Pendekar Bodoh ~ Jilid 36

Lin Lin mendengar suara ini diucapkan dengan halus dan sopan akan tetapi mengandung pengaruh besar, maka ia lalu meninggalkan Bo Lang Hwesio dan melompat untuk membantu Cin Hai.

Lin Lin maklum bahwa ilmu kepandaian Thai Kek Losu terlampau tinggi baginya, maka ia lalu menyerang Sian Kek Losu! Memang perhitungannya tepat karena di antara ketiga orang lawan yang paling lihai dan amat berbahaya untuk dilawan adalah Thai Kek Losu. Bo Lang Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hanya sedikit berada di bawah kepandaian pendeta Sakya Buddha ini, bahkan di dalam hal lweekang, mungkin Bo Lang Hwesio lebih tinggi tingkatnya! Adapun Sian Kek Losu hanya memiliki tenaga besar saja dan ilmu silatnya biarpun tinggi, namun tidak selihai kedua orang kawannya itu.

Kini pertempuran terpecah menjadi tiga dan keadaan berubah dengan cepatnya. Orang yang baru datang tadi dengan ilmu pedangnya yang luar biasa cepat dan aneh gerakannya, segera berhasil mendesak Bo Lang Hwesio. Ketika Lin Lin dan Cin Hai mendapat kesempatan memandang ke arah orang itu, hampir saja mereka berseru karena heran dan kagum. Ternyata ilmu pedang yang dimainkan oleh orang itu mempunyai dasar-dasar gerakan yang sama dengan jimu silat mereka! Lin Lin teringat akan penuturan Ma Hoa ketika bertemu dengannya di dalam gua bersama Ang I Niocu, maka sambil menangkis serangan gendewa di tangan Sian Kek Losu ia berseru,

“Enghiong yang gagah bukankah Lie-enghiong tunangan Ang I Niocu?”

Orang itu tersenyum dan sambil menangkis poan-koan-pit dari Bo Lang Hwesio ia menjawab,

“Betul, dan Ji-wi tentulah Nona Lin Lin dan Saudara Cin Hai!”

Mendengar percakapan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Hal ini merupakan “surprise” baginya, yaitu merupakan hal yang sama sekali tak pernah diduga-duganya. Tunangan Ang I Niocu? Dan demikian gagah perkasa? Hatinya menjadi girang dan ia ingin sekali cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini agar supaya dapat bercakap-cakap dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian yang sama dengan kepandaiannya sendiri. Ia dulu mendengar bahwa Ang I Niocu ditolong oleh Lie Kong Sian, akan tetapi Dara Baju Merah itu tidak menceritakan bahwa ia telah menjadi tunangan Lie Kong Sian. Ia maklum bahwa orang ini adalah Suheng dari Song Kun, maka boleh dibilang masih suhengnya sendiri pula!

Lin Lin dengan limu Pedang Han-lekiam-liwat dapat mendesak Sian Kek Losu dan pada saat gendewa di tangan Sian Kek Losu menangkis dengan sekuat tenaga untuk membuat pedang pendek di tangan Lin Lin terpental, gadis itu dengan amat cerdik dan cepatnya lalu menarik kembali pedangnya dan melihat lowongan yang terbuka segera menggunakan gerak tipu Ang I Memetik Kembang, langsung pedangnya ditusukkan ke arah iga lawan di bawah lengan yang memegang gendewa. Sian Kek Losu berusaha mengelak, akan tetapi gerakan Lin Lin itu luar biasa cepatnya dan juga tidak diduganya semula, maka tiada ampun lagi pedang Han-le-kiam yang tajam itu dengan jitu menusuk dadanya dari bawah lengan! Sian Kek Losu menjerit, gendewanya terlepas, tubuhnya sempoyongan lalu roboh dan tewas pada saat itu juga!

Juga Bo Lang Hwesio yang sudah tak tahan menghadapi Lie Kong Sian, dengan nekat lalu memutar-mutar poan-koan-pit di tangannya dan menyerang bagaikan harimau terluka yang sudah nekat hendak mengadu jiwa. Lie Kong Sian mengurungnya dengan sinar pedang hingga kini Bo Lang Hwesio terpaksa mempergunakan lweekangnya untuk mengerahkan tenaga pada kedua senjatanya, menangkis sambil terdesak mundur. Ujung pedang Lie Kong Sian berkelebat cepat mengarah tenggorokannya dan Bo Lang Hwesio lalu membuat gerakan nekat yang hendak memberi pukulan maut tanpa peduli akan keselamatan sendiri. Ketika pedang itu meluncur ke arah lehernya, ia hanya miringkan kepala sedikit dan berbareng mengirim tusukan dengan sepasang poan-koan-pit ke arah dada Lie Kong Sian. Kalau Lie Kong Sian meneruskan serangannva dengan membalikkan pedang, maka ia pun akan termakan oleh sepasang poan-koan-pit itu dan keduanya pasti akan tewas! Akan tetapi tentu saja Lie Kong Sian tidak mau diajak mati bersama, maka ia berseru keras dan menggerakkan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih. Ternyata ia telah menggunakan gerakan dari Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut untuk menangkis tusukan poan-koan-pit itu! Sedangkan pedangnya ia teruskan dengan bacokan ke arah leher lawan!

Bo Lang Hwesio merasa girang melihat ini karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya yang tinggi ke arah tangan yang memegang senjata, maka ia merasa pasti bahwa tusukannya akan menewaskan musuh. Tak tahunya, ketika tangan kiri Lie Kong Sian menyampok, poan-koan-pitnya kena disampok terpental oleh tenaga yang luar biasa hingga ia merasa terkejut sekali. Pada saat itu pedang Lie Kong Sian telah datang menyambar. Bo Lang Hwesio berusaha mengelak, akan tetapi terlambat. Ia menjerit keras dan roboh mandi darah dengan leher hampir putus oleh pedang Lie Kong Sian!

Kini Lin Lin dan Lie Kong Sian melihat pertempuran yang terjadi antara Cin Hai dan Thai Kek Losu dengan serunya. Thai Kek Losu yang harus menghadapi Cin Hai seorang diri, merasa jerih sekali karena ia pernah merasai kelihaian pemuda ini. Melihat betapa Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio sudah tewas, ia menjadi nekat dan menyerang Cin Hai dengan mati-matian. Tengkorak kecil di tangan diputar-putar bagaikan maut sendiri terbang berkeliaran mencari korban.

Adapun Cin Hai yang pernah menghadapi That Kek Losu, bahkan dulu hampir saja merasa celaka karena pengaruh racun jahat yang keluar dari tengkorak itu, bersilat dengan amat hati-hati. Sebegitu jauh ia belum berani membacok tengkorak itu, kuatir kalau-kalau racun jahat dan senjata-senjata rahasia di dalam tengkorak itu akan menyambar keluar dan biarpun ia akan dapat mengelak namun hawa beracun yang luar biasa itu masih tetap merupakan bahaya besar. Dulu pun baru lewat dekat mukanya saja dan ia mencium bau racun, ia telah terkena celaka dan kalau tidak kebetulan bertemu dengan suhunya, tentu ia telah binasa.

Melihat keragu-raguan kekasihnya Lin Lin hendak maju membantu, akan tetapi Cin Hai melarangnya. “Mundurlah Lin-moi, sekarang juga aku akan merobokannya. Lihat!”

Lin Lin melompat mundur kembali dan pada saat itu tengkorak kecil menyambar ke arah Cin Hai dengan mulut di depan seakan-akan hendak mencium muka pemuda itu. Cin Hai tidak mengelak, hanya memandang dengan tajam dan kedua pedang di tangannya siap sedia.

Ketika tengkorak itu telah datang dekat, tiba-tiba pedang pendek di tangan kirinya menyambar dari samping dengan miring, yaitu ia tidak menggunakan tajamnya pedang untuk membacok, hanya menggunakan permukaan pedang untuk menampar dari samping dengan tenaga yang diatur sedemikian rupa hingga tengkorak itu kena ditampar dan terbalik, kini mukanya menghadap kepada Thai Kek Losu. Secepat kilat pedang Cin Hai di tangan kanan membacok tengkorak itu dari belakang sambil menggunakan tenaga lweekang sekerasnya dan ketika terdengar suara ledakan yang terjadi ketika tengkorak itu kena bacok, Cin Hai segera melompat jauh dan kebetulan sekali Lin Lin pada saat itu berdiri dekat, maka Cin Hai segera menyambar lengan kekasihnya dan dibawanya melompat juga!

Memang Cin Hai telah berlaku hati-hati dan hal ini ada baiknya bagi dia dan Lin Lin, karena kalau ia tidak bertindak cepat, mungkin mereka akan terancam bahaya. Pada waktu tengkorak itu meledak, tidak saja dari mulut, hidung dan matanya keluar jarum-jarum beracun yang amat jahat dan yang kesemuanya melayang ke arah Thai Kek Losu, akan tetapi setelah semua jarum habis tengkorak itu sendiri meledak dan pecah berhamburan menjadi potongan-potongan kecil yang menyambar ke sekelilingnya. Potongan ini tak boleh dipandang rendah, karena setiap potongan kecil mengandung racun jahat dan apabila melukai kulit, akan membahayakan jiwa yang terluka!

Thai Kek Losu yang tadinya sudah merasa girang melihat Cin Hai berani membacok tengkorak itu, menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa semua senjata rahasia yang keluar dari tengkorak yang telah terbalik itu menyambar ke arahnya! Ia hendak mengelak pergi, akan tetapi terlambat. Beberapa batang jarum telah mengenai tubuhnya dan tanpa berteriak lagi ia roboh dan tewas oleh jarum-jarumnya sendiri!

Lie Kong Sian juga melompat pergi ketika ledakan tengkorak terjadi, dan ia lalu menghampiri Cin Hai dan Lin Lin.

“Sute dan Sumoi, kalian benar-benar gagah perkasa. Apakah Supek Bu Pun Su sehat-sehat saja?” katanya sambil tersenyum tenang.

Melihat sikap orang ini, baik Lin Lin maupun Cin Hai merasa tertarik dan suka. Sikap Lie Kong Sian polos, jujur, dan sederhana sekali, hampir sama dengan sikap Bu Pun Su.

Setelah menjura dan memberi hormat, Cin Hai lalu memegang tangan Lie Kong Sian dengan girang dan berkata, “Dia sehat, Suheng, telah lama aku mendengar tentang namamu yang besar. Alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau, apalagi karena mendengar tadi bahwa kau telah bertunangan dengan Ang I Niocu!”

Kembali Lie Kong Sian tersenyum. “Aku memang sedang mencarinya, di manakah dia?”

Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan menceritakan pula bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lain mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk membagi-bagikan harta pusaka kepada rakyat miskin.

“Lie-suheng, ada berita girang untukmu,” tiba-tiba Lin Lin yang lincah dan jenaka itu berkata kepada Lie Kong Sian sambil menatap wajah pemuda yang tenang dan tampan itu.

Lie Kong Sian sudah mendengar dari Ang I Niocu tentang kejenakaan gadis ini dan ia tahu bahwa tunangannya amat mengasihinya maka sambil tertawa ia berkata, “Sumoi, kau tentu akan menggodaku. Silakanlah, apakah berita girang yang kaumaksudkan?”

“Aku telah mendengar tentang syarat-syarat yang diajukan oleh Enci Im Giok kepadamu dan…”

“Eh, eh, dari mana kau bisa mengetahui hal itu?” Lie Kong Sian memotong sambil memandang heran, akan tetapi ia tidak marah karena bibirnya tetap tersenyum.

“Dari Enci Ma Hoa.”

Lie Kong Sian mengangguk-angguk dan Lin Lin melanjutkan bicaranya, “Dan sekarang, dua daripada tiga syarat itu telah terpenuhi. Aku dan Engko Hai telah bertemu kembali sebagaimana yang diharapken oleh Enci Im Giok, dan syarat ke dua pun telah terlaksana.”

Lie Kong Sian menatap wajah Lin Lin dengan tajam, kini senyumnya menghilang. “Sumoi, apa maksudmu? Syarat yang mana? Lekas kauceritakan padaku!”

“Sutemu yang jahat itu telah tewas dalam tangan Hai-ko!”

“Apa???” Wajah Lie Kong Sian menjadi pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun. Ia memandang kepada Cin Hai yang berdiri sambil menundukkan kepala karena pemuda ini pun telah mendengar betapa besar cinta kasih Lie Kong Sian terhadap Song Kun. Sikap dan wajah Cin Hai ini membuat hati Lie Kong Sian lemah kembali. Kalau saja yang membunuh Song Kun bukan pemuda ini, pasti ia akan menjadi marah dan membalas dendam. Akan tetapi, pemuda ini adalah sutenya sendiri pula, murid Bu Pun Su yang tidak saja kepandaiannya lebih tinggi daripada dirinya sendiri, akan tetapi pemuda ini adalah seorang pemuda yang dicinta oleh Ang I Niocu.

“Sute, kau benar-benar lihai sekali. Tak sembarang orang dapat merobohkan Song Kun, bahkan terus terang saja, aku sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Coba kaututurkan bagaimana hal itu terjadi.”

“Maafkan aku banyak-banyak, Lie-suheng. Memang dia lihai sekali dan andaikata dia tidak tersesat dan menjadi seorang jahat, mungkin aku pun takkan dapat mengalahkannya. Akan tetapi, kejahatan pasti akan hancur dan kalah pada akhirnya.”

Kemudian ia lalu menceritakan tentang pertempurannya dengan Song Kun yang disaksikan oleh Bu Pun Su dan menuturkan pula betapa Song Kun telah mencuri obat dan menggunakan obat itu untuk mengancam dan hendak mengganggu Lin Lin. Mendengar ini, semua, Lie Kong Sian menarik napas panjang. “Sayang betapapun gagah seseorang, apabila ia tidak memiliki kesempurnaan budi, ia menjadi orang yang sehina-hinanya dan serendah-rendahnya dan akhirnya orang itu pasti akan mengalami bencana besar dalam hidupnya.”

“Kau benar, Suheng,” kata Cin Hai dan Lin Lin hampir berbareng.

“Dan sekarang kalian hendak pergi ke manakah?”

“Kami hendak pergi ke Gua Tengkorak, tempat tinggal Suhu Bu Pun Su,” jawab Cin Hai.

“Bagus! Aku pun ingin sekali bertemu dengan orang tua itu.” kata Lie Kong Sian.

“Untuk memenuhi syarat ke tiga, bukan Suheng?” Lin Lin menggoda dan Lie Kong Sian mengangguk-angguk sambil tersenyum den memandangnya.

“Kau benar-benar nakal, Sumoi.” Ketiganya lalu tertawa.

“Sebelum kita pergi, lebih dulu marilah kita mengubur jenazah tiga orang ini.” Mendengar ucapan Lie Kong Sian ini, Lin Lin dan Cin Hai merasa kagum dan diam-diam memuji keluhuran budi tunangan Ang I Niocu itu. Cin Hai makin merasa girang bahwa Ang I Niocu mendapat calon suami yang selain gagah perkasa, juga berbudi tinggi.

Jenazah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu den Bo Lang Hwesio lalu mereka kubur dengan baik-baik, menjadi tiga gundukan tanah berjajar dan sebagai tandanya, Lie Kong Sian memindahkan tiga batang pohon Siong yang masih kecil, ditanam di depan kuburan-kuburan itu.

Matahari telah menurun ke barat ketika mereka bertiga selesai melakukan pekerjaan itu dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Gua Tengkorak.

Kita ikuti perjalanan Ang I Niocu yang bertugas membagi-bagikan sekantung harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin. Oleh karena Dara Baju Merah ini memang sudah biasa melakukan perjalanan seorang diri, dan pula untuk membagi-bagi harta benda itu memang seharusnya berpencar, maka ia lalu memisahkan diri dan berjanji akan saling bertemu dengan kawan-kawannya ini di rumah Lin Lin di Tiang-an sebagai tempat tujuan terakhir. Mereka saling berpesan bahwa apabila bertemu dengan Cin Hai dan Lin Lin, harus memberi tahu bahwa kedua teruna remaja itu pun ditunggu di Tiang-an. Dengan demikian, maka mereka tak usah saling mencari dan dapat mengarahkan tujuan perjalanan mereka ke suatu tempat tertentu.

Ang I Niocu melakukan perjalanan seorang diri seperti biasa, bebas bagaikan seekor burung di udara. Ia membagi-bagi harta benda itu dengan adil dan memilih orang-orang yang benar-benar berada dalam keadaan yang amat sengsara. Pekerjaan ini ia lakukan dengan hati gembira karena keharuan dan kegirangan wajah orang-orang yang menerima pembagian itu membuat hatinya ikut merasa terharu dan girang sekali.

Pada suatu hari, ketika ia tiba di luar kota Lang-i, tiba-tiba ia melihat bayangan dua orang dari jalan simpangan. Ang I Niocu cepat bersembunyi di belakang sebatang pohon ketika melihat bahwa dua orang itu bukan lain ialah Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio. Kedua orang itu berlari cepat memasuki kota Lang-i, maka diam-diam Ang I Niocu mengikuti mereka. Dara Baju Merah ini merasa benci sekali kepada Hai Kong Hosiang yang telah mencelakakan Lin Lin, maka ia mengambil keputusan untuk mencari kesempatan membunuh hwesio jahat itu agar kelak tidak menimbulkan kekacauan pula. Akan tetapi, melihat bahwa hwesio itu bersama Wi Wi Toanio yang kosen, ia merasa ragu-ragu untuk turun tangan, karena terlalu berat baginya untuk menghadapi dua orang tangguh itu.

Kedua orang itu menuju ke sebelah barat kota dan diam-diam Ang I Niocu terus mengikuti mereka. Setelah tiba di ujung kota, mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang besar. Ang I Niocu mengambil jalan dari belakang dan ketika melihat bahwa di belakang gedung itu sunyi, ia lalu melompati pagar tembok dan mengintai. Dan apa yang dilihatnya di dalam gedung itu membuat hatinya berdebar karena terkejut dan heran.

Ternyata bahwa di dalam gedung itu terdapat sebuah ruangan yang lebar dan yang dipasangi banyak meja dan kursi. Ruangan itu telah penuh oleh banyak orang dan orang-orang inilah yang membuat Ang I Niocu terkejut, karena ia melihat wajah-wajah yang telah dikenalnya, antara lain Kam Hong Sin perwira tinggi kerajaan, Ceng Tek Hosiang den Ceng To Tojin. Si Hwesio yang selalu tertawa dan tosu yang selalu mewek, Kong-lam Sam-lojin tiga orang tokoh Liong-san, Giok Im Cu, Giok Yang Cu, den Giok Keng Cu. Tampak juga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan dua orang yang baru masuk, yaitu Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio!

Orang-orang ini adalah sebagian dari pada orang-orang yang tadinya mewakili golongan-golongan yang bermusuhan, yaitu golongan Turki, Mongol, dan kerajaan yang kesemuanya telah dikalahkan oleh Bu Pun Su. Mengapa mereka sekarang mengadakan pertemuan bersama? Apakah mereka hendak mengadu kepandaian? Ang I Niocu mengintai dengan hati-hati sekali oleh karena ia maklum bahwa orang yang berada di dalam itu bukanlah orang-orang lemah dan berbahaya sekali baginya kalau sampai terlihat oleh mereka. Kebetulan sekali di luar gedung itu terdapat setumpuk rumput kering maka ia mendapatkan tempat persembunyian yang baik sekali di belakang rumput itu, sambil mengintai melalui celah-celah jendela yang berada dekat di situ.

Agaknya Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio merupakan orang terakhir yang dinanti-nanti, karena setelah mereka berdua datang dan disambut oleh Kam Hong Sin lalu dipersilakan duduk, perwira itu lalu berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada semua orang.

“Cu-wi sekalian. Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih dan selamat datang kepada Cu-wi sekalian yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk berkumpul di sini. Hal ini membuktikan bahwa betapapun juga, Cu-wi sekalian masih ingat akan kebangsaan sendiri. Sebagaimana Cu-wi sekalian ketahui, harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan bangsa kita itu telah dicuri dan dibawa pergi orang. Kita tak perlu membongkar-bongkar urusan yang lalu dan sekarang kita merupakan sekumpulan orang yang hendak berusaha mendapatkan kembali harta pusaka itu dan membasmi para pemberontak yang telah berani berlancang tangan mencuri harta pusaka dari tangan kita.”

Hai Kong Hosiang berdiri sendiri dan mengangkat tangannya, tanda bahwa ia minta Kam Hong Sin berhenti bicara karena ia sendiri hendak bicara. Matanya yang tinggal satu itu bersinar-sinar tajam memandang kepada Kam Hong Sin ketika ia bicara.

“Kam-ciangkun, pencuri harta pusaka itu adalah Hok Peng Taisu, seorang yang berilmu tinggi dan tangguh. Selain dia, masih ada pula Bu Pun Su yang selalu mengacaukan keadaan, karena kami tahu bahwa dia pun menghendaki harta pusaka itu! Siapa tahu kalau-kalau kedua orang tua jahat itu telah bersekutu! Hal ini tak boleh dipandang ringan, karena selain mereka berdua yang lihai, masih banyak terdapat anak muridnya yang tak boleh dipandang ringan, seperti Pendekar Bodoh, Ang I Niocu, Kwee Lin, Ma Hoa, Kwe An, dan ada pula Nelayan Cengeng!”

Kam Hong Sin mengangguk-angguk, “Aku maklum, Hai Kong Suhu, dan aku pun telah tahu akan kelihaian mereka. Akan tetapi dengan kerja sama yang baik dan mengerahkan tenaga kita dibantu oleh para Perwira Sayap Garuda yang banyak jumlahnya, apakah sukarnya untuk menangkap mereka dan merampas kembali harta pusaka itu?”

Wi Wi Toanio berdiri dan biarpun suaranya halus, akan tetapi jelas terdengar bahwa ia merasa gemas dan marah sekali ketika ia berkata,

“Apa artinya bicara tentang merampas kembali harta pusaka? Harta itu telah mereka sebar dan bagi-bagikan kepada rakyat! Ini semua adalah salahnya Bu Pun Su dan kalau perundingan ini dimaksudkan untuk menghukum dia, aku baru mau mengikutinya!” Setelah berkata demikian, Wi Wi Toanio duduk kembali di dekat Hai Kong Hosiang.

Terdengar seruan-seruan marah dari sana sini mendengar bahwa harta pusaka telah dibagi-bagi kepada rakyat. Adapun Kam Hong Sin yang sudah mengetahui hal itu, hanya tersenyum dan berkata,

“Cuwi sekalian, memang benar ucapan Wi Wi Toanio tadi. Aku pun telah mendengar tentang hal itu, dan rupanya para pemberontak itu hendak menghasut rakyat untuk memberontak pula dengan menyogok harta benda mereka. Akan tetapi, kita akan bertindak tegas dan membasmi sebelum mereka mendapat kesempatan mengumpulkan tenaga bantuan. Aku membawa surat resmi dari Kaisar sendiri yang ditujukan kepada Cuwi yang gagah perkasa.”

Sambil berkata demikian, Kam Hong Sin mengeluarkan sesampul surat yang dibungkus sutera kuning bersulamkan burung Hong. Ketika ia membacakan surat itu, semua orang terdiam dengan penuh hormat, karena betapapun juga, menerima surat dari kaisar sendiri adalah satu penghormatan besar yang jarang sekali dirasai orang! Isi surat itu ternyata adalah satu pengharapan dari Kaisar agar orang-orang gagah suka membantu dalam usaha Kaisar menangkap atau menghukum para pemberontak yang dipimpin oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu! Ternyata dalam sakit hatinya untuk membalas kekalahannya, Kam Hong Sin berhasil membujuk Kaisar untuk mengeluarkan putusan menghukum kedua tokoh besar itu agar ia dapat mencari bala bantuan dengan mudah. Selain pengharapan untuk mendapat pertolongan, di dalam surat itu Kaisar menjelaskan bahwa orang-orang gagah yang suka mengulurkan tangan menolong, akan diberi pangkat tinggi, tempat tinggal gedung besar di dalam kota raja, dan sejumlah uang yang banyak sekali.

Tentu saja semua orang yang hadir di situ merasa mengilar mendengar janji upah yang besar itu. Bukan semata-mata upahnya yang mereka inginkan, akan tetapi nama besar dan penghormatan. Kini terbuka kesempatan untuk membantu Kaisar dan membuat pahala yang akan mendatangkan hasil besar dan nama baik di samping menebus dosa-dosa mereka yang lalu! Memang, hampir semua orang yang hadir di situ, kecuali hamba-hamba Kaisar, dulu seringkali melakukan pelanggaran-pelanggaran yang berarti berdosa kepada Kaisar, dan dengan adanya kesempatan ini, maka dosa-dosa itu tentu akan dilupakan dan bahkan akan mengangkat diri mereka menjadi orang-orang berkedudukan tinggi!

“Kalau demikian, aku setuju!” kata Wi Wi Toanio dan untuk menutupi keinginannya akan kedudukan dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Kaisar itu, ia berkata lagi, “Bukan, karena aku inginkan semua kemuliaan itu, akan tetapi karena aku akan mendapat kesempatan membalas dendam kepada Bu Pun Su yang telah menghina kita dan kepada Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka itu! Tentang kelihaian mereka, jangan kuatir, aku mempunyai seorang supek yang menjadi tokoh nomor satu di daerah barat, yaitu Pok Pok Sianjin. Kalau aku berhasil minta bantuannya, jangankan baru Bu Pun Su dan Hok Pek Taisu biarpun ditambah seratus orang lagi, dengan mudah mereka akan dapat dihancurkan!”

Semua orang memandang heran karena sepanjang pendengaran mereka, tokoh besar dari barat yang disebut Pok Pok Sianjin itu kabarnya telah musnah dan telah naik ke Sorga menjadi dewa! Demikianlah dongeng yang dituturkan orang.

Hai Kong Hosiang tertawa. “Memang di atas dunia ini terdapat empat orang tokoh besar yang dapat disebut menduduki tempat tertinggi di dunia persilatan. Untuk daerah selatan dan timur, nama Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu disebut-sebut sebagai tokoh-tokoh besar tanpa tandingan. Akan tetapi di bagian barat terdapat Pok Pok Sianjin, dan di bagian utara terdapat Swi Kiat Siansu, Suhu dari Thai Kek Losu. Kudengar bahwa Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu telah tewas oleh Pendekar Bodoh, maka kalau kita pergi ke utara melaporkan hal ini kepada Swi Kiat Siansu, mustahil dia tidak akan turun gunung membantu kita?”

Semua orang merasa girang sekali karena kalau saja dua orang sakti itu benar-benar mau turun gunung membantu pekerjaan yang berat dan hebat ini akan jauh lebih ringan lagi. Tiba-tiba Ceng To Tosu sambil mewek-mewek bangun berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “Cu-wi, setelah diadakan persetujuan untuk bekerja sama, menurut pendapat pinto yang bodoh, ada baiknya kalau diangkat seorang ketua atau pemimpin agar segala pekerjaan yang dilakukan berada di bawah pimpinan seorang yang tepat dan yang terbaik di antara kita semua!”

Mendengar ucapan ini, semua orang saling pandang dan mulailah mereka mempertimbangkan, siapa kiranya yang tepat untuk dijadikan pemimpin.

“Seorang ketua haruslah mempunyai kepandaian tertinggi, maka untuk menentukan siapa yang patut menjadi ketua, lebih baik kita mengajukan beberapa orang calon, kemudian calon-calon itu menguji kesaktian untuk membuktikan bahwa dia memang cukup pandai untuk diangkat menjadi ketua,” kata Hai Kong Hosiang.

Orang-orang lalu saling bercakap-cakap hingga keadaan menjadi riuh, sedangkan Ang I Niocu yang melihat dan mendengar semua ini, diam-diam merasa terkejut sekali. Kalau mereka semua telah bersatu dan berhasil memanggil dua orang tokoh besar yang disebutkan tadi, maka pihaknya akan menghadapi lawan yang amat tangguh. Ia pernah mendengar nama Pok Pok Sianjin yang bertapa di Puncak Go-bi-san dan juga sudah mendengar nama Swi Kiat Siansu yang bertapa di pegunungan daerah Mongolia, dan kabarnya kedua orang itu memiliki kesaktian yang luar biasa! Sambil menahan napas agar jangan mengeluarkan suara berisik, Ang I Niocu melanjutkan pengintaiannya.

Setelah dipilih-pilih, akhirnya yang diajukan menjadi calon adalah tiga orang yang dianggap memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, yaitu Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Kam Hong Sin sendiri. Tadinya Siok Kwat Mo-li Si Nenek Bongkok juga dipilih, akan tetapi ia tidak mau menerimanya dan mengundurkan diri sambil berkata,

“Hai Kong Suheng telah dipilih, mengapa pula aku sebagai Sumoinya harus maju? Biarlah dia yang mewakili aku sekalian!”

Sambil tersenyum Kam Hong Sin berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio, “Oleh karena kita berada di antara kawan sendiri, maka kuharap adu kepandaian ini dilakukan dalam cara damai sebagaimana biasa dilakukan oleh perwira-perwira kerajaan.”

“Bagus, bagaimanakah cara itu, Kam-ciangkun?” tanya Wi Wi Toanio.

“Di waktu para perwira menguji kepandaian, mereka mempergunakan sepasang sumpit gading yang dipegang di tangan kanan seperti orang sedang makan nasi. Kemudian dengan sumpit itu, mereka saling menjepit dan berusaha membetot sumpit di tangan lawannya dan siapa yang sumpitnya terlepas, dia dianggap kalah.”

“Baik sekali!” Hai Kong Hosiang memuji. “Memang siapa yang lebih tinggi lweekangnya akan mendapat kemenangan. Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh menyerang tangan orang dengan sumpit itu, bukan?”

“Tidak boleh sama sekali! Dalam hal ini kita harus mengandalkan kejujuran dan kepandaian, sama sekali tidak boleh melukai tangan lawan!”

Setelah mendapat persetujuan, Kam Hong Sin, Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang lalu duduk mengelilingi sebuah meja dan para pelayan lalu mengambil tiga pasang sumpit gading. Untuk menguji kekuatan sumpitnya, Kam Hong Siang lalu berseru keras dan menancapkan sepasang sumpit itu di atas meja hingga sumpit itu menancap sampai setengahnya di dalam kayu meja yang keras itu.

Wi Wi Toanio tersenyum dan ia pun ingin menguji kekuatan sumpitnya yang hendak digunakan dalam pertandingan ini, maka ia mengetuk-ngetuk ujung meja dengan perlahan dan hancurlah ujung meja itu berhamburan ke bawah.

Hai Kong Hosiang tidak mau kalah. Ia menggunakan sepasang sumpitnya seperti dua batang pensil dan menggurat-guratkan ujungnya pada permukaan meja. Nampaklah guratan-guratan yang dalam di permukaan meja itu, bagaikan tanah lempung digurat-gurat dengan pisau tajam saja.

Orang-orang yang melihat demonstrasi lweekang dari tiga orang itu bersorak memuji, dan Ang I Niocu sendiri diam-diam merasa kagum melihat pengerahan tenaga lweekang yang tidak boleh dianggap ringan itu.

Menurut kebiasaan sebagaimana dituturkan oleh Kam Hong Sin, maka oleh karena pengikut pertandingan itu ada tiga orang, lalu dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus bertanding lebih dulu. Pemenang pertandingan pertama ini lalu akan berhadapan dengan orang ke tiga untuk menentukan juara dan jabatan ketua.

Ketika undian dilakukan, ternyata bahwa yang mendapat giliran pertama adalah Kam Hong Sin dan Wi Wi Toanio. Mereka tersenyum dan duduk berhadapan dengan tangan menjepit sumpit masing-masing.

“Ciangkun, silakan kaumulai lebih dulu, oleh karena kau yang lebih tahu tentang cara pertandingan ini.”

Kam Hong Sin mengangguk dan berseru, “Toanio, jagalah sumpitmu!” Sambil berkata demikian, sepasang sumpit Kam Hong Sin digerakkan dengan terbuka bagaikan sepasang patuk burung, hendak menjepit di tangan Wi Wi Toanio. Nenek tua ini tidak mengelak karena ia hendak mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawan. Ia membiarkan sepasang sumpitnya terjepit dan tenyata bahwa sepasang sumpitnya itu terjepit kuat bagaikan terjepit oleh catut besi saja. Kini adu tenaga dimulai. Kam Hong Sin mengerahkan tenaga untuk memutar sumpit lawannya agar terlepas dari pegangan, akan tetapi ia merasa betapa sumpit itu dipegang dengan kendur dan tenaga lweekangnya tak berdaya menghadapi tenaga halus yang meruntuhkan gerakannya dengan menyerah, akan tetapi yang mengandung kekuatan yang luar biasa besarnya hingga ketika ia mencoba untuk memutarnya, sepasang sumpit lawan itu bergerak sedikit pun tidak.

“Ciangkun, kau sudah terlalu lama menjepit!” kata Wi Wi Toanio yang sambil tersenyum dan hal ini mengherankan Kam Hong Sin oleh karena dalam pengerahan tenaga khikang, mengucapkan kata-kata merupakan pantangan. Ia membarengi pada saat Wi Wi Toanio membuka mulut, lalu membetot keras untuk menarik sumpit lawan supaya terlepas, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sumpit lawan itu demikian licin hingga jepitannya terlepas.

Kini Wi Wi Toanio yang menggerakkan sumpitnya dan ketika sumpitnya telah terjepit sepasang sumpit Kam Hong Sin, nenek itu tiba-tiba membuat gerakan mendorong, bukan membetot. Ini adalah gerakan yang licin dan penuh perhitungan, karena pada saat itu Kam Hong Sin memang sedang mengerahkan tenaga untuk menahan sumpitnya, maka tentu saja ketika tiba-tiba didorong, tangannya menjadi terdorong dan sumpitnya hampir terlepas. Pada saat ia mempertahankan diri dan merobah tenaganya dari menarik menjadi mendorong untuk melawan tenaga dorongan lawan, tiba-tiba Wi Wi Toanio secara tak terduga-duga membetot sekerasnya sambil berseru,

“Lepas!”

Hal ini benar-benar tak pernah diduganya, mana Kam Hong Sin tak dapat mempertahankan sumpitnya lagi dan sungguhpun ia masih dapat mempertahankan sebatang yang lain telah kena dibetot terlepas! Kam Hong Sin bangun berdiri dan menjura di depan Wi Wi Toanio mengaku kalah sedangkan para hadirin bertepuk tangan memuji.

Hai Kong Hosiang tertawa terbahak-bahak. “Permainan bagus! Selain tenaga dan keuletan, di dalam permainan ini juga diperlukan kecepatan dan kelincahan, ditambah otak yang cerdik! Aku yang bodoh mana dapat melawan Toanio?” Akan tetapi sambil berkata demikian, ia lalu duduk menghadapi Wi Wi Toanio, menggantikan tempat Kam Hong Sin yang sudah kalah.

“Seranglah, Hai Kong!” kata Wi Wi Toanio menantang.

“Tidak, kau saja yang menyerang, aku hendak mempertahankan diri saja,” jawab Hai Kong Hosiang yang cerdik. Hwesio ini terkenal cerdik dan banyak tipu muslihatnya, maka Wi Wi Toanio berlaku hati-hati. Nenek ini ingin benar-benar diangkat menjadi ketua, karena hal ini akan menguntungkannya. Kalau ia yang menjadi pemimpin, maka ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk membalas dendamnya kepada Bu Pun Su. Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang dan ilmu silat, mungkin tingkatnya masih lebih tinggi dari Hai Kong Hosiang, akan tetapi dalam hal kecerdikan, ia sering mengagumi hwesio ini.

Wi Wi Toanio segera menyergap dengan sumpitnya untuk menjepit kedua sumpit Hai Kong Hosiang, akan tetapit tiba-tiba hwesio ini membuka mulut sumpitnya dan kini sumpit-sumpit itu menjadi saling jepit! Sepasang sumpit Wi Wi Toanio menjepit sumpit Hai Kong Hosiang sebelah bawah sedangkan sepasang sumpit Hai Kong Hosiang menjepit sumpit Wi Wi Toanio sebelah atas, bagaikan mulut dua ekor jangkerik sedang saling gigit dalam perkelahian yang sengit!

Tak terdengar sedikit pun suara di antara penonton yang memandangnya saking tegangnya pertandingan itu. Kini Wi Wi Toanio maklum bahwa Hai Kong Hosiang yang cerdik tidak mau mengadu kecepatan, maka ia sengaja menjepit sebuah sumpit lawan dan membiarkan sumpitnya yang sebatang terjepit pula hingga dalam keadaah demikian, terpaksa mereka harus mengandalkan tenaga belaka. Masing-masing tidak mau mengalah, dan dua pasang sumpit itu sampai tergetar saking serunya pertemuan tenaga mereka yang disalurkan kepada sepasang sumpit masing-masing! Sebentar sumpit terputar ke kanan, sebentar ke kiri, akan tetapi keduanya sama kuat hingga empat batang sumpit itu seakan-akan telah tumbuh menjadi satu! Dari getaran-getaran yang menyerang ke jari-jari tangannya, Hai Kong Hosiang maklum akan kehebatan tenaga lweekang Wi Wi Toanio, akan tetapi nenek tua itu pun merasa betapa sepasang sumpit di tangan Hai Kong Hosiang demikian kokoh kuatnya bagaikan dua bukit karang yang sukar dirobohkan!

Lama sekali adu tenaga ini berlangsung dan pada jidat Hai Kong Hosiang telah nampak keringat keluar membasahi jidatnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga mulai nampak pucat! Kam Hong Sin berdiri dengan mata terpentang lebar karena baru kali ini ia menyaksikan pertandingan sumpit yang demikian seru dan hebatnya.

Tiba-tiba Wi Wi berseru keras sekali dan ia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Hai Kong mencoba untuk bertahan, akan tetapi tiba-tiba “krek!” terdengar suara keras dan tiga batang sumpit telah patah, yaitu dua batang sumpit Hai Kong Hosiang dan sebatang sumpit Wi Wi Toanio! Hal ini menunjukkan bahwa lweekang Wi Wi Toanio masih menang setingkat!

Hai Kong Hosiang menghapus keringatnya dan tertawa. “Sudah kukatakan bahwa aku takkan bisa menang menghadapi Wi Wi Toanio yang tangguh! Akan tetapi, kita semua enak-enak mengadu kepandaian hingga melupakan orang yang mengintai dari luar!”

Ang I Niocu merasa terkejut sekali dan serba salah. Terang bahwa mata Hai Kong Hosiang yang tinggal satu itu awas sekali dan telah dapat melihatnya. Ang I Niocu tak kenal arti takut, akan tetapi dalam keadaan seperti itu ia benar-benar menjadi bingung. Kalau ia melarikan diri dari situ, ia akan merasa malu kepada diri sendiri, sebaliknya kalau ia melompat masuk, ia yakin bahwa ia takkan kuat menghadapi sekian banyaknya orang-orang gagah.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari sebelah atasnya dan disusul ucapan mengejek, “Ha, ha, memang semenjak tadi aku berada di sini. Bagaimana aku bisa masuk sebelum diundang?”

Ang I Niocu terkejut sekali. Bagaiamana ada orang bisa berada diatasnya tanpa ia ketahui sama sekali? Ia menengok dan melihat seorang kakek botak duduk di atas tiang yang melintang di atas kepalanya. Kakek itu duduk bagaikan seorang anak-anak sedang menonton pertunjukan indah, sedangkan pada lengan kirinya terjepit sepasang tongkat bambu warna kuning. Ia menjadi tercengang karena dapat menduga bahwa orang ini tentulah Hok Peng Taisu yang pernah diceritakan oleh Ma Hoa kepadanya. Dan, orang ini agaknya yang telah mencuri harta pusaka itu. Sementara itu, kakek botak yang bukan lain adalah Hok Peng Taisu itu, memandang kepadanya dan mengedipkan mata sambil menyeringai, memberi tanda agar Dara Baju Merah itu jangan mengeluarkan suara.

Sementara itu Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya mendengar suara dari luar itu, lalu berjaga-jaga dan Kam Hong Sin sebagai tuan rumah lalu berkata, “Tamu yang berada di luar dipersilakan masuk!”

Terdengar suara tertawa bergelak dan tiba-tiba tubuh seorang kakek botak melayang masuk dengan gerakan yang ringan sekali. Dengan sepasang matanya yang tajam, kakek botak itu menyapa semua orang yang berada di ruang itu dan berkata,

“Aduh, sudah berkumpul semua. Bagus, bagus! Tadi telah kusaksikan pertandingan sumpit yang bagus. Aku tua bangka pun mempunyai semacam permainan sumpit yang sama, akan tetapi entah ada orang yang cukup bergembira untuk melayaniku bermain-main atau tidak, entahlah!”

“Biarlah pinceng melayanimu, Kakek Tua!” kata Hai Kong Hosiang.

“Bagus, bagus, akan tetapi sebagai tamu baru, aku belum mendapat jamuan, sedangkan perutmu yang gendut sudah diisi penuh, tentu saja aku akan kalah tenaga! Biarkan aku makan dulu beberapa mangkok sayur!” Sambil berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu mengambil semangkok daging kambing dan sepasang sumpit bambu. Sambil berdiri, ia makan daging itu sepotong demi sepotong dan kelihatannya ia menikmati makanan itu.

“Locianpwe ini siapakah?” Kam Hong Sin bertanya karena merasa penasaran melihat lagak orang yang tidak tahu akan kesopanan.

“Baru saja namaku kausebut-sebut, sekarang hendak bertanya pula, bukankah ini aneh namanya? Akan tetapi, aku jangan kaubandingkan dengan Bu Pun Su yang lihai!”

Terkejutlah semua orang, dan ketika melihat ke arah dua batang tongkat bambu yang dikempit di bawah lengan kiri, Kam Hong Sin menjadi pucat dan bertanya,

“Apakah kau Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka?”

Tiba-tiba Hok Peng Taisu tertawa bergelak-gelak. “Sudah berpuluh tahun aku orang tua menyembunyikan diri dalam gua dan karena perbuatan orang-orang yang suka mencurilah yang menyebabkan aku keluar dari gua. Sekarang aku bahkan dituduh menjadi pencuri. Lucu, lucu!” Kemudian, dengah tangan kiri masih menyangga mangkok dan di bawah lengan kiri itu masih terjepit tongkat-tongkat bambunya, tangan kanan memegang sumpit, ia menuding ke arah Hai Kong Hosiang dengan sumpitnya itu dan bertanya,

“Bagaimana, apakah kau masih mau melayani aku bermain sumpit?”

“Boleh, asal kau orang tua jangan bermain curang!”

Kembali Hok Peng Taisu tertawa bergelak dan ia mengulurkan tangan yang memegang sumpit sambil berkata, “Nah, kaujepitlah sumpitku ini!”

Hai Kong Hosiang yang melihat bahwa sepasang sumpit kakek itu adalah sumpit bambu biasa saja, lalu melangkah maju dan dengan sumpit gading yang kuat ia lalu menyerang maju, akan tetapi bukan menjepit sumpit kakek itu, melainkan menotok dengan sepasang sumpitnya ke arah pergelangan tangan Hok Peng Taisu! Akan tetapi, kakek botak ini agaknya tidak tahu akan kecurangan lawan, ia hanya menggerakkan sumpitnya ke bawah, lalu setelah dapat menangkis sumpit Hai Kong Hosiang, ia memutar sumpitnya sedemikian rupa hingga sumpit Hai Kong Hosiang ikut terputar-putar tanpa dapat ditahan pula! Terpaksa Hai Kong Hosiang mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot, akan tetapi sumpitnya seakan-akan telah timbul akar pada sumpit kakek itu dan tak dapat dibetot. Ia mengerahkan tenaganya lagi dan tiba-tiba kakek itu melepaskannya hingga tubuh Hai Kong Hosiang terhuyung ke belakang.

“Ha, ha, ha! Kau lucu sekali hwesio!” katanya, lalu dengan sumpitnya ia menjepit sepotong daging yang dimasukkan ke dalam mulutnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu! Wi Wi Toanio yang dapat memaklumi akan kelihaian kakek botak ini, diam-diam menghampirinya dari belakang dengan sepasang sumpit gading di tangannya.

“Hok Peng Taisu, aku pun ikut bermain-main dengan sumpit!” Dan belum juga habis kata-kata ini ia ucapkan, ia telah menyerang dengan sepasang sumpitnya, menotok jalan darah Hok Peng Taisu dari belakang! Kakek botak itu tidak bergerak ataupun membalikkan tubuh, seakan-akan ia tidak mendengar ucapan itu, hanya tangan kanannya yang memegang sumpit saja digerakkan ke belakang tubuhnya. Pada saat itu, Hai Kong Hosiang yang merasa penasaran, lalu menyerang lagi dari depan dengan sepasang sumpitnya digerakkan ke arah kakek botak itu.

Biarpun diserang dari belakang dan depan, agaknya Hok Peng Taisu masih saja enak-enak mengunyah daging beberapa potong yang tadi dimasukkan ke dalam mulut. Ketika sumpit Wi Wi Toanio telah dekat dengan tubuhnya, tiba-tiba sumpit di tangan kanannya bergerak dan terdengar suara “krek!” dan seruan Wi Wi Toanio yang melompat mundur karena merasa telapak tangannya sakit sekali, dan ternyata bahwa sepasang sumpitnya telah terpotong menjadi dua, setelah tadi terjepit oleh sumpit bambu Hok Peng Taisu! Sedangkan dua batang sumpit Hai Kong Hosiang yang menyambar ke arah ulu hatinya, juga tidak dielakkan oleh kakek botak itu, akan tetapi tiba-tiba ia membuka mulutnya dan duakali ia meniupkan daging-daging yang dimakan tadi dari mulut! Daging-daging itu meluncur bagaikan pelor dan tepat sekali mengenai ujung sepasang sumpit itu. Hai Kong Hosiang hanya merasa betapa tusukan sumpitnya tertahan oleh tenaga yang kuat dan tahu-tahu ia melihat betapa dua batang sumpitnya telah menancap pada dua potong daging bakso yang besar!

Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini dan ia merasa dirinya dipermainkan, maka ia berseru.

“Jangan jual lagak di sini!” Sambil berseru demikian ia mengayun sepasang sumpitnya yang masih ada baksonya itu meluncur cepat ke arah dua mata Hok Peng Taisu!

Akan tetapi kakek botak itu sambil terkekeh-kekeh lalu berkata. “Hwesio, mengapa kau tidak makan bakso-bakso itu?” Lalu ia mengangkat dua tongkat bambunya, memukul ke arah sepasang sumpit yang melayang itu. Heran sekali, ketika tongkat bambu itu beradu dengan sumpit, bakso yang berada di ujung sepasang sumpit itu melayang kembali ke arah Hai Kong Hosiang, sedang sumpit-sumpitnya melayang ke samping, menuju kepada Wi Wi Toanio!

Hai Kong Hosiang mengelak dan sambil menyumpah-nyumpah lalu mencabut keluar tongkat ularnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga menjadi marah dan menyampok dua batang sumpit yang melayang ke arah dirinya itu hingga runtuh ke atas lantai! Kemudian, nenek ini pun maju menyerang dengan kedua tangan merupakan cakar burung garuda. Sebenarnya, Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Kuku Garuda) yang dimiliki oleh nenek ini bukanlah Eng-jiauw-kang biasa dan gerakannya aneh serta lihai sekali.

Melihat dirinya hendak dikeroyok, Hok Peng Taisu segera menggerakkan sepasang tongkat bambunya dan dua kali tubuhnya berkelebat, tahu-tahu tongkat ular di tangan Hai Kong Hosiang telah kena dibikin terpental dan Wi Wi Toanio hampir saja terkena sabetan itu pada pipinya! Keduanya merasa terkejut sekali dan melompat mundur.

Hok Peng Taisu tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini benar-benar merupakan tuan rumah yang kurang sopan! Lebih baik aku pergi saja lagi!” Setelah berkata demikian, kakek botak itu menggerakkan kakinya dan melayang pergi.

“Locianpwe, tunggu dulu!” tiba-tiba Kam Hong Sin berseru dan memburu ke pintu.

“Apa kehendakmu?” terdengar suara kakek botak itu dari atas genteng.

“Kami menantangmu dan juga Bu Pun Su untuk mengadakan pertandingan adu kepandaian di Puncak Hoa-san pada bulan tiga. Apakah kau berani menerima tantangan kami ini?”

Kembali kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh. “Tak usah kauceritakan, aku pun telah maklum akan maksud kalian yang buruk itu. Baik, baik, memang telah lama aku ingin bertemu dengan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu. Tentang Bu Pun Su, aku tidak tanggung bahwa ia akan mau melayani ajakan kalian yang gila itu!”

Hok Peng Taisu lalu melayang ke tempat mana Ang I Niocu bersembunyi dan memberi tanda dengan tangan, agar supaya Dara Baju Merah itu mengikutinya. Ang I Niocu lalu melompat ke atas genteng dan mengikuti kakek itu pergi dari situ. Setelah berada di tempat jauh, kakek botak itu berkata,

“Bukankah kau yang bernama Ang I Niocu?”

Ang I Niocu menjura dengan sangat hormatnya. “Betul Locianpwe dan sudah lama aku yang bodoh mendengar tentang nama Locianpwe dari Ma Hoa. Aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan seorang sakti seperti Locianpwe.”

“Ah, jangan terlalu memuji, Nona. Kau tentu sudah mendengar semua kehendak mereka itu, bukan? Nah, terserah kepadamu sekarang apakah kau hendak menyampaikan undangan mereka terhadap Bu Pun Su atau tidak. Hanya saja, boleh kau katakan pada Bu Pun Su bahwa aku tua bangka tentu akan menghadapi tantangan mereka itu pada waktunya di Puncak Hoa-san!”

Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu berkelebat pergi sedangkan Ang I Niocu lalu melanjutkan perjalanannya. Memang ia pun ada maksud untuk pergi ke Gua Tengkorak menemui susiok-couwnya, sekalian hendak menemui Bu Pun Su untuk minta ijin orang tua itu tentang perjodohannya dengan Lie Kong Sian.

Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa menjalankan tugas membagi-bagi harta itu sambil melanjutkan perjalanan ke timur. Seperti halnya Ang I Niocu, mereka pun mengalami banyak sekali kebahagiaan dari pekerjaan yang mulia ini.

Ketika mereka menyeberang sebatang sungai yang menjadi anak Sungai Huangho, Nelayan Cengeng melihat beberapa perahu nelayan hilir mudik dengan para nelayan bernyanyi-nyanyi sambil mendayung perahu mereka. Pemandangan dan pendengaran ini membangkitkan hatinya dan menimbulkan rindunya pada kehidupan nelayan yang telah dinikmatinya semenjak masih muda, maka ia berkata kepada Ma Hoa dan Kwee An.

“Ma Hoa dan Kwee An, telah lama sekali aku merasa rindu untuk hidup kembali sebagai seorang nelayan, mendayung perahu menjala ikan dan hidup dengan aman dan tenteram di atas air! Terus terang saja kuakui bahwa hampir tiap malam aku bermimpi duduk di atas perahu seorang diri, dibuai ombak, minum arak sambil menikmati cahaya bulan di waktu malam. Kalian telah saling berjumpa kembali dan juga kawan-kawanmu telah dapat kita ketemukan, maka hatiku kini merasa aman dan senang. Oleh karena itu, aku ingin tinggal dan hidup kembali sebagai nelayan di sungai ini. Kalian teruskanlah perjalanan kalian dan ini sisa harta benda yang kubagi-bagikan boleh kalian habiskan dan bagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kelak kalau tiba saatnya kalian hendak melangsungkan pernikahan, berilah kabar dan aku pasti akan datang.”

Ma Hoa maklum bahwa suhunya ini memang suka sekali hidup di atas air sebagai seorang nelayan, bahkan dulu suhunya pernah menyatakan bahwa ia ingin mati di dalam sebuah perahu, maka berkata,

“Suhu, amat berat hatiku harus berpisah dari Suhu. Suhu tentu tahu bahwa teecu menganggap Suhu sebagai ayah sendiri, maka kelak kalau Suhu telah bosan merantau di atas sungai ini, teecu harap Suhu suka tinggal bersama teecu agar teecu mendapat kesempatan merawat Suhu dan membalas budi.”

Nelayan Cengeng tertawa bergelak hingga air matanya keluar. “Muridku, anakku yang baik!” katanya sambil menaruhkan tangannya di atas kepala Ma Hoa. “Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagiku selain melihat kau hidup bahagia dengan Kwee An! Aku berjanji bahwa kelak apabila aku sudah bosan di sungai ini, pasti aku akan hidup dekat dengan kau dan suamimu.”

Setelah banyak mendapat nasihat-nasihat dan petuah-petuah dari Nelayan Cengeng yang baik hati itu, Kwee An dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Ma Hoa mengajak Kwee An mengunjungi suhunya ke dua, yaitu Hok Peng Taisu di Bukit Hong-lun-san, di mana dulu ia diberi pelajaran silat Bambu Runcing. Bukit itu masih indah seperti dulu, kaya akan tamasya alam yang mengagumkan hati. Ketika mereka tiba di puncak, mereka tiba-tiba mendengar suara angin pukulan yang hebat dibarengi bentakan-bentakan seperti orang sedang berkelahi. Dengan cepat mereka lalu menghampiri tempat itu dan Ma Hoa menahan geli hatinya ketika melihat betapa suhunya bersilat seorang diri dengan sepasang tongkatnya. Gerakan kakek botak itu demikian kuatnya hingga di sekitarnya semua daun-daun bergerak-gerak terkena pukulan angin yang keluar dari pukulan dan sambaran tongkat itu! Kwee An berdiri bengong dan merasa kagum bukan main melihat kehebatan kakek luar biasa itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: