Pendekar Buta ~ Jilid 10

“Tidak, Ibu,” jawabnya dengan suara tetap, “Dia tidak bersalah apa-apa, aku tidak mau mengeroyoknya. Malah kuharap Ibu suka membebaskan saja dia dan gadis temannya itu agar keluar dari pulau dengan aman. Mereka berdua itu tidak mempunyai kesalahan apa-apa.”

“Anak setan kau! Kau malah memihak musuh?”

“Mereka bukan musuh…….”

“Kalau begitu kau ingin mampus!” “Budi yang dilimpahkan Ibu semenjak aku kecil terlalu besar, kalau Ibu kehendaki, nyawaku boleh untuk membalas budi itu……”

“Keparat…..!” Terdengar oleh Kun Hong yang sejak tadi mendengarkan suara bidadari itu, suara yang amat mengejutkan hatinya. Suara pukulan-pukulan yang dilakukan bertubi-tubi kepada tubuh Hui Kauw yang agaknya tidak mau membalas atau mengelak, hanya mengeluh lirih menahan nyeri. Meluap amarah di hati Kun Hong dan serentak berubah gerakan tongkatnya. Segulung sinar merah berkelebat disusul teriakan kaget Pangeran Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma yang terhuyung mundur sambil memegangi lengan kanan yang luka-luka berdarah. Saat itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk mencelat ke arah Hui Kauw, kakinya menendang dan……. tubuh Ching-toanio terlempar sampai lima meter jauhnya! Kun Hong meraba-raba dengan tangannya, membungkuk lalu memondong tubuh Hui Kauw yang sudah lemas dan pingsan. Kaget sekali hati Kun Hong ketika rabaan tangannya mendapat kenyataan betapa nona itu terluka hebat, tubuhnya terserang pukulan beracun dan beberapa tulang rusuknya patah! Saking marahnya Kun Hong merasa betapa mukanya menjadi panas sekali.

“Ching-toanio…….!” Dia berteriak dengan suara agak gemetar. “Alangkah kejamnya hatimu! Kau mengaku bahwa nona ini adalah puterimu, akan tetapi perbuatanmu kepadanya sama sekali bukan sikap seorang ibu sejati. Perbuatanmu biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang wanita terhadap anaknya. Karena itu, jelaslah bahwa nona ini bukan anakmu! Seekor harimau betina yang bagaimana liar dan ganas sekalipun takkan makan anaknya sendiri, betapa seorang manusia bisa membunuh anaknya?”
“Jembel buta setan alas!” Ching-toanio memekik dan memaki-maki. Malunya bukan main bahwa ia seorang tokoh dunia kangouw, majikan dari Ching-coa-to yang tersohor, kini sekali tendang saja sudah dibikin terlempar oleh seorang pengemis muda dan buta lagi! “Keparat tak bermalu, urusan antara ibu dan anak, kau orang luar berani mencampuri?”

Kun Hong tersenyum pahit, lalu terdengar suaranya dingin, “Alasan seorang iblis dalam tubuh seorang ibu. Biarpun mataku buta, hatiku tidak sebuta hatimu. Aku masih dapat membedakan siapa yang berhak ditolong dan siapa pula yang wajib diberantas! Nona ini terang tidak berdosa, kalian menjatuhkan fitnah hanya untuk dalih agar dapat menyiksanya, dapat membunuhnya! Tapi, selama Kwa Kun Hong masih hidup dan berada di sini, jangan harap kau akan dapat mengganggu selembar rambutnya!”

Dengan tangan kirinya mengempit tubuh Hui Kauw yang pingsan, Kun Hong berdiri melintangkan tongkatnya, siap menanti serbuan orang-orang itu. Dia bertekad untuk melindungi nona itu.

“Hong-ko, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain?” Tiba-tiba suara Loan Ki mencelanya dan gadis ini sudah meloncat ke depannya. “Hong-ko, kau telah membikin ribut dan kacau di sini, membikin urusan menjadi makin besar saja. Kau lepaskan si muka hitam itu dan mari kita ke luar dari pulau ini.”

“Ki-moi, mana bisa aku membiarkan saja orang membunuh ia yang sama sekali tidak bersalah atas dasar fitnah yang begitu keji?”

“Hong-ko, kau mati-matian membelanya……. apakah……. apakah kau sudah jatuh cinta kepadanya…….?”

“Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, aku……. aku…….” Tiba-tiba tubuh Kun Hong menjadi lemas dan dia roboh. Kiranya Loan Ki yang tadinya memegang-megang tangannya itu secara tiba-tiba menotok jalan darah di punggungnya yang membuat Kun Hong menjadi lemas kehilangan tenaga. Dia masih berusaha memulihkan kekuatan, akan tetapi yang dapat dia lakukan hanya mencengkeram tongkatnya saja, malah tubuh Hui Kauw dalam kempitannya juga terlepas dan jatuh bergulingan, saling tindih dengan tubuhnya sendiri.

Bagaimana Loan Ki yang tadinya dibelenggu bisa mendekati Kun Hong dan melakukan pengkhianatan ini? Gadis ini tadi memang dibelenggu, akan tetapi ia dilepaskan oleh Souw Bu Lai ketika pangeran ini maju menyerang Kun Hong. Karena ujung tali itu tidak dipegangi orang, dengan mudah Loan Ki dapat sedikit demi sedikit meloloskan kedua tangannya sehingga ia menjadi bebas. Tidak ada orang yang memperhatikannya, apalagi ia merupakan tawanan yang tidak penting karena tadi orang mengikatnya hanya untuk menjaga kalau-kalau sahabatnya yang buta itu benar-benar amat lihai dan mengamuk, maka ia dibelenggu untuk dijadikan jaminan. Siapa kira si buta itu benar-benar mengamuk, akan tetapi bukan karena tertawannya Loan Ki, melainkan karena soal lain, yaitu soal nona Hui Kauw. Adapun Loan Ki sendiri hatinya sudah sejak tadi panas dan iri menyaksikan betapa Kun Hong membela Hui Kauw secara mati-matian. Gadis ini masih terlalu muda untuk dapat menafsirkan tentang cinta kasih. Ia tidak ingat bahwa untuk dirinya sendiri pun Kun Hong membela mati-matian. Sekarang, melihat Kun Hong membela seorang gadis lain, ia menjadi iri hati, bukan cemburu karena pada saat itu ia tidak tahu apakah ia mencinta si buta ini ataukah tidak. Pendeknya, hatinya tidak senang melihat Kun Hong membela Hui Kauw, apalagi melihat betapa si buta itu memondong tubuh nona yang sudah pingsan itu. Maka ia lalu mendekati, menegur dan menotok roboh Kun Hong dengan maksud menghentikan usaha Kun Hong membela Hui Kauw.

Tentu saja Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa Loan Ki akan berbuat seperti itu dan inilah sebabnya pula dia mudah dirobohkan. Dia sama sekali tidak pernah menduga dan karena itu tidak berjaga diri terhadap Loan Ki. Kini setelah roboh dan tak berhasil memulihkan tenaga, dia terkejut dan terheran-heran, namun tidak khawatir karena maklum bahwa tidak akan ada hal yang lebih hebat daripada kematian, sedangkan kematian itu baginya bukan apa-apa, seperti air sungai mengalir kembali ke laut di mana dia akan bersatu dengan Cui Bi!

Ternyata Ching-toanio yang ditendang sampai mencelat lima meter oleh Kun Hong tadi tidak terluka berat, hanya mendapat luka ringan berupa benjol-benjol dan barut-barut saja. Hal ini adalah karena Kun Hong memang sengaja tidak mengarah nyawa orang, hanya melakukan tendangan tanpa disertai tenaga dalam yang dapat mengakibatkan luka hebat. Malah kedua orang pengeroyoknya tadi, Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma, hanya terluka di lengan kanannya dengan goresan-goresan yang tidak dalam, hanya mengeluarkan darah akan tetapi ternyata merupakan luka kulit belaka.

Kini melihat betapa Kun Hong sudah roboh, Ching-toanio masih tak mampu mempertahankan kemarahannya, segera mencabut pedang dan melompat maju untuk membacok putus leher pemuda buta yang sudah banyak membikin malu kepadanya itu.

“Tranggg!” Bunga api berpijar saking kerasnya bentrokan pedang ini. “Ching-toania, tidak boleh kau membunuh Hong-ko!” teriak Loan Ki yang menangkis pedang Ching-toanio dengan pedangnya sendiri. “Kau boleh bunuh mampus anakmu si muka hitam, tapi Hong-ko tidak bersalah, kau tidak boleh membunuhnya.”

Ching-toanio memandang dengan mata mendelik. “Dia berani mencemarkan nama, tampan dan berkepandaian tinggi, tidak gu dan melakukan perbuatan jina, masih kaubilang dia tidak berdosa?”

“Ihh, kau keliru besar toanio. Hong-ko adalah seorang buta, mana dia bisa melihat tentang cantik tidaknya wanita? Mana bisa dia mampu menarik hati wanita? Tentulah anakmu yang tak tahu malu itu yang sengaja menarik hati dan memikatnya dengan kata-kata halus. Hong-ko memang seorang muda yang tampan dan berkepandaian tinggi, tidak heran anakmu itu jatuh cinta. Hong-ko sendiri karena buta mudah saja dipikat, coba dia dapat melihat, apa dia sudi melayani seorang gadis yang mukanya seperti pantat kuali?”
“Keduanya harus mampus!” Ching-toanio kembali menggerakkan pedangnya, akan tetapi kembali Loan Ki menangkis, biarpun dua kali tangkisan itu sudah membuat telapak tangannya lecet-lecet.

“Ching-toanio, apa kau sebagai golongan lebih tua tidak malu? Kau berani turun tangan karena Hong-ko sudah kurobohkan. Hemm, andaikata aku tidak merobohkannya dengan totokan tanpa dia menduga, apa kau kira kau akan mampu bersikap segalak ini terhadapnya? Hi-hik, benar-benar orang di Ching-coa-to tidak punya sopan santun persilatan!”

Bukan main tajamnya ucapan ini, melebihi tajamnya ujung seribu pedang. Ching-toanio menjadi pucat mukanya dan menahan pedangnya, matanya mendelik dan muka yang pucat itu berubah merah, ia adalah seorang kangouw yang sudah memiliki nama besar, tentu saja sekarang mendengar ucapan ini, ia tidak ada muka untuk nekat menyerang Kun Hong yang sudah tak berdaya itu. Semua orang di situ tahu belaka bahwa robohnya Kun Hong si buta itu adalah karena serangan gelap yang dilakukan Loan Ki, sama sekali bukan roboh oleh Ching-toanio atau yang lain. Kemarahannya meluap-luap akan tetapi tertahan sehingga kini kemarahannya ini ditumpahkan kepada Hui Kauw seorang! Hanya gadis inilah yang dapat menjadi bulan-bulan kemarahannya tanpa ada seekor setan pun yang berani menghalanginya. Tadipun hanya si buta itu yang membelanya sekarang setelah si buta roboh, siapa lagi akan membela anak angkat yang menimbulkan kemarahan dan kebencian ini?

“Anak keparat, kaulah gara-garanya!” Ia menggerakkan pedangnya sambil melompat ke dekat Hui Kauw yang ternyata sudah sadar dari pingsannya, akan tetapi karena tubuhnya terluka hebat oleh pukulan-pukulan ibu angkatnya tadi, ia masih belum dapat bangun. Kini melihat betapa Kun Hong tak berdaya, rebah dalam keadaan tertotok, hatinya terkejut bukan main. Timbul kekhawatirannya untuk keselamatan si buta ini, dan sekaligus timbul ingatannya untuk menolong Kun Hong. Maka begitu melihat sambaran pedang di tangan ibunya ke arah leher, Hui Kauw menggulingkan tubuhnya. Pedang itu meluncur menghantam tanah dan gadis itu dengan pengerahan tenaga yang luar biasa telah dapat bangun dan duduk. Pedang itu, yang dikendalikan tangan Ching-toanio yang marah mengejar dan menyerang lagi, namun kini dalam keadaan duduk Hui Kauw lebih mudah mengelak. Semua orang terheran-heran terutama sekali Ching-toanio dan Hui Siang. Bagaimana mendadak Hui Kauw yang sudah terluka hebat itu memiliki gerakan-gerakan aneh sehingga dalam keadaan seperti itu dapat menghindarkan serangan pedang? Dengan penuh keheranan yang berubah menjadi penasaran dan malu, Ching-toanio memperhebat penyerangannya, bertubi-tubi mengirim tusukan dan bacokan ke arah tubuh anak angkatnya.

Akan tetapi, benar-benar terjadi keanehan bagi nyonya galak ini. Hanya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya secara aneh, kadang-kadang rebah dan ada kalanya meloncat ke atas dan duduk kembali, Hui Kauw dapat menyelamatkan diri dari semua serangan itu, sungguhpun makin lama gerakannya makin lemah dan lambat karena memang luka-luka di tubuhnya sudah parah. Kalau saja tidak sedemikian parah luka-luka di tubuhnya, tentu dengan kepandaiannya yang dirahasiakan itu ia dapat menyelamatkan diri dengan mudah.

Sementara itu, tadinya Kun Hong terkejut dan heran, juga maklum bahwa dia telah dikhianati Loan Ki dan tinggal menanti datangnya maut ketika dia roboh tertotok oleh Loan Ki tanpa dia dapat mencegahnya karena sebelumnya dia tidak berjaga lebih dulu dan tidak pernah menduga akan mendapat penyerangan gelap dari gadis ini. Akan tetapi dasar memang di tubuhnya sudah terisi hawa murni yang amat kuat, sedangkan tenaga dalamnya adalah tenaga dalam yang dilatih menurut ilmu silat tinggi yang bersih, maka pengaruh totokan Loan Ki yang bagi orang lain tentu akan dapat melumpuhkan sampai berjam-jam itu, ternyata bagi Kun Hong hanya melumpuhkannya beberapa menit saja! Dengan pengerahan tenaga berulang-ulang, akhirnya dengan girang Kun Hong dapat membobolkan kemacetan jalan darahnya dan tenaganya pulih kembali seperti sebelum tertotok.

Kun Hong tidak marah kepada Loan Ki, hanya heran karena dia masih belum mengerti mengapa gadis lincah itu merobohkannya. Makin besar keheranannya ketika dia mendengar betapa secara mati-matian Loan Ki menolongnya daripada serangan-serangan Ching-toanio, malah membelanya dengan omongan-omongan pedas.

Tentu saja keheranan ke dua ini disertai kegirangan hati bahwa terbukti Loan Ki tidak memusuhinya, malah melindunginya. Akan tetapi kenapa tadi menotoknya roboh? Dan bagaimana pula setelah menotok roboh dengan serangan gelap, sekarang membela dan melindunginya mati-matian pula? Benar-benar aneh sekali gadis lincah ini, dan Kun Hong merasa seperti menghadapi sebuah teka-teki yang amat kuat. Dia sengaja berpura-pura tak berdaya dan membiarkan saja Loan Ki bersitegang dengan Ching-toanio, akan tetapi ketika mendengar betapa Ching-toanio menyerang Hui Kauw secara hebat dan membabi buta, Kun Hong tak dapat mengendalikan dirinya lagi dan tiba-tiba dia meloncat bangun, sekali menggejot tubuh dia telah menyambar ke arah Ching-toanio.

Ching-toanio mendengar seruan kaget dari semua orang yang tiba-tiba melihat gerakan Kun Hong yang tadinya lumpuh itu, ketika ia melihat betapa si buta itu menerjang ke arahnya, ia menjadi marah sekali dan pedangnya memapaki dengan sebuah tusukan kilat ke arah ulu hati. Dalam penyerangan ini, Ching-toanio menggunakan semua tenaganya karena ia memang marah sekali dan ingin menebus kekalahan dan penghinaan-penghinaan yang ia alami tadi.

Sinar pedang di tangan Ching-toanio itu berkelebat menusuk, Kun Hong miringkan tubuhnya dan……. pedang itu ambles di bagian dada sampai menembus punggung si buta itu. Terdengar jeritan-jeritan keluar dari mulut Hui Kauw dan Loan Ki sekaligus. Akan tetapi dua orang nona ini yang merasa ngeri dan kaget sekali, tidak berusaha untuk maju menolong karena mereka kini, seperti yang lain-lain, berdiri bengong penuh keheranan.

Biasanya kalau orang terkena tusukan pedang, apalagi sampai menembus punggung, tentu akan mengeluh, atau roboh, setidak-tidaknya darah tentu akan mengalir ke luar. Akan tetapi si buta ini lain lagi reaksinya. Dia berdiri tegak dengan pedang lawan masih menancap di bagian pinggir dada, mulutnya tersenyum, sikapnya tenang dan tidak ada setetes pun darah mengalir ke luar.

Ching-toanio mengerahkan tenaganya menarik ke luar pedangnya dan……. tiba-tiba ia terhuyung ke belakang dan mukanya menjadi pucat. Pedang itu tinggal gagangnya saja, selebihnya masih “menancap” di dada Kun Hong. Ketika pemuda buta itu menggerakkan lengan kanan, terdengar suara “krekk!” dan jatuhlah sebatang pedang tanpa gagang, sudah patah menjadi tiga potong! Kiranya pemuda itu bukan tertusuk pedang, melainkan senjata itu ketika tadi menusuk ulu hatinya dia miringkan tubuh dan secara cepat dan lihai sekali sampai dapat mengelabui mata banyak orang-orang pandai, dia berhasil menjepit pedang itu di bawah ketiaknya!

Kun Hong tidak perdulikan lagi Ching-toanio yang masih bengong keheranan, dia menghampiri Hui Kauw, membungkuk dan sekali bergerak gadis itu telah dipondongnya lagi.

“Saudara Kwa…….. jangan…….. kau lepaskanlah aku …….” Hui Kauw berkata lemah, hatinya tidak karuan rasanya dan ia merasa amat malu dipondong oleh seorang laki-laki muda, biarpun buta, di depan banyak orang itu.

“Sshhh, diamlah, Nona. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau tidak boleh mengeluarkan suara dan tenaga……. lukamu hebat……. kurasa sedikitnya sebuah tulang rusukmu patah, jantungmu tergoncang, hawa beracun telah memasuki darah, aku harus mengobatimu, jangan kau banyak bergerak, kau menurutlah saja…..”

Pada saat itu ada angin menyambar dari depan dan suara yang hampir tak dapat ditangkap pendengaran Kun Hong menunjukkan betapa orang yang meloncat dan turun di depan Kun Hong benar-benar memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya. Kun Hong maklum akan hal ini, dia bersiap-siap sambil memondong Hui Kauw, keningnya berkerut karena dia benar-benar merasa serba susah bagaimana harus melindungi gadis ini dari ancaman sekian banyaknya orang pandai.

Pada saat itu terdengar suara Hui Kauw mengeluh panjang dan tubuh gadis itu menjadi lemas, kiranya gadis ini kembali jatuh pingsan setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga dalam menghadapi ibu angkatnya untuk mengelak dari bahaya maut. Kun Hong merasa lega.

Dengan pingsannya gadis ini, akan lebih leluasa baginya untuk bergerak, dapat dia mengempit tubuh itu tanpa sungkan-sungkan dan tidak akan mendatangkan rasa malu kepada gadis itu. Dia cepat mengubah caranya memondong tubuh Hui Kauw, kini dia menggunakan lengan kirinya memeluk pinggang gadis yang pingsan itu dan mengempitnya. Tangan kanannya yang memegang tongkat siap menghadapi serbuan lawan.

Terdengar oleh Kun Hong suara yang tenang dan berat, suara yang mengandung tenaga dalam yang hebat, “Omitohud, pinceng sebetulnya harus malu menghadapi seorang pemuda yang tak dapat melihat lagi. Orang muda, kau benar-benar hebat sekali. Kelihaianmu telah mengalahkan banyak orang pandai membuat pinceng mengesampingkan rasa malu dan ingin pinceng mencoba kehebatan kepandaianmu yang aneh. Akan tetapi sebelumnya pinceng ingin sekali tahu, siapakah gurumu yang mewariskan ilmu-ilmu aneh ini kepadamu?”

Kun Hong kaget dan maklum bahwa yang berada di depannya adalah seorang hwesio yang berilmu tinggi. Cepat dia menjura dan menjawab,

“Syukurlah bahwa di sini terdapat Lo-suhu yang saya percaya memiliki pertimbangan adil dan pemandangan yang luas. Lo-suhu, tentang riwayat saya bukanlah hal penting malah tidak berharga untuk didengar oleh orang lain. Lo-suhu, kedatangan saya ini sesungguhnya sama sekali bukan ingin bermusuhan atau berkelahi, maka harap Lo-suhu sudi melimpahkan kemurahan hati dan dapat menghentikan perkelahian-perkelahian yang tidak saya kehendaki ini. Terhadap seorang suci seperti Lo-suhu, mana berani saya yang muda dan bodoh berlaku kurang ajar?”

Pendeta itu tertawa bergelak dan Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa hwesio ini dengan kedipan matanya memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di situ. Kemudian bertanya, “Orang muda, biarpun matamu buta tapi hatimu melek. Tentu saja pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak menghendaki perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan keributan, apa sih yang kau inginkan sekarang?”

“Maaf, Lo-suhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan keributan. Semua yang dilontarkan kepada saya dan nona Hui Kauw ini adalah fitnah belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar orang tidak membunuh nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian memberi kebebasan kepada saya dan nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau ini dengan aman.”

Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching-toanio dan yang lain-lain, kemudian dia tertawa lagi. “Omitohud, kiranya sahabat muda yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat amat berat luka-luka akibat pukulan, sanggupkah kau menyembuhkannya?”

“Jika Thian menghendaki, tentu dapat. Saya yang buta sedikit banyak tahu akan ilmu pengobatan.”

“Hwesio tua, jangan kau pandang rendah kepadanya. Orang sakit apa pun juga asal belum mampus tentu dapat dia menyembuhkan. Dia adalah murid Toat-beng Yok-mo, masa tidak bisa mengobati?”

Ucapan Loan Ki ini membuat Kun Hong mengerutkan kening dan dia tidak tahu bahwa gadis nakal itu tentu pernah mendengar dia menyebut nama Toat-beng Yok-mo, kalau tidak salah ketika dia mengobati orang-orang Hui-houw-pang di mana gadis itu diam-diam sudah lama bersembunyi dan mengintai. Tidak hanya Kun Hong yang mengerutkan kening, bahkan semua orang di situ, terutama sekali Ka Chong Hoatsu, menjadi heran dan kaget sekali. Tentu saja semua orang pernah mendengar nama Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), siapa orangnya belum pernah mendengar nama tabib iblis yang amat pandai mengobati, akan tetapi selalu membunuh orang yang telah diobatinya sampai sembuh itu (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas)? Seketika pandangan mereka terhadap Kun Hong berubah, karena boleh dibilang Toat-beng Yok-mo adalah orang “segolongan” dengan mereka.

“Omitohud! Betulkah kau murid Yok-mo, orang muda?” Ka Chong Hoatsu akhirnya bertanya.

Kun Hong adalah seorang yang jujur dan tak suka membohong, maka dengan suara biasa dia menjawab, “Diangkat murid sih tidak, akan tetapi mendiang Yok-mo pernah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabnya tentang pengobatan, entah hal ini boleh dianggap saya sebagai muridnya ataukah tidak terserah.”

“Oho!” Ka Chong Hoatsu kembali memberi isyarat kepada yang lain, maju ke depan dan menyentuh pundak Kun Hong. “Kiranya kau masih orang sendiri! Kwa-sicu, kalau begitu tidak ada urusan lagi di antara kita dan soal pertempuran tadi kita anggap saja sebagai kunci perkenalan. Ching-toanio, pinceng harap kau sudi menghabiskan urusan dan biarlah diberi tempat untuk Kwa-sicu mengobati puterimu.”

Kun Hong menjadi melengak ketika urusan berbalik secara demikian. Semua orang, termasuk Hui Siang gadis yang galak itu, mengucapkan maaf kepadanya, juga Bouw Si Ma, Pangeran Souw Bu Lai, dan Ching-toanio. Malah terdengar suara Ngo Kui Ciau, orang pertama dari Ang Hwa Sam-cimoi yang bersuara kecil melengking,

“Pantas saja lihai, kiranya murid si tua bangka Yok-mo. Hi-hik, tak perlu ribut-ribut, biar buta amat tampan dan gagah, lagi lihai dan murid Yok-mo. Toa-nio, kurasa pantas dia menjadi mantumu, hi-hik!”

Mendongkol sekali Kun Hong, akan tetapi juga wajahnya berubah merah tanpa dapat dia cegah, karena mendengar ucapan seperti itu, entah mengapa, jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tidak banyak bicara dan menurut saja ketika dia diajak ke dalam bangunan itu yang untuk sementara diserahkan kepadanya sebagai tempat mengobati Hui Kauw.

“Tidak lama…… tidak lama…….” katanya gugup. “Sebentar saja kupulihkan kedudukan urat-uratnya, kusambung tulangnya dan kubersihkan hawa beracun yang menyerangnya. Besok ia sudah pulih kembali, hanya tinggal memperkuat pertumbuhan tulang yang disambung. Aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini dan akan segera keluar dari pulau bersama nona Loan Ki.”

Dia merasa heran sekali mengapa Loan Ki diam saja, tidak ada suaranya sama sekali. Dia tidak melihat betapa nona ini biarpun berada pula di situ, mukanya murung dan cemberut terus. Pangeran Souw Bu Lai yang beberapa kali berusaha memikatnya dengan omongan-omongan manis, tidak diacuhkan sama sekali. Akhirnya pangeran itu bosan sendiri dan nampak mendekati Hui Siang, bercakap-cakap gembira dan disambut manis oleh nona cantik jelita yang galak itu.

Orang-orang menjadi kagum menyaksikan cara Kun Hong mengobati Hui Kauw. Dengan tusukan-tusukan jarum perak dia dapat memulihkan kesehatan nona ini, mengusir ke luar hawa beracun akibat pukulan-pukulan Ching-toanio yang ampuh. Kemudian dia minta semua orang laki-laki keluar dari kamar karena dia hendak mulai menyambung tulang, dan untuk keperluan ini terpaksa baju nona Hui Kauw harus dibuka. Hanya Ching-toanio, Loan Ki, Ang Hwa Sam-cimoi, Hui Siang dan tiga orang pelayan wanita yang masih berada di kamar. Biarpun maklum di situ terdapat banyak orang pula yang menyaksikan, tangan Kun Hong sedikit gemetar juga ketika. dia meraba kulit dada dan punggung yang halus pada waktu dia menyambung tulang iga yang patah!

Setengah hari dia bekerja keras dan akhirnya dia selesai, lalu duduk bersila dan menempelkan kedua tangannya ke pundak Hui Kauw dekat leher untuk menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh nona itu dan membantunya sekuat tenaga. Sejam dia melakukan ini dan mulailah pernapasan nona itu normal kembali dan mukanya menjadi merah sehat. Pada saat itu Ching-toanio memberi isyarat kepada semua orang untuk meninggalkan kamar itu. Loan Ki tadinya hendak tinggal di situ, akan tetapi Ching-toanio berkata lirih,

“Nona Tan, setelah sekarang kita menjadi sahabat, perlu kita bicara tentang urusan yang juga menyangkut ayahmu. Marilah, biar Kwa-sicu mengaso, kulihat Hui Kauw sudah sembuh kembali.”

Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel. Ia mengerling dengan mata ragu ke arah Kun Hong yang masih duduk bersila, lalu sinar matanya menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam, setelah itu ia mendengus marah dan ikut keluar pula.

Kamar itu sunyi. Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat terdengar jelas karena daun pintu kamar itu ditutup dari luar. Kun Hong melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu, lalu dengan perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher. Terdengar nona ini mengerang perlahan. Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan melompat turun dari pembaringan, berdiri menanti.

“Uuuhhh, panas…….” nona itu merintih.

“Tidak apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran darah di tubuhmu sehingga engkau akan menjadi sembuh benar-benar.”

Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tak berbaju, apalagi melihat Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tunduk. Ia cepat bangun dan menyambar bajunya yang berada di dekatnya, terus digunakan untuk menutupi tubuhnya.

“Bagaimana ini……. apa yang terjadi……. kau kenapa berada di sini…….?” pertanyaan yang terputus-putus ini diajukan dengan suara gemetar. Kun Hong dapat menangkap perasaan sedih, malu dan terhina dalam suara itu, maka dia membungkuk dengan hormat, berkata,

“Kau menderita luka-luka, aku berusaha mengobatimu, disaksikan oleh keluargamu, Nona. Sekarang kau sudah selamat, perkenankan aku keluar dari tempat ini.” Tanpa menanti jawaban, dengan cepat Kun Hong lalu melangkah ke arah pintu, membuka daun pintu dan keluar dari situ.

Ka Chong Hoatsu sendiri menyambutnya. “Bagaimana Kwa-sicu, berhasilkan usahamu?”

“Dengan berkah Thian ia dapat pulih kembali kesehatannya,” jawab Kun Hong sederhana. Ching-toanio lalu berlari memasuki kamar dan Kun Hong masih mendengar suaranya, “Aduh, kasihan anakku…….” Kun Hong mengerutkan kening.

Suara Ching-toanio ini adalah suara palsu. Hemm, akan berbuat apa lagikah wanita majikan pulau ini yang sama jahat dan palsunya dengan ular-ular hijaunya yang berbisa? Bukan urusanku, pikirnya, aku harus segera pergi dari tempat ini.

“Ki-moi, hayo kita pergi …….”

Tidak ada jawaban.

“Di mana nona Loan Ki?” tanyanya kepada Ka Chong Hoatsu. Hwesio tua itu tertawa.
“Semua orang termasuk sahabatmu itu berkumpul di ruangan sembahyang. Mari, Kwa-sicu, karena pada saat ini kau pun menjadi seorang tamu terhormat, kau pun dipersilahkan ikut berpesta sambil ikut merayakan pelepasan perkabungan keluarga Ching-toanio.”

“Pesta apa? Sembahyangan apa?” Kun Hong tak mengerti.

“Suaminya meninggal tiga setengah tahun yang lalu dan hari ini kebetulan diadakan sembahyangan lalu diadakan sedikit pesta untuk merayakan pelepasan perkabungan ibu dan kedua anak.”

“Maaf, Lo-suhu, aku……. aku akan pergi saja. Tolong kau panggilkan nona Tan Loan Ki…….”

“Ha-ha-ha, Kwa-sicu, apakah kau seorang yang sudah banyak merantau di dunia kangouw, tidak mau mengindahkan peraturan? Kau dianggap tamu terhormat, keluarga Ching-toanio ingin menyampaikan terima kasih, dan di sini sedang dilakukan upacara sembahyangan pula. Masa kau akan pergi begitu saja?”

Kun Hong menarik napas panjang. Memang betul juga ucapan hwesio itu. Apalagi Loan Ki agaknya sudah berbaik dengan orang-orang itu, maka dia terpaksa mengangguk lemah. “Baiklah, setelah sembahyang aku akan mengajak Loan Ki segera pergi. Tak usah berpesta, makanan dan arak yang dicuri Loan Ki dari sini sudah cukup mengakibatkan heboh!”

Hwesio itu tertawa lalu berjalan, sengaja memberatkan kakinya agar mudah diikuti oleh Kun Hong yang perjalan di belakangnya sambil meraba jalan dengan tongkatnya. Kiranya tidak jauh dari situ mereka sudah tiba di tempat yang dimaksudkan. Sebuah bangunan yang agak besar dan telinga Kun Hong menangkap suara banyak sekali orang di situ, banyak suara wanita dan agaknya orang-orang pada sibuk bekerja, mungkin mengatur meja sembahyangan karena dia mendengar suara mangkuk-mangkuk ditaruh di atas meja dan tercium bau lilin besar dinyalakan di samping dupa harum memenuhi ruangan itu. Dia segera duduk di atas sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya. Karena tempat itu ramai dengar suara orang, dia tidak dapat tahu apakah Loan Ki berada di situ ataukah tidak, untuk bertanya dia merasa kurang enak. Tentu saja dia tidak dapat melihat betapa di sudut ruangan itu Loan Ki duduk menyendiri dengan muka pucat dan sepasang mata gadis itu memandang ke arahnya dengan melotot penuh kemarahan!

Dugaannya memang benar. Di tempat itu selain orang-orang kosen yang telah disebutkan tadi berkumpul, makan minum sambil tertawa-tawa di ruangan itu bagian tengah, juga di situ terdapat belasan orang pelayan wanita berpakaian serba indah sedang mengatur meja sembahyangan yang besar dan megah. Dua batang lilin naga berwarna merah dinyalakan di atas meja sembahyangan yang dihias seperti meja sembahyangan pengantin saja!

Kemudian terdengar suara Ka Chong Hoatsu berkata kepadanya, “Kwa-sicu, silakan kau melakukan sembahyang untuk menghormat abu jenazah mendiang suami Ching-toanio.” Pendeta itu menyerahkan beberapa batang hio (dupa batang) kepada Kun Hong. Pemuda buta ini bingung, akan tetapi merasa tidak enak untuk menolak. Penghormatan kepada abu jenazah merupakan syarat kesopanan yang tak mungkin ditolak. Dia menurut saja ketika dituntun ke depan meja sembahyang.

“Bersembahyang di depan abu jenazah seorang yang tinggi tingkatnya, harus berlutut,”‘ Ka Chong Hoatsu berbisik dan Kun Hong yang pada dasarnya berwatak sopan dan suka merendahkan diri, kali ini juga tidak membantah, lalu berlutut, menyelipkan tongkat di pinggang dan memegangi batang-batang hio itu di antara tangannya.

Pada saat itu dia mendengar suara banyak kaki secara halus melangkah datang. Di sana sini terdengar suara wanita tertawa tertahan, kemudian dia mendengar suara orang berlutut di samping kirinya. Lalu kagetlah dia ketika dia mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya, keharuman yang sama benar dengan ganda yang diciumnya ketika dia mengobati Hui Kauw di dalam kamar tadi. Tak dapat diragukan lagi, Hui Kauw tentu orangnya yang sekarang berlutut di sebelah kirinya! Apa artinya ini? Kenapa ia harus bersembahyang di depan abu jenazah itu berdampingan dengan Hui Kauw? Dia ragu-ragu dan menahan diri, tidak segera bersembahyang. Pada saat itu, di antara suara hiruk-pikuk para pelayan, ia mendengar suara Loan Ki, penuh ejekan, penuh kebencian.

“Hah, yang laki buta, yang perempuan bermuka hitam. Belum pernah selama hidupku melihat sepasang pengantin begini buruk!”

Kun Hong kaget setengah mati, tangan kirinya bergerak meraba dan……. dia mendapat kenyataan bahwa Hui Kauw memakai pakaian pengantin, dengan muka berkerudung!

“Apa artinya ini?” Dia berseru dan bangkit berdiri membuang hionya ke samping.

Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menekan pundaknya, jari-jari tangan yang amat kuat itu mencengkeram jalan darahnya di pundak yang mengancam, karena begitu diremas dia akan menjadi lumpuh! Lalu terdengar bisikan suara Ka Chong Hoatsu,

“Orang she Kwa, jangan menolak! Kau telah mencemarkan nama baik nona Giam Hui Kauw, kau malah telah mengobatinya sampai sembuh. Untuk membalas budimu, dan untuk membersihkan namanya, kau sudah dipilih menjadi suami yang sah. Nona Hui Kauw sendiri sudah setuju. Bagaimana kau dapat menolaknya?”

Muka Kun Hong sebentar merah sebentar pucat. Dia tidak mengerti bagaimana urusan berbalik menjadi begini. Dia memang suka kepada Hui Kauw, suka dan menaruh simpati besar, juga amat berkasihan menghadapi nasib buruk nona bersuara bidadari ini. Baru suaranya saja sudah mampu merampas rasa kasih sayangnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dijodohkan secara begini, secara paksa dan tiba-tiba. Juga, di lubuk hatinya tidak ada sedikit pun niat untuk menikah dengan wanita lain setelah dia kehilangan Cui Bi. Seorang buta seperti dia mana mampu mendatangkan kebahagiaan kepada seorang isteri?

“Tidak…….. tidak…….! Aku bukan boneka yang boleh kalian permainkan begitu saja! Aku seorang manusia!” bantahnya, tidak perduli betapa tekanan pada pundaknya makin menghebat yang berarti hwesio itu memperhebat pula ancamannya.

“Orang she Kwa, kau tidak boleh menolak! Tidak ada pilihan lain bagimu, menerima dan menjadi mantu Ching-toanio untuk membersihkan nama baik nona Hui Kauw yang kau cemarkan kemudian membantu semua usaha kita bersama, atau kau harus mati sekarang juga!” Kemudian dengan suara lebih perlahan di dekat telinga Kun Hong, “Bocah tolol, tak usah kau berpura-pura. Kau mencinta ia, bukan? Nah, apalagi soalnya?”

“Tidak! Sekali lagi tidak. Tak sudi aku dijadikan begini…….!” Kun Hong berteriak lagi dengan marah sekali, seluruh urat di tubuhnya sudah menegang untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya karena ancaman pada jalan darah di pundaknya itu benar-benar berbahaya sekali.

Tiba-tiba Hui Kauw yang berlutut di sampingnya itu terisak-isak menangis, lalu terdengar gadis itu menjerit tinggi satu kali, disusul kata-kata yang memilukan, “Ya Tuhan…….. apa dosaku sehingga kalian menghina aku begini rupa?” Setelah itu, cepat laksana kilat gadis ini menerjang ke kanan menyerang Ka Chong Hoatsu dengan pedangnya yang tadi ia sembunyikan di balik pakaian pengantin yang longgar. Kini kerudung kepalanya sudah dibuka dan wajahnya yang berkulit hitam itu jelas nampak agak pucat dan basah air mata.

Serangan ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus daripada ilmu pedangnya yang ia rahasiakan. Ka Chong Hoatsu adalah seorang tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi serangan luar biasa ini, yang bagaikan halilintar menyambar ke arah dadanya. Terpaksa dia melepaskan cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik ke belakang sambil mengibaskan ujung lengan bajunya yang panjang. Hampir terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan baju ini, Akan tetapi Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak dan meloncat jauh, berlari sambil menangis lenyap dalam gerombolan pohon di hutan. Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian menghilang.

Kun Hong bersyukur sekali. Dia maklum bahwa gadis itu tadi menyerang Ka Chong Hoatsu dengan maksud menolongnya terlepas daripada cengkeraman yang membuat dia tidak berdaya. Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru.

“Bagus, Hong-ko. Jangan takut, aku bantu kau!” Dan gadis ini pun sudah meloncat ke tengah ruangan itu, di depan meja sembahyang, berdiri tegak dengan pedang di tangan di sebelah Kun Hong!

Kembali Kun Hong melengak heran. Bagaimana sih gadis lincah ini? Sebentar membantunya, sebentar mencelakainya, kadang-kadang membelanya, ada kalanya mengkhianatinya. Tadi baru saja mencemooh dan dengan ucapan mengandung suara menghina telah mengejeknya, tetapi sekarang suaranya berbeda sekali ketika menyebut “Hong-ko” dan sekarang malah siap membantunya. Dia benar-benar bingung, apalagi mengingat perbuatan Hui Kauw tadi. Kenapa gadis yang sudah dapat dia kenal watak perangainya yang halus dan murni itu mau saja disuruh bersembahyang sebagai pengantin dengannya, kemudian kenapa pula gadis itu menangis sedih dan malah menerjang Ka Chong Hoatsu untuk menolongnya, setelah itu malah melarikan diri? Benar-benar dia tidak mengerti akan sikap gadis-gadis ini. Akan tetapi dia juga merasa khawatir sekali. Dia maklum betapa lihainya orang-orang di pulau ini dan kepandaian Loan Ki masih jauh daripada cukup untuk menghadapi mereka. Dia sendiri pun belum tentu akan dapat menangkan mereka yang lihai-lihai itu, apalagi Ka Chong Hoatsu si hwesio tua yang tadi mencengkeram pundaknya. Andaikata Hui Kauw tidak lari dan mau membantunya, gadis bersuara bidadari itu memiliki kepandaian hebat dan boleh diandalkan. Tadi saja dengan sekali gebrakan, sejurus serangan gadis itu telah mampu memaksa Ka Chong Hoatsu melepaskan cengkeramannya.

“Orang muda, kau benar-benar sombong. Orang telah memperlakukan kau dengan baik, sungguhpun kau telah menimbulkan keributan. Kau dimaafkan, malah kelakuanmu yang merusak dan mencemarkan nama baik seorang gadis telah dimaafkan, sebaliknya daripada dihukum, kau malah diangkat menjadi mantu. Akan tetapi dengan sombong kau menolak, ini bukan saja merupakan penghinaan terhadap nyonya rumah, akan tetapi juga kau telah menghancurkan perasaan seorang gadis dan kau telah menghina pinceng (aku) pula yang bertindak sebagai perantara! Dosamu bertumpuk dan sekarang pinceng takkan sudi lagi memandang kebutaan matamu atau wajah mendiang gurumu, Yok-mo.”

Kun Hong melangkah maju, sengaja agar Loan Ki berada di belakangnya untuk menjaga kalau hwesio yang lihai itu mengirim serangan, jangan sampai Loan Ki menjadi korban. Kemudian dia tersenyum sinis dan menegur,

“Lo-suhu, kalau aku tidak salah menduga, kau adalah seorang hwesio, pemeluk Agama Buddha yang luhur dan mulia. Lo-suhu, lupakah kau akan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab Buddha? Lupakah kau akan ayat-ayat dalam kitab misalnya Dhammapada yang mengingatkan manusia sewaktu hidup akan segala maksiat yang akan merugikan diri sendiri?” Sampai di sini Kun Hong lalu mendongak dan suaranya yang nyaring itu melagukan nyanyian yang merupakan doa dari kitab Agama Buddha.

“Dia yang dapat menahan kemarahan, seperti seorang menahan kaburnya kereta, dialah patut disebut seorang kusir sejati.

Kalahkan amarah dengan kasih, tundukkan kejahatan dengan kebajikan, kerakusan dengan kerelaan, dan kebohongan dengan kebenaran.”

Sampai di sini Ka Chong Hoatsu sudah tertawa bergelak sehingga Kun Hong menghentikan nyanyiannya. “Ha-ha-ha-ha, bocah buta masih ingusan, kau berani mengajar pinceng tentang ayat kitab Dhammapada? Ha-ha-ha, seperti orang mengajar ikan tentang renang!”

“Kalau perlu boleh saja, Lo-suhu, Sungguhpun ikan pandai berenang, kadang-kadang dia akan tersesat dan tertarik oleh kemilaunya kotoran-kotoran di permukaan air sehingga tanpa disadari ikan itu akan berenang menentang arus dan menemui kehancurannya.”

“Huh, bocah she Kwa. Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk bersikap sombong dan kurang ajar di depan pinceng. Hemm, bocah buta, Yok-mo sendiri yang kau sebut sebagai gurumu masih tidak berani memandang rendah kepada pinceng. Majulah dan coba perlihatkan kepandaianmu!”

Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak. “Lo-suhu, aku tidak ingin berkelahi dengan siapa pun juga…….”

“Ha, kau jerih kepada Ka Chong Ho-atsu?” hwesio itu mengejek.

“Aku pun tidak jerih atau takut kepada siapa pun juga.”

“Kalau begitu majulah, hayo perlihatkan kepandaianmu!”

“Lo-suhu, aku tidak ingin berkelahi, hanya ingin supaya aku dan nona ini diperbolehkan pergi dengan aman. Kami tidak bermaksud mengganggu kalian penghuni pulau ini…….”

“Tai-su, mengapa berdebat dengan setan kurang ajar itu? Tolong kau tangkap dia untukku, biar puas aku memberi hukuman kepadanya!” kata Ching-toanio dengan suara gemas.

“Bocah Kwa, lihat tongkat!” bentak Ka Chong Hoatsu dan Kun Hong cepat mendorong Loan Ki ke belakang agak jauh karena dia mendengar sambaran angin yang dahsyat sekali menyambar ke arahnya. Bukan main hebatnya serangan ini dan Kun Hong memusatkan pikiran dan perasaannya, mengumpulkan hawa murni dan tenaga dalam di tubuhnya. Dia tahu bahwa angin dahsyat itu menyembunyikan tongkat yang menyambar ke arah pinggangnya. Sengaja dia memperlambat gerakannya dan begitu tongkat itu sudah menyambar dekat, dengan pengerahan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dia meloncat ke atas. Tongkat itu mendesing di bawah kakinya, tak lebih dari sepuluh senti jaraknya, namun angin pukulan tongkat itu telah membuat Kun Hong seperti didorong dari bawah sehingga tubuhnya mumbul lagi belasan senti tingginya. Dia makin kagum dan maklum bahwa kali ini dia menghadapi seorang lawan yang luar biasa tangguhnya, malah mungkin tidak kalah lihai kalau dibandingkan dengan lawan yang paling ampuh yang pernah dihadapinya, yaitu tiga tahun yang lalu di puncak Thai-san, si tua bangka Pak Thian Lo-cu, guru dari Si Tangan Maut Bouw Si Ma, orang Mancu yang sekarang hadir di sini.
Kekaguman tidak hanya berada di fihak Kun Hong. Juga Ka Chong Hoatsu kagum bukan main. Cara pemuda buta itu menghadapi serangannya tadi benar-benar di luar dugaannya, dan cara ini sekaligus membingungkannya karena sama sekali bukan ilmu silat seperti yang pernah dia lihat dimainkan oleh Bu Beng Cu. Memang, Kun Hong tadi tidak menggunakan Kim-tiauw-kun dalam menghadapi penyerangan ini, melainkan mempergunakan sebuah jurus pertahanan dari Ilmu Silat Im-yang-kun-hoat yang dia terima dari Si Raja Pedang Tan Beng San.

Jurus tadi lewat cepat sekali seperti menyambarnya halilintar. Kini Kun Hong sudah berdiri tegak, kaki kanan ditekuk dengan ujung berdiri dan tumit menempel di kaki kiri, tangan kanan yang memegang tongkat ditaruh di depan dada dan tongkatnya tegak lurus ke atas menempel ujung hidung, tangan kiri dengan jari-jari terbuka lurus ke depan seperti menunjuk, seluruh tubuh tak bergerak, semua urat dalam tubuh menegap segenap perhatian dicurahkan ke depan dan sekelilingnya dalam sikap menjaga diri.

Ka Chong Hoatsu juga memasang kuda-kuda, akan tetapi dia meragu, tidak segera menjatuhkan serangannya. Betapapun juga, dia masih sungkan untuk menyerang secara sungguh-sungguh. Dia adalah seorang yang memiliki kedudukan besar dan dipandang tinggi di utara, sejajar dengan Pak Thian Lo-cu, hanya kalau Pak Thian Lo-cu menganut aliran Agama To adalah dia merupakan wakil dari golongan Buddha. Sudah jauh dia merantau, bahkan belasan tahun dia berada di India. Semenjak pulang dari India, dia makin dipandang dan merupakan orang yang paling berkuasa di samping kepala suku di antara bangsanya, yaitu Bangsa Mongol yang sudah kalah perang dan kehilangan kedudukan itu.

Malah dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai yang dipandang menjadi seorang bangsawan yang mempunyai harapan untuk merampas kembali kerajaan yang hilang. Kedudukannya demikian besar dan tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk bertempur sungguh-sungguh melawan seorang pemuda yang usianya dua puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua matanya lagi? Inilah yang membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia menang takkan berarti apa-apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan hancur luluh sekaligus! Dan dia pun maklum bahwa pemuda buta ini benar-benar memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan.

Kedua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua buah patung tak bergerak sama sekali. Ka Chong Hoatsu biarpun sudah tua namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah, kedua kaki terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan berat itu melintang di depan dada, kedudukannya membayangkan tenaga yang dahsyat sekali. Kun Hong sebaliknya tenang, namun kokoh kuat seperti batu karang menghadapi serbuan ombak samudera.

“Bun-taihiap dari Kun-lun-pai yang terhormat telah tiba untuk bertemu dengan toanio…….!!” terdengar seruan wanita penjaga dari jauh. Belum lenyap gema suara itu, berkelebat bayangan putih dan bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, melayanglah turun seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali, berpakaian serba putih dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang tertutup sarung pedang terukir indah. Begitu tiba di situ pemuda ini melihat keadaan Ka Chong Hoatsu, memandang heran lalu mengerling ke arah Kun Hong yang buta.

“Ah, kiranya Ka Chong Hoatsu sedang memberi pelajaran, sungguh kebetulan kedatanganku!” kata pemuda itu.

Ka Chong Hoatsu sudah dari tadi membatalkan serangannya, lalu dia mengetukkan tongkatnya di atas tanah dan tertawa bergelak. “Sungguh tak tahu malu pinceng yang sudah tua bangka mau melayani seorang bocah buta, menjadikan buah tertawaan Bun-sicu dari Kun-lun-pai saja. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi pemuda baju putih itu tidak memperhatikan Ka Chong Hoatsu karena pada saat itu dia sedang memandang ke arah Kun Hong dengan bengong, malah dia segera melangkah mendekati dan mengamat-amati wajah Kun Hong dengan pandang mata penuh selidik. Suaranya berubah ketika dia bertanya.

“Ka Chong Hoatsu, mau apakah dia datang ke sini dan mengapa hendak bertempur melawanmu?”

Ka Chong Hoatsu tertawa lagi. Dia pernah beberapa kali datang ke Kun-lun-san dan dia mengenal pemuda Kun-lun yang lihai ini, yang selalu bersikap terbuka dan bersahaja terhadapnya, tidak menjilat-jilat akan tetapi amat jujur. “Ha-ha, Bun-sicu, sebetulnya pinceng malu karena harus turun tangan terhadap seorang bocah buta. Tapi dia ini memang menjemukan, bermain gila dengan nona Hui Kauw…….”

Pemuda baju putih itu mengeluarkan suara mendengus penuh, ejekan. “Hemm, kiranya setelah kedua matamu buta, Kwa Kung Hong masih sama saja merupakan seorang pemuda hidung belang yang suka merayu dan menundukkan hati wanita. Lucu sekali! Kwa Kun Hong, apakah kau tidak kenal padaku?”

Tentu saja Kun Hong mengenalnya. Biarpun dahulu belum mendapat kesempatan untuk berkenalan secara mendalam, namun mana bisa dia melupakan pemuda putera ketua Kun-lun-pai yang dahulu menjadi tunangan dari kekasihnya, Tan Cui Bi (baca Rajawali Emas)? Dia tahu bahwa pemuda ini adalah Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai yang biarpun dahulu terus pulang dengan marah bersama ayahnya dari puncak Thai-san, dan tidak menjadi saksi atas peristiwa mengerikan yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya (baca Rajawali Emas), namun agaknya pemuda ini sudah mendengar tentang kebutaannya. Dia menjura dengan hormat, mengangkat kedua tangan yang memegang gagang tongkat ke depan dada.

“Tentu saja aku ingat dan mengenal suara Bun-enghiong dari Kun-lun-pai. Tapi sayang sekali semenjak bertahun-tahun ini pandanganmu masih sesempit dahulu, terutama dalam menilai watak seseorang. Sayang…….”

Kembali Bun Wan, pemuda itu mendengus mencemooh atas ucapan ini. Kemudian dia menoleh ke arah Ching-toanio dan berkata, “Toanio, karena aku telah datang di sini, kuharap Toanio suka mengampuni dia dan membebaskannya. Harap Toanio ketahui bahwa antara ayahnya dan ayahku ada hubungan persahabatan di waktu muda, oleh karena itu amatlah tidak enak kalau dia ini menerima hukuman di mana aku hadir. Tentu ayah akan menegurku.”

Ching-toanio menggerutu, “Dia ini terlalu kurang ajar, terlalu menghina kami, mana bisa aku memberi ampun?”

Akan tetapi Ka Chong Hoatsu segera berkata, “Ching-toanio, biarlah, melihat muka Bun-sicu yang terhormat, biarlah kita mengampuninya dan membiarkan si buta ini pergi dari pulau. Apalagi mengingat akan nama besar Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pai, ayah Bun-sicu yang kita hormati.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: