari Santung itu yakni Ma Ing, Un Kong Sian, dan tiga orang lain yang belum pernah dilihat Cin Hai, berdiri dari kursinya hingga ketujuh orang ini berkelompok untuk menghadapi kedua musuh itu.

Sebetulnya nama Santung Ngohiap memang telah terkenal sekali. Urutan mereka adalah seperti berikut: yang pertama Lauw Tek, ke dua adalah adiknya Lauw Houw. Kedua saudara inilah yana dulu ikut membasmi keluarga Kwee. Orang ke tiga adalah seorang tua yang berwajah sabar dan bernama Ma Keng In, dan dia ini adalah satu-satunya orang dari kelima jago dari Santung yang tidak pernah memusuhi keluarga Kwee dulu, akan tetapi karena ia juga menjadi anggauta Santung Ngohiap, maka otomatis ia pun ikut berdiri dan bersatu dengan saudara-saudara seperguruannya. Orang ke empat dan ke lima adalah Ma Ing dan Un Kong Sian. Melihat kepandaian orang ke empat dan ke lima saja yang demikian hebatnya seperti terbukti ketika Un Kong Sian dan Ma Ing memperlihatkan kepandaian di rumah keluarga Kwee dulu, maka dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian Ma Keng In, Lauw Houw dan Lauw Tek!

Demikianlah, kelima Santung Ngohiap itu dan kedua saudara Tan Song dan Tan Bu setelah berdiri merupakan satu kelompok, lalu Ma Ing membuka suara,

“Eh, dua anjing pemberontak muda! Kami bertujuh ada di sini, kalian mau apa?”

Sambil berkata demikian, ia bergerak maju menuju ke panggung itu, diikuti oleh enam orang lainnya. Sambil maju, mereka meloloskan senjata masing-masing. Juga para perwira yang merasa marah sekali melihat kedatangan dua orang muda yang mengacau ini, pada bergerak mendekati panggung hingga Cin Hai dan Kwee Ang seakan-akan hendak dikeroyok oleh puluhan orang perwira Sayap Garuda itu!

Cin Hai memandang ke arah mereka dengan senyum sindir. “Hem, hm, tidak kusangka bahwa selain menjadi manusia-manusia biadab yang kejam, juga para perwira Sayap Garuda yang terkenal ganas ternyata hanyalah sekumpulan pengecut yang hanya berani main keroyokan. Ha-ha, kalian majulah!” Sambil berkata demikian, tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang pusaka Liong-coan-kiam telah berada di tangannya! Juga Kwee An telah bersiap sedia dan ia mencabut pedangnya yang juga bukan pedang sembarangan. Mereka telah mengambil keputusan untuk bertempur dengan nekad dan mengadu jiwa.

Tiba-tiba terdengar bentakan Beng Kong Hosiang, “Tahan!” Dan tahu-tahu hwesio yang tinggi kurus ini telah berada di atas panggung, mendahului semua perwira dan ia menghadapi kedua pemuda itu dengan sikap yang angkuh.

“Tidak malukah kalian?” tegurnya kepada semua perwira yang bergerak maju. “Untuk menangkap dua ekor cacing saja kalian hendak menggunakan tongkat besar? Cuwi-ciangkun, jangan kau bikin malu kepada pinceng!”

Memang ucapan Beng Kong Hosiang ini beralasan sekali. Ia terkenal sebagai penasihat para perwira dan terkenal sebagai seorang yang amat disegani dan ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi. Sekarang tempat itu dikacau oleh dua orang pemuda, masakan para perwira hendak mengeroyoknya, seakan-akan kehadirannya itu tidak ada artinya sama sekali! Ia telah melihat gerakan kedua orang tadi ketika melompat ke atas panggung dan ia maklum bahwa di antara kedua pemuda ini, yang harus diawasi adalah Cin Hai, sedangkan pemuda yang ke dua itu tidak berbahaya.

Mendengar bentakan Beng Kong Hosiang semua perwira menahan gerakan mereka dan hanya berdiri memandang kepada pemuda itu dengan mata mengancam.

Beng Kong Hosiang tertawa. “Anak-anak muda, kalian ini siapakah dan murid siapa hingga berani sekali mengganggu tempat kediaman kami?”

“Aku bernama sie Cin Hai dan ini adalah Kwee An,” jawab Cin Hai dengan suara tenang karena ia belum kenal siapa sebetulnya hwesio tua ini. “Kedatangan kami ini tidak ada hubungannya dengan orang lain, kecuali orang-orang yang namanya telah disebut tadi. Mereka itu secara kejam sekali telah membunuh keluarga Kwee dan kami sengaja datang untuk menuntut balas!”

“Hem, mereka itu dibunuh karena mereka telah memberontak dan berani menghina perwira-perwira kerajaan. Kalian memiliki kepandaian apakah berani mengacau di sini? Ketahuilah, anak-anak muda, perbuatanmu ini saja sudah cukup menjadi alasan untuk menghukum kalian!”

“Kami hanya ingin membasmi orang-orang yang menjadi musuh-musuh kami dan untuk itu kami bersedia menghadapi siapa saja!” berkata Kwee An dengan marah karena ia dapat menduga bahwa hwesio ini tentulah orang yang berpengaruh di kalangan perwira Sayap Garuda.

“Ha, ha, ha! Kau seperti anak-anak burung yang baru belajar terbang, tidak tahu sampai di mana tingginya langit dan luasnya lautan! Lauw Tek-ciangkun, marilah kau dan pinceng menghadapi dua ekor cacing-cacing tanah ini!” Beng Kong Hosiang berlaku cerdik. Dia tidak mau kalau pihaknya disebut curang dan main keroyokan, akan tetapi ia pun tidak menghendaki pihaknya mendapat kekalahan, maka ia sengaja memanggil Lauw Tek yaitu saudara tertua dari Santung Ngohiap atau perwira yang pada saat itu hadir di situ. Ia maklum bahwa kepandaian Lauw Tek cukup tinggi untuk menghadapi Kwee An, sedangkan untuk menghadapi Cin Hai, dia sendiri hendak maju memperlihatkan kepandaiannya!

Sambil tersenyum Lauw Tek menggerakkan tubuh dan melompat ke atas panggung menghadapi Kwee An. Ia lalu menuding dan berkata kepada pemuda itu,

“Dulu kau masih kuberi ampun hingga jiwamu tidak sampai melayang, apakah karena itu kau merasa menyesal dan sekarang sengaja datang untuk mengantar jiwa?”

Kwee An mengenal orang ini sebagai seorang di antara mereka yang menyerbu rumahnya, maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan pedangnya dan menusuk dengan gerakan Rajawali Mematuk Ikan sambil tersenyum menyindir Lauw Tek menggerakkan pedangnya menangkis dan mereka berdua lalu bertempur hebat.

“Ha, ha, anak muda, sambutlah hidanganku yang pertama!” kata Beng Kong Hosiang dan ia mengebut dengan ujung lengan baju yang lebar dan panjang ke arah jalan darah kin-hun-hiat di dada Cin Hai. Sambaran ini hebat dan kuat, akan tetapi dengan tenang Cin Hai lalu miringkan tubuhnya mengelak dan tahu-tahu pedangnya membabat ke arah pergelangan tangan Beng Kong Hosiang ini! Hampir saja lengan tangan Beng Kong Hosiang terbabat putus oleh Liong-coan-kiam. Hwesio ini terkejut sekali karena ia tidak menyangka sama sekali akan kehebatan Cin Hai, maka tadi ia berlaku lambat. Harus diketahui bahwa serangannya dalam kebutan ujung lengan baju tadi bukanlah serangan yang sembarangan saja dan baru angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan yang kuat, akan tetapi ternyata penuda ini dengan miringkan tubuhnya ke kiri sudah dapat mengelak serangannya. Bagaimana pemuda ini tahu bahwa arah kebutan lengan bajunya memutar ke kanan hingga dengan mudah ia dapat berkelit ke kiri?

Ia mengebut lagi, kini dengan tipu Dewa Mabok Menyiram Arak. Gerakan ini dilakukan dengan ujung lengan baju kanan dan mula-mula langsung meluncur ke depan ke arah muka lawan, akan tetapi gerakan ini hanya untuk mengaburkan pandangan lawan belaka, karena gerakan yang sesungguhnya ialah secepat kilat ujung lengan baju itu diputar ke arah pergelangan orang yang memegang pedang untuk merampas pedang lawan itu! Akan tetapi, lagi-lagi ia terkejut bahkan mukanya menjadi berubah ketika Cin Hai mendiamkan saja ujung lengan baju yang mengebut ke arah mukanya karena ujung lengan baju itu memang tidak diteruskan dan kini terputar cepat ke arah pergelangan tangannya. Cin Hai menggerakkan lengan tangannya dan pedangnya menyabet ke bawah hingga tak ampun lagi ujung lengan baju itu terbabat putus!

Bukan main terkejut dan marahnya Beng Kong Hosiang. Tadinya ia mengira bahwa dalam satu dua gebrakan saja ia akan dapat merobohkan lawan yang muda ini. Tidak tahunya, serangannya dalam dua jurus itu tidak menghasilkan sesuatu bahkan ia sendiri menderita rugi karena ujung lengan baju yang merupakan senjata baginya itu telah terbabat putus! Dengan muka terheran-heran ia mengeluarkan senjata yang luar biasa, yaitu sebuah pacul yang bergagang bengkok dan mata pacul itu tajam juga lebar sekali. Akan tetapi anehnya gagang pacul itu dapal dilipat dua dan oleh karena itu setelah dilipat menjadi pendek dan dapat diselipkan di pinggangnya.

Sambil membentak hebat, Beng Kong Hosiang mengayunkan pukulannya dan menyerang dengan cepat. Gerakannya aneh sekali seperti seorang petani mencangkul tanah, akan tetapi Cin Hai berlaku tangkas dan cepat melompat ke pinggir dan balas menyerang dengan pedangnya.

Di lain pihak, Kwee An mengeluarkan seluruh ketangkasan dan kepandaiannya untuk mempertahankan diri terhadap serangan Lauw Tek yang betul-betul lihai itu. Melihat permainan pedang Kwee An, Lauw Tek sambil menyerang berkata,

“Eh, anak muda she Kwee, bukanlah kau murid Eng Yang Cu dari Kim- san-pai?”

Kwee An merasa terkejut ketika lawannya dapat mengenal ilmu pedangnya. Ia menahan senjatanya dan membentak, “Kalau aku benar murid Kim-san-pai kau mau apakah?”

Lauw Tek tertawa menghina. “Kebetulan sekali, kau boleh mewakili Eng Yang Cu dan mampus di ujung senjataku!” Setelah berkata demikian ia mendesak makin hebat hinggga Kwee An yang memang kalah tinggi kepandaiannya menjadi terdesak hebat.

Tidak tahunya Lauw Tek memang pernah bentrok dengan Eng Yang Cu, salah satu tokoh dari Kim-san-pai. Hal ini terjadi belasan tahun yang lalu, sebelum Kwee An menjadi murid Eng Yang Cu. Ketika itu, Santung Ngohiap masih tinggal di Santung dan menjadi jago yang ditakuti karena selain lihai juga terkenal ganas. Kebetulan pada waktu itu Eng Yang Cu yang sedang merantau tiba di Santung dan mendengar tentang keadaan Santung Ngohiap, lalu sengaja menantang pibu kepada mereka. Pada waktu itu, Eng Yang Cu masih berdarah panas hingga ia tidak tahan mendengar betapa di Santung ada Santung Ngohiap yang menjagoi dan berlaku sewenang-wenang. Di dalam pertandingan pibu ini, seorang demi seorang dari Santung Ngohiap kena dikalahkan oleh Eng Yang Cu, akan tetapi secara licik kelima jago Santung itu lalu mengeroyok hingga Eng Yang Cu menjadi terdesak dan melarikan diri. Semenjak itu, Santung Ngohiap menaruh dendam kepada Eng Yang Cu.

Karena pernah bertempur dengan Eng Yang Cu, maka Lauw Tek dapat mengenal ilmu silat Kim-san-pai yang dimainkan oleh Kwee An dan karena melihat kelihaian Kwee An, ia dapat menduga bahwa anak muda ini tentulah murid dari Eng Yang Cu. Dia menjadi girang sekali karena sekarang mendapat kesempatan untuk membalas dendamnya yang dulu kepada murid Eng Yang Cu ini.

Oleh karena ini, Lauw Tek lalu mendesak hebat dan mengeluarkan serangan-serangan maut yang berbahaya. Akan tetapi, biarpun masih muda Kwee An bersemangat baja dan ia berlaku nekad hingga gerakan pedangnya demikian tangkas dan untuk berpuluh jurus ia masih dapat mempertahankan dirinya.

Pada saat itu, dari luar berkelebat bayangan putih dan terdengar suara orang berseru, “Lauw Tek, jangan kau menghina anak kecil. Akulah lawanmu, Kwee An, kau mundurlah!”

Kwee An merasa girang sekali karena ia mengenal itu suara Eng Yang Cu gurunya. Ia lalu mundur dan membiarkan gurunya menghadapi Lauw Tek. Eng Yang Cu adalah seorang tua berusia lima puluh tahun lebih, jenggot dan rambutnya sudah putih dan pakaiannya seperti seorang tosu, juga berwarna putih. Senjatanya adalah pedang panjang yang mengeluarkan cahaya berkeredepan.

“Eng Yang Cu, manusia sombong. Bagus sekali kau datang mengantar jiwa!” Lauw Tek berseru dan menyerang dengan ganas. Para saudaranya seketika melihat kedatangan musuh lama ini, lalu datang menyerbu hingga kini pertempuran lebih hebat lagi. Tiga orang dikeroyok oleh enam orang! Kwee An yang melihat betapa pihak lawan mengeroyok, tidak mau tinggal diam dan ia menggerakkan pedangnya lagi, bahkan kini permainannya lebih hebat karena ia mendapat hati dengan kedatangan suhunya itu.

Sementara itu, dengan ilmu pedang campuran dari Liong-san Kiam-hoat, Ngo-lian Kiam-hoat, dan Sianli-utau yang pernah dipelajarinya, juga kepandaiannya yang dipelajari dari Bu Pun Su yaitu mengenal dasar-dasar semua gerakan lawannya, Cin Hai berhasil membuat Beng Kong Hosiang tidak berdaya. Setiap gerakan dan serangan hwesio ini telah dapat diduga oleh Cin Hai, sebaliknya ilmu pedang Cin Hai yang campur aduk telah membingungkan hwesio itu. Hanya tenaga lweekang Beng Kong Hosiang yang tinggi saja yang masih menolongnya hingga ia belum dijatuhkan oleh Cin Hai.

Ketika melihat kedatangan suhu dari Kwee An dan melihat pula naiknya semua lawan hingga keadaan menjadi berbahaya, Cin Hai berseru nyaring dan gerakan pedangnya kini disertai tenaga khikang yang luar biasa. Inilah tenaga khikang yang ia latih atas petunjuk Bu Pun Su, dan yang mempunyai daya tempur luar biasa sekali karena seluruh tenaga lweekang, gwakang dan ginkang dipersatukan merupakan pergerakan hebat hingga menimbulkan angin besar. Khikang semacam ini jarang dikeluarkan oleh Cin Hai, karena tenaga ini membutuhkan pemusatan yang bulat hingga sangat melelahkan tubuh, ia sendiri akan mendapat celaka oleh karena kehabisan tenaga. Oleh karena inilah, maka jarang sekali ia keluarkan kepandaian ini. Untuk menggunakan tenaga khikang ini, paling lama ia hanya kuat bersilat sampai tiga puluh jurus saja.

Akan tetapi, akibatnya hebat sekali. Baru saja ia menyerang belum lima jurus, kaki kirinya berhasil menendang dada Beng Kong Hosiang hingga hwesio ini jatuh menggelinding ke bawah panggung dalam keadaan pingsan.

Melihat kehebatan ini, para perwira menjadi terkejut sekali dan permainan Santung Ngohiap menjadi kacau balau hingga Eng Yang Cu mendapat kesempatan melukai Lauw Tek dengan pedangnya. Keadaan menjadi kalut dan semua perwira mencabut senjata hendak mengeroyok. Akan tetapi karena jumlah mereka besar, sedangkan panggung itu sempit, maka gerakan mereka itu bahkan mengacaukan kawan sendiri. Cin Hai dan Kwee An yang mengambil keputusan hendak membalas dendam, lalu sengaja menujukan senjata mereka kepada keempat sisa anggauta Santung Ngohiap dan ketua saudara Tan Song dan Tan Bu. Eng Yang Cu yang tidak tahu mana musuh-busuh besar muridnya, hanya menggerakkan senjata untuk melindungi kedua pemuda itu. Pedang Kwee An berhasil merobohkan Tan Song dan Tan Bu dan serangan pemuda ini disertai kegemasan yang meluap hingga kedua saudara Tan itu roboh tewas mandi darah. Cin Hai yang mengamuk hebat bagaikan seekor Naga Sakti memperlihatkan diri, juga berhasil merobohkan Un Kong Sian, Lauw Houw, Ma Ing, dan Ma Keng In. Akan tetapi karena ia tahu bahwa Ma Keng In tidak ikut dalam penyerbuan ke rumah keluarga Kwee, ia masih mengampuni orang tua ini dan hanya menotoknya roboh, sedangkan yang lain-lain telah tewas di ujung pedang Liong-koan-kiam!

Melihat bahwa ketujuh musuh besar itu telah dapat dirobohkan, tiba-tiba Cin Hai melintangkan pedangnya yang masih berlumpuran darah dan ia berteriak.

“Cuwi sekalian, tahan senjata! Kami bertiga tidak mau membunuh orang tidak berdosa. Orang-orang yang telah mengganas dan membunuh keluarga Kwee hanyalah enam orang yang telah tewas ini! Sedangkan Ma Keng In karena tidak ikut berdosa, ia hanya diberi hajaran saja demikianpun Beng Kong Hwesio yang sombong hanya diberi hajaran agar ia tidak memandang ringan kepada lain orang! Sekarang harap Cuwi beritahukan di mana adanya Boan Sip dan Hai Kong Hosiang, karena kedua orang jahat itu pun hendak kami basmi dari permukaan bumi!”

Akan tetapi, di antara sekalian perwira itu, mana ada yang berani menjawab dan membuka rahasia kawan sendiri? Mereka hanya berdiri diam sambil bersiap sedia dengan senjata di tangan, walaupun hati mereka telah dibikin gentar oleh kehebatan ketiga orang itu!

Karena tidak ada orang yang berani memberi keterangan, Cin Hai lalu mengajak kedua kawannya pergi dari situ. Tiga bayangan berkelebat dan para perwira baru sadar bahwa ketiga lawan mereka telah pergi setelah tak melihat mereka di atas panggung lagi. Mereka lalu menolong kawan-kawan yang terluka dan sebagian orang lalu lari memberi laporan ke istana. Keadaan menjadi kalut sekali, karena semenjak Kanglam Chit-koai mengamuk pada beberapa puluh tahun yang lalu di dalam Eng-hiong-koan ini, tak pernah ada orang yang berani mengganggu mereka. Tak dinyana bahwa hari ini dua orang pemuda yang dibantu oleh seorang tosu tua telah membuat mereka kocar-kacir, bahkan enam orang perwira telah binasa! Yang lebih hebat lagi, Beng Kong Hosiang yang belum pernah dikalahkan orang itu, kini roboh dalam tangan seorang pemuda tanggung! Ini hebat sekali.

Juga Kaisar menjadi terkejut mendengar huru-hara ini. Ia lalu memerintahkan barisan pengawal untuk mengejar dan mengepung, akan tetapi pada saat itu, Cin Hai dan kawan-kawannya telah lari jauh meninggalkan tembok kota raja dan telah berhenti di dalam sebuah hutan.

Cin Hai diperkenalkan oleh Kwee An kepada gurunya dan Eng Yang Cu memandang dengan kagum kepada Cin Hai.

“Sie-taihiap, kau masih begini muda akan tetapi kepandaianmu sungguh-sungguh membuat aku menjadi kagum sekali. Siapakah Suhumu yang mulia?”

Sebagaimana biasa, Cin Hai merasa segan untuk memberitahukan nama suhunya karena maklum bahwa Bu Pun Su sama sekali tidak suka bahkan membenci segala nama besar yang dianggapnya kosong belaka. Maka melihat keraguan pemuda itu, Kwee An lalu mewakilinya menjawab,

“Guru Saudara Cin Hai ini adalah Bu Pun Su.”

“Ah!” Eng Yang Cu terkejut sekali mendengar ini. “Tak heran apabila kepandaiannya lihai sekali. Pinto pernah mendengar nama besar Suhumu walaupun mataku belum mendapat kemuliaan dan kehormatan untuk bertemu dengan Locianpwe itu, akan tetapi setelah melihat kepandaian muridnya, hatiku telah cukup puas.”

Kemudian Eng Yang Cu menceritakan bahwa dari seorang sahabatnya di kalangan kang-ouw ia mendengar tentang nasib buruk yang menimpa keluarga Kwee An. Kakek ini yang sangat sayang kepada muridnya itu, menjadi marah sekali dan seorang diri ia berangkat ke kota raja hendak mencari Santung Ngohiap yang telah membunuh keluarga muridnya dan kebetulan sekali ia datang di saat yang tepat hingga dapat membantu pembalasan sakit hati Kwee An dan Cin Hai.

“Baiknya Totiang cepat-cepat datang, kalau tidak, aku tak berdaya menolong Saudara Kwee An, karena hwesio itu pun cukup lihai hingga aku tidak mempunyai kesempatan membelanya,” kata Cin Hai terus terang.

“Kwee An, musuh-musuhmu telah terbalas dan semua itu berkat bantuan Sie-taihiap ini, maka jangan kau melupakan budi yang besar itu.” “Musuh belum terbalas semua, Suhu,” kata Kwee An. Masih ada dua orang musuh besar yang memegang peranan penting dalam perbuatan biadab itu, yakni Hai Kong Hosiang yang lihai dan Boan Sip perwira yang tadinya hendak memaksa adikku menjadi isterinya.”

Eng Yang Cu terkejut. “Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji? Ah, memang benar kata-kata orang kang-ouw bahwa setiap perbuatan jahat yang sangat keji, tentu Hai Kong Hosiang ikut campur! Biarpun ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang mungkin tak lebih hebat daripada suhengnya, akan tetapi hwesio itu terkenal cerdik dan banyak akalnya, lagi curang sekali. Namun pinto percaya bahwa dengan bantuan seorang kawan seperti Sie-taihiap ini, pasti ia akan terbalas!”

Eng Yang Cu terkejut. “Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji? Ah, memang benar kata-kata orang kang-ouw bahwa setiap perbuatan jahat yang sangat keji, tentu Hai Kong Hosiang ikut campur! Biarpun ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang mungkin tak lebih hebat daripada suhengnya, akan tetapi hwesio itu terkenal cerdik dan banyak akalnya, lagi curang sekali. Namun pinto percaya bahwa dengan bantuan seorang kawan seperti Sie-taihiap ini, pasti ia akan terbalas!”

Kemudian, setelah memberi nasihat dan pesanan kepada muridnya agar berlaku hati-hati dan agar supaya suka minta petunjuk-petunjuk dari Cin Hai, tosu pengembara ini lalu melanjutkan perjalanannya.

“Kalau pinto kebetulan bertemu dengan Hai Kong atau Boan Sip, tentu pinto takkan tinggal diam dan mencoba untuk melawan mereka,” katanya. Kwee An merasa terharu atas pembelaan suhunya itu dan menghaturkan terima kasih dan selamat berpisah. Juga Cin Hai merasa kagum sekali atas kebaikan guru Kwee An itu.

“Suhumu itu berhati mulia sekali, Saudara An,” katanya dan ia teringat kepada suhunya sendiri Bu Pun Su, yang tiada kabar beritanya itu. Apakah suhunya itu masih berada di Gua Tengkorak?

“Saudara Cin Hai, ketika kita hendak pergi ke kota raja dan mampir di Tiang-an mencari Boan Sip, ternyata ia telah meninggalkan tempat tinggalnya itu dan kabarnya pergi ke kota raja. Akan tetapi, di kota raja pun ia tak ada. Ke manakah ia pergi dan ke mana pula kita harus mencari dia dan Hai Kong Hosiang?”

Setelah berpikir sebentar, Cin Hai menjawab, “Mungkin sekali Boan Sip ikut pergi dengan Hai Kong Hosiang. Biarlah kita menyelidiki lagi ke kota raja mencari jejak mereka. Akan tetapi kita harus berlaku sangat hati-hati, karena tentu saja Kaisar takkan tinggal diam karena perbuatan kita yang membunuh para perwira.”

Mereka lalu menanti sampai sore, karena bermaksud hendak memasuki kota raja di waktu malam agar jangan terlalu banyak mengalami rintangan para penjaga yang tentu berlaku waspada setelah terjadi kerusuhan demikian hebatnya.

“Saudara Kwee An, kurasa satu-satunya orang yang dapat memberi keterangan tentang Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, adalah Ma Keng In. Perwira ini adalah orang ke tiga dari Santung Ngohiap, dan dibanding dengan saudara-saudaranya, ia agaknya paling baik. Mungkin sekali dia mau memberi tahu kepada kita tentang tempat tinggal Hai Kong Hosiang, mengingat bahwa kita telah berlaku murah hati dan tidak membunuhnya.”

Dengan mempergunakan kepandaian ginkang mereka yang tinggi, Cin Hai dan Kwee Ang dengan mudah dapat melompati tembok kota di bagian yang tidak terjaga dan karena malam itu gelap, maka mereka dapat menyelundup ke dalam kota tanpa menemui rintangan. Ketika Cin Hai mencari keterangan di kalangan penduduk, dengan mudah mereka dapat mengetahui di mana rumah kediaman perwira she Ma itu, yaitu di dalam sebuah gedung besar yang kuno.

Segera mereka jalan di atas genteng dan menuju ke rumah itu. Akan tetapi baru saja mereka tiba di atas wuwungan rumah perwira Ma Keng In, mereka dicegat oleh seorang pemuda berpakaian biru yang telah berdiri di situ dengan tangan memegang sebatang pedang terhunus dan tajam berkilat!

“Hm, kalian masih belum puas dan hendak mengambil jiwa Ayahku?” bentaknya sambil menggerakkan pedang. “Nah, majulah, memang sejak tadi aku telah menanti kedatanganmu berdua!”

Pemuda baju biru itu menyerang Kwee An dengan pedangnya dan Kwee An cepat menangkis. Kedua pedang bertemu menerbitkan suara nyaring dan bunga api berpijar memercik keluar tanda bahwa kedua orang muda ini seimbang! Cin Hai terkejut karena ternyata pemuda ini mempunyai gerakan cukup lihai.

“Sobat, tahan dulu,” katanya. “Kau siapakah dan mengapa tiba-tiba menyerang kami?”

“Kalian diam-diam memasuki kotaraja dan mencari rumah kediaman Ma-ciankun. Masih hendak bertanya mengapa aku menanti dengan pedang di tangan di sini? Aku adalah anak dari Ma-ciangkun. Siang tadi kau telah melukai Ayahku dan mengganas di kota raja, sekarang sebelum kau hendak mencari Ayah, kauhadapi dulu anaknya!”

Sebelum Cin Hai dan Kwee An menjawab, pemuda itu dengan ganasnya telah menyerang lagi kepada Kwee An. Melihat pemuda yang tampan itu dan sikapnya yang lemah lembut serta pergerakan pedangnya yang lihai, Cin Hai menjadi tertarik sekali, maka ia diamkan saja dan menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian. Yang mengherankan hatinya ialah bahwa ilmu pedang pemuda itu berbeda sekali dengan ilmu pedang Ma Keng In, bahkan tidak lebih rendah daripada kepandaian Ma-ciangkun itu! Juga gerakan pemuda itu aneh sekali, karena selalu menyerang sambil membalikkan tubuh hingga gerakannya seperti seekor naga yang menyabet dengan ekornya yang tajam. Juga dalam hal tenaga dan kecepatan, ternyata pemuda yang lihai ini tidak kalah oleh Kwee An!

JUGA Kwee An tidak kurang terkejutnya karena putera Ma Keng In ini ternyata merupakan seorang lawan yang tangguh sekali dan ia hanya dapat mengimbangi pemuda itu dan tak dapat mendesak!

“Sobat, kita datang bukan bermaksud buruk!” Kwee An berkata sambil menahan serangan orang akan tetapi pemuda itu tidak ambil peduli dan terus menyerang dengan ganasnya.

Pada saat itu terdengar suara Ma Keng In yang berat dari bawah genteng, “Hoa-ji,jangan berlaku kurang ajar kepada tamu. Jiwi, kalian turunlah jika hendak bicara dengan aku!”

Pemuda yang disebut Hoa-ji oleh ayahnya mengeluarkan seruan kecewa, akan tetapi ia lalu melompat ke bawah dengan ringan, diikuti oleh Kwee An dan Cin Hai. Ma Keng In telah berdiri di situ dan menyambut mereka dengan wajah keren.

“Jiwi yang muda dan gagah malam-malam datang ke pondokku ada keperluan apakah?”

Kwee An membalas hormatnya dan berkata, “Harap Lo-enghiong suka memaafkan kami. Sebenarnya kami berdua tidak mempunyai permusuhan dengan kau orang tua, karena tidak ikut membasmi keluargaku. Kedatangan kami ini sengaja hendak mohon pertolongan Lo-enghiong dan bertanya di mana adanya Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, kedua musuh besarku yang masih belum terbalas itu.”

Walah Ma Keng In memerah. “Hm, kalian otang-orang muda memang terlalu berani dan tidak memandang sebelah mata kepadaku! Kaukira aku ini seorang pengkhianat yang sudi mencurangi dan mengkhianati kawan-kawan sendiri? Biarpun kalian akan membunuh dan memotong lidahku, aku orang she Ma tidak serendah itu untuk mengkhianati kawan-kawan sendiri.”

Kwee An tercengang dan tak dapat menjawab. Tapi Cin Hai lalu tertawa aneh. Ma Keng In memang semenjak tadi memandang ke arah Cin Hai karena ia sungguh mengagumi anak muda yang telah ia saksikan kelihaiannya siang tadi. Kini mendengar suara tertawa anak muda itu ia berkata,

“Apakah kau demikian memandang rendah kepadaku hingga mentertawakan sikapku yang bodoh?”

“Ah, tidak, tidak sekali-kali, Ma-ciangkun! Aku yang muda bahkan merasa teramat kagum melihat sifat kesatriaanmu. Yang kuanggap lucu adalah keanehanmu. Kau begini gagah perkasa dan berjiwa satria, akan tetapi mengapa kau sudi menjadi anggauta Sayap Garuda yang terkenal ganas menindas rakyat? Biarlah, hal itu bukan urusan kami dan aku pun tidak akan mengutik-utik. Akan tetapi pemandanganmu tadi keliru sekali! Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan! Hai Kong Hosiang dan Boan Sip adalah orang-orang yang telah melakukan keganasan dan kekejaman yang termasuk kejahatan besar. Kalau kau memberi tahu tempat mereka kepada kami, itu berarti bahwa kau telah melakukan sesuatu yang adil. Ingatlah bahwa permusuhan ini tiada sangkut pautnya dengan kedudukanmu atau kedudukan mereka sebagai anggauta Sayap Garuda, akan tetapi adalah urusan pribadi. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian, maka apa perlunya mereka bersembunyi daripada kami? Kalau kau menolak untuk memberitahukan tempat tinggal mereka, itu berarti bahwa kau bahkan merendahkan mereka dan berarti kau takut kalau-kalau mereka itu akan kalah dan terbunuh oleh kami!”

Ma Keng In mendengarkan ucapan panjang lebar ini dengan mata terbelalak dan ia makin heran melihat pemuda yang tidak saja berkepandaian lihai itu, akan tetapi juga mempunyai pemandangan yang demikian dalam dan halus. Ia menghela napas dan berkata,

“Alasan-alasanmu dapat diterima, anak muda. Memang Hai Kong Suhu adalah seorang yang tinggi hati dan kalau ia tahu bahwa aku menolak untuk memberi keterangan kepadamu tentang kepergiannya, tentu ia akan merasa kurang senang dan menganggap aku merendahkannya. Baiklah kalau kau dan kawanmu memaksa, akan tetapi kalau kalian tewas dan celaka di dalam tangannya janganlah kalian merasa penasaran kepadaku. Hai Kong Suhu dan Boan-ciangkun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar untuk menghubungi pasukan-pasukan Mongol di perbatasan utara. Lima hari yang lalu mereka dan beberapa orang perwira lain telah berangkat ke utara meninggalkan kota raja.”

Cin Hai menjura dan berkata, “Terima kasih banyak, Ma-ciangkun. Kau memang benar-benar seorang tua gagah dan berhati lurus. Mudah-mudahan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan.”

Kwee An juga menghaturkan terima kasih dan keduanya lalu melompat ke atas genteng untuk meninggalkan kota raja yang sebetulnya tidak aman bagi mereka itu.

Akan tetapi, belum jauh mereka pergi, tiba-tiba terdengar suara orang menegur dari belakang. Mereka berhenti dan ternyata Ma Hoa, pemuda berbaju biru yang menegur mereka tadi, telah mengejar mereka!

“Eh, eh, kau mengejar mau apa? Apakah hendak melanjutkan pertandingan yang tadi?” Kwee An menegur tidak senang.

“Kalau hendak melanjutkan pertandingan, tak perlu aku banyak cakap!” jawab pemuda itu ketus. “Ayah terlalu lemah, maka kalau kalian memang orang-orang gagah, di dalam tiga hari aku akan menanti kalian di lereng Pai-san di sebelah utara!”

Kwee An merasa mendongkol dan penasaran. “Mengapa kami tidak berani? Baiklah, kalau kami menuju ke utara kami akan mampir di tempat itu dan di sana kita boleh bertempur sampai seribu jurus! Siapa takut dengan seorang kanak-kanak seperti kau?”

Pemuda itu membanting-banting kaki dan berkata, “Aku akan menunggu di sana!” Kemudian ia lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan mereka.

“Ah, Saudara An, mengapa kau mencari musuh baru? Orang itu kulihat lihai sekali, ilmu kepandaiannya tidak kalah jika dibandingkan dengan Ayahnya.” Cin Hai menegur dengan suara menyesal.

“Siapa takut dia?” jawab Kwee An yang merasa mendongkol dan penasaran sekali karena tadi ia benar-benar tidak dapat mengalahkan pemuda itu. Setelah pemuda itu menentangnya apakah ia harus mundur? “Dan lagi kita hendak melewati Pai-san. Kalau kita tidak menyambut tantangannya, bukankah kita akan diterwakan oleh seorang kanak-kanak?”

Cin Hai tersenyum dan maklum bahwa Kwee An merasa penasaran sekali karena tidak dapat mengalahkan seorang pemuda yang sikapnya masih seperti kanak-kanak itu!

Setelah melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya di jalan kepada penduduk dusun tentang rombongan Hai Kong Hosiang, tiga hari kemudian Cin Hai dan Kwee An tiba di lereng bukit Pai-san.

Pemandangan di lereng bukit ini sungguh indah dan tanah di situ subur. Hal ini adalah karena di lereng itu mengalir sebuah sungai yang menjadi sumber atau mata air Sungai Liong-kiang dan yang menjadi anak sungai atau cabang Sungai Huangho, karena sungai Liong-kiang ini akhirnya memuntahkan airnya di Sungai Kuning yang besar itu.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sedang berdiri termangu-mangu sambil memandang ke arah air sungai yang mengalir sambil memperdengarkan dendang riak air yang menyedapkan telinga, tiba-tiba dari jauh terlihat sebuah perahu kecil yang bergerak maju melawan arus air. Setelah dekat, ternyata yang duduk di dalam perahu itu adalah pemuda baju biru putera Ma Keng In dan seorang tua berpakaian nelayan yang bertubuh kurus bagaikan tengkorak hidup dan berwajah gembira. Biarpun melawan arus air, akan tetapi dengan dayungnya pemuda itu dapat menggerakkan perahu dengan lajunya, hingga dapat dibayangkan betapa kuat tenaganya.

Tiba-tiba terdengar nelayan tua itu berdendang, suaranya yang parau itu diiringi bunyi riak air. “Di belakang pintu gerbang merah indah cemerlang anggur dan daging berlebih-lebihan hingga masam membusuk!

Di luar pintu gerbang kotor sunyi melengang berserakan tulang rangka sisa korban dingin dan lapar!!”

Cin Hai terkesiap. Ia mengenal syair yang diucapkan dalam lagu ini. Ini adalah syair yang ditulis oleh pujangga Tu Fu. Pada jaman dulu keadaan rakyat di bawah pemerintahan Raja Hsuan Tsung sangat menderita dan pada suatu hari ketika lewat di Pegunungan Lisan, Pujangga itu melihat betapa Raja Hsuan Tsung bersenang-senang dan berpelesir dengan para selir di istananya yang disebut istana Hua Cin. Oleh karena merasa betapa janggalnya perbedaan ini, yaitu antara kehidupan raja yang tahunya hanya bersenang-senang belaka tidak mempedulikan keadaan rakyatnya yang sengsara dan banyak yang mati kelaparan dan kedinginan, maka jiwa patriot yang menggelora di hati pujangga Tu Fu menggerakkan tangannya untuk membuat syair itu.

Syair ini semenjak dulu dilarang oleh semua kaisar yang memerintah karena dianggap sangat menghina kaisar, dan bersifat memberontak, maka jarang ada orang mengenalnya lagi, apalagi menyanyikannya, karena apabila terdengar oleh kaki tangan kaisar, tak ampun lagi orang itu dapat ditangkap sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman keras. Akan tetapi nelayan tua yang duduk di dalam perahu itu bahkan berani menyanyikannya dengan lagu suara yang bersemangat sekali. Orang yang berani bernyanyi seperti itu di tempat terbuka, tahulah seorang yang luar biasa dan berilmu tinggi.

“Bagus sekali syair itu, seakan-akan kulihat Tu Fu menjelma kembali.” Dengan suara keras Cin Hai memuji.

Ketika itu perahu kecil tadi telah tiba di depan mereka dan nelayan itu lalu memandang ke arah Cin Hai. Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tahu-tahu tubuh yang seperti tengkorak itu telah melayang berdiri di depan Cin Hai.

“Hi-hi, anak muda, kau kenal Tu Fu?” tanyanya.

“Kenal? Dia sahabat baikku di alam mimpi!” jawab Cin Hai yang lalu mengucapkan sebuah syair lain dari Tu Fu dengan suara nyaring.

“Mungkinkah membangun sebuah gedung dengan laksaan kamar untuk memberi tempat bagi para fakir miskin di seluruh dunia yang akan merasa bahagia biarpun dalam hujan karena gedung kokoh kuat bagaikan bukit raksasa?

Kalau saja aku dapat melihat ini tiba-tiba muncul di depan mataku, biarlah gubukku ini hancur lebur, biarlah aku mati kedinginan, aku akan mati dengan mata meram dan jiwa tenteram!

Nelayan itu melebarkan matanya dan memandang kepada Cin Hai dengan wajah gembira sekali. Tiba-tiba dari kedua matanya yang lebar itu mengalir air mata dan ia lalu memeluk leher Cin Hai dan menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya di pundak pemuda itu.

Kepala nelayan tua itu mengeluarkan bau amis seperti bau ikan, dan ketika ia memeluk Cin Hai kedua tangannya merangkul. Cin Hai merasa seakan-akan ia ditindih oleh sebuah batu besar yang beratnya ribuan kati. Ia merasa terkejut sekali dan tahu bahwa diam-diam kakek nelayan ini telah mencoba tenaganya.

Maka ia lalu menahan napas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan tekanan yang hebat ini. Ia hampir tidak kuat, akan tetapi berkat keteguhan hatinya, ia tidak mengeluh atau memperlihatkan kelemahannya.

Akhirnya kakek nelayan itu melepaskan pelukannya dan Cin Hai merasa lega sekali. Keringat dingin telah keluar dari kulit mukanya dan ia menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut peluh itu.

Kakek nelayan itu setelah memandang tubuh Cin Hai dari kepala sampai kaki dengan mata berseri dan wajah gembira, lalu berpaling kepada pemuda baju biru yang sementara itu telah keluar dari perahu dan menghampiri mereka. “Eh, anak nakal, pemuda inikah yang kaumaksudkan? Ah, Hoa-ji, kau akan kalah! Kau tentu kalah!”

Pemuda yang bernama Ma Hoa itu menggeleng kepalanya dan menuding ke arah Kwee An, “Bukan dia, Suhu, yang inilah!”

Kwee An dan Cin Hai memandang ke arah pemuda itu. Mereka tercengang, karena setelah melihat pemuda itu di siang hari, ternyata bahwa pemuda ini benar-benar berwajah tampan sekali dan sikapnya pendiam dan agung! Ma Hoa lalu melangkah rnenghadapi Kwee An dan berkata,

“Hem, ternyata kau mematuhi janji. Nah, mau tunggu apa lagi? Cabutlah senjatamu dan coba kau perlihatkan kepandaianmu!” Sambil berkata demikian, Ma Hoa lalu melolos pedangnya dari pinggang dan bersiap sedia. Kwee An berdiri bingung karena ia merasa jerih juga menghadapi pemuda yang bersikap agung dan tenang ini. Ia berpaling kepada Cin Hai, akan tetapi Cin Hai sedang saling pandang dengan nelayan tua itu sambil tersenyum-senyum, sedangkan kakek nelayan itu lalu memegang tangan Cin Hai, ditarik untuk bersama duduk di bawah sebatang pohon dan dengan tertawa haha-hihi ia berkata,

“Mari, mari, sahabatku, kita duduk di sini dan menonton kedua anak nakal itu!”

Cin Hai maklum bahwa kakek nelayan luar biasa ini tak bermaksud jahat, maka ia tidak menguatirkan keselamatan Kwee An dan ia lalu ikut duduk di sebelah kakek itu.

Ma Hoa ketika melihat Kwee An berdiri bengong, lalu membentak,

“Tidak lekas mengeluarkan senjatamu? Apakah kau takut?”

Marahlah Kwee An melihat kecongkakan pemuda itu, maka dengan muka merah ia mencabut senjatanya dan berkata, “Tenang, kawan. Siapa yang takut kepada engkau?”

Ma Hoa lalu menyerang dengan hebat dan tanpa sungkan-sungkan lagi Kwee An dengan cepat menangkis dan membalas menyerang. Sebentar saja keduanya bertempur seru sekali, saling mengerahkan tenaga dan kepandaian, saling melepas umpan, membuat gerak tipu dan mengeluarkan segala jurus yang saling berbahaya.

Cin Hai duduk dengan bengong karena kagum. Ia tak hanya mengagumi kepandaian kedua anak muda ini, akan tetapi ia mengagumi kenyataan bahwa kepandaian kedua orang itu boleh dibilang sama tinggi dan sama pandai. Dan yang lebih mengherankannya lagi, Ma Hoa biarpun sikapnya congkak sokali, akan tetapi di dalam pertempuran itu agaknya tidak mengandung hati ingin mencelakakan Kwee An. Ini dapat dilihatnya dari gerakan pemuda itu yang selalu terlambat sedikit dari pada seharusnya dalam mengirim serangan maut! Kwee An tak pantas disebut murid Kim-san-pai yang lihai kalau ia tidak mengetahui hal ini. Mula-mula ia merasa heran dan menganggap bahwa lawannya memang masih belum matang betul kepandaiannya, akan tetapi karena berkali-kali Ma Hoa memperlambat gerakannya, ia menjadi maklum dan hatinya girang sekali. Ternyata pemuda ini mencoba kepandaiannya saja. Oleh karena itu, ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat dan memutar pedangnya sedemikian rupa hingga sinar pedangnya bergulung-gulung, akan tetapi ia pun menjaga-jaga jangan sampai melukai pemuda lawannya itu. Sungguh suatu pertempuran yang hebat dan indah dipandang.

Bukan main girang hati Cin Hai melihat keadaan itu, karena ia maklum bahwa keduanya tidak mempunyai keinginan mencelakakan lawan. Tadinya ia telah merasa khawatir kalau-kalau harus bermusuhan dengan nelayan tua yang hebat ini, karena kalau ia dan Kwee An sampai menjadi musuh nelayan ini, itu berarti bahwa mereka telah menanam bibit permusuhan yang berbahaya. Laginya, ia merasa suka sekali kepada kakek nelayan yang bersemangat ini. Kegirangan hatinya dan keadaan tamasya alam yang indah di situ telah membuat hatinya bahagia sekali dan tak terasa pula ia mengeluarkan suling bambunya. Kakek nelayan itu memandangnya dengan senang sekali hingga Cin Hai lalu mulai menyuling, sambil matanya memandang kepada dua orang muda yang masih bermain pedang.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: