Pendekar Bodoh ~ Jilid 37

“Suhu, kau orang tua benar-benar rajin sekali!” Ma Hoa memuji dan Hok Peng Taisu lalu menghentikan latihannya dan berpaling kepada mereka sambil tersenyum. Ma Hoa segera menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Kwee An yang juga berlutut.

“Bagus, bagus, bagus sekali kalian datang ke sini. Di mana Nelayan Cengeng?”

“Dia rindu kepada perahu dan sungai, Suhu, maka tidak melanjutkan perjalanan dan hendak hidup beberapa lama di atas Sungai Liang-ho,” jawab Ma Hoa.

Hok Peng Taisu menarik napas panjang. “Nelayan Cengeng memang orang yang beruntung tidak seperti aku, tua-tua masih menimbulkan perkara dan mencari permusuhan. Tahukah kau bahwa pada bulan tiga aku akan mengadakan pertandingan di Puncak Hoa-san? Oleh karena itu aku harus melatih diri dan melepaskan urat-urat yang sudah kaku!” Di waktu mudanya kakek botak ini memang gemar sekali mengadu kepandaian dengan orang-orang pandai, maka kini agaknya kegemaran itu timbul kembali dalam menghadapi tantangan Hai Kong Hosiang. Kemudian ia lalu menceritakan tentang tantangan itu kepada Ma Hoa dan Kwee An.

“Bu Pun Su adalah seorang tokoh besar, maka tentu saja ia pun akan menyambut tantangan ini. Aku kenal padanya sebagai seorang yang sabar, akan tetapi menghadapi sebuah tantangan yang keluar dari mulut hwesio jahat itu, tentu ia akan turun gunung. Oleh karena itu, hendaknya kalian datang kepadanya dan ceritakanlah tentang tantangan itu kepada Bu Pun Su, sekalian sampaikan salamku kepadanya. Katakan bahwa selatan dan timur tidak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!” Dengan ucapan ini, Hok Peng Taisu hendak menyatakan bahwa dia dan Bu Pun Su takkan kalah menghadapi Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, tokoh-tokoh besar dari barat dan utara itu!

Ma Hoa dan Kwee An lalu turun dari Bukit Hong-lun-san dan karena mereka telah mendengar dari Cin Hai di mana letak Gua Tengkorak itu, maka mereka langsung menuju ke sana.

Ketika mereka tiba di depan Gua Tengkorak, mereka melihat Lin Lin sedang duduk dengan bengong seperti orang melamun dengan muka nampak sedih. Melihat kedatangan mereka, gadis ini tidak merasa girang, bahkan lalu memeluk kakaknya menangis sedih.

Kwee An yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan adiknya yang terkasih itu, mengusap-usap rambut Lin Lin dan bertanya, “Adikku sayang, mengapa kau bersedih? Di manakah Cin Hai dan di mana pula Suhumu?”

Setelah tangisnya mereda, Lin Lin lalu berkata, “Mereka berada di dalam. Suhu sedang menderita sakit keras. Hai-ko dan Enci Im Giok menjaganya. Aku… aku tak dapat menahan kegelisahan dan kesedihanku maka aku lalu keluar, karena di depan Suhu aku tidak berani memperlihatkan kesedihanku.”

Bukan main kagetnya hati Ma Hoa dan Kwee An mendengar hal ini. Segera Ma Hoa bertanya,

“Suhumu adalah seorang yang sakti, mengapa ia bisa menderita sakit? Dan bilakah Ang I Niocu tiba di sini?”

Kemudian, dengan suara perlahan agar jangan sampai suara mereka terdengar dari dalam dan mengganggu Bu Pun Su, Lin Lin lalu menceritakan bahwa setelah ia dan Cin Hai, juga bersama Lie Kong Sian, tiba di tempat itu, mereka mendapatkan Bu Pun Su sudah berbaring di dalam gua tak sadarkan diri, di jaga oleh tiga ekor burung sakti yang diam tak bergerak seperti sedang merasa bingung dan berduka pula. Lie Kong Sian yang paham akan ilmu pengobatan, lalu memeriksa nadi kakek jembel itu dan menyatakan bahwa Bu Pun Su menderita kelemahan usia tua dan agaknya kesedihan hati membuat jantungnya terserang hebat dan penderitaan batin membuat kakek itu tidak kuat menahan dan jatuh pingsan. Pemuda itu lalu mengatakan kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya menjaga Bu Pun Su dan membantu kesempurnaan jalan darahnya dengan tenaga lweekang, sedangkan ia sendiri hendak pergi ke pulaunya mencari semacam rumput darah yang mungkin akan menyembuhkan Bu Pun Su.

Semenjak masuk Gua Tengkorak, Cin Hai lalu memegang tangan kanan suhunya dan mengerahkan tenaganya membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu itu. Telah sepekan lamanya Cin Hai duduk bersila tak bergerak dari dekat suhunya dan hanya makan sedikit sekali, itu pun kalau dipaksa-paksa oleh Lin Lin.

Baru tiga hari yang lalu Ang I Niocu tiba di situ dan gadis ini pun menjaga susiok-couwnya siang malam bersama mereka.

“Apakah selama ini Suhumu tidak siuman?” tanya Kwee An dengan terharu.

“Pernah satu kali, dan setelah siuman ia hanya mengucapkan tiga perkataan, yaitu bahwa ia sudah tua, lalu jatuh pingsan lagi.” Kembali air mata mengalir turun dari kedua mata Lin Lin.

Tiga orang muda itu lalu masuk ke dalam Gua Tengkorak dengan tindakan kaki perlahan dan hati-hati sekali. Benar saja, mereka melihat Bu Pun Su berbaring di atas lantai di dalam kamar hio-louw, berbaring diam tak bergerak seperti sudah mati. Cin Hai duduk di sebelah kanannya dan memegang tangan kanan kakek itu sambil bersamadhi mengerahkan tenaga lweekangnya untuk membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhunya, sedangkan Ang I Niocu duduk di sebelah kirinya, juga bersila tak bergerak bagaikan patung. Biarpun ilmu lweekangnya belum setinggi Cin Hai, namun kadang-kadang ia menggantikan Cin Hai untuk memegang tangan kiri kakek itu dan membantunya dengan tenaga lweekangnya agar Cin Hai tidak merasa terlalu lelah.

Melihat hal ini Ma Hoa teringat akan kepandaian suhunya, yaitu Hok Peng Taisu, tentang ilmu pengobatan, maka ia lalu memberi tanda kepada Kwee An dan Lin Lin untuk keluar dari tempat itu. Cin Hai dan Ang I Niocu agaknya tidak melihat atau tidak mempedulikan kedatangan mereka.

Ketika Kwee An dan Ma Hoa melihat tiga ekor burung sakti berdiri di ruang tengkorak tanpa bergerak dan dengan muka seolah-olah sedang berduka sekali, mereka merasa amat terharu. Burung-burung itu benar-benar luar biasa hingga memiliki perasaan seperti manusia biasa.

Setelah tiba di luar gua, Kwee An bertanya mengapa Ma Hoa memanggil mereka keluar.

“An-ko, harap kau suka pergi dengan cepat kepada Suhu di Hong-lun-san untuk mengabarkan hal ini kepada Suhu. Suhu adalah seorang ahli pengobatan dan dia tentu akan sanggup menolong Bu Pun Su Locianpwe.”

Lin Lin menyatakan kegirangannya mendengar ini, maka ia pun mendesak kepada kakaknya untuk segera minta petolongan orang berilmu itu. Kwee An menyatakan persetujuannya dan ia berpesan kepada kekasihnya dan adiknya supaya mereka berdua menjaga di luar gua, agar jangan sampai ada musuh yang datang membuat kekacauan pada saat Bu Pun Su menderita sakit keras. Kemudian ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin ke Hong-lun-san.

Dengan adanya Ma Hoa yang mengawaninya, Lin Lin menjaga di depan gua dan duduk di atas batu karang sambil bercakap-cakap dan tidak melamun seperti tadi. Mereka saling menuturkan pengalaman masing-masing dan Ma Hoa merasa girang mendengar tentang ditewaskannya Thai Kek Losu, Sian Kek Losio dan Bo Lang Hwesio. Sebaliknya, ketika mendengar tentang tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan kepada Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su, Lin Lin merasa berkuatir sekali. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana suhunya akan dapat memenuhi tantangan itu?

Ketika mereka sedang duduk bercakap-cakap dengan asyiknya, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang wanita tua telah berdiri di hadapan mereka. Dengan terkejut Lin Lin dan Ma Hoa bangkit berdiri dan memandang dengan tajam kepada Wi Wi Toanio yang datang itu!

Melihat nenek ini, Lin Lin menjadi marah sekali karena teringat betapa bekas kekasih Bu Pun Su ini telah menjalankan kecurangan untuk mencelakai suhunya itu. Maka sambil mencabut Han-le-kiam dari pinggangnya, ia membentak,

“Mau apa kau datang ke sini?”

Wi Wi Toanio memandang dengan mata mengejek lalu jawabnya,

“Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian anak-anak kecil. Minggirlah, dan biarkan aku bertemu dengan Lu Kwan Cu!”

“Tidak! Tak seorang pun boleh masuk ke dalam gua ini mengganggu Suhu! Pergilah kau sebelum pedangku bicara!”

“Anak kecil kurang ajar! Kau berani menghina dan mengusirku?” Wi Wi Toanio menjadi marah sekali.

Ma Hoa juga mencabut sepasang bambu runcingnya dan berkata, “Nenek jahat, kau pergilah dengan baik-baik dan jangan mencari mati.”

Makin marahlah Wi Wi Toanio mendengar ini. Dengan seruan keras ia melompat dan menerjang ke arah Lin Lin dan Ma Hoa dengan limu Silat Cakar Garuda yang lihai dan berbahaya itu. Akan tetapi Lin Lin dan Ma Hoa sudah siap dan menghadapinya dengan mengirim serangan-serangan mematikan. Ternyata Wi Wi Toanio memang lihai sekali. Ilmu kepandaiannya lebih tinggi daripada kepandaian Hai Kong Hosiang, maka biarpun Lin Lin dan Ma Hoa mengeroyok dua dan mainkan senjata mereka dengan cara hebat, namun nenek itu tidak menjadi gentar dan membalas dengan cengkeraman-cengkeraman yang dahsyat. Sambil bertempur Wi Wi Toanio mengeluarkan pekik-pekik menyeramkan dan tubuhnya menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda. Ginkangnya ternyata sudah mencapai tingkat tinggi sekali hingga tubuhnya itu melayang-layang seolah-olah ia dapat terbang saja. Namun Lin Lin dan Ma Hoa yang berlaku hati-hati tidak mau kalah dan bekerja sama dengan mati-matian untuk merobohkan pengacau ini.

Pada saat pertempuran terjadi, Cin Hai sedang membantu suhunya dengan mengalirkan hawa melalui telapak tangan, sedangkan Ang I Niocu hanya bersila dan bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga yang telah banyak dikerahkan membantu susiok-couwnya itu. Kini ia mendengar suara-suara orang berkelahi di luar, maka tahulah ia bahwa Lin Lin dan Ma Hoa sedang menghadapi lawan tangguh. Tanpa mengeluarkan suara, ia lalu mengambil sebatang pedang Liong-cu-kiam yang diletakkan di dekat Cin Hai, lalu ia bertindak keluar.

Pada saat itu, sambil memekik keras, Wi Wi Toanio melompat ke atas dan kedua tangannya terulur ke depan dengan maksud merampas senjata kedua lawannya, akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan dua batang pedang yang bercahaya berkilauan menyambutnya dengan serangan hebat! Wi Wi Toanio sedang melayang bagaikan seekor burung garuda yang ganas, sedangkan Ang I Niocu pun melayang menyambutnya dengan pedang Liong-cu-kiam, bagaikan seekor burung hong yang indah dan gesit! Wi Wi Toanio terkejut melihat serangan ini, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah terputar dan berjungkir balik beberapa kali ke belakang!

Melihat Ang I Niocu datang membantu, Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gembira dan mereka lalu mainkan senjata mereka dengan seru dan hebat mendesak Wi Wi Toanio yang kini merasa sibuk juga menghadapi tiga orang gadis jelita yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga betina itu! Ang I Niocu memang lihai dan dengan sepasang pedang Liong-cu-siang-kiam di kedua tangan, ia merupakan seekor harimau yang tumbuh sayap. Lin Lin dengan Han-le-kiam-hwatnya merupakan lawan yang amat berbahaya karena ilmu pedangnya ini boleh dianggap menduduki tingkat tinggi sekali di antara segala macam ilmu pedang, sedangkan Ma Hoa dengan Ilmu Silat Bambu Runcingnya juga merupakan lawan yang tak mudah dilawan! Tentu saja setelah ketiga orang dara ini maju mengeroyok, biarpun ilmu kepandaian Wi Wi Toanio tinggi dan pengalamannya banyak, namun tetap saja ia merasa kewalahan dan sebentar saja ia terdesak mundur dan jiwanya berada dalam bahaya!

Wi Wi Toanio mengeluarkan jarum-jarum rahasianya dan kedua tangannya diayun menyebar puluhan batang jarum ke arah tiga dara itu, akan tetapi Ma Hoa memutar-mutar sepasang bambu rucingnya dan Ang I Niocu juga memutar sepasang pedangnya, hingga semua jarum kena terpukul runtuh. Sementara itu melihat kesempatan baik, Lin Lin maju mengirim serangan hebat ke arah dada lawannya dengan tusukan cepat. Wi Wi Toanio mencoba mengelak akan tetapi ketika ia merendahkan diri, Lin Lin merobah gerakannya dan pedangnya meluncur ke bawah! Wi Wi Toanio ketika itu terancam pula oleh sabetan pedang Ang I Niocu dari kiri dan tusukan bambu runcing yang menotok iganya, maka dengan bingung ia membanting diri ke belakang! Namun gerakannya biarpun sudah cepat sekali ujung pedang pendek Han-le-kiam di tangan Lin Lin masih lebih cepat dan ujung pedang ini berhasil melukai pundak Wi Wi Toanio yang lalu berguling ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan selanjutnya.

Tiga orang gadis itu hendak mengejar dan mengirim serangan maut, akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam gua,

“Jangan bunuh dia!”

Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa tercengang dan mereka menahan senjata masing-masing, sedangkan Wi Wi Toanio yang merasa jerih menghadapi tiga orang gadis kosen itu, lalu melarikan diri turun dari bukit itu secepatnya!

Ang I Niocu merasa girang sekali mendengar suara tadi, karena suara yang mencegah mereka tadi adalah suara Bu Pun Su. Juga Lin Lin mengenal suara suhunya, maka cepat-cepat ia lalu mengajak Ma Hoa dan Ang I Niocu untuk masuk ke dalam gua.

Mereka melihat bahwa Bu Pun Su telah siuman kembali akan tetapi masih rebah dengan tubuh lemah, sedangkan Cin Hai duduk bersila di dekatnya dengan wajah muram. Bu Pun Su memang hebat sekali, karena biarpun ia berada dalam keadaan sedemikian rupa, namun pendengarannya masih amat tajam sehingga ia dapat mendengar pertempuran yang terjadi di luar dan seruan-seruan Wi Wi Toanio itu dikenalnya baik-baik maka ia lalu mengerahkan khikangnya dan mencegah ketiga orang gadis itu membunuh Wi Wi Toanio. Tanpa menyaksikan dengan mata sendiri, dari pendengaran dan dugaan saja ia maklum bahwa Wi Wi Toanio takkan dapat menang menghadapi tiga dara yang gagah perkasa itu!

Ang I Niocu, Lin Lin, dan Ma Hoa lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Bu Pun Su tersenyum dengan lemah dan bibirnya bergerak, mengeluarkan bisikan perlahan,

“Kalian lihat, betapapun tinggi kepandaian orang, ia harus tunduk terhadap usia tua!”

Kemudian Bu Pun Su memandang kepada Ma Hoa dan berkata. “Nona Ma Hoa, kau datang ke sini tentu mempunyai maksud tertentu. Katakanlah!”

Ma Hoa tadinya segan untuk menceritakan tentang pesanan suhunya, dan tadinya ia berniat untuk menahan saja pesanan itu karena Bu Pun Su sedang sakit. Tidak tahunya kakek ini bermata awas hingga tahu bahwa kedatangannya mempunyai maksud tertentu, maka sambil berlutut ia lalu berkata,

“Maafkan teecu, Locianpwe. Sebetulnya teecu tidak berani mengganggu Locianpwe yang sedang menderita sakit.”

Terdengar suara tertawa Bu Pun Su yang seperti biasa, gembira dan terlepas, hanya kali ini suara ketawanya tidak sekeras dulu. “Anak yang baik, tubuhku sakit, akan tetapi semangatku masih seperti biasa. Ceritakanlah.”

“Sebetulnya teecu diperintahkan oleh Suhu Hok Peng Taisu untuk menyampaikan tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan kepada Suhu dan Locianpwe.”

“Hm, Hai Kong menantang aku dan Hok Peng?”

“Benar, Locianpwe. Hwesio itu menantang untuk mengadu kepandaian pada bulan tiga di Puncak Hoa-san, dan mereka hendak mengajukan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat sebagai jago untuk menghadapi Locianpwe dan Suhu. Suhu berpesan agar teecu menyampaikan kepada Locianpwe bahwa selatan dan timur tidak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!”

Bu Pun Su tertawa lagi, akan tetapi suara ketawanya makin lemah.

“Hok Peng ternyata lebih muda semangatnya daripada aku! Alangkah senangnya kalau bersama Hok Peng aku dapat menghadapi Pok Pok dan Swi Kiat!” Akan tetapi ia lalu menarik napas panjang dan berbisik,

“Tak mungkin, bulan tiga masih lama, aku takkan dapat bertahan selama itu…”

Mendengar ucapan ini, tak dapat dicegah lagi Lin Lin lalu menangis terisak-isak.

“Eh, eh, Lin Lin muridku yang nakal! Mengapa kau menangis? Suhumu sebentar lagi terbebas daripada kesengsaraan, mengapa kau malah menangis? Kau seharusnya bersyukur dan bergembira!”

Akan tetapi, mendengar ini, Lin Lin makin hebat tangisnya, bahkan kini Ang I Niocu dan Ma Hoa juga ikut menangis. Bu Pun Su menarik napas panjang,

“Hm-hm… perempuan, perempuan… kalau tidak menangis, kau bukan perempuan lagi namanya…”

Setelah tangisnya mereda, Lin Lin lalu berkata kepada suhunya, “Suhu, perkenankan pada teecu untuk mengajukan sebuah permohonan.”

“Nah, nah, sesudah menangis mengajukan permohonan, cocok sekali ucapan orang jaman dahulu bahwa di balik air mata wanita itu tersembunyi maksud-maksud tertentu!”

“Teecu mohon perkenan dari Suhu untuk mengijinkan Enci Im Giok melangsungkan perjodohannya dengan Lie Kong Sian Suheng!”

Mendengar ini Ang I Niocu cepat-cepat menundukkan kepalanya, menyembunyikan mukanya yang menjadi kemerah-merahan.

Bu Pun Su menjawab dan suaranya makin melemah seperti bisikan.

“Aku tahu… semenjak mereka datang aku sudah tahu… Im Giok dan Kong Sian memang cocok, aku setuju…” tiba-tiba ia mengeluh panjang dan kembali Bu Pun Su jatuh pingsan, tak sadarkan diri seperti orang tidur pulas!

Cin Hai cepat menyambar nadi tangan suhunya dan berbisik, “Suhu terlalu banyak menggunakan tenaga untuk bercakap-cakap.”

Tiba-tiba masuk seorang laki-laki ke dalam Gua Tengkorak dan ketika semua orang memandang, ternyata yang datang ini adalah Lie Kong Sian. Pemuda ini dengan cepat sekali lalu menghancurkan daun darah yang ia ambil dari pulaunya, memeras daun itu dan meminumkannya ke dalam mulut Bu Pun Su. Setelah itu, pemuda ini lalu duduk di sebelah Bu Pun Su untuk menggantikan Cin Hai membantu peredaran hawa dalam tubuh supeknya.

Tak lama kemudian, bagaikan api lilin yang hampir padam kini bernyala kembali, Bu Pun Su menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Ternyata khasiat daun darah telah bekerja dan ia merasa tubuhnya enak sekali. Kakek sakti itu lalu bangun dan duduk.

“Im Giok, kuulangi kata-kataku tadi. Kau memang berjodoh dengan Kong Sian dan aku merasa girang sekali bahwa kau mendapatkan jodoh dengan murid Han Le sendiri!” Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menundukkan kepala dan tak berani bergerak karena jengahnya. Kemudian Bu Pun Su berkata sambil menuding keluar gua,

“Ada orang datang!”

Semua orang memandang karena mereka tidak mendengar sesuatu, kecuali Cin Hai yang dapat mendengar tindakan kaki yang halus sekali. Benar saja, tak lama kemudian, masuklah Kwee An bersama Hok Peng Taisu yang datang-datang tertawa bergelak lalu menghampiri Bu Pun Su.

Bu Pun Su juga tertawa girang. “Hok Peng, apakah kau datang hendak memeriksa tubuhku yang sudah bobrok ini?”

“Bu Pun Su, benar-benarkah kau hendak mendahului aku? Kau hanya lebih tua beberapa tahun saja dariku, dan menurut patut, kau harus lebih kuat menolak cengkeraman maut!”

Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu duduk di dekat Bu Pun Su dan mengulurkan tangan untuk memeriksa nadi dan detik jantung kakek jembel itu. Setelah memeriksa sambil memejamkan mata beberapa lama, kakek jembel itu bertanya,

“Bagaimana, Hok Peng, masih berapa lama lagikah?”

Kakek botak itu memandang wajah Bu Pun Su dengan tajam. “Bu Pun Su, aku tidak ingin mengetahui urusan pribadimu, akan tetapi orang seperti kau ini tidak layak menerima luka di jantung karena tekanan batin! Jantungmu terluka hebat sekali karena kau agaknya teringat akan hal-hal yang telah lampau yang membuat kau merasa malu, marah, dan berduka. Melihat keadaanmu, paling lama kau hanya akan dapat bertahan selama sepekan saja!”

“Bagus, kalau begitu masih ada waktu beberapa hari lagi,” kata Bu Pun Su.

“Sayang sekali Bu Pun Su. Benar-benar sayang, karena sebetulnya aku ingin sekali melihat kau menikmati adu kepandaian di Puncak Hoa-san dan main-main sebentar dengan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu sebelum kau pergi! Pergi seorang diri saja ke Hoa-san kurang menggembirakan!”

Bu Pun Su tertawa, “Apa dayaku? Aku pun sudah mendengar dari muridmu tentang tantangan itu, akan tetapi kepergianku tak dapat ditunda-tunda lagi!”

Mendengar bahwa usia Bu Pun Su tinggal sepekan lagi dan mendengar pula betapa dua orang kakek yang aneh itu membicarakan kematian Bu Pun Su sebagai orang yang hendak pergi melancong saja, Ang I Niocu, Lin Lin dan Ma Hoa tak dapat menahan keharuan hati lagi dan terdengarlah isak tangis mereka. Lin Lin bahkan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhunya dan menangis sedih.

“Eh, eh, kembali kau memperlihatkan sikapmu yang nakal, Lin Lin!” kata Bu Pun Su. Kemudian, kakek jembel itu berkata kepada kakek botak,

“Hok Peng, jangan kau kecewa, karena betapapun juga, tantangan Hai Kong Hosiang itu harus kita hadapi! Aku tak dapat datang sendiri, akan tetapi aku hendak mewakilkan kepada Cin Hai untuk menghadapi mereka.”

“Suhu, teecu masih terlalu lemah untuk menghadapi mereka, terutama Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu yang sakti itu,” kata Cin Hai.

“Jangan kuatir, mereka itu sudah tua bangka dan tubuh mereka sudah bobrok seperti aku! Kita masih mempunyai waktu sepekan dan selama itu, aku akan menurunkan sisa-sisa kepandaianku kepadamu. Pula, setelah aku pergi, kau boleh minta bimbingan Hok Peng untuk memperdalam kepandaianmu hingga tidak akan mengecewakan kelak apabila kau mewakili daerah selatan dan timur bersama Hok Peng!”

“Bagus!” kata Hok Peng. “Aku setuju sekali kalau anak muda ini mewakilimu, karena ia mempunyai bahan cukup baik. Nah, aku tidak akan mengganggu lebih jauh, Bu Pun Su. Pergunakanlah sisa waktu yang tak lama itu dengan sebaiknya dan selamat berpisah sampai berjumpa kembali.”

Bu Pun Su mengangguk-angguk dan tersenyum. “Terima kasih paling lama lima tahun lagi kita bertemu!”

Hok Peng tertawa bergelak-gelak. Mungkin sekali sebelum lima tahun aku akan menyusulmu!” Kemudian kakek ini berkelebat keluar dan lenyap dari pandangan mata.

Bu Pun Su menarik napas panjang. “Lie Kong Sian, obatmu itu benar baik sekali karena aku merasa sehat kembali. Sekarang kalian dengarlah pesanku terakhir. Im Giok telah kuberi persetujuan menjadi jodoh Lie Kong Sian dan semoga kalian berdua hidup berbahagia. Pedang Liong-cu-kiam kuberikan kepada Cin Hai dan Im Giok, yang panjang untuk Cin Hai dan yang pendek untuk Im Giok karena kalian berdualah yang mendapatkannya.”

Cin Hai, Ang I Niocu dan Lie Kong Sian menghaturkan terima kasih.

“Masih ada lagi,” kata Bu Pun Su, “Kelak, apabila kalian memperoleh turunan, juga bagi Nona Ma Hoa kuanjurkan menurut nasihat ini, kalian harus menggunduli putera-puteramu.”

Semua orang memandang heran dan menganggap bahwa kakek itu telah mulai bicara tidak karuan seperti biasanya orang-orang tua yang sudah mendekati saat kematiannya.

“Hal ini jangan kalian pandang rendah,” kata Bu Pun Su. “Dan kau, Cin Hai, jangan kauanggap Gurumu berkelekar dan menyindir kau yang ketika kecil bergundul kepala, karena sesungguhnya bagi seorang anak laki-laki lebih baik digunduli rambutnya ketika masih kecil agar hawa yang sehat dan sejuk tidak tertolak oleh rambut dan membuat kepala anak itu menjadi segar dan baik perjalanan darahnya hingga selain memperkuat, juga menambah kecerdikan anak itu. Pesanku yang lain ialah kalau aku sudah pergi, tubuhku yang bobrok ini supaya dibakar di dalam gua ini dan abunya kalian masukkan ke dalam hiolouw besar, kemudian kalian tinggalkan gua ini dan menutupnya dengan batu besar rapat-rapat, lalu tutuplah gua ini dengan pohon-pohon agar tak sampai ditemukan orang lain. Aku ingin mengaso dengan tenteram di tempat ini.”

Semua orang mendengarkan pesan ini dengan hati terharu sekali.

“Nah, sekarang kalian keluarlah semua, kecuali Cin Hai karena aku hendak menggunakan sisa waktuku untuk melatihnya sebagai persiapan menghadapi adu kepandaian di Puncak Hoa-san kelak.”

Dengan hati sedih dan wajah muram, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Lin Lin, Ma Hoa dan Kwee An lalu mengundurkan diri dan keluar dari gua itu. Mereka menjaga di luar sambil bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing dan tidak berani mengganggu ke dalam di mana Bu Pun Su menggunakan kesempatan terakhir untuk melatih Cin Hai dengan ilmu-ilmu kepandaian yang belum dipelajarinya. Tentu saja dalam waktu yang hanya beberapa hari itu, Cin Hai tak mungkin mempelajari semua ilmu itu berikut prakteknya, dan hanya mempelajari pokok-pokok teorinya saja, untuk kemudian dipelajari prakteknya. Akan tetapi ia telah mencatat dalam otaknya segala pelajaran itu dengan teliti hingga Bu Pun Su menjadi puas.

Lima hari kemudian, Cin Hai keluar dari dalam gua dengan wajah muram dan ia memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk masuk ke dalam. Lin Lin berlari mendahului dan ketika melihat tubuh suhunya berbaring dengan wajah pucat dan napas lemah, ia lalu menubruknya sambil menangis.

Bu Pun Su menggerakkan tangannya yang sudah amat lemah itu untuk membelai rambut Lin Lin.

“Jangan menangis, jangan menangis” bisiknya, “jangan antarkan kepergianku dengan air mata… aku tidak suka…!” Lin Lin lalu menahan tangisnya dan terisak-isak dengan hati hancur.

“Anak-anak… pesanku terakhir… setelah selesai pertandingan pibu di Hoa-san… pulanglah dan langsungkan perjodohan… hiduplah dengan aman dan tenteram bahagia, jauhi segala permusuhan…!” ia terengah-engah karena sebenarnya waktu lima hari yang ia pergunakan siang malam untuk memberi gemblengan terakhir kepada Cin Hai itu terlampau melelahkannya dan membuatnya cepat lemah. “Sekarang… antarkan kepergianku dengan cita-cita tinggi dan luhur… selamat… tinggal!” lemaslah lehernya dan pada saat itu Bu Pun Su, tokoh persilatan yang amat tinggi ilmu kepandaiannya itu, terpaksa menyerah kalah terhadap maut yang merenggut nyawanya.

Lin Lin, Ang I Niocu, dan Ma Hoa menahan tangis mereka karena mereka hendak mentaati pesan terakhir dari Bu Pun Su. Kemudian mereka berenam mengadakan persiapan untuk menyempurnakan jenazah kakek itu dan membakarnya di dalam gua dengan penuh khidmat. Setelah selesai dan mayat itu telah menjadi abu seluruhnya, abunya lalu disimpan di dalam hiolouw besar yang berdiri di tengah kamar.

Untuk beberapa hari lamanya mereka mengadakan perkabungan di tempat itu dan mengadakan persembahyangan untuk memberi penghormatan terakhir, kemudian beramai-ramai mereka lalu menutup Gua Tengkorak dengan batu-batu besar dan menimbunnya dengan pohon-pohon kecil, hingga gua itu tertutup sama sekali dan tidak tampak dari luar.

Setelah itu, atas anjuran Ma Hoa, mereka berenam lalu pergi ke Hong-lun-san untuk memberi kabar kepada Hok Peng Taisu tentang kematian Bu Pun Su. Kakek botak itu menerima warta ini sambil tersenyum dan menarik napas panjang.

“Ah, dia lebih beruntung daripada aku. Sekarang ia sudah enak-enak sedangkan aku masih harus menderita.”

Oleh karena waktu untuk menerima tantangan tinggal sebulan lebih lagi, maka Hok Peng Taisu lalu melatih Cin Hai dengan berbagai kepandaian yang belum pernah dipelajari oleh anak muda itu sampai hampir sepuluh hari lamanya. Orang-orang muda yang lain merasa suka tinggal di bukit yang indah itu dan mereka juga berlatih silat di bawah pengawasan Hok Peng Taisu.

Setelah menganggap bahwa ilmu kepandaian Cin Hai cukup kuat, Hok Peng Taisu lalu mengajak mereka mulai melakukan perjalanan menuju ke Puncak Hoa-san.

Untuk memperkuat rombongan mereka, Ma Hoa minta perkenan kepada Hok Peng Taisu untuk singgah di tempat kediaman Nelayan Cengeng yaitu di Sungai Liong-ho. Ternyata kakek nelayan itu sedang enak-enak di atas sebuah perahu kecil, bersenang-senang seorang diri mencari ikan sambil bernyanyi-nyanyi.

Melihat kedatangan mereka, Nelayan Cengeng merasa girang sekali, dan ia segera menyatakan keinginannya untuk ikut ke Hoa-san! Tentang kematian Bu Pun Su, ia menyambungnya dengan ucapan yang hampir sama dengan ucapan Hok Peng Taisu, karena ia berkata,

“Aku harap akan dapat segera menyusulnya!”

Hok Peng Taisu lalu menyerahkan pimpinan rombongan itu kepada Nelayan Cengeng karena ia hendak melakukan perjalanan dari lain jurusan untuk singgah di tempat tinggal beberapa orang kenalannya.

“Kalau sudah tiba di kaki Bukit Hoosan, kalian tunggulah kedatanganku, dan kalau aku yang datang lebih dulu, aku pun akan menanti kalian,” kata kakek botak itu yang lalu berkelebat pergi. Seperti juga Bu Pun Su, Kakek aneh ini tidak suka melakukan perjalanan dengan orang lain, dan lebih suka berjalan seorang diri saja.

Ternyata bahwa pihak Hai Kong siang telah berkumpul di Puncak Hoa-san menanti kedatangan dua orang musuh besar, yaitu Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu. Wi Wi Toanio berhasil mengundang datang Pok Pok Sianjin, supeknya yang tinggal di Puncak Go-bi-san daerah barat yang telah berpuluh tahun mengasingkan diri itu. Wi Wi Toanio tidak berani menceritakan tentang hal yang sebenarnya, maka dengan cerdik nenek itu hanya menceritakan bahwa ia hendak mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan karena merasa tak kuasa menghadapi, mereka minta bantuan supek ini. Sebenarnya Pok Pok Sianjin tidak mau mempedulikan segala urusan dunia, akan tetapi mendengar nama Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu sebagai tokoh-tokoh tertinggi dari daerah selatan dan timur, tergeraklah hatinya hingga timbul kegembiraannya untuk mengukur kepandaian mereka. Apakah salahnya mengukur tenaga dalam sebuah pibu yang adil dan dilakukan dalam suasana persahabatan? Oleh karena inilah maka Pok Pok Sianjin menyanggupi dan tepat pada waktunya.

Sementara itu, Swi Kiat Siansu, guru Thai Kek Losu, ketika dibujuk oleh Hai Kong Hosiang yang menceritakan betapa kedua orang muridnya, yaitu Thai Kek Losu, tewas dalam tangan Cin Hai, Lin Lin dan Lie Kong Sian, tergerak pula hatinya ketika mendengar betapa pembunuh-pembunuh muridnya itu, dibela pula oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu. Kalau saja kedua tokoh besar itu tidak muncul untuk membela pembunuh-pembunuh muridnya, tentu ia tidak akan sudi turun gunung karena ia pun telah mendengar tentang kesesatan murid-muridnya itu, akan tetapi ia tergerak untuk mencoba pula kepandaian Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu yang amat terkenal.

Rombongan Hai Kong Hosiang terdiri dari dua belas orang, yaitu Pok Pok Sianjin, Swi Kiat Siansu, Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin, Kam Hong Sin, Ceng Tek Hosiang, Ceng To Tosu, Giok Im Cu, Giok Keng Cu, dan Giok Yang Cu. Selain dua belas orang-orang lihai ini, masih terdapat ratusan perwira yang sengaja menjaga di sekitar tempat itu.

Melihat keadaan rombongan yang banyak ini, terutama melihat para perwira, Pok Pok Sianjin merasa heran dan bertanya kepada Wi Wi Toanio, “Wi Wi, mengapa begini banyak orang berada di sini? Apakah kalian hendak mengadakan perang besar?”

“Tidak, Supek. Mereka itu adalah kawan-kawan teecu, dan perwira-perwira itu hanya untuk penjagaan kalau-kalau pihak lawan membawa pula bantuan besar untuk sengaja mencari permusuhan.”

Juga Swi Kiat Siansu merasa heran melihat banyaknya orang menjaga di situ, maka ia berkata kepada Hai Kong Hosiang, “Aku tidak menghendaki adanya pertempuran besar. Kalian boleh bertempur dan bermusuhan, akan tetapi jangan harap untuk melibatkan diriku dalam keadaan semacam itu!”

Hai Kong Hosiang menyatakan kesanggupannya untuk mencegah para perwira itu membuat kacau dan hanya minta agar supaya Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu menghadapi Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu di dalam pibu yang hendak diadakan.

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu merasa girang dapat saling bertemu dan mereka segera bermain catur di bawah sebatang pohon dan tidak mempedulikan lagi keadaan di sekitarnya.

Pada saat itu dua orang kakek yang sudah amat tua itu asyik bermain catur, maka datanglah rombongan Hok Peng Taisu yang terdiri dari delapan orang, yaitu Hok Peng Taisu sendiri, Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Ang I Niocu, Lie Kong Sian dan Nelayan Cengeng. Dengan sikap tenang dan gagah Hok Peng Taisu berjalan memimpin kawan-kawannya naik ke bukit dan sama sekali tidak gentar melihat para perwira yang berderet-deret menyambut kedatangan mereka itu.

Ketika Hai Kong Hosiang dan yang lain-lain menyambut, Hok Peng Taisu berlaku seakan-akan tidak melihat mereka, akan tetapi langsung menghampiri kedua orang kakek yang tengah bermain catur itu sambil tertawa dan berkata,

“Kalau Bu Pun Su belum meninggalkan kita, kalian tentu akan dipukul hancur dalam permainan catur ini. Sayang aku tidak pandai bermain catur!”

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu yang juga telah melihat kedatangannya, segera berdiri sambil tertawa.

“Hok Peng, kau nyata masih nampak sehat-sehat saja sungguhpun kepalamu sudah menjadi botak dan hampir habis semua rambutmu!” kata Pok Pok Sianjin, sedangkan Swi Kiat Siansu berkata dengan kecewa.

“Kau bilang tadi bahwa Bu Pun Su sudah meninggalkan kita? Ah, sayang sekali…! Dari tempat jauh, aku datang karena ingin merasakan pula kelihaiannya, ternyata ia telah mendahuluiku pergi… sungguh sayang.”

Hok Peng Taisu tertawa pula. “Jangan kau kecewa, Swi Kiat Siansu! Sungguhpun Bu Pun Su telah berpulang ke asalnya, akan tetapi dia telah mengirim salamnya dan bahkan mengirim seorang wakil yang cukup akan menggembirakan hatimu.”

Swi Kiat Siansu memandang tajam. “Apa? Apakah kau mewakili dia pula?”

Hok Peng Taisu menggeleng-geleng kepala. “Apa kaukira aku demikian serakah untuk memborong semua kehormatan? Bukan, bukan aku, akan tetapi muridnya.” Kakek botak ini lalu melambaikan tangan ke arah Cin Hai yang segera menghampiri mereka.

“Inilah wakil Bu Pun Su, ia disebut Pendekar Bodoh!”

Cin Hai lalu menjura dengan penuh penghormatan kepada Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin sambil berkata, “Teecu Sie Cin Hai yang bodoh merasa mendapat kehormatan besar dapat bertemu dengan Ji-wi Locianpwe.”

Pok Pok Sianjin bertubuh jangkung kurus, dan agak bongkok. Rambut dan kumisnya telah putih semua dan terurai ke bawah tidak terawat sama sekali. Tangan kanannya membawa sebatang tongkat panjang yang bengkok-bengkok dan tangan kirinya selalu mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Ia mengangguk-angguk senang melihat sikap Cin Hai yang sopan santun dan melihat sikap serta pandang mata pemuda itu, maklumlah ia bahwa pemuda ini adalah seorang yang “berisi”.

Swi Kiat Siansu bertubuh gemuk bundar seperti patung Jilaihud, jubahnya kuning dan hanya merupakan sehelai kain yang dibelit-belitkan pada tubuhnya. Tangan kanannya memegang sebatang kipas dan agaknya ia selalu merasa gerah karena kipas itu tiada hentinya digunakan untuk mengipasi tubuhnya. Kakek yang juga sudah tua sekali ini ketika mendengar bahwa julukan pemuda itu Pendekar Bodoh, segera menaruh hormat dan tahu bahwa orang yang menggunakan julukan serendah itu pasti memiliki kepandaian yang berarti.

“Bagus sekali,” kata Swi Kiat Siansu. “Bu Pun Su, ternyata pandai memilih murid-murid, tidak seperti aku yang selalu salah pilih. Pendekar Bodoh, tentu kau pula yang telah membantuku memberi hajaran kepada kedua muridku Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu?”

Cin Hai menjawab dengan tenang.

“Locianpwe, mana teecu berani memberi hajaran kepada orang lain? Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu sengaja hendak membunuh teecu dan kawan-kawan, terpaksa kami membela diri.”

Swi Kiat Siansu mengangguk-angguk, lalu ia berkata kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong Bengyu, kau telah berhasil mengundang aku untuk mengadakan pibu dengan Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu dan kini mereka berdua telah datang, biarpun Bu Pun Su sendiri hanya diwakili oleh muridnya. Akan tetapi, kau harus ingat bahwa pibu ini adalah urusan kami sendiri dan kau serta kawan-kawanmu yang banyak jumlahnya itu tidak boleh mencampuri urusan kami. Urusan pribadi terhadap para tamu tidak ada hubungannya dengan pibu ini!”

Pok Pok Sianjin juga berkata kepada Wi Wi Toanio, “Aku telah bertemu dengan jago-jago dari selatan dan timur, jangan mengganggu pibu ini.”

Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio biarpun merasa kecewa, akan tetapi mereka tidak berani membantah, hanya mereka mengharap agar dalam pibu ini, Cin Hai dan Hok Peng Taisu kena dikalahkan, karena dengan demikian, akan mudah bagi mereka untuk menyerang Ang I Niocu dan kawan-kawannya. Mereka memang merasa gentar terhadap Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su dan biarpun mereka tahu akan kelihaian Cin Hai yang mewakili Bu Pun Su, namun mereka tidak begitu jerih terhadap Cin Hai.

Sementara itu, Hok Peng Taisu lalu menghadapi kedua kakek sakti dari barat dan utara itu dan berkata,

“Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, kita ini seperti anak-anak kecil yang bodoh hingga dapat dibujuk oleh orang-orang muda untuk datang ke sini hingga saling berhadapan! Akan tetapi setelah kita bertemu di sini, maka kita tak perlu merasa sungkan lagi karena aku dapat menduga isi hati kalian yang tentu tak jauh bedanya dengan isi hatiku. Bukankah kalian datang karena ingin menguji kepandaianku dan kepandaian Bu Pun Su?”

Swi Kiat Siansu tertawa. “Benar, benar! Memang orang-orang yang sudah terlalu tua seperti kita memang kembali menjadi bocah-bocah lagi. Sayang sekali Bu Pun Su tidak dapat hadir, kalau dia ada alangkah senangnya!”

“Locianpwe,” kata Cin Hai dengan masih menghormat, “mendiang Suhu pernah menyatakan kekecewaannya karena tidak dapat menerima penghormatan ini sendiri akan tetapi Suhu telah menitahkan teecu untuk mewakilinya. Oleh karena taat kepada perintah Suhu, maka teecu melupakan kebodohan sendiri dan berani berlaku lancang menghadapi Ji-wi Locianpwe untuk melayani Locianpwe berdua bermain-main!”

Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. “Pendekar Bodoh,” kata Pok Pok Sianjin. “Kau terlalu merendahkan diri sendiri dan dapat menyesuaikan dirimu, bagus sekali!”

“Locianpwe,” kata Cin Hai, “teecu teringat akan ujar-ujar Nabi Khong Cu yang pernah menyatakan bahwa jika orang bodoh suka menggunakan cara sendiri dan orang rendah berlaku agung, maka orang tak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya dan berkukuh memegang aturan kuno yang sudah tidak sesuai lagi, maka orang demikian itu tentu akan mengalami bencana yang menimpa dirinya!”

“Itulah ujar-ujar dalam kitab Tiong-yong!” seru Pok Pok Sianjin dengan kagum. “Eh, anak muda, kau benar-benar mengherankan! Ucapan-ucapanmu tak pantas keluar dari mulut seorang semuda engkau! Tahukah kau bahwa usiamu ini membuat kau lebih pantas menjadi cucuku? Dan kau hendak melayani kami bermain-main?”

“Locianpwe, para bijak jaman dahulu pernah menyatakan bahwa kepandaian dan pribudi orang tidak diukur dari tinggi rendah usianya, seperti juga kebersihan lahir batin seseorang tak dapat dilihat dari pakaiannya! Oleh karena itu, apakah salahnya perbedaan usia di antara kita? Apakah artinya muda dan tua? Buah yang sudah terlalu tua akan membusuk dan kemudian jatuh ke atas tanah untuk bersemi lagi menjadi pohon muda akhirnya pun akan menjadi tualah akhirnya! Lagi pula, Locianpwe hanya bermaksud untuk main-main, maka biarlah teecu menerima pengajaran dan agar bertambah pengalaman teecu dari main-main ini!”

“Ha, ha, ha! Kau memang pandai sekali, Pendekar Bodoh!” kata Pok Pok Sianjin. “Hok Peng Taisu, tidak salah kau membawa anak muda ini! Sekarang biarlah aku bermain dengan anak muda ini lebih dulu dan Swi Kiat Siansu bermain-main dengan kau kemudian kita bertukar lawan!”

Hok Peng Taisu hanya mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah Pok Pok Sianjin. Kalian berdua pada saat ini boleh kuanggap sebagai tuan rumah, maka biarlah ketentuan-ketentuannya terserah kepadamu saja.”

Pok Pok Sianjin lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian ia mengambil dua biji catur dan menyerahkannya sebuah kepada Cin Hai sambil berkata, “Pendekar Bodoh, kita masing-masing memegang sebuah biji catur dan marilah kita menaruh biji catur ini di kepala. Kemudian kita saling serang dan berusaha menjatuhkan biji catur itu diri atas kepala. Siapa yang biji caturnya terjatuh, harus berani mengaku kalah!”

Cin Hai diam-diam merasa terkejut oleh karena biarpun “main-main” ini nampaknya tidak berbahaya, namun karena biji catur itu ditaruh di atas kepala, maka untuk menjaga agar jangan sampai biji catur itu terpukul jatuh, sama halnya dengan menjaga kepala sendiri, kana kepala itu tidak akan terluput dari pada bahaya pukulan! Akan tetapi, dengan tenang ia mengangguk dan lalu menaruh biji catur itu di atas kepalanya setelah menyingkap rambutnya hingga biji catur itu menyentuh kulit kepala.

“Teecu telah siap, Locianpwe!” katanya.

“Bagus, mari kita mulai!” Kakek tua yang tinggi kurus dan bongkok itu lalu melangkah maju dan mengebutkan tangannya ke arah biji catur di atas kepala Cin Hai dan pemuda ini merasa betapa sambaran angin yang keluar dari kibasan tangan ini sungguh dahsyat dan keras hingga ia merasa betapa rambut kepalanya tertiup keras! Ia segera menggerakkah kedua lengannya dan mainkan gerak Pek-in-hoatsut lalu menolak sambaran angin itu dengan angin pukulannya, bahkan lalu membalas dengan pukulan Mega Putih Menutup Matahari ke arah biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin.

Pok Pok Sianjin melihat betapa sampokannya tadi terpental kembali oleh uap putih yang keluar dari kedua lengan Cin Hai, tertawa dan berkata, “Bagus, Pekin-hoat-sut yang kaumainkan ini mengingatkan aku kepada Bu Pun Su! Ha, ha, kau benar-benar merupakan Bu Pun muda!!” Lalu ia menyerang kembali dengan kebutan tangan atau tamparan yang dilakukan dengan cepat dan mendatangkan angin pukulan yang hebat. Cin Hai berlaku waspada dan hati-hati sekali. Ia mempergunakan kelincahannya dan mengelak sambil balas menyerang.

Demikianlah, kedua orang itu saling serang dengan hebatnya dan biarpun tubuh mereka berkelebatan ke sana ke mari, akan tetapi belum pernah kedua lengan tangan mereka beradu karena mereka mempergunakan lweekang dan ginkang untuk menyerang lawan dengan angin pukulan saja! Nelayan Cengeng dan kawan-kawan lainnya yang menonton pertempuran ini merasa berdebar penuh ketegangan karena biarpun mereka berdua itu hanya “main-main” belaka, namun kehebatan pertandingan itu lebih mendebarkan hati daripada pertempuran dua ekor naga yang saling terkam! Juga Hok Peng Taisu memandang tajam dan diam-diam ia mengagumi kelincahan dan ketenangan Cin Hai.

Harus diketahui bahwa pertandingan adu kepandaian macam ini lebih berat daripada pertandingan dalam pertempuran biasa karena dalam pertandingan bersyarat ini orang harus membagi dua perhatiannya, yaitu selain menjaga pukulan lawan juga harus menjaga agar biji catur di atas kepala itu jangan tergelincir jatuh di waktu tubuh mereka bergerak. Dengan tenaga khikang, dapat menyedot biji catur itu hingga seakan-akan menempel di kulit kepala, akan tetapi sebentar saja perhatian mereka terlepas, biji catur itu ada kemungkinan terguling ke bawah yang berarti kekalahan bagi mereka!

Untuk dapat melakukan hal ini di butuhkan kepandaian tinggi dan khikang yang sudah sempurna, maka Pok Pok Sianjin sengaja memilih cara ini karena kalau anak muda itu tidak sanggup melakukannya berarti bahwa kepandaiannya belum cukup tinggi untuk melayaninya! Akan tetapi, alangkah kagum hatinya ketika melihat bahwa bukan saja Cin Hai sanggup melakukan permainan ini dengan baik, bahkan dapat juga melancarkan serangan balasan yang cukup mengejutkannya! Ia tidak tahu bahwa Cin Hai telah mempelajari pokok-pokok pergerakan silat dengan sempurna hingga dapat menduga ke mana arah serangan lawannya, hingga sungguhpun ia harus mengakui bahwa lweekang dari Pok Pok Sianjin lebih tinggi daripada lweekangnya sendiri, akan tetapi oleh karena ia telah mengetahui lebih dulu arah serangan lawan, ia dapat menjaga diri lebih cepat dari pada lawannya.

Tipu berganti tipu dan ilmu bertukar ilmu, akan tetapi setelah bertempur lima puluh jurus, belum juga Pok Pok Sianjin berhasil mengalahkan Cin Hai. Ia makin menjadi kagum dan juga penasaran, dan ketika Cin Hai mainkan ilmu serangan yang baru-baru ini ia terima dari Bu Pun Su, yaitu Ilmu Serangan Halilintar Menyambar Hujan, pukulan-pukulannya telah berhasil membuat biji catur di atas kepala Pok Pok Sianjin menjadi miring.

Bukan main kagum dan terkejutnya hati Pok Pok Sianjin melihat hebatnya serangan pemuda itu, hingga ia berseru keras memuji.

“Kau benar-benar murid Bu Pun Su tulen!” katanya sambil menyambar tongkatnya yang tadi ditancapkan di atas tanah. “Keluarkan senjatamu, Pendekar Bodoh, dan mari kita bermain-main dengan senjata agar lebih menyenangkan!” Cin Hai dengan hati gelisah terpaksa mengeluarkan pedangnya Liong-cu-kiam, akan tetapi oleh karena suara kakek itu diliputi oleh kegembiraan, ia menenteramkan hatinya dan menggerakkan pedang itu dengan cepat.

“Pedang bagus!” Pok, Pok Sianjin memuji pula dan tongkatnya lalu berkelebat dengan hebatnya, hingga Cin Hai merasa amat kagum. Belum pernah ia menyaksikan ilmu tongkat sehebat ini. Biarpun ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali hingga tidak mudah orang melawannya, akan tetapi menghadapi ilmu tongkat Pok Pok Sianjin, ia benar-benar tidak berdaya. Tentang kecepatan bergerak dan lihainya perubahan gerakan, mungkin ilmu pedangnya tidak kalah karena beberapa kali Pok Pok Sianjin mengeluarkan seruan kaget karena tidak menduga perubahan yang tiba-tiba terjadi pada pedang Cin Hai, akan tetapi permainan tongkat kakek ini mengandung tenaga-tenaga yang mujijat. Tongkat di tangannya itu seakan-akan hidup hingga dapat digunakan untuk menempel, memutar membetot, mendorong dengan tenaga yang cocok sekali hingga beberapa kali hampir saja pedang Cin Hai kena dirampas.

Cin Hai lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan oleh karena ilmu pedangnya Daun Bambu memang hebat dan dapat disesuaikan dengan kepandaian lawan yang bagaimanapun juga, maka ia dapat melakukan perlawanan cukup seru. Namun ia kalah pengalaman dan juga ilmu tongkat Pok Pok Sianjin memang lain daripada yang lain hingga lagi-lagi ketika ia menusuk, pedangnya kena ditempel oleh tongkat itu. Kakek itu memutar-mutar tongkatnya dan ternyata tenaga putaran itu luar biasa kuatnya, pedang Cin Hai ikut terputar dan tiba-tiba tongkat itu meluncur ke atas kepalanya, menyabet biji catur itu dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka.

Cin Hai terkejut sekali akan tetapi anak muda ini memang mempunyai ketenangan yang sempurna dan kecerdikan luar biasa. Melihat bahwa ia tak dapat mengelak lagi, apa pula menangkis, ia lalu berseru keras dan mengerahkan khikangnya hingga tiba-tiba biji catur di atas kepalanya mumbul setengah kaki lebih dan setelah tongkat kakek itu lewat di atas kepalanya, biji catur itu turun kembali di atas kepalanya seperti tadi.

Hal ini membuat semua orang yang menonton berseru kagum dan juga Pok Pok Sianjin tertawa bergelak-gelak sambil menancapkan tongkatnya di atas tanah lagi.

“Ha, ha, ha! Dasar kau murid Bu Pun Su selain lihai juga cerdik dan licin sekali. Kau pantas sekali disebut Pendekar Bodoh! Hebat, hebat!” Seru Pok Pok Sianjin dengan gembira sekali sambil menepuk-nepuk pundak Cin Hai. Pemuda ini merasa betapa tangan kakek yang menepuk pundaknya seperti orang memuji itu berat sekali, maka cepat-cepat ia lalu mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Pok Pok Sianjin merasa betapa pundak pemuda itu lemas bagaikan kapuk! Ia memperhebat suara ketawanya dan Cin Hai, menyimpan pedang sambil menjura dan berkata,

“Locianpwe kalau teecu bisa mempelajari ilmu tongkatmu, teecu akan merasa berbahagia sekali!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: