Pendekar Bodoh ~ Jilid 3

Syair ini bukan sembarangan syair, tetapi adalah syair dari kitab To-tek-keng yang merupakan kitab pelajaran dari Nabi Lo Cu atau nabi para penganut agama To-kauw, yang mempunyai arti seperti berikut,

Berlakulah sopan jujur seperti balok, Berwataklah sunyi agung seperti jurang dalam, Dan bersikaplah seperti air keruh!

Cin Hai semenjak kecil telah dijejali bermacam-macam ujar-ujar, dari ujar-ujar Kitab Suci dari Khong Cu dan berbagai kitab-kitab Nabi Lo Cu dan lain-lain kitab kuno lagi. Di kala mempelajari segala ujar itu, ia hanya hafal seperti burung beo saja, dapat mengucap tanpa mengerti isi dan maksudnya. Jangankan baru seorang kanak-kanak sekecil Cin Hai, sedangkan orang-orang dewasa pun takkan mudah begitu saja menyelami arti ujar-ujar kuno yang biarpun singkat jika dipecahkan dan direnungkan panjang tiada habisnya dan makin dalam. Oleh karena hafalan-hafalan ini, tiap ada kalimat yang dipetik dari buku dan kitab ujar-ujar itu, Cin Hai dapat ingat sambungannya. Mendengar syair ujar-ujar yang dinyanyikan oleh Giok Im Cu, ia tahu bahwa ujar-ujar itu diambil dari kitab To-tek-keng, maka cepat dan otomatis ia pun lalu menyanyikan ujar-ujar sambungan atau lanjutan daripada ujar-ujar yang dinyanyikan tosu itu tadi.

“Siok Ling Tok I Ci, Cing Ci Ji Jing, Siok Ling An I Kiu, Tong Ci Ji Seng! (Siapa bisa bersikap seperti air keruh lama-lama menjadi jernih, siapa bisa berlaku sabar, lambat laun memetik buahnya)”

Maka terbelalaklah mata Giok Im Cu mendengar syair ini dinyanyikan oleh Cin Hai. Harus diketahui bahwa Giok Im Cu adalah seorang pendeta To-kauw yang sangat tekun mempelajari ujar- ujar Lo Cu, maka tentu saja ia sangat pandai dan hafal akan segala macam ujar-ujar suci itu. Kini mendengar ujar-ujar itu disambung dengan tepatnya oleh Cin Hai, ia menjadi kagum dan heran. Diangkatnya anak kecil itu dengan penuh kasih sayang dan tiada hentinya ia menyebut,

“Siancai, siancai (damai, damai,) anak baik, anak baik!”

Setelah cukup memuji-muji Cin Hai ketiga tosu itu lalu berkata kepadanya, “Anak baik, sebenarnya siapakah namamu dan kau she apa? Kau pernah apakah dengan pembesar she Kwee itu?”

Cin Hai bermuka sedih ketika menjawab, “Teecu (murid) she Sie bernama Cin Hai. Kedua orang tua teecu telah terhukum mati oleh kaisar, entah apa salahnya. Kwee-hujin adalah Ie-ie teecu, tetapi karena seluruh penghuni gedung itu kecuali Ie-ie tidak ada yang suka kepada teecu, teecu lalu mengambil keputusan pergi saja!” Juga kepada ketiga tosu ini Cin Hai tidak mau membuka rahasia dan menceritakan sebenarnya tentang keadaan Kwee-ciangkun dan apa yang telah terjadi baru-baru ini.

“Tidak apa, tidak apa, Cin Hai. Karena kau yatim piatu dan pernah menolong kami, sudah selayaknya kalau kami membalas jasamu. Kau ingin menjadi orang pandai? Bagaimana kau menjadi murid kami bertiga?”

Girang sekali Cin Hai mendengar ini. Memang semenjak dulu ia ingin sekali belajar silat, hanya sayang tidak ada kesempatan baginya. Kini ketiga orang yang berilmu tinggi dan luar biasa kepandaiannya itu hendak mengangkat dia sebagai murid, tentu saja hal ini menggembirakan sekali. Kedua matanya telah bersinar dan mukanya berseri, tetapi tiba-tiba ia teringat akan janjinya kepada seorang jembel yang telah lebih dahulu menjadi suhunya, yakni Bu Pun Su Si Jembel Tak Berkepandaian! Oleh karena ini, ia lalu menjura dan berkata,

“Besar sekali rasa terima kasih dan kebanggaan teecu menerima budi kecintaan Sam-wi Totiang, tetapi terpaksa teecu tidak berani menjadi murid Sam-wi.”

“Eh, mengapa?” Giok Yang Cu yang tinggi besar memelototkan matanya karena heran. Tosu tinggi besar ini adatnya kaku dan jujur. “Apa kau anggap kami bertiga kurang berharga untuk menjadi gurumu?”

“Bukan demikian, Totiang. Tetapi sesungguhnya teecu sudah mempunyai seorang guru. Dan seorang saja sudah cukuplah!”

“Siapa? Siapa suhunya itu?” ketiga tosu itu serentak bertanya.

Cin Hai menundukkan kepala, karena sesungguhnya ia malu untuk mengaku. Tetapi keangkuhannya yang menentang segala rasa rendah itu bangkit membuat ia mengangkat mukanya dan berkata gagah, “Guruku itu adalah seorang jembel tua yang tidak berkepandaian apa-apa!”

Di luar dugaannya, biarpun ia tidak menyebut namanya, ketiga tosu itu tiba-tiba menjadi pucat dan Giok Keng Cu si pendek kecil bahkan memandang ke kanan kiri seakan-akan ada yang ditakutinya.

“Gurumu adalah Bu Pun Su Sianjin? Celaka, Sute, kita selalu didahului oleh orang tua aneh itu!”‘ kata Giok Im Cu menyesal.

“Jadi, Samwi Totiang sudah kenal kepada suhuku. Di mana dia sekarang?” tanya Cin Hai dengan girang, tetapi ketiga tosu itu menggeleng-geleng kepala menyatakan bahwa mereka pun tidak tahu. Kemudian, karena agaknya mereka ini tidak suka membicarakan tentang orang tua itu, Cin Hai pun tidak mau bertanya lebih jauh.

“Dan sekarang, kalau kau tidak bisa menjadi murid kami, cobalah kau ajukan sebuah permintaan, akan kami penuhi. Kau boleh ajukan semacam permintaan kepada seorang di antara kami hingga jumlahnya tiga macam permintaan, ini adalah untuk pembalas jasamu yang telah menolong kami.”

“Tetapi teecu tidak minta dibalas, Sam-wi, ujar-ujar yang mengatakan bahwa pertolongan yang dilakukan sambil mengharapkan balasan bukanlah pertolongan namanya, tetapi ialah utang-piutang! Dan teecu tidak suka menjadi tukang kredit!”

Kembali Giok Im Cu kagum dan pada dugaannya tentu anak ini memang telah paham akan ilmu batin, padahal sebenarnya Cin Hai hanyalah banyak menghafal belaka dan ia selalu menggunakan ujar-ujar hafalannya itu untuk diucapkan pada saat yang tepat dengan maksud dipakai sebagai pembela diri!

“Biarpun kau tidak merasa menghutangkan kepada kami bertiga, namun kami akan selalu merasa mempunyai utang jika kau belum minta apa-apa dari kami,” jawab Giok Yang Cu. Karena didesak-desak akhirnya Cin Hai mengajukan ketiga permintaan.

“Pertama,” katanya, “teecu sudah lapar sekali dan belum makan sejak sore kemarin!”

Ketiga tosu tertawa bergelak, lalu Giok Yang Cu lari ke belakang kuil untuk mengambil kue kering dan sepotong daging yang telah digarami. Tanpa seji (sungkan) lagi Cin Hai lalu menyikat makanan itu dan karena lupa bahwa ia tidak berpakaian ia menggunakan lengan tangan menyapu-nyapu mulutnya yang berminyak setelah makanan itu habis. Perutnya sudah kenyang dan perasaannya enak.

“Permintaan teecu yang ke dua ialah minta diberi seperangkat pakaian karena teecu semenjak malam kemarin bertelanjang bulat dan merasa dingin sekali.”

Sekali lagi ketiga orang tosu itu saling pandang dan sinar mata mereka berubah ragu-ragu karena ternyata anak ini mengajukan permintaan remeh dan menyia-nyiakan ketika ada kesempatan bagus. Benar-benar tolol dan bodoh anak ini, pikir mereka. Mengapa tidak minta harta atau senjata pusaka atau ilmu kesaktian? Tetapi karena permintaan Cin Hai yang ke dua sudah diucapkan, terpaksa mereka mencarikan pakaian. Kini giliran Giok Keng Cu yang mencarikannya. Ketiga tosu itu tak pernah membekal pakaian, maka Giok Keng Cu lalu pergi mencari. Tak lama kemudian ia kembali dan membawa seperangkat pakaian warna putih. Ketika dengan girang Cin Hai mengenakan pakaian itu, ternyata baik celana maupun jubahnya terlalu besar! Karena pakaian itu adalah pakaian pendeta hwesio yang besar sekali hingga tubuh Cin Hai yang kecil itu lenyap di dalam lubang-lubang pakaian yang longgar dan besar itu. Sambil tertawa-tawa ketiga tosu itu lalu membantunya dan mengikat yang terlalu longgar. Akhirnya pakaian itu dapat juga dipakai, walaupun potongannya sangat kebesaran dan lengan bajunya melompong terbuka hingga terpaksa dibelit-belitkan pada lengannya! Betapapun juga Cin Hai merasa senang sekali dengan pakaian itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Giok Keng Cu mendapatkan pakaian itu dengan jalan mencuri dari sebuah kelenteng yang berdekatan karena hendak membeli, beli di mana?

Setelah merasa tubuhnya hangat perutnya kenyang hingga matanya menjadi mengantuk sekali, akhirnya Cin Hai mengemukakan permintaannya ke tiga,

“Permintaan teecu yang ketiga, jika Sam-wi Totiang tidak keberatan teecu mohon diperbolehkan ikut dan belajar silat dari Sam-wi!”

Sekali ini ketiga tosu itu tertawa girang dan mereka merasa puas karena ternyata akhirnya bahwa anak ini bukannya gendeng dan tolol.

“KALAU begitu, sekarang juga kau lekas berlutut mengangkat guru kepada kami!” kata Giok Keng Cu.

Tetapi ketiga orang tua itu kaget karena Cin Hai menggeleng-geleng kepala. Kemudian anak itu berlutut tetapi tidak menyebut suhu, bahkan berkata,

“Sam-wi Totiang, tadi sudah teecu katakan bahwa teecu tak dapat mengangkat lain guru. Teecu hanya ingin ikut dan belajar silat, tetapi tidak ingin mengangkat guru!”

“He?? Mana bisa? Ini tak mungkin!” kata Giok Yang Cu.

Cin Hai mengangkat muka memandang, “Bukankah tadi teecu sudah mengatakan bahwa teecu tidak ingin minta balasan dan tidak ingin apa-apa? Mengapa Sam-wi Totiang mendesak? Sekarang permintaan teecu yang ke tiga ternyata tidak dapat dikabulkan, padahal tak berapa berat! Totiang, pernahkah mendengar ujar-ujar yang berkata bahwa satu kali orang gagah mengeluarkan kata-kata, seribu ekor kuda pun takkan mampu mengejar, iya? Bukankah ujar-ujar ini berarti bahwa satu kali seorang budiman berludah, takkan ia jilat kembali?”

“Ha-ha-ha! Anak baik, anak baik! Kau telah menjatuhkan ji-sute! Biarlah kami mengaku kalah. Semenjak sekarang, kau boleh ikut kami ke gua kami dan belajar silat sampai kau menjadi bosan dan melepaskan diri sendiri!”

Tapi pada saat itu Cin Hai sudah tak kuat menahan kantuknya lagi. Semalam suntuk ia tidak tidur dan berlari-larian hingga ia sangat lelah dan mengantuk. Kini menghadapi tiga tosu yang mengajak ia berbantahan saja itu, membuat ia makin lelah dan makin mengantuk. Setelah mendengar betapa permintaannya yang ke tiga lulus juga, ia menjadi begitu girang dan lega hingga tiba-tiba saja kedua matanya dimeramkan dan tak dapat dibuka lagi karena ia telah pulas sambil duduk!

“Kasihan, anak yang baik!” kata Giok Im Cu, “Ji-sute, kaupondonglah dia dan mari kita berangkat.”

Sambil mengomel, “Anak yang tolol!” Giok Yang Cu yang tinggi besar segera memondong tubuh Cin Hai yang telah mendengkur itu, kemudian ketiga tosu itu lalu meninggalkan tempat itu dengan menggunakan Ilmu Lari Hui-heng-sut mereka. Karena tingginya kepandaian mereka, maka sepasang kaki mereka seakan-akan tidak menginjak tanah dan mereka seperti orang melayang terbang saja.

Karena tidur nyenyak dalam pondongan Giok Yang Cu yang tinggi besar dan kuat, Cin Hai tidak tahu bahwa ia telah dibawa lari puluhan li jauhnya. Ketika ia sadar dan membuka matanya, ia merasa kepalanya yang gundul dingin sekali dan karena kepalanya berada di dekat dada dan perut Giok Yang Cu yang gemuk berdaging dan hangat, tanpa disengaja ia lalu menyusupkan kepalanya ke dalam jubah orang! Tetapi tiba-tiba ia merasa betapa dirinya tidak dibawa lari lagi. Cepat ia mengeluarkan kepalanya yang gundul dari balik jubah pendeta itu dan memandang keluar.

Ternyata mereka telah tiba di sebuah padang rumput di lereng gunung yang tinggi. Tak heran bahwa hawa demikian dinginnya. Tetapi yang membuat Cin Hai merasa heran ialah ketiga tosu itu berdiri diam dan memandang ke satu tempat dengan muka tegang. Ia pun lalu menengok dan tampak olehnya dua orang sedang bertempur seru!

Karena kesukaannya melihat orang bersilat dan berkelahi, segera Cin Hai melorot turun dari pondongan Giok Yang Cu dan hendak menonton lebih dekat, tetapi tiba-tiba tangan Giok Im Cu memegang pundaknya.

“Jangan mendekat!” Tosu tinggi kurus itu berbisik dengan suara menyatakan bahwa larangannya itu sungguh-sungguh.

Cin Hai merasa heran akan tetapi ia tidak berani banyak ribut melihat sikap ketiga tosu demikian tegang, maka ia lalu duduk di atas rumput dan menonton orang yang sedang bertempur.

Ternyata yang bertempur adalah seorang wanita dengan seorang laki-laki. Yang wanita berbaju hijau bercelana putih, mukanya cantik tapi kelihatan galak dan kejam sedangkan rambutnya yang hitam bagus itu beriap-riapan ke belakang memenuhi punggungnya. Usianya paling banyak tiga puluh tahun tetapi karena ia memang cantik, orang yang baru melihat pertama kali dan tidak mengetahui keadaannya pasti mengira dia seorang dara berusia belasan tahun. Ilmu silatnya hebat sekali karena gerakan-gerakannya cepat dan lincah bagaikan seekor burung kepinis. Laki-laki yang menjadi lawannya juga aneh, karena pakaiannya seperti seorang siucai (pelajar sastra) dan mukanya cakap. Usianya paling banyak dua puluh lima tahun dari mukanya putih agak kepucat-pucatan.

Kedua orang itu bersilat dengan tangan kosong, tetapi agaknya tidak kurang hebat daripada kalau orang bertempur bersenjata tajam. Buktinya serangan-serangan mereka hebat sekali dan setiap pukulan atau tendangan selalu merupakan serangan maut yang berbahaya sekali. Kepandaian mereka berimbang dan tiba-tiba laki-laki itu berseru keras dan kedua kakinya lalu bergerak seperti kitiran angin! Kedua kakinya itu mengirim serangan berupa tendangan bertubi-tubi dan tiada hentinya karena kaki kiri kanan bergantian bergerak menendang saling susul sehingga agaknya sukar sekali untuk dihindarkan atau ditangkis!

“Celaka, Totiang! Kouwnio (Nona) itu tentu kena tendang!” dengan gembira tetapi cemas Cin Hai berkata sambil memegang tangan Giok Im Cu, “Mengapa tidak kautolong dia?”

Tetapi Giok Im Cu menekan tangannya dan menjawab perlahan, “Sst! Jangan berisik, kaulihat saja!”

Memang tadinya wanita baju hijau itu tampak terdesak hebat dan agaknya ia tentu akan tertendang roboh. Tetapi tiba-tiba ia tertawa, suara tawanya nyaring dan merdu, bernada menyeramkan karena setengah merupakan jerit tangis mengharukan.

“Hi-hi! Kang Ek Sian! Akhirnya kau tidak tahan juga dan terpaksa mengeluarkan tendanganmu yang terkenal lihai! Inikah ilmu Tendangan Chit-seng-twie (Ilmu Tendangan Tujuh Bintang) yang kausohorkan itu? Hi-hi, orang she Kang, keluarkanlah yang lain lagi, yang lebih lihai!” Sambil menyindir-nyindir, wanita itu meloncat tinggi dan berkelit ke sana ke mari dengan gerakan yang aneh karena bagaikan sedang menari-nari, tetapi tiap gerakannya selalu berkelit atau menghindari serangan kedua kaki lawan!

Tiba-tiba wanita itu balas menyerang. Gerakannya masih seperti menari-nari, tetapi kalau tadi kedua lengannya bergerak-gerak ke atas dengan gaya yang lemas sekali sambil mengelit serangan lawan, kini dia menggerakkan kedua tangannya ke depan dan belakang, jari-jari tangannya masih bergerak lemah gemulai, tetapi sebenarnya ini merupakan serangan yang sangat lihai karena ujung sepuluh jarinya dapat digerakkan untuk menotok jalan darah lawan. Akhirnya laki-laki yang dipanggil Kang Ek Sian itu tak tahan menghadapi lawannya dan main mundur saja.

“Pengecut, rebahlah kau!” Tiba-tiba wanita itu berseru dan benar saja, pundak Kang Ek Sian kena tertepuk oleh tangan wanita itu yang biarpun kelihatannya dilakukan perlahan sekali, namun cukup membuat laki-laki itu roboh! Wanita yang rambutnya riap-riapan itu lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa ha-ha-hi-hi, mukanya tampak manis tetapi suara ketawanya menyeramkan perasaan. Tiba-tiba perempuan aneh itu menengok dan memandang ketiga tosu yang masih berdiri tak bergerak. Ia memandang dengan matanya yang bening dan bersinar tajam, lalu mengembangkan hidung dan mengedikkan kepalanya.

“Baiknya tidak ada yang lancang tangan, kalau tidak demikian, tentu aku terpaksa merobohkan beberapa orang lagi!” Wanita itu berkata seakan-akan kepada diri sendiri, tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Giok Im Cu dan kedua kawannya.

Giok Im Cu menjura ke arah wanita itu dan berkata perlahan, juga seperti kepada diri sendiri, “Kami Sam-lojin (Tiga Orang Tua) bukanlah orang-orang usilan.”

Maka tertawalah wanita itu dan kini suara tawanya seperti mengejek. Lalu pergilah ia turun gunung dengan cepat sekali sehingga bajunya yang hijau itu berkibar-kibar ke belakang di bawah rambutnya yang hitam dan juga berkibar-kibar tertiup angin di belakangnya. Dipandang dari jauh, ia seperti seekor kupu-kupu besar melayang-layang. Suara ketawanya lambat laun lenyap dari pendengaran.

Giok Im Cu menghela napas. “Mengapa iblis wanita itu bisa berada di sini?” katanya perlahan seakan-akan kepergian wanita itu membuat dadanya merasa lega.

“Totiang, siapakah perempuan yang pandai menari itu?”

Giok Yang Cu tertawa mendengar kata-kata ini. “Dasar kau tolol! Sehari penuh tidur terus, dan kini setelah bangun bicara tidak karuan. Kauanggap dia itu menari-nari? Ha-ha-ha!”

Giok Im Cu berkata sambil menghela napas lagi. “Mana kau tahu? Tarian itu justru kepandaiannya yang membuat ia ditakuti orang dan sukar sekali dilawan. Itulah ilmu silat yang disebut Tari Biang Iblis! Oleh karena kepandaian ini maka dia disebut Giok-gan Kuibo (Biang Iblis Bermata Intan) dan namanya menggemparkan seluruh permukaan bumi.”

“Tetapi mengapa Sam-wi takut kepada iblis itu?” tanya Cin Hai penasaran.

“Takut sih tidak,” jawab Giok Keng Cu yang semenjak tadi diam saja, “hanya saja, kita tidak tahu seluk-beluk urusan mereka, mengapa harus ikut campur dengannya?”

Tetapi pernyataan Cin Hai ini membuat ketiga tosu itu ingat akan laki-laki yang masih rebah di atas tanah, maka buru-buru mereka lalu menghampiri. Laki- laki yang rebah terlentang dengan wajahnya yang telah pucat itu kini makin kuning dan kedua matanya meram. Ketika Giok Im Cu perlahan meraba pundak orang itu, tahulah ia bahwa orang itu telah mendapat luka dalam yang cukup hebat, walaupun tidak dapat dikatakan membahayakan jiwanya. Maka Giok Im Cu lalu menggunakan kepandaiannya menotok dan mengurut pundak yang terluka oleh tangan Giok-gan Kuibo yang halus putih tetapi ganas lihai itu!

Laki-laki itu siuman dan membuka matanya. Ia tersenyum pahit ketika melihat tiga orang tosu itu.

“Kanglam Sam-lojin?” tanyanya perlahan.

Giok Im Cu mengangguk. “Sicu siapakah dan mengapa sampai bertempur dengan dia?”

Laki-laki itu kembali tersenyum lalu duduk. “Siauwte Kang Ek Sian sungguh tak mengukur kepandaian sendiri dan telah berani menempur Giok-gan Kouwnio (Nona Bermata Intan), sungguh tak tahu diri!” jawaban ini merupakan tangkisan terhadap pertanyaan Giok Im Cu, maka orang tua itu maklum bahwa orang tak suka menceritakan sebab pertempurannya.

“Untung bagimu ia masih berlaku murah hati dan tidak menjatuhkan maut,” ia berkata singkat lalu mengajak kedua kawannya dan Cin Hai untuk meninggalkan tempat itu.

“Totiang, sebenarnya sampai di manakah kelihaian iblis wanita itu? Kulihat ia hanya seorang perempuan cantik yang lemah lembut, galak dan aneh sikapnya,” kata Cin Hai yang sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa seorang perempuan seperti itu ditakuti oleh tokoh-tokoh yang berilmu tinggi ini.

“Ha-ha-ha, anak tolol, dengarlah!” kata Giok Yang Cu dan Cin Hai segera berjalan mendekatinya. Ia memang gemas dan mendongkol sekali disebut tolol dan bodoh oleh tosu tinggi besar ini tetapi sebaliknya ia senang karena Giok Yang Cu selalu berterus terang kepadanya.

“Perempuan yang kauanggap lemah-lembut itu, yang disebut orang-orang kang-ouw sebagai Biang Iblis Bermata Intan, dengan kedua tangan kosong dan seorang diri saja telah naik ke Cin-liong-san dan mengobrak-abrik sarang berandal The Kok, membinasakan lebih dari dua puluh tauwbak dan kepala berandal dan membasmi lebih dari tiga puluh liauwlo (anak buah perampok), dan yang seorang diri saja telah mendatangi hampir seluruh jagoan di daerah selatan untuk dicoba kepandaiannya. Dan tahukah kau, bahwa selama itu hanya baru beberapa kali saja ia tidak dapat merobohkan orang? Pendeknya, jarang ada orang yang dapat mengalahkan dan karena tangannya yang terkenal ganas, banyak orang merasa segan untuk berurusan dengan dia!”

“Dan lagi,” sambung Giok Keng Cu si Tosu Pendek, “coba kaulihat yang seorang lagi. Lebih hebat lagi!” Dan tiba-tiba Si Pendek itu memperlihatkan muka jerih.

“Yang satu lagi siapakah itu?” tanya Cin Hai dengan ingin sekali tahu.

Kini Giok Yang Cu yang melanjutkan kata-kata sutenya. “Yang dimaksudkan oleh Sute tadi ialah seorang wanita lain yang sifatnya sangat berlainan dengan Piok-gan Kuibo. Wanita ini adalah Sumoinya (Adik Perempuan Seperguruan) yang berjuluk Ang I Niocu (Si Nona Baju Merah) dan yang selalu berpakaian merah. Nona ini masih muda dan kepandaiannya mungkin masih berada di atas kepandaian Sucinya (Kakak Perempuan Seperguruannya) itu! Ang I Niocu pernah seorang diri naik ke Bu-tong-san dan menantang adu tenaga dengan semua tokoh Bu-tong-san dan ternyata ilmu pedangnya belum pernah dikalahkan orang!”

Mendengar kelihaian-kelihaian demikian hebatnya itu, Cin Hai meleletkan lidah saking kagumnya. “Hebat sekali!” serunya kagum.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan Cin Hai yang digandeng tangannya oleh Gak Im Cu, merasa tubuhnya tergantung dan tak menginjak tanah, tetapi ia maju cepat sekali, hingga angin dingin berkesiur di kanan-kiri kepalanya. Jurang-jurang yang tidak berapa besar dilompati begitu saja oleh ketiga tosu itu hingga berkali-kali Cin Hai terpaksa meramkan mata karena ngeri memandang ke bawah. Ia diam-diam berpikir bahwa di dunia ini ternyata banyak sekali orang pandai yang luar biasa. Baru ketiga tosu ini saja kepandaiannya sudah demikian hebatnya, apalagi tadi ia mendengar betapa mereka ini masih memuji-muji kepandaian orang lain, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian orang-orang yang mereka puji itu! Maka timbullah keinginan di dalam hatinya untuk belajar keras agar ia pun bisa memiliki kepandaian itu sehingga kelak tiada lagi orang di dunia ini yang berani memaki dan menghinanya.

Di sepanjang jalan, orang-orang yang melihat Cin Hai tertawa geli karena di dalam pakaian yang besar dan longgar itu, Cin Hai yang gundul memang nampak lucu dan aneh sekali.

“Mungkin anak gila,” terdengar orang berkata.

“Mungkin karena tololnya maka memakai pakaian demikian besarnya,” kata orang lain.

Ketiga tosu merasa kasihan dan berkata kepada Cin Hai untuk membiarkan pakaiannya diubah, dikecilkan dan dijahit pula. Tetapi dengan keras hati dan bersungut-sungut Cin Hai menjawab.

“Tidak, biarkan sajalah! Biarkan anjing-anjing itu menggonggong, mereka tidak akan menggigit! Biarkanlah, teecu tidak merasa sakit dengan gonggongan mereka!” Tiga orang tosu itu saling pandang dan mereka kagum akan kekerasan dan ketabahan hati anak ini. Dan untuk memperlihatkan bahwa ia benar-benar tidak peduli kepada semua orang yang mentertawakannya itu, Cin Hai mengeluarkan suling bambunya dan sambil berjalan dengan para tosu itu, ia meniup sulingnya memainkan beberapa lagu merdu!

Tiga hari kemudian sampailah mereka di daerah Kanglam.

Dengan menggunakan ilmu lari cepat, Kanglam Sam-lojin itu membawa Cin Hai ke dalam sebuah hutan yang sangat liar dan luas. Di tengah-tengah hutan itu, berbeda dengan tempat yang penuh alang-alang, rumput dan pohon-pohon tua dan liar, terdapat sebuah lapangan rumput bersih dan indah permai. Dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah gunung kecil kecil yang ditumbuhi pohon-pohon liu, sedangkan bunga-bunga berwarna tumbuh di kaki gunung itu. Di sebelah kiri terdapat mulut gua yang lebar dan gelap. Inilah tempat tinggal Kanglam Sam-lojin. Benar-benar tempat yang indah menyenangkan. Di dekat guha terdapat sumber air yang memancar keluar dan mengalir merupakan beberapa anak sungai kecil yang airnya berdendang tiada hentinya, bermain-main dengan batu-batu yang hitam dan halus. Burung-burung memenuhi pohon-pohon dan tiada hentinya berkicau.

Cin Hai merasa senang sekali berada di tempat itu. Biarpun mulut gua itu tampak gelap, tetapi setelah masuk ke dalam, terdapat penerangan matahari yang masuk melalui beberapa lubang di kanan kiri yang menembus atas gunung.

Semenjak hari itu, Cin Hai mulai menerima latihan silat tingkat permulaan dari ketiga tosu itu dengan bergantian. Sering sekali ketiga pendeta itu keluar dari situ dan pergi untuk berbulan-bulan lamanya, kadang-kadang hanya seorang yang pergi, kadang-kadang berdua, ada kalanya bertiga dan Cin Hai ditinggal seorang diri.

Kanglam Sam-lojin, tiga orang tua dari Kanglam itu adalah saudara-saudara seperguruan, maka kepandaian mereka berasal dari satu cabang persilatan yakni cabang persilatan Liong-san-pai. Hanya saja ketiganya mempunyai keistimewaan khusus, yakni seperti telah diketahui pada permulaan cerita ketika mereka bertempur menghadapi Hai Kong Hosiang pendeta pemelihara ular itu. Giok Im Cu yang tinggi kurus adalah ahli lweekeh (tenaga dalam) yang telah mencap tingkat tinggi hingga pada waktu bertempur, segala macam benda jika terjatuh di dalam tangannya berubah menjadi senjata ampuh, hingga karena mengandalkan tenaga lweekangnya, Giok Im Cu tak pernah memegang senjata. Dulupun di waktu menghadapi Hai Kong Hosiang ia cukup menggunakan sebatang ranting kayu. Sebaliknya daripada suhengnya Giok Yang Cu adalah seorang tosu tinggi besar yang memiliki tenaga luar (gwakang) yang luar biasa dan kulitnya telah dilatih sedemikian rupa sehingga menjadi kebal dan keras. Di samping itu, ia mahir sekali memainkan pedang yang digerakkan olehnya secara luar biasa cepat dan kerasnya. Tentu saja ilmu pedangnya adalah Liong-san-kiam-hoat yang memang terkenal mempunyai gerakan-gerakan yang cukup lihai.

Tosu ke tiga kalau dipandang begitu memang dapat menimbulkan pandangan rendah karena tubuhnya yang kecil itu kelihatan tak bertenaga. Tetapi janganlah orang memandang rendah padanya, karena tosu kate ini kepandaiannya tidak kalah oleh kedua suhengnya! Keistimewaannya ialah melepas piauw (senjata rahasia) yang bersayap di kanan kiri sehingga disebut hui-piauw atau piauw terbang! Selain ini, ia memiliki ginkang yang paling sempurna di antara kedua suhengnya sehingga gerakannya lincah, cepat dan ringan sekali.

Biarpun Cin Hai bukan termasuk anak luar biasa yang mempunyai kecerdasan hebat, namun ia pun tidak sangat tumpul otaknya, dan baiknya ia memiliki ketekunan kepada sesuatu yang disukainya. Justeru ia suka ilmu silat dan semenjak dulu ia ingin sekali mempelajarinya. Apalagi ketika ia sering menerima pukulan dan hinaan, keinginannya untuk belajar silat lebih bernafsu lagi. Kini sekaligus ia mendapat didikan dari tiga orang lihai tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Tanpa mengenal lelah ia menerima pelajaran dan berlatih siang malam hingga kadang-kadang lupa makan lupa tidur.

Karena ketiga tosu itu memang bukan ahli mendidik dan pula karena mereka memberi pelajaran kepada Cin Hai hanya semata-mata karena merasa berhutang budi dan hendak membalasnya bukan berdasarkan kasih sayang seorang guru terhadap murid, maka mereka memberi pelajaran tanpa mengenal waktu dan tanpa memakai peraturan lagi! Mereka berganti-ganti memberi pelajaran silat Liong-san-kun-hoat dengan cepat sekali, padahal Ilmu Silat Liong-san-pai ini mempunyai seratus delapan jurus dan setiap jurus mempunyai pecahan-pecahan sedikitnya tiga macam, hingga seorang anak-anak seperti Cin Hai yang menerima pelajaran ini secara bertubi-tubi mana dapat mengingatnya? Selain itu, Ilmu Silat Liong-san-pai bukanlah ilmu silat sembarangan yang dapat digerakkan oleh sembarang orang. Untuk mempelajari satu jurus dengan masak dan sempurna saja membutuhkan latihan-latihan keras berhari-hari. Memang ketiga tosu itu karena penolakan Cin Hai yang tidak mau mengangkat mereka sebagai guru, membuat mereka menjadi kurang perhatian dan kurang mengacuhkan anak itu lagi. Mereka pikir bahwa jika anak itu diberi kepandaian aseli sampai sempurna, padahal ia bukan anak murid Liong-san-pai maka jika kelak menodai nama Liong-san-pai mereka tak berhak melarangnya, karena ia bukan anak murid Liong-san-pai.

Oleh karena tindakan ketiga tosu ini Cin Hai menjadi bingung sekali dan ia tidak dapat berlatih dengan baik. Baru saja ia mempelajari beberapa jurus dan sama sekali belum sempurna, lain tosu telah memberi pelajaran pula jurus-jurus berikutnya! Dengan demikian, maka jurus-jurus pertama yang belum dihafalnya benar-benar telah terlupa lagi!

Biarpun masih kecil, tetapi ternyata berkat ujar-ujar para cendekiawan dan ahli filsafat yang dipelajarinya dulu, ia menjadi perasa sekali dan sikap ketiga tosu itu dapat juga ditangkap dan dirasainya. Ia lalu memutar otaknya dan segera melakukan hal yang cerdik juga. Dengan diam-diam ia menggunakan kepandaiannya menulis dan menggambar untuk mengumpulkan semua jurus-jurus yang dipelajarinya itu di atas kertas! Tiap kali menerima pelajaran jurus baru, ia segera mengingat baik-baik dan malamnya ketika berada seorang diri dalam kamarnya di gua itu, ia segera mencatat semua gerak tipu dan menggambar gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tosu yang mengajarnya tadi!

Demikianlah dua tahun telah lewat dan dari seratus delapan jurus Ilmu Silat Liong-san-pai itu telah dapat ditulis dan dilukis sampai lebih dari delapan puluh jurus oleh Cin Hai. Tetapi, sebenarnya kalau disuruh berlatih silat, paling banyak ia hanya bisa mainkan dua puluh jurus dengan agak baik, belum sempurna betul. Ketiga tosu melihat ketololan anak itu, diam-diam merasa girang karena mereka tak perlu khawatir lagi, tetapi di luar mereka memperlihatkan muka tak senang dan sering memaki-maki Cin Hai yang dikatakan tolol dan bodoh. Kelambatan ini sebetulnya bukan karena Cin Hai terlalu tolol tetapi adalah karena waktunya banyak ia pergunakan untuk memperbaiki catatan dan lukisannya yang disimpannya baik-baik secara rahasia.

Seperti semua anak-anak di dunia ini, seorang kanak-kanak sekecil Cin Hai masih haus akan permainan dan kesenangan. Anak-anak lain tentu akan mencari kawan-kawan untuk bermain-main atau mencari segala macam barang permainan untuk menyenangkan hati, tetapi bagi Cin Hai semua itu tak mungkin. Ia berdiam di dalam gua dan kalau ia keluar dari gua, yang ada hanya hutan betantara yang penuh pohon-pohon besar dan binatang-binatang buas.

Pernah terjadi ketika ia pada beberapa bulan yang latu pergi agak jauh dari gua dan memasuki hutan yang agak gelap tiba-tiba seekor harimau yang besar menghadang jalan pulangnya! Cin Hai terkejut sekali dan kedua kakinya gemetar dan dadanya berdebar-debar. Tetapi anak itu dapat menetapkan hatinya dan berlaku waspada. Sambil mengeluarkan gerengan hebat, harimau itu loncat menerkam. Pada waktu itu Cin Hai telah mempelajari jurus Ilmu Silat Liong-san-pai. Melihat datangnya terkaman harimau otomatis kakinya bergerak dengan tipuan Lo-wan-tong-ki atau Monyet Tua Meloncati Cabang hingga ia terhindar dari terkaman harimau. Setelah berhasil berkelit, Cin Hai segera lari hendak pergi dari situ, tetapi terdengar auman keras dan harimau itu menubruk dari belakang!

Biarpun matanya tidak melihat, namun ternyata latihan-latihan silat yang dipelajarinya telah membuat telinganya dapat menangkap angin sambaran tubuh harimau itu. Cepat ia berkelit sambil meloncat ke samping, dan dengan gerakan membalik, ketika harimau itu lewat di sampingnya, ia memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah lambung harimau!

Tetapi apakah arti pukulan tangan seorang kanak-kanak yang baru saja berlatih silat kurang dari dua tahun? Harimau itu sedikit pun tidak merasa sakit dan begitu keempat kakinya menginjak tanah, cepat tubuhnya berbalik dan meloncat menubruk lagi! Cin Hai benar-benar terdesak dan ia hanya menggunakan segala kepandaian yang dipelajarinya untuk bergerak ke sana-sini. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa biarpun baru mempelajari beberapa belas jurus dari Liong-san-kun-hoat, ia telah dapat bertahan dari seekor harimau besar sampai beberapa lama! Kalau ia tidak memiliki kepandaian silat itu, tentu sekali tubruk saja ia sudah menjadi mangsa binatang itu.

Tiba-tiba Cin Hai teringat akan pelajaran meloncat yang didapatnya dari Giok Keng Cu. Tosu kate itu adalah seorang yang suka dipuji-puji dan tahu pula akan adatnya, maka Cin Hai sengaja memuji-mujinya sehingga tosu itu lalu menurunkan semacam kepandaian loncat tinggi kepadanya! Ilmu loncat ini adalah pecahan dari ilmu lari loncat jauh yang disebut Liok-te-hui-teng-kang-hu yang jika sudah dipelajari secara sempurna dapat digunakan untuk meloncat jauh sambil mempergunakan kedua tangan sebagai imbangan badan sehingga tampaknya seperti melayang! Tetapi tosu kate itu hanya memberi pelajaran di bagian loncat tinggi saja yakni tipu gerakan Cian-tiong-seng-thian (Naga Naik ke Langit).

Demikianlah, setelah teringat akan pelajaran meloncat ini, Cin Hai perlahan-lahan lalu menggeser kakinya dan tiap kali berkelit ia sengaja meloncat mendekati sebatang pohon yang mempunyai cabang rendah dan berada di atas kepalanya. Ketika harimau itu meloncat lagi menubruknya untuk kesekian kalinya, Cin Hai menerobos ke bawah tubuh harimau yang menyambar itu dan secepatnya ia lalu meloncat ke atas cabang pohon di atasnya dengan gerakan Cian-liong-seng-thian yang sudah dipelajarinya itu! Ia berhasil dan tubuhnya melayang ke atas cabang, lalu cepat ia menggunakan tenaga kaki mengenjot diri pula dari cabang itu ke cabang yang lebih tinggi. Untung sekali ia berbuat demikian, karena baru saja ia meninggalkan cabang terendah itu, tiba-tiba si harimau yang tahu maksud calon mangsanya yang hendak lari, segera meloncat pula ke atas cabang itu yang segera patah sambil mengeluarkan bunyi keras! Tubuhnya segera jatuh lagi ke atas tanah dan harimau itu lalu berdongak memandang ke arah Cin Hai yang telah berada di cabang tinggi dengan aman. Anak itu dengan geli dan senang mentertawakan harimau itu, memaki-makinya, meludahinya dan melemparinya dengan cabang-cabang kering yang ia dapatkan di atas pohon-pohon! Harimau itu mengaum-ngaum dan meraung-raung keras sekali untuk melampiaskan hatinya yang marah dan kecewa.

Untuk beberapa lamanya binatang itu mendekam di bawah pohon, menanti calon mangsanya itu sambil kadang-kadang mendongakkan kepalanya memandang ke atas dengan hidung kembang-kempis. Tetapi Cin Hai tetap memaki-maki bahkan anak itu lalu membuang air kencing di atas kepala harimau itu! Entah karena jengkel dan kesal menanti, atau karena tersiram air kencing itu, si harimau segera berdiri dan setelah berdongak sambil mengaum keras dan panjang sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan tindakan perlahan.

Cin Hai tidak berani segera turun karena takut kalau-kalau harimau itu masih bersembunyi di dekat situ. Ia menanti lagi sampai hampir setengah hari, barulah ia berani turun dan lari pulang ke gua. Semenjak pengalamannya itu, Cin Hai tahu akan kegunaan kepandaiannya maka ia mempergiat latihannya dan ia tidak berani lagi meninggalkan gua terlalu jauh.

Pada suatu hari, ia ditinggalkan oleh ketiga tosu itu. Seperti biasa, jika merasa kesepian, Cin Hai lalu bermain-main dengan sulingnya. Ia berdiri di mulut gua lalu meniup sulingnya dengan asyik. Anak itu memang mempunyai bakat bermain suling. Selama berdiam di gua itu sampai dua tahun, kepalanya selalu digundul karena penyakit kudis itu selalu timbul tiap kali rambutnya tumbuh agak panjang. Juga pakaiannya masih yang dulu, yakni jubah hwesio yang terlalu besar itu!

Ketika ia tengah asyik meniup suling, dari jauh datanglah setitik bayangan merah yang makin lama makin membesar. Tahu-tahu bayangan itu setelah dekat merupakan seorang wanita berpakaian serba merah. Ia berdiri di depan gua, tak jauh dari tempat Cin Hai berdiri, dan memandang dengan mata tak berkedip dan tubuh tak bergerak. Cin Hai juga melihat kedatangan orang itu, tetapi ia tetap saja menyuling tanpa ambil peduli sama sekali, karena yang datang adalah seorang. wanita asing. Wanita itu adalah seorang gadis yang masih muda, paling banyak berusia delapan belas tahun. Wajahnya luar biasa cantik jelitanya dengan sepasang mata lebar bersinar-sinar dan mulut yang manis dengan sepasang bibir yang berbentuk indah dan berwarna merah. Pakaiannya merah dan bersih sekali, juga sepatunya berkembang indah. Di punggungnya tampak gagang pedang.

Dara baju merah itu agaknya tertarik sekali oleh tiupan suling Cin Hai dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang Cin Hai pandai meniup suling dan ia tahu banyak akan lagu-lagu klasik karena gurunya yang mengajar dulu, yaitu, Kui-sianseng, memang ahli menyuling dan dengan mendengar gurunya itu bersuling, dapatlah Cin Hai meniru lagunya. Makin lama makin merdu dan merayu suara suling Cin Hai sehingga Dara Baju Merah itu tanpa terasa pula lalu berjalan mendekati dan duduk di atas sebuah batu karang hitam. Melihat gadis itu duduk di dekatnya dan melihat pula pedang di punggung gadis itu, Cin Hai menjadi tertarik sekali dan menghentikan tiupan sulingnya.

Dara muda itu kecewa dan berkata, “Hwesio cilik! Tiupan sulingmu bagus sekali, mainkanlah lagi beberapa lagu untukku, nanti kuberi hadiah uang perak.” Suaranya halus dan merdu dan ketika bicara kedua matanya bergerak-gerak indah.

Cin Hai merengut ketika disebut “hwesio cilik”. Ia menjawab tak senang. “Kira-kira dong kalau memanggil orang! Aku bukan hwesio kecil.”

Melihat anak itu marah, Dara Baju Merah itu tersenyum geli. Ia memang merasa aneh dan ganjil bertemu dengan seorang anak kecil berpakaian hwesio dan kepalanya gundul berada di tengah-tengah hutan seorang diri, dan anak ini pandai bersuling pula! Kini melihat lagak Cin Hai ia makin tertarik.

“Saudara kecil, kalau kau bukan seorang hwesio mengapa kepalamu gundul dan pakaianmu jubah hwesio?”

Baru kali ini Cin Hai merasa tidak senang ada orang menyebutnya gundul dan mencela pakaiannya. “Aku gundul kepalaku sendiri, apa hubungannya dengan kau? Kau cantik juga cantikmu sendiri, perlu apa kau mencela keburukan orang?”

Biarpun kata-kata Cin Hai itu kasar, tetapi karena anak itu menyebutnya cantik, Dara Baju Merah itu tidak marah, bahkan memperlihatkan senyum yang agaknya akan membuat hati Cin Hai jungkir balik kalau saja ia sudah dewasa. Tetapi senyum nona itu hanya membuat Cin Hai merasa senang saja, karena ia menganggap nona itu berhati sabar dan tidak mudah marah.

“Engko cilik, kalau aku berkata salah, kau maafkanlah. Sekarang aku mohon padamu, tiuplah lagi sulingmu, aku suka sekali mendengarnya.”

“Boleh, asal saja kau suka menari menurut lagu sulingku.”

Tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan bertanya dengan suara kaget, “Dari mana kautahu bahwa aku pandai menari?” Pertanyaan ini mengandung ancaman agar Cin Hai mengaku.

Cin Hai merasa heran dan menjawab, “Siapa yang tahu kalau kau pandai menari? Hanya menurut pendapatku, seorang wanita yang cantik jelita seharusnya pandai menari.”

Maka tertawalah Gadis Baju Merah itu. “Baiklah, kautiup sulingmu dan aku menari untukmu.”

Cin Hai girang sekali. Ia berdiri di tengah-tengah mulut gua yang gelap sehingga pakaiannya yang putih dan kepalanya yang gundul nampak nyata di depan latar belakang gua hitam gelap itu. Ia mulai meniup suling sebaik-baiknya. Gadis Baju merah yang cantik itu melolos pedangnya dan mulai menari pedang.

Cin Hai sambil menyuling memandang gadis itu dan ia bagaikan kena pesona. Bukan main indah tarian itu. Gerakannya halus, lemah gemulai dan seakan-akan tarian seorang bidadari! Pedang di tangannya itu menambah keindahan tarian dan membuatnya nampak cantik dan gagah sekali!

Dara Baju Merah itu memulai tariannya dengan perlahan dan halus gerakannya, dengan gerakan-gerakan leher yang lemas, diikuti gerakan tubuhnya yang indah menggairahkan. Tetapi makin lama gerakannya makin cepat menuruti irama suling yang ditiup Cin Hai dan Cin Hai meniup sulingnya dalam lagu perang, maka tubuh Dara Baju Merah itu lenyap dan yang tampak hanyalah gundukan sinar pedang yang putih dengan sinar merah dari bajunya!

Cin Hai kagum sekali dan setelah merasa betapa lehernya kaku karena tiada hentinya meniup suling, baru ia berhenti dan Dara Baju Merah itu pun menghentikan tariannya yang luar biasa dan indah itu.

“Hebat sekali permainan sulingmu!” dengan senyum manis sekali gadis itu memuji.

“Lebih hebat adalah tarianmu!” Cin Hai memuji sambil memandang dengan matanya yang lebar.

“Kau menyukai tarianku?” tanya gadis itu.

“Suka sekali, jauh lebih daripada sukamu kepada suara sulingku” kata Cin Hai cepat-cepat dan sejujurnya.

Gadis itu tersenyum. “Engko kecil, siapakah namamu?”

Cin Hai menjawab sambil tersenyum juga, “Namaku Cin Hai, tetapi orang tua itu lebih suka menyebutku Tolol atau Bodoh!”

Gadis itu untuk beberapa lama menatap wajahnya memandang kepalanya yang gundul dan besar lalu ke arah pakaiannya yang terlalu besar itu. Setelah memandang, ia lalu menganggukkan kepalanya dan berkata pasti,

“Memang kau kelihatan tolol dan bodoh!”

Cin Hai mengangguk-angkuk dan berkata seperti lagak seorang tua, “Memang aku tolol dan bodoh, pula buruk rupa, sedangkan kau pandai dan cantik. Tetapi harus diingat, bodoh itu dasar kepintaran dan buruk itu tempat akhir kecantikan.”

Si Nona mengerutkan alisnya yang kecil memanjang. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Bukankah sebelum pintar harus bodoh dulu? Nah, karena itulah maka pintar itu berdasar pada bodoh. Dan kecantikan macam apakah yang takkan lenyap dan berakhir dengan keburukan? Lihat saja cahaya matahari berganti malam gelap lagi buruk. Lihat saja kembang segar indah yang menjadi layu dan membusuk, lihat saja wajah nenek-nenek keriput ompong padahal tadinya mereka itu nona-nona cantik jelita.”

“Stop segala omongan ini!” Nona Baju Merah itu berseru ngeri mendengar tentang nona cantik yang berubah menjadi nenek keriput ompong, “kau anak kecil bicara seperti pendeta, dari siapakah kau mempelajari semua ini?”

Cin Hai tertawa. “Dari ujar-ujar para nabi dan orang cerdik pandai.”

“Jadi kau ini benar-benar murid pendeta yang tak makan daging?”

Cin Hai cepat-cepat menggeleng kepalanya, “Aku bukan pendeta, dan tentang pakaian…” ia menundukkan kepalanya dan memandang pakaiannya, “apa daya, hanya satu yang terpaksa kupakai.”

Dara Baju Merah itu tertawa geli, sepasang matanya yang seperti bintang pagi itu berseri-seri, karena ia suka sekali kepada anak yang gundul, lucu dan pandai bersuling ini.

“Engko gundul, kau sebenarnya tinggal dengan siapakah di tempat liar ini?”

“Aku dibawa oleh orang tua yang berjuluk Kang-lam Sam-lojin.”

“Ahh? Jadi mereka itu suhu-suhumu?”

Cin Hai cepat menggeleng kepalanya, “Bukan, bukan guru, hanya kenalan saja. Dan kau ini siapakah? Aku pernah mendengar tentang wanita berbaju merah yang disebut Ang I Niocu…”

Nona itu meloncat dengan kaget. “Siapa yang memberi tahu engkau tentang Ang I Niocu?”

Cin Hai menghela napas. “Semua orang agaknya takut kepada Ang I Niocu, dia itu orang macam apakah? Bahkan kau sendiri juga takut agaknya. Aku mendengar tosu-tosu itu bercerita.”

Gadis itu tersenyum pula. “Kau betul-betul suka akan tarianku tadi?”

Cin Hai mengangguk.

“Kalau begitu, mari kita tukar saja. Kau kuberi pelajaran menari dan aku ingin sekali belajar menyuling.”

Cin Hai mengangkat mukanya dan memandang wajah yang berkulit halus putih kemerah-merahan itu. Sungguh wajah yang luar biasa cantiknya. Maka anak itu berseri-seri karena mendengar bahwa orang hendak memberi pelajaran menari padanya. “Boleh, boleh!” katanya. “Tetapi siapakah namamu, Nona?”

Sambil tersenyum gadis itu menjawab, “Akulah Ang I Niocu.”

Kini Cin Hai lah yang terkejut dan mukanya berubah. Tetapi sambil tertawa geli gadis itu berkata, “Mengapa? Takutkah juga kau kepada Ang I Niocu? Apakah mukaku begitu menyeramkan?”

“Tidak, tidak!” Cin Hai cepat-cepat menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Mukamu halus dan cantik. Aku tidak takut kepadamu.”

“Dan tidak takut kepada Ang I Niocu?” dara itu menegaskan.

“Dan tidak takut kepada Ang I Niocu!” Cin Hai berkata tetap.

“Kalau begitu, lekas kaukumpulkan barang-barangmu. Sekarang juga kita pergi.”

Cin Hai memandang kepada wajah yang halus cantik dan mata yang bening bersinar tajam itu. Ia memandang dengan muka bodoh dan berkata,

“Barang-barangku?” Ia memandang ke arah suling yang dipegangnya dan pakaian hwesio yang dipakainya. “Barangku hanya suling dan pakaian ini.”

Pandangan mata Ang I Niocu mengandung iba. “Jadi kau tidak berbohong ketika tadi berkata bahwa kau tidak mempunyai lain pakaian?”

“Membohongi orang lain berarti membohongi diri sendiri,” jawab Cin Hai meniru bunyi sebuah ujar-ujar, “dan aku tidak mau membohongi diriku sendiri.” Ia lalu mengosok-gosok kepalanya yang gundul.

“Kalau begitu mari kita berangkat!”

Cin Hai mengangguk.

Tetapi pada saat itu, dari bawah gunung melayang naik tiga bayangan orang. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga sebentar saja, sebelum Cin Hai dan Dara Baju Merah pergi jauh, tiga bayangan itu telah tiba di situ. Mereka ini bukan lain ialah Kang-lam Sam-lojin yang baru pulang dari perantauan mereka.Melihat bahwa Cin Hai berjalan pergi dengan seorang gadis, mereka segera memanggil dengan suara keras. Tetapi Cin Hai hanya menoleh sambil tertawa lalu melambaikan tangan sebagai salam berpisah! Tentu saja Kang-lam Sam-lojin merasa penasaran dan segera mengejar. Karena Ang I Niocu dan Cin Hai hanya berjalan biasa saja, dengan beberapa loncatan mereka telah dapat menyusul.

“Hai, Tolol, kau hendak minggat ke mana?” tegur Giok Yang Cu yang brewok dan tinggi besar dengan suara mengguntur.

“Ji-totiang, teecu hendak pergi belajar menari!”

“Apa? Belajar menari? Kepada siapa dan di mana?” tanya Giok Keng Cu si pendek dengan heran.

“Belajar kepada Nona ini, dia pandai sekali menari dan belajar di mana saja, di sepanjang jalan, bukankah begitu, Nona?” Ang I Niocu hanya tersenyum manis dan mengangguk-anggukkan kepala. Ketiga tosu itu memandang ke arah Ang I Niocu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba ketiganya saling berbisik dan Giok Im Cu lalu berkata dengan hati-hati.

“Kami bertiga pernah mendengar nama Ang I Niocu, apakah sekarang kami berhadapan dengan Nona yang gagah itu?”

“Sam-wi Totiang, kalian memang mempunyai pandangan yang tajam. Aku betul Ang I Niocu.”

Kalau dilihat sungguh mengherankan, karena tiga tokoh kang-ouw yang telah berusia lanjut ini begitu mendengar nama Ang I Niocu lalu nyata sekali tampak terkejut dan mereka dari jauh mengangkat tangan memberi hormat.

“Sungguh pinto merasa terhormat sekali mendapat kunjungan Lihiap. Tidak tahu keperluan apakah yang membawa Lihiap sampai datang di tempat kami yang sunyi ini?”

Ang I Niocu tersenyum dan wajahnya yang jelita menjadi makin manis ketika sepasang lesung pipit menghias sepasang pipinya yang kemerahan. Ia lalu bersyair sambil memandang ke langit.

Berkawan sebatang pedang, Menjelajah ribuan li tanah dan air Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati. Kau masih bertanya maksud keperluan? Tanyalah kepada burung di puncak pohon, Terbang ke sini berkehendak apa?

“Bagus, bagus sekali!” Cin Hai bersorak girang. “Niocu, syairmu ini bagus sekali, biar aku nanti buatkan lagunya yang merdu!”

Ang I Niocu mengangguk-angguk sambil tersenyum manis kepada Cin Hai lalu menjawab kepada tiga tosu itu,

“Totiang, seperti kukatakan dalam syairku tadi, aku hanya kebetulan lewat saja di sini dan bertemu dengan engko cilik ini. Kami telah bermufakat untuk saling menukar kepandaian tari dan permainan suling!”

Kang-lam Sam-lojin tidak senang mendengar keterangan ini, karena betapapun juga, mereka telah menganggap Cin Hai sebagai murid yang tentu saja tidak boleh diambil orang lain sedemikian mudahnya yang berarti akan merendahkan derajat mereka. Akan tetapi terhadap Ang I Niocu yang mempunyai nama besar, mereka masih ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan. Akan tetapi, Giok Keng Cu si pendek gesit yang memang agak berwatak sombong, melihat bahwa Ang I Niocu tak lain hanyalah seorang dara muda cantik jelita yang berkulit halus dan bersikap lemah lembut lalu memandang rendah sekali.

“Eh, Ang I Niocu! Banyak orang bilang bahwa kau adalah seorang tokoh dunia kang-ouw yang gagah dan namamu telah menggemparkan empat penjuru. Tidak tahunya hanyalah seorang anak muda yang masih hijau dan tidak tahu aturan kang-ouw! Ataukah kau sengaja tidak memandang mata kepada kami tiga orang tua dan berbuat kurang ajar?”

Sungguhpun Ang I Niocu tampaknya baru berusia tujuh belas atau delapan belas tahun saja, tetapi sebenarnya ia telah berusia dua puluh tahun dan selama lima tahun lebih namanya telah menggegerkan dunia kang-ouw karena selain kepandaiannya yang luar biasa, juga ia terkenal sebagai seorang dara yang berani dan dapat menyimpan perasaannya. Kini mendengar betapa orang memandang rendah kepadanya, ia hanya tersenyum manis, karena biarpun Giok Keng Cu memandang rendah, namun persangkaan kakek pendek itu bahwa ia masih sangat muda merupakan pujian baginya! Wanita mana di dunia ini yang tak ingin disebut muda dan ditaksir jauh lebih muda dari usianya yang sebetulnya.

Karena inilah maka Ang I Niocu dengan suara tetap merdu dan sabar bertanya,

“Totiang, bicaramu agak berlebihan. Mengapa kauanggap aku tidak memandang kalian orang tua dan berbuat kurang ajar?”

“Anak tolol itu adalah murid kami, mengapa kau tanpa minta ijin hendak menculiknya begitu saja? Bukankah itu melanggar aturan namanya?” berkata Giok Ken Cu dengan marah.

Sebelum Ang I Niocu menjawab, Ci Hai mendahuluinya dengan suaranya yang nyaring.

“Eh, eh, sejak kapan Totiang memungut teecu sebagai murid? Harap Totiang ingat bahwa teecu bukanlah murid Totiang, maka tidak baik membohong kepada Niocu!”

Sementara itu, Ang I Niocu yang tadinya menyangka bahwa Cin Hai yang tadi membohonginya, kini melihat betapa anak gundul itu berani berkata sedemikian rupa terhadap tosu itu, menjadi lega karena menganggap bahwa anak ini benar-benar berhati tabah dan jujur. Maka ia tertawa girang sambil memandang muka Giok Keng Cu yang menjadi kemerah-merahan karena malu dan untuk beberapa lama tidak dapat menjawab kata-kata Cin Hai.

Melihat keadaan sutenya yang terdesak, Giok Yang Cu yang tinggi besar berkata keras,

“Ang I Niocu! Betapapun juga, tidak boleh kau membawa anak itu begitu saja. Biarpun dia bukan murid kami, tetapi dia telah ikut kami dan tidak boleh diambil oleh orang lain tanpa ijin kami!”

Giok Yang Cu sengaja berkata keras karena ia hendak menghilangkan rasa malu yang diderita oleh sutenya, apa lagi memang ia tidak puas melihat sikap Ang I Niocu dan Cin Hai yang sama sekali tidak mengindahkan mereka bertiga!

“Kalian ini orang-orang tua jangan bicara seenaknya saja,” kata Ang I Niocu yang mulai merasa sebal. “Siapa yang menculik anak ini? Ia hendak ikut aku dengan suka rela dan aku pun tidak keberatan, habis kalian mau apa?”

Kini Giok Im Cu yang menjawab setelah mengeluarkan suara melalui lubang hidungnya seperti biasa dikeluarkan orang yang hendak menghina lawan.

“Hm, Ang I Niocu, melihat sikapmu maka benarlah kata para sahabat di dunia kang-ouw bahwa kau adalah seorang yang tinggi hati dan sombong. Kalau kau berkeras hendak membawa anak ini, biarlah kami bertiga menerima dulu petunjuk-petunjuk darimu!” Ini adalah kata-kata yang maksudnya menantang atau mengajak pibu (mengadu kepandaian).

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: