Pendekar Bodoh ~ Jilid 23

Tiba-tiba dari jurusan selatan, nampak pasukan lain. Pasukan ini tidak begitu panjang akan tetapi di bagian depan terdapat beberapa orang penunggang kuda yang agaknya menjadi pemimpin pasukan itu. Juga debu mengepul hebat di bawah kaki pasukan ini. Kedua pasukan itu agaknya hendak berperang, karena masing-masing membawa bendera yang berkibar dan keduanya bergerak maju untuk saling bertemu.

Cin Hai menjadi tertarik sekali, maka ia segera melompat turun dari batu karang, terus lari pergi dari tempat itu. Ia mempergunakan jembatan bambu yang dibuatnya kemarin dan setelah meninggalkan rawa itu, ia berlari cepat menuju ke tempat di mana kedua pasukan bertemu.

Dan setelah ia tiba di situ, terdengarlah sorak sorai yang hebat dan dibarengi suara senjata beradu, dan pekik manusia berperang. Cin Hai mendekati dan ketika ia melihat bahwa yang sedang bertempur itu adalah pasukan kerajaan melawan pasukan orang-orang Mongol, ia segera menyerbu dan membantu pasukan kerajaan. Melihat orang-orang Mongol ini, ia teringat kepada Pangeran Vayami dan Ke Ce yang menimbulkan benci di dalam hatinya.

Sebelum Cin Hai datang, tentara kerajaan terdesak oleh amukan tentara Mongol yang dikepalai seorang panglima perang bangsa Mongol yang kosen sekali. Juga jumlah mereka yang lebih besar membuat tentara kerajaan melawan dengan sia-sia dan banyak korban jatuh di pihak mereka. Akan tetapi ketika Cin Hai menyerbu, di mana saja ia datang tentu pihak Mongol menjadi kocar-kacir, karena dengan kedua tangan dan kakinya, setiap gerakan pemuda ini membuat seorang bangsa Mongol terguling! Melihat datangnya seorang pemuda Han yang amat lihai membantu pihak mereka, timbul kembali semangat pasukan kerajaan hingga mereka lalu menyerbu lagi dengan nekad dan penuh semangat hingga ketika Cin Hai membantu ke sana ke mari, pihak tentara kerajaan kini mendapat kemajuan dan musuh dapat dibikin kacau. Akan tetapi, ketika Cin Hai menyerbu sampai di tengah-tengah, ia melihat seorang panglima bangsa Mongol yang amat kosen dan yang sedang dikeroyok oleh empat orang panglima kerajaan, yaitu Perwira-perwira Sayap Garuda yang bersenjata pedang. Akan tetapi, panglima Mongol yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu mengamuk dengan hebatnya hingga empat orang Perwira Sayap Garuda itu terdesak hebat. Bahkan di atas tanah menggeletak tiga orang Perwira Sayap Garuda dalam keadaan mandi darah dan mati!

Bukan main marahnya Cin Hai karena ia maklum bahwa Panglima Mongol yang tangguh ini takkah menemukan tandingan, melihat betapa empat orang perwira kerajaan terdesak hebat dan bahkan telah ada tiga yang tewas. Ia lalu berseru keras dan menyerbu menghadapi perwira Mongol itu sambil berseru,

“Cuwi Ciangkun, mundurlah dan biarkan aku menghadapi raksasa Mongol ini!”

Keempat Perwira Sayap Garuda menjadi girang mendapat bantuan ini dan oleh karena mereka tadi memang sudah kewalahan menghadapi lawan tangguh itu, maka mereka lalu meloncat ke belakang membiarkan anak muda itu menggantikan mereka.

Panglima Mongol tinggi besar itu tertawa lebar ketika melihat bahwa kini yang maju menghadapinya hanyalah seorang muda berpakaian seperti seorang pelajar.

“Ha, ha, ha! Agaknya kalian telah kehabisan panglima hingga mengajukan seorang kanak-kanak yang masih harus berada dalam pelukan ibunya!” ia menyindir.

Cin Hai menghadapi sindiran dan hinaan ini dengan tersenyum saja, lalu ia bertanya, “Panglima yang sombong, siapakah kau dan apakah kau masih mempunyai hubungan dengan Pangeran Vayami?”

Panglima tinggi besar muka hitam itu tercengang mendengar disebutnya nama ini. “Hm, dari mana kau tahu nama pengkhianat kami itu? Vayami adalah seorang pengkhianat, jangan dihubungkan dengan aku, Balaki, seorang pahlawan sejati dari Mongol!”

Balaki ini sebenarnya adalah seorang panglima tinggi di daerah Mongol, tangan kanan Yagali Khan, raja muda yang memimpin dan memerintah Mongolia pada masa itu. Dan ilmu kepandaian Balaki amat tinggi. Ketika mendengar tentang gagalnya expedisi Mongolia mencari Pulau Kim-san-to, maka ketika Yagali Khan mengadakan serbuan ke pedalaman Tiongkok, ia lalu menawarkan diri untuk mengepalai sendiri barisan Mongol. Tiap pasukan Han yang bertemu dengan pasukan pimpinan Balaki ini, pasti dihancurkan dan dikalahkan dengan mudah. Pasukan yang kini sedang bertempur, tentu akan hancur binasa pula kalau tidak kebetulan Cin Hai muncul sebagai bintang penolong.

“Anak muda,” kata pula Balaki, “kau siapakah dan mengapa pula kau yang berpakaian pelajar ini berani maju menyambutku?”

“Aku adalah seorang rakyat biasa yang tentu saja takkan tinggal diam melihat kau bangsa Mongol bermain gila di tanah airku!” jawab Cin Hai dengan tenang. Balaki tertawa terbahak-bahak. “Ha, kau ingin bermain menjadi patriot? Ha, ha, baiklah, aku akan membuat kau tewas sebagai seorang pahlawan negara!” Sambil berkata demikian, Balaki lalu menerjang maju dengan golok besarnya. Gerakannya antep dan cepat hingga Cin Hai tidak berani memandang ringan, lalu cepat mencabut pedangnya dan melayaninya dengan hati-hati. Para anak buah tentara kedua pihak ketika melihat pertempuran hebat ini, menjadi gembira dan mereka yang berada dekat pertempuran ini lalu menghentikan serbuan masing-masing dan kini menonton sambil bersorak menambah semangat jago masing-masing! Juga keempat Perwira Sayap Garuda melihat kelihaian Cin Hai, menjadi kagum dan berbesar hati karena selama ini belum pernah ada yang kuat menghadapi Balaki yang terkenal kosen itu.

Cin Hai seperti biasa hanya mempertahankan diri dulu untuk mengukur kepandaian lawan dan ternyata bahwa ilmu kepandaian Balaki dengan ilmu golok tunggalnya, walaupun benar-benar lihai namun masih tidak dapat mengimbangi kegesitan Cin Hai hingga pemuda ini dengan mudah dapat mengelak atau menangkis semua serangan yang datang bertubi-tubi itu.

Hal ini tentu saja membuat Balaki merasa penasaran sekali oleh karena belum pernah ia melihat seorang lawan yang dapat menahan serangannya tanpa membalas sedemikian lamanya. Ia lalu berseru keras dan tiba-tiba tangan kirinya mengeluarkan sebuah benda yang bulat, Cin Hai mengira bahwa itu tentu semacam senjata rahasia maka ia berlaku waspada dan siap sedia menghadapi serangan senjata gelap musuh. Akan tetapi Balaki tidak mempergunakan senjata aneh itu, hanya menggenggamnya di tangan kiri dan golok di tangan kanannya masih menyerang ganas. Tiba-tiba ketika Cin Hai mengelak dari serangan golok lawannya, Balaki membuka tangan kirinya dan tahu-tahu sebuah sinar keemasan yang bercahaya terang menyambar ke arah muka Cin Hai. Sinar ini demikian cepat datangnya hingga tak mungkin dikelit oleh kegesitan seorang manusia, maka Cin Hai merasa terkejut sekali dan tak terasa pula ia berseru. Akan tetapi, ternyata bahwa sinar atau cahaya itu tidak menyakitinya, hanya membuat matanya pedas sekali karena ternyata bahwa benda di tangan kiri Balaki itu adalah sebuah cermin yang digunakan untuk memantulkan cahaya matahari yang bersinar terang. Pantulan cahaya matahari itu digunakan untuk menyerang mata lawan, dan mengagetkannya hingga tentu saja orang itu akan menjadi silau dan kaget.

Benar saja, Cin Hai yang lihai itu sama sekali tak menduga akan kelihaian lawan hingga ketika matanya bertemu dengan pantulan cahaya matahari yang disinarkan dari cermin itu ia tidak kuat menahan dan terpaksa menutup kedua matanya. Saat inilah yang dimaksudkan oleh senjata cermin itu dan pada saat Cin Hai tersilau dan meramkan mata, golok di tangan Balaki menyambar cepat dan hebat ke arah leher Cin Hai.

Sudah banyak sekali lawan yang tewas dalam tangan Balaki terkena tipu ini, dan kali ini pun ia telah merasa pasti bahwa pemuda ini tentu akan roboh dengan kepala terpisah dari tubuh. Akan tetapi, kalau ia berpendapat demikian, ia belum kenal dan belum tahu betul siapa adanya Cin Hai! Pemuda ini selain telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan luar biasa, juga telah menerima gemblengan hebat dari Bu Pun Su, ditambah pengalaman bertempur yang banyak menghadapi lawan-lawan tangguh, hingga dalam keadaan bagaimana berbahaya pun, hatinya tetap tenang dan kewaspadaannya tidak tergoncang. Memang, ketika matanya tersorot sinar matahari, ia merasa terkejut dan tidak tahan untuk tidak memejamkan mata, akan tetapi hanya matanya saja yang tertutup dan untuk saat itu tidak dapat digunakan, akan tetapi, telinga dan perasaannya masih tajam dan tidak terpengaruh sama sekali. Ia dapat merasa dan mendengar suara angin serangan golok yang mengarah lehernya, maka ketika semua orang telah merasa ngeri, terutama keempat orang Perwira Sayap Garuda, dan menduga bahwa pemuda itu pasti akan binasa di tangan Balaki seperti orang-orang lain yang pernah menghadapinya, tiba tiba tubuh Cin Hai melompat ke belakang dengan cepat sekali hingga mata golok itu lewat menyerempet di dekat kulit lehernya.

Tidak hanya Balaki yang terkejut, akan tetapi semua orang yang melihat lompatan ke belakang secara aneh itu merasa kagum sekali. Belum pernah mereka dapat melihat seorang melompat ke belakang sedemikian cepatnya dan tepat pada saat bahaya maut mengancam leher.

Kini Cin Hai merasa marah juga karena hampir saja ia menjadi korban senjata golok pahlawan Mongol ini. Sebaliknya, Balaki menyangka bahwa pemuda itu menjadi gentar, maka ia tidak menyia-nyiakan waktu dan cepat mengejar untuk mengirim serangan dengan ilmu golok yang paling ia andalkan. Goloknya terputar-putar garang laksana seekor naga mengamuk hingga tubuhnya sendiri lenyap di dalam gulungan golok.

“Rasakan pembalasanku!” kata Cin Hai dan pemuda ini mulai mainkan jurus-jurus limu Pedang Daun Bambu ciptaan sendiri. Ketika ia mencipta ilmu pedang ini, ia menusukkan pedangnya dan menyerang batang-batang bambu yang runcing seperti golok dan dapat mengenai sasaran dengan tepat tanpa menyentuh daun-daun itu. Kini menghadapi putaran golok Balaki, biarpun dalam pandangan mata orang lain, tubuh Balaki sampai lenyap tergulung sinar golok namun bagi mata Cin Hai, ia masih dapat melihat berkelebatnya ujung golok hingga dengan cepat ia dapat “memasukkan” pedangnya di antara sinar golok.

Terdengar Balaki memekik. Pekik ini ia keluarkan bukan karena kesakitan, akan tetapi juga karena terkejut dan takjub. Ia tidak tahu bagaimana lawannya dapat menyerangnya dan tahu-tahu ia merasa lengan tangannya sakit sekali hingga goloknya terlepas dari pegangan dan ternyata bahwa lengannya telah tertusuk ujung pedang Cin Hai.

Bukan main girangnya keempat Perwira Sayap Garuda melihat ini, akan tetapi Balaki segera memberi aba-aba keras dan menyerbulah semua anak buahnya, sedangkan ia sendiri cepat meloloskan diri dari keributan itu hingga Cin Hai tidak dapat mengejar dan merobohkannya. Pertempuran hebat terjadi akan tetapi kini tentara Mongol telah lemah semangat bertempurnya dan tak lama kemudian mereka melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan yang telah tewas dan terluka hingga tempat itu penuh orang-orang mati dan luka.

Ini adalah kekalahan besar pertama kali yang diderita oleh Balaki semenjak ia mulai menginjakkan kaki di pedalaman Tiongkok. Keempat orang Perwira Sayap Garuda itu merasa girang dan berterima kasih sekali kepada Cin Hai. Melihat sikap mereka yang baik, Cin Hai menjadi heran sekali karena mereka ini berbeda sekali dengan Perwira-perwira Sayap Garuda yang pernah dilihatnya, ketika ia dan Kwee An mengamuk di dalam Eng-hiong-koan di kota raja dulu ketika ia membasmi para perwira yang menjadi musuh besar Kwee-ciangkun.

“Hohan (orang baik atau orang gagah) yang muda telah memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, sungguh membuat kami berempat menaruh hormat dan kagum serta amat berterima kasih sekali!” kata seorang di antara empat Perwira Sayap Garuda itu. “Bolehkah kami mengetahui nama Hohan yang gagah perkasa?”

Dengan suara merendah, Cin Hai berkata terus terang untuk mencoba dan melihat sikap mereka, “Siauwte yang muda dan bodoh bernama Sie Cin Hai. Dan mungkin Cuwi-ciangkun akan ingat nama hamba apabila teringat akan peristiwa pembasmian keluarga Kwee-ciangkun!” sambil berkata demikian, Cin Hai memandang tajam.

Jelas sekali nampak betapa empat orang perwira itu terkejut sekali dan saling pandang kemudian mereka lalu mengangkat tangan memberi hormat, sedangkan pemimpin mereka yang tertua berkata, “Ah, tidak tahunya Sie-taihiap yang menolong kami! Pantas saja demikian lihai! Sie-taihiap, kami juga semua Perwira Sayap Garuda, sudah tentu saja pernah mendengar nama Taihiap yang gagah perkasa, bahkan kaisar sendiri telah lama sekali mencari-cari Taihiap!”

Cin Hai benar-benar merasa tertegun dan heran melihat sikap mereka ini.

“Apa? Apakah kaisar mencari untuk menghukum aku yang telah pernah membunuh beberapa orang perwira jahat?”

“Ah, agaknya telah lama Sie-taihiap tidak ke kota raja hingga tidak tahu akan keadaan dan perubahan di sana,” kata seorang di antara mereka dan kemudian mereka menceritakan hal yang amat menggembirakan hati Cin Hai. Ternyata bahwa semenjak Beng Kong Hosiang yang menjadi pemimpin para perwira itu tewas di tangan Balutin dan para perwira tinggi yang jahat telah tewas pula, yang menggantikan dan memegang pucuk pimpinan adalah seorang panglima baru yang masih muda dan gagah perkasa bernama Kam Hong Sin. Panglima Kam ini selaih gagah perkasa, juga berjiwa gagah dan tidak palsu seperti Beng Kong Hosiang dan perwira lain yang dulu memegang kekuasaan. Bahkan Panglima Kam ini mengindahkan kaum kang-ouw dan mempunyai pergaulan yang luas dengan orang-orang gagah hingga ia amat dihormati dan disegani. Panglima ini pula yang menyadarkan pikiran kaisar hingga kaisar tidak lagi mempunyai pandangan buruk terhadap orang-orang kang-ouw. Dengan tangan besi Kam Hong Sin memilih Perwira-perwira Sayap Garuda dan mengadakan peraturan-peraturan keras dengan ancaman hukuman berat. Sedikit saja seorang perwira melanggar, ia lalu dihukum dan dipecat dari kedudukannya. Oleh karena tindakan ini, maka banyak muncul perwira-perwira baru, pilihan Kam-ciangkun dan bahkan tidak sedikit orang-orang kang-ouw masuk menjadi Perwira Sayap Garuda!

“Karena inilah, Sie-taihiap, maka selain Kam-ciangkun sendiri, juga kaisar ingin bertemu dengan Taihiap. Sudah lama Kam-ciangkun mengagumi Taihiap dan lain-lain orang gagah dan mengharapkan untuk dapat bertemu serta berkenalan,” kata Perwira Sayap Garuda itu. Tentu saja Cin Hai menjadi girang sekali mendengar tentang perubahan baik ini, dan tanpa diminta lagi ia lalu menyediakan tenaga untuk membantu mengusir para penyerbu dari Mongol.

Ketika ia bertanya tentang penyerbuan orang-orang Mongol ini, perwira itu menceritakan, “Telah sebulan lebih tentara Mongol yang dipimpin oleh Yagali Khan menyerbu daerah Tiongkok dan raja muda ini memiliki banyak sekali pembantu-pembantu yang pandai, Balaki tadi adalah seorang di antara para jagonya itu maka kedudukannya kuat sekali. Kam-ciangkun lalu menggerakkan banyak tentara yang dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dan mengadakan pengepungan kepada barisan induk dari tentara Mongol yang berkedudukan di sebelah dalam tembok besar, di daerah Tiang-lo-sia. Pasukan kami adalah sebagian dari barisan yang harus mengadakan pengepungan diri dari selatan, akan tetapi tak terduga-duga kami bertemu dengan barisan Balaki tadi hingga kalau saja tidak mendapat bantuan dari taihiap, tentu kami mendapat bencana besar.”

Kemudian Cin Hai mendengar betapa tentara kerajaan seringkali menderita kekalahan hingga ia menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk ikut ke Tiang-lo-sia membantu usaha para pasukan kerajaan mengusir musuh. Tentu saja para perwira itu merasa girang sekali oleh karena dengan adanya pembantu yang lihai ini, banyak harapan usaha mereka akan berhasil dan kini mereka tak usah kuatir menderita kekalahan apabila bertemu di jalan dengan pasukan musuh.

Ketika pasukan di mana Cin Hai berada tiba di Tiang-lo-sia, di sebelah luar daerah kekuasaan Yagali Khan, mereka bertemu dengan pasukan-pasukan lain yang mengurung dari lain jurusan. Pengepungan dilakukan dan tak lama kemudian berturut-turut pasukan-pasukan kerajaan datang dari segenap penjuru, dan daerah Tiang-lo-sia telah dikurung. Pimpinan serbuan ini adalah seorang perwira tinggi she Liang dan ia lalu mencari seorang untuk dijadikan utusan karena ia membawa surat dari kaisar yang ditujukan kepada Yagali Khan. Surat ini adalah bujukan halus yang juga mengandung ancaman agar supaya Yagali Khan suka menarik kembali pasukannya dan jangan melanggar tapal batas negara.

Ketika mendengar bahwa komandan pasukan-pasukan kerajaan mencari seorang utusan untuk mengantar surat kaisar, Cin Hai lalu mengajukan diri untuk melakukan tugas ini. Keempat perwira yang pernah ditolongnya dari serbuan Balaki menceritakan kepada Liang-ciangkun akan kegagahan dan jasa Cin Hai dan betapa pemuda ini telah mengalahkan Balaki dengan mudahnya. Liang-ciangkun menjadi kagum dan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memberikan tugas membawa surat itu kepada Cin Hai.

Yagali Khan dan para pembantunya sudah mendengar bahwa pihak tentara Han akan mengirim utusan yang membawa surat kaisar dan bahwa utusan ini adalah seorang pemuda yang pernah mengalahkan Balaki. Oleh karena ini, kedatangan Cin Hai yang tidak mau dikawal dan hanya datang seorang diri itu disambut oleh Panglima-panglima Mongol dan kemudian Cin Hai dibawa menghadap pada Yagali Khan.

Cin Hai kagum melihat keangkeran tempat itu, karena selain pengawal dan perajurit berbaris rapi dengan golok besar di tangan sambil berdiri tegak, juga para perwira yang menyambutnya rata-rata bertubuh tinggi besar dan kelihatan gagah sekali. Dan ketika ia tiba di ruang di mana Yagali Khan duduk di atas sebuah kursi indah ia melihat bahwa di dekat raja muda ini duduk pula tiga orang panglima besar, seorang di antaranya bukan lain adalah Balaki sendiri! Orang ke dua adalah seorang tua berrambut putih panjang yang terurai di pundak sedangkan pakaiannya mengingatkan ia kepada Pangeran Vayami, jubah merah yang indah. Orang ke tiga pendek gemuk setengah tua, juga berpakaian merah hingga dapat diduga bahwa kedua orang ini tentulah pendeta-pendeta Sakia Buddha atau pendeta Agama Buddha Merah seperti halnya Pangeran Vayami. Sikap ketiga orang yang duduk di dekat Yagali Khan ini nampak angker dan mereka tidak bergetar bagaikan patung. Akan tetapi dari mata mereka memancarkan sinar berapi ditujukan kepada Cin Hai yang masuk dengan tindakan kaki gagah dan tenang.

Melihat bahwa orang yang pernah mengalahkan Balaki adalah seorang pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tahun, bukan main herannya Yagali Khan. Ia menyambut kedatangan Cin Hai dengan dingin dan tidak berdiri dari tempat duduknya, hanya berkata dengan suara nyaring dan dalam bahasa Han yang cukup fasih.

“Tuankah utusan kaisar?”

“Betul, Yagali Khan, akulah yang mendapat kehormatan untuk menjadi utusan kaisar,” jawab Cin Hai dengan tenang dan ia sama sekali tidak mau memberikan hormat karena melihat sikap mereka demikian dingin. Dari saku bajunya ia mengeluarkan surat kaisar yang ditujukan kepada Raja Muda Yagali Khan dan memberikannya kepada raja muda Mongol itu. Baik Yagali Khan sendiri maupun ketiga panglima besar yang duduk di sampingnya, merasa penasaran dan heran atas sikap dingin dan keberanian Cin Hai.

“Anak muda, kau berani dan tinggi hati. Apakah ini terdorong oleh sifatmu yang sombong dan karena kau mengandalkan ilmu kepandaianmu?” tanya pula Yagali Khan sambil menerima surat itu.

“Tidak demikian, Yagali Khan. Aku adalah seorang utusan dan pada saat ini aku boleh dibilang sebagai wakil kaisar yang memerintahkan datang memberikan surat dan mengadakan perundingan dengan kau. Maka sesuai pula dengan kebesaran kaisar negaraku, aku pun tidak boleh merendahkan diri di hadapan seorang raja muda asing, apa lagi karena aku berada di atas tanah sendiri sedangkan kau dan barisanmu merupakan tamu-tamu belaka.”

Jawaban ini diucapkan dengan tenang dan tabah hingga Yagali Khan merasa makin heran dan kagum.

“Anak muda, kalau aku menggerakkan seluruh perwira dan pasukanku, apa kaukira kau yang hanya seorang diri ini, betapapun tinggi kepandaianmu, akan dapat membela diri dan pulang dengan selamat?”

“Aku tidak takut karena hal seperti itu tak mungkin terjadi,” jawab Cin Hai.

“Mengapa kau bisa berkata demikian? Dengan hanya mengangkat tangan kananku, ribuan perajurit akan menyerbu dan menghancurkan tubuhmu dengan golok dan pedang.”

“Sekali lagi aku yakin bahwa hal ini tak mungkin terjadi. Pertama karena aku adalah seorang utusan dan negara mana pun di dunia ini takkan mengganggu seorang utusan kaisar! Ke dua kalinya, kalau kau melanggar aturan ini dan mengerahkan perajurit untuk mongeroyokku, aku akan melawan mati-matian dan sebelum aku mati, tentu aku akan berhasil merobohkan ratusan orang-orangmu hingga mati pun takkan rugi. Ke tiga kalinya, kalau kau melakukan pelanggaran ini, nama Yagali Khan akan tenggelam ke dalam lumpur kehinaan hingga andaikata kelak kau bisa menjadi seorang raja yang bagaimana pun besarnya, namamu akan tetap dipandang rendah sebagai seorang raja yang curang dan tidak tahu akan kesopanan negara.”

Tertegun semua yang hadir di situ mendengar jawaban yang berani sekali akan tetapi tepat ini. Wajah Yagali Khan berubah merah dan kalau saja yang mengucapkan kata-kata ini bukan seorang utusan kaisar tentu ia akan mencabut pedangnya dan memenggal kepala orang itu dengan tangannya sendiri. Ia hanya mengeluarkan suara “hm, hm” kemudian setelah menatap wajah Cin Hai yang membalas pandangannya dengan tenang dan mulut tersenyum, lalu ia membuka surat kaisar itu.

Sebagai seorang utusan, Cin Hai telah diberi tahu oleh komandan pasukan kerajaan tentang isi surat agar ia dapat mengetahui baik-baik akan tugasnya. Isi surat itu adalah bujukan halus yang mengandung ancaman agar Yagali Khan suka insyaf dan tidak menanam permusuhan dan mengacau daerah Tiongkok, karena ini hanya akan mengakibatkan kehancurannya dan kerusakan kedua belah pihak.

Setelah membaca surat itu, Yagali Khan memandang kepada Cin Hai dan berkata, “Hm, kaisarmu ini sama dengan kau, sombong dan mengagulkan diri! Apakah yang kalian andalkan? Kami mempunyai pasukan yang besar jumlahnya dan kuat, senjata kami lengkap dan perwira-perwira kami berkepandaian tinggi! Jangan kau menjadi sombong setelah berhasil mengalahkan seorang di antara perwira kami. Apakah kaisarmu itu menjadi sombong karena mengandalkan kau?”

Cin Hai tersenyum. “Yagali Khan, jangan kau memandang rendah Negara Tiongkok! Betapapun besar jumlah barisanmu, dibandingkan dengan barisan dan rakyat Tiongkok, belum ada seperseratusnya! Tentang senjata dan kekuatan kami pun tidak akan kalah. Adapun tentang orang pandai, kami tidak kekurangan. Ketahuilah, bahwa baru aku saja yang hanya menjadi utusan biasa dan bukan seorang panglima, aku tidak gentar menghadapi perwiramu yang manapun juga! Apalagi panglima kami yang gagah perkasa dan ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaianku! Dan panglima-panglima yang gagah perkasa di pihak kami bukan hanya ratusan atau ribuan jumlahnya, bahkan ada laksaan! Sia-sia saja kalau kau hendak menyerbu ke negara kami. Lagi pula, apakah perlunya? Kau dan kami adalah tetangga yang harus mengadakan perhubungan baik. Apakah kau belum mendengar betapa para Lama di Tibet juga telah mengadakan hubungan baik dan damai dengan kami? Padahal mereka itu kuat sekali, lebih kuat daripada barisanmu. Oleh karena inilah, dan demi menjaga keamanan rakyat, kaisar kami minta kepadamu untuk menggunakan kebijaksanaan dan kembali pulang dengan damai.”

Ucapan Cin Hai ini sebetulnya bukan omong kosong, oleh karena negeri mana di dunia ini yang memiliki rakyat lebih banyak daripada Tiongkok? Adapun tentang kepandaian, Cin Hai maklum bahwa banyak sekali orang-orang pandai di negaranya, maka biarpun agak berlebihan ketika ia mengatakan bahwa masih banyak sekali orang-orang yang jauh lebih pandai darinya, akan tetapi ada benarnya juga. Para perwira yang mendengar ucapan ini diam-diam merasa gentar juga, bahkan Yagali Khan sendiri juga merasa ngeri. Akan tetapi ia tidak mau menyatakan ini, bahkan lalu berkata,

“Anak muda, jangan kaukira aku merasa takut mendengar ocehanmu itu! Dan tentang kesombonganmu yang sanggup dan berani menghadapi setiap perwira kami, baikiah kaubuktikan! Kami bukan hendak mencelakakan seorang utusan karena kami bukanlah orang rendah seperti yang orang kira, akan tetapi kami mengajak kau secara terang-terangan untuk mengadu kepandaian. Kalau kau dapat merobohkan seorang jago yang kutunjuk, biarlah kami anggap bicaramu tadi tidak bohong belaka dan kami akan menarik mundur pasukan-pasukan kami!”

Cin Hai maklum bahwa sekarang terletak penuh di atas kedua pundaknya untuk menentukan apakah bujukan kaisar ini berhasil atau tidak. Kalau ia bisa merobohkan jago yang ditunjuk oleh Yagali Khan, mereka tentu akan merasa juga menghadapi perwira-perwira yang ia sombongkan memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya. Akan tetapi kalau ia sampai kalah, tidak saja jiwanya terancam, akan tetapi juga kata-katanya tadi akan dianggap bohong dan raja muda itu tentu akan melanjutkan serbuannya! Ia menganggap bahwa perlu sekali raja muda ini diberi bukti akan kelihaiannya agar dapat tunduk. Maka ia menjawab sambil tersenyum tenang,

“Boleh, boleh, Yagali Khan. Apakah kau akan mengajukan Balaki?”

Merah wajah Balaki mendengar ini dan ia memandang kepada Cin Hai dengan mata melotot. “Biarkan hamba mengadu jiwa dengan orang ini!” katanya kepada Yagali Khan, akan tetapi raja muda itu sambil tersenyum lalu berkata,

“Bukan kau lawannya, Balaki.” Lalu ia menyuruh pendeta Jubah Merah yang rambutnya putih itu dalam bahasa Mongol. Pendeta itu tersenyum, berdiri lalu membongkokkan tubuhnya dalam-dalam di depan junjungannya, kemudian ia menghampiri Cin Hai yang sudah siap.

“Anak muda,” katanya dengan suara yang halus dan dalam bahasa Han yang kaku, “siapakah namamu? Aku tidak biasa menewaskan seorang tanpa mengenal namanya.”

Biarpun kata-kata ini diucapkan dengan suara halus, namun mengandung pandangan yang merendahkan sekali. Cin Hai tertawa dan menjawab,

“Agaknya kau telah yakin benar bahwa aku pasti akan tewas di dalam tanganmu! Namaku adalah Sie Cin Hai atau kau boleh saja sebut aku sebagai Pendekar Bodoh karena nama inilah yang dikenal oleh orang-orang yang menjadi lawanku. Pakaianmu mengingatkan aku akan Pangeran Vayami. Agaknya kau sepaham dengan dia.”

“Vayami bukan apa-apaku, jangan kau ngaco! Aku adalah pendeta tinggi dari Sakia Buddha dan disebut Thai Kek Losu. Anak muda, apakah benar kau berani menerima tantangan ini? Ketahuilah, bahwa sekali Thai Kek Losu turun tangan, biasanya pasti akan ada orang melepaskan nyawanya!”

“Thai Kek Losu, seorang laki-laki kalau sudah mengeluarkan kata-kata, biar sampai mati pun takkan menelan kembali kata-kata itu. Aku telah menerima tantangan ini dan tentu saja akan kuhadapi sampai akhir. Adapun tentang mati, siapakah orangnya yang akhirnya takkan mati? Hanya bedanya, ada orang mati seperti harimau dan ada pula yang mati seperti babi. Dan aku memilih yang pertama itu! Kau majulah!”

Oleh karena maklum bahwa lawan ini tak boleh dipandang ringan maka Cin Hai lalu mencabut Liong-coan-kiam dari pinggangnya, dan melintangkan pedang itu di dadanya. Thai Kek Losu tertawa bergelak mendengar kata-kata Cin Hai itu. “Pendekar Bodoh, tidak tahunya kau mempunyai semangat dan kegagahan juga! Bagus, bagus, kau hadapi senjataku ini yang akan membebaskan jiwamu dari pada penderitaan hidup!”

Sambil berkata demikian, pendeta rambut putih ini lalu mengeluarkan sebuah tengkorak dari dalam bajunya yang lebar. Tengkorak ini mungkin tengkorak anak-anak, karena kecil saja dan pada leher tengkorak itu dipasangi rantai berwarna kuning yang panjangnya kurang lebih lima kaki. Dengan memegang ujung rantai itu, maka tengkorak yang mengerikan ini menjadi senjata yang luar biasa sekali, senjata rantai yang berujung tengkorak!

Cin Hai merasa terkejut juga melihat senjata ini karena selama hidupnya belum pernah ia melihat senjata macam ini, maka ia berlaku waspada dan tidak mau menyerang lebih dulu. Melihat keraguan Cin Hai, Thai Kek Losu lalu melangkah maju sambil mengayunkan rantainya. Tengkorak kecil itu melayang dan menyambar ke arah muka Cin Hai, seakan-akan hendak menciumnya! Cin Hai bergidik karena ngeri, maka ia cepat-cepat menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang secara aneh sekali tergoncang ketika melihat tengkorak itu dan ia lalu melompat ke samping. Ia dapat menduga bahwa senjata aneh ini tentulah mengandung kekuatan hoatsut (sihir) yang dapat membuat lawan terkejut, ngeri dan lemah semangatnya, maka ia segera menggerak-gerakkan tangan kirinya yang tidak memegang senjata itu untuk memainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut atau Ilmu Sihir Awan Putih! Beberapa kali ia menggerakkan lengan kiri dan mengerahkan semangat dan tenaga lweekang hingga dari lengannya yang kiri mengepul uap putih! Kembali tengkorak itu menyambar ke arah kepalanya dan cepat sekali Cin Hai lalu membacok tengkorak itu dengan pedangnya. Akan tetapi, segera ia tarik kembali pedangnya dan melompat lagi untuk mengelakkan diri. Entah bagaimana, ia merasa tidak tega untuk membacok dan memecahkan tengkorak itu yang tiba-tiba nampak seakan-akan menjadi kepala seorang anak-anak yang masih utuh, lengkap dengan mata, rambut, dan hidung serta mulutnya!”

Memang senjata di tangan Thai Kek Losu ini bukan senjata biasa. Sebelum tengkorak itu diikat dengan rantai, telah ditapai dan dimasuki ilmu sihir. Hendaknya diketahui bahwa kepala itu diambil dari kepala seorang anak yang masih hidup, yang dikorbankan secara kejam dan tak mengenal perikemanusiaan oleh pendeta itu! Khasiat senjata ini ialah dapat menyihir lawan dan membuat lawan selain serasa pusing dan gentar, juga apa bila lawan hendak melawan dengan sungguh-sungguh, maka tengkorak itu akan nampak seperti masih hidup dan lengkap merupakan kepala seorang anak kecil yang menangis!

Oleh karena maklum akan kelihaian senjata ini, Cin Hai lalu menyabarkan diri dan hanya memperhatikan gerak lawannya saja. Ia mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dari setiap serangan dan setelah ia memperhatikan serangan lawan, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kakek ini benar-benar lihai serta tenaga lwekangnya belum tentu kalah olehnya! Akan tetapi dengan kepandaian dan pengertiannya tenang pokok-pokok dasar segala macam gerak dan serangan lawan Cin Hai sebetulnya tak perlu merasa gentar. Hanya senjata hebat itulah yang membuatnya ragu-ragu dan ngeri. Baiknya ia telah mainkan Pek-in-hoatsut dengan tangan kirinya hingga sebagian besar hawa siluman yang merupakan daya sihir itu telah dapat ditolak sebagian. Namun ternyata bahwa kekuatan sihir atau ilmu hitam dari Thai Kek Losu kuat sekali. Biarpun kini Cin Hai tidak merasa gentar lagi akan tetapi tetap ia tidak tega untuk membacok kepala atau tengkorak itu.

Cin Hai lalu mengeluarkan Ilmu Pedang Daun Bambu dan setelah ia membalasnya dengan serangan-serangan yang amat lihai itu, Thai Kek Losu baru merasa terkejut. Ilmu pedang lawannya yang muda ini memang luar biasa. Tadi ketika ia melihat bahwa Cin Hai tidak terpengaruh oleh daya sihir senjatanya dan lengan kiri pemuda itu begerak-gerak menurut garis Pat-kwa hingga dapat menolak daya sihir, ia telah merasa kagum dan maklum bahwa ia menghadapi murid seorang sakti. Akan tetapi ia maklum bahwa pemuda itu masih belum mampu menolak daya sihir yang membuat ia tidak tega membacok tengkorak itu dan diam-diam ia merasa girang oleh karena dengan ilmu silatnya yang tinggi, tentu ia akan dapat mendesak dan akhirnya mengalahkan lawannya ini. Tak usah banyak-banyak, sekali saja muka atau kepala lawannya dapat tercium oleh mulut tengkorak itu, pasti ia akan roboh dan tewas. Kini setelah Cin Hai mengeluarkan Ilmu Silat Daun Bambu, baru ia terkejut sekali karena gerakan anak muda itu membuat ia terpaksa mencurahkan sebagian perhatiannya untuk menjaga diri. Serangan-serangan ujung pedang Liong coan-kiam sungguh hebat dan sukar diduga, sedangkan untuk melukai kepala lawannya dengan tengkoraknya, bukanlah merupakan hal yang mudah karena pemuda itu memiliki kegesitan yang jauh lebih tinggi daripada kepandaian ginkangnya sendiri.

Untuk dapat mempercepat kemenangannya, Thai Kek Losu lalu merogoh saku jubah dengan tangan kirinya dan ketika tangan kirinya itu bergerak, maka menyambarlah tujuh batang jarum hitam ke arah jalan darah di seluruh tubuh Cin Hai, antaranya dua batang menuju matanya. Inilah Hek-kang-ciam atau Jarum Baja Hitam yang cepat sekali lajunya karena biarpun kecil akan tetapi berat sekali. Cin Hai dengan tenang memutar pedangnya dan aneh sekali! Semua jarum itu menempel pada Pedang Liong-coan-kiam dan melengket di situ, kemudian sambil berseru keras, ketika Cin Hai menggerakkan pedangnya, semua jarum itu menyambar kembali ke arah tuannya. Thai Kek Losu merasa terkejut sekali dan cepat ia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarumnya sendiri! Sebetulnya tidak aneh, oleh karena Liong-coan-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang mengandung daya penarik sembrani hingga jarum-jarum kecil itu melengket dengan mudah. Kemudian sambil mengerahkan lweekangnya, pemuda itu dapat membuat jarum-jarum yang menempel itu terlepas dan melayang ke arah lawannya.

Kemudian tangan kiri Thai Kek Losu bergerak dan kali ini Cin Hai hanya mengelak oleh karena yang menyambar hanya tiga batang jarum saja, akan tetapi kesempatan itu digunakan oleh Thai Kek Losu untuk menghantamkan tengkoraknya ke arah batok kepala Cin Hai. Serangan ini tiba-tiba datangnya dan selain tak terduga oleh karena perhatian Cin Hai tercurah kepada jarum-jarum itu juga cepat sekali hingga tanpa terasa pula Cin Hai menangkis dengan pedangnya. Terdengar suara keras ketika tengkorak itu mencium pedang dan tiba-tiba dari muka tengkorak itu menyambar keluar tujuh batang jarum-jarum yang kehijau-hijauan dan berbau amis karena mengandung racun. Inilah kelihaian tengkorak itu yang sengaja diserangkan dengan tiba-tiba agar ditangkis oleh lawannya. Dari kedua lubang hidung keluar empat batang jarum, sedangkan dari mulut tengkorak itu keluar tiga batang. Semua jarum ini menyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan cepat sekali.

Kali ini Cin Hai benar-benar terkejut karena sama sekali tak pernah menduga akan hal ini. Ia cepat melempar tubuh ke belakang hingga seperti jatuh terjengkang dan ini pun hampir saja tak dapat menolongnya karena jarum-jarum itu lewat dekat sekali dengan kulit mukanya, hingga hidungnya mencium bau yang luar biasa amis dan busuknya.

Setelah pengalaman ini, Cin Hai menjadi marah sekali, sebaliknya Thai Kek Losu menjadi kecewa dan gentar. Memang tipu tadi adalah tipu terakhir yang disengaja karena ia pasti akan dapat merobohkan lawannya. Tidak tahunya, anak muda itu benar-benar hebat sekali hingga pada saat dan keadaan yang agaknya tak mungkin dapat melepaskan diri dari bahaya maut itu, Cin Hai masih dapat mengelaknya. Ia merasa rugi oleh karena tipu itu tidak berhasil, maka Cin Hai takkan merasa tidak tega lagi kepada tengkorak itu oleh karena ketika pedangnya membentur tengkorak, ternyata tengkorak itu tidak pecah. Sekaligus pengalaman ini membuat hati pemuda itu menjadi tetap dan rasa kasihan serta tidak tega terhadap tengkorak itu menjadi lenyap, bahkan terganti rasa benci oleh karena ternyata bahwa tengkorak kecil yang dikasihinya tadi mengandung senjata maut yang hampir saja menewaskannya. Kini Cin Hai menerjang maju sambil memutar-mutar pedangnya dan mengeluarkan gerakan dan jurus-jurus Ilmu Pedang Daun Bambu yang paling hebat, hingga Thai Lek Losu terdesak mundur tanpa dapat membalas.

Pada saat yang baik, Cin Hai menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Thai Kek Losu melalui sinar rantai musuh dengan gerakan miring. Thai Kek Losu mencoba untuk menghindarkan serangan ini dengan mengadu jiwa, yakni ia membarengi untuk memukulkan tengkoraknya pada muka Cin Hai. Dua senjata itu menyerang dengan cepat dalam waktu hampir bersamaan, dan kalau sekiranya kedua orang itu tidak mau menarik kembali serangan mereka, tentu kedua-duanya akan tewas. Akan tetapi, tentu saja Cin Hai tidak sudi mengadu jiwanya. Ia maklum bahwa tengkorak itu berbahaya sekali dan mengandung racun hebat dan sekali saja ia kena cium mulut tengkorak yang kebiru-biruan itu, ia akan mengalami bencana besar. Secepat kilat gerakan pedangnya yang memang mudah berubah-ubah itu, ia balikkan dan kini pedang itu menyambar ke arah rantai. Sebelum tengkorak mengenai mukanya, pedang Liong-coan-kiam dengan dorongan tenaga lweekang sepenuhnya telah berhasil menebas putus rantai itu hingga tengkorak yang berada di ujung rantai terpental jauh dan menggelinding bagaikan bal. Dan pada saat itu juga, kaki kiri Cin Hai dengan cepat melayang dan mendupak dada Thai Kek Losu yang terpental pula seperti tengkorak tadi dan kebetulan sekali ia jatuh ke arah tempat duduk Balaki. Balaki tidak berani menyambut tubuh Thai Kek Losu, hanya cepat sekali tubuhnya melayang pergi dari kursinya dan pada lain saat, tubuh Thai Kek Losu telah jatuh di atas kursi itu dan duduk dengan muka pucat.

“Yagali Khan, kuharap saja sebagai seorang raja besar, kau suka pegang teguh ucapanmu!” kata Cin Hai yang lalu bertindak pergi keluar dari situ dengan langkah tenang.

Yagali Khan mengertak giginya, jagonya yang nomor satu telah dikalahkan oleh seorang utusan atau pembawa surat saja, apalagi kalau menghadapi panglima besar kaisar!

“Pendekar Bodoh, kami akan pegang janji, akan tetapi lain waktu kalau kami mengundangmu, harap kau tidak menolak karena takut!” teriaknya, akan tetapi Cin Hai pura-pura tidak mendengarnya dan mempercepat langkahnya, oleh karena ia tidak mau mengikat dirinya dengan perjanjian macam itu yang hanya akan memperbesar permusuhan belaka. Dan pula, entah mengapa, ia merasa kepalanya pening sekali dan selalu seperti hendak muntah.

Karena kepeningan kepalanya, maka Cin Hai telah mengambil jalan keliru dan ia tersesat jalan tanpa ia sadari. Pada suatu jalan simpang tiga, seharusnya ia membelok ke kiri, akan tetapi sebaliknya ia membelok ke kanan. Kepalanya makin pening dan kedua kakinya gemetar, akan tetapi ia berlari terus secepatnya.

Ketika ia masuk dalam sebuah hutan yang liar dan terus berlari cepat, tiba-tiba ia mendengar suara harimau mengaum. Akan tetapi, berbeda dengan auman harimau biasa, auman ini luar biasa kerasnya hingga Cin Hai sendiri sampai tergetar jantungnya. Ia lalu menekan perasaan peningnya dan berlari menuju ke arah auman harimau itu karena setelah suara auman itu hilang gemanya, terdengar suara orang bersuara.

Setelah ia tiba di satu tempat terbuka, ia menyaksikan pemandangan yang aneh dan mengagumkan. Dua orang laki-laki, yang seorang sudah tua dengan rambut dan jenggot putih, yang ke dua setengah tua, sedang tertawa-tawa dan mempermainkan seekor harimau yang luar biasa besar dan galaknya. Cin Hai melangkah mendekati dan menyaksikan sepak terjang kedua orang tua itu. Kakek jenggot putih itu berdiri berhadapan dengan harimau sambil mempermainkan mulutnya seakan-akan mengolok-oloknya. Orang ke dua berdiri di belakang harimau sambil bertolak pinggang. Sikap mereka ini seakan-akan bukan sedang menghadapi seekor harimau yang besar, akan tetapi seakan-akan dua orang anak-anak menghadapi seekor kucing yang jinak!

Tiba-tiba harimau itu menggerang keras dan melompat tinggi, menerkam kakek jenggot putih! Kakek itu diam saja tidak mengelak akan tetapi setelah harimau itu melayang dekat ia segera berseru dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke atas, melalui tubuh harimau dan sambil berjungkir balik di udara ia menjatuhkan diri pula menduduki punggung harimau!

“Heh, heh heh! Hayo menari…!” katanya menepuk-nepuk punggung harimau besar itu dengan kedua tangannya persis anak kecil naik kuda-kudaan!

“Ha, ha, Twako, jangan lepaskan dia, ha, ha!” Laki-laki setengah tua yang berjenggot hitam itu tertawa gembira dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah menyambar ke arah harimau yang sedang marah sekali itu. Harimau itu menggoyang-goyang tubuhnya membuka mulutnya lebar-lebar dan ekornya bergerak cepat dan tiba-tiba bagaikan sebatang toya, ekor yang panjang itu menyambar kepala kakek jenggot putih dari belakang. Cin Hai merasa terkejut akan tetapi tiba-tiba seakan-akan kepala kakek itu ada mata di belakangnya, kakek itu menundukkan kepalanya hingga sabetan ekor harimau mengenai tempat kosong.

Sementara itu, Si Jenggot Hitam yang telah melompat di dekat tubuh harimau, lalu mengulur tangan kanan dan menjiwir telinga harimau itu hingga binatang liar ini menggerung-gerung kesakitan.

Ketika ekor harimau itu menyabet kembali, dengan mudah Si Jenggot Hitam menangkap ekor tadi dan menahannya di belakang hingga harimau yang hendak lari ke depan itu tertahan dan tak dapat bergerak.

“Hayo, menyerah tidak kau!” kata kakek jenggot putih sambil menggenjot-enjot tubuhnya di punggung harimau.

Binatang itu hendak menggulingkan diri dan mencakar kakek itu, akan tetapi ia merasa betapa tubuh kakek itu bukan main beratnya hingga ia tidak kuat berdiri lagi dan perutnya menempel pada tanah.

Cin Hai melihat dengan kagum dan heran akan kelihaian dan kegesitan kedua orang itu, dan pada saat itu, ia mendengar suara keras berbunyi di udara, dan ketika ia memandang, ternyata di udara sedang terjadi pertempuran yang lebih aneh lagi. Seekor burung bangau besar sedang bertempur dengan ramainya melawan seekor burung rajawali. Rajawali itu menyambar-nyambar dengan ganasnya akan tetapi dengan patuknya yang runcing dan panjang bagaikan dua batang pedang itu, burung bangau mempertahankan diri dengan baiknya.

Ketika dua orang laki-laki itu menengok ke atas karena tertarik oleh suara burung-burung yang sedang berkelahi, mereka juga terkejut sekali.

“Kau mendekamlah!’ seru kakek jenggot putih sambil menepuk dan menotok urat di punggung harimau dan aneh sekali, harimau itu tiba-tiba menjadi lemas dan mendekam tanpa berdaya lagi. Ternyata bahwa kakek itu tahu jalan-jalan darah binatang itu hingga dapat mengirim tiam-hwat (totokan) dengan tepat sekali. Adapun Si jenggot Hitam segera memandang ke atas dan berseru keras,

“Ang-siang-kiam, kau turunlah!!” Kemudian ia mengeluarkan suara bersuit yang keras sekali. Burung bangau itu diberi nama Ang-siang-kiam atau Sepasang Pedang Merah oleh karena patuknya memang berwarna merah dan panjang seperti sepasang pedang.

Mendengar suitan ini, bangau itu segera meluncur turun dengan cepat dan di belakangnya, rajawali itu menyambar pula mengejar.

“Rajawali keparat!” Si Jenggot Hitam itu memaki dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan sebatang pelor putih yang bulat meluncur cepat ke arah dada rajawali yang mengejar bangau itu. Akan tetapi, rajawali ini gesit sekali dan sebelum pelor mengenai dadanya, ia telah mengelak ke kiri. Sebutir pelor putih lain menyusul dan mengarah lehernya. Rajawali itu segera mengebutkan sayapnya dan pelor kena terpukul jatuh!

Melihat kelihaian rajawali itu, kedua orang laki-laki itu menjadi terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan, sedangkan Cin Hai yang juga memandang dengan perhatian lalu teringat akan rajawali yang dulu pernah bertanding melawan Ang I Niocu di atas perahu. Banyak persamaannya antara kedua burung rajawali itu.

Sementara itu, burung bangau yang diberi nama Ang-siang-kiam itu telah turun di atas tanah dan kini berdiri di dekat kakek jenggot hitam. Tubuh burung bangau itu tinggi sekali hingga merupakan seekor burung bangau yang langka terdapat. Adapun rajawali tadi karena tahu akan kelihaian dua orang manusia yang berada di bawah, lalu hanya terbang berputaran sambil mengeluarkan pekik menantang tanpa berani turun ke bawah.

Pada saat itu terdengar bentakan halus, “Sin-kim-tiauw, jangan kurang ajar!” Mendengar suara ini, rajawali tadi lalu melayang turun dan Cin Hai menjadi girang dan juga terkejut sekali oleh karena ia mengenal suara ini sebagai suara gurunya, Bu Pun Su!

Benar saja, ketika kedua orang laki-laki itu pun memandang, dari sebuah tikungan, muncullah seorang kakek tua sekali yang berpakaian penuh tambalan hingga merupakan seorang jembel tua. Rajawali emas tadi telah turun dan kini berjalan di belakang kakek itu bagaikan seekor anjing yang jinak sekali.

“Suhu!” Cin Hai berseru dan segera berlari dan menghampiri, akan tetapi hampir saja ia roboh terguling karena kepalanya terasa pening sekali ketika ia berlari itu. Untung ia masih dapat menetapkan kaki dan segera berlutut.

“Cin Hai, lekas kaududuk dan kumpulkan semangat bersihkan napas!” terdengar kakek itu berseru setelah memandang wajah muridnya. Kakek sakti ini sekali pandang saja tahu bahwa muridnya ini telah terkena hawa beracun yang berbahaya sekali. Cin Hai biarpun merasa heran, segera menurut dan taat akan perintah gurunya itu. Ia segera duduk bersila, meramkan mata dan merangkapkan kedua tangan di depan dada. Tiba-tiba ia merasa betapa telapak tangan suhunya yang halus itu memegang tangannya dan dari telapak tangan suhunya mengalirlah hawa yang luar biasa hangat dan kuat melalui telapak tangannya sendiri dan terus membantu hawa kekuatan tubuhnya sendiri. Oleh karena ini, ia merasa betapa hawa tenaga di dalam tubuhnya menjadi berlipat ganda dan kini ia gunakan hawa itu diputar-putar ke seluruh tubuh karena tidak tahu akan maksud suhunya.

“Penuhkan di dada, bersihkan paru-paru dan usir hawa racun yang tadi masuk dari lubang hidungmu!” kakek itu berbisik perlahan.

Cin Hai diam-diam merasa terkejut dari teringatlah ia akan pertempurannya melawan Thai Kek Losu tadi. Jarum-jarum berbisa yang lihai dan yang keluar dari tengkorak Pendeta Sakia Buddha itu hampir saja tadi mengenainya dan menyambar dekat sekali di depan hidungnya hingga ia mencium bau yang amis dan busuk! Bukan main jahatnya jarum-jarum berbisa itu. Baru baunya telah mempengaruhinya, apalagi kalau sampai terluka oleh jarum itu! Cin Hai segera mengerahkan hawa di dalam tubuh itu di dikumpulkan di dada, mendesak keluar segala kekotoran yang terbawa masuk oleh pernapasan ke dalam paru-paru, hingga ketika ia mendesak hawa itu keluar hidungnya, kembali ia mencium bau yahg amis dan busuk itu! Ternyata bahwa bau yang amis dari senjata tadi telah mengeram di dalam paru-parunya. Bukan main berbahaya dan jahatnya!

Sementara itu, kedua orang penakluk harimau tadi berdiri dengan heran dan kagum ketika melihat cara guru itu menyembuhkan muridnya. Mereka maklum bahwa kakek jembel itu tentu lihai sekali, maka mereka tidak berani mengganggu dan hanya berdiri memandang. Tak lama kemudian, Bu Pun Su melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Cin Hai dan ia berdiri kembali.

“Sudah, sudah bersih…” katanya, Cin Hai membuka kedua matanya dan segera berlutut.

“Senjata siapakah yang hampir mencelakaimu tadi, Cin Hai?”

Cin Hai lalu menceritakan tentang pengalamannya, betapa ia menjadi utusan kaisar, menyampaikan surat kepada Yagali Khan dan betapa ia mengadu kepandaian dengan Thai Kek Losu dan berhasil mengalahkannya tanpa menyadari bahwa ia telah hampir mendapat celaka karena senjata rahasia yang hebat dari pendeta itu.

Bu Pun Su mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus, bagus memang itu sudah menjadi tugasmu…”

Kedua orang pemilik burung bangau tadi ketika mendengar cerita ini, segera menghampiri dan menjura dengan sikap hormat sekali.

“Ah, tidak mengira bahwa kami berdua mendapat kehormatan besar sekali untuk bertemu dengan seorang patriot yang gagah perkasa dan suhunya yang sakti. Mohon tanya, siapakah Locianpwe ini dan siapa pula muridmu yang gagah perkasa?” tanya kakek jenggot putih itu sambil menjura kepada Bu Pun Su yang jauh lebih tua darinya.

Bu Pun Su tidak membalas pemberian hormat itu, sebagaimana biasa ia memang tidak menyukai segala penghormatan, lalu menjawab seakan-akan mereka telah lama menjadi kawan baik saja,

“Burung bangaumu itu hebat sekali. Bukankah kau yang bernama Sie Lok dan yang disebut Si Pemelihara Harimau?”

Kakek jenggot putih itu nampak tercengang. “Eh, sungguh heran! Locianpwe benar-benar berpemandangan tajam. Memang nama siauwte Sie Lok dan ini adalah adikku Sie Kiong. Kami berdua saudara memang tukang memelihara harimau. Bolehkah kami mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

“Siapakah aku ini? Ah, aku sendiri sudah hampir lupa siapa namaku. Kalian tanya saja kepada muridku ini!” jawabnya tak acuh sambil mendekati burung bangau dan memeriksa seluruh bulu dan tubuh burung itu dengan penuh perhatian dan tertarik sekali. Berkali-kali ia menganggukkan kepala dan berkata, “Bagus, bagus” seakan-akan seorang ahli barang antik sedang mengagumi sebuah benda kuno yang berharga dan menarik.

Cin Hai yang sudah tahu akan sifat aneh dari suhunya, merasa kurang enak terhadap kedua orang tua itu, maka ia segera menjura dengan hormat sambil berkata,

“Jiwi yang gagah, suhuku itu bernama Bu Pun Su dan siauwte sendiri bernama Sie Cin Hai.”

Kedua orang itu nampak terkejut karena mereka telah mendengar nama Bu Pun Su sebagai seorang kakek sakti yang luar biasa. Akan tetapi, agaknya mereka lebih tertarik mendengar nama Cin Hai karena kakek jenggot putih itu lalu melangkah maju dan bertanya, “Anak muda, wajahmu mengingatkan daku akan seseorang. Siapakah nama ayahmu dan siapa pula nama ibumu?”

Berdebarlah hati pemuda itu. Tadinya ia menyangka bahwa persamaan she dengan kedua orang itu hanya kebetulan saja, akan tetapi mendengar pertanyaan ini, timbul perasaan ganjil di dalam hatinya.

Sambil menggeleng kepala ia menjawab, “Siauwte tidak tahu, tidak tahu siapa nama ayah dan ibu…” sampai di sini ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena hatinya merasa terharu.

Tiba-tiba Bu Pun Su berkata dengan suara sambil lalu, “Eh, pemelihara harimau, apakah kau ketahui tentang seorang she Sie yang terbunuh mati sekeluarganya, karena dianggap pemberontak?”

Mendadak kedua orang itu menjadi pucat wajahnya dan memandang kepada Bu Pun Su dengan mata terbelalak. “Locianpwe… apa… apa maksud pertanyaanmu ini…?” Kedua orang itu teringat bahwa pemuda itu adalah utusan kaisar, maka tentu saja akan memusuhi orang-orang yang dianggap pemberontak.

Akan tetapi, Cin Hai yang mendengar pertanyaan suhunya ini dan yang melihat sikap kedua orang itu, tiba-tiba makin berdebarlah. “Lo-peh, tahukah kau tentang dia yang memberontak itu? Tahukah kau…? Katakanlah, Lo-peh!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: