Pendekar Bodoh ~ Jilid 20

Terdengar pekik seorang kanak-kanak dan tiba-tiba dari rombongan para petani yang memandang penyembelihan kerbau secara istimewa ini dengan wajah pucat dan mata terbelalak, keluar berlari seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun lebih. Anak ini segera menubruk tubuh kerbau yang telah mati itu sambil menangis keras,

“He, siapakah anjing kecil ini?” tanya Hai Kong Hosiang kepada seorang wanita yang menarik-narik anak itu sambil mengeluarkan kata-kata hiburan.

“Dia… dia ini adalah anakku dan kerbau itu adalah kerbau kesayangannya. Semenjak kecil ia bersama-sama kerbau ini, maka ia menjadi sayang sekali. Maafkan dia Losuhu, karena dia tidak tega melihat kawan bermainnya itu terbunuh.”

“Ha-ha-ha! Anak goblok! Anak bodoh! Dia belum tahu bagaimana rasanya daging sahabatnya itu. Kalau sudah tahu, ha-ha-ha! Tentu ia akan senang melihat sahabatnya disembelih! Hayo anak kau ikut aku pesta dan menikmati daging sahabatmu ini!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang memegang tangan anak itu dan menariknya ke dalam rumah. Ketika ibunya hendak mengejar, Hai Kong Hosiang membentak,

“Aku hendak mengajak anakmu makan besar, apa salahnya! Kalau kau mengganggu, aku akan bunuh kamu berdua!” Terpaksa ibu ini melangkah mundur dengan muka pucat, kemudian ia menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Seorang tetangganya lalu menariknya pergi dari situ oleh karena kuatir kalau hwesio jahat itu akan marah dan benar-benar melakukan pembunuhan.

“Hayo lekas masak daging ini!” Hai Kong Hosiang memerintah sambil minum arak yang disuguhkan di atas meja dalam rumah itu. Anak yang tadi ditariknya kini didudukkan di depannya dan sambil memandang anak itu, Hai Kong Hosiang tiada hentinya minum arak sambil tertawa-tawa. Anak itu duduk dengan muka pucat dan tubuh menggigil, tetapi ia tidak berani berteriak!

Setelah masakan daging kerbau telah matang dan disuguhkan di atas meja depan Hai Kong Hosiang dan anak itu, Hai Kong Hosiang lalu mulai makan dengan enaknya.

“Hayo kaumakan daging kawanmu ini. Enak dan lezat sekali rasanya!” kata Hai Kong Hosiang kepada anak itu. Akan tetapi sambil menggigit bibirnya dan menahan runtuhnya air mata yang mengembeng di bulu matanya, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hayo makan!” teriak Hai Kong Hosiang dengan suara yang menggeledek bagaikan guntur hingga semua orang tani yang berada di luar rumah itu menjadi terkejut dan kuatir sekali.

Akan tetapi, sekali lagi anak itu menggelengkan kepala karena jangankan harus makan daging kerbaunya yang dikasihinya itu, baru melihat saja betapa daging kawan baiknya kini telah dimasak dan dimakan oleh hwesio itu, hatinya telah terasa perih dan hancur sekali.

Melihat kekerasan anak ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan penasaran. Ia lalu mengambil sepotong daging dengan tangannya dan begitu mengulur tangan, maka tangan kirinya telah menangkap mulut anak itu hingga dipaksa menyelangap dan lalu memasukkan daging itu ke dalam mulut anak tadi! Anak itu membelalakkan matanya dan ketika merasa betapa daging itu dimasukkan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia muntah-muntah!

Bukah main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini. Ingin ia memukul mati anak di depannya ini, akan tetapi baru saja ia mengangkat tangannya untuk memukul, ia teringat bahwa jika membunuh anak ini, maka setidaknya tentu terjadi heboh dan ribut yang hanya akan mengganggu istirahatnya saja. Maka ia tidak jadi memukul, akan tetapi memegang batang leher anak itu dan sekali ia menggerakkan tangan, anak itu menjerit karena tubuhnya terlempar keluar pintu!

Baiknya di luar pintu, orang-orang tani sedang duduk berkumpul dengan hati berdebar penuh kekuatiran, maka tubuh anak kecil itu jatuh menimpa mereka hingga tidak mengalami luka hebat. Anak itu jatuh pingsan karena sedih, ngeri dan takutnya dan orang-orang kampung itu lalu menggotongnya pulang sambil menghela napas, bahkan ada yang mengucurkan air mata karena merasa sedih, dan tak berdaya!

Hai Kong Hosiang melanjutkan makan-minumnya seakan-akan tak pernah ada gangguan apa-apa. Nafsu makannya besar sekali dan sebentar saja hidangan yang disuguhkan di atas meja itu habis bersih! Memang hwesio ini mempunyai sifat aneh. Ia dapat bertahan tidak makan sampai tiga hari tiga malam, dan sekali ia makan, agaknya ia hendak menebus hutangnya kepada perutnya itu dan takaran makan yang tiga hari disekalikan! Setelah hidangan itu habis semua, ia lalu merebahkan dirinya di atas sebuah balai-balai reyot di dalam rumah petani itu dan sebentar lagi terdengar suaranya mendengkur keras, seakan-akan kerbau yang dagingnya telah memasuki perutnya itu tiba-tiba bangkit kembali di dalam perut dan menguak-uak!

Semalam suntuk Hai Kong Hosiang tertidur tanpa berkutik dari tempatnya. Telah beberapa pekan ia meninggalkan kota raja dan supeknya ditinggal di kota raja, oleh karena supeknya yang sudah tua itu menyatakan lelah dan bosan merantau, hingga Hai Kong Hosiang pergi seorang diri.

Pada keesokan harinya, kebetulan sekali Biauw Suthai dan Pek I Toanio yang pergi mencari jejak Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf tiba di dusun itu. Kedua orang ini merasa heran melihat kelesuan muka orang-orang kampung itu ketika pada pagi hari itu mereka memanggul cangkul pergi ke ladang.

Pek I Toanio lalu bertanya kepada seorang petani tua yang bertemu di jalan,

“Lopeh (Uwa), agaknya kalian penduduk desa ini berduka dan bingung. Malapetaka apakah gerangan yang menimpa desamu?”

Tadinya si petani tidak berani banyak bicara, akan tetapi ketika melihat gagang pedang yang tergantung di punggung Pek I Toanio timbul kepercayaannya, bahkan ia lalu mengharap kalau-kalau kedua wanita yang nampak gagah ini akan dapat menolong desanya.

“Ketahuilah, Toanio. Desa kami kedatangan seorang hwesio jahat sekali yang mengganggu kami dan bahkan merampok kami. Itu masih belum seberapa, bahkan ia berani memukul dan melukai orang.”

Bangkitlah semangat pendekar dalam dada Pek I Toanio ketika mendengar penuturan ini, sedangkan Biauw Suthai yang lebih sabar lalu minta kepada petani tua itu untuk menuturkan sejelasnya. Petani itu lalu menceritakan tentang kejahatan Hai Kong Hosiang dan Biauw Suthai menjadi marah sekali, apalagi ketika mendengar betapa hwesio jahat itu memaksa anak kecil itu makan daging kerbaunya sendiri dan kemudian melempar tubuh anak itu keluar ketika dia tidak mau makan daging kerbau kesayangannya.

“Hwesio bangsat kurang ajar! Hendak kulihat siapakah dia yang begitu jahat tak mengenal kemanusiaan itu.”

Setelah berkata demikian, Biauw Suthai dengan tindakan kaki lebar dan diikuti oleh muridnya, lalu pergi menuju ke rumah yang diceritakan oleh petani tadi. Sementara itu, petani tua itu lalu menceritakan kepada kawan-kawannya, sebentar saja semua orang tahu bahwa ada dua orang wanita gagah yang hendak mengusir dan menghukum hwesio jahat yang mengganggu mereka. Semua orang lalu meninggalkan pekerjaan mereka dan beramai-ramai menuju ke rumah itu. Akan tetapi mereka tidak datang dekat, hanya memandang dari jauh dengan perasaan tegang.

Ketika melihat bahwa pintu rumah itu masih tertutup, Biauw Suthai dan Pek I Toanio lalu melompat ke atas genteng dan membuka dua genteng dan mengintai ke dalam. Dan mereka melihat pemandangan yang aneh. Seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan, sedang berdiri dengan kepala di tanah dan kedua kaki di atas. Hwesio ini menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan saat itu sedang memutar-mutar tubuhnya sedemikian rupa hingga kelihatan dari atas seperti sebuah gangsingan atau semacam barang permainan yang terputar-putar. Di dekatnya kelihatan menggeletak sebuah topi bambu yang lebar. Ketika Biauw Suthai dan muridnya memandang dengan penuh perhatian, mereka terkejut sekali karena mengenal hwesio itu yang bukan lain adalah Hai Kong Hosiang. Ternyata bahwa Hai Kong Hosiang sedang melatih lweekangnya yang hebat dan aneh. Kepalanya dapat berloncat-loncat dan berpindah-pindah dengan cepat tanpa mengeluarkan suara, sedang sepasang kakinya bergerak-gerak hingga di dalam kamar itu berkesiur angin yang kuat. Tiba-tiba terdengar Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan tahu-tahu kedua kakinya ditendangkan ke atas. Angin hebat menyerang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio sedang mengintai.

“Awas!” seru Biauw Suthai dan untung ia masih keburu membetot lengan muridnya, oleh karena tiba-tiba genteng di mana mereka tadi berdiri tiba-tiba pecah dan terpental ke atas tinggi sekali sebagai akibat pukulan angin tendangan Hai Kong Hosiang yang dahsyat.

“Hai Kong pendeta bangsat!” Biauw Suthai memaki keras dan tiba-tiba tubuh Hai Kong Hosiang sudah berada di luar dan berdiri sambil tertawa berkakakan dan memandang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio masih berdiri.

Biauw Suthai menjadi marah sekali dan sambil mencabut senjata yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu merah, ia lalu melayang turun dari genteng diikuti oleh Pek I Toanio yang juga telah mencabut keluar pedangnya.

“Ha, ha, ha, tokouw mata satu yang buruk! Akhirnya aku dapat bertemu dengan engkau. Dan agaknya engkaulah orang pertama yang akan mampus di tanganku, mendahului anjing-anjing lain yang hendak kubasmi semua. Dan muridmu yang cantik ini pun takkan ketinggalan dan mengiringkan kau! Ha, ha, ha!”

“Hai Kong Hwesio keparat yang pantas mampus. Memang sudah lama pinni hendak menyingkirkan kau dari muka bumi ini oleh karena kedosaanmu telah melewati takaran. Bersedialah untuk mati!” Sambil berkata demikian, Biauw Suthai menggerak-gerakkan hudtimnya yang lihai.

Kalau dulu sebelum memperdalam ilmu silatnya, jika ia harus berhadapan dengan Biauw Suthai, tentu Hai Kong Hosiang akan merasa jerih oleh karena ia telah maklum akan ketangguhan tokouw mata satu ini, dan karena ia maklum akan kelihaian para musuh-musuhnya, maka ia lalu mengajak supeknya untuk menemaninya dalam perantauan. Akan tetapi, sekarang setelah mempelajari banyak macam ilmu silat yang lihai-lihai dari Kiam Ki Sianjin, ia memandang rendah kepada musuh-musuhnya, dan melakukan perjalanan seorang diri tanpa dikawani supeknya. Memang Hai Kong Hosiang mempunyai dasar watak yang sombong dan tinggi hati serta memandang rendah kepandaian orang lain, akan tetapi harus diakui bahwa ia memang mempunyai dasar atau bakat yang baik sekali. Jarang ada orang yang dapat mempelajari ilmu silat sebaik dan secepat dia. Ilmu Silat Kalajengking yang aneh gerakannya dan dilakukan secara berjungkir balik itu telah dapat dimainkan dengan sempurna dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan saja. Juga selain ilmu silat ini, ia telah meyakinkan ilmu-ilmu silat lain dan bahkan telah mendapat kemajuan ilmu lweekang yang berdasarkan yoga dari Barat.

Kini melihat betapa Biauw Suthai telah menggerak-gerakkan ujung kebutan yang lihai hingga bulu-bulu halus kebutan itu mulai menggetar dan seakan-akan menjadi hidup oleh karena tenaga dalam tokouw itu telah disalurkan ke dalam senjatanya untuk menghadapi hwesio yang amat tangguh ini, Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak lagi dan tiba-tiba ia menyerang dengan tangan kosong. Serangan ini berarti penghinaan dan memandang rendah kepada Biauw Suthai yang memegang kebutan, maka tokouw ini menjadi marah sekali. Benar-benarkah hwesio ini mengangap ia begitu ringan hingga tak perlu dilawan dengan senjata? Ia berseru keras dan menggerakkan kebutannya dalam tipu gerakan Angin Badai Memutar Ombak. Terdengar angin bersuitan ketika hudtim berkelebat merupakan sinar merah dan dalam segebrakan saja ujung hudtimnya menyambar-nyambar ke tiga tempat, pertama ke arah pelipis kepala Hai Kong Hosiang lalu ke dua meluncur terus ke arah jalan darah di leher untuk melakukan totokan maut dan terus disambung lagi dengan serangan ke tiga yaitu mengebut ke arah uluhati hwesio itu.

Akan tetapi Hai Kong Hosiang memang lihai sekali. Melihat gerakan serangan yang sekali serang mengancam tiga tempat yang berbahaya dan yang membawa hawa maut ini, ia tidak menjadi gugup. Ia gunakan kedua tangannya yang dibuka untuk digerak-gerakkan ke arah ujung kebutan dan ternyata tenaga khikang yang kuat sekali itu berhasil memukul buyar ujung hudtim sebelum senjata itu mengenai tubuhnya.

Biauw Suthai terkejut sekali. Tak pernah disangkanya bahwa kepandaian Hai Kong Hosiang telah maju sedemikian hebatnya dan diam-diam ia maklum bahwa tenaga dalam hwesio ini telah maju pesat dan telah berada di tingkat yang lebih tinggi daripada tenaga dalamnya sendiri. Akan tetapi, Hai Kong Hosiang terlampau memandang rendah Biauw Suthai. Ia tidak tahu bahwa Tokouw ini adalah tokoh persilatan yang boleh dibilang “kawakan” atau jago tua yang telah malang melintang dalam dunia kang-ouw sampai puluhan tahun lamanya dan jarang menemui tandingan. Biauw Suthai telah terlalu sering menghadapi orang-orang pandai dan lawan-lawan tangguh, hingga ia tidak menjadi jerih menghadapi Hai Kong Hosiang, biarpun ia maklum bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi sekali. Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang terlihai dan kini kebutannya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk dan semua serangannya ditujukan ke arah urat-urat kematian Hai Kong Hosiang untuk mempertahankan nyawanya lagi.

Setelah bertempur dengan hebat sampai lima puluh jurus lebih, Hai Kong Hosiang terpaksa mengakui keunggulan permainan silat Biauw Suthai dalam lima puluh jurus lebih itu, telah beberapa kali ia mengeluarkan keringat dingin dan menjadi pucat karena hampir saja ia menjadi korban senjata hudtim lawannya. Maka ia segera berseru keras,

“Biauw Suthai, rasakan kerasnya senjataku!” dan ia lalu mencabut keluar tongkat ularnya yang terkenal ganas dan ampuh.

“Hai Kong manusia sombong! Hayo kau keluarkan semua kesaktianmu, dan jangan kira aku takut kepadamu!”

“Ha, ha, ha! Biauw Suthai, kematian sudah di depan mata tapi kau masih berani berlagak. Sungguh-sungguh tua bangka tak tahu diri. Muridmu yang cantik itu telah menjadi pucat dan tak berani bergerak, maka jagalah dirimu!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang menubruk maju sambil menggerakkan tongkatnya yang istimewa hingga Biauw Suthai harus berlaku hati-hati karena maklum akan berbahayanya tongkat ini.

Sementara itu, Pek I Toanio mendengar hinaan Hai Kong Hosiang yang mengatakan bahwa ia pucat dan takut bergerak menjadi marah sekali. Sambil melompat maju ia menyerang dengan pedangnya dan membentak, “Hwesio gundul keparat! Aku Pek I Toanio tidak takut iblis macam kau!”

“Jangan maju!” teriak Biauw Suthai memperingatkan muridnya, akan tetapi terlambat. Ketika pedang Pek I Toanio merusak dada Hai Kong Hosiang, pendeta gundul ini sama sekali tidak menangkis karena maklum bahwa tenaga Pek I Toanio tak perlu ia takuti maka sengaja ia pasang dadanya untuk menerima tusukan itu. Terdengar bunyi kain terobek pedang akan tetapi Pek I Toanio terkejut sekali karena di balik pakaian itu, ujung pedangnya membentur kulit dan daging yang keras dan dapat membuat pedangnya terpental kembali seakan-akan ia menusuk sebuah benda yang keras dan licin. Sebelum hilang kagetnya, ujung tongkat Hai Kong Hosiang yang sebenarnya adalah seekor ular kering dan berbisa itu telah menyambar dan tepat mengenai lehernya. Pek I Toanio memekik perlahan sambil memegangi lehernya, tubuhnya terhuyung dan kemudian roboh dan tewas dengan muka dan leher berubah menjadi hitam karena pengaruh bisa yang keluar dari tongkat itu.

“Ha, ha, Biauw Suthai, lihatlah! Muridmu yang cantik telah berubah buruk seperti mukamu!”

Bukan main marah dan sedihnya hati Biauw Suthai melihat hal ini. Ia berubah menjadi buas dan liar karena marahnya.

“Hai Kong, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang tewas saat ini!” Lalu hudtimnya diputar hebat dan ia menyerang dengan mati-matian! Belum pernah selama hidupnya Biauw Suthai marah seperti ini dan tentu saja serangannya menjadi ganas dan berlipat ganda lebih hebat daripada biasa. Hai Kong Hosiang terkejut dan diam-diam ia mengakui bahwa ilmu kepandaian Biauw Suthai benar-benar hebat. Ia memainkan tongkatnya dengan hati-hati dan tidak berani berlaku sembrono, karena maklum bahwa serangan-serangan tokoh yang disertai kemarahan hebat dan penuh dendam ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan!

Setelah mereka bertempur seratus jurus lebih dengan ramai dan hebat sekali hingga orang-orang kampung yang tadinya menonton dari jauh dan takut melihat betapa Pek I Toanio tewas, kini tidak berani bergerak atau mengeluarkan suara melihat pertempuran luar ramainya itu, tiba-tiba Biauw Suthai lalu merubah gerakannya dan kini ia menujukan perhatian serta mencurahkan tenaganya untuk merampas tongkat Hai Kong Hosiang yang lihai. Pada suatu saat ujung kebutan Biauw Suthai berhasil membelit ujung tongkat ular itu dengan erat sekali. Hai Kong Hosiang mengerahkan tenaganya untuk menarik kembali tongkatnya, akan tetapi tidak berhasil.

Tiba-tiba Hai Kong Hosiang mengeluarkan seruan aneh dan menyeramkan dan tahu-tahu tubuhnya berjungkir balik, kepalanya di atas tanah dan pada saat itu juga, kedua kaki dan tangannya bergerak menyerang Biauw Suthai!

Gerakan ini sungguh-sungguh diluar dugaan Biauw Suthai. Tadi setelah ujung hudtimnya berhasil membelit, Hai Kong Hosiang berusaha membetot tongkatnya, maka ia mengerahkan lweekangnya untuk menahan dan ketika tiba-tiba Hai Kong Hosiang melepaskan pegangan, tongkat itu tertarik oleh hudtim dan melayang kepadanya, maka cepat-cepat Biauw Suthai mengelak. Akan tetapi ia tidak menyangka sama sekali bahwa Hai Kong Hosiang setelah melepaskan tongkatnya, lalu berjungkir balik dan menyerangnya dalam keadaan yang aneh hingga ia jadi bingung. Sebagaimana sudah jadi watak wanita, paling takut ia diserang dari bawah, maka Biauw Suthai terlalu mencurahkan perhatian kepada kedua tangan Hai Kong Hosiang yang bergerak menyerang dari bawah! Ia menggerakkan hudtimnya untuk menyapu ke bawah dan menangkis pukulan-pukulan itu, akan tetapi tahu-tahu sepasang kaki Hai Kong Hosiang bergerak bagaikan dua batang cangkul ke arah pundaknya di kanan kiri dengan tenaga yang hebat sekali!

Biauw Suthai terkejut hingga mengeluarkan seruan kaget serta cepat miringkan tubuh. Ia berhasil mengelak dari serangan pada pundak kanannya, akan tetapi pundak kirinya dengan telak telah kena terpukul oleh ujung sepatu dari kaki Hai Kong Hosiang. Terdengar jerit perlahan dan tubuh Biauw Suthai terhuyung-huyung ke belakang. Tokouw bermata satu ini telah menderita pukulan maut yang hebat sekali dan kalau lain orang yang terkena pukulan ini, pasti di saat itu juga telah roboh tak bernyawa! Biauw Suthai yang telah menderita luka dalam yang hebat oleh karena totokan keras di pundak ini tidak saja membuat tulang punggungnya remuk, akan tetapi hawa pukulan juga menyerang jantungnya, masih kuat melayangkan kebutannya dengan gerakan terakhir yang hebat ke arah tubuh Hai Kong Hosiang. Akan tetapi, biarpun keadaannya berjungkir dengan kepala di atas tanah dan kedua kaki di atas, namun gerakan pendeta gundul ini tidak kalah cepatnya. Kepalanya membuat gerakan dan tubuhnya tiba-tiba rebah di atas tanah, hingga sambitan hudtim itu tidak mengenai sasaran. Hudtim itu melayang cepat dan menghantam sebuah batu besar di belakang Hai Kong Hosiang. Terdengar suara keras dan sebagian besar batu itu hancur terpukul hudtim! Dapat dibayangkan bahwa jika hudtim itu mengenai tubuh manusia maka tentu akan hancur lebur. Demikianlah hebatnya tenaga sambitan yang dilakukan dengan tenaga terakhir itu.

Setelah menyambit dengan hudtimnya, Biauw Suthai lalu roboh dan ternyata ia telah menghembuskan napas terakhir. Tubuhnya menggeletak di samping tubuh Pek I Toanio.

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak, akan tetapi setelah melakukan pembunuhan hebat ini ia merasa lebih aman untuk segera meninggalkan tempat itu, oleh karena siapa tahu kalau-kalau kawan-kawan tokouw itu berada di dekat tempat itu. Bukan karena ia takut kepada mereka, akan tetapi oleh karena dalam pertempuran dengan Biauw Suthai tadi ia telah mengerahkan banyak sekali tenaga dan telah menjadi lelah, maka kalau sekarang harus menghadapi musuh tangguh yang lain lagi, hal ini akan berbahaya. Maka ia segera angkat kaki dan meninggalkan tempat itu.

Setelah melihat bahwa hwesio jahat itu betul-betul telah pergi meninggalkan kampung mereka, para petani baru berani beramai-ramai menghampiri kedua mayat yang menggeletak di situ. Mereka merasa terharu sekali oleh karena kedua wanita itu binasa dalam tugas membela mereka sekampung. Maka kedua jenazah Biauw Suthai dan muridnya lalu diurus baik-baik, ditangisi dan dikabungi, lalu dikebumikan dengan penuh penghormatan. Bahkan petani tua yang rumahnya dirampas oleh Hai Kong Hosiang, lalu menyimpan hudtim Biauw Suthai dan pedang Pek I Toanio yang dipasangnya di dinding rumahnya sebagai perhormatan dan setiap orang kampung apabila melihat kedua senjata ini, mereka menundukkan kepala kepada dua senjata itu untuk memberi hormat. Perahu yang ditumpangi Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa bergerak maju dengan cepat meninggalkan pulau yang telah berkobar dan dimakan api. Tak lama kemudian, terdengar suara burung merak sakti dan Lin Lin menjadi girang sekali melihat merak sakti melayang turun dan berdiri di atas perahu. Akan tetapi ia merasa kuatir karena tidak melihat Nelayan Cengeng. Juga Ma Hoa semenjak tadi melihat ke arah air oleh karena maklum bahwa suhunya tentu akan menyusul dengan berenang.

“Kong-ciak-ko, di mana Kong Hwat Lojin?” Lin Lin bertanya sambil memegang leher merak sakti. Binatang itu hanya mengeluarkan suara perlahan dan memandang ke arah pulau, seakan-akan hendak mengatakan bahwa tadi mereka berpisah di pantai Pulau Kim-san-to. Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gelisah sekali, demikian pun Yousuf. Mereka bertiga lalu berdiri di pinggir perahu sambil memandang ke air. Tiba-tiba, di bawah cahaya api yang berkobar besar, mereka melihat bayangan hitam bergerak di permukaan air.

“Itu tentu Suhu!” kata Ma Hoa dengan girang sekali dan ia yakin bahwa yang begerak-gerak itu tentu suhunya yang berenang cepat laksana seekor ikan. Mendengar seruan ini, Lin Lin dan Yousuf juga ikut bergirang hati.

Tiba-tiba terdengar letusan hebat dari pulau itu dan ketiganya terhuyung dan jatuh di dalam perahu. Bukan main terkejut hati mereka dan sebelum mereka sempat melihat di mana adanya Nelayan Cengeng, tiba-tiba datang gelombang sebesar gunung yang membawa perahu mereka terlempar jauh sekali. Yousuf dengan dibantu kedua orang gadis itu, mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk mencegah perahu mereka terbalik dan dalam keadaan tak berdaya mereka terpaksa mengikuti kemana ombak besar membawa perahu mereka. Kalau perahu itu kecil, mungkin mereka masih sanggup menguasainya di antara permainan ombak, akan tetapi perahu mereka besar dan berat hingga mereka benar-benar tak berdaya.

Ombak demi ombak datang menyerbu dan membawa perahu mereka makin jauh dari tempat yang mereka tuju. Perahu itu terus terbawa menuju ke utara. Sampai satu malam penuh mereka terbawa makin jauh dan pada keesokan harinya barulah ombak menjadi lemah hingga mereka dapat mendayung perahu itu ke arah pantai. Akan tetapi mereka maklum bahwa mereka telah terdampar jauh sekali dari pantai yang hendak mereka tuju.

Ketika mereka telah mendarat dan beristirahat oleh karena lelah sekali, tiba-tiba datang barisan besar ke tempat itu. Kagetlah Yousuf ketika mendapat kenyataan bahwa barisan ini adalah tentara Turki yang sengaja datang menyusul rombongan pertama. Melihat Yousuf, pemimpin barisan itu lalu berseru,

“Tangkap pengkhianat itu!”

Banyak anggota tentara menyerbu hendak menangkap Yousuf, akan tetapi beberapa orang di antara mereka jatuh tunggang langgang karena dihantam dengan sengit oleh Lin Lin dan Ma Hoa.

Pemimpin barisan merasa kaget dan heran sekali, mengapa Yousuf dibela oleh dua orang gadis Han yang cantik jelita, maka ia lalu tertawa menghina dan memaki,

“Bagus sekali, Yousuf! Kau tidak saja pandai mengkhianati kerajaan dan menipu kami, akan tetapi juga pandai membujuk dua orang gadis Han yang cantik untuk menjadi bini muda dan pembela. Ha-ha-ha…!”

“Bangsat anjing bermulut jahat!” Lin Lin memaki sengit karena gadis ini sedikit-sedikit telah mempelajari bahasa Turki dari Yousuf maka ia dapat mengerti ucapan pemimpin itu. Dalam kemarahannya, Lin Lin mencabut pedang dan menyerang pemimpin barisan itu. Akan tetapi, puluhan tentara Turki lalu maju mengeroyok karena agaknya mereka ini suka sekali untuk menghadapi dua orang gadis cantik itu. Mereka berniat mempermainkan kedua dara jelita ini, tidak tahunya, begitu Lin Lin bergerak diikuti oleh Ma Hoa, beberapa orang serdadu terguling mandi darah.

Kini mereka baru tahu bahwa kedua orang gadis itu adalah pendekar pedang yang luar biasa, maka sambil berteriak-teriak marah, Lin Lin dan Ma Hoa dikeroyok oleh puluhan orang, sedangkan ratusan tentara berteriak-teriak di belakang mereka yang mengeroyok. Yousuf marah sekali dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah menangkap dua orang tentara yang diputar-putar di sekelilingnya dan digunakan sebagai senjata.

Tentara Turki terkejut sekali dan mereka menjadi jerih karena telah tahu bahwa Yousuf adalah seorang jagoan terkenal di negeri mereka, maka dengan amukan Yousuf ini, kepungan mengendur dan pengeroyok-pengeroyok berkelahi dengan hati-hati. Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari atas dan tahu-tahu seekor burung merak yang indah dan besar, menyambar-nyambar turun dan tiap kali sayapnya menyampok, seorang Turki terpukul roboh tanpa dapat bangun kembali. Amukan burung merak ini ternyata lebih hebat daripada amukan Yousuf.

Menghadapi empat lawan yang tangguh luar biasa ini pengeroyokan tentara Turki menjadi kacau balau dan Yousuf yang tidak saja segan untuk melawan dan mengamuk bangsa sendiri akan tetapi juga berpikir bahwa tak mungkin mereka harus menghadapi jumlah lawan yang sedikitnya ada lima ratus orang itu, lalu berseru,

“Mari kita pergi!”

Lin Lin dan Ma Hoa mengerti pula bahwa jumlah musuh terlalu banyak, maka tanpa membantah, mereka lalu ikut melompat pergi, melalui kepala pengeroyok dan menggulingkan tiap penghalang. Juga Sin-kong-ciak memekik nyaring dan mengikuti ketiga orang itu. Sebenarnya burung merak ini merasa kecewa karena baru enak-enak membabat lawan-lawannya yang empuk itu, kini diperintahkan untuk pergi.

Ilmu berlari cepat dari ketiga orang itu cukup tinggi untuk memungkinkan mereka lari segera meninggalkan mereka yang mengejar sambil berteriak-teriak, dan tak lama kemudian mereka bertiga tak mendengar lagi suara teriakan barisan Turki yang mengejar itu. Merak sakti tetap terbang di atas mereka dan ketika Yousuf berhenti, merak itu pun melayang turun dan membelai-belai tangan Lin Lin dengan leher dan kepalanya.

“Lin Lin dan Ma Hoa,” kata Yousuf yang kini juga menyebut nama Ma Hoa biasa saja oleh karena orang tua ini sudah menganggap dia sebagai keluarga sendiri. “Kalian tahu bahwa aku dikejar-kejar dan dimusuhi, oleh karena dianggap menipu dan mengkhianati mereka.” Ia menghela napas panjang. “Maka, demi keselamatan kalian berdua, kalian kembalilah ke pedalaman Tiongkok untuk mencari kawan-kawanmu, dan untuk mencari Nelayan Cengeng. Biarkan aku melarikan diri dan bersembunyi di gunung sebelah utara itu. Kalau kalian bersama dengan aku maka kalian hanya akan menghadapi bahaya saja.”

“Ayah, jangan kau berkata begitu,” bantah Lin Lin. “Bagiku, kau adalah ayahku sendiri, dan ke mana kau pergi, aku sudah sewajarnya ikut.”

“Yo-peh-peh,” kata Ma Hoa yang kini menyebut peh-peh atau uwa kepada Yousuf, “benar seperti yang dikatakan Lin Lin. Semenjak berlayar kita telah bersama-sama dan aku pun menganggap kau sebagai orang tua sendiri, maka mengapakah sedikit bahaya saja membuat kita harus berpisah? Marilah Peh-peh bersama aku dan Adik Lin Lin kembali ke selatan dan mencari Suhu dan kawan-kawan lain. Adapun tentang segala bahaya yang menyerang dirimu, akan kita hadapi bertiga, bahkan berempat dengan Sin-kong-ciak.”

Yousuf merasa terharu sekali. Ia menggunakan kedua tangannya untuk memegang tangan Lin Lin dan Ma Hoa. “Kalian memang anak-anak baik dan berhati mulia. Aku semenjak dulu hidup sebatang kara, setelah bertemu dengan kalian, seakan-akan mendapat kurnia besar sekali. Takkan ada di dunia ini perkara yang lebih kusukai daripada hidup di dekat kalian dan sahabat-sahabat baik seperti Kong Hwat Lojin, akan tetapi kalian anak-anak muda harus tahu bahwa aku adalah seorang Turki. Mungkinkah aku harus melawan dan membunuh tentara bangsaku sendiri? Ah, tak mungkin. Lebih baik untuk sementara waktu aku bersembunyi di tempat sunyi dan kelak apabila tentara Turki sudah kembali ke negeriku dan keadaan sudah aman kembali, barulah aku menyusul ke selatan dan mencari kalian.”

Namun Lin Lin merasa tidak tega untuk meninggalkan Yousuf dalam keadaan dikejar-kejar itu. Bagaimana kalau ia diketemukan dan akhirnya sampai mati?

“Tidak, Ayah. Biarlah aku ikut kau bersembunyi untuk sementara waktu, dan apabila keadaan telah aman kembali, kita bersama menuju ke selatan mencari kawan-kawan.”

Ma Hoa yang berpikir bahwa keadaan itu takkan berlangsung lama, karena setelah ternyata bahwa Pulau Kim-san-to terbakar habis, tentu tentara Turki itu tidak mau lama-lama tinggal di tempat yang bukan menjadi daerah mereka ini, maka ia segera berkata,

“Memang demikian sebaiknya, Yo-peh-peh. Lin Lin dan aku akan ikut kau bersembunyi untuk beberapa pekan, atau beberapa bulan kalau memang keadaan menghendaki.”

Yousuf merasa girang sekali dan wajahnya yang agak kecoklat-coklatan itu berseri bergembira. “Bagus, anak-anakku, kalian benar-benar membuat aku merasa berbahagia sekali. Jangan kalian kuatir, di lereng bukit dekat tapal batas Tiongkok, aku dulu telah meninggalkan sebuah rumah yang mungil dan indah. Marilah kita pergi ke sana dan untuk sementara waktu kita tinggal di tempat itu, di mana pemandangan indah dan hawanya sejuk. Tentang biaya, jangan kuatir!” Sambil berkata demikian, Yousuf mengeluarkan sekantung emas yang disimpan di dalam saku dalam bajunya.

Demikianlah, ketiganya, berempat dengan Merak Sakti, lalu cepat menuju ke bukit yang dimaksudkan oleh Yousuf. Benar saja sebagaimana kata Yousuf, keadaan di situ menyenangkan sekali. Tamasya alam indah mengagumkan, hawa pegunungan segar dan menyehatkan. Orang-orang yang tinggal di sekitar bukit itu adalah orang-orang petani yang ramah tamah dan hidup sederhana. Rumah Yousuf masih ada dan bagus, hanya agak kotor karena tidak terawat. Ketiganya lalu bekerja keras membereskan rumah itu. Lin Lin dan Ma Hoa lalu mengatur taman di sekitar rumah, oleh karena di bukit itu terdapat banyak kembang-kembang yang indah. Beberapa hari kemudian, para petani yang lewat di depan rumah itu, tidak habisnya mengagumi keindahan tempat itu dan mereka merasa seakan-akan tempat ini berubah semenjak rombongan ini tiba. Memang, siapa yang tidak kagum? Rumah itu kecil tapi indah bentuknya, dikelilingi oleh kembang-kembang tanaman kedua gadis itu, dan rumah ini ditinggali oleh seorang bangsa Turki yang bersikap halus dan ramah tamah, bersama dua orang gadis yang cantik jelita bagaikan dua orang bidadari dari kahyangan, ditambah lagi dengan adanya seekor merak yang berbulu bagus sekali!

Yousuf dengan hati sungguh-sungguh lalu melatih ilmu silat kepada Lin Lin dan Ma Hoa dan oleh karena ilmu silat Turki jauh berbeda dalam gaya dan variasi jika dibandingkan dengan ilmu silat Tiongkok walaupun pada dasarnya tak berbeda jauh, maka Lin Lin dan Ma Hoa merasa suka sekali mempelajari ilmu silat ini. Tingkat kepandaian Yousuf memang lebih tinggi dari tingkat mereka dan berkat latihan-latihan ini, kepandaian kedua orang gadis ini maju pesat. Oleh karena tiap hari belajar ilmu silat, ketiga orang itu tidak merasa sunyi dan bahkan merasa betah dan senang tinggal di tempat itu. Hanya, kadang-kadang saja, Lin Lin dan Ma Hoa terkenang kepada pujaan hati masing-masing yang membuat mereka termenung, akan tetap pikiran ini segera terhibur apabila mereka mengingat bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali.

Sementara itu, Merak Sakti yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, tiap hari hanya berjalan-jalan di dalam taman atau kadang-kadang terbang tinggi sekali berputar-putar hingga mengagumkan orang-orang yang melihatnya. Merak ini agaknya pun senang sekali tinggal di situ dan bulunya makin indah mengkilap.

Pada suatu pagi yang cerah, di kala matahari dengan sinarnya yang nakal mengusiri awan dan halimun pagi dari udara dan muka bumi dan burung-burung menyambut kedatangan Raja Siang itu dengan nyanyian dan pujian yang merdu dan sedap didengar, Lin Lin dan Ma Hoa telah berada di taman bunga mereka dan mencabuti rumput-rumput liar yang hendak mengganggu keindahan bunga. Mereka bekerja sambil bersendau gurau karena memang hawa pagi itu membuat dan memaksa orang untuk bergembira.

“Lin Lin,” kata Ma Hoa sambil tersenyum manis. “Alangkah senangnya hatimu kalau pada saat yang indah ini Saudara Cin Hai berada di sini!”

Menghadapi serangan godaan ini, Lin Lin yang pandai bicara dan lincah itu juga tersenyum dan memandang tajam lalu mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab, “Memang betul, tentu saja hatimu akan senang sekali, akan tetapi kau bersabariah, kawan! Tak lama lagi tentu kau akan dapat bertemu kembali dengan dia itu!”

Ma Hoa melengak dan tidak mengerti. “Ih, eh, apa maksudmu? Siapa yang kaumaksudkan dengan dia itu?”

Lin Lin berpura-pura memandang heran. “Siapa lagi, bukankah kau tadi maksudkan Engko Kwee An?”

“Eh, anak bengal! Apakah telingamu sudah menjadi tuli? Kau dengar aku bilang apakah tadi?”

Lin Lin memandang kepada Ma Hoa dengan wajah berseri. “Enci Hoa, bukankah kau tadi berkata begini. Alangkah senang hatiku kalau pada saat yang indah ini Kanda Kwee An berada di sini?”

Ma Hoa memandang gemas dan mengulurkan tangan hendak mencubit Lin Lin, akan tetapi gadis itu segera mengelak.

“Lin Lin, jangan kau bicara tak karuan! Aku tak pernah mengeluarkan ucapan itu dari mulutku.”

“Tapi siapakah yang mendengar ucapan mulutmu? Aku tadi mendengar suara yang keluar dari hatimu hingga aku tidak mendengar jelas suara yang keluar dari mulutmu! Bukankah hatimu tadi berkata seperti yang kuulangi tadi?”

Ma Hoa mengerling tajam dengan bibir menyatakan kegemasan hatinya. Memang biarpun mulutnya menyatakan dan menyebut-nyebutnya, nama Cin Hai, namun, tepat sebagaimana godaan Lin Lin, hatinya memaksudkan Kwee An! Maka karena malu dan gemas, Ma Hoa lalu mengejar Lin Lin hendak dicubitnya, akan tetapi Lin Lin berlari mengitari bunga-bunga sambil tertawa-tawa dan berkata,

“Awas, Enci Hoa, kalau engkau mencubit aku, nanti aku akan minta Engko An untuk membalasnya.”

Ma Hoa makin gemas dan sambil tertawa, mereka berkejaran di dalam taman bunga itu, bagaikan dua ekor kupu-kupu yang cantik dan indah.

Tiba-tiba keduanya berhenti tertawa, bahkan lalu berdiri diam sambil memasang telinga dengan penuh perhatian. Di antara kicau burung yang bermacam-macam itu, terdengar Merak Sakti yang memekik-mekik aneh sekali karena mereka belum pernah mendengar suara merak itu memekik seperti ini hingga mereka tidak tahu apakah merak itu sedang marah atau sedang bergirang. Biasanya kedua orang gadis ini telah hafal akan tanda-tanda yang dikeluarkan oleh suara Merak Sakti, akan tetapi kali ini mereka saling pandang dengan heran dan terkejut. Kemudian, serentak mereka lalu melompat dan berlari cepat ke arah suara tadi.

Ketika mereka tiba di sebuah lereng yang penuh rumput hijau, mereka menyaksikan pemandangan yang membuat mereka tertegun dan berhenti dengan tiba-tiba. Di atas rumput yang tebal itu, Sin-kong-ciak mendekam seperti berlutut dan mengangangguk-anggukkan kepalanya ke bawah sambil mengeluarkan pekik yang aneh itu, sedangkan seorang kakek yang tua sekali dan yang memakai pakaian penuh tambalan dan butut, sedang membelai-belai leher dan kepala merak itu. Yang membuat Lin Lin dan Ma Hoa terheran sekali adalah sikap merak itu. Kedua orang gadis ini cukup kenal adat Merak Sakti yang angkuh dan tidak mau tunduk kepada siapapun juga, maka melihat betapa merak itu kini berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala, mereka menjadi heran sekali.

Tiba-tiba kakek itu lalu memegang kedua kaki Merak Sakti, melemparkannya ke atas sambil tertawa-tawa, dan ketika merak yang menurut saja dan membiarkan dirinya dilemparkan tanpa mengembangkan sayap untuk terbang itu jatuh kembali, lalu diterima oleh tangan kiri pada dua kakinya, dilempar lagi ke atas berulang-ulang. Permainan ini dilakukan oleh kakek itu sambil tertawa-tawa girang, sedangkan Merak Sakti juga mengeluarkan suara yang dikenal oleh orang gadis itu sebagai pernyataan hatinya yang senang dan gembira.

Biarpun mendengar suara gembira dari merak itu namun Lin Lin menjadi marah sekali dan menyangka bahwa kakek ini tentu menggunakan kepandaiannya yang membuat Merak Sakti tak berdaya kemudian mempermainkan burung itu. Gadis ini melompat maju dan membentak,

“Kakek jahat, lepaskan burung merakku!”

Akan tetapi, jangankan mentaati perintah Lin Lin bahkan kakek itu menengokpun tidak, terus melempar-lemparkan tubuh burung itu ke atas sambil tertawa dan kemudian bertanya kepada Merak Sakti,

“Kong-ciak, apakah kau sudah puas?”

Lin Lin marah sekali lalu maju menyerang dan memukul dengan tangan kanan ke arah dada kakek itu untuk mendorongnya roboh. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia merasa betapa kepalan tangannya seakan-akan memukul kapas hingga tenaga pukulannya menjadi lenyap sendiri, sedangkan kakek tua itu sama sekali tidak memandangnya seakan-akan Lin Lin tidak ada di situ.

Ma Hoa yang melihat Lin Lin mulai menyerang kakek itu, lalu membantu dan kedua orang gadis ini lalu menyerang berbareng kepada si kakek tua itu. Sementara itu, Merak Sakti yang agaknya telah merasa puas dengan permainannya lalu mengembangkan sayapnya dan terbang ke atas cabang pohon, bertengger di situ sambil menonton pertempuran.

Sebetulnya ucapan ini saja sudah cukup bagi kedua gadis itu untuk menyadari bahwa kakek tua ini tidak bermaksud jahat akan tetapi karena Lin Lin dan Ma Hoa merasa marah dan penasaran maka mereka lalu maju berbareng dan menyerang dengan hebat. Akan tetapi, biarpun kakek tua itu agaknya tidak berpindah dari tempatnya, namun pukulan kedua orang dara muda itu satu kalipun tak pernah berhasil mengenai tubuhnya. Lin Lin merasa penasaran sekali, demikianpun Ma Hoa karena mengira bahwa kakek ini tentu mempergunakan ilmu sihir. Makin besar dugaan mereka ketika mereka merasa telah hampir mengenai tubuh orang tua itu, tiba-tiba saja tangan mereka melesat ke samping seakan-akan didorong oleh tangan kuat yang tidak kelihatan.

Mereka ini keduanya sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan tokoh persilatan tertinggi yang bukan lain orang adalah Bu Pun Su sendiri. Sebenarnya, Bu Pun Su tidak mempergunakan ilmu sihir, hanya mengerahkan tenaga khikangnya yang telah sempurna itu hingga hawa yang keluar dari kedua tangannya cukup kuat untuk menangkis tiap pukulan Lin Lin dan Ma Hoa.

Pada saat kedua orang gadis itu menjadi sibuk dan makin terheran dan marah tiba-tiba terdengar bentakan orang,

“Kakek tua! Jangan kau mengganggu kedua anakku!”

Ternyata yang datang ini adalah Yousuf sendiri. Lin Lin dan Ma Hoa merasa girang sekali dan Lin Lin segera berteriak,

“Ayah, kauusir kakek yang pandai sihir ini!”

Juga Ma Hoa berkata, “Dia telah menyihir dan mempermainkan Sin-kong-ciak!”

Yousuf menjadi marah sekali, lalu membentak kedua gadis itu, “Kalian minggirlah, biarkan aku menghadapinya! Kemudian ia meloncat ke depan Bu Pun Su dan membentak,

“Kakek tua! Memalukan sekali untuk mengganggu seekor burung merak dan dua orang anak masih bodoh. Marilah kita tua lawan tua!”

Tiba-tiba Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh hingga ia cepat-cepat mempergunakan tenaga dalamnya untuk menolak tenaga yang keluar dari suara ketawa ini.

“Hi-hi-hi, kau orang Turki ini sungguh-sungguh berbeda dengan yang lain! Kau benar-benar lain daripada yang lain. Bagus, bagus! Kau lucu sekali! Usiamu paling banyak hanya setengah umurku, tapi kau bilang tua lawan tua! Eh, kakek-kakek tua bangka, mari kita main-main sebentar,”

Ucapan Bu Pun Su ini mendapat sambutan suara Merak Sakti yang mengeluarkan suara terkekeh-kekeh pula, suara yang dikenal oleh Lin Lin dan Ma Hoa apabila merak itu merasa gembira. Sungguh aneh. Lin Lin masih menyangka bahwa merak itu masih terkena sihir, maka ia segera menghampiri di bawah pohon di mana merak itu bertengger dan memanggil,

“Kong-ciak-ko, kauturunlah ke sini!”

Akan tetapi Merak Sakti itu sama sekali tidak mau turun. Hal ini makin mempertebal dugaan Lin Lin dan Ma Hoa bahwa kakek luar biasa itu tentu telah menyihir Merak Sakti, karena biasanya merak itu sangat taat terhadap perintah Lin Lin.

“Ha, ha, ha! Nona, jangan kau heran, kong-ciak itu bukannya bersifat palsu dan karena mendapat kawan baru lalu melupakan kawan lama. Akan tetapi adalah bertemu majikan lama melupakan majikan baru.”

“Kakek tua, majulah dan hendak kulihat sampai di mana kesaktianmu!” teriak Yousuf melihat betapa kakek itu memandang ringan kepada mereka semua. Sambil berkata demikian, Yousuf lalu menyerang dengan kedua tangannya dengan ilmu silat Turki yang paling lihai. Kedua tangannya ini yang kanan memukul, yang kiri mencengkeram ke arah lambung lawan, dan kaki kirinya juga menendang ke depan dengan cepat.

“Ha, ha, ha! Bagus, aku mendapat kesempatan menyaksikan ilmu silat Turki yang lihai!” kata kakek itu yang masih tertawa haha-hihi sambil mengelak perlahan. Aneh sekali, agaknya kakek itu telah tahu bahwa di antara ketiga serangan ini, yang sungguh-sungguh adalah serangan kaki, oleh karena kedua tangan yang menyerang hanya untuk menarik dan mengalihkan perhatian lawan saja. Bu Pun Su sama sekali tidak mengelak dari serangan kedua tangan, hanya mengelak dari tendangan kaki Yousuf. Tendangan ini ketika tidak mengenai sasaran, tidak ditarik mundur sebagaimana biasa tendangan dalam ilmu silat Tiongkok, akan tetapi diteruskan dan dibanting ke pinggir terus memutar ke belakang hingga tubuh Yousuf terputar di atas sebelah kaki dan sekali putaran ia lalu mengayun lagi kaki itu menendang, dibarengi dengan serangan kedua tangan lagi! Ini adalah gerak tipu yang luar biasa dan tak terduga dan biasanya dengan gerakan ini, Yousuf dapat menjatuhkan lawannya. Akan tetapi, kali ini benar-benar kecele, karena Bu Pun Su agaknya sudah tahu akan maksud dan gerakannya hingga dapat mengelak di waktu yang tepat. Bahkan ketika kakek jembel ini membalas menyerangnya, Yousuf melengak karena Bu Pun Su menggunakan serangan yang persis seperti yang dilakukannya tadi. Bahkan gerakan kakek jembel ini lebih cepat dan lebih hebat daripada gerakannnya sendiri. Yousuf penasaran sekali lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya, akan tetapi, makin lama ia makin heran hingga ia bertempur dengan mata terbelalak dan mulut menyelangap oleh karena makin banyak ia mengeluarkan kepandaiannya, makin banyak pula gerakan-gerakannya ditiru dengan tepat oleh Bu Pun Su!

Juga Lin Lin dan Ma Hoa ketika melihat betapa kakek itu melawan Yousuf dengan ilmu silat Turki yang sama, tak terasa pula saling pandang dengan terheran-heran.

“Ayah, ia tentu menggunakan ilmu sihir!” Lin Lin memberi peringatan kepada ayah angkatnya. Yousuf teringat dan timbul persangkaan demikian pula, maka tiba-tiba orang Turki ini mengheningkan cipta, mengumpulkan tenaga di dalam pusar dan setelah mengerahkan seluruh tenaga batinnya ke mulut, ia membentak sambil menunjuk ke arah dada kakek jembel itu dan kedua matanya yang amat tajam dan hitam itu menatap mata kakek itu,

“Kau berlututlah!”

Ini adalah semacam ilmu sihir yang didasarkan tenaga batin untuk mempengaruhi semangat dan kemauan lawan yang disebut Ilmu Penakluk Semangat. Bahkan Lin Lin dan Ma Hoa yang tidak diserang langsung oleh ilmu ini, akan tetapi karena mereka memperhatikan dan mendengar bentakan yang memerintah dan berpengaruh itu, tak terasa pula mendapat desakan hebat dan tiba-tiba tanpa disadarinya lagi mereka lalu menjatuhkan diri berlutut!

Akan tetapi setelah mengeluarkan bentakan bukan kakek jembel itu yang berlutut, bahkan Yousuf sendiri yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel!

“Ha, ha, ha! Aku tua bangka jembel tak layak menerima penghormatan ini!” kata Bu Pun Su sambil tertawa bergelak dan suara ketawanya ini agaknya membuyarkan ilmu sihir Yousuf hingga ketiga orang itu sadar bahwa mereka sedang berlutut di depan Si Kakek jembel!

Yousuf terkejut sekali oleh karena yang dapat melawan ilmunya ini adalah gurunya sendiri, seorang pertapa tua yang sakti di Turki dan ia ingat gurunya pernah menerangkan bahwa apabila Ilmu Penakluk Semangat ini digunakan untuk menyerang orang yang mempunyai ilmu batin lebih tinggi dan kuat, maka akibatnya dapat terbalik karena tenaga itu terpental dan memukul dirinya sendiri! Yousuf lalu melompat bangun dengan muka merah, sedangkan kedua orang gadis itu pun dengan malu lalu mencabut pedang mereka. Yousuf juga mencabut pedangnya dan ketiga orang ini lalu menyerbu dan menyerang Bu Pun Su!

Tiba-tiba terdengar pekik marah dari atas dan Merak Sakti lalu sambil mengibaskan sayapnya menangkis pedang ketiga orang itu! Karena Merak Sakti itu pun memiliki tenaga besar, maka ia berhasil menangkis senjata Yousuf dan Lin Lin, bahkan pedang di tangan Lin Lin terpental jauh sekali! Akan tetapi, ternyata bahwa Merak Sakti itu tidak berniat jahat dan hanya ingin mencegah ketiga orang itu menyerang Bu Pun Su dengan senjata tajam dan setelah menangkis satu kali, merak itu lalu terbang lagi ke cabang tadi!

“Ha, ha, ha, bagus, Kong-ciak! Tak percuma aku memeliharamu semenjak kecil!” kata kakek jembel itu sambil tertawa girang.

Yousuf dan Ma Hoa tercengang mendengar ini akan tetapi Lin Lin yang merasa marah sekali karena pedangnya dibikin terpental oleh Merak Sakti, lalu tak terasa lagi mencabut keluar pedang karatan yang dulu ia ambil dari gua di pulau Kim-san-to. Dengan pedang buntung yang bobrok ini ia maju lagi menyerang.

Tiba-tiba wajah Bu Pun Su berubah ketika ia melihat pedang itu dan cepat sekali tangannya bergerak ke depan. Lin Lin tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak karena tahu-tahu pedangnya telah pindah tangan.

“Han Le… betul-betulkah kau telah mendahului aku?” kata Bu Pun Su sambil memandang pedang itu dengan muka berduka dan kepalanya yang putih tiada hentinya menggeleng-geleng. “Han Le Sute… mengapa kau mendahului Suhengmu? Ah, aku Bu Pun Su benar-benar telah tua sekali dan sudah cukup lama hidup di dunia ini…” setelah berkata demikian, ia menghela napas panjang.

Bukan main terkejutnya Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf, mendengar bahwa kakek luar biasa ini adalah Bu Pun Su, guru dari Cin Hai. Yousuf pernah diceritakan oleh Lin Lin tentang kehebatan kepandaian Cin Hai, dan menceritakan pula bahwa suhu pemuda itu bernama Bu Pan Su, tokoh yang telah terkenal namanya di seluruh penjuru.

Lin I Lin dan Ma Hoa lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su, sedangkan Yousuf segera membungkuk dalam-dalam hingga jidatnya hampir menyentuh tanah, satu cara penghormatan yang paling besar dari bangsa Turki. “Locianpwe, mohon beribu ampun bahwa teecu telah berani berlaku kurang ajar,” kata Lin Lin dengan hormat.

Bu Pun Su menghela napas. “Sudahlah, aku orang tua tak tahu diri yang harus minta maaf. Ketahuilah, kadang-kadang aku mempunyai keinginan untuk menjadi anak-anak kembali dan ingin mempermainkan orang. Agaknya aku telah pikun dan telah terlalu tua…” Kemudian ia berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Aku tahu siapa kalian ini. Kau tentu Lin Lin tunangan muridku Cin Hai. Syukur bahwa kau terlepas dari cengkeraman Boan Sip si jahat itu. Dan kau ini tentu Ma Hoa murid Nelayan Cengeng. Hm, kepandaianmu yang kaukeluarkan tadi jelas menunjukkan bahwa kau adalah murid Si Cengeng itu. Dan kau, Sahabat, kau tentulah Yo Su Pu yang terkenal.” Memang, nama Yousuf kalau diucapkan oleh lidah orang Han akan berubah, ada yang menyebut Yo Suhu, Yo Se Fei, Yo Su Pu dan lain-lain.

Yousuf kembali menjura, “Saya yang bodoh dan rendah mendapat kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan Lo-suhu yang sakti?”

Bu Pun Su lalu berkata lagi, “Apakah artinya kesaktian dan kepandaian? Hanya sepintas lalu saja. Siapa mau belajar dia tentu akan menjadi pandai. Tidak dengan sengaja aku bertemu dengan Kong-ciak di tempat ini, maka aku merasa ingin tahu siapa yang membawa Kong-ciak ke sini? Dan melihat pedang ini di tangan Lin Lin, tahulah aku bahwa kalian tentu telah mengunjungi pulau itu. Dan pedang yang menceritakan padaku bahwa Suteku yang tinggal di pulau itu telah meninggal dunia, karena ini adalah pedangnya! Coba kaututurkan pengalamanmu mendapatkan pedang dan burung merak ini,” perintahnya kepada Lin Lin.

Sementara itu, Merak Sakti telah terbang turun dan dan hinggap di atas pundak Bu Pun Su.

Lin Lin dengan singkat menuturkan pengalaman mereka di Pulau Kim-san-to dan ketika ia menceritakan betapa pulau itu terbakar musnah, Bu Pun Su mengangguk-angguk. “Ya, ya, ya. Aku kemarin telah melihat dari pantai bahwa pulau itu telah lenyap dari permukaan laut. Dan harimau bertanduk serta rajawali emas tentu telah tewas pula.” Kakek ini menghela napas dan ketika mendengar disebutnya kedua binatang itu, Si Merak Sakti lalu mengeluarkan keluhan panjang dan dua butir air mata runtuh dari sepasang matanya yang indah. Kemudian merak ini terbang ke atas dan berputar di udara.

“Hm, kong-ciak itu memang perasa sekali. Tentu ia bersedih mendengar nasib kedua kawannya. Ketahuilah, merak itu dan dua binatang lain di atas pulau yang musnah adalah binatang-binatang peliharaanku. Terutama merak ini semenjak kecil telah ikut aku di pulau itu. Setelah aku meninggalkan pulau, maka suteku yang bernasib malang itu tinggal di pulau dan bertapa di sana. Tidak tahunya sekarang ia telah menjadi rangka dan pedangnya pun telah tinggal sepotong. Hm, demikianlah nasib manusia. Kepandaiannya yang luar biasa pun turut lenyap tak berbekas. Manusia… manusia… kau calon rangka dan debu ini, masih mau mengagulkan apamukah…?”

Kata-kata ini diucapkan oleh kakek itu sambil memandang ke atas dan Yousuf merasa terkena sekali hatinya hingga ia menundukkan muka dengan penuh khidmat.

“Lin Lin,” kata Bu Pun Su, “Kau memang berjodoh dengan pedang ini maka Suteku sengaja memilih kau untuk memilikinya. Ketahuilah, pedang ini bukan pedang sembarangan dan yang tinggal sepotong ini adalah sari pedang itu. Tadi kulihat ketika kau memegang pedang pendek ini, agaknya kau lebih pandai mempergunakan pedang pendek, maka biarlah pedang potong ini kubuat menjadi pedang pendek untukmu.”

Lin Lin merasa girang sekali dan ia lalu menghaturkan terima kasih pada Bu Pun Su. Kakek tua itu lalu tinggal di atas bukit itu selama tiga pekan untuk menggembleng dan membuat pedang pendek dari sisa pedang berkarat itu. Kemudian ia berikan pedang yang menjadi sebatang belati panjang kepada Lin Lin sambil berkata,

“Terimalah pedang pendek ini yang kuberi nama Han-le-kiam untuk memperingati nama Suteku Han Le. Dan untuk memperlengkapi kehendak Suteku, yang memberi pedang ini kepadamu, kau berhak menerima pelajaran ilmu silat dari persilatan kami.”

Bukan main girangnya hati Lin Lin yang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek sakti itu.

“Akan tetapi bukan aku si tua bangka yang hendak menurunkan kepandaian ini kepadamu. Aku telah satu kali menerima murid dan itu sudah lebih dari cukup. Cin Hai atau calon suamimu itulah yang akan bertugas menurunkan kepandaian kepadamu. Jangan menganggap aku main-main, akan tetapi tanpa perkenanku, nanti dia tidak berani menurunkan ilmu kepandaian yang dipelajarinya dariku, biar kepada isterinya sekalipun.”

Lin Lin segera bertanya dengan berani, “Akan tetapi, Locianpwe, teecu masih belum tahu di mana adanya… dia!” Ma Hoa dan Yousuf diam-diam tersenyum dan Bu Pun Su tertawa bergelak,

“Seperti juga tidak ada persatuan yang tidak berakhir, demikian pun tidak ada perceraian yang kekal. Kelak tentu tiba saatnya kau bertemu kembali dengan Cin Hai dan Ma Hoa dengan Kwee An. Dan kalau kau sudah bertemu calon suamimu itu, sampaikanlah pesanku supaya kau diberi pelajaran pokok yang telah kuajarkan kepadanya, kemudian memberi pelajaran ilmu pedang yang baru diciptakannya kepadamu.”

Kemudian sambil memandang kepada Yousuf, Bu Pun Su berkata pula,

“Kau tidak salah memilih Saudara Yo Su Pu ini sebagai ayah angkatmu karena memang dia ini orang baik dan berhati mulia. Saudara Yo, akan lebih baik lagi kalau mimpi buruk yang mengganggu hatimu itu dapat dilenyapkan sama sekali.”

Yousuf terkejut sekali, oleh karena mendengar ucapan ini ia dapat mengetahui bahwa kakek sakti ini ternyata telah dapat membaca isi hatinya yang bercita-cita menjadi kaisar di negerinya. Ia lalu tersenyum dan menjura sambil berkata,

“Lo-suhu, terima kasih atas nasihatmu ini. Memang, semenjak bertemu dengan anakku ini, cita-cita gila itu telah kubuang jauh-jauh.”

“Bagus sekali, itu hanya menambah tebal keyakinanku bahwa kau memang memiliki kebijaksanaan besar yang jarang dimiliki oleh sembarangan orang.” Kemudian Bu Pun Su pergi dari tempat itu setelah membelai leher dan kepala Merak Sakti yang nampak sedih ditinggalkan oleh majikan lamanya ini.

Oleh karena menyangka kalau-kalau Lin Lin dan Ma Hoa telah mendahului pulang ke kampung Lin Lin, maka Kwee An dan Cin Hai lalu menuju ke selatan untuk kembali ke daerah Tiang-an.

Ketika mereka langsung menuju ke rumah Kwee An, ternyata bahwa rumah itu masih tertutup dan ketika mereka bertanya kepada orang di kampung itu yang menyambut kedatangan Kwee An dengan girang, mereka mendapat keterangan bahwa Lin Lin belum pernah kembali ke situ, dan bahwa Kwee Tiong masih tetap tinggal di kelenteng Ban-hok-tong di Tiang-an, dan bahwa Kwee Tiong kini bahkan telah mencukur rambutnya dan masuk menjadi hwesio!

Hal ini mengejutkan hati Kwee An, maka ia lalu mengajak Cin Hai mengunjungi kakaknya itu di Kelenteng Ban-hok-tong di kota Tiang-an. Ketika mereka tiba di kelenteng Ban-hok-tong yang mengingatkan Cin Hai akan pengalamannya ketika masih kecil dan belajar ilmu kesusastraan dari Kwi-sianseng guru sasterawan yang kurus kering itu, mereka disambut oleh seorang hwesio tua yang bertubuh tegap dan sikapnya masih gagah. Hwesio ini adalah Tong Kak Hosiang, hwesio perantau yang mengajar silat pada putera-putera Kwee Ciangkun, seorang pendeta yang selain memiliki ilmu silat cukup tinggi dari cabang Kun-lun-pai, juga mempunyai pengertian yang dalam tentang Agama Buddha serta menjalankan ibadat dengan sungguh-sungguh.

Ketika Tong Kak Hosiang mendengar pengakuan Kwee An bahwa pemuda ini adalah putera termuda dari Kwee In Liang, ia menyambut dengan girang sekali.

“Ah, kiranya Kwee-kongcu! Silakan masuk!” Hwesio ini memandang kepada Kwee An dengan mata kagum oleh karena Kwee Tiong seringkali menceritakan tentang kegagahan dan ketinggian ilmu silat adiknya ini.

“Lo-suhu, teecu mohon bertemu dengan kakakku Kwee Tiong.”

Tong Kak Hosiang tersenyum, “Baik, baik, tentu saja, Kwee-kongcu,” Tiong Yu memang sudah lama merindukan kau. O ya, hampir lupa pinceng memberitahukan bahwa kakakmu kini bernama Tiong Yu Hwesio.”

Ketika hwesio tua itu mengantar mereka masuk ke ruang dalam, mereka mendengar suara Kwee Tiong yang lantang membaca liamkeng (kitab suci yang dibaca sambil berdoa) dan suara kayu dipukul-pukulkan untuk mengikuti irama doa dan untuk menghalau segala gangguan yang memasuki pikiran di waktu membaca liamkeng.

“Tiong-ko!” Kwee An memanggil dengan suara di kerongkongan.

Suara liamkeng berhenti dan Kwee Tiong berpaling. Alangkah bedanya wajah pemuda ini dibandingkan dengan dulu dan hal ini pun dilihat jelas oleh Cin Hai. Pada wajah yang cakap itu kini terbayang kesabaran dan ketenangan yang besar hingga diam-diam Cin Hai merasa kagum sekali dan juga girang melihat perubahan besar.

Ketika melihat Kwee An, Kwee Tiong lalu bangkit berdiri dengan tenang dan keduanya lalu berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Agaknya dalam pelukan mesra ini keduanya telah mencurahkan keharuan hati masing-masing. Ketika Kwee Tiong melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Kwee An sambil memandang wajah adiknya, ia melihat dua butir air mata membasahi mata Kwee An. Kwee Tiong lalu tersenyum membesarkan hati adiknya sambil mengguncang-guncangkan pundak adiknya dan berkata lantang,

“An-te, kau kelihatan makin gagah dan tampan saja!” Sambil berkata demikian, Kwee Tiong cepat menggunakan ujung lengan bajunya menghapus dua tetes air mata yang telah menetes di atas pipi adiknya.

“Tiong-ko, kau…”

Akan tetapi Kwee Tiong tidak memberi kesempatan kepada adiknya untuk melanjutkan kata-katanya dan untuk melampiaskan keharuan hatinya, maka ia lalu menarik tangan adiknya itu ke ruang tamu dengah muka girang, sedangkan gerakan kakinya masih menunjukkan kegagahan dan kejantanannya seperti yang dulu.

Cin Hai yang menunggu di ruang tamu ketika melihat Kwee Tiong, lalu menjura dengan hormat.

“Eh, eh, Pendekar Bodoh ikut datang pula! Kau memang hebat sekali, Cin Hai adikku. Tiada habisnya aku mengagumi kau.” Ucapan ini keluar dari hatinya yang tulus hingga Cin Hai merasa girang dan terharu, maka ia lalu angkat kedua tangan memberi hormat lagi.

“Tiong Yu Hwesio saudaraku yang baik. Kebijaksanaanmu yang telah mengambil jalan suci ini membuat aku yang bodoh dan kasar menjadi malu saja.”

Kwee Tiong menghampiri Cin Hai dan menepuk-nepuk pundaknya. “Aah, jangan begitu, Cin Hai! Aku masih Kwee Tiong bagimu, seperti dulu. Hanya saja bedanya, kini telah terbuka kedua mataku dan aku benar-benar girang bertemu dengan kau. O ya, di mana Lin Lin adikku yang manis?” Matanya mencari-cari dan mengharapkan munculnya Lin Lin di situ.

Setelah duduk menghadapi meja, Kwee An lalu menceritakan pengalamannya dan bahwa kini mereka berdua sedang mencari Lin Lin. Ketika mendengar tentang pembalasan sakit hati yang hampir selesai dan tinggal Hai Kong seorang itu, pada wajah Kwee Tiong tidak nampak kegirangan sebagaimana yang diduga semula, bahkan pemuda yang menjadi hwesio itu menghela napas dan merangkapkan kedua tangan, lalu berkata,

“Aah, inilah yang membuat aku mengambil keputusan untuk menjadi seorang yang beribadat. Tadinya aku selalu merasa takut kepada musuh, sedih karena kehilangan orang tua dan saudara-saudara, penasaran karena ingin membalas dendam. Tapi apakah artinya semua perasaan yang hanya mengganggu batin itu? Setelah aku mendapat petunjuk dari Tong Kak Suhu dan masuk menjadi hwesio, baru terbukalah mataku. Aku sekarang merasa berbahagia dan tidak menakuti sesuatu oleh karena di dalam hatiku memang tidak ada perasaan bermusuh kepada siapapun juga. Tentang pembalasan sakit hati itu, Adikku, biarlah kau yang berkepandaian tinggi dan yang merasa sakit hati, kauperjuangkan sebagai sebuah tugas suci berdasarkan kebaktian. Sedangkan aku, yang tiada berkepandaian ini, biarlah aku setiap saat berdoa untuk keselamatanmu, keselamatan Lin Lin, dan keselamatan kawan-kawan baik semua.”

Cin Hai yang mendengar ucapan ini, mengangguk-angguk dan ia maklum sepenuhnya bahwa memang jalan yang diambil oleh Kwee Tiong itu dianggapnya tepat sekali.

Setelah menuturkan pengalaman masing-masing dan melepaskan kerinduan dengan mengobrol semalam penuh, pada keesokan harinya Kwee An dan Cin Hai meninggalkan Kelenteng Ban-hok-tong.

“Kwee An marilah kita mampir sebentar di Tiang-an, karena sudah lama aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota itu. Seringkali aku terkenang kepada kota di mana aku tinggal ketika kita masih kecil.”

Juga Kwee An ingin melihat kota kelahirannya maka ia menyetujui ajakan Cin Hai ini dan keduanya lalu memasuki kota Tiang-an yang berada di dekat Kelenteng Ban-hok-tong itu. Mereka lalu berjalan-jalan di dalam kota itu sampai sore. Dan ketika mereka berjalan sampai di ujung timur, tiba-tiba mereka mendengar suara yang lantang dari dalam sebuah rumah. Mendengar suara ini, Cin Hai menyentuh tangan Kwee An dan berbisik,

“Coba, kaudengarkan itu, apakah kau masih mengenalnya?”

Kwee An memasang telinga dengan penuh perhatian dan dari jendela rumah itu terdengar suara yang jelas sekali.

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-yaaaa…”

Kwee An hampir tertawa bergelak, tapi cepat-cepat ia menggunakan tangan kanan untuk menutup mulutnya dan menahan ketawanya. “Itulah Kwi Sianseng!” katanya.

Cin Hai tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau tidak salah tentu dia. Siapa lagi yang dapat mengucapkan ujar-ujar itu demikian bagusnya? Tahukah kau berapa kali ia dulu pernah memukul dan mengetok kepalaku yang dulu gundul?”

Kwee An hampir tertawa keras-keras dan ia membelalakkan kepada Cin Hai sambil tersenyum lebar. “Kau juga??”

Cin Hai bertanya heran, “Apa maksudmu?”

“Kau juga menjadi korban kesukaannya memukul kepala murid-muridnya? Ha, ha, jangankan kau yang dulu memang banyak orang membenci, sedangkan aku sendiri pun entah sudah berapa kali merasai ketokan di kepalaku.”

Cin Hai benar-benar tak pernah menyangka hal ini dan sedikit kebencian yang berada di hatinya terhadap Kai Sianseng lenyap seketika.

“Kalau begitu, Si Tua itu tentu masih saja mengobral hadiah ketokan kepala itu kepada anak-anak yang sekarang menjadi murid-muridnya. Hayo, kita mengintai dia!”

Bagaikan dua orang anak-anak nakal, Cin Hai dan Kwee An menghampiri rumah kecil itu dengan perlahan dan mengintai dari balik jendela. Benar juga dugaan mereka, di dalam rumah itu Kwi Sianseng yang tampak sudah tua sekali dan tubuhnya makin kurus kering, sedang berdiri dengan tangan kanan di belakang punggung dan tangan kiri memegang sebuah kitab yang dikenal baik oleh Cin Hai dan Kwee An, oleh karena kitab yang terbungkus kulit kambing itu adalah kitab yang dulu dipakai untuk mengajar mereka pula. Di depan kakek sastrawan ini duduk di bangku dengan kedua tangan bersilang, tiga orang anak laki-laki yang mengerutkan kening bagaikan kakek-kakek yang sedang berpikir keras.

“Kalian anak-anak goblok, bodoh dan tolol! Dengarkan sekali lagi! Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya! Apakah artinya, siapa tahu?”

Kwee An dan Cin Hai mengintai dan menahan geli hatinya, dan Cin Hai lalu teringat akan segala yang dialaminya di waktu kecil, karena sifat dan sikap Kwi Sianseng sama sekali tidak berubah seperti dulu.

Seorang di antara para murid yang jumlahnya tiga orang anak-anak itu bangkit berdiri dan mengacungkan tangan, lalu berkata dengan suara lantang,

“Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya, artinya: kesempurnaan hati suci murni harus dicapai sendiri dengan penyempurnaan watak pribadi. Jalan kebenaran yang menjadi sifat setiap orang harus diajukan dalam perbuatan sendiri.”

Kakek kurus kering itu mengangguk-anggukkan kepala seperti burung makan padi. “Bagus, bagus! Begitulah sifat seorang kuncu (budiman) tulen!” ia memuji. “Kok-ji, kitab apa yang mengandung ujar-ujar itu dan fasal ke berapa?”

Anak yang tadi menjawab dengan lagak bagaikan seorang ahli pikir yang sudah kakek-kakek itu menjawab lantang,

“Terdapat di dalam kitab Tiong-yong, fasal… fasal…” ia tidak dapat melanjutkan jawabannya dan memandang ke kanan kiri dengan bingung.

“Anak bodoh dan tolol!” gurunya memaki dan Cin Hai baru melihat bahwa makian ini agaknya memang telah menjadi kembang bibir Kwi Sianseng. Baru saja anak itu dipuji-pujinya sekarang telah dimaki tolol. Kemudian Kwi Sianseng berkata lagi, “Dengarlah, ujar-ujar itu terdapat dalam… fasal…” Ia juga lupa dan mencari-cari di dalam kitabnya, membuka-buka buku kitab itu dengan bingung.

Sambil menahan gelinya yang membuat perutnya kaku, Cin Hai menjawab dari luar, “Dalam fasal dua puluh lima ayat pertama!”

Kwi Sianseng terkejut sekali dan menoleh ke arah jendela yang rendah dan masuk ke dalam kamar. Kedua anak muda itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Kwi Sianseng. Cin Hai berkata,

“Kwi Sianseng, hakseng berdua menghaturkan hormat.”

Kwi Sianseng terheran dan ragu-ragu. “Jiwi ini siapakah?”

“Kwi Sianseng,” kata Kwee An, “sudah lupakah kepadaku? Aku adalah Kwee An, putera Kwee-ciangkun!”

Kwi Sianseng melengak, kemudian setelah teringat, ia lalu tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri, nampak sekali kebanggaannya melihat betapa muridnya telah menjadi dewasa, gagah, dan cakap! Ia lalu memegang lengan Kwee An dan dengan muka yang terang berkata kepada ketiga anak muridnya,

“Nah, kalian lihatlah! Kwee-kongcu ini dulu adalah muridku yang baik dan pandai. Kalau kalian belajar baik-baik dari aku, kelak kau pun akan menjadi seorang berguna seperti dia ini!” Kemudian ia teringat kepada Cin Hai yahg telah dapat menemukan fasal dalam kitab Tiong Yong maka ia lalu menjura dengan hormat kepada Cin Hai dan bertanya, “Dan kongcu yang cerdik pandai dan hafal akan fasal dan ayat dalam kitab Nabi kita ini, siapakah namamu yang mulia?”

Cin Hai menahan geli hatinya, menjawab sambil menjura, “Sianseng, sudah lupakah kepada hakseng yang tolol dan bodoh?”

Selagi Kwi Sianseng memandang heran dan mengingat-ingat, Kwee An yang tak dapat menahan kegembiraan hatinya lalu berkata, “Kwi Sianseng, ini adalah Cin Hai, juga muridmu yang belajar darimu di Kelenteng Ban-hok-tong!”

Cin Hai tertawa bergelak. “Kwee Sianseng, sekarang hakseng tidak berani menggunduli kepala lagi, supaya jangan dijadikan sasaran pukulan dan ketokan!”

Merahlah muka Kwi Sianseng dan ia merasa betapa ia dulu memang sering kali memukul kepala anak gundul ini. Akan tetapi, sebagaimana sudah lazimnya sifat manusia yang teringat selalu adalah sifai-sifat keburukan orang lain, maka Kwi Sianseng lalu memegang tangan Cin Hai dan kini dengan suara sungguh-sungguh berkata kepada para muridnya,

“Lihatlah Kongcu ini, demikian gagah dan tampannya! Ketahuilah, dia ini dulu juga seorang muridku! Aku sayang sekali kepadanya maka tidak heran sekarang menjadi seorang pandai dan sekali mendengar saja sudah dapat menjawab pertanyaan tentang fatsal tadi! Kalian tadi mendengar bahwa dulu aku sering mengetok kepalanya? Nah, jangan kira bahwa ketokan kepalanya tidak ada gunanya! Tanpa diketok kepalanya, seorang murid takkan menjadi pandai!”

Hati Cin Hai yang dulu seringkali mengenangkan guru ini dengan benci dan mendongkol, kini menjadi lemah, bahkan ia merasa kasihan sekali melihat betapa pakaian guru ini butut dan tambal-tambalan, tanda bahwa keadaannya miskin sekali, sedangkan tubuhnya makin kurus kering dan lemah bagaikan mayat hidup! Betapapun juga, guru-guru yang pandai ujar-ujar akan tetapi tak mampu melaksanakan ini patut dikasihani oleh oleh karena dia adalah seorang jujur dan rela hidup dalam kemiskinan dan masih tekun menurunkan ilmu-ilmu batin yang hanya dikenal dibibir saja itu kepada anak-anak dengan menerima upah kecil! Ia mengerti bahwa segala penderitaan, makian, pukulan yang diterima dari guru ini dalam waktu mengajar, bukan tidak ada gunanya! Sakit dan derita merupakan obat pahit yang dapat menguatkan batin dan meneguhkan iman.

Maka teringatlah ia kepada ucapan Bu Pun Su dulu,

“Segala apa di dunia ini mempunyai dua muka yang berlainan dan baik buruknya muka itu terpandang oleh seseorang, hal ini tergantung sepenuhnya kepada orang itu sendiri, oleh karenanya banyak pertentangan di dunia ini yang terjadi karena perbedaan pandangan ini!” Dan ia merasa betapa tepatnya ucapan ini. Dulu ia memandang perbuatan Kwi sianseng kepadanya amat buruk dan kejam sehingga menimbulkan rasa benci dan sakit hati. Akan tetapi sekarang, ia telah mempunyai pandangan lain dan menganggap bahwa perbuatan Kwi-sianseng itu telah menjadi watak guru ini dan bukan timbul karena membencinya, maka ia bahkan menganggap semua siksaan itu baik, hingga sebaliknya kini menimbulkan rasa terima kasih!

Cin Hai lalu memberi isyarat dengan matanya kepada Kwee An dan ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa potong uang emas yang ada padanya. Ia masukkan uang itu ke dalam saku Kwi-sianseng tanpa dilihat oleh guru ini, kemudian setelah mereka berkelebat maka lenyaplah keduanya dari depan Kwi-sianseng. Tentu saja hal ini tak terduga sama sekali oleh guru itu, juga oleh anak anak tadi yang menganggap kedua pemuda ini main sulap.

“Hebat, hebat… mereka telah menjadi orang-orang gagah yang berkepandaian luar biasa,” katanya kemudian ia berkata keras-keras agar terdengar oleh murid-muridnya yang kecil-kecil. “Mereka hebat sekali dan mereka itu adalah murid-muridku. Kalian bertiga yang bodoh ini kalau mau belajar sungguh-sungguh, kelak pun akan menjadi seperti mereka.” Ketika seorang muridnya menjatuhkan kitab ke atas tanah karena terheran-heran melihat lenyapnya Kwee An dan Cin Hai hingga tanpa disengaja kitab yang dipegangnya jatuh, Kwi-sianseng marah sekali dan melangkah maju, siap dengan jari-jarinya untuk mengetuk kepala yang gundul itu. Akan tetapi tiba-tiba bayangan Cin Hai muncul dan guru ini teringat akan kejadian dulu-dulu, maka ia lalu menahan tangannya, dan sebaliknya ia lalu mengetok kepalanya sendiri yang sudah botak.

“Jangan kaulakukan kepada orang lain apa yang kau sendiri tidak mau diperlakukan oleh orang lain kepadamu,” kata-kata Cin Hai yang dulu bergema di dalam telinganya. Semenjak saat ini Kwi-sianseng mempunyai kebiasaan baru, yaitu tiap kali ia mengetok kepala muridnya, tentu ia juga menambahkan sebuah ketokan kepada kepalanya sendiri.

Cin Hai dan Kwee An sambil tertawa-tawa mengenangkan peristiwa pertemuan dengan Kwi-sianseng tadi, lalu berjalan cepat meninggalkan Tiang-an. Mereka keluar dari kota itu dari jurusan timur dan tidak melewati Kelenteng Ban-hok-tong yang berada di sebelah barat kota itu. Hari telah agak gelap ketika mereka tiba di sebuah hutan di luar kota.

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berseru minta tolong dan ketika mereka lari menghampiri, ternyata seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti piauwsu (pengawal kiriman barang berharga) sedang dikeroyok oleh lima orang perampok. Piauwsu ini biarpun melawan dengan nekad dan memutar-mutar goloknya, namun pengeroyoknya ternyata memiliki kepandaian yang lihai hingga pundak kiri piauwsu itu telah berlumur darah karena mendapat luka bacokan pedang. Akan tetapi, sambil berseru minta tolong, piauwsu itu terus saja melawan dengan nekad.

Cin Hai marah sekali melihat pengeroyokan ini dan sekali pandang saja ia maklum bahwa piauwsu ini tentu dirampok, oleh karena di pinggir tampak sebuah kereta dan para pendorongnya yang terdiri dari empat orang telah berjongkok sambil menggigil ketakutan di belakang kereta.

“Perampok ganas, pergilah dari sini!” katanya dan tubuhnya telah menyambar cepat ke arah tempat pertempuran. Cin Hai tidak mau membuang banyak waktu, ia segera mempergunakan kepandaian Ilmu Silat Tangan Kosong Kongciak-sin-na yang hebat. Memang ilmu silat yang belum lama ia pelajari dari Bu Pun Su ini lihai sekali. Begitu kedua tangannya bergerak, pedang kelima orang perampok itu tahu-tahu telah kena dibikin terpental den sebelum kelima orang perampok yang juga memiliki ilmu silat lumayan itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka telah dipegang oleh tangan kanan kiri pemuda itu dan dilempar-lemparkan ke kanan kiri bagaikan orang melempar-lemparkan kentang busuk saja.

Tentu saja mereka merasa jerih dan ngeri melihat ilmu kepandaian sehebat ini den tanpa menoleh lagi mereka lalu berlari secepatnya ke jurusan yang sama hingga merupakan balap lari yang ramai. Kwee An tertawa bergelak, sedangkan Cin Hai hanya tersenyum saja melihat pemandangan yang lucu itu.

Sedangkan piauwsu itu ketika melihat pemuda luar biasa lihainya yang telah menolong jiwanya, lalu melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai sambil berkata dengan suara terharu,

“Taihiap yang gagah perkasa telah menolong jiwaku yang tak berharga, aku tua bangka lemah takkan dapat membalas budi besar ini dan untuk menyatakan terima kasihku, biarlah Taihiap menyebut nama Taihiap yang mulia agar dapat kuingat selama hidupku!”

Cin Hai merasa tidak enak sekali melihat dirinya dihormati sedemikian oleh piauwsu itu maka buru-buru ia memegang pundak piauwsu itu dan menariknya berdiri sambil berkata,

Lo-piauwsu janganlah beriaku demikian. Pertolongan yang tidak ada artinya ini untuk apa dibesar-besarkan?”

Ketika piauwsu tua itu mengangkat muka dan memandang dengan sepasang matanya yang luar biasa lebar, Cin Hai merasa bahwa ia seperti pernah melihat muka ini, akan tetapi tidak ingat lagi di mana dan bilamana. Tiba-tiba Kwee An berseru sambil meloncat menghampiri,

“Tan-kauwsu! Kaukah ini?”

Memang benar, piauwsu itu ternyata adalah Tang-kauwsu, guru silat yang dulu pernah mengajar silat kepada putera-putera keluarga Kwee In Liang! Tan-kauwsu memandang heran dan ia segera mengenali Kwee An, maka sambil menjura ia berkata girang,

“Kwee-kongcu! Tak tersangka kita telah bertemu di sini! Ah, aku orang tua telah mendengar tentang kemajuan dan kelihaianmu dan telah mendengar pula bahwa engkau telah menjadi murid Eng Yang Cu-locianpwe, tokoh Kim-san-pai yang lihai itu! Sukurlah kepandaianmu tentu telah berlipat ganda dan aku orang tua yang tak berguna ini hanya merasa gembira!” Kemudian ia memandang kepada Cin Hai dengan mata kagum dan melanjutkan kata-katanya,

“Akan tetapi, siapakah Taihiap yang muda akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian lihainya hingga belum pernah mataku yang tua menyaksikan kelihaian seperti yang telah Taihiap lakukan tadi?”

Cin Hai ketika mengingat bahwa piauwsu ini bukan lain adalah Tan-kauwsu yang dulu membencinya dan bahkan mengejarnya untuk membunuh, timbul pula rasa bencinya, maka ia tidak mau menjawab dan hanya memandang tajam dengan muka tidak senang. Kwee An belum pernah mendengar tentang kekejaman Tan-kauwsu kepada Cin Hai, oleh karena Cin Hai memang tidak menceritakan hal itu kepada siapapun juga, maka Kwee An lalu tertawa girang dan berkata,

“Tan-kauwsu, sesungguhnya pemuda kawanku ini pun bukan orang luar, akan tetapi kurasa kau takkan dapat menduganya dia ini siapa biarpun kau akan mengingat-ingat sampai semalam penuh! Biarlah aku membantumu. Dia ini adalah Cin Hai anak gundul yang dulu pernah pula belajar silat padamu!”

Tiba-tiba pucatlah wajah Tan-kauwsu mendengar bahwa anak muda yang luar biasa gagahnya yang baru saja telah menolong jiwanya itu, bukan lain adalah Si Cin Hai, anak gundul yang dulu hendak diambil jiwanya! Kedua kaki Tan-kauwsu menggigil dan ia tak dapat menahan dirinya lagi. Serta merta ia menjatuhkan diri berlutut lagi di depan Cin Hai dan tak tertahan lagi kedua matanya mengucurkan air mata!

“Taihiap… aku… aku… ah, apakah yang harus kukatakan? Kalau Taihiap suka, ambillah jiwaku. Aku tua bangka yang tak tahu diri akan mati dengan rela di dalam tanganmu!”

Kwee An memandang heran dan segera berkata, “Eh, eh, apa-apan ini? Tan-kauwsu, apakah kau mendadak telah menjadi mabok?”

Akan tetepi Cin Hai mengejapkan mata kepada kawannya itu dan kini ia tidak mengangkat bangun tubuh orang tua yang berlutut di depannya.

“Tan-kauwsu, memang benar kata ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa apa yang diperbuat orang pada masa mudanya, akan mendatangkan sesal pada masa tuanya. Kau dulu berkeras hendak membunuhku, dan sekarang kau bahkan minta dibunuh olehku dengan rela. Bukankah ini merupakan buah dari pohon kebencian yang dulu kautanam dengan kedua tanganmu sendiri? Kau minta aku membalas dendam? Tidak, Tan-kauwsu! Akan terlalu senang bagimu. Biarlah kaupikir-pikirkan perbuatanmu yang sewenang-wenang dulu itu dan menyesalinya. Kau tak berhutang jiwa padaku, maka bagaimana aku bisa membunuhmu? Nah, selamat tinggal! Mari, Kwee An, kita pergi dari sini!”

Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu melompat pergi dan terpaksa Kwee An menyusul kawannya itu dengan heran. Kemudian, atas desakan Kwee An, Cin Hai lalu menuturkan pengalamannya. Kwee An menghela napas dan berkata,

“Memang nasib manusia itu tidak tentu. Sekali waktu ia boleh berada di bawah, di tempat yang serendah-rendahnya, akan tetapi akan tiba masanya ia akan berada di atas, di tempat yang setinggi-tingginya.”

Setelah meninggalkan Tiang-an, kedua pemuda itu lalu menuju ke kota raja, oleh karena selain mencari jejak Lin Lin dan Ma Hoa, keduanya juga tidak pernah lupa untuk mencari Hai Kong Hosiang, hwesio yang kini merupakan musuh besar satu-satunya yang masih belum berhasil mereka balas. Dan ke mana lagi mencari hwesio itu kalau tidak di kota raja? Mereka merasa ragu-ragu apakah Hai Kong Hosiang berada di sana, akan tetapi karena tidak mempunyai pandangan lain di mana hwesio itu mungkin berada, mereka mencoba-coba dan pergi ke kota raja.

Mereka langsung menuju ke Enghiong-koan, gedung perhimpunan para perwira Sayap Garuda di mana mereka dulu pernah datang mengacau dan berhasil membunuh mati musuh-musuhnya. Ketika mereka tiba di atas genteng gedung itu, mereka melihat dua orang sedang bertempur mengeroyok seorang kakek, sedangkan di sekeliling tempat pertempuran, para perwira Sayap Garuda menonton sambil berseru-seru membesarkan hati kakek yang dikeroyok itu.

Melihat gerakan kakek tua renta itu, terkejut Kwee An dan Cin Hai oleh karena gerakan kakek ini benar-benar luar biasa hebatnya hingga kedua pengeroyoknya terdesak mundur terus. Dan ketika Cin Hai memandang tegas, ternyata bahwa kakek tua renta itu adalah Kiam Ki Sianjin sedangkan kedua pengeroyoknya adalah Eng Yang Cu guru Kwee An dan Nelayan Cengeng sendiri.

Kedua pemuda itu yang melihat betapa Eng Yang Cu dan Kong Hwat Lojin terdesak hebat oleh ilmu silat Kiam Ki Sianjin yang hebat luar biasa, segera melompat turun.

“Kwee An, jangan kau ikut turun tangan, biarlah aku sendiri menghadapi kakek tua renta itu. Ia adalah supek dari Hai Kong Hosiang.”

Kwee An kaget sekali dan menjadi jerih. Kalau Hai Kong Hosiang saja telah begitu hebat, apa lagi supeknya.

Cin Hai melompat masuk ke kalangan pertempuran dan berkata dengan suara hormat kepada Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu,

“Jiwi Locianpwe, biarkan teecu menghadapi setan ini, dan kalau teecu tidak dapat menandinginya, barulah jiwi berdua maju memberi hajaran kepadanya.”

Sebetulnya Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng telah terdesak sekali, dan kata-kata yang diucapkan oleh Cin Hai ini terang menandakan bahwa pemuda ini pandai membawa diri dan menghormat mereka maka keduanya lalu melompat mundur.

Kiam Ki Sianjin!” kata Cin Hai dengan tenang, “dulu Suhuku Bu Pun Su telah mengampuni kau, maka apakah sekarang kau yang begini tua ini masih mau memamerkan kepandaian di depan mata umum?”

Kiam Ki Sianjin memandang kepada Cin Hai dengan sepasang matanya yang telah tua akan tetapi masih awas itu, lalu ia tertawa cekikikan dan tangan kanannya membuat gerakan merendah seperti hendak berkata bahwa Cin Hai masih kecil dan masih kanak-kanak, sedang tangan kirinya menuding keluar. Dengan gerakan ini Kiam Ki Sianjin hendak berkata bahwa Cin Hai yang masih muda dan masih kanak-kanak itu jangan datang mengantar kematian, lebih baik keluar dan pergi saja sebelum terlambat!

“Kiam Ki Sianjin, tak perlu kau menggertak. Keluarkanlah kepandaianmu kalau kau memang gagah!” Cin Hai menantang akan tetapi sikapnya tetap tenang dan waspada. Kiam Ki Sianjin menjadi marah sekali, dan sambil mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, ia lalu menerjang maju dengan hebat sekali!

Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu adalah tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, akan tetapi menghadapi Kiam Ki Sianjin, mereka berdua terdesak hebat setelah bertempur dua ratus jurus lebih, maka kini mereka memandang ke arah Cin Hai dengan penuh kekuatiran. Mereka maklum bahwa sebagai murid tunggal Bu Pun Su, pemuda itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, akan tetapi, tetap saja mereka merasa ragu-ragu dan cemas oleh karena kini pemuda itu menghadapi seorang lawan yang jauh lebih berpengalaman dan yang telah mereka rasakan sendiri kehebatan ilmu kepandaiannya!

Akan tetapi, mereka menjadi kagum sekali ketika melihat betapa dengan lincahnya Cin Hai dapat mengimbangi ginkang dari kakek itu. Bahkan ketika melihat betapa pemuda itu berani mengadu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, tak terasa pula Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak sambil mengalirkan air mata dari kedua matanya. Ini adalah tanda bahwa Nelayan Tua ini merasa gembira sekali. Tadi ia pernah beradu lengan dengan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi adu lengan yang sekali itu saja sudah cukup membuatnya kapok oleh karena betapa lengannya sakit sekali dan seakan-akan ada puluhan jarum menusuk-nusuk ke dalam daging lengannya! Kini ia melihat betapa Cin Hai berani beradu tenaga dengan kakek sakti itu tanpa merasa sakit dan bahkan agaknya Kiam Ki Sianjin tidak saja nampak terkejut, akan tetapi juga terdorong sedikit tiap kali keduanya mengadu tenaga dalam!

Sementara itu, Kwee An memandang pertempuran hebat itu dengan bengong dan anak muda ini merasa heran sekali mengapa kini kepandaian Cin Hai agaknya telah bertambah berlipat ganda! Tadinya Kwee An merasa bangga bahwa ia telah menerima pelajaran ilmu silat dari ayah angkatnya, yaitu Hek Mo-ko dan diam-diam ia mengharapkan bahwa kini tingkat ilmu kepandaiannya sudah menyusul kepandaian Cin Hai. Tidak tahunya kepandaian Cin Hai kini pun meningkat luar biasa sekali dan bahkan ia merasa bahwa kepandaian pemuda ini sekarang berada di tingkat yang lebih tinggi daripada kepandaian Hek Pek Mo-ko sendiri. Tentu saja mereka ini tidak tahu bahwa Cin Hai telah mengeluarkan llmu Silat Pek-in-hoatsut atau Ilmu Silat Awan Putih! Kedua lengan tangannya mengeluarkan uap putih yang menimbulkan tenaga hebat sekali hingga lweekang yang tinggi dari Kiam Ki Sianjin masih saja tak kuat menghadapi ilmu pukulan ini!

Kiam Ki Sianjin selama hidupnya satu kali menerima tandingan yang tinggi ilmu kepandaiannya dari kepandaiannya sendiri, yaitu ketika ia berhadapan dengan Bu Pun Su. Sudah tiga kali selama hidupnya ia bertemu dengan Bu Pun Su dan tiap kali bertemu ia selalu dipermainkan oleh kakek jembel itu. Kini baru pertama kalinya ia menghadapi seorang pemuda yang dapat menandingi kelihaiannya hingga tentu saja ia menjadi marah, penasaran dan gemas sekali! Ia tadi ketika menghadapi Eng Yang Cu dan Nelayan Cengeng walaupun dapat mendesak namun agak sukar merobohkan dua orang lawan yang bukan sembarang orang itu dan yang telah termasuk tingkat tokoh besar dalam lapangan ilmu silat, maka ia telah mengerahkan tenaganya, hingga membuat tubuhnya yang telah tua sekali itu menjadi lelah luar biasa. Kini menghadapi Cin Hai yang ternyata lebih lihai lagi daripada kedua kakek itu, ia benar-benar merasa terkejut dan marah. Namanya yang telah terkenal menjulang tinggi sampai ke langit itu akan runtuh kalau ia tidak dapat mengalahkan pemuda ini. Jika diingat bahwa pemuda ini adalah murid Bu Pun Su, maka ia makin penasaran dan ingin membalas kekalahannya yang dulu-dulu dari Bu Pun Su kepada muridnya ini.

Karena marahnya, Kiam Ki Sianjin lalu melupakan sumpahnya sendiri dan tiba-tiba ia mencabut keluar sebatang pedang yang aneh bentuknya. Pedang ini tipis sekali dan seakan-akan lemas tak bertenaga, akan tetapi, di bawah ujungnya yang runcing terdapat dua buah kaitan di kanan-kiri dan pedang ini mengeluarkan cahaya berkilauan saking tajamnya. Ketika beberapa tahun yang lalu ia merasa bahwa dirinya telah amat tua dan telah banyak darah ia alirkan melalui pedang ini, ia merasa menyesal sekali dan takut untuk menerima hukuman dari semua dosanya. Maka ia lalu bersumpah takkan mempergunakan pedang ini untuk membunuh orang lagi. Akan tetapi, oleh karena sekarang ia merasa marah sekali, ia tidak ingat lagi akan sumpah itu dan mencabut keluar senjatanya yang hebat.

Cin Hai terkejut melihat gerakan ini. Ia tidak mempunyai permusuhan dengan Kiam Ki Sianjin dan tadi pun ia hanya ingin menolong Nelayan Cengeng dan Eng Yang Cu saja dan hendak mencoba kepandaian kakek luar biasa ini. Sekarang melihat betapa kakek itu mencabut keluar pedangnya, maka tahulah bahwa kakek itu telah marah sekali dan bermaksud mengadu jiwa.

“Kiam Ki Sianjin!” kata Cin Hai keras-keras, “kita tak pernah saling bermusuhan hingga tak perlu mengadu jiwa!” Kiam Ki Sianjin salah mengerti dan menduga bahwa pemuda itu merasa jerih melihat pedangnya, maka sambil tertawa cekikikan ia lalu menerjang maju dengan cepatnya.

“Baiklah, agaknya kau hendak membela muridmu yang durhaka Hai Kong Hosiang itu!” kata Cin Hai dan secepat kilat pemuda ini pun lalu mengelak dan mencabut keluar pedangnya, Liong-coan-kiam. Karena maklum bahwa ilmu kepandaian kakek ini hebat sekali dan ia takkan dapat mengambil kemenangan apabila ia hanya mengandalkan pengertian pokok persilatan dan mengikuti gerakan serangan orang tua itu tanpa membalas dengan serangan berbahaya, maka ilmu pedang yang ia ciptakan bersama Ang I Niocu dan yang telah diyakinkan sempurna itu, pedangnya bergerak-gerak aneh bagaikan terbang ke udara dan tiada ubahnya dengan seekor naga sakti keluar dari surga menyambar-nyambar ke arah Kiam Ki Sianjin dengan garangnya.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: