Pendekar Bodoh ~ Jilid 34

Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya tercengang mendengar bentakan ini karena mereka benar-benar tak menyangka bahwa Bu Pun Su akan menjadi demikian marah. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya dalam hatinya Bu Pun Su merasa segan untuk melawan perwira yang gagah perkasa dan yang setia akan tugasnya ini.

“Kam-ciangkun,” kata kakek itu kemudian, “lebih baik Ciangkun kali ini mengalah saja dan kembali ke Kota Raja. Biariah lain kali kalau ada ketika, aku orang tua akan datang menyatakan maaf.”

“Tak mungkin, Locianpwe. Tugas kewajiban harus dilaksanakan, biarpun aku mempertaruhkan jiwaku. Kalau Locianpwe hendak melanjutkan usaha mengambil harta pusaka itu, betapapun juga terpaksa aku harus turun tangan dan menangkapmu.”

“Hm, kalau begitu, silakan kau maju dan menangkapku kalau kau sanggup, Ciangkun, dan bukalah matamu baik-baik agar kau tidak melewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia!”

Kam Hong Sin tak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi ia tidak merasa gentar dan ketika Bu Pun Su menantangnya untuk menangkap, ia lalu mempergunakan ilmu tangkapan tangan yang dulu ia pernah pelajari dari seorang perantau dari seberang laut timur. Perantau itu datang dari seberang timur dan dalam perantauannya ke daratan Tiongkok, ia telah bertemu dengan Kam Hong Sin dan memberinya pelajaran silat yang sifatnya seperti Sin-na-hwat. Oleh karena itu, ia memiliki kepandaian yang luar biasa dan sekali ia dapat menangkap kedua lengan orang, maka sukarlah bagi orang itu untuk melepaskan dirinya lagi!

Ketika Kam Hong Sin melangkah maju hendak menangkapnya, Bu Pun Su hanya berdiri tersenyum dan bahkan mengulurkan kedua lengannya untuk ditangkap! Kam Hong Sin merasa heran dan segera ia menyambar kedua lengan itu untuk terus diputar ke belakang tubuh Bu Pun Su dalam pegangan yang kuat sekali! Gerakan ini demikian cepat hingga tahu-tahu kedua lengan tangan kakek itu telah ditekuk ke belakang punggung dan ikatan belenggu besi pun takkan lebih kuat dan meyakinkan daripada pegangan ini.

“Ciangkun, perhatikan baik-baik!” kata Bu Pun Su.

Kam Hong Sin maklum bahwa tentu kakek itu akan mempergunakan ilmunya untuk melepaskan diri, maka cepat-cepat ia lalu mempererat pegangannya dan menekuk kedua lengan kakek itu makin tinggi di atas punggungnya! Bu Pun Su mengangkat sebelah kakinya ditendangkan ke belakang dengan perlahan hingga Kam Hong Sin yang berdiri di belakangnya itu tentu saja harus mengelak dari tendangan yang mengarah ke bagian berbahaya dari tubuhnya. Ia miringkan tubuh dan mengganti kedudukan kakinya dan saat inilah yang digunakan oleh Bu Pun Su untuk melepaskan diri. Ketika Kam Hong Sin mengangkat kaki untuk membuat perobahan posisi kakinya, tiba-tiba Bu Pun Su membungkuk dan sekali Bu Pun Su berseru keras maka tubuh Kam Hong Sin itu terpelanting melewati kepala Bu Pun Su hingga jatuh tunggang langgang!

Sampai tiga kali Kam Hong Sin mencoba menangkap Bu Pun Su dengan mengeluarkan berbagai ilmu menangkap, akan tetapi selalu akibatnya terpelanting dan terbanting jatuh di depan kakek itu. Dan anehnya, ketika terbanting itu, Kam Hong Sin tidak merasa sakit karena tidak terbanting keras dan tiap kali melakukan gerakan untuk melepaskan diri dari tangkapan, Bu Pun Su sengaja berlaku lambat hingga Kam Hong Sin dapat mengikuti gerakannya dan dapat memahami ilmu gerakan itu hingga seakan-akan mereka bukan sedang bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi hanya merupakan latihan saja, yaitu Kam Hong Sin mendapat latihan tiga macam ilmu gerakan yang hebat dari Bu Pun Su!

“Terima kasih atas pengajaran Locianpwe. Saya mengaku kalah dan biarlah kekalahan ini kulaporkan ke Kota Raja” Setelah berkata demikian, Kam Hong Sin lalu memimpin anak buahnya untuk kembali ke timur, memberi laporan tentang gagalnya tugas yang dijalankannya! Walaupun ia merasa penasaran dan kecewa, namun diam-diam ia merasa girang karena menerima pelajaran tipu gerakan yang lihai dari kakek sakti itu!

Hai Kong Hosiang tertawa dan sambil menuding ke arah Ang I Niocu dan Ma Hoa, ia berkata keras, “Kalian apakah hendak merebut harta pusaka pula? Kalau demikian halnya, boleh kalian maju melawan jago kami. Ha, ha, ha,”

Biarpun merasa gemas dan marah, akan tetapi Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani berlaku sembrono di depan Bu Pun Su. Mereka hanya berdiri bingung dan memandang ke arah kakek itu. Ketika Bu Pun Su berpaling kepada mereka, Ang I Niocu segera menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi, Bu Pun Su dengan mengerutkan keningnya, membuat gerakan dengan tangan mengusir mereka dan berkata, “Pergilah, pergilah…”

Ang I Niocu dan Ma Hoa tak berani membantah dan terpaksa mereka pergi dari situ tanpa berani bertanya apa-apa lagi. Mereka cepat pulang ke rumah Yousuf untuk menceritakan peristiwa mengherankan ini kepada Nelayan Cengeng dan Yousuf.

Sementara itu, setelah berhasil mengusir semua pihak yang hendak mencari harta pusaka itu, Bu Pun Su lalu membawa kawan-kawannya masuk ke dalam gua itu.

“Inilah gua penyimpanan harta-pusaka itu.” katanya.

“Bu Pun Su, kau berjanji untuk mendapatkan harta pusaka itu, bukan hanya guanya,” kata Hai Kong Hosiang dengan senyum menyeringai.

“Kita harus mencari rahasianya,” keluh kakek jembel itu yang segera mencari-cari. Ia adalah seorang yang sudah mempunyai pengalaman luas, maka biarpun tanpa bantuan peta, ia dapat menduga bahwa patung yang berdiri di dekat dinding itu tentu bukan sengaja dipasang di situ, karena biasanya patung Buddha itu selalu dipasang ditengah dan di tempat yang khusus untuk menjadi pujaan. Maka ia lalu menggerak-gerakkan patung itu dan benar saja, terdengar bunyi di bagian atas dan tampaklah lubang tempat persembunyian harta itu. Bu Pun Su lalu menggerakkan tubuhnya dan memasuki lubang kecil itu sebagaimana dilakukan oleh Cin Hai dahulu. Tak lama kemudian, ia turun kembali dan berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio,

“Harta ada di dalam sana, kalian boleh mengambilnya dan sekarang keluarkanlah obat untuk muridku itu!”

“Obat itu tidak ada padaku,” jawab Hai Kong Hosiang.

Bu Pun Su memandang dengan mata bersinar-sinar hingga Hai Kong Hosiang menjadi takut dan mundur dua langkah.

“Aku tidak membohongimu, Bu Pun Su. Obat itu memang ada, yaitu dalam tangan dukun tua dari Mongol yang juga sudah kami ajak ke tempat ini dan kami sembunyikan di dalam sebuah tempat rahasia di dalam hutan.”

“Bawa dulu aku ke sana untuk mengambil obat, setelah itu kauserahkan kepadaku, barulah kalian boleh mengambil harta ini!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su lalu menggerakkan kembali patung itu hingga lubang tadi tetutup kembali.

“Benarkah harta itu berada di tempat itu?” tanya Wi Wi Toanio kepada Bu Pun Su.

“Wi Wi, aku adalah seorang laki-laki sejati. Pernahkah aku membohong?” Bu Pun Su mendongkol sekali dan ia kembali menggerakkan patung untuk membuka “Lihatlah sendiri, perempuan curang!”

Wi Wi Toanio tertawa menjemukan lalu melompat ke atas dan memasuki lubang itu. Sampai lama ia tidak keluar hingga Hai Kong Hosiang terpaksa berseru memanggilnya. Akhirnya kepala perempuan itu muncul kembali dan sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan seorang yang merasa girang sekali.

“Aduh, bukan main hebatnya!” katanya hingga ucapan yang pendek itu cukup menyakinkan hati Hai Kong Hosiang, Balaki dan kawan-kawannya.

Bu Pun Su menutup kembali lubang itu dan berkata, “Hayo cepat antar aku ke dukun itu untuk mengambil obatnya!”

Mereka lalu membawa Bu Pun Su ke dalam sebuah hutan di luar kota, di mana terdapat sebuah pondok yang terjaga oleh beberapa orang Mongol kawan-kawan Balaki, dan ketika mereka datang para penjaga lalu menyambut mereka dengan muka pucat.

“Celaka, baru saja ada seorang muda yang mengacau di sini. Kami semua tidak berdaya terhadapnya, karena ia lihai sekali!”

Hai kong Hosiang dan kawan-kawannya, juga Bu Pun Su menjadi terkejut sekali dan mereka segera memburu ke dalam pondok. Dukun tua yang kurus itu duduk di atas bangku sambil menundukkan kepala seperti orang yang mengantuk.

“Muhambi, apakah yang terjadi?” teriak Hai Kong Hosiang dengan kuatir.

“Tidak ada apa-apa, hanya seorang pemuda yang memaksaku menyerahkan obat penolak racun dari kembang semut merah itu.”

Hai Kong Hosiang menjadi pucat. “Celaka! Justru obat itulah yang kami butuhkan! Siapa orangnya yang berani merampasnya?”

“Entahlah,” jawab Mahambi, dukun itu. “Seorang pemuda tampan yang mengaku bernama Song Kun!”

Mendengar ini, Bu Pun Su menjadi pucat dan ia segera berkata, “Wi Wi, dan kau Hai Kong! Aku memenuhi janjiku mengusir semua lawan dan mendapatkan tempat disimpannya harta pusaka, akan tetapi ternyata kalian tidak dapat memenuhi janjimu!”

“Sabar dulu, Bu Pun Su,” kata Hai Kong Hosiang yang segera ia memegang pundak dukun itu sambil mengancam, “Buatkan lagi obat itu untuk kami!”

Mahambi menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah penuh uban. “Harus menanti berkembangnya kembang semut merah itu kira-kira setengah tahun lagi.”

“Aku pergi!” kata Bu Pun Su. “Jangan harap kalian akan dapat membawa harta pusaka itu!” Setelah berkata demikian, kakek itu melompat keluar pondok dan lenyap.

Cin Hai dan Lin Lin yang melakukan perjalanan dengan perlahan dan seenaknya, akhirnya sampai pula di luar batas kota Lan-couw dan mereka lalu berhenti dan beristirahat dalam sebuah gua di luar hutan.

“Mudah-mudahan Suhu akan berhasil mendapatkan obat itu secepatnya agar hatiku tidak menjadi gelisah sekali,” kata Cin Hai.

“Hai-ko, jangan kau gelisah. Suhu pasti akan bisa mendapatkan obat itu dan andaikata Suhu gagal, aku pun masih tetap percaya bahwa akhirnya kau akan berhasil menolongku,” kata Lin Lin dengan mata memandang mesra dan penuh kepercayaan.

Tiga ekor burung sakti, Yaitu Sin-kong-ciak, Kim-tiauw dan Ang-siang-kiam Si burung bangau, melihat kedua orang itu berhenti di dalam gua, lalu melayang turun dan mengeluarkan suara seakan-akan mereka merasa kecewa, karena tempat itu memang kurang menyenangkan bagi mereka. Tempat itu merupakan tanah tak berumput, penuh gunung batu karang dan banyak pula gua-gua besar di situ, dengan batu-batu karang bergantungan dari atas merupakan pedang tajam dan di dalam gua pun lantainya dari batu karang yang menyakitkan kaki bila menginjaknya.

Akan tetapi oleh karena panas terik matahari membakar tempat yang gundul tak berpohon itu, maka gua di mana mereka berteduh merupakan tempat yang enak dan melindungi mereka dari serangan matahari yang panas.

“Lin-moi,” kata Cin Hai sambil membelai kepala Sin-kong-ciak yang mendekatinya, “Kalau kita sudah beristirahat dan menghilangkan lelah, kita harus melanjutkan perjalanan memasuki kota Lan-couw. Betapapun juga, aku merasa amat gelisah mengingat akan nasib Suhu yang berada dalam pengaruh dan kekuasaan orang-orang jahat seperti Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya.”

“Tenangkanlah hatimu, Hai-ko. Suhu bukan sembarangan orang yang akan mudah dicelakai oleh orang-orang macam Hai Kong itu. Aku yakin sepenuh hatiku bahwa Suhu pasti akan tiba dengan segera membawa obat itu.”

Tiba-tiba Sin-kong-ciak dan kedua burung yang lain itu berteriak keras dan ketiga-tiganya lalu terbang keluar gua sambil memekik-mekik marah. Cin Hai melompat keluar, diikuti oleh Lin Lin.

Mereka terkejut sekali karena melihat bahwa yang datang itu adalah Song Kun! Ketiga burung itu telah mengenal Song Kun dan telah mengetahui kelihaiannya, maka mereka hanya terbang rendah sambil mengeluarkan suara teriakan seakan-akan memberi tanda kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya bersiap menghadapi lawan.

“Obat sudah didapatkan!” teriak Song Kun dengan wajah berseri. “Cin Hai, adikku yang baik. Sekarang akulah yang berhak membawa gadis ini, karena jiwanya berada dalam tangan tanganku. Aku telah mendapatkan obat itu dan akulah pula yang berhak mendapatkannya karena hanya aku yang dapat menyembuhkannya!”

Cin Hai menjadi pucat dan ia memandang penuh ketidakpercayaan.

“Kau tidak percaya?” kata Song Kun sambil tersenyum dan melirik ke arah Lin Lin. “Inilah obat itu!” Ia mengeluarkan sebotol obat warna merah dari saku bajunya dan mengangkat tinggi-tinggi.

“Song Kun! Betulkah bicaramu itu?” tanya Cin Hai dengan hati berdebar.

“Kauanggap aku ini orang apakah maka bicaraku harus diragukan lagi? Dengar, Sute. Obat untuk menyembuhkan Lin Lin hanyalah sebotol ini yang berada di tangan dukun Mongol. Obat inilah yang seharusnya diberikan kepada orang yang berhasil mendapatkan harta pusaka untuk rombongan yang dikepalai Hai Kong Hosiang, demikian menurut dukun Mongol itu. Akan tetapi dengan berkeras, aku berhasil merampas botol ini, dan segera aku mencari kalian untuk mengobati Lin Lin. Akan tetapi, aku baru memberi obat ini kepada Lin Lin kalau ia mau berjanji untuk menjadi isteriku yang tercinta.” Song Kun berkata demikian sambil mempermain-mainkan botol itu di tangannya dan mengerling ke arah Lin Lin yang menjadi merah mukanya.

“Suheng!” teriak Cin Hai yang merasa girang dan juga kaget. Girang karana ada harapan bagi Lin Lin untuk sembuh kembali akan tetapi, kaget mendengar permintaan dan syarat Song Kun itu.

“Kautolonglah Lin Lin dan berikan obat itu kepadanya. Kesembuhannya merupakan hal yang terpenting bagiku dan biarpun kau menghendaki jiwaku, akan kuberikan dengan rela asalkan kau suka menyembuhkan Lin Lin. Akan tetapi, jangan kau memaksanya menjadi isterimu kalau ia tidak suka.”

Song Kun tertawa bergelak, “Sute, kau membolak-balik omonganmu sendiri. Kau tidak ingin melihat tunanganmu itu meninggal dan juga tidak ingin melihat ia menjadi isteri orang lain! Cin Hai, apakah kau benar-benar mencinta kepadanya?”

“Tak perlu kau bertanya lagi. Aku rela mengorbankan nyawa untuknya.”

“Kalau benar cintamu itu murni, kau tentu tidak keberatan untuk mengalah padaku. Pilih saja, membiarkan ia sembuh sama sekali dan menjadi isteriku, atau obat ini akan kubuang dan membiarkan ia mati.” Sambil berkata demikian, Song Kun membuat gerakan seolah-olah ia benar-benar hendak melempar botol itu ke dalam jurang batu karang! Cin Hai menjadi bingung karena ia maklum bahwa seorang macam Song Kun itu bukan hanya pandai menggertak saja, akan tetapi dapat melakukan segala perbuatan yang keji.

“Jangan buang botol itu, Suheng! Tentu saja aku lebih suka melihat Lin Lin sembuh kembali!”

“Dan menjadi isteriku?” tanya Song Kun.

“Soal itu.terserah kepadanya,” jawab Cin Hai tanpa berani memandang muka kekasihnya.

Lin Lin semenjak tadi mendengarkan percakapan mereka itu dengan hati panas, akhirnya tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Ia melompat berdiri dan mencabut pedang pendeknya.

“Song Kun manusia berbatin rendah! Aku lebih baik seribu kali mati dari pada menjadi isterimu. Buanglah botol itu! Kaukira aku takut mati?” Sambil berkata demikian, dengan kemarahan besar gadis itu lalu menerjang Song Kun dengan pedang pendeknya dalam serangan yang hebat. Song Kun cepat menyimpan botol itu kembali ke dalam saku bajunya dan segera mencabut pedangnya Ang-ho-sian-kiam untuk menghadapi serangan Lin Lin yang tak boleh dipandang ringan itu.

Melihat betapa kekasihnya menjadi nekat, Cin Hai lalu mencabut keluar pedang Liong-cu-kiam dan menerjang sambil berseru,

“Song Kun, jangan kaulawan dia yang masih lemah. Akulah lawanmu!” Dengan tikaman hebat ia menyerang yang segera ditangkis oleh Song Kun. Lin Lin tetap menyerang dan membantu kekasihnya, akan tetapi Cin Hai yang berkuatir melihat kelemahan Lin Lin segera berkata kepadanya,

“Lin-moi mundurlah dan biarkan aku menghadapi iblis ini! Aku telah yakin akan perasaan hatimu dan jangan kau kuatir. Kalau perlu, kita akan mati bersama!”

Lin Lin melompat mundur dan membiarkan kekasihnya menghadapi lawan yang terlampau tangguh baginya itu, apa lagi karena ia memang merasa pening dan lemah. Ia berdiri saja memandang dan menyaksikan pertempuran yang berjalan hebat itu. Sekali lagi kedua orang muda yang lihai itu mengadu kepandaian di antara batu-batu karang yang menjulang tinggi, disaksikan oleh Lin Lin dan tiga ekor burung sakti yang hanya beterbangan di atas dan kadang-kadang saja menyambar turun untuk membantu. Akan tetapi, sinar pedang Ang-ho-sian-kiam yang hebat dan mengeluarkan hawa panas itu membuat mereka tidak tahan mendekati Song Kun dan terpaksa hanya beterbangan di atas mereka yang sedang bertempur sambil mengeluarkan pekikan-pekikan nyaring.

Karena hatinya telah bulat untuk merobohkan Song Kun yang dibencinya ini, Cin Hai mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya, hingga ia dapat mendesak Song Kun setelah mereka bertempur selama puluhan jurus dengan hebat. Diam-diam Song Kun merasa terkejut sekali karena kini ia mendapat kenyataan bahwa betul-betul pengertian tentang dasar-dasar ilmu silat membuat Cin Hai menjadi lihai sekali dan dapat mengembalikan setiap serangannya bagaimana lihai pun. Juga pedang Liong-cu-kiam di tangan Cin Hai merupakan senjata ampuh yang dapat mengimbangi kehebatan Ang-ho-sian-kiam yang tadinya merupakan pedang tunggal yang jarang menemukan tandingannya.

Song Kun adalah seorang yang tidak saja pandai dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi ia juga cerdik dan memiliki sifat curang. Melihat kehebatan sepak terjang Cin Hai, tiba-tiba ia menarik keluar botol obat itu dan membuat gerakan seakan-akan hendak melempar obat itu ke jurang. Gerakan ini tentu saja membuat Cin Hai menjadi pucat, karena betapapun juga, ia tidak ingin melihat obat tunggal itu dibuang hingga jiwa Lin Lin takkan tertolong lagi. Ia menggigil kalau memikirkan bahwa kekasihnya itu akan mati karena racun tanpa dapat ditolong lagi. Botol obat di tangan Song Kun itu nampak olehnya seakan-akan nyawa Lin Lin, maka gerakan Song Kun itu tak dapat tiada membuat ia memekik tanpa terasa lagi,

“Jangan lempar botol itu!”

Tentu saja pikiran yang bingung itu membuat gerakan pedangnya menjadi kacau dan pada saat yang tepat, pedang Ang-ho-sian-kiam di tangan Song Kun menyerang seperti kilat dan menusuk ke arah matanya! Cin Hai cepat menundukkan kepala, akan tetapi gerakan itu terlalu cepat cepat hingga ujung pedang masih menggores kulit jidatnya! Darah mengucur dari kulit itu, terus mengalir turun di sepanjang hidung dan pipinya. Cin Hai menggunakan lengan baju tangan kiri mengusap mukanya dan pada saat itu kembali pedang Song Kun meluncur dalam serangan yang dahsyat, yaitu dengan bacokan ke arah lehernya!

Serangan ini datangnya tak tersangka-sangka, karena rasa perih pada jidatnya membuat Cin Hai kurang dapat memperhatikan pergerakan lawan, maka cepat ia lalu menjatuhkan diri ke belakang untuk berjungkir balik dan menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi kembali ujung pedang Song Kun masih berhasil melukai kulit pundak kirinya! Darah mengucur lagi dan kini lebih banyak karena sedikit daging di bahunya ikut terpapas oleh pedang yang tajam itu!

Melihat hal ini, tak tertahan pula Lin Lin menjerit dan roboh pingsan karena kembali kekuatiran telah membuat jantungnya terserang racun di tubuhnya!

Melihat keadaan kekasihnya, timbullah kemarahan besar di hati Cin Hai. Ia menjadi nekat dan maklum bahwa menghadapi seorang yang tangguh dan kejam semacam Song Kun, ia tidak boleh merasa kuatir karena betapapun juga, tentu Song Kun takkan mau memberikan obat itu kepadanya. Maka ia lalu menggigit bibirnya dan mempererat pegangan tangan pada pedangnya lalu membentak,

“Song Kun, kalau bukan kau, tentu aku yang akan menggeletak tak bernyawa di tempat ini!”

Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu mengirim serangan-serangan balasan kilat yang luar biasa hebatnya, karena ia telah mengerahkan seluruh kepandaian dan kecepatannya dan menyerang dengan maksud merobohkan dan membunuh lawannya ini. Memang gerakan serangan Cin Hai ini terjadi dengan otomatis. Dalam keadaan sabar, gerakannya menjadi tenang dan kuat, dan dalam keadaan marah dan menggelora, maka kini gerakan pedangnya menjadi berubah ganas seakan-akan seorang iblis mengamuk! Setiap gerakan pedang merupakan tusukan, tikaman, atau sabetan yang dapat membawa maut!

Song Kun terkejut sekali. Ia berseru sambil menangkis serangan Cin Hai, “Mundur, kalau tidak, benar-benar obat ini hendak kulempar ke jurang,”

Akan tetapi, Cin Hai telah menjadi gelap mata dan tidak mau memikirkan lain hal kecuali merobohkan lawan yang dibencinya ini. Ia tidak menjawab, bahkan memperhebat desakannya. Song Kun terpaksa melayani dengan sungguh hati, karena benar berbahaya baginya.

“Benar-benar kulemparkan botol ini!” teriaknya mencoba sekali lagi, akan tetapi kini Cin Hai tak dapat digertak lagi. Song Kun menjadi gemas dan ia melompat ke belakang, agak jauh dari Cin Hai. Dengan napas memburu karena menahan marahnya Cin Hai mengejar, akan tetapi ia melihat Song Kun benar-benar melemparkan botol itu ke dalam jurang!

Melihat hal ini, mau tidak mau Cin Hai merasa betapa hatinya menjadi perih seakan-akan melihat Lin Lin meninggal dunia pada saat itu! Ia memekik keras dan ngeri sambil melihat arah botol itu dilemparkan.

Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam jurang itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bu Pun Su telah berdiri di situ dengan botol tadi diangkat tinggi-tinggi.

“Ha, akhirnya obat ini terdapat juga olehku!” katanya girang.

Bukan main girangnya hati Cin Hai melihat ini sehingga tak terasa pula air matanya mengalir turun, bercampuran dengan darahnya yang tadi mengucur keluar dari luka di jidatnya.

Sementara itu, Song Kun menjadi marah sekali.

“Tua bangka!” ia memaki supeknya. “Kau selalu memusuhi aku dan membela muridmu! Majulah dan mari kita mengadu jiwa di sini!”

Bu Pun Su hanya tersenyum dengan tenang. “Aku tidak sudi mengotorkan tanganku. Cin Hai, kaulawanlah dia!”

Cin Hai yang merasa beruntung sekali seakan-akan melihat Lin Lin bangkit kembali dari alam baka itu, segera memutar pedangnya dan berkata,

“Suhu, teecu mohon ijin dan restu untuk mengakhiri hidup manusia iblis ini!”

“Memang kejahatan harus dibalas dengan keadilan, dan orang macam dia ini sudah pantas kalau dibasmi. Laksanakanlah tugasmu menjadi wakil mendiang Susiokmu dan juga wakilku!” kata Bu Pun Su yang berdiri dengan tegak dan wajahnya nampak bersungguh-sungguh.

Cin Hai lalu maju menyerang dan terjadilah pertempuran yang lebih hebat dari tadi. Kini keduanya berusaha keras untuk menjatuhkan lawan, semua serangan dimaksudkan untuk menewaskan lawan itu. Pedang Ang-ho-sian-kiam berubah menjadi gulungan sinar merah, sedangkan pedang Liong-cu-kiam ketika dimainkan, berubah menjadi sinar putih yang terang sekali. Sinar pedang kedua pihak bergulung-gulung menyelimuti tubuh mereka dan kalau yang menyaksikan pertandingan ini hanya orang-orang biasa, mereka akan merasa heran sekali melihat sinar putih dan merah bergulung-gulung tanpa melihat bayangan orang atau pedang, dan tentu mereka menyangka bahwa dongeng-dongeng tentang para kiam-hiap (pendekar pedang) yang dapat menerbangkan pedangnya yang disebut hui-kiam (pedang terbang) itu memang benar-benar ada!

Akan tetapi, mata Bu Pun Su dapat melihat dengan nyata betapa Cin Hai berhasil mendesak Song Kun yang kini hanya dapat menangkis saja. Biarpun Song Kun menang gesit dan menang pengalaman serta keuletan, akan tetapi karena pemuda itu selalu menjalankan penghidupan sebagai seorang pemogoran yang terlalu banyak pelesir, maka kesehatannya tidak sedemikian sempurna dan setelah terdesak oleh Cin Hai dalam sebuah pertempuran yang memakan waktu lama dan mereka telah berkelahi seratus jurus lebih, akhirnya ia menjadi lelah dan daya tahannya sudah banyak berkurang. Sebaliknya, Cin Hai yang mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, walaupun banyak darah keluar dari dua lukanya, masih tetap segar dan bahkan mendesak makin hebat!

Akhirnya Song Kun terdesak sampai ke pinggir jurang dan ketika kaki kirinya menginjak tempat kosong sehingga tubuhnya terjengkang, Cin Hai secepat kilat menusuk ke arah dadanya. Ia masih berusaha miringkan tubuh, akan tetapi kurang cepat dan pedang Liong-cu-kiam telah masuk ke dalam dada kanannya dan tubuhnya lalu terguling masuk ke dalam jurang!

Cin Hai memandang ke dalam jurang dalam itu dan melihat betapa tubuh Song Kun itu terguling-guling dan makin lama makin kecil sehingga akhirnya lenyap dari pandangan matanya!

“Bagus, Cin Hai, kepandaianmu sudah banyak maju!”

Cin Hai bagaikan baru sadar dari lamunan dan ia segera berlutut di depan gurunya tanpa dapat mengeluarkan sepatah pun kata.

Mereka lalu menghampiri Lin Lin yang masih pingsan dan Bu Pun Su segera menuangkan isi botol itu ke dalam mulut Lin Lin yang dibuka oleh Cin Hai.

Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Lin, dibawa masuk ke dalam gua agar jangan terserang panas matahari. Bu Pun Su mengikuti dari belakang. Setelah dengan hati-hati sekali dan penuh kasih sayang Cin Hai meletakkan tubuh kekasihnya di atas batu karang, ia dan suhunya lalu duduk tanpa bergerak maupun mengeluarkan suara. Seluruh perhatian mereka menuju kepada keadaan Lin Lin, dengan hati penuh harap dan cemas!

Makin lama, wajah Lin Lin yang tadinya nampak pucat itu, makin menjadi merah, bahkan terlalu merah bagaikan orang yang sedang marah! Kemudian Lin Lin membuka kedua matanya dan melihat Bu Pun Su, ia lalu melompat dan bangun berdiri. Kedua matanya yang indah itu memandang marah kepada Bu Pun Su dan tiba-tiba ia mencabut Han-le-kiam, terus menyerang kakek itu!

Tentu saja kejadian ini membuat Bu Pun Su dan Cin Hai terkejut dan heran sekali. Bu Pun Su mengelak dan Cin Hai cepat memburu dan berseru,

“Lin-moi, mengapa kau menyerang Suhu?”

“Siapa yang menjadi Suhu? Dia orang jahat! Dia harus dibunuh… lekas kaubantu aku, Hai-ko kekasihku!” Sambil berkata demikian, kembali Lin Lin menyerang Bu Pun Su.

Cin Hai makin terkejut oleh karena selain gadis ini tidak mengenal pula kepada Bu Pun Su gurunya sendiri, juga di depan orang lain gadis ini menyebutnya “kekasihku” satu hal yang belum pernah terjadi! Dengan hati berdebar kuatir, timbul persangkaan dalam hatinya bahwa kekasihnya ini telah terganggu ingatannya! Maka ia lalu menubruk dari belakang, memeluk pinggang kekasihnya itu dan merampas pedangnya.

“Lin Lin… dia adalah Suhu kita…!” Dalam pelukan Cin Hai yang kuat, Lin Lin tidak berdaya, akan tetapi, ia masih memandang ke arah Bu Pun Su dengan mata melotot.

“Lin Lin, aku adalah Bu Pun Su!” kata kakek jembel itu dengan suara mengharukan karena ia merasa bersedih melihat keadaan muridnya yang terkasih itu.

“Tidak, tidak! Kau laki-laki kurang ajar yang hendak membunuh kekasihku. Pergi… pergi… Kalau tidak, kau akan kubunuh!”

Setelah memaki-maki lagi, akhirnya tubuh Lin Lin menjadi lemas dan ia jatuh pulas dalam pelukan Cin Hai!

Bu Pun Su dan Cin Hai menjadi cemas sekali dan ketika Cin Hai membaringkan tubuh kekasihnya di atas lantai gua, ternyata bahwa jalan pernapasan gadis itu normal dan tidak nampak tanda-tanda bahwa kesehatannya terganggu, bahkan ketika ia memeluk Lin Lin yang mengamuk tadi, Cin Hai merasa betapa tenaga gadis itu telah pulih kembali!

“Bagaimana baiknya, Suhu…?” tanya Cin Hai dengan bingung.

“Sabar dan tunggulah saja perkembangannya terlebih jauh. Mungkin sekali mereka sengaja memberi obat yang bukan semestinya!”

Tak lama kemudian, Lin Lin terbangun dari tidurnya dan ia memandang sekeliling bagaikan seorang yang baru saja sadar dari mimpi buruk. Ketika melihat Bu Pun Su, ia lalu maju berlutut dan berseru,

“Suhu…!”

Bu Pun Su dan Cin Hai saling pandang dengan mata terbelalak.

“Lin Lin, mengapa tadi kau mengamuk dan menyerang Suhu?” tanya Cin Hai. Lin Lin memandangnya dengan heran dan menjawab,

“Hai-ko, apakah arti pertanyaanmu itu? Aku menyerang Suhu dan mengamuk? Ah, kau mengimpi barangkali!”

Ternyata bahwa Lin Lin tidak ingat sama sekali, bahwa tadi ia telah menyerang suhunya sendiri dan mengamuk bagaikan orang kemasukan setan! Ketika Bu Pun Su memeriksa nadi tangannya, kakek ini mengangguk puas dan untuk melenyapkan rasa penasaran, ia minta gadis itu mainkan ilmu silat dengan pedangnya. Lin Lin lalu mencabut keluar Han-le-kiam dan bersilat di depan guru dan kekasihnya. Mereka berdua merasa kagum karena ternyata gadis ini telah sembuh benar, tenaga dan kegesitannya kembali sedia kala. Akan tetapi kalau mereka mengingat hal tadi, mereka menjadi gelisah juga.

“Cin Hai, marilah kita datangi mereka itu untuk bertanya kepada dukun Mongol mengapa setelah minum obat itu, Lin Lin menjadi terganggu pikirannya. Lin Lin, kau menantilah saja di sini, dengan kembalinya tenaga dan kepandaianmu kami tidak perlu kuatir meninggalkanmu seorang diri di sini. Apa lagi kau dikawani oleh tiga burung sakti itu.” kata Bu Pun Su yang segera bersuit nyaring memanggil Merak Sakti dan kawan-kawannya. Tiga ekor burung besar melayang turun dan masuk ke dalam gua itu. “Kalian bertiga jagalah baik-baik pada Lin Lin!” kata Bu Pun Su kepada tiga burung itu, kemudian ia bersama Cin Hai lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk mencari keterangan kepada dukun Mongol.

Setelah menceritakan pengalamannya yang aneh, yaitu tentang pertempuran antara fihak Mongol dan Turki serta kerajaan yang melawan Bu Pun Su hingga membuat Nelayan Cengeng dan Yousuf terheran-heran, Ang I Niocu lalu berkata,

“Di balik peristiwa itu tentu ada sesuatu yang hebat, karena kalau tidak demikian, tak mungkin Susiok-couw sampai membantu Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya yang jahat itu. Hal ini perlu sekali diselidiki.”

“Memang hal itu aneh sekali,” kata Kwee An. “Hai Kong terkenal jahat dan banyak tipu muslihatnya hingga maut pun seakan-akan jerih mencabut nyawanya. Ia telah menjadi buta dan terguling ke dalam jurang akan tetapi kini tiba-tiba ia muncul dan sebelah matanya masih dapat digunakan, bahkan ia telah berhasil menarik Bu Pun Su Lo-cianpwe membantunya, tentu ia menggunakan akat muslihat yang keji. Mari kita menyelidiki mereka!”

“Cin Hai tentu tahu akan hal ini karena ia sedang pergi mencari Suhu itu, maka sudah pasti ia akan segera kembali ke sini. Baiknya aku dan Ma Hoa menyusulnya sehingga dapat bertemu di jalan, sedangkan kalian orang-orang lelaki mencari tahu akan rahasia peristiwa yang aneh itu, sekalian melihat apakah harta pusaka itu telah diambil,” kata Ang I Niocu.

Semua orang setuju dan demikianlah, Ang I Niocu bersama Ma Hoa lalu keluar dari Lan-couw untuk menyusul atau mencegat kembalinya Cin Hai.

Ketika mereka tiba di luar kota Lan-couw, tiba-tiba mereka melihat bayangan tiga ekor burung besar sedang terbang berputaran di atas bukit-bukit batu karang.

“Lihat, bukankah itu Sin-kong-ciak?” teriak Ma Hoa dengan hati girang ketika ia mengenal burung merak yang indah bulunya itu terbang di atas.

“Betul, marilah kita pergi menyusul ke sana!” Ang I Niocu berseru, akan tetapi ternyata Ma Hoa telah mendahuluinya berlari ke bukit itu. Ma Hoa merasa gembira sekali karena dengan adanya burung-burung itu di sana, tentu Lin Lin juga berada di tempat itu.

Melihat kegembiraan Ma Hoa, Ang, I Niocu juga ikut bergembira, akan tetapi ia hanya tersenyum dan ikut berlari di belakang Ma Hoa. Mereka berlari dan sampai di tempat yang penuh bukit batu karang itu dan ketika merak itu melayang turun ke depan gua besar dimana Lin Lin berada, Ma Hoa segera berlari ke situ, meninggalkan Ang I Niocu yang berdiri memandang dan mengagumi merak yang indah bulunya itu.

Ma Hoa berlari masuk gua dan tiba-tiba saja terdengar bentakan hebat,

“Manusia tidak tahu malu! Kau akan membunuh kekasihku? Rasakan pembalasanku ini!” Dan tiba-tiba saja melompat seorang wanita yang menyerangnya dengan sebuah pedang pendek.

“Lin Lin!” Ma Hoa berteriak nyaring dan penuh keheranan sambil mengelak dari serangan berbahaya itu. “Ini aku… Ma Hoa…!”

Akan tetapi Lin Lin yang kumat lagi gilanya itu tidak mempedulikan seruan Ma Hoa, bahkan menyerang terus sambil memaki-maki! Melihat hebatnya serangan itu, terpaksa Ma Hoa mencabut keluar sepasang bambu runcingnya untuk dipakai menangkis dan menjaga diri. Ia merasa heran, terkejut, dan kuatir melihat keadaan Lin Lin, akan tetapi oleh karena ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai dan gerakannya amat sulit untuk diduga semula, terpaksa Ma Hoa mengerahkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dan menangkis semua serangan Lin Lin!

Kalau saja Ma Hoa belum memiliki ilmu silat bambu runcingnya yang lihai itu, pasti dengan mudah saja ia telah dirobohkan oleh Lin Lin, karena setelah mempelajari Ilmu Silat Han-le-kiam yang telah diperbaiki pula oleh asuhan Bu Pun Su, Lin Lin benar-benar luar biasa dan lihai sekali. Terpaksa Ma Hoa mengeluarkan kepandaiannya dan kedua batang bambu runcingnya digerakkan secara hebat untuk mempertahankan dirinya sehingga di dalam gua itu terjadilah pertandingan yang amat dahsyat. Berkali-kali Ma-Hoa berseru,

“Lin Lin…! Aku adalah Ma Hoa, sahabat baikmu…!”

Tiga ekor burung yang melihat pertempuran ini, beterbangan di sekeliling mereka sambil mengeluarkan suara keluhan bingung karena burung-burung itu, terutama Merak Sakti, tak tahu harus membela yang mana! Kedua nona itu sama-sama mereka kenal di Pulau Kim-san-to, dan ketika burung bangau yang belum mengenal Ma Hoa hendak menyerang gadis berambut panjang itu dan membantu Lin Lin, tiba-tiba Rajawali Emas dan Merak Sakti menahan dan mencegahnya sehingga ketiga burung itu seakan-akan bertempur sendiri di udara!

Mendengar ribut-ribut itu, Ang I Niocu segera lari menghampiri dan ia merasa terkejut sekali melihat betapa Lin Lin melakukan serangan bertubi-tubi kepada Ma Hoa yang mempertahankan diri dengan sibuknya.

“Enci Im Giok, lekas… lekas tangkap dia, agaknya dia telah berubah ingatan!” seru Ma Hoa menahan isak.

Ang I Niocu berdiri bagaikan patung dan menjerit,

“Lin Lin…!”

Tiba-tiba suara ini seakan-akan menyadarkan Lin Lin dari keadaan yang tidak sewajarnya itu dan ia menengok ke arah Ang I Niocu, lalu menjerit,

“Enci Im Giok…!” pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya terhuyung-huyung karena ia merasa pening sekali. Ang I Niocu segera melompat memeluknya dan ternyata bahwa Lin Lin jatuh pulas dalam pelukannya!

Maka melongolah Ang I Niocu dan Ma Hoa, saling berpandangan dengan mata terbelalak dan mulut celangap. Mereka benar-benar tidak mengerti dan heran melihat Lin Lin. Baru saja mengamuk bagaikan orang gila dan kini tiba-tiba saja jatuh tidur pulas! Alangkah anehnya keadaan ini. Ang I Niocu duduk sambil memangku kepala Lin Lin yang masih tidur pulas, sedangkan Ma Hoa lalu memeriksa keadaan gua itu kalau-kalau ada orang lain berada di situ, akan tetapi selain tiga burung besar yang kini berjalan-jalan di depan gua, di situ tidak terdapat sesuatu lagi.

Beberapa lama kemudian, setelah Ang I Niocu dan Ma Hoa duduk menjaga Lin Lin yang sedang tidur, Lin Lin menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Ia bangun dan ketika melihat bahwa ia berada di atas pangkuan Ang I Niocu, ia menggosok-gosok kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada kedua matanya sendiri. Kemudian ia bangkit dan menubruk Ang I Niocu sambil menangis.

“Enci Im Giok…”

“Lin Lin, kau kenapakah…?” bisik Ang I Niocu sambil menahan tangisnya. Kemudian, Lin Lin merasa betapa pundaknya dipeluk orang, ketika ia menengok dan melihat Ma Hoa, ia segera merangkul dan menciumi muka Ma Hoa.

“Enci Hoa… kau juga datang…?”

“Eh, eh, anak nakal! Betul-betulkah baru sekarang kau tahu bahwa aku telah datang?” tegur Ma Hoa. “Mengapa tadi datang-datang kau menyerangku dengan hebat hingga hampir saja nyawaku melayang ke alam baka?”

Lin Lin memandangnya dengan terheran-heran. “Benarkah? Sudah datang lagikah penyakitku itu? Ah, celaka…” dan ia lalu menangis sedih.

Ma Hoa dan Ang I Niocu kembali saling pandang dan melongo seperti tadi. Mereka benar-benar tidak mengerti dan terheran-heran.

“Lin Lin,” kata Ang I Niocu sambil memegang tangan gadis itu. “Tadi ketika Ma Hoa masuk ke dalam gua ini, kau terus menyerangnya mati-matian, kemudian tiba-tiba kau jatuh pulas! Apakah sebabnya semua ini? Ceritakanlah semua pengalamanmu karena kami sedang merasa bingung melihat betapa Susiok-couw Bu Pun Su membantu Hai Kong si keparat, dan sekarang melihat kau seperti ini lagi! Ah, apakah gerangan yang telah terjadi sehingga menimbulkan peristiwa yang luar biasa ini?”

Lin Lin lalu menuturkan semua pengalamannya, betapa Bu Pun Su terjatuh ke dalam kekuasaan Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang, dan betapa kemudian ia terluka dan melakukan perjalanan bersama Cin Hai yang akhirnya berhasil membinasakan Song Kun dan mendapatkan obat penawar pengaruh racun dalam tubuhnya, akan tetapi yang mengakibatkan datangnya “penyakit gila” yang kadang-kadang menyerangnya itu.

Ang I Niocu dan Ma Hoa mendengarkan dengan girang, dan juga cemas. Girang karena ternyata bahwa Bu Pun Su melakukan hal yang aneh itu karena terpaksa dan hendak menolong jiwa Lin Lin dan girang pula bahwa Song Kun yang jahat dapat ditewaskan oleh Cin Hai hingga sebuah diantara syarat yang diajukan oleh Ang I Niocu kepada tunangannya yaitu Lie Kong Sian, telah terpenuhi. Akan tetapi mereka merasa gelisah dan cemas mendengar akan keadaan Lin Lin yang kini terserang semacam penyakit yang aneh.

“Dan sekarang kemanakah perginya Hai-ji dan Susiok-couw?” tanya Ang I Niocu kepada Lin Lin.

“Mereka sedang pergi ke dukun Mongol pembuat obat yang kuminum untuk mencari keterangan tentang pengaruh obat itu.”

Tiada habisnya mereka bercakap-cakap terutama Lin Lin dan Ang I Niocu. Lin Lin merasa gembira dan bahagia sekali karena dapat bertemu Dara Baju Merah yang dulu dianggapnya telah tewas itu, biarpun ia telah mendengar Cin Hai bahwa Ang I Niocu memang masih hidup. Juga ia merasa gembira mendengar akan pengalaman Ma Hoa yang juga terluput daripada bahaya kematian bersama tunangannya, yaitu Kwee An, kakak Lin Lin.

“Aku ingin sekali bertemu dengan An-ko, mengapa ia tidak ikut bersamamu? Aku telah rindu sekali kepadanya,” kata Lin Lin yang teringat kepada kakaknya.

“Dia bersama Suhu dan Yo-pekhu sedang pergi menyelidiki keadaan gua rahasia yang telah ditemukan itu,” kata Ma Hoa yang lalu menuturkan semua pengalamannya ketika melihat pertempuran Bu Pun Su.

Tiga orang dara yang cantik jelita itu duduk bercakap-cakap dengan gembira sambil menanti kembalinya Cin Hai dan Bu Pun Su untuk diajak bersama menemui Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf. Dan dalam kesempatan ini, tidak lupa Ma Hoa menggoda Ang I Niocu dan menceritakan kepada Lin Lin bahwa Dara Baju Merah itu kini telah mempunyai calon.

“Adik Hoa, kalau kau tidak mau diam, akan kuberitahukan kepada Kwee An bahwa kau telah berlaku nakal sekali, agar kau dihajarnya!” kata Ang I Niocu balas menggoda. Sementara itu, Lin Lin merasa gembira sekali dan sambil memeluk bahu Ang I Niocu, ia berbisik,

“Kionghi (Selamat), Enci Im Giok. Semenjak dulu, di dalam hati aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan ternyata doaku itu terkabul! Berita ini benar-benar membuat aku merasa bahagia sekali!” Dan ucapan ini memang sejujurnya karena dari kedua mata Lin Lin menitik keluar dua titik air mata yang membuat Ang I Niocu merasa terharu sekali dan ia menggunakan saputangannya untuk mengeringkan pipi Lin Lin.

“Terima kasih, Adikku, terima kasih,” jawabnya sederhana.

Mari kita ikuti perjalanan Bu Pun Su dan Cin Hai yang berlari cepat menuju ke hutan di mana mereka bertemu dengan dukun Mongol itu. Ketika mereka tiba di tempat itu, pondok di mana kemarin mereka bertemu dengan dukun Mongol, hanya terjaga oleh empat orang Mongol saja, sedangkan di dalam pondok nampak sunyi saja.

Kemudian ternyata bahwa yang berada di dalam pondok hanya Si Dukun Mongol sendiri, maka cepat Bu Pun Su bertanya kepadanya.

“Dukun pikun! Jawab pertanyaanku baik-baik dan sejujurnya, kalau tidak, tentu kau akan kulempar ke neraka!” baru kali ini Cin Hai melihat suhunya mengeluarkan ancaman dan marah-marah, dan ia maklum bahwa hal itu terjadi karena kakek itu merasa gelisah dan kuatir mengingat akan keadaan Lin Lin. “Obatnya yang kausebut daun semut merah itu, benar-benarkah obat itu penolak racun ular hijau?”

“Benar, siapa yang meragu-ragukan obat buatan Mahambi si Dukun Dewa?” jawab kakek dukun itu dengan suara bangga.

“Apakah setelah minum obat itu, orang yang terkena racun ular hijau akan sembuh sama sekali?”

“Pasti sembuh, seketika itu juga akan pulih semua kekuatannya. Akan lenyaplah semua racun yang menguasai tubuhnya dan tertolonglah nyawanya dari cengkeraman maut!” jawabnya.

“Apakah tidak ada pengaruh lain yang merusak dari obat itu?”

“Tidak, tidak! Obat itu adalah semacam racun pula yang setelah masuk ke dalam tubuh, merupakan racun penolak dan pengusir racun ular hijau! Ketahuilah, dulu aku sendiri pun tidak dapat mencarikan obat sebagai penolak racun ular hijau itu, hingga pada suatu hari, ketika aku mencari daun-daun obat di dalam hutan, aku melihat seekor ular hijau dikeroyok oleh semut-semut merah itu dan matilah si ular hijau! Kemudian aku menyelidiki dan ternyata bahwa semut-semut merah itu bersarang di bawah pohon kembang yang kembangnya kecil berwarna merah pula. Semut-semut itu telah mendapatkan racunnya dari sari kembang inilah, maka kembang itu kusebut kembang semut merah yang mengandung racun berbahaya sekali, akan tetapi menjadi obat satu-satunya untuk mengalahkan racun ular hijau yang jahat!”

Bu Pun Su memandang dengan tajam dan penuh perhatian dan matanya yang awas itu dapat melihat bahwa dukun itu tidak membohong.

“Akan tetapi mengapa orang yang kuobati dengan obatmu itu tiba-tiba terserang penyakit lupa ingatan dan marah-marah seperti orang gila dan kemudian tertidur setelah marah-marah?” tanyanya.

Dukun itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Memang, memang demikian,” katanya dan sepasang matanya yang hitam bersinar-sinar, “Tadi aku lupa menceritakan padamu. Racun semut merah itu mengalir di seluruh urat syaraf dan membersihkan serta menghalau semua racun ular hijau. Pada urat yang besar, peristiwa itu tidak mengakibatkan sesuatu, akan tetapi pada saat kedua macam racun itu berperang di dalam urat syaraf di bagian otak, maka ada kemungkinan orang akan terpengaruh dan menjadi marah-marah serta lupa ingatan untuk sementara waktu, yaitu pada saat kedua racun itu saling gempur!”

Cin Hai tak sabar untuk berdiam diri, “Sampai berapa lamakah orang itu akan terganggu seperti itu? Dapat sembuh kembali atau tidak?” tanyanya tak sabar.

“Tidak ada bahayanya dan hanya untuk sementara waktu saja tergantung dari lamanya orang terkena racun ular hijau. Kalau ia terkena racun selama satu bulan, maka kira-kira satu bulan pula ia akan mengalami hal demikian, kalau baru dua tiga hari, paling lama tiga hari pula ia akan terserang hal itu.”

Bu Pun Su dan Cin Hai menarik napas lega. Lin Lin baru terserang racun kurang lebih sepekan, maka untuk sepekan lamanya Lin Lin akan terserang penyakit aneh itu.

“Dan di mana perginya Hai Kong dan kawan-kawannya?” tanya pula Bu Pun Su.

“Ke mana lagi kelau tidak mengambil harta pusaka di gua itu?” kata Dukun Mahambi sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Manusia-manusia macam mereka itu yang dipikirkan hanya harta benda belaka dan untuk mendapatkan harta benda, mereka tak segan-segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: