Pendekar Bodoh ~ Jilid 33

Semua orang menyetujui usul ini dan setelah Yousuf selesai mengurus semua kawan dan lawan yang terluka dan tewas, ia pun lalu datang dan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Nelayan Cengeng dan yang lain-lain mencoba seberapa dapat untuk menghibur hati Yousuf yang masih berduka karena kematian gurunya dan banyak kawan-kawannya.

“Sesungguhnya, tentang kematian tak kusedihkan benar karena soal itu bukanlah soal yang aneh dan harus disesalkan. Yang membuat hatiku berduka ialah adanya perpecahan dan permusuhan diantara bangsa sendiri. Baiknya kalian membawa berita bahwa anakku Lin Lin sudah diselamatkan dan bahkan kini memperdalam ilmu kepandaian di bawah pimpinan Bu Pun Su, kalau tidak, tentu aku akan makin gelisah dan cemas saja.”

Demikianlah, mereka bertempat tinggal di kampung Yousuf dan kawan-kawannya itu sehingga pengikut Pangeran Muda tidak berani datang untuk bermain gila lagi. Hampir tiga atau empat kali sehari Ang I Niocu menyelidiki keadaan gua itu, menjaga dan memeriksa kalau-kalau ada orang yang mengetahui tempat itu. Kadang-kadang ia pergi seorang diri, tidak jarang ditemani oleh Ma Hoa, bahkan beberapa kali Kwee An dan Nelayan Cengeng juga ikut.

Sementara itu, Cin Hai dan Lin Lin masih melakukan perjalanan menuju ke barat, menyusul Bu Pun Su yang menjadi “tawanan” Wi Wi Toanio dan kawan-kawannya. Ternyata bahwa Balaki semenjak dikalahkan oleh Cin Hai, lalu melarikan diri dari Yagali Khan dan kemudian ia bergabung dengan Hai Kong Hosiang dan seorang pendeta Sakya Buddha. Ia maklum akan kelihaian Hai Kong Hosiang maka ia lalu menceritakan tentang harta pusaka di daerah Kan-su itu dan mengusulkan untuk pergi mencari bersama. Hai Kong Hosiang yang cerdik itu telah mendapat tahu tentang riwayat Bu Pun Su ketika mudanya, maka mereka lalu mencari dan menjumpai Wi Wi Toanio yang telah menjadi janda. Melihat bahwa Wi Wi Toanio ternyata juga lihat sekali ilmu kepandaiannya, maka mereka lalu membujuk nyonya tua itu untuk ikut pula mencari harta pusaka dan kemudian atas rencana dan siasat Hai Kong Hosiang yang licin, mereka berhasil menundukkan Bu Pun Su untuk dipergunakan kepandaiannya mencari harta itu!

Cin Hai tidak berani melakukan perjalanan terlalu cepat hingga ia dan Lin Lin tidak bisa mengejar rombongan yang menawan Bu Pun Su. Beberapa hari kemudian, setelah mereka mendekati batas Propinsi Kan-su, dan beristirahat di dalam sebuah hutan menikmati hawa yang nyaman dan buah-buahan yang lezat, tiba-tiba dari jauh mendatangi seorang laki-laki dan ketika orang itu datang dekat, Cin Hai merasa terkejut sekali hingga tak terasa lagi ia memegang tangan Lin Lin. Ia mengenal baik muka laki-laki yang datang itu, laki-laki muda pesolek yang tampan.

“Song Kun…” katanya dengan dada berdebar karena ia maklum bahwa pertemuan ini tentu akan menjadi pertempuran hebat!

Sementara itu, Song Kun sudah melihat mereka pula. Mula-mula wajahnya yang tampan melihat dengan terheran-heran karena ia sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu bersama Cin Hai, pemuda yang dibencinya dan yang hendak dibunuhnya! Ia memandang ke kanan kiri, kuatir kalau-kalau Bu Pun Su supeknya itu berada pula di situ, akan tetapi ketika melihat bahwa tidak ada orang lain di situ, bibirnya tersenyum girang dan ia segera menghampiri.

“Ha, ha! Pendekar Bodoh, Pendekar Tolol dan goblok! Suteku yang baik budi, kekasih Supek Bu Pun Su! Agaknya kau berdua saja dengan bidadari yang telah lama kurindukan ini. Atau, membawa juga anjing penjagamu yang tua itu?”

Cin Hai dapat menduga bahwa yang dimaki “anjing penjaga tua” itu adalah Bu Pun Su suhunya, maka bukan kepalang marahnya hingga debar hatinya yang tadi agak kuatir itu lenyap, terganti dengar debar marah.

“Song Kun! Siapakah yang kaumaki itu?”

“Siapa lagi kalau bukan Suhumu yang tua dan lebih goblok dari padamu itu?”

“Kurang ajar! Kaukira aku takut kepadamu?”

“Cin Hai, kau telah merasai kelihaianku, apakah kau belum kapok? Dengarlah, bocah sombong. Aku mempunyai hati yang lemah dan suka menaruh kasihan kepada anak-anak kecil. Aku masih ingat bahwa kau adalah Suteku sendiri, maka aku akan memberi ampun kepadamu. Pergilah kau dengan aman, dan tinggalkan kekasih hatiku ini. Aku akan menjaganya dan mencintanya dengan baik, lebih baik daripada kalau kau menjaganya. Kelak kalau kau ingin menikah katakan saia kepada Suhengmu ini gadis mana yang kausukai, tentu aku membantumu sehingga kau berhasil mendapatkannya!” Ucapan ini dikeluarkan dengan muka sungguh-sungguh sehingga ia hanya dapat memandang dengan melongo dan tak dapat mengeluarkan kata-kata!

Akan tetapi, sementara itu Lin Lin sudah tak dapat menahan marahnya lagi. Gadis ini sampai menjadi pucat karena marahnya dan ia memandang kepada Song Kun seakan-akan ia hendak meremukkan kepala pemuda pesolek itu dengan pandangan matanya kalau mungkin.

“Bangsat rendah, keparat jahanam! Aku bersumpah hendak membunuh kau!” Sambil berkata demikian, Lin Lin lalu melompat dan mencabut pedang Han-le-kiam, terus menyerang dengan hebatnya!

Song Kun mengelak dengan mudah sambil berkata, “Sayang, janganlah kau marah-marah, karena dengan setulus hati aku mencintaimu. Salahkah hatiku kalau tertarik dan runtuh melihat kecantikanmu? Lin Lin, ah, namamu indah sekali. Janganlah kau menurunkan tangan kejam kepadaku, sayang!”

Bukan main marahnya Lin Lin mendengar kata-kata ini sehingga ia menjerit dan menyerang makin hebat sambil mengucurkan air mata karena marah dan mendongkol tak dapat membikin mampus orang itu dengan sekali tusuk! Cin Hai merasa khawatir sekali melihat keadaan Lin Lin, karena ia maklum bahwa kemarahan dan perkelahian akan membuat keadaan Lin Lin makin buruk saja.

“Lin-moi, mundurlah. Tak perlu kau mengotorkan tanganmu dengan bedebah itu. Biarkan aku yang mengadu jiwa dengan bajingan ini!”

Sambil berkata demikian, Cin Hai lalu mencabut sebatang daripada sepasang pedang Liong-cu-kiam yang panjang lalu melompat dan menyerang dengan hebat! Sementara itu, dengan hati membakar panas Lin Lin terpaksa melompat mundur dan berdiri dengan mata berapi.

Song Kun terkejut melihat bahwa pedang di tangan Cin Hai mengeluarkan sinar gemilang, maka tanpa membuang waktu lagi ia segera mencabut keluar pedang pusakanya Ang-ho-sian-kiam yang mengeluarkan cahaya merah seperti api itu! Ketika Cin Hai menyerang hebat, Song Kun lalu menyabet dengan pedangnya dengan maksud hendak membuat pedang Cin Hai terbabat putus sekaligus! “Trangg!!” Kedua pedang beradu dan berpancaranlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata. Cin Hai merasa betapa telapak tangannya tergetar maka menarik pulang pedang cepat-cepat dan memeriksanya. Ia merasa lega karena pedang Liong-cu-kiam tidak menjadi rusak karena peraduan itu. Sementara itu, Song Kun yang juga merasa tergetar telapak tangannya, merasa kaget sekali karena pedangnya ternyata tidak dapat memutuskan pedang Cin Hai. Ia memandang dengan mata terbelalak marah dan kemudian ia menjadi marah sekali.

“Bangsat! Agaknya kau telah dapat mencuri pedang pusaka! Baik, jangan kira pedang yang baik saja akan dapat melindungi jiwamu! Hari ini tentu kau akan mampus dalam tanganku!!”

Setelah berkata demikian, Song Kun tiba-tiba menggerakkan pedangnya secara hebat dan ganas sekali sehingga lenyaplah bayangan tubuhnya, menjadi satu dengan sinar pedangnya yang bercahaya merah api bagaikan segulung api yang dahsyat menyambar-nyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan gerakan yang cepat dan luar biasa sekali! Cin Hai maklum bahwa baru kali ini ia menghadapi lawan yang betul-betul tangguh dan yang ilmu kepandaiannya tidak berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri! Bahkan dasar pelajaran mereka datang dari satu sumber. Ia kalah pengalaman, kalah lama berlatih dan dalam hal ginkang, mungkin ia masih kalah cepat oleh Song Kun yang benar-benar memiliki kecepatan yang membuat bayangannya tepat disebut Bayangan Iblis itu!

Akan tetapi Cin Hai tidak menjadi gentar. Betapapun juga, intisari kepandaian silat belum pernah diturunkan kepada siapa juga oleh Bu Pun Su dan kepandaian itu hanyalah dimiliki oleh Bu Pun Su sendiri, bahkan sute dari Bu Pun Su yaitu Han Le Sianjin yang menjadi guru Song Kun, juga tidak mempunyai pengetahuan ajaib ini. Maka, pengetahuan tentang dasar-dasar dan pokok-pokok pergerakan ilmu silat inilah yang membuat Cin Hai berhati tenang dan tetap, karena pengetahuan ini dapat menutup kekurangan dan kekalahannya dalam hal ginkang dan pengalaman tadi.

Song Kun merasa penasaran dan marah melihat betapa Cin Hai dapat menahan semua penyerangannya, maka sambil berseru gemas ia menggerakkan pedangnya bagaikan halilintar menyambat-nyambar, dan tangan kirinya juga tidak tinggal diam, akan tetapi mengirim serangan-serangan maut dengan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut dan lain-lain ilmu pukulan yang mengarah jiwa lawannya. Akan tetapi Cin Hai tetap berlaku tenang dan mengembalikan setiap pukulan lawannya dengan hati-hati. Ia cukup maklum akan berbahayanya Song Kun dan maklum pula bahwa sekali saja serangan lawan ini mengenai tubuhnya, maka nyawanya berada dalam bahaya besar. Oleh karena itu, ia berlaku hati-hati sekali dan selain mempertahankan diri, ia juga mengirim serangan balasan yang cukup membuat Song Kun berlaku hati-hati.

Demikianlah, kedua orang muda itu saling serang dan saling gempur bagaikan dua ekor naga sakti saling menyerang dengan mati-matian. Tubuh mereka tak tampak lagi, dan hanya cahaya pedang mereka yang saling gulung dan saling desak dengan hebatnya. Song Kun memang amat lincah dan cepat, akan tetapi menghadapi Cin Hai yang tenang dan kuat serta yang telah tahu akan semua gerakannya, ia merasa tak berdaya, sungguhpun untuk mengalahkan Song Kun, bagi Cin Hai bukanlah merupakan hal yang mudah. Baik Song Kun maupun Cin Hai merasa betapa baru sekali itu selama hidup mereka menghadapi lawan yang behar-benar tangguh dan berimbang baik tenaga maupun kepandaian.

Lin Lin memandang pertempuran itu dengan kagum sekali. Bagi matanya yang telah terlatih dan menjadi tajam sekali penglihatannya, ia masih dapat melihat gerakan-gerakan kedua orang itu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gerakan Song Kun masih lebih lincah dan cepat, sungguhpun Cin Hai tidak menjadi terdesak karenanya.

Song Kun yang merasa amat penasaran karena setelah bertempur puluhan jurus belum juga dapat mendesak Cin Hai, lalu berseru keras dan tangan kirinya bergerak. Sebuah cahaya merah meluncur dari tangannya itu dan Cin Hai melihat betapa sehelai sabuk merah bergerak bagaikan hidup menyambar ke arah lehernya. Cin Hai cepat mengelak ke kiri, akan tetapi sabuk merah itu dengan lihainya bergerak juga ke kiri seakan-akan bernyawa dan kini mengebut ke arah matanya.

Inilah semacam ilmu kepandaian yang istimewa dari Han Le Sianjin, dan yang telah diturunkan kepada muridnya itu. Cin Hai belum pernah mempelajari, dan juga karena pergerakan sabuk ini bukan mengandalkan gerakan lengan, akan tetapi mengandalkan pergerakan pergelangan tangan, maka sukarlah bagi Cin Hai untuk dapat melihat dan mengikuti gerakan lawannya ini. Setiap pukulan selalu berpusat kepada pundak yang menjadi pangkal lengan, akan tetapi sabuk ini digerakkan oleh Song Kun dengan menggerakkan pergelangan tangannya tanpa mempengaruhi lengan, hingga Cin Hai kali ini benar-benar tak dapat menduga lebih dulu ke mana sabuk lawan itu akan meluncur! Song Kun maklum pula bahwa Cin Hai tentu telah mewarisi ilmu kepandaian Bu Pun Su yang sakti, yaitu ilmu kepandaian mengenal dan mengetahui segala pokok-pokok dan dasar pergerakan ilmu pukulan, maka ia sengaja mengeluarkan sabuknya itu untuk mencapai kemenangan. Dulu suhunya, Han Le Sianjin pernah berkata kepadanya bahwa ilmu kepandaian Bu Pun Su tak ada lawannya di dunia ini oleh karena Bu Pun Su telah memiliki pengetahuan tentang pokok dan dasar ilmu silat, akan tetapi apabila Bu Pun Su menghadapi senjata yang digerakkan dengan pergelangan tangan seperti senjata sabuk yang lihai itu, tentu Bu Pun Su sendiri takkan dapat menduga sebelumnya ke mana sabuk itu ikan diserangkan!

Benar-benar Cin Hai terkejut ketika tahu-tahu sabuk itu telah mengejarnya dan mengancam matanya. Ia tidak mau mengelak lagi, akan tetapi segera mengerjakan Liong-cu-kiam di tangannya untuk membuat putus sabuk yang berbahaya itu. Akan tetapi tiba-tiba ia berseru terkejut karena bukan saja pedangnya tidak mampu membabat putus sabuk itu, bahkan sabuk merah itu lalu membelit pedangnya sehingga tak dapat digerakkan lagi!

Lin Lin melihat pula hal ini dengan jelas, maka bukan main rasa kuatirnya melihat keselamatan kekasihnya terancam bahaya. Ia menjerit keras dan roboh pingsan! Dalam keadaan seperti itu, Lin Lin lupa akan pantangannya dan menjadi kuatir sehingga racun di dalam tubuhnya menyerang jantung dengah hebat yang membuatnya roboh pingsan.

Sementara itu, ketika sabuk merahnya telah berhasil membelit pedang Cin Hai, Song Kun sambil tertawa mengejek lalu menyerang dengan pedang Ang-ho-sian-kiam di tangan kanannya ke arah dada Cin Hai!

Sebetulnya bukan karena pedang Liong-cu-kiam kurang tajam maka tak dapat membabat putus sabuk itu, akan tetapi oleh karena sabuk itu terbuat dari sutera lemas dan ulet sekali hingga tentu saja kalau berada di tangan seorang ahli yang tinggi ilmu lweekangnya, pedang yang bagaimana tajam pun akan kehilangan dayanya dan takkan dapat membabatnya putus, biarpun pedang Liong-cu-kiam itu akan membabat putus segala macam senjata besi atau baja.

Biarpun berada dalam keadaan yang amat berbahaya, namun murid Bu Pun Su ini tidak menjadi bingung atau gentar. Secepat kilat ia mencabut pedang Liong-cu-kiam pendek yang masih terselip di punggungnya dan dengan pedang ini di tangan kiri ia menangkis tusukan pedang Song Kun pada dadanya, kemudian ia menggunakan pantulan pedang untuk membabat sabuk yang masih melibat pedang di tangan kanan. Sekali sabet saja, sabuk itu terputus menjadi dua potong! Ini dapat terjadi oleh karena setelah melibat pedang maka sabuk itu menjadi tertarik dan tertahan oleh pedang yang dilibatnya dan tangan Song Kun yang memegangnya, maka dalam keadaan merentang ini tentu saja dengan mudah sabuk itu dapat dibabat putus!

Song Kun terkejut sekali, akan tetapi, pada saat itu terdengar jerit Lin Lin yang roboh pingsan, Cin Hai cepat melompat dan setelah melihat kekasihnya roboh pingsan, ia lalu menyimpan pedangnya dan menubruk kekasihnya itu dengan bingung dan cemas.

“Lin Lin… Lin-moi… ah, mengapa kau berkuatir…?”

Melihat betapa Cin Hai dengan wajah pucat memeluk Lin Lin dan melihat pula muka gadis itu yang menjadi pucat bagaikan mayat, Song Kun merasa heran dan juga kaget. Ia tadi merasa terkejut sekali melihat betapa dalam keadaan sesulit itu Cin Hai masih dapat menyelamatkan diri bahkan berhasil pula membabat putus pedangnya, maka diam-diam ia merasa amat kagum dan juga sedikit jerih. Kini melihat Lin Lin roboh pingsan bagaikan telah mati, ia merasa kasihan dan berkuatir. Memang di dalam hatinya, ia amat mencinta gadis itu.

“Dia kenapakah…?” tanyanya terheran.

Tanpa menengok, Cin Hai lalu menjawab, “Dia telah terkena racun jahat dari Hai Kong Hosiang, dan dalam seratus hari dia akan mati.”

“Apa…?? Dia tidak boleh mati. Apakah tidak ada obatnya?” tanya Song Kun dengan hati berdebar cemas.

Cin Hai mengangguk. “Hanya ada satu macam obat dan obat itu berada di tangan Hai Kong Hosiang. Untuk itulah maka kami berdua menuju ke barat.”

“Racun apakah itu?”

“Racun Ular Hijau yang jahat dari yang hanya terdapat di daerah Mongol, maka obatnya pun harus dari sana.”

“Tidak, dia tidak boleh mati! Dia harus menjadi isteriku, karenanya dia tidak boleh mati! Cin Hai, biar aku titipkan dulu dia kepadamu dan karena itulah maka kau tidak kubunuh sekarang dan kuberi ampun. Aku hendak mencari obat untuknya dan setelah dapat, akan datang menjemput calon isteriku ini!”

Song Kun lalu menyimpan pedangnya dan melompat pergi lalu lari cepat sekali. Cin Hai tidak mempedulikannya, bahkan menengoknya pun tidak oleh karena ia merasa gelisah sekali melihat betapa wajah Lin Lin menjadi agak kebiru-biruan.

Akan tetapi ternyata bahwa serangan racun itu hanya berlangsung sebentar saja dan tak lama kemudian Lin Lin telah siuman kembali. Cahaya merah kembali ke mukanya dan ia membuka matanya. Ketika ia melihat bahwa ia berada dalam pelukan Cin Hai, ia lalu merangkul leher pemuda itu dan terisak menangis.

“Lin-moi, mengapa kau melanggar pantanganmu?”

“Hai-ko, aku tidak ingat akan hal itu, aku terlalu kuatir melihat kau terancam bahaya sehingga aku terlupa bahwa aku tidak boleh berkuatir.”

Cin Hai tersenyum. “Jangan kuatir, Moi-moi. Biarpun harus kuakui bahwa Song Kun memang lihai, akan tetapi aku takkan kalah terhadapnya. Lihat sajalah kalau lain kali ia berani mengganggu kita lagi akan kuhabiskan nyawanya!”

“Dia di mana, Koko?”

Cin Hai hendak menceritakan apa yang telah terjadi, akan tetapi ia takut kalau-kalau Lin Lin akan merasa berkuatir mendengar betapa pemuda pesolek itu hendak mencari obat baginya dan hendak kembali menjemputnya kelak! Maka ia lalu menjawab, “Setelah aku berhasil membabat putus sabuk merahnya, agaknya ia menjadi jerih dan lalu melarikan diri.”

Lin Lin menarik napas lega dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa.

Pada suatu hari, seperti biasa, Ang I Niocu berjalan-jalan di depan gua-gua Tung-huang untuk memeriksa keadaan gua tempat harta pusaka itu tersembunyi, dan kali ini ia dikawani oleh Ma Hoa.

Tiba-tiba ia merasa terkejut sekali ketika melihat beberapa orang Mongol berkerumun di depan gua itu! Ia berseru,

“Ma Hoa, celaka, agaknya mereka telah menemukan tempat itu.”

Maka berlari-larilah Ang I Niocu dan Ma Hoa ke tempat itu dan ketika mereka tiba di situ, ternyata bahwa orang-orang itu dipimpin oleh Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, Bo Lang Hwesio, dan lain-lain perwira Mongol!

Melihat fihak lawan yang berat dan cukup banyak ini, Ang I Niocu tidak mau berlaku sembrono, karena ia menduga bahwa biarpun gua itu telah mereka temukan, akan tetapi belum tentu mereka dapat mencari tahu tentang rahasia pembuka lubang tempat penyimpanan harta pusaka. Ia lalu menarik tangan Ma Hoa dan diajaknya bersembunyi di balik sebuah gunung karang yang kecil dan mengintai dari situ.

Tak lama kemudian, dari jurusan lain datanglah serombongan orang yang bukan lain ialah rombongan perwira kerajaan yang dipimpin oleh Kam Hong Sin! Selain panglima yang lihai ini, tampak juga Ceng Tek Hosiang, Ceng To Tosu dan banyak perwira-perwira tinggi lainnya yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang.

Pihak Mongol yang melihat kedatangan para perwira kerajaan itu, lalu maju menyerbu dan terjadilah pertempuran hebat di depan gua rahasia, Ang I Niocu dan Ma Hoa memandang dengan penuh kekuatiran, karena dengan adanya dua fihak sama-sama menghendaki harta pusaka itu, maka keadaan lawan makin bertambah berat saja.

“Biar…” bisik Ang I Niocu sambil menggenggam tangan Ma Hoa, “biar mereka saling gempur hingga binasa seluruhnya!”

Pertempuran berjalan ramai sekali, karena kedua fihak sama kuat. Kam Hong Sin yang tangguh itu mendapat lawan berat, yaitu Thai Kek Losu, sedangkan Ceng To Tosu melawan Sian Kek Losu, dan Ceng Tek Hwesio melawan Bo Lang Hwesio! Sesungguhnya, di antara ketiga pasangan ini, fihak Mongol lebih kuat, akan tetapi oleh karena di fihak tentara kerajaan masih terdapat beberapa orang perwira yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mengeroyoknya, maka keadaan mereka menjadi seimbang.

Pada saat Ang I Niocu dan Ma Hoa sedang menonton dengan hati tegang, tiba-tiba datang rombongan lain dan ketika mereka memandang, mereka menjadi girang sekali, karena di dalam rombongan orang itu terdapat Bu Pun Su!

Akan tetapi, kegirangan mereka segera berubah menjadi keheranan dan kekuatiran karena ternyata bahwa yang datang bersama Bu Pun Su adalah seorang nenek bertelanjang kaki, seorang pendeta Mongol, seorang perwira Mongol, dan juga Hai Kong Hosiang! Melihat Hai Kong Hosiang yang jahat dan yang mereka benci ini berjalan bersama Bu Pun Su, sungguh membuat kedua orang gadis itu berdiri bengong saking herannya!

Melihat pertempuran hebat itu, Bu Pun Su lalu menghampiri mereka dan berseru keras, “Tahan pertempuran ini!”

Suaranya amat nyaring dan berpengaruh hingga Ang I Niocu dan Ma Hoa sendiri yang berdiri di tempat agak jauh juga terkena getaran suara dan terpengaruh oleh gema suara itu. Apalagi mereka yang sedang bertempur, mendengar suara ini mereka tak terasa lagi segera melompat mundur dan menahan senjata masing-masing. Mereka memandang kepada kakek itu dengan terheran-heran.

Thai Kek Losu dan kawan-kawannya yang melihat Balaki datang bersama kakek itu menjadi terkejut, akan tetapi sebelum mereka bertanya, Bu Pun Su telah mendahuluinya dengan ucapan yang halus,

“Kalian ini bertempur bukanlah memperebutkan harta pusaka yang tersimpan di dalam gua ini? Bodoh amat! Untuk apa bertempur mengadu jiwa hanya untuk setumpuk harta yang tidak berharga dan yang hanya mendatangkan kekacauan belaka?”

Biarpun sikap Bu Pun Su lemah lembut dan kelihatannya seperti seorang lemah, namun menyaksikan pengaruh yang keluar dari bentakannya tadi, baik pihak Mongol maupun pihak perwira kerajaan dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang berilmu tinggi.

“Kami yang mendapatkan tempat ini, akan tetapi perwira-perwira kerajaan hendak merampasnya dari kami!” kata Thai Kek Losu sebagai pembelaan diri.

“Tempat ini termasuk wilayah kerajaan, tak boleh orang lain memiliki harta pusaka itu selain Kaisar!” kata Kam Hong Sin dengan suara garang.

Bu Pun Su tersenyum dan menjawab, “Semua salah! Yang mendapatkan tempat ini bukan orang-orang Mongol dan yang berhak memiliki harta ini bukanlah Kaisar, karena harta ini berasal dari milik rakyat yang dirampok! Daripada bersitegang dan mencari kebenaran sendiri dengan berperang mengorbankan nyawa dengan sia-sia, lebih baik diatur begini saja. Kita mengajukan jago-jago untuk mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai, dialah yang berhak memiliki tempat ini!”

“Boleh, bolehl” kata Thai Kek Losu yang merasa bahwa pihaknya lebih banyak mempunyai orang-orang lihai. “Kita majukan tiga jago masing-masing, dan dari pihak kami, aku majukan tiga orang, yaitu aku sendiri, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.” Sambil berkata demikian, Thai Kek Losu menunjuk kepada Sian Kek Losu dan kepada Bo Lang Hwesio, akan tetapi ia merasa heran sekali melihat betapa Bo Lang Hwesio sedang memandang kepada Bu Pun Su dengan wajah pucat!

“Ia… ia adalah Bu Pun Su yang lihai…!” kata Bo Lang Hwesio dengan berbisik hingga Thai Kek Losu yang pernah mendengar nama ini pun menjadi gentar sekali.

“Kam Hong Sin, kau boleh majukan tiga orang jago-jagomu!” Thai Kek Losu menantang kepada perwira itu, akan tetapi Kam Hong Sin membentak marah.

“Aku tidak mau mentaati perintah siapa juga selain perintah dari Kaisar! Betapapun juga, tak boleh orang-orang menggunakan aturan sendiri seakan-akan di negara ini tidak ada pemerintah!”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Hai Kong Hosiang maju ke depan. “Tidak turut pun tidak apa! Pendeknya masing-masing fihak harus mengajukan paling banyak tiga orang jagonya. Fihakku hanya cukup mengajukan seorang jago saja! Ha-ha-ha! Yang tidak merasa gembira untuk ikut dalam pertandingan ini boleh mundur dan jangan mengganggu orang lain!”

Thai Kek Losu memberi isyarat dengan tangan kepada Balaki dan memanggil perwira Mongol itu untuk datang mendekat, akan tetapi Balaki tertawa mengejek saja tanpa mempedulikannya.

“Balaki, kau tidak menurut perintahku’?” teriak Thai Kek Losu dengan marah dan heran.

Balaki tertawa. “Siapa sudi menurut perintahmu? Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi denganmu!”

Thai Kek Losu dan kawan-kawannya tercengang mendengar ini. “Balaki, kau hendak menjadi pemberontak?”

“Tutup mulutmu!” bentak Hai Kong Hosiang dengan marah.

Pada saat itu, kembali muncul serombongan orang dan ternyata yang kini muncul adalah rombongan orang-orang Turki pengikut Pangeran Muda dan yang dikepalai oleh Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan ketiga saudara Kang-lam Sam-lojin, diikuti pula oleh beberapa orang perwira lain. Ternyata bahwa Siok Kwat Mo-li dan kawan-kawannya masih penasaran dan melanjutkan usaha mereka mencari harta pusaka itu sambil mengerahkan orang-orang Turki dan membohongi mereka dengan janji bahwa setelah harta pusaka bisa didapatkan, harta pusaka itu akan diberikan kepada mereka dan dibagi-bagi. Padahal di dalam hatinya, Siok Kwat Mo-li dan juga kawan-kawannya itu sama sekali tidak mempunyai niat untuk membagi harta pusaka itu kepada orang-orang Turki.

Melihat kedatangan mereka, Hai Kong Hosiang berkata sambil tertawa,

“Nah, sekarang lebih ramai lagi! Siok Kwat Mo-li, kau datang bersama orang-orang Turki ini hendak melakukan apakah?”

“Suheng, aku dan Lok Kun Tojin, juga kawan Wai Sauw Pu tadinya sengaja datang memenuhi undanganmu hendak membantu, akan tetapi oleh karena kami tidak dapat bertemu dengan kau, maka terpaksa kami mengambil jalan kami sendiri, dan dalam usaha kami itu ternyata bahwa kawan Wai Sauw Pu telah terbinasa dalam tangan pengikut Pangeran Tua dari Turki dan kawan-kawannya.”

“Dan sekarang, kau membawa orang-orang Turki ini dengan maksud apakah? Apa kalian juga hendak mencari harta pusaka itu? Kalau memang demikian kehendakmu, lebih baik kau pulang saja dan bawa kawan-kawanmu itu pergi dari sini, karena harta itu adalah bagianku dan kawan-kawanku, dan kau tidak boleh mengganggu!”

Mendengar ucapan suhengnya itu, Siok Kwat Mo-li merasa penasaran sekali karena dulu suhengnya minta pertolongan dan bantuannya untuk menghadapi lawan-lawannya dan juga untuk mencari harta pusaka itu dengan janji hendak dibagi-bagi, akan tetapi tidak tahunya sekarang suhengnya itu telah memilih kawan-kawan lain. Akan tetapi, oleh karena maklum akan kelihaian Hai Kong Hosiang, ia diam saja tidak berani membantah. Hanya Lok Kun Tojin yang merasa penasaran dan tentu saja ia tidak mau menerima dengan demikian saja. Ia lalu melompat maju menghadapi Hai Kong Hosiang dan membentak keras,

“Hai Kong! Aku mengingat akan persahabatan di kalangan kang-ouw telah ikut turun gunung dengan Sumoimu ini karena hendak membantumu dan sama-sama mencari pusaka berharga. Akan tetapi sekarang kedatangan kami tidak kauhargai, bahkan kau hendak mengusir kami. Kauanggap kami ini orang macam apakah? Apakah tanpa kau kami tak dapat mencari sendiri dan menggunakan kepandaian kami?”

“Ha-ha-ha! Lok Kun Tojin, jangan kau menyombong di depanku! Kalau kau hendak mencari harta pusaka itu, siapakah yang sudi melarangmu? Bahkan kuanjurkan agar supaya kalian ikut pula dalam pertandingan memperebutkan harta itu. Lihatlah, semua telah berkumpul dan kita semua telah bermufakat untuk mengajukan masing-masing tiga orang jago. Pihak Mongol telah mengajukan jago-jago mereka, yaitu Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio. Fihak kami mengajukan seorang jago, yaitu kakek jembel ini!” Ia menuding ke arah Bu Pun Su yang berdiri sambil menundukkan kepalanya. “Akan tetapi sayangnya fihak perwira kerajaan agaknya tidak berani mengajukan jago-jago mereka. Ha-ha-ha!”

“Hai Kong, jangan kau sombong'” teriak Kam Hong Sin dengan muka merah karena marahnya. “Hendak kulihat kalian ini pemberontak-pemberontak rendah hendak berbuat kurang ajar sampai seberapa jauhnya. Aku tidak sudi mengadakan segala macam perjanjian dengan kalian, dan hendak kulihat saja siapa yang akan berkeras mengambil harta pusaka itu, pasti akan kuhadapi dengan taruhan jiwaku sebagai seorang petugas setia dari Kaisar!”

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan berkata, “Kam Hong Sin, baru menjadi panglima besar Kaisar saja kau telah berkepala batu! Kalau saja aku tidak mengingat bahwa semua orang telah menyetujui untuk mengajukan jago-jago masing-masing, tentu akan kuhadapi sendiri orang macam kau! Akan tetapi biarlah aku bersabar dulu, dan kalau tidak mau ikut dalam pertandingan ini, biarlah kau menjadi penonton dan boleh kami anggap sebagai saksi! Ha-ha-ha!”

Sementara itu, Lok Kun Tojin dan Siok Kwat Mo-li berbisik-bisik mengadakan perundingan, akhirnya Lok Kun Tojin barkata, “Baik, kami ikut dalam pertandingan ini dan kami mengajukan tiga jago kami, yaitu Siok Kwat Mo-li, aku sendiri, dan Sahali.” Sambil berkata demikian ia menunjuk ke arah Siok Kwat Mo-li dan seorang Perwira Turki yang bertubuh pendek kecil dan berkulit hitam.

“Bagus, bagus! Sekarang akan menjadi ramai!” kata Hai Kong Hosiang sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu Bu Pun Su berpikir bahwa gara-gara Hai Kong Hosiang, maka kalau dilanjutkan, tentu akan terjadi pertandingan hebat dan hal ini tidak ia kehendaki, oleh karena tentu akan banyak terjatuh korban yang terluka hebat atau bahkan binasa. Maka ia segera berkata kepada semua orang dengan suara sembarangan,

“Aku tua bangka jembel hendak bicara dan kalian semua kalau akan menganggap bicaraku sebagai suatu kesombongan, apa boleh buat. Dengarlah baik-baik. Untuk menyingkat waktu, kupersilakan semua fihak maju seorang demi seorang dan menghadapi aku orang tua. Kalau sampai aku dirobohkan terluka maupun binasa, maka kuanggap bahwa pihakku kalah, dan tidak berhak lagi untuk mendapatkan harta benda itu!”

Tentu saja ucapan ini dianggap sombong sekali dan semua mata memandangnya dengan penasaran dan marah, kecuali Bo Lang Hwesio yang sudah cukup maklum akan kelihaian Bu Pun Su.

“Kakek tua! Alangkah sombongmu! Kau seorang diri hendak menghadapi jago-jago Mongol dan Turki sebanyak enam orang. Biarpun kau tangguh dan lihai, patutkah bagi seorang yang berkepandalan tinggi untuk bersikap sesombong ini?”

Juga Siok Kwat Mo-li yang marah sekali membentak, “Kakek yang mau mampus! Belum pernah selama hidupku mendengar bual seorang sesombong kau! Kau tidak memandang mata kepada kami sekalian!”

Memang, menurut kebiasaan di kalangan kang-ouw, orang-orang yang sudah tinggi kepandaiannya, biasanya merendahkan diri, karena mereka selalu berhati-hati menjaga kalau-kalau ia kena dijatuhkan orang lain hingga kesombongannya itu hanya akan menjatuhkan namanya belaka. Makin tinggi kepandaian seseorang, makin pendiam dan makin merendahkan dia. Oleh karena ini, ucapan Pun Su tadi tentu saja dianggap keterlaluan sekali dan merasa penasaran dan marah. Akan tetapi, mereka belum mengenal adat Bu Pun Su yang kukoai (ganjil), atau yang sudah pernah mengenalnya juga tidak mengetahui betul adatnya itu. Bu Pun Su tidak biasa menyombongkan kepandaiannya, baru nama yang dipilihnya saja, yaitu Bu Pun Su yang berarti Tiada Berkepandaian, sudah menunjukkan bahwa dia tidak suka akan segala macam nama kosong belaka. Kalau kali ini ia mengucapkan tantangan yang bersifat sombong, bukanlah semata timbul dari watak sombong, akan tetapi karena ia mengandung semacam maksud, yaitu hendak mencegah terjadinya pertumpahan darah hanya karena memperebutkan harta pusaka belaka!

Melihat kemarahan orang-orang itu, diam-diam Bu Pun Su menjadi gembira karena bahwa maksudnya berhasil baik, maka untuk menambah “minyak” agar api yang mulai membakar hati mereka itu menjadi makin berkobar dan agar persoalan itu cepat selesai, ia lalu menambahkan ucapannya tadi sambil tersenyum,

“Kalau kalian menganggap aku sombong, biarlah, kuakui bahwa aku memang sombong. Kesombonganku barusan itu masih belum seberapa hebat apabila dibandingkan dengan usulku yang berikut ini. Oleh karena dari pihak kami hanya maju seorang jago dan dari pihak Mongol maupun pihak Turki diajukan tiga orang jago, maka aku tantang kalian untuk maju berbareng, yaitu tiga orang sekaligus!”

Benar saja, ucapan ini membuat semua orang menjadi bengong dan untuk sejenak mereka tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya Thai Kei Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio maju berbareng dengan marah dan mereka ini memandang kepada Bu Pun Su dengan muka merah.

“Bu Pun Su! Aku mendengar namamu dari Bo Lang Hwesio dan sudah lama aku mendengar bahwa Bu Pun Su adalah seorang berilmu tinggi yang sakti dan yang patut disebut Lo-cianpwe (Orang Tua Gagah). Akan tetapi, tidak tahunya Bu Pun Su hanyalah seorang tua bangka yang sudah pikun dan yang menjadi gila dan sombong sekali! Baiklah, kau sendiri yang menantang untuk dikeroyok tiga, dan kalau kau tewas di tangan kami, janganlah merasa penasaran karena kau sendiri yang minta mati!”

Dimaki sehebat itu, Bu Pun Su hanya memandang dengan senyum simpul dan ia lalu menjawab,

“Baiklah, Robot. Kalau sampai aku Si Tua Bangka ini terbunuh mati di tangan kalian, tak usah kalian memasang meja sembahyang!”

Thai Kek Losu marah sekali dan sekali tangannya bergerak, maka ia telah mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu tengkorak anak-anak yang dipasang tali. Tengkorak itu diputar-putar hingga dalam pandangan banyak orang seperti kepala seorang anak kecil yang meringis dan suara angin yang masuk dan keluar dari lubang-lubang tengkorak itu terdengar seperti suara tangis. Semua orang bergidik dan merasa ngeri melihat kehebatan senjata ini, akan tetapi Bu Pun Su tersenyum dan berkata,

“Losu, mengapa bukan kepalamu sendiri yang kauikat itu?”

Sementara itu, Sian Kek Losu juga mengeluarkan senjatanya yang tak kalah lihainya, yaitu sebuah gendewa bertali, senjata yang jarang sekali dapat dimainkan oleh ahli silat, oleh karena memang amat sukar untuk mainkan senjata ini. Akan tetapi apabila orang telah dapat memainkan, senjata itu merupakan senjata yang amat sukar dilawan karena lihainya.

Juga Bo Lang Hwesio menarik keluar senjatanya yaitu sepasang poan-koan-pit yang berbentuk pensil bulu kecil saja, akan tetapi sepasang senjata ini merupakan penyambung tangan untuk melakukan serangan tiam-hoat (ilmu menotok jalan darah) kepada lawan dan kelihatan sepasang poan-koan-pit ini memang sudah amat ditakuti orang. Memang biasanya Bo Lang Hwesio jarang mempergunakan senjata dalam perkelahian, cukup dengan kedua tangannya ditambah ujung lengan bajunya saja, karena dengan ilmu pukulan tangan kosong saja memang sudah amat sukar mengalahkan dia. Akan tetapi sekarang ia maklum bahwa biarpun mengeroyok tiga, ia menghadapi seorang sakti yang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi, maka ia sengaja mengeluarkan senjatanya itu.

“Sudah siap?” tanya Bu Pun Su dengan tenang. “Nah, mari kita mulai!”

“Keluarkan senjatamu!” bentak Thai Kek Losu yang sebagai orang berilmu tinggi merasa segan untuk menyerang seorang yang bertangan kosong.

“Eh, Thai Kek Losu, bukalah matamu baik-baik. Bukankah aku sudah siap dengan empat buah senjataku ini?” sambil berkata demikian ia menggerak-gerakkan dua tangan dan dua kakinya. “Thian telah memberi senjata-senjata yang tiada bandingannya di dunia ini kepada kita, akan tetapi kalian masih saja menanyakan senjata, bukankah itu kurang berterima kasih kepada Thian namanya?” Bukan main mendongkolnya hati Thai Kek Losu mendengar ini. Ia anggap kakek jembel ini menghina sekali.

“Kau mencari mampus sendiri!” teriaknya dan tengkorak kecil di tangannya itu tiba-tiba menyambar ke arah muka Bu Pun Su dengan cepatnya. Akan tetapi baru saja tengkorak itu bergerak, tubuh Bu Pun Su sudah lebih dulu menyingkir sehingga serangannya mengenai angin saja. Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio juga maju menyerbu dan sebentar saja Bu Pun Su dihujani serangan-serangan kilat yang amat berbahaya dari tiga orang ahli dan tokoh besar itu.

Bu Pun Su maklum bahwa ketiga orang lawannya ini adalah orang-orang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya dan tidak boleh dilawan dengan sembrono, maka ia lalu mengerahkan ilmu kepandaiannya yang luar biasa dan menghadapi mereka dengan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut yang dimainkan secara luar biasa sekali. Kalau Cin Hai yang mainkan ilmu silat ini, maka hanya pada dua lengan tangannya saja mengebulkan uap putih, akan tetapi ketika Bu Pun Su yang mengerahkan tenaga dalamnya mainkan ilmu silat itu tidak hanya kedua lengannya bahkan seluruh tubuhnya mengebulkan uap putih yang melindungi tubuhnya hingga tiap kali senjata lawan mendekati tubuhnya dalam serangan yang dilakukan oleh lawan itu, maka senjatanya seakan-akan tertahan oleh semacam tenaga yang luar biasa kuatnya!

Ketiga orang pengeroyok itu menjadi terkejut dan kagum sekali karena selama hidup belum pernah mereka menghadapi seorang lawan yang demikian tangguhnya, yang dengan bertangan kosong sanggup menghadapi mereka bertiga dan kini ternyata dapat melawan senjata-senjata mereka dengan baiknya. Jangankan menghadapi, bahkan menyaksikan kepandaian yang seperti ini pun baru sekali ini mereka alami. Namun, sebagai tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi, mereka merasa malu apabila memperlihatkan ketakutan, maka mereka memperhebat serangan dan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga lweekang mereka juga sudah sampai di tingkat yang tinggi, maka biarpun beberapa kali senjata mereka kena terbentur dan terpental oleh hawa yang keluar dari gerakan kedua tangan Bu Pun Su, namun ada beberapa kali senjata mereka berhasil memecahkan pertahanan itu dan hanya berkat kelincahan dan ginkangnya yang luar biasa saja maka Bu Pun Su dapat terhindar daripada bahaya maut!

Kalau ia menghendaki, dengan sekali pukulan tangannya yang ampuh, Bu Pun Su akan sanggup menghancurkan tengkorak itu, akan tetapi oleh karena kakek yang sudah banyak pengalaman ini tahu bahwa di dalam tengkorak itu tersimpan senjata-senjata rahasia yang mengandung racun berbahaya hingga kalau tengkorak terpecah, biarpun ia tidak kuatir akan keselamatan dirinya sendiri akan tetapi takut kalau-kalau senjata rahasia itu akan menewaskan orang-orang lain di sekitar tempat itu, maka ia tidak berani memukulnya. Keraguan ini membuat Thai Kek Losu mendapat hati dan menyangka bahwa kakek jembel itu benar-benar merasa gentar terhadap senjatanya, maka ia memutar-mutar senjata lihai itu makin cepat mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Bu Pun Su!

Sedangkan senjata gendewa di tangan Sian Kek Losu menyambar-nyambar dari atas bagaikan seekor burung garuda yang menyerang kepala dan tubuh bagian atas. Gendewa itu berat dan menyambar dengan dorongan tenaga yang bukan main besarnya hingga biarpun Bu Pun Su sudah sangat lihai namun sekali saja terkena pukulan gendewa itu pada kepalanya, tentu ia akan mengalami celaka! Bo Lang Hwesio juga tidak kurang berbahaya. Sepasang poan-koan-pit di tangannya adalah senjata kecil yang dapat digerakkan cepat sekali mengarah jalan-jalan darah yang paling berbahaya dari tubuh kakek jembel itu. Melihat kelihaian ketiga orang lawannya, Bu Pun Su mengambil keputusan untuk bertindak cepat dan menyingkirkan lawan-lawan ini agar ia tidak membuang waktu terlalu banyak. Tiba-tiba ia berseru keras hingga ketiga orang lawannya itu menjadi terkejut karena jantung mereka tergetar oleh gema suara yang hebat ini. Pada saat itu, tengkorak di tangan Thai Kek Losu sedang melayang dan mengarah kepala Bu Pun Su, senjata gendewa Sian Kek Losu dengan gerakan yang hebat sekali menusuk ke arah ulu hatinya, sedangkan sepasang poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio menotok ke arah iganya! Akan tetapi, karena kekagetan tadi membuat mereka agak tercengang hingga gerakan mereka menjadi lambat, Bu Pun Su lalu memperlihatkan kelihaiannya yang benar-benar hebat dan sukar untuk dipercaya oleh mereka yang menyaksikannya! Kakek jembel itu tidak mengelak dari sambaran tengkorak ke arah kepalanya, bahkan ia lalu mengulur tangan kanan dan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk menjepit dan menggunting tali pengikat tengkorak itu hingga dengan mengeluarkan suara nyaring tali itu putus dan tengkorak itu telah berpindah ke dalam tangannya!

Pada saat itu, sepasang poan-koan-pit telah mencapai sasarannya dan tepat menotok bagian iga Bu Pun Su. Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya hati Bo Lang Hwesio ketika ia merasa betapa kedua poan-koan-pitnya itu mengenai tempat yang lunak, seakan-akan ia telah menusuk air saja! Ia cepat menarik kembali poan-koan-pit itu dan dengan mata terbelalak ia melihat betapa sepasang poan-koan-pitnya telah patah dua!

Gendewa di tangan Sian Kek Losu yang lebih berat itu paling akhir datangnya dan dengan kekuatan luar biasa menyambar ke arah ulu hati Bu Pun Su! Kakek jembel ini sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak, dan agaknya ulu hatinya pasti akan tertembus oleh ujung gendewa yang keras dan kuat itu! Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu meniup ke arah muka Sian Kek Losu dan ketika angin tiupan yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang hebat sekali itu menyambar mukanya, Sian Kek Losu merasa betapa kulit mukanya menjadi perih dan matanya tak dapat dibuka lagi ! Terpaksa ia memejamkan matanya dan karena terkejut dan sakit, gerakan tusukannya mengendur. Kesempatan ini digunakan oleh Bu Pun Su untuk menjatuhkan diri ke belakang dan berjungkir balik dengan kaki di atas dan kepala di bawah lalu berdiri lagi dan terlepaslah ia dari ancaman senjata gendewa itu. Sebelum Sian Kek Losu dapat membuka mata, Bu Pun Su melompat maju dan sekali ia mengebutkan tangan ke arah tengah-tengah gendewa itu patahlah gendewa di tangan Sian Kek Losu!

Bu Pun Su tidak berhenti sampai di situ saja dan sekali tubuhnya berkelebat ke arah tiga orang lawannya, mereka merasa tenaga yang besar menyambar ke arah dada, maka mereka terpaksa mengangkat tangan menangkis. Akan tetapi, dengan heran mereka melihat Bu Pun Su melompat mundur lagi sambil tertawa girang, sedangkan mereka tidak merasa mendapat pukulan.

Selagi tiga orang itu memandang heran, tiba-tiba Hai Kong Hosiang yang tadi berdiri bengong dan bergidik melihat demonstrasi kepandaian yang hebat itu, tertawa bergelak-gelak.

“Ha-ha-ha! Dengan mudah jago kami menjatuhkan ketiga jago dari Mongol! Thai Kek Losu, kau dan kawan-kawanmu telah kalah, maka kalian harus mundur dan memberi kesempatan kepada jago-jago lain untuk mencoba kepandaian mereka!”

Thai Kek Losu memandang dengan marah, “Kami memang telah kehilangan senjata, akan tetepi itu bukan berarti bahwa kami telah kalah, karena kami belum dirobohkan!”

Hai Kong Hosiang kembali tertawa bergelak. “Manusia goblok dan tidak tahu kebodohan sendiri! Kalian telah mendapat ampun dari jago kami, akan tetapi masih belum mengakui kebodohan sendiri? Lihatlah dadamu, Thai Kek Losu dan kalian juga, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio!”

Ketiga orang pendeta itu melihat ke arah dadanya, dan terkejutlah mereka oleh karena baju mereka pada bagian dada sebelah kiri ternyata telah berlubang! Mereka menjadi pucat dan bergidik oleh karena ternyata bahwa setelah membalas dengan satu kali serangan saja, kakek jembel itu telah berhasil membuat baju mereka berlubang dan kalau saja kakek itu menghendaki, maka untuk membunuh mereka bagi kakek itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan sendiri!

“Hebat, hebat!” Thai Kek Losu menarik napas panjang. “Bu Pun Su, kepandaianmu membuat aku merasa takluk dan aku mengaku kalah.” Setelah berkata demikian, Thai Kek Losu lalu memberi perintah kepada semua anak buahnya untuk mundur dan ia bersama kawan-kawannya lalu pergi dari situ.

“Thai Kek Losu, bawalah senjatamu ini dan jangan pergunakan lagi senjata itu karena akhirnya tentu akan mencelakakan dirimu sendiri!” teriak Bu Pun Su sambil melempar tengkorak itu ke arah Thai Kek Losu.

Thai Kek Losu mengulurkan tangan menyambut tengkorak kecil itu dan berkata sambil tersenyum, “Biarpun aku sudah kalah olehmu, namun kau tak berhak melarang aku mempergunakan senjata buatanku sendiri!” Setelah berkata demikian, dengan hati penuh dendam, Thai Kek Losu lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu. Ia telah merasa putus harapan oleh karena menghadapi kakek jembel itu ia tak berdaya dan percuma saja kalau ia hendak melanjutkan usaha mencari harta pusaka, maka ia lalu memimpin anak buahnya untuk kembali kepada Yagali Khan membuat laporan.

“Sekarang dipersilakan jago-jago Turki untuk memperlihatkan kepandaian,” kata Hai Kong Hosiang yang merasa girang sekali karena sebagaimana telah ia duga, dengan adanya Bu Pun Su di pihaknya, maka dengan amat mudah mereka mengalahkan pihak lawan yang hendak memperebutkan harta pusaka itu. Memang, biarpun tidak ada bantuan dari Bu Pun Su, belum tentu ia dan kawan-kawannya yang cukup lihai akan dapat dikalahkan oleh pihak lawan, akan tetapi hal itu merupakan hal yang belum pasti dan juga amat berbahaya.

Siok Kwat Mo-li, Lo Kun Tojin, dan Perwira Turki yang bernama Sahali itu, ikut merasa terkejut melihat kehebatan sepak terjang Bu Pun Su tadi, akan tetapi sebagai orang-orang berilmu tinggi, tentu saja mereka pun tidak sudi menyerah sebelum mencoba. Kini mendengar ucapan suhengnya yang telah menipunya, Siok Kwat Mo-li lalu mencabut keluar senjatanya yang lihai, yaitu sebatang tongkat hitam, diikuti oleh Lok Kun Tojin yang mengeluarkan sepasang rodanya dan Perwira Turki itu mengeluarkan sepasang golok (siang-to) yang tajam mengkilap.

“Bu Pun Su, jagalah serangan kami!” seru Siok Kwat Moli dengan keras sambil memutar-mutarkan tongkat hitamnya. “Majulah, majulah!” jawab Bu Pun Su tenang.

Sementara itu, Ang I Niocu dan Ma Hoa yang tadi bersembunyi dan mengintai, ketika menyaksikan pertandingan antara Bu Pun Su dan tiga orang jago tadi, saking tertariknya mereka telah keluar dari tempat persembunyian dan memandang penuh kekaguman, akan juga dengan keheranan besar mengapa Bu Pun Su bekerja sama, bahkan membela Hai Kong Hosiang yang jahat! Hal ini sungguh-sungguh membuat Ang I Niocu heran dan juga penasaran, akan tetapi ia memang sudah maklum akan adat aneh dari susiok-couwnya itu, maka ia hanya menonton dan tidak berani mengganggunya.

Sebetulnya, kalau mau dibuat pertandingan tentang ilmu kepandaian maka tingkat ilmu kepandaian jago-jago yang berdiri di pihak Turki ini dengan jago-jago Mongol yang telah dikalahkan tadi, mungkin masih lebih tinggi kepandaian jago-jago Turki ini karena di situ terdapat Siok Kwat Mo-li yang amat lihai sedangkan senjata Lok Kun Tojin yang merupakan sepasang roda itu amat berbahaya sekali. Juga Sahali bukanlah seorang lemah karena dia adalah jago yang sudah amat disegani di Turki dan merupakan tangan kanan Pangeran Muda. Maka mengingat akan kepandaian sendiri, ketiga orang ini tidak menjadi gentar bahkan mempunyai harapan untuk merobohkan Bu Pun Su dan mendapatkan harta pusaka yang belum pernah mereka lihat itu. Hasil penyelidikan mata-mata mereka membuat mereka tahu bahwa gua tempat harta pusaka disembunyikan itu telah didapatkan oleh orang-orang Mongol, maka mereka lalu menyerbu ke situ hingga secara kebetulan semua pihak dapat bertemu di depan gua di mana tersembunyi harta pusaka yang diperebutkan.

Bu Pun Su menghadapi ketiga orang lawannya yang baru ini dengan ketenangan yang amat mengagumkan. Dari gerakan-gerakan senjata ketiga lawannya yang mewakili pihak Turki ini, ia dapat memaklumi bahwa ilmu silat mereka ini tak kalah lihainya dari kepandaian ketiga lawan yang telah dikalahkan tadi, maka dia berlaku amat hati-hati.

Siok Kwat Mo-li adalah sumoi dari Hai Kong Hosiang yang jahat dan lihai, maka tongkat hitam di tangannya pun berbahaya sekali. Ketika ia membuat gerakan menyerang maka tongkat itu seakan-akan berubah menjadi banyak seperti ular-ular hidup berlenggak-lenggok menyambar ke arah tubuh Bu Pun Su. Ternyata bahwa seperti halnya Hai Kong Hosiang, ilmu tongkatnya berdasarkan ilmu tongkat Jeng-coa-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Seribu Ular yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya.

Lok Kun Tojin mempunyai sepasang senjata roda bertali yang jarang dapat dimainkan orang karena memang amat sukar untuk memainkan senjata macam itu, akan tetapi di tangan pendeta itu sepasang roda bertali merupakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya, yang menyambar-nyambar bagaikan mustika-mustika naga bermain-main di udara.

Perwira Turki bernama Sahali itu adalah tangan kanan Pangeran Muda dan ilmu golok sepasang yang dimainkannya ini hebat dan berbahaya. Ia mempunyai cara bertempur yang, aneh dan ilmu silatnya pasti akan membingungkan lawannya karena di Tiongkok tidak terdapat ilmu golok seperti itu, akan tetapi kini ia menghadapi Bu Pun Su yang mengenal ilmu silat bukan berdasarkan permainannya, akan tetapi berdasarkan gerakan kaki tangan yang bagaimanapun juga mempunyai dasar-dasar yang sama.

Sebagaimana diketahui, rombongan ini tadinya dibantu oleh Wai Sauw Pu yang lihai dan juga Kang-lam Sam-lojin. Akan tetapi Wai Sauw Pu telah tewas dalam tangan Ibrahim, sedangkan Kam-lam Sam-lojin yang merasa gentar menghadapi lawan-lawannya, telah melarikan diri dan kembali ke timur, lenyap nafsu mereka untuk ikut mencari harta pusaka itu karena maklum bahwa mereka akan menghadapi lawan-lawannya yang luar biasa tangguhnya. Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li dan Lok Kun Tojin yang berilmu tinggi, tidak putus harapan biarpun ditinggalkan oleh kawan-kawannya ini apalagi ketika dari pihak Turki yang mereka bantu itu datang pula Sahali yang lihai.

Tadi ketika Bu Pun Su dikeroyok tiga oleh Thai Kek Losu dan kawan-kawannya, Siok Kwat Mo-li telah melihat dengan penuh perhatian. Permainan silat Pek-in-hoat-sut yang hebat itu terlihat amat kuat menghadapi lawan dari depan maupun dari belakang, karena pergerakan kaki tangan secara otomatis berpindah-pindah dan tubuh kakek itu dengan mudah membalik ke belakang, tiap kali bahaya datang dari belakang. Dalam permainannya, seakan-akan kakek itu mempunyai empat mata, di depan dan di belakang! Dan Thai Kek Losu serta kawan-kawannya yang mengeroyok dari depan dan belakang menjadi tidak berdaya! Siok Kwat Mo-li yang cerdik itu dapat melihat hal ini dan kini ia telah mendapat cara untuk mengeroyok kakek jembel itu maka ia berbisik kepada dua kawannya, “Kalian menyerang dari kanan dan kirinya, sedangkan aku akan menghadapinya dari depan!”

Kini Bu Pun Su dikeroyok oleh lawan yang mempergunakan bentuk segitiga yaitu dari depan, kanan dan kiri, tidak menyerang dari belakang! Serangan yang dilakukan dari tiga jurusan ini jauh lebih berbahaya dari pada serangan yang dilakukan dari depan dan belakang, karena hanya datang dari dua jurusan, maka diam-diam ia merasa kagum dan memuji kecerdikan nenek bongkok itu. Memang benar, ketika dikeroyok dengan cara demikian, ia akan menderita lelah sekali karena kini ia harus membuat lebih banyak gerakan untuk menghadapi ketiga orang lawan itu.

Bu Pun Su adalah seorang sakti yang pada masa itu sukar dicari bandingannya, maka tentu saja tipu muslihat ini tak membuatnya menjadi bingung. Tiba-tiba ia berseru,

“Siok Kwat Mo-li, kau benar-benar cerdik. Akan tetapi aku Si Tua Bangka ini tidak mempunyai banyak waktu dan tenaga untuk melayani kalian bermain-main!” Setelah berkata demikian, Bu Pun Su mengambil sepotong gendewa yang telah patah dari Sian Kek Losu tadi yang kini panjangnya hanya tinggal satu kaki lebih. Biarpun benda itu hanya merupakan sepotong baja bengkok, akan tetapi setelah berada di tangan Bu Pun Su, merupakan sebuah senjata yang luar biasa ampuhnya. Kakek jembel ini berseru keras dan baja bengkok itu lalu menyambar hebat, merupakan gulungan sinar yang panjang dan dahsyat.

“Lepaskan senjata!” terdengar teriakan Bu Pun Su dari dalam gulungan sinar itu, sedangkan tubuh kakek itu sendiri lenyap ditelan gulungan sinar senjatanya yang diputar secara luar biasa itu. Terdengar suara logam beradu keras sekali dan segera disusul pekik kesakitan dan terkejut oleh tiga buah mulut pengeroyoknya. Sepasang golok di tangan Sahali terpental dan melayang ke atas sedangkan dua buah roda dari Lok Kun Tojin juga melayang ke kanan kiri karena talinya telah putus. Adapun Siok Kwat Moli yang memiliki lweekang lebih tinggi daripada kedua orang kawannya itu, masih dapat mempertahankan senjatanya hingga tidak terlepas dari tangannya walaupun kulit telapak tangannya serasa akan pecah. Namun ternyata bahwa tongkatnya tidak sekuat tangannya hingga ketika ia memandang, ternyata bahwa tongkatnya itu telah putus di tengah-tengah dan kini hanya merupakan sebatang tongkat yang amat pendek saja.

Ternyata bahwa tadi Bu Pun Su telah mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang dahsyat, yang disebutnya Gerakan Halilintar Menyambar Bumi. Kehebatan gerakan ini memang luar biasa hingga jangankan baru ada tiga orang lawap yang bersenjata, biarpun ada puluhan lawan agaknya takkan ada yang dapat mempertahankan sambarannya ini yang dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya!

Siok Kwat Mo-li dan dua orang kawannya berdiri bengung karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara kakek itu membuat senjata mereka terpental dan patah-patah. Akan tetapi, nenek bongkok itu menjadi marah sekali dan melihat Bu Pun Su berdiri di depannya dengan tenang, akan tetapi nyata bahwa kakek itu sedang mengatur kembali pernapasannya yang agak tersengal karena tadi ia telah mempergunakan tenaga sepenuhnya sedangkan usianya telah amat tua, maka sambil memekik keras Siok Kwat Mo-li lalu mengayun tangannya dan berhamburanlah jarum-jarum hitam ke tubuh Bu Pun Su!

Ang I Niocu dan Ma Hoa terkejut sekali melihat hal ini. Sebagai orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa pada saat itu Bu Pun Su sedang mengatur napas dan karenanya dilarang membuat gerakan-gerakan besar karena hal ini akan membahayakan keselamatannya. Ma Hoa dan Ang Niocu memang amat tertarik melihat pertandingan ke dua yang lebih hebat itu, maka tak terasa pula mereka telah mendekat, dan bahkan Ma Hoa telah berdiri dekat Bu Pun Su, sedangkan Ang I Niocu yang masih merasa takut-takut kepada Bu Pun Su, berdiri agak jauh.

Ma Hoa melihat keadaan Bu Pun Su yang berbahaya itu, lalu melompat dengan sepasang bambu runcingnya di tangan. Ia melompat di depan Bu Pun Su dan cepat sekali ia memutar-mutar dua batang bambu runcing itu menangkis jarum-jarum hitam hingga semua jarum dapat dipukul runtuh ke atas tanah.

“Eh, anak lancang, lekas kau mundur, Im Giok! Jangan perbolehkan kawanmu ini maju!” kata Bu Pun Su dengan suara perlahan, akan tetapi berpengaruh hingga Ma Hoa menjadi terkejut dan segera melompat kembali ke dekat Ang I Niocu.

Bu Pun Su memandang kepada Siok Kwat Mo-li dan tersenyum. “Kalau kau masih merasa penasaran, kau boleh menyerang lagi dengan jarum-jarummu!”

Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li yang melihat betapa Ma Hoa dan Ang I Niocu yang telah ia kenal kelihaiannya itu berdiri di situ dan agaknya akan membantu pula kepada Bu Pun Su, merasa bahwa perlawanan dari pihaknya takkan ada gunanya, maka ia memandang dengan mata penuh mengandung kebencian ke arah Ma Hoa, kemudian tanpa berkata sesuatu ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi, diikuti oleh kawan-kawannya dan semua anak buah Turki.

Makin sunyilah keadaan di situ sekarang dan hanya tinggal Kam Hong Sin seorang bersama anak buahnya yang masih berdiri di tempat semula. Kam Hong Sin menyaksikan semua pertandingan itu dan diam-diam ia pun amat kagum terhadap Bu Pun Su. Ia maklum bahwa kepandaiannya sendiri belum ada sepersepuluh bagian kepandaian kakek itu, akan tetapi Kam Hong Sin terkenal sebagai seorang panglima gagah yang pantang mundur dalam melakukan tugasnya. Sebelum ia dikalahkan, betapapun juga ia tilak mau mengalah begitu saja. Maka ia segera melangkah maju dan menjura kepada Bu Pun Su.

“Locianpwe, sungguh hebat kepandaianmu dan selama hidupku baru kali ini aku melihat kesaktian sedemikian hebatnya. Akan tetapi, sebagai seorang utusan Kaisar yang berkuasa, aku melarangmu mengambil harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan itu!”

Bu Pun Su tersenyum dan dalam hatinya ia mengagumi dan memuji sikap yang gagah berani dari perwira ini.

“Dan bagaimana kalau aku tetap hendak mengambil harta pusaka itu?” tanyanya dengan tenang.

“Terpaksa aku harus menangkap dan menawanmu untuk dibawa ke kota raja!” Terdengar suara tertawa riuh rendah dan ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan perwira serta pendeta Mongol yang menjadi kawan-kawannya. Hai Kong Hosiang berkata kepada Balaki, perwira Mongol yang kini menjadi kawannya itu.

“Balaki, kaulihat bagaimana sombongnya perwira yang masih kanak-kanak itu, ha, ha, ha!”

Tiba-tiba Bu Pun Su berpaling kepada mereka dan membentak, “Diam! Perwira ini lebih gagah dan jantan daripada kalian semua, mengapa mentertawakannya?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: