Pendekar Bodoh ~ Jilid 27

Kong Sian menggeleng kepala dan menarik napas dalam. “Memang kau telah berlaku kejam dan sesat, Sumoi, akan tetapi pengakuanmu ini meringankan dosamu, tanda bahwa kau telah insyaf. Aku tidak menyesal mendengar ini dan tidak mengurangi rasa cintaku padamu.”

“Masih ada lagi, Suheng….. ” kata Ang I Niocu sambil mengusap air mata yang menitik ke atas pipinya, “aku…. aku yang tidak tahu diri telah jatuh hati akhirnya! Dan aku jatuh hati serta mencinta dengan sepenuh jiwaku kepada seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda dariku, padahal ketika aku bertemu dengan dia, aku telah berusia dua puluh tahun lebih dan dia baru berusia dua belas tahun! Aku…. aku yang tidak tahu malu ini diam-diam mencinta padanya, dan…. dan orang itu adalah Cin Hai, murid Suhu Bu Pun Su yang pernah kuceritakan padamu!”

“Hm, jadi karena itukah maka kau mati-matian hendak mengorbankan nyawamu menolong Lin Lin seperti yang kau ceritakan itu? Sumoi, kau benar- benar seorang mulia yang bernasib malang dan patut dikasihani! Aku dapat membayangkan betapa suci dan mulia rasa cintamu terhadap Cin Hai! Melihatpemuda itu mencinta seorang gadis lain, kau tidak sakit hati, bahkan kau berdaya sekuat tenaga hendak mempertemukan mereka! Aku tahu, Sumoi, aku dapat menyelami jiwamu dan aku merasa bersyukur sekali bahwa kau dapat mengatasi perasaan-perasaan yang kurang baik. Sumoi, cerita dan pengakuanmu ini mempertinggi nilai dirimu dalam pandanganku.”

Ang I Niocu mengangkat muka dan memandang heran. “Apa? Kau tidak marah kepadaku, Suheng? Tidak memandang rendah padaku setelah segala apa yang kuceritakan padamu itu?”

Kong Sian menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum dan dari matanya bersinar cinta kasih yang diliputi kekaguman hati. “Pengakuanmu bahkan mempertebal rasa cintaku, Sumoi. Sudah wajar bagi setiap manusia untuk menjalankan kekeliruan, akan tetapi, setiap kekeliruan akan musnah apabila orang itu menyadari dan menginsyafinya. Kau adalah seorang mulia.”

Lemaslah seluruh anggota tubuh Ang I Niocu mendengar ini dan ia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput sambil menangis.

“Im Giok, jangan kau merasa berat untuk menolak permintaanku tadi. Aku maklum bahwa aku memang mungkin terlalu tua bagimu dan…. ”

“Tidak Suheng. Usia kita tidak berselisih jauh.”

“Apa??? ]angan kau membohongi aku, Sumoi!” kata Kong Sian dengan heran.

Ang I Niocu tersenyum sedih diantara air matanya. “Aku tidak membohong, Suheng. Memang mungkin aku nampak lebih muda oleh karena aku banyak makan telur dari pek-tiauw (rajawali putih), akan tetapi sesungguhnya aku telah berusia tiga puluh lebih, sedikitnya tiga puluh dua tahun!”

Kong Sian mengangguk-angukkan kepalanya karena sebagai seorang ahli pengobatan yang menerima warisan kepandaian dari Han Le, ia maklum akan khasiat yang besar dari telur burung rajawali putih. “Pantas, pantas! Dan hal ini lebih-lebih menunjukkan kegagahanmu, karena tidak sembarangan orang dapat mengambil telur pek-tiauw! Melihat wajahmu, agaknya kau paling banyak baru berusia dua puluh lima lebih! Bagaimana Sumoi. Bersediakah kau menerima aku yang bodoh dan buruk rupa sebagai kawan hidupmu?”

Ang I Niocu menggunakan tangan untuk menutup mukanya. Ia merasa bingung sekali. Di dalam hati ia mengaku bahwa mungkin di dunia ini tidak ada seorang pemuda yang layak dan patut menjadi suaminya selain Kong Sian. Kepandaiannya tinggi melebihinya sendiri, rupanya tampan dan sikapnya halus dan sopan santun. Pribadinya tinggi dan hal ini sudah ia buktikan ketika pemuda itu mendapatkan dirinya yang berada dalam keadaan setengah telanjang itu dan ketika pemuda ini merawatnya dengan penuh kesabaran dan ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda ini betul-betul mencintanya dengan sepenuh jiwa. Terutama sekali, dalam hal usia pemuda ini sebanding dengan dia! Apa lagi? Pemuda ini bahkan telah menolong jiwanya hingga sampai mati pun belum tentu ia bisa membalas budinya. Akan tetapi, kalau ia menerima pinangan itu, seakan-akan ia terlalu murah memberi harga pada dirinya! Ia memang berwatak tinggi hati dan keras, dan tidak mau ditundukkan dengan mudah. Akan tetapi, untuk menolak ia pun tidak berani!

“Suheng,” katanya setelah berpikir dengan masak-masak, “aku harus menghaturkan beribu terima kasih atas budi kecintaanmu itu. Bagaimana aku dapat menolak pinangan seorang seperti kau? Akan tetapi hal ini terjadi terlalu tiba-tiba hingga aku belum dapat memutuskannya karena masih merasa bingung! Sekarang beginilah saja, Suheng. Biarlah kauanggap aku telah menerima pinanganmu itu dan aku pun takkan malu-malu mengaku bahwa aku telah menjadi tunanganmu. Akan tetapi, soal pernikahan antara kita baru dapat terlaksana setelah kau memenuhi beberapa syarat!”

Kong Sian tersenyum dan dari ucapan ini saja ia yang sudah paham akan tabiat manusia, dapat mengetahui bahwa gadis kekasih hatinya ini memiliki adat yang tinggi dan keras! Ia menjawab sambil masih tersenyum. “Sumoi, katakanlah, apa syarat-syaratmu itu?”

“Pertama, kau harus menanti sampai aku dapat bertemu kembali dengan kawan-kawanku, terutama dengan Cin Hai dan Lin Lin. Sebelum aku dapat mempertemukan kedua sejoli ini atau melihat mereka telah berkumpul kembali, tak mungkin aku dapat mengikat diri dengan laki-laki lain!”

Kong Sian mengangguk-angguk, karena maklum akan isi hati Ang I Niocu.

“Kedua, kita harus mendapat perkenan dari Suhu Bu Pun Su, oleh karena dulu Beliau mempunyai maksud dan kehendak untuk menjodohkan aku dengan Kang Ek Sian, yang biarpun mencintaku, akan tetapi tak kubalas cintanya itu.”

Syarat ke dua ini diam-diam menggirangkan hati Kong Sian, oleh karena dari ucapan terakhir yang menyatakan bahwa gadis ini tidak menerima pinangan Kang Ek Sian oleh karena tidak mencintanya, hampir menyatakan bahwa biarpun sedikit, gadis ini “ada hati” kepadanya, kalau tidak, tentu ia akan menolaknya pula! Maka ia mengangguk-angguk kembali dengan mulut tersenyum.

“Ke tiga,” kata lagi Ang I Niocu, “kau harus keluar dari pulau ini dan turun ke dunia ramai untuk mencari sutemu Song Kun itu dan memenuhi pesan Suhumu, yaitu menasihatinya atau menggunakan kekerasan terhadapnya.”

“Ah, yang ke tiga ini berat sekali, Sumoi! Kau tahu bahwa aku amat mencintanya dan tidak tega untuk mencelakakannya!”

“Inilah kelemahan yang membuat hatiku tidak puas! Kau tidak tega kepada Sutemu karena kau mencintanya, akan tetapi apakah kau bertega hati melihat betapa wanita-wanita diganggunya? Kelemahanmu ini menimbulkan ketidak-adilan dalam hatimu yang tidak layak dan tidak patut dipunyai oleh seorang pendekar silat.”

Kong Sian menghela napas dan menjawab, “Biarlah, hal ini perlu kurenungkan dan kupikirkan baik-baik, sumoi. Masih ada lagikah syarat-syaratmu?”

Pertanyaan ini membuat Ang I Niocu menjadi merah mukanya karena ia telah merasa keterlaluan mengajukan sekian banyak syarat. Akan tetapi, syarat-syarat itu setidaknya dapat “mengangkat” harga dirinya, tidak semurah kalau ia menerimanya mentah-mentah!

“Masih ada satu lagi,” katanya dengan muka merah dan menundukkan kepala, “akan tetapi yang terakhir ini baru akan kuceritakan kalau kau telah memenuhi yang ketiga itu.”

“Baiklah, Sumoi. Kuterima syarat-syaratmu.” Kemudian Lie Kong Sian meloloskan pedangnya dari pinggang dan memberikan itu kepada Ang I Niocu berkata, “Sumoi, terimalah Cian-hong-kiam ini sebagai bukti daripada ikatan yang ada di antara kita, dan biarlah Thian yang menjadi saksi atas pertunangan kita ini.” Kata-kata ini diucapkan dengan suara menggetar hingga mengharukan hati Ang I Niocu yang menerima pedang itu.

Kemudian Ang I Niocu mengambil perhiasan rambutnya yang terbuat daripada mutiara dan memberikannya kepada Kong Sian. “Aku tidak mempunyai apa-apa, Suheng dan biarlah benda ini menjadi bukti daripada kesetiaanku.”

Tidak ada upacara yang mengesahkan pertunangan mereka itu selain daripada penukaran barang yang dilakukan dengar sikap sederhana ini akan tetapi diramaikan oleh pertemuan pandang mata mereka yang menembus ke hati masing-masing.

Setelah itu, Ang I Niocu lalu berpamit hendak pergi mencari Cin Hai dan Lin Lin. Kong Sian lalu mengambil perahunya dan ia lalu mengantarkan tunangannya itu sampai ke darat di pesisir Tiongkok. Si Rajawali Emas tidak ketinggalan, ikut mengantar sambil terbang di atas perahu itu.

Ketika keduanya telah mendarat dan Ang I Niocu hendak meninggalkannya, mereka saling pandang dan Ang I Niocu berbisik, “Semoga Thian memberkahi perjodohan kita dan semoga cita-cita kita bersama akan terlaksana, Koko.”

Kedua mata Kong Sian menjadi basah karena terharu dan girang mendengar sebutan ini dan makin yakinlah ia bahwa diam-diam Ang I Niocu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan hatinya. “Selamat Jalan, Moi-moi, dan Sin-kim-tiauw biarlah mengawanimu.”

Ang I Niocu girang sekali. Ia berkata epada burung rajawali itu,

“Sin-kim-tiauw, kau ikutlah padaku!”

Burung itu agaknya mengerti ucapan ini, karena ia lalu menoleh kepada Kong Sian seakan-akan minta perkenannya. Ia takkan berani pergi sebelum mendapat perkenan dari Kong Sian.

“Pergilah kau ikut dia, Kim-tiauw, dan jagalah dia baik-baik!”

Burung itu lalu mengeluarkan bunyi karena girang dan ketika Ang I Niocu berlari cepat-cepat meninggalkan tempat itu, ia lalu terbang dan mengejar. Kong Sian kembali ke pulaunya untuk merenungkan peristiwa yang tak tersangka-sangka telah terjadi dalam hidupnya itu.

Demikianlah kisah pengalaman Ang I Niocu yang disangka telah tewas itu. Beberapa bulan lamanya ia merantau mencari-cari Cin Hai dan Lin Lin. Ia kembali ke pesisir dari mana ia menyeberang ke Pulau Kim-san-to, akan tetapi ia tidak mendapatkan jejak kawan-kawannya hingga ia lalu menuju ke barat. Oleh karena mendengar bahwa Lin Lin ikut dengan seorang Turki dan bahwa pada waktu itu daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, ia lalu merantau ke barat.

Pada suatu hari ia tiba di sebuah bukit di daerah Sui-yan. Ia berlari cepat akan tetapi Sin-kim-tiauw telah mendahuluinya, terbang rendah sambil mengeluarkan bunyi karena ia merasa girang bahwa Ang I Niocu tidak dapat mengejarnya! Tiba-tiba burung itu memekik keras dan pekik kemarahan ini mengherankan Ang I Niocu dan membuatnya mempercepat larinya. Ketika ia tiba di tempat itu, ia menjadi marah sekali oleh karena melihat betapa tiga orang-orang tua sedang melempar-lempar batu kecil ke arah Sin-kim-tiauw yang beterbangan dan menyambar-nyambar di atas mereka dengan marah! Burung itu cepat mengelak dan mengebut sambitan batu dengan sayapnya dan orang-orang tua itu berseru kagum, “Burung bagus!”

Ketiga orang tua itu adalah seorang nenek buruk rupa, berhidung panjang dan bongkok seperti hidung kakak tua, dan berpunggung bongkok seperti punggung onta, sedangkan dua orang tua lainnya adalah seorang kakek berjubah hitam dan bersorban dan seorang lagi tosu yang bermata lebar.

Melihat betapa rajawali itu dapat mengelak dari setiap sambitan, bahkan sebuah batu yang dikebut oleh sayapnya terbalik meluncur ke arah nenek itu, Si Nenek Tua yang buruk menjadi marah.

“Burung siluman! Rasakan sambitanku ini!” Dan ketika ia menggerakkan tangan kanannya, puluhan batu-batu kecil melayang dengan hebatnya ke arah tubuh rajawali emas! Sin-kim-tiauw cepat mengelak dan mengebut dengan sayapnya, akan tetapi sebuah dari pada batu-batu itu tepat mengenai pahanya hingga ia merasa sakit sekali dan memekik-mekik kesakitan!

“Nenek jahat! Jangan kau mengganggu burungku!” Ang I Niocu berseru marah sambil melompat ke hadapan nenek itu. Ketika melihat seorang gadis baju merah melompat maju dan menegurnya, nenek itu menjadi marah dan tanpa berkata sesuatu lalu menyerang dengan cengkeraman tangannya ke arah pundak Ang I Niocu! Dara Baju Merah ini segera mengangkat lengan dan menangkis, akan tetapi ia menjadi terhuyung ke belakang oleh karena ternyata bahwa tenaga lengan tangan nenek itu besar sekali! Melihat kelihaian nenek ini, Ang I Niocu segera mencabut pedangnya Cian-hong-kiam pemberian Lie Kong Sian dan segera menyerang dengan cepat.

Dan pada saat ia bertempur dengan seru melawan nenek bongkok itu, datanglah Kwee An dan Ma Hoa yang terheran-heran melihat Dara Baju Merah yang tadinya disangka telah mati itu!

Dua orang kakek yang tadinya hanya menjadi penonton saja, ketika melihat betapa Nona Baju Merah ternyata lihai sekali ilmu pedangnya dan dapat mendesak nenek bongkok, segera berseru keras, dan maju menyerbu dengan kebutan ujung lengan baju mereka yang panjang. Ang I Niocu merasa terkejut oleh karena sambaran angin pukulan mereka ternyata lebih hebat daripada serangan nenek bongkok itu, terutama pendeta yang bersorban! Maka ia lalu memutar pedangnya dengan lebih cepat lagi, mainkan ilmu pedangnya Ngo-lian-hoan-kiamhwat.

Kwee An dan Ma Hoa melihat hal ini lalu menerjang dengan pedang di tangan, membantu Ang I Niocu. Mereka berdua telah bermufakat untuk diam saja dan tidak menegur Ang I Niocu, untuk membuktikan bahwa benar-benar Dara Baju Merah itu Ang I Niocu. Ketika melihat dua bayangan berkelebat membantunya dan ternyata bahwa dua orang penolong itu adalah Kwee An dan Ma Hoa, bukan main girangnya dan segea menegur,

“Ma Hoa… Kwee An.,.”

Berdebarlah tubuh kedua anak muda itu mendengar suara ini karena kini mereka tak perlu merasa ragu-ragu lagi, terutama sekali Ma Hoa yang tak dapat menahan isaknya! Sambil menangkis ujung lengan baju pendeta bersorban yang melayang ke arah mukanya, ia berseru dengan isak tertahan,

“Enci Im Giok…!”

Juga Kwee An berseru girang, “Ang I Niocu…!”

Sementara itu, ketiga orang tua yang mendengar nama Ang I Niocu disebut-sebut, segera melompat mundur dengan terkejut. Kesempatan ini digunakan oleh Ma Hoa dan Ang I Niocu untuk saling tubruk dan saling peluk.

“Enci Im Giok…, kau… kau masih hidup…?”

“Adik Ma Hoa…” mereka berpelukan sambil mencucurkan air mata karena girang dan keduanya saling pandang dan tersenyum.

“Ha, ha, jadi kau adalah Ang I Niocu, Ma Hoa, dan Kwee An?” berkata tosu tadi. “Kebetulan sekali!”

Juga nenek bongkok itu lalu berkata, “Hm, memang sudah takdir bahwa kalian harus mampus di tangan kami! Ang I Niocu, ketahuilah bahwa aku adalah Siok Kwat Moli dan kedua kakek ini adalah sahabat-sahabat baikku. Mereka bernama Wai Sauw Pu dan Lok Kun Tojin.” Ia menunjuk ke arah pendeta bersorban lalu ke arah tosu itu. “Tak perlu aku bercerita panjang lebar mengapa kami memusuhi kalian, cukup kalau kuberi tahu bahwa Hai Kong Hosiang yang kalian siksa itu adalah suhengku!”

Mengertilah Ang I Niocu dan kedua orang kawannya sekarang, dan mereka maklum bahwa pertempuran mati-matian tak dapat dielakkan lagi.

“Memang burung gagak selalu berkawan dengan burung-burung mayat juga!” kata Ang I Niocu sambil tersenyum sindir. “Hai Kong Hosiang belum terhitung jahat kalau belum mempunyai seorang sumoi seperti kau ini dan mempunyai sahabat-sahabat yang terdiri dari pendeta-pendeta palsu pula!”

Bukan main marahnya ketiga orang itu mendengar hinaan ini. Sambil berseru keras, nenek itu lalu mencabut keluar senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk kuning emas yang panjang hingga ketika ia pegang dengan kedua tangan maka merupakan sepasang senjata lemas yang luar biasa. Wai Sauw Pu pendeta yang bersorban itu adalah seorang dari Sin-kiang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ia pun telah kena terbujuk oleh Hai Kong Hosiang hingga ikut pula membela pendeta gundul itu. Pendeta bersorban ini mengeluarkan senjatanya yang jarang terlihat, yaitu seuntai tasbeh terbuat daripada gading gajah yang merupakan lingkaran panjang. Lok Kun Tojin, seorang pertapa yang sakti dari Thaisan, juga mencabut senjatanya yang lebih lihai, yaitu sepasang roda memakai tali hingga roda-roda itu kalau digerakkan bisa berputaran bagaikan kitiran dan membuat bingung kepada lawannya.

Sambil berseru keras, ketiga orang itu lalu menyerbu. Si Nenek bongkok menghadapi Ang I Niocu, pendeta bersorban menghadapi Ma Hoa, dan tosu itu menghadapi Kwee An. Pertempuran hebat segera berlangsung dengan ramai sekali. Ang I Niocu memegang pedang Cian-hoan-kiam pemberian Lie Kong Sian, sebatang pedang pusaka yang ampuh. Kwee An memegang pedang Oei-kang-kiam pemberian Meilani, juga pedang pusaka hingga ia tidak takut menghadapi roda-roda Lok Kun Tojin. Sedangan Ma Hoa dengan sepasang bambu runcingnya yang dimainkan secara luar biasa itu dapat mengimbangi permainan tasbeh yang hebat dari Wai Sauw Pu! Setelah bertempur belasan jurus, ketiga orang tua itu baru benar-benar merasa terkejut oleh karena tadinya mereka memandang rendah kepada tiga orang lawan muda itu yang sama sekali tak pernah mereka sangka demikian lihainya.

Ang I Niocu maklum akan kelihaian Kwee An, maka ia tidak perlu menguatirkan keadaan pemuda itu, akan tetapi tadinya ia merasa cemas melihat betapa Ma Hoa menghadapi kakek bersorban yang nampaknya kuat dan lihai sekali. Namun begitu ia melihat permainan bambu runcing Ma Hoa, diam-diam ia merasa amat kagum dan juga heran, maka dengan hati gembira Ang I Niocu lalu melayani nenek bongkok sambil berkata kepada Ma Hoa, “Adikku, kau kini hebat sekali!” Mendengar pujian ini, Ma Hoa lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang baru saja didapatnya dari Hok Peng Taisu dan biarpun tasbeh di tangan kakek bersorban itu luar biasa gerakannya, akan tetapi sepasang bambu runcingnya juga merupakan senjata lihai yang gerakannya belum dikenal oleh Wai Sauw Pu!

Adapun rajawali emas yang masih beterbangan dan berputar-putar di atas kepala mereka yang sedang bertempur, kini mulai menyambar turun dan membantu. Yang terutama dibantunya ialah Ang I Niocu dan beberapa kali ia menyerang kepala nenek bongkok itu hingga Si Nenek Bongkok memaki-maki kalang kabut, “Burung jahanam! Burung siluman! Akan kusembelih lehermu, kumakan dagingmu mentah-mentah!” Sambil berkata demikian, dengan tangan kanan menggunakan sabuknya untuk melayani Ang I Niocu sedangkan ujung sabuk di tangan kiri beberapa kali mengebut ke arah Sin-kim-tiauw tiap kali burung itu menyambar turun.

Tiba-tiba ketika burung itu menyambar turun tosu yang berkelahi melawan Kwee An, menggerakkan roda di tangan kirinya dan roda itu terputar cepat menyambar ke arah burung yang terbang di atas kepala nenek bongkok itu! Ternyata bahwa tali yang di tengah-tengah roda amat panjangnya hingga roda itu dapat terbang tinggi dan jauh! Hampir saja rajawali itu terkena hantaman roda, baiknya ia cepat mengelak dan terbang ke atas sambil berteriak marah. Kini ia menyambar turun dan menyerang Lok Kun Tojin!

“Sin-kim-tiauw, jangan!” teriak Ang I Niocu oleh karena gadis ini maklum betapa lihainya roda-roda tosu itu. Akan tetapi rajawali yang sedang marah ini mana mau mendengarkan cegahannya, tetap menyerang dan menyambar-nyambar dengan ganasnya.

“Sin-kim-tiauw, tak maukah kau menurut perintahku?” bentak Ang I Niocu dan suaranya menyatakan kemarahan besar yang terdorong oleh kekuatirannya. Rajawali itu terkejut mendengar bentakan Ang I Niocu dan pada saat itu, sebuah roda dari Lok Kun Tojin dengan keras mengenai dadanya!

Burung itu terpental ke atas udara sambil berteriak-teriak kesakitan. Kemudian, karena merasa dadanya sakit sekali dan pula karena mendongkol mendengar bentakan dan cegahan Ang I Niocu yang dibelanya, ia lalu terbang tinggi sekali dan terus terbang pergi jauh!

Ang I Niocu merasa cemas sekali, sebaliknya Lok Kun Tojin merasa pukulan rodanya tadi amat berbahaya dan keras. Jangankan kulit daging, bahkan batu karang pun akan hancur apabila terpukul oleh rodanya, akan tetapi burung itu tidak tewas karenanya bahkan lalu terbang pergi dengan cepat!

Dengan Ilmu Silat Bambu Runcing yang lihai, Ma Hoa dapat membikin jerih hati lawannya yang sebenarnya masih lebih tinggi ilmu silatnya. Sedangkan ilmu pedang Ang I Niocu juga membuat nenek bongkok itu merasa gentar. Tak pernah disangkanya bahwa musuh-musuh suhengnya yang muda-muda memiliki ilmu kepandaian yang begini luar biasa. Tidak heran apabila suhengnya yang lihai itu sampai kena dikalahkan. Sebaliknya, biarpun ilmu pedang yang dimiliki Kwee An juga bukan ilmu pedang sembarangan, yaitu ilmu pedang Kim-san-pai warisan suhunya yang pertama, yaitu Eng Yang Cu, dan Ilmu Pedang Hai-liong-kiam-sut warisan Nelayan Cengeng, akan tetapi sepasang roda di tangan tosu yang menjadi lawannya itu benar-benar luar biasa. Beberapa kali pemuda ini hampir saja menjadi korban pukulan roda, untung ia masih dapat mengelak sambil mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko, hingga Lok Kun Tojin merasa kagum. Jarang sekali tosu ini mendapat lawan yang dapat mengimbangi ilmu kepandaiannya dan sekarang, baru saja ia turun gunung dan bertemu dengan musuh-musuh sahabatnya, ia telah bertemu dengan seorang pemuda yang dapat bertahan melawannya sampai hampir seratus jurus!

Kwee An maklum bahwa apabila dilanjutkan, ia takkan menang dan juga kedua orang kawannya belum tentu akan dapat menang pula, maka ketika ia melihat rajawali terbang pergi, ia mendapat akal dan berkata,

“Bagus, Sin-kim-tiauw tentu akan memanggil Suhumu!”

Benar saja, ucapan ini membuat ketiga orang tua itu merasa kaget dan kuatir, baru murid-muridnya saja sudah begini lihai, apalagi kalau suhunya yang datang! Maka, nenek bongkok itu berkata, “Jiwi bengyu, mari kita pergi! Kita jumpai Hai Kong lebih dulu, lain kali mudah untuk mengambil nyawa ketiga tikus kecil itu!”

Ketiga orang tua itu lalu melompat pergi dan segera lari secepatnya meninggalkan tempat itu. Ang I Niocu yang mempunyai watak tidak mau kalah itu merasa penasaran dan kecewa, maka ia menegur Kwee An,”Kongcu, mengapa kau menggunakan akal mengusir mereka?”

“Mereka itu sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kita, untuk apa berkelahi mati-matian?” kata Kwee An sambil menarik napas lega.

“Akan tetapi, Sin-kim-tiauw telah dilukainya!” kata Ang I Niocu.

“Belum tentu kim-tiauw itu terluka, karena kalau benar terluka, bagaimana ia bisa terbang begitu tinggi dan cepat?” Ma Hoa membela kekasihnya. “Enci Im Giok, mereka itu lihai sekali. Sudahlah jangan membicarakan mereka pula yang perlu sekarang kauceritakanlah pengalamanmu. Kami semua, terutama Cin Hai dan Lin Lin, merasa berduka sekali, karena menyangka bahwa kau tentu sudah meninggal di atas Pulau Kim-san-to yang terbakar hebat dan meledak itu.” Sambil berkata demikian, Ma Hoa lalu memegang tangan Ang I Niocu dan ketiganya lalu duduk di bawah sebatang pohon untuk beristirahat dan bercakap-cakap.

Mendengar disebutnya nama Cin Hai dan Lin Lin, lenyaplah rasa kecewa dari wajah Ang I Niocu yang cantik, dan sekarang wajahnya berseri gembira. “Apa katamu? Lin Lin dan Cin Hai, apakah benar-benar mereka itu selamat dan sudah saling bertemu?”

Ma Hoa lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya dan menuturkan segala peristiwa yang terjadi semenjak mereka berpisah juga pengalamannya sendiri ketika terjatuh dari atas tebing bersama Kwee An. Mendengar itu, Ang I Niocu mengucap syukur karena kawan-kawan baiknya telah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi ketika mendengar betapa kini kedua orang muda itu tidak tahu bagaimana nasib Lin Lin dan Yousuf yang dikejar-kejar orang-orang Turki, di mana pula adanya Cin Hai, ia menghela napas dan berkata,

“Ah, sungguh kasihan sekali Lin Lin dan Cin Hai. Baru saja bertemu, sudah harus berpisah pula. Sekarang kita harus mencari mereka sampai dapat.”

“Memang kami berdua pun sedang mencari jejak mereka, Niocu.” kata Kwee An. “Yang mengejar Lin Lin dan Yo-siokhu adalah orang-orang Turki, maka ketika mendengar bahwa di daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, kami lalu menuju ke barat untuk menyelidiki di sana. Tidak tahunya kebetulan sekali kita saling bertemu di sini.”

“Sayang sekali Sin-kim-tiauw telah terbang pergi, entah di mana ia sekarang berada,” kata Ang I Niocu. Tentu saja ketiga orang muda ini tidak tahu bahwa Rajawali Sakti itu telah bertemu dengan Bu Pun Su hingga tertolong jiwanya, karena kakek jembel ini yang melihat Sin-kim-tiauw terbang tinggi di udara, lalu mengerahkan tenaga khikangnya memanggil, kemudian ia mengobati luka di dada burung sakti itu yang selanjutnya mengikuti kakek jembel itu.

Setelah menanti sampai senja, burung itu tidak juga kembali, Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mencari Lin Lin ke arah barat. Tujuan mereka adalah Propinsi Kansu sebelah barat.

Cin Hai melarikan Pek-gin-ma dengan cepat, diikuti oleh burung bangau di atas kepalanya. Ia telah menjelajah di sekitar daerah perbatasan Tiongkok dan Mongol untuk mencari jejak Lin Lin dan Yousuf, akan tetapi sia-sia belaka. Akhirnya, tepat sebagaimana yang diduga oleh Kwee An dan Ma Hoa ia lalu menuju ke barat oleh karena ia pun berpikir bahwa boleh jadi Yousuf melarikan diri ke barat.

Pada suatu hari, ketika ia sedang menjalankan kudanya perlahan sambil merenungkan nasibnya yang selalu terpisah dari Lin Lin, ia merasa seakan-akan ada orang mengikutinya dari belakang. Beberapa kali ia menoleh, akan tetapi ia tidak melihat bayangan seorang pun. Akan tetapi, apabila ia melanjutkan perjalanannya, kembali ia merasa seakan akan sepasang mata memandangnya dan sepasang kaki berjalan cepat dengan amat ringannya di belakang kuda. Dengan tiba-tiba Cin Hai berpaling lagi, akan tetapi kembali ia kecele, oleh karena ia tidak melihat ada orang. Setankah yang mengikutinya? Atau orang yang berkepandaian tinggi? Seingatnya, yang mungkin mengikutinya secara luar biasa cepatnya dan diam-diam, tidak ada orang lain kecuali suhunya yang akan sanggup melakukannya. Akan tetapi tak mungkin suhunya mengikuti dengan diam-diam. Cin Hai lalu melarikan kudanya cepat-cepat, akan tetapi kembali ia mendengar tindakan kaki yang amat ringannya mengikutinya dengan cepat pula. Ketika ia menengok, masih saja kosong di belakangnya, tidak nampak seorang pun.

Sungguh mengherankan, dan dengan penasaran ia lalu turun dari kudanya dan berjalan sambil menuntun Pek-gin-ma. Setelah berjalan kaki, Cin Hai makin merasa yakin bahwa benar-benar ada orang yang mengikutinya dari belakang dan orang ini tentu berkepandaian tinggi sekali oleh karena selain tindakan kakinya yang ringan sekali, juga tiap kali menengok, orang itu telah dapat melenyapkan diri dan bersembunyi dengan cara yang luar biasa. Ia dapat menduga bahwa dengan mengandalkan ginkangnya yang sempurna, tentu orang itu telah melompat ke belakang pohon pada saat ia menengok, oleh karena di sepanjang jalan yang dilaluinya memang terdapat banyak sekali pohon-pohon besar. Oleh karena ini, ia lalu mendapat akal. Ia sengaja menuntun kudanya keluar dari tempat itu dan melalui jalan yang membelok ke kanan di mana tidak terdapat sebatang pohon juga. Ia hendak melihat apakah orang itu masih berani mengikutinya dan kalau ia menengok, orang itu hendak lari bersembunyi ke mana?

Benar saja, ketika ia melalui jalan yang tidak berpohon, tindakan kaki yang mengikutinya lalu berhenti. Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya ketika ia mendengar lagi suara tindakan kaki itu di belakangnya. Alangkah beraninya orang itu, pikirnya penasaran dan secepat kilat ia menggerakkan kepala berpaling memandang ke bekakang. Dan kini ia melihat seorang laki-laki yang berpakaian indah sedang berjalan dengan seenaknya, sama sekali tidak gugup atau hendak pergi bersembunyi ketika ia menengok!

“Sobat, kenapa kau mengikuti aku?” tanya Cin Hai gemas.

Orang itu tertawa, suara ketawanya nyaring dan tinggi, mengandung ejekan seperti biasanya suara ketawa orang yang berwatak sombong. Orang ini masih muda, paling banyak berusia tiga puluh tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan gagah, keningnya tinggi sedangkan pakaiannya terdiri dari baju warna kuning dan celananya biru. Di luar bajunya masih memakai sehelai mantel abu-abu yang indah sekali. Pada rambutnya yang hitam itu nampak hiasan dari batu giok yang merupakan seekor naga terbang. Cin Hai merasa heran karena setelah dekat, ia melihat betapa pada kedua pipi laki-laki ini nampak warna kemerah-merahan yang tidak aseli, seakan-akan pipi itu dibedaki dengan yanci dan bedak seperti biasa dipakai wanita bersolek!

Setelah tertawa nyaring laki-laki pesolek ini lalu berkata,

“Aku berjalan di belakangmu atau di depanmu, maupun di sebelahmu, apakah hubungannya dengan kau? Aku berjalan di atas kedua kakiku sendiri dan jalan ini adalah jalan umum! Padamu tidak ada sesuatu yang menarik hatiku, kecuali kuda putih ini dan burung bangau itu!”

Ia tertawa lagi sambil memandang dengan mata mengandung ejekan. Biarpun hatinya mendongkol, akan tetapi Cin Hai dapat merasakan juga bahwa ucapan orang ini ada benarnya juga. Ia berjalan sendiri dan tidak mengganggunya, mengapa ia harus merasa penasaran dan gemas? Maka timbul kejenakaannya dan ia menjawab,

“Peribahasa kuno menyatakan bahwa orang harus berlaku waspada terhadap orang yang berada di belakangnya dan tak perlu takut kepada orang yang berada di hadapannya! Kau selalu berjalan di belakang, bahkan dengan cara bersembunyi, maka teringatlah aku akan peribahasa itu. Bukan maksudku hendak menyebutmu pengecut, akan tetapi maksud peribahasa itu bahwa orang harus berhati-hati terhadap orang yang selalu melakukan hal dengan sembunyi-sembunyi karena orang demikian itu adalah seorang yang berbahaya dan berwatak pengecut!”

Ucapan yang diputar-putar ini biarpun tidak langsung memaki, akan tetapi telah dua kali Cin Hai menyebut orang di depannya itu sebagai pengecut!

Laki-laki pesolek itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum dibuat-buat dan ia meloloskan sehelai tali yang banyak bergantungan di ujung bajunya, lalu mempermainkan tali itu di antara jari tangannya. “Kau pandai berkelakar anak muda, tapi tetap saja aku menganggap bahwa kuda dan burungmu itu lebih baik daripadamu!”

Pada saat itu burung bangau melayang dari atas melihat betapa Cin Hai berhadapan dengan orang asing, ia lalu menyambar ke atas kepala orang itu.

“Ang-siang-kiam, jangan kurang ajar!” seru Cin Hai, akan tetapi dengan tenang seakan-akan tidak diserang oleh seekor burung bangau yang besar dan ganas, orang itu lalu menggerakkan tangannya ke arah burung itu, kemudian ia menjura kepada Cin Hai sambil berkata,

“Ah, burungmu mulai membosankan aku, anak muda. Selamat tinggal!”

Bukan main terkejut hati Cin Hai ketika merasa betapa dari kedua tangan orang yang sedang menjura kepadanya itu, menyambar angin pukulan yang hebat ke arah dadanya! Cin Hai buru-buru membungkukkan tubuhnya dan balas menjura sambil mengerahkan khikangnya dan ketika dua tenaga mereka bertemu keduanya melangkah mundur dua tindak! Ternyata bahwa tenaga mereka berimbang. Orang itu memandang kepada Cin Hai dengan mulut tersenyum mengejek, akan tetapi kedua matanya mengeluarkan pandangan kagum.

“Bagus, bagus, aku telah bertemu dengan seorang ahli!” Tubuhnya lalu berkelebat dan sebentar saja lenyaplah ia dari pandang mata Cin Hai. Pemuda ini merasa heran dan kagum, akan tetapi ketika memandang ke arah burung bangau yang telah terbang turun, keheranannya berubah kekagetan karena ia melihat betapa burung itu sedang bergulingan di atas tanah dan mencakar-cakar paruhnya sendiri! Ketika Cin Hai menghampiri, ternyata bahwa sepasang paruh burung yang seperti sepasang pedang merah itu telah terikat menjadi satu oleh tali yang tadi dipegang oleh laki-1aki pesolek itu! Ia cepat menggunakan pedangnya memutuskan tali yang mengikat paruh burung bangau, akan tetapi ternyata bahwa tali itu kuat sekali dan tidak mudah diputuskan. Setelah ia mengerahkan tenaga, barulah tali istimewa itu dapat diputuskan dan burung itu lalu terbang tinggi dengan ketakutan! Cin Hai mengeluarkan keringat dingin. Bukan main lihainya orang itu yang dengan sehelai tali dapat membuat burung itu tidak berdaya. Orang yang dapat melontarkan tali hingga dapat melibat dan mengikat burung yang sedang terbang menyambarnya, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu silatnya! Masih untung bahwa orang itu tidak turun tangan dan memusuhinya, kalau terjadi demikian belum tentu ia akan dapat mengalahkan lawan yang sedemikian tangguhnya itu!

Teringatlah Cin Hai akan kata-kata suhunya bahwa di dunia terdapat banyak sekali orang-orang pandai. Ia lalu menaiki punggung Pek-gin-ma lagi dan bersuit memberi tanda kepada burung bangau untuk melanjutkan perjalanan menuju ke barat.

Ketika ia telah melakukan perjalanan sampai beberapa puluh li jauhnya, hari telah menjadi senja dan ia tiba di luar sebuah kota yang temboknya telah terlihat dari situ. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda di sebelah belakang. Ia berhenti dan alangkah herannya ketika melihat bahwa kira-kira seperempat li jauhnya di sebelah belakang, ada seorang penunggang kuda yang juga menghentikan kudanya! Ia lalu menggerakkan Pek-gin-ma lagi dan ternyata orang itu pun melarikan kudanya pula. Ketika ia berhenti dengan tiba-tiba, orang itu pun berhenti.

“Kurang ajar!” kata Cin Hai sambil membalikkan kudanya dan melarikan kuda mengejar orang yang mengikutinya itu! Ia sudah merasa bosan untuk diikuti orang saja dan siapapun juga orang itu, ia akan menghajarnya! Orang itu pun membalikkan tubuh kuda dan melarikan kudanya dengan cepat dan Cin Hai makin merasa heran oleh karena kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang Turki yang tinggi kurus! Orang yang dikejarnya itu melarikan kudanya ke dalam sebuah hutan dan ketika Cin Hai mengejar dan memasuki hutan pula, tiba-tiba dari depan melayang belasan batang anak panah yang kesemuanya mengarah dada, leher, dan perut!

“Pengecut!” ia berseru marah sambil mempergunakan ujung lengan bajunya mengebut ke depan hingga berhasil memukul jatuh semua anak panah, kemudian ia mengeprak kudanya agar berlari lebih cepat. Akan tetapi tiba-tiba rumput yang diinjak oleh kudanya itu nyeplos ke bawah dan tubuh Pek-gin-ma terjeblos ke dalam lubang perangkap yang besar dan yang ditutup oleh rumput-rumput hijau! Cin Hai cepat melompat dari kudanya hingga tidak ikut terjeblos ke dalam lubang itu. Ia mendengar kudanya meringkik ngeri dan ketika ia memandang ke dalam lubang, ternyata bahwa Pek-gin-ma telah tertusuk oleh tiga batang tombak yang sengaja dipasang di dalam lubang itu! Melihat tubuh kudanya berkelojotan, dengan marah dan hati penuh rasa iba, Cin Hai lalu menarik keluar pedangnya dan menusuk punggung kuda itu ke arah jantungnya hingga kuda itu mati seketika itu juga! Kalau ia tidak melakukan tikaman ini, kuda itu pasti akan mati, akan tetapi harus menderita lebih dulu beberapa lamanya. Kemudian, Cin Hai memburu ke depan hedak mencari orang Turki tadi, akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang di dalam hutan itu! Ia mencari-cari terus dan berteriak-teriak memaki-maki akan tetapi setelah hari sudah mulai gelap dan belum juga ia mendapatkan musuh yang curang itu, terpaksa ia pergi meninggalkan hutan dengan hati marah sekali.

Burung bangau yang terbang di atas hutan itu pun tidak melihat adanya musuh dan burung ini tidak berani turun seakan-akan ia masih merasa gentar menghadapi lawan yang tadi telah secara aneh dapat mengikat paruhnya!

Cin Hai melanjutkan perjalanan menuju ke kota di depan itu sambil berlari cepat. Hatinya gemas sekali oleh karena ia merasa telah dipermainkan orang. Kota yang dimasukinya adalah sebuah kota yang cukup ramai dan di situ ia melihat banyak orang-orang Mongol, serta orang-orang dari suku bangsa lain.

Setelah mencari kamar di sebuah rumah penginapan, Cin Hai lalu keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat dan sekalian mencari jejak Lin Lin, juga ingin sekali bertemu dengan orang Turki tinggi kurus yang dilihatnya tadi. Ia melihat sebuah rumah makan besar yang penuh tamu, lalu masuk memesan makanan. Pelayan membawanya ke loteng, oleh karena di bagian bawah telah penuh. Ketika ia memasuki tangga loteng, tiba-tiba ia mendengar percakapan tamu di loteng itu yang membuatnya segera menahan tindakan kakinya dan mendengarkan dengan teliti. Seorang di antara tamu-tamu itu telah membicarakan dan menyebut nama Yousuf!

“Yousuf sedang sakit dan tak berdaya kalau kita menyerbu dengan tiba-tiba dan berbareng, apa sukarnya menundukkan gadis itu?”

Hanya sedemikianlah yang dapat didengar oleh Cin Hai, oleh karena ketika pelayan muncul, percakapan itu lalu dilakukan dalam bahasa Turki yang ia tak mengerti sama sekali. Ia berjalan menundukkan muka, akan tetapi ia memperhatikan mereka. Ternyata bahwa ruang atas itu kosong dan hanya terdapat empat orang duduk mengelilingi sebuah meja penuh mangkok berisi hidangan. Seorang di antaranya adalah seorang laki-laki berbangsa Turki, sedangkan yang tiga orang lainnya adalah seorang nenek bongkok, seorang kakek bersorban, dan seorang pula berpakaian seperti tosu. Mereka ini bukan lain ialah Giok Kwat Moli si Nenek Bongkok, Wai Sauw Pu si Kakek Bersorban, dan, Lok Kun Tojin, tiga orang yang dulu pernah bertemu dan bertempur melawan Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa! Akan tetapi Cin Hai belum pernah melihat mereka.

Ketiga orang tua itu ternyata pandai bercakap-cakap dalam bahasa Turki hingga Cin Hai hanya duduk mendengarkan penuh perhatian dan biarpun tidak mengerti sama sekali, akan tetapi beberapa kali ia mendengar nama Yousuf disebut-sebut, hingga diam-diam ia berdebar girang. Tadi mereka menyebut seorang gadis yang hendak mereka keroyok, bukankah gadis yang dimaksudkan itu Lin Lin adanya?

Cin Hai tidak tahu bahwa keempat orang itu merasa mendongkol dan marah karena percakapan mereka terganggu oleh kedatangannya, oleh karena biarpun mereka mengerti bahasa Turki, akan tetapi mereka lebih suka bercakap-cakap dalam bahasa Han tanpa didengar oleh telinga lain orang. Tiba-tiba mereka itu bicara dalam bahasa Han lagi, akan tetapi pembicaraan mereka kini telah berubah dan Cin Hai mendengar tosu itu berkata dengan keras,

“Memang sugguh menyebalkan orang-orang sekarang, terutama anak-anak mudanya. Mereka bisanya hanya bersolek dan menjual lagak belaka. Yang paling kubenci adalah pemuda-pemuda yang berpakaian seakan-akan ia seorang sasterawan pandai, akan tetapi sebetulnya dia tak mengerti apa-apa. Kalau melihat orang pemuda berpakaian pelajar, timbul keinginanku untuk mencekik lehernya!” Tiga orang kawannya tertawa lebar dan ketika Cin Hai memandang ternyata bahwa dengan terang-terangan mereka berempat sedang memandang kepadanya. Ia maklum bahwa empat orang itu tentu sengaja menghinanya oleh karena ia memang mengenakan pakaian sebagai seorang pelajar dan pedangnya disembunyikan ke dalam bajunya yang lebar dan panjang. Hanya ia belum mengerti mengapa mereka itu menghinanya tanpa sebab.

“Yang menyebalkan ialah bahwa mereka itu tidak insyaf bahwa kehadiran mereka tidak disukai orang. Dan sama sekali tidak mengerti bahwa kehadiran mereka mengganggu percakapan orang lain!” terdengar suara nenek bongkok dan Cin Hai mengerti bahwa mereka itu merasa terganggu, maka berusaha menakut-nakutinya agar ia segera berpindah tempat ke ruang bawah! Akan tetapi ia tidak peduli dan ketika masakan yang dipesannya datang, ia lalu makan seakan-akan di ruang atas itu tidak terdapat lain orang kecuali dia sendiri!

Tiba-tiba tosu bercambang bauk itu membersihkan kerongkongannya dengan suara yang menjijikkan sekali. Hal ini dilakukan berkali-kali dibarengi suara tertawa dari kawan-kawannya hingga Cin Hai hampir tak dapat menahan sabar lagi. Lenyaplah nafsu makannya karena merasa jijik dan sambil menoleh dan meletakkan sumpitnya, ia berkata,

“Heran sekali, mengapa orang-orang tua dan pendeta-pendeta di sini demikian tidak tahu kesopanan dan bersikap seperti orang-orang liar?”

Ucapan Cin Hai ini membuat Wai Sauw Pu, kakek bersorban itu, marah sekali. Ia bangun berdiri dan tubuhnya yang tinggi besar itu membuat ia nampak garang sekali. Tangan kanannya menyambar sepasang sumpitnya dan sekali ia menggerakkan tangan, sebatang sumpit itu menyambar dan menancap di meja Cin Hai sampai setengahnya lebih!

Cin Hai mendongkol sekali karena terang-terangan mereka itu hendak menghina dan mengajaknya berkelahi. Dengan tenang ia lalu memegang sumpitnya dan dengan perlahan ia memukulkan sumpitnya pada sumpit yang tertancap di atas mejanya sambil berseru, “Kakek tua, hati-hatilah kau menggunakan sumpitmu, jangan sampai terloncat ke meja lain!” Ketika sumpit yang tertancap di atas meja itu kena dipukul oleh sumpitnya, sumpit itu mencelat dan melayang kembali ke arah Wai Sauw Pu yang masih berdiri di dekat mejanya sendiri. Kakek bersorban itu menangkap sumpitnya yang melayang kembali sambil tertawa bergelak dan berkata, “Ha, ha, tidak tahunya bukan sembarang kutu buku, dan memiliki juga sedikit punsu (kepandaian). Kau patut menerima penghormatanku. Terimalah sepotong daging sebagai penghormatan!” Sambil berkata demikian, ia menusuk sepotong daging dan ketika ia mengayun tangannya, sumpit berikut daging yang tertusuk melayang ke arah mulut Cin Hai. Pemuda ini merasa marah sekali, maka ia hendak mendemonstrasikan kepandaiannya. Ia tidak mengelak atau menangkap sumpit yang menyambar ke arah mulutnya itu, hanya miringkan kepala sedikit dan ketika sumpit itu lewat di depan mulutnya, ia membuka mulut dan menggigit ujungnya. Daging dan sumpit dapat tergigit olehnya dan ketika ia meniup, sumpit itu meluncur ke atas lantai dan patah menjadi dua! Kemudian ia menghadapi Wai Sauw Pu dan mengerahkan tenaga khikang lalu menyemburkan daging dari mulutnya itu kepada kakek itu, disusul dengan kata-kata, “Kakek yang baik, kubayar lunas penghormatanmu dan terimalah kembali daging busukmu!” Daging yang disemburkan itu cepat sekali meluncur ke arah mulut Wai Sauw Pu.

Kini terkejutlah kakek ini dan ia segera miringkan kepala hendak berkelit akan tetapi semburan Cin Hai ini selain cepat, juga tidak terduga hingga biarpun daging itu tidak mengenai mulutnya, akan tetapi masih menyerempet pipinya hingga terasa pedas dan pipinya ternoda oleh kuah daging itu!

Wai Sauw Pu menjadi marah sekali. Dengan tindakan kaki lebar ia lalu menghampiri Cin Hai yang juga belum berdiri dengan tenang.

“Tikus kecil! Berani betul kau berlaku kurang ajar di depanku!” teriak Wai Sauw Pu dengan marah sekali.

“Kakek yang baik, pernahkah kau mendengar sebuah ujar-ujar kuno yang sangat baik! Ujar-ujar itu menyatakan, bahwa menghormat orang lain berarti menghormat diri sendiri! Kau dan kawan-kawanmu sengaja menggangguku padahal aku tidak melakukan sesuatu yang salah! Kalau kau tidak menghormat bahkan menghina orang lain, bukankah itu menyalahi ujar-ujar itu? Menghormati orang lain berarti menghormat diri sendiri, sebaliknya menghina orang lain berarti menghina diri sendiri karena dengan perbuatanmu yang menghina orang lain itu hanya menyatakan betapa rendahnya martabatmu!”

Mendengar ucapan ini, tertegunlah hati Wai Sauw Pu dan ia mulai menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan. Akan tetapi, untuk daerah barat nama Wai Sauw Pu sudah terkenal sekali dan apa lagi ia dihina oleh pemuda itu di depan ketiga orang kawannya, maka tentu saja ia tidak mau mengalah. “Anak muda, siapakah kau yang berani bermain gila di depan Wai Sauw Pu si Malaikat Tasbeh? Katakan siapa namau agar aku tidak menghajar segala oang yang tidak bernama!”

Cin Hai berpura-pura memperlihatkan muka terkejut dan ketakutan mendengar nama yang sesungguhnya belum pernah dikenalnya itu. “Ah, kiranya aku berhapan dengan seorang malaikat? Tentu kau masih terhitung keluarga dengan Giam-lo-ong (Malaikat Pencabut Nyawa), karena menurut cerita orang Giam-lo-ong juga bertubuh tinggi besar seperti kau! Aku hanya seorang biasa saja, mana ada kehormatan untuk memperkenalkan nama kepada malaikat? Sudahlah, kakek yang baik, kaumaafkan aku saja dan jangan kau mencabut nyawaku!” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sewajarnya dan tidak mengandung ejekan akan tetapi cukup memerahkan telinga Wai Sauw Pu. “Boleh, boleh! Kau boleh minta maaf akan tetapi kau harus mencukur gundul dulu kepalamu di hadapanku, baru aku bisa memberi maaf dan tidak menghancurkan kepalamu!”

Cin Hai adalah seorang yang mempunyai kesabaran besar, akan tetapi tidak ada ucapan yang akan melebihi sakitnya terasa di dalam hatinya selain menyuruh dia menggundul kepalanya! Ucapan yang dikeluarkan oleh Wai Sauw Pu tanpa disengaja itu mengingatkan dia akan hinaan-hinaan yang dideritanya ketika ia masih kanak-kanak dan berkepala gundul. Maka ia lalu menjawab,

“Pikiranmu cocok sekali dengan keinginan hatiku! Aku pun ingin sekali melihat benda apakah yang tersembunyi di dalam sorbanmu itu! Ingin sekali aku melihat warna kulit kepalamu, apakah kulitnya sama tebalnya dengan mukamu!”

“Keparat!” teriak Wai Sauw Pu dan tahu-tahu tangannya telah menarik keluar lihai tasbehnya, senjatanya yang ampuh itu! Dan tanpa mengeluarkan peringatan lagi, tahu-tahu tasbehnya telah meluncur dan menyerang ke arah kepala Cin Hai! Pemuda ini dengan tenang lalu mengelak segera mempergunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk menghadapi tasbeh kakek itu dengan tangan kosong!

Tidak hanya Wai Sauw Pu yang terkejut melihat gerakan pemuda yang luar biasa cepatnya itu, bahkan kawan-kawannya juga memandang dengan heran dan kagum. Biarpun tasbeh itu membuat gerakan yang melingkar-lingkar dan mencegah seluruh jalan keluar, namun dengan cepat tubuh Cin Hai dapat berkelebat mengikuti gulungan sinar senjata dan menghindarkan diri dari setiap sambaran tasbeh!

“Kakek yang baik, kaubukalah sorbanmu!” Sambil berkata demikian, kedua tangan Cin Hai cepat bergerak dan dengan gerakan Kong-ciak-jio-cu atau Merak Sakti Merampas Mustika, ia mencengkeram ke arah kepala Wai Sauw Pu dengan tangan kirinya! Kakek itu terkejut sekali dan mengelak ke kanan, akan tetapi secepat kilat tangan kanan Cin Hai menyusul dan sebelum Wai Sauw Pu sempat berkelit, sorbannya telah dapat dicengkeram dan direnggutkan dari kepalanya oleh Cin Hai. Tertawalah anak muda itu ketika melihat betapa kepala Wai Sauw Pu ternyata gundul pelontos seperi kepalanya dulu!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: