Pendekar Bodoh ~ Jilid 13

Cin Hai memang pandai sekali menyuling. Ketika suara lengking sulingnya melagukan sebuah lagu peperangan kuno yang bersemangat, maka Kwee An dan Ma Hoa tak terasa pula terpengaruh oleh nyanyian ini dan mereka bermain pedang makin hebat dan indah, seakan-akan dua orang penari yang mendengar suara gamelan merdu yang membuat tarian mereka lebih indah.

Kakek nelayan itu menatap wajah Cin Hai dan aneh sekali. Kembali dari kedua matanya yang lebar mengalir keluar air mata. Ternyata hati kakek nelayan ini perasa sekali hingga membuat ia terkenal sebagai seorang yang cengeng atau mudah menangis. Oleh karena inilah, maka ia mendapat sebutan Nelayan Cengeng!

Cin Hai juga dapat melihat bahwa kedua anak muda itu terpengaruh oleh suara sulingnya. Ia melihat betapa mereka berdua telah berpeluh karena pertempuran itu telah berjalan dua ratus jurus lebih! Ia menjadi kasihan dan tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya. Keadaan menjadi sunyi setelah suara suling itu terhenti dan yang terdengar kini hanya riak air. Keadaan yang sunyi ini melenyapkan nafsu dan semangat kedua anak muda itu hingga dengan sendirinya mereka lalu melompat mundur. Wajah kedua pemuda itu berpeluh dan berwarna merah, akan tetapi aneh sekali. Sekarang Kwee An tidak mempunyai perasaan penasaran karena tidak dapat mengalahkan pemuda itu bahkan ia memandang ke arah pemuda itu dengan sorot mata berterima kasih dan ingin bersahabat karena timbul rasa suka di dalam hatinya kepada pemuda itu.

“Bagus, bagus!” tiba-tiba nelayan tua itu melompat berdiri dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang diberi kembang gula. “Mereka itu cocok dan sesuai sekali, bukan?” katanya kepada Cin Hai dan Cin Hai lalu mengangguk sambil tersenyum.

“Cocok, sama tampan, sama tangkas, dan sama-sama keras hati! Sungguh, jodoh yang cocok! He, anak muda she Kwee, engkau adalah jodoh muridku, tak ada pemuda lain yang lebih cocok untuk menjadi calon suami muridku, Ha, ha!” Kakek nelayan yang luar biasa ini tertawa terkekeh-kekeh karena girangnya.

Kwee An merasa bingung dan tidak mengerti. Ia memandang ke arah Cin Hai dan tiba-tiba Cin Hai berkejap dan menunjuk dengan sulingnya ke arah Ma Hoat! Kwee An tetap tidak mengerti dan ketika ia memandang kepada Ma Hoa, ia melihat pemuda itu berdiri dengan kepala tunduk dan muka kemerah-merahan dan kadang-kadang sudut matanya mengerling dengan malu-malu! Ini adalah sikap seorang gadis dan tiba-tiba ia menjadi mengerti! Hampir saja ia menempeleng kepalanya sendiri. Mengapa ia begitu bodoh? Ma Hoa bukan seorang pemuda, akan tetapi seorang gadis. Gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula!

Mengingat hal ini, tiba-tiba saja wajah Kwee An menjadi merah bagaikan kepiting direbus dan ia lalu pergi menghampiri Cin Hai dan tak berani berkata-kata lagi.

“Bukankah cocok sekali mereka?” lagi-lagi kakek nelayan itu bertanya kepada Cin Hai. “Aku yang akan menjadi comblangnya dan aku tanggung Ma-ciangkun takkan mampu menolak seorang calon mantu yang begini baik! Eh, anak muda she Kwee, mengapa kau diam saja?”

Cin Hai mewakili Kwee An dan berdiri sambil menjura, “Lo-cianpwe, maafkanlah kawanku ini. Dia masih kurang pengalaman dan pemalu sekali, dan tentang perjodohan ini tentu saja harus ia tanyakan dulu kepada Suhunya karena kedua orang tuanya telah tidak ada lagi.”

“Ah, jangan banyak upacara lagi!” kata kakek nelayan. “Orang she Kwee, bukankah kau juga suka kepada Hoa-ji seperti ia suka kepadamu?”

Kwee An memandang wajah kakek itu dengan heran. Mulutnya tidak berani bertanya, akan tetapi sinar matanya mengandung penuh pertanyaan, yaitu bagaimana kakek ini dapat menduga demikian?

Agaknya kakek nelayan ini dapat membaca pikiran orang karena setelah tertawa terkekeh-kekeh ia lalu berkata,

“Dalam pertempuran kalian tadi telah jelas terlihat sifat menyayang dan suka dari kalian berdua, apakah kalian dua orang bodoh dapat menipuku? He, Hoa-ji bukankah kau suka kepada pemuda she Kwee ini?”

Ma Hoa memang telah kenal betul akan sifat suhunya yang selalu bersikap terus terang dan jujur, akan tetapi sebagai seorang gadis yang masih bodoh dan pemalu, tentu saia ia merasa malu sekali orang membicarakan tentang perjodohan dan tentang hati suka secara begitu blak-blakan tanpa tedeng aling-aling lagi! Maka ia lalu menundukkan muka dan melompat ke dalam perahunya terus mendayung perahu itu meninggalkan mereka!

“Ha-ha-ha… hi-hi… lihatlah dia telah menjawab pertanyaanku. Dia suka kepadamu! Kalau dia tidak suka tentu ia telah marah dan mengamuk. Kalau dia pergi dan berlari, itu tandanya ia setuju! Nah, anak muda, kau tidak boleh menolak murid Si Nelayan Cengeng!”

Cin Hai terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar dari Bu Pun Su bahwa di antara tokoh-tokoh luar biasa terdapat seorang nelayan tua yang disebut Nelayan Cengeng dan yang menjadi ahli silat di darat maupun di dalam air. Juga Kwee An pernah mendengar nama ini dari suhunya, maka mereka berdua lalu memperlihatkan sikap menghormat sekali.

“Locianpwe, harap kau orang tua sudi maafkan teecu yang bodoh. Sebagaimana dikatakan oleh Saudara Cin Hai tadi, dalam soal perjodohan, bukan teecu menampik, akan tetapi harus teecu minta nasihat Suhu terlebih dahulu.”

“Eh, siapa Suhumu yang beradat kukuh dan kuno itu?” tanya Nelayan Cengeng.

“Suhu adalah Eng Yang Cu.”

“Oh, tosu dari Kim-san itu? Ha, ha, aku suaah menduga bahwa engkau tentu anak murid Kim-san-pai, akan tetapi tak kuduga bahwa imam tua itu masih mau mencapaikan diri menerima seorang murid. Bagus, bagus! Kau tak usah menanyakan dia, karena kalau dia tahu bahwa engkau menjadi suami muridku, tentu dia setuju sepuluh bagian!”

“Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Lo-cianpwe, akan tetapi sungguh, teecu pada waktu ini belum berani mengikat diri dengan perjodohan!”

Si Nelayan Cengeng yang sebenarnya bernama Kong Hwat Lojin ini memang mempunyai perasaan yang mudah sekali tersinggung, maka mendengar ucapan dan penolakan Kwee An, ia lalu membanting-banting kakinya dan tanah di mana kakinya terbanting menjadi berlubang setengah kaki lebih!

“Apa katamu? Kau menolak? Baik, akan tetapi kau harus mengajukan alasan yang kuat dan dapat diterima, kalau tidak jangan harap kau dapat meninggalkan tempat ini!”

Kini Cin Hai buru-buru berdiri dan mewakili Kwee An menjawab, karena ia cukup mengenal adat Kwee An yang biarpun pendiam akan tetapi keras hati dan tak kenal takut. Ia khawatir kalau-kalau Kwee An akan menjadi nekad dan membikin marah orang tua itu.

“Locianpwe, sesungguhnya Saudara Kwee An sama sekali tidak menolak dan bahkan merasa bahagia sekali karena mendapat kehormatan besar dan dipilih sebagai jodoh muridmu yang lihai. Akan tetapi ketahuilah bahwa saudaraku ini berada dalam keadaan berkabung dan sekarang sedang melakukan perjalanan dengan teecu untuk mencari musuh besarnya dan membalaskan sakit hati orang tua dan keluarganya yang terbunuh oleh musuh besar itu.”

Cin Hai lalu dengan singkat menuturkan pengalaman Kwee An dan betapa keluarga pemuda itu terbasmi oleh musuh-musuhnya. Mendengar tentang peristiwa yang menyedihkan ini, tak tertahan lagi Kong Hwat Lojin menangis tersedu-sedu hingga Kwee An merasa sangat terharu dan tak dapat menahan lagi keluarnya air mata yang membasahi pipinya.

“Jadi musuh-musuh yang belum terbalas itu adalah Hai Kong Hosiang dan seorang perwira? Ah, Hai Kong, engkau memang jahat sekali. Kalau kau kebetulan bertemu dengan aku, tentu kau akan kurendam dalam air sampai perutmu menjadi kembung!” katanya dengan marah. Kemudian ia teringat akan sesuatu dan berkata kepada Cin Hai,

“Kepandaian Hai Kong Hosiang kabarnya telah maju pesat karena ia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat baru. Tunangan Hoa-ji ini tentu tak dapat melawannya. Mungkin kau dapat menandingi hwesio itu, akan tetapi ketahuilah bahwa hwesio itu selain pandai ilmu silat, juga licin dan cerdik sekali. Apakah engkau mengerti ilmu dalam air?”

Cin Hai menggeleng kepalanya, juga Kwee An menyatakan bahwa ia hanya dapat berenang sedikit saja.

“Ah, kalau begitu, kalian harus berlatih dulu hingga kau akan siap menghadapi hwesio itu, baik di darat maupun di air!”

Cin Hai dan Kwee An merasa girang sekali dan semenjak hari itu, selama dua minggu mereka menerima latihan-latihan dari Nelayan Cengeng itu. Kwee An mendapat latihan ilmu pedang yang disebut Hai-liong-kiam-hwat atau Ilmu Pedang Naga Laut dan latihan napas untuk dapat bertahan di dalam air serta gerakan-gerakan renang, sedangkan untuk Cin Hai, nelayan itu mengatakan bahwa ia tidak berani memberi pelajaran ilmu pukulan karena kepandaian pemuda itu katanya sudah melebihi kepandaiannya sendiri. Maka Cin Hai lalu mendapat latihan bermain di dalam air. Karena Cin Hai memang telah memiliki lweekang yang tinggi dan dapat menahan napas sampai lama, maka sebentar saja ia dapat menguasai ilmu itu dan dapat bermain di air bagaikan seekor ikan saja.

Tentu saja kedua pemuda itu merasa girang sekali. Selama dua minggu itu, Ma Hoa tidak muncul, akan tetapi pada saat Cin Hai dan Kwee An hendak meninggalkan Nelayan Cengeng dan melanjutkan perjalanan ke utara mencari Hai Kong Hosiang, tiba-tiba gadis itu mendatangi dengan naik perahu dari jauh. Cin Hai lalu menunda keberangkatannya dan menanti kedatangan gadis itu, sedangkan Kwee An tidak berani mengangkat muka dan menunduk kemalu-maluan!

Ketika gadis itu meloncat ketuar dari perahu dan kebetulan Kwee An mengangkat muka memandang, ia menjadi tercengang dan tak kuasa mengalihkan pandangan matanya lagi dari gadis itu. Ternyata bahwa kali ini Ma Hoa mengenakan pakaian wanita dan ia telah merubah diri menjadi seorang dara yang luar biasa cantiknya. Bajunya berwarna merah jambon, celananya sutera biru dan ikat pinggangnya serta pengikat rambutnya berwarna merah darah, berkibar-kibar tertiup angin gunung. Gagang pedang yang tergantung di pinggang menambah kegagahan dan kecantikannya. Diam-diam Cin Hai merasa girang sekali karena gadis ini memang pantas sekali menjadi jodoh Kwee An.

Nelayan Cengeng melebarkan kedua matanya ketika melihat pakaian muridnya itu. “Aduh, sudah bertahun-tahun aku tidak melihat kau mengenakan pakaian seperti ini! Bagus muridku, bagus sekali. Kebetulan kau datang karena tunanganmu hendak pergi melanjutkan perjalanan.”

Memang orang tua ini terlalu sekali. kejujurannya yang luar biasa hingga ia menyebut Kwee An sebagai tunangan muridnya itu telah membuat kedua anak muda itu menjadi jengah dan malu sekali.

“Ma Hoa, kita adalah orang-orang sendiri dan bukanlah orang-orang lemah, apa artinya segala sikap malu-malu kucing? Kesinikan pedangmu!” Biarpun ia keras hati, akan tetapi Ma Hoa tunduk dan takut kepada suhunya yang menganggapnya sebagai anak sendiri, maka sambil menundukkan kepala ia bertindak maju. Langkahnya lemah gemulai dan menarik hati sekali. Dengan perlahan dan tangan gemetar ia melolos pedangnya dan diberikan kepada suhunya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena ia tahu bahwa jika ia mengeluarkan suara, maka suaranya akan terdengar menggigil. Nelayan Cengeng gembira, lalu ia berkata kepada Kwee An dengan suara memerintah,

“Kwee An, terimalah pedang ini dan sebagai gantinya kau harus memberikan pedangmu kepada tunanganmu!”

Dengah sikap menghormat, Kwee An menerima pedang itu, kemudian ia mencabut pedangnya sendiri dan hendak diberikan kepada kakek itu. Akan tetapi, tiba-tiba Cin Hai yang sedang bergirang hati, berkata,

“Saudaraku, engkau tidak boleh memberikan kepada Locianpwe. Harus kauberikan sendiri kepada tunanganmu! Bukankah begitu, Locianpwe?”

Nelayan Cengeng itu memandang dengan heran kepada Cin Hai, akan tetapi hanya sebentar saja karena ia tertawa bergelak dan berkata, “Benar, benar! Cin Hai berkata betul sekali! Kau harus memberikan sendiri kepada tunanganmu agar kalian jangan terus bersikap malu-malu kucing!”

Dapat dibayangkan betapa malunya kedua anak muda itu karena godaan kedua orang ini. Dengan hati berdebar-debar Kwee An menghampiri Ma Hoa dan mengasurkan pedang itu. Akan tetapi, karena dara itu sedang menunduk dan sama sekali tidak berani mengangkat muka dan tidak melihat ia mengangsurkan pedang, maka gadis itu tidak menerima pedang yang diberikan kepadanya. Kwee An menjadi bingung dan serba salah, terpaksa ia menggerakkan bibirnya memanggil,

“Moi… eh… Siocia, kauterimalah pedang ini!”

Barulah Ma Hoa mengangkat mukanya. Dua pasang mata bertemu dengan mesra dan cepat sekali Ma Hoa menyambar pedang itu lalu dimasukkan ke dalam sarung pedang dan ia lalu tertunduk kembali!

“Ah, salah… salah…!” Cin Hai menggoda terus. “Saudara An, kau harus memanggil moi-moi, dan Ma Hoa harus memanggil koko, ini baru benar!”

Bukan main girangnya Nelayan Cengeng itu. Ia bersorak-sorak dan meloncat-loncat sambil bertepuk-tepuk tangan. “Benar, benar…! Bagus…”

Ma Hoa tak dapat menahan lagi jengah dan malunya. Setelah mengerling sekali lagi ke arah Kwee An dan melempar senyum yang mesra dan penuh arti, dara ini lalu lari ke perahunya mendayung pergi secepatnya! Cin Hai dan Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak.

“Nah, kalian pergilah, pergilah! Cepat pergi dan lekas kembali!” kata Kong Hwat Lojin sambil bertindak pergi.

Kwee An dengan mulut cemberut lalu berkata kepada Cin Hai, “Cin Hai, kau sungguh terlalu! Menggoda orang sampai hampir mati karena malu. Awas, kalau kelak bertemu kembali dengan Lin Lin, pasti akan kubalas sepuas hatiku!”

Mendengar nama ini, tiba-tiba Cin Hai termenung. Ia lalu teringat akan gadis kekasihnya itu dan merasa sedih sekali. Akan tetapi, cepat ia dapat menekan perasaannya dan berkata, “Aah, bukankah godaan-godaan tadi diam-diam membikin engkau berbahagia sekali?”

Kwee An tak dapat menjawab, hanya tersenyum dan memukul bahu Cin Hai. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan ke utara, akan tetapi seperempat bagian dari hati dan perasaan Kwee An tersangkut pada duri bunga Botan yang tumbuh di pinggir Sungai Liong-kiang itu!

Beberapa pekan kemudian, Cin Hai dan Kwee An telah tiba di perbatasan Tiongkok Utara di mana bertemu dengan suku-suku Mongol dan Mancu yang hidup secara berkelompok. Pada suatu hari mereka tiba di sebuah sungai yang cukup besar dan melihat sebuah perahu yang dihias mewah sekali di tengah itu.

Orang-orang Mongol dari suku Jungar hilir mudik naik turun perahu itu mengangkut kantong-kantong yang agaknya berat. Di antara suku-suku Jungar ini, banyak yang sering merantau ke pedalaman Tiongkok hingga mereka dapat berbicara dalam bahasa Han, yang biarpun kaku akan tetapi cukup dimengerti oleh Cin Hai dan Kwee An. Dari mereka ini kedua pemuda itu mengetahui bahwa perahu itu adalah milik seorang Pangeran Mongol bernama Vayami. Pangeran ini telah bertukar nama karena ia telah memeluk Agama Buddha Merah, dan bahkan menjadi pemuka dari pada Agama Sakya Buddha ini. Barang-barang yang diangkut ke dalam perahu itu adalah sumbangan-sumbangan dari pada para pemeluk Agama Buddha yang diberikan kepada Pangeran Vayami.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sedang melihat di pinggir sungai, tiba-tiba mereka melihat Hai Kong Hosiang di atas perahu itu. Hwesio ini dapat dikenal dengan mudah karena jubahnya yang berwarna kotak-kotak merah putih dan kepalanya yang gundul licin.

Pada saat itu, perahu telah bergerak ke tengah dan hendak meninggalkan tempat itu, sedangkan para pemeluk agama yang berdiri di tepi sungai berlutut memberi hormat yang terakhir kepada Pangeran Vayami.

Cin Hai dan Kwee An lalu menggenjot tubuh mereka dan meloncat ke atas perahu hingga mereka yang melihat perbuatan kedua pemuda Han ini berseru marah. Hai Kong Hosiang dengan mata terbelalak dan tindakan lebar menyambut kedatangan pemuda itu dengan bentakan,

“Dua ekor anjing rendah dari manakah berani memperlihatkan kekurangajaran di sini?”

“Hai Kong Hosiang, pendeta keparat! Ajalmu sudah berada di depan mata, kau masih banyak bertingkah lagi?” Kwee An balas membentak dan memaki.

Hai Kong Hosiang memandang anak muda itu dan ia lalu teringat dan mengenal wajah Kwee An, “Eh, kau masih belum mampus bersama Ayahmu?” Tiba-tiba tangan kanannya mencabut keluar tongkat ularnya yang lihai sambil berkata. “Baik, kalau begitu biarlah ini hari kuselesaikan pekerjaan dulu yang agaknya kurang sempurna agar kau tidak menjadi penasaran!”

Sambil berkata demikian, ia maju ke arah Kwee An, akan tetapi pada saat itu, pintu kamar yang terdapat di perahu itu terbuka dan muncul seorang pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian pendeta jubah merah. Pendeta ini membentak dengan suaranya yang halus,

“Hai Kong bengyu, tahan dulu!” Kemudian ia keluar dengan tindakan kaki yang halus, dan anehnya, Hai Kong Hosiang nampak hormat sekali kepadanya, karena pendeta gundul ini lalu menahan senjata dan menjura. Pemuda ini bukan lain ialah seorang pangeran yaitu Pangeran Vayami sendiri.

Vayami memandang kepada Kwee An dan Cin Hai, lalu merangkap kedua tangannya dan berkata dalam bahasa Han yang fasih,

“Jiwi-enghiong (Kedua Tuan yang Gagah Perkasa) telah memberi kehormatan kepadaku dan mengunjungi perahu ini, tidak tahu hendak memberi pelajaran apakah?”

Kwee An dan Cin Hai tercengang melihat Pangeran Mongol yang pandai berbahasa Han dan yang halus tutur sapanya ini, juga mereka merasa heran melihat bahwa kopala agama ini ternyata masih muda sekali takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya! Cin Hai lalu merangkapkan kedua tangan pula dan membalas hormat, diikuti oleh Kwee An.

“Maafkan kami berdua yang tidak tahu adat. Oleh karena melihat hwesio jahat ini berada di atas perahu, kami menjadi lupa diri dan dengan lancang melompat ke atas perahumu. Akan tetapi, kami berdua sama sekali tak hendak mengganggu kepada Tuan, dan urusan kami hanyalah dengan hwesio yang bernama Hai Kong Hosiang ini, karena dia adalah pembunuh keluarga kami dan kami sengaja datang hendak mengadu jiwa dengannya.”

Pangeran Vayami tersenyum halus, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam yang membuat Cin Hai terkejut sekali karena ia dapat menduga bahwa selain memiliki tenaga lweekang yang tinggi juga pangeran ini berpengaruh dan cerdik.

“Jiwi-enghiong yang muda dan gagah! Kiranya Jiwi pun mengerti akan aturan tuan rumah dan tamunya. Hai Kong Hosiang Suhu adalah menjadi tamu kami dan oleh karenanya, selama dia berada di atas perahuku, aku harus melindunginya dengan segala tenaga, bahkan dengan jiwaku sekalipun. Maka, kuharap Jiwi suka memandang mukaku dan tidak mengganggunya selama dia masih berada di sini!” Setelah berkata demikian, pangeran itu menggerakkan kedua tangannya dan bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba dari segala sudut keluarlah lima orang pendeta Sakya yang berjubah merah dan nampak kuat serta pandai ilmu silat.

Cin Hai dapat merasai kebenaran ucapan pangeran itu, maka ia lalu menuding kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong! Kau tentu masih cukup gagah untuk mengakui kedosaan dan perbuatanmu dan tentu tidak begitu pengecut untuk lari dari tuntutan balas kami. Kalau kau memang laki-laki maka harap kau mau turun ke darat dan marilah kita bertanding mengadu jiwa, menentukan siapa yang lebih pandai!”

Hai Kong Hosiang tadi telah melihat gerakan Cin Hai ketika melompat ke dalam perahu, maka ia maklum bahwa anak muda ini jauh lebih lihai daripada Kwee An, maka ia berkata,

“Jangan kau mengacau dan membuka mulut sembarangan. Aku Hai Kong Hosiang tak pernah lari dari musuh-musuhku. Akan tetapi yang kubunuh adalah keluarga pemuda ini, dan kau tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan itu, mengapa kau ikut campur?”

“Ha-ha-ha, hwesio gundul yang palsu! Kau juga telah mempunyai hutang padaku. Ingatkah kau dahulu ketika kau bertemu melawan Kanglam Sam-lojin di depan Kuil Ban-hok-tong di Tiang-an? Anak kecil yang meniup suling dan yang hendak kaubunuh dulu itu siapa? Lihat mukaku baik-baik, dan kau tentu akan ingat bahwa kau sekarang berhadapan dengan anak itu yang kini hendak membalas kebaikan budimu dulu!”

Hai Kong Hosiang terkejut. Ia ingat bahwa anak ini ia lihat bersama dengan Ang I Niocu di dalam gua Tengkorak itu, maka diam-diam ia merasa agak jerih. Akan tetapi, Hai Kong Hosiang adalah seorang gagah yang telah lama malang-melintang di dunia kang-ouw dan jarang bertemu tanding, maka tentu saja ia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang anak muda yang masih hijau itu.

“Bagus, kalau begitu, kebetulan sekali. Engkau pun rupanya sudah bosan hidup?”

“Hwesio keparat kau turunlah ke darat!” Kwee An membentak marah.

“Ha, ha! Siapa sudi menurut perintah dua ekor anjing cilik! Aku akan turun kalau aku suka dan sekarang aku belum ada ingatan untuk turun dan melayani kalian.” Cin Hai menjura kepada Pangeran Vayami. “Maaf, karena hwesio ini membandel, terpaksa kami berlaku kurang ajar dan bertindak di sini!”

Pangeran Vayami sambil tersenyum berkata. “Cobalah kalau engkau dapat, karena aku tak mungkin tinggal diam melihat tamuku diganggu.” Ia lalu memberi tanda dan kelima orang pendeta Sakya itu lalu maju dengan sikap mengancam dan mengurung Cin Hai serta Kwee An!

“Saudara An, kaulawanlah lima boneka merah itu dan aku akan membinasakan kera tua ini!”

Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang mendengar dirinya dimaki “kera tua”! Ia lalu berseru nyaring dan senjatanya yang luar biasa, yaitu seekor ular kering itu meluncur dan menyerang ke arah tenggorokan Cin Hai. Cin Hai berlaku gesit dan waspada, ia lalu mengelak mundur sambil mencabut Liong-coan-kiam.

Kelima pendeta Sakya itu bersenjata tongkat dan mereka lalu mengeroyok Kwee An yang memutar pedangnya dengan hebat. Ternyata bahwa kelima pendeta Mongol itu hanya memiliki tenaga hebat dan kuat bagaikan kerbau jantan, akan tetapi kepandaian silat mereka tak seberapa tinggi, hingga Kwee An tak sampai terdesak oleh mereka. Akan tetapi, bagi pemuda itu pun tidak mudah merobohkan mereka karena ia harus berlaku hati-hati sekali. Biarpun serangan lawan-lawannya tidak cukup gesit dan berbahaya, namun karena tenaga mereka besar sekali, maka sekali saja terkena pukul tongkat mereka, ia pasti akan celaka! Maka ia berlaku tenang dan hati-hati dan menjaga diri dengan kuatnya, sedikit pun tak memberi waktu kepada mereka untuk dapat memukulnya.

Yang hebat adalah pertarungan antara Cin Hai dan Hai Kong Hosiang. Pendeta ini benar-benar telah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu silatnya seperti yang pernah dikatakan oleh Nelayan Cengeng. Karena berkali-kali bertemu dengan lawan-lawan yang tangguh seperti Bu Pun Su, Biauw Suthai, dan yang lain-lain, dan semenjak kena dikalahkan oleh Biauw Leng Hosiang, pendeta ini lalu melatih diri dan mempelajari ilmu silat lain yang tinggi untuk menambah kepandaiannya. Bahkan dalam perjalanannya ke utara, ia sengaja mengunjungi tokoh-tokoh ternama untuk bertukar ilmu silat dan mempelajari kepandaian mereka itu. Maka dalam pertempuran Cin Hai kali ini, pemuda itu pun harus mengakui bahwa ilmu silat pendeta ini jauh lebih hebat daripada ketika ia bertempur di dalam Gua Tengkorak. Terutama tongkatnya yang hebat itu, yang di dalam tangannya seakan-akan berubah menjadi seeor ular berbisa yang masih hidup, sangat berbahaya sekali. Biarpun Cin Hai sudah dapat menduga gerakan dalam tiap serangan yang hendak dilancarkan, akan tetapi karena senjata lawannya ini berbahaya dan berbisa, ia menjadi sibuk juga dan terpaksa berlaku hati-hati sekali. Ia lalu mengeluarkan limu Silat Sian-li Utauw pelajaran Ang I Niocu, karena dengan ilmu silat ini ia dapat bergerak gesit sekali dan tubuhnya berkelebat ke sana ke mari menolak serangan lawan dan melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Melihat pertempuran-pertempuran itu, terutama pertempuran antara Cin Hai dan Hai Kong Hosiang, Pangeran Vayami merasa kagum sekali. Pangeran muda ini berdiri di depan pintu kamarnya dan menonton dengan mata berseri. Ia kagum sekali melihat permainan silat Cin Hai karena ia maklum bahwa terhadap Hai Kong Hosiang, pemuda ini hanya kalah pengalaman dan kalah senjata saja. Namun, betapa herannya ketika ia melihat bahwa pemuda itu makin lama makin hebat permainan silatnya dan beberapa kali gerakan pemuda itu berubah-ubah. Memang untuk mengacaukan permainan lawannya yang tangguh, Cin Hai sengaja mencampur permainan silatnya dengan ilmu silat lain. Kadang-kadang ia mengeluarkan jurus Liong-san-kiam-hoat, Ngolian-kiam-hoat, bahkan seringkali ia mengimbangi permainan ilmu tongkat Hai Kong Hosiang, yaitu yang berdasarkan jian-coa-kiam-sut atau Ilmu Pedang Seribu Ular. Hai Kong Hosiang tercengang dan heran sekali hingga ia menunda serangannya dan membentak, “Bangsat dan maling rendah! Dari mana kaucuri ilmu pedangku?”

“Ha, ba, gundul tua berbatin kotor! Siapa sudi mencuri ilmu pedangmu yang tak berguna? Lihatlah, aku mempunyai ilmu pedang yang menjadi nenek moyang ilmu pedangmu itu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu menyerang dengan pedangnya dan Hai Kong Hosiang hampir berseru karena heran dan terkejut, karena Cin Hai benar-benar menyerangnya dengan Ilmu Pedang Jian-coa-kiam-sut, akan tetapi jauh lebih sempurna.

Padahal sebetulnya Cin Hai hanya meniru-niru serangan Hai Kong tadi, hanya saja karena ia telah dapat memecahkan rahasia dasar ilmu silat yang telah dimainkan itu, ia dapat mencari pula ciri-cirinya dan dapat memperbaikinya. Tentu saja gerakannya ini belum matang karena tak pernah dilatih, akan tetapi cukup membuat Hai Kong Hosiang terkejut dan jerih. Tak disangkanya bahwa pemuda ini demikian hebat kepandaiannya. Kehebatan meniru ilmu silat-ilmu silat ini mengingatkan ia akan Bu Pun Su karena pernah pula ia dipermainkan oleh jembel tua itu, maka tentu saja ia menjadi khawatir dan jerih. Namun, karena melihat bahwa Cin Hai hanya seorang pemuda yang baru dewasa, ia memperkuat hatinya dan sambil membentak keras ia menyerang lagi. Kini tangan kirinya mencabut keluar sebatang sabuk ular yang penuh bisa. Jangankan sampai terpukul oleh sabuk ini bahkan baru keserempet sedikit saja, racun ular yang mengenai kulit dapat menimbulkan rasa gatal yang hebat dan cepat sekali racun itu dapat meresap ke dalam daging dan meracuni darah hingga membahayakan jiwa lawannya. Baru saja sabuk ular itu tercabut keluar, Cin Hai telah mencium bau yang amat amis, maka tahulah dia akan bahaya dan lihainya senjata istimewa ini. Ia lalu menggunakan tangan kirinya mencabut keluar sulingnya dan untuk mengimbangi lawan, ia mempergunakan dua macam senjata pula di tangan kanan pedang Liong-coan-kiam, di tangan kiri suling bambunya!

Melihat suling ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah karena ia teringat akan peristiwa dulu ketika Cin Hai masih kecil dan dengan suling bambunya telah menggagalkannya untuk mengalahkan Kanglam Sam-lojin, bahkan yang mengakibatkan matinya kelima ularnya karena Bu Pun Su menjatuhkan tangan kejam! Maka ia lalu menyerang sambil berteriak,

“Anak setan, kali ini kalau belum menghancurkan kepalamu, aku takkan puas!”

Cin Hai diam-diam merasa girang melihat kemarahan Hai Kong Hosiang ini, dan ia melayani serbuan hwesio itu dengan tenang, akan tetapi kegesitan dan kehebatan ilmu pedangnya yang dicampur dengan gerakan-gerakan sulingnya tidak dikurangi kecepatannya. Kedua orang ini bertempur mati-matian hingga bayangan kedua orang ini tak tampak lagi, tertutup oleh sinar senjata masing-masing.

Sementara itu, Kwee An yang mengamuk dengan Kim-san-kiam-hoatnya telah berhasil merobohkan dua orang pengeroyoknya hingga Pangeran Vayami menjadi terkejut sekali. Pangeran yang cerdik ini maklum bahwa kedua anak muda yang mengacau di atas perahunya adalah orang-orang tangguh dan jika dilawan terus akan membahayakan keselamatannya, maka ia lalu memberi aba-aba dalam bahasa Mongol. Beberapa orang pelayan yang berkepandaian rendah dan karenanya tak berani membantu lalu menurunkan dua buah perahu kecil ke atas air. Vayami lalu menyalakan api dan membakar layar yang tergantung ke bawah hingga sebentar saja api menyala hebat di atas perahu itu. Ia lalu melompat dan hendak turun ke dalam perahu-perahu kecil yang telah dilepas ke atas air. Akan tetapi, melihat kecurangan pangeran ini, Kwee An meninggalkan ketiga pengeroyoknya dan ia mengejar pangeran itu sambil berteriak,

“Jangan kau berlaku curang!” Akan tetapi, ketika ia telah tiba di depan pangeran itu, tiba-tiba Vayami menyerangnya dengan obor yang masih menyala. Kwee An terkejut karena serangan ini hebat juga dan diserangkan ke arah pakaiannya. Cepat ia mengelak dan tahu-tahu obor di tangan Vayami yang lihai itu telah diserangkan pula ke arah mukanya! Kwee An miringkan kepala dan selagi ia hendak membalas menyerang, tahu-tahu kaki Vayami telah berhasil menendang lututnya. Biarpun ia dapat miringkan kakinya hingga yang tertendang hanya di atas lututnya dan karena ia mengerahkan tenaga dalamnya maka pahanya tidak sampai terluka, akan tetapi karena tendangan itu keras, dan juga karena mereka berdiri di pinggir perahu, maka tak ampun lagi tubuh Kwee An terpelanting keluar perahu dan jatuh tercebur ke dalam air!

Cin Hai terkejut sekali akan tetapi ia tidak berdaya menolong karena Hai Kong Hosiang mendesaknya dengan hebat.

Ia melihat betapa semua pengikut Vayami dan pangeran itu sendiri melompat ke dalam perahu-perahu kecil dan terdengar Vayami berseru,

“Hai Kong Bengyu, lekas kau melompat ke sini!” Akan tetapi, Hai Kong Hosiang mana dapat meninggalkan Cin Hai begitu saja. Anak muda ini maklum bahwa jika hwesio itu dapat melompat ke dalam perahu, maka selain musuh besar ini tak dapat dirobohkan, juga keadaannya berada dalam bahaya. Api di atas perahu telah mulai membesar dan bahkan kini telah memakan tiang besar di tengah perahu! Oleh karena ini, maka Cin Hai mengambil keputusan nekad dan menyerang mati-matian hingga hwesio itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk lari. Terpaksa Hai Kong Hosiang kertak gigi dan melayani dengan sama sengitnya.

Masih terdengar beberapa kali suara Vayami memanggil Hai Kong Hosiang akan tetapi karena hwesio itu tak dapat ikut pergi, terpaksa Vayami dan orang-orangnya mendayung perahu mereka melawan arus yang besar dan kuat karena perahu besar dimana Cin Hai dan Hai Kong Hosiang bertempur mati-matian itu telah hanyut ke tengah dan telah tiba di tempat yang airnya mengalir kencang. Kwee An yang tercebur ke dalam air pun tak kuasa menahan bantingan air yang hebat dan terpaksa ia membiarkan dirinya terbawa hanyut sampai jauh. Baiknya ia pernah berlatih berenang pada Nelayan Cengeng, kalau tidak, mungkin ia akan mati di dalam permainan arus amat kuat itu! Ia tak kuasa berenang ke pinggir karena arus amat deras dan sungai itu sangat lebar, maka ia hanya mempergunakan kepandaiannya untuk menghindarkan tabrakan dengan batu-batu karang dan membiarkan dirinya hanyut di permukaan air. Sebentar saja ia terbawa hanyut jauh sekali dan setelah melalui sebuah tikungan, perahu besar di mana Cin Hai dan Hai Kong Hosiang bertempur telah lenyap dari pandangan matanya. Ia masih melihat betapa perahu itu mulai berkobar, maka diam-diam Kwee An sangat mengkhawatirkan keselamatan Cin Hai.

Ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang memang hebat. Ini terasa sekali oleh Cin Hai, karena sungguhpun pemuda ini telah mengerahkan semua kepandaian dan tenaganya, namun ia tetap tak dapat merobohkan Hai Kong Hosiang. Padahal mereka telah bertempur lebih dari dua ratus jurus. Sungguh harus ia akui bahwa inilah lawan yang paling tangguh yang pernah ia jumpai, kecuali Hek Pek Moko. Kalau dibanding dengan Beng Kong Hosiang, yaitu suheng atau kakak seperguruan Hai Kong, hwesio ini bahkan jauh lebih tangguh. Apalagi sabuk ular di tangan kirinya, sungguh-sungguh sukar dilawan karena berbahaya sekali.

Sebetulnya, ilmu kepandaian yang diwarisi oleh Cin Hai dari Bu Pun Su, boleh dibilang menjadi raja ilmu silat, karena ilmu ini membuat ia dapat mengetahui semua rahasia segala macam ilmu silat yang ada. Akan tetapi, oleh karena sebelum mempelajari ilmu kepandaian hebat ini Cin Hai belum mempunyai dasar-dasar ilmu silat lain, maka sekarang ia hanya mempunyai daya tahan yang sangat kuat saja, dan kurang kuat dalam hal menyerang atau boleh juga disebut kurang agresip. Memang, daya tahannya luar biasa kuatnya dan tak sembarang tipu gerakan yang dapat merobohkannya, akan tetapi sebaliknya daya serangnya lemah sekali oleh karena untuk dapat menyerang ia hanya dapat memetik dari jurus-jurus Ilmu Silat Liong-san yang dipelajarinya dari Kanglam Sam-lojin atau Ilmu Silat Lima Teratai dan Tarian Bidadari yang dipelajarinya dari Ang I Niocu.

Paling banyak ia hanya dapat meniru gerakan lawan untuk membalas menyerang, akan tetapi sudah tentu saja gerakannya kurang mahir, dan pula, apa artinya ilmu silat lawan digunakan untuk menyerang? Sudah tentu lawan itu sudah mengenal serangan ini dan amat mudah mengelak atau menangkisnya.

Maka biarpun Cin Hai dapat menghadapi Hai Kong Hosiang dengan baik akan tetapi juga amat sukar baginya untuk menjatuhkan lawan yang luar biasa tangguhnya ini. Memang dengan Tarian Bidadari, beberapa kali ia telah berhasil menghantam pundak dan lengan Hai Kong Hosiang dengan sulingnya, akan tetapi hwesio ini mempunyai tubuh kebal karena ia telah mempelajari dan memiliki ilmu kebal yang disebut Kim-kang-san atau Pakaian Baju Emas. Juga ilmu lweekang hwesio ini sudah cukup tinggi hingga sering kali kalau suling Cin Hai menotok jalan darahnya, ia tidak mengelak, akan tetapi menggunakan tenaganya untuk menutup jalan darahnya itu dan mengerahkan Kim-kang-san untuk menolak pukulan itu! Diam-diam Cin Hai merasa kagum sekali dan ia tidak menyangka bahwa juga Hai Kong Hosiang merasa kagum kepadanya karena hwesio ini mengakui di dalam hati bahwa apabila pemuda ini telah matang latihannya, tentu ia takkan sanggup menghadapinya lebih lama daripada seratus jurus!

Sementara itu, kini seluruh permukaan perahu telah mulai berkobar dan bahkan api telah menjalar mendekati mereka yang sedang bertempur! Tiang besar di dekat mereka juga telah terbakar dan hawanya menjadi panas bukan main! Pada saat itu, Hai Kong Hosiang tanpa disengaja menginjak sebuah papan yang terbakar hingga sepatunya menginjak api panas, sedangkan pedang di tangan Cin Hai telah disabetkan dengan hebat ke arah pinggangnya! Hwesio itu berteriak kaget akan tetapi masih sempat menjatuhkan diri ke belakang hingga papan yang terbakar itu kena tertindih tubuhnya dan padam. Dalam kemurkaannya, hwesio itu menggunakan kakinya menyapu tiang besar yang terbakar dan terdengar suara keras ketika tiang yang telah terbakar itu tidak tahan tertendang kaki Hai Kong Hosiang dan menjadi roboh! Dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk, tiang yang terbakar dan layar yang masih menggantung di atasnya itu tumbang menimpa mereka berdua!

Cin Hai cepat melompat pergi ke kepala perahu dan terhindar dari pada bahaya tertimpa tiang yang besar dan berat. Hai Kong Hosiang juga hendak melompat akan tetapi celaka baginya. Kakinya yang tadi digunakan untuk menyapu tiang secara kebetulan sekali terlibat oleh tali tambang yang besar, yaitu tali penarik layar yang bergantungan di tiang itu. Oleh karena ini, gerakannya melompat membawa tiang itu dan layar di atas roboh ke arah dirinya! Ia mencoba mengelak akan tetapi tali itu seperti tangan yang kuat memegangi kakinya hingga kakinya tertimpa tiang itu dan layar yang lebar dan tebal menyelimuti tubuhnya!

Dengan kekuatan Kim-kang-san yang dimilikinya, Hai Kong Hosiang dapat menyelamatkan kakinya dan kaki itu tidak menjadi patah walaupun tertimpa tiang sebesar itu, akan tetapi ia menjadi sibuk karena sukar untuk keluar dari selimutan layar yang besar itu, sedangkan layar itu pun mulai berkobar dan termakan api! Hai Kong Hosiang meronta-ronta, akan tetapi layar dan tiang itu sukar sekali dilepaskan dan ia menjadi gugup dan panik. Asap api telah masuk ke dalam selubungan layar dan membuat napasnya menjadi sesak. Dan pada saat itu, Hai Kong Hosiang tiba-tiba merasa takut! Ia merasa ngeri dan takut sekali menghadapi bahaya maut berupa api yang hendak membakar dirinya. Oleh karena ini, tak terasa pula ia memekik-mekik. “Tolong… tolonglah jiwaku…”

Pada saat itu, Cin Hai telah berdiri di kepala perahu dan telah siap untuk terjun ke air, meninggalkan perahu yang telah terbakar itu. Ia memandang ke arah Hai Kong Hosiang yang tertimpa tiang dan tertutup layar dan ia merasa girang karena musuh besar ini pasti akan mampus terpanggang. Tadinya ia bersiap sedia, karena kalau hwesio itu dapat melepaskan diri dari tindihan layar, ia hendak mengirim serangan tiba-tiba untuk menamatkan riwayat musuh yang tangguh itu. Akan tetapi ia menjadi lega ketika melihat bahwa hwesio itu tidak mampu melepaskan diri daripada kurungan layar dan tiang! Cin Hai tersenyum, memasukkan pedang ke dalam sarung pedang, menyelipkan suling ke ikat pinggangnya dan hendak mengayunkan tubuhnya terjun ke air. Akan tetapi, pada saat itu telinganya mendengar jeritan Hai Kong Hosiang yang minta tolong!

Cin Hai berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu. Mendengar pekik minta tolong itu, lenyaplah perasaannya bermusuh terhadap Hai Kong Hosiang. Yang terlintas dalam pikirannya pada saat itu hanyalah adanya orang yang terancam bahaya maut dan ia kuasa menolongnya, maka bagaimana ia dapat berlaku kejam dan tinggal berpeluk tangan melihat orang dimakan api? Ah, hatinya tak sekejam itu dan ia menjadi tidak tega sungguhpun di waktu bertempur, dengan senang hati ia akan menancapkan pedangnya di uluhati hwesio itu!

Tanpa banyak pikir lagi, Cin Hai lalu melompat ke dekat layar dan tiang yang masih mengurung Hai Kong Hosiang dan dengan menggunakan sepatunya ia menginjak-injak api yang mulai membakar layar itu dari tubuh Hai Kong Hosiang. Ternyata keadaan hwesio itu telah mulai payah karena selain api telah ada yang menjilat tubuhnya, juga ia telah dibuat tak berdaya oleh asap. Pertolongan yang datang tiba-tiba ini membuat ia dapat bernapas lagi dan ia duduk terengah-engah sambil terbatuk-batuk sedangkan kakinya masih tertindih tiang! Melihat muka hwesio yang telah menjadi hitam karena asap dan api, Cin Hai lalu menendang pergi tiang yang menindihnya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengangkat tubuh Hai Kong Hwesio dari kurungan api. Ia melompat ke pinggir perahu dan selagi ia hendak menurunkan tubuh musuh itu, tiba-tiba ia merasa pundak kirinya sakit sekali dan mendengar suara Hai Kong Hosiang tertawa!

Ternyata bahwa Hai Kong Hosiang telah menggunakan kesempatan ketika ia digendong oleh Cin Hai itu menotok pundak Cin Hai di bagian jalan darah swan-hong-hiat! Totokan ini sebenarnya hebat sekali dan dapat mendatangkan kematian bagi Cin Hai, akan tetapi karena tenaga Hai Kong Hosiang telah berkurang sedangkan Cin Hai masih sempat menutup jalan darahnya walaupun agak terlambat, maka pemuda itu hanya menderita luka dalam yang cukup hebat hingga ia merasa betapa setengah badannya sebelah kiri telah menjadi lumpuh. Cepat Cin Hai menggunakan tenaga terakhir untuk melempar dirinya dan Hai Kong Hosiang ke dalam air. Terdengar suara keras dan air memercik tinggi ketika dua tubuh itu terbanting di air yang mengalir cepat itu. Hai Kong Hosiang jatuh dengan terlentang hingga untuk beberapa saat ia gelagapan. Akan tetapi, hwesio ini telah mempelajari ilmu di dalam air, maka cepat ia dapat membalikkan diri dan dengan matanya yang telah menjadi pedas dan kabur akibat serangan api tadi, ia mencari-cari mangsanya. Akan tetapi Cin Hai tidak nampak di situ dan selagi Hai Kong Hosiang mencari-cari dengan heran, tiba-tiba dari bawah permukaan air, sebuah lengan tangan menyerangnya dengan kekuatan yang luar biasa. Inilah Pukulan Petir Menyambar Awan yang dilakukan oleh Cin Hai dengan hati gemas. Walaupun sebelah tubuhnya telah menjadi lumpuh, namun Cin Hai dengan mengeraskan hati dan mengumpulkan tenaga di tangan kanannya dapat melancarkan pukulan hebat itu yang tepat menghantam punggung Hai Kong Hosiang. Pukulan ini dilakukan dengan tangan kanan dan jari-jari terbuka dan hebatnya luar biasa, hingga tenaga Cin Hai tinggal setengah bagian saja dan walaupun dilakukan dari dalam air namun tubuh Hai Kong Hosiang yang besar itu sampai terpental ke atas air. Cin Hai tidak kelihatan kepala dan tubuhnya dan hanya tangan kanannya saja nampak memukul dari dalam air, sedangkan tangan kirinya telah tak berdaya sama sekali.

Hai Kong Hosiang mengeluarkan jeritan ngeri dan merasa seakan-akan nyawanya telah melayang meninggalkan tubuhnya, kepalanya pusing dan matanya menjadi gelap. Ia terbanting lagi ke dalam air dan tubuhnya hanyut terbawa air karena ia telah pingsan terkena Pukulan Petir Menyambar Awan itu. Adapun Cin Hai yang lelah sekali dan tubuhnya lumpuh sebelah, setelah melakukan serangan balasan yang hebat ini pun lalu menjadi pingsan dan tubuhnya hanyut di belakang tubuh Hai Kong Hosiang. Dalam keadaan pingsan Cin Hai tidak merasa bahwa ia telah ditolong oleh kaki tangan Pangeran Vayami. Juga Hai Kong Hosiang ditolong oleh pangeran itu. Keduanya lalu dibawa ke utara dan dibawa masuk ke dalam sebuah tempat kediaman pangeran itu yang memiliki banyak sekali gedung di daerah utara yang dibangun model gedung bangsa Han.

Berkat tubuhnya yang luar biasa kuatnya, setelah mendapat perawatan dari seorang tabib Mongol, luka yang diderita oleh Hai Kong Hosiang akibat pukulan Cin Hai telah dapat disembuhkan lagi dalam beberapa hari. Juga Cin Hai telah sadar dari pingsannya, akan tetapi ia merasa tubuhnya masih lemah sekali. Ia merasa heran mengapa ia mendapat perawatan sedemikian baiknya dari Pangeran Vayami dan diam-diam ia merasa bersyukur dan berterima kasih.

Ketika Hai Kong Hosiang sadar dan melihat bahwa Cin Hai masih hidup dan berada di tempat itu pula, ia serentak bangun dan hendak membunuh pemuda itu, akan tetapi Vayami mencegahnya. Hai Kong Hosiang adalah utusan kaisar yang ditugaskan menghubungi Pangeran Vayami yang berpengaruh, bahkan ia diberi tugas membawa surat undangan kepada pangeran itu, maka hwesio ini maklum bahwa Pangeran Vayami adalah seorang yang terhormat dan yang harus ditaati perintahnya karena pangeran ini adalah calon tamu agung yang diundang ke istana kaisar.

“Hai Kong Beng-yu, jangan salah paham,” kata pangeran ini dengan wajah berseri dan senyumnya yang manis. “Bukan aku sengaja membela dia karena aku membenarkan dia dan memusuhimu, akan tetapi aku membutuhkan tenaga dan kepandaiannya. Ketahuilah bahwa ia telah terkena pengaruh madu merah dari tabibku dan sebentar lagi ia akan menjadi alat kita yang boleh dipercaya.”

Hai Kong Hosiang mengangguk-angguk dan ia batalkan niatnya hendak membunuh pemuda tangguh yang hampir saja menewaskannya itu. Ia merasa gembira akan muslihat Pangeran Vayami yang cerdik dan licin. Ternyata di daerah utara terdapat banyak sekali obat-obatan yang sangat manjur dan ramuan obat yang luar biasa jahatnya dan yang sama sekali tak pernah dikenal oleh penduduk Tiongkok pedalaman. Pangeran Vayami mempunyai tabib tua yang ahli dalam hal obat-obatan bangsa Mongol dan di antara obat-obat yang mengandung racun luar biasa terdapai semacam obat yang disebut madu merah. Madu merah ini memang madu dari bangsa tawon yang langka terdapat di lain bagian di dunia, dan hanya terdapat di daerah salju di utara. Madu merah ini bukanlah racun yang berbahaya bagi tubuh, akan tetapi mempunyai khasiat memabokkan dan yang dapat membuat orang menjadi lupa akan keadaan dirinya dan yang diberi minum madu merah ini akan menjadi manusia penurut yang tak dapat menguasai pikiran sendiri dan tahunya hanya menjalankan perintah orang lain yang mempengaruhinya. Kalau sekarang mungkin orang macam ini akan disebut manusia-manusia robot! Pangeran yang cerdik ini merasa kagum akan kepandaian Cin Hai, maka diam-diam ia menggunakan obat mujijat ini untuk mencengkeram Cin Hai, dan memperalatnya!

Cin Hai mendapat perawatan yang luar biasa telaten dari tabib tua kepercayaan Vayami hingga dengan mudah saja pemuda itu dapat diberi minum madu merah yang manis rasanya dengan alasan bahwa itu adalah obat untuk menguatkan tubuhnya. Memang benar, tubuh Cin Hai menjadi kuat kembali dan luka akibat totokan Hai Kong Hosiang telah sembuh, akan tetapi ia merasa makin hari makin malas dan semua hal yang telah terjadi berangsur-angsur terlupa olehnya. Bahkan ketika telah diperbolehkan keluar kamar dan melihat Hai Kong Hosiang, ia tidak mengenal lagi hwesio ini! Cin Hai hanya merasa senang luar biasa tinggal di situ dan tidak mempunyai kehendak lain. Biarpun pikirannya telah dipengaruhi obat mujijat itu, namun tenaga dan kepandaiannya masih ada padanya. Hanya kepandaiannya dan julukannya saja yang ia masih ingat, yaitu “Pendekar Bodoh”!

Demikianlah, dengan secara keji sekali, Pangeran Vayami telah dapat menaklukkan Cin Hai yang semenjak itu telah menjadi seorang hambanya yang setia dan yang menurut akan segala perintahnya. Ini tidak mengherankan karena pangeran itu selalu bersikap manis dan baik kepadanya, dan dengan pengaruh sihirnya yang cukup kuat ia dapat merampas pikiran Cin Hai dan dapat mempengaruhi pemuda itu. Selain Pangeran Vayami, tak ada orang lain yang mampu mempengaruhi pemuda ini, karena betapapun juga pemuda ini mempunyai batin dan dasar pelajaran yang kuat!

Setelah tubuh Cin Hai dan Hai Kong Hosiang sembuh kembali, Vayami lalu membawa rombongannya itu menuju ke selatan, karena ia hendak memenuhi undangan kaisar yang hendak bersekutu dengannya.

Rombongan ini setelah menyeberang sungai lalu melanjutkan perjalanan dengan naik kuda. Pangeran Vayami memiliki seekor kuda putih yang tinggi besar dan yang mempunyai tenaga luar biasa dan nampaknya liar. Kuda ini bukanlah binatang sembarangan dan dinamakan “Pek-gin-ma” atau Kuda Perak Putih yang dapat lari seribu li dalam sehari tanpa berhenti! Pangeran yang cakap ini nampak gagah sekali naik kuda yang berbulu putih itu, hingga jubahnya yang berwarna merah darah nampak mencolok sekali. Di sepanjang jalan pangeran yang tampan ini bersikap gembira dan menyambut penghormatan para rombongan orang-orang Mongol dengan sikap ramah dan agung. Memang hatinya sangat gembira dan girang karena kini ia telah mempunyai seorang penjaga pribadi yang juga menunggang kuda bagaikan sebuah patung hidup di sebelahnya, yaitu Cin Hai! Wajah pemuda yang memang sudah kelihatan bodoh itu kini benar-benar nampak bodoh sekali karena tidak menunjukkan perasaan apa-apa bagaikan seorang sedang duduk di atas kuda sambil mimpi!

Pada suatu hari, rombongan Pangeran Vayami tiba di sebuah kampung padang rumput dan mereka lalu memasang tenda di padang rumput, agak di luar kampung. Pada malam harinya, penduduk kampung yang berpenduduk campuran antara bangsa Han, Mongol dan Mancu, keluar menyambut Pangeran Vayami untuk menghiburnya. Pangeran ini namanya telah terkenal sekali dan banyak orang mendewa-dewakannya seperti seorang Buddha hidup dan banyak orang percaya bahwa siapa yang dapat menyenangkan hatinya atau memancing keluar senyum bibirnya yang manis, orang itu akan mendapat hadiah Nirwana atau Surga ke tujuh! Oleh karena itu, maka semua penduduk, tua muda, laki-laki dan perempuan, bahkan gadis kampung tidak ketinggalan menyerbu ke tempat pemberhentian rombongan itu. Mereka menghidangkan hidangan yang lezat-lezat dari daging domba, bahkan serombongan pemain musik memainkan perkakas mereka dan memainkan lagu rakyat. Gadis-gadis bergembira ria dan menari di depan Pangeran Vayami yang memandang semua itu dengan wajah menyatakan bosan. Memang ia tidak tertarik menonton tari-tarian itu, oleh karena gadis-gadis di kampung utara memang rata-rata berwajah kasar bagaikan laki-laki dan kulit kehitam-hitaman.

Tiba-tiba, ketika gadis-gadis itu masih menari-nari, berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di tengah-tengah kalangan gadis yang sedang menari itu nampak seorang wanita berbaju merah yang menari-nari pula. Akan tetapi tariannya berbeda dengan tarian para gadis kampung itu, dan wanita ini wajahnya demikian cantik jelita hingga Pangeran Vayami memandang dengan kedua mata terbelalak. Gadis ini tidak saja kulitnya begitu halus dan putih laksana sutera, akan tetapi juga mempunyai potongan tubuh yang menggiurkan dan gerak-geriknya lemah gemulai menarik hati! Tidak hanya para pemusik yang menjadi kagum dan saking gembiranya mereka lalu mainkan tetabuhan mereka lebih ramai lagi, akan tetapi juga para gadis yang tengah menari-nari itu menjadi demikian kagum hingga mereka menghentikan tarian mereka dan kini berdiri merupakan sederet barisan yang bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa-tawa mengikuti irama lagu sambil menikmati tarian Gadis Baju Merah itu.

Tiba-tiba Hai Kong Hosiang berseru di antara sinar obor yang membuat wajahnya nampak menyeramkan, “Ang I Niocu…!” Dan ia segera mencabut keluar senjatanya yang mengerikan itu, akan tetapi Vayami yang duduk di dekatnya segera mengangkat tangan dan berkata,

“Hai Kong Bengyu, jangan sembarangan bergerak. Biarkan bidadari itu menari!” Ucapan ini merupakan perintah karena pangeran itu benar-benar tidak suka melihat gangguan Hai Kong Hosiang. Oleh karena ini, sambil menggigit bibirnya, Hai Kong Hosiang berdiri saja sambil menatap Ang I Niocu dengan mata merah.

Memang benar, yang datang itu adalah Ang I Niocu sendiri! Dara Baju Merah ini telah dapat melihat Cin Hai berada dalam rombongan Pangeran Vayami, akan tetapi karena sikap Cin Hai mencurigakan, ia lalu sengaja memancing dengan tariannya. Sambil menari ia mengerling ke arah Cin Hai akan tetapi alangkah heran, terkejut dan mendongkolnya ketika ia melihat wajah Cin Hai yang tersorot sinar obor itu menunjukkan seakan-akan pemuda itu tidak kenal kepadanya dan seakan-akan tariannya yang indah itu dalam pandangan Cin Hai hanyalah tarian seekor kodok meloncat-loncat yang tak ada harganya dipandang.

Dalam kemendongkolannya, Ang I Niocu hendak marah, akan tetapi perasaan wanitanya yang halus itu dapat menduga adanya bahaya yang mengancam. Apalagi ketika ia melihat wajah Hai Kong Hosiang yang berada di situ pula! Aneh pikirnya, tentu telah terjadi sesuatu atas diri Hai-ji! Oleh karena ini, ketika ia melihat betapa sepasang mata pangeran muda itu tertuju kepadanya penuh kekaguman dan gairah, dan melihat pula betapa besar pengaruh pangeran itu hingga berani membentak Hai Kong Hosiang, ia lalu menari lebih indah pula untuk membuat pangeran itu benar-benar mabok!

Pangeran Vayami memang mempunyai kelemahan terhadap wanita cantik. Setiap hari dia melihat wanita-wanita yang buruk rupa, maka sekali ini Ang I Niocu yang demikian cantik jelita dan demikian indah tariannya, tak heran apabila ia menjadi tergila-gila! Setelah Ang I Niocu menghentikan tariannya, pangeran itu bertepuk-tepuk tangan dan memuji,

“Bagus, bagus! Hebat sekali! Eh, nona yang cantik seperti bidadari, silakan kau datang ke mari!”

Dengan tindakan kaki yang menarik-narik kalbu Pangeran Vayami, Ang I Niocu menghampiri pangeran itu, sedangkan Hai Kong Hosiang berdiri di belakang pangeran itu bersiap sedia dengan hati curiga.

Ang I Niocu menjura dan memberi hormat dengan senyum manis bermain di bibirnya yang merah,

“Nona, kau yang luar biasa ini siapakah namamu? Dan di mana tempat tinggalmu?”

“Sudah kukatakan tadi, dia ini adalah Ang I Niocu yang tersohor namanya!” kata Hai Kong Hosiang. “Gadis ini berbahaya sekali!”

Akan tetapi baik Pangeran Vayami maupun Ang I Niocu tidak mempedulikan ucapan pendeta itu, dan Ang I Niocu menjawab dengan suaranya yang merdu, “Hamba bernama Kiang Im Giok dan tempat tinggal hamba tidak tentu karena sebenarnya hamba adalah seorang perantau.”

“Ah, kau membawa-bawa pedang, tentu kau seorang kang-ouw juga bukan? Kebetulan sekali, aku pun suka kepada orang-orang gagah dan maukah kau ikut dengan rombonganku?”

“Pangeran sungguh berbudi mulia dan hamba hanya mohon berkah dari Pangeran yang suci ini.”

Mendengar ucapan ini Hai Kong Hosiang menjadi ragu-ragu. Benarkah gadis yang gagah ini pun percaya dan tunduk kepada pangeran ini? Sementara itu, Ang I Niocu mengerling ke arah Cin Hai akan tetapi alangkah kagetnya ketika melihat wajah Cin Hai yang seperti mayat itu. Maka dengan hati berdebar-debar ia lalu berkata pula,

“Hamba telah kenal dengan Hai Kong Hosiang yang berdiri di belakang Paduka itu, bahkan hamba pernah kenal dengan pemuda ini. Mengapa mereka berdua berada dalam rombongan Paduka?” tanyanya dengan hati-hati sambil menunjuk kepada Cin Hai yang sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu.

“Ha, ha, ha! Tak heran kau kenal mereka, karena mereka adalah tokoh besar di kalangan kang-ouw. Hai Kong Hosiang tuan rumahku yang mengantar aku berkunjung ke kerajaan, sedangkan pemuda itu adalah penjagaku yang setia. Ha, ha, marilah kita bicara di dalam, Nona, tak perlu kita membicarakan orang-orang ini.”

“Hamba hanya menurut kehendak Paduka,” kata Ang I Niocu sambil tersenyum.

Dengan suara lantang Pangeran Vayami lalu membubarkan semua orang dan memberi berkah dengan kedua tangan dilambai-lambaikan kemudian dengan berani sekali ia memegang tangan Ang I Niocu yang halus lemas dan menggandeng gadis itu menuju ke kemahnya, pangeran ini lalu memerintahkan kepada para pelayannya untuk menyediakan meja perjamuan dan ia lalu mengajak Ang I Niocu makan minum dengan gembira.

Dengan menggunakan senyum dan kerlingnya yang menawan hati, Ang I Niocu berhasil memancing Pangeran Vayami untuk menceritakan pengalaman Cin Hai. Pengaruh arak telah membuat lidah pangeran itu menjadi fasih dan ia menceritakan sambil diseling kata-kata memuji-muji kecantikan Ang I Niocu.

Bukan main marahnya Gadis Baju Merah ini mendengar bahwa Cin Hai telah berada dalam pangaruh madu merah yang berbahaya. Tiba-tiba ia menendang meja yang berada di depannya dan sekali ia bergerak, ia telah menangkap tangan Pangeran Vayami dan menempelkan pedangnya di leher pangeran itu. Pangeran Vayami menjadi pucat sekali dan tubuhnya gemetar, kedua kakinya menjadi lemas.

“Ang I Niocu penjahat perempuan! Sudah kuduga engkau mempunyai niat buruk!” tiba-tiba terdengar bentakan di luar tenda.

“Mundur, atau leher pangeran cabul ini akan kupenggal lebih dulu!” Ang I Niocu membentak. Terpaksa sambil memaki-maki Hai Kong Hosiang mundur lagi dan keluar dari kemah.

“Lekas kau perintahkan supaya kuda Pek-gin-ma dibawa ke sini!” Ang I Niocu memerintah sambil memutar lengan Pangeran Vayami. Pangeran ini merasa kesakitan dan dengan suara megap-megap ia perintahkan orangnya untuk membawa kuda Pek-gin-ma ke situ. Setelah kuda putih yang indah itu didatangkan, Ang I Niocu memerintah pula,

“Sekarang kaupanggil Cin Hai ke sini!”

Cin Hai takkan mau datang kalau lain orang yang memanggil, maka setelah Pangeran Vayami memberitahukan hal ini kepada Ang I Niocu, gadis itu lalu memaksa dan mendorongnya keluar untuk mencari Cin Hai. Kebetulan sekali, Cin Hai tidak berada jauh di situ dan pemuda ini duduk di dekat api unggun sambil termenung,

“Cin Hai, kau ke sini!” Pangeran Vayami memerintah dan bagaikan sebuah robot, pemuda itu bangun berdiri dan menghampiri Pangeran Vayami. Hati Ang I Niocu perih sekali melihat keadaan Cin Hai demikian rupa.

Sementara itu dengan bantuan sinar obor dan api unggun, Pangeran Vayami memandang dan menatap mata Cin Hai dengan tajam dan diam-diam ia mengerahkan tenaga sihirnya hingga pada saat itu Cin Hai menjadi tunduk betul-betul dan berada di bawah pengaruhnya sama sekali.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: