Pendekar Bodoh ~ Jilid 28

“Ha, ha, ha! Pantas saja kau minta aku mencukur gundul rambutku, tidak tahunya kau telah mendahuluiku mencukur gundul kepalamu! Ha, ha, alangkah licinnya! Lalat pun akan terpeleset apabila hinggap di kepalamu!”

Biarpun merasa marah sekali, ketiga kawan Wai Sauw Pu terpaksa menahan ketawa mereka mendengar kata-kata yang lucu ini. Mereka bertiga lalu meloloskan senjata masing-masing dan menerjang maju hingga Cin Hai terkurung di tengah-tengah. Melihat gerakan mereka diam-diam Cin Hai terkejut juga karena tidak disangkanya bahwa ilmu kepandaian keempat orang ini ternyata benar-benar tinggi dan hebat! Ia pikir takkan ada gunanya untuk melawan mati-matian kepada mereka itu, karena bukankah mereka ini mempunyai hubungan dengan lenyapnya Yousuf dan Lin Lin? Maka ia lalu melompat ke sana ke mari dan membuat gerakan-gerakan Tarian Bidadari hingga tubuhnya dengan mudah dapat mengelak dari setiap serangan, sambil berkata,

“Aduh, lihai… lihai sekali, aku terima kalah!” Ia lalu melompat ke atas dan cepat pergi dari tempat itu, bersembunyi di tempat gelap di luar rumah makan.

Empat orang itu segera mengejar dan melompat turun dari loteng hingga semua tamu yang mengenal mereka sebagai orang-orang berilmu tinggi menjadi panik dan lari ketakutan!

Dengan marah keempat orang itu mencari-cari, akan tetapi Cin Hai dapat menyembunyikan diri dengan baik, bahkan lalu mengikuti mereka ketika mereka pergi dengan berlari cepat sekali.

Keempat orang yang diikuti Cin Hai itu menuju ke sebelah timur kota dan mereka memasuki sebuah pondok. Cin Hai menggunakan ilmu ginkangnya yang tinggi untuk mengintai tanpa diketahui oleh penghuni pondok. Ketika ia memandang, alangkah kagetnya oleh karena keempat orang itu ternyata mengadakan pertetnuan dengan tiga orang tosu bangsa Han yang bukan lain orangnya ialah Kang-lam Sam-lojin, ketiga tokoh besar dari Liong-san-pai yang pernah menjad guru-gurunya dulu! Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok Keng Cu sudah kelihatan tua sekali akan tetapi mereka masih bersikap gagah!

Ketujuh orang di dalam pondok itt sedang membicarakan tentang pertemuan yang baru dialami oleh keempat orang tua itu dengan Cin Hai. Si Kakek bersorban berkata,

“Jangan-jangan pemuda yang aneh itu adalah kawan Yousuf, atau jangan-jangan ia adalah seorang penyelidik dari kaisar! Maka lebih baik malam ini juga kita menyerbu ke pondok itu untuk menawan Yousuf!”

Setelah mengadakan permufakatan, ketujuh orang itu lalu keluar dari pondok dan segera berlari menuju ke sebuah hutan yang berada di luar kota. Cin Hai tetap mengikuti mereka dengan hati berdebar. Alangkah banyaknya orang-orang pandai yang hendak menawan Yousuf! Benar-benarkah yang hendak ditawannya Yousuf yang menjadi ayah angkat Lin Lin itu? Dengan hati menduga-duga dan penuh harapan, Cin Hai terus mengikuti mereka masuk ke dalam hutan. Malam itu terang bulan hingga mereka dapat berjalan di dalam hutan tanpa banyak susah. Mereka berhenti di luar sebuah pondok kayu sederhana yang agaknya masih baru dibangun di tengah-tengah hutan itu.

“Yousuf! Kau keluar dan menyerahlah dengan damai!” Wai Sau Pu berteriak dari luar. Tiba-tiba api penerangan yang tadinya nampak bernyala di dalam pondok itu menjadi padam, dan terdengarlah suara yang merdu dan nyaring dari dalam pondok,

“Kawanan penjahat rendah! Kaukira Nonamu akan membiarkan kau mengganggu ayahnya?”

Cin Hai hampir berseru karena girang. Itulah suara Lin Lin! Maka tanpa terasa lagi ia lalu mencabut keluar Liong-coan-kiam dari dalam jubahnya dan bersiap sedia membantu kekasihnya itu.

Diam-diam Cin Hai lalu mengumpulkan kayu dan daun kering karena ia pikir bahwa kalau keadaan di luar tidak cukup terang, maka akan berbahaya sekali bagi Lin Lin. Apabila di luar gelap maka pada saat gadis itu keluar, mudah ia diserang dengan senjata rahasia, sedangkan tadi di rumah makan ia sudah mendapat kenyataan betapa kakek bersorban itu pandai sekali menimpuk dengan sumpit, tanda bahwa ia bisa mempergunakan senjata rahasia. Setelah kayu dan daun kering ia tumpuk, lalu ia membuat api dan membakar tumpukan itu hingga berkobarlah api yang membuat tempat itu menjadi terang sekali!

Mari kita ikuti sebentar dan secara singkat pengalaman Yousuf dan Lin Lin yang memaksa mereka berlari meninggalkan tempat tinggal mereka di lereng bukit dekat tapal batas sebelah utara itu.

Sambil menanti berita dari Cin Hai pergi mencari jejak Ma Hoa dan Kwee An, Lin Lin setiap hari melatih Ilmu Pedang Han-le Kiam-hwat yang dipelajarinya dari Cin Hai. Di samping itu ia merawat Yousuf yang terluka dengan penuh kesabaran.

Beberapa hari kemudian, selagi ia melatih ilmu pedangnya, ia melihat rombongan orang Turki menyerbu naik bukit itu dan jumlah mereka tidak kurang dari sebelas orang!

“Nona, di mana adanya Yousuf?” tanya seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan memegang sebuah golok di tangan.

“Ada keperluan apakah kalian mencari Yousuf?” tanya Lin Lin dengan hati-hati

“Kami hendak menawannya!”

Baru saja mendapat jawaban ini, Lin Lin menyambar dengan hebat hingga pemegang golok itu terpelanting dengan luka pada lengan tangannya!

“Enak saja kau bicara!” Lin Lin membentak. “Siapa pun tidak boleh menawan Ayahku!”

Orang-orang Turki itu merasa heran sekali mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Yousuf sedangkan sepanjang pengetahuan mereka, Yousuf belum pernah beristeri, apa lagi mempunyai seorang puteri! Mereka lalu menyerbu dengan hebat yang disambut dengan marah oleh Lin Lin. Pedang Han-le-kiam di tangannya walaupun hanya pendek, akan tetapi gerakannya luar biasa, seakan-akan seekor naga sakti mengamuk para penyerangnya.

Akan tetapi, di antara para penyerbu ini terdapat seorang yang tinggi silatnya, yaitu Lok Kun Tojin dan beberapa orang Turki yang terkenal jago-jago nomor satu di negaranya! Sebentar saja Lin Lin terkurung rapat dan terdesak hebat.

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring dari atas dan seekor burung merak besar menyambar turun bagaikan halilintar dan begitu burung sakti itu menggerakkan sayap dan kakinya, dua batang golok musuh telah terpental dan orangnya terpelanting!

Akan tetapi, Lin Lin maklum bahwa pihak lawan kuat sekali, dan apabila diteruskan, ia akan lelah dan kalah, sedangkan Yousuf masih dalam keadaan lemah! Mengingat bahwa mereka ini datang hendak menawan Yousuf, ia menjadi gelisah sekali maka secepat kilat ia melompat mundur. Ketika pihak musuh mengejar, ia berseru,

“Kongciak-ko, kautahan mereka!” Merak Sakti agaknya mengerti akan maksud perintah ini karena ia lalu menyambar-nyambar dan menghalangi mereka yang hendak mengejar Lin Lin. Seorang pengeroyok yang berlaku kurang hati-hati dan terlalu berani, telah kena dipatuk matanya hingga menjadi buta!

Lin Lin mempergunakan kesempatan itu berlari cepat ke arah pondok di mana Yousuf sedang duduk dengan wajah muram. Orang tua ini selain menderita karena lukanya, juga ia merasa gelisah sekali apabila mengingat akan nasib Kwee An dan Ma Hoa yang terjatuh ke dalam jurang!

“Ayah, Ayah… ayo kita lekas lari!” tiba-tiba terdengar suara Lin Lin yang masuk dengan wajah pucat.

“Kau kenapa, Nak?” Yousuf bertanya tenang.

“Musuh datang menyerbu! Rombongan orang-orang Turki yang lihai sekali!”

Yousuf terkejut juga dan akhirnya menurut untuk melarikan diri dari belakang, sementara musuh ditahan oleh Merak Sakti. Akan tetapi, oleh karena pihak musuh memang terdiri dari orang-orang pandai, akhirnya Merak Sakti juga tidak kuat bertahan lebih lama lagi setelah ia mendapat luka-luka ringan karena tusukan golok, hingga sambil berteriak-teriak ia lalu terbang tinggi sekali. Ia melihat dua orang kawannya yang berlari cepat, maka ia lalu melayang dan mengejar mereka.

Ketika rombongan orang Turki menyerbu ke dalam rumah, mereka hanya mendapatkan rumah kosong dan pada saat itu Yousuf dan Lin Lin telah cukup jauh. Dengan gemas orang-orang Turki itu lalu membakar rumah Yousuf serta melaksanakan pengejaran. Di sepanjang jalan mereka melampiaskan rasa marah dan gemasnya kepada rakyat dusun hingga rakyat dusun banyak yang menderita dan menjadi korban keganasan mereka.

Sementara itu, Lin Lin dan Yousuf terus melarikan diri, dikawal dari atas oleh Merak Sakti. Beberapa kali mereka tersusul oleh rombongan pengejar, akan tetapi berkat kegagahan Lin Lin dan pembelaan Merak Sakti yang setia, mereka selalu dapat dipukul mundur hingga akhirnya mereka hanya mengejar dari belakang tanpa berani menyerang lagi.

Akhirnya Lin Lin dan Yousuf tinggal dalam hutan itu dan mereka menyangka bahwa mereka telah terlepas dari kejaran orang-orang Turki itu oleh karena telah lama tidak kelihatan mereka menyerang. Padahal rombongan itu masih tetap mengintai, bahkan mereka lalu mendatangkan bala bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Si Nenek Bongkok Siok Kwat Moli yang menjadi sumoi dari Hai Kong Hosiang dan yang telah memberi kesanggupan kepada suhengnya itu untuk membalaskan dendamnya kepada Cin Hai dan kawan-kawannya, si kakek bersorban Wai Sau Pu yang gagah perkasa, jago dari Sin-kiang itu, dan masih banyak lagi jago-jago yang mereka datangkan dari Turki.

Ketika pada malam hari itu rombongan musuh menyerbu lagi, Yousuf yang mendengar musuh-musuhnya lalu berkata kepada Lin Lin,

“Lin Lin, anakku yang baik, kaupergunakanlah kepandaianmu untuk lari menyelamatkan diri. Tinggalkanlah aku seorang diri, aku sudah tua dan aku berani menghadapi bencana ini seorang diri. Akan tetapi kau, kau jangan sampai terbawa-bawa, anakku. Kau mendapat berkah dan doaku, pergilah Lin Lin, kalau sampai kau terkena bencana bersamaku, sampai mati pun aku akan merasa penasaran dan duka!”

“Tidak, tidak. Bagaimanapun juga aku akan tetap membelamu, Ayah!”

Yousuf merasa terharu sekali melihat betapa anak pungutnya ini bersedia membelanya dengan berkorban jiwa! Tak tertahan lagi air mata mengucur dan membasahi pipinya. Lin Lin lalu menerjang keluar sambil memutar-mutar pedang Han-le-kiamnya. Biarpun pedangnya hanya sebuah, akan tetapi ketika ia mainkan Han-le Kiam-hwat, pedang itu seakan-akan berubah menjadi puluhan pedang. Juga pada saat itu, Merak Sakti menyambar keluar dari pintu pondok dan mengamuk tak kalah hebatnya.

Siok Kwat Moli si nenek bongkok yang melihat kehebatan Merak Sakti menjadi marah sekali. Ia mencabut sebatang pisau kecil dan mengayunkan tangannya. Merak Sakti dapat melihat berkelebatnya pisau yang mengancam dada, maka cepat ia menyampok dengan kaki kirinya, akan tetapi tidak tahunya, bahwa pisau itu lihai sekali, tidak bergagang dan pada kedua ujungnya tajam. Ketika disampok, pisau itu tidak terpental bahkan lalu melejit dan meleset menancap pada paha burung merak itu. Merak Sakti memekik kesakitan dan terbang tinggi ke atas dengan pisau masih menancap pada pahanya.

Cin Hai segera melompat dan menerjang dengan pedangnya sambil berseru,

“Moi-moi, jangan kau takut, aku datang membantumu!”

Alangkah girangnya hati Lin Lin melihat pemuda kekasihnya ini, maka ia lalu memutar pedangnya makin hebat dan bersemangat sambil berteriak,

“Koko…!”

Sementara itu, keempat orang tua yang tadi telah bertemu dengan Cin Hai di rumah makan, menjadi terkejut sekali melihat bahwa pemuda itu kini tiba-tiba muncul dan membantu gadis yang gagah itu.

“Tikus kecil, kau berani muncul lagi?” Wai Sauw Pu membentak dan tasbehnya lalu menyambar.

“Tikus besar, mengapa aku tidak berani?” balas Cin Hai membentak. Biarpun dikeroyok hebat, hati pemuda ini merasa girang dan gembira sekali karena telah dapat bertemu dengan kekasihnya. Pedang Liong-coan-kiam berkelebaten dan menyilaukan mata para pengeroyoknya ketika ia mainkan ilmu pedangnya Daun Bambu yang lihai.

Ketika Kang-lam Sam-lojin ikut maju mengeroyok Cin Hai, pemuda ini lalu menegur mereka, “Sam-wi Totiang, apakah Sam-wi selama ini baik saja?” Giok Yang Cu yang tinggi besar dan itu lalu membentak, “Setan kecil, siapakah engkau yang berpura-pura telah kenal kami tiga saudara?”

“Ha, ha, Giok Yang Cu Totiang, lupakah kau kepada Cin Hai si Anak Gundul?”

Bukan main terkejut dan herannya tiga orang tosu itu mengetahui bahwa pemuda itu benar-benar Cin Hai, anak gundul yang dulu pernah ikut mereka. Tak mereka sangka bahwa anak yang kelihatan bodoh dan gundul itu dan kemudian pergi bersama Ang I Niocu, kini telah menjadi seorang pemuda yang demikian lihainya. Mereka lalu berbalik mengeroyok Lin Lin lagi oleh karena mereka merasa tidak enak hati mengeroyok Cin Hai, anak yang dulu pernah menolong jiwa mereka!

Biarpun Cin Hai lihai sekali kepandaiannya dan Lin Lin juga telah memiliki ilmu pedang yang hebat, akan tetapi oleh karena para pengeroyok itu terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi, lagi pula oleh karena ilmu pedang Lin Lin belum sempurna dan matang betul, maka terpaksa Cin Hai harus mengerahkan tenaga untuk bersilat di dekat gadis kekasihnya untuk membelanya di waktu perlu, dan keadaan keduanya segera terkurung rapat! Celakanya bahwa Sin-kong-ciak yang lihai telah terluka dan tidak berani turun membantu lagi!

Yousuf yang menderita sakit karena selain lukanya yang belum sembuh dan kegelisahannya berhubung dengan jatuhnya Kwee An dan Ma Hoa di dalam jurang mendatangkan tekanan batin yang hebat, kini menghadapi penyerbuan yang membahayakan ini menjadi bingung sekali. Ia lalu menganggap dirinya berdosa besar, karena perpisahan antara Lin Lin dan Cin Hai pun terjadi oleh karena urusannya. Kalau rombongan orang Turki itu tidak datang menyerbu untuk menawannya dan Lin Lin tidak membelanya, tentu gadis itu tidak akan pergi dari lereng gunung di utara itu dan tidak akan terpisah dari Cin Hai. Dan sekarang kembali gadis itu berada di dalam bahaya karena membelanya. Kalau gadis itu sampai terbinasa, alangkah besar dosanya! Maka ia lalu paksakan diri keluar sambil membawa sebatang pedang, akan tetapi tubuhnya amat lemas!

Pada saat ia muncul di ambang pintu, matanya terbelalak ketika ia melihat seorang pemuda bertempur membantu Lin Lin dan ternyata bahwa pemuda itu adalah Cin Hai!

“Cin Hai…!” serunya girang, akan tetapi segera ia roboh tertotok oleh Wai Sauw Pu yang telah melompat dan segera menawannya.

“Cuwi, tangkaplah aku akan tetapi jangan kalian mengganggu kedua orang muda itu!” Yousuf masih sempat berteriak sebelum Wai Sauw Pu membawanya lari! Lin Lin terkejut sekali dan hendak mengejar, akan tetapi para pengeroyoknya tidak memberi kesempatan kepadanya. Juga Cin Hai tak dapat meninggalkan Lin Lin seorang diri, maka kedua orang muda itu merasa gelisah sekali.

Dan pada saat itu, terdengar suara ketawa yang nyaring sekali, lalu disusul berkelebatnya bayangan yang gesit sekali ke arah Wai Sauw Pu yang sedang lari sambil mengempit tubuh Yousuf. Sekali bayangan itu bergerak, Wai Sauw Pu roboh terpelanting dan Yousuf telah dipulihkan kembali dari totokan!

Yousuf dengan lemah lalu merayap ke pinggir dan tiba-tiba terdengar bisikan orang,

“Paman Yousuf, mari ikut aku!”

Yousuf memandang dan ternyata seorang Turki keluar dari tempat gelap. Ketika ia memperhatikan, orang itu bukan lain adalah keponakannya sendiri yang segera menggendongnya dan membawanya lari ke dalam gelap!

Sementara itu, penolong yang datang dengan tiba-tiba itu tertawa lagi dan berkata, “Kalian ini semut-semut kecil hendak berlagak ganas, melarikan orang dan berani mengeroyok seorang nona manis? Ha, ha, itu namanya tidak memandang mukaku. Sungguh terlalu, terlalu sekali!” Setelah berkata demikian, orang itu lalu menyerbu dan gerakan kaki tangannya ringan dan cepat sekali!

Bukan main herannya hati Cin Hai ketika mengenal bahwa orang ini adalah laki-laki pesolek yang tampan dan yang pernah menaklukkan burung bangau secara lihai sekali itu! Dan bukan main terkejutnya ketika ia melihat betapa laki-laki itu lalu bersilat dengan ilmu silat yang hampir sama dengan Pek-in-hoatsut!

Menghadapi Cin Hai dan Lin Lin saja, semua pengeroyok sudah merasa sukar untuk menjatuhkannya, apalagi ditambah dengan seorang yang demikian lihainya. Mereka lalu melompat mundur dan hanya dapat bertahan saja. Beberapa kali Si Pesolek itu tertawa bergelak sambil bersilat di dekat Lin Lin dan ketika pengeroyok mulai mengendur kurungan mereka, tiba-tiba saja laki-laki itu lalu mengulur tangan dan menotok iga kiri Lin Lin! Serangan ini adalah sebuah tipu dalam limu Silat Kong-ciak Sin-na yang dilakukan dengan baik sekali hingga Lin Lin yang sama sekali tak pernah menduga bahwa penolong itu akan menyerang dirinya, tak sempat mengelak dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas. Secepat sambaran burung walet, laki-laki itu sambil tertawa lalu mengempit tubuh Lin Lin dan melompat cepat melarikan diri!

Bukan main terkejutnya hati Cin Hai melihat hal ini.

“Orang rendah, kau hendak lari ke mana?” Ia lalu mengejar dengan cepat pula ke arah mana bayangan orang tadi menghilang.

Rombongan orang Turki yang tiba-tiba melihat ketiga lawan mereka menghilang dan juga Yousuf tak nampak bayangannya, lalu menolong kawan-kawan yang terluka dan cepat meninggalkan tempat itu dengan penasaran dan kecewa. Mereka juga bingung dan menduga-duga melihat sepak terjang orang aneh yang tadinya menolong akan tetapi akhirnya bahkan menculik gadis itu!

Ternyata bahwa laki-laki yang melarikan Lin Lin itu memiliki ilmu lari cepat yang hebat sekali hingga biarpun Cin Hai telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, ia hanya dapat mengikutinya saja tanpa dapat merobah jarak antara dia dan orang yang dikejarnya. Sebaliknya, orang itu pun merasa terheran-heran karena pemuda yang mengejarnya itu ternyata tak pernah tertinggal jauh, biarpun ia telah mengeluarkan ilmu Lari Cepat Jauw-sang-hwe (Terbang di Atas Rumput)! Demikianlah, mereka berkejar-kejaran setengah malam penuh sampai fajar menyingsing, dan tetap mereka berlari melalui hutan-hutan dan melompati jurang-jurang! Tak seorang pun di antara mereka mau mengalah!

Sementara itu, ketika pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, burung bangau Ang-siang-kiam beterbangan di atas hutan itu berputar-putar mencari Cin Hai, Ia mendengar keluh kesakitan dari Merak Sakti yang berada di atas sebuah pohon tinggi dan berdiri di atas cabang dengan sebelah kaki tertancap pisau. Burung bangau lalu terbang menyambar turun dan ketika melihat Sin-kong-ciak, ia lalu terbang dan hinggap di depannya. Kedua hurung ini telah mendapat didikan dan bisa membedakan kawan atau lawan. Burung bangau melihat betapa burung merak terluka, lalu mengeluarkan suara mengeluh, dan ia lalu menggunakan sepasang paruhnya yang panjang dan tajam untuk menjepit pisau itu dan mencabutnya. Memang ia telah mendapat latihan-latihan untuk melakukan pertolongan hingga dengan mudah ia dapat mengeluarkan pisau itu.

Melihat perbuatan yang menolongnya ini, Sin-kong-ciak tahu bahwa burung bangau ini bermaksud baik, maka ia maklum bahwa Ang-siang-kiam adalah seorang kawan. Setelah pisau yang menancap di kakinya telah tercabut keduanya lalu terbang tinggi di udara, merupakan kawan baik dan sama-sama terbang berputar-putar mencari jejak majikan mereka!

Ang I Niocu, Kwee An dan Ma Hoe melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat untuk mencari Lin Lin dan Yousuf. Pada suatu hari ketika mereka tiba di sebuah hutan, mereka melihat seorang kakek sedang dikeroyok oleh rombongan perampok yang terdiri dari belasan orang bersenjata golok. Kakek ini gagah sekali, bertempur sambil tertawa bergelak dan memutar-mutar sebatang dayung dengan hebatnya. Tiga orang pengeroyoknya telah roboh dengan tulang patah dan kulit matang biru, sedangkan sisa pengeroyok-pengeroyok terdesak hebat.

“Nelayan Cengeng!” seru Ang I Niocu dan ketiga orang muda itu segera menerjang kawanan perampok itu yang segera melarikan diri karena baru menghadapi seorang kakek saja mereka sudah terdesak, apalagi kini datang tiga orang muda membantu kakek itu!

Nelayan Cengeng ketika melihat kedatangan Ang I Niocu, Ma Hoa dan Kwee An, tertawa gembira sekali. Ia mengusap-usap rambut Ma Hoa ketika gadis itu berlutut di depan suhunya, mulutnya tiada hentinya tertawa, akan tetapi kedua matanya mengalirkan air mata!

“Ma Hoa, alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau di sini. Kau sekarang telah berubah banyak, muridku! Dengan rambutmu terurai seperti ini, kalau tidak ada Kwee An dan Ang I Niocu, mungkin akan pangling!”

Ternyata bahwa Nelayan Cengeng telah menyusul muridnya di lereng bukit di utara itu, akan tetapi hanya mendapatkan tumpukan puing belaka hingga ia pun menyusul dan mengejar ke barat. Ketika tiba di dalam hutan itu, ia dikeroyok oleh perampok-perampok yang merupakan makanan lunak bagi dayungnya hingga ia mempermainkan mereka dengan gembira, tak menyangka sama sekali bahwa di situ ia akan dapat bertemu dengan murid yang dicari-carinya itu.

“Ketika aku mencarimu di utara, aku mendengar tentang Lin Lin dan Yo Se Pu dikejar kejar oleh orang Turki. Di manakah mereka itu sekarang? Dan di mana pula adanya Cin Hai? Sungguh tak kusangka tadinya bahwa kalian semua akan terpisah-pisah seperti ini. Dan Ang I Niocu seakan-akan baru kembali dari lubang kubur! Ketahuilah, Niocu, bahwa tak seorang pun pernah menyangka bahwa kau masih hidup! Syukurlah, semuanya berada dalam selamat, ini menambahkan keyakinan bahwa kalian adalah orang-orang baik yang berada dalam lindungan Thian!”

Dengan singkat Ang I Niocu menceritakan pengalamannya bagaimana ia sampai dapat tertolong dari pulau yang meledak itu, akan tetapi sama sekali ia tidak menyebut nama Lie Kong Sian. Sedangkan Ma Hoa lalu menuturkan pengalamannya ketika ia dan Kwee An terjerumus ke dalam jurang dan betapa ia mendapat pelajaran dari seorang pertapa bernama Hok Peng Taisu, kakek botak yang mengajarkan Ilmu Silat Bambu Kuning kepadanya.

“Hebat, hebat! Kau beruntung sekali, Ma Hoa! Ketahuilah bahwa Hok Peng Taisu adalah seorang tokoh besar dan dulu ketika aku masih muda, pernah aku mendapat pertolongan dari Si Botak itu hingga sampai sekarang gurumu ini masih dapat hidup! Dulu aku pernah dikepung oleh imam-imam dari perkumpulan Agama Ngo-bwe-kauw dan ketika aku terdesak hebat dan terancam bahaya maut, datanglah Si Botak itu yang menolongku.

Dan sekarang, kembali ia menolong jiwamu dan bahkan memberi pelajaran ilmu silat yang tinggi kepadamu! Bagus, bagus, sebelum aku mati, aku harus menemui Si Botak itu untuk berlutut menghaturkan terima kasih kepadanya. Sekarang kauperlihatkanlah kepandaianmu yang baru itu!”

Ma Hoa menganggap Nelayan Cengeng seperti ayah sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengeluarkan sepasang bambu runcingnya dan bersilat dengan cepat. Melihat betapa gadis itu dengan rambut berkibar melambai-lambai menggerakkan kedua batang bambu runcing hingga dua batang bambu yang berwarna kuning itu merupakah sinar panjang berbelit-belit bagaikan ratusan ekor ular kuning sedang saling belit dan bergerak-gerak dengan ruwet dan aneh, tidak saja Kwee An memandang dengan kagum dan rasa kasih sayangnya bertambah, juga Ang I Niocu dan Nelayan Cengeng merasa kagum sekali. Setelah Ma Hoa selesai bersilat, gurunya tertawa lagi dengan gembira dan air matanya mengucur makin deras!

“Adik Ma Hoa, ilmu silatmu sekarang telah maju hebat, sungguh membuat aku merasa kagum sekali,” kata Ang I Niocu dengan sejujurnya.

“Aah, Enci Im Giok, jangan kau terlalu memuji. Aku masih banyak mengharapkan petunjukmu,” kata Ma Hoa sambil menyimpan kembali kedua batang bambu runcingnya.

Kembali Ang I Niocu mengusulkan untuk mencari Lin Lin dan Cin Hai dengan terpisah agar lebih banyak harapan dan lebih cepat bertemu dengan kedua anak muda itu.

“Biariah Kong Hwat Lojin mengawani kalian berdua, dan aku akan mencari sendiri,” kata Ang I Niocu yang memang lebih suka melakukan perjalanan seorang diri. Biarpun Ma Hoa merasa agak sayang untuk berpisah lagi dengan wanita pandekar yang disayanginya itu, namun ia anggap usul ini betul juga.

“Akan tetapi kita harus menentukan tempat berkumpul kembali agar kita tidak saling mencari tanpa mengetahui di mana kita harus saling mengadakan pertemuan,” kata Nelayan Cengeng. Lalu mereka mengadakan permufakatan untuk bertemu di rumah Kwee An. Semua orang setuju dan pada saat mereka hendak melanjutkan perjalanan dengan terpisah, tiba-tiba mereka mendengar dengan sayup-sayup suara orang bertempur. Mereka saling pandang dengan heran dan keempatnya lalu lari menuju ke arah dari mana suara itu datang.

Pada waktu itu, hari telah mulai menjadi gelap, akan tetapi di udara banyak bintang hingga keadaan tidak terlalu gelap. Suara beradunya senjata dan teriakan-teriakan itu datang dari tengah hutan dan ketika mereka tiba, di suatu tempat terbuka, mereka melihat dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebatnya!

Seorang di antara mereka adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang barusia kira-kira empat puluh tahun lebih. Ia bersenjata sebuah alat tetabuhan yang bertali empat, gerakannya hebat dan angin gerakannya membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang! Lawannya juga seorang yang lihai sekali, yaitu seorang pendeta bertubuh pendek gemuk, berjubah merah dan memegang sebuah gendewa sebagai senjata. Gerakannya juga lihai sekali dan tiap kali ujung gendewanya beradu dengan senjata lawannya, bunga api memercik tinggi, tanda bahwa selain kedua senjata itu terbuat dari logam yang keras, juga bahwa tenaga mereka besar dan seimbang!

Mereka berempat, bahkan Nelayan Cengeng sendiri tidak tahu siapa adanya dua orang yang berilmu tinggi itu. Sebenarnya, orang yang bersenjata alat musik itu bukan lain ialah Sie Ban Leng atau paman Cin Hai yang dulu telah mengkhianati ayah Cin Hai hingga terbinasa sekeluarganya! Sedangkan pendeta jubah merah itu adalah Sian Kek Losu, seorang pendeta Sakya Buddha, atau sute dari Thai Kek Losu yang lihai dan yang menjadi jago nomor dua dari semua tangan kanan Yagali Khan, Raja Muda Mongol itu!

Bertambah banyaknya orang-orang Turki yang mendatangi Tiongkok bagian barat, membuat kaisar menaruh curiga, maka kemudian kaisar lalu memerintahkan panglimanya untuk mengirim seorang utusan atau penyelidik. Kam Hong Sin atau Kam-ciangkun yang kini menjadi panglima tertinggi kerajaan adalah seorang yang amat lihai dalam melakukan tugasnya. Ia maklum bahwa tugas seorang penyelidik di barat bukanlah tugas yang ringan dan yang dapat dilakukan oleh sembarang orang saja, maka ia lalu minta pertolongan kawan baiknya dengan memberi hadiah dan upah besar. Kawan baiknya ini bukan lain ialah Sie Ban Leng!

Juga Yagali Khan menyebar orang-orangnya untuk melihat gerak-gerik orang Turki yang menjadi musuhnya. Di antara orang-orangnya ini, juga Sian Kek Losu ikut pula melakukan perjalanan ke barat untuk melihat keadaan. Maka bertemulah Sian Kek Losu dengan Sie Ban Leng di tempat ini hingga setelah mengetahui bahwa mereka datang dari pihak yang bermusuhan, bertempurlah mereka dengan hebatnya.

Gerakan serangan Sie Ban Leng benar-benar hebat luar biasa. Senjatanya yang aneh itu menyambar-nyambar dan tak pernah berhenti menyerang karena tiap kali serangannya dapat dielak, senjatanya itu membuat gerakan melengkung dan terus membabat dan memukul lagi, hingga serangan itu dilakukan tanpa pernah tertunda, merupakan serangan bertubi-tubi hingga membuat pendeta Sakya Buddha itu tersedak hebat. Tiba-tiba pendeta Sakya Buddha itu melompat mundur dan gerakan tubuhnya yang pendek itu amat gesitnya hingga sekali melompat ia telah berada di tempat yang jauhnya tidak kurang dari lima tombak. Ketika Sie Ban Leng melompat untuk menerjang lagi, Sian Kek Losu telah mengeluarkan anak panah yang dipasangnya pada gendewanya dan begitu terdengar suara tali gendewa menjepret, tujuh batang anak panah sekaligus melayang ke arah tubuh Sie Ban Leng di beberapa bagian!

Terkejutlah Nelayan Cengeng dan kawan-kawannya melihat kehebatan dan bahaya besar yang mengancam orang Han itu. Betapapun juga, dan biarpun mereka tidak kenal siapa adanya dua orang itu dan mengapa pula mereka bertempur, akan tetapi sebagai orang-orang Han, sedikit banyak mereka memihak bangsa sendiri. Ini adalah watak manusia pada umumnya, maka melihat bahaya yang mengancam Sie Ban Leng, tak terasa pula Nelayan Cengeng mengeluarkan seruan tertahan.

Akan tetapi kalau kepandaian memanah dari Sian Kek Losu hebat, maka kegesitan Sie Ban Leng lebih hebat lagi. Ia berseru kerasa dan untuk mengelak sambaran tujuh batang anak panah yang dilepas dari dekat dan yang melayang dengan kecepatan luar biasa itu memang sudah tak mungkin, maka tiba-tiba ia mengenjot kakinya dan kaki itu melayang ke atas dengan kepala di bawah. Dengan demikian, maka tubuh bagian bawah yang terancam akan panah telah terhindar dari bahaya dan untuk menjaga kepalanya ia memutar-mutar senjatanya sedemikian rupa hingga dua batang anak panah yang tadinya mengarah mata dan tenggorokannya, dengan suara keras beradu dengan senjatanya. Sebatang anak panah dapat dipukul jatuh akan tetapi yang sebatang pula menancap pada perut alat musik itu. Anak panah yang terpukul itu melayang dengan masih cepatnya ke arah Ang I Niocu yang berdiri terdepan. Dengan tenang Ang I Niocu lalu memegang ujung ikat pinggangnya yang melambai di bawah dan sekali ia menggerakkan tangan, ikat pinggangnya meluncur dan ujungnya dapat menangkis anak panah yang menuju kepadanya hingga jatuhlah anak panah itu di atas tanah.

“Kau berani merusak alat musikku!” teriak Sie Ban Leng dengan marah dan ia melompat lalu mengirim serangan berupa pukulan hebat ke arah kepala pendeta pendek itu. Kalau pukulan itu mengenai sasaran, pasti kepala Sian Kek Losu akan menjadi remuk. Akan tetapi Sian Kek Losu sudah siap sedia. Biarpun ia tadi merasa terkejut sekali melihat betapa lawannya dapat menghindarkan diri dari semua anak panahnya, akan tetapi ketika lawannya menyerbu dengan pukulan senjata, ia lalu maju dan menggempur senjata lawan itu dengan gendewanya. Akan tetapi, kali ini Sie Ban Leng benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya hingga ketika gendewa itu beradu dengan senjatanya, Sian Kek Losu terdorong ke belakang dengan keras!

Sie Ban Leng tidak mau memberi hati dan mendesak terus, akan tetapi pada saat itu, dari dalam gerumbulan pohon keluarlah tujuh orang pahlawan Mongol, di antaranya nampak Balaki yang lihai. Segera mereka menyerbu dan mengeroyok Sie Ban Leng yang tertawa bergelak dan berkata,

“Majulah! Majulah kalian tikus-tikus Mongol!” dan ia memutar-mutar senjatanya dengan hebat.

Tadi ketika Sian Kek Losu bertempur dengan Sie Ban Leng, Kwee An mengusulkan untuk membantu, akan tetapi ia dicegah oleh Ang I Niocu yang menyatakan bahwa orang Han itu takkan kalah.

Akan tetapi kini setelah melihat betapa banyak orang Mongol yang berilmu silat tinggi dan lihai membantu dan mengeroyok orang Han itu, tanpa mendapat komando lagi Nelayan Cengeng lalu menyerbu sambil memutar-mutar dayungnya dengan hebat dan berteriak, “Pengecut, pengecut! Mengapa terjadi pengeroyokan??”

Ang I Niocu, Kwee An dan Ma Hoa juga lalu menerjang maju hingga sebentar saja pihak Mongol menjadi kacau balau karena biarpun mereka itu lihai, namun empat orang yang membantu Sie Ban Leng ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi dari mereka, sedangkan pihak mereka yang dapat mengimbangi kepandaian Nelayan Cengeng dan kawan-kawannya hanyalah Sian Kek Losu dan Balaki. Maka atas aba-aba yang dikeluarkan oleh Balaki, mereka lalu melompat mundur dan menghilang di dalam gelap.

“Ha, ha, ha! Hanya begitu saja kelihaian orang-orang Mongol!” Sie Ban Leng berseru dengan suara menyatakan kebanggaannya. Mendengar ucapan dan melihat lagak Sie Ban Leng, diam-diam Nelayan Cengeng merasa tidak suka, apalagi ketika orang itu memandang ke arah Ang I Niocu dengan mata terbelalak kagum dan bibir tersenyum dibuat-buat. Pandangan ini dapat pula ditangkap oleh Ang I Niocu dan tahulah ia bahwa batin laki-laki ini tidak bersih.

“Cuwi gagah perkasa sekali dan kalau Cuwi tidak keburu datang, tentu akan makan waktu lama sebelum aku dapat merobohkan mereka seorang demi seorang” kata Sie Ban Leng sambil mengerling kepada Ang I Niocu. Kwee An dan Ma Hoa merasa mendongkol mendengar ucapan sombong ini! Kalau mereka tahu bahwa orang yang dibantunya ini demikian sombongnya, belum tentu mereka mau turun tangan.

“Ha, ha, pendeta pendek tadi adalah jago ke dua dari Yagali Khan yang bernama Sian Kek Losu, tak tahu hanya sebegitu saja kepandaiannya. Kalau tidak keburu kawan-kawannya datang mengeroyok, pasti kepalanya yang licin itu akan remuk oleh senjataku!” Kembali Sie Ban Leng menyombong. “Kalau terjadi demikian barulah mereka tahu bahwa aku Sie Ban Leng Si Tubuh Baja bukanlah orang yang boleh dibuat permainan!”

Biarpun ucapan ini seakan-akan ucapan yang ditujukan kepada diri sendiri, namun jelas bahwa maksudnya ialah memperkenalkan diri berikut nama julukannya Si Tubuh Baja! Ang I Niocu yang merasa sebal karena beberapa kali dilirik, lalu berkata kepada Nelayan Cengeng,

“Lo-enghiong, marilah kita keluar dari tempat yang gelap dan kotor ini dan melanjutkan perjalanan kita!”

Juga Kwee An dan Ma Hoa lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu. Nelayan Cengeng tertawa bergelak-gelak hingga keluarlah air matanya ketika ia bertindak pergi meningalkan Sie Ban Leng sambil berkata, “Sobat, kau cukup gagah perkasa, akan ketapi kalau kau berdiri di tempat terlampau tinggi, ada bahayanya kau akan tergelincir jatuh!”

Sie Ban Leng merasa penasaran sekali oleh karena keempat orang itu, terutama Dara Baju Merah yang cantik bagaikan bidadari itu belum memperkenalkan diri. Akan tetapi oleh karena mereka telah pergi, ia tidak dapat menahan mereka. Diam-diam ia mengikuti mereka dari jauh dan ketika tiba di luar hutan, melihat bahwa Ang I Niocu memisahkan diri dan berpisah dari tiga orang yang lain. Hatinya girang bukan main dan diam-diam ia lalu mengejar Ang I Niocu!

Adapun Kwee An, Ma Hoa dan Nelayan Cengeng, lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Kansu. Di sepanjang jalan mereka membicarakan pertemuan mereka dengan Sie Ban Leng yang sombong itu.

“Dulu aku pernah mendengar nama Si Tubuh Baja itu, kalau tidak keliru, beberapa tahun yang lalu ia menjagoi di kota raja dan mempunyai hubungan erat dengan para Perwira Sayap Garuda akan tetapi kemudian ia lalu menjelajah ke barat. Mungkin dia inilah orangnya!” Ma Hoa sendiri biarpun menjadi putera seorang Perwira Sayap Garuda, akan tetapi oleh karena semenjak kecil sering kali berada bersama Nelayan Cengeng mempelajari ilmu-ilmu silat, maka ia belum pernah bertemu dengan Sie Ban Leng atau mendengar namanya.

Ketiga orang ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Propinsi Kansu, dan baru saja mereka mulai memasuki Propinsi ini, mereka telah bertemu dengan banyak orang yang terdiri dari berbagai suku bangsa, akan tetapi yang terbanyak ialah suku bangsa Hui. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke ibu kota Kan-su, yaitu Lan-couw yang besar dan ramai. Di sinilah terdapat banyak sekali perantau-perantau dari Turki yang menjadi saudagar dan membeli banyak kulit dan bulu onta yang panjang dan tinggi mutunya dari daerah ini.

Cin Hai terus mengejar orang pesolek yang melarikan Lin Lin sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Ia merasa heran sekali karena biarpun ilmu ginkangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi, namun orang itu masih saja belum dapat tersusul olehnya, padahal orang itu berlari sambil mengempit tubuh Lin Lin yang tidak berdaya karena telah tertotok secara lihai sekali!

Akan tetapi ia tidak mau kalah dan andaikata orang itu membawa lari Lin Lin menuju ke lautan api sekalipun, ia akan tetap mengejar! Fajar telah menyingsing dan matahari telah mulai timbul ketika mereka masih saja berkejaran hingga mereka tiba di tanah datar yang kering dan luas. Akhirnya, orang pesolek itu melarikan diri naik ke sebuah bukit kecil di sebelah kiri, terus dikejar oleh Cin Hai. Melihat betapa pengejarnya tidak mau mengalah, akhirnya pesolek itu lalu berhenti dan sambil mengempit tubuh Lin Lin dalam pelukan lengan kirinya, ia menanti dengan mulut tersenyum akan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar mengancam hebat!

Cin Hai berlari dan melompat ke hadapannya sambil memaki, “Bangsat berjiwa rendah! Kau masih tidak hendak melepaskan gadis itu?”

“Eh, bocah kurang ajar kau ini siapakah maka berani berlaku kurang ajar di depanku? Apakah kau tidak tahu bahwa kau sedang berhadapan dengan Kwi-eng-cu (Bayangan Setan) yang berarti akan mendatangkan maut bagimu apabila kau menentangnya! Dan apakah hubunganmu dengan gadis ini? Kuperingatkan padamu agar segera pergi dan jangan ikut mencampuri urusanku!”

“Orang rendah! Ternyata yang kauhias hanya mukamu saja hingga biarpun di luar kau nampak cakap dan bersih, akan tetapi sebetulnya di sebelah dalam dari tubuhmu bersembunyi batin yang rendah, buruk dan kotor! Kuakui bahwa kepandaianmu memang tinggi, akan tetapi jangan kaukira bahwa aku takut kepadamu! Aku Pendekar Bodoh, tidak takut menghadapi seorang penjahat, betapapun gagahnya dia! Lepaskan gadis itu kalau kau sayang jiwamu sendiri!”

“Ha, ha, ha! Masih baik kalau kau mengaku bodoh, karena memang kau bodoh dan tolol! Mungkin kau memang pendekar, karena kepandaianmu berlari cepat tidak rendah, dan kau memang bodoh karena tidak tahu akan kehendak seorang laki-laki seperti aku! Gadis ini cantik jelita dan manis, sedangkan aku seorang laki-laki yang gagah dan tampan, sekarang aku menawannya dengan maksud apakah? Tentu saja, kau akan mengerti sendiri kalau saja kau tidak demikian bodoh! Aku hendak mengambil dara ini sebegai isteriku, isteri yang tercinta, karena gadis seperti inilah yang semenjak dulu kucari-cari untuk menjadi jodohku! Nah, sekarang kau sudah mendengar maksudku membawa gadis ini, maka kau pulanglah ke rumah ibumu dan jangan mencari penyakit dengan mencampuri urusan pribadi orang lain!”

“Bangsat cabul!” Cin Hai memaki marah sekali. “Bukalah telingamu baik-baik! Gadis ini adalah tunanganku! Siapa sudi mencampuri urusanmu yang kotor? Kaulepaskan tunanganku ini dan baru aku mau mengampuni jiwamu yang rendah!”

Berdirilah kedua alis orang itu mendengar ucapan ini. Hidungnya yang mancung itu berkembang-kempis, dan sungguhpun mulutnya masih tersenyum, namun Cin Hai melihat betapa sinar matanya bernyala-nyala bercahaya.

“Bagus, kalau begitu mampuslah kau!” tiba-tiba orang itu membentak dan sekali saja tubuhnya berkelebat, ia menyerang Cin Hai dengan tangan kanannya! Serangan ini hebat sekali dan dari lengan tangan orang itu mengepul uap putih. Melihat betapa orang ini mempergunakan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, kembali Cin Hai terheran dan ia lalu melawan dengan Pek-in-hoatsut juga! Orang itu terkejut sekali melihat gerakan Cin Hai ini dan cepat merobah ilmu silatnya dengan Kong-ciak Sinna, akan tetapi kembali ia terheran sampai mengeluarkan suara tertahan ketika Cin Hai juga melawannya dengan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna yang sama pula!

Kembali orang itu merobah ilmu silatnya dengan bermacam-macam pukulan yang lihai dan permainan silat pilihan yang tinggi, namun dengan mempergunakan pengertiannya dalam hal segala macam gerakan tangan dan kaki, Cin Hai melayaninya dengan gerakan yang sama pula.

“Eh, eh tahan dulu!” kata orang itu sambil melompat ke belakang.

“Apa kehendakmu?” tanya Cin Hai sambil berdiri tenang dan memandang tajam.

“Kau yang mengerti Pek-in-hoatsut dan Kong-ciak Sinna serta yang paham akan dasar persilatan, siapakah kau dan siapa pula Gurumu?”

“Aku pun sedang terheran-heran melihat betapa seorang yang pandai Ilmu Silat Pek-in-hoatsut dan Kong-ciak Sinna sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan seperti kau! Sebelum aku bertanya, kau telah mengajukan pertanyaan lebih dulu, maka dengarlah baik-baik! Aku bernama Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh dan suhuku ialah Bu Pun Su!”

Untuk sesaat wajah pesolek itu menjadi pucat dan ia memandang seakan-akan melihat setan dan dari sinar matanya mengandung ketidak percayaan.

“Maukah kau bersumpah bahwa kau benar-benar murid Bu Pun Su?” tanyanya.

“Bukan hanya aku, bukalah lebar-lebar kedua matamu, karena gadis yang kautawan itu pun seorang murid Suhu Bu Pun Su pula” kata Cin Hai.

Tiba-tiba berubahlah wajah orang itu. Ia tersenyum dan tiba-tiba ia mengangkat tangan dengan girang. “Kalau begitu, kau adalah Suteku dan gadis ini adalah Sumoiku! Lebih baik lagi! Sute, dengarlah bahwa Bu Pun Su adalah Supekku (Uwa Guru) karena aku adalah murid dari Guruku Han Le!”

Cin Hai merasa terkejut sekali dan mengertilah dia mengapa orang ini demikian lihainya dan mengerti Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut dan Kong-ciak Sinna dengan baiknya.

“Hm, hm, kalau begitu kau benar adalah Suhengku sendiri. Mengapa Suhu tak pernah menceritakan tentang kau. Siapakah namamu?”

Sambil tertawa orang itu berkata “Namaku adalah Song Kun dan ketika aku mempelajari ilmu silat dari Suhu di atas Pulau Kim-san-to, Supek sering kali datang dan bahkan beliau telah memberi pelajaran beberapa ilmu kepadaku dan sekarang aku perintahkan agar supaya kautinggalkan aku dan Sumoi!”

“Apakah yang hendak kauperbuat kepada tunanganku ini?” tanya Cin Hai dengan suara gemas.

“Sute, dengarlah baik-baik, Kau sebagai seorang saudara muda yang baik dan berbakti, harus mengalah kepadaku. Sumoiku ini hendak kubawa pulang dan hendak kuambil menjadi isteriku. Terus terang saja, semenjak aku melihatnya, timbul cintaku yang besar kepadanya.”

“Tapi dia adalah tunanganku!” kata Cin Hai penasaran.

“Sute, sudah selayaknya seorang saudara muda mengalah terhadap kakaknya. Suhengnya belum kawin, mana sutenya boleh bertunangan? Kau mengalahlah kepadaku kali ini, Sute. Biar lain kali aku mencarikan jodoh yang manis dan jelita untukmu!”

“Aku tidak mempunyai seorang Suheng seperti macammu!” teriak Cin Hai dengan amat marahnya. “Kalau kau tidak mau melepaskan Lin Lin, biar kita mengadu jiwa di tempat ini!”

Kedua mata Song Kun berkilat. “Apakah benar-benar kau sudah bosan hidup? Dengarlah kau, bocah sombong! Jangankan baru kau, biar Suhu hidup kembali atau Supek datang membantumu, jangan harap kau akan bisa menangkan Kwie-eng-cu!”

“Jangan banyak cakap dan kaucobalah saja!” Seru Cin Hai sambil melangkah maju. Bukan main marahnya Kwie-eng-cu melihat sikap Cin Hai yang menantang ini. Tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangan itu. Cin Hai tiba-tiba terkejut melihat pedang ini karena pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dan sinar merah yang keluar dari pedang itu mendatangkan hawa panas! Inilah pedang Ang-ho-sian-kiam yang luar biasa dan yang ratusan tahun yang lalu telah menjadi pedang pusaka yang keramat di istana kaisar. Ketika pedang ini terjatuh ke dalam tangan Song Kun, maka menjadi seakan-akan seekor naga yang tumbuh sayap!

Cin Hai juga mencabut keluar Liong-coan-kiam dari dalam bajunya dan ketika Song Kun melompat dan menerjangnya, ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Daun Bambu yang lihai! Song Kun terkejut sekali melihat gerakan ilmu pedang ini oleh karena biarpun ia telah mewarisi hampir seluruh kepandaian Han Le, belum pernah ia melihat gerakan ilmu pedang yang sedemikian aneh dan lucunya, akan tetapi berbareng juga lihai sekali.

Dan oleh karena tangan kirinya masih mengempit tubuh Lin Lin maka gerakannya kurang leluasa sekali. Apalagi ketika Cin Hai selain menggerakkan pedang untuk menyerang, juga menggunakan tangan kiri untuk mengirim pukulan-pukulan ke arah jalan darahnya! Song Kun memutar-mutar pedangnya dengan ganas dan mencoba untuk mengadu pedangnya itu dengan pedang Cin Hai, akan tetapi Cin Hai cukup maklum bahwa pedang lawannya ini berbahaya sekali maka ia selalu menghindarkan beradunya kedua senjata, dan bahkan memperhebat serangan tangan kirinya. Pada suatu kesempatan, tangan kiri Cin Hai mendorong dengan tenaga penuh ke arah pelipis lawannya dan dalam keadaan terdesak, Song Kun terpaksa melemparkan tubuh Lin Lin untuk mengangkat tangan kirinya menangkis. Tubuh Lin Lin terlempar ke kiri dan terus masuk ke dalam sebuah jurang yang curam!

Cin Hai menjerit ngeri melihat betapa tubuh kekasihnya terlempar ke dalam jurang dan saat itu digunakan oleh Song Kun yang sudah menjadi marah sekali itu untuk mengirim tusukan ke arah dadanya, dibarengi dengan pukulan tangan yang dimiringkan ke arah lambung Cin Hai. Cin Hai merasa terkejut sekali, ia lalu mempergunakan gerakan Awan Putih Mengusir Mendung dengan tangan kiri, sedangkan pedangnya diangkat untuk menangkis. Dua batang pedang beradu keras dan terpentallah pedang Liong-coan-kiam dari tangan Cin Hai dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan tubuh Cin Hai terhuyung-huyung ke belakang! Ketika ia diserang tadi, semangatnya sedang melayang mengikuti tubuh Lin Lin dan hatinya berdebar kuatir, maka ia menjadi kurban serangan berbahaya dari Song Kun Yang lihai itu.

Song Kun tertawa girang dan penuh ejekan kemudian ia terus menyerang dengan hebat hingga terpaksa Cin Hai mempergunakan ginkangnya untuk mengelak dan mengeluarkan Ilmu Pukulan Kong-ciak Sinna untuk menghadapi lawannya yang lihai dengan tangan kosong.

Pada saat itu dari jurang di mana tadi Lin Lin jatuh, melayang keluar seorang kakek sambil menggendong tubuh Lin Lin dan ternyata bahwa kakek ini bukan lain ialah Bu Pun Su! Kakek ini melompat ke tempat pertempuran dan sekali ia mengebutkan lengan bajunya yang panjang, pedang di tangan Song Kun kena tertangkis hingga tangan Song Kun menjadi tergetar dan ia melompat ke belakang dengan kaget sekali.

“Suhu…!” kata Cin Hai dengan girang sekali karena melihat betapa suhunya telah berhasil menolong Lin Lin. Saking girangnya, pemuda ini sampai menitikkan dua butir air mata.

“Ah, kiranya Supek yang datang!” kata Song Kun dengan pedang dilintangkan di dada dan ia tidak mau memberi hormat sama sekali terhadap supeknya itu. “Song Kun kau terjerumus ke dalam lembah kesesatan, tidak insyafkah kau?” kata Bu Pun Su dengan suara keren.

Song Kun tersenyum dengan penuh ejekan dan kesombongan.

“Teecu tidak tahu akan maksud ucapan Supek ini,” jawabnya.

“Orang tersesat! Baiknya Suhumu telah meninggal, kalau tidak, dia tentu akan berduka sekali melihat betapa muridnya yang terkasih menjadi seorang yang berbudi rendah! Song Kun, perbuatanmu yang rendah masih nampak di depan mata, apakah kau masih saja belum mau mengakuinya? Kau menculik seorang gadis dan biarpun kau sudah mengetahui bahwa dia ini adalah seorang Sumoimu sendiri kau masih tetap akan melanjutkan kesesatanmu.”

“Teecu mencinta dia, apakah salahnya itu? Apakah Supek akan merintangi orang muda yang mencinta seorang wanita dan hendak mengambilnya menjadi isteri? Supek, ini adalah urusan orang-orang muda orang tua tidak berhak mencampurinya!”

Ucapan ini benar-benar kurang ajar sekali hingga Cin Hai merasa betapa kedua tangannya gatal-gatal hendak turun tangan menyerang suheng yang jahat itu.

“Setelah Suhu meninggal, yang berhak mengajar teecu hanyalah suhengku, Lie Kong Sian seorang! Akan tetapi, kalau Supek hendak merendahkan dan menurunkan tangan kejam kepada teecu, silakan, teecu sedikit pun tidak merasa takut!”

Kalau kiranya bukan Bu Pun Su yang menerima tantangan ini, tentu ia akan menjadi marah dan tak bersabar lagi, akan tetapi kakek jembel ini memiliki kesabaran yang luar biasa dan lagi ia merasa tidak tega untuk menurunkan tangan besi kepada seorang murid sutenya.

“Song Kun, Suhumu dulu lebih keliru memilih murid. Aku tidak sudi untuk mengotori tanganku pada tubuhmu. Akan tetapi, kalau kauhendak memaksa dan melanjutkan maksudmu menculik muridku perempuan ini, kau majulah dan boleh kaucoba-coba kepandaian Supekmu!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su melangkah maju dan menghadapi Song Kun dengan dada terangkat.

Kalau Song Kun mengangkat tangan dan menusuk dengan pedangnya, maka dada kakek itu akan tercapai oleh ujung pedang, akan tetapi Song Kun bukanlah demikian bodoh untuk melakukan hal ini. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Bu Pun Su amat tinggi dan bahwa saat itu Bu Pun Su sedang memancing-mancing agar ia turun tangan terlebih dulu hingga kakek ini mempunyai alasan untuk menghajarnya! Kalau tadi ia mengeluarkan ucapan menantang, itu hanya karena ia merasa yakin bahwa Bu Pun Su takkan mau turun tangan terhadapnya. Maka, sambil tertawa mengejek ia berkata dan memasukkan pedangnya kembali.

“Supek, dunia bukanlah sebesar telapak tangan. Di mana-mana banyak terdapat wanita cantik maka untuk apakah teecu harus berebut seorang wanita dengan Supekku sendiri? Ha, ha, ini amat menggelikan dan akan menjadi buah tutur orang-orang saja! Supek, teecu tidak mau nekat merebut perempuan ini, biarlah kalau Supek menghendakinya, dia boleh ambil! Akan tetapi,” katanya sambil menuding kepada Cin Hai dengan pandangan mata mengancam, “kau telah berani turun tangan kepada aku yang menjadi Suhengmu, maka awaslah kau! Lain kali kita bertemu, jangan harap aku akan dapat mengampuni jiwamu lagi!” Setelah berkata demikian, Song Kun menjura di depan Bu Pun Su sambil tersenyum menyindir, kemudian tubuhnya berkelebat dan lari turun dari bukit itu!

Bu Pun Su menghela napas. “Kasihan sekali bahwa Han Le harus pula menerima nama busuk sesudah mati oleh karena perbuatan muridnya itu! Ah, begitulah kalau salah menerima murid. Tidak heran bahwa jarang ada orang-orang cerdik pandai yang mau mengambil murid. Cin Hai, kau telah menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu silat Song Kun dan betapa hebat pedang Ang-ho-sian-kiam itu hingga Liong-coan-kiam sendiri sampai terputus olehnya! Melihat mukanya, orang seperti dia itu tentu akan membuktikan ancamannya maka mulai sekarang kau harus berlaku hati-hati sekali. Juga Lin Lin berada dalam bahaya, maka baiknya biarlah dia ikut padaku untuk memperdalam ilmu silatnya hingga cukup kuat apabila kelak bertemu dengan Song Kun.”

Kakek itu lalu membebaskan totokan yang mempengaruhi tubuh Lin Lin hingga gadis itu dapat bergerak kembali dan berlutut di depannya.

“Lin Lin, kalian telah menanam bibit permusuhan dengan Song Kun yang merupakan lawan tangguh sekali. Jangankan kau, bahkan Cin Hai sendiri kalau tidak memiliki pedang yang dapat melawan Ang-ho-sian-kiam agaknya akan sukar untuk dapat merobohkannya. Maka, sekarang kau ikutlah aku untuk memperdalam ilmu pedangmu yang masih mentah. Dan kau, Cin Hai, kau pergilah ke Kansu. Di antara ratusan buah gua yang terdapat di Kansu, yaitu gua-gua Tun-huang, di situ terdapat sebuah gua yang menyimpan sepasang pedang mustika, yaitu Liong-cu-siang-kiam atau Sepasang Pedang Mustika Naga. Hanya pedang itulah agaknya yang sanggup dihadapkan Ang-ho-sian-kiam (Pedang Dewa Api Merah) dari Song Kun tadi! Kelak, kau boleh menyusul Lin Lin ke Gua Tengkorak.”

Cin Hai lalu berlutut dan menyatakan bahwa ia hendak mentaati perintah suhunya itu. Kemudian Bu Pun Su meninggalkan tempat itu bersama Lin Lin setelah kedua orang muda itu saling lirik dengan pandangan mata yang mesra. Cin Hai lalu bangun dan berdiri memandang sampai bayangan dua orang itu terlenyap di sebuah tikungan. Hatinya merasa lega dan gembira, Lin Lin telah tertolong dan selamat dan kini ia tidak perlu merasa kuatir lagi oleh karena di dalam tangan Bu Pun Su, gadis itu akan aman sentausa melebihi daripada dalam pelukan ibu sendiri!

Ia lalu memikirkan keadaan Yousuf yang lenyap dan menguatirkan keadaan orang Turki yang budiman itu. Akan tetapi, kebetulan sekali ia mendapat tugas mencari pedang di Propinsi Kansu dan ia mengambil keputusan untuk sekalian mencari jejak Yousuf dan apa bila perlu menolong orang Turki itu. Ia hanya menyayangkan bahwa dalam berlari mengejar Song Kun, ia telah meninggalkan hutan di mana Yousuf tinggal itu jauh sekali hingga ia pun tidak tahu di mana adanya burung bangau yang ditinggalkannya di dalam hutan.

Cin Hai tidak tahu bahwa Lin Lin yang menceritakan pengalamannya kepada Bu Pun Su di tengah jalan, lalu minta kepada kakek itu untuk mampir di hutan itu. Mereka mencari jejak Yousuf dan mendengar dari seorang Turki bahwa Yousuf telah dilarikan oleh keponakannya sendiri dan kini entah berada di mana. Dan di dalam hutan itu juga, Lin Lin mendapatkan kembali meraknya, bahkan selain Sin-kong-ciak, di situ terdapat pula Ang-siang-kiam si Burung Bangau Besar itu hingga kedua burung sakti itu lalu dibawa oleh Bu Pun Su ke Gua Tengkorak.

Cin Hai melanjutkan perjalanannya masuk Propinsi Kansu. Propinsi ini adalah daerah pegunungan yang tinggi dan terjal letaknya di sebelah utara Propinsi Se-cuan. Di sebelah baratnya adalah Propinsi Cing-hai dan sebelah utaranya terletak Propinsi Ning-sia dan kemudian perbatasan Mongolia. Tembok besar yang terkenal di Tiongkok itu dimulai dari Propinsi Kan-su ini, terus memanjang menuju ke timur, bahkan Sungai Kuning (Huang-ho) juga melalui propinsi ini dan di sepanjang Sungai Kuning terdapat tanah pertanian yang subur. Iklim di daerah ini istimewa keringnya, hingga dengan adanya sungai Kuning yang lewat di daerah itu maka hal ini merupakan berkah yang besar bagi rakyat yang tinggal di Kan-su. Propinsi Kan-su memiliki banyak kekayaan alam dan pemandangan yang cukup indah. Di ibu kota terdapat Bukit Pagoda Putih, Pegunungan Cilian yang penuh dengan hutan-hutan yang kaya akan berbagai binatang. Selain pertanian yang hidup subur di sepanjang lembah Sungai Kuning, juga usaha peternakan amat besar dikerjakan orang di tempat ini. Bulu onta dan daging lembu keluaran daerah ini terkenal sekali karena tinggi mutunya. Di selatan terdapat padang-padang pengembalaan alam yang luas dan baik, rumputnya subur dan airnya jernih. Gua-gua Tun-huang yang beratus-ratus, bahkan mungkin seribu lebih banyaknya itu, merupakan pemandangan indah peninggalan kesenian kuna. Gua-gua ini penuh dengan patung-patung dan lukisan-lukisan dinding Agama Budha yang dibuat kira-kira pada abad ke empat.

Tidak heran apabila daerah ini menarik perhatian orang-orang dari luar negeri, dan yang terbanyak adalah orang-orang Turki yang datang mengembara dan mencari penghasilan di daerah yang kaya ini. Juga di sini terdapat banyak sekali suku-suku bangsa dari barat dan utara.

Pada suatu hari Cin Hai tiba di kota Ling-sia. Kota ini berada di sebelah utara tepi Sungai Huangho. Dengan hati gembira Cin Hai memasuki kota itu, berjalan perlahan di sepanjang jalan raya yang penuh dengan bangunan-bangunan besar di kanan kiri. Tiba-tiba ia mendengar suara suling berbunyi aneh, maka ia segera menghampiri arah datangnya suara itu. Ternyata bahwa yang menyuling itu adalah seorang Turki yang bermain sulap di sebuah lapangan terbuka. Banyak orang menonton dan mengelilinginya. Orang Turki itu sudah tua dan ia duduk bersila di depan sebuah keranjang bambu yang besar sambil meniup sulingnya. Suling yang ditiupnya berbentuk ular dan ketika ia meniup sulingnya makin keras, tiba-tiba tutup keranjang itu terbuka perlahan-lahan dari dalam dan tersembullah seekor kepala ular yang besar! Ular itu mendengar suara suling lalu merayap keluar, melingkar di atas tanah dan lehernya terangkat ke atas. Ternyata ular itu besar sekali dan di bawah kepalanya melar merupakan sendok yang besar. Itulah semacam ular kobra atau ular sendok yang berbahaya, akan tetapi terhadap suara suling itu ia terpengaruh hebat sekali hingga ia mulai menari-nari menggeleng-gelengkan kepalanya dan lehernya bergerak-gerak menari mengikuti irama suara suling! Orang-orang yang menonton menjadi gembira dan mendengar suara kagum di sana-sini, ada juga suara orang yang menyatakan ngeri dan takut! Cin Hai tidak tertarik hatinya melihat ular itu, akan tetapi amat tertarik mendengar suara suling dan diam-diam ia mengingat lagu suling ini di dalam hatinya.

Ketika ia meninggalkan tempat itu tiba-tiba di lain bagian lapangan itu ia mendengar suara gembreng dan tambur, dibarengi suara orang berkata-kata dan gelak suara para penonton. Ternyata di bagian itu juga terdapat orang yang sedang memperlihatkan kepandaiannya dan ketika ia mendekati, alangkah herannya melihat bahwa yang menjual kepandaian di situ adalah seorang hwesio dan seorang tosu. Mudah saja baginya mengenal wajah hwesio yang selalu tertawa dengan muka dan perut yang gemuk itu, dan mengenal wajah tosu yang selalu mewek mau menangis! Hwesio itu sedang membadut, perutnya yang gendut dan tidak tertutup pakaian itu sebentar mengempis dan sebentar pula mengembang sampai besar dan gendut! Pemandangan ini bagi orang-orang biasa merupakan hal yang lucu sekali, akan tetapi bagi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian, menimbulkan kekaguman. Oleh karena perbuatan Si Gendut itu menunjukkan bahwa ia memiliki khikang yang tinggi hingga perut yang demikian besarnya dapat ditarik ke dalam hingga kempis sama sekali!

“Cuwi sekalian,” kata Si Gendut sambil tak pernah mengubah tarikan muka yang selalu tersenyum bagaikan sebuah patung Jai-lai-hud yang peramah. “Kepandaian mengempiskan perutku yang kecil ini banyak sekali gunanya. Di Tiongkok banyak terdapat daerah-daerah yang kekurangan makan, sedangkan pinceng adalah seorang perantau. Pada waktu pinceng berada di daerah kering, kalau tidak ada makanan yang boleh dimasukkan perut, pinceng lalu menarik perut ke dalam hingga menjadi kempis dan kecil, hingga diberi minum air semangka pun sudah kenyang! Sebaiknya, kalau pinceng berada di tempat yang subur seperti Kan-su ini pinceng dapat melembungkan perut sebesar-besarnya agar dapat menikmati segala macan makanan. Bahkan daging unta pun bisa masuk ke dalam perutku!” Sambil berkata demikian, ia mengembang-kempiskan perutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya yang bulat seperti bal. Kembali orang-orang tertawa geli dan Cin Hai juga ikut tertawa. Biarpun dulu kedua orang ini telah membawa lari perahunya, akan tetapi terhadap Si Gendut ini yang selalu tertawa, tak mungkin orang dapat marah kepadanya!

“Akan tetapi,” kata pula hwesio itu, “Saudaraku yang kurus seperti cecak mati ini memiliki kepandaian yang lebih hebat lagi.” Sambil berkata demikian ia menuding ke arah Ceng To Tosu yang duduk berjongkok dengan muka seperti mau menangis. Tak perlu disertai kata-kata lucu, baru melihat mukanya saja sudah menimbulkan rasa geli di dalam hati hingga kembali orang-orang tertawa bergelak. “Jangan Cuwi mentertawakan Suhengku ini,” kata pula hwesio gendut tadi, “banyak orang lihai dan berkepandaian di dunia ini, bahkan banyak pula orang yang memiliki kekebalan hingga segala macam senjata tajam tidak dapat melukai kulitnya! Akan tetapi, saudaraku ini lebih hebat lagi. Dia tidak bisa mati oleh karena dia ini tidak mempunyai darah!”

Terdengar seruan-seruan tidak percaya. “Kalau orang tidak mempunyai darah, ia akan mati,” terdengar suara seorang penonton mencela.

“Memang kata-kata itu benar,” kata Ceng Tek Hosiang, “akan tetapi saudaraku itu adalah seorang sakti. Kalau Cuwi tidak percaya sekarang hendak kubuktikan!” Sambil berkata demikian, Si Gendut mengeluarkan sebuah pisau belati yang bergagang panjang. Pisau itu putih mengkilap, nampaknya tajam dan baru.

“Nah, lihatlah baik-baik. Pisau ini akah kutusukkan kepadanya dan akan kutusuk tubuhnya sampai seluruh mata pisau ini terbenam ke dalam dagingnya!” Setelah berkata demikian, ia menghampiri Ceng To Tosu yang masih saja duduk dengan mewek. Benar saja, hwesio itu menusuk leher tosu itu hingga banyak orang memekik karena cemas. Bahkan Cin Hai merasa terkejut sekali melihat betapa pisau belati itu menancap di leher Ceng To Tosu sampai ke gagangnya! Ketika Ceng Tek Hosiang mencabut pisaunya, benar saja tidak nampak darah sedikitpun pada leher itu, bahkan luka sedikit pun tidak!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak, bahkan Cin Hai sendiri hampir tak percaya kepada kedua matanya sendiri. Bagaimana tosu ini dapat memiliki ilmu kepandaian yang demikian anehnya? Ilmu kekebalan untuk menolak ujung senjata yang menusuk kulit, bukanlah hal yang aneh baginya, akan tetapi kulit dan daging yang sudah tertusuk pisau sekian dalamnya akan tetapi tidak terluka dan tidak mengeluarkan darah sama sekali, adalah hal yang tak mungkin terjadi. Ilmu sihirkah yang dipergunakan oleh kedua orang ini?

Ceng To Tosu lalu membuka bajunya dan tiga kali ia ditusuk dadanya yang kurus seperti kerangka hidup itu, lalu lambungnya, dan bahkan pipinya mendapat tusukan pula. Dan semua tusukan itu walaupun dilakukan dengan kuat hingga pisau sampai menancap habis, namun setelah dicabut kembali, tosu itu sama sekali tidak terluka sedikit pun. Kemudian hwesio gendut itu lalu melempar pisau itu ke arah sebatang pohon dan pisau itu menancap dengan keras sampai ke gagangnya.

“Nah, Cuwi lihat, bahkan batang pohon itu pun tertancap dengan mudah, menunjukkan bahwa pisau pinceng ini benar-benar tajam dan tidak palsu, namun menghadapi ilmu kepandaian Suhengku ini, pinceng tidak berdaya.”

“Lihai sekali…” semua orang berseru.

Hwesio gendut itu lalu menjura dan berkata, “Pertunjukkan kami selesai sampai di sini saja, kalau ada jodoh kita saling bertemu lagi!” Maka semua penonton lalu bubaran dan tiada hentinya mereka membicarakan kelihaian tosu yang kurus kering itu.

Cin Hai yang menyaksikan itu semua, dari rasa heran menjadi rasa penasaran hebat. Ia pernah menyaksikan kepandaian kedua pertapa ini dan ternyata bahwa kepandaian mereka biarpun lihai, namun tidak melebihi kepandaiannya sendiri. Akan tetapi ilmu kepandaian yang baru diperlihatkan oleh Ceng To Tosu itu, benar-benar membuat kagum dan tidak mengerti. Maka setelah semua orang bubaran, ia lalu bertindak menghampiri dan menjura.

“Jiwi-suhu apakah baik-baik saja?”

Ketika hwesio dan tosu itu melihat Cin Hai, keduanya merasa terkejut, akan tetapi Ceng Tek Hosiang tetap tertawa dan Ceng To Tosu tetap mewek.

“Ah, ah, kiranya Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh!” kata Ceng To Tosu. “Bagaimana bisa sampai di sini, Taihiap?”

Sementara itu sambil tertawa-tawa, Ceng Tek Hosiang mendahului Cin Hai. “Dulu ketika kau dan Ang I Niocu melompat ke atas kapal, kami berdua menjadi ketakutan dan terpaksa pergi lebih dulu.”

Cin Hai terseyum. “Tidak apa, hal yang sudah lalu tak perlu digali lagi. Akan tetapi, dulu aku menemukan perahu kalian terbalik di atas laut, bagaimana kalian bisa selamat dan sampai di sini?”

“Thian melindungi orang-orang baik,” kata hwesio gendut itu, “maka kami terdampar ombak besar dan dilempar ke tepi laut dengan selamat.”

“Dan sekarang jiwi-suhu berada di darat ini sedang apakah?”

“Taihiap sudah menyaksikan sendiri bahwa kami menjual kepandaian sambil merantau,” jawab Ceng To Tosu.

Cin Hai mengangguk-angguk dan keterangan ini memang masuk di akal. “Kepandaianmu tadi benar-benar lihai sekali, Ceng To Totiang,” katanya memuji akan tetapi dengan tertawa ha-ha hi-hi Ceng Tek Hosiang lalu mengeluarkan pisau belati itu dan berkata, “Dengan pisau yang sengaja kami buat khusus untuk keperluan ini, apakah yang lihai?”

Cin Hai memegang pisau belati itu dan berkata, “Pisau ini pisau biasa dan tadipun dapat menancap di pohon, apanya yang aneh? Mungkin kalian telah mempergunakan ilmu sihir!”

Tiba-tiba Ceng Tek Hosiang tertawa bergelak sedangkan Ceng To Tosu yang sebetulnya hendak tertawa, akan tetapi mulutnya bahkan makin mewek dan makin menyedihkan! “Ah, ah, kami benar-benar merasa puas, puas, dan bangga! Pujian semua orang-orang itu bagi kami tidak ada artinya, akan tetapi keheranan pada muka Taihiap sungguh-sungguh membikin kami merasa puas dan bangga!”

Ceng To Tosu juga berkata, “Sie-taihiap, pisau kami itu ada rahasianya! Kaulihat besi kecil hitam pada gagangnya itu? Kalau besi kecil itu tidak ditekan, maka, pisau ini adalah pisau biasa yang akan melukai orang.Akan tetapi, coba kautekan besi kecil itu, dan kau akan melihat keanehannya!” Cin Hai melihat besi hitam yang kecil pada ujung gagangnya dan ketika ia menekan, ternyata pisau itu apabila ditekan pada sesuatu lalu masuk ke dalam gagangnya yang panjang hingga tidak kelihatan lagi ujungnya! Demikian akal yang digunakan oleh kedua pertapa itu. Ketika Si Hwesio menusukkan pisaunya pada tubuh tosu itu, ia menekan besi hitam tadi hingga memang kelihatannya pisau itu menancap pada tubuhnya sampai ke gagang, padahal pisau itu ketika menekan kulitnya, lalu masuk ke dalam gagang dan tidak kelihatan lagi, seakan-akan semuanya masuk ke dalam tubuh orang yang ditusuk!

Hampir saja Cin Hai tertawa bergelak karena geli. Ia mengangguk-angguk kagum dan hatinya merasa senang bertemu dengan kedua orang tua ini, karena dari pembukaan rahasia pisau ini saja dapat membuktikan bahwa mereka menaruh kepercayaan kepadanya.

“Taihiap, sesungguhnya kami berdua sedang melakukan tugas!” kemudian Ceng Tek Hosiang berbisik.

“Tugas? Tugas apa dan dari siapa?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: