Pendekar Bodoh ~ Jilid 25

Bukan main bingung hati Ma Hoa, karena tidak saja ia tidak tahu akan nasib Kwee An, bahkan kini ia tidak tahu pula bagaimana keadaan kawan-kawan lain dan di mana mereka sekarang berada. Maka ia lalu meninggalkan tempat itu dan setelah memeriksa tempat di mana ia dan Kwee An terjatuh dari tebing, ia lalu turun gunung dan mengambil keputusan hendak mencari Kwee An di sekitar gunung ini.

Setelah bermalam di dalam gua, pada keesokan harinya Kwee An terjaga dari tidurnya dengan tubuh terasa panas sekali. Ketika ia menggerakkan tubuhnya, ia menjadi terkejut karena seluruh tubuhnya terasa kaku dan sakit. Ternyata bahwa pukulan Angin Taufan dan kemudian kejatuhan itu mendatangkan akibat yang hebat juga. Ia menderita sakit dan agaknya keadaan gua yang kotor dan kekurangan hawa segar itu telah mendatangkan demam kepadanya! Terpaksa ia rebah di dalam gua itu dan selama tiga hari panas tubuhnya meningkat hingga ia rebah dalam keadaan sakit dan mengigau karena panasnya. Keadaannya berbahaya sekali karena selain tidak ada yang merawatnya, juga ia tidak dapat makan sesuatu. Akan tetapi, pada hari ke empat, panasnya mengurang dan ia dapat menggerakkan tubuhnya merangkak perlahan ke mulut gua. Ia melihat tetumbuhan kecil di mulut gua itu dan oleh karena ia merasa lapar sekali, ia mengambil daun-daun muda dan memakannya!

Demikianlah, ia hidup dengan sengsara sekali selama berbulan-bulan di dalam gua itu, hanya makan akar-akar pohon dan daun-daun yang berada di dekat gua. Setelah tubuhnya menjadi kuat kembali, barulah ia merayap-rayap dengan jalan mencari pegangan pada akar-akar pohon dan menginjak batu-batu karang yang menonjol, berdaya keluar dari tempat tahanan alam ini! Setelah ia dapat menginjak tanah datar lagi, ternyata bahwa tempat itu jauh berbeda dengan keadaan lereng gunung di mana Yousuf tinggal. Bagian bukit ini penuh dengan hutan-hutan liar dan tanpa ia sadari ia telah tiba di bagian utara gunung itu, sedangkan tempat tinggal Yousuf adalah di bagian selatan. Ia juga tidak ingat lagi bahwa ia telah berada di gua itu selama tiga bulan lebih!

Kwee An lalu memasuki sebuah hutan yang terdekat dan mencari buah-buah yang banyak tumbuh dari pohon-pohon besar di situ, dan makanlah ia sepuas dan sekenyangnya.

Akan tetapi, baru saja ia turun dari pohon, tiba-tiba dari hutan muncul serombongan orang yang segera datang mengurungnya sambil berteriak-teriak. Orang-orang ini berpakaian aneh, setengah pakaian Han dan setengah Mongol. Potongan tubuh den wajah mereka bagus dan tiada banyak bedanya dengan orang-orang Han biasa, akan tetapi bahasa mereka terdengar aneh dan mirip bahasa Mongol. Mereka ini adalah sekelompok sisa dari bangsa Haimi yang telah dipukul pecah dan diusir oleh bangsa Mongol. Orang-orang Haimi ini sebenarnya masih memiliki darah campuran, yaitu darah Han dan Mongol dan mereka mempunyai potongan muka yang boleh disebut tampan. Kwee An merasa terheran-heran melihat bahwa semua orang yang aneh ini mempunyai kumis yang bagus dan panjang dan dilingkarkan ke atas. Akan tetapi mereka semua mencukur habis jenggot mereka, bahkan yang sudah agak tua pun tidak memelihara jenggot, hanya memelihara kumis yang melintang di bawah hidung! Lebih aneh lagi, bahkan orang-orang setengah dewasa yang berada di antara mereka, juga memelihara kumis pula!

Rombongan orang berkumis melintang ini mengepung Kwee An sambil mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa mereka yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

“Apakah yang kalian kehendaki? Aku tidak mengerti,” kata Kwee An kepada mereka sambil tersenyum dan mengangkat pundak. Betapapun juga, ia melihat sikap mereka bukan seperti orang-orang liar yang hendak mencelakakan atau menyerangnya, maka hatinya menjadi lega.

Tiba-tiba seorang di antara mereka yang telah putih rambutnya, akan tetapi masih memiliki kumis yang hitam indah melintang di bawah hidungnya, maju menghampirinya dan bertanya dalam bahasa Han campuran yang kaku.

“Siapakah kau dan darimana kau datang?”

Kwee An merasa girang sekali. Ia cepat menjura memberi hormat kepada orang tua itu dan menjawab, “Sukur sekali kau bisa bicara bahasa Han, Lopek. Siauwte bernama Kwee An dan aku datang ke sini bukan disengaja, hanya kebetulan saja. Tempat apakah ini dan siapakah kalian ini?”

Dengan sukar sekali kakek ini menjawab. “Kami adalah bangsa Haimi yang mengikuti pemimpin kami dan sekarang tinggal di hutan ini. Telah bertahun-tahun kami tidak bertemu dengan orang Han, maka kami merasa heran sekali dapat bertemu dengan kau di sini.”

“Mengapa kalian mengurungku?” tanya Kwee An dengan hati tidak enak juga.

“Kau harus ikut kami menghadap kepada pemimpin kami di dalam hutan.”

Biarpun tidak merasa keberatan untuk bertemu dengan pemimpin orang-orang Haimi ini, akan tetapi Kwee An tidak senang juga karena ia seakan-akan hendak dipaksa dan dijadikan tawanan pula, apa perlunya ia harus menghadap pimpinan mereka? Adapun orang-orang yang mengelilinginya, terutama yang muda-muda, memandangnya seakan-akan ia adalah seorang yang lucu. Ia merasa betapa pandang mata mereka ini semua ditujukan kepada hidungnya hingga diam-diam Kwee An merasa heran dan beberapa kali ia menggunakan ujung lengan baju untuk menggosok-gosok hidungnya karena kuatir kalau-kalau tanpa disengaja ia telah mengotorkan hidungnya, ia tidak tahu bahwa para pemuda berkumis panjang itu memandangnya dengan tertawa-tawa karena geli melihat ia tidak berkumis sama sekali!

Bagi mereka, melihat seorang pria tidak berkumis sama dengan melihat harimau tak berkumis atau kera tak berbulu! Seorang di antara mereka, yang berwajah tampan dan mempunyai kumis kecil panjang melingkar ke atas sedangkan usianya paling banyak baru lima belas tahun, bahkan maju mendekatinya dan sambil menunjuk ke bawah hidung Kwee An, ia tertawa-tawa berkata dalam bahasanya. Semua orang tertawa mendengar ucapan pemuda tanggung ini dan biarpun tidak mengerti bahasa mereka, namun Kwee An dapat merasa, bahwa ia dijadikan bahan olok-olok.

“Tidak, aku tidak mau pergi menghadap pemimpinmu!” kata Kwee An yang merasa sebal dan marah juga.

Orang tua itu melangkah mundur dua tindak dan bicara dalam bahasanya sendiri, yang maksudnya memberi tahu kepada semua kawannya bahwa orang asing ini tidak mau menghadap kepala mereka. Tiba-tiba sikap orang-orang yang tadinya tertawa-tawa itu berubah. Mereka lalu mundur dan ketika tangan mereka bergerak, mereka semua telah mencabut golok kecil dengan tangan kiri dan melepaskan sebuah cambuk panjang dengan tangan kanan. Sikap mereka mengancam sekali.

“Eh, eh, apakah kalian hendak memaksaku?” tanya Kwee An kepada kakek tadi yang juga sudah mencabut keluar sebatang cambuk panjang berwarna merah dan sebuah golok kecil yang tajam sekali.

Kakek itu mengangguk. “Kalau kau tidak mau menghadap dengan suka rela, terpaksa kami akan memaksamu. Setiap orang yang lewat di sini, harus menghadap kepada pemimpin kami oleh karena daerah ini menjadi daerah kami dan berada di bawah kekuasaan kami! Jangan kau mencoba untuk melawan, anak muda, karena kau takkan keluar dari tempat ini dengan bernyawa kalau kau tidak menuruti permintaan kami!”

Tiba-tiba, anak muda belasan tahun yang tadi memperolok-oloknya, melompat maju ke hadapan Kwee An sambil memutar-mutar cambuknya ke atas. Cambuk itu berbunyi keras sekali, menyambar-nyambar di atas dengan ganasnya hingga diam-diam Kwee An menjadi terkejut dan juga kagum. Tak mudah menggerakkan cambuk seperti itu kalau tidak memiliki kepandaian dan tidak melatih diri dengan baik. Cambuk itu dapat merupakan senjata yang berbahaya!

“Siapakah anak ini dan apa kehendaknya?” tanya Kwee An kepada kakek itu. Orang tua itu berkata dengan suara dingin. “Dia adalah putera pemimpin kami yang merasa tidak puas melihat sikapmu. Ia menganggap kau tidak menghormat ayahnya maka sekarang ia menantang kau untuk mengadu cambuk!”

“Mengadu cambuk? Apa artinya itu?”

“Ini adalah semacam adu kepandaian yang menjadi tradisi bangsa kami. Orang yang mengadu kepandaian memegang cambuk di tangan kanan dan golok di tangan kiri. Yang boleh dipergunakan untuk menyerang hanyalah cambuk itu saja, sedangkan golok itu digunakan untuk mencoba membabat putus cambuk lawan. Siapa yang cambuknya dapat putus berarti kalah. Apabila keduanya dapat menjaga hingga cambuk masing-masing tidak terputus, maka siapa yang terbanyak mendapat luka cambukan, ia kalah.”

Kwee An mengangguk-angguk dan ia memandang kepada pemuda belasan tahun itu dengan kagum. Sikapnya memang gagah sekali, tubuhnya kuat, sepasang matanya menyinarkan keberanian besar, sedangkan kedua tengan yang memegang senjata itu nampak tetap dan sigap.

“Aku terima tantangannya,” kata Kwee An dengan wajah berseri karena ia ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian anak muda yang tampan itu. Ketika kakek itu memberi tahu bahwa Kwee An menerima tantangan pemuda itu, sikap mereka berubah lagi. Kalau tadi mereka bersungut-sungut dan marah, sekarang mereka bersorak dan bergembira, karena mereka memang menghargai kegagahan dan melihat bahwa Kwee An berani melawan pemuda yang menjadi jago di antara mereka itu, mereka merasa kagum! Segera mereka berpencar dan duduk di atas rumput mengelilingi mereka dan memberi tempat yang cukup luas untuk kedua orang yang hendak bertanding itu. Sedangkan kakek itu lalu memberi pinjarnan sebatang cambuk panjang dan sebuah golok kepada Kwee An.

Sebetulnya Kwee An tidak gentar untuk menghadapi pemuda tanggung itu dengan tangan kosong, akan tetapi oleh karena ia kuatir kalau-kalau dianggap memandang rendah, ia lalu menerima kedua senjata itu dan memegang di tangan dengan sembarangan saja. Tentu saja sikapnya ini menjadikan buah tertawaan lagi oleh karena bagi mereka, cara memegang kedua macam senjata itu saja sudah menunjukkan tingkat kepandaian pemegangnya. Menurut teori mereka, memegang cambuk itu harus di atas kepala dan selalu diayun-ayun dan diputar-putar, sedangkan tangan kiri yang memegang golok harus membalikkan golok itu dengan bagian yang tajam di atas agar mudah menangkis dan memutuskan cambuk lawan. Akan tetapi Kwee An memegang cambuk yang tergantung ke bawah, sedangkan goloknya ia pegang seperti orang memegang golok untuk bersilat.

Pemuda tanggung itu tiba-tiba berseru keras dan Kwee An maklum bahwa itu tentu tanda bahwa lawannya hendak mulai menyerang, maka dengan tenang dan waspada ia berdiri memasang kuda-kuda dan memandang tajam. Benar saja, cambuk pemuda itu tiba-tiba berbunyi keras dan berkelebat menyambar ke arah lehernya. Kwee An mengelak cepat sambil merendahkan tubuhnya, akan tetapi ternyata bahwa yang menyambar lehernya adalah bagian tengah cambuk itu, sedangkan ujungnya yang kecil lemas dan masih panjang itu tiba-tiba dapat bergerak ke arah dadanya. Inilah tenaga lweekang yang dapat menggerakkan cambuk itu pada ujungnya seakan-akan cambuk itu hidup. Melihat ini, Kwee An merasa kagum juga dan cepat ia mengelak lagi dengan lompatan cepat ke samping.

Ia terlepas dari pada serangan pertama dan semua orang yang duduk mengelilingi tempat itu dan menonton, mengeluarkan seruan-seruan karena mereka merasa heran, melihat cara Kwee An mempertahankan diri. Memang, mereka itu biasanya tidak mengandalkan kecepatan tubuh untuk mengelak dari serangan dan biasanya apabila diserang, mereka menggunakan golok di tangan kiri untuk menangkis dan mencoba memutuskan cambuk lawan, sedangkan cambuk sendiri harus segera dikerjakan untuk mengirim serangan balasan. Hingga ilmu cambuk mereka itu pada hakekatnya didasarkan atas kecepatan membalas serangan dan ketepatan menangkis dengan golok.

Gerakan Kwee An yang cepat itu membuat mereka terherah-heran, akan tetapi ketika pemuda itu menyerang terus bertubi-tubi hingga cambuknya menyambar-nyambar sambil memperdengarkan suara keras mengurung seluruh tubuh Kwee An, dan betapa Kwee An lalu mempergunakan ginkangnya berkelebat ke sana ke mari di antara sinar dan ujung cambuk, semua orang menjadi bengong karena tiba-tiba saja mereka tidak melihat lagi tubuh Kwee An dan hanya melihat bayangannya saja berkelebatan. Bahkan kakek tua itu pun tiada habisnya mengeluarkan seruan memuji.

Tiba-tiba pemuda tanggung itu menghentikan serangannya dan dengan muka merah karena penasaran dan marah, ia bicara dengan suara keras kepada Kwee An yang juga berdiri tenang. Kakek itu lalu berkata dari tempat duduknya, “Ia merasa penasaran karena kau tidak menggunakan cara bertanding yang biasa. Kau mempergunakan cara berkelahi terhadap musuh, sedangkan permainan ini sama sekali bukan berkelahi, hanya mengadu kepandaian. Sekarang kaupilih, hendak berkelahi mengadu jiwa atau hendak bertanding mengadu kepandaian? Kalau hendak bertanding, kau harus membalas dengan cara yang sama dan menyerang dengan cambukmu!”

Kwee An terkejut. Tanpa disengaja ia telah melukai perasaan pemuda tanggung itu, maka ia lalu berkata, “Baiklah, aku akan membalas dengan serangan cambuk. Aku akan merampas cambuk dari tangannya!”

Ketika kakek itu memberitahukan hal ini kepada pemuda itu, ia lalu tersenyum senang dan mulai menyerang lagi. Kini Kwee An tidak mau mempergunakan ginkangnya lagi, dan ketika cambuk lawan menyambar, ia pun lalu menggerakkan cambuk di tangannya dan menggerakkan tenaga lweekangnya hingga cambuknya lalu membelit cambuk lawan. Ketika ia berseru keras dan membetot, tak tertahan lagi pemuda tanggung itu berteriak kaget dan terlepaslah cambuk itu dari tangannya.

“Nah, aku menang, karena cambuknya telah dapat kurampas!” kata Kwee An kepada kakek itu yang duduk memandang cara tadi dengan mata terbelalak heran. Juga semua orang, termasuk pemuda tanggung itu, merasa heran sekali. Bagaimana cambuk dapat dipakai untuk merampas senjata demikian mudahnya? Akan tetapi, pemuda itu melangkah maju dan kembali mengeluarkan kata-kata keras dengan muka penasaran. Setelah ia habis berkata-kata, terdengar semua orang yang duduk mengelilingi mereka itu tertawa bergelak.

“Ada apa lagi?” tanya Kwee An kepada kakek yang menjadi juru bahasa itu. Kakek itu pun tersenyum geli mendengar kata-kata anak muda tadi. “Ia bilang bahwa laki-laki tanpa kumis memang seperti seorang perempuan yang berhati lemah. Ia menganggap kau tidak tahan melihat darah seperti seorang perempuan, dan karena kau tidak berkumis, maka tentu saja kau berhati curang dan mempergunakan ilmu sihir yang jahat untuk mengalahkannya. Ia tidak merasa kalah karena selain cambuknya tidak putus oleh golokmu, ia pun tidak mendapat luka satu pun dari cambukmu, ia menantangmu bertanding secara laki-laki, jangan seperti seorang perempuan!”

Merahlah muka Kwee An mendengar ini. Ia lalu melempar cambuk yang dirampasnya itu kepada pemuda tadi, dan setelah berseru keras, ia mulai menyerang dengan cambuknya yang disabetkan ke arah pinggang pemuda itu! Pemuda itu berseru gembira dan mengangkat golok, dengan membabat keras dan cepat sekali dengan maksud memutuskan cambuk Kwee An yang berarti bahwa ia akan memperoleh kemenangan! Kwee An terkejut juga melihat gerakan golok itu oleh karena ternyata ketika menangkis pemuda tanggung itu mempergunakan gerakan silat golok Bidadari Memalang Pintu! Ia maklum bahwa sabetan golok itu berbahaya sekali bagi keselamatan cambuknya, maka ia menggerakkan tangannya dan cambuk memutar kembali lalu menyerampang kedua kaki pemuda itu dengan gerakan cepat oleh karena ia mengira bahwa pemuda itu tentu tidak memiliki ilmu ginkang hingga lemah pada pergerakan kaki dan kegesitannya. Akan tetapi ia kecele karena dengan cepat, pemuda itu melompat ke atas dan dari atas cambuknya menyambar ke arah kepala Kwee An! Kembali Kwee An terkejut. Gerakan melompat tadi adalah gerakan ilmu silat bernama Ikan Melompati Ombak!

Maka ia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi dan menerjang dengan cambuknya yang diputar cepat sekali mengurung tubuh itu! Pemuda tanggung itu makin gembira nampaknya dan melawan dengan hebat dan ternyata bagi Kwee An bahwa ilmu kepandaian bermain cambuk dari pemuda ini benar-benar lihai! Kini para penonton bersorak dengan gembira sekali, karena mereka kini menyaksikan pertandingan main cambuk yang benar-benar hebat dan ramai! Bahkan kakek tadi mengeluarkan sebuah huncwe (pipa tembakau) yang pendek, lalu mengepulkan asap dari huncwenya dan ia duduk menonton dengan asyiknya seakan-akan yang sedang berlangsung di depannya adalah pertunjukan yang amat indah menarik!

Betapapun pandai permainan cambuk anak muda itu, namun ia bukanlah lawan Kwee An yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Untuk menangkis tiap sabetan lawan, Kwee An tidak perlu menggunakan goloknya, karena cambuknya cukup digunakan untuk menangkis, sedangkan tiap kali pemuda itu menyabet cambuknya, dengan mengerahkan lweekangnya, Kwee An dapat membuat cambuknya menjadi lemas, licin kuat hingga ketika beradu dengan mata golok, cambuknya hanya terpental saja dan tak dapat diputuskan! Ia mulai mengirim cambukan dan mula-mula ia hanya mencambuk punggung pemuda itu saja. Bukan main herannya semua penonton ketika melihat betapa tiap kali Kwee An mengayun cambuk, selalu ujung cambuknya mengenai punggung lawannya! Juga pemuda tanggung itu merasa heran dan penasaran karena tidak ia sangka sama sekali bahwa pemuda asing tanpa kumis ini ternyata seorang jago cambuk yang luar biasa! Ia adalah seorang jago yang nomor satu di antara para pemuda dan telah lama dikagumi, tak nyana bahwa sekarang ia menjadi korban cambuk seorang pemuda tanpa kumis dan sama sekali tak dapat membalas! Maka ia menjadi marah dan penasaran sekali, lalu menyerang terus dengan nekad walaupun bajunya di bagian punggung telah robek semua oleh ujung cambuk Kwee An! Memang Kwee An tidak bermaksud melukai pemuda itu hingga tiap kali cambuknya mengenai sasaran, ia selalu menyimpan tenaga dan tidak membuat kulit lawan menjadi terluka, hanya merobek-robek bajunya saja.

Tadinya Kwee An bermaksud agar supaya pemuda itu menginsafi kelemahannya dan suka mengaku kalah, akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu bahkan mendesak makin nekad, ia menjadi penasaran juga. Ia mulai menambah tenaga pada ujung cambuknya dan pecahlah kulit punggung pemuda itu terkena ujung cambuk. Darah mengalir membasahi bajunya yang sudah sobek. Alangkah heran hati Kwee An ketika tiba-tiba semua orang bersorak melihat darah itu, seakan-akan menyaksikan peristiwa yang menggembirakan dan yang menambahkan keindahan pada pertandingan itu! Kwee An mengirim beberapa kali cambukan yang membuat kulit punggung lawannya penuh dengan darah karena kulit itu terpukul pecah. Sungguhpun Kwee An tidak bermaksud melukainya terlalu dalam, namun seharusnya cambukan-cambukan itu cukup menyakitkan. Akan tetapi anehnya, bukan menyerah, bahkan pemuda itu menjadi makin nekad dan menyerang makin hebat!

Kwee An menjadi kewalahan juga. Melihat dari sikap pemuda ini dan sorak-sorakan para penonton yang menjadi gembira, ia maklum bahwa pemuda tanggung yang gagah ini tentu mengambil keputusan hendak melawan sampai darahnya habis atau sampai tidak kuat lagi, sedangkan para penonton makin merasa gembira saja. Ketika ia mengerling dan memandang ke arah kakek tua tadi, ternyata bahwa kakek itu pun sedang menonton sambil mengepul-ngepulkan asap huncwenya, seakan-akan menikmati pemandangan yang menyenangkan hati!

Maka Kwee An lalu mendapat akal. Ia mulai mengeluarkan ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat warisan Hek Mo-ko. Tubuhnya berkelebat dan melompat ke atas dan bergerak mengelilingi pemuda itu yang menjadi pening dan kabur matanya. Tiba-tiba, tanpa terlihat orang lain, Kwee An mengulurkan jari tangan dan dengan tepat sekali menotok jalan darah thian-hu-hiat hingga pemuda itu roboh dengan lemas tanpa dapat bergerak lagi!

Melihat pemuda itu roboh dengan lemas semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu telah lelah dan terlalu banyak mengeluarkan darah, maka dianggap kalah dan semua orang lalu menolongnya! Kwee An juga pura-pura menolongnya, akan tetapi ketika ia mengangkat pundak pemuda itu, ia menekan dengan jarinya hingga totokannya tadi dapat dilenyapkan, hingga kesehatan pemuda itu pulih kembali. Pemuda itu hanya memandang dengan heran dan kagum, lalu tiba-tiba ia berdiri, memeluk leher Kwee An dan menciumi pipinya! Inilah tanda dari persahabatan dan kekaguman, hingga tadinya Kwee An merasa heran sekali. Akan tetapi setelah ia mendapat keterangan dari kakek itu, ia merasa lega dan senang. Semua orang tiada habisnya memuji dan mengagumi Kwee An dan seketika itu juga Kwee An mendapat julukan Malaikat Cambuk! Betapa tidak? Pemuda tanggung itu adalah putera pemimpin mereka yang memiliki ilmu cambuk tertinggi di antara anak-anak muda di situ, sekarang Kwee An dapat mengalahkannya tanpa menderita cambukan sekali pun!

Kini semua orang bukan memaksa, akan tetapi membujuk-bujuk Kwee An untuk menemui pemimpin mereka. Melihat keramahan mereka ini, Kwee An merasa kurang enak hati untuk menolaknya, maka ia lalu ikut mereka masuk ke dalam hutan yang liar itu. Kedatangan mereka disambut oleh banyak orang dan kembali Kwee An terheran-heran, oleh karena semua orang laki-laki di kampung itu berkumis! Kumis mereka semodel, yaitu panjang melintang dan dipilin ke atas, membuat mereka nampak gagah dan keren! Akan tetapi yang membuatnya benar-benar tidak mengerti adalah bahwa anak-anak muda yang baru dua belas atau tiga belas tahun pun mempunyai kumis macam itu! Ketika melihat seorang anak laki-laki paling banyak berusia sebelas tahun sudah kumisan, Kwee An tidak terasa pula mengulurkan tangan untuk memeriksa apakah kumis itu tulen. Akan tetapi ketika ia mencabutnya perlahan, anak itu berteriak kesakitan dan semua orang menjadi heran melihat kelakuan Kwee An itu! Hanya kakek juru bahasa tadi saja yang mengerti akan maksudnya, maka ia berkata, “Semua kumis yang kami pakai adalah kumis tulen, kumis yahg tumbuh dengan sewajarnya dari kulit!”

“Tapi… tapi anak kecil itu… usianya baru sebelas tahun!” kata Kwee An dengan heran sekali.

Kakek itu tertawa. “Mengapa tidak? Usia sebelas tahun sudah dewasa! Menurut kebiasaan kami, anak laki-laki yang telah berusia sepuluh tahun, dianggap dewasa dan padanya lalu dikenakan upacara tumbuh kumis, yaitu dengan perayaan gembira, anak itu dinyatakan dewasa dan di atas bibirnya lalu digosok dengan obat tumbuh kumis. Dalam waktu setahun saja kumisnya akan tumbuh dengan baiknya seperti yang kaulihat pada anak tadi.”

Baru mengerti Kwee An setelah mendengar penuturan ini. Pantas semua orang memelihara kumis. Yang lebih mengherankannya lagi ialah ketika orang-orang wanitanya muncul. Mereka ini rata-rata berkulit halus putih dan biarpun potongan muka hampir sama dengan orang-orang Han, namun mata mereka lebar-lebar dan bagus. Akan tetapi ketika wanita-wanita itu tertawa, Kwee An terkejut oleh karena gigi mereka yang kecil dan berderet rapi itu berwarna hitam mengkilat! Diam-diam Kwee An mengeluh menyayangkan mengapa wanita-wanita cantik manis itu bergigi hitam!

Ia dibawa menghadap pada seorang Haimi yang bertubuh tinggi besar dan yang mempunyai kumis indah dan panjang sekali. Matanya lebar berpengaruh, usianya belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun. Ketika melihat Kwee An, ia lalu turun dari tempat duduknya dan menyambutnya dengan ramah,

“Sahabat, kunjungan seorang Han merupakan kehormatan besar sekali bagi kami!”

Bukan main dan herannya hati Kwee An mendengar betapa pemimpin Haimi ini dapat bicara bahasa Han dengan amat baiknya! Ia lalu menjura dan berkata girang,

“Akulah yang mendapat kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan orang-orang gagah bangsa Haimi, dan girang sekali hatiku karena ternyata bahwa selain kakek itu kau pun pandai berbahasa Han!”

Tempat di mana Kwee An disambut oleh kepala suku bangsa Haimi itu adalah sebuah pondok yang cukup besar terbuat dari pada kayu-kayu hutan. Pada saat itu, dari ruang dalam muncul seorang wanita muda dan ketika Kwee An memandang, ia menjadi kagum. Dara ini cantik sekali, terutama sepasang matanya yang lebar dan indah. Dengan gerakan lemah lembut dan tanpa sungkan-sungkan lagi, dara muda itu mengambil tempat duduk di dekat pemimpin itu dan memandang Kwee An dengan sinar mata kagum, memandang dengan langsung tanpa malu-malu seperti biasa kelakuan gadis-gadis bangsanya sendiri! Oleh karena dipandang secara demikian itu, Kwee Anlah yang merasa malu dan sungkan!

“Ini adalah puteriku yang bernama Meilani,” kata pemimpin itu kepada Kwee An dan gadis itu tersenyum kepadanya. Kembali datang rasa kecewa dalam hati pemuda itu ketika melihat betapa senyum manis dikacau oleh cahaya gigi yang hitam berkilau itu. Mengapa orang merusak gigi yang bagus itu?

Pemuda yang tadi dikalahkan oleh Kwee An, lalu menghampiri ayahnya dan menuturkan tentang pertandingan tadi kepada ayahnya dengan menggerak-gerakkan tangannya. Ia memandang kepada Kwee An dengan kagum dan agaknya ia memuji-muji kepandaian Kwee An karena Kwee An melihat betapa pemimpin itu memandangnya dengan mata terbelalak, sedangkan Meilani bahkan lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampirinya sambil memandangnya penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki, seperti seorang memeriksa dan menaksir-naksir benda yang indah menarik! Kwee An tidak berani bergerak ketika didekati oleh dara ini dan ketika gadis ini mendekatinya ia mencium keharuman yang ganjil, seperti bau bunga mawar!

Ketika Kwee An mengerling ternyata ruang yang luas itu telah penuh orang-orang, laki-laki dan wanita, serta kanak-kanak yang kesemuanya memandangnya dengan kagum! Dikelilingi oleh sekian banyak laki-laki berkumis sedangkan ia sendiri tidak, dan sekian banyak wanita-wanita cantik yang bergigi hitam, ia merasa seakan-akan ia berada di dunia lain!

“Anak muda, ketahuilah bahwa aku adalah Sanoko, pemimpin rombongan bangsaku yang terdiri dari dua ratus jiwa lebih. Meilani adalah puteriku dan pemuda yang kaukalahkan tadi adalah puteraku. Kau siapakah dan di mana kau mempelajari ilmu cambuk yang hebat hingga telah mengalahkan puteraku?” pertanyaan ini diajukan dengan mata memandang kagum.

“Aku bernama Kwee An, tentang ilmu cambuk itu, sesungguhnya aku belum pernah mempelajarinya. Hanya sedikit ilmu silat bangsaku pernah kupelajari hingga aku dapat mempertahankan diri terhadap serangan cambuk puteramu.”

Tiba-tiba gadis yang bernama Meilani itu lalu bicara kepada ayahnya, dan ternyata suaranya merdu dan nyaring. Ayahnya tertawa bergelak, lalu bertanya kepada Kwee An, “Kwee-taihiap, apakah kau juga pandai bermain golok?” Mendengar bahwa kepala suku bangsa Haimi ini tiba-tiba menyebut taihiap (pendekar besar), Kwee An merasa sungkan juga, maka sambil merendah ia menjawab,

“Aku pernah mempelajari sedikit ilmu pedang, akan tetapi sayang sekali pedangku itu telah hilang di jalan.”

Ketika Sanoko menterjemahkan ucapan Kwee An kepada anak perempuannya, tiba-tiba gadis itu berlari masuk ke dalam rumah dan keluar pula sambil membawa sebatang pedang yang terbungkus kain kuning. Ia lalu menyerahkan pedang itu kepada Kwee An yang ketika menerima dan melihat pedang itu, menjadi terkejut sekali karena pedang itu bukan pedang sembarangan, akan tetapi sebuah pedang mustika yang ringan sekali dan tajam serta mengeluarkan cahaya kekuningan! Meilani lalu bicara kepada ayahnya yang menjelaskan pada Kwee An,

“Anakku Meilani dulu pernah menemukan golok dan pedang ini di dalam sebuah gua dan oleh karena kami tidak pernah mempelajari ilmu pedang, hanya mempelajari sedikit ilmu golok, maka pedang ini tidak ada yang dapat menggunakannya. Maka karena anakku juga pernah belajar main golok, ia sekarang minta supaya kau suka melawannya dengan pedang ini dan apabila kau dapat mengalahkannya, maka pedang ini dihadiahkan kepadamu!”

Bukan main girang hati Kwee An, oleh karena ia maklum bahwa ini benar-benar pedang yang ampuh dan tajam. Pada tempat dekat gagang ini melihat ukiran dua huruf “Oei Kang” yang berarti “Baja Kuning”. Akan tetapi, pada saat itu ia tidak sempat memperhatikan keadaan Oei-kang-kiam itu terlebih teliti lagi oleh karena ia merasa kaget mendengar bahwa dara cantik bergigi hitam itu mengajaknya pibu! Tak pernah disangkanya bahwa gadis itu pun pandai ilmu golok. Ketika ia melihat golok itu, ia maklum pula bahwa golok itu pun terbuat daripada logam yang sama dengan pedangnya, karena mengeluarkan cahaya kekuningan. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Kwee An tidak menolak ditantang pibu, maka ia segera menjawab,

“Baik, hanya kuharap saja Nona Meilani akan berlaku murah hati kepadaku.”

Setelah mendengar jawaban pemuda itu, Meilani lalu bertindak keluar dari pondok, diikuti oleh ayahnya dan adiknya. Kwee An juga keluar dari situ membawa pedang Oei-kang-kiam, dan semua orang lalu keluar pula dengan wajah berseri gembira, seakan-akan mereka hendak menghadiri pesta perayaan yang menarik hati.

Setelah berada di halaman pondok yang luas, Meilani lalu melompat dengan gerakan ringan dan lincah sambil membawa goloknya. Gadis ini lalu mempererat ikat pinggangnya, mengikat pula dua kuncir rambutnya lalu diselipkan di dalam baju di belakang punggung. Setelah itu, dengan gagah dan cantik, ia berdiri menanti Kwee An dengan golok di tangan kanan dan senyum manis menghias bibirnya.

Ketika melihat gerakan gadis yang melompat tadi, Kwee An merasa kagum juga karena Meilani ternyata memiliki gerakan yang gesit. Maka ia menjadi gembira juga dan sambil memegang pedang Oei-kang-kiam di tangan kanan, ia lalu membuat gerakan Naga Sakti Menembus Awan, melompat ke hadapan gadis itu. Ia telah melompat cepat dari tempat yang jauhnya kira-kira lima tombak, maka gerakannya ini disambut dengan tampik sorak oleh semua penonton yang secara cepat sekali mengelilingi tempat adu silat itu!

Melihat bahwa pemuda ini telah melompat di depannya, Meilani berseru nyaring yang maksudnya memberitahu bahwa ia hendak mulai menyerang. Ia menggerakkan goloknya, diputar-putar di atas kepala seperti gerakan orang Haimi bermain cambuk, kemudian tubuhnya menerjang dengan sebuah lompatan cepat dan golok itu menyambar ke arah leher Kwee An! Seperti juga pedang Oei-kang-kiam, golok di tangan gadis itu tipis dan tajam, akan tetapi ringan sekali hingga gerakan Meilani cepat sekali datangnya. Kwee An hendak mencoba pedangnya, maka ia lalu mengangkat pedang menangkis. Terdengar suara nyaring dan ketika dua batang senjata itu beradu, dari pedang dan golok yang terbuat dari logam yang sama itu keluarlah bunga-bunga api berwarna hijau. Meilani berseru kaget karena ketika goloknya beradu dengan Oei-kang-kiam, hampir saja senjata itu terlepas dari pegangannya!

“Hebat sekali tenagamu!” katanya dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Kwee An, akan tetapi yang membuat para pendengarnya, terutama Sanoko, menjadi kagum, karena ia tahu bahwa puterinya itu telah diberi latihan tenaga dalam yang cukup tinggi maka dengan sekali tangkis saja membuat puterinya memuji, tentu pemuda tanpa kumis itu benar-benar lihai!

Meilani lalu memutar-mutar goloknya dan memainkan ilmu golok yang cukup hebat. Golok di tangannya berubah menjadi sinar kuning yang bergulung-gulung bagaikan gelombang menderu mengancam diri Kwee An, akan tetapi Kwee An lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Hai-liong-koamsut yang dulu ia pelajari dari Nelayan Cengeng. Melihat betapa pemuda itu berkelebat cepat sekali seakan-akan menerobos di antara sinar goloknya dan kadang-kadang lenyap dari pandangan matanya, Meilani menjadi terkejut sekali. Sedangkan semua penonton menjadi melongo keheranan melihat kehebatan ilmu sitat Kwee An dan pertandingan yang seru itu membuat mereka menahan napas dan lupa untuk bersorak. Sanoko juga merasa kagum sekali karena puterinya yang tadinya menggerakkan golok hendak mengurung, kini bahkan kena dikurung oleh pedang Kwee An. Saking tegangnya, ia sampai berdiri dari tempat duduknya dan memandang dengan penuh perhatian. Gerakan pedang Kwee An benar-benar merupakan seekor naga laut yang mengamuk hingga diam-diam ia mengakui bahwa belum pernah ia menyaksikan ilmu silat sedemikian lihainya.

Kwee An yang merasa gembira karena mendapatkan pedang yang baik sekali, mendemonstrasikan ilmu pedangnya tanpa bermaksud melukai lawannya, hanya mengurungnya dengan pedang saja. Kalau ia mau, dengan mudah saja ia dapat menjatuhkan Meilani, akan tetapi mana hatinya tega untuk melukai gadis cantik yang tidak bermaksud buruk terhadap dirinya itu. Dikurung oleh sinar pedang Kwee An yang lihai, lambat laun Meilani merasa pening dan pandangan matanya kabur. Tiba-tiba ia berseru keras dan segera tubuhnya melompat tinggi dan jauh. Ketika ia turun, ia berdiri memandang dengan wajah kemerah-merahan, kemudian setelah memandang dengan kagum kepada pemuda itu ia lalu melemparkan goloknya kepada Kwee An yang disambut dengan baik oleh tangan kiri Kwee An! Melihat hal ini, semua orang bersorak riang dan bahkan ada beberapa orang yang menghampiri Kwee An, memeluk dan menciumi pipinya hingga pemuda itu merasa geli sekali karena merasa betapa kumis-kumis mereka itu seakan-akan mengitik-itiknya. Kakek yang dapat berbahasa Han itu pun menghampirinya dan menjura sambil berkata, “Kionghi, kionghi, (selamat, selamat)…!” Kwee An hanya menyangka bahwa kakek itu memberi selamat atas kemenangannya, maka alangkah terkejutnya ketika Sanoko datang menghampirinya, memeluknya sambil berkata dengan suara yang penuh keharuan.

“Kwee An, puteriku telah memilih jodohnya dan aku merasa girang sekali mendapat seorang mantu seperti engkau!”

“Apa…? Apa maksudmu…?” Ia bertanya sambil memandang dengan mata terbelalak heran.

“Meilani telah memberikan goloknya dan kau telah menerimanya dengan baik, masih bertanya apa lagi? Harap kau berlaku seperti seorang laki-laki sejati dan jangan berpura-pura atau malu-malu. Upacara pernikahan dilakukan besok pagi dan sementara itu, kau boleh mengadakan persiapan dan dibantu oleh pamanku ini!” kata Sanoko sambil menunjuk kepada kakek penghisap huncwe yang ternyata adalah pamannya sendiri. Kemudian ia masuk ke dalam rumah dengan tindakan kaki gagah.

Kwee An berdiri bagaikan sebuah patung dan ketika kakek itu menariknya menuju ke sebuah pondok tak berjauhan dari tempat itu, Kwee An segera bertanya, “Lopek, apakah maksudnya ini semua?”

“Barangkali kau tidak tahu, anak muda. Sudah menjadi kebiasaan kami bahwa apabila seorang gadis memberikan goloknya pada seorang pemuda dan pemberian itu diterimanya, maka itu berarti bahwa mereka telah mengikat diri menjadi jodoh masing-masing. Tadi Meilani telah memberikan goloknya kepadamu dan kau telah menerimanya, maka berarti bahwa kau adalah jodoh Meilani. Kau boleh merasa bangga dan bahagia oleh karena Meilani adalah gadis tercantik di antara bangsa kami dan telah banyak pemuda yang merindukannya. Selain berkepandaian tinggi dan menjadi puteri kepala kami, dia juga berilmu tinggi dan berbudi baik. Tidak kaulihatkah betapa cantik jelitanya dia?” Pucatlah wajah Kwee An mendengar ini. “Tapi… tapi… bukan maksudku untuk menerimanya sebagai… sebagai… jodohku. Aku tidak tahu akan kebiasaan menerima golok itu. Ia melemparkan goloknya kepadaku, sudah tentu saja kusambut dengan tangan. Lopek tolonglah aku karena aku sungguh-sungguh tak dapat menerima perjodohan ini!”

Wajah kakek itu berubah tak senang. “Mengapa begitu? Apakah dia kurang cantik? Anak muda, ingatlah bahwa di seluruh daerah ini tak mungkin kau akan mendapatkan seorang gadis seperti Meilani. Dia telah memilihmu tanpa mempedulikan wajahmu yang tidak patut karena tidak berkumis, semata-mata karena ia kagum melihat kelihaian ilmu pedangmu. Sanoko juga telah menyetujuinya, maka kau tidak boleh menolak. Penolakanmu ini akan berarti penghinaan kepada kami seluruh suku bangsa Haimi dan tentu kau akan dikeroyok dan dibunuh kalau kau berani menolak. Untung bahwa penolakanmu ini hanya terdengar olehku yang masih dapat berpikir panjang, kalau terdengar oleh orang lain terutama oleh Sanoko, tentu kau akan dibunuh!”

Bukan main terkejut hati Kwee An mendengar ini. Ia segera berdiri dan sambil menyerahkan kembali golok Meilani kepada kakek itu, ia lalu berkata, “Lopek, kau kembalikan golok ini dan sampaikan salam serta hormatku kepada Sanoko, serta penyesalan dan maafku kepada Meilani, karena kalau memang demikian halnya, sekarang juga aku mau pergi agar jangan timbul hal-hal yang tidak diinginkan.”

Akan tetapi begitu menerima kembali golok baja kuning itu kakek ini lalu melompat berdiri dengan sikap mengancam. “Tidak bisa, anak muda! Ketahuilah bahwa perbuatanmu ini hanya akan membuat Meilani malu sekali dan pasti ia akan membunuh diri, sesuai dengan adat kami. Dan karena ini, sebagai paman kakek gadis itu, aku takkan membiarkan kau pergi! Kau baru bisa meninggalkan tempat ini setelah melewati mayatku!”

“Jangan, Lopek, biarkan aku pergi!” kata Kwee An dengan gugup akan tetapi, kakek itu lalu menyerangnya dengan golok di tangan! Penyerangannya hebat sekali, jauh lebih lihai daripada gerakan golok Meilani, hingga Kwee An terpaksa mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko. Dan sekali tubuhnya berkelebat dan tangannya diulurkan, golok itu telah terampas olehnya!

“Kau benar-benar lihai, nah, kaubunuhlah dulu aku sebelum pergi dari sini!”

Lemaslah tubuh Kwee An. Ia merasa bingung sekali. Kalau sampai benar-benar gadis itu membunuh diri karena ia tinggal pergi, ia merasa tidak tega sekali. Maka ia lalu memandang kakek itu dengan mata mengandung permintaan tolong.

“Kakek, aku… tidak dapat melukaimu. Kalian telah berlaku amat baik kepadaku, begitu ramah tamah, bagaimana aku sampai hati mendatangkan malapetaka? Akan tetapi, perkawinan itu sungguh-sungguh tak mungkin kulakukan. Ketahuilah bahwa aku telah mempunyai seorang tunangan. Aku tidak bisa kawin dengan gadis lain.”

Mendengar ini, kakek itu berpikir keras. “Kalau menurut kebiasaan kami, tiada halangan bagi seorang pemuda untuk mempunyai dua orang isteri, sungguhpun hal itu jarang sekali terjadi. Aku maklum akan penolakanmu, dan ternyata kau memang seorang yang baik budi. Baiknya diatur begini saja, yang terpenting bagi seorang gadis kami ialah upacara pernikahan. Apabila upacara itu telah dilangsungkan, kau tidak berhalangan untuk meninggalkan isterimu walaupun tidak menjadi isteri dalam arti sesungguhnya. Setelah upacara selesai, kau boleh pergi kalau itu benar-benar kau kehendaki dan Meilani hanya akan merasa malu dan membunuh diri. Dengan demikian, kau tidak menghina bangsa kami dan tidak menghina Meilani.”

“Akan tetapi, Lopek, tentu Meilani akan memandang aku sebagai seorang laki-laki berhati rendah dan seakan-akan menipunya kalau setelah melakukan upacara pernikahan aku lalu pergi meninggalkannya!” Kwee An membantah.

“Jangan kuatir, sebelum upacara dilangsungkan malam ini juga aku akan memberitahukan kepadanya bahwa kau menjalankan upacara hanya untuk melindungi mukanya dari perasaan rendah dan malu, dan bahwa kau tidak mungkin menjadi suaminya karena kau telah mempunyai calon istri lain.”

Kwee An memegang tangan kakek itu dengan pernyataan terima kasihnya karena ia anggap itu adalah cara terbaik. Malam itu, lima orang gadis yang berwajah manis-manis dan bergigi hitam mengkilap, menyerbu masuk ke kamarnya di pondok kakek itu. Sambil tertawa-tawa dan bicara tidak karuan karena tidak dimengerti oleh Kwee An, gadis-gadis itu menghampiri Kwee An. Ada yang memegang tangannya dan menarik-nariknya, ada yang memegang kepalanya, dan ada pula yang hendak menggunakan sesuatu untuk digosokkan di bawah hidungnya. Kwee An terkejut sekali dan dengan hati berdebar ketakutan ia lalu memberontak dan melepaskan diri dari serbuan kelima orang gadis itu!

“Eh, eh, kalian pergilah! Keluar dari kamar ini! Apakah kalian gila dan hendak menggangguku?” katanya dengan keras dan mata terbelalak. Akan tetapi oleh karena kelima orang gadis itu tidak mengerti ucapannya, mereka hanya tertawa saja dan menghampirinya kembali! Kwee An lari ke sana ke mari di dalam kamarnya, akan tetapi dikejar-kejar oleh para gadis itu sambil tertawa-tawa! Karena merasa ngeri dan takut, Kwee An berteriak dan tak lama kemudian, datanglah kakek penghisap huncwe itu ke dalam kamarnya untuk melihat apakah yang terjadi di situ. Melihat betapa Kwee An telah melompat ke atas pembaringan dan berdiri mepet di sudut sambil memandang lima orang gadis yang mengurungnya dengan mata terbelalak bagaikan seekor tikus melihat lima ekor kucing, tak tertahan lagi kakek itu tertawa bergelak! Girang sekali hati Kwee An melihat kedatangan kakek itu dan ia lalu melompat turun dan lari ke belakang tubuh kakek tadi.

“Lopek, tolonglah aku. Mereka ini apakah tiba-tiba menjadi gila?”

“Ini termasuk upacara perayaan pernikahan yang akan dilangsungkan besok. Mereka datang untuk menggodamu dan untuk menggosok hidungmu dengan obat penumbuh kumis!”

“Apa?” Kwee An berseru sambil menutupi hidungnya dengan tangan kanan, seakan merasa ngeri sekali bahwa hidungnya tadi telah terkena obat itu dan tumbuh kumis! “Aku tidak mau… aku tidak mau, Lopek. Usirlah mereka keluar!” Sedangkan di dalam hatinya, Kwee An berkata, “Alangkah akan kagetnya Ma Hoa kalau ia kelak melihat aku berkumis panjang menjungat ke atas!”

Kakek itu lalu mengucapkan perkataan kepada para gadis itu yang lalu pergi sambil terkekeh-kekeh, akan tetapi ketika mereka memandang Kwee An, mereka merasa kecewa sekali! Kwee An menghela napas panjang karena lega hatinya melihat gadis-gadis itu sudah pergi.

“Bagaimana Lopek, apakah kau memberi tahu dan berterus terang kepada Meilani?”

Kakek itu mengangguk dengan muka sedih.

“Dan marahkah dia kepadaku?”

“Tidak, tidak marah. Hanya kecewa dan berduka. Kau… kau memang kejam.”

“Eh, mengapa kau berkata demikian, Lopek? Pernikahan ini terjadi karena salah sangka dan bukan terjadi atas kehendakku. Bahkan upacara ini pun terpaksa kulakukan hanya untuk menolong dia.”

Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali menghela napas. “Alangkah baiknya kalau kau benar-benar menjadi suami Meilani dan menjadi anggota keluarga kami. Kepandaianmu lihai sekali dan kau dapat kami harapkan untuk membantu kami mengusir para pengganggu kami, keparat-keparat Mongol itu!”

Tergerak hati Kwee An melihat wajah kakek yang telah keriputan itu nampak sedih sekali. “Lopek, untuk membantu kalian, tak perlu aku harus menjadi keluarga saja. Kalau memang terdapat kesulitan dan aku bisa membantu, pasti aku akan membantu sekuat tenaga. Katakanlah, apakah yang telah terjadi dan apa pula yang diperbuat oleh orang-orang Mongol kepada bangsamu?”

Setelah menghela napas berulang-ulang kakek itu bercerita, “Bangsa kami, yaitu suku bangsa Haimi, adalah yang besar dan memiliki kebudayaan tinggi. Akan tetapi, oleh karena kami merupakan bangsa perantau dan tidak punya tempat tinggal yang tetap, maka inilah yang merupakan kelemahan kami. Selama beberapa tahun ini, kami selalu mendapat pukulan dan gangguan dari bangsa Mongol yang memperluas daerah kekuasaan mereka. Banyak anggota keluarga kami dibinasakan, wanita diculik, dan harta benda kami dirampas! Hinaan-hinaan ini terpaksa kami terima dengan cucuran air mata dan dengan helaan napas, karena kami tidak berdaya.

Makin banyak kami melakukan perlawanan, makin banyak jatuh korban di pihak kami hingga makin lama makin kecillah jumlah keluarga kami, oleh karena pihak Mongol memang jauh lebih kuat daripada kami. Telah lama kami mengimpikan datangnya bintang penolong, dan setelah kini kau datang, maka besarlah harapanku dan harapan Sanoko bahwa kaulah orangnya yang dapat menolong kami membalas dendam kepada orang-orang Mongol serta mengusir mereka kalau berani datang mengganggu lagi. Akan tetapi, memang nasib bangsaku yang buruk… kau bahkan mengecewakan kami, menghancurkan hati puteri kami yang bernasib malang…”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, dari kedua mata kakek itu mengalirlah beberapa butir air mata! Kwee An merasa terharu sekali dan ia segera memegang lengan kakek itu.

“Lopek, jangan kau kuatir. Aku bersumpah bahwa aku akan mengusir dan menghajar orang-orang Mongol yang berani mengganggu kalian. Tunjukkan di mana mereka berada, akan kudatangi dan kuhajar mereka!” kata-kata ini diucapkan dengan penuh semangat hingga kakek itu dapat tersenyum lagi.

“Hal itu mudah, nanti kalau upacara perkawinan sudah dilanjutkan akan kutunjukkan padamu di mana keparat-keparat itu berada.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kakek itu telah memberi sesetel pakaian Haimi yang indah kepada Kwee An, lengkap dengan ikat kepala yang lebar. “Pakailah ini, hanya untuk memenuhi syarat upacara adat.”

Agar jangan melukai perasaan kakek itu dan semua orang, terpaksa Kwee An lalu mengenakan pakaian itu.

“Ah, kau memang gagah sekali. Kalau kau membiarkan kumismu tumbuh, kau akan menjadi pemuda yang paling tampan di antara kami dan kau akan menjadi suami yang cocok sekali bagi Meilani! Sayang… sayang…” kata kakek itu sambil memandang dengan kagum.

Kemudian sambil menabuh kendang dan tambur, serombongan anak gadis “mengambil” pengantin laki-laki dan diiringkan menuju ke pondok pengantin perempuan. Ketika kedua mempelai dipertemukan, Kwee An melihat betapa wajah “isterinya” itu basah dengan air mata dan diam-diam ia lalu menghela napas panjang dan terkenanglah ia kepada Ma Hoa. Ah, alangkah baiknya kalau yang menjadi mempelai wanita itu Ma Hoa.

Seorang pendeta Haimi membaca doa-doa dalam bahasa Haimi, akan tetapi dari cara-cara ia membaca doa, tahulah Kwee An bahwa upacara adat ini berdasarkan Agama Buddha yang telah berubah, disesuaikan dengan kepercayaan nenek moyang mereka.

Kwee An harus mengakui kecantikan Meilani yang benar-benar jelita itu, hanya kalau mengingat gigi yang dihitamkan itu, ia merasa sayang sekali. Pada saat upacara dilakukan, tiba-tiba seorang pemuda Haimi datang dengan tergesa-gesa dan melaporkan sesuatu kepada Sanoko. Mendengar laporan ini, ributlah orang-orang yang berada di situ. Bahkan Meilani lalu membuka penutup mukanya dan segera mengambil goloknya yang telah dikembalikan oleh Kwee An.

“Apakah yang telah terjadi?” Kwee An bertanya kepada Sanoko yang memberi aba-aba dan mengatur orang-orangnya yang telah berkumpul dengan senjata di tangan.

“Seorang Perwira Mongol yang kosen dan yang sering mengganggu kami telah datang dengan seorang kawannya. Dia telah menculik dua orang gadis dan membunuh tiga orang pemuda kami!”

“Keparat!” Kwee An memaki sambil mencabut Oei-kang-kiam “Hayo tunjukkan di mana ia berada!”

“Kami hendak mengeroyoknya, karena kepandaiannya tinggi sekali!” kata Sanoko dengan ragu-ragu.

“Jangan kuatir, biar aku yang menghadapinya!” Maka semua orang lalu mengiringkan pemuda itu, berlari keluar dari hutan.

Akan tetapi ketika mereka tiba di tempat yang dimaksudkan, ternyata bahwa dua orang gadis yang diculik itu telah tertolong oleh orang lain! Dan pada saat itu, kedua orang jahat itu sedang bertempur melawan seorang gadis yang gagah perkasa. Hampir saja Kwee An menjerit karena girang, terkejut dan heran. Ternyata bahwa dua orang pengacau yang dimaksudkan itu adalah Ke Ce sendiri dan Bo Lang Hwesio! Sedangkan gadis berambut riap-riapan yang cantik jelita dan yang memainkan sepasang bambu runcing dengan hebatnya melawan kedua orang kosen itu, bukan lain ialah Ma Hoa sendiri!!

“Hoa-moi…!” Kwee An berseru dan ia segera menerjang maju pedangnya.

Ketika Ma Hoa memandang, ia terbelalak heran melihat kekasihnya berada di tempat itu dan mengenakan pakaian yang aneh itu.

“Koko mari kita gempur bangsat-bangsat ini dan membalas dendam!” katanya sambil mengerjakan kedua batang bambu runcingnya dengan hebat dan luar biasa. Biarpun merasa heran sekali melihat betapa kekasihnya itu dapat memainkan senjata aneh secara lihai itu, namun Kwee An tidak sempat bertanya. Ia lalu memutar pedangnya dan menyerang Bo Lang Hwesio yang bersenjata sebatang pedang pula karena kewalahan menghadapi Ma Hoa dengan tangan kosong saja.

Melihat munculnya Kwee An, Ke Ce menjadi jerih karena ia maklum bahwa setelah kini gadis itu memiliki ilmu silat yang demikian lihainya, maka ditambah dengan bantuan Kwee An yang juga lihai sekali, tak mungkin pihaknya akan memperoleh kemenangan. Apalagi ia melihat bahwa serombongan besar orang-orang Haimi dengan golok mereka di tangan juga ikut datang pula. Orang Mongol yang licik ini lalu berseru keras dan segera melompat pergi dengan maksud melarikan diri. Akan tetapi, Ma Hoa tentu saja tidak mau melepaskannya. Sambil berseru nyaring, dara itu lalu melompat ke atas sebuah batu besar dan ketika Ke Ce lari, ia segera menyambar turun dengan kedua bambu runcing di tangan, bagaikan seekor burung rajawali menyambar korbannya. Ke Ce menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba dari atas terdengar bentakan Ma Hoa yang halus tapi nyaring,

“Bangsat keji hendak lari ke mana?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: