Pendekar Bodoh ~ Jilid 2

Lin Lin sekali lagi memandang muka yang menyeramkan itu dan melihat betapa rambut tokouw itu dikuncir panjang dan membelit-belit di lehernya bagaikan seekor ular yang menambah keburukan rupanya, anak itu melangkah mundur dan berkata lagi.

“Tidak, aku tidak mau…!”

Tapi tokouw itu tertawa ha-ha hi-hi lalu berkata lagi.

“Kau berjodoh dengan aku, betapapun juga kau harus menjadi muridku!” dan ia bertindak maju hendak memegang lengan Lin Lin.

Tapi pada saat itu Cin Hai membentak keras, “Jangan kau paksa dia! Cih, tidak tahu malu, orang tidak sudi menjadi muridnya, dipaksa-paksa!”

Tokouw itu menggunakan mata kirinya untuk memandang Cin Hai dengan tajam, tapi mulutnya tetap tersenyum dan berkata, “Kau boleh juga tapi tak berjodoh dengan aku.”

Lin Lin yang merasa ketakutan hendak ditangkap, berubah menjadi marah dan ketika tokouw itu mendekat dan mengulurkan tangan, ia mengepal tangannya yang kecil lalu memukul tangan itu. Biarpun Lin Lin masih kecil, tapi ternyata ia telah terlatih baik dan pukulannya itu dilakukan dengan gerakan yang baik. Tokouw buruk rupa itu tertawa ha-ha hi-hi dan berkata, “Anak baik, anak baik… kau mau main-main? Boleh coba kau serang terus padaku agar kuketahui sampai di mana kau telah mempelajari ilmu pukulan!” Ia lalu bergerak-gerak menghindari pukulan-pukulan Lin Lin.

Tiba-tiba Cin Hai membentak. “Tokouw jahat, kau menggangu orang saja, apakah itu baik?” Ia lalu menyerang, tapi karena Cin Hai belum pernah belajar silat dengan baik, pukulannya ngawur dan sekenanya saja! Melihat kenekatan Cin Hai, tokouw itu lalu menangkap tangan anak itu, tapi tiba-tiba tokouw itu meringis dan mendongkol sekali karena Cin Hai tanpa dapat diduga lebih dulu telah menggunakan giginya menggigit tangan itu! Dengan gerakan perlahan tokouw itu telah berhasil membanting Cin Hai hingga anak itu merasa tulang-tulang punggungnya seperti remuk dan merayap bangun sambil merintih-rintih. Baiknya tokouw itu hanya ingin melampiaskan kemendongkolan hatinya saja dan tidak membanting sesungguhnya, hingga ia hanya menderita sakit di luar saja. Tapi dasar Cin Hai mempunyai ketabahan dan kenekatan luar biasa, sambil maju terpincang-pincang ia menyerang lagi!

Untuk kedua kalinya Cin Hai terbanting ke tanah setelah kena ditowel pundaknya oleh jari telunjuk tokouw itu, sementara itu Lin Lin yang menyerang sejak tadi dan selalu memukul dan menendang angin, telah mulai lelah dan berpeluh.

Kebetulan sekali pada saat itu Tan Hok atau Tan-kauwsu (Guru Silat she Tan) lewat di situ, hendak kembali ke kota dari mengunjungi seorang kenalan. Ia kaget dan heran sekali melihat betapa Lin Lin menyerang seorang tokouw yang bermuka seperti setan sedangkan Cin Hai merangkak-rangkak kesakitan.

“Hai, tahan dulu!” Tan-kauwsu membentak pertapa wanita itu yang segera menghadapinya. “Kau seorang pendeta mengapa main-main dengan anak kecil?”

Tokouw itu tersenyum hingga wajahnya makin buruk saja. “Pinni hendak membawa anak perempuan ini untuk dijadikan murid,” katanya berterus terang.

Tan-kauwsu terkejut dan bertanya, “Siankouw siapakah?”

“Sicu (Tuan yang gagah) berdandan sebagai guru silat tapi belum kenal kepada pinni? Sungguh aneh! Ketahuilah Pinni she Biauw.”

Tan-kawsu makin terkejut karena ia teringat akan seorang pertapa wanita yang disebut Biauw Suthai dan yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan, “ah, jadi siauwte berhadapan dengan Biauw Suthai yang terkenal itu?”

“Ha, agaknya namaku terdengar juga sampai ke Tiang-an,” kata tokouw itu senang.

Tan-kauwsu tak berani berkata kasar lagi dan setelah menjura, ia berkata, “Siankouw, tentang pemungutan murid kepada anak ini, kebetulan sekali siauwte adalah guru yang diserahi tugas oleh ayah anak ini untuk mendidiknya. Tentu saja saya tidak merasa keberatan bila Siankouw sudi memungut ia sebagai murid, akan tetapi hal ini harus dirundingkan dulu dengan Ayahnya. Karena itu, saya persilakan kepadamu untuk menjumpai Kwee-ciangkun dan merundingkan soal ini.”

“Sicu seperti tidak tahu saja kebiasaan kita orang-orang kang-ouw. Kalau kita menghendaki sesuatu yang dirasa baik, maka kita lakukan saja tanpa banyak rewel dan pusing. Siapa yang sudi mengadakan rundingan dengan segala ciangkun? Aku hendak mengambil dia sebagai murid dan habis perkara!”

“Kalau begitu, terpaksa siauwte berlaku lancang dan melindungi anak ini.”

“Ha, kau hendak menghalangi maksudku membawa anak ini?”

“Biarlah kali ini siauwte melupakan kebodohan sendiri.”

TOKOUW yang buruk rupa itu tertawa panjang dan mata kirinya memandang penuh ejekan. Melihat sikap pendeta perempuan itu Tan-kauwsu lalu mencabut pedangnya. Suara ketawa Biauw Suthai makin aneh dan menyeramkan ketika ia melihat gerakan Tan-kauwsu, lalu tiba-tiba saja kebutan di tangannya menyambar ke arah guru silat itu! Tan-kauwsu maklum bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Cepat ia berkelit, tapi sebelum ia sempat membalas serangan, ternyata ujung kebutan tokauw itu telah menyambar kembali dan telah mengirim serangan pula yang lebih berbahaya. Ujung kebutan itu selalu mengarah jalan darahnya, merupakan totokan yang lebih berbahaya sekali. Tan-kauwsu lalu menggunakan pedangnya untuk menyabet putus ujung hudtim, tapi tiba-tiba hudtim itu bagaikan bernyawa tahu-tahu telah melibat pedangnya dan sekali tokouw itu menggerakkan tangannya, pedangnya telah terampas tanpa ia dapat bertahan pula! Dan pada saat itu juga, kembali ujung hudtim telah menyambar pundaknya. Tan-kauwsu merasa betapa tubuhnya menjadi kesemutan karena urat darahnya tersentuh hingga tidak ampun lagi ia jatuh dengan tubuh lemas tak bertenaga.

Ketika ia merayap bangun lagi, ternyata tokouw itu telah lenyap, begitupun Lin Lin telah hilang pula! Biarpun merasa benci kepada tokouw berwajah buruk itu, tapi melihat betapa dalam beberapa gebrakan saja guru silat Tan Hok itu jatuh bangun dan pedangnya terampas, Cin Hai merasa puas sekali. Ia memang sangat benci kepada guru silat ini yang tak pernah mengajar silat kepadanya, sebaliknya seringkali memukul dan mengadunya dengan Kwee Tiong sehingga ia sering dipukul matang biru. Maka untuk menyatakan kepuasan hatinya, ia tersenyum-senyum dan berkata kepada Tan-kauwsu.

“Tan-suhu, sakitkah engkau? Tokouw siluman itu hebat dan lihai sekali, ya?”

Mendengar kata-kata ini, Tan-kauwsu merasa makin gemas dan mendongkol sekali. Segala perasaan ini dikumpulkan menjadi satu di dalam dada dan menjadi kemarahan besar yang kini seluruhnya ditujukan kepada Cin Hai.

“Anak setan! Engkau sedang berbuat apa di sini dan mengapa kauajak Nona Lin Lin? Tahukah kau bahwa kali ini engkau menimbulkan bencana yang hebat sekali? Nona Lin Lin diculik orang, dan tahukah engkau apa artinya ini? Batok kepalamu pasti akan diketok sampai pecah oleh Kwee-ciangkun!”

“Bukan aku yang membawa Lin Lin, tapi dia sendiri yang memaksa untuk ikut. Aku hendak mencari bambu ini untuk dibuat suling dan ia ikut padaku. Salahkukah itu?”

“Anak tolol, kalau bukan salahmu, lalu siapa lagi?”

“Tan-suhu, aku sih bukan lawan tokouw siluman itu. Tapi engkau adalah guru silat yang katanya memiliki kepandaian tinggi, mengapa kau biarkan saja Lin Lin diculik olehnya? Mengapa baru satu gebrakan saja kau telah menyerah kalah?”

Baru saja bicara sampai di sini, tangan Tan-kauwsu melayang dan kepala yang gundul itu ditempeleng hingga Cin Hai merasa matanya gelap dan kepalanya terasa berputaran. Ia terhuyung-huyung dan sebuah tendangan membuat ia terlempar dan tertelungkup di atas tanah sampai mengeluarkan suara berdebuk. Malang baginya, sebuah batu menyambut mulutnya hingga bibirnya berdarah.

Anak ini marah sekali di dalam hati dan rasa sakit hatinya melenyapkan segala rasa sakit di tubuhnya. Ia cepat merayap bangun dan berdiri dengan tegak sedangkan sepasang matanya memandang tajam, sedikit pun tidak takut dan jerih.

“Nah, kau baru tahu adat sedikit sekarang setelah kuhajar, ya?” kata Tan Hok uring-uringan.

“Tan-suhu memang beraninya hanya kepada anak kecil yang tak berdaya. Alangkah baiknya kalau kegagahanmu ini kauperlihatkan ketika menghadapi Biauw Suthai tadi, hingga Lin Lin tidak sampai terculik.”

“Bangsat kecil, kuhancurkan kepalamu!” Guru silat itu melangkah maju dengan sikap mengancam. Tetapi Cin Hai tidak mundur sedikit pun.

“Boleh, boleh! Pukullah aku sampai mati, sayang Bibiku tak melihat kelakuanmu ini.”

Teringatlah Tan-kauwsu bahwa anak ini setidak-tidaknya masih menjadi kemenakan dari Kwee-hujin maka ia menahan tangannya yang telah terangkat di atas untuk menjatuhkan pukulan. Ia lalu meludahi kepala anak yang gundul itu sambil membentak,

“Hayo pulang dan kau menjadi saksi utama betapa aku telah membela Nona Lin Lin dengan mati-matian. Harus kau terangkan duduknya perkara yang sebenarnya di hadapan Kwee-ciangkun!”

Cin Hai tak menjawab, tapi segera memungut sebatang bambu kuning. Tan Hok menjadi marah dan ia menyambar tangan anak itu dan diseretnya sambil berlari cepat!

Alangkah kaget dan marahnya Kwee In Liang mendengar laporan Tan Hok. Mukanya sebentar merah sebentar pucat ketika Tan-kauwsu berkata,

“Hamba sudah melawan mati-matian untuk mencegah penculikan itu, tetapi ternyata Biauw Suthai sangat lihai hingga akhirnya pedang hamba dapat terampas dan hamba dibikin tak berdaya. Sebelum hamba dapat mencegahnya, Nona Lin Lin telah dibawa pergi cepat sekali.”

Karena marah dan sedih, Kwee In Liang menggebrak meja di depannya sambil membentak kepada Cin Hai, “Cin Hai! Mengapa kauajak Lin Lin ke hutan tanpa memberi tahu siapa-siapa? Kau anak tolol lancang sekali!”

Cin Hai merasa hatinya tertusuk. Biasanya pamannya ini baik sekali terhadapnya, tak pernah memukul tak pernah memaki, bahkan jarang sekali bertemu atau mengajaknya bicara. Sekarang ie-thionya membentak dan memakinya, sungguh menyakitkan hati.

“Ie-thio (Paman),” katanya dengan suara perlahan, “memang aku yang lancang. Biarlah aku pergi mencari Adik Lin Lin sampai dapat…” Hampir saja Cin Hai mengeluarkan air mata karena kepiluan hatinya. Ia meraba-raba kepala gundulnya yang masih merah karena ditempeleng oleh Tan Hok tadi.

Melihat betapa kepala anak itu merah dan bibirnya pecah-pecah, berkuranglah kemarahan Kwee In Liang, “Apakah engkau juga dilukai oleh tokouw siluman itu?”

Sebelum Cin Hai menjawab, Tan Hok yang merasa khawatir kalau-kalau anak itu mengadu, cepat berkata,

“Kalau tidak hamba lekas-lekas datang, tentu kemenakan Ciangkun ini akan mendapat celaka pula.”

Cin Hai melirik kepada guru silat itu dengan pandangan mata mengejek.

“Ya, ie-thio, sayang sekali bahwa baru maju segebrakan saja, Tan-suhu yang lihai ini telah terampas pedangnya dan ia dibikin jatuh bangun oleh ujung kebutan tokouw siluman itu!”

“Begitu lihaikah dia?” tanya Kwee In Liang kepada Tan Hok.

“Memang dia lihai sekali, dan hamba bukanlah lawannya.” Tan Hok mengaku dengan muka merah karena malu dan kebenciannya terhadap Cin Hai bertambah.

Karena kejadian itu, Kwee In Liang merasa sedih sekali. Kwee-hujin, yang diberitahu oleh pelayan akan peristiwa itu segera berlari keluar dan sambil menangis tersedu-sedu ia duduk di sebelah Kwee-ciangkun. Loan Nio memang cinta sekali kepada Lin Lin dan menganggap anak itu sebagai anak sendiri, maka berita ini benar-benar menghancurkan hatinya.

“Cin Hai, kau… kau anak tolol! Bodoh dan lancang! Mengapa kau mengajak Lin Lin pergi ke hutan? Bukankah engkau berpamit padaku, engkau tidak menyatakan hendak pergi dengan Lin Lin?” Bibi ini menegur Cin Hai.

“Ie-ie, sungguh aku menyesal sekali, ie-ie… Bukan kusengaja membawa dan mengajak Lin Lin, tapi ketika aku hendak keluar, Adik Lin Lin melihat dan bertanya. Aku mengaku terus terang bahwa hendak mencari bambu kuning di hutan dan ia memaksa hendak ikut.”

Sementara itu, Tan Hok melihat bahwa nyonya muda itu keluar, segera mengundurkan diri. Kwee In Liang lalu memerintahkan para pengawalnya untuk mengejar tokouw itu, dan ia sendiri naik kuda mencari sampai jauh ke dalam hutan.

Biarpun kepada bibinya sendiri, Cin Hai tidak menceritakan tentang perlakuan Tan-kauwsu yang sewenang-wenang padanya. Anak ini memang tidak suka mengadu dan segala hal yang menyakitkan hati hanya ia pendam di dalam dada sendiri saja. Ia selalu ingat akan ujar-ujar yang bermaksud : Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula dan kejahatan dengan keadilan! Maka dia menganggap kurang adil kalau ia membalas kejahatan Tan-kauwsu dengan mengadukan halnya kepada ie-ie atau ie-thionya. Itu kurang adil dan kurang tepat karena ia yang dijahati, maka baru adil kalau ia sendiri yang membalasnya! Tidak dapat sekarang, tentu kelak akan tiba masanya ia membalas segala perlakuan tak pantas itu. Hatinya telah merupakan buku catatan di mana ia mencatatkan segala perlakuan baik dan buruk yang dijatuhkan orang kepadanya dan yang ia anggap sudah menjadi kewajibannya untuk membayar lunas semua perlakuan dan budi itu, baik yang jahat maupun yang baik.

Ketika Ie-thionya sedang sibuk mencari-cari tokouw yang melarikan anaknya itu dibantu puluhan pengawal dan anak buahnya, sedangkan bibinya menangisi nasib Lin Lin di kamarnya, Cin Hai menyeret bambu kuning ke belakang. Ia duduk di kebun belakang sambil asyik menggosok bambu itu menghilangi bulu-bulu bambu dan mencabut daun dan cabang-cabangnya.

Tiba-tiba terdengar suara anak-anak memasuki kebun itu. “Nah, itu dia Si Jahat!” terdengar seorang di antara mereka berkata. Yang masuk adalah lima orang anak-anak, yakni putera-putera Kwee-ciangkun. Mereka ini tampan wajah nya dan indah-indah pakaiannya. Yang sulung bernama Kwee Tiong berusia sepuluh tahun, ke dua bernama Kwee Sin berusia sembilan tahun, ke tiga Kwee Bun delapan tahun. Ke empat Kwee Siang berusia tujuh tahun dan ke lima ialah Kwee An berusia enam tahun. Di antara mereka ini, hanya dengan Kwee An saja Cin Hai sering bergaul, karena selain Kwee An mempunyai perangai yang baik dan halus, juga mereka ini sebaya, jadi lebih cocok. Yang empat lainnya sudah biasa menggoda dan memukul atau memaki Cin Hai.

Kini mendengar betapa adik perempuan mereka dibawa lari oleh karena tadinya ikut Cin Hai ke hutan, marahlah mereka. Bahkan Kwee An yang bersedih kehilangan adiknya, juga marah. Mereka mencari Cin Hai dan melihat Cin Hai duduk seorang diri membawa bambu kuning di dalam kebun, mereka segera menangkapnya! Kwee Tiong lalu mengambil tali dan menyeret Cin Hai ke sebatang pohon lalu mengikat Cin Hai di situ dengan tali tadi.

Cin Hai tak dapat melawan karena ia sudah lelah sekali bahkan tubuhnya masih sakit-sakit bekas bantingan Biauw Suthai tadi dan terutama bekas tangan Tan-kauwsu. Sekarang diperlakukan kasar oleh kelima anak-anak itu, ia sama sekali tidak melawan, walaupun andaikata ia melawan juga takkan berguna.

“Bangsat, mengakulah bahwa kau yang menjadi gara-gara lenyapnya Lin Lin!” Kwee Tiong membentak.

“Bukan, bukan aku!” jawab Cin Hai sambil membalas pandangan Kwee Tiong dengan berani.

“Kepala anjing!” Kwee Tiong memaki sambil menempeleng kepala Cin Hai yang gundul itu.

“Bukan aku!” Cin Hai tetap berkokoh menyangkal.

Kelima saudara yang sedang marah itu berganti-ganti memukul dan menempeleng kepala Cin Hai yang gundut, tetapi biarpun merasa kesakitan dan kepalanya pening, anak ini tetap berteriak-teriak, “Bukan aku… bukan aku!”

Melihat betapa keadaan Cin Hai makin lemas dan suara teriakannya makin parau dan lemah, Kwee An menjadi kasihan dan timbul sifat baiknya.

“Koko sekalian, aku jadi ingat akan perkataan Ayah bahwa di dalam segala hal kita harus berlaku gagah berani. Sekarang kita ikat Cin Hai dan memukulinya tanpa ia dapat membalas, apakah ini adil? Kurasa ini bukan kelakuan gagah berani seperti yang dianjurkan oleh Ayah, dan kalau Ayah melihat perbuatan kita ini tentu kita mendapat marah.”

“Eh, pengecut, apakah kau hendak membela dia?” Kwee Tiong membentak marah kepada adiknya.

“Bukan pengecut, juga bukan membelaku,” Cin Hai yang sudah matang biru mukanya dan lemas tubuhnya itu mewakili Kwee An menjawab, “tapi dia ini telah banyak mempunyai kegagahan dari pada kamu berempat yang terhadap seorang anak lebih kecil saja melakukan pengeroyokan secara pengecut.”

“Plok!!” tangan Kwee Tiong terayun, menampar mulut Cin Hai hingga bibir yang sudah bengkak karena jatuh terpukul oleh Tan-kauwsu tadi, kini lukanya terbuka pula dan mengeluarkan darah baru.

“Twako, kalau memang kau hendak main pukulan dan berkelahi, lakukanlah secara ujur. Lepaskan dia lebih dulu dan berkelahi dengan adil!” Kwee An berkata marah melihat kekejaman kakaknya, lalu ia sendiri maju membuka belenggu tangan Cin Hai.

“Baik, baik! Kaubukalah ikatannya, biar ia coba menahan seranganku,” kata Kwee Tiong gembira. Cin Hai merasa seluruh tubuhnya lemas dan tak bertenaga maka biarpun ia sudah dilepaskan dari ikatan, tetap saja ia tak berdaya. Sebaliknya, Kwee Tiong yang bertubuh tegap dan lebih besar darinya itu, lagi pula memiliki kepandaian silat yang sudah lumayan, segera maju menyerang dengan sepasang kepalan dan tendangan kakinya. Berkali-kali Cin Hai dipukul jatuh dan selagi anak itu dengan mata kabur hendak merayap bangun, sebuah tendangan Kwee Tiong tepat mengenai lambungnya hingga ia tersungkur lagi.

“Nah, rasakan ini, nah, ini lagi! Kau anak celaka, anak tolol, kau yang menjadi gara-gara sehingga Lin Lin terculik orang! Rasakan ini!” Sambil menunggangi tubuh Cin Hai di punggungnya, Kwee Tiong menghujani pukulan pada seluruh tubuh Cin Hai yang sudah tak berdaya. Karena rasa sakitnya, Cin Hai lalu meramkan mata dan menggunakan kedua tangannya untuk balas menyerang. Ia tak dapat memukul, tapi menangkap apa saja yang dapat ditangkap. Karena kebingungan dan putus asa dihujani pukulan-pukulan keras oleh Kwee Tiong, Cin Hai menjadi nekad. Dengan tenaga terakhir ia dapat membalikkan tubuhnya yang tadinya tertelungkup itu sehingga menjadi miring.

Tangan kanannya menyerang ke depan dan mencengkeram dan seketika itu juga terdengar Kwee Tiong memekik ngeri karena tanpa disengaja tangan Cin Hai dapat mencengkeram anggauta rahasia Kwee Tiong.

Mendengar jerit ini baru Cin Hai tahu bahwa Kwee Tiong kesakitan hebat. Alangkah senang hatinya mendengar anak itu menjerit-jerit kesakitan. Timbul niatnya untuk sekali remas membikin hancur anggauta tubuh yang dicengkeramnya itu agar anak jahat yang telah cukup banyak menghina dan cukup sering menyiksanya itu mampus seketika itu juga. Tetapi, entah mengapa, di dalam pikirannya yang sudah kabur itu tiba-tiba terdengar ujar-ujar nabi yang dipelajarinya. Betapa hebatnya Kwee Tiong menyiksanya dan menghinanya, tetapi anak itu tidak sampai membunuhnya, kalau sekarang ia membalas dengan membunuh, itu tidak adil namanya. Pula, ada ujar-ujar yang ia lupa lagi bunyinya, tetapi yang ia masih ingat bahwa orang tak boleh membunuh sesamanya hanya untuk melampiaskan marah dan memuaskan perasaan. Teringat akan semua ini, tiba-tiba cengkeraman tangannya mengendur.

Tadinya Kwee Tiong sudah sambat, bahkan tanpa malu-malu lagi ia mengeluarkan kata-kata, “Cin Hai… lepaskan aku… ampun, Cin Hai…” tetapi yang agaknya tidak terdengar oleh Cin Hai. Kini merasa betapa cengkeraman Cin Hai mengendur, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Kwee Tiong yang segera merenggut tangan Cin Hai itu dan meloncat berdiri.

“Bangsat! Anjing! Pengecut hina, kau berlaku curang!” Kwee Tiong memaki-maki sambil gunakan kedua kakinya menendang-nendang tubuh Cin Hai. Tapi anak gundul ini sama sekali tidak bergerak dan tidak mengeluh.

“Tahan, Twako, ia… ia… mati!” tiba-tiba Kwee An berseru sambil loncat berlutut.

“Hahh?? Mati…??” Kwee Tiong terkejut sekali dan wajahnya berubah pucat seketika itu juga. Juga adik-adiknya yang tadi ikut memaki-maki menjadi terkejut sekali dan beramai-ramai mereka berlutut untuk melihat dan memeriksa tubuh Cin Hai.

Sebetulnya Cin Hai hanya pingsan saja tetapi karena banyak mengeluarkan darah dan perutnya kosong, maka mukanya nampak pucat sekali seperti mayat. Pada saat itu terdengar teriakan kaget dan semua anak-anak itu makin terkejut karena yang datang bukan lain ialah Loan Nio bibi Cin Hai! Ketika datang ke situ, Loan Nio menyangka bahwa kemenakannya itu telah mati, maka ia berteriak kaget. Dua orang pelayan lalu diperintahkan untuk mengangkat tubuh anak itu ke dalam kamar, sedangkan Loan Nio memarahi kelima saudara Kwee.

“An-ji, coba kauceritakan, apakah yang telah terjadi tadi?” Loan Nio atau Kwee-hujin itu sengaja bertanya kepada Kwee An, karena dia yang telah mengenal perangai semua anak-anak itu sejak kecil, tahu bahwa hanya Kwee An yang boleh ia percaya.

“Cin Hai telah berkelahi dengan Eng-ko Tiong,” kata Kwee An terus terang, lalu ia menceritakan tentang sebab-sebab perkelahian, yakni bahwa mereka marah sekali karena menganggap bahwa Cin Hai yang menjadi biang keladi lenyapnya Lin Lin.

Loan Nio menghela napas, lalu berkata dengan suara keren, “Anak-anak, memang perbuatan Cin Hai mengajak Lin Lin ke hutan itu adalah sangat lancang dan tidak baik. Seharusnya ia memberi tahu dulu kepada orang tua. Tetapi kurasa Cin Hai sudah cukup terhukum apalagi kalau diingat bahwa dia biarpun kecil juga telah membela Lin Lin hingga terpukul oleh penculik, maka kalian seharusnya dapat memaafkannya. Pula peristiwa telah terjadi, Lin Lin masih belum ketemu, sekarang kalian tambahi kepusingan orang-orang tua dengan perkelahian-perkelahian itu. Sungguh tidak baik sekali!”

Pada saat itu Kwee In Liang kembali dari pengejarannya kepada penculik itu. Wajahnya muram dan tampak lelah sekali.

“Bagaimana, terdapatkah?” Kwee-hujin bertanya dengan muka cemas.

Kwee-ciangkun menggeleng-geleng kepala dan menghela napas, nampaknya susah sekali. Kemudian melihat anak-anaknya yang berada di situ seperti orang ketakutan.

“Anak-anak ini sedang bekerja apa di sini? Mengapa tidak berada di kamar dan belajar?”

Terpaksa Loan Nio yang tak pernah membohong segera menceritakan bahwa ia baru saja menegur mereka karena berkelahi dan mengeroyok Cin Hai sehingga anak itu jatuh pingsan. Muka Kwee In Liang makin muram mendengar ini, lalu ia membentak mereka supaya pergi ke kamar masing-masing. Melihat kemarahan dan kesedihan suaminya, dengan manis budi Loan Nio mencoba menghiburnya. Tetapi ayah yang kehilangan anak kesayangannya itu hanya menggunakan kedua tangan menutupi mukanya dan berkali-kali menghela napas.

“Tadi aku mendengar bahwa Biauw Suthai yang menculik Lin Lin adalah seorang wanita gagah dan tokoh yang ternama sekali, maka kurasa pertapa wanita itu tidak mempunyai maksud buruk. Barangkali dia memang benar-benar suka kepada Lin Lin dan hanya bermaksud menurunkan ilmu silatnya dan segala kepandaiannya kepada anak kita.” Kwee hujin menghibur.

Setelah menghela napas berulang-ulang Kwee In Liang hanya menjawab perlahan, “Mudah-mudahan begitu. Karena kalau sampai siluman wanita itu berani mengganggu selembar rambut saja dari anakku, harus ia ganti dengan selembar jiwanya!” Dan panglima gagah ini mengertak-ngertak gigi dan mengepal-ngepal tinju tangannya, sedangkan kedua matanya mengeluarkan sinar mengancam.

Isterinya lalu menghiburnya lagi dan mengajak suaminya yang bersedih itu masuk ke dalam gedung karena di luar telah mulai gelap. Malam itu keadaan di gedung keluarga Kwee sunyi saja. Biasanya pada malam hari terdengar suara anak-anak menghafal sastera mereka, tetapi malam ini sengaja dilarang mengeluarkan suara keras. Sore-sore Kwee Tiong dan keempat adiknya telah pergi tidur sambil membicarakan Cin Hai dengan suara berbisik.

Cin Hai sendiri berbaring terlentang dengan mata terbelalak memandang ke langit-langit kamar dan pikirannya melamun jauh sekali. Tubuhnya masih terasa sakit, tapi hatinya telah terhibur karena tadi bibinya datang dan menghiburnya, serta memerintahkan pelayan untuk menyediakan makan, bahkan dengan kedua tangannya sendiri bibi yang baik itu membaluri seluruh tubuhnya yang bengkak-bengkak dan matang biru dengan minyak gosok.

Ketika tadi bibinya menggosok-gosok badannya dengan minyak gosok, ia merasa terharu dan diam-diam air matanya mengalir di kedua pipinya.

“Ie-ie, sebenarnya di manakah kedua orang tuaku?” tanyanya perlahan.

Tangan bibinya yang menggosok-gosok puggungnya itu tiba-tiba menggigil dan untuk sesaat berhenti menggosok, tapi lalu terdengar jawabannya, “Anak, mengapa kau berkali-kali tanyakan hal ini? Bukankah sudah kuberitahukan padamu bahwa kedua orang tuamu telah kembali ke alam baka?”

“Tetapi di manakah makam mereka, ie-ie? Aku ingin sekali mengunjungi makam orang tuaku.”

“Aku tidak tahu, Cin Hai.”

“Mengapa kau tidak tahu ie-ie, bukankah kau adik mendiang ibuku?”

“Sudah berapa kali kukatakan, bahwa aku tidak tahu, Cin Hai! Sudahlah, jangan kau mendesak terus. Kau harus mengaso, aku akan kembali ke kamar, ie-thiomu masih sangat bersedih.” Nyonya muda itu lalu mengelus-elus kepala kemenakannya, kemudian meninggalkan kamar itu. Tetapi sebelum melangkah ke luar pintu, Cin Hai menegur,

“Ie-ie yang baik!” Nyonya muda itu berhenti lalu menengok dan Cin Hai melihat betapa Ie-ienya telah mengalirkan air mata!

“Setidak-tidaknya beritahukan padaku siapa nama dan she Ayahku!”

“Kau she Kwee juga, bukankah sudah pernah kuberitahukan padamu?”

“She… Kwee…? Ah, tak mungkin… ah, mengapa kau membohongi Ie-ie yang baik? Aku bukan she Kwee…”

Tapi Ie-ienya telah melangkah keluar dari pintu dan Cin I Hai mendengar suara sandal bibinya itu makin menjauhi kamarnya.

Demikianlah, setelah bibinya pergi, sampai jauh malam Cin Hai tak dapat meramkan matanya. Bibinya telah membohong padanya ketika menerangkan bahwa ia she Kwee! Juga bibinya telah membohong ketika bilang bahwa ia tidak mengetahui makam kedua orang tuanya.

Ia dapat merasakan kebohongan itu, karena setiap kali bibinya diajak bicara tentang hal kedua orang tuanya, selalu nyonya muda itu tiba-tiba menjadi sedih dan gelisah, dan jawabannya selalu ragu-ragu. Aku harus mencari kedua orang tuaku, aku harus tahu siapa sebenarnya diriku ini.

Cin Hai turun dari pembaringan dengan maksud hendak pergi ke kamar bibinya dan mendesak keterangan dan penjelasan-penjelasan. Ia sengaja menanggalkan sepatu agar tindakan kakinya tidak menerbitkan suara dan mengagetkan atau membangunkan orang lain dari tidurnya. Ketika sudah tiba dekat kamar bibinya tiba-tiba ia mendengar suara bibinya terisak menangis dan suara pamannya yang besar itu seakan-akan sedang memarahi bibinya, Cin Hai bergerak hati-hati sekali ke arah kamar yang masih terang karena lampu di dalam belum dipadamkan. Ia mendekati jendela dan mengintai.

Ternyata bibinya sedang duduk di pembaringan sambil menutup muka dengan selampai, menahan tangis. Pamannya berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu.

“Ayahnya yang berdosa, dan Ayah serta seluruh keluarganya telah menebus dosa itu dan semua dihukum penggal leher. Sekarang janganlah kauikut-ikutkan anaknya yang tak berdosa apa-apa.” Nyonya muda itu berkata sambil menangis.

“Kaukira aku manusia berhati sekejam itu? Kalau aku kejam, apakah aku memperbolehkan anak pemberontak itu berdiam di rumahku sampai bertahun-tahun? Pemberontak she Sie yang menjadi iparmu itu telah dihukum mati berikut semua keluarganya, dan aku sama sekali tiada sangkut-paut dengan perkara itu.”

“Tiada sangkut-paut, hanya engkaulah yang menangkap mereka semua,” kata Loan Nio.

“Apa salahnya? Bukanklah itu sudah menjadi kewajibanku? Jangankan orang she Sie itu yang tiada hubungan apa-apa dengan aku, biarpun andaikata adikku sendiri yang menjadi pemberontak, tentu aku akan menangkapnya. Inilah jiwa seorang gagah. Harus kau ingat bahwa yang tiap hari kita makan dan pakaian yang tiap hari kita pakai ini adalah hasilku mengabdi kepada raja. Apakah aku hanya boleh menerima hasil saja tanpa memenuhi kewajiban? Pula, bukan aku yang ingin dia dihukum, tetapi perintah atasan. Tugas tetap tugas, perasaan pribadi jangan dibawa-bawa!” Agaknya panglima itu marah betul karena terdorong kesedihan hatinya kehilangan Lin Lin.

Hening sejenak kecuali isak Loan Nio dan elahan napas Kwee In Liang, kemudian terdengar nyonya muda itu berkata agak sabar,

“Aku tahu semua itu, dan aku tidak salahkan kau. Hanya mengenai anak ini, Cin Hai yang malang… kau berlakulah murah hati sekali.”

“Istriku, betapapun juga kau pertimbangkanlah baik-baik. Engkau lebih sayang Cin Hai daripada suamimu? Aku benci Cin Hai, juga aku tidak menghubungkan dia dengan orang tuanya. Akan tetapi, semenjak Lin Lin hilang… (sampai di sini suaranya sember dan sedih)… aku tak tahan melihat muka Cin Hai lagi. Betapapun juga, Lin Lin diculik orang karena ikut pergi dengan Cin Hai! Perasaan ini takkan pernah hilang dari hatiku yang menuduh dan mempersalahkannya, maka tidak baik kiranya kalau anak itu berada di depan mataku. Tidak baik untuknya dan tidak baik untukku sendiri. Dia harus pergi dari sini, titipkanlah kepada keluarga lain…”

Semenjak tadi, di luar Jendela Cin Hai mendengar dengan air mata turun bagaikan hujan membasahi kedua pipinya.

Orang tuanya, semua keluarganya, mendapat hukuman penggal kepala! Alangkah hebatnya! Ayahnya yang she Sie itu disebut-sebut sebagai pemberontak! Apakah pemberontak? Perasaannya yang terasa perih itu makin hancur mendengar betapa bibinya sampai bertengkar dengan Ie-thionya karena dia! Pula, hatinya sakit sekali mendengar betapa ie-thionya membencinya karena hilangnya Lin Lin dan ie-thionya telah mengambil keputusan supaya ia pergi dari situ!

Cin Hai menggigit bibirnya yang tadinya mewek menangis itu. Timbul perasaan angkuh di dalam kepalanya yang gundul. Orang tak menghendaki dia di situ, untuk apa menanti lebih lama lagi? Ia tak perlu minta-minta ampun dan mohon agar diperkenankan tinggal terus di situ. Ia harus pergi karena ia bukan keluarga Kwee! Hanya ie-ienyalah yang menahan ia berada di tempat itu selama ini karena ia amat mencinta ie-ienya yang berbudi baik itu.

Dengan pikiran kacau balau, Cin Hai lalu pergi dari situ dan dengan hati-hati sekali ia hendak keluar dan minggat dari gedung keluarga Kwee. Ia benci sekali kepada Kwee In Liang, karena dari mulut pamannya itu sendiri ia mendengar bahwa yang menangkap orang tuanya adalah pamannya itu sendiri. Ia memasuki kamarnya dan mengambil semua-pakaiannya lalu dibuntal, tetapi tiba-tiba ia teringat akan kata-kata pamannya tadi yang menyatakan bahwa semua pakaian yang dipakai adalah hasil pengabdiannya kepada raja! Dan karena pengabdian kepada raja itulah yang memaksa pamannya itu menangkap dan membasmi seluruh keluarga Sie. Tiba-tiba timbullah rasa jijik dan bencinya kepada semua pakaiannya dan dilemparkannya buntalan itu jauh-jauh dengan perasaan jijik. Ia takkan membawa pakaian pemberian pamannya. Lalu ia teringat akan pakaiannya sendiri, yang dipakainya ini pun pakaian pemberian bibinya yang berarti pemberian pamannya pula! Dengan hati panas dan penuh marah ia lalu menanggalkan semua pakaiannya itu dan dengan telanjang bulat ia lari keluar. Tetapi dari mana ia harus keluar dari gedung itu? Pintu depan telah tertutup dan terkunci. Cin Hai yang gundul dan telanjang itu lalu berlari ke belakang dan memasuki kebun. Angin malam yang dingin menyerang kulitnya sehingga ia menggigil. Tetapi dikeraskan hatinya dan segera menuju ke dinding yang mengelilingi kebun. Memang ia telah biasa memanjat dinding itu waktu bermain-main, maka kini dengan mudah saja ia dapat memanjat dinding menggunakan lubang-lubang dan pecahan-pecahan yang terdapat pada beberapa bagian dinding.

“He, bangsat kecil, kau hendak berbuat apa lagi?”

Itu adalah suara Tan-kauwsu! Cin Hai terkejut sekali dan ia memegang sulingnya erat-erat di tangan kanan. Memang, anak gundul itu tidak membawa bekal apa-apa bahkan pakaiannya pun tidak, akan tetapi suling buatan sendiri itu tak ia lupakan. Ketika Tan-kauwsu sudah datang dekat dan melihat betapa Cin Hai dengan bertelanjang bulat berada di atas dinding, ia merasa heran sekali dan untuk beberapa lama ia berdiri bengong memandang. Sudah gilakah anak ini? Demikian ia berpikir, kemudian timbul maksudnya hendak menangkap dan menyerahkannya kepada Kwee-ciangkun dalam keadaan demikian, agar anak itu dan juga bibinya merasa malu!

“Bangsat tolol, turun kau!” bentaknya.

Tapi dalam takut dan bingungnya Cin Hai tak mempedulikan bahaya lagi. Ia meloncat di sebelah luar dan untung sekali ia jatuh ke dalam semak-semak hingga kakinya tidak patah-patah, hanya tubuhnya yang telanjang itu saja lecet-lecet. Ia lalu berdiri dan lari dalam malam gelap secepat mungkin. Tan Hok, guru silat yang membenci Cin Hai itu menjadi penagaran dan marah. Sekali loncat saja ia sudah berada di atas dinding. Tetapi malam itu gelap sekali sehingga ia tak melihat Cin Hai. Ia memanggil-manggil dan memaki-maki. Tiba-tiba ia mendengar suara keluhan, karena pada saat itu, Cin Hai yang sudah lari agak jauh itu tersandung akar pohon di dalam gelap hingga tubuhnya terguling! Karena dadanya yang telanjang tertumbuk pada akar, maka tanpa disengaja ia mengeluh hingga terdengar oleh Tan Hok. Guru silat ini meloncat turun dari tembok dan mengejar ke arah suara itu sambil memaki,

“Anak totol, apakah kau sudah gila?”

Cin Hai makin takut dan ia berdiri lagi lalu memaksa kakinya yang terasa sakit karena jatuh itu untuk berlari lagi. Saat itu telah lama lewat tengah malam hingga keadaan gelap sekali. Tetapi dari suara kaki Cin Hai yang berlari-lari dapat juga Tan Hok mengejar ke mana anak itu berlari. Hanya keadaan yang sangat gelap itu membuat Tan-kauwsu tak mungkin dapat berlari cepat, takut kalau-kalau ia akan menabrak pohon atau terjeblos dalam tanah berlubang.

Sebaliknya, Cin Hai yang ketakutan dan bingung, tak mempedulikan semua ini dan ia lari sekerasnya. Maksud hatinya hendak lari secepat-cepatnya agar dapat menghindarkan diri dari tangan guru silat yang jahat dan yang pasti akan membawanya kembali ke tempat yang tak disukainya itu. Oleh karena berlari dengan nekad membuta ini, tiba-tiba ia terjeblos ke bawah! Cin Hai terkejut sekali tetapi tak berani mengeluarkan keluhan, takut kalau-kalau pengejarnya mendengarnya.

Ketika ia meraba-raba di sekitar dirinya, ternyata ia telah terjeblos ke dalam tanah lumpur yang lembek berair. Setelah berpikir-pikir sejenak dapatlah ia menduga bahwa ia tentu terjatuh ke dalam kolam lumpur yang biasa digunakan oleh para penggembala kerbau untuk membawa kerbau-kerbau mereka mandi lumpur di situ. Anehnya, kalau tadi ia merasa tubuhnya dingin sekali karena angin yang meniup-niup tubuhnya, kini setelah masuk ke dalam lumpur itu, ia merasa hangat! Agaknya seperti ada hawa yang aneh dan hangat keluar dari kolam lumpur itu.

Akan tetapi, rasa girangnya hanya sebentar saja karena lagi-lagi terdengar suara makian guru silat yang masih tetap mencari-carinya itu. Cin Hai menjadi gemas sekali. Kalau saja ia kuasa mengalahkan guru silat itu pasti ia akan menghajar habis-habisan padanya! Ia memutar-mutar otak di dalam kepalanya yang gundul itu, mencari akal.

Tan Hok si guru silat merasa mendongkol sekali. Biarpun ia lari tidak cepat, tetapi telah dua kali ia menabrak pohon hingga tabrakan yang ke dua kali membuat hidungnya berdarah! Ia tidak menyesalkan hidungnya yang terlalu panjang itu, tetapi menimpakan semua penyesalan, kemendongkolan, dan kemarahannya kepada Cin Hai.

“Anak tolol, anak binatang rendah, anak haram! Kalau kau sampai terpegang olehku, tentu akan kubeset kulit kepalamu!” demikian ia memaki-maki dan maju terus, tetapi kini dengan kedua tangan di depan agar jangan sampai tertumbuk pada pohon lagi.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki Cin Hai berlari-lari di depan. Ia mendengar jelas betapa napas anak itu terengah-engah dan beberapa kali mengaduh-aduh. Girang hatinya mendengar ini.

“Bangsat kecil, kau hendak lari ke mana sekarang?” bentaknya dan ia mempercepat larinya, karena ia pun mendengar suara kaki anak itu berlari makin cepat. Ia maju dengan langkah lebar, tetapi setelah berlari beberapa tindak tiba-tiba ia menjerit dan terdengar betapa tubuhnya yang besar itu jatuh terjerambab di dalam kolam lumpur! Celakanya ia jatuh telungkup hingga mukannya penuh tertutup lumpur.

“Ha-ha-ha! Alangkah lucunya!” terdengar Cin Hai mentertawakan guru silat itu. Ternyata tadi anak itu mendapat akal untuk menjebak pengejarnya. Ia berdiri di seberang kolam lumpur, lalu berlari di tempat sambil sengaja mengeluarkan suara napas terengah-engah. Tan kauwsu telungkup di dalam lumpur bagaikan seekor kerbau besar! Setelah puas memaki-maki dan mengejek serta mentertawakan Tan Kauwsu, Cin Hai lalu berlari lagi ke depan dengan cepat. Kini malam telah hampir terganti fajar hingga samar-samar mata dapat menembus kegelapan yang dari warna gelap hitam menjadi abu-abu.

Sudah tentu Tan Hok meluap rasa marahnya. Untuk beberapa lama ia tak berdaya karena selain merasa pengap lubang hidungnya tertutup lumpur, juga ia merasa bingung bagaimana harus membersihkan lumpur yang memasuki mata kirinya! Akhirnya ia dapat juga ke luar dari kolam lumpur itu dan dapat menggunakan bajunya yang masih bersih, yakni yang berada di bagian belakang tubuhnya, untuk membersihkan lumpur dari hidung, mulut dan matanya. Biarpun mata kirinya masih terasa pedas dan lamur, tetapi dengan mata kanan ia dapat memandang ke depan. Tampaklah olehnya sebuah lorong kecil di depan dan tanpa membuang waktu ia segera lari mengejar.

Fajar telah menyingsing ketika dari jauh Tan Hok dapat melihat berkelebatnya tubuh Cin Hai di depan. Guru silat ini mengeluarkan seruan girang, karena ia sebentar lagi pasti akan dapat memuaskan hati membalas dendam kepada setan cilik itu! Ia memperkuat larinya dan sebentar saja jarak antara ia dan Cin Hai yang berlari sekuatnya itu tinggal beberapa tombak saja lagi!

“Bocah tolol! Sekarang kau hendak lari ke mana? Bersiaplah untuk mampus di tanganku!” teriak Tan Hok dengan girang sekali dan ia sudah siap mengulurkan tangan untuk menangkap.

Cin Hai yang sudah putus asa tidak mau menerima nasib. Ia bahkan berlari sekerasnya dan ia sudah mengambil keputusan tetap bahwa bilamana ia tertangkap, sebelum mati ia hendak melawan dulu sekuatnya, hendak menggunakan kaki tangan dan giginya untuk melawan. Ia ingat bunyi sebuah ujar-ujar kuno yang berkata bahwa lebih baik mati sebagai harimau daripada mati sebagai babi!

Tetapi pada saat itu, ketika ia sudah mendengar suara kaki dan napas Tan-kauwsu dekat sekali di belakangnya, tiba-tiba ia menabrak tubuh seorang yang berdiri di depannya! Dan tahu-tahu tubuh Cin Hai melayang ke atas lalu terduduk di atas lengan seorang tua yang pendek. Cin Hai menjadi terkejut, heran dan bingung sekali. Mengapa tahu-tahu ada seorang tua pendek di depannya dan bagaimana maka ia tahu-tahu sudah melayang ke atas dan duduk di atas lengan kanan orang tua itu yang bertubuh pendek, dan mulutnya selalu menyeringai, memakai jubah hitam dan kopiah hitam pula. Maka teringatlah dia bahwa orang ini bukan lain ialah seorang di antara tiga orang yang belum lama ini bertempur melawan hwesio gundul pemelihara ular di depan Kelenteng Ban-hok-tong!

Sementara itu, Tan Hok ketika melihat betapa seorang tosu pendek tahu-tahu menangkap Cin Hai dan berdiri di depannya, menjadi kaget sekali. Sebaliknya tosu itu yang bukan lain ialah Giok Keng Cu, orang ke tiga dari Kang-lam Sam-lojin (Tiga Orang Tua dari Kanglam) tidak kurang terkejutnya melihat Cin Hai dan Tan Hok. Ia tidak mengenal anak itu karena bertelanjang bulat dan hanya berpakaian lumpur yang telah mulai mengering dan heran juga melihat pengejar anak itu yang juga penuh dengan lumpur pada seluruh tubuh bagian depan. Ia hanya memandang sambil menyeringai dan tertawa ha-ha-hi-hi.

Tan-kauwsu ketika melihat bahwa tosu pendek itu hanya orang biasa saja yang berpakaian sebagai seorang pendeta menyangka bahwa tosu itu kebetulan saja berada di situ, maka ia lalu membentak keras karena hatinya masih panas penuh kemarahan,

“Totiang, kauberikan anak tolol itu kepadaku!”

Mendengar kata-kata ini, Giok Keng Cu lalu bertanya.

“Sicu (Orang Gagah), apakah kau ayah anak ini?”

“Siapa sudi menjadi ayah anak haram ini? Dia ini… adalah bujang dari keluarga Kwee yang melarikan diri dan aku mendapat tugas menangkapnya! Lekas lepaskan dia!”

“Sabar dulu, Sicu, sabar dan tenanglah! Aku ingin sekali tahu, mengapa anak ini bertelanjang bulat dan penuh lumpur dan mengapa pula kau juga agaknya mandi lumpur? Kalian ini orang-orang Tiang-an agaknya suka benar dengan lumpur.”

Tiba-tiba Cin Hai tertawa geli. Ia menganggap tosu ini lucu dan ia merasa senang mendengar betapa Tan Hok dipermainkan. Ia pun maklum bahwa tosu pendek ini lihai sekali, maka hatinya menjadi tabah dan keberaniannya timbul.

“Totiang, kau harus menonton ketika kerbau hitam ini kujerumuskan ke dalam lumpur! Kerbau ini adalah kerbau gila, Totiang, ia mengejarku dari malam tadi dengan maksud membunuhku, tetapi sayang aku terlalu cepat baginya.”

“Bangsat kecil!”, Tan Hok meloncat maju dan hendak menerkam Cin Hai serta merampasnya dari tangan tosu itu tetapi dengan sekali menggerakkan lengan saja tubuh Cin Hai dapat dilempar ke atas hingga terhindar dari serangan Tan Hok, lalu ketika tubuh kecil itu turun, diterima lagi dengan lengannya!

“Sabar dulu, Sicu. Biar pinto dengar dulu penuturan bocah ini. Hai, anak bodoh, coba, kau ceritakan padaku hal yang sebenarnya telah terjadi.” Diam-diam tosu ini suka sekali melihat keberanian Cin Hai, hanya ia masih heran mengapa bocah kecil yang membawa-bawa suling ini bertelanjang bulat dan tubuhnya penuh lumpur.

Dengan singkat Cin Hai lalu menuturkan betapa ia melarikan diri dari gedung keluarga Kwee karena ia dibenci. Ia sama gekali tidak mau menceritakan tentang sebab-sebab yang sebenarnya dari kepergiannya itu. Ia menceritakan bahwa ia sengaja meninggalkan pakaiannya karena tidak mau pergi membawa sepotong barang dari gedung itu, takut kalau-kalau disangka mencuri, dan betapa di tengah jalan ia dikejar oleh Tan-kauwsu yang selamanya memang benci padanya.

“Betul demikiankah, Sicu?” tanya Giok Keng Cu dengan tetap menyeringai.

“Sudahlah, kau orang tua jangan ikut campur urusan ini. Ketahuilah, anak ini ikut dengan keluarga Kwee-ciangkun dan aku adalah guru silat di gedung itu. Jangan kau mencari penyakit!” Tan Hok membentak marah.

Giok Keng Cu berpaling kepada Cin Hai yang masih duduk di atas lengannya lalu bertanya sambil tertawa, “Anak gundul, apakah kau sering dipukul oleh Kauwsu ini?”

“Bukan sering lagi, kalau ia diberi kesempatan tentu akan dibunuhnya!” jawab Cin Hai terus terang.

“Apakah kau berani melawannya kalau diberi kesempatan?”

“Kalau aku mempunyai kepandaian seperti Totiang, tentu kerbau hitam ini akan kuhajar kepalanya sampai benjut!”

“Anjing kecil, kau turunlah!” Tan Hok menantang.

“Nah, kalau kau berani, kau lawanlah dia sambil duduk di atas lenganku!” kata Giok Keng Cu sambil tertawa.

Cin Hai belum mengerti benar maksud tosu itu, ia yakin bahwa tosu ini bermaksud membantunya, maka ia mengangguk-angguk dan berkata, “Baik, baik, akan kupukul kepalanya sampai benjol dan benjut.”

“Pukullah!” kata Giok Keng Cu sambil mengulurkan lengan yang diduduki Cin Hai ke dekat Tan Hok dan benar-benar Cin Hai mengayun kepalan tangannya arah kepala guru silat itu. Mana Tan Hok mandah saja dirinya dipukul, ia mengangkat tangan kiri menangkis dan tangan kanannya memukul ke arah muka Cin Hai, maksudnya hendak sekali pukul menjatuhkan anak itu dari atas lengan Si tosu. Tetapi Giok Keng Cu menggerakkan lengannya dan tahu-tahu Cin Hai sudah pindah ke lengan kiri!

“Guru silat, kalau kau bisa menjatuhkan anak ini dari lenganku, boleh kau bawa dia!” Giok Keng Cu mengejek. Tan Hok marah sekali dan ia lalu menyerang, tetapi ternyata Cin Hai dibawa oleh lengan tosu itu dengan cepat menghindari setiap serangannya, bahkan tangan anak itu balas menghantam!

Tan Hok dengan geram dan marah lalu maju dan menyerang dengan gerak tipu Cin-jip-houw-hiat (Terjang Masuk Gua Harimau), sebuah serangan yang hebat sekali karena dilakukan dengan dua tangan. Kalau kepala Cin Hai yang gundul terkena pukulan ini, pasti otaknya akan berceceran keluar dari batok kepalanya yang pecah! Tetapi dengan enak dan tenang Giok Keng Cu meloncat ke pinggir dan menggerakkan lengannya dengan cepat sekali. Tahu-tahu Cin Hai merasa dirinya terlempar ke atas melalui kepala Tan Hok, maka cepat anak itu menggunakan kakinya menyepak ke arah kepala itu! Tan Hok yang kena sepak kepalanya menjadi marah sekali dan menggunakan tangan hendak menerkam tubuh yang masih berada di atasnya itu, tetapi tangan Giok Keng Cu lebih cepat lagi mendahuluinya menyangga tubuh Cin Hai dan dibawa turun lagi.

Demikianlah, dengan gerakan-gerakan aneh dan cepat melebihi angin, Cin Hai dapat dibawa oleh lengan Giok Keng Cu mempermainkan Tan Hok. Beberapa kali kepalan Cin Hai yang kecil dapat memukul muka, kepala dan dada guru silat itu sekerasnya, tetapi akibatnya ia sendiri yang mengeluh dan mengaduh karena anggauta tubuh guru silat yang terlatih itu keras dan, kuat, sedangkan kepalan tangannya lemah tak terlatih.

“Totiang, tanganku sakit.” Cin Hai berbisik.

“Anak tolol, kaupukul daun telinganya!” Giok Keng Cu balas berbisik.

Benar saja, semenjak saat itu, Cin Hai menujukan pukulannya kepada dua daun telinga Tan Hok hingga guru silat itu menjadi makin gemas, marah dan mendongkol. Ia rasakan daun telinganya pedas dan sakit, tetapi hatinya lebih perih dan sakit lagi. Bagian-bagian tubuh lain memang terlatih, tetapi daun telinganya tak dapat dilatih dan terasa sekali hingga biarpun pukulan seorang anak kecil juga mendatangkan rasa sakit dan bahkan mendatangkan bunyi mendenging di dalam telinganya! Cin Hai merasa gembira sekali karena ia mendapat kesempatan untuk membalas dendam. Kini ia tidak hanya memukul, tetapi menjewer, mencengkeram, menusuk lubang telinga dengan sulingnya dan lain-lain serangan yang membuat Tan Hok merasa mata gelap dan kepala berputaran karena marah, gemas dan tak berdaya!

Tan Hok sudah mendapat hajaran hebat ketika guru silat itu menyerang lagi, Giok Keng Cu sengaja menangkis dengan tangan kirinya sambil membentak,

“Masih belum cukupkah?”

Tangkisan itu membuat Tan Hok hampir menjerit kesakitan. Seluruh lengan kanannya, dari ujung jari sampai ke pundak, terasa seakan-akan dibakar api dan sakit sekali, hingga sambil meringis-ringis ia melangkah mundur, lalu berkata,

“Aku sudah menerima pengajaran dari orang pandai. Tidak tahu siapakah Totiang dan apa hubungannya dengan anak tolol ini hingga Totiang membantunya serta tak segan-segan memberi pukulan kepada siauwte.”

Pada saat itu, matahati telah mulai bersinar hingga wajah Cin Hai dengan kepalanya yang gundul pelontos tampak nyata. Ketika mendengar ucapan guru silat itu, Giok Keng Cu lalu memandang muka anak kecil yang ditolongnya.

“Eh, kau?” tanyanya dan Cin Hai tersenyum mengangguk sambil berkata,

“Ya, aku. Dan bagaimana dengan kedua Totiang yang lain?” tanyanya. Giok Keng Cu lalu berdongak dan tertawa keras, hingga suara ketawanya menggetarkan daun-daun pohon.

“Dengarlah, guru silat buruk adat! Kau berhadapan dengan Giok Keng Cu, atau kalau nama ini tidak kaukenal, boleh juga kau ketahui bahwa pinto adalah orang termuda dari Kanglam Sam-lojin. Adapun tentang anak ini, dia ini adalah in-jin (penolong) kami!”

Bukan main kagetnya Tan Hok mendengar bahwa ia berhadapan dengan seorang daripada Kanglam Sam-lojin yang sangat tenar namanya dan yang sudah menggemparkan dunia kang-ouw dengan kelihaian dan kehebatan mereka. Tetapi lebih heran lagi ketika mendengar pengakuan orang tua itu bahwa Cin Hai dianggap sebagai in-jin mereka! Sungguh aneh dan gila! Cepat ia mundur dan menjura dalam-dalam sambil berkata,

“Maaf, siauwte yang tak mengenal Gunung Thai-san menghalang di depan mata (Orang Gagah berdiri di depan mata) dan berani berlancang tangan. Biarlah siauwte memberi laporan kepada Kwee-ciangkun bahwa anak tolol… (ia menahan makiannya) anak ini telah ikut dengan Locianpwe.”

Tetapi Giok Keng Cu yang kegirangan lagi bertemu dengan “tuan penolong” itu, tak mempedulikan lagi guru silat dan sekali berkelebat, ia telah lenyap dari pandang mata Tan Hok, sedangkan Cin Hai juga dibawanya pergi bersama. Tan Hok menghela napas berulang-ulang dan hatinya penasaran, malu dan gemas. Berturut-turut dalam dua hari ia mengalami nasib sialan! Kemarin bertemu dengan Biauw Suthai dan mendapat hajaran yang memalukan dan menjatuhkan namanya, malam tadi dipermainkan oleh Cin Hai si setan kecil, sedangkan sekarang tiba-tiba saja berhadapan dengan seorang dari Kang-lam Sam-lojin yang lihai! Semua ini gara-gara Cin Hai si setan kecil. Kemudian ia pergi ke gedung Kwee-ciangkun untuk memberi laporan bahwa Cin Hai pergi bersama seorang tua jahat yang mungkin mengambilnya sebagai murid. Ia tentu saja tidak mau menceritakan pengalamannya memalukan itu, hanya bercerita bahwa orang tua yang membawa Cin Hai itu agak miring otaknya, sedangkan Cin Hai sendiri ketika ikut orang tua itu bertelanjang bulat seperti anak gila.

Kwee In Liang tidak sangat memperdulikan peristiwa ini, tetapi Loan Nio lalu lari ke kamarnya dan setelah memeriksa kamar Cin Hai dan mendapatkan betapa anak itu pergi tanpa membawa sedikit pun barang atau sepotong pun pakaian, ia menangis tersedu-sedu dengan hati merasa terharu dan iba sekali.

Giok Keng Cu yang lari bagaikan terbang cepatnya sambil memondong tubuhnya karena angin besar menderu-deru di kedua telinganya hingga ia menutup matanya, membawa Cin Hai ke sebuah kuil rusak yang jauhnya beberapa li dari situ.

Baru saja tiba di pekarangan kuil, ia telah berteriak ke dalam.

“Twa-suheng (Kakak Seperguruan tertua)! Ji-suheng (Kakak Seperguruan Ke Dua)! Coba keluar dan lihat siapa yang kubawa ini!”

Baru saja ucapan itu habis dikatakan dari dalam kuil rusak itu berkelebat dua bayangan orang dan tampaklah Giok Im Cu si tinggi kurus, dan Giok Yang Cu si tinggi besar brewokan. Untuk sesaat mereka tak dapat mengenali anak kecil berlumpur itu, tetapi Giok Yang Cu segera ingat akan kepala gundul itu, maka cepat ia berkata girang.

“In-kongcu (tuan penolong muda)!”

Cin Hai segera turun dari pondongan Giok Keng Cu dan memandang kepada ketiga tosu itu dengan muka bodoh. “Samwi-totiang (Ketiga Bapak Pendeta) mengapa menyebut aku penolong? Apakah memang cara-cara pendeta memutar balikkan kenyataan? Sebenarnya aku telah ditolong, tapi sebaliknya malah disebut penolong, bagaimanakah ini?”

Ketiga tosu ini saling pandang, lalu ketiganya berdongak dan tertawa bergelak.

“Kau tidak tahu, anak baik. Ketika kami bertiga bertempur melawan Hai Kong Hosiang di depan Kelenteng Ban-hok-tong, kami bertiga terdesak dan dikurung oleh ular-ularnya yang berbahaya dan lihai. Nah, ketika itu kalau tidak ada kau penolong kami yang membunyikan suling dan mengacaukan pertahanan ular-ular itu, tentu sekarang sudah tidak ada lagi Kanglam Sam-lojin! Kepada Hai Kong si hwesio itu kami tidak gentar, tetapi barisan ular sungguh lihai!”

Barulah Cin Hai mengerti ia disebut tuan penolong, tetapi ia lalu tertawa dan berkata.

“Sungguh aku girang sekali telah dapat menolong Sam-wi Totiang, tetapi sungguh mati ketika itu aku tidak sengaja menolong, hanya karena mendengar suara melengking dari Hai Kong Hosiang, aku merasa telingaku sakit dan kugunakan suling untuk melawan suara itu. Tidak tahunya suara itu dapat menolong Sam-wi, maka Sam-wi tak perlu berterima kasih kepadaku seharusnya kepada suling ini!” Ia lalu mengangkat dan mengangkat dan mengacung-acungkan suling barunya.

“Anak baik, kata-katamu betul juga,” kata Giok Im Cu, tosu tertua yang tinggi kurus, lalu tiba-tiba tosu ini menyanyikan sebuah syair dengan suara tinggi nyaring,

“Tun Hek Ki Jiak Phak, Kong He Ki Jiak Kak, Huk He Ki Jiak Tak!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: