Pendekar Bodoh ~ Jilid 8

“Orang she Kwee!” kata perwira itu marah. “Kali ini aku ampunkan kau, tetapi, tunggulah kedatanganku pada pesta ulang tahunmu untuk memberi selamat!”

Kwee-ciangkun tidak tahu bahwa gadisnya telah tertolong oleh orang lain dan mengira bahwa benar-benar orang she Boan itu berlaku murah, maka ia lalu berkata,

“Boan-enghiong, mengapa kau masih saja merasa penasaran? Ketahuilah, bahwa anakku ini bukan jodohmu dan semenjak kecil telah kupertunangkan dengan orang lain!”

“Tak perlu merundingkan hal ini sekarang,” jawab perwira itu, “Nanti saja di pesta ulang tahunmu. Kita berunding kembali dengan baik-baik.”

Setelah berkata demikian, perwira itu mengajak kawannya pergi dari situ dengan cepat. Kwee In Liang menghela napas dan berkata kepada Lin Lin,

“Baiknya ia berlaku murah hati dan tidak mau mengganggu kita.”

Lin Lin memandang kepada ayahnya dan menjawab,

“Ayah, kau tidak tahu. Kalau tidak ada orang pandai yang membantu, entah bagaimana jadinya dengan kita.”. Ia lalu menceritakan betapa ia telah dibebaskan dari totokan dengan sambitan dua butir buah angcho, sedangkan perwira she Boan itu pun telah kena diserang sambaran buah angcho yang lihai!

“Sayang, orang pandai itu menolong dengan sembunyi-sembunyi, agaknya ia tidak mau berkenalan dengan kita,” kata Lin Lin dengan kecewa, karena sebetulnya ia ingin sekali melihat siapa orangnya yang demikian lihai.

Mendengar ucapan puterinya, Kwee In Liang terkejut dan segera ia berseru dengan suara keras,

“Enghiong yang telah membantu kami, silakan keluar agar kami dapat menyatakan terima kasih kami!”

Akan tetapi, biarpun telah berkali-kali ia berseru, tak seorang pun muncul atau menjawab.

“Sudahlah, Ayah. Agaknya ia benar-benar tidak mau bertemu muka dengan kita. Ayah, bangsat itu agaknya masih merasa penasaran dan ia telah menyatakan hendak datang nanti pada hari ulang tahunmu. Kurasa ia tak mempunyai maksud baik. Kita harus berhati-hati dan berjaga-jaga.”

Kwee In Liang menghela napas. “Kau benar, memang Boan Sip itu kurang ajar benar sekali. Tetapi aku masih ragu-ragu apakah ia akan bersikap begitu kurang ajar menimbulkan gara-gara dan mengacau dalam pestaku.”

“Orang macam itu mungkin melakukan segala perbuatan busuk, Ayah. Baiknya aku pergi minta pertolongan Guruku. Akan tetapi, Ayah… apa yang kaumaksudkan dengan kata-katamu tadi bahwa… bahwa aku telah… dipertunangkan…?” Tiba-tiba wajah gadis manis itu menjadi merah karena malu.

Ayahnya tersenyum. Ia memang tahu bahwa anaknya ini selain manja juga suka berkata terus terang hingga tidah malu-malu bertanya tentang hal pertunangan.

“Tidak, Lin Lin, itu hanya alasan kosong untuk mencegah ia mendesak lebih jauh.”

“Ayah, mengapa kau menggunakan alasan itu? Tak perlu kiranya kita terlalu takut!” kata Lin Lin dengan gemas. “Kalau Guruku atau suciku bisa kuajak datang membantu, aku akan mengajar adat kepada bangsat rendah itu!”

Sambil bercakap-cakap mereka melanjutkan perjalanan keluar dari hutan itu. Ketika mereka tiba di luar hutan, tiba-tiba dari jauh mereka melihat seorang pemuda berjalan mendatangi. Pemuda itu berjalan perlahan sambil membawa sebuah bungkusan pakaian yang terbuat dari pada kain berwarna kuning. Pakaiannya sederhana seperti pakaian seorang petani dengan baju luar yang lebar dan besar. Tubuhnya tinggi tegap dan rambutnya yang hitam tebal itu diikat dengan kain pita kuning. Jubahnya berwarna biru dan celananya putih.

Kwee In Liang memandang pemuda yang datang itu dengan penuh perhatian karena ia seakan-akan merasa sudah kenal kepada pemuda ini sedangkan Lin Lin hanya mengerling sekali tanpa perhatian. Akan tetapi, ketika pemuda itu telah berada di hadapan mereka, tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut dan berdiri diam, lalu ia menjura di hadapan Kwee In Liang sambil berkata,

“Maaf maaf! Bukankah aku sedang berhadapan dengan Kwee-ciangkun?”

Kwee In Liang memandang tajam dan juga Lin Lin kini memandang penuh perhatian kepada pemuda ini.

“Betul, aku adalah Kwee In Liang, dan siapakah Tuan yang telah mengenal padaku?”

Tiba-tiba pemuda itu melepaskan buntalan pakaiannya dan memberi hormat sambil menjura,

“Ie-thio, terimalah hormatku. Aku yang rendah adalah Cin Hai!”

“Cin Hai… ?” Kwee In Liang berseru terkejut, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar dingin.

“Engko Hai…!” Lin Lin berteriak girang sekali. “Eh, kau sekarang tidak gundul lagi!”

Mendengar kata-kata yang lucu ini, Cin Hai memandang dan ia tidak dapat menahan geli hatinya hingga ia tertawa gembira, juga Lin Lin tertawa senang sambil memandang dengan sepasang matanya yang bening dan indah seperti mata burung Hong itu.

“Engko Hai, bertahun-tahun ini kau pergi ke mana saja?” tanya Lin Lin.

“Aku… aku hanya merantau tak tentu arah tujuan. Bagaimana Ie-thio, apakah selama ini Ie-thio dan seluruh keluarga baik-baik saja? Harap Ie-thio sudi memaafkan aku yang telah lama tidak dapat menghadap.”

“Tidak apa, tidak apa, Cin Hai, kau sekarang sudah besar dan dewasa. Agaknya kau telah mendapatkan banyak kemajuan, syukurlah.” kata-kata ini sederhana sekali hingga Cin Hai maklum bahwa pamannya ini masih saja tidak suka kepadanya, maka ia pun tidak banyak bicara, hanya berkata singkat,

“Sebenarnya, aku pun hendak pergi ke Tiang-an dan mengunjungi Ie-ie. Apakah ia baik-baik saja?”

“Dia sehat dan selalu merindukanmu, Engko Hai. Tetapi, kami sekarang tidak tinggal di Tiang-an lagi, telah hampir tiga tahun Ayah pindah ke Sam-hwa-bun. Tahukah kau, Engko Hai? Ayah sekarang tidak menjabat pangkat lagi dan kami telah menjadi orang-orang biasa dan hidup sebagai petani!”

Berita ini benar-benar tak terduga oleh Cin Hai. Ia memandang kepada Ie-thionya dengan mata terbelalak dan mengandung penuh pertanyaan. Akan tetapi, Kwee In Liang menegur puterinya.

“Lin Lin, tak perlu kita bicarakan hal itu di sini. Cin Hai, kau sekarang hendak ke manakah?”

Ucapan ini bukanlah merupakan sebuah undangan, maka Cin Hai juga tidak hendak merendahkan diri hingga ia menjawab,

“Aku hendak pergi ke Tiang-an, akan tetapi karena Ie-thio tidak tinggal di sana lagi, aku… aku akan melanjutkan perantauanku…”

“Eh, Hai-ko, kau harus mengunjungi kami. Alangkah akan girangnya hati lbu!” Memang anak-anak Kwee In Liang semua menyebut ibu kepada Loan Nio bibi Cin Hai.

Karena tidak ada ucapan dari orang tua itu yang mengundangnya, Cin Hai hanya menjawab sederhana, “Baiklah, Adik Lin. Kalau kebetulan aku lewat di Sam-hwa-bun tentu aku akan mampir.”

“Kebetulan? Ah, Engko Hai, apakah kau benar-benar telah melupakan Bibimu, melupakan kami? 0, ya! Nanti pada hari ke lima belas bulan ini, jadi sepuluh hari lagi kami akan mengadakan sedikit perayaan guna memperingati hari ulang tahun ayah yang ke enam puluh. Kau harus datang menghadiri pesta itu, Engko Hai!”

“Apakah ini merupakan sebuah undangan?” tanya Cin Hai sambil memandang kepada Kwee In Liang hingga terpaksa orang tua ini berkata,

“Benar, Cin Hai, kau datanglah. Bibimu telah lama mengenangmu. Lin Lin, sudahlah jangan kita ganggu Cin Hai lebih lama lagi! Ia tentu mempunyai keperluan penting. Hayo kita pergi!”

Maka berpisahlah mereka, akan tetapi sekali lagi Lin Lin berpaling sambil berkata keras-keras, “Engko Hai, jangan lupa hari ke lima belas, dan… kau masih pandai bersuling, bukan? Jangan lupa bawa serta sulingmu!”

Setelah mereka pergi jauh, Cin Hai duduk di bawah pohon sambil mengenangkan kedua orang tadi. Jelas bahwa Kwee In Liang masih mempunyai perasaan tidak suka kepadanya dan sikap orang tua itu sungguh dingin hingga ia segan sekali untuk mengunjungi rumahnya. Akan tetapi, Lin Lin mendatangkan perasaan gembira dan hangat di dalam dadanya. Dara itu sekarang sungguh cantik jelita dan manis sekali! Dan sikapnya masih sama seperti dulu. Lincah, jenaka dan gembira. Alangkah indahnya mata gadis itu. Dan kepandaiannya juga tidak rendah. Pantas Lin Lin menjadi murid Biauw Suthai yang lihai. Diam-diam ia bersyukur dan girang sekali melihat bahwa gadis itu telah mewarisi kepandaian yang tinggi. Haruskah ia datang pada hari ke lima belas nanti? Sikap Kwee In Liang demikian dingin, apalagi nanti sikap Kwee Tiong dan yang lain-lain. Bagaimana kalau ia tidak dilayani dan dianggap sepi?

Akan tetapi, ia harus melihat ie-ienya yang telah lama ia rindukan. Biarlah, biar mereka menghina atau menganggap rendah kepadanya, karena ia tidak butuh dengan mereka. Di sana masih ada bibinya, dan juga ada Lin Lin yang tentu akan menyambut kedatangannya dengah tamah. Dan yang lebih penting pula, pada hari ke lima belas itu, Lin Lin terancam bahaya! Perwira she Boan itu akan datang mengacau dan melihat kepandaian perwira itu, agaknya sukar bagi Lin Lin untuk menyelamatkan diri. Ia harus datang, dan akan melihat-lihat saja dulu, kalau Lin Lin berhasil memperoleh bantuan gurunya dan lain-lain orang pandai, ia hanya akan menjadi penonton saja. Akan tetapi kalau sampai gadis manis itu terancam bahaya, mau tidak mau ia terpaksa harus turun tangan!

Cin Hai lalu berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Ia merasa heran sekali mengapa wajah Lin Lin yang manis itu selalu membuat ia tersenyum gembira. Akan tetapi, ketika ia teringat akan kata-kata Kwee In Liang bahwa Lin Lin sudah dipertunangkan dengan pemuda lain, tiba-tiba ia merasa kecewa dan tidak senang, heran sekali! Diam-diam Cin Hai menegur perasaannya sendiri yang tidak layak ini. Seharusnya ia ikut gembira mendengar akan pertunangan Lin Lin, mengapa ia harus merasa tidak senang? Ada hak apakah dia? Pikiran ini membuat hatinya menjadi dingin dan ia berusaha sekuatnya untuk mengusir bayangan wajah Lin Lin dari pikirannya, akan tetapi tidak berhasil!

Ia lalu melayangkan pikirannya kepada Ang I Niocu. Telah tiga tahun ia tidak bertemu dengan Dara Baju Merah yang telah berlaku baik sekali kepadanya itu. Ia rindu kepada Ang I Niocu dan ingin sekali bertemu kembali. Bu Pun Su dulu menyuruh Ang I Niocu mencari sucinya, yaitu Kim Lian atau yang dijuluki Giok gan Kuibo Si Biang Iblis Bermata Intan.

Hari ke lima belas masih sepuluh hari lagi dan selama sepuluh hari itu ia akan mencoba mencari Ang I Niocu. Ia masih ingat bahwa Ang I Niocu disuruh pergi ke Lok-bin-si, sebuah kota yang letaknya tidak jauh dari situ. Untuk pergi ke sana pulang pergi, paling lama hanya membutuhkan waktu lima hari. Masih ada waktu baginya, maka dengan hati tetap Cin Hai lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Lok-bin-si, sebuah kota di lereng pegunungan yang banyak hutannya.

Setelah menerima perintah dari Susiok-couwnya, Ang I Niocu pergi mencari sucinya ke Lok-bin-si. Akan tetapi, ketika ia tiba di situ, ia mendengar bahwa Giok-gan Kui-bo telah lama pergi meninggalkan daerah itu dan kabarnya merantau ke arah barat. Ang I Niocu sebetulnya ingin lekas-lekas kembali ke Gua Tengkorak karena semenjak meninggalkan tempat itu, hatinya tertinggal di sana bersama Cin Hai, pemuda yang telah merebut seluruh isi hatinya itu.

Akan tetapi ia tidak berani kembali dan bertemu dengan susiok-couwnya sebelum bertemu dengan sucinya. Ia maklum bahwa susiok-couwnya itu sangat bengis, keras dalam hal memberi tugas. Sebelum tugas itu diselesaikan, maka ia tidak boleh kembali membuat laporan. Oleh karena ini, ia lalu menyusul ke barat, mencari sucinya.

Daerah barat sangat luas sehingga tidak mudah mencari seorang yang tidak diketahui jelas di mana tinggalnya, walaupun orang itu begitu terkenal seperti Giok-gan Kui-bo sekalipun! Oleh karena ini maka Ang I Niocu merantau sampai dua tahun lebih belum juga dapat bertemu dengan Giok-gan Kui-bo. Hatinya bingung dan sedih sekali. Ia merasa amat rindu kepada Cin Hai, akan tetapi apa dayanya? Pemuda itu sekarang berada dengan susiok-couwnya dan ia sekali-kali tidak berani menghadap Bu Pun Su sebelum tugasnya selesai.

Oleh karena memang berwatak baik, di sepanjang jalan Ang I Niocu tiada hentinya mengulurkan tangan menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang menderita, membela kaum tertindas dan membasmi para penjahat yang mengganas. Maka di daerah barat namanya pun menjadi terkenal sekali.

Setelah ia tiba di sebuah kota yang disebut Bok-chiu, akhirnya ia mendapat keterangan tentang nama sucinya. Ternyata sucinya terkenal sekali di kota ini karena dengan seorang diri saja Giok-gan Kui-bo telah menghajar habis-habisan kepada kawanan Piauwsu Harimau Kuning yang terkenal sekali di kota Bok-chiu. Pertempuran ini terjadi ketika para piauwsu itu bermusuhan dengan seorang piauwsu baru yang belum lama membuka perusahaan piauwkiok (kantor pengirim barang) di kota itu. Memang Oei-houw-piauwkiok terkenal mempunyai barisan yang terdiri dari jago-jago silat berkepandaian tinggi dan karenanya ditakuti oleh semua orang di kota itu, juga para penjahat dan perampok yang biasa mencegat di hutan-hutan dan gunung-gunung apabila melihat bendera warna kuning dengan gambar kepala harimau, tidak ada yang berani mengganggu. Akan tetapi Oei-houw-piauwkiok memasang tarip terlalu tinggi untuk biaya pengiriman dan pengawalan barang. Oleh karena itu ketika piauwsu yang baru itu membuka perusahaannya, para saudagar yang mengirim barang mulai mempercayakan barang-barangnya kepada piauwsu yang bernama Ong Hu Lin itu. Hal ini membuat para piauwsu dari Oei-houw-piauwkiok menjadi marah sekali dan terjadilah permusuhan.

Ong Hu Lin adalah seorang piauwsu yang masih muda dan berwajah tampan. Ilmu silatnya lumayan juga dan ia memiliki ilmu golok yang lihai. Almarhum ayahnya juga seorang piauwsu yang ternama di daerah barat dan ia hanya menggantikan kedudukan ayahnya oleh karena tidak dapat mencari pekerjaan lain. Dengan mengandalkan kepandaiannya, ia mencari nafkah dengan mengawal barang-barang berharga dan mendapat upah sekedarnya.

Pada suatu hari, Ong Hu Lin mendapat kepercayaan dari hartawan Lui untuk mengawal kiriman segerobak cita yang mahal harganya. Ketika melalui sebuah hutan, tiba-tiba ia diganggu oleh kawanan perampok yang terdiri dari belasan orang. Ong Hu Lin menghadapi kepala rampok itu dan berkata,

“Sahabat, harap kalian jangan mengganggu aku yang sedang mencari nafkah. Kalau kalian menghargai persahabatan, maka sepulangku dari tempat ke mana barang ini harus kukirim, aku akan singgah untuk memberi hormat dan akan membawa sekedar barang hadiah sebagai tanda penghormatan.”

Akan tetapi Ong Hu Lin sama sekali tidak tahu bahwa perampok-perampok itu bukan lain adalah kaki tangan para piauwsu di Oei-houw-piauwkiok yang sengaja menyewa tenaga mereka untuk mengganggu Ong Hu Lin. Maka tentu saja kata-katanya itu ditertawakan saja oleh kawanan perampok, dan kepala perampok yang tinggi besar itu membentak,

“Piauwsu hijau jangan banyak cakap. Tinggalkan barang-barang ini di sini dan kau pergilah kalau kausayangi jiwamu. Orang macam kau tidak pantas menjadi piawsu, dan lebih baik kaututup saja perusahaanmu itu! Ha-ha-ha!”

Ong Hu Lin marah sekali. Dicabutnya golok yang tergantung di pinggangnya dan ia lalu dikeroyok. Akan tetapi, ternyata bahwa kepandaian Ong-piauwsu cukup tangguh hingga tak lama kemudian beberapa orang anggauta perampok telah roboh mandi darah. Dengan ilmu goloknya yang lihai ia dapat mendesak sekalian perampok itu.

Pada saat itu, tiba-tiba muncul tiga orang yang membantu para perampok mengeroyok Ong-piauwsu dan mereka ini bukan lain adalah para piauwsu Oei-houw-piauwkiok! Ternyata kepandaian ketiga orang piauwsu ini lihai juga dan sebentar saja Ong-piauwsu terdesak hebat dan jiwanya terancam. Pada saat itu, terdengar suara wanita tertawa yang terdengar halus merdu tetapi mendirikan bulu tengkuk karena tidak terlihat orangnya dan tahu-tahu berkelebat bayangan menyambar para pengeroyok itu. Sebentar saja habislah para perampok berikut tiga orang piauwsu itu disapu oleh seorang wanita yang bergerak menari-nari dengan cepat dan ganas. Di mana saja tangan atau kakinya menyambar, tentu seorang perampok terlempar dan bergulingan sampai jauh! Akhirnya semua perampok lari tunggang langgang sambil membawa kawan-kawan yang terluka.

Ong Hu Lin berdiri memandang dengan kedua mata terbelalak. Ternyata yang menolongnya dengan kepandaian luar biasa itu adalah seorang wanita yang cantik dengan sepasang mata genit dan liar mengerling kepadanya. Mulut wanita itu tersenyum manis. Rambutnya hitam panjang dibiarkan tergantung di punggungnya, bajunya berwarna hijau dan celananya putih.

ONG Hu Lin sadar dari keheranannya dan buru-buru ia menjura memberi hormat, “Lihiap yang gagah perkasa, siauwte sungguh berhutang budi dan tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”

“Ong-piauwsu, janganlah kau terlalu sungkan. Bukankah kita adalah orang-orang sekaum di kalangan kang-ouw dan sudah seharusnya saling menolong?” Wanita itu menjawab dengan suaranya yang merdu.

Ong Hu Lin terkejut. “Bagaimana Nona bisa mengetahui namaku?”

“Bukankah kau Ong Hu Lin, piauwsu muda yang membuka perusahaan di Bokchiu?” kata wanita itu yang bukan lain adalah Giok-gan Kui-bo adanya. “Kebetulan sekali aku bertemu dengan ketiga orang Piauwsu dari Oei-houw-piauwkiok itu dan mendengar mereka membicarakan engkau. Mana bisa aku membiarkan saja mereka berlaku sewenang-wenang?”

“Terima kasih banyak, Lihiap. Tetapi siapakah nama Lihiap yang lihai seperti bidadari ini?”

Giok-gan Kui-bo mengerling dengan gaya yang manis dan genit dan memandang wajah yang tampan itu dengan tajam. “Namaku Kim Lian dan orang menyebut aku Giok-gan Lihiap (Pendekar Wanita Bermata Intan).”

Melihat gerak-gerik dan lagak wanita cantik ini, tahulah Ong Hu Lin bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita yang genit, maka ia lalu berlancang mulut berkata sambil tersenyum manis.

“Sungguh nama dan julukan yang indah dan manis, sesuai benar dengan orangnya.”

Giok-gan Kui-bo berpura-pura marah dan memandang dengan mata melotot, tetapi bibirnya tetap tersenyum!

“Lihiap, harap kaujangan kepalang menolong orang.” kata Ong Hu Lin.

“Apa maksudmu?”

“Sudah jelas bahwa diriku yang tiada kawan ini dimusuhi oleh kawanan Oei-houw-piauwkiok yang terdiri dari orang-orang pandai. Kalau tidak ada engkau yang lihai, Lihiap, tentu aku telah binasa. Maka sudilah kau mengawani aku berjalan bersama-sama sampai di tempat tujuan agar mereka itu tidak berani mengganggu lagi.”

“Kalau aku mau apakah upahnya?” Kim Lian bertanya sambil tertawa genit. “Apa yang kauminta, Lihiap, biar jiwaku sekalipun akan kuberikan kepadamu.” jawab Ong Hu Lin yang ternyata pandai bermain kata-kata.

Demikianlah semenjak saat itu mereka berdua menjadi kawan baik yang tidak berpisah lagi. Ketika Ong Hu Lin bersama Kim Lan kembali ke Bok-chiu, mereka ditunggu oleh kawanan piauwsu dari Oe-houw-piauwkiok dan dikeroyok, tetapi semua piauwsu itu dengan mudah saja dapat dihajar oleh Giok-gan Kui-bo! Akhirnya piauwsu-piauwsu itu menyatakan takluk dan semenjak itu, Ong Hu Lin yang menjadi pemimpin piauwkiok itu.

Sebaliknya Giok-gan Kui-bo tetap menjadi kawan baik Ong Hu Lin. Akan tetapi, karena memang sudah biasa merantau dan tidak kerasan tinggal di dalam sebuah rumah dan mengurus rumah tangga, Kim Lan lalu meninggalkan Ong Hu Lin dan membuat tempat tinggal sendiri di dalam sebuah gua di gunung yang dekat dengan kota Bok-chiu. Gua ini ia jadikan tempat beristirahat dan kadang-kadang saja ia pergi menemui Ong Hu Lin di rumahnya.

Giok-gan Kui-bo sama sekali tak pernah menyangka bahwa Ong Hu Lin sebetulnya telah mempunyai seorang isteri! Dan isterinya ini bukanlah seorang sembarangan karena isterinya ini adalah Pek bin Moli Si Iblis Wanita Muka Putih, yaitu puteri tunggal dari Pek Moko! Ong Hu Lin bertemu dengan Pek Moko dan puterinya dan Pek-bin Moli jatuh cinta kepadanya hingga akhirnya dipaksa kawin dengan Pek-bin Moli. Sebetulnya kalau melihat orangnya, setiap pemuda pasti akan bersedia dengan senang hati untuk menjadi suami Pek-bin Moli yang selain muda dan cantik, juga memiliki kepandaian silat tinggi, karena dalam hal kepandaian silat, selain menerima pendidikan dari ayahnya, Pek Moko, ia juga menerima pendidikan dari supeknya, ialah Hek Moko yang lihai! Akan tetapi celakanya, Pek-bin Moli yang cantik jelita ini berotak miring! Gadis ini menjadi gila karena suatu penyakit panas hingga betapapun cantiknya, akhirnya Ong Hu Lin tidak tahan melihat keadaan isterinya dan menjadi jijik dan takut! Oleh karena ini, maka pada suatu hari Ong Hu Lin berhasil melarikan diri dan minggat dari isterinya yang gila ini hingga sampai di Bok-chiu dan bertemu dengan Giok-gan Kui-bo yang biarpun kecantikannya tidak melebihi Pek-bin Moli, akan tetapi sikapnya menarik hati dan tidak gila!

Suami yang meninggalkan isterinya ini sama sekali tak pernah mimpi bahwa pada saat itu, isterinya yang gila telah menyusulnya dan berhasil mengetahui tempat tinggalnya! Bahkan isteri yang gila akan tetapi mewarisi kecerdikan ayahnya ini telah mengetahui pula akan perhubungannya dengan Giok-gan Kui-bo! Kalau saja ia tahu, tentu ia akan lari pergi karena ia takut setengah mati kepada isterinya ini dan sudah maklum akan kepandaian isterinya yang lihai sekali.

Pada suatu malam, ketika Ong Hu Lin dengan enaknya tidur di dalam kamarnya, tahu-tahu jendela kamarnya terbuka dari luar dan suara yang sangat dikenal dan ditakutinya memanggilnya. Ong Hu Lin membuka matanya dan ia menggosok-gosok mata karena mengira bahwa ia sedang bermimpi. Ternyata bahwa sambil tersenyum-senyum manis tetapi dengan sepasang mata bersinar menakutkan, di depan pembaringannya telah berdiri Pek-bin Moli, isterinya yang berotak miring itu! Pek-bin Moli memakai baju kotak-kotak lucu sekali dan celananya berwarna kuning gading.

“Kau…?” Ong Hu Lin berseru.

“Hi-hi, kau sudah rindu kepadaku, suamiku yang manis?” Pek-bin Moli tertawa dan menghampiri hingga diam-diam Ong Hu Lin menggigil ketakutan. “Hayo kauberitahukan padaku di mana adanya sundal yang menjadi kekasihmu itu?”

“Sia… siapa… yang kau… kaumaksudkan…?” Ong Hu Lin bertanya gagap.

“Hi-hi, siapa lagi kalau bukan Giok-gan Kui-bo? Hayo kau lekas turun dan antar aku menemuinya. Atau haruskah aku menggunakan paksaan?” Biarpun suara isterinya terdengar merdu, akan tetapi sinar matanya mengeluarkan ancaman hebat hingga mau tidak mau Ong Hu Lin terpaksa menyanggupi. Ia dapat membujuk-bujuk isterinya yang gila itu untuk menanti sampai besok pagi, karena tidak mungkin malam-malam yang gelap itu mencari gua tempat Giok-gan Kui-bo. Karena Pek-bin Moli sangat mencinta suaminya, maka ia menurut dan malam itu Ong Hu Lin terpaksa menuturkan cerita bohong, dan mengatakan bahwa ia pergi karena hendak merantau dan meluaskan pengalaman.

Setelah malam berganti pagi, maka Ong Hu Lin terpaksa mengantarkan isterinya itu mengunjungi gua di mana Giokgan Kui-bo tinggal! Semua piauwsu di situ terheran-heran karena tidak tahu bilamana datangnya seorang wanita cantik yang bersikap dan berpakaian aneh itu dan tahu-tahu wanita itu telah keluar dari kamar bersama-sama Ong Hu Lin. Setelah Ong-piauwsu memberitahukan bahwa wanita itu adalah isterinya, semua orang terkejut sekali tak seorang pun berani banyak bertanya.

Kebetulan sekali pada hari itu juga Ang I Niocu tiba di Bok-chiu dan mendengar tentang perhubungan sucinya dengan Ong Hu Lin. Ia pergi menyelidik dan mendengar semua peristiwa mengenai diri Giok-gan Kui-bo yang sekarang kabarnya tinggal di dalam sebuah gua di gunung yang berada tak berapa jauh dari kota itu. Maka ia pun lalu menyusul ke sana!

Giok-gan Kui-bo sedang duduk seorang diri di dalam gua tempat tinggalnya, menanti mendidihnya air yang dimasak, ketika tiba-tiba tirai bambu yang dipasang di depan guanya itu terbuka. Seorang wanita muda yang cantik dan berpakaian aneh telah berada di depannya sambil tertawa ha-ha-hi-hi. Kim Lian memperhatikan wanita ini. Ternyata bahwa rambut wanita ini pun terurai ke belakang dan di atasnya diikat dengan pita hijau. Bajunya kotak-kotak hitam dan nampak lucu sekali.

“Siapa kau?” tanya Kim Lian tak acuh karena menyangka yang datang hanyalah seorang gadis dusun yang ingin menemuinya.

“Hi-hi-hi. Inikah Giok-gan Kui-bo? Inikah sundal tak tahu malu yang merampas suamiku? Ha, ha!”

“Kau… kau gila!” Kim Lian memaki marah sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Kau yang gila! Kau, bukan aku!” tiba-tiba wanita itu menuding dengan jari telunjuknya yang runcing. “Kau harus mampus!”

Setelah berkata demikian Pek-bin Moli menampar dengan tangannya ke arah pipi Lim Lian. Giok-gan Kui-bo marah sekali dan menggerakkan tangannya hendak menangkap tangan yang menampar itu, akan tetapi alangkah herannya ketika tangan yang menampar itu dapat berkelit dan melanjutkan tamparannya dari lain jurusan dan “plak!” pipinya kena tampar!

Bukan main marahnya Giok-gan Kuibo. Selama merantau di dunia kang-ouw belum pernah ada orang berani menghinanya, apalagi menamparnya!

“Anjing betina! Siapakah kau berani main gila di depanku?” bentaknya dengan dada turun naik karena marahnya.

“Hi, hi. Sakit ya?” kata Pek-bin Moli sambil tertawa. “Kau belum kenal aku? Kau belum pernah mendengar tentang Pek-bin Moli?”

Terkejutlah Giok-gan Kui-bo mendengar nama ini. “Kau yang disebut Pek-bin Moli? Jadi kau ini puteri Pek Moko? Mengapa kau datang-datang memaki dan menamparku?” tanyanya heran hingga untuk sesaat ia melupakan kemarahannya.

“Hi, hi, hi! Kau main gila dengan suamiku dan kau masih bertanya mengapa aku menamparmu? Ha, ha, suami orang tidak bisa dibagi-bagi!”

Giok-gan Kui-bo melirik keluar gua dan melihat bayangan Ong Hu Lin berdiri dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.

“Hm, jadi orang she Ong itu suamimu? Tetapi ia tidak pernah bilang bahwa ia suamimu.”

“Ha, ha, ha! Ia terlalu cinta padaku, mana ia mau mengobral namaku disebut-sebut kepada sembarang orang? Hi, hi, hi!”

“Pek-bin Moli! Kau sudah datang ke sini dan jangan kaukira aku Giok-gan Kui-bo takut kepadamu. Sekarang kau mau apa?”

“Eh, eh, kau mau melawan? Baik, kau mampuslah!” Setelah berkata demikian, Pek-bin Moli lalu menyerang dan keduanya lalu bertempur hebat di dalam gua yang sempit itu! Kalau Giok-gan Kui-bo lihai sekali gerakan tangannya yang seperti menari-nari dengan buasnya itu, adalah Pek-bin Moli yang bermuka putih halus itu luar biasa lihainya mempergunakan kedua kakinya! Harus diketahui bahwa di dalam sepatu, tepat di bawah telapak kakinya, tersembunyi besi baja yang menambah kelihaian tiap tendangan dan sepakan wanita ini. Selain itu, Pek-bin Moli memiliki ginkang luar biasa dan tubuhnya seakan-akan melayang-layang ke atas sambil mengirim tendangan bertubi-tubi bagaikan kedua kakinya tak pernah menyentuh tanah. Akan tetapi Giok-gan Kui-bo melawan dengan sungguh-sungguh. Pertempuran itu sungguh menarik dan hebat sekali. Tendangan dan pukulan sampai menimbulkan angin mendesir dan suaranya keluar dari gua itu membuat tirai bambu yang berada di luar bergoyang-goyang seakan-akan terhembus angin besar. Ong Hu Lin berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil.

Tiba-tiba dari jauh tampak oleh Ong Hu Lin setitik bayangan merah yang naik ke tempat itu dengan cepat sekali. Ia cepat menyelinap ke samping gua dan bersembunyi karena maklum bahwa yang datang itu tentu seorang yang berkepandaian tinggi. Setelah dekat, ia melihat bahwa yang datang itu adalah seorang wanita berbaju merah yang luar biasa cantiknya.

“Ong-piauwsu, kau keluarlah, tak usah bersembunyi karena aku sudah melihatmu!”

Kaget sekali Ong Hu Lin mendengar ini dan dengan muka makin pucat ia keluar dari tempat persembunyiannya. “Dimana adanya Giok-gan Kui-bo?” Ang I Niocu dengan suara keren. Ong Hu Lin makin heran. Siapakah wanita ini yang agaknya memiliki kepandaian hebat dan yang datang-datang menanyakan Giok-gan Kui-bo?”

“Kau siapakah?” Ia memberanikan diri bertanya.

“Tak usah kau tahu. Lekas katakan di mana adanya Giok-gan Kui-bo!” Ang I Niocu membentak marah hingga Ong Hu Lin merasa takut. “Dia… dia sedang bertempur melawan isteriku… ”

“Isterimu? Siapakah dia?”

“Pek-bin Moli…”

Mendengar nama ini, Ang I Niocu memandang ke arah tirai bambu yang tergantung di depan gua yang kini bergoyang-goyang karena sambaran angin pukulan dari dalam gua. Ia segera melompat dan menggunakan tangan kiri menyingkap tirai itu.

Pada saat itu, dengan Ilmu Tendangan Siauw-ci-twi, Pek-bin Moli sedang mendesak hebat kepada Giok-gan Kui-bo yang berkelit ke sana ke mari mengelak tendangan maut yang datang bertubi-tubi itu. Tepat pada saat Ang I Niocu membuka tirai memandang, sebuah tendangan kaki kiri telah melanggar pundak kiri Giok-gan Kuibo yang mengeluarklan seruan tertahan dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Pek-bin Moli mengejar hendak mengirim tendangan maut, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu tendangannya itu tertangkis oleh sebuah lengan tangan yang kuat sekali. Pek-bin Moli kaget dan melompat mundur sambil memandang Dara Baju Merah yang menghalang-halangi serangannya tadi.

“Pek-bin Moli, harap kau suka bersabar dan tenang sedikit. Maafkanlah Suciku kalau ia bersalah. Kesalahannya tidak sangat besar hingga kau tak perlu menjatuhkan tangan maut!”

“Siapa kau?” tanya Pek-bin Moli dengan mata berputar-putar hebat.

“Aku Sumoinya.”

Setelah memutar otaknya dan melihat pakaian itu, agaknya Pek-bin Moli teringat. “Hi, hi, kau tentu Ang I Niocu bukan? Kau memang cantik jelita!”

“Pek-bin Moli,” kata Ang I Niocu yang maklum bahwa wanita di depannya itu memang berotak miring maka percuma saja diajak bicara panjang lebar “sekarang aku putuskan. Kau pergi dari sini membawa suamimu sebelum ia lari lagi, atau kaubiarkan suamimu lari pergi dan kau bertempur melawan aku?”

Kedua mata Pek-bin Moli terbelalak “Apa? Suamiku lari pergi lagi? Mana dia…? He, Ong Hu Lin…! Tunggu…!” Dan wanita gila ini berlari keluar sambil berteriak-teriak memanggil nama suaminya. Setelah bertemu di luar, ia lalu menggandeng tangan suaminya itu dan diajak pulang. Ong Hu Lin hanya menurut saja seperti seekor kerbau ditarik tali hidungnya.

Ang I Niocu menghampiri Giok-gan Kui-bo yang merintih-rintih. Luka di pundaknya walaupun tidak membahayakan jiwanya, tetapi terasa sakit sekali.

“Suci, telah dua tahun aku mencari-carimu di mana-mana. Tidak tahunya di sini kau memperebutkan seorang laki-laki dengan wanita gila itu!”

Mendengar kata-kata keras ini, Giok-gan Kui-bo tidak menjawab hanya menundukkan kepala. Ang I Niocu menghela napas, karena tahu bahwa jika berhadapan dengannya, Kim Lian selalu memperlihatkan sikap lemah dan mengalah. Ia maklum bahwa sucinya ini mempunyai kebiasaan buruk dan genit hingga banyak orang kang-ouw menganggap ia sebagai perempuan lacur, akan tetapi sebenarnya, di dalam hati ia tak begitu jahat.

“Suci, kalau saja kau berada di pihak benar, belum tentu kau kalah oleh wanita gila itu. Akan tetapi kau telah berlaku sesat dan membiarkan dirimu dengan mudah saja tergoda oleh laki-laki, maka sedikit luka itu anggaplah saja sebagai hukuman. Aku datang atas perintah Susiok-couw!”

Mendengar disebutnya susiok-couw terkejutlah Giok-gan Kui-bo hingga wajahnya berubah pucat.

“Tidak, jangan kau takut. Susiok-couw belum menjatuhkan putusan pendek dan tegas. Akan tetapi beliau minta supaya aku memberi peringatan kepadamu. Kau telah berkali-kali melanggar pantangan sebagai orang gagah dan melakukan perbuatan-perbuatan rendah. Kau mencuri, merampok, menculik pemuda-pemuda dan kau mencemarkan nama perguruan kita. Sekarang jawablah, bagaimana pikiranmu?”

Dengan muka masih tunduk Giok-gan Kui-bo menjawab, “Im Giok, memang aku telah bersalah… tetapi apa dayaku? Aku sebatangkara, hidupku merana menderita. Kalau aku tidak mencari kesenangan sendiri, siapakah yang dapat memberi kesenangan kepadaku? Apakah aku harus melewatkan hidupku dalam kesunyian dan mati dengan hati menderita?”

Ang I Niocu merasa terharu mendengar ini, akan tetapi ia mengeraskan suaranya ketika berkata dengan tegas, “Suci, kau juga tahu bahwa di dunia ini ada dua macam kesenangan. Kesenangan yang buruk dan jahat dan ada pula kesenangan yang baik, bersih. Mengapa kau menurutkan nafsu hatimu yang jahat? Apakah kau tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengekang nafsu jahatmu dan apakah kau tidak memiliki lagi kebersihan batin seorang wanita yang sopan dan menjunjung tinggi kesusilaan?”

“Sudahlah, sudahlah…” tiba-tiba Giok-gan Kui-bo menjatuhkan diri sambil menangis. “Kau mana tahu tentang kasih sayang, mana tahu tentang cinta! Selama hidupmu agaknya kau tidak pernah menderita dan merasa bagaimana celakanya hati yang tergoda rasa rindu. Agaknya hatimu terbuat daripada batu!” Kim Lian memandang sumoinya dengan mata basah. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kata-katanya itu bagaikan mata pedang tajam menusuk uluhati Im Giok hingga Ang I Niocu menundukkan kepala dengan wajah pucat. Dara Baju Merah ini teringat akan perasaan hatinya terhadap Cin Hai! Ah, Suci, kalau saja kau tahu betapa berat rasa hatiku karena pemuda itu, pikirnya.

“Im Giok, aku memang telah bersalah. Beritahukan saja kepada Susiok-couw bahwa semenjak hari ini aku Kim Lian akan mencukur rambut dan menjadi nikouw (pendeta wanita) dan bertapa di gua ini. Aku takkan mencampuri urusan dunia lagi dan hanya ingin bertapa menebus dosa!”

Ang I Niocu tidak tahan lagi menahan keharuan hatinya. Ia maju menubruk dan memeluk sucinya dan mereka berdua sama-sama menangis. Ang I Niocu merasa girang mendengar akan keinsyafan sucinya ini, akan tetapi kata-kata Ki Lian tadi benar-benar menusuk hatinya.

“Im Giok, mudah-mudahan kau takkan sampai tersesat seperti aku,” kata Kim Lian sambil mengusap-usap rambut sumoinya yang halus.

“Suci… aku pun hanya seorang manusia biasa saja yang tidak terbebas dari kesesatan…”

Giok-gan Kui-bo dapat menetapkan hatinya yang terharu, lalu dengan tiba-tiba ia mencabut pedang yang tergantung di punggung Ang I Niocu. Gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu rambutnya yang panjang hitam dan tergantung riap-riapan di punggungnya itu telah dipotongnya! Ang I Niocu hanya dapat memandang dengan hati terharu sekali. Setelah kedua kakak beradik seperguruan itu bercakap-cakap melepaskan rindu, Ang I Niocu lalu meninggalkan Kim Lan.

Dara Baju Merah ini berjalan secepatnya karena ia ingin segera sampai di Gua Tengkorak dan memberi laporan kepada Bu Pun Su tentang tugas yang telah diselesaikannya itu. Padahal sebetulnya karena ingin segera bertemu dengan Cin Hai, maka ia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa itu!

Ketika dengan hati berdebar-debar Ang I Niocu memasuki Gua Tengkorak itu, ia melihat Bu Pun Su duduk bersila menghadapi hiolouw yang mengepulkan asap putih. Ia tidak melihat Cin Hai di situ dan diam-diam ia merasa kecewa dan kuatir.

Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

“Susiok-couw, teecu datang menghadap.”

“Bagus, Im Giok, kau telah kembali. Bagaimana dengan usahamu mencari Kim Lian?”

Dengan panjang lebar Ang I Niocu menceritakan pengalamannya dan ketika ia menceritakan keputusan sucinya yang nekad dan mencukur rambut untuk masuk menjadi nikouw, tak tertahan pula ia mengucurkan air mata.

Bu Pun Su mengangguk-angguk dan menghela napas.

“Baik juga keputusannya itu. Betapapun dosa seseorang, asal dia dapat insyaf dan kembali ke jalan benar untuk selanjutnya menebus kekeliruan yang sudah-sudah dengan tindakan-tindakan sempurna, maka ia boleh disebut seorang bijaksana.” Kemudian, setelah berdiam untuk beberapa lama sambil memandang wajah gadis yang tunduk itu dengan tajam, tiba-tiba Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh,

“Im Giok, kalau aku tidak salah sangka, luka di hatimu akibat gagalnya perjodohanmu dengan pemuda pilihanmu dulu agaknya sekarang telah sembuh dan kulihat kegembiraan hidupmu telah kembali. Anak, bagi seorang wanita, mendirikan rumah tangga yang baik dan penuh damai adalah jalan yang terutama untuk membebaskan diri dari pada godaan dunia dan untuk memenuhi tugas kewajiban sebagai seorang manusia. Lihatlah contohnya Sucimu itu, karena ia sebagai seorang gadis hidup seorang diri dan tidak mendirikan rumah tangga, maka banyak penggoda menyesatkan jalan hidupnya. Aku maklum bahwa kau mempunyai iman yang kuat dan batin yang bersih, akan tetapi, apa perlunya menyiksa diri dengan hidup menyendiri? Kau tidak mempunyai jodoh untuk menjadi seorang pendeta wanita yang takkan kawin selama hidupnya!”

Ang I Niocu mendengarkan kata-kata orang tua itu dengan hati berdebar, karena kata-kata itu memang tepat dan seakan-akan susiok-couwnya dapat membaca isi hatinya. Akan tetapi karena merasa malu, ia tidak berani mengangkat muka dan tetap bertunduk.

“Im Giok, baiklah kita berterus terang saja. Kau perlu mendapat seorang suami yang baik sekali, dan aku telah melihat seorang pria yang agaknya akan cocok untuk menjadi kawan hidupmu selamanya.”

Tiba-tiba wajah Ang I Niocu memerah dan hatinya makin berdebar. Timbul harapan yang diliputi kekuatiran di dalam hatinya. Siapakah orang laki-laki yang dimaksudkan oleh susioknya ini? Apakah Cin Hai?? Ia tak berani bertanya dan masih tetap tunduk.

“Kalau kau setuju, aku bersedia menjadi perantara, Im Giok. Biarlah aku akhiri masa hidupku untuk menjadi seorang comblang yang menghubungkan dua orang manusia sehingga menjadi suami isteri yang hidup rukun dan penuh kebahagiaan.”

Terpaksa Ang I Niocu menjawab dengan suara hampir tak terdengar,

“Susiok-couw, bagaimana teecu dapat menjawab kalau teecu tidak tahu siapa… orang yang dimaksudkan itu?”

“Ha-ha, Im Giok. Bukan orang yang tidak kaukenal, bahkan hubunganmu dengan dia akrab sekali!”

Makin berdebarlah hati Im Giok dan ia mendengar dengan penuh perhatian.

“Orang itu bukan lain ialah Kang Ek Sian! Aku telah tahu benar-benar akan perhubunganmu dengan dia dan telah kuketahui bahwa ia benar seorang baik dan patut dipuji. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Im Giok?”

Bukan main kecewa rasa hati Ang I Niocu.

“Maaf, Susiok-couw, teecu… tidak… belum ingin mengikat diri dengan perjodohan!”

“Im Giok, jawabanmu ini sama artinya dengan penolakan! Katakanlah! Apakah Kang Ek Sian bukan seorang laki-laki yang baik?”

“Dia memang seorang baik, Susiok-couw, akan tetapi… bagaimana teecu dapat menjadi isteri seorang yang tidak… teecu cinta… ?”

“Aha, anak muda sekarang!” Bu Pun Su berseru. “Cinta membutakan mata, anak. Bukti-bukti telah menyatakan bahwa kerukunan dan saling mengerti dapat mendatangkan rasa cinta yang jauh lebih sempurna daripada cinta muda yang hanya terdorong oleh nafsu semata! Aku maklum bahwa kau telah tertarik hatimu oleh Cin Hai. Betulkah?”

Bukan main terkejutnya hati Ang I Niocu mendengar ini. Bagaimana kakek ini dapat mengetahui segalanya? Dapat mengetahui tentang segala persoalannya dengan Kang Ek Sian dan dapat tahu pula rahasia hatinya terhadap Cin Hai? Ia tak berani mengangkat muka dan hanya tunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

“Im Giok, kau telah mendekati jurang yang curam dan berbahaya! Kau boleh menaruh hati sayang kepada Cin Hai, akan tetapi bukan kasih sayang seorang wanita terhadap laki-laki. Seharusnya kasih sayangmu itu kaudasarkan atas rasa kasihan dan kecocokan tabiat. Ingatlah, berapa usiamu sekarang, dan berapa usia Cin Hai? Harus kuakui bahwa kau memang masih nampak muda sekali berkat telur burung rajawali putih dan berkat kecantikanmu, akan tetapi lewat sepuluh tahun lagi saja, kau akan menjadi tua dan Cin Hai masih tetap muda. Apakah hal ini tidak akan mendatangkan kepincangan sehingga akan merupakan gangguan hebat terhadap kebahagiaanmu? Pikirlah masak-masak dan sekarang pergilah!”

Mendengar kata-kata yang terus terang dan menusuk-nusuk hatinya ini, Ang I Niocu menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya berguncang-guncang. Ia tidak melihat betapa Bu Pun Su memandangnya dengan sinar mata penuh iba hati.

“Im Giok, kelak kau akan ingat bahwa aku memberi semua nasihat ini semata-mata untuk kebaikanmu sendiri dan kau akan mendapat kenyataan bahwa semua kata-kataku benar belaka. Sekarang gunakanlah imanmu dan kuasailah hatimu kembali. Kau boleh pergi dan apa pun yang menjadi keputusanmu aku tidak melarang. Aku takkan mencampuri urusan orang muda, tetapi sewaktu-waktu kalau kau setuju dengan usulku tadi, kau boleh mencariku.”

Ang I Niocu lalu menghaturkan terima kasih dan mengundurkan diri lalu keluar dari gua itu diikuti pandangan mata Bu Pun Su yang menggeleng-gelengkan kepala, karena kakek ini diam-diam merasa kasihan sekali.

“Nafsu, nafsu… kau memang kejam dan suka mempermainkan hati orang muda!” katanya perlahan kepada asap putih yang mengepul di depannya.

Setelah keluar dari gua itu, diam-diam Ang I Niocu mengingat-ingat segala ucapan Bu Pun Su dan setelah berada di tempat terbuka hingga hawa sejuk mendinginkan kepalanya, ia merasa betapa tepat dan betulnya nasihat kakek itu. Biarpun ia tidak diberi tahu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa Cin Hai tentu telah turun gunung. Tentu saja ia tidak berani bertanya kepada Bu Pun Su tentang anak muda itu, setelah Bu Pun Su secara tepat dapat membongkar rahasia hatinya terhadap Cin Hai.

Ang I Niocu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Cin Hai baru beberapa hari yang lalu meninggalkan Gua Tengkorak itu. Ia hanya menyangka bahwa pemuda itu tentu kembali ke rumah bibinya, yaitu di Tiang-an, karena pemuda itu pernah menceritakan riwayatnya kepadanya. Oleh karena ini, secepatnya ia menuju ke Tiang-an untuk menyusul Cin Hai. Betapapun juga ia harus bertemu dengan pemuda itu, karena ia tak dapat menahan rindu hatinya lagi.

Setelah mencari Ang I Niocu di Liok-bin-si dengan sia-sia, Cin Hai lalu kembali ke Sam-hwa-bun untuk mengunjungi rumah keluarga Kwee In Liang.

Dan sebuah hal yang tak terduga-duga terjadi! Ketika ia tiba di sebuah kaki gunung di jalan yang sunyi senyap, tiba-tiba ia melihat titik merah mendatangi dengan sangat cepat dari depan! Hatinya berdebar girang karena hanya seorang manusia berpakaian merah di dunia ini yang dapat bergerak seperti itu! Ia segera mengendurkan tindakan kakinya karena ia tidak mau memperlihatkan kepada Ang I Niocu bahwa ia sekarang telah memiliki ilmu gin-kang yang hebat.

Benar saja dugaannya, tak lama kemudian Ang I Niocu tiba di hadapannya. Ang I Niocu tiba-tiba berhenti bagaikan ditahan oleh tenaga raksasa ketika ia melihat pemuda yang berdiri memandangnya dengan wajah berseri-seri itu! Ia hampir pangling melihat Cin Hai dan tak pernah disangkanya bahwa waktu yang tiga tahun lamanya itu telah mengubah Cin Hai dari seorang kanak-kanak menjadi seorang pemuda yang cakap dan tegap!

“Kau… kau… Hai-ji…?” bisiknya.

“Niocu!” Cin Hai tertawa lebar, dan maju memegang tangan Ang I Niocu. Kegirangan besar membuat ia lupa akan kesopanan dan ia memegang tangan Dara Baju Merah itu dengan erat bagaikan bertemu dengan seorang yang telah lama dirindukannya. Sebenarnya perasaan Cin Hai ketika itu terhadap Ang I Niocu hanyalah perasaan kasih sayang terhadap orang yang dianggapnya paling baik di dunia ini. Akan tetapi sikapnya telah dipandang salah oleh gadis itu. Ang I Niocu mengira bahwa Cin Hai mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya, maka kalau tadinya ia merasa ragu-ragu dan selalu kata-kata Bu Pun Su bergema di dalam telinganya hingga ia tidak ingin memperlihatkan kesukaan hatinya karena pertemuan ini, maka sekarang hatinya meluap-luap karena girangnya. Ia balas memegang lengan tangan Cin Hai yang kuat itu dan berkali-kali berbisik,

“Hai-ji… Hai-ji…”

Mereka lalu pergi duduk di pinggir jalan sambil saling pandang dengan mesra.

“Hai-ji, kau telah tiga tahun belajar kepandaian dari Susiok-couw, tentu sekarang telah memiliki kepandaian tinggi.”

“Ah, Niocu, kepandaian apakah yang dapat kupelajari dengan baik? Suhu hanya memberi pelajaran menari!” Sambil berkata demikian, Cin Hai mencabut sebatang suling dari pinggangnya dan mengangkat suling itu tinggi-tinggi sambil tertawa. Ang I Niocu juga tertawa girang.

“Kalau begitu, tentu kau sekarang telah dapat menarikan Tari Bidadari?” tanyanya sambil memandang muka yang tampan dengan hiasan rambut yang hitam bagus.

“Barang kali saja dapat. Aku pun telah lama ingin sekali melihat kau menari, Niocu. Bagaimana kalau kita menari bersama-sama? Aku akan mencoba mengikuti gerakanmu.”

Dengan girang sekali Ang I Nioct berdiri, diikuti oleh Cin Hai yang segera meniup sulingnya. Memang pemuda ini selama belajar silat pada Bu Pun Su, tak pernah lupa untuk meniup sulingnya yang menjadi kesukaannya. Bahkan gurunya sendiri suka sekali mendengar tiupan sulingnya yang merdu.

Maka terdengar tiupan suling yang indah dan merdu di kaki gunung itu. Ang I Niocu lalu menari dengan gerakan yang indah dan gemulai dan Cin Hai yang sudah mempelajari pokok-pokok segala silat, sekali lihat saja dengan mudah dapat mengimbangi tarian itu! Memang Tarian Bidadari bukanlah sembarang tarian dan pada hakekatnya adalah sebuah ilmu silat yang lihai.

Sepasang pemuda-pemudi itu menari dengan indahnya di tempat yang sunyi itu, gerakan kaki mereka cocok sekali bagaikan memang diatur sebelumnya, hanya kalau sepasang lengan tangan Ang I Niocu bergerak dengan lincah indah, maka kedua tangan Cin Hai tidak digerakkan karena ia menggunakan untuk memegang suling yang ditiupnya untuk mengiringi tarian itu.

Bukan main senangnya hati Ang I Niocu dan ia juga merasa kagum sekali karena gerakan kaki Cin Hai sungguh tepat dan tidak ada salahnya. Gadis ini merasa sangat bahagia dan gembira hatinya hingga ia menari-nari sambil tertawa-tawa girang dan memandang wajah Cin Hai dengan sinar mata penuh rasa cinta! Sebaliknya, Cin Hai juga gembira, akan tetapi ia menari dengan tenang dan wajahnya yang tampan itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, hanya girang dan gembira.

Setelah selesai menari, mereka kembali duduk di atas batu di pinggir jalan.

“Hai-ji, kau hebat sekali! Dalam tiga tahun saja kau telah dapat meniru Tarian Bidadari demikian sempurnanya! Kau tentu telah mempelajari ilmu silat yang tinggi sekali dari Susiok-couw! Coba kauperlihatkan pelajaran ilmu silatmu itu untuk kukagumi.”

“Sesungguhnya, Niocu. Aku tidak mempelajari apa-apa, hanya tarian-tarian itu saja. Bahkan tarian itu pun baru dapat kulakukan jika kau menari bersamaku, kalau aku disuruh menari seorang diri aku takkan sanggup melakukannya.”

Ang I Niocu memandang heran, akan tetapi ia percaya bahwa Cin Hai tidak berbohong. Ia hanya menyangka bahwa pemuda ini memang agak bodoh hingga susiok-couwnya tidak memberi pelajaran lain ilmu silat yang tinggi.

“Biarlah, kau jangan kecewa, Hai-ji. Mulai sekarang, aku akan memberi pelajaran silat kepadamu!”

“Terima kasih, Niocu kau memang baik sekali.”

“Sekarang, kau hendak ke mana, Hai-ji? Apakah kau telah bertemu dengan Bibimu dan keluarga Kwee?”

“Aku sudah bertemu dengan Ie-thio, akan tetapi belum bertemu dengan Ie-ie. Sebetulnya aku pun sedang menuju ke sana untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Ie-thio.” Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan pertemuannya dengan Kwee In Liang.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: