Pendekar Bodoh ~ Jilid 26

Ke Ce menengok ke belakang dan mempercepat larinya oleh karena tadi ia telah merasa betapa lihai sepasang bambu runcing di tangan gadis ini hingga ia merasa percuma saja untuk melawan terus. Ia hendak mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk melarikan diri, akan tetapi Ma Hoa mengejar sambil berlompatan hingga sebentar saja ia sudah melompati kepala Ke Ce dan berdiri menghadang di depan pemuda Mongol itu!

“Kalau mau lari, hanya boleh lari ke neraka untuk menerima hukuman!” kata lagi Ma Hoa sambil mengirim tusukan dengan bambu runcingnya, yang kiri ke arah lawan, sedangkan yang kanan ke arah jalan darah di dada! Ke Ce terkejut sekali melihat betapa ginkang gadis ini sudah sedemikian sempurnanya dan terlebih kaget lagi ketika ia menghadapi serangan berbahaya itu. Ia membuang diri ke kiri, bergulingan di atas tanah sampai beberapa kaki jauhnya lalu melompat berdiri dan cepat menggerakkan kedua tangannya hendak mengirim pukulan Angin Topan yang hebat! Akan tetapi Ma Hoa sudah siap menghadapi ilmu pukulan yang pernah membuat ia dan Kwee An terjungkal ke dalam jurang itu, maka sambil berseru keras ia melompat ke kiri dan cepat sekali tangan kanannya bergerak. Bambu runcing di tangan kanannya lalu meluncur melebihi anak panah terlepas dari busur cepatnya dan sebelum Ke Ce dapat berkelit, kembali bambu runcing di tangan kirinya meluncur menyusul bambu pertama! Cep, cep! Kedua bambu runcing itu menancap di tubuh Ke Ce, sebatang di tengah dada dan sebatang lagi di lehernya. Tubuh orang Mongol itu roboh dan nyawanya melayang pergi meninggalkan tubuh pada saat itu juga!

Terdengar sorak sorai riuh rendah dari orang-orang Haimi ketika melihat betapa musuh besar mereka itu binasa! Ma Hoa segera menghampiri tubuh Ke Ce, mencabut keluar dua bambu runcingnya dan membersihkan ujung bambu itu pada pakaian lawannya. Kemudian ia menghampiri rombongan orang Haimi yang menyambutnya dengan berlutut. Ma Hoa mendekati Meilani dan mengangkat bangun gadis yang cantik itu, akan tetapi ketika ia bertanya, gadis itu menjawab dengan bahasa yang asing baginya. Gadis itu hanya menunjuk ke arah Kwee An dan Ma Hoa menengok.

Ternyata bahwa Kwee An sedang bertempur hebat melawan Bo Lang Hwesio. Kepandaian Bo Lang Hwesio benar-benar lihai, karena biarpun Kwee An telah mengeluarkan Ilmu Pedang Hai-liong-kiamsut, namun hwesio itu dapat menahan serangannya dengan baik dan bahkan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya! Kwee An lalu mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko, dan sambil mainkan ilmu silat ini dengan tangan kiri, barulah ia dapat mengimbangi desakan Bo Lang Hwesio. Namun, dalam lweekang ia masih kalah setingkat hingga tiap kali pedang mereka bertemu, Kwee An merasa betapa tangannya gemetar! Untungnya ia memegang pedang Oei-kang-kiam yang ampuh, kalau ia memegang pedang biasa tentu pedangnya akan dapat dipatahkan oleh pedang Bo Lang Hwesio yang selain merupakan pedang mustika, juga digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi itu.

Melihat ini, Ma Hoa berseru, “An-ko, jangan kuatir, aku membantumu!” Tubuh gadis ini berkelebat dan segera kedua batang bambu runcingnya menyerang dengan hebat sekali. Bo Lang Hwesio harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, karena baru menghadapi Kwee An seorang saja biarpun ia tidak akan kalah akan tetapi sudah amat sukar merobohkan anak muda itu, kini ditambah dengan permainan bambu runcing Ma Hoa dalam gerakan Ilmu Silat Bambu Kuning yang luar biasa, ia menjadi sibuk sekali!

Dengan perlahan akan tetapi tentu, Ma Hoa dan Kwee An mendesak hwesio itu hingga keringat dingin mulai mengucur keluar dari jidat Bo Lang Hwesio. Kwee An merasa gembira sekali oleh karena ia mendapat kenyataan betapa gerakan ilmu silat Ma Hoa amat lihai. Sedangkan Bo Lang Hwesio amat gelisah menghadapi serangan sepasang orang muda yang lihai ini. Dia pun amat heran menyaksikan ilmu silat gadis itu karena ia teringat bahwa yang memiliki limu Silat Bambu Kuning ini hanyalah seorang pertapa sakti yang bernama Hok Peng Taisu! Mengapa tiba-tiba gadis ini dapat memiliki ilmu kepandaian ini?

Ketika Ma Hoa mendesak makin hebat, akhirnya ujung bambu di tangan kirinya berhasil menusuk pundak Bo Lang Hwesio yang berteriak kesakitan oleh karena biarpun ia memiliki lweekang yang membuat kulitnya menjadi kebal, namun tetap saja ujung bambu yang tajam itu telah melukainya. Sambil berseru hebat ia memutar pedangnya dan ketika kedua lawannya mengelak, ia lalu melompat ke belakang dengan cepat dan kabur dari tempat itu. Ma Hoa hendak mengejar, akan tetapi Kwee An mencegahnya dan berkata,

“Yang mencelakai kita dulu adalah Ke Ce. Biarlah kita ampuni jiwa rendah hwesio itu!”

Ma Hoa dan Kwee An berdiri saling pandang dan sekarang setelah musuh pergi, mereka saling pandang dengan perasaan terharu sekali. Tak terasa lagi dari mata mereka mengalir air mata karena girang dan terharu, seakan-akan melihat kekasihnya baru bangkit dari lubang kuburan! Bagaikan ditarik oleh tenaga mujijat, keduanya saling rangkul sambil berbisik,

“Koko…”

“Moi-moi… serasa dalam mimpi dapat berjumpa dengan kau lagi…”

“Koko…” kata Ma Hoa setelah melepaskan diri dari rangkulan Kwee An dan memandang kepada pemuda itu dengan mata basah tapi bibir tersenyum, “kau… kelihatan lucu sekali! Dari mana kauperoleh pakaian seperti itu?”

“Untung saja kau tidak melihat aku berkumis seperti mereka itu!” kata Kwee An sambil menahan ketawanya. Ma Hoa heran mendengar ini dan ketika ia menengok, orang-orang Haimi telah lari menghampiri mereka, dan Meilani lalu memegang tangan Kwee An dengan mesra, oleh karena ia tidak tahu bahwa Ma Hoa adalah wanita yang menjadi tunangan pemuda ini. Hati Meilani terlalu girang, karena Ke Ce terbunuh mati dan terlampau bangga karena betapapun juga, pemuda yang gagah berani dan yang telah berhasil mengusir musuh itu adalah “suaminya”.

“Engko An, siapakah gadis manis ini?”

“Dia adalah isterinya, lihiap!” kata Sanoko, “dan aku adalah pemimpin suku bangsa Haimi, juga menjadi ayah mertua Kwee An!”

Bukan main terkejut hati Ma Hoa mendengar keterangan Sanoko ini dan ia memandang kepada Kwee An dengan wajah pucat. Kwee An memegang tangan Ma Hoa dan berkata, “Tenanglah, Moi-moi, hal ini memerlukan penjelasan!” Kemudian ia berkata kepada Sanoko dengan suara tegas,

“Dengarlah Sanoko! Kau tentu sudah mendengar keterangan dari Pamanmu dan ketahuilah bahwa Nona ini adalah tunanganku yang kuceritakan itu!”

Karena di situ terdapat banyak orang orang Haimi, biarpun mereka tidak mengerti percakapan mereka, namun Kwee An merasa tidak enak karena kalau sampai terjadi salah paham, maka Ma Hoa tentu akan marah sekali dan Meilani akan tersinggung, maka ia lalu memberi isyarat kepada Sanoko dan kakek penghisap huncwe untuk ikut bicara di tempat yang agak jauh dari mereka. Meilani hanya memandang dengan heran dan tidak mengerti, akan tetapi ia tidak berani ikut bicara mencampuri pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa Han yang tidak dimengertinya.

“Lopek, sekarang harap kau suka ceritakan hal ini terus terang kepada tunanganku, agar tidak sampai terjadi salah paham,” kata Kwee An kepada kakek itu setelah mereka berada jauh dari rombongan itu.

“Lihiap, kata-kata Kwee-taihiap ini memang benar. Biarpun ia terpaksa menjalankan upacara pernikahan dengan Meilani, akan tetapi itu hanya untuk menjaga kehormatan puteri kami itu saja, dan Kwee-taihiap tadinya juga berkeras menolak, akan tetapi akhirnya menyetujui untuk melakukan upacara pernikahan berdasarkan menolong gadis itu.” Maka dengan panjang lebar kakek itu lalu menuturkan bagaimana telah terjadi kesalahpahaman ketika Kwee An menerima golok dari Meilani, dan betapa kalau pemuda itu tidak memenuhi kebiasaan adat mereka, maka gadis itu tentu akan membunuh diri karena malu. Ma Hoa mendengarkan semua ini dengan terharu. Tadinya ia marah sekali, akan tetapi setelah tahu akan duduknya perkara, ia merasa kasihan sekali kepada Meilani.

“An-ko, kalau kau memang suka kepada gadis itu, kawinlah dengan dia dan jangan kaupikirkan aku lagi!”

“Eh, eh, Moi-moi, mengapa kau berkata demikian? Selain dengan kau aku tidak mau kawin dengan wanita lain! Setelah mendengar keterangan tadi, apakah kau masih juga merasa cemburu kepadaku?”

“Bukan cemburu, akan tetapi aku merasa kasihan sekali kepada Meilani!” Kemudian Ma Hoa lalu bertindak menghampiri Meilani dan memeluknya. Biarpun Meilani tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi oleh karena ia sudah mendengar dari Kwee An bahwa pemuda itu tidak bisa menjadi suaminya karena telah bertunangan dengan seorang gadis Han, maka ia dapat juga menduga. Ketika melihat hubungan antara Ma Hoa dengan Kwee An, ia dapat menduga pula bahwa gadis inilah tentu yang menjadi tunangan Kwee An dan ia tidak hanya kagum akan kelihaian Ma Hoa, akan tetapi juga kagum melihat kecantikannya, hingga ia merasa bahwa memang gadis itu lebih cocok menjadi calon isteri Kwee An. Ketika Ma Hoa memeluknya, ia hanya dapat mengalirkan air mata saja.

Sanoko juga sudah tahu akan hal itu dan dia pun tidak merasa kecewa oleh karena ternyata bahwa “gadis saingan” puterinya adalah seorang pendekar wanita yang bahkan lebih membunuh bangsanya! Maka ketika kedua orang muda itu berpamit, ia hanya menghaturkan selamat jalan dan terima kasih. Meilani tidak kuat melihat Kwee An pergi, maka ia mendahului lari masuk ke dalam hutan dan menangis di dalam pondoknya dengan hati hancur. Sedangkan semua orang Haimi ketika melihat Kwee An meninggalkan “isterinya” yang baru saja menikah dengannya, merasa tidak puas, akan tetapi mereka tidak berani banyak bertanya, hanya merasa berduka mengingat akan nasib Meilani.

Demikianlah, Ma Hoa dan Kwee An meninggalkan orang-orang Haimi itu dengan diikuti pandangan mata mereka yang merasa kagum sekali melihat betapa kedua orang muda bangsa Han itu berlari cepat sekali melebihi larinya rusa! Tentu saja Kwee An dan Ma Hoa merasa bahagia sekali dapat bertemu dalam keadaan selamat, bahkan ketika mendengar dari Ma Hoa bahwa gadis itu telah mempelajari Ilmu Silat Bambu Kuning yang luar biasa dari Hok Peng Taisu, Kwee An menjadi gembira dan girang sekali. Sebaliknya, ketika Kwee An menceritakan betapa ia telah menderita sakit sampai berbulan-bulan di dalam gua dalam keadaan menderita dan sengsara, kekasihnya menjadi terharu dan merasa iba sekali. Namun, masih saja dalam perasaan hati Ma Hoa merasa tidak enak oleh karena peristiwa yang terjadi dengan Kwee An ketika terpaksa menikah dengan Meilani itu.

“Koko,” katanya di tengah perjalanan, “agaknya kau suka kepada gigi hitam! Bagaimana kalau aku membikin hitam gigiku.”

Kwee An tersenyum pahit. “Sudahlah, Hoa-moi, jangan kau menggoda terus. Sesungguhnya aku merasa ngeri tiap kali teringat akan gigi hitam dan kumis melintang!”

Ma Hoa tertawa. “Kalau kubayangkan sungguh lucu. Kau berkumis panjang melintang yang ujungnya melingkar ke atas, sedangkan aku bergigi hitam mengkilap!”

“Betapapun juga, mereka adalah orang-orang baik. Bangsa Haimi itu dan nasib mereka buruk sekali. Moi-moi, biarlah kita jangan bicara tentang mereka lagi. Sekarang yang terpenting ialah, ke mana kita harus mencari Lin Lin, Cin Hai dan Paman Yousuf?”

“Lin-lin dan Paman Yo dikejar-kejar oleh orang-orang Turki yang datang dari barat daya. Sebelum bertemu dengan kau, aku banyak mendengar orang bercerita bahwa di daerah Kansu dan Cinghai di barat kini terdapat orang-orang Turki yang menjadi pedagang. Aku mendengar bahwa di Kansu pemandangannya amat indah dan disana terdapat gua-gua kuno yang terkenal. Kalau hendak mendengar tentang Lin-lin dan Paman Yo, baiknya kita merantau ke barat dan menyelidiki orang-orang Turki itu, sekalian melihat pemandangan di kedua daerah itu. Bagaimana pendapatmu?”

Bagi Kwee An, jangankan harus pergi merantau dan menikmati perjalanan ke daerah-daerah yang indah dan menarik hati, biarpun harus ke neraka sekalipun, kalau bersama Ma Hoa, ia akan pergi dengan senang hati.

“Dugaanmu ini memang berdasar juga. Mudah-mudahan saja Cin Hai juga berpendapat sama dan pergi ke barat pula,” katanya.

Demikianlah, kedua sejoli itu lalu mulai melakukan perjalanan ke barat melalui sepanjang tapal batas Mongolia. Dalam menyeberangi Propinsi-propinsi Sui-yuan dan Ning-sia. Siapa yang pernah melakukan perjalanan dengan seorang tunangan atau kekasih yang dicinta, dan mencinta, tentu akan maklum pula bahwa di dalam perjalanan itu, yang terasa hanyalah kegembiraan besar. Segala benda di dunia ini nampak seakan-akan bercahaya gemilang dan berseri, setiap daun dan bunga tersenyum manis, setiap suara terdengar bagaikan nyanyi indah dan merdu! Pendeknya, Ma Hoa dan Kwee An melakukan perjalanan dengan hati penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Apalagi mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang belum pernah mereka kunjungi hingga pemandangan yang ganjil di daerah itu menambah kegembiraan mereka.

Suatu hari di tapal batas daerah Sui-yuan, ketika mereka sedang berjalan cepat melalui sebuah daerah yang berbukit, tiba-tiba mereka mendengar seruan seperti yang biasanya dikeluarkan oleh orang yang sedang berkelahi. Mereka menjadi tertarik dan segera berlari menuju ke arah suara itu. Ketika mereka tiba di sebuah tikungan, mereka melihat dua orang sedang bertempur dengan luar biasa hebatnya.

Ketika mereka telah tiba agak dekat, tiba-tiba Ma Hoa memegang lengan tangan Kwee An dan pemuda ini merasa betapa jari-jari tangan Ma Hoa menggigil. Ia segera memandang wajah kekasihnya yang tiba-tiba berhenti itu, dan melihat betapa wajah Ma Hoa menjadi pucat. Sepasang mata gadis itu memandang ke arah orang-orang yang sedang bertempur dengan terbelalak penuh keheranan dan nampaknya terkejut sekali bagaikan melihat setan di tengah hari! Kwee An segera memandang dan memperhatikan dua orang yang bertempur itu tiba-tiba ia pun memandang dengan mulut celangap.

Ma Hoa menggosok-gosok kedua matanya dan bibirnya bergerak mengeluarkan bisikan, “Koko… apakah kau juga melihat apa yang kulihat?”

Kwee An hanya berkata perlahan, “Heran…. heran….. bukankah nona yang berpedang itu benar-benar dia ?”

“Siapa lagi ? Biarpun lupa akan wajah dan bentuk badannya, aku takkan melupakan gerakan dan ilmu silatnya. Dia benar-benar Enci Im Giok!”

“Mari kita membantunya!?” kata Kwee An, akan tetapi Ma Hoa menjawab,

“Jangan dulu! Enci Im Giok paling tidak suka dibantu apabila keadaannya tidak terdesak. Lihat, dia sedang mendesak lawannya, dan dua orang pendeta yang menonton itu. Mereka entah kawan atau lawan. Baiknya kita menonton sambil bersembunyi, melihat gelagat.”

Keduanya lalu mengintai dari balik pohon. Ternyata bahwa yang bertempur itu adalah seorang nenek tua yang mengerikan. Tubuhnya bongkok karena punggungnya tinggi dan di situ terdapat daging yang menonjol, merupakan punggung onta, rambutnya digelung dan diikat dengan saputangan bersulam yang kecil. Telinganya memakai anting-anting yang besar melingkar. Nenek itu sedang bertempur dengan tangan kosong menghadapi seorang dara jelita berpakaian merah yang memegang pedang. Nona ini cantik sekali dan sekali pandang saja orang yang telah pernah melihatnya tak akan ragu-ragu lagi bahwa dia ini bukan lain ialah Ang I Niocu! Kalau gerakan Ang I Niocu indah menarik dan gesit sekali hingga nampaknya seperti tengah menari dengan pedangnya, gerakan nenek itu tidak kalah hebatnya. Tubuh nenek itu berlompatan ke atas sambil menyerang dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang jari-jarinya ditekuk bagaikan cakar burung garuda! Di dekat tempat pertempuran itu, dua orang kakek berdiri menonton dengan tertarik. Seorang di antara mereka bertubuh tinggi besar, berjubah hitam panjang dan kepalanya ditutup dengan sebuah sorban. Kakek ke dua adalah seorang tosu yang mukanya penuh cambang bauk.

Pada saat itu, Ang I Niocu sedang mendesak hebat dengan ilmu pedangnya. Kalau gerakan nenek itu boleh diumpamakan sebagai seekor garuda yang ganas menyambar-nyambar korbannya, Ang I Niocu merupakan seekor burung merah yang indah dan luar biasa gesitnya. Nenek itu ternyata selain memiliki ginkang yang tinggi dan sempurna, juga memiliki tenaga dalam yang hebat karena selain serangan mencengkeram yang mirip dengan Ilmu Silat Eng-jiauw-kang dari ahli silat Tiongkok Selatan, juga kadang-kadang ia mengirim pukulan-pukulan yang anginnya saja membuat rambut Ang I Niocu berkibar dan awut-awutan! Akan tetapi, pedang Ang I Niocu amat lihainya, sinar pedangnya dapat mendesak terus hingga nenek itu terpaksa berkelahi sambil mundur. Ketika nenek itu mundur dan melompat ke atas sebuah batu karang, Ang I Niocu membabat dengan pedangnya ke arah kaki lawannya dengan gerakan Bidadari Menyebar Bunga hingga hampir saja kaki nenek itu terbabat. Akan tetapi, dengan cepat sekali nenek itu melompat ke atas sambil mengeluarkan teriakan keras, dan ketika tubuhnya masih berada di atas, tiba-tiba kedua tangannya digerakkan dan berhamburanlah hancuran batu menyerang ke arah Ang I Niocu! Ternyata bahwa ketika nenek itu meloncat ke atas batu karang, kedua tangannya mencengkeram batu karang hingga hancur di dalam kedua tangannya dan kini ia menggunakan hancuran batu karang itu untuk menyerang Ang I Niocu! Hancuran batu karang yang menjadi kerikil kecil-kecil ini tidak boleh dipandang ringan, oleh karena tenaga lemparannya yang disertai tenaga khikang ini membuat batu-batu kecil itu dapat menembus kulit dan daging, dan setiap potongan kecil merupakan sebuah senjata rahasia yang lihai!

Akan tetapi Ang I Niocu yang berkepandaian tinggi tidak gentar menghadapi serangan hebat ini. Dengan tenang ia lalu memutar pedangnya hingga tubuhnya seakan-akan terlindung oleh dinding baja dan semua potongan batu kecil itu dapat terpukul jatuh. Kembali mereka bertempur seru, masing-masing mengeluarkan ilmu kepandaian yang paling tinggi. Biarpun Ang I Niocu selalu mendesak, namun agaknya tidak mudah menjatuhkan nenek yang lihai itu.

Sebelum kita maju lebih lanjut dengan cerita ini, sebaliknya kita mengikuti dulu pengalaman Ang I Niocu semenjak ia berada di Pulau Kim-san-to, oleh karena pembaca tentu merasa heran bagaimana Ang I Niocu bisa muncul di sini sedangkan dulu ia berada di Pulau Kim-san-to ketika pulau itu terbakar dan meledak? Baiklah kita mundur sejenak agar selanjutnya cerita ini dapat diikuti dengan lancar.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu mendahului Cin Hai untuk pergi ke Pulau Kim-san-to mencari Lin Lin. Dengan nekat Gadis Baju Merah itu naik ke atas puncak untuk mencari Lin Lin, akan tetapi bukan Lin Lin yang ia jumpai, bahkan ia melihat pemandangan yang amat mengerikan, yaitu seluruh danau di bukit itu terbakar merupakan neraka yang dahsyat. Ia melihat bayangan Vayami bagaikan sedang meiambai-lambai memanggilnya dari tengah lautan api itu, maka dengan hati ngeri sekali Ang I Niocu mencari-cari Lin Lin, berlari ke sana ke mari dan suaranya sampai serak karena terus-menerus ia memanggil,

“Lin Lin…. Lin Lin….! Di mana kau…?”

Ketika ia sedang berlari menubruk sana menubruk sini memanggil-manggil Lin Lin seperti orang gila, tiba-tiba sebuah letusan hebat terdengar dan daya tenaga raksasa yang keluar dari ledakan itu membuat tubuh Ang I Niocu terlempar ke atas udara. Biarpun semangat Ang I Niocu seakan-akan terbang keluar dari tubuhnya karena kehebatan ledakan itu, namun ia masih sempat berteriak lagi memanggil, “Lin Lin…. Lin Lin…. Hai-ji…. ” Kemudian pingsan selagi tubuhhya masih melayang di udara! Memang mati atau hidup seseorang berada sepenuhnya dalam kekuasaan dan tangan Yang Maha kuasa. Kalau Tuhan menghendaki, seorang yang telah berada di mulut harimau masih akan dapat tertolong dan hidup, sedangkan seorang segar bugar dapat tiba-tiba mati. Hal ini harus diakui oleh semua orang karena banyak terjadi bukti-bukti akan kekuasaan yang besar ini. Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi dalam tangan Tuhan!

Demikianpun dengan nasib Ang I Niocu. Agaknya Tuhan belum menghendaki dia terbebas dari hidup di dunia, maka tubuhnya terlempar ke udara tanpa terluka. Hal ini memang tidak begitu aneh oleh karena dapat diketahui sebab-sebabnya. Kalau sekiranya Ang I Niocu tidak berada terlalu dekat dengan bukit yang meledak itu, seperti halnya para tentara Turki dan tentara kerajaan yang terbasmi habis seluruhnya, tentu Dara Baju Merah itupun akan tewas juga, termakan oleh api dan minyak panas. Akan tetapi ketika ledakan terjadi, tubuh Ang I Niocu berada dekat sekali hingga sebelum api dapat membakar tubuhnya, hawa ledakan yang luar biasa kerasnya itu telah membuat tubuhnya terlempar ke udara! Karena hebatnya tekanan ledakan itu, pakaiannya yang merah sampai terobek ke sana ke mari dan potongannya terlempar lalu melayang-layang terbawa angin yang didatangkan oleh ledakan hingga sepotong dari pakaian ini kemudian ditemukan oleh Cin Hai di atas laut.

Biarpun pada saat ia terlempar ke udara, Ang I Niocu terhindar dari bahaya api yang mengamuk, akan tetapi ia masih belum terlepas dari bahaya maut sama sekali, oleh karena ia telah menjadi pingsan dan kalau ia jatuh kembali, maka tubuhnya tentu akan hancur dan dimakan api! Namun, memang Tuhan belum menghendaki kematiannya maka kembali Yang Maha Kuasa memperlihatkan kekuasaanNya lagi.

Di antara semua mahluk hidup yang berada di atas Pulau Kim-san-to ketika ledakan terjadi, selain Ang I Niocu yang selamat, masih ada lagi yang lain, yaitu Sin-kim-tiauw atau rajawali sakti berbulu emas. Kebetulan sekali pada waktu ledakan terjadi, burung rajawali ini sedang terbang tinggi di atas pulau karena ia merasa terkejut melihat sekian banyak orang sedang berperang di atas pulaunya yang biasanya sunyi dan tenteram itu. Ia terbang berputar-putar di atas sambil berteriak-teriak marah, karena perasaannya memberitahukannya bahwa orang-orang yang demikian banyaknya itu bukanlah orang baik-baik. Ia hendak mengamuk dan menyerang, akan tetapi tidak berani dan merasa takut menghadapi sekian banyaknya orang, maka kini ia hanya terbang tinggi sambil memekik-mekik marah.

Ketika terjadi ledakan, Sin-kim- tiauw terkejut sekali dan sambil menyambar-nyambar ke bawah dengan marah, ia menjadi bingung dan takut melihat api berkobar hebat membakar pulaunya. Kemudian, tiba-tiba ia melihat tubuh seorang yang berpakaian merah melayang ke udara dengan kecepatan luar biasa. Tadinya burung itu merasa terkejut dan takut, oleh karena belum pernah ia melihat orang yang dapat terbang! Tentu ilmu kepandaiannya lihai sekali, pikirnya. Maka ia hanya terbang mengelilingi dan tidak berani menyerang, sungguhpun ia merasa marah sekali. Akan tetapi, ketika Ang I Niocu menjadi pingsan dan tubuhnya menjadi lemas terkulai dan tubuhnya menjadi lemas terkulai dan tubuh itu mulai melayang lagi jatuh ke bawah, Sin-kim-tiauw lalu menyambar dan mencengkeramnya. Perlu diketahui bahwa Sin-kim-tiauw bukanlah burung liar sembarangan saja, akan tetapi adalah burung peliharaan yang telah dilatih oleh Bu Pun Su dan adik seperguruannya Han Le, hingga burung ini telah dapat membawa apa saja dalam cengkeramannya tanpa melukai. Maka ketika ia mencengkeram tubuh Ang I Niocu yang pingsan, ia tidak melukai tubuh itu, hanya membawanya terbang menuju ke timur dengan cepat sambil berteriak-teriak girang seperti biasa kalau ia menang berkelahi!

Burung rajawali yang besar itu membawa tubuh Ang I Niocu terus ke timur lalu membelok ka arah tenggara, dan selama itu Ang I Niocu masih saja pingsan tak sadarkan diri karena ledakan hebat itu benar-benar telah mengguncang jantungnya sedangkan perasaan kuatir dan takut membuat semangatnva seakan-akan terbang meninggalkan tubuhnya.

Burung rajawali itu terbang terus dan setelah berputar-putar tinggi di atas pulau yang banyak terdapat di permukaan Laut Tiongkok, lalu menyambar turun ke atas sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon-pohon hijau. Ketika ia telah terbang rendah di alas pulau itu, tiba-tiba terdengar suara orang bersuit keras dan Sin-kim-tiauw segera terbang ke arah suara suitan itu.

“Eh, Kim-tiauw, siapakah yang kau bawa itu?” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan seorang laki-laki keluar dari sebuah gua memandang kepada Kim-tiauw yang terbang rendah itu. “Lepaskan dia!” teriaknya dan Sin-kim-tiauw dengan taat lalu melepaskan tubuh Ang I Niocu dari cengkeraman kakinya. Tubuh Dara Baju Merah itu melayang ke bawah dan dengan gerakan cepat, laki-laki itu lalu menyambut tubuhnya. Merahlah muka laki-laki itu melihat betapa Ang I Niocu hampir tak berpakaian lagi karena pakaiannya yang merah telah robek di sana-sini oleh hawa ledakan tadi! Cepat-cepat laki-laki itu menanggalkan mantelnya menyelimuti tubuh yang segera dibawanya masuk ke dalam gua dan diletakkannya di atas tanah yang bertilamkan rumput-rumput kering. Dengan hati-hati laki-laki itu lalu memeriksa nadi pergelangan tangan Ang I Niocu lalu ia menarik napas lega. Dari sudut gua ia mengambil bungkusan pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kulit buah labu yang telah dikeringkan dan yang digunakan sebagai tempat air. Ternyata bahwa isinya bukanlah air biasa, akan tetapi sari buah-buahan yang mengandung khasiat menguatkan tubuh dan mendatangkan ketenangan pada hati. Dengari hati- hati, ia lalu membuka bibir dan mulut Ang I Niocu dengan tangan kanan dan menuangkan sedikit isi tempat air itu ke dalam mulut gadis itu. Kemudian, setelah menyimpan tempat air ke dalam bungkusannya kembali, ia lalu berdiri memandang wajah dara itu dengan penuh perhatian lalu menarik napas panjang dan keluar dari gua.

Burung rajawali melihat kedatangannya, lalu berjalan menghampiri sambil mengeluarkan keluhan panjang.

“Sin-kim-tiauw, dari manakah kau datang dan siapakah gadis itu? Aku mendengar suara ledakan keras dari arah Pulau Kim-san-to dan melihat api berkobar-kobar. Heran sekali, apakah yang telah terjadi?”

Kim-tiauw itu mengeluarkan keluhan keras dan aneh, lalu mengembangkan sayapnya dan memukul-mukul tanah, seakan-akan hendak menceritakan peristiwa hebat yang menimpa pulaunya, akan tetapi tentu saja laki-laki itu tidak mengerti sama sekali, hanya dia dapat menyangka bahwa tentu telah terjadi hal yang aneh sekali, karena tidak biasa Sin-kim-tiauw berlaku seaneh ini.

Siapakah laki-laki yang tinggal seorang diri di sebuah pulau kecil yang asing dan tiada berkawan ini? Ia adalah seorang laki-laki yang berwajah cukup tampan, berkening lebar dan sinar matanya tajam berkilat. Tubuhnya tegap dan sedang, dan usianya paling banyak tiga puluh lima tahun. Pakaiannya terbuat dari pada bahan kasar berwarna biru dan sebilah pedang tergantung di pinggangnya. Orang ini sebetulnya adalah seorang pendekar silat yang mengasingkan diri, seorang berilmu tinggi yang patah hati oleh karena kecewa melihat keadaan dunia yang penuh kepalsuan. Dulu ia tinggal di atas Pulau Kim-san-to, ikut belajar silat kepada suhunya yang bukan lain ialah Han Le atau sute dari Bu Pun Su! Mereka tinggal bertiga dengan seorang sutenya, karena Han Le mempunyai dua orang murid, yaitu laki-laki ini yang bernama Lie Kong Sian, dan seorang pemuda bernama Song Kun. Baik Lie Kong Sian maupun Song Kun, keduanya adalah anak-anak yatim piatu yang menjadi korban keganasan tentara Mongol. Ayah bunda mereka telah tewas ketika tentara Mongol menyerbu dusun-dusun dan mereka berdua mendapat pertolongan dari Han Le yang lalu membawa mereka ke atas Pulau Kim-san-to dan mengangkat mereka menjadi murid.

Biarpun Lie Kong Sian mempunyai bakat baik sekali hingga ia dapat mewarisi kepandaian suhunya, namun ia masih kalah apabila dibandingkan dengan Song Kun yang memiliki bakat. Luar biasa sekali. Bahkan Han Le sendiri pernah berkata kepada Lie Kong Sian yang dipercaya penuh dan disayangi seperti anak sendiri, “Muridku, kau lihat saja, Song Kun kelak akan memiliki ilmu kepandaian yang jarang mendapat tandingan oleh karena anak itu memiliki tulang dan bakat yang luar biasa. Dalam hal ilmu silat, bakat mempunyai pengaruh hebat sekali oleh karena biarpun ilmu silat yang dipelajarinya sama dengan yang kaupelajari, akan tetapi bakatnya dapat membuat ilmu silatnya menjadi lebih lihai dan hebat, karena mendapat tambahan sendiri oleh bakatnya yang baik. Akan tetapi ia masih amat muda, muridku, dan apabila aku telah tidak ada lagi di dunia ini, kaulah yang harus menjadi wakilku untuk menuntunnya ke arah jalan benar.”

Bertahun-tahun kedua orang murid ini digembleng oleh Han Le di atas Pulau Kim-san-to, kemudian Han Le mengajak, kedua orang muridnya itu berkelana untuk mencari pengalaman di dunia ramai. Dan hal inilah yang kemudian membuat Song Kun berubah. Kelihatanlah watak aselinya ketika pemuda ini melihat benda-benda berharga dan hal- hal yang terjadi di dunia ramai. Ia mulai menjadi sesat dan pengaruh-pengaruh buruk menguasai hatinya. Sebuah di antara wataknya yang buruk ialah kesukaannya akan wanita cantik.

Baik Han Le maupun Lie Kong Sian mengetahui hal ini, maka setelah berkelana selama dua tahun, Han Le lalu mengajak Song Kun kembali ke Pulau Kim-san-to dan menyuruh Lie Kong Sian mengembara seorang diri untuk meluaskan pengalaman dan menjalankan pekerjaan sebagai seorang pendekar yang harus menolong sesama hidup yang menderita kesukaran.

Diam-diam Song Kun merasa mendongkol sekali kepada suhunya, akan tetapi ia tidak berani menyatakan dengan terus terang, bahkan ia lalu dengan cerdiknya merubah sikap menjadi penurut dan berbakti sekali. Ia melayani suhunya dengan amat baiknya, bahkan ketika Bu Pun Su datang berkunjung ke pulau itu, ia dapat pula menipu kakek jembel ini hingga Bu Pun Su juga salah sangka dan memuji murid adik seperguruannya ini, lalu menurunkan semacam kepandaian ilmu silat kepada Song Kun. Di atas pulau itu, selain Song Kun dan gurunya, telah ada tiga ekor binatang sakti yang dulu dipelihara oleh Bu Pun Su, yaitu Merak Sakti, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk. Ketika dulu Bu Pun Su bertapa di pulau itu, ia memelihara ketiga ekor binatang ini dan kemudian meninggalkannya kepada Han Le yang tetap berdiam di pulau itu.

Selama Lie Kong sian pergi merantau, Song Kun dapat menipu suhunya dan membujuk hingga Han Le lalu memberi pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi lagi. Dan pada suatu hari, tanpa memberi tahu kepada suhunya, Song Kun minggat dari pulau itu! Han Le terkejut sekali dan mulailah ia merasa sedih dan jatuh sakit berat di atas pulau itu.

Kebetulan sekali Lie Kong Sian datang ke Pulau Kim-san-to untuk mengunjungi suhunya dan sutenya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat suhunya dalam keadaan sakit berat. Cepat-cepat ia menolong dan merawatnya, akan tetapi terlambat. Agaknya memang sudah menjadi takdir Han Le untuk meninggalkan dunia ini di pulau itu! Sebelum ia menutup mata, ia meninggalkan pesan kepada Lie Kong Sian.

“Muridku, kalau aku telah mati, kuburkanlah mayatku dalam gua ini, dan juga pedangku ini harus ikut di tanam pula, kemudian kau pergilah mencari sutemu Song Kun. Selidikilah keadaannya karena aku kuatir sekali kalau-kalau ia mencemarkan namaku dengan perbuatan rendah. Akan tetapi, kau berhati-hatilah menghadapinya, Kong Sian, karena ilmu silatnya hampir sempurna. Kalau kau perlu bantuan, kau carilah supekmu Bu Pun Su untuk membantu menangkapnya. Selain supekmu Bu Pun Su, kukira tidak ada orang lain yang akan dapat melawannya!”

Tak lama kemudian, setelah Lie Kong Sian memenuhi pesanan suhunya yang telah meninggal, yaitu mengubur jenezah suhunya berikut pedangnya di dalam gua yang penuh pasir itu, lalu ia meninggalkan Pulau Kim-san-to. Ketiga ekor binatang sakti masih berdiam di pulau itu dengan sedih dan kesunyian.

Lie Kong Sian berhasil bertemu dengan sutenya, akan tetapi, biarpun ia melihat bahwa sutenya ini menyimpang dari perjalanan hidup yang benar, ia tidak tega untuk minta pertolongan Bu Pun Su. Semenjak kecil ia hidup di atas pulau, belajar silat bersama sutenya ini hingga ia pandang Song Kun seperti adik sendiri yang amat ia kasihi, maka ketika ia melihat akan kesesatan Song Kun, ia hanya memberi nasihat. Akan tetapi, benar sebagaimana dugaan suhunya, adiknya itu tidak mau menurut bahkan menantangnya hingga mereka lalu berkelahi! Tingkat kepandaian mereka memang sama, akan tetapi Song Kun memiliki kecepatan yang lebih hebat hingga akhirnya Lie Kong Sian dapat dikalahkan dan terpaksa melarikan diri.

Hal ini amat mendukakan hati Lie Kong Sian. Untuk minta bantuan Bu Pun Su, ia tidak tega melihat adiknya terhukum, kalau didiamkan saja bagaimana. Maka dalam kebimbangan dan keraguannya, ia lalu kembali ke Pulau Kim-san- to dan menangis di depan kuburan suhunya, mengakui akan kelemahannya. Kemudian ia lalu mengasingkan diri, bertapa di sebuah pulau kosong tak jauh dari Kim-san-to, sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Pek-le-to. Seringkali Merak Sakti terbang ke pulau itu untuk mengunjunginya, dan juga beberapa kali Lie Kong Sian mendayung perahu kecil mengunjungi pulau di mana suhunya dimakamkan itu.

Demikianlah selama beberapa tahun bertapa di Pulau Pek-le-to, Kong Sian menuntut penghidupan tenteram, sampai pada hari itu ia dikejutkan oleh ledakan yang datang dari arah Pulau Kim-san- to. Kemudian datang Sin-kim-tiauw yang membawa tubuh Ang I Niocu yang pingsan, maka tentu saja ia menjadi heran, akan tetapi kepada siapa ia harus bertanya? Setelah menepuk-nepuk punggung rajawali itu, Kong Sian kembali ke dalam gua.

Seperti tadi, ia berdiri memandang Ang I Niocu dan kembali ia merasa jantungnya berdebar aneh. Ia menjadi terkejut sekali oleh karena belum pernah selama hidupnya ia mendapat perasaan seperti ini, sungguhpun telah banyak ia jumpai wanita-wanita cantik selama ia merantau. Ia maklum pengaruh apa yang mencengkeram hatinya, maka dengan wajah pucat ia segera membuang muka dan tidak mau memandang lagi. Akan tetapi oleh karena hatinya masih saja berdebar, ia lalu pergi ke sudut gua di mana terdapat sebuah batu besar yang ia tilami jerami kering di atasnya, lalu duduk dan bersamadhi untuk menenteramkan hatinya yang terguncang!

Tak lama kemudian, Kong Sian berhasil menekan perasaan hatinya yang bergelora itu, maka ia lalu turun dari atas batu dan menghampiri Ang I Niocu kembali. Dilihatnya betapa wajah dara itu merah sekali dan pernapasannya sesak. Ia mengulurkan tangan meraba jidat gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu terserang demam hebat. Maka cepat ia keluar dari gua dan mencari daun obat yang banyak tumbuh di atas pulau Pek-le-to, lalu memeras daun itu dan meminumkan airnya pada Ang I Niocu, kemudian dengan saputangan yang dibasahi air ia lalu mengompres kepala Ang I Niocu.

Kekagetan dan ketakutan yang menyerang Ang I Niocu, ditambah lagi dengan pukulan hawa ledakan yang dahsyat itu, membuat gadis itu pingsan dan menderita sakit demam hebat selama tiga hari. Dan selama itu, dengan setia dan hati penuh iba Kong Sian menjaga di sampingnya, merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Akan tetapi selama tiga hari itu, beberapa belas kali terpaksa Lie Kong Sian yang biasa berhati teguh dan beriman baja itu harus pergi duduk untuk bersamadhi dan mengatur pernapasannya menekan perasaan yang menggelora di dalam dadanya!

Pada hari ke empatnya, tubuh Ang I Niocu sudah mulai bergerak-gerak dengan gelisah, akan tetapi tubuhnya ternyata lemah sekali. Karena pergerakan yang gelisah itu, beberapa kali mantel yang menutupi tubuhnya terbuka dan dengan cepat dan sopan, Kong Sian lalu menutupkannya kembali. Kemudian ia lalu mengurut jalan darah gadis itu hingga Ang I Niocu merasa mendingan dan tidak begitu gelisah lagi, akan tetapi gadis itu masih belum membuka matanya. Sambil bergerak perlahan dengan mata tertutup ia berbisik.

“Lin Lin…. Hai-ji….” Kemudian sambil mengeluarkan ujung lidah yang disapu-sapukan pada bibirnya ia berbisik lagi, “Air…. air….”

Ketika Kong Sian meraba jidatnya, maka ternyata panasnya telah naik lagi. Kong Sian merasa kuatir sekali dan segera mengambil air yang telah dimatangkannya, lalu dengan sebuah sendok yang terbuat dari kayu, ia menyuapi air matang ke dalam mulut Ang I Niocu yang menelannya dengan lahap sekali. Kong Sian lalu mengambil bubur gandum yang tadi di masaknya, lalu dengan perlahan ia menyuapkan bubur ini sesendok demi sesendok ke dalam mulut gadis itu yang menelannya tanpa membuka mata.

Setelah diberi makan bubur, gadis itu lalu tertidur kembali dan panasnya menurun. Kong Sian tetap menjaga dengan perasaan penuh iba. Dalam perawatan ini, timbullah rasa cinta yang amat besar dan mendalam di hati pemuda yang telah berusia tiga puluh lima tahun ini. Memang tadinya Kong Sian mengambil keputusan untuk tidak kawin selama hidupnya dan tinggal di pulau itu menjadi pertapa, mempelajari ilmu batin, ilmu silat, dan ilmu pengobatan. Akan tetapi semenjak pertemuannya dengan Ang I Niocu dalam keadaan yang ganjil ini, hatinya selalu bergoncang keras dan ia merasa betapa hidup ini baginya menjadi berubah sama sekali. Sering kali ia duduk di dekat Ang I Niocu dan membayangkan betapa akan hancur hatinya dan kosong hidupnya apabila gadis ini meninggal dunia karena sakitnya.

Setelah dirawat dengan amat teliti dan telaten oleh Kong Sian selama dua hari dua malam dalam keadaan setengah sadar dan belum pernah selama itu Ang I Niocu membuka matanya, maka lenyaplah demam yang menyerangnya. Tubuhnya menjadi segar kembali dan biarpun tubuhnya masih agak lemah, akan tetapi ia tidak gelisah lagi. Pada hari ke tujuh semenjak ia tiba di situ, pagi-pagi hari Ang I Niocu membuka kedua matanya bagaikan baru bangun dari alam mimpi yang dahsyat. Ia bangun sambil tersentak kaget dan begitu membuka mata, ia lalu bangun duduk sambil memanggil nyaring.

“Lin Lin…. Hai-ji….. ” dan cahaya kekuatiran hebat terbayang pada wajahnya yang cantik.

Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia sedang duduk diatas setumpuk rumput kering di dalam sebuah gua dan melihat seorang laki-laki cakap duduk di dekatnya sambil memandangnya dengan kagum sekali karena setelah kini Ang I Niocu membuka matanya Kong Sian merasa seakan-akan ia melihat seorang bidadari yang duduk di situ. Alangkah indah mata gadis itu!

Ang I Niocu meloncat ke atas karena kagetnya dan terlepaslah mantel penutup tubuhnya, hingga Kong Sian juga buru-buru melompat ke belakang dan memutar tubuhnya membelakangi gadis itu.

“Nona, pakailah mantel itu baik-baik, baru kita bicara!” katanya perlahan dan halus.

Sementara itu Ang I Niocu terkejut bukan main melihat betapa pakaiannya telah robek tidak karuan hingga ia hampir telanjang! Buru-buru dan dengan muka merah karena jengah, ia lalu menyambar mantel itu kembali dan menyelimuti tubuh dengan mantel itu dengan ikat pinggangnya yang berwarna kuning emas. Setelah selesai, maka dengan mata bernyala ia lalu menubruk dan menyerang Kong Sian dari belakang.

“Bangsat kurang ajar! Kau berani menghinaku?” serunya.

Mendengar sambaran angin pukulan, Kong Sian merasa terkejut sekali dan cepat ia mengelak sambil berkata,

“Eh, Nona, sabar dulu… aku… aku ….”

Biarpun merasa tubuhnya masih lemah, akan tetapi oleh karena marah maka Ang I Niocu tetap menyerang dengan hebat sambil mengeluarkan ilmu silatnya Kong-ciak Sian. Kong Sian merasa terkejut sekali oleh karena tentu saja ia mengenal ilmu silat dari suhunya ini, maka dengan heran ia lalu melayani Ang I Niocu dengan baik. Makin kagumlah ia ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu gerakan gadis ini ternyata lihai sekali dan biarpun tenaganya masih lemah, akan tetapi ginkang dan lweekang gadis ini menyatakan bahwa ia menghadapi seorang pendekar wanita yang tak boleh dibuat gegabah. Ia pikir bahwa gerakan-gerakan ini membahayakan kesehatan gadis yang baru saja sembuh itu, maka dengan cepat ia lalu membalas serangan Ang I Niocu dengan totokan- totokan luar biasa dan karena Ang I Niocu belum cepat gerakannya disebabkan tubuhnya yang masih lemah, pula oleh karena ilmu kepandaian silat Kong Sian memang masih lebih tinggi, maka sebentar saja pemuda itu berhasil menotok pundak Ang I Niocu yang segera mengeluh dan roboh dengan lemas!

Kong Sian segera mengangkat tubuh Ang I Niocu dan membawanya keluar gua di mana ia menaruh tubuh gadis itu di bawah sebatang pohon dan angin gunung yang sejuk membuat Ang I Niocu merasa nyaman sekali.

“Nona, banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan. Harap kau bersabar mendengarkan bicaraku. Pertama-tama yang perlu kauketahui ialah kau sama sekali keliru menyangka padaku. Aku bukanlah orang jahat dan sama sekali aku tidak mempunyai maksud buruk terhadapmu. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang mengasingkan diri di pulau ini dan tujuh hari yang lalu, Sin-kim-tiauw datang terbang ke mari sambil mencengkeram tubuhmu yang telah pingsan! Kemudian kau jatuh sakit tidak sadarkan diri sampai tujuh hari dan aku merawatmu di dalam gua itu!”

Mendengar ucapan ini, lenyaplah sinar marah dari mata Ang I Niocu danKong Sian lalu mengulur tangan memulihkan totokannya pada pundak gadis itu sambil berkata, “Biarlah, kalau kau tetap tidak percaya kepadaku, kauseranglah aku lagi, aku tak hendak membalas untuk menyatakan bahwa kata-kataku tadi benar belaka!”

Setelah sadar dari totokan, Ang I Niocu memandang dengan mata bengong dan ia tidak berkutik dari tempat duduk. Tubuhnya masih merasa lemah dan ia menyandarkan diri pada pohon itu.

“Benar-benar masih hidupkah aku?” tanyanya perlahan setengah berbisik, karena sekarang ia teringat betapa ia telah dilontarkan ke atas oleh ledakan dahsyat itu dan kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi.

Kong Sian tersenyum dan wajahnya yang tadi nampak bersungguh-sungguh itu berubahlah setelah ia tersenyum. Sekarang ia tampak tampan dan matanya memancarkan seri gembira. “Tentu saja kau masih hidup, Nona, kalau tidak bagaimana kau bisa berada di sini? Kau berada di Pulau Pek-le-to dan di pulau ini hanya akulah penghuni satu-satunya.”

“Bagaimana seekor rajawali dapat membawaku ke sini?” Di mana burung itu?” tanya Ang I Niocu yang masih merasa ragu-ragu oleh karena ia masih kurang percaya kepada cerita yang aneh itu.

Lie Kong Sian lalu berdiri dan bersuit keras. Dari atas lalu terdengar suara balasan dari seekor burung dan tiba-tiba nampaklah setitik hitam yang tinggi menyambar turun dengan cepatnya. Setelah tiba dekat, ternyata yang melayang turun itu adalah seekor burung rajawali besar, mengingatkan Ang I Niocu kepada burung rajawali yang dulu menyambar-nyambarnya di atas perahu ketika ia masih mencari Pulau Kim-san-to di atas perahu bersama Cin Hai dan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio. Akan tetapi rajawali ini lebih besar dan bulunya indah sekali. Sin-kim-tiauw terbang rendah lalu turun di depan Kong Sian, memandang kepada Ang I Niocu dengan sepasang matanya yang tajam sinarnya.

“Nah, inilah Sin-kim-tiauw yang membawamu ke sini. Sekarang akulah yang minta keterangan kepadamu bagaimana kau bisa terbawa oleh burung sakti ini.”

“Aku…. aku berada di Pulau Kim- san-to dan pulau itu terbakar lalu meledak hingga aku terlempar ke udara oleh ledakan itu kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Agaknya ketika tubuhku melayang di udara dalam keadaan pingsan, burung sakti ini menyambar diriku dan membawanya ke sini. Kalau begitu, dia adalah penolong jiwaku!” Setelah berkata demikian, Ang I Niocu lalu berdiri dan ia berlutut di depan burung itu!

Kim-tiauw itu adalah seekor burung yang luar biasa cerdiknya. Melihat Ang I Niocu, ia agaknya tahu dan dengan keluhan panjang ia lalu menundukkan kepalanya dan membelai kepala Ang I Niocu dengan lehernya yang berbulu tebal. Kemudian, sambil memekik girang burung itu lalu terbang ke atas dan berputaran di udara seakan-akan merasa girang sekali bahwa ada orang yang berterima kasih dan berlutut padanya!

“Kau katakan tadi bahwa aku jatuh sakit dan tidak ingat diri sampai tujuh hari di sini?” tanya Ang I Niocu sambil menghadapi Kong Sian kembali. Mereka masih duduk di atas rumput, berhadapan.

Kong Sian mengangguk. “Ya, kau pingsan tiga hari tiga malam dan tubuhmu panas sekali. Kau terserang demam hebat dan tiap hari mengigau dalam keadaan tidak ingat orang. Kemudian kau dapat bergerak, akan tetapi kau gelisah dan panas sekali dan sama sekali tidak membuka matamu. Aku telah merasa kuatir sekali dan sudah hampir habis harapanku untuk dapat melihat kau hidup lagi.”

Ketika Kong Sian sedang bercerita, Ang I Niocu memandang dengan penuh keheranan. Duduk berhadapan dengan Kong Sian dan mendengar suara orang ini bercerita tentang keadaannya, ia merasa seakan-akan ia telah menjadi kenalan lama, apa lagi ketika ia dapat menangkap nada suara yang penuh getaran karena terharu pada saat pemuda itu menceritakan kegelisahannya melihat dia sakit!

“Kalau begitu, selama tujuh hari aku menderita sakit… akan tetapi sungguh heran… bagaimana aku masih dapat hidup….?”

Kong Sian merasa segan dan malu untuk menceritakan betapa ia merawat gadis ini selama sakit, maka ia hanya menjawab, “Thian itu adil dan selalu melindungi orang-orang baik, maka Thian telah melindungimu dari keadaan yang membahayakan jiwamu itu.”

Ang I Niocu menggeleng kepalanya. “Betapapun juga, kalau dalam keadaan sakit aku tidak diberi obat dan selama tujuh hari tidak makan apa-apa, tidak mungkin aku akan dapat hidup! Siapakah yang merawatku dan siapa yang memberi makan padaku?”

Merahlah wajah Kong Sian mendengar ini. Sikapnya menjadi canggung sekali dan suaranya menjadi gagap ketika ia menjawab, “Memang… aku telah… aku yang memberi obat padamu dan… dan melihat kau begitu lemah dan gelisah…. aku memberi bubur gandum kepadamu.”

Sinar terima kasih yang amat mendalam terbayang pada mata Ang I Niocu ketika mendengar ini, karena biarpun pemuda itu tidak menceritakannya, ia sudah dapat menduganya. Sikap ragu-ragu untuk memberitahukan bahwa pemuda itu telah merawatnya, membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kagum sekali. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi pribadi orang ini. Akan tetapi tiba-tiba Ang I Niocu teringat akan sesuatu dan sinar kemarahan tercampur keraguan membayang kembali pada wajahnya yang menjadi makin memerah.

“Dan… keadaan pakaianku ini…!” Ia lalu melompat berdiri lagi, kedua tangannya terkepal, “katakanlah terus terang, apa yang terjadi dengan pakaianku? Dan mengapa pula kau menyelimutkan dengan mantel? Mantel siapakah ini?” Pertanyaan ini diucapkan dengan ketus dan marah oleh karena ia merasa bercuriga.

Kong Sian menarik napas panjang. “Nona, kalau saja bukan kau yang bersikap seperti ini dan menyangka yang bukan-bukan terhadap aku, tentu aku akan naik darah dan menjadi marah sekali! Kaukira aku Lie Kong Sian ini orang macam apakah? Nona, kau boleh maki padaku, bahkan kau boleh menyerangku, akan tetapi janganlah sekali-kali kau menyangka aku berlaku rendah dan biadab terhadap dirimu! Ketika Sin-kim-tiauw datang membawamu ke sini, pakaianmu sudah robek semua dan tidak keruan macamnya, maka lalu aku menyelimutimu dengan mantelku. Nah, itulah keadaan yang sebenarnya!”

Sambil berkata demikian, teringatlah Kong Sian akan hal itu hingga ia menundukkan kepala dengan kemalu-maluan.

Kalau saja ia tidak menundukkan mukanya, tentu ia akan melihat betapa Ang I Niocu menjadi merah sekali mukanya dan betapa kedua mata gadis itu mencucurkan air mata! Tiba-tiba Ang I Niocu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah di depan pemuda itu sambil berkata dengan suara penuh keharuan, “In-kong (Tuan Penolong), maafkanlah aku yang kasar dan yang telah menuduhmu yang bukan-bukan! Kau telah menolong jiwaku, telah merawatku selama tujuh hari, memberi obat, menyuapkan makan akan tetapi aku yang tertolong bahkan telah menuduhmu yang bukan-bukan! Maafkanlah aku …..” Ang I Niocu mengucapkan kata-kata ini sambil menangis karena tidak saja ia merasa terharu, akan tetapi ia juga teringat akan semua peristiwa dan ia menguatirkan keadaan Lin Lin dan Cin Hai!

Lie Kong Sian berkata dengan halus, “Duduklah, Nona, dan legalah hatiku karena sekarang kau telah percaya kepadaku.”

Ang I Niocu bangun dan duduk kembali sambil menyusut air matanya dengan ujung mantelnya. Ia kini merasa amat jengah dan malu hingga ia tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu.

“Yang amat mengherankan,” katanya kemudian, “mengapa tubuhku tidak terluka sedangkan aku dicengkeram dan dibawa terbang oleh seekor burung rajawali yang begitu besar dan ganas.”

“Tak usah kau merasa heran, Nona. Sin-kim-tiauw bukanlah burung rajawali biasa. Ia sudah terlatih baik sekali oleh Supekku yang sakti, dan mungkin hanya Supek Bu Pun Su saja yang dapat melatihnya.”

Ang I Niocu mengangkat kepalanya dan memandang tajam. “Apa? Jadi kau adalah murid keponakan dari Suhu Bu Pun Su?”

Kong Sian juga memandang heran. “Benar, mendiang Suhuku yang bernama Han Le adalah sute dari Supek Bu Pun Su. Nona, ketika kau menyerangku di dalam gua tadi kau telah mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna. Dari siapakah kau memperoleh ilmu itu?”

Dengan girang sekali Ang I Niocu berkata, “Kalau begitu, kau masih terhitung suhengku (kakak seperguruan) karena aku pernah menerima latihan silat dari Suhu Bu Pun Su! Biarpun sesungguhnya Suhu Bu Pun Su masih menjadi susiok couwku sendiri karena mendiang ayahku adalah murid keponakannya. Akan tetapi akhir-akhir ini aku mendapat latihan Kong-ciak-sinna dan Pek-in -hoat- sut dari Suhu Bu Pun Su hingga aku boleh juga menyebutnya Suhu!”

Bukan main girang rasa hati Kong Sian “Ah, ah, dunia ini memang tidak berapa luas! Siapa tahu bahwa aku telah menolong seorang saudara sendiri. Sumoi, sungguh-sungguh aku merasa girang sekali mendengar ini. Akan tetapi, siapakah mendiang Ayahmu?”

“Ayahku adalah Kiang Liat,” jawab Ang I Niocu dengan singkat oleh karena ia merasa malu membicarakan ayahnya yang mati karena gila!

Kong Sian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pernah mendengar dari Suhu tentang ayahmu itu yang berjuluk Jian-jiu-sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu). Ketika merantau, aku pernah mendengar nama besar dari seorang pendekar wanita yang berjuluk Ang I Niocu, apakah kau sendiri orang itu?”

Ang I Niocu mengangguk. “Memang itu nama julukanku yang kosong tak berisi. Namaku adalah Kiang Im Giok, seorang yatim piatu yang hidup sunyi dan penuh penderitaan.” “Sumoi, kata-katamu ini benar-benar menyentuh jiwaku. Aku Lie Kong Sian juga merasa bosan sekali di dunia ramai karena hidupku sebatang kara penuh kesunyian.”

Keduanya berdiam sampai lama, dan tenggelam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Kong Sian minta kepada Ang I Niocu untuk menceritakan pengalamannya ia sampai dapat berada di Pulau Kim-san-to. Dengan panjang lebar Ang I Niocu lalu menceritakan semua pengalamannya dan menyebut nama-nama Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Nelayan Cengeng dan juga nama Yousuf dan lain- lain. Setelah selesai bercerita, Kong Sian lalu menepuk kepalanya sendiri sambil berkata,

“Ah, memang aku yang percuma dihidupkan di atas dunia ini! Telah terjadi peristiwa yang besar dan demikian banyaknya serta membutuhkan tenaga bantuanku, akan tetapi yang kukerjakan hanyalah duduk melamun di pulau ini! Sampai-sampai Pulau Kim-san-to telah kutinggalkan bertahun-tahun hingga sekarang lenyap dimakan api! Ah, arwah Suhu tentu marah melihat sikapku ini. Memang aku seorang yang berjiwa lemah!” Ia menghela napas berulang-ulang dan merasa kecewa terhadap diri sendiri.

“Suheng, kau adalah seorang gagah dan mulia dan melihat gerakanmu ketika kau menotok roboh padaku tadi, aku yakin bahwa ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali. Mengapa kausia-siakan diri di tempat ini? Mengapa kau tidak mau terjun di dunia ramai dan melakukan darma bakti sebagai seorang yang berkepandaian? Kalau kau mengasingkan diri di tempat ini, bukankah berarti sia-sia saja kau mempelajari kepandaian sampai bertahun-tahun?”

Seperti biasa Ang I Niocu selalu merasa bahwa ia lebih berpengalaman dan lebih “berakal” daripada orang lain, maka di dalam ucapannya ini terkandung nasihat-nasihat, teguran dan penyesalan, seperti biasa orang-orang tua menasehati anak-anak atau guru menasehati murid. Memang, selama ia menjelajah di dunia kang-ouw, yang disegani oleh Ang I Niocu dan yang membuat ia tunduk hanyalah Bu Pun Su seorang, sedangkan kepada lain-lain orang ia bersikap “lebih tinggi”.

Kong Sian tersenyum mendengar ucapannya ini. “Sumoi, memang demikianlah dipandang sepintas lalu. Akan tetapi, selama kau malang melintang di dunia ramai, apakah yang kau dapat? Hanya permusuhan, kejahatan, dan perkelahian mengadu jiwa, bunuh-membunuh sesama manusia. Aku sudah bosan menghadapi semua itu. Di sini aku mendapat ketenteraman jiwa dan tidak terpengaruh oleh kejahatan-kejahatan manusia yang terjadi di dunia ramai. Memang, sewaktu-waktu aku tentu keluar, dari sini untuk meninjau dunia ramai hingga tidak terputus hubunganku dengan manusia umumnya, akan tetapi, tempat ini telah kupilih untuk menjadi tempat tinggalku yang tetap di mana aku dapat hidup dengan tenteram dan aman sentausa!”

Ucapan ini membuat Ang I Niocu tertegun. Terutama kata-kata pertanyaan yang diucapkan oleh suhengnya ini berkesan di dalam hatinya. Apakah yang ia dapat selama ini? Hanya kesedihan, kekecewaan, dan permusuhan belaka. Demikianlah, kedua orang itu lalu bercakap-cakap dengan asyiknya, menceritakan pengalaman masing-masing. Ketika mendengar tentang Cin Hai yang menjadi murid Bu Pun Su dan yang amat dipuji kepandaiannya oleh Ang I Niocu, Lie Kong Sian merasa kagum sekali.

“Ah, ingin sekali aku bertemu dengan dia itu! Memang sungguh mengagumkan bahwa seorang pemuda yang masih demikian muda sudah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian pokok dari Supek Bu Pun Su. Suhu dulu pernah menyatakan bahwa ilmu pengertian pokok segala gerakan ilmu silat adalah kepandaian tunggal Supek yang membuat ia menjadi seorang yang tiada lawannya dalam dunia persilatan. Dan ia sudah mampu mencipta sendiri ilmu pedangnya. Sungguh mengagumkan.” Diam-diam Kong Sian membandingkan anak muda itu dengan sutenya Song Kun yang juga amat lihai ilmu silatnya.

Sambil merawat dan memulihkan kesehatannya, Ang I Niocu berdiam di pulau itu dan melatih ilmu-ilmu silat bersama Kong Sian. Ia telah menggunakan waktu senggang untuk menjahit kembali pakaiannya hingga kini tak perlu lagi ia menyelimuti diri dengan mantel pemuda itu. Dalam latihan ilmu silat, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda itu benar-benar hebat dan lihai sekali hingga boleh dikata masih lebih tinggi setingkat daripada ilmu kepandaiannya sendiri. Oleh karena ini, ia mendapat petunjuk-petunjuk dari suhengnya ini yang juga merasa kagum sekali melihat kepandaian sumoinya.

Ketika mendengar tentang Song Kun, Ang I Niocu menyatakan pendapatnya,

“Suheng sudah terang bahwa sutemu itu jahat dan membahayakan keselamatan umum, mengapa kau tidak pergi mencari dan menasihatinya?”

“Dulu sudah pernah aku mencarinya, akan tetapi dia tidak mau mendengar nasihatku,” jawab Kong Sian dengan suara sedih.

“Kalau begitu, kau harus menggunakan kekerasan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memberantas kejahatan, dan siapapun juga orangnya yang berlaku jahat, harus kita berantas!”

“Kami bahkan telah bertempur dan aku tak dapat mengalahkan. Ilmu kepandaiannya walaupun tidak lebih daripada kepandaianku, namun ia memiliki bakat luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan sekali. Dan….. dan aku tidak tega melihat ia mendapat celaka. Aku amat menyayangnya seperti adik sendiri, sumoi.”

Ang I Niocu memandangnya tajam dan kagum. “Kau memang seorang berhati mulia, akan tetapi kau terlalu lemah, Suheng. Agaknya, kalau kau sudah mencinta seseorang, kau akan membelanya sampai mati! Sayang tidak ada seseorang wanita yang mendapat kehormatan menerima cinta hatimu itu, Suheng. Alangkah bahagianya seorang wanita yang mendapat cinta hati seorang mulia seperti kau ini!” Ucapan ini sebetulnya hanya muncul dari watak yang jujur dari Ang I Niocu karena ia merasa betapa ada persesuaian antara dia dan Kong Sian. Dia sendiri pun kalau sudah mencinta orang, ia rela membelanya dengan taruhan jiwa sekalipun. Seperti halnya Lin Lin dan Cin Hai, ia rela untuk mengorbankan jiwa demi kebahagiaan mereka! Akan tetapi, tak disangkanya, ketika mendengar ucapan yang diucapkan sewajarnya ini, tiba-tiba Kong Sian menjadi pucat sekali.

“Suheng, kau….. kau kenapakah?”

Sambil menundukkan kepala dan tak berani menentang mata Ang I Niocu, Kong Sian lalu berkata perlahan, “Sumoi, sebetulnya lidahku seakan-akan beku untuk mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi, biarlah aku berterus terang saja. Sebelum bertemu dengan kau, tak pernah terpikir olehku tentang diri seorang wanita dan aku telah mengambil keputusan untuk hidup menyendiri di pulau ini sampai mati. Akan tetapi…. setelah aku bertemu dengan kau… bahkan sebelum aku mengetahui siapa adanya kau, melihat kau menderita sakit tanpa mengetahui apakah kau orang baik-baik atau orang jahat, hatiku sudah…. tertarik sekali kepadamu dan… dan…. ” kemudian ia mengangkat mukanya dan dengan wajah pucat ia memandang kepada gadis itu dengan mata sayu, “Sumoi… maafkan kata-kataku ini… kita sama-sama hidup tidak berisi sakan-akan kosong dan sunyi. Maukah kau….. maukah kau menghabiskan sisa hidupmu dengan aku di pulau ini?”

Warna merah menjalar di seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya, dan matanya terbelalak ketika ia memandang pemuda itu. “Suheng….. apakah maksudmu?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Sumoi, kalau kau sudi, marilah kita hidup bersama di pulau ini…. maksudku, kita hidup sebagai suami isteri!”

Kini mata Ang I Niocu memandang tajam. “Mengapa, Suheng? Mengapa kau mengajukan usul ini? Apakah yang mendorongmu?”

Sementara itu, Kong Sian sudah dapat menetapkan hatinya yang tadi berguncang. Dengan gagah ia lalu mengangkat muka memandang wajah Ang I Niocu sepenuhnya. “Sumoi, biarlah kau mendengar pengakuanku. Biarpun kau akan mentertawaiku, akan mencaci, biarlah! Aku cinta kepadamu, Sumoi, sebagai cinta seorang laki-laki terhadap seorang wanita! Belum pernah ada perasaan demikian di hatiku, akan tetapi setelah aku melihatmu, aku cinta padamu, cinta dengan sepenuh jiwaku! Maka, sekarang aku mengajukan pinangan kepadamu, Sumoi, kalau kau sudi, sukalah kiranya kau menjadi isteriku dan kita menghabiskan sisa hidup sebagai suami isteri di pulau ini.”

Tiba-tiba tanpa dapat ditahan lagi, mengalirlah air mata dari kedua mata Ang I Niocu hingga Kong Sian menjadi terkejut dan berkata halus,

“Sumoi, kalau aku menyinggung dan melukai hatimu, ampunkanlah aku. Aku tidak akan memaksamu, Sumoi, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau kau tidak suka menerima katakanlah tanpa ragu-ragu atau sungkan-sungkan lagi. Aku takkan menyesal kepadamu, hanya akan menyesali diri sendiri yang bodoh dan tidak tahu diri!”

Sambil menghapus air matanya, Ang I Niocu menggelengkan kepala berkali-kali dan berkata, “Bukan demikian, Suheng. Jangan kau salah sangka. Aku… aku hanya merasa terharu sekali mendengar pernyataanmu yang sama sekali tak pernah kusangka-sangka itu. Aku telah menerima budi pertolonganmu yang besar yang selama hidupku takkan pernah kulupa. Kau telah menolong jiwaku dan kalau seandainya tidak ada kau, aku Kiang Im Giok pasti sudah mati! Dan seandainya aku tidak terjatuh dalam tanganmu, akan tetapi dalam tangan laki-laki lain ah… entah nasib apa yang akan kuderita! Kau seorang gagah dan mulia, Suheng, terlalu mulia bagiku….. aku…. aku seorang yang jahat dan kotor! Ketahuilah, ketika aku masih muda, aku telah jatuh cinta yang akhirnya mengorbankan nyawa Ayahku sendiri. Aku tidak berharga bagimu, Suheng.”

“Im Giok, aku sudah tahu akan hal itu dari Suhuku. Aku pernah mendengar betapa kekasihmu dibunuh oleh ayahmu sendiri. Akan tetapi, kau tidak bersalah dalam hal itu. Ayahmu meninggal dunia oleh karena serangan penyakit jantung yang berbahaya. Wajar bagi seorang gadis untuk jatuh cinta!”

“Bukan itu saja, Suheng. Semenjak peristiwa itu, aku membenci laki-laki! Banyak pemuda yang jatuh cinta kepadaku, sengaja kupermainkan perasaan cintanya hingga mereka menjadi seperti gila! Aku berlagak membalas perasaan mereka dan apabila mereka telah menjadi gila betul-betul, aku meninggalkannya. Banyak yang sudah menjadi korban, bahkan seorang pemuda yang baik budi bernama Kang Ek Sian, yang bahkan telah dipilih oleh Suhu Bu Pun Su sendiri untuk menjadi suamiku, telah kupermainkan dan kupatahkan hatinya!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: