Pendekar Bodoh ~ Jilid 5

“Eh penari rendah! Jangan kau kurang ajar! Tak tahukah bahwa kau sedang berhadapan dengan pahlawan-pahlawan istana? Hayo lekas berlutut minta ampun dan segera menari untuk kami!” bentak laki-laki tinggi kurus tadi.

“Dan kau lekas berlutut, anjing kecil!” bentak pengawal muda kepada Cin Hai.

“Anjing besar, kau harus berlutut lebih dulu!” Cin Hai balas memaki.

Bukan main hebatnya akibat dari makian ini. Kesembilan orang itu memandang kepada Cin Hai dengan alis berdiri. Mereka ini lebih banyak merasa tercengang daripada marah, karena mana ada seorang pemuda tanggung berani memaki seorang anggauta Sayap Garuda? Mereka menganggap bahwa anak ini tentu berotak miring.

Akan tetapi pengawal muda itu tak dapat menahan marahnya lagi. Biar gila maupun waras, pemuda kecil ini terlalu menghinanya dan harus dipukul mampus. Maka ia segera melangkah maju dan mengayun tangan kanan memukul kepala Cin Hai sambil membentak,

“Bangsat kecil, mampuslah kau!”

Pukulan ini adalah gerakan Siok-lui-kik-ting atau Petir Menyambar Kepala dan dilakukan dengan tenaga mengeluarkan angin. Hebatnya tidak terkira, dan kepala seekor kerbau mungkin akan terpukul pecah oleh pukulan ini, apalagi hanya kepala seorang pemuda yang masih anak-anak! Pengawal muda itu bermaksud untuk menghancurkan kepala Cin Hai dengan sekali pukul!

Tetapi dengan gerakan indah dan lucu bagaikan seorang sedang menari, Cin Hai melejit ke samping sambil tertawa mengejek dan berkata, “Hei, bangsat besar, percuma kau hidup karena hidungmu terlalu besar!”

Melihat betapa pukulannya yang dahsyat itu dapat dikelit semudah itu oleh Cin Hai dan mendengar sindiran anak itu, pengawal muda itu marah sekali dan tak terasa pula ia menggunakan tangan kiri untuk memegang hidungnya! Hidungnya memang besar dan mancung dan selalu menjadi kebanggaannya, tidak tahunya sekarang digunakan sebagai bahan menyindir oleh anak-anak ini.

“Anjing kecil, kalau hari ini aku tidak bisa menghancurkan kepalamu yang besar, jangan panggil aku Harimau Kepala Besi lagi!” Dan Tiat-thou-houw atau Harimau Kepala Besi itu segera maju menyerang lagi dengan gerak tipu To-cu-kim-ciang atau Robohkan Lonceng Emas. Serangan ini lebih hebat lagi karena kedua tangannya bergerak menyerang ke arah dada dan kepala Cin Hai.

“Anjing besar! Aku takkan menyebut kau Harimau Kepala Besi tetapi Anjing Hidung Panjang!” Cin Hai mengejek lagi sambil mengeluarkan kepandaiannya Ngo-lian-hwa-kunhwat yang baru saja dipelajari beberapa bulan dari Ang I Niocu! Dengan mudah ia dapat berkelit dari serangan lawannya karena tubuhnya telah memiliki kelemasan dan kelincahan yang luar biasa berkat latihan-latihan Tarian Bidadari. Kemudian ia balas menyerang, tetapi karena Ilmu Silat Lima Kembang Teratai belum lama dipelajarinya, maka ia tidak dapat mempergunakannya untuk menyerang, dan untuk melakukan serangan balasan ini ia terpaksa mengeluarkan Ilmu Silat Liong-san-kun-hwat yang dia pelajari dari catatannya ketika masih mempelajari ilmu silat dari Kanglam Sam-lojin!

Biarpun Cin Hai belum mempunyai pengalaman dari pertempuran, tetapi karena selama ini ia mempelajari ilmu-ilmu silat tingkat tinggi dari orang-orang yang tergolong tokoh persilatan kelas berat, maka gerakannya juga istimewa dan tidak terduga. Maka Tiat-thou-houw menjadi terkejut sekali melihat perubahan lemah lembut bagaikan sedang menari ketika mengelit serangan-serangannya tadi, kini dalam melakukan serangan, anak muda itu bergerak cepat dan kuat! Karena tercengang, serangan Cin Hai dalam jurus pertama itu berhasil baik dan kepalan tangannya menumbuk dada lawan!

Tiat-thou-houw mengeluh dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia tadinya tidak menyangka bahwa anak muda yang masih kecil itu akan berbahaya pukulannya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa Cin Hai telah dilatih lweekang yang cukup lumayan oleh Ang I Niocu sehingga ketika kepalan tangannya mengenai sasaran, maka berat pukulannya tidak kurang dari seratus kali!

Delapan orang pengawal lainnya melihat betapa dengan mudah saja Cin Hai dapat menggulingkan lawannya menjadi marah sekali. Terlihat cahaya berkeredepan ketika mereka mencabut senjata masing-masing dari sarungnya!

“Bangsat kecil, memang kau sudah bosan hidup!” pimpinan rombongan membentak marah.

“Hai-ji, kau minggirlah. Biarlah layani kaleng-kaleng kosong ini!” tiba-tiba Ang I Niocu loncat menghadang di depan Cin Hai, rnenanti datangnya delapan orang anggota Sayap Garuda yang maju mengancam.

Cin Hai segera meloncat ke pinggir dan berdiri sambil menyiapkan sulingnya, lalu berkata keras kepada para pengawal itu,

“He, bangsat-bangsat besar. Kau tadi ingin melihat tarian indah? Nah, sekarang kaulihatlah!” Ia lalu meniup sulingnya dengan perlahan, maka bergeraklah Ang I Niocu menarikan Tari Bidadari dengan pedangnya!

Untuk sejenak delapan orang pengawal istana itu memandang tercengang kepada gadis itu dengan kagum, karena benar-benar indah tarian Dara Baju Merah itu. Tetapi mereka lalu teringat akan kawan yang telah dirobohkan, maka Pimpinan yang tinggi kurus berseru,

“Serbu!” Dan menyeranglah delapan orang itu bagaikan air pasang, menyerbu Ang I Niocu yang tengah menari. Cin Hai mempercepat tiupannya dan sebentar saja kalang-kabutlah delapan orang anggauta Sayap Garuda itu. Mereka telah kehilangan lawan karena tubuh Ang I Niocu tak tampak lagi, tertutup oleh sinar pedangnya, hanya bajunya saja yang merupakan cahaya merah berkelebat ke sana kemari!

Delapan orang itu bukanlah orang lemah, dan mereka rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kini mereka maklum bahwa yang mereka hadapi adalah seorang pendekar pedang yang tak boleh dipandang ringan. Maka lenyaplah nafsu mereka untuk mempermainkan gadis jelita ini, dan mereka lalu mengerahkan tenaga dan kepandaian dalam perlawanan sungguh-sungguh dan mati-matian!

Sambil meniup sulingnya, Cin Hai kagum sekali melihat sepak terjang Ang I Niocu. Kini benar-benar ia dapat menikmati dan mengagumi kehebatan Sianli Kiam-hoat yang benar jarang terlihat dan tak mungkin dicari keduanya! Dulu ketika menghadapi Kanglam Sam-lojin, Ang I Niocu tidak memperlihatkan seluruh kepandaiannya. Tetapi sekarang, menghadapi delapan orang jagoan istana, anggauta-anggauta Sayap Garuda yang terkenal berkepandaian tinggi, Nona Baju Merah itu mengeluarkan dan memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar luar biasa!

Tidak hanya Cin Hai yang merasa kagum, bahkan kedelapan anggauta Sayap Garuda itu sendiri terkejut dan terheran karena selamanya mereka belum pernah menghadapi lawan yang sehebat dan selihai ini! Mereka merasa menyesal mengapa tadi telah berlaku jail dan sembrono hingga kini terpaksa harus menelan pel pahit! Akan tetapi, tidak ada jalan mundur lagi bagi mereka selain mengerahkan tenaga dan mengepung makin rapat.

Setelah pertempuran berlangsung lima puluh jurus lebih, barulah Ang I Niocu menurunkan tangan besi dan sinar pedangnya berubah ganas. Sebentar terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan pedang-pedang beterbangan karena terlepas dari pegangan tangan! Dalam beberapa jurus saja Ang I Niocu berhasil merobohkan delapan orang lawannya, masing-masing mendapat hadiah guratan pedang pada lengan tangan, pundak, muka dan paha, hingga biarpun mereka mandi darah dan roboh di tanah, tak seorang pun di antara mereka yang menderita’ luka berat yang membahayakan keselamatan jiwa mereka!

“Puaskah kalian melihat tarianku?” Ang I Niocu berkata sambil memasukkan pedang di sarungnya dan tersenyum manis.

Pemimpin rombongan Sayap Garuda itu dengan muka merah dan mata terbelalak bertanya dengan suara parau, “Lihiap ini siapakah…

Tetapi Ang I Niocu tidak menjawab, hanya tersenyum dan berpaling memandang Cin Hai yang menyimpan sulingnya,

“Kalian belum tahu siapakah pendekar wanita yang gagah perkasa ini? Ah, sungguh percuma hidup di dunia mempunyai mata seakan-akan buta!” Dengan senyum sindir Cin Hai lalu menyanyikan syair Ang I Niocu,

“Berkawan sebatang pedang dan suling, Menjelajah ribuan li tanah dan air, Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati!”

Memang Cin Hai telah mengubah sebuah lagu yang bernada gagah untuk syair ini dan menambah kata-kata “suling” di belakang “pedang”. Sehabis menyanyikan syair itu, Cin Hai memandang wajah mereka. Tetapi ternyata bahwa para anggauta Sayap Garuda itu masih saja belum mengerti siapa adanya nona gagah perkasa yang demikian lihai ilmu silatnya itu. Karena mendongkol melihat kebodohan mereka, Cin Hai membentak, “Orang-orang macam kalian ini mana pantas mengenal dia?”

Sementara itu, Ang I Niocu bertaka, “Hai-ji mari kita pergi”

Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dengan tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu. Kawanan Sayap Garuda itu merangkak-rangkak bangun sambil menyumpah-nyumpah dan saling tolong. Untung bagi mereka bahwa kekalahan hebat ini tidak terlihat oleh orang lain. Sungguh peristiwa yang memalukan sekali dan seandainya kelihatan oleh orang lain, nama mereka akan jatuh rendah sekali!

Tiba-tiba pemimpin mereka berseru sambil menepuk-nepuk jidatnya, “Ah, siapa lagi kalau bukan dia!”

Kawan-kawannya memandang heran dan ia lalu melanjutkan kata-katanya. “Tentu nona tadi Ang I Niocu! Kepandaiannya hebat, pakaiannya merah, siapa lagi kalau bukan Ang I Niocu?”

“Tetapi ia masih begitu muda dan cantik, paling banyak berusia delapan belas tahun. Sedangkan Ang I Niocu telah membuat nama besar empat lima tahun yang lalu!”

Kawan-kawannya menganggap ucapan ini benar juga, maka mereka hanya saling pandang dengan heran dan menduga-duga sambil menggunakan robekan baju atau ikat kepala untuk membalut luka masing-masing.

Sementara itu, Ang I Niocu mengajak Cin Hai menggunakan Hui-heng-sut (Ilmu Berlari Cepat) untuk menuju ke Pek-tiauw-san (Gunung Rajawali Putih). Ketika Cin Hai menanyakan maksud tujuannya pergi ke gunung itu, Ang I Niocu menjawab sambil tersenyum,

“Di puncak Pek-tiauw-san terdapat sarang burung rajawali. Burung itu hanya bertelur sekali dalam setahun. Sekarang kebetulan musim burung itu bertelur dan aku perlu sekali mendapatkan satu atau dua butir telur rajawali putih.”

“Mencari telur mengapa begitu jauh, Niocu? Untuk apakah?”

Ang I Niocu tertawa kecil. “Kau benar-benar masih tolol. Tidak tahu khasiat telur rajawali putih?”

Benar-benar Cin Hai tidak mengerti dan memandangnya dengan mata bodoh hingga sekali lagi Ang I Niocu tertawa. “Di antara akar terdapat akar jin-som yang mengandung obat mujizat, dan di antara segala macam telur terdapat telur rajawali putih yang khasiatnya tidak kalah dari jin-som!”

Cin Hai pernah melihat dan tahu akan khasiat jin-som, akar yang berbentuk anak orok itu, maka ia heran mendengar bahwa khasiat telur rajawali itu lebih manjur daripada jin-som.

“Benarkah itu, Niocu? Apakah telur itu dapat menguatkan tubuh seperti jin-som?”

“Tidak hanya menguatkan tubuh, tetapi juga memperpanjang umur dan mencegah orang menjadi tua. Makan sebutir saja kau akan menjadi lebih muda dua tahun!”

“Begitukah? Hebat sekali. Sebutir telur kecil bisa memudakan orang sampai dua tahun!”

Ang I Niocu tertawa merdu. “Kecil katamu? Anak tolol, telur itu besarnya melebihi kepalamu!”

Cin Hai melebarkan matanya dan wajahnya tampak bertambah bodoh hingga Ang I Niocu makin geli melihatnya.

Demikianlah sambil berlari cepat, mereka bercakap-cakap dengan gembira hingga waktu lewat tak terasa oleh mereka berdua.

Gunung Pek-tiauw-san menjulang tinggi menembus awan. Di kaki dan lereng gunung penuh dengan rimba raya yang kaya akan pohon-pohon besar yang sudah ratusan tahun umurnya. Pohon-pohon itu ada yang demikian besar ukurannya hingga untuk mengelilingi sebatang saja, orang harus berjalan sedikitnya empat puluh langkah! Pohon sebesar ini mungkin sudah ada seribu tahun umurnya. Tinggi besar, kokoh kuat, seakan-akan raksasa berdiri sambil bertolak pinggang memandangi segala yang berada di bawahnya!

Berbeda dengan keadaan kaki dan lereng gunung yang penuh tetumbuhan, di puncak tidak ditumbuhi pohon, sebaliknya kaya akan batu-batu karang yang tinggi dan meruncing ke atas. Ada batu karang yang tingginya sampai puluhan kaki seakan-akan menyaingi pohon-pohon raksasa yang tumbuh di sebelah bawah. Tempat inilah yang dipilih oleh burung rajawali untuk bertelur. Di puncak batu karang yang tinggi, burung raksasa itu membuat sarang dan bertelur serta memelihara anaknya. Di seluruh daratan Tiongkok, hanya di puncak Pek-tiauw-san ini saja terdapat burung-burung rajawali yang berbulu putih dan indah. Karena jumlah burung itu hanya beberapa puluh ekor saja, maka jarang orang dapat melihatnya, apalagi tempat di mana mereka bersarang adalah puncak gunung yang tinggi dan sangat sukar sekali didaki orang.

Jangankan orang biasa yang tidak memiliki kepandaian, sedangkan Cin Hai yang telah memiliki kepandaian yang lumayan juga, masih menderita kesukaran, ketika Ang I Niocu membawanya naik ke atas. Pendakian Gunung Pek-tiauw-san ini benar merupakan ujian baginya, bahkan merupakan latihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang baik sekali. Seandainya ia diharuskan mendaki sendiri, belum tentu ia dapat mencapai puncak, karena setelah melewati rimba terakhir, jalan menjadi demikian sukar, penuh dengan jurang-jurang yang curam, melalui batu-batu karang yang tinggi dan bermuka tajam hingga dapat menembus sepatu!

Akan tetapi Ang I Niocu nampak tenang dan enak saja. Gerakannya tetap gesit dan ringan hingga sekali lagi Cin Hai mendapat bukti akan kelihaian Dara Baju Merah ini. Pada saat melalui tempat-tempat yang berbahaya dan sukar Cin Hai tidak ragu-ragu lagi untuk memegang tangan Ang I Niocu, bahkan di waktu harus meloncati jurang yang curam dan lebar, gadis itu tidak sungkan-sungkan untuk memondongnya dan membawanya melompat ke seberang jurang!

Betapapun juga, setelah setengah hari melakukan perjalanan yang sukar baru mereka tiba di puncak, memandang batu-batu karang yang menjulang tinggi menembus awan yang merupakan gumpalan-gumpalan halimun tipis.

“Aku tidak melihat sarang burung di puncak batu karang itu!” kata Cin Hai sambil terengah-engah kelelahan dan duduk di atas sebuah batu hitam yang halus.

“Apa kaukira mudah saja mendapatkan sarangnya? Di antara batu-batu karang yang ratusan banyaknya ini, paling untung kita dapat menemukan empat atau lima buah sarang!”

Cin Hai menghela napas. Telah payah dan penat-penat seluruh tubuhnya, dan agaknya ia takkan kuat harus berjalan lagi mengelilingi batu-batu karang itu untuk mencapai sarang rajawali. Melihat keadaan Cin Hai, Ang I Niocu juga ikut duduk mengaso. “Biarlah kita beristirahat dulu melepaskan penat,” katanya sambil menghibur Cin Hai dengan senyumnya yang membesarkan hati. Pada saat itu terdengar suara yang keras dan dahsyat menggetarkan anak telinga!

“Seekor Pek-tiauw (Rajawali Putih)!” kata Ang I Niocu perlahan seakan menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Cin Hai dengan matanya. “Ia sedang marah, entah mengapa?”

Gadis itu dengan hati-hati lalu bangkit berdiri dan perlahan-lahan maju ke arah suara tadi. Cin Hai terpaksa mengikutinya dari belakang. Walaupun sebenarnya ia merasa takut. Baru suaranya saja sudah sehebat itu, apalagi burungnya. Tentu besar dan liar!

Makin dekat, makin keras pekik burung raksasa itu dan terdengar gerakan sayapnya mengebut-ngebut membuat batu-batu karang yang kecil menggelinding pergi dan angin bertiup dari arah itu! Dengan gerakan hati-hati sekali Ang I Niocu terus maju dan mengintai dari balik batu karang. Cin Hai juga ikut mengintai dan terkejutlah ia melihat betapa seekor burung yang luar biasa besarnya menyambar-nyambar dan menerjang seorang kakek di depannya!

Cin Hai memandang dengan melongo, mata terbelalak dan mulut ternganga, karena kejadian yang dilihatnya ini memang luar biasa sekali! Kakek tua itu berjenggot panjang berwarna putih, juga rambutnya yang digelung ke atas telah putih semua. Pakaiannya sederhana sekali, lebih pantas disebut kain yang dililitkan pada tubuhnya dan terbuat dari kain kasar berwarna putih yang biasa dipakai oleh petani-petani miskin atau orang-orang jembel. Tetapi kakek itu mengenakan sebuah rompi daripada bulu merak yang masih baru!

Pada saat itu, burung rajawali putih yang tampak marah sekali itu sedang menyerang dengan kedua cakarnya yang berkuku tajam bagaikan kaitan-kaitan baja dan paruhnya yang besar melengkung bagaikan sebuah catut besar. Serangan ini dibantu pula oleh kedua sayapnya yang berkembang dan siap menyambar dengan tenaga sedikitnya seribu kati! Tetapi kakek itu tidak jerih, bahkan terdengar ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu ia pun mengembangkan sepasang lengan tangannya yang dibentang ke kanan kiri dengan jari-jari terbuka merupakan cakar hingga seakan-akan ia telah siap untuk main cakar-cakaran dengan burung itu. Tubuhnya merendah dengan kaki kiri diulur ke depan, seakan-akan ia hendak memperlihatkan kepada burung itu bahwa kakinya tidak lebih buruk daripada kaki burung rajawali putih!

“Ha, ha, ha, majulah, tolol, majulah!” kakek itu mengejek burung itu dan tiba-tiba teringatlah Cin Hai bahwa kakek itu bukan lain adalah Bu Pun Su, kakek jembel yang telah ia angkat sebagai guru ketika mereka berjumpa di atas Kelenteng Ban Hok Tong pada beberapa tahun yang lalu!

PADA saat itu burung rajawali itu menerkam dan memukul dengan sayap kanannya. Tetapi dengan ringan sekali kakek itu meloncat menghindari kebutan sayap hingga sayap burung yang besar itu menghantam batu karang di belakang Bu Pun Su! Terdengar suara keras dan batu karang itu terpukul hancur dan batu-batu kecil terbang berhamburan! Demikian hebat pukulan itu hingga dapat dibayangkan betapa kepala orang akan hancur lebur terkena pukulan sayap satu kali saja.

Tetapi Bu Pun Su benar-benar luar biasa lihainya. Ia menghadapi burung raksasa itu dengan tenang, bahkan mempermainkannya. Padahal pada saat itu ia berdiri di tempat yang sempit sekali. Di depan kakinya terbuka jurang yang curam sekali, sedangkan di belakangnya menjulang tinggi batu karang besar. Kalau ia sampai terdorong oleh serangan burung rajawali, maka nasibnya hanya dua macam, kalau tidak terpukul hancur terbentur pada batu karang yang keras, tentu terguling ke dalam jurang dan menemui maut di dasar jurang yang ratusan kaki dalamnya!

Pada saat Cin Hai sedang berdiri kagum dan heran, tiba-tiba Ang I Niocu memegang lengannya dan menariknya cepat-cepat pergi dari tempat itu.

“Lekas kita turun gunung dan lari dari Susiok-couw!” kata Ang I Niocu dengan wajah pucat!

“Eh, Niocu, kau mengapa? Kenapa begitu takut melihat dia?”

“Anak tolol! Bukankah dia itu Bu Pun Su, Gurumu? Kalau melihatmu, tentu kau akan dibawanya dan berpisah dariku, lupakah kau?”

Terkejutlah Cin Hai teringat akan hal ini. Ia lalu ikut berlari turun dari puncak itu, sedangkan hatinya makin suka kepada Ang I Niocu, karena ternyata bahwa Gadis Baju Merah ini pun takut kalau-kalau harus berpisah darinya!

Mereka berdua sambil bergandeng tangan berlari-lari dengan cepat bagaikan dikejar setan. Tetapi karena Cin Hai telah lemah sekali serta sepatunya sudah banyak berlubang hingga telapak kakinya terasa sakit tertusuk batu-batu tajam, perjalanan mereka tidak secepat yang mereka inginkan.

Ketika mereka telah lari jauh dan keduanya telah menarik napas lega karena menduga bahwa Bu Pun Su tentu takkan dapat bertemu dengan mereka karena tadi pun orang tua itu sedang sibuk menghadapi pek-tiauw yang berbahaya, tiba-tiba mereka mendengar pukulan sayap burung di atas. Ketika mereka memandang ke atas, wajah mereka tiba-tiba menjadi pucat sekali. Terutama Ang I Niocu, wajah gadis yang biasanya kemerah-merahan itu kini menjadi pucat ketakutan! Seekor Pek-tiauw terbang di atas mereka, yaitu burung rajawali yang tadi bertempur melawan Bu Pun Su. Dan di atas punggung burung itu, tampak Bu Pun Su sendiri duduk sambil menggunakan tangan kanan memegang leher burung dan tangan kiri memegang ekor dan leher, kakek itu berhasil memaksa burung rajawali putih untuk terbang menurut arah yang ditunjuknya. Kalau ia memutar leher ke kiri, terpaksa burung itu terbang ke kiri, dan demikian sebaliknya. Kini Bu Pun Su membetot-betot ekornya dan membekuk lehernya ke bawah hingga burung rajawali putih yang besar itu dapat menangkap maksudnya bahwa ia harus turun!

Setelah meloncat dari punggung burung dengan ringan sekali, Bu Pun Su membentak burung itu yang segera terbang pergi sambil mengeluarkan suara keluhan panjang tanda takluk terhadap kakek yang lihai itu!

Ang I Niocu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su sambil menyebut, “Susiok-couw!” Juga Cin Hai tak dapat berbuat lain kecuali ikut berlutut di belakang Ang I Niocu tanpa berani mengangkat mukanya!

“Hm, hm! Kau mencari telur Pek-tiauw?” tanyanya kepada Ang I Niocu.

“Benar, Susiok-couw, harap maafkan jika teecu mengganggu Susiok-couw!” kata Ang I Niocu dengan hormat.

“Siapa yang mengganggu? Kau atau aku?” kata Kakek itu sambil melirik ke arah Cin Hai. Kemudian ia bertanya lagi, “Kaubawa-bawa anak ini untuk apa? Apa ia muridmu?”

Ang I Niocu tak berani membohong terhadap kakek gurunya, maka ia menggelengkan kepala menyangkal.

Tetapi Bu Pun Su agaknya tidak percaya. “Kalau bukan murid mengapa dibawa-bawa? Hai, anak muda, apakah Ang I Niocu mengajar silat kepadamu?”

Terpaksa Cin Hai mengangguk karena ia memang tidak bisa membohong.

“Kiang Im Giok! Kau berani membohong terhadap Susiok-couwmu?” Bu Pun Su menegur tetapi tidak marah karena mulutnya tersenyum.

“Teecu mana berani membohong Susiok-couw? Anak ini memang bukan muridku,” jawab Ang I Niocu.

“Tetapi kau mengajarkan ilmu silat cabang kita! Ah, apakah kebiasaanmu maka kau berani mengajar silat kepada orang lain? Kau lancang sekali. Ketahuilah bahwa murid-muridlah yang biasanya merusak nama baik cabang persilatan! Apakah kau tahu benar bahwa orang yang kauberi pelajaran silat itu orang baik-baik? Bagaimana kalau kelak ia mengotori dan mencemarkan nama baik kita?”

“Maafkan teecu, Susiok-couw,” kata Ang I Niocu sambil menundukkan kepala. “Sudahlah, yang sudah lewat sudah saja. Kau masih anak-anak berani menerima murid, sedangkan aku tua bangka yang hampir mati ini pun belum pernah mempunyai murid. Pernah aku menerima seorang murid tolol, tetapi Si Gundul tolol itu telah pergi minggat entah ke mana?”

Tadinya Cin Hai hendak mengaku bahwa anak gundul tolol itu adalah dia sendiri. Tetapi melihat betapa kakek itu memarahi Ang I Niocu, ia menjadi tak senang dan diam saja sambil menundukkan kepalanya yang kini sudah tidak gundul lagi. Ternyata kakek tua itu lupa dan pangling.

“Sekarang kaupergilah, Im Giok, dan kauwakili aku pergi ke Kun-lun-san. Di sana sedang timbul pertikaian hebat antara para pemimpin Kun-lun-pai dan Go-bi-pai karena salah paham yang ditimbulkan oleh anak murid mereka, kau pergilah ke sana dan atas namaku kaucoba damaikan mereka itu demi persatuan para hohan yang kelak akan diperlukan tenaganya oleh bangsa!”

Ang I Niocu memberi hormat dan berjanji mentaati perintah Susiok-caouwnya itu. Tetapi dengan bingung ia melirik ke arah Cin Hai. Bu Pun Su yang bermata tajam dapat melihat lirikan ini, maka ia lalu membentak,

“Pergilah dan jangan pedulikan anak ini. Dia sudah belajar kepandaian, biar dia menggunakan kepandaiannya itu untuk turun gunung seorang diri!”

Terpaksa Ang I Niocu bangkit berdiri dan sambil memandang kepada Cin Hai dengan wajah pucat ia hanya berkata, “Sampai bertemu kembali!” Lalu gadis itu melompat jauh hingga sebentar saja ia hanya merupakan setitik warna merah yang kemudian menghilang. Bu Pun Su tertawa bergelak dan ketika Cin Hai mengangkat muka memandang dengan marah, kakek itu telah lenyap dari situ!

Cin Hai berdiri dan membanting-banting kaki dengan gemas dan sedih. Hatinya terasa hancur dan pikirannya bingung. Ang I Niocu telah meninggalkannya. Satu-satunya orang yang dikasihinya di dunia ini telah pergi dan meninggalkan ia hidup seorang diri, sebatangkara di atas gunung ini, tanpa tujuan, tanpa mengetahui apa yang harus ia perbuat! Cin Hai tak dapat menahan sedihnya dan ia menjatuhkan diri di atas rumput sambil menangis tersedu-sedu! Ia menangis bukan karena takut menghadapi nasibnya, tetapi karena merasa sedih ditinggalkan oleh Ang I Niocu, kawan dan guru yang dianggapnya sebagai orang yang paling baik di atas dunia ini!

Setelah menangis beberapa lama sampai air matanya kering dan habis, akhirnya ia dapat menetapkan hatinya dan dengan tubuh limbung dan lesu ia menuruni bukit itu. Senja telah datang ketika ia tiba di kaki bukit dan perutnya terasa lapar sekali. Biasanya, ketika ia masih merantau bersama-sama dengan Ang I Niocu, yang memikirkan kebutuhan makan mereka berdua adalah gadis itu. Pandai sekali gadis itu mencari makan untuk mereka berdua, baik dengan jalan membeli, mencari buah-buahan, maupun kadang-kadang memasak sendiri!

Kini perutnya terasa lapar, uang ia tidak punya dan ia berada di tengah belukar. Apa daya? Kembali air matanya turun membasahi kedua pipinya.

Tiba-tiba ia teringat akan nyanyian dalam kitab kuno, yaitu kata-kata Ci Kui yang menasihati puteranya ketika sedang bersedih.

“Air mata adalah mahal dan tak layak keluar dari mata seorang jantan Simpan air matamu dan gantilah dengan cucuran peluhmu! Demikianlah sifat jantan (Pahlawan) sejati!”

Teringat akan nyanyian ini, Cin Hai merasa jengah dan malu terhadap dirinya sendiri. Ia lalu menggunakan lengan bajunya menghapus kering segala sisa air mata di pipinya, lalu ia mulai mencari buah-buahan di dalam hutan itu. Akhirnya dapat juga ia menemukan buah-buahan yang telah masak dan lezat. Ia lalu makan buah itu dan beristirahat di atas dahan pohon yang besar. Karena sudah biasa, maka ia berani tidur di atas cabang tanpa kuatir jatuh selagi tidur.

Hawa malam di hutan itu dingin sekali sehingga Cin Hai harus mengerahkan hawa dalam tubuhnya dan dialirkan cepat untuk menahan dingin. Baiknya ia telah sering berlatih khikang sehingga ia tidak sangat menderita kedinginan. Yang sangat ia derita ialah kenangan akan Ang I Niocu. Biasanya kalau tidur di atas pohon berdua, gadis itu tentu mengajak ia bercakap-cakap atau mempelajari tiupan suling hingga ia tak pernah merasa sunyi. Bahkan dulu ketika khikangnya belum begitu maju dan ia sangat menderita kedinginan, Ang I Niocu menanggalkan mantel dan diselimutkan kepadanya, dan ketika itu masih belum dapat mengusir hawa dingin yang menyusup ke tulang-tulang, Dara Baju Merah itu lalu memegang tangannya dan menyalurkan hawa hangat yang luar biasa melalui telapak tangan, hingga hawa hangat itu menjalar ke dalam tubuhnya dan mengusir hawa dingin. Ah, alangkah baik dan mulia hati gadis itu. Dalam diri Ang I Niocu, Cin Hai seakan-akan menemukan seorang kawan dan guru, bahkan seorang ibu dan ayah yang sangat mengasihinya! Kini gadis itu pergi meninggalkan dia dan tidak tahu sampai kapan dapat bersua kembali!

Semalam penuh Cin Hai tak dapat memejamkan matanya dan pikirannya penuh dengan Ang I Niocu. Berkali-kali terdengar helaan napasnya dan bisiknya, “Niocu… Niocu…” ia menyebut-nyebut nama gadis itu dengan perasaan rindu yang menekan dadanya.

Pada keesokan harinya, mulailah ia merantau seorang diri dengan hati tertekan dan pikiran bingung. Karena tidak tahu bagaimana harus mendapatkan makan untuk isi perutnya sehari-hari terpaksa ia minta makanan dari orang kampung yang dilewatinya dan menjadi seorang pengemis! Ia terpaksa menjadi seorang pengemis karena ia ingat akan ujar-ujar yang menyatakan bahwa seribu kali lebih baik menjadi seorang pengemis daripada seorang pencuri, tidak ada lain jalan lagi.

Beberapa bulan telah berlalu dan keadaan Cin Hai makin buruk. Pakaiannya kotor dan compang-camping. Dulu ketika ia merantau dengan Ang I Niocu, paling lama tiga hari sekali ia tentu disuruh mencuci pakaiannya, bahkan setiap kali bertemu dengan anak sungai, ia diharuskan mandi dan membersihkan tubuhnya oleh Ang I Niocu. Tetapi sekarang, ia menjadi malas untuk mencuci pakaian atau mandi sehingga selain pakaiannya kotor, tubuhnya juga kotor, penuh debu! Bahkan kudis yang gatal di kepalanya mulai timbul lagi sehingga ia lalu mencari pinjaman pisau dan mencukur rambutnya yang tadinya hitam, tebal dan bagus itu! Sungguh mengherankan betapa dalam beberapa bulan saja, keadaan Cin Hai yang tadinya hidup penuh kegembiraan dan kebahagiaan, kini berubah menjadi penuh penderitaan dan kesengsaraan. Ini semua karena Ang I Niocu, Dara Baju Merah yang cantik dan berkepandaian tinggi itu!

Kurang lebih setahun kemudian Cin Hai tiba di kota Kibun. Ia telah berubah menjadi seorang pengemis muda. Tubuhnya kurus hingga tulang-tulangnya tampak di balik kulitnya yang kotor. Rambutnya yang tumbuh lagi tidak teratur dan awut-awutan tidak karuan. Kakinya telanjang tidak bersepatu dan wajahnya yang kurus tampak muram tetapi sepasang matanya bersinar lebih tajam dari pada dulu. Pengalaman-pengalaman hidup yang pahit membuat ia masak dan terbukalah kini mata hatinya akan kesengsaraan hidup miskin. Karena menderita, maka kini ia dapat merasakan pula penderitaan rakyat miskin di sekelilingnya, dan timbul rasa iba di dalam hatinya yang tadinya hanya mengenal kegembiraan belaka.

Biarpun menjadi pengemis, tetapi Cin Hai hanya mengemis makanan kalau perutnya sudah lapar benar dan tubuhnya sudah menjadi lemas karenanya. Oleh karena ini, maka belum tentu sekali sehari dia makan. Kadang-kadang sampai dua hari ia tidak mengisi perut dengan makanan dan hanya minum air untuk menahan lapar. Juga ia tidak sembarangan mengemis asal minta-minta saja. Hatinya tidak merasa sedap kalau untuk semangkuk yang diberikan orang kepadanya tidak ia beli dengan bantuan tenaganya kepada pemberinya itu. Terlebih dulu ia akan melakukan sesuatu untuk pemberinya, misalnya memikul air, menyapu lantai, membelah kayu dan lain-lain pekerjaan kasar lagi. Memang Cin Hai seorang pengemis muda istimewa.

Kota Ki-bun menarik hatinya dan menimbulkan rasa senang dan betah padanya. Kota ini cukup ramai dan hawanya yang nyaman membuat kota itu nampak bersih. Orang-orangnya peramah dan perdagangan di situ kelihatan ramai dan hidup karena tanah di sekeliling daerah itu memang cukup subur. Rupanya anak sungai yang mengalir di tengah-tengah kota mendatangkan keadaan makmur ini, karena selain air sungai dapat menyuburkan tanah dan sawah, juga sungai itu ternyata mengandung banyak ikan.

Ketika ia berjalan-jalan seenaknya mengelilingi kota dan melihat-lihat, Cin Hai tertarik oleh sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tebal. Di depan pintu gedung kuno itu terdapat tulisan yang menyatakan bahwa rumah itu adalah sebuah bukoan (tempat belajar silat) dari seorang guru silat she Louw. Papan nama itu terbuat daripada sepotong papan dan tulisannya bergaya kuat dan indah. Sayang sekali papan nama itu agaknya tak terawat hingga tampak kotor dan bahkan memasangnya juga miring.

Cin Hai memang suka akan keindahan. Ia kagum sekali melihat corak tulisan pada papan nama itu dan menyayangkan mengapa tulisan seindah itu dituliskan pada papan yang kotor dan dipasangnya miring pula. Tanpa dapat menahan perasaan hatinya, ia lalu mengambil sebuah bangku yang terdapat di luar pintu dan sambil berdiri di atas bangku itu ia menurunkan papan nama itu dari gantungannya. Lalu ia membersihkan dan menggosok-gosok papan itu dengan ujung lengan bajunya yang sudah kotor. Ia menggosok-gosok sambil memandangi tulisan itu dengan hati senang sekali. Tiba-tiba timbul sebuah pikiran dalam kepalanya. Inilah yang dia cari-cari selama ini! Pekerjaan! Ia terlampau lama menganggur. Tiada suatu yang dapat dikerjakan, dan karena tidak mempunyai kewajiban apa pun yang harus dikerjakan, maka ia menjadi malas dan menderita. Dalam menggosok-gosok papan ini ia merasakan kesenangan. Ah, bekerja!

Setelah papan itu bersih hingga tulisannya tampak nyata dan makin indah dipandang, ia lalu menggantungkan papan itu baik-baik, tidak miring seperti tadi. Segera ia turun dari bangkunya dan sambil berdiri menjauhi, ia memandang papan nama itu dengan gembira. Ia melihat hasil daripada pekerjaannya tadi dan tampak jelas hasil itu. Ia membayangkan betapa papan itu sebelum digosoknya tadi tampak buruk dan kotor, kini bersih dan seakan-akan benda itu kini berseri-seri gembira, tidak seperti tadi yang kotor dan muram!

Cin Hai lalu mendorong perlahan dan ternyata daun pintu tidak terkunci dan mudah saja terbuka. Ia masuk ke dalam. Ternyata bukoan itu terdiri dari dua buah rumah kecil dan sebuah lagi rumah besar agak di belakang. Di depannya terdapat pelataran yang luas tak ditumbuhi rumput. Di sudut kiri tampak sebuah rak tempat menyimpan senjata dan di sudut kanan tampak batu-batu dan besi-besi yang biasa digunakan orang untuk belajar olah raga dan berlatih kekuatan. Cin Hai senang sekali melihat semua ini. Ia melihat betapa tempat yang menyenangkan hatinya itu kotor sekali, maka ia memandang ke sana-sini, mencari-cari. Tiba-tiba ia melihat benda yang dicari-cari itu bersandar ke dinding. Cepat diambilnya sapu itu dan ia mulai menyapu pelataran tempat berlatih silat.

Karena asyiknya menyapu, Cin Hai tidak melihat kedatangan seorang laki-laki setengah tua yang masuk dari luar. Orang itu bertubuh tinggi besar dan berpakaian sebagai seorang kauwsu (guru silat). Memang dia adalah Louw Sun Bi guru silat yang mengajar di bukoan itu. Guru silat ini baru pulang dari bepergian dan ia heran melihat seorang pemuda tanggung yang berpakaian compang-camping sedang menyapu pelataran bukoannya dengan asyik sekali. Tadi pun ia telah merasa heran melihat papan nama yang tergantung di atas pintu demikian bersih seakan-akan baru saja ada yang membersihkannya. Kini ia mengerti bahwa yang membersihkan papan nama tentu anak itu juga.

“He, anak muda! Siapa yang menyuruhmu membersihkan tempat ini?” tegurnya.

“Tidak… tidak ada yang menyuruh. Aku melihat tempat ini begitu kotor dan… dan sudah sepatutnya dibersihkan.”

Louw Sun Bi adalah guru silat yang berwatak jujur dan baik. Mendengar jawaban Cin Hai, ia dapat menduga bahwa anak muda itu tentu bukan seorang pengemis sembarangan, maka ia lalu bertanya, “He, anak muda. Apakah kau mau bekerja di sini?”

Wajah Cin Hai yang tadinya muram berubah dan berseri. “Suka sekali, suka sekali!” Memang tadi ia telah sadar bahwa kebutuhan yang dirindukan olehnya ialah pekerjaan, maka sekarang begitu ada orang menawarkan pekerjaan, tentu saja ia merasa senang.

“Kau tak berumah dan sebatang kara?” kembali guru silat itu bertanya, dan dugaannya yang tepat ini bukanlah karena ia orang waspada, tetapi karena pada masa itu banyak sekali terdapat orang-orang berkeliaran seperti Cin Hai, orang-orang yang hidupnya merantau dan mengemis tanpa mempunyai tempat tinggal yang tetap dan kebanyakan adalah orang-orang yang telah yatim piatu dan hidup sebatang kara.

Cin Hai mengangguk-angguk membenarkan kata-kata kauwsu itu.

“Kalau begitu, mulai sekarang kau bekerjalah di sini, lalu melayani segala keperluan murid-murid bukoan.”

“Baik, baik Loya,” jawab Cin Hai dengan gembira sekali.

Pada saat itu dari luar terdengar orang bercakap-cakap sambil tertawa dan tak lama kemudian dari pintu gerbang itu masuklah seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang berbadan pendek gemuk tetapi gerakannya gesit, diikuti oleh belasan anak-anak berusia rata-rata lima belas atau empat belas tahun.

Mereka yang baru datang ini semua memberi hormat kepada Louw Sun Bi. Anak-anak muda itu menyebut “suhu” dan Si Gemuk Pendek menyebut Louw-twako.

Louw-kauwsu lalu memperkenalkan orang-orang itu kepada Cin Hai. Ternyata bahwa orang yang gemuk pendek itu adalah wakil kauwsu yang pekerjaannya mewakili Louw-kauwsu mengajar sekalian murid-murid itu, sedangkan anak-anak muda itu adalah murid-murid bukoan, putera-putera penduduk kota itu yang belajar silat. Sambil tersenyum Louw-kauwsu menuturkan kepada mereka betapa Cin Hai telah membersihkan pelataran itu dan betapa ia telah menerima Cin Hai menjadi bujang di situ.

Pada seorang pengemis muda seperti Cin Hai, tentu saja mereka tidak menaruh perhatian dan anak-anak murid itu memulai latihan-latihan mereka. Ada yang angkat besi, atau batu untuk melatih otot-otot lengan. Mereka yang terkuat lalu berdemonstrasi, seakan-akan sengaja hendak memamerkan tenaga mereka kepada bujang kecil itu!

Wakil kauwsu itu adalah seorang yang biarpun bertubuh gemuk pendek, tetapi berwajah tampan juga. Namanya Ting Sun dan ia adalah anak murid dari Bu-tong-pai, secabang dengan Louw Sun Bi, hanya lebih rendah tingkatnya. Watak Ting Sun tekebur sekali dan ia sombong akan kepandaian silatnya. Karena Cin Hai diterima oleh Lauw Sun Bi, maka tidak berani berkata apa-apa, hanya bertanya,

“Eh, siapa namamu?”

“Nama saya Cin Hai,” jawab Cin Hai.

“Ini adalah Ji-kauwsu (Guru Silat Ke Dua) kau boleh menyebutnya Ji-suhu,” kata Louw Sun Bi tertawa. Kemudian guru silat itu meninggalkan mereka pergi ke dalam.

“Eh, jembel! Aku tidak mempunyai murid seperti macammu, jangan sebut aku Suhu!”

“Harus menyebut bagaimana?” tanya Cin Hai, terkejut melihat perubahan sikap orang.

“Harus sebut aku Siauwya (Tuan Muda), mengerti!”

Dalam hatinya Cin Hai tertawa geli melihat kecongkakan akan guru silat gemuk pendek itu, tetapi mulutnya menjawab, “Baik, Siauwya.”

Kemudian Cin Hai melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai sampai bersih. Sementara itu, Ting Sun melatih murid-muridnya.

Ketika Cin Hai membersihkan pekarangan di dekat gedung belakang, tiba-tiba Louw Sun Bi keluar dan memanggilnya. Cin Hai segera menghadap. Guru silat itu diiringi oleh seorang gadis berusia kira-kira delapan belas tahun. Gadis itu bertubuh tinggi besar seperti ayahnya, karena ia adalah Louw Bin Nio, anak tunggal Louw Sun Bi. Wajah Bin Nio tidak cantik, tetapi cukup manis dan sikapnya gagah, hingga dapat diduga bahwa gadis ini pun pandai ilmu silat seperti ayahnya.

“Kau tentu belum makan,” kata guru silat itu dengan suara ramah, “kaumakanlah dulu dan gantilah pakaianmu itu setelah kaubersihkan tubuhmu.”

Cin Hai merasa berterima kasih sekali dan ia memberi hormat sambil berlutut. Ia merasa terharu karena baru sekarang ada orang yang mau memperhatikan keadaan dirinya. Bin Nio lalu mengantarnya ke ruang belakang dan memerintahkan pelayan-pelayan lain untuk memberi makan kepada Cin Hai, sedangkan seorang pelayan lain mengambil satu stel pakaian tua dari Louw-kauwsu.

Semenjak hari itu, berubah pulalah keadaan hidup Cin Hai. Ia tidak usah menderita lapar dan dingin lagi, dan setiap hari ia bekerja dengan gembira dan bersemangat. Akan tetapi, di samping pekerjaan yang memuaskan hatinya dan sikap Louw Sun Bi yang sangat baik terhadapnya, ia mengalami penderitaan lain yang timbul dari sikap Ting Sun dan sikap Louw Bin Nio kepadanya. Entah mengapa, Ting Sun Si Guru Silat gemuk pendek itu tidak suka kepadanya dan seringkali menghinanya. Pernah ia berdiri melihat latihan silat pada suatu senja, tiba-tiba Ting Sun memanggilnya.

“Lihatlah kalian baik-baik. Untuk menjalankan tiamhoat (ilmu menotok jalan darah), dua jari telunjuk dan tengah harus diluruskan seperti ini.” Ia memberi contoh dengan dua jari tangan. “Dan biarlah Si Jembel ini kita totok, kalian lihat bagian leher ini!”

Ia lalu meraba-raba leher Cin Hai yang tidak berani membantah dan diam saja berdiri bagaikan patung. “Nah, untuk menotok jalan darah harus tepat di bagian ini!”

Sambil berkata demikian, jari tangannya benar-benar menotok leher Cin Hai. Anak itu terkejut sekali dan hendak mengerahkan lweekangnya untuk melawan totokan, tetapi cepat berpikir bahwa kalau ia melakukan hal ini tentu akan terbukalah rahasianya. Maka ia lalu mengendorkan semua uratnya dan tidak melawan. Ketika totokan tiba di lehernya, ia merasa leher itu sakit dan tubuhnya menjadi lemas hingga ia roboh tanpa daya!

“Lihat, beginilah lihainya totokan Bu-tong-pai!” guru silat itu tertawa puas dan bangga, sedangkan belasan anak murid itu lalu memeriksa tubuh Cin Hai yang sudah lemas. Ia dapat melihat dan mendengar, tetapi tak mampu menggerakkan tubuh karena segala urat di tubuhnya seakan-akan berhenti bekerja! Juga lehernya terasa sakit sekali hingga ia tidak berani menggerakkan leher itu.

Sementara itu, tanpa mempedulikan Cin Hai, Ting Sun lalu memberi petunjuk-petunjuk terlebih jauh kepada murid-muridnya. Cin Hai dalam keadaan menyedihkan itu harus menderita sampai dua jam lebih, barulah perlahan-lahan jalan darahnya terbuka dan darahnya mengalir kembali hingga ia dapat cepat-cepat menggunakan tenaga dalamnya memulihkan kesehatannya. Akan tetapi, ia pura-pura masih lemah dan sakit hingga berdiri sambil terhuyung-huyung.

“Nah, nah, kalian lihat. Setelah beberapa lama, totokan di leher itu buyar sendiri dan dia dapat bergerak kembali. Yang tadi itu adalah pelajaran pertama. Masih banyak lagi jalan-jalan darah yang dapat ditotok, di antaranya tai-hwi-hiat yang letaknya di punggung. Kalau aku totok tai-hwi-hiat jembel ini, maka ia roboh dengan lemas dan selamanya takkan dapat berdiri kembali, kecuali kalau totokan itu kubebaskan dengan tepukan-tepukan tertentu. Tetapi hal ini akan kalian pelajari kelak kalau sudah sempurna gerakan tangan kalian.”

Semua murid memandang kagum dan dengan langkah terhuyung-huyung Cin Hai meninggalkan tempat itu, di dalam hatinya ia mengutuk guru silat itu. Kalau saja Louw-loya tidak demikian baik hati kepadaku, hm… akan kuhajar kau! Demikian ia berpikir dengan hati mendongkol sekali.

Selain gangguan-gangguan dari Ting Sun yang sangat menghinanya, Cin Hai juga harus menderita penghinaan dari Louw Bin Nio. Gadis ini ternyata centil dan genit dan dalam hal menyombongkan kepandaian silatnya, tidak kalah dari Ting Sun. Alangkah jauh bedanya perangai gadis ini dengan ayahnya.

Pernah pada suatu malam terang bulan Cin Hai duduk di bawah pohon di dekat tembok itu sambil melamun. Ia teringat akan Ang I Niocu dan ia merasa rindu sekali kepada Dara Baju Merah itu. Di manakah gerangan nona itu pada saat ini? Cin Hai termenung sambil memandang bulan yang agaknya sedang berjalan-jalan di angkasa mencari-cari sesuatu yang telah pergi meninggalkannya!

Tiba-tiba ia mendengar suara Bin Nio memanggilnya, dan ia cepat menghampiri gadis itu yang telah berdiri di tengah tempat berlatih silat.

“Cin Hai, kau pergi ke dalam ambilkan pedangku!” Gadis itu memerintah.

Cin Hai cepat lari ke belakang dan kepada pelayan gadis itu ia menyampaikan pesan Bin Nio. Setelah menerima pedang dari Cin Hai, gadis itu lalu main silat dengan pedangnya. Cin Hai berdiri di pinggir sambil menonton gadis itu bersilat pedang. Alangkah jauh bedanya dengan permainan pedang Ang I Niocu! Ia tak menganggap permainan Bin Nio ini bagus, tetapi tentu saja ia tidak berani menyatakan itu, bahkan setelah gadis itu selesai bermain pedang, ia memuji dengan suara kagum.

Bin Nio duduk di atas sebuah bangku.

“Ah, kau mana mengerti ilmu pedang bagus atau tidak? Tahumu hanya menyapu lantai sampai bersih, menyiram kembang dan mengampak kayu, Ah, sayang pada malam yang begini indah hanya ada kau, anak tolol. Hayo kaubersihkan sepatu ini!”

Cin Hai tak berani membantah dan menggunakan ujung bajunya untuk menyusut sepatu gadis itu yang kotor terkena debu ketika bersilat tadi.

“Ilmu pedang Siocia memang bagus sekali,” ia berkata lagi memuji untuk menyenangkan hati puteri majikannya ini.

“Tentu saja bagi kau yang tolol tak mengerti apa-apa memang bagus sekali, tetapi cobalah kau lihat Ting-kauwsu bermain pedang!” gadis itu menghela napas dengan rasa kagum. “Tahukah kau? Ilmu pedang yang kumiliki adalah buah pelajaran darinya!”

Cin Hai merasa heran. “Bukankah Loya sendiri yang memberi pelajaran padamu, Siocia?” tanyanya.

“Ah, Ayah tak begitu suka melihat aku pandai bermain pedang. Ia bahkan ingin sekali melihat aku mengganti pedangku dengan jarum sulam! Baiknya ada Ting-kawsu yang mengajarku di waktu malam. Sayang, sekarang tidak diperbolehkan lagi oleh Ayah!” Gadis itu nampak kecewa sekali dan Cin Hai yang sudah selesai membersihkan sepatunya lalu mundur.

Tetapi tiba-tiba Bin Nio memanggil dengan suara perlahan.

“Eh, Cin Hai, maukah kau membantu aku?”

Cin Hai menjawab perlahan, “Tentu saja, Siocia. Membantu apakah?”

“Kau berikan suratku kepada Ting-kauwsu tetapi jangan sampai terlihat oleh orang lain, terutama jangan sekali-kali terlihat oleh Ayah. Bagaimana?”

“Tentu saja aku mau memberikan surat itu, Nona. Tetapi mengapa tidak boleh terlihat oleh orang lain?”

“Anak goblok! Tak perlu kau tahu sebab-sebabnya. Kau turuti saja perintahku dan habis perkara. Nah, ini suratnya. Besok pagi-pagi kau berikan kepadanya. Tetapi awas, kalau sampai ketahuan oleh Ayah, kepalamu akan kupenggal dengan pedang ini!” Bin Nio lalu menempelkan mata pedangnya pada leher Cin Hai. Cin Hai pura-pura ketakutan dan berkata,

“Baik, baik… Nona, tentu akan kukerjakan baik-baik!”

Setelah menerima surat bersampul itu berikut pesan berkali-kali agar ia berlaku hati-hati untuk menyampaikan “surat rahasia” itu, Cin Hai lalu pergi ke kamarnya di tempat pelayan. Malam itu ia tak dapat tidur, seluruh pikirannya terganggu oleh tugas yang diserahkan oleh Bin Nio kepadanya.

Pada waktu itu, ia telah dua tahun bekerja sebagai bujang di Bukoan Louw Sun Bi, dan usianya telah hampir empat belas tahun. Karena telah mendekati masa dewasa, ia dapat menduga bahwa di antara Louw Bin Nio dan Ting Sun pasti ada hubungan yang tidak sebenarnya. Hal ini harus diberantas, pikirnya. Louw Sun Bi telah melepas budi kepadanya, dan guru silat tua itu hendak dicemarkan oleh anaknya sendiri dan oleh pembantunya. Ia harus menghalangi hal ini. Sudah menjadi kewajibannya untuk membela nama baik Louw-kauwsu! Dengan pikiran ini Cin Hai lalu membuka surat gadis itu dengan hati-hati sekali dan membacanya. Ia tahu bahwa perbuatannya ini tidak layak dan tidak seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki, tetapi demi untuk membela dan membalas kebaikan Louw Sun Bi, ia rela melakukan hal yang tidak patut ini! Dengan cepat dibacanya surat Bin Nio untuk Ting Sun itu dan benar sebagaimana dugaannya, gadis itu berjanji hendak menunggu kedatangan guru silat pendek gemuk itu besok malam di pekarangan tempat berlatih silat! Waktu yang dijanjikan adalah tengan malam!

Cin Hai merasa gemas sekali. Sungguh manusia-manusia tidak tahu malu. Ting Sun adalah pembantu Louw Sun Bi dan masih murid seperguruan dan bahkan mengangkat saudara hingga Ting Sun menyebut twako kepada Louw-kauwsu, sebaliknya guru silat she Louw itu menyebut Ting Sun dengan sebutan adik, hingga boleh dibilang bahwa Bin Nio adalah keponakan Ting Sun sendiri! Tetapi ternyata dua orang itu telah saling mencinta bagaikan dua orang kekasih. Cin Hai memutar otaknya, mencari jalan untuk menggagalkan pertemuan ini.

Semalam penuh Cin Hai tidak dapat tidur dan pada keesokan harinya, dengan diam-diam setelah Ting Sun yang tinggal di luar bukoan itu datang, ia berhasil memberikan surat Bin Nio kepada guru-silat itu. Ting Sun menerima surat dan membacanya dengan wajah gembira. Berbeda daripada biasanya, ia berlaku manis terhadap Cin Hai dan bahkan memberi persen uang sepuluh chie. Ia menganggap anak itu kini dapat merupakan jembatan bagi perhubungannya dengan Bin Nio.

Sesudah memberikan surat itu kepada Ting Sun, Cin Hai lalu menjumpai Louw Sun Bi di kamarnya. Guru silat yang berhati sabar itu heran melihat betapa Cin Hai datang-datang berlutut di depannya dan menangis!

Ia cepat memegang pundak anak itu dan menyuruhnya duduk di atas sebuah bangku.

“Cin Hai kau kenapakah? Siapa yang telah mengganggumu? Kau pucat sekali, apakah kau sakit?”

“Loya, saya hendak menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuat Loya marah dan sedih sekali!”

Louw Sun Bi memandang heran. Ia suka sekali kepada Cin Hai yang jujur, rajin dan tidak banyak cerewet ini.

“Katakanlah, jangan takut-takut!”

“Sebelumnya saya harap Loya suka siap sedia menerima pukulan ini dan terlebih dulu saya mohon maaf sebanyak-banyaknya karena setelah hal ini saya ceritakan kepada Loya, saya hendak mohon diri dan hendak melanjutkan perantauan saya.”

Kini terkejutlah Louw-kauwsu. “Apa? Peristiwa hebat apakah yang telah terjadi hingga kau hendak keluar dari sini? Ceritakanlah!”

Dengan perlahan Cin Hai lalu menceritakan tentang surat Bin Nio dan bahwa malam nanti kedua orang itu akan mengadakan pertemuan. Cin Hai menutup pembicaraannya dengan berkata sedih, “Saya sangat bersedih dengan adanya peristiwa ini, Loya. Loya adalah seorang yang berbudi mulia dan telah berlaku begitu baik kepada saya. Sekarang melihat Loya baik hati tertimpa kejadian macam ini, ah…” Cin Hai menundukkan kepala karena ia tidak berani memandang muka Louw Sun Bi yang makin pucat itu.

Guru silat itu mendengar penuturan Cin Hai dengan dada panas hampir meledak. Penasaran, marah, malu, kecewa membuat ia bisu tak dapat berkata-kata. Ia telah tahu akan perhubungan puterinya dengan Ting Sun dan dulu ia bahkan telah melarang anaknya itu belajar ilmu pedang dari Ting Sun karena dilihatnya gejala-gejala yang kurang sehat timbul di antara mereka berdua. Tetapi sama sekali tak diduganya bahwa anaknya berani menulis surat kepada Ting Sun.

Melihat betapa Louw-kauwsu duduk diam tak bergerak bagaikan patung batu, Cin Hai terharu sekali, lalu ia berkata,

“Loya, harap Loya sebagai orang tua dapat menenangkan hati dan pikiran. Socia tergoda oleh nafsu dan hal ini tidak aneh, karena manusia manakah yang tidak khilaf? Saya teringat akan bunyi ujar-ujar yang menyatakan bahwa lebih baik Loya menjaga datangnya penyakit daripada mengobatinya setelah datang! Karena itu, maka daripada ribut-ribut dan marah hingga semua orang mendengar hal yang belum terjadi ini, lebih baik Loya menjaganya agar jangan sampai terjadi. Pertemuan itu belum belum berlangsung, maka tak perlu dibuat sedih dan menyesal!”

Terhiburlah hati Louw Sun Bi mendengar ini. Ia memandang wajah Cin Hai dengan heran, karena hampir tak percaya bahwa kata-kata tadi keluar dari mulut anak itu!

“Cin Hai, kau seorang anak yang luar biasa dan baik. Peristiwa ini sama sekali tidak menyangkut dirimu, mengapa kau tadi mengatakan bahwa kau hendak keluar dari sini?”

“Loya, Siocia telah mempercayakan kepada saya untuk menyerahkan surat itu. Tetapi dengan lancang dan tidak tahu malu saya telah membuka dan membaca suratnya itu. Hal ini membuat saya malu untuk bertemu muka dengan Siocia lagi maka lebih baik saya pergi melanjutkan perantauan.”

Louw Sun Bi menghela napas dan sekali lagi ia terheran akan sikap Cin Hai yang polos dan bersifat gagah ini.

“Kau mundurlah, dan tentang keluar itu lebih baik kita bicarakan besok setelah peristiwa ini kubereskan.”

“Loya, kalau boleh, saya hendak pergi hari ini juga.”

Louw Sun Bi memandangnya tajam. “Apa? Kau takut kepada Ting Sun? Jangan kau takut akan pembalasannya, ada aku di sini!”

Mendengar ini, terbangun semangat Cin Hai. “Loya, biarpun saya seorang bodoh dan lemah, tetapi saya tidak takut menghadapi kebenaran! Baiklah, saya akan menunggu sampai besok dan jika besok terjadi sesuatu antara Ji-kauwsu dan saya, saya harap Loya jangan ikut-ikut!” Setelah berkata demikian, ia lalu bertindak keluar.

Malam hari itu bulan bersinar penuh. Pada menjelang tengah malam, sesosok bayangan hitam dengan gesit sekali melompat ke atas tembok yang mengelilingi bukoan. Bayangan itu bukan lain Ting Sun yang hendak menjumpai kekasihnya. Ia langsung meloncat ke pelataran tempat berlatih silat dan begitu kakinya menginjak tanah, ia berdiri diam bagaikan patung!

Di sana di bawah pohon dekat tembok, duduk di atas bangku dengan kedua lengan di atas dada, Louw Sun Bi sedang memandangnya dengan kedua mata bersinar tajam!

“Ting Sun, tengah malam buta kau datang ada keperluan apakah? Lagipula, kau datang bukan sebagai tamu tetapi sebagai seorang pencuri!”

Ting Sun terkejut sekali dan merasa seakan-akan ada petir menyambar kepadanya. Tubuhnya gemetar dan ia tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: