Pendekar Bodoh ~ Jilid 19

Mereka berempat lalu mendarat dan bersiap sedia dengan senjata mereka kalau-kalau ada binatang luar biasa yang datang menyerang. Akan tetapi aneh sekali, dan terutama Yousuf merasa heran karena tak seekor binatang pun yang dulu dilihatnya kelihatan muncul.

“Apakah selama beberapa tahun ini mereka telah mati?” katanya pada diri sendiri akan tetapi diucapkan dengan mulut.

“Mungkin juga, karena benda atau mahluk apakah di dunia ini yang tidak akan menyerah terhadap kematian?” kata Nelayan Cengeng yang membawa dayungnya yang besar dan berat dipanggul di pundak.

Mereka lalu menjelajah di pulau itu dan ternyata bahwa selain burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon pulau itu nampaknya tidak ada mahluk yang berbahaya. Mereka lalu mengunjungi danau yang dulu diceritakan oleh Yousuf dan bersama-sama mengagumi danau yang berwarna macam-macam itu.

“Ada sesuatu yang mengerikan di bawah danau ini agaknya,” kata Nelayan Cengeng hingga Lin Lin dan Ma Hoa lalu saling mendekat dan saling berpegang tagan oleh karena kedua gadis ini pun merasa betapa danau ini berbeda dengan danau biasa, seakan-akan di dasarnya yang hitam dan mengerikan!

Yousuf lalu mengajak mereka memeriksa terus keadaan pulau itu dengan pengharapan untuk mendapatkan harta atau emas yang disangkanya berada di pulau itu akan tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu yang berharga.

Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di sebuah puncak lain yang ditumbuhi banyak bunga-bunga indah. Tiba-tiba Lin Lin berseru,

“Ada gua di sini!” Ketika semua orang menghampiri, benar saja, tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi terdapat pintu gua yang cukup besar dan tinggi. Gua itu tadinya gelap oleh karena terhalang oleh alang-alang, akan tetapi segera setelah Yousuf menggunakan pedangnya untuk membabat alang-alang itu, di dalam gua menjadi terang oleh karena kebetulan sekali gua menghadap ke barat dan matahari yang sudah condong ke barat itu menyinarkan cahayanya ke dalam gua.

Dengan didahului Yousuf dan Nelayan Cengeng, keempat orang itu memasuki gua dengan perlahan dan hati-hati, dan tak lupa mereka menyiapkan senjata di tangan masing-masing menghadapi bahaya yang mungkin timbul. Gua itu ternyata memang cukup luas, akan tetapi dalamnya hanya kira-kira tiga tombak saja dan di dalamnya kosong tidak menampakkan sesuatu yang aneh.

Tiba-tiba Lin Lin menjerit perlahan dan melompat seakan-akan diserang oleh sesuatu yang mengerikan dari bawah tanah! Semua orang terkejut dan bertanya, “Ada apakah?”

Lin Lin dengan tangan menggigil menunjuk ke bawah dan ternyata bahwa kaki gadis itu tadi telah tersangkut oleh sebuah tulang tangan orang yang menonjol keluar dari tanah yang tertutup pasir itu! Tangan ini hanya kelihatan lima jarinya saja, sedangkan tulang rangka selebihnya terpendam di bawah pasir! Tentu saja melihat lima buah jari tangan yang sudah menjadi rangka itu di tempat yang mengerikan menimbulkan hati takut dan ngeri.

“Tentu ada apa-apanya di bawah ini,” berkata lagi Nelayan Cengeng dan ia segera mulai menggali pasir yang menimbun tangan rangka itu. Setelah digali, maka tampaklah rangka manusia yang lengkap terpendam di pasir dan disebelah rangka itu terdapat sebatang pedang yang telah habis dimakan karat dan pedang itu hanya tinggal sisanya sepanjang paling banyak satu kaki saja lagi. Sisa ini pun telah merupakan besi berkarat dan gagangnya sudah tinggal sepotong kayu lapuk.

Sambil memegang pedang bobrok itu dan mengamat-amatinya dengan penuh perhatian, Nelayan Cengeng berkata sambil menghela napas.

“Ah, kalau saja pedang bobrok ini dapat bicara, tentu ia akan menceritakan riwayat orang ini yang tentu indah menarik sekali. Apalagi tubuh manusia sedangkan pedang yang aku percaya tadinya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, kini hanya tinggal sisanya yang sudah tidak berharga lagi saja!” Sambil berkata demikian, Nelayan Cengeng lalu menaruh kembali pedang yang tinggal sepotong dan karatan itu di dekat rangka itu.

“Kita harus tanam kembali rangka ini dengan pasir,” katanya penuh kekecewaan karena tidak mendapatkan sesuatu di situ.

“Nanti dulu, Locianpwe!” tiba-tiba Lin Lin berkata. “Agaknya tidak percuma tangan rangka ini tadi menowel kakiku dan karena di sini tidak terdapat sesuatu, biarlah kusimpan sisa pedang ini sebagai kenang-kenangan kunjunganku ke pulau ini.”

Nelayan Cengeng tertawa. “Kau ini memang aneh! Untuk apakah sisa pedang bobrok itu?” Akan tetapi semua orang tidak melarang ketika Lin Lin dengan hati-hati mengambil pedang bobrok itu dan membungkusnya dengan baik-baik di dalam saputangannya, lalu menyelipkannya di ikat pinggang.

Setelah mengubur kembali rangka itu dengan baik-baik, mereka lalu mengambil keputusan untuk bermalam di gua ini yang merupakan tempat baik sekali untuk berlindung dari serangan angin atau binatang buas yang mungkin menyerang di waktu malam.

Berhari-hari keempat orang itu tinggal di Pulau Kim-san-to dan setiap hari Yousuf keluar melakukan pemeriksaan dan mencari-cari harta yang disangkanya berada di pulau itu. Akan tetapi usahanya selalu gagal dan sia-sia, karena yang didapatnya di pulau itu hanyalah batu-batu karang yang tidak berharga. Sedangkan Nelayan Cengeng dan kedua orang gadis itu yang tidak sangat bernafsu untuk mencari harta terpendam, jarang ikut dan hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan di pulau itu.

Pada hari ke tiga, tiba-tiba terdengar jeritan Yousuf dari dekat. Ketiga orang kawannya menjadi kaget sekali dan cepat memburu ke arah suara jeritannya. Mereka kaget melihat Yousuf sedang mencekik seekor ular yang besarnya hanya selengan tangan orang, akan tetapi wajah orang Turki itu telah menjadi pucat sekali. Lin Lin memburu dengan pedang di tangan dan sekali bacok saja tubuh ular itu telah terpotong menjadi dua.

Yousuf melepaskan leher ular yang sedang dicekiknya itu ke atas tanah, akan tetapi semua orang terkejut sekali melihat bahwa bagian yang seharusnya menjadi ekor ular itu, ternyata merupakan kepala pula dan yang telah menggigit pundak Yousuf dan kini masih menempel di situ.

Ternyata bahwa ular itu adalah seekor ular kepala dua. Ketika Yousuf sedang memeriksa dan mencari-cari sambil menyingkap rumput alang-alang, tiba-tiba ular tadi menyambar dan hendak menggigitnya, Yousuf tidak keburu berkelit, maka cepat mengulur tangan menangkap leher ular yang menyambarnya itu dan terus menggunakan kekuatannya mencekik leher ular yang tak dapat melepaskan diri lagi. Akan tetapi, tiba-tiba Yousuf merasa pundaknya sakit sekali dan alangkah kaget dan herannya ketika melihat bahwa ekor ular itu dapat menggigit pundaknya. Dia tidak menyangka bahwa ekor ular itupun merupakan kepala kedua sehingga ia tidak sempat mengelak dan kena tergigit pundaknya.

Yousuf merasa tubuhnya menjadi panas dan pundaknya sakit sekali, maka tanpa terasa pula ia menjerit hingga kawan-kawannya datang menolong.

Setelah melepaskan kepala ular yang dicekiknya, Yousuf lalu roboh pingsan dengan muka merah sekali. Ketika Nelayan Cengeng meraba jidatnya, ternyata tubuh orang Turki itu panas sekali. Kong Hwat Lojin lalu mencabut kepala ular yang masih menggigit pundak walaupun telah mati dan melemparkannya jauh-jauh, kemudian ia memondong tubuh Yousuf ke dalam gua tempat mereka bermalam.

Lin Lin yang biarpun sedikit pernah mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya yaitu Biauw Suthai lalu memeriksa luka di pundak Yousuf. Ia terkejut sekali melihat betapa pundak itu telah menjadi matang biru dan maklum bahwa ular yang menggigit Yousuf itu adalah ular beracun yang berbahaya sekali.

Selagi mereka bertiga kebingungan tiba-tiba di luar gua terdengar suara aneh. Mereka memburu keluar dan melihat seekor burung merak yang berbulu biru bercampur kuning keemas-emasan hingga dari jauh nampak seperti hijau. Merak ini indah sekali dan juga besarnya melebihi merak biasa. Mereka terkejut karena teringat akan cerita Yousuf tentang merak sakti yang amat lihai. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah siap dengan senjata mereka untuk menyerbu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru,

“Jangan ganggu dia! Lihat, dia membawa buah Pek-kim-ko (Buah Emas Putih). Buah inilah yang kubutuhkan pada saat ini untuk menolong jiwa Yo sian seng.”

Merak itu seakan-akan mengerti bicara Lin Lin, karena ia berhenti dan berdiri di depan Lin Lin sambil memandang ke arah gadis itu dengan kedua matanya yang merah dan indah. Lin Lin lalu melangkah maju tanpa kelihatan jerih sedikit pun, karena dalam hatinya ia menganggap tak mungkin seekor burung yang begini indahnya dapat mempunyai watak jahat.

Setelah dekat Lin Lin tidak berani mengambil buah itu dari mulut merak karena menganggap hal itu kurang patut dan tidak menghargai burung itu, maka ia lalu mengulurkan tangan kanan seperti orang minta-minta. Dan benar saja, merak ajaib itu lalu mengulurkan lehernya ke depan dan menjatuhkan buah yang berwarna putih itu ke dalam telapak tangan Lin Lin. Lin Lin menerima buah itu dan ketika melihat bahwa itu benar-benar buah Pek-kim-ko seperti yang ia duga, ia menjadi girang sekali dan tak terasa pula ia mengangguk kepada burung merak itu dan berkata,

“Sin-kong-ciak-ko (Saudara Merak Sakti), terima kasih banyak!” Lalu gadis ini berlari masuk ke dalam gua diikuti oleh Nelayan Cengeng dan Ma Hoa yang memandang terheran-heran. Lin Lin segera menghampiri Yousuf yang masih rebah di pembaringan tanpa dapat berkutik lagi dan mukanya makin menjadi merah serta tubuhnya penas sekali bagaikan dibakar.

Tanpa banyak membuang waktu dan banyak bicara lagi, Lin Lin lalu mencabut pedangnya dan menggunakan ujung pedang itu untuk digoreskan ke pundak Yousuf yang telah dibuka bajunya, yaitu di bagian yang bengkak dan matang biru, bekas gigitan ular tadi. Kulit pundak dan daging di situ terbuka dengan mudah oleh ujung pedang yang tajam dan runcing itu, kemudian setelah menyimpan pedangnya, Lin Lin lalu memasukkan buah Pek-kim-ko itu ke mulutnya terus dikunyah dan dimakan. Rasa buah itu pahit sekali dan di dalamnya mengandung getah yang melekat di seluruh lidah, gigi, dan kulit dalam mulut. Lin Lin lalu menempelkan bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu ke arah luka bekas goresan pedang di pundak Yousuf lalu dihisapnya! Setelah menghisap, ia lalu meludahkan darah hitam yang dapat disedot dari luka itu. Berkali-kali ia menghisap dan meludah sambil kadang-kadang berhenti untuk mengurut jalan darah di sekitar pundak yang tergigit ular itu. Akhirnya, habislah bisa ular yang meracuni darah Yousuf dan lenyaplah warna merah di mukanya dan warna matang biru di pundaknya, sedangkan panasnya juga otomatis menurun.

Ternyata bahwa khasiat buah Emas Putih itu ialah untuk menjaga mulut dan tenggorokan Lin Lin, agar jangan sampai terpengaruh bisa yang jahat itu. Tanpa buah Pek-kim-ko, Lin Lin takkan berani melakukan penghisapan bisa dengan mulutnya itu, karena hal ini berbahaya sekali, dan dapat menewaskannya.

Setelah jiwa Yousuf tertolong dari ancaman bisa ular, Lin Lin lalu keluar dari gua untuk mencari air dan mencuci mulutnya sampai bersih. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa saling pandang dan rasa haru yang mendalam terasa oleh hati kedua orang ini melihat ketinggian budi Lin Lin. Mereka memuji kemuliaan hati gadis itu.

Ketika Lin Lin sedang mencuci mulut dan tangannya di sebuah sumber air kecil di puncak gunung itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara geraman hebat di belakangnya dan ketika ia menoleh, terlihat olehnya seekor harimau yang besar sekali! Yang aneh adalah bahwa di tengah-tengah jidat harimau itu tumbuh sebuah tanduk yang melengkung ke atas bagaikan tanduk seekor badak. Lin Lin cepat berdiri dan melompat ke tempat yang lebih lega dan rata, karena maklum bahwa binatang ini tentulah harimau jahat dan lihai yang pernah diceritakan oleh Yousuf di atas perahu dulu.

Memang benar bahwa harimau inilah yang dulu menyerang Yousuf dan kawan-kawannya dan binatang ini lihai dan kuat. Akan tetapi melihat Lin Lin, harimau ini agaknya ragu-ragu untuk menyerang, hanya memandang dan menggeram beberapa kali, lalu mengaum kecil seakan-akan menyatakan keraguannya apakah ia harus menyerang gadis ini atau tidak.

Tiba-tiba terdengar suara pukulan sayap dari atas dan Lin Lin merasa datangnya angin menyambar kepalanya dari atas. Cepat gadis ini mengelak dengan tepat oleh karena tanpa peringatan lagi, dari atas telah manyambar turun seekor Rajawali Emas yang besar! Kalau Lin Lin tadi tidak mengelak dengan tepat, tentu kepalanya telah kena dipatuk oleh burung yang gelak itu! Lin Lin makin terkejut oleh karena ia telah mendengar akan kelihaian burung ini dan kini setelah dua macam binatang lihai ini barada di depannya, apakah yang dapat ia lakukan? Sedangkan Yousuf yang begitu gagah dan dibantu oleh dua orang kawannya pun masih tak kuat melawan dua ekor binatang ini, apalagi dia berada seorang diri dan tidak memegang senjata pula? Namun gadis ini memang mempunyai hati yang tabah dan pada mukanya tidak terlihat rasa takut sedikit pun. Bahkan ketika itu ia memandang kepada harimau dan rajawali sakti itu dengan pandangan mata kagum dan senang. Rajawali itu setelah menyambar turun, lalu berdiri di dekat harimau bertanduk dan ternyata bahwa tubuh rajawali itu jauh lebih tinggi daripada tubuh harimau itu! Kedua ekor binatang ini memandang kepada Lin Lin dan agaknya mereka keduanya merasa ragu-ragu melihat seorang manusia cantik yang tidak mengambil sikap bermusuhan dengan mereka, bahkan tidak mengeluarkan senjata untuk melukai mereka.

Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari atas dan ketika Lin Lin memandang, ternyata merak yang luar biasa tadi telah melayang turun dan berdiri di atas tanah di depan kedua binatang itu. Harimau bertanduk lalu menggoyang-goyangkan ekornya dan menundukkan kepala sedangkan Rajawali Emas itu lalu mengebut-ngebutkan sepasang sayapnya sambil bertunduk pula, seakan-akan keduanya memberi hormat kepada merak ini. Merak Sakti itu mengangkat dadanya dengan bangga lalu memutar menghadapi Lin Lin dan gadis ini girang sekali oleh karena ternyata bahwa merak ini berdiri hanya dengan sebelah kakinya dan kakinya sebelah lagi mencengkeram serumpun daun Coa-tok-te, yaitu semacam daun yang merupakan obat khusus untuk menyembuhkan luka akibat gigitan ular beracun. Lin Lin dengan girang melangkah maju dan sambil tersenyum manis gadis itu berkata,

“Ah, Saudara Merak Sakti. Sungguh kau benar-benar baik hati dan pandai.” Sambil berkata demikian Lin Lin mengeluarkan tangan menerima rumput atau daun-daun penjang itu dari kaki merak. Kemudian dengan mesra Lin Lin mengelus-elus bulu merak yang indah sekali dan halus serta bersih itu. Merak itu menggunakan lehernya yang panjang untuk dibelai-belaikan kepada lengan tangan gadis yang mengelus-elusnya itu, seakan-akan ia merasa gembira sekali. Sikapnya seperti seekor binatang peliharaan yang amat jinak. Sedangkan harimau bertanduk dan Rajawali Emas itu pun melangkah maju perlahan-lahan dengan mata mengeluarkan pandangan mengiri. Lin Lin tertawa dan dengan tabahnya ia pun lalu menghampiri kedua binatang buas itu dan mengelus-elus punggung mereka. Si Harimau bertanduk menggoyang-goyangkan ekornya dan mengeluarkan keluhan perlahan seperti seekor kucing yang merasa senang dan manja, sedangkan Rajawali Emas itupun lalu mengembangkan sayapnya dan merendahkan diri sambil membuka paruhnya seperti seekor burung murai yang dibelai oleh pemiliknya dengan kasih sayang.

Tiba-tiba harimau itu mencium-cium ke arah pinggang Lin Lin dan tiba-tiba ia menggeram keras sehingga gadis itu terkejut, juga Rajawali Emas dan Merak Sakti nampak kaget. Lin Lin teringat akan pedang karatan yang berada di pinggangnya dan otomatis ia mencabut pedang itu, dan aneh. Ketika melihat pedang karatan itu, ketiga binatang itu lalu mengeluarkan keluhan panjang dan sedih dan ketiganya lalu mendekam di hadapan Lin Lin seakan-akan berlutut.

Lin Lin adalah seorang gadis yang cerdik dan dapat mengerjakan otaknya cepat sekali. Ia dapat menduga tepat bahwa ketiga binatang sakti ini tentulah murid-murid atau binatang-binatang peliharaan orang sakti yang telah meninggal dunia di dalam gua dan kini ketiga ekor binatang ini mengenal pedang pusaka orang sakti itu! Maka Lin Lin lalu berlutut pula dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, seakan-akan hendak memperlihatkan kepada ketiga binatang itu bahwa dia juga menjunjung tinggi dan menghormat pemilik pedang itu. Kemudian ia berdiri dan memasukkan pedang bobrok itu ke dalam ikat pinggang lagi. Kini ketiga binatang nampak girang sekali dan mereka menjadi begitu jinak seperti tiga ekor anjing yang amat menurut.

Pada saat itu terdengar seruan heran dan ketika Lin Lin memandang, ternyata bahwa Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah berdiri mengintai dari balik pohon dengan mata terbelalak heran. Lin Lin tersenyum lalu berkata kepada binatang itu dengan suara keras tapi halus,

“Sin-kong-ciak (Merak Sakti), Sin-Kim-tiauw (Rajawali Emas Sakti), dan kau It-kak-houw (Harimau Tanduk Satu). Lihatlah baik-baik kepada dua orang itu. Mereka adalah sahabat-sahabat baikku dan janganlah kalian mengganggunya. Juga kawan yang sedang terluka oleh ular berbisa itu adalah kawan baikku!”

Ketiga ekor binatang sakti itu mengangguk-angukkan kepala seakan-akan mereka dapat mengerti ucapan Lin Lin hingga Nelayan Cengeng dan Ma Hoa menjadi terheran dan girang sekali. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi dan melangkah maju serta mengelus-elus pundak ketiga binatang itu yang menjadi heran sekali. Terutama Ma Hoa, gadis ini merasa suka benar kepada Sin-kong-ciak dan mengagumi bulu merak itu tiada habisnya. Kemudian mereka lalu kembali ke gua, diikuti oleh tiga ekor binatang itu. Ternyata bahwa tadi Nelayan Cengeng dan Ma Hoa mendengar suara binatang-binatang itu hingga mereka lalu memburu keluar karena kuatir kalau-kalau Lin Lin berada dalam bahaya, akan tetapi mereka berdiri tercengang dan mengintai dari balik pohon ketika melihat peristiwa yang aneh dan menakjubkan yang terjadi antara Lin Lin dan ketiga binatang itu.

Lin Lin lalu meremas-remas daun Racun Ular dan obat ini digunakan untuk mengobati luka Yousuf, dibalurkan di tempat bekas gigitan dan sebagian airnya diminumkan.

Tak lama kemudian Yousuf siuman kembali dan keadaannya baik sekali. Ketika melihat betapa Lin Lin merawatnya dengan telaten dan open, tak terasa pula air mata mengalir turun dari kedua matanya. Apalagi ketika Ma Hoa menceritakan betapa Lin Lin menyedot keluar semua racun yang berada di tubuhnya dengan menggunakan mulutnya, Orang Turki ini tak dapat menahan keharuan hatinya dan ia menangis terisak-isak di atas pembaringannya. Ia tak dapat mengucapkan kata-kata, hanya memandang kepada Lin Lin dengan pandangan penuh mengandung pernyataan terima kasih yang besar.

Lin Lin tersenyum dengan muka merah.

“Enci Ma Hoa,”, katanya kepada gadis itu, “mengapa kauceritakan hal itu? Kau hanya melelebih-lebihkan hal yang tidak ada artinya.” Kemudian kepada Yousuf ia berkata,

“Yo-sianseng, kita adalah sahabat-sahabat baik yang berada di tempat asing dan berbahaya. Kalau kita tidak saling menolong, bagaimana kita bisa hidup? Aku yakin bahwa kau pun tentu takkan ragu-ragu lagi melakukan hal ini apabila aku yang mendapat kecelakaan.”

Yousuf hanya mengangguk-anggukkan kepala, akan tetapi ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata oleh karena hatinya merasa terharu sekali dan penyesalan besar membuat ia tak kuasa membuka mulut. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya pada dinding gua karena menyesal kepada diri sendiri dan diam-diam ia memaki pada diri sendiri. “Ah, Yousuf! Kau manusia tersesat dan gila! Mengapa kaubiarkan setan menguasai hati dan pikiranmu hingga kau pernah tergila-gila dan mempunyai pikiran buruk terhadap seorang gadis yang demikian mulia hatinya? Kalau kau mempunyai seorang anak perempuan pun belum tentu ia akan semulia dan sebakti gadis ini!”

Demikianlah Yousuf menyesali diri oleh karena memang ia pernah mengandung maksud untuk mengambil Lin Lin sebagai permaisurinya kalau tercapai cita-citanya. Semenjak saat itu rasa cintanya kepada Lin Lin sama sekali berubah dari cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita menjadi cinta kasih seorang ayah terhadap seorang anak perempuannya!

“Lin Lin,” katanya ketika gadis itu menyiapkan obat untuknya dan mereka berada berdua saja, karena Ma Hoa dan Nelayan Cengeng dengan ditemani oleh harimau bertanduk dan Rajawali Emas sedang keluar mencari buah-buahan yang enak dimakan. “Setelah apa yang kaulakukan untuk membelaku, sudilah kiranya kau menyebut Ayah kepadaku? Kau kuanggap anakku sendiri, Lin Lin, dan oleh karena kau tak berayah ibu lagi, biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu. Sukakah kau, Nak?”

Mendengar suara yang diucapkan dengan menggetar dan melihat betapa wajah Yousuf memandangnya dengan penuh harapan, Lin Lin menjadi terharu dan teringat kepada ayahnya. Maka ia lalu berlutut di depan pembaringan Yousuf dan tanpa ragu lagi ia menyebut, “Ayah!” sambil menangis.

Yousuf yang sudah kuat kembali tubuhnya lalu bangun dan duduk. Ia meletakkan kedua tangannya di atas kepala gadis itu dan berkata,

“Lin Lin, semenjak saat ini kau adalah anakku dan aku akan membelamu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, semoga Dewata Yang Agung memberkahimu.”

Ketika Nelayan Cengeng dan Ma Hoa mendengar tentang pemungutan anak ini, mereka berdua juga merasa girang sekali. Nelayan Cengeng telah percaya penuh akan ketulusikhlasan dan kejujuran hati orang Turki itu, maka ia pun tidak merasa keberatan apa-apa, sedangkan Ma Hoa yang juga telah kehilangan ayahnya, lalu menangis dengan terharu sekali sambil memeluk leher Lin Lin.

Nelayan Cengeng menghela napas, “Ma Hoa, aku tahu apa yang menjadikan kau merasa sedih, akan tetapi kauingatlah, Ma Hoa, bahwa semenjak saat kau merantau denganku, aku Kong Hwat Lojin sudah menjadi guru dan ayahmu sendiri! Biarpun kau menyebut Suhu kepadaku, namun kau kuanggap anak sendiri dan hal ini pun kaumaklumi, maka janganlah kau bersedih, Anakku.”

Ma Hoa menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya dan berkata,

“Terima kasih, Suhu, dan demi Tuhan, sedikit pun tak pernah teecu meragukan kemuliaan hati Suhu.”

Setelah Yousuf sembuh kembali, mereka melanjutkan pemeriksaan dan mencari harta di pulau itu, akan tetapi kalau dulu Yousuf mencari dengan cita-cita hendak mengangkat diri menjadi kaisar dan mengawini Lin Lin, kini cita-citanya itu diubah sedikit. Ia masih ingin menjadi kaisar dan memiliki harta besar itu, akan tetapi semua itu demi kemuliaan Lin Lin yang akan dijadikan seorang puteri kerajaan yang agung. Akan tetapi ternyata setelah bebeapa hari tinggal di pulau itu belum juga didapatkan tanda-tanda bahwa pulau itu benar-benar mengandung banyak emas seperti yang tadinya disangka.

Dan pada suatu hari, ketika Yousuf dan kawan-kawannya sedang memeriksa di puncak bukit, mereka melihat banyak sekali pendeta-pendeta Sakia Buddha anak buah Pangeran Vayami naik di pulau itu dan melakukan pemeriksaan pula. Yousuf dan kawan-kawannya lalu cepat mempergunakan alang-alang dan pohon-pohon kecil untuk dipakai menutupi gua mereka sehingga tidak mungkin akan terlihat oleh orang lain dan diam-diam mereka mengintai pendeta-pendeta itu untuk melihat apa yang mereka kerjakan. Ketika Nelayan Cengeng mengusulkan untuk menyerang Pendeta-pendeta Jubah Merah itu, Yousuf mencegahnya dan berkata,

“Aku tahu, mereka ini adalah kaki tangan Vayami, Pangeran dari Mongol dan agaknya mereka sudah tahu di mana letak harta terpendam. Baiknya kita menanti sampai mereka mendapatkannya baru kita turun tangan. Sementara itu, biarlah kita mengintai saja dan melihat apa yang mereka lakukan.”

Lin Lin lalu memerintahkan kepada ketiga binatang sakti untuk berdiam diri dan jangan menyerang orang-orang itu. Selama tiga hari pendeta-pendeta itu bekerja, akan tetapi sebagaimana hasil kerja Yousuf, mereka juga tidak mendapatkan apa-apa.

Kemudian, dengan terkejut sekali Yousuf dan kawan-kawannya melihat datangnya perahu-perahu barisan Turki yang disusul dan dikejar oleh perahu-perahu barisan kerajaan. Yousuf tahu bahwa barisan bangsanya telah tiba dan hendak menguasai pulau itu sebagaimana direncanakannya dan tahu pula bahwa kalau mereka melihatnya, tentu ia akan ditangkap oleh karena selama itu ia tidak memberi kabar tentang hasil penyelidikannya dan ia dapat dituduh sebagai pengkhianat yang hendak mengambil sendiri harta itu. Kemudian mereka melihat pertempuran besar yang terjadi antara barisan Turki dan barisan Tiongkok, dan ketika Yousuf menyelidiki keadaan Pendeta Sakia Buddha itu, ia menjadi terkejut sekali oleh karena pendeta-pendeta itu lalu menyalakan api dan membakar danau minyak yang berkobar hebat menjadi lautan api.

“Celaka! Danau itu dibakar dan mungkin akan meledak. Hayo, cepat kita harus pergi dari pulau neraka ini!’ katanya. Kawannya menjadi panik dan Nelayan Cengeng segera memanggil Lin Lin dan Ma Hoa yang masih mengintai dan menonton pertempuran hebat dari jauh.

Kedua orang gadis itupun terkejut sekali mendengar berita ini dan Lin Lin lalu memberi tanda suitan memanggil ketiga binatang sakti itu. Mereka lalu lari cepat ke perahu mereka yang disembunyikan di balik alang-alang, diikuti oleh ketiga binatang itu. Akan tetapi, ketika mereka telah naik ke atas perahu, tiba-tiba ketiga binatang itu memekik keras dan ketiganya lalu membalikkan diri dan kembali ke pulau.

Lin Lin berteriak-teriak memanggil sambil mengejar dan ketika ia memasuki gua, ternyata ketiga ekor binatang sakti itu mendekam dan berlutut di depan makam rangka yang mereka tanam dulu. Lin Lin membetot-betot mereka, akan tetapi ketiganya tidak mau pindah dari tempat mereka, seakan-akan bersiap untuk mati di depan kuburan tuannya. Lin Lin menjadi bingung dan memeluk leher Merak Sakti, ia berkata sambil menangis,

“Saudara Merak Sakti, bagaimana aku dapat tega meninggalkan kau? Kau adalah seperti saudaraku sendiri, dan pulau ini akan terbakar habis. Marilah kauikut padaku. Tegakah kau membiarkan aku merasa sedih seumur hidupku?”

Merak Sakti itu mengeluarkan keluhan panjang dan dari kedua matanya yang indah itu mengalir keluar dua butir air mata. Dari jauh terdengar suara Yousuf memanggil-manggil namanya, dan Lin Lin terpaksa keluar dari gua sambil menangis. Beberapa kali ia menengok memandang ketiga kawannya yang aneh ini. Dan ketika ia berlari ke perahu dengan tubuh lemas dan hati berduka, tiba-tiba terdengar suara keras di atas kepalanya dan ternyata bahwa Merak Sakti itu telah menyusulnya. Lin Lin menjadi girang sekali dan segera lari ke perahu diikuti oleh Merak Sakti yang agaknya tidak tega untuk melepas Lin Lin pergi seorang diri dan ikut menyusul.

Baru saja Lin Lin naik ke perahu, tiba-tiba serombongan Pendeta Baju Merah itu melihat mereka. Sambil berteriak-teriak buas mereka menyerbu dan Nelayan Cengeng serta kawan-kawannya segera menyambut serangan mereka dan terjadilah pertempuran sengit.

“Lekas, kalian bertiga jalankan perahu, biar aku sendiri yang menahan serbuan anjing-anjing merah ini!” kata Nelayan Cengeng. Yousuf yang melihat betapa api berkobar makin hebat, lalu cepat menjalankan perahu, akan tetapi Ma Hoa berteriak,

“Suhu jangan melawan mereka seorang diri, teecu akan membantumu!”

“Jangan!” teriak Si Nelayan Cengeng dengan suara tetap dan keras. “Kau harus ikut pergi lebih dulu! Aku tidak takut segala anjing ini, dan biarpun tanpa perahu, aku mudah saja menyeberang ke daratan Tiongkok!” jawab suhunya yang gagah perkasa sambil memutar-mutar dayungnya mengamuk hebat.

Lin Lin mendapatkan akal. Ia lalu menghampiri Merak Sakti dan berkata, “Saudaraku yang baik. Kaubantulah Nelayan Cengeng dan cakarlah habis-habis pendeta busuk itu!”

Sin-kong-ciak mengeluarkan pekik keras, tanda bahwa ia girang sekali menerima tugas ini dan sebentar saja tubuhnya melesat dan melayang ke atas. Setelah Merak Sakti ini menyerbu, maka terdengarlah jerit dan tangis yang ribut sekali di kalangan para Pendeta Sakia Buddha ini dan Nelayan Cengeng menjadi gembira sekali.

“Bagus Kong-ciak-ko, bagus! Hayo, kita hantam bersama!”

Perahu yang ditumpangi oleh Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa, telah pergi jauh dan Pendeta-pendeta Baju Merah itu merasa tidak kuat menghadapi Nelayan Cengeng yang tangguh dan yang dibantu oleh Merak Sakti yang aneh itu. Maka sambil berteriak-teriak ketakutan mereka lalu melarikan diri ke arah perahu-perahu kecil mereka di lain bagian. Dengan cepat mereka lalu melarikan diri dengan perahu-perahu itu dari pulau yang telah mulai berkobar hebat itu. Nelayan Cengeng juga tidak membuang waktu lagi, ia berkata kepada Merak Sakti,

“Kong-ciak-ko, sekarang kauterbanglah menyusul perahu Lin Lin dan aku akan berenang. Hayo kita berlumba, kau terbang dan aku berenang. Siapa yang lebih cepat menyusul perahu, dia menang!”

Merak Sakti agaknya mengerti omongan ini dan sambil mengeluarkan teriakan panjang dan girang, ia lalu terbang melayang ke atas dan mencari-cari perahu Lin Lin yang telah berlayar jauh sekali.

Sementara itu, Nelayan Cengeng juga segera menceburkan diri ke dalam laut dan mempergunakan kepandaian tenaganya yang luar biasa untuk berenang ke daratan pantai Tiongkok. Akan tetapi ia telah tertinggal jauh dan ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengejar perahu itu hingga ia berenang cepat sekali bagaikan seekor ikan besar. Air tidak kelihatan terpercik ke atas, namun tubuhnya bergerak maju pesat sekali.

Akan tetapi, tiba-tiba setelah ia dapat melihat bayangan perahu itu dalam gelap, terdengar letusan hebat dari pulau yang terbakar itu hingga Kong Hwat Lojin terlempar jauh, terbawa ombak yang datang setinggi gunung dan yang melemparkannya ke arah lain, jauh dari kapal itu, dan di lain jurusan!

Ilmu kepandaian di dalam air yang dimiliki oleh Nelayan Cengeng memang hebat sekali, maka ketika melihat betapa dirinya menjadi permainan ombak, ia lalu menahan napas dan menyelam ke dalam. Tekanan air makin ke bawah makin kuat, akan tetapi tidak bergelombang sehebat di permukaan air itu. Dengan demikian, Nelayan Cengeng dapat berenang terus, dekat di atas dasar laut itu dan ia menuju ke pantai. Akan tetapi oleh karena gelombang yang hebat itupun membuat perahu yang ditumpangi oleh Yousuf dan kedua gadis itu terbawa ombak dan tidak tentu arahnya, ketika Nelayan Cengeng sudah muncul di darat, ia berada jauh sekali dari perahu itu, dan sedikit pun tidak tahu dirinya berada di mana!

Dan pada saat ia melompat ke darat, datanglah Hek Pek Mo-ko, dan Pek Mo-ko lalu menyerangnya hingga terjadi pertempuran sengit yang kemudian disusul oleh datangnya Biauw Suthai dan Pek I Toanio dan yang mengeroyok Hek Pek Mo-ko. Sebagaimana telah diketahui, akhirnya karena Kwee An ikut mencampuri pertempuran itu, Hek Mo-ko bertempur sendiri melawan Pek Mo-ko yang mengakibatkan tewasnya kedua orang Iblis Hitam dan Putih itu!

Kwee An dan Cin Hai merasa senang sekali mendengar bahwa Lin Lin dan Ma Hoa berada di bawah perlindungan Yousuf yang baik hati. Biarpun mereka tidak tahu ke mana perginya ketiga orang itu, namun mereka percaya bahwa kedua gadis itu tentu berada dalam keadaan selamat.

Sementara itu, Pulau Kim-san-to masih saja berkobar sampai dua hari dua malam! Cin Hai berkeras tidak mau meninggalkan pantai sebelum keadaan aman kembali dan ia berniat hendak menggunakan perahu mencari Ang I Niocu! Semua orang tahu akan isi hati dan kehancuran kalbu pemuda ini, maka oleh karena mereka semua pun merasa kagum dan kasihan kepada Ang I Niocu, mereka juga menunggu di pantai sambil melihat ke arah pulau yang musnah dimakan api itu.

Pada hari ke tiga, padamlah api yang membakar seluruh Pulau Kim-san-to dan lenyaplah gelombang-gelombang besar yang diakibatkan oleh peristiwa mengerikan itu. Laut menjadi tenang kembali dan semua orang memandang ke arah pulau itu, hati mereka tertegun dan untuk beberapa lama tak seorang pun di antara mereka dapat mengeluarkan kata-kata. Ternyata bahwa pulau yang tadinya menjulang dari permukaan laut dan pada malam hari nampak bagaikan sorga itu, kini telah lenyap sama sekali, bagaikan sepotong kue besar yang habis ditelan oleh mulut raksasa. Sedikit pun tak nampak bekas-bekasnya lagi.

Semua orang lalu mulai dengan usaha mereka mencari-cari, akan tetapi ke manakah mereka harus mencari Ang Niocu? Cin Hai sendiri lalu mempergunakan perahu kecil bersama Kwee An dan mendayung perahu itu ke tempat di mana tadinya terdapat pulau itu. Mereka melihat banyak barang mengambang permukaan air laut, orang besar kecil yang merupakan benda-benda hitam memenuhi air laut itu. Ketika mereka telah berputar-putar sehari lamanya dan orang-orang lain telah kembali ke pantai oleh karena telah berputus asa, tiba-tiba Cin Hai melihat sesuatu mengambang di air dan ia lalu menjerit dengan suara mengandung isak tangis.

“Niocu!” Kemudian pemuda ini lalu melompat ke dalam air. Kwee An terkejut sekali dan mendayung perahunya mengejar Cin Hai yang berenang cepat ke depan. Ia melihat Cin Hai mengambil sesuatu dari permukaan air laut itu dan ketika dilihatnya, ternyata bahwa yang dipegang oleh Cin Hai adalah selembar kain berwarna merah. Cin Hai sambil menangis berenang lagi ke perahu dan naik ke dalam perahu sambil memegang potongan kain merah itu erat-erat, lalu ia terduduk menangis dan menyembunyikan mukanya di dalam kain itu sambil mengeluh tiada hentinya.

“Niocu… Niocu…”

Kwee An teringat bahwa kain ini sama benar dengan kain pakaian yang biasa dipakao olen Ang I Niocu, maka ia menjadi amat terharu dan tak dapat berkata-kata apa kecuali menggunakan tangannya menepuk-nepuk Cin Hai.

“Kuatkanlah hatimu, Cin Hai… dan bolehkah aku mendayung perahu kembali ke pantai?”

Cin Hai tak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk dengan muka masih tersembunyi ke dalam sobekan kain merah itu. Agaknya Ang I Niocu telah hancur tubuhnya karena ledakan dahsyat itu dan secara ajaib sekali sepotong pakaiannya telah terlempar dan terbawa hawa ledakan hingga jatuh di air dan tidak ikut terbakar. Tentu saja Cin Hai menjadi sedih sekali oleh karena sobekan pakaian ini menjadi bukti nyata bahwa Gadis Baju Merah itu telah tewas dan hanya meninggalkan sesobek kain dari pakaiannya.

Nelayan Cengeng yang hampir sehari penuh berenang kian-kemari mencari-cari, juga tidak menemukan sesuatu dan sekarang telah berada di pantai dengan orang-orang lain. Ketika mereka melihat kain merah yang ditemukan Cin Hai, mereka hanya dapat menghela napas saja, bahkan Pek I Toanio tak dapat menahan keharuan hatinya lalu berkata kepada Cin Hai. “Jangan kau terus bersedih hati, karena itu tidak ada gunanya. Ang I Niocu agaknya telah tewas akan tetapi ia tewas sebagai seorang pendekar gagah perkasa dan boleh dibanggakan maka tak perlu kita terlalu menyedihi kematiannya. Bukankah kita semua ini kelak pun akan pergi ke tempat di mana dia mendahului kita? Lebih baik sekarang kita berusaha mencari di mana adanya Lin Lin dan Ma Hoa.”

Nelayan Cengeng yang diam-diam juga mengalirkan air mata tanda menangis itu lalu menggunakan ujung lengan bajunya yang basah karena air untuk mengusap pipinya sambil mengangguk-angguk. “Benar ucapan Biauw Suthai. Marilah kita sekarang menyusul dan mencari ke mana mendaratnya perahu Yousuf itu.”

Kata-kata ini memperingatkan Cin Hai bahwa Lin Lin masih hidup dan hal ini merupakan hiburan yang besar sekali. Ia lalu mempertahankan dan menguatkan hatinya, lalu memandang kepada mereka.

“Maafkanlah kelemahanku dan terima kasih kuucapkan kepada Cuwi sekalian yang telah begitu baik hati untuk ikut bersusah payah.”

Setelah mengadakan perundingan, maka diputuskan bahwa mereka akan terpecah menjadi tiga rombongan dalam usaha mereka mencari dua gadis itu. Kwee An hendak pergi bersama Cin Hai, Pek Toanio bersama gurunya dan Nelayan Cengeng pergi seorang diri. Tempat dimana perahu orang Turki itu mendarat belum diketahui maka mereka segera berpencar dan mulai mencari dan menyusul Lin Lin, Ma Hoa, dan Yousuf.

Berkat kecerdikannya dan kepandaian supeknya yang gagu, Hai Kong Hosiang berhasil melarikan diri dari Pulau Kim-san-to dan karenanya ia terhindar dari bahaya maut. Ketika perahunya mendarat, ia pun dapat melihat pertempuran yang terjadi antara Nalayan Cengeng yang dibantu Biauw Suthai dan Toanio melawan Hek Pek Mo-ko, akan tetapi oleh karena melihat bahwa yang bertanding itu adalah tokoh-tokoh ternama yang berkepandaian tinggi sekali terutama Hek Pek Mo-ko yang telah ia ketahui memiliki ilmu kepandaian luar biasa, Hai Kong Hosiang lalu mengajak supeknya yang gagu untuk terus berlari dan jangan mencampuri urusan mereka.

Hatinya merasa mendongkol dan marah sekali oleh karena kembali ia telah mengalami kesialan. Pertama, ia telah kena dibujuk oleh Pangeran Vayami, kedua ia telah bertemu dengan Balutin dan bertempur tanpa bisa merobohkan pendeta asing itu, dan ketiganya ia hampir saja mendapat celaka besar di pulau yang terbakar dan meledak.

Di sepanjang jalan Hai Kong Hosiang menyumpah-nyumpah Cin Hai. Ia merasa menyesal sekali mengapa dulu ketika Cin Hai terjatuh ke dalam tangan Pangeran Vayami, ia tidak lekas-lekas membunuh anak muda itu. Sekarang, anak muda itu tentu masih hidup dan selanjutnya akan merupakan halangan besar baginya oleh karena bahwa Cin Hai bersama beberapa orang kawannya tentu takkan tinggal diam saja dan akan mengejar-ngejarnya untuk membalas dendam atas kematian keluarga Kwee! Sedangkan kepandaiannya sendiri yang tadinya dibangga-banggakan itu baru menghadapi Balutin saja belum mampu mengalahkannya!

Maka lalu mengajak supeknya, yakni Kiam Ki Sianjin yang sudah pikun dan gagu untuk bersembunyi di atas sebuah gunung yang sunyi, lalu ia mengerahkan seluruh perhatiannya untuk memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kim Ki Sianjin yang lihai! Dengan bujukan-bujukan dan pujian-pujian, ia berhasil mengeduk semua ilmu yang dimiliki Kim Ki Sianjin yang lihai, sehingga kepandaian Hai Kong Hosiang sudah meningkat tinggi sekali, bahkan ia dengan giatnya meyakinkan ilmu lweekang yang berdasarkan ilmu yoga dari barat. Lweekang ini melatihnya secara terbalik, yaitu mengatur pernapasan dan pergerakan tenaga dalam secara jungkir balik, kepala di bawah dan kedua kaki di atas. Berkat latihan ini, maka Hai Kong Hosiang memiliki ilmu silat yang diajarkan oleh supeknya, yakni Ilmu Silat Kalajengking yang amat lihai. Ilmu silat ini bukan digerakkan dengan tubuh dalam keadaah biasa, akan tetapi dalam keadaan kaki di atas dan kepala di bawah! Dengan kepala di atas tanah, kedua kaki Hai Kong Hosiang dapat bergerak secara lihai sekali, mengirim serangan-serangan maut yang tak terduga datangnya dan oleh karena tenaga kaki memang lebih besar daripada tenaga tangan, maka kedua kaki yang menendang-nendang dan menyerang hebat itu sukar ditahan oleh lawan. Ini masih belum hebat, akan tetapi kedua tangannya pun tidak tinggal diam dan melancarkan serangan-serangan dari bawah dengan secara tiba-tiba dan sukar dilawan. Kalau lawan sampai kena terpegang kakinya oleh tangan Hai Kong Hosiang yang berada di bawah, maka celakalah dia!

Ilmu kepandaian Kiam Ki Sianjin lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Hek Pek Mo-ko, sedangkan dalam usia yang sangat tua saja ia sudah amat lihai, maka kini setelah Hai Kong Hosiang dapat mewarisi seluruh kepandaiannya dapat dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Hai Kong Hosiang yang masih kuat dan bertenaga besar itu! Selain Ilmu Silat Kalajengking yang lihai ini, juga Hai Kong Hosiang mempelajari Ilmu Kebal Kim-ciong-ko yang membuat kulit dan dagingnya dapat menahan serangan senjata tajam. Kim-ciong-ko yang bisa dipelajari oleh Hai Kong Hosiang ini bukanlah Kim-ciong-ko yang biasa dipelajari dalam dunia persilatan, oleh karena didasarkan khikang yang dilatih secara jungkir balik hingga ia bisa menyalurkan tenaga dalamnya disertai hawa dalam badan yang membuat kulitnya dapat melembung dan mengempis seperti karet dan jangankan pedang biasa, bahkan pedang pusaka yang tajam pun apabila digunakan oleh orang yang memiliki tenaga biasa takkan dapat melukainya!

Setelah merasa bahwa kepandaiannya telah sempurna betul, Hai Kong Hosiang turun dari gunung dan bersama supeknya lalu pergi ke kota raja. Di situ ia mendengar tentang terbunuhnya Boan Sip. Maka kebencian dan kemarahannya terhadap Cin Hai dan kawan-kawannya makin meluap dan bersumpah hendak membunuh mereka ini semua! Nama-nama Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Nelayan Cengeng, Ma Hoa, Biauw Suthai, dan Pek I Toanio termasuk dalam daftarnya dan ia hendak mencari orang-orang ini untuk dibinasakan! Tentu nama Bu Pun Su juga tak pernah terlupa olehnya walaupun ia masih merasa jerih dan ragu-ragu apakah ia akan dapat menghadapi kakek jembel yang amat kosen itu!

Pada suatu hari, Hai Kong Hosiang dalam perantauannya tiba di sebuah dusun kecil dan oleh karena di dusun itu tidak ada penginapan, ia lalu memilih sebuah rumah yang terdekat dan masuk saja tanpa permisi kepada tuan rumah.

Seorang petani tua yang mendiami rumah itu menjadi marah sekali melihat seorang gundul memasuki rumahnya begitu saja, maka ia lalu membentak,

“Eh, eh, hwesio dari manakah dan perlu apa memasuki rumahku tanpa permisi.”

Hai Kong Hosiang memandang kepada petani tua itu dengan mendelik dan sekali ia mengulurkan tangan, pundak petani itu telah kena ia pegang dan ia lalu melemparkan tuan rumah itu keluar jendela. Tubuh petani itu jatuh berdebuk di luar rumah dan bergulingan beberapa kali. Untung sekali Hai Kong Hosiang tidak berniat membunuhnya dan ia terbanting di atas rumput tebal, kalau tidak tentu ia akan tewas seketika itu juga. Petani ini menjadi marah sekali dan ia lalu memaki-maki sambil berlari ke dalam kampung memberitahukan kepada semua tetangga. Beberapa orang laki-laki yang mendengar kekurangajaran ini, segera membawa senjata hendak mengusir Hai Kong Hosiang, akan tetapi baru saja mereka tiba di muka rumah kecil itu, Hai Kong Hosiang telah melompat keluar dengan bertolak pinggang.

“Kalian ini orang-orang dusun mau apakah?” tanyanya dengan muka bengis.

“Hwesio kurang ajar! Mengapa kau merampas rumah orang begitu saja?”

“Siapa merampas rumah? Aku hendak meminjamnya sebentar untuk beristirahat. Kalian ini orang-orang kampung sungguh tidak tahu aturan. Sepatutnya kalian segera menghidangkan makanan dan minuman untukku sebagaimana layaknya tuan rumah menghormati tamunya.”

“Mana ada aturan macam itu?” berkata seorang petani lain yang menjadi marah melihat sikap dan mendengar perkataan yang keterlaluan ini. “Kau bukanlah seorang tamu, akan tetapi kau masuk rumah orang seperti perampok, bahkan telah berani melempar tuan rumah yang mempunyai rumah ini.”

“Sudahlah jangan banyak cakap. Kalian mau memberi hidangan cepat keluarkan dan jangan banyak mengobrol karena aku menjadi tidak sabar lagi.”

“Hweso jahat!” teriak orang-orang kampung itu lalu menyerbu hendak memukul dan mengusir Hai Kong Hosiang. Akan tetapi, orang-orang kampung yang lemah dan yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini mana dapat menghadapi seorang kosen seperti Hai Kong Hosiang yang memiliki kepandaian tinggi. Ketika berbagai senjata menyambar ke arah tubuhnya, Hai Kong Hosiang lalu menggunakan lengan kirinya untuk menangkis senjata-senjata itu, sedangkan tangan kanannya tetap bertolak pinggang. Semua petani berteriak kesakitan ketika senjata-senjata mereka beradu dengan lengan tangan Hai Kong Hosiang, karena senjata-senjata itu terpental dan terlepas dari pegangan, sedangkan telapak tangan mereka menjadi perih dan sakit.

Beberapa orang yang berhati tabah masih merasa penasaran dan maju memukul, akan tetapi ketika kepalan tangan mereka mengenai dada Hai Kong Hosiang yang bidang, mereka kembali menjerit-jerit kesakitan dan tangan mereka menjadi bengkak-bengkak.

“Ha-ha-ha! Cacing tanah busuk! Hayo kalian lekas ambil pergi semua makanan yang enak untukku kalau tidak, semua orang kampung ini akan kubikin mampus semua!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang bergerak cepat dan melempar-lemparkan orang-orang yang terdekat dengannya bagaikan orang melempar-lemparkan rumput kering saja.

Orang-orang kampung berteriak-teriak kesakitan. Mereka merasa terkejut sekali dan juga takut menghadapi hwesio yang jahat seperti setan dan yang memiliki ilmu kepandaian mujijat yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya. Maka sambil berteriak-teriak mereka lalu melarikan diri dan sekali lagi Hai Kong Hosiang membentak,

“Tidak lekas kau sediakan makanan enak dan arak yang baik? Atau kalian menunggu sampai aku membikin dusun ini hancur lebur?”

Takutlah orang-orang kampung itu mendengar ancaman ini oleh karena mereka percaya bahwa hwesio jahat ini pasti sanggup membuktikan ancamannya itu. Maka mereka lalu cepat mengeluarkan semua hidangan yang ada pada mereka dan menyuguhkan kepada Hai Kong Hosiang. Akan tetapi, demi melihat suguhan-suguhan yang terdiri dari sayuran-sayuran dah hanya sedikit terdapat daging, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan sekali ia menggerakkan kakinya, semua hidangan melayang dan hancur berantakan di atas tanah. Orang-orang kampung mundur ketakutan dan hwesio jahat itu lalu membentak,

“Bawa ke sini seekor babi. Hayo cepat!”

“Kami…kami orang sedusun tidak mempunyai babi seekor pun,” jawab seorang petani mewakili kawan-kawannya.

“Tidak ada babi? Awas, jangan kau membohong! Kalau kau membohong, kau sendirilah yang kujadikan babi dan kupanggang tubuhmu!”

“Benar-benar kami tidak mempunyai babi, Losuhu,” kata seorang petani lain. Hai Kong Hosiang baru mau percayai keterangan mereka.

“Kalau begitu, bawa seekor kerbau ke sini!”

Orang-orang kampung itu menjadi pucat. “Kami hanya mempunyai beberapa ekor kerbau yang kami pekerjakan sebagai penggarap sawah ladang. Kalau Losuhu mengambilnya, bagaimana nasib kami?”

“Tutup mulut dan lekas bawa seekor kerbau yang paling gemuk! Awas, aku sudah lapar sekali dan kalau aku habis sabar, mungkin kau yang akan kumakan!”

Tentu saja semua orang terkejut dan ngeri mendengar ancaman ini dan mereka terpaksa lalu menuntun kerbau tergemuk di kampung itu ke hadapan Hai Kong Hosiang. Hwesio itu memandang tubuh kerbau yang gemuk ini dan mulutnya tersenyum lebar.

“Nah, ini pun boleh!” Secepat kilat ia merampas sebatang golok dari tangan seorang petani dan sekali saja tangannya bergerak, leher kerbau itu telah putus. Darah menyembur-nyembur keluar dari dalam perut binatang itu melalui lehernya yang berlubang dan kedua mata binatang itu masih terbuka lebar. Keempat kakinya berkelojotan lalu terdiam.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: