Pendekar Bodoh ~ Jilid 6

“Orang she Ting, aku telah mengetahui maksudmu yang buruk. Semenjak saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Besok kau boleh mengatakan kepada semua murid bahwa kau hendak pergi jauh dan tak kembali lagi, sehingga kepergianmu dari kota ini takkan menimbulkan kecurigaan. Selanjutnya, jangan kau berani-berani memperlihatkan mukamu di sini!”

Setelah berkata demikian, Louw Sun Bi lalu meninggalkan Ting Sun yang masih berdiri bagaikan patung. Otak guru silat ini berputar. Celaka sekali! Orang tua itu telah mengetahui sebelumnya bahwa malam ini ia datang ke situ hingga sengaja menanti di bawah pohon! Dan ini tentu gara-gara bujang tolol itu! Ting Sun mengertak giginya dengan gemas sekali. Ia akan pergi meninggalkan tempat ini, tetapi setelah lebih dulu menghancurkan kepala Cin Hai yang membocorkan rahasianya!

Pada keesokan harinya, setelah semua anak murid berkumpul Louw Sun Bi sengaja mengajak Bin Nio untuk hadir di situ dan mendengarkan serta menyaksikan Ting Sun berpamit. Sengaja Louw Sun Bi mengajak Bin Nio untuk memberi pelajaran kepada anak gadisnya bahwa sebagai seorang gadis ia harus tahu menjaga kehormatan nama keluarganya, dan tidak mudah menyerah kepada godaan dari luar.

Melihat betapa Louw-kauwsu pagi-pagi benar telah berada di situ, semua murid yang berjumah delapan belas orang itu saling berbisik dan menduga-duga bahwa tentu akan terjadi hal yang penting. Bagaikan tak terjadi sesuatu dan tak pernah berani menentang pandangan mata Bin Nio, Cin Hai melakukan pekerjaan seperti biasa, yakni pagi-pagi sekali ia menyapu lantai yang dikotori oleh daun-daun kering yang malam tadi rontok dari pohon.

Akhirnya orang yang dinanti-nanti, Ting Sun, datang dari pintu luar. Dengan tindakan gagah dan dada terangkat, guru silat itu memasuki pelataran itu lalu menjura kepada Louw Sun Bi. Kemudian ia melihat ke arah Cin Hai yang sedang menyapu lantai dan matanya berkilat menahan napas. Akhirnya ia menghadapi semua murid dan berkata,

“Anak-anak sekalian, aku membawa berita penting sekali untuk kalian. Mulai hari ini, kalian akan dilatih oleh Louw-kauwsu sendiri, karena hari ini aku akan berangkat meninggalkan Ki-bun.”

“Hendak pergi ke mana, Suhu?” tanya seorang murid.

“Pergi jauh mengerjakan sebuah tugas penting. Belum tentu aku akan kembali ke sini. Tetapi kalian tak usah kuatir, karena di bawah pimpinan Louw-kauwsu, kepandaianmu akan lebih maju. Sekarang aku datang hanya untuk mengucapkan selamat berpisah kepadamu sekalian. Sebelum aku pergi, aku hendak menerangkan pada kalian tentang ilmu tiam-hoat yang paling penting, yakni untuk menotok jalan darah tai-twi-hiat. He, bujang tolol, kau ke sinilah!”

Cin Hai maklum bahwa saat yang dikuatirkan telah tiba. Ia menghampiri guru silat itu dengan tenang dan pura-pura tidak melihat pandang mata yang penuh kebencian dan marah itu.

“Nah, anak-anak, seperti biasa agar lebih jelas terlihat olehmu, aku hendak menggunakan jembel busuk ini sebagai contoh!” Memang sudah biasa Ting Sun memanggil dan menyebut Cin Hai dengan segala sebutan menghina. “Lihatlah, untuk menotok jalan darah tai-twi-hiat kedudukan jari harus begini.”

Ia menyusun telunjuk dan jari tengah disatukan dan yang tiga lainnya ditekuk ke dalam.

“Perhatikan tempat yang akan kutotok!” Sambil berkata demikian ia menggerakkan jarinya itu menotok punggung Cin Hai.

Tetapi sambil berpura-pura ketakutan, Cin Hai melompat mundur hingga totokan itu tidak mengenai sasaran.

“Jangan, Siauwya, jangan…!” Cin Hai berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya mencegah serangan Ting Sun. Tetapi guru silat itu marah sekali melihat betapa totokannya dikelit.

“Bangsat rendah! Kau berani melawanku?” bentaknya dan ia mengirim tendangan ke arah lambung Cin Hai. Tendangan iin gebat sekali dan kalau terkena, pasti nyawa anak itu akan melayang ke akhirat.

Louw Sun Bi terkejut dan marah. Pada saat ia bangun berdiri dan hendak loncat menolong, tiba-tiba ia terheran-heran dan duduk kembali dengan mata terbelalak. Ternyata sambil terhuyung-huyung mundur ketakutan, ketika kaki Ting Sun menyambar ke arah lambungnya, Cin Hai berkelit ke samping hingga tendangan itu tidak mengenai sasaran.

Dengan terus berpura-pura ketakutan, Cin Hai berdiri lagi dan berlari-lari memutari pelataran berlatih silat itu. Tetapi anehnya, kalau dikatakan takut dan melarikan diri, anak itu tidak mau lari keluar dari kalangan! Ting Sun yang tidak mengenal gelagat, biarpun dua kali serangannya telah dapat dikelit, masih terus mengirim serangan-serangan bertubi-tubi. Kalau dibicarakan memang sungguh aneh, tetapi benar-benar terjadi. Cin Hai terhuyung-huyung dan bahkan sekarang mulai menari-nari! Semua murid bukoan itu, termasuk Bin Nio bukan main herannya melihat sikap Cin Hai. Mereka menganggap anak itu tiba-tiba menjadi gila. Mana ada orang diserang oleh lawan tidak berkelit atau menangkis, tetapi bahkan menari-nari?

Dalam pandangan mata anak-anak murid dan Bin Nio, disangka bahwa Ting Sun merasa kasihan kepada Cin Hai dan tidak menyerang sungguh-sungguh hanya untuk menakut-nakuti saja, maka setiap pukulan dan tendangan selalu tidak mengenai sasaran dan hanya menyerempet sedikit pakaian Cin Hai! Mereka ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pada saat itu Ting Sun merasa terkejut dan terheran-heran sekali karena sudah lebih dari dua puluh jurus ia menyerang sambil mengeluarkan pukulan-pukulan maut yang paling berbahaya, namun selalu pukulannya itu meleset dan tidak pernah dapat mengenai tubuh Cin Hai! Pada saat pukulan hampir mengenai sasaran, tiba-tiba tubuh atau bagian tubuh anak muda itu bergerak mengelak dengan cara yang luar biasa dan aneh sekali!

Yang dapat mengetahui hal yang sebenarnya hanyalah Louw Sun Bi seorang. Guru silat tua ini duduk bengong dengan mulut ternganga dan mata terbelalak heran. Ia tahu bahwa Cin Hai sedang memainkan semacam ilmu silat yang aneh dan yang belum pernah dilihat seumur hidupnya, tetapi yang kelihatannya betul-betul mengherankan. Ia tidak tahu bahwa Cin Hai sedang memainkan Tari Bidadari yang dipelajarinya dari Ang I Niocu. Biarpun belum banyak mempelajari ilmu silat mujijat ini, namun mana seorang kasar seperti Ting Sun dapat melawannya?

Makin cepat Ting Sun menyerang, makin lincah pula gerakan Cin Hai dan makin indah gerak tarinya. Setelah merasa cukup mempermainkan Ting Sun dengan kelitan dan loncatan, Cin Hai menganggap sudah tiba waktunya untuk memberi hajaran kepada guru sombong itu. Pada saat Ting Sun menendang, cepat ia menggeser tubuh ke samping dan tanpa dapat diduga lebih dulu kaki kirinya bergerak dan menotok urat pergelangan kaki Ting Sun yang berdiri, maka tidak ampun lagi guru silat itu roboh terguling-guling!

Ting Sun loncat berdiri dengan marah sekali, tetapi berkali-kali ia dibikin jatuh bangun oleh Cin Hai yang kini menggunakan limu Silat Liong-san Kun-hwat yang ganas! Setelah memainkan ilmu silat ini barulah Ting Sun dan Louw Sun Bi tahu bahwa Cin Hai memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya!

Tetapi karena sudah merasa terlanjur dan malu untuk mundur, Ting Sun berlaku nekat sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Tetapi dia hanya merupakan makanan yang lunak bagi Cin Hai. Dengan gerakan Hong-tan-ci atau Burung Hong Mementang Sayap ia berhasil menotok iga Ting Sun yang merasa tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan roboh di atas tanah!

“He, Siauwya, kau mengapakah?” Cin Hai mengejek sambil mengoyang-goyang tubuh Ting Sun yang rebah di atas tanah. Dalam gerakan mengoyang-goyang ini, Cin Hai sengaja memusnahkan totokannya hingga Ting Sun dapat bergerak kembali dan pada saat guru silat itu meloncat berdiri Cin Hai mendahuluinya dengan totokan lain yang membuat guru silat itu berdiri kaku bagaikan sebuah patung! “Eh, eh, Siauwya! Mengapa kau berdiri seperti patung?” kata Cin Hai lagi.

Murid-murid bukoan yang melihat betapa Cin Hai mempermainkan Ting Sun, menjadi heran sekali dan pada saat itu Louw Sun Bi meloncat di dekat Cin Hai dan tertawa bergelak-gelak.

“Anak-anak semua. Lihatlah, ini namanya tiam-hoat yang tepat sekali mengenai jalan darah tai-hwi-hiat hingga Ting-kauwsu menjadi kaku. Kalian sudah melihat baik-baik? Contohlah anak inil, sebenarnya ia seorang berilmu tinggi, tetapi yang dapat bertahan menyembunyikan rahasianya di sini sampai bertahun-tahun hingga jangankan kalian, bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa dia adalah murid seorang ahli!”

Sambil berkata begini, Louw Sun Bi menepuk pundak Ting Sun yang segera dapat bergerak kembali. Guru silat ini sekarang maklum bahwa ilmu kepandaian Cin Hai lihai sekali, maka dengan muka merah karena malu ia lalu lari ke luar dari bukoan tanpa berani menengok lagi! Louw Sun Bi mengiringnya dengan suara tertawa bergelak-gelak. Guru silat ini benar-benar kagum kepada Cin Hai, maka ia lalu bertanya, “He, anak muda! Engkau keterlaluan sekali, sampai-sampai kau tega menipu aku orang tua! Sebenarnya engkai ini murid siapakah. Bukankah kau murid dari Liong-san-pai?”

Cin Hai dengan sikap hormat dan merendah menjura. “Bukan. Loya, saya bukan murid siapa-siapa.” Memang ia tidak membohong karena ia baru belajar silat dari Kang-lam Sam-lojin dan Ang I Niocu, sedangkan mereka ini memang bukan guru-gurunya. Ia boleh mengaku bahwa gurunya adalah Bu Pun Su, tetapi kenyataannya, ia belum pernah belajar silat satu jurus pun dari gurunya itu.

Louw Sun Bi menyangka bahwa Cin Hai adalah seorang pendekar kecil yang telah dipesan oleh gurunya untuk menyembunyikan nama guru itu, maka ia tidak berani mendesak, hanya menyatakan kagumnya. Tetapi Cin Hai lalu minta maaf banyak-banyak serta menghaturkan terima kasih atas kebaikan Louw-kauwsu terhadapnya sampai dua tahun lebih itu.

Terpaksa Louw-kauwsu tak dapat menahan Cin Hai yang hendak melanjutkan perantauannya, tetapi guru silat ini memaksanya untuk menerima bekal uang dan pakaian sebagai pengganti jasanya yang telah bekerja beberapa tahun itu. Cin Hai menerimanya dengan ucapan terima kasih. Kemudian setelah memberi hormat lagi, Cin Hai pergi meninggalkan tempat itu. Ia tak lupa memberi hormat sambil berkata, “Siocia, mohon beribu maaf atas segala kesalahanku selama aku berada di sini dan jagalah dirimu baik-baik!” Bin Nio hanya menundukkan muka dan air matanya mengalir turun. Ia insaf betapa ia telah salah mengenal orang.

Cin Hai merantau lagi dan hidup sebatang kara menjelajah ribuan li tanpa tujuan tertentu. Ia telah berusia hampir lima belas tahun dan karena tubuhnya terpelihara baik-baik semenjak tinggal di bukoan dari Louw Sun Bi, ia telah merupakan seorang pemuda yang tampan dan gagah. Tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan mukanya bulat membayangkan kejujuran dan ketinggian pribadi.

Setelah mengalami banyak derita, matanya terbuka lebar dan ia maklum bahwa tugasnya sebagai seorang berkepandaian ialah harus menolong sesama hidup yang membutuhkan pertolongannya. Kalau dulu ia sering bersedih mengingat bahwa hidupnya tak bersanak kadang, kini perasaan itu lenyap. Ia kini mengerti akan maksud ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu bahwa “Di empat penjuru lautan, semua orang adalah saudara!” Dulu ia seringkali menggoda guru sastera dengan ujar-ujar ini yang dianggapnya kosong dan bohong. Tetapi sekarang, ia mengerti betapa tepat dan mulianya ujar-ujar ini. Ujar-ujar ini harus digunakan secara aktip, tidak boleh secara pasip, yaitu seharusnya kitalah yang bertindak terhadap semua orang seperti terhadap saudara sendiri, hingga sudah sepatutnya kita menolong saudara-saudara itu bila mereka di dalam kesukaran. Janganlah kita memandang ujar-ujar itu sebagai dorongan yang bersifat ingin senang sendiri dan menuntut supaya orang berlaku baik kepada kita bagaikan layaknya saudara-saudara berlaku kepada kita. Memang segala apa di dunia ini, sesuatu yang baik dapat menjadi buruk, dan yang buruk dapat menjadi baik, semua tergantung sepenuhnya kepada yang mengganggapnya. Bila kita dijauhi hendak hidup sendiri atau hendak senang sendiri maka akan terbukalah mata kita bahwa hidup ini tidak hanya asal makan dan tidur saja, bahwa di samping kedua kebutuhan hidup itu, masih banyak sekali terdapat tugas-tugas kewajiban yang luhur dan suci, di antaranya memperhatikan keadaan orang lain atau “saudara” kita yang hidup menderita kesusahan.

Setelah menanjak dewasa, sedikit demi sedikit Cin Hai dapat menangkap intisari segala ujar-ujar yang dulu ketika masih kecil dihafalkannya di luar kepala bagaikan seekor burung beo saja. Kini ia dapat mengerti dan tahu apa yang dimaksudkan dan dikehendaki oleh para nabi itu dalam ujar-ujar mereka.

Dengan kepandaiannya, walaupun ia baru saja mempelajari tiga perempat bagian dari Liong-san-kun-hoat dan setengah bagian dari Ngo-lian-hwa-kiam-hwat, namun sudahlah cukup untuk membuat namanya menjadi terkenal. Orang-orang di kalangan kang-ouw menyebutnya “Pendekar Bodoh” karena wajahnya yang tampan dengan mata yang lebar itu memang tampaknya bodoh. Pada suatu hari, ketika memasuki dusun, ia mendengar suara tangis seorang wanita. Karena tertarik, ia mempercepat tindakan kakinya dan alangkah marahnya melihat seorang anggauta Sayap Garuda tengah menculik seorang perawan desa yang meronta-ronta dalam pelukannya. Orang itu sambil memondong korbannya, meloncat ke atas seekor kuda besar dan hendak kabur. Tetapi sekali loncat saja Cin Hai sudah menghadang di depannya dan membentak, “Bangsat rendah! Lepaskan Nona itu!”

Anggauta Sayap Garuda itu marah sekali dan tangan kanannya terayun ke arah Cin Hai. Sebatang piauw (senjata rahasia) melayang dan menyambar leher Cin Hai, tetapi anak muda itu dengan mudah dapat menangkap dengan menjepitnya di antara kedua jari tangan. Melihat kelihaian Cin Hai, orang itu lalu membedal kudanya dan kabur dari situ. Tetapi Cin Hai secepat kilat menggerakkan tangannya dan mengembalikan piauw tadi yang tepat menancap pundak anggauta Sayap Garuda itu.

Si Penculik menjerit kesakitan, tetapi ternyata ia adalah seorang yang bertubuh kuat, karena biarpun telah terluka, ia tetap masih dapat kabur sambil membawa gadis yang diculiknya itu!

Cin Hai sudah banyak mendengar akan kekejaman gerombolan Sayap Garuda yang merupakan barisan pengawal istana yang tersebar di mana-mana dan berlaku keji dan hina mengandalkan pengaruh dan kekuasaan mereka. Maka kini melihat dengan mata sendiri betapa seorang anggauta gerombolan itu menculik seorang gadis dusun, ia menjadi marah sekali. Ia cepat lari mengejar untuk menolong gadis itu.

Setelah berkejar-kejaran sejauh lima li lebih dan hampir dapat menyusul kuda besar yang lari cepat itu, tiba-tiba dari depan datang pula serombongan anggauta Sayap Garuda yang dikepalai oleh seorang hwesio gundul. Melihat betapa Cin Hai mengejar seorang anggauta mereka, rombongan itu lalu mengepung Cin Hai dan sebentar saja terjadilah pertempuran yang hebat!

Selama dalam perantauannya, Cin Hai tak pernah menggunakan senjata lain kecuali sulingnya! Dengan suling bambunya itu, ia telah banyak menjatuhkan lawan yang bersenjata tajam, karena gerakan sulingnya yang hebat dapat digunakan untuk menotok jalan darah lawan. Akan tetapi kali ini, menghadapi keroyokan gerombolan Sayap Garuda yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, ia terdesak dan sibuk juga. Akan tetapi berkat kegesitan tubuhnya untuk beberapa lama ia dapat mempertahankan diri dan dia mengelak ke sana ke mari.

Tiba-tiba hwesio gundul Yang gemuk dan tadi mengepalai rombongan berseru,

“Semua mundur! Biar pinceng tangkap bangsat kecil ini!” Hwesio itu merasa penasaran sekali betapa kawan-kawannya yang berjumlah delapan orang agaknya tidak mudah merobohkan Cin Hai.

Semua pengeroyok Cin Hai mundur dan kini hwesio gundul yang maju menghadapi Cin Hai. Anak muda itu maklum bahwa lawannya ini tentu berkepandaian tinggi, maka ia mendahuluinya dan mengirim serangan dengan suling yang ditotokkan ke arah leher lawan.

Tetapi sungguh aneh, lawannya tidak berkelit maupun menangkis dan ketika sulingnya tepat mengenai leher, tangan hwesio itu sudah terulur maju hendak menangkap pundaknya dengan gerakan Eng-jiauw-kang yang lihai sekali! Dan biarpun ujung suling tepat menotok jalan darah di leher hwesio itu, namun pendeta gundul itu agaknya tidak merasa apa-apa!

Cin Hai terkejut sekali dan terpaksa ia melepaskan sulingnya dan membuang diri ke belakang untuk menghindari cengkeraman lawannya! Hwesio itu tertawa bergelak-gelak melihat betapa Cin Hai menggelinding di atas tanah dan menjauhinya.

“Ha, ha, ha! Anak kecil, kau baru tahu kelihaian pinceng, ya?” Dan dengan tindakan kaki lebar, ia menghampiri Cin Hai yang sudah bertangan kosong!

Tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras,

“Biauw Leng-sute! Bagus sekali perbuatanmu, kau telah berani mengotori diri dan bergaul dengan segala kaki anjing?” Sebutan kaki anjing adalah sebutan untuk menghina kaum pembela Kaisar seperti barisan Sayap Garuda itu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di situ telah berdiri seorang wanita tua yang berwajah buruk sekali! Mukanya hitam seperti pantat kuali, pipinya keriput dan matanya yang sebelah kanan buta! Nenek-nenek ini memegang sebuah hudtim dan di punggungnya tampak gagang pedang.

Ketika Cin Hai memandang, ia mengenal nenek-nenek ini sebagai Biauw Suthai, wanita aneh yang dulu menculik Lin Lin puteri dari Kwee-ciangkun! Hampir saja ia berteriak dan menanyakan hal Lin Lin, tetapi pada saat itu terdengar jawaban Biauw Leng Hosiang, “Biauw suci, mengapa kau turut mencampuri urusanku?” “Tetapi kalau kau merendahkan diri dan membantu kaki anjing aku takkan tinggal diam saja. Kau tidak boleh mencemarkan perguruan kita dengan kerendahan ini!”

Hwesio itu menghela napas. “Baiklah, baiklah… memang kau selalu jail dan menghalang-halangi Sutemu yang hendak menikmati sedikit kesenangan dunia!” Setelah berkata demikian, Biauw Leng Hosiang lalu meloncat pergi dan Biauw Suthai juga menggerakkan tubuh dan lenyap dari situ!

Cin Hai kagum sekali akan kegagahan kedua orang itu, tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk melamun terlebih jauh karena dengan marah sekali kawanan Sayap Garuda menumpahkan kegemasan mereka yang ditinggal pergi oleh hwesio itu, kepada Cin Hai. Ia terpaksa melawan, tetapi kali ini karena ia tidak bersenjata lagi ia sangat terdesak dan keadaannya berbahaya sekali.

Tiba-tiba tampak berkelebat sinar putih yang gemilang dibarengi dengan sinar merah, dan begitu bayangan itu bergerak seorang anggauta Sayap Garuda roboh mandi darah!

“Niocu!!” Tiba-tiba Cin Hai berseru keras dan kedua matanya dikejap-kejapkan seolah-olah ia tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri. Setelah jelas bahwa yang menolong dirinya dan mengamuk itu adalah Ang I Niocu, tak terasa pula mata Cin Hai basah oleh air mata.

“Niocu… !” sekali lagi ia berseru dengan lirih dan mesra.

“Hai-ji…” Ang I Niocu menjawab dan menjatuhkan lagi dua orang pengeroyok.

Di antara kawanan Sayap Garuda itu terdapat seorang yang telah mengenal Ang I Niocu, maka ia berteriak keras,

“Ang I Niocu yang datang, lekas lari!” Dan ia mendahului kawan-kawannya lari secepatnya dari gadis yang kosen itu! Sebentar saja kawanan Sayap Garuda itu lari dan meninggalkan gadis tawanan yang diculik tadi. Melihat bahwa kurban mereka telah ditinggalkan, Ang I Niocu tidak mengejar.

NIOCU…! Sekali lagi Cin Hai berseru girang dan gadis itu memandangnya dengan matanya yang bagus. Untuk beberapa lama mereka saling pandang dan melihat betapa Cin Hai kini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, tak terasa pula Ang I Niocu mencucurkan air mata karena girang dan terharu. Ia lalu memegang tangan Cin Hai erat-erat dan berkata.

“Hai-ji, kau baik-baik saja, bukan?”

“Niocu… Niocu… jangan kautinggalkan aku lagi!” Mendengar ucapan yang masih bersifat kanak-kanak ini, mau tidak mau Ang I Niocu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka berdua lalu mengantar gadis yang diculik itu pulang ke dusun. Kemudian Ang I Niocu mengajak Cin Hai pergi dari situ.

Di sepanjang jalan tiada hentinya Ang I Niocu bertanya tentag pengalaman Cin Hai sambil memandang wajah pemuda yang tampan itu dengan senang. Cin Hai tanpa menyembunyikan sesuatu lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya hingga ketika mendengar betapa anak itu menderita karena ia tinggalkan, Ang I Niocu menagis tersedu-sedu sambil memegang lengan Cin Hai.

“Dan bagaimana dengan pengalamanmu, Niocu?” tanya Cin Hai sambil memandang wajah yang masih tetap cantik jelita, bahkan kini makin manis itu. Melihat gadis itu dan pakaian merahnya, ia merasa seakan-akan baru kemarin mereka berpisah.

“Jangan menanyakan hal ini sekarang, Hai-ji. Aku mempuyai tugas penting sekali. Aku sedang menyelidiki sebuah gua rahasia yang disebut Gua Tengkorak Raksasa. Menurut peta yang kudapat, ternyata bahwa gua itu berada di puncak bukit yang tampak dari sini itu! Karena itu kebetulan saja aku lewat di sini dan dapat bertemu dengan engkau kembali! Kalau sengaja dicari-cari, belum tentu dapat bertemu.”

Dengan singkat Ang I Niocu menceritakan betapa ia telah menurutkan jalan di petanya sampai sebulan lebih dan akhirnya petanya itu membawanya ke daerah itu.

“Bukit itu namanya Bukit Tengkorak Raksasa,” katanya sambil menunjuk ke arah bukit yang menjulang tinggi tidak jauh dari situ, “dan sekarang juga aku harus dapat mencari gua itu di sana. Ketahuilah, bahwa selain aku, masih banyak orang-orang pandai hendak mendahuluiku mendapatkan gua itu. Maka marilah kau ikut aku, kita jangan menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi!”

Melihat bahwa urusan itu agaknya penting sekali, Cin Hai tak berani membantah dan dengan hati luar biasa gembiranya karena dapat berjalan bersama dengan Ang I Niocu lagi, ia mengikuti nona itu dan mereka secepatnya mendaki Bukit Tengkorak Raksasa.

Dengan bantuan petanya, akhirnya Ang I Niocu berhasil mendapatkan gua itu yang tertutup oleh tumpukan batu yang ratusan banyaknya. Dengan tak mengenal lelah, mereka berdua membongkar semua batu-batu itu dan akhirnya tampaklah sebuah guha yang luar biasa besarnya dan gelap! Mereka masuk ke dalam dan setelah berjalan dengan hati-hati dan merayap beberapa lamanya, ternyata di sebelah dalam gua itu terdapat penerangan yang turun dari sebuah lubang di atas. Mereka terus maju ke dalam dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu besar yang tertutup. Karena pintu itu berat sekali, maka mereka terpaksa mendorong dengan tenaga dan akhirnya berhasil juga mereka membuka pintu raksasa itu. Dengan hati berdebar keduanya masuk, Ang I Niocu lebih dulu dan Cin Hai di belakangnya.

Ketika mereka memasuki ruang di balik pintu itu, mereka terkejut sekali dan Cin Hai merasa ngeri dan takut. Ternyata di sepanjang dinding di kanan kiri ruang yang luas dan tinggi itu, tampak tengkorak-tengkorak yang tinggi besar berdiri berderet-deret dengan mulut mereka yang dahsyat itu menyeringai memperlihatkan gigi besar-besar. Tinggi tengkorak itu sedikitnya tiga kali tinggi manusia biasa hingga dapat dibayangkan betapa hebat dan mengerikan pemandangan dalam ruangan besar itu.

Keduanya berdiri termangu-mangu dengan bulu tengkuk berdiri. Tiba-tiba Ang I Niocu yang dapat menenangkan hati lebih dulu, berkata perlahan,

“Hai-ji, lihat di sana itu. Bukankah aneh sekali?”

Cin Hai bagaikan baru sadar dari mimpi dan ia memandang ke arah depan. Dan benar saja, di ujung ruangan itu tampak sebuah pintu lagi yang daun pintunya terpentang lebar. Daun pintu itu terbuat daripada batu yang sangat tebal dan di dalamnya terdapat ruang atau kamar lain yang gelap hitam. Di tengah-tengah kamar itu tampak sebuah hio-louw (periuk tempat hio) tertutup dan dari dalam hio-louw keluar asap bergulung-gulung naik memenuhi kamar! Ruang yang luar biasa luasnya ini dihias raksasa mengerikan, dan di sana ada hio-louw besar sekali yang masih mengebulkan asap putih, sungguh pemandangan yang bisa membuat seseorang menjadi mati ketakutan!

“Aneh,” kata Cin Hai dengan suara gemetar, “Mengapa hio-louw itu masih mengebulkan asap?”

“Itulah yang kupikirkan,” jawab Ang I Niocu, “Tak mungkin selama ini api di dalam hio-louw tak pernah padam! Tentu ada orang yang mendahului kita dan membakar dupa di dalam hio-louw itu.”

Cin Hai menganggap kata-kata Ang I Niocu itu benar, karena tercium olehnya bau dupa yang harum sekali. Tetapi siapakah yang dapat memasuki tempat seperti ini! Tadi pun gua masih tertutup oleh banyak batu dan pintu kamar ini masih tertutup rapat, dari mana orang dapat masuk?

Ang I Niocu lalu bertindak perlahan menuju ke kamar tempat hio-louw itu. Ia berjalan perlahan sambil memandang ke kanan kiri dengan mata tajam dan tangan kanannya siap di gagang pedangnya yang tergantung di pinggangnya. Cin Hai mengikuti di belakangnya dengan hati dak-dik-duk dan mulut terasa kering. Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi pengalaman sehebat dan sengeri ini.

Seperti halnya Ang I Niocu, Cin Hai juga memandang ke sana ke mari, dan ia merasa seakan-akan sekalian tengkorak raksasa yang berdiri itu bergerak-gerak! Seakan-akan sepasang mata yang bolong itu melirik-lirik dan gigi yang besar-besar itu berkeretakan! Ia merasa betapa bulu tengkuknya berdiri saking ngeri dan takutnya.

Tiba-tiba Cin Hai melihat sesuatu dan ia menjadi pucat sekali. Tak terasa lagi ia memegang tangan kiri Ang I Niocu dengan tangan menggigil. Matanya tak lepas memandang kepada sebuah tengkorak yang berdiri tak jauh dari situ.

“Niocu…” katanya terengah-engah, “lihat…”

Ang I Niocu cepat berpaling dan apa yang dilihatnya membuat ia menjadi terkejut dan ngeri. Gadis yang gagah perkasa dan belum pernah merasa takut menghadapi lawan yang betapa tangguh pun ini, sekarang merasa betapa kedua kakinya menggigil sedikit! Ternyata tengkorak yang dipandang oleh Cin Hai dan yang kedua lengannya tergantung di kanan kiri itu kini bergerak-gerak sedangkan kepalanya bergerak ke kanan-kiri!

Ang I Niocu cepat mencabut pedangnya dan siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Cin Hai meloncat di belakang gadis itu dan bingung karena tidak membawa senjata. Sulingnya telah terinjak patah oleh Biauw Leng Hosiang, hingga ia kini bertangan kosong. Di sudut kamar itu ia melihat setumpuk tulang-tulang manusia yang besar-besar, maka tanpa berpikir panjang lagi ia lalu memungut sepotong tulang kaki raksasa yang besar dan siap sedia membantu Ang I Niocu dengan senjata istimewa itu di tangannya!

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak-gelak! Suara tertawa ini bergema hebat di dalam ruang itu dan terdengar menyeramkan sekali.

“Hai-ji, kau berhati-hatilah. Benar-benar ada orang mendahului kita!”

“Niocu… benar-benar orangkah yang tertawa itu?”

“Hush…”

“Kiang Im Giok! Bagus, kau dapat sampai ke sini lebih dulu dari orang lain! Lekas sembunyi di belakang tengkorak! Lekas! He, kau gundul tolol! Kaukira aku tidak mengenal mukamu? Hayo, kau juga sembunyi di belakang tengkorak! Cepat, mereka sudah mendatangi dan berada di luar gua!”

Kini mereka tahu siapakah yang bersuara itu. Bu Pun Su, kakek jembel yang luar biasa, Susiok-couw dari Ang I Niocu! Maka tanpa menyia-nyiakan waktu lagi keduanya meloncat dan bersembunyi di belakang tengkorak-tengkorak raksasa.

Baru saja Ang I Niocu dan Cin Hai meloncat dan bersembunyi di belakang tengkorak-tengkorak raksasa, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang bercakap-cakap dan tiga bayangan orang cepat sekali menyambar masuk. Cin Hai heran sekali ketika melihat bahwa yang datang itu bukan lain ialah Kang-lam Sam-lojin, tosu yang pernah mengajar silat kepadanya yakni Giok Im Cu dan kedua sutenya! Akan tetapi pada saat itu ketiga tosu ini nampak tegang dan bersiap sedia untuk bertempur karena Giok Im Cu telah memegang sebatang ranting pohon. Giok Yang Cu yang tinggi besar itu telah meloloskan pedangnya, sedangkan Giok Keng Cu yang pendek gesit memegang sebatang golok. Mereka bertiga berdiri di ruang itu sambil memandang ke kanan kiri.

“Orang yang berada di dalam gua, keluarlah untuk bertemu dengan kami!” terdengar Giok Im Cu berteriak dan suaranya bergema di dalam gua besar itu seakan-akan menjadi jawaban bagi teriakan itu. Akan tetapi Ang I Niocu dan Cin Hai tidak berani bergerak, karena mereka harus mentaati perintah Bu Pun Su yang sangat ditakuti oleh Ang I Niocu itu. Diam-diam Cin Hai merasa heran mengapa kakek itu bersembunyi! Kalau hanya menghadapi ketiga orang tosu ini apa harus bersembunyi? Ang I Niocu seorang diri pun akan sanggup menghadapinya!

Akan tetapi pada saat itu dari luar gua terdengar suara orang dengan suara yang parau menyeramkan,

“Hai! Siapa yang berani mampus mendahului aku masuk gua ini?” Sebelum gema suara ini lenyap orangnya telah berkelebat masuk dan kembali Cin Hai terkejut sekali karena orang ini adalah Hai Kong Hosiang, hwesio gundul tinggi besar yang bermata besar itu. Jubahnya yang merah kotak-kotak terbuka, memperlihatkan dadanya yang berbulu, juga hwesio ini memegang senjata yang lihai yakni sebatang tongkat ular. Ketika melihat Kanglam Sam-lojin, Hai Kong Hosiang tertawa bergelak sambil berdongak ke atas. Suara ketawanya mendatangkan gema yang riuh, seakan-akan semua tengkorak raksasa yang berdiri di dalam gua itu ikut tertawa hingga keadaan menyeramkan sekali!

“Lagi-lagi orang-orang tua bangka mau mampus yang mendahuluiku. Sekarang kalian takkan dapat melarikan diri lagi dan agaknya memang sudah menjadi nasibmu untuk binasa di dalam tanganku!”

Giok Yang Cu marah sekali. “Hai Kong manusia sombong! Kalau di Tiang-an kami tak berhasil membunuhmu, adalah karena kau secara pengecut dibantu oleh ular-ularmu. Sekarang kami akan menebus kekalahan itu!”

“Ha-ha-ha! Boleh, boleh! Majulah untuk menerima kematian!”

Mereka lalu bertempur hebat, dan Ang I Niocu memegang tangan Cin Hai sambil berbisik, “Ah, kepandaian hwesio gundul ini telah maju hebat sekali! Kanglam Sam-lojin pasti akan kalah!”

Memang benar kata-kata Nona Baju Merah ini. Kepandaian Hai Kong Hosiang dengan ilmu tongkatnya yang berdasarkan jian-coa-kun-hwat atau Ilmu Toya Seribu Ular memang luar biasa sekali gerakan-gerakannya dan tongkatnya cepat dan hebat hingga seakan-akan berubah menjadi ribuan ular yang datang menyerang lawannya. Hwesio itu agaknya telah melatih diri hingga ilmu tongkatnya makin hebat saja.

Hal ini pun terasa sekali oleh Kanglam Sam-lojin. Ketiga tosu ini segera mengeluarkan kepandaian mereka, yakni Liong-san-kun-hwat yang juga luar biasa dan lihai. Akan tetapi ketika senjata mereka beradu dengan senjata Hai Kong Hosiang, mereka terkejut sekali karena tenaga lweekang dari hwesio itu telah maju pesat dan kini berada setingkat lebih tinggi daripada tenaga mereka! Percuma saja mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka karena benar-benar permainan tongkat Hai Kong Hosiang hebat sekali dan mengurung mereka bertiga dengan ancaman-ancaman maut!

Hai Kong Hosiang yang melihat betapa ia dapat mendesak ketiga orang lawannya, merasa girang sekali dan hwesio gundul ini tertawa ha-ha-hi-hi sambil memperhebat serangannya. “Eh, tiga orang tua bangka! Menyerahlah untuk mampus!”

Akan tetapi, biarpun ia sudah dapat mendesak ketiga lawannya, namun karena ketiga tosu itu bukanlah sembarangan tosu yang berkepandaian rendah dan karena Liong-san-kun-hwat memang merupakan ilmu silat yang tinggi, masih tak mudah bagi Hai Kong Hosiang untuk dapat merobohkan ketiga lawannya itu dalam waktu pendek.

“Niocu, benar hebat kepandaian hwesio itu.” kata Cin Hai sambil memandang muka Ang I Niocu yang berada begitu dekat dengan mukanya sendiri, ” dapatkah kau mengalahkannya?”

Ang I Niocu membalas pandangan mata anak muda itu lalu bibirnya yang manis dan merah tersenyum.

“Agaknya takkan mudah mengalahkan dia, akan tetapi juga bukan tak mungkin!”

Cin Hai telah bertahun-tahun berpisah dengan Ang I Niocu dan telah lama ia merindukan Gadis Baju Merah ini. Sekarang dalam persembunyiannya ia berada begitu dekat Ang I Niocu maka hatinya merasa girang dan terharu sekali. Tanpe terasa Cin Hai menggerakkan tangan dan memegang tangan gadis itu erat-erat. Ia merasa betapa tangan yang berkulit halus dan berjari kecil itu membalas genggamannya dengan tekanan kuat, akan tetapi tiba-tiba tangan gadis itu mengendur, dan akhirnya ditarik terlepas dari pegangan Cin Hai. Ketika pemuda itu memandang, Ang I Niocu memberi tanda dengan muka untuk menonton pertempuran yang masih berlangsung hebat di dalam ruang tengkorak itu.

Ketika Cin Hai memandang, ia mendapat kenyataan bahwa kini Kanglam Sam-lojin benar-benar terdesak dan keadaan mereka berbahaya sekali, sementara itu Hai Kong Hosiang makin gagah dan ganas saja.

Pada saat itu, kembali terdengar suara gaduh di luar gua, tetapi kali ini dari suara tindakan kaki dapat diduga bahwa yang datang adalah serombongan orang yang besar jumlahnya, bahkan terdengar pula ringkik dan suara kaki kuda!

“Hai Kong, bangsat gundul! Ada orang-orang datang, kami tidak ada waktu untuk melayanimu terlebih jauh,” Giok Im Cu berseru. “Ha, ha, Kanglam Sam-lojin, hari ini sekali lagi aku ampuni jiwa kalian, dan lekaslah kalian pergi dari tempat ini dan jangan mengganggu aku!”

Kanglam Sam-lojin yang menginsafi akan kelihaian Hai Kong Hosiang tidak menjawab hinaan ini, lalu mereka menerobos keluar untuk meninggalkan tempat berbahaya itu. Hai Kong Hosiang lalu melangkah maju ke arah balik pintu di mana terdapat hiolouw yang masih mengebulkan asap itu. Ia membuka tutup hiolouw dan menjenguk ke dalamnya. Asap mengepul makin banyak ketika tutup hiolouw itu terbuka dan Hai Kong Hosiang buru-buru mengembalikan tutup itu. Ia melongok ke sana-sini seperti orang sedang mencari-cari, kemudian ia mendekati hiolouw itu dan membaca huruf-huruf yang terukir di hiolouw raksasa itu. Ia mengangguk-angguk dan segera memasang kuda-kuda dengan kedua kaki dipentang kuat-kuat. Ia lalu memegang kaki hiolouw dengan tangan kanan dan mencoba untuk mengangkatnya. Tetapi hiolouw itu tidak dapat terangkat. Jangankan terangkat, bahkan bergoyang pun tidak!

Hai Kong Hosiang memaki-maki dan Cin Hai terpaksa menggunakan tangan untuk menutupi mulutnya agar jangan sampai tertawa. Ia geli sekali melihat betapa hwesio itu tidak kuat mengangkat hiolouw dan kini mendengar maki-makian yang keluar dari mulut Hai Kong Hosiang, ia merasa geli bercampur heran. Tak pernah disangkanya bahwa mulut seorang hwesio dapat mengeluarkan makian-makian sekotor itu! Juga Ang I Niocu memandang dengan mata menunjukkan kegelian hatinya.

Kini Hai Kong Hosiang turun tangan dengan sungguh-sungguh. Ia mempergunakan tangannya untuk mengangkat hiolouw itu dan benda yang besar itu mulai bergerak-gerak! Akan tetapi, pada saat itu dari luar gua masuk seorang hwesio lain yang bertubuh gemuk dan berkepala gundul. Cin Hai makin heran ketika mengenal bahwa yang masuk ini adalah Biauw Leng Hosiang, hwesio yang sangat lihai dan yang menjadi adik seperguruan Biauw Suthai! Mengapa banyak sekali orang-orang lihai datang ke gua ini?

Sementara itu, Hai Kong Hosiang ketika mendengar suara orang masuk ke dalam gua, lalu mengurungkan maksudnya mengangkat hiolouw itu dan ketika ia berdiri memandang ke arah Biauw Leng Hosiang, wajahnya telah berubah merah, tanda bahwa tadi ia telah menggunakan banyak tenaga untuk mencoba mengangkat hiolouw besar itu! Melihat bahwa yang datang adalah Biauw Leng Hosiang yang telah dikenalnya, ia tersenyum menyindir,

“Hm, agaknya Biauw Leng Hosiang juga tak mau ketinggalan dan mencari-cari pusaka ke dalam gua ini?”

Biauw Leng Hosiang membalas sindiran ini dengan suara memandang rendah, “Hai Kong, bercerminlah dulu sebelum mencela orang lain. Dan pinceng tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu pada saat ini. Harap kau suka mengalah dan keluar dari sini, nanti apabila pinceng telah selesai dengan urusanku, kau boleh berdiam di tempat ini sampai selama hidupmu!” “Biauw Leng, kau sungguh tidak memandang orang! Kepandaian apakah yang kauandalkan maka kau berani berkata semacam itu kepada orang seperti aku?”

“Sudahlah jangan banyak cakap dan keluarlah!” Biauw Leng Hosiang yang berwatak keras itu berkata lagi.

Kini Hai Kong Hosiang menjadi marah sekali. Ia membanting-banting kakinya dan menggunakan telunjuknya menuding sambil berkata keras,

“Biauw Leng! Kau sungguh tak mengerti aturan kang-ouw! Bukankah aku yang masuk di sini terlebih dulu? Mengapa kau mendesak supaya aku keluar dan mengalah kepada kau? Ketahuilah, aku masih memandang muka Sucimu, Biauw Suthai yang selain gagah perkasa juga patut dihargai karena memegang teguh peraturan kang-ouw. Jangan sampai aku lupa diri menggunakan kekerasan!”

Kini tiba-tiba Biauw Leng Hosiang tertawa, suara ketawanya tinggi nyaring seperti suara ketawa seorang wanita.

“Hai Kong! Sudah kukatakan tadi, sebelum memaki orang, kau bercerminlah dulu! Kaubilang bahwa kau datang lebih dulu, akan tetapi, apakah kaukira bahwa aku tidak melihat Kanglam Sam-loji keluar dari sini? Aku tidak melihat mereka masuk, tetapi melihat keluarnya. Bukankah ini berarti bahwa mereka masuk lebih dulu dari padamu?”

Hai Kong Hosiang menjadi malu dat makin marah. Tak perlu kita mengadu lidah! Pendeknya, kalau kau menghendaki aku keluar, kau harus dapat mengantarkan!” Ini adalah tantangain berkelahi!

“Hai Kong! Kaukira pinceng takkan dapat menyeretmu keluar dari sini?” Biauw Leng Hosiang membentak dan keduanya telah saling berhadapan, siap untuk bertempur!

Yang paling merasa senang adalah Cin Hai. Memang sejak kecil ia suka sekali menonton orang bertempur mengadu kepandaian silat, maka kini, melihat betapa beberapa kali terjadi pertempuran-pertempuran di antara tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi, tentu saja ia merasa senang sekali. Ia maklum akan kelihaian Biauw Leng Hosiang yang pernah dilawannya, akan tetapi ia pun tahu bahwa Hai Kong Hosiang memiliki kepandaian tinggi juga.

Sambil berseru keras Biauw Leng Hosiang yang berdarah panas itu sudah mulai menyerang dengan hebat. Hwesio ini menggunakan senjata sebuah kebutan di tangan kiri dan sebuah pedang pendek di tangan kanan, gerakannya cepat dan berat, kedua senjatanya bergerak bergantian! Hai Kong Hosiang tidak mau didahului dan berbareng mengirim tangkisan berikut serangan balasan yang tidak kalah hebatnya!

Cin Hai sambil mengintai berbisik kepada Ang I Niocu tanpa memandang gadis itu karena ia mencurahkan seluruh perhatian ke arah pertempuran. “Niocu, kauduga siapa yang akan menang?”

Ang I Niocu semenjak tadi melihat gerak-gerik Cin Hai. Entah bagaimana, ia merasa sayang dan suka sekali kepada anak muda ini. Dulu ketika Cin Hai masih kecil dan berkepala gundul, ia merasa suka dan kasihan sekali dan merasa seakan-akan anak itu menjadi adiknya sendiri, kini Cin Hai telah hampir dewasa dan melihat perawakannya, ia bahkan sudah dewasa karena tubuhnya memang tinggi tegap. Akan tetapi, semenjak tadi Ang I Niocu melihat betapa anak muda itu memandang pertempuran dengan mata berkilat-kilat dan wajah berseri-seri, mulut tersenyum kecil, tanda bahwa hatinya senang sekali! Hal ini menyatakan betapa sebetulnya ia itu masih seperti seorang kanak-kanak saja. Ang I Niocu merasa heran dan tidak mengerti mengapa hatinya seakan-akan berbisik bahwa ia takkan merasa senang dan bahagia hidupnya jika berada jauh dari Cin Hai!

“Apa katamu?” ia balas berbisik ketika Cin Hai mengulangi pertanyaannya, lalu ia memandang ke arah pertempuran. “Entahlah, siapa yang akan menang, kepandaian mereka berimbang. Walaupun ilmu silat Biauw Leng Hosiang lebih tinggi dan lebih lihai geraknya, namun Hai Kong Hosiang agaknya lebih menang dalam hal mempergunakan senjatanya yang lihai, juga Hai Kong memiliki banyak tipu-tipu curang dalam gerakannya. Mungkin akan berjalan lama pertempuran ini.”

Cin Hai memperhatikan baik-baik. Tiap pertempuran baginya adalah penambahan pengertiannya dalam ilmu silat, karena dari gerakan-gerakan mereka ia dapat memetik beberapa pelajaran. Melihat gerakan-gerakan di dalam pertempuran antara jago tua itu, ia merasa betapa kepandaiannya sendiri sebenarnya masih dangkal sekali. Ia merasa bahwa untuk dapat memiliki kepandaian tinggi dan dapat menghadapi orang-orang seperti Hai Kong dan yang lain-lain, ia masih harus belajar banyak!

Karena merasa jengkel tak dapat segera menjatuhkan Hai Kong Hosiang yang ternyata memiliki kepandaian lebih lihai daripada yang semula ia duga, Biauw Leng Hosiang merasa tak sabar dan tiba-tiba ia bersuit keras. Dari luar gua terdengar suitan-suitan balasan dan tiba-tiba dari luar menerobos lima orang yang berpakaian seragam. Mereka ini ternyata adalah perwira-perwira Sayap Garuda yang sudah tinggi pangkatnya. Begitu masuk kelima orang ini lalu maju mengeroyok Hai Kong Hosiang!

Perlu diketahui bahwa barisan Sayap Garuda terdiri dari beberapa tingkat perwira menurut tingkat kepandaian mereka masing-masing. Dan lima orang yang masuk ini tingkatnya sudah ke tiga, maka mereka memiliki ilmu kepandaian yang sudah lumayan juga, dan senjata mereka adalah pedang panjang. Sudah tentu saja masuknya lima orang yang membantu Biauw Leng Hosiang ini membuat Hai Kong Hosiang yang memang sudah terdesak, menjadi makin sibuk. Akhirnya sebuah totokan yang dilakukan dengan ujung kebutan di tangan kiri Biauw Leng Hosiang tak dapat dihindarkan telah mengenai pundak Hai Kong Hosiang hingga hwesio ini berteriak keras sekali lalu roboh!

Kalau orang lain yang terkena totokan kebutan Biauw Leng Hosiang yang dilakukan dengan tenaga lweekang yang kuat tentu melayang jiwanya.

Hai Kong Hosiang bukan orang lemah dan tubuhnya sudah memiliki kekebalan hingga ia hanya menderita luka dalam yang tidak membahayakan jiwanya. Akan tetapi, totokan itu cukup hebat untuk merobohkannya dan untuk beberapa lama ia hanya duduk bersila sambil mengatur napasnya untuk menyembuhkan atau setidaknya meringankan luka pundak yang menembus dadanya.

“Biauw Leng Sute, kau sungguh bandel sekali!” tiba-tiba terdengar teriakan suara wanita dan tahu-tahu Biauw Suthai wanita pertapa dari Hoa-san yang bermuka seperti pantat kuali den matanya sebelah kanan buta ini, tahu-tahu telah berada di ruangan itu, tangan kiri memegang hudtim dan tangan kanan memegang pedang. Bukan main terkejutnya Biauw Leng Hosiang melihat sucinya telah berada di situ! Hal ini sama sekali tidak pernah diduganya.

Sebenarnya, setelah menegur adik seperguruannya yang sesat itu ketika Biauw Leng Hosiang menjatuhkan Cin Hai, Biauw Suthai lalu pergi. Akan tetapi ia masih merasa curiga kepada adik seperguruannya yang telah berkali-kali melakukan pelanggaran perguruan mereka dan berkali-kali ia tegur karena menjalankan kejahatan itu. Maka diam-diam ia lalu mengikuti adik seperguruannya itu. Alangkah marahnya ketika melihat betapa Biauw Leng Hosiang mengadakan pertemuan lagi dengan para perwira Sayap Garuda, bahkan bersama lima orang perwira menyerbu ke Gua Tengkorak itu.

Ia terus mengikuti ke mana mereka pergi dan setelah melihat betapa sutenya mengeroyok dan merobohkan Hai Kong Hosiang, ia lalu menyerbu masuk dan telah mengambil keputusan tetap untuk menghajar sutenya yang tersesat.

“Biauw-suci, kau lagi-tagi menghalang-halangi maksud dan sepak terjangku. Sebenarnya ada sangkut paut apakah segala perbuatanku dengan kau orang tua?” kata Biauw Leng Hosiang yang mulai memberontak dan hendak melawan karena ia mengandalkan bantuan kelima perwira yang kosen itu.

“Biauw Leng! Apakah kau telah melupakan sumpahmu kepada mendiang Suhu dulu? Percuma saja kau menjadi pendeta kalau kau selalu melanggar pantangan kita dan melakukan perbuatan-perbuatan sesat. Kau tentu masih ingat bahwa di antara segala pantangan, Suhu almarhum paling benci melihat orang membela kaisar lalim dan menjadi anjing penjilat.”

“Telah berkali-kali kau kuperingatkan dan selalu aku masih bersabar mengingat hubungan kita sebagai saudara seperguruan. Akan tetapi kau selalu tetap melanggar. Sekarang, mari kau ikut aku untuk mengadakan sumpah di depan makam Suhu!”

“Biauw-suci kau sungguh terlalu! Mengingat kau dulu sering melatih dan memberi pelajaran kepadaku, maka aku selalu mengalah saja terhadapmu. Tetapi kau jangan terlalu mendesak! Ingat, seekor semut pun akan membalas dengan gigitan dan akan melawan jika diinjak, apalagi aku sebagai manusia. Kau pulanglah, Suci yang baik dan janganlah kau mempedulikan lagi diriku. Aku bukan anak kecil!”

Wajah Biauw Suthai yang sudah buruk itu makin memburuk dan matanya yang tinggal satu di sebelah kiri itu mengeluarkan cahaya kilat tanda bahwa ia marah sekali. Biauw Leng Hosiang maklum akan hal ini dan sebenarnya ia menjadi takut dan jerih juga, akan tetapi ia segera memberi tanda kepada kelima perwira itu.

“Biauw Leng, lepaskan senjatamu dan kau berlutut!” perintah Biauw Suthai yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah hudtim berbulu merah dari pinggangnya. Biauw Leng Hosiang terkejut melihat ini, karena ia ingat bahwa kebutan ini adalah milik mendiang suhu mereka dan yang bila dikeluarkan, berarti bahwa hukuman mati akan dijatuhkan kepada seorang murid yang murtad! Kini Biauw Suthai telah mengeluarkan kebutan merah ini dan jika ia tidak berlutut minta ampun, ia pun tentu akan dihukum mati oleh sucinya sendiri!

Akan tetapi, Biauw Leng Hosiang dapat menetapkan hatinya dan setelah memberi tanda kepada kawan-kawannya, mereka berenam lalu maju menyerbu dan menyerang Biauw Suthai.

Cin Hai pernah ditolong oleh Biauw Suthai, yaitu ketika ia dirobohkan oleh Biauw Leng Hosiang, maka ia merasa bersimpati kepada tokouw ini apa lagi kalau ia ingat bahwa tokouw yang buruk rupa ini adalah guru dari Lin Lin, maka ia tidak dapat menahan hatinya melihat tokouw itu dikeroyok enam! Ia memegang erat-erat tulang paha manusia yang masih dipegangnya ketika ia pergi bersembunyi, lalu ia meloncat keluar sambil berteriak,

“He, kawanan Sayap Garuda! Jangan berlaku pengecut dan curang dengan keroyokan!”

Ang I Niocu terkejut sekali melihat sepak terjang Cin Hai. Ia maklum bahwa kepandaian Cin Hai masih terlampau lemah untuk melayani orang-orang berilmu tinggi itu maka ia lupa akan perintah Bu Pun Su tadi dan meloncat keluar pula mengejar Cin Hai sambil berseru,

“Hai-ji, hati-hati!”

Biauw Leng Hosiang terkejut melihat bahwa ternyata di ruangan itu telah ada orang yang datang dan bersembunyi, akan tetapi ia tak berdaya karena Biauw Suthai mendesaknya dengan hebat! Terpaksa ia melawan sekuat tenaga.

Sementara itu, kelima perwira Sayap Garuda ketika melihat keluarnya seorang pemuda dengan tulang di tangan, untuk sejenak tertegun. Kemudian setelah Ang I Niocu keluar mereka maklum bahwa pihak musuh bertambah, maka dua orang di antara mereka lalu menyambut Cin Hai dan Ang I Niocu.

Cin Hai melawan dengan tulang itu sambil mengeluarkan ilmu silat yang telah dipelajarinya. Oleh karena ternyata bahwa lawannya cukup tangguh maka ia lalu mencampur-adukkan Ilmu Silat Liong san-kun-hwat! Dengan ilmu silat campuran ini ternyata Cin Hai dapat mengimbangi kepandaian Perwira Sayap Garuda itu.

Sedangkan perwira yang bertanding melawan Ang I Niocu, dalam beberapa gebrakan saja telah menjadi sibuk dan dibingungkan oleh ilmu pedang Dara Baju Merah yang menari-nari di depannya itu! Melihat betapa perwira ini terancam oleh bahaya pedang di tangan Ang I Niocu yang gagah, dua orang perwira maju pula mengeroyok Ang I Niocu yang masih tetap gagah dan bahkan nampak gembira sekali dikeroyok tiga! Nona ini selain menghadapi ketiga lawannya, juga berusaha mendekati Cin Hai hingga dapat siap sedia membela dan menolong pemuda itu apabila sampai terdesak dan berada dalam bahaya.

Sementara itu, karena kini yang mengeroyoknya hanya Biauw Leng Hosian dan seorang perwira saja, Biauw Suthai dapat mendesak adik seperguruannya dengan hebat sekali dan pada suatu saat ia mengeluarkan seruan keras sekali dan kebutan merah yang dipegangnya telah dipakai menghantam dan tepat mengenai dada kiri Biauw Leng Hosiang! Hwesio ini mengeluarkan jeritan ngeri dan roboh sambil muntah darah dan tewas seketika itu juga!

Semua perwira merasa terkejut dan melompat mundur dengan wajah pucat. Melihat betapa orang yang mereka andalkan telah tewas, maka mereka tidak berani bertempur lagi.

Biauw Suthai ketika melihat sutenya rebah di atas lantai batu dan telah binasa, tiba-tiba ia menubruk sambil menangis tersedu-sedu!

“Sute… Sute… mengapa kau mencari kematian di tanganku?” Tokouw iin berkeluh-kesah dengan suara memilukan. Kemudian Biauw Suthai menghampiri Hai Kong Hosiang yang masih duduk meramkan mata dan mengobati luka di dalam dadanya. Tokouw ini menggunakan tangannya menepuk pundak Hai Kong Hosiang yang terluka hingga hwesio ini merasa betapa totokan Biauw Leng tadi dapat dipunahkan dan lukanya menjadi berkurang sakitnya.

“Hai Kong Hosiang, kaumaafkan Suteku yang telah menebus dosanya dengan jiwanya.”

Hai Kong Hosiang hanya mengangguk, kemudian hwesio ini lalu meninggalkan tempat itu, Biauw Suthai lalu mengangkat sutenya dan sambil memondong tubuh yang tak bernyawa pula itu, ia hendak meninggalkan gua. Akan tetapi Cin Hai melangkah maju dan sambil memberi hormat ia bertanya,

“Suthai yang mulia, mohon tanya tentang keadaan Adikku Lin Lin. Bukankah dia muridmu?”

Biauw Suthai memandang heran kepada Cin Hai dan bertanya, “Eh, anak muda yang berani, kau siapakah?”

“Suthai tentu telah lupa kepada anak kecil yang dulu bersama dengan Lin Lin ketika kau mencu… eh membawanya pergi!”

Biauw Suthai teringat akan anak gundul itu, “Hm, ia baik… ia baik…” Lalu ia pergi sambil memondong jenazah sutenya!

Kelima Perwira Sayap Garuda itu pun pergi dengan cepat karena tanpa pembantu yang pandai, mereka merasa jerih menghadapi Ang I Niocu yang tadi telah mereka kenal kelihaiannya. Ang I Niocu juga tidak mau mengejar karena sebenarnya nona ini sedang merasa kuatir sekali akan mendapat teguran dari susiok-couwnya karena telah berani-berani keluar dari tempat persembunyiannya. Oleh karena ini, sebelum ia menerima teguran ia segera membetot tangan Cin Hai dan bersama pemuda itu segera menjatuhkan diri berlutut di situ sambil berkata,

“Susiok-couw, mohon dimaafkan kelancangan teecu berdua dan kami bersedia menerima hukuman!”

Akan tetapi tidak terdengar jawaban apa-apa, sedangkan Cin Hai merasa tidak puas sekali melihat sikap nona itu yang agaknya sangat takut kepada Bu Pun Su. Pemuda ini lalu mengangkat kepala dan bukan main heran dan terkejutnya ketika melihat yang berada di depannya, telah berdiri seorang yang aneh sekali. Orang ini bertubuh pendek sekali, barangkali sama tingginya dengan seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun. Kedua matanya bundar besar melirik ke sana ke mari tiada hentinya seperti mata sebuah boneka mainan, kedua telinganya lebar sekali seperti telinga gajah, sedangkan mulutnya. Berbibir tebal. Ia memakai jubah panjang yang menggantung sampai ke tanah dan yang mencolok sekali adalah warna jubah ini yang hitam sekali.

“Eh, siapa orang kate ini?” Tak terasa pula Cin Hai bangun dari tanah karena ia tidak sudi berlutut di depan orang kate itu. Ang I Niocu juga menengok dan terkejutlah dia, terkejut karena mengingat betapa lihainya orang ini yang dapat datang ke situ tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan ia sendiri dalam berlutut tadi tidak mendengar suara kaki orang, tetapi tahu-tahu orang kate ini telah berdiri di depannya. Ketika ia bangun dan memandang, ia memperhatikan jubah orang kate itu maka kagetlah Ang I Niocu. Ia dapat mengetahui bahwa orang aneh ini tentulah Hek Moko Si Iblis Hitam yang telah terkenal sekali sebagai seorang jago tua yang sukar dapat dicari tandingannya di dunia kang-ouw bagian barat!

Ang I Niocu lalu mengangkat kedua tangan di dada dan menjura sambil berkata, “Locianpwe kami yang muda memberi hormat.”

Tiba-tiba Hek Moko tertawa dan suara ketawanya ini kalau didengar di dalam gelap tanpa terlihat orangnya, tentu akan disangka orang suara setan. Suara ketawanya mula-mula rendah sekali bagaikan suara kodok besar, lalu perlahan-lahan meninggi menjadi nyaring dan kecil. Tiba-tiba Hek Moko menahan tawanya karena mendengar Cin Hai juga tertawa geli.

“Pemuda tolol! Kau siapakah? Kau apanya Ang I Niocu?” Hek Moko bertanya dengan kata-kata kasar sedangkan kedua matanya berputar-putar.

Cin Hai tidak menjawab tetapi bahkan tertawa makin geli dan keras. Ketika tadi melihat bentuk dan rupa Hek Moko, ia telah merasa ngeri sekali, apalagi melihat sepasang telinganya. Ketika Ang I Niocu bicara kepada Hek Moko dan menyebutnya locianpwe (orang tua gagah), ia merasa makin geli karena alangkah ganjilnya menyebut seorang yang tingginya hanya sama dengan tinggi pinggangnya dengan sebutan locianpwe. Kemudian, ketika Hek Moko tertawa dengan suara yang menyeramkan dan lucu itu, ia melihat betepa telinga gajah itu dapat bergerak-gerak bagaikan telinga gajah yang benar.-benar digerak-gerakkan untuk mengipas tubuh. Maka pemuda ini tak dapat lagi menahan geli hatinya dan tertawa keras. Kini melihat Hek Moko mengajukan pertanyaan sambil memuta mutar kedua matanya, Cin Hai makin geli dan tertawanya makin keras pula.

“Hai, tolol! Kenapa kau tertawa?” Hek Moko membentak dengan muka heran.

“Kakek kate, aku tertawa mendengar kau tertawa!”

Hek Moko melengak dan menggerakkan kepalanya ke belakang. Belum pernah selama ia merantau ada orang berani mentertawakan suara tawanya!

“Tolol! Hati-hatilah menjaga lidahmu. Mengapa kau tertawakan aku?”

Melihat sikap Hek Moko, Cin Hai tahu bahwa orang ini marah, maka ia berkata,

“Orang tua, orang baru tertawa kalau berhati senang. Kau tadi tiada hujan tiada angin tertawa, tentu berarti kau senang bertemu dengan kami. Aku pun menjadi senang dan tertawa juga, apa salahnya? Eh, kakek kate, tahukah kau akan sebuah ujar-ujar tentang tertawa?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: