Pendekar Bodoh ~ Jilid 38 ~ Tamat

Bukan main senangnya hati Pok Pok Sianjin mendengar ucapan ini karena ucapan ini saja menunjukkan betapa pemuda itu menghargainya, maka ia tertawa lagi dan berkata, “Kalau ada jodoh dan usiaku masih panjang, aku akan senang sekali mewariskan ilmu tongkat ini kepada seorang keturunanmu!” Biarpun ucapan ini dikeluarkan sebagai main-main belaka dan sambil lalu akan tetapi Cin Hai mencatat di dalam hati dengan baik-baik.

Swi Kiat Siansu dan Hok Peng Taisu juga memuji kepandaian mereka yang baru saja mengadu kepandaian dan kini kedua orang itu saling pandang. “Sekarang tiba giliran kita, Hok Peng Taisu. Telah lama aku mengagumi Ilmu Silat Bambu Runcingmu, marilah kita main-main sebentar.”

Hok Peng Taisu tersenyum dan tidak mau berlaku sungkun-sungkan lagi. Ia lalu memegang sepasang tongkat bambunya di kedua tangan dan setelah menjura lalu berkata, “Mana sepasang tongkat bambuku dapat dibandingkan dengan kipas mautmu?”

Memang senjata Swi Kiat Siansu adalah kipas yang selalu dipakai mengebut-ngebut tubuhnya itu. Kipas ini lebar dan gagangnya terbuat daripada gading gajah yang ujungnya runcing sedangkan permukaannya terbuat daripada kulit harimau yang telah direndam obat hingga menjadi kuat dan keras. Kini ia memegang kipas itu di tangan kanan dan siap menanti datangnya serangan lawan.

“Karena pibu ini harus dilakukan dengan kepala dingin, maka lebih baik kita menggunakan syarat seperti yang dilakukan oleh Pok Pok Sianjin tadi,” kata Swi Kiat Siansu.

“Terserah kepadamu, Sahabat, karena seperti telah kukatakan tadi, sebagai tuan rumah kau berhak mengambil penentuan,” jawab Hok Peng Taisu.

“Baiknya diatur begini saja. Kalau seorang diantara kita sampai kena diserang ujung baju atau ujung lengan bajunya hingga robek, maka ia dianggap kalah.” Hok Peng Taisu mengangguk dan tertawa girang karena mendapat kenyataan bahwa pihak lawan benar-benar tidak menghendaki pertempuran mati-matian.

“Baik, baik. Mari kita mulai!”

Kedua orang kakek tua itu segera bergerak dan sebentar saja mereka berdua lenyap dalam sebuah pertempuran yang memusingkan pandangan mata orang yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya. Gerakan mereka sama cepat dan gerakan senjata mereka sama lihai, hingga bayangan mereka terkurung oleh gulungan sinar senjata yang berkelebatan hebat sekali. Semua orang yang menonton pertempuran ini merasa kagum dan juga kuatir karena agaknya dalam pertempuran macam ini tak mungkin dapat menang apabila tidak merobohkan lawan dengan serangan maut!

Akan tetapi bagi Hok Peng Taisu dan Swi Kiat Siansu yang sedang bertempur, mereka berdua maklum akan tingkat kepandaian lawan yang seimbang, akan tetapi betapapun juga Swi Kiat Siansu diam-diam mengakui bahwa Ilmu silat Bambu Runcing dari Hok Peng Taisu benar-benar lihai sekali dan masih dapat menekan permainan kipasnya sendiri! Ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri dan demikianiah, mereka bertempur dengan hebat sampai puluhan jurus lamanya.

Tiba-tiba terdengar Swi Kiat Siansu berseru, “Aku mengaku kalah!” sedangkan Hok Peng Taisu juga berseru, “Kau lihai sekali!” dan kedua-duanya melompat ke belakang dan menahan senjata masing-masing dan menjura sebagai penghormatan kepada lawan. Ternyata bahwa sepasang bambu runcing Hok Peng Taisu telah berhasil melobangi jubah Swi Kiat Siansu di kanan kiri sedangkan ujung lengan baju Hok Peng Taisu pada saat yang sama juga kena terobek oleh gagang kipas kakek gemuk itu! Melihat hal ini mudah diputuskan bahwa Hok Peng Taisu masih menang setingkat.

Swi Kiat Siansu berkata kepada Pok Pok Sianjin sambil tertawa, “Memang orang-orang selatan dan timur lebih rajin melatih diri dari pada kita.” Kemudian ia menghadapi Cin Hai dan berkata,

“Pendekar Bodoh, marilah kita main-main sebentar, ingin aku merasakan lihainya pedangmu!”

Cin Hai lalu mencabut Liong-cu-kiamnya dan bersiap sedia. Suhunya pernah berpesan agar supaya berhati-hati menghadapi kakek gemuk ini oleh karena biarpun tabiatnya jujur dan baik, akan tetapi Swi Kiat Siansu memiliki dasar watak yang enggan mengaku kalah. Lain halnya dengan Pok Pok Sianjin yang lebih berani mengaku kalah dan juga berani pula mengaku salah. Kini menghadapi kakek gemuk ini, Cin Hai berlaku hati-hati sekali.

“Locianpwe, sebelumnya terima kasih atas pengajaranmu ini. Apakah syaratnya masih sama dengan tadi, yaitu saling berusaha menyerang pakaian?”

“Ya, dan kau berhati-hatilah menjaga kipasku agar jangan sampai salah tangan!” Sambil berkata demikian, Swi Kiat Siansu lalu maju menyerang kepada Cin Hai. Kakek gemuk ini biarpun tadi mengakui keunggulan Hok Peng Taisu, namun diam-diam ia merasa jengkel dan penasaran juga, maka kini menghadapi Cin Hai, ia mengambil keputusan untuk mencari kemenangan untuk menebus kekalahannya yang tadi. Tak heran apabila kipasnya bergerak dengan kecepatan yang sukar untuk dapat diikuti dengan pandangan mata, merupakan gulungan sinar kuning yang menggulung dengan dahsyatnya ke arah tubuh Cin Hai! Cin Hai terkejut dan cepat mainkan pedangnya untuk melindungi dirinya dan tiap kali pedangnya bertemu dengan gagang kipas ia merasa betapa telapak tangannya tergetar! Dari bentrokan ini saja ia dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawannya, maka dengan penuh ketekunan dan hati-hati sekali ia lalu mainkan ilmu pedangnya, Daun Bambu dengan tangan kanan, sedangkan untuk menjaga diri, tangan kirinya melakukan gerakan-gerakan Pek-in-hoat-sut.

Sementara itu Pok Pok Sianjin berkata kepada Hok Peng Taisu, “Hok Peng Taisu marilah kita main-main sebentar agar aku mengenal lebih baik bambu runcingmu!”

“Mari!” jawab Hok Peng Taisu sambil tersenyum dan bersiap sedia dengan sepasang bambu runcingnya. Keduanya lalu menggerakkan senjata masing-masing dan bertempur seru. Sungguhpun di antara keduanya tidak menggunakan syarat apa-apa, akan tetapi sebagai tokoh-tokoh berilmu tinggi, mereka dapat menjaga diri dan serangan-serangan mereka biarpun merupakan pukulan maut, akan tetapi di dalam hati sama sekali tidak ada niat atau nafsu untuk membunuh atau melukai lawan.

Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya melihat betapa empat orang itu mengadu kepandaian secara persahabatan, merasa kecewa sekali oleh karena kini lenyaplah harapan mereka untuk mengalahkan Hok Peng Taisu maupun Cin Hai, karena biarpun mereka andaikata kalah terhadap Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin, namun kekalahan itu belum tentu membuat mereka mundur untuk membela kawan-kawan lain yang hendak mereka basmi. Kini melihat betapa keempat orang itu sedang bertempur seru, diam-diam ia mengeluarkan jarum-jarumnya yang mengandung racun Ular Hijau yang berbahaya itu dan tiba-tiba ia mengayun tangannya menyerang dengan jarum-jarumnya ke arah Cin Hai dan Hok Peng Taisu!

Ketika itu, pertempuran antara Cin Hai dan Swi Kiat Siansu sedang berjalan dengan ramai-ramainya. Biarpun Cin Hai sudah mengeluarkan ilmu kepandaiannya, namun pada suatu saat, kipas di tangan Swi Kiat Siansu menyambar sedemikian hebatnya sambil mengibas dengan tenaga sepenuhnya hingga pedang Cin Hai kena disampok dan terlepas dari pegangan! Akan tetapi, dalam kagetnya, Cin Hai lalu menggunakan tangan kiri melancarkan pukulan Halilintar Menyambar Hujan yang mengandung daya pukulan luar biasa sekali. Pukulan ini ditujukan kepada kipas di tangan Swi Kiat Siansu dengan tenaga sepenuhnya dan “brak!!” permukaan kipas yang terbuat dari pada kulit harimau itu menjadi robek dan hancur berkeping-keping sedangkan pedang Liong-cu-kiam yang terpental dari tangan Cin Hai, menancap di atas lantai!

Pada saat itulah datangnya jarum-jarum dari Hai Kong Hosiang secara tiba-tiba. Cin Hai yang masih tergetar oleh pukulan kipas tadi mendengar datangnya angin senjata rahasia yang lembut itu. Ia cepat mengelak, akan tetapi tetap saja sebatang jarum Ular Hijau menancap pada pundaknya hingga ia terhuyung-huyung lalu roboh dengan tubuh terasa panas sekali. Akan tetapi ia cepat dapat mengerahkan lweekangnya untuk menolak pengaruh racun itu hingga ia masih dapat menguasai dirinya dan tidak menjadi pingsan. Sambil bersila ia lalu mengatur napas dan memelihara jalan darahnya. Sementara itu, Swi Kiat Siansu yang merasa terkejut sekali karena senjata kipasnya kena dipukul hancur oleh Cin Hai, kini melihat betapa pemuda itu terkena serangan senjata rahasia yang dilepas oleh Hai Kong Hosiang, menjadi marah sekali.

“Bangsat gundul curang!” bentaknya marah. “Kau membikin malu saja kepadaku!” Sambil berkata demikian, ia lalu menyambit dengan gagang kipasnya yang masih terpegang di dalam tangannya. Gagang kipas itu meluncur cepat menuju ke arah tenggorokan Hai Kong Hosiang yang cepat mengelak hingga mengenai tempat kosong. Swi Kiat Siansu masih penasaran dan cepat tubuhnya berkelebat ke arah Hai Kong Hosiang dan menyerangnya dengan pukulan tangan terbuka.

Hai Kong Hosiang bukanlah seorang yang lemah dan ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, maka tentu saja ia dapat mengelak dan membalas dengan pukulan nekat. Ia maklum bahwa ia telah gagal mengharapkan bantuan kakek ini yang sekarang bahkan menyerangnya karena marah melihat kecurangannya tadi, maka sambil berseru keras ia melawan sekuat tenaga, berkali-kali ia berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki di atas sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya untuk menyerang Swi Kiat Siansu secara hebat sekali. Tentu saja Swi Kiat Siansu makin marah dan dengan seruan keras ketika kaki Hai Kong Hosiang menendang ke arah kedua pundaknya, ia menangkap kaki itu dan cepat membanting tubuh Hai Kong Hosiang yang tinggi besar itu ke atas batu karang! Terdengar pekik keras dan kepala hwesio jahat itu pecah berantakan ketika dibenturkan kepada batu karang!

Sementara itu Lin Lin lalu, berlari menghampiri Cin Hai dan memeluk kekasihnya dengan hati bingung. Adapun Hok Peng Taisu yang sedang bertempur mengadu kepandaian dengan Pok Pok Sianjin, lalu melompat mundur dan menghampiri Swi Kiat Siansu yang masih marah sekali itu.

Melihat kesedihan Lin Lin, Swi Kiat Siansu lalu mengeluarkan sebotol obat warna merah. Sebagai seorang pertapa di daerah Mongolia ia maklum akan berbahayanya jarum-jarum Ular Hijau dan ia tahu pula obatnya, karena ia pun adalah seorang ahli pengobatan. Untuk menjaga diri, ia selalu membawa obat-obat anti racun dan obat Semut Merah tersedia pula dalam saku bajunya.

Dengan amat berterima kasih, Lin Lin lalu meminumkan obat itu kepada Cin Hai dan seketika itu juga sembuhlah Cin Hai. Akan tetapi, seperti Lin Lin dulu, begitu ia sembuh, perang tanding antara Racun Ular Hijau dan Obat Semut Merah itu mempengaruhi otaknya dan tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Hanya karena kekuatan batinnya sudah jauh lebih kuat daripada Lin Lin, maka ia masih dapat membedakan mana kawan mana lawan.

Pada suatu saat, Wi Wi Toanio dan kawan-kawannya datang menyerbu, diikuti oleh perwira-perwira di bawah perintah Kam Hong Sin. Cin Hai lalu melompat ke atas, memungut pedangnya yang menancap di tanah, lalu mengamuk hebat sekali. Juga Lin Lin, Ang I Niocu, Lie Kong Sian, Ma Hoa, Kwee An, dan Nelayan Cengeng tidak mau tinggal diam dan menyambut serbuan musuh yang besar jumlahnya itu. Perang tanding terjadi amat hebatnya, sedangkan Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, dan Hok Peng Taisu merasa segan untuk ikut mencampuri pertempuran itu, sungguhpun mereka merasa penasaran melihat betapa Cin Hai dan kawan-kawannya dikeroyok oleh sekian banyak orang.

Dalam kemarahannya yang bukan sewajarnya, Cin Hai mendesak Wi Wi Toanio, Siok Kwat Mo-li, dan Lok Kun Tojin mengeroyoknya. Pedang Liong-cu-kiam di tangannya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya hingga ketiga orang pengeroyoknya yang berilmu tinggi itu merasa kewalahan karena belum pernah mereka menyaksikan sepak terjang yang demikian hebatnya! Dalam jurus ke dua puluh lebih, Wi Wi Toanio kena terbabat pinggangnya oleh pedang Liong-cu-kiam hingga sambil menjerit wanita itu roboh mandi darah dan tewas seketika itu juga! Siok Kwat Moli dan Lok Kun Tojin terkejut dan gentar hingga gerakan mereka menjadi lambat karenanya. Cin Hai tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua kali ia membuat gerakan tangan kanan menusuk dan tangan kiri melancarkan pukulan Halilintar Menyambar Hujan ke arah Lok Kun Tojin. Terdengar pekik mengerikan ketika pedang itu menembus dada Siok Kwat Mo-li dan pukulan tangan kirinya yang dahsyat memecahkan kepala Lok Kun Tojin.

Setelah membunuh tiga orang lawannya, tiba-tiba Cin Hai merasa pening dan mengantuk sekali dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terguling dan telah tidur mendengkur sambil memegang pedang Liong-cu-kiam yang telah menjadi merah karena darah.

Sementara itu, pertempuran masih berjalan hebat dan Ang I Niocu dan kawan-kawannya mengamuk hebat dan menjatuhkan banyak korban di pihak lawan, akan tetapi musuh terlampau banyak hingga mereka terdesak hebat.

Tiba-tiba berkelebat tiga bayangan orang dan di mana saja tubuh mereka menyambar, senjata-senjata para perwira terpental ke atas. Mereka ini ternyata adalah tiga orang kakek sakti yang tidak tahan pula melihat pertempuran itu karena merasa ngeri melihat banyaknya darah berhamburan. Sambil bergerak mereka berseru,

“Tahan pertempuran, tahan!”

Orang-orang merasa jerih juga melihat mereka turun tangan maka semua lalu mengundurkan diri.

Dengan marah Swi Kiat Siansu lalu menghadapi Kam Hong Sin dan kawan-kawannya sambil berkata, “Kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah panglima kerajaan, tentu sekarang juga kuhancurkan kepalamu! Kau telah bersekutu dengan Hai Kong yang jahat, dan kalian dengan tipu muslihat berhasil mengundang aku dan Pok Pok Sianjin hingga terpaksa kami turun gunung membuat dosa baru. Tidak tahunya kalian hendak mempergunakan kami untuk memusuhi orang-orang baik dan membela Hai Kong yang jahat. Lihatlah bukti kekuasaan dan keadilan Tuhan Yang Agung. Mereka yang jahat menemui kematian mengerikan!” Ia menuding ke arah mayat Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Siok Kwat Mo-li. “Biarlah kali ini menjadi pelajaran bagimu agar lain kali dalam menjalankan tugas, kau akan berlaku hati-hati dan dapat mempertimbangkan orang yang baik dan yang jahat!”

Kam Hong Sin memberi hormat dan berkata dengan tegas, “Locianpwe, siauwte adalah seorang petugas yang hanya menjalankan kewajiban siauwte sebagai seorang panglima. Anak murid Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu ini telah merampas harta pusaka dan mereka membagikan harta pusaka kepada mereka yang tidak berhak. Padahal harta pusaka adalah hak milik kerajaan. Bagi siauwte, lebih baik mati sebagai seorang perwira yang menjalankan tugasnya daripada mati sebagai seorang pengkhianat.”

Mendengar ucapan yang gagah dan patut dihargai ini, Hok Peng Taisu melangkah maju dan berkata, “Kam-ciangkun, aku telah lama mendengar bahwa kau adalah seorang perwira yang gagah, dan ternyata bahwa hal ini ada betulnya. Akan tetapi, agaknya kau masih terlampau muda untuk memegang jabatan tinggi itu hingga pertimbanganmu belum masak benar. Ketahuilah bahwa harta pusaka itu adalah hasil rampokan di jaman dahulu, dan rakyat yang dirampok. Maka aku dan kawan-kawan lain mengembalikan harta itu dan membagi-bagikan kepada para rakyat miskin, bukankah ini sudah adil namanya? Apakah artinya harta sekian banyak itu bagi Kaisar yang telah kaya? Akan tetapi besar sekali artinya bagi rakyat yang hampir tak dapat makan karena miskinnya!”

Kam Hong Sin merasa terpukul oleh ucapan ini dan ia lalu menjura dan bertanya, “Kalau betul siauwte telah salah jalan, habis apakah yang sekarang harus kulakukan?”

“Tariklah mundur anak buahmu dan bawalah semua orang yang tewas untuk diurus sebaiknya. Kemudian, setiap langkahmu harus kau perhatikan baik-baik agar kau jangan menanam bibit permusuhan dengan orang-orang gagah. Hendaknya kau dapat memperhatikan dan membedakan antara orang-orang gagah dan penjahat-penjahat seperti Hai Kong Hosiang itu!” kata Hok Peng Taisu.

Kam Hong Sin lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat semua korban, dibawa turun gunung, sedangkan kawan-kawannya pun ikut turun gunung pula. Ceng Tek Tosu menghampiri Cin Hai yang sementara itu telah didekati oleh Lin Lin dan telah sadar kembali, sembuh seperti sediakala. Bahkan anak muda ini telah lupa bahwa ia telah membunuh Siok Kwat Mo-li, Wi Wi Toanio, dan Lok Kun Tojin.

Ceng To Tosu yang selalu mewek itu menjura kepada Cin Hai dan berkata, “Sie-taihiap, kau maafkan pinto yang telah lancang tangan hingga terbawa-bawa dalam urusan ini, karena pinto hanya memenuhi tugas sebagai pembantu kerajaan Kaisar.”

Cin Hai tersenyum. “Tidak apa, Totiang, dan maaf sama-sama. Kita semua menunaikan tugas masing-masing, hanya sayangnya dalam bidang lain hingga timbul kesalahan paham ini.” Ceng To Tosu mengangguk-angguk dan mulutnya makin mewek seperti benar-benar hendak menangis.

“Aku juga minta maaf, Taihiap,” kata Ceng Tek Hwesio sambil tertawa-tawa gembira, seakan-akan baru saja tadi bukan terjadi perang hebat, akan tetapi pesta minum arak yang menggirangkan hatinya!

“Kau adalah orang yang paling berbahagia, Ceng Tek Hwesio, semoga kau masih panjang usia dan kelak kita dapat bertemu kembali,” jawab Cin Hai. Keduanya lalu mehgundurkan diri, berlari-lari menyusul rombongan Kam Hong Sin turun gunung.

Cin Hai dan kawan-kawannya lalu menghampiri Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin dan pemuda itu menjatuhkan diri berlutut lalu berkata,

“Ji-wi Locianpwe yang mulia, teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe berdua yang dapat menyelesaikan persoalan ini dengan penuh kebijaksanaan. Terutama sekali kepada Swi Kiat Siansu Locianpwe, terima kasih atas pertolongan kepada teecu.” Cin Hai tadi telah mendengar dari Lin Lin akan pertolongan yang diberikan oleh kakek itu kepadanya.

Bukan main kagum dan senangnya hati kedua tokoh dari barat dan utara itu melihat sikap Cin Hai yang biarpun tidak lebih rendah tingkat ilmu kepandaiannya daripada mereka, akan tetapi telah berani bersikap sedemikian sopan santun dan merendah. Swi Kiat Siansu mengangkat bangun kepadanya dan berkata,

“Sikapmu ini telah menjatuhkan hati kami, Pendekar Bodoh. Bukan kepandaian saja yang dapat menjatuhkan seseorang, akan tetapi sikap yang baik lebih berpengaruh. Melihat sikapmu saja, kami dapat mengetahui bahwa permusuhan antara pihakmu dengan pihak Hai Kong, pihakmu yang berada di pihak benar. Sekarang maafkan kami. Tentang ilmu kepandaian, terus terang kunyatakan bahwa orang-orang selatan dan timur benar-benar pandai, tidak seperti kami yang menyembunyikan diri dan lupa untuk berlatih diri.”

“Janganlah kalian terlalu merendah,” jawab Hok Peng Taisu. “Ilmu kipas dari Swi Kiat Siansu sungguh mengagumkan sedangkan ilmu tongkat Pok Pok Sianjin benar-benar membuat aku merasa tunduk.”

Setelah mengeluarkan ucapan-ucapan merendah, kedua kakek dari barat dan utara itu lalu berkelebat pergi, sedangkan Hok Peng Taisu lalu berkata,

“Untung sekali bahwa persoalan dapat diselesaikan dengan mudah. Sekarang kalian pulanglah dan jauhkan diri dari segala persengketaan yang tidak perlu. Ma Hoa kalau kelak kau melangsungkan pernikahanmu, jangan lupa mengundang aku untuk minum arak!” Setelah berkata demikian, kakek botak ini pun lalu berkelebat pergi dengan cepat sekali.

Nelayan Cengeng tertawa bergelak karena girangnya dan air matanya mengalir keluar “Ha, ha, ha! Memang yang benar selalu pasti menang! Sekarang segala hal telah beres, dan aku pun ingin sekali segera menyaksikan kalian semua melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga yang bahagia!”

Cin Hai menyatakan bahwa ia bersama Lin Lin hendak bersembahyang dulu di depan Gua Tengkorak sebagai penghormatan terakhir dan sebagai laporan kepada mendiang suhunya bahwa tugas telah diselesaikan dengan baik. Setelah berjanji akan bertemu di Tiang-an dengan kawan-kawannya sepasang teruna remaja ini dengan cepat lalu turun gunung.

Nelayan Cengeng tertawa girang. “Lebih cepat dilangsungkan pernikahan mereka dan pernikahan Ma Hoa, lebih baik lagi. Marilah kita langsung menuju ke Tiang-an. Dan Niocu hendak pergi ke manakah?” tanyanya kepada Ang I Niocu. Dara Baju Merah itu tak dapat menjawab dan Ma Hoa tersenyum lalu menggoda sambil mengerling ke arah Lie Kong Sian.

“Syarat-syarat telah dipenuhi semua mau tunggu apa lagi? Lie-tathiap, mengapa kau diam saja?”

Lie Kong Sian maklum akan maksud kata-kata ini, biarpun ia merasa malu dan mukanya menjadi merah, akan tetapi karena ia berhati jujur dan polos, ia lalu berkata kepada Ang I Niocu,

“Moi-moi, di depan kawan-kawan baik yang menjadi saksi biarlah kuulangi lagi pinanganku yang dulu. Benar sebagaimana kata Nona Ma Hoa tadi, semua syarat-syaratmu telah terpenuhi. Sie-sute dan Nona Lin Lin telah bertemu kembali, Suteku Song Kun juga telah tewas, dan kita telah mendapat persetujuan dari mendiang Supek Bu Pun Su.”

Merahlah muka Ang I Niocu, melebihi merahnya warna bajunya! Sambil menundukkan kepalanya, ia berkata, “Dulu pernah kukatakan bahwa selain yang tiga itu, masih ada sebuah syarat lagi.”

“Apakah itu? Biarlah kawan-kawan menjadi saksi, aku akan memenuhi syarat ke empat ini, betapa pun beratnya!”

Ang I Niocu mengerling tajam. “Pantaskah diucapkan di sini?”

Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Niocu, di antara kawan sendiri, mengapa harus malu-malu? Atau, haruskah kami bertiga pergi dulu dari sini?”

Makin malulah Ang I Niocu mendengar ini. Ia menjadi serba salah, kemudian ia berkata perlahan, “Syarat yang ke empat adalah cita-citaku sejak dulu, yaitu orang yang patut menjadi suamiku harus terlebih dulu dapat menjatuhkan aku dalam sebuah pertandingan!”

Tercenganglah semua orang mendengar syarat ini, tidak terkecuali Lie Kong Sian. Akan tetapi, Lie Kong Sian dengan tenang-tenang saja lalu berkata, “Baiklah kalau demikian kehendakmu, terpaksa aku akan berusaha menjatuhkanmu!”

Ang I Niocu mencabut Liong-cu-kiamnya dan bersiap menghadapi tunangannya. Ma Hoa, Kwee An, dan Nelayan Cengeng lalu mengundurkan diri dan berdiri agak jauh dari tempat yang akan dijadikan gelanggang pertempuran antara kedua orang itu.

“Cobalah kalau bisa!” kata Ang I-Niocu dengan mata bersinar gembira dan bibir tersenyum manis. Sikapnya menantang sekali, karena ia merasa telah dapat mempermainkan Lie Kong Sian dan karena ia merasa bahwa nilai dirinya telah naik!

“Jagalah!” seru Lie Kong Sian sambil mencabut pedangnya pula lalu maju menyerang dengan hebat. Sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat sekali hingga tubuh mereka seakan-akan menjad satu gulungan warna merah dari baju Ang I Niocu dan warna biru dari baju Lie Kong Sian!

Diam-diam Lie Kong Sian menggunakan tangan kirinya melepaskan dua helai tali sutera warna hijau dan menggenggam tali itu di tangannya. Kemudian, ketika pedang Ang I Niocu menyambar, ia sengaja memasang pundaknya untuk menerima tusukan itu! Ang I Niocu terkejut sekali dan sambil menjerit ngeri ia miringkan pedangnya agar jangan sampai menusuk pundak Lie Kong Sian, akan tetapi terlambat! Pedangnya masih menggores bahu kanan Lie Kong Sian, hingga bajunya robek dan mengalirlah darah dari bajunya.

Akan tetapi Lie Kong Sian yang memang sengaja melakukan hal ini, mempergunakan kesempatan selagi Ang I Niocu terkejut dan menyesal, tangan kirinya bergerak cepat dan tahu-tahu sutera hijau itu telah melayang dan melibat kedua tangan Ang I Niocu yang terus dibetotnya dan sekali ia menggerakkan tangan kiri lagi, tali sutera ke dua lalu melayang dan membelit pergelangan kaki gadis itu! Beberapa kali ia menggerakan tangan dan tali-tali itu telah mengikat kedua kaki dan kedua tangan Ang I Niocu dengan kencang sedangkan pedang Liong-cu-kiam telah terampas oleh Lie Kong Sian! Tubuh Ang I Niocu terguling dan kini ia rebah setengah duduk di atas tanah dengan kaki tangan terbelenggu!

Ia menjadi bingung sekali dan berkata, “Lepaskan aku, lepaskan!”

Akan tetapi Lie Kong Sian hanya berdiri bertolak pinggang dan memandang dengan tersenyum!

“Lepaskan… lepaskan aku…!” Ang I Niocu berkata lagi dan ia hampir saja menangis, sambil meronta-ronta dan mengerahkan tenaga lweekangnya untuk melepaskan diri daripada belenggu itu, akan tetapi tali sutera itu terbuat dari pada bahan yang tidak saja kuat dan ulet sekali, akan tetapi juga mempunyai sifat lunak dan dapat mulur hingga tenaga lweekangnya tiada berguna!

Terdengar suara tertawa bergelak-gelak dari Nelayan Cengeng yang segera menghampiri Ang I Niocu. Juga Kwee An dan Ma Hoa menghampirinya sambil tertawa-tawa.

“Lo-enghiong, Kwee An, Ma Hoa! Lepaskan aku…!” kata Ang I Niocu dengan suara memohon karena Dara Baju Merah ini merasa malu sekali.

“Ha, ha, ha!” Nelayan Cengeng tertawa geli hingga air matanya mengalir keluar di sepanjang pipinya. “Mempelai wanita telah tertawan…! Ha, ha, ha!” Kakek ini dengan gelinya tertawa gembira dan sama sekali tak mau menolong Ang I Niocu.

“Kwee An, tolonglah aku!” kata Ang I Niocu.

Sambil mengangkat jari telujuknya, Kwee An berkata, “Niocu, sekarang kau telah mendapat bukti akan kelihaian calon suamimu! Tak boleh seorang calon isteri menantang suami, inilah jadinya!” Dia menggoda sambil tersenyum.

“Ma Hoa, benar-benarkah kau tidak mau menolongku membuka belenggu ini?” Ang I Niocu menengok kepada Ma Hoa, akan tetapi gadis itu yang kini telah menyanggul rambutnya atas permintaan Kwee An sebagai “Pembayaran kaul!” karena musuh-musuh telah dapat ditewaskan dan dikalahkan semua, hanya tertawa, bahkan lalu bertepuk tangan gembira sambil bernyanyi menggoda,

“Mempelai perempuan telah tertawan! Masuk perangkap mempelai pria!”

Berkali-kali Ma Hoa bernyanyi sambil bertepuk tangan hingga Ang I Niocu menjadi makin jengah dan malu.

“Adik Hoa, awas! Kalau sampai terbuka ikatan tanganku, akan kucubit bibirmu yang nakal. Hayo lepaskan aku!” kata Ang I Niocu, akan tetapi dengan sikap nakal dan menggoda, Ma Hoa berkata,

“Enci Im Giok, yang mengikat kaki tanganmu bukanlah aku. Mengapa aku yang harus membukanya? Mintalah kepada orang yang melakukannya!”

Lie Kong Sian menghampiri Ang I Niocu dengan senyum di bibir.

“Bagaimana, Moi-moi, sudah takluk kau kepadaku kini?”

Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya meronta-ronta sambil berkata,

“Lepaskan… lepaskan!”

Lie Kong Sian menjura kepada Nelayan Cengeng dan kepada Kwee An dan Ma Hoa sambil berkata, “Maafkan, kami hendak pergi dulu, kembali ke pulau tempat kediaman kami. Kelak, apabila dilangsungkan pernikahan antara Saudara Kwee An dan Nona Ma Hoa, juga antara Sie-sute dan Sumoi Lin Lin, kami tentu akan hadir!” Setelah berkata demikian, tanpa melepaskan ikatan kaki tangan Ang I Niocu, pemuda itu lalu membungkuk dan memondong tubuh kekasihnya itu dan membawanya berlari cepat bagaikan terbang, menuju ke pulaunya yang indah yang merupakan sarang bahagia bagi dia dan calon isterinya.

Nelayan Cengeng, Kwee An, dan Ma Hoa merasa girang dan juga terharu sekali menyaksikan kebahagiaan orang muda itu. Bahkan Ma Hoa sampai menitikkan air mata sambil berkata,

“Syukurlah, kalau Enci Im Giok berbahagia. Dia orang berbudi mulia…”

Kemudian mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju Tiang-an untuk menanti datangnya Cin Hai dan Lin Lin di Tiang-an.

Tak lama kemudian, datanglah Cin Hai dan Lin Lin membawa tiga ekor burung sakti, dan sebulan kemudian dilangsungkanlah perkawinan yang meriah antara Kwee An dengan Ma Hoa, dan Cin Hai dengan Lin Lin. Selain Ang I Niocu dan Lie Kong Sian yang sudah menjadi suami isteri, hadir juga tokoh-tokoh persilatan dari seluruh penjuru dunia, di antaranya yang hadir adalah Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng Taisu, Eng Yang Cu, Giok Gan Kui-bo, Sie Lok dan Sie Kiong kedua paman Cin Hai, dan banyak orang lagi.

Yousuf juga datang dan orang Turki ini selanjutnya tinggal bersama Cin Hai dan Lin Lin, menikmati kebahagiaan hidup sebagai ayah angkat yang dikasihi dan dihormat.

Perkawinan diberkahi oleh Kwee Tiong sebagai seorang hwesio yang mengucapkan doa sambil mengalirkan air mata karena bahagia melihat kedua adiknya, Kwee An dan Lin Lin, melangsungkan upacara pernikahan dengan bahagia.

Yang amat menggembirakan hati dua pasang mempelai itu ialah datangnya Sanoko, kepala suku Haimi itu, bersama Meilani dan suaminya Manoko, juga Kam Hong Sin, panglima yang dulu menjadi lawan, datang menghadiri pesta pernikahan itu dan melupakan segala permusuhan yang telah lalu.

Setelah upacara pernikahan selesai Ang I Niocu bersama suaminya kembali ke Pulau Pek-le-to di mana mereka hidup penuh kebahagiaan, jauh dari dunia ramai, dikawani oleh Rajawali Sakti yang diberikan oleh Lin Lin kepada mereka.

Juga Kwee An bersama isterinya dan Cin Hai bersama Lin Lin, hidup penuh kebahagiaan, masing-masing didampingi oleh Nelayan Cengeng dan Yousuf yang merupakan ayah angkat bagi Ma Hoa dan Lin Lin.

Demikianlah, cerita “Pendekar Bodoh” ini berakhir sampai di sini, dan kami harap pembaca suka bersabar menanti munculnya cerita“PENDEKAR REMAJA” atauSin-kiam Siauw-hiai yang akan menjadi lanjutan cerita“PENDEKAR BODOH” , di mana pembaca akan menjumpai kembali tokoh-tokoh seperti Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Ang I Niocu, dan Lie Kong Sian oleh karena cerita itu akan menuturkan kisah dari putera-puteri mereka! Sengaja dikarang oleh Asmaraman S. Kho Ping Hoo untuk melanjutkan cerita “Pendekar Bodoh”. Nama pengarangnya menjadi jaminan bahwa ceritaSin-kiam Siauw-hiap akan membuat para pembaca terpesona oleh jaminan isinya yang indah menarik dan penuh ketegangan!

T A M A T

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: