Pendekar Buta ~ Jilid 1

Pendekar Buta

(lanjutan Rajawali Emas)

by Kho Ping Hoo


Puncak Lao-san menjulang tinggi di antara pegunungan di Propinsi Santung yang kecil-kecil, biarpun sebenarnya Lao-san hanya 1100 meter tingginya, pemandangan alam dari puncak ini amat indahnya. Memandang ke sebelah timur tampak Laut Kuning yang luas, ke sebelah utara Selat Pohai, ke sebelah barat Pegunungan Santung dengan puncak Thai-san tampak gagah menjulang tinggi, kemudian ke sebelah selatan tampak sawah ladang dan perkampungan yang subur.

Hari masih pagi benar, namun sepagi itu sudah ada, seorang manusia duduk di atas batu gunung di puncak Lao-san. Angin dari Laut Kuning menambah hawa gunung menjadi makin dingin sejuk, memecahkan kulit muka dan menusuk-nusuk tulang. Namun orang yang duduk di atas batu itu seakan-akan tidak merasakan ini semua. Tentu orang akan mengira dia telah membeku atau membatu, kalau saja mulutnya tidak terdengar bersajak dengan suara nyaring, jelas dan bersemangat.

“Wahai kasih, aku di sini! Di puncak Lao-san menjulang tinggi Menjadi raja sunyi di angkasa raya, Naga-naga awan muncul dari laut di bawah kaki Terbang melayang menuju kemari Bersujud di sekelilingku meniupkan angin sejuk, Kasih, aku menanti kehadiranmu memberi cahaya dan kehangatan pada jiwa ragaku Wahai kasih, aku di sini!”

Agaknya orang ini merasa gembira dengan sajak yang dikarangnya sambil duduk itu. Diulangnya sajak ini, malah kemudian dinyanyikannya dengan suara nyaring. Tangan kanannya memukul-mukulkan tongkat ke batu yang menimbulkan bunyi “tok-tak-tok-tak” berirama, mengiringi suara nyanyiannya. Suaranya yang nyaring bergema di puncak, terbawa angin dan kadang-kadang terdengar bergetar penuh perasaan, terutama di bagian “……..,. kasih, aku di sini ………..”

Kadang-kadang tangan kirinya meraba-raba ke atas tanah di mana terdapat dua macam bungkusan, agaknya dia khawatir kalau-kalau angin yang keras akan menerbangkan dua bungkusan pakaian dan obat-obatan itu. Melihat cara ia meraba-raba, mudah diduga bahwa orang ini adalah seorang buta. Memang sebenarnyalah. Dia seorang buta, masih muda benar, baru dua puluh tahun lebih, takkan lewat dari dua puluh lima tahun umurnya. Sesungguhnya amat tampan wajahnya, kulit mukanya putih bersih dengan dahi lebar, daun telinga panjang, hidung mancung dan mulut yang manis bentuknya. Alisnya yang hitam berbentuk golok melindungi sepasang mata yang selalu dimeramkan, mata yang sudah tidak ada bijinya sehingga kelihatan pelupuknya mencekung, mendatangkan keharuan bagi yang melihatnya. Rambutnya yang hitam digelung ke atas dan dibungkus kain kepala hijau. Pakaiannya sederhana, baju berlengan panjang dan lebar berwarna kuning kemerahan, celana berwarna kuning dan biarpun pakaian ini terbuat dari bahan yang kasar, namun amat bersih.

“Wahai kasih, aku di sini ………..!” Si buta ini bangkit berdiri dan mengembangkan kedua lengannya, seakan-akan hendak menyambut atau memeluk kedatangan kekasihnya. Namun tidak ada kekasihnya itu, yang ada hanya sinar matahari pagi yang mulai menyembul ke luar dari permukaan Laut Kuning.

“Kasihku ……….. matahariku ……….. dengan kehadiranmu di sampingku ………. aku sanggup bertahan seribu tahun lagi……..”

Si buta ini tersenyum-senyum dan wajah itu menjadi makin tampan, akan tetapi juga makin mengharukan. Ia benar-benar kelihatan gembira sekali. Setelah “menyambut kekasihnya” yang agaknya sinar matahari itulah, si buta lalu duduk kembali, membuka bungkusan pakaiannya, mengeluarkan sepotong roti kering dan mulailah dia sarapan dengan enaknya.

Agaknya dia tidak tahu bahwa sudah semenjak tadi, kurang lebih seratus meter di sebelah belakangnya, berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam. Laki-laki ini usianya empat puluhan, berkumis panjang tanpa jenggot, pakaiannya serba hitam dan gerak-geriknya kasar, di pinggangnya tergantung sebatang golok telanjang dan di punggungnya sebuah bungkusan kain kuning. Setelah memperhatikan beberapa lama kepada si buta dan melihat si buta mulai sarapan pagi, laki-laki tinggi besar ini mengomel.

“Sialan! Sekali mendapat mangsa, seorang buta gila!” Ia terbatuk-batuk beberapa kali. Angin sejuk itu agaknya amat mengganggu pernapasannya. Namun dia tidak menghentikan langkahnya mendekati si buta yang sedang makan. Setelah tiba di belakang si buta dalam jarak satu meter, dia berhenti dan membentak.

”He, buta gila! Apa isi kedua bungkusanmu itu?” Orang muda buta itu memutar diri, masih duduk dan cepat-cepat menjawab dengan suara ramah. “Wah, ada teman! Bagus, mari silakan duduk, sahabat. Rotiku masih banyak, mari kita sarapan bersama.” Tangannya meraba-raba, mengeluarkan sepotong besar roti kering dari bungkusannya dan dengan wajah tersenyum serta pelupuk mata cekung itu bergerak pula, dia mengangsurkan roti itu kepada si muka hitam.

Si muka hitam dengan geram menggerakkan kaki dan roti di tangan si buta itu terlempar jauh, menggelinding dan lenyap ke dalam jurang.

“Siapa sudi roti busukmu?” Orang muda buta itu menyeringai, tapi menghela napas panjang dan suaranya tetap halus ketika dia berkata, “Sahabat, kiranya kau tidak lapar. Heran sekali ada orang menolak makan di saat cahaya kehidupan mulai menerangi bumi. Semua mahluk sibuk mencari makan, jangan-jangan kau sakit ………..”

“Cerewet! Berikan bungkusan pakaianmu kepadaku!” bentak si muka hitam.

“Oooh, jadi pakaiankah yang kau butuhkan?” si buta mengangguk-angguk dan tangannya diulur ke depan, meraba ujung baju si muka hitam. “Hemm, pakaianmu masih baik tapi amat kotor. Boleh, boleh, biarlah kuberi satu stel kepadamu, aku masih mempunyai tiga stel dalam bungkusan ini ………..”
“Buta gila, serahkan semua pakaianmu kepadaku!” dengus si muka hitam yang disusul oleh suara batuk-batuk. “Semua milikmu harus kau serahkan kepadaku kalau kau ingin hidup.”

Si buta menggeleng-geleng kepala, menarik napas panjang. ”Aihh, kiranya kau benar-benar sakit! Dua macam penyakit mencengkerammu, sahabat. Yang satu adalah penyakit akibat luka dalam di tubuhmu, di dalam tubuhmu sudah kemasukan hawa beracun yang menimbulkan rasa gatal pada kerongkonganmu dan sewaktu-waktu, apalagi kalau kau marah-marah seperti sekarang ini, timbul rasa sesak di dalam dada sebelah kanan. Penyakit pertama ini tidak hebat, paling-paling merenggut nyawa dari tubuh, akan tetapi penyakitmu yang ke dua lebih payah lagi karena merupakan penyakit jiwa yang membuat kau tidak menaruh kasihan kepada orang lain, membuat kau kejam dan suka mempergunakan kekerasan untuk mengganggu orang lain.”

“Tutup mulutmu dan serahkan bungkusan-bungkusan itu!” Si muka hitam bergerak maju dan menyambar bungkusan pakaian. Akan tetapi dia tidak berhasil merampas bungkusan obat yang dipeluk erat-erat oleh si buta.

“Ambillah………..! Ambillah bungkusan pakaianku. Aku tidak gila pakaian seperti engkau. Tapi bungkusan obat ini tak boleh kau ambil, aku sendiri tidak membutuhkan, akan tetapi orang-orang lain yang sakit akan membutuhkannya.”

Ia sudah berdiri sekarang, bungkusan obat itu dia sampirkan di pundak, tongkat dipegang di tangan kiri. Si muka hitam ragu-ragu, tidak jadi merampas bungkusan obat, tapi juga tidak segera pergi dari situ. Dia memandang tajam lalu, bertanya dengan suara kasar, “Heh, buta, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku menderita luka dalam?”

Orang muda buta itu tersenyum lebar. Deretan giginya yang sehat kuat mengkilap terkena cahaya matahari pagi, putih seperti deretan mutiara.

“Aku si buta ini tukang obat, kau tahu? Tentu saja aku dapat mengetahui keadaanmu karena kau terbatuk-batuk tadi. Sahabat, maukah kau kuobati?” Si muka hitam melengak, memandang penuh selidik. Mana dia bisa percaya? Baru saja dia merampas pakaian orang ini, mungkinkah dia mau mengobatinya? “Tidak sudi Kau kira aku begitu bodoh?” jawabnya sambil tertawa mengejek. “Kau berpura-pura hendak mengobati, padahal kau tentu akan memberi racun untuk membunuhku, membalas dendam karena pakaianmu kurampas. Ha-ha-ha, jangan kaukira aku tolol. Aku adalah Hek-twa-to (Si Hitam Bergolok Besar), mana bisa kau akali begitu saja? Bukan aku yang akan mati karena kau racuni, melainkan kau yang akan mampus di tanganku. Kau tahu aku terluka, tentu kau anak buah si tua bangka Bhe jahanam!” Setelah berkata demikian si muka hitam melangkah maju dan tangan kanannya menghantam ke arah orang muda buta itu. Hebat pukulannya, keras sekali sampai mendatangkan sambaran angin! Agaknya dengan sekali pukulan ini si muka hitam yang berjuluk Hek-twa-to itu bermaksud untuk membikin remuk kepala si buta.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba lengan kanannya terbentur dengan sesuatu yang keras dan membuat tangannya lumpuh, kemudian dia merasa dadanya diraba orang, membuat napasnya sesak dan dia terhuyung-huyung mundur. Dia terheran-heran melihat si buta itu masih berdiri tersenyum-senyum seperti tadi. Sama sekali dia tidak melihat si buta ini tadi bergerak. Akan tetapi siapakah tadi yang menangkis pukulannya dan siapa pula yang meraba-raba ke arah dadanya?

Ia merasa jerih, mengira bahwa tentu ada orang sakti membantu si buta ini, atau jangan-jangan si tua bangka Bhe sendiri yang berada di sini? Punggungnya terasa dingin dan seram. Cepat dicabutnya golok besarnya. Betapapun juga kalau benar-benar orang she Bhe itu muncul, dia hendak melawan mati-matian. Dengan garang goloknya dia gerak-gerakkan ke kanan kiri sampai terlihat cahaya kilat menyambar-nyambar ketika golok itu tertimpa sinar matahari. Mendadak si buta tertawa dan berkata.

“Sahabat tinggi besar, untung kau bahwa luka dalam di tubuhmu sudah lenyap sekarang………..” dan orang buta itu membalikkan tubuh, duduk di atas batu tadi dan tidak memperdulikan pemegang golok yang masih menggerak-gerakkan goloknya.

Hek-twa-to makin curiga. Jelas bahwa tidak ada orang lain di situ. Selihai-lihainya si tua Bhe, kalau dia berada di situ tentu akan nampak olehnya. Habis siapa yang melawannya tadi? Si buta inikah? Tak mungkin! Perlahan-lahan dia menghampiri. Sekali bacok akan mampuslah si buta. Sudah banyak dia membunuh orang, baik bersebab maupun tidak. Saat itu dia sedang mengkal hati, dikalahkan orang dan terluka hebat. Si buta ini tahu dia terluka, memalukan saja, maka harus dibunuh.

Goloknya bergerak cepat ke leher orang. Dia melihat kilat dari angkasa menyambar-nyambar dua kali, merasa betapa tangan kanannya tergetar, ada tenaga aneh mendorongnya ke belakang sampai lima tindak, wajahnya pucat sekali. Golok itu tinggal gagangnya saja dan di bawah kakinya kelihatan dua buah potongan golok! Adapun si buta tadi masih saja duduk diatas batu memegangi tongkat yang kini dipukul-pukulkan ke atas batu sambil bernyanyi,

“Wahai kasih, aku di sini ………..” Hek-twa-to menggigil, lalu membuang gagang goloknya dan larilah dia menuruni puncak, tak lupa membawa serta bungkusan pakaian yang dirampasnya tadi. Dia melarikan diri seperti dikejar iblis gunung! Dari jauh dia masih mendengar suara si buta bernyanyi-nyanyi dan suara nyanyian ini baginya amat menyeramkan, seakan-akan mengejar, membuat dia memperhebat tenaganya untuk lari.

***

Hari telah siang ketika serombongan orang tergesa-gesa mendaki puncak Lao-san. Lima belas orang ini adalah laki-laki semua, rata-rata bertubuh tegap kuat dengan gerak-gerik yang kasar. Melihat cara mereka mendaki puncak yang amat sukar dilalui itu secara cepat dan cekatan, dapat diduga. bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perjalanan di gunung-gunung serta memiliki tubuh yang kuat.
Apalagi melihat betapa setiap orang membawa senjata tajam, tergantung di punggung atau di pinggang, Yang berjalan paling depan adalah si muka hitam tinggi besar yang pagi hari tadi bertemu dengan orang muda buta di puncak itu, ialah Hek-twa-to, Si Golok Besar Muka Hitam. Setelah tiba di puncak, di mana si buta tadi duduk bernyanyi, hiruk-pikuklah suara mereka.

“Mana dia si buta, Twako?” bertubi-tubi pertanyaan ini menyerang Hek-twa-to yang menjadi sibuk juga. Bisa celaka dia kalau tidak dapat menemukan orang muda buta tadi. Seperti telah kita ketahui, Hek-twa-to ini tadi lari tunggang-langgang ketakutan setelah dua kali menyerang si buta dia roboh secara aneh.

Dengan napas terengah-engah, dia memasuki hutan di pegunungan sebelah barat di mana kawan-kawannya berada, kemudian dengan hati masih merasa seram dia menceritakan semua pengalamannya. Hek-twa-to ini adalah seorang di antara anak buah atau anggauta perkumpulan Hui-houw-pang (Perkumpulan Harimau Terbang), sebuah perkumpulan golongan hitam (penjahat) yang terdiri khusus para perampok-perampok di Santung. Hui-houw-pang berpusat di Pegunungan Santung dan dikepalai oleh seorang bernama Lauw Teng yang berusia lima puluh tahun bertubuh gemuk pendek dan bermuka kuning.

Pada waktu itu, Hui-houw-pang sedang berada dalam kedukaan karena baru saja mereka kalah berperang melawan musuh lama mereka, yaitu orang-orang Kiang-liong-pang (Perkumpulan Naga Sungai). Banyak di antara mereka yang terluka, malah Hui-houw-pangcu Lauw Teng sendiri juga terluka hebat.

Dalam usahanya untuk membalas dendam, Lauw Teng mendatangkan beberapa orang sahabatnya yang pada waktu itu sudah berkumpul di situ. Ketika mendengar penuturan Hek-twa-to, Lauw Teng amat tertarik, apalagi melihat gerak-gerik Hek-twa-to yang berbeda dengan tadi sebelum bertemu dengan orang buta aneh itu.

“Buka bajumu!” Lauw Teng memerintah. Hek-twa-to tidak mengerti apa maksud perintah ini, namun dia tidak berani membantah dan dibukanya bajunya. Lauw Teng mendekati, meraba dada anak buahnya ini dan mengeluarkan seruan tertahan. “Kau benar manusia tolol!” tiba-tiba dia berseru. “Lukamu telah disembuhkan orang dan kau menganggap dia anak buah musuh. Dia itu seorang ahli pengobatan yang pandai. Kerbau goblok kau! Hayo lekas bawa beberapa orang kawan, cari dia dan suruh ke sini. Siapa tahu dia dapat mengobati kita semua!”

Hek-twa-to kaget dan juga girang ketika dia mendapat kenyataan bahwa memang betul lukanya di dalam tubuh akibat pukulan beracun dari fihak lawan telah sembuh. Bintik merah di dadanya telah lenyap dan tidak ada rasa nyeri sedikit pun juga. Biarpun dia amat terheran-heran bagaimana dan kapan orang mengobatinya namun dia tidak berani banyak bicara lagi, maklum akan watak ketuanya yang amat keras. Dia pun khawatir takkan dapat mencari orang buta itu. Karena inilah, maka dia menjadi sibuk dan bingung ketika dia dan kawan-kawannya tiba di puncak Lao-san dia tak melihat orang muda buta yang tadi.

“Tak mungkin dia bisa pergi jauh,” katanya, hatinya berdebar penuh kekhawatiran karena dia tahu bahwa kalau dia tidak dapat membawa si buta itu ke depan ketuanya, dia tentu akan menerima hukuman yang hebat.

“Seorang buta mana bisa turun dari puncak dengan cepat? Tanpa dibantu tongkatnya dia takkan mampu melangkahkan kaki.” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara tenang karena dia percaya bahwa orang buta itu pasti belum pergi jauh.

“Hek-twako, jangan pandang rendah orang aneh jtu. Kalau dia bisa naik ke puncak ini tentu juga mampu turun,” kata seorang kawannya. Hek-twa-to menjadi pucat mendengar ini.

“Celaka, hayo kita cepat mencarinya. Kita berpencar ke empat penjuru. Aku akan naik ke pohon besar itu untuk melihat dari atas.”

Dengan cepat dia lalu lari menghampiri pohon dan sekali mengenjot kedua kakinya, tubuhnya melayang naik ke atas pohon. Hebat juga kepandaian si muka hitam ini. Pantas saja pagi tadi dia lari ketakutan ketika dua kali menyerang si buta, dia sendiri yang kalah tanpa dapat tahu siapa yang telah mengalahkannya. Siapa yang tidak akan merasa seram? Kepandaiannya cukup tinggi. Apalagi menghadapi seorang pemuda buta, belum tentu dia akan kalah dalam pertempuran. Akan tetapi pagi tadi dia merasa seakan-akan melawan iblis yang melindungi si buta!

“Heeeii, itu dia di sana. Ha-ha-ha, apa kataku? Dia takkan bisa pergi jauh!” tiba-tiba Hek-twa-to berseru kegirangan sambil meloncat turun dari cabang pohon. Kawan-kawannya yang sudah mulai berpencar mencari ke empat penjuru, mendengar teriakan ini ikut menjadi girang. Mereka juga mengharapkan si tabib buta itu akan dapat menyembuhkan ketua mereka dan dua puluh lebih teman-teman lain yang juga terluka hebat. Setelah Hek-twa-to turun, lima belas orang ini berlari-lari cepat menuruni puncak, dipimpin oleh Hek-twa-to. Betul saja, tak lama kemudian mereka melihat orang muda buta itu.

Dengan tongkatnya meraba-raba dan memukul-mukul ke tanah di depan kakinya, orang buta ini berjalan perlahan-lahan. Buntalan obat tergantung di punggungnya dan dari jauh sudah terdengar suaranya bernyanyi-nyanyi!

Siapakah sebetulnya orang muda tampan yang buta ini? Dia bukanlah seorang sembarangan. Namanya Kwa Kun Hong, putera tunggal dari ketua Hoa-san-pai yang bernama Kwa Tin Siong dan berjuluk Hoa-san It-kiam (Si Pedang Tunggal dari Hoa-san), seorang pendekar gagah perkasa. Ibunya juga seorang tokoh Hoa-san-pai yang kosen berjuluk Kiam-eng-cu (Si Bayangan Pedang). Akan tetapi orang muda buta yang sakti ini sama sekali bukan murid ayah bundanya sendiri. Secara kebetulan dia mewarisi Ilmu Silat Rajawali Emas (Kim-tiauw-kun), malah akhir-akhir ini dia menerima pula Ilmu Silat Im-yang-sin-hoat dari Si Raja Pedang Tan Beng San ketua dari Thai-san-pai.

Karena inilah, maka biarpun usianya baru dua puluh lima tahun, dia telah mewarisi ilmu kesaktian yang luar biasa. Kwa Kun Hong bukan buta semenjak lahir. Baru saja tiga tahun dia menjadi buta. Dia buta karena secara nekat dia telah mencokel ke luar kedua biji matanya sendiri, akibat penyesalan hatinya karena kekasihnya, puteri ketua Thai-san-pai, telah membunuh diri. Gadis itu telah ditunangkan dengan putera ketua Kun-lun-pai dan telah membunuh diri di depannya karena putus asa dalam cinta kasihnya dengan Kwa Kun Hong. Semua peristiwa hebat ini dituturkan secara jelas dalam cerita terdahulu yang indah, yaitu Cerita Rajawali Emas.

Demikianlah sedikit riwayat orang muda buta ini untuk memperkenalkannya bagi para pembaca yang belum membaca cerita Rajawali Emas. Semenjak hatinya patah dalam cinta kasih dan kedua biji matanya dia korbankan, pemuda ini lalu merantau, ke mana saja kedua kakinya membawanya. Dia dahulu telah mewarisi ilmu pengobatan dari kitab-kitab kepunyaan Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), maka sekarang dalam perantauannya dia menjadi seorang tabib buta yang selalu siap menolong orang-orang sakit. Tentu saja karena kebutaannya, biarpun dia berkepandaian tinggi, dia tidak dapat melakukan perjalanan cepat. Hanya dapat maju karena bantuan tongkatnya dan kakinya membawanya dari dusun ke dusun, dari kota ke kota dan dari gunung ke gunung.

Dia sengaja tidak pernah mau bertanya kepada orang lain tentang tempat yang akan dia datangi karena memang dia tidak mempunyai tujuan tertentu. Baru sesudah tiba di suatu tempat, dia bertanya dan adalah hal yang mendatangkan kegirangan juga mengetahui sebuah tempat yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya.

Pada sore hari kemarin dia mendaki puncak Lao-san yang pernah dia dengar tentang keindahannya. Semalam suntuk dia berdiam di puncak ini dan biarpun dia sudah tidak dapat mempergunakan kedua matanya lagi untuk menikmati tamasya alam indah, namun dengan perasaannya dia dapat menikmati hawa sejuk dan kehangatan matahari terbit, dengan hidungnya dia dapat menikmati keharuman bunga-bunga dan tetumbuhan yang sedap, dengan telinganya dia dapat menikmati suara merdu dari kicau burung di antara desir angin berdendang dan bergurau dengan daun-daun pohon. Ketika dia duduk bersanjak di puncak Lao-san, khayalnya menciptakan tamasya alam yang agaknya jauh lebih indah daripada kenyataan yang tak dapat dilihatnya lagi itu.

Kwa Kun Hong memang seorang pemuda luar biasa. Ilmu silatnya tinggi sekali, ilmu pengobatannya juga tinggi dan selain dua ilmu ini, dia pun amat pandai dalam hal kesusasteraan, pandai bersajak, bernyanyi, dan tulisan tangannya amat indah. Kalau saja sepasang matanya tidak buta lagi, dia pun merupakan seorang ahli dalam hal ilmu sihir yang pernah dia pelajari dari paman gurunya, yaitu Sin-eng-cu (Garuda Sakti) Lui Bok! Tentu saja biarpun ilmu sihir yang berdasarkan hawa murni dan kekuatan batin ini masih terdapat di tubuhnya, namun dia tidak dapat lagi mempergunakannya karena penggunaan ilmu ini harus melalui pandangan mata! Peristiwa aneh yang dialami Hek-twa-to, sama sekali bukanlah perbuatan iblis atau orang sakti yang melindungi Kun Hong. Pemuda buta ini sendirilah yang mempergunakan kesaktian ilmu silatnya untuk mengalahkan Hek-twa-to dan sekaligus untuk menyembuhkan daripada luka dalam yang mengancam keselamatan nyawanya. Dari peristiwa ini saja dapat dibayangkan betapa hebat pemuda ini. Tidak saja hebat ilmu kepandaiannya, yang lebih hebat lagi adalah pribudinya. Hek-twa-to telah memakinya, menghinanya, bahkan telah menyerangnya dengan niat membunuh. Akan tetapi Kun Hong masih berhati lapang, tidak hanya memaafkan ini semua, malah telah mengobatinya dengan beberapa totokan pada jalan darah di dada sehingga orang kasar itu menjadi sembuh!

Pada saat rombongan lima belas orang anggauta Kui-houw-pang itu lari mengejarnya, Kun Hong tengah berjalan perlahan-lahan menuruni puncak sambil berdendang dengan sajak ciptaannya sendiri yang memuji-muji tentang keindahan alam, tentang burung-burung, bunga, kupu-kupu dan anak sungai. Tiba-tiba dia miringkan kepala tanpa menghentikan nyanyiannya. Telinganya yang kini menggantikan pekerjaan kedua matanya dalam banyak hal, telah dapat menangkap derap kaki orang-orang yang mengejarnya dari belakang. Karena penggunaan telinga sebagai pengganti mata inilah yang menyebabkan dia mempunyai kebiasaan agak memiringkan kepalanya kalau telinganya memperhatikan sesuatu.

Dia terus berjalan, terus menyanyi tanpa menghiraukan orang-orang yang makin mendekat dari belakang itu.

“Hee, tuan muda yang buta, berhenti dulu!” Hek-twa-to berteriak, kini dia menggunakan sebutan tuan muda, tidak berani lagi memaki-maki karena dia amat berterima kasih kepada pemuda buta ini.

Kun Hong menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh perlahan, mulutnya tersenyum lebar namun kedua telinga tetap waspada mendengarkan dan mengikuti segala gerak-gerik di sekitarnya. Tentu saja dia mengenal suara perampok kasar yang dia jumpai pagi tadi, akan tetapi dia pura-pura tidak mengenalnya dan bertanya,

“Saudara siapa dan apa maksud saudara mengejar aku si buta ini?” Dia tahu bahwa orang kasar itu kini menjura kepadanya, membungkuk-bungkuk beberapa kali tanda penghormatan. Gerakan tubuh ini saja tak dapat terlepas daripada pendengarannya yang amat tajam melebihi orang biasa yang tidak buta. Hal ini amat menggirangkan dan melegakan hatinya karena dia dapat menduga bahwa kedatangan belasan orang ini kiranya tidak mengandung niat jahat.

“Tuan muda, saya Hek-twa-to datang untuk minta maaf atas kelancangan saya pagi tadi dan untuk mengembalikan bungkusan pakaianmu,”

Wajah itu makin berseri, senyuman makin melebar ketika dia mengulurkan tangan untuk menyambut bungkusan. “Ah, terima kasih, twako. Sebetulnya aku tidak begitu membutuhkan pakaian ini, akan tetapi kalau kau tidak memerlukan, baik kuterima untuk pengganti kalau yang kupakai sudah kotor. Berada padaku atau padamu sama saja, pakaian gunanya untuk dipakai, siapapun yang memakainya tidak menjadi soal. Terima kasih.” Dia menggantungkan buntalan pakaian itu di pundaknya.

Hek-twa-to menjura lagi. “Juga saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan sinshe (sebutan untuk tabib) yang telah menyembuhkan luka di dalam dadaku.”

Kun Hong tertawa. “Tidak perlu berterima kasih. Yang menyembuhkan adalah kau sendiri, Twako. Ketika kau menggunakan tenaga menghantam ke depan tadi, hawa pukulan tertahan oleh jalan darah yang buntu merupakan kekuatan yang hebat. Aku hanya membantu membuka jalan darah itu sehingga hawa itu menerobos dan sekaligus menghalau hawa beracun yang mengeram di tubuhmu. Sama sekali tidak perlu berterima kasih.”

Hek-twa-to terkejut. Kiranya si buta ini yang menyentuh dadanya. Kenapa dia tidak melihatnya sama sekali? Setelah saling pandang penuh keheranan dengan kawan-kawannya, dia lalu menjura lagi dan berkata,

“Sekarang kami minta dengan hormat agar Sinshe suka ikut dengan kami ke tempat tinggal kami di sebelah barat bukit ini………..”

“Sayang, tidak bisa………..” Kun Hong memotong, “aku adalah seorang manusia bebas, tidak mau terikat oleh segala budi. Terima kasih, Twako, biarlah aku melanjutkan perjalananku seenaknya dan harap kau dan teman-temanmu kembali.”

Seorang kawan Hek-twa-to yang paling kasar wataknya di antara para perampok itu menjadi marah dan berteriak, “Kita gusur saja tabib buta yang sombong ini!”

Kun Hong tersenyum sabar, maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang kasar yang berwatak keji. “Aku adalah seorang buta lagi miskin tidak memiliki apa-apa, juga aku akan mengalah kalau kalian menghendaki barang-barangku kecuali bungkusan obat dan tongkat ini. Akan tetapi jangan harap aku akan suka menuruti paksaan orang, sungguhpun paksaan untuk menjamuku dengan hidangan-hidangan mahal.”

“Tong-te, kau tutup mulutmu!” bentak Hek-twa-to kepada kawannya yang kasar itu, kemudian dia menghadapi Kun Hong lagi. “Siauw-sinshe, harap kau maafkan temanku yang lancang mulut ini. Sesungguhnya kami mengharap kau suka ikut dengan kami karena kami perlu pertolonganmu untuk mengobati ketua kami dan dua puluh orang lebih teman-teman kami yang menderita luka-luka berat. Harap kau suka menolong kami seperti kau telah lakukan kepadaku tadi. Jangan khawatir, untuk biaya pengobatan ini, berapapun juga kau minta, ketua kami sudah pasti akan memenuhinya.”

Berkerut kening di muka yang tampan itu. Kun Hong maklum bahwa orang-orang ini bukan orang-orang baik, tentu ketuanya juga bukan orang baik. Agaknya golongan hitam pengacau rakyat. Sebetulnya mengingat keadaan mereka, tidak patut ditolong. Akan tetapi dia dapat membayangkan betapa sengsaranya mereka yang menderita sakit itu dan hatinya yang penuh welas asih tidak kuasa menahan hasratnya hendak menolong.

“Hemm, begitukah? Kalau kalian mengundangku untuk menolong orang-orang sakit, lain lagi halnya. Tak usah bicara tentang upah, kalau aku berhasil dapat mengurangi rasa nyeri yang mereka derita, sudah cukup bagus untukku. Mari kita berangkat.”

Berangkatlah rombongan itu turun bukit. Akan tetapi biarpun tongkatnya dituntun Hek-twa-to, sebagai seorang buta Kun Hong tentu saja tidak dapat berjalan cepat. Rombongan itu tidak sabar dan ketika Hek-twa-to mengusulkan untuk menggendong tabib buta itu, Kun Hong tidak menolak. Maka digendonglah pemuda itu oleh Hek-twa-to yang kuat dan rombongan ini berlari-lari turun bukit dengan cepat.

Makin curiga hati Kun Hong. Di atas gendongan, dia dapat mengira-ngira tingkat kepandaian mereka. Ilmu lari cepat mereka lumayan tanda bahwa mereka ini, terutama Hek-twa-to, memiliki kepandaian silat. Ketua mereka tentu seorang kosen. Kalau sampai ketua mereka terluka, juga dua puluh orang lebih anak buahnya, alangkah tangguhnya musuh mereka. Dan mengingat sikap mereka yang jahat, agaknya yang menyebabkan mereka luka-luka itu tentulah seorang pendekar. Berkali-kali dia menarik napas panjang di atas gendongan Hek-twa-to. Pendekar itu merobohkan dan melukai orang-orang karena tugasnya sebagai pendekar yang membasmi kejahatan. Akan tetapi dia pergi akan menyembuhkan mereka, juga hal ini karena tugasnya sebagai seorang ahli pengobatan yang tidak boleh memilih penderita, baik dia kaya atau miskin, jahat atau tidak.

Ketika ketua Hui-houw-pang dan para tamunya yang terdiri dari jagoan-jagoan di dunia kang-ouw dan bu-lim itu melihat bahwa tabib buta itu ternyata hanya seorang laki-laki yang masih amat muda, mereka terbelalak keheranan, saling pandang dan ragu-ragu. Para tamu yang hadir di situ adalah undangan-undangan Lauw Teng, terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw. Malah di antaranya terdapat seorang tosu muka bopeng (burik) yang mempunyai sinar mata tajam berkilat dan di punggungnya tergantung sepasang pedang tipis. Mereka ini banyak mengenal orang pandai, malah pernah mendengar tentang setan obat Toat-beng Yok-mo, sudah banyak melihat tabib-tabib pandai. Akan tetapi belum pernah mereka melihat seorang ahli pengobatan masih begini muda. Tidak mengherankan apabila mereka memperdengarkan suara mencemooh dan memandang rendah.

Ketua Hui-houw-pang kecewa sekali. Diam-diam dia marah kepada Hek-twa-to yang dianggapnya membohong dan menipu. Untuk menutupi kekecewaannya, dia bertanya dengan nada suara keras memandang rendah.
“Heh, orang muda buta. Apakah kau yang telah menyembuhkan Hek-twa-to seorang anggautaku?”

Kun Hong tidak tahu siapa yang bicara dengannya, akan tetapi terang bahwa dia ini adalah ketua yang dimaksudkan oleh Hek-twa-to tadi, entah ketua apa. Dia tersenyum dan menjawab, “Dia yang menyembuhkan dirinya sendiri, aku hanya membantu.” Kata-katanya halus, akan tetapi sama sekali tidak merendahkan diri atau menghormat. Ketua Hui-houw-pang yang biasanya disembah-sembah oleh anak buahnya yang pandai menjilat, ditakuti semua orang, mendongkol juga melihat dan mendengar sikap orang buta ini.

“Orang buta, jangan kau main-main di sini. Apakah benar kau pandai mengobati orang sakit dan terluka?”

“Tidak ada orang pandai didunia ini, sahabat. Yang pandai hanya Tuhan, Aku hanya diberi pengertian tentang pengobatan, pengertian kecil tak berarti. Kalau Tuhan menghendaki, tentu akan menyembuhkan orang sakit.”

“Dengar, orang muda. Kami dua puluh orang lebih menderita luka-luka. Kalau kau bisa menyembuhkan kami, berapa saja upah yang kau minta, akan kubayar. Akan tetapi kalau ternyata kau tidak mampu menyembuhkan kami, hemm, jangan tanya akan dosamu, kau tentu akan kubunuh mampus karena kau telah mengetahui keadaan kami. Sanggupkah kau?”

Diam-diam Kun Hong mendongkol sekali. Tidak salah dugaannya tadi bahwa ketua ini tentulah orang yang berwatak keji pula. Namun sesuai dengan wataknya yang sabar dan bijaksana, wajahnya tetap tersenyum.
“Aku selalu siap mengobati orang sakit. Sembuh atau tidaknya terserah ke dalam tangan Tuhan. Kalau dapat sembuh, aku tidak menentukan upahnya, terserah kepada penderita sakit. Kalau tidak dapat sembuh, itu sudah nasibnya, mengapa kau hendak membunuhku? Bukan kau yang memberi kehidupan pada tubuhku, bagaimana kau bisa bicara tentang mengambilnya, sahabat?”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa melengking tinggi disusul suara halus,

“Lauw-sicu, omongan bocah ini ada isinya, kau berhati-hatilah!”

Kun Hong tercengang, kiranya di tempat itu terdapat orang pandai, pikirnya. Pembicara ini adalah seorang kakek berusia lima puluhan, memiliki Iweekang yang kuat dan pandang mata yang tajam. Semua ini dapat dia mengerti dari pendengarannya, tentu saja dia tidak tahu bahwa kakek yang bicara itu adalah seorang tosu yang bermuka burik, seorang di antara para tamu undangan. Kun Hong agak miringkan kepalanya dan dia dapat mendengar betapa tuan rumah bersama kakek yang bicara tadi kini menggerak-gerakkan tangan dan jari, agaknya saling memberi isyarat agar apa yang mereka kehendaki tidak terdengar olehnya.

“Sinshe muda,” kata Lauw Teng suaranya agak berubah, tidak segalak tadi, “biarlah kuanggap saja kau memang pandai mengobati. Nah, kau mulailah mengobati seorang anak buahku yang menderita luka di dalam tubuhnya,” Setelah berkata demikian, Lauw Teng berteriak, “He, A Sam, kau yang paling berat lukamu, kau merangkaklah ke sini biar diobati oleh Siauw-sinshe ini!”

Kun Hong terheran. Sejak tadi setelah bercakap-cakap dengan ketua ini, dia tahu atau dapat menduga, bahwa ketua ini menderita luka yang amat parah di dalam tubuhnya yang perlu segera diobati. Kenapa ketua ini sekarang menyuruh dia mengobati seorang anak buahnya lebih dulu? Apakah ketua ini sengaja mengalah terhadap anak buahnya? Tak mungkin, orang yang berhati keji selalu mementingkan diri sendiri. Ataukah masih belum percaya kepadanya maka menyuruh anak buahnya maju untuk mencoba-coba?

Tapi Kun Hong tidak pedulikan ini semua. Dia lalu duduk di atas bangku yang disediakan untuknya dan menurunkan buntalan obat. Dia tahu bahwa dari depan berjalan seseorang dengan langkah perlahan, kemudian orang ini berjongkok di depannya sambil mengeluarkan suara rintihan dan berkata lemah.

“Siauw-sinshe, tolonglah saya……. tak kuat lagi saya ……. sampai merangkakpun hampir tidak kuat. Aku terkena pukulan beracun kakek Bhe jahanam …..”

Semenjak kecilnya, Kun Hong sudah memiliki kecerdikan yang luar biasa. Begitu mendengar kata-kata ini, segeralah terbuka semua rahasia yang tak dapat dilihatnya. Kiranya ketua she Lauw tadi bersama kakek itu bersekongkol untuk mempermainkan dan menguji dia. Orang ini pura-pura menderita luka pukulan, disuruh datang minta tolong sehingga mereka itu akan segera tahu tentang kepandaiannya mengobati. Hemm, mereka tidak percaya dan hendak mempermainkan aku, pikir Kun Hong. Baiklah, aku akan melayani sandiwara kalian.

Sambil membungkuk Kun Hong meraba nadi tangan dan dada dekat leher A Sam itu, mengerutkan keningnya lalu berkata, “Aihh, kau benar-benar menderita penyakit berbahaya sekali! Biang batuk sudah berkumpul di pintu paru-paru. Sekarang belum terasa olehmu, akan tetapi begitu kau tertawa, akan meledaklah batukmu dan sukar ditolong lagi. Kau sama sekali tidak terluka oleh pukulan orang she Bhe atau orang she Ma, melainkan karena terlalu banyak keluar malam sehingga masuk angin jahat!” Tentu saja sambil berkata demikian, jari-jari tangan Kun Hong yang dapat bergerak secara luar biasa dan secepat kilat itu telah menekan beberapa jalan darah tertentu di dada dan leher.

Mendengar keterangan ini, meledaklah suara ketawa para perampok itu, termasuk ketuanya, Lauw Teng dan para tamu undangan. Hanya tosu burik itu saja yang tidak tertawa, melainkan memandang dengan mata tajam. Lauw Teng tidak marah karena biarpun keterangan Kun Hong itu amat lucu, namun orang ini dapat mengetahui bahwa A Sam tidak terluka oleh pukulan beracun. Lucunya, A Sam adalah seorang yang sehat dan tidak pernah batuk, biarpun memang suka keluar malam akan tetapi lucu kiranya kalau seorang gemblengan seperti A Sam itu mudah saja masuk angin!

A Sam juga tertawa terpingkal-pingkal, akan tetapi tiba-tiba semua orang yang tadi tertawa geli itu menghentikan suara ketawa mereka. Kini hanya terdengar sebuah suara saja, suara orang berbatuk-batuk amat hebatnya. Dan tidak aneh kalau semua orang kini memandang terheran-heran karena yang batuk secara hebat itu bukan lain adalah A Sam! Tadinya A Sam sendiri mengira bahwa batuknya ini adalah secara kebetulan saja, akan tetapi dia mulai menjadi khawatir dan gugup setelah batuknya itu tidak juga mau berhenti, malah makin hebat sampai dia tak dapat menahannya lagi. Di dalam leher dan dadanya serasa dikitik-kitik, mendatangkan rasa gatal-gatal dan geli. Tak tertahankan lagi A Sam terbatuk-batuk sambil memegangi perut dan dada, membungkuk-bungkuk dan akhirnya dia sampai jatuh bergulingan. Bukan main hebat penderitaannya.

Tadinya orang-orang mengira bahwa A Sam yang suka berkelakar itu sengaja mempermainkan si tabib buta, akan tetapi karena tidak juga A Sam berhenti batuk, mereka mulai khawatir, mendekat dan dengan mata terbelalak melihat A Sam sampai mendelik-delik matanya karena terbatuk-batuk terus.

“Aduh ……. uh uh uh ……. aduh ……. tolonglah …….uh-uh-uh, Siauw-sinshe ….. uk-uh-uh …….” Sukar sekali A Sam mengeluarkan kata-kata ini karena batuk membuat napasnya sesak dan suaranya hampir hilang.

“Hemmm, sudah kukatakan tadi, kau tidak boleh tertawa. Siapa kira kau masih tertawa terbahak-bahak sehingga ledakan batukmu tak tertahankan lagi. Kalau didiamkan saja, kau akan terus terbatuk-batuk sampai jantungmu pecah dan aku akan mendiamkan saja, A Sam kecuali kalau kau suka berterus terang mengapa kau tadi pura-pura terluka parah.”
“Ampun ……. uh-uh, ampun Sinshe……. uh-uh-uh, saya disuruh mencoba, uh-uh, main-main ……. ampun …….”

Lauw Teng melangkah maju. “Siauw-sinshe, harap kau suka mengobatinya. Terus terang saja, tadi kami meragukan kepandaianmu maka sengaja hendak mengujimu. Maafkanlah.”

Kun Hong memang bukan seorang pendendam. Tentu saja dia memaafkan mereka yang tadi hendak, main-main kepadanya. Malah perbuatannya terhadap A Sam ini pun hanya untuk main-main belaka. Dia segera maju mendekat, beberapa kali dia membetot urat-urat di leher dan di bawah pangkal lengan. Sebentar saja berhentilah A Sam berbatuk-batuk, peluhnya keluar semua dan dia segera terduduk saking lelahhya.

“Siauw-sinshe, sekarang kuharap kau suka mengobati semua orangku, juga mengobati lukaku sendir. Ketahuilah bahwa aku adalah Hui-houw-pangcu (ketua Hui-houw-pang) Lauw Teng. Tentu kau sudah mendengar tentang Hui-houw-pang, bukan?” Ketua ini mengira bahwa tentu sinshe buta yang masih muda ini akan terkejut sekali mengetahui bahwa dia berada di dalam markas Hui-houw-pang yang, sudah amat terkenal di seluruh Propinsi Santung. Akan tetapi dia terheran dan juga kecewa ketika orang muda buta itu menggeleng kepalanya dan berkata tak acuh.

“Aku baru saja datang di pegunungan ini, Lauw-pangcu, maka tidak mengenal perkumpulanmu. Akan kucoba mengobati kalian. Suruh orang-orangmu yang menderita luka sama dengan Hek-twa-to, yang ada bintik merahnya pada tubuh mereka, maju dan berjajal di depanku.” Ada delapan orang yang menderita Hek-twa-to Lima belas orang lain menderita luka senjata yang parah dan luka-luka itu membengkak dan keracunan. Ketika mengetahui bahwa belasan orang ini terluka oleh macam-macam senjata, Kun Hong dapat menduga tentu telah terjadi pertempuran hebat antara orang-orang Hui-houw-pang ini melawan rombongan lain yang agaknya dikepalai oleh seorang she Bhe yang telah melukai delapan orang itu dan tentu seorang yang berkepandaian tinggi juga. Cepat dia menuliskan resep obat untuk orang-orang yang terluka. Tulisannya cepat dan tidak memperdulikan seruan-seruan heran dari semua orang yang melihat betapa seorang buta dapat menulis secepat dan seindah itu. Untuk luka-luka yang dapat dia obati dengan obat-obatan yang tersedia dalam buntalannya, segera dia obati.

Akan tetapi ketika Kun Hong memeriksa tubuh Lauw Teng, diam-diam dia terkejut sekali. Dengan rabaan tangannya dia mendapat kenyataan bahwa ketua ini memiliki tubuh yang kuat dan Iweekang yang tinggi. Namun ternyata dia terkena pukulan beracun yang amat keji. Pukulan yang mengenai pundak itu busuk menghitam sedangkan tulang pundaknya remuk-remuk. Hebat sekali penderitaan ketua ini, namun dia tadi masih dapat menahannya, membuktikan bahwa Lauw Teng adalah seorang yang amat kuat. Diam-diam Kun Hong mengeluh. Agaknya dugaannya bahwa yang merobohkan orang-orang ini tentu seorang pendekar kiranya tidak betul. Seorang pendekar gagah tidak mungkin memiliki ilmu pukulan yang begini keji, atau andaikata memiliki juga, tidak akan sudi mempergunakan. Kalau begini, agaknya fihak yang menjadi lawan Hui-houw-pang ini pun bukan golongan baik-baik!
Kun Hong menarik napas panjang, menyesalkan dirinya yang tanpa disengaja telah memasuki dunia golongan hitam. Akan tetapi dia berusaha juga menolong Lauw Teng, menggunakan sebatang jarum perak untuk mengoperasi luka itu, mengurut beberapa jalan darah dan menempelkan obat luka buatannya sendiri yang amat manjur. Kemudian dia menulis sebuah resep obat untuk ketua Hui-houw-pang ini.

Begitu dia selesai mengobati Lauw Teng dan ketua ini mengucapkan terima kasihnya, tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu ada hawa menyambar ke arah Kun Hong. Pemuda buta ini maklum bahwa ada orang menyerangnya, maka dia cepat menjatuhkan jarumnya ke bawah dan membungkuk untuk memungut jarum itu. Hal ini dia lakukan untuk mengelak dengan gerakan seperti tidak disengaja. Akan tetapi kiranya serangan itu bukan untuk memukulnya, melainkan untuk menangkap pergelangan tangannya. Kun Hong tersenyum dan membiarkan pergelangan tangan kanannya dicengkeram orang. Dia pura-pura kaget dan berseru,

“Eh, siapa memegang lenganku? Kau mau apa?”

“Orang muda, katakan, apa hubunganmu dengan Toat-beng Yok-mo?” Penanya ini adalah kakek bersuara halus melengking tadi.

“Orang tua, beginikah caranya orang bertanya? Apakah harus mencengkeram lengan orang yang ditanya? Pakaianmu seperti pendeta, kenapa sikapmu kasar seperti penjahat?”

Tosu itu cepat melepaskan cengkeraman tangannya, mukanya yang bopeng menjadi merah sekali dan dia melangkah mundur tiga langkah. Heran sekali dia bagaimana orang buta ini dapat mengenal pakaiannya? Tentu saja dia tidak tahu bahwa pendengaran Kun Hong yang luar biasa dapat menggambarkan bentuk pakaian!

“Siauw-sinshe, tamuku yang terhormat ini adalah Ban Kwan Tojin yang berdiam di Kuil Pek-kiok-si (Kuil Seruni Putih). Beliau seorang tokoh pantai timur yang terkenal, harap kau suka menjawab pertanyaannya.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: